Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Tema : Katarak
Pokok bahasan : Proses terjadi sampai dengan penatalaksanaan Katarak
Sasaran : Pasien, keluarga pasien, pengunjung di Pusakesmas Garuda Bandung
Jawa Barat
Hari/ Tanggal : Januari 2016
Tempat : Puskesmas Garuda Bandung Jawa Barat
Alokasi waktu : 25 menit

A. Tujuan Instruksional
1. Tujuan umum
Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan pasien, keluarga pasien, dan
pengunjung di Puskesmas Garuda Bandung Jawa Barat dapat mengetahui dan
memahami tentang Katarak.
2. Tujuan khusus
Setelah dilakukan penyuluhan selama 25 menit diharapkan pasien, keluarga
pasien, dan pengunjung di Puskesmas Garuda Bandung Jawa Barat dapat mengetahui:
a. Pengertian dari Katarak
b. Penyebab Katarak
c. Tanda dan gejala dari Katarak
d. Macam-macam Katarak
e. Komplikasi dari Katarak
f. Penatalaksanaan Katarak
g. Pencegahan Katarak
B. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
C. Media Penyuluhan
1. LCD
D. Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi struktur :
1. Menyusun Satuan Acara Penyuluhan Katarak
2. Melakukan konsultasi Satuan Acara Penyuluhan yang telah disusun dengan
pembimbing
3. Melakukan kontrak waktu dan tempat penyuluhan
4. Membentuk pengorganisasian dalam pelaksanaan penyuluhan, dengan susunan
sebagai berikut .
a) Penyaji : Kurni Atin
b) Moderator : Lisa Mauliyah D
c) Observer : Aryo Dwi Prihandoko
d) Fasilitator : Maulia Rosalina
Mentari Pertiwi
Didik Purnomo
Mutia Arwenda
Neoty Ovina
Fajar Galih Pamuji
Nova Sari
Fauzi Mufti Faumi
5. Mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
penyuluhan

Kriteria evaluasi proses :


1. Penyuluhan diharapkan berjalan dengan lancar
2. Peserta penyuluhan datang tepat waktu
3. Peserta penyuluhan aktif bertanya
4. Peserta penyuluhan tidak meninggalkan tempat sebelum penyuluhan selesai
5. Penyuluhan dapat berlangsung sesuai dengan kontrak waktu
6. Struktur organisasi dapat melaksanakan tugas sesuai peran dengan baik

Kriteria evaluasi hasil :


1. Penyaji mengajukan pertanyaan secara langsung kepada peserta penyuluhan
tentang materi penyuluhan sebelum penyuluhan dilaksanakan. Bila hanya 5-10%
dari seluruh peserta penyuluhan yang dapat menjawab pertanyaan maka perlu
diadakan penyuluhan tentang Katarak.

2. Penyaji mengajukan pertanyaan secara langsung kepada peserta penyuluhan setelah


penyampaian materi penyuluhan, bila 60% dari seluruh peserta penyuluhan mampu
menjawab pertanyaan yang diajukan, maka dapat dikategorikan penyuluhan
berhasil.

E. Kegiatan Penyuluhan

No Waktu Tahapan Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta Media


1. 3 menit Pembukaan 1. Mengucapkan salam 1. Menjawab
2. Memperkenalkan diri salam
3. Menjelaskan judul materi 2. Memperhatikan
serta tujuan yang akan dan
dicapai oleh peserta mendengarkan
penyuluhan dan
melakukan kontrak waktu.
4. Apersepsi materi
penyuluhan

2. 15 menit Penyajian Menjelaskan pada peserta Memperhatikan LCD


materi tentang: dan mendengarkan
1. Pengertian Katarak
2. Penyebab Katarak
3. Tanda dan gejala Katarak
4. Macam-macam Katarak
5. Komplikasi Katarak
6. Penatalaksanaan Katarak
7. Pencegahan Katarak

3. 5 menit Evaluasi 1. Memberikan 1. Bertanya


reinforcement positif 2. Mendengar
kepada peserta atas
kemampuan bertanya.
2. Menjawab pertanyaan
peserta
3. Memberikan pertanyaan
tentang materi yang telah
disampaikan
4. 2 menit Penutup 1. Menyimpulkan hasil Menjawab salam
penyuluhan
2. Mengucapkan terima
kasih atas peran serta
peserta yang telah
berpartisipasi
3. Menutup acara
penyuluhan dengan
mengucapkan salam

F. Lampiran Materi
Katarak
1.1 Pengertian
Katarak merupakan salah satu penyakit yang menyerang mata yang merupakan
salah satu jenis penyakit mata tenang visus menurun perlahan. Katarak adalah
keadaan dimana terjadi kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau akibat keduanya. Biasanya
mengenai kedua mata dan berjalan progresif (Mansjoer dkk, 2008).
Menurut Kadek dan Darmadi (2007) katarak adalah kekeruhan lensa mata atau
kapsul lensa yang mengubah gambaran yang diproyeksikan pada retina .
Katarak merupakan suatu keadaan dimana lensa mata yang biasanya jernih
menjadi keruh, yang dapat disebabkan oleh berbagai hal tetapi biasanya berkaitan
dengan proses penuaan (Vaughan, 2007)

1.2 Penyebab
1. Trauma, contohnya terjadi pada katarak traumatika, seperti trauma tembus pada
mata yang disebabkan oleh benda tajam/tumpul, radiasi (terpapar oleh sinar X
atau benda-benda radioaktif).
2. Penyakit mata lain, seperti uveitis.
3. Penyakit sistemik (diabetes militus), contohnya terjadi pada katarak diabetika
dikarenakan gangguan metabolisme tubuh secara umum dan retina sehingga
mengakibatkan kelainan retina dan pembuluh-pembuluh darahnya. Diabetes akan
mengakibatkan kelainan dan kerusakan pada retina.
4. Defek kongenital, salah satu kelainan bawaan sebagai akibat infeksi virus
prenatal) dan katarak developmental terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan
sebagai akibat dari defek kongenital. Kedua bentuk ini mungkin disebabkan oleh
faktor herediter, toksis, nutrisional, atau proses peradangan.

1.3 Tanda dan Gejala


1. Penurunan ketajaman penglihatan secara bertahap
2. Penglihatan berkabut seolah-olah melihat asap
3. Pandangan silau ketika melihat sinar
4. Kesulitan memfokuskan benda di ruang yang gelap
5. Lensa mata berwarna keputih-putihan
6. Penglihatan ganda saat melihat suatu benda.

1.4 Macam Macam Katarak


1. Katarak Kongenital
Katarak untuk jenis satu ini, biasanya dialami oleh bayi atau balita dan anak-anak
atau ada yang dari bawaan lahir karena kesalahan oleh ibunya ketika mengandung.
Katarak jenis ini dapat ditangani dengan melakukan operasi atau pembedahan
dengan cara Disisio atau ekstraksi linear dan ekstrasi dengan fakoemulasifikasi
untuk mencegah ambnliopia eksnopsia. Setelah melakukan operasi ini seseorang
akan membutuhkan koreksi untuk kelainan refraksi mata yang menjadi afakia.
2. Katarak Traumatic
Katarak yang disebabkan oleh rasa trauma atau pernah mengalami cedera pada
mata sebelumnya.
3. Katarak Sekunder
Katarak sekunder adalah istilah untuk semua bahan seperti kapsul lensa, sel epitel,
serabut lensa, elemen fibrin sesudah suatu peradangan dan hasil degenerasi atau
degenerasi lensa yang tertinggal sesudah suatu operasi katarak ekstra kapsuler
atau sesudah suatu trauma yang memecah lensa. Katarak yang disebabkan oleh
konsumsi obat seperti prednisone dan kortikosteroid, serta penderita diabetes.
Katarak diderita 10 kali lebih umum oleh penderita diabetes daripada oleh
populasi secara umum.
4. Katarak Senil
Katarak Senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu
usia diatas 50 tahun. Katarak Senil juga katarak yang berkaitan dengan usia,
merupakan jenis katarak yang paling umum. Berdasarkan lokasinya, terdapat 3
jenis katarak ini, yakni nuclear sclerosis, cortical, dan posterior subcapsular.
Nuclear sclerosis merupakan perubahan lensa secara perlahan sehingga menjadi
keras dan berwarna kekuningan. Pandangan jauh lebih dipengaruhi daripada
pandangan dekat (pandangan baca), bahkan pandangan baca dapat menjadi lebih
baik. Penderita juga mengalami kesulitan membedakan warna, terutama warna
biru. Katarak jenis cortical terjadi bila serat-serat lensa menjadi keruh, dapat
menyebabkan silau terutama bila menyetir pada malam hari. Posterior subcapsular
merupakan terjadinya kekeruhan di sisi belakang lensa. Katarak ini menyebabkan
silau, pandangan kabur pada kondisi cahaya terang, serta pandangan baca
menurun.

1.5 Komplikasi Katarak


a. Kerusakan retina
Kerusakan retina ini terjadi terjadi setelah pascah bedah, akibat ada robekan pada
retina, cairan masuk ke belakang dan mendorong retina atau terjadi penimbunan
eksudat dibawah retina sehingga terangkat.
b. Infeksi
Ini bisa terjadi setelah pasca bedah karena kurangnya perawatan yang tidak
edekuat.
c. Hilangnya vitreous.
Jika kapsul posterior mengalami kerusakan selama operasi maka gel vitreous
dapat masuk ke dalam bilik anterior, yang merupakan resikoterjadinya glaucoma
atau traksi pada retina. Keadaan ini membutuhkan pengangkatan dengan satu
instrument yang mengaspirasi dan mengeksisi gel (virektomi). Pemasanagan
lensa intraocular sesegera mungkin tidak bias dilakukan pada kondisi ini.
d. Prolaps iris.
Iris dapat mengalami protrusi melalui insisi bedah pada periode pasca operasi
dini. Terlihat sebagai daerah berwarna gelap pada lokasi insisi. Pupil mengalami
distorsi. Keadaan ini membutuhkan perbaikan segera dengan pembedahan.
e. Endoftalmitis
Komplikasi infeksi ekstraksi katarak yang serius, namun jarang terjadi.

1.6 Penatalaksanaan
Salah satu cara pengobatan katarak adalah dengan cara pembedahan ,yaitu
lensa yang telah keruh diangkat dan sekaligus ditanam lensa intraokuler sehingga
pasca operasi tidak perlu lagi memakai kaca mata khusus (kaca mata aphakia). Setelah
operasi harus dijaga jangan sampai terjadi infeksi.
Sampai saat ini belum ditemuka n obat yang dapat mencegah katarak.
Beberapa penelitian sedang dilakukan untuk memperlambat proses bertambah
keruhnya lensa untuk menjadi katarak (Ilyas, 2009).
Meski telah banyak usaha yang dilakukan untuk memperlambat progresifitas
atau mencegah terjadinya katarak, tatalaksana masih dengan pembedahan (James,
2010). Untuk menentukan waktu katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan
tajam penglihatan dan bukan oleh hasil pemeriksaan. Tajam penglihatan dikaitkan
dengan tugas sehari-hari penderita Digunakan nama insipien, imatur, matur, dan
hipermatur didasarkan atas kemungkinan terjadinya penyulit yang dapat terjadi (Prof.
Dr Sidarta Ilyas, dkk, 2009). Operasi katarak terdiri dari pengangkatan sebagian besar
lensa dan penggantian lensa dengan implant plastik. Saat ini pembedahan semakin
banyak dilakukan dengan anestesi lokal daripada anestesi umum. Anestesi lokal
diinfiltrasikan di sekitar bola mata dan kelopak mata atau diberikan secara topikal.
Operasi dilakukan dengan insisi luas pada perifer kornea atau sklera anterior, diikuti
oleh ekstraksi (lensa diangkat dari mata) katarak ekatrakapsular. Insisi harus dijahit.
Likuifikasi lensa menggunakan probe ultrasonografi yang dimasukkan melalui insisi
yang lebih kecil dari kornea atau sklera anterior (fakoemulsifikasi).
Operasi katarak terdiri dari pengangkatan sebagian besar lensa dan
penggantian lensa dengan implant plastik. Saat ini pembedahan semakin banyak
dilakukan dengan anestesi lokal daripada anestesi umum. Anestesi lokal
diinfiltrasikan di sekitar bola mata dan kelopak mata atau diberikan secara topikal.
Operasi dilakukan dengan insisi luas pada perifer kornea atau sklera anterior, diikuti
oleh ekstraksi (lensa diangkat dari mata) katarak ekatrakapsular. Insisi harus dijahit.
Likuifikasi lensa menggunakan probe ultrasonografi yang dimasukkan melalui insisi
yang lebih kecil dari kornea atau sklera anterior (fakoemulsifikasi).

1.7 Pengkajian Fokus


Dalam melakukan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama
dan hal yang penting di lakukan baik saat pasien pertama kali masuk rumah sakit
maupun selama pasien dirawat di rumah sakit.
1. Biodata
Identitas klien : nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/
bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat dan nomor register.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Penurunan ketajaman penglihatan dan silau.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat kesehatan pendahuluan pasien diambil untuk menemukan masalah
primer pasien, seperti: kesulitan membaca, pandangan kabur, pandangan ganda,
atau hilangnya daerah penglihatan soliter. Perawat harus menemukan apakah
masalahnya hanya mengenai satu mata atau dua mata dan berapa lama pasien
sudah menderita kelainan ini. Riwayat mata yang jelas sangat penting. Apakah
pasien pernah mengalami cedera mata atau infeksi mata, penyakit apa yang
terakhir diderita pasien.
c. Riwayat kesehatan sekaran
Eksplorasi keadaan atau status okuler umum pasien. Apakah ia mengenakan
kacamata atau lensa kontak?, apakah pasien mengalami kesulitan melihat
(fokus) pada jarak dekat atau jauh?, apakah ada keluhan dalam membaca atau
menonton televisi?, bagaimana dengan masalah membedakan warna atau
masalah dengan penglihatan lateral atau perifer?
d. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah riwayat kelainan mata pada keluarga derajat pertama atau kakek-nenek.
3. Pemeriksaan fisik
Pada inspeksi mata akan tampak pengembunan seperti mutiara keabuan pada
pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop (Smeltzer,
2009). Katarak terlihat tampak hitam terhadap refleks fundus ketika mata diperiksa
dengan oftalmoskop direk. Pemeriksaan slit lamp memungkinkan pemeriksaan
katarak secara rinci dan identifikasi lokasi opasitas dengan tepat. Katarak terkait
usia biasanya terletak didaerah nukleus, korteks, atau subkapsular. Katarak
terinduksi steroid umumnya terletak di subkapsular posterior. Tampilan lain
yang menandakan penyebab okular katarak dapat ditemukan, antara lain
deposisi pigmen pada lensa menunjukkan inflamasi sebelumnya atau kerusakan
iris menandakan trauma mata sebelumnya (James, 2010)
4. Pemeriksaan Diagnostik
Selain uji mata yang biasanya dilakukan menggunakan kartu snellen, keratometri,
pemeriksaan lampu slit dan oftalmoskopi, maka A- scan ultrasound (echography)
dan hitung sel endotel sangat berguna sebagai alat diagnostik, khususnya bila
dipertimbangkan akan dilakukan pembedahan. Dengan hitung sel endotel 2000
3
sel/mm , pasien ini merupakan kandidat yang baik untuk dilakukan
fakoemulsifikasi dan implantasi IOL (Smeltzer, 2009). Pemeriksaan diagnostik
yang lain diantaranya adalah:
a. Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan kerusakan
kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi, penyakit sistem saraf,
penglihatan ke retina.
b. Lapang Penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor, karotis,
glukoma.
c. Pengukuran Tonografi : TIO (12 25 mmHg)
d. Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup
glukoma.
e. Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe glaucoma.
f. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik,
papiledema, perdarahan.
g. Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.
h. EKG, kolesterol serum, lipid
i. Tes toleransi glukosa : kotrol DM
5. Persiapan Pasien Pre Operasi Katarak
a. Pasien mendafarkan diri di pendaftaran
b. Pasien datang ke ruang poli pemeriksaan mata
c. Pasien diperiksa terlebih dahulu
d. Setelah didapatkan hasil pemeriksaannya, pasien diminta untuk menunggu di
ruang tunggu
e. Pasien dinyatakan positif menderita katarak dan akan dilakukan operasi
f. Pasien dan keluarganya diminta persetujuan untuk melakukan operasi katarak
g. Pasien diberikan obat pantokain untuk melebarkan pupil mata pasien yang
dinyatakan positif katarak
h. Pasien diminta menunggu di ruang tunggu untuk menunggu proses pelebaran
pupilnya
i. Pasien kemudian dilakukan pemeriksaan mata secara auskultasi untuk melihat
apakah obat pantokain sudah bereaksi dengan menggunakan pen light
j. Setelah obat pantokain bereaksi dan pupil pasien melebar, pasien di persilahkan
untuk berangkat ke ruang OK
k. Pada saat diruang OK, pasien di berikan petunjuk saat dimana operasi akan
dilaksanakan, seperti:
1) Pasien diminta untuk menuruti apa permintaan dokter demi keberhasilan dan
kelancaran proses operasi katarak tersebut
2) Pasien dilarang untuk batuk pada saat operasi
3) Pasien diminta untuk tetap diam dan tidak banyak bergerak pada saat operasi
4) Jika pasien ingin berdoa, pasien diminta untuk berdoa di dalam hati saja
l. Pasien diminta untuk berbaring diatas tempat tidur pembedahan operasi katarak
6. Perawatan Mata Post Operasi Katarak
1. Hal-hal yang boleh dilakukan setelah operasi katarak
a. Memakai dan meneteskan obat seperti yang dianjurkan
b. Pakai Penutup mata seperti yang dinasehatkan
c. Melakukan pekerjaan hanya tidak berat
d. Bila memakai sepatu jangan membungkuk, tetapi angkat kaki keatas
7. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan setelah operasi katarak
a. Jangan menggosok mata
b. Jangan membungkuk terlalu dalam
c. Jangan menggendong yang berat
d. Jangan membaca berlebihan dari biasanya
e. Jangan mengejan keras sewaktu buang air besar
f. Jangan berbaring kesisi mata yang baru dibedah
8. Cara penggunaan tetes mata
a. cuci tangan
b. penderita berbaring/duduk dan melihat ke atas
c. Perlahan tarik kulit kelopak mata yang sakit ke bawah
d. Teteskan satu tetes ke tengah-tangah kelopak mata.
e. Usahakan supaya penetes tidak menyentuh lipatan mata atau bulu mata
f. Penderita menjaga agar mata tetap tertutup selama 1-2 menit supaya obat
terserap.
g. Cuci tangan
9. Cara penggunaan salep mata
a. Cuci tangan
b. Penderita berbaring/duduk dan melihat ke atas
c. Perlahan tarik kulit kelopak mata yang sakit ke bawah kemudian pencet ujung
salep, ujung tube jangan sampai menyentuh mata.
d. Penderita dianjurkan untuk menutup matanya 2-3 menit.supaya obat masuk dan
terserap.
e. Selama pemberian salep penglihatannya akan kabur sebentar, dan istirahatlah.
f. Cuci tangan.

1.8 Pencegahan
a. Mengontrol penyakit yang berhubungan dengan katarak dan menghindari faktor
faktor yang mempercepat terbentuknya katarak.
b. Menggunakan kaca mata hitam ketika berada di luar ruangan pada siang hari bisa
mengurangi jumlah sinar ultraviolet yang masuk ke dalam mata.
c. Menjaga agar tidak terkena trauma tembus pada mata yang disebabkan oleh benda
tajam/tumpul, radiasi (terpapar oleh sinar X atau benda-benda radioaktif).
d. Menjaga pola makan bergizi yang baik untuk proses metabolisme, mengkonsumsi
suplemen, buah dan sayur sebelum terjadi katarak dapat menunda pembentukan
atau mencegah katarak. Sedangkan pada tahap awal katarak suplemen dapat
memperlambat pertumbuhannya. Pada tahap berat tindakan hanya bisa diatasi
dengan operasi.

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas S. 2005. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. 3rd edisi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. hal:
128-136.
Ilyas S. 2008. Ilmu Penyakit Mata. ed 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 200-211
Nico A. Lumenta. 2008. Manajemen Hidup Sehat. Jakarta: Elek Media Komputindo
Fadhlur Rahman. 2009. Laporan Kasus Katarak Matur Pada Penderita Diabetes Mellitus.
http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35543-Kep%20Sensori%20dan%20
Persepsi-Askep%20Katarak.html#popup
http://ladyrosebangkitdanpercaya.blogspot.com/2013/08/sap-katarak.html