Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

SISTEM OPERASIONAL ASURANSI KERUGIAN dalam


MENGELIMINIR RIBA dan KONTRAK BATHIL
Untuk Memenuhi Mata Kuliah Asuransi dan Reasuransi Syariah
Dosen Pengampu :
Firda Zulfa Fahriani, M.Sy.

Oleh
Kelompok 02
Anggota kelompok:
Iva Nur Rofiah (17402153485)
Eriq Misbahul Munib (17402153546)
Emielia Lavinia A.S. (17402153556)

EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI dan BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur diucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan
limpahan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan salah satu tugas
mata kuliah ASURANSI DAN REASURANSI SYARIAH yang berjudul
Sistem Operasional Asuransi Kerugian dalam Mengeliminir Riba dan Kontrak
Bathil .
Makalah ini selain digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuransi
dan Reasuransi Syariah juga dapat digunakan sebagai tambahan untuk memahami
Sistem Operasional Asuransi Kerugian dalam Mengeliminir Riba dan Kontrak
Bathil sehingga dapat menjadikan suatu bahan kajian bagi mahasiswa maupun
pihak-pihak tertentu yang akan mempelajari tentang Sistem Operasional Asuransi
Kerugian dalam Mengeliminir Riba dan Kontrak Bathil.
Dengan rasa syukur atas terselesaikannya makalah ini, penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. Maftukin, M.Ag selaku bapak rektor Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Tulungagung.
2. Firda Zulfa Fahriani, M.Sy.selaku dosen pengampu mata kuliah
Asuransi dan Reasuransi Syariah.
3. Pihak-pihak yang telah mambantu dalam penyelesaian makalah ini baik
langsung maupun tidak langsung.
Dalam penyelesaian makalah ini penulis menyadari bahwa masih banyak
terdapat kekurangan, untuk itu penulis meminta maaf dan mengharapkan kritik
dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah kami
selanjutnya.

Tulungagung, Februari 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................2
C. Tujuan...................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................3
A. Perjanjian (Akad)..................................................................3
B. Prinsip Prinsip Asuransi (Kerugian).......................................3
C. Mekanisme Pengelolaan Dana..............................................6
D. Kerangka Teknik Dan Operasional Asuransi Umum..............7
BAB III PENUTUP..........................................................................10
A. Kesimpulan.........................................................................10
B. Saran..................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA........................................................................11

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perjanjian asuransi yang bertujuan untuk berbagi resiko
antara penderita musibah dan perusahaan asuransi dalam
berbagai macam lapangan. merupakan hal baru yang belum
pernah dikenal dalam kehidupan Rasulullah SAW, para
sahabat. dan tabiin. Asuransi dalam catatan sejarah dunia
Barat pada abad 12, muncul dari gagasan bangsa Romawi
berupa perjanjian asuransi laut yang kemudian memencar di
beberapa daerah Eropa pada abad 14. Asuransi kebakaran
berdiri pada tahun 1680 di London sebagai akibat peristiwa
kebakaran besar pada tahun 1666 yang melahap lebih dari
13.000 rumah dan kira-kira 100 gereja.
Ijtihad para pemerhati ekonomi yang dilakukan secara
kontinyu menghasilkan sebuah konsep asuransi yang disebut
Konsep Asuransi Taawun. Asuransi Jenis Perniagaan dan
mengharuskan Asuransi jenis Taawun sebagai alternatif
asuransi Islam untuk menggantikan Jenis Asuransi
Konvensional.
Kebutuhan jasa asuransi yang berdasarkan syariah di
Indonesia diawali dengan mulai beroperasinya bank-bank
syariah. Hal tersebut sesuai dengan UU No. 7 tahun 1992
tentang perbankan dan ketentuan pelaksanaan bank syariah.
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) melalui
Yayasan Abdi Bangsa bersama Bank Muamallat Indonesia
(BM1) dan Perusahaan Asuransi Tugu Mandiri pada tanggal 27
Juli 1993 sepakat memprakarsai pendirian Asuransi Takaful,
dengan menyusun Tim Pembentukan Asuransi Takaful
Indonesia (TEPATI).

1
2
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Perjanjian (Akad)

2. Bagaimana Prinsip Prinsip Asuransi (Kerugian)

3. Bagaimana Mekanisme Pengelolaan Dana


4. Bagaimana Kerangka Teknik Dan Operasional Asuransi
Umum
C. Tujuan

1. Mengetahui Perjanjian (Akad)

2. Mengetahui Prinsip Prinsip Asuransi (Kerugian)

3. Mengetahui Mekanisme Pengelolaan Dana

4. Mengetahui Kerangka Teknik Dan Operasional Asuransi


Umum

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perjanjian (Akad)

Dalam akad asuransi mendasarkan pada akad tabarru.


Dalam hal ini terdapat perbedaan pandang dalam masalah
akad tabarru, karena sebagian besar asuransi dalam
praktiknya memberi bagian bagi hasil (Mudharabah) apa bila
terjadi surplus dana tabarru. Padahal dana tersebut telah
diikhlaskan sebagai dana amal bagi peserta asuransi guna

4
menolong sesama peserta yang tertimpa musibah tertentu
atau kemalangan1.

Dalam hal ini Ulama DSN Takaful Indonesia menyatakan


bahwa akad tersebut tidak sah karena adanya dua akad dalam
satu akad yaitu akad Tabarru dan Akad Mudharobah. Ulam
DSN dengan tegas mengatur akad Tijarah (akad Jual Beli) dan
akad Tabarru (akad Shadaqoh) sebagai berikut:

1. Jenis akad tijarah dapat diubah menjadi jenis akad


tabarru bila pihak yang tertahan haknya dengan rela
melepaskan haknya sehingga menggugurkan kewajiban
pihak yang belum menunaikan kewajibannya

2. Jenis Akad Tabarru tidak dapat diubah menjadi jenis


akad tijarah.
B. Prinsip Prinsip Asuransi (Kerugian)

1. Prinsip Berserah Diri dan Ikhtiar

(Qs.2.284. Qs. 255. Qs. 3. 120 dan Qs. Taaha. 6)

2. Prinsip Tolong Menolong

(Qs.3. 2. Qs. Az. Zukhruf. 32. Qs. Al-Anfal.72)

3. Prinsip saling Bertanggung Jawab

Rasa tanggung jawab terhadap sesama muslim


merupakan kewajiban sesama insan. Rasa tanggung
jawab ini tentu terlahir dari sifat saling menyayangi,
saling mencintai, saling membantu, dan merasa

1 http://grupsyariah.blogspot.co.id/2012/06/sistem-operasional-asuransi
kerugian.html

5
mementingkan kebersamaan untuk mendapatkan
kemakmuran bersama dalam mewujudkan masyarakat
yang beriman, takwa, dan harmonis.

4. Prinsip Saling Kerjasama dan Bantu membantu

Salah satu keutamaan umat Islam adalah saling


membantu sesamanya dalam kebajikan. Karena, bantu-
membantu itu merupakan gambaran sifat kerjasama
sebagai aplikasi dari ketakwaan kepada Allah. Dianatara
cerminan ketakwaan itu adalah sebagai berikut:

a. Melaksanakan fungsi harta dengan benar

b. Menepati Janji

c. Sabar ketika mengalami bencana.

5. Prinsip saling melindungi dari Berbagai Kesusahan

Para peserta asuransi Islam setuju untuk saling


melindungi dari kesusahan, bencana, dan sebagainya.
Karena dengan keselamatan dan keamanan merupakan
keperluan azas untuk emua orang, maka semua orang
perlu dilindungi.

6. Prinsip Kepentingan Teransuransikan

Kepentingan dapat terjadi karena adanya:

a. Kepemilikan

b. Kuasa dari orang lain

6
c. Karena undang-undang, misalnya pemilik gedung
bertanggung jawab atas kerugian yang dialami
oleh pengunjung gedung.

Al-Quranul Karim menjelaskan bahwa posisi


kedudukan harta yang ada pada manusia adalah sebagai
berikut:

a. Anugrah Allah yang harus disyukuri

b. Amanah Allah yang Harus dipertanggung


Jawabkan

c. Fitnah ujian dari Allah harus diantisipasi

d. Hiasan Hidup

e. Sebagai bekal ibadah

7. Prinsip Itikad Baik

Inti dari itikad baik yaitu

a. Kejujuran Peserta dalam memberi semua informasi


yang diperlukan pengelola baik diminta atau tidak,
informasi tersebut mengenai obyek pertanggungan
yang akan mempengaruhi keputusan pengelola
dalam memberikan pertanggungan.

b. Kejujuran Pengelola dalam memberikan informasi


kepada peserta baik yang menyangkut perjanjian
polis maupun untuk mengetahui tentang hasil-
hasil pengelolaan, serta klaim ketika hal itu
terjadi

7
8. Prinsip Ganti rugi

Funsi asuransi adalah mengalihkan resiko yang


kemungkinan diderita oleh tertanggung karena terena
terjadinya suatu perustiwa yang tidak pasti.

9. Pinsip penyebab Dominan

Jika terjadi suatu peristiwa yang dapat menimbulkan


tuntutan ganti rugi dari pihak tertanggung kerugian
dapat dijamin jika penyebab dari kejadian tersebut
dijamin atau tidak dikecualikan dengan polis. Contoh
ada 2 orang berkehi lalu satu orang jatuh di jalan lalu
tertabrak mobil dan luka parah kemuian mati. Maka
orang tersebut dapat asuransi karena bukan perkelahian
tapi ketabrak mobil sebagi penyebab kematian.

10. Hak Subrogasi

Ganti rugi yang diberikan dari pihak asuransi kepada


tertanggung karena adanya sebab kecerobohan pihak
ketiga. Contoh. Rumah peserta asuransi terbakar karena
pihak ketiga maka pihak penanggung membayar klaim
maka pihak tertanggung tidak beleh meneriama ganti
rugi dari pihak ketiga.

11. Prinsip Kontribusi (al-Musahamah)

al-Musahamah kontribusi) adalah bentuk kerjasama


mutual dimana tiap-tiap peserta memberikan kontribusi
dana kepada suatu perusahaan dan perta tersebut
berhak memperoleh konpensasi atas kontribusinya

8
tersebut berdasarkan saham (premi) yang ia miliki
(bayarkan).

Wahbah az-Zuhaili mengatakan bahwa syarikah al-


musahamah adalah suatu jenis perniagaan (syarikah al-
amwal) yang paling penting. Modal syarikah ini dibagikan
kepada bagian-bagian kecil peserta yang jumlahnya sama
banyaknya MM Billah. Dalam makalahnya yang disajikan
dalam internasional Conference Takaful Insurance 23 Juni
1999 di Kuala Lumpur yang berjudul Principles of Contracts
affecting Takaful and Insurance A Comparative Analysis
(Prinsip Kontrak yang mempengaruhi Takaful Dan Asuransi
[Adalah] suatu Komparatip Analisa)

Dimana setiap bagian tersebut disebut saham yang tidak


boleh dipecah-pecah kecuali hanya berganti milik. Hak dan
tanggung jawab pemegang saham (shahibul mal) adalah
terbatas pada besar kecilnya nilai saham yang ia miliki dalam
perusahaan tersebut. Mangatakan bahwa Kontribusi (al-
Musahamah) dalamperjanjian takaful adalah pertimbangan
keuangan (al-iwad) dari bagian peserta yang merupakan
kewajiban yang muncul dari perjanjian antara peserta dan
pengelola. Perjanjian takaful dalam kerja sama mutual yang
mana pertimbangan dibutuhkan tidak hanya dari satu pihak,
tapi kedua pihak sehingga pengelola juga secara sama terkait
dengan perjanjian tadi serta dalam ganti rugi keuntungan. Hal
ini dibenarkan dalam Islam berdasarkan (QS. Al-Maidah: 2).

C. Mekanisme Pengelolaan Dana

1. Kedudukan Perusahaan Asuransi Syariah

9
Kedudukan perusahaan Asuransi Syariah dalam
transaksi Asuransi Kerugian adalah
sebagai mudharib (pemegang amanah). Asuransi Syariah
menginvestasikan dana tabarru yang terkumpul dari
kontribusi peserta kepada Instrumen yang dibenarkan oleh
syara. Mudharib berkewajiban untuk membayarkan klaim,
apabila ada salah satu dari peserta mengalami musibah,
juga berkewajiban menjaga dan menjalankan amanah yang
diembannya secara adil transparan dan profesional.
Mudharib diawasi secara teknis dan operasional oleh
komisaris dan secara syari diawasi oleh Dewan Pengawas
Syariah (DPS) dalam mengelola dana peserta yang
terkumpul pada kumpulan dana tabarru2.

2. Mekanisme Pengelolaan Dana

Mekanisme pengelolaan dana dibeberapa perusahaan


asuransi kerugian (syariah) di Indonesia dan Malaysia
misalnya Syarikat Takaful Malaysia dan Asuransi Takaful
Konvensional, Tripakarta cabang Syariah, Bringin Sejahtera
Cabang Syariah, Binagriah Cabang Syariah, Jasindo Cabang
Syariah, mekanisme pengelolaan dana adalah sebagai
berikut : Dana dibayarkan peserta, kemudian terjadi akad
mudharabah (bagi hasil) antara mudharib(pengelola)
dengan shohibul mal (peserta). Kumpulan dana tersebut
kemudian diinvestasikan secara syariah ke Bank Syariah
maupun ke Investasi Syariah lainnya, lalu dikurangi biaya-
biaya operasional (seperti klaim, reasuransi, komisi broker
dll) selanjutnya surplus (profit) dilakukan bagi hasil

2 http://nurlaelanunung.blogspot.co.id/2013/01/asuransi-syariah-life-and-
general_4782.html

10
antara mudharib (pengelola) dan shohibul mal(peserta)
sesuai dengan skim bagi hasil yang telah ditentukan
sebelumnya (misalnya 60 : 40). Bagian yang 60 persen
untuk mudharib (perusahaan) setelah dikurangi biaya
administrasi dan management expenses, sisanya menjadi
profit bagi shareholders, sedangkan bagian yang lain, yaitu
40 % menjadi share of surplus for participant (surplus bagi
hasil untuk partisipasi).

D. Kerangka Teknik Dan Operasional Asuransi Umum

Dengan basis tolong menolong dan saling menanggung,


maka dalam operasionalnya ada perbedaan prinsip takaful
dengan prinsip operasional Asuransi konvensional.3

1. Prinsip pengalihan resiko (transfer of risk)

Dalam asuransi non takaful terjadi pengalihan resiko


finansial dari satu pihak ke pihak lainnya. Ini merupakan
konsekwensi dari kontrak jual beli risiko dalam konatrak
asuransi konvensional.

2. Prinsip bagi risiko (sharing of risk)

Dalam asuransi takaful terjadi pembagian risiko


finansial di antara peserta takaful. Akad yang terjadi adalah
akad takafuli atau akad saling menanggung. Ini merupakan
perwujudan dari saling menanggung diantara peserta. Dana
takaful yang terhimpun merupakan dana kebajikan
(tabaruk) yang merupakan milik seluruh peserta yang

3 Muhammad Syakir Sula. Asuransi Syariah. Jakarta:Gema Insani. 2004.


282

11
terkena musibahdisertai dengan adanya surplus
pengelolaan dana yang didistribusikan kepada seluruh
peserta dalam bentuk bagi hasil.

Dana Takaful

Dalam takaful yang merupakan komtribusi seluruh


peserta akan dihimpun dalam rekening kebajikan. Dana
tersebut dikelola dan diinvestasikan hanya melalui mekanisme
dan instrumen syariah yang dibenarkan. Segala hasil
pengelolaan dana dibukukan kembali ke dalam rekening dana
kebajikan. Dana tersebut akan didistribusikan kembali kepada
seluruh peserta dalam bentuk bagi has setelah dilakukan
kalkulasi dengan berbagai cash-out flote yang meliputi dana
kompensasi peserra. Biaya akuisisi dan operasional dan biaya
reaauransi serta cadangan teknik4.

Jenis Skema Takaful

Produk-produk takaful dikelompokkan ke dalam dua kelompok


besar.

1. Kelompok simple risk

a. Takaful kebakaran ( fire insurance)

b. Takaful kendaraan bermotor

c. Takaful aneka.

4 Ibid. 283

12
2. Kelompok Mega Risk

a. Takaful kebakaran industri

b. Takaful pengangkutan

c. Takaful tanggung gugat

d. Takaful rekayasa

Perantara

Setiap individu ataupun korporasi dapat berpartisipasi


dalam program takaful secara langsung dengan menghubungi
operator takful. Terkadang untuk transaksi besar, para
korporasi dengan tingkat kompleksitas Takful yang dibutuhkan,
peserta koorporasi dapat menggunakan jasa intermediaries,
yaitu broker. Setiap transaksi yang ditutup melalui broker akan
dibayarkan oleh peserta yang bersangkutan dan bukan oleh
operator takaful.

13
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Dalam akad asuransi mendasarkan pada akad tabarru. Dalam hal ini
terdapat perbedaan pandang dalam masalah akad
tabarru, karena sebagian besar asuransi dalam praktiknya
memberi bagian bagi hasil (Mudharabah) apa bila terjadi
surplus dana tabarru.
2. Prinsip-prinsip asuransi:
a. Prinsip Berserah Diri dan Ikhtiar
b. Prinsip Tolong Menolong
c. Prinsip saling Bertanggung Jawab
d. Prinsip Saling Kerjasama dan Bantu membantu
e. Prinsip saling melindungi dari Berbagai Kesusahan
f. Prinsip Kepentingan Teransuransikan
g. Prinsip Itikad Baik
h. Prinsip Ganti rugi
i. Pinsip penyebab Dominan
j. Hak Subrogasi
k. Prinsip Kontribusi (al-Musahamah)
3. Mekanisme pengelolaan dana dibeberapa perusahaan asuransi kerugian
(syariah) di Indonesia dan Malaysia mekanisme pengelolaan dana adalah
sebagai berikut :
Dana dibayarkan peserta, kemudian terjadi akad mudharabah (bagi hasil)
antara mudharib(pengelola) dengan shohibul mal (peserta). Kumpulan
dana tersebut kemudian diinvestasikan secara syariah ke Bank Syariah
maupun ke Investasi Syariah lainnya, lalu dikurangi biaya-biaya
operasional (seperti klaim, reasuransi, komisi broker dll) selanjutnya
surplus (profit) dilakukan bagi hasil antara mudharib (pengelola)
dan shohibul mal(peserta) sesuai dengan skim bagi hasil yang telah
ditentukan sebelumnya (misalnya 60 : 40). Bagian yang 60 persen
untuk mudharib (perusahaan) setelah dikurangi biaya administrasi
dan management expenses, sisanya menjadi profit bagi shareholders,

14
sedangkan bagian yang lain, yaitu 40 % menjadi share of surplus for
participant (surplus bagi hasil untuk partisipasi).
4. Perbedaan prinsip takaful dengan prinsip operasional Asuransi
konvensional:
a. Prinsip pengalihan resiko (transfer of risk)
Dalam asuransi non takaful terjadi pengalihan resiko finansial dari satu
pihak ke pihak lainnya. Ini merupakan konsekwensi dari kontrak jual beli
risiko dalam konatrak asuransi konvensional.
b. Prinsip bagi risiko (sharing of risk)
Dalam asuransi takaful terjadi pembagian risiko finansial di antara peserta
takaful. Akad yang terjadi adalah akad takafuli atau akad saling
menanggung.
Dalam takaful yang merupakan kontribusi seluruh peserta akan dihimpun
dalam rekening kebajikan.
Produk-produk takaful dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar:
a. Kelompok simple risk
b. Kelompok Mega Risk

15
DAFTAR PUSTAKA

Sula, Muhammad Syakir. 2004. Asuransi Syariah. Jakarta:Gema


Insani.

http://grupsyariah.blogspot.co.id/2012/06/sistem-operasional-
asuransi kerugian.html

http://nurlaelanunung.blogspot.co.id/2013/01/asuransi-syariah-
life-and-general_4782.html

16