Anda di halaman 1dari 12

Paraf Asisten

LAPORAN PRAKTIKUM SINTESIS SENYAWA ORGANIK


Judul : Sintesis Para Nitroasetanilida
Tujuan Percobaan : Mempelajari reaksi nitrasi senyawa aromatik.

Pendahuluan
Senyawa p-nitroasetanilida merupakan turunan asam karboksilat yang tergolong amida
sekunder (RCONHR). Sifat fisiknya antara lain berupa kristal prisma yang berwarna kuning
pucat. Senyawa p-nitroasetanilida digunakan industri sebagai bahan baku sistesis p-
nitroanilina (sebagai zat pewarna).
O
NH C
CH3

O 2N

Gambar 1. Struktur p-nitroasetanilida


Senyawa p-nitroasetanilida memiliki dua isomer posisi, yaitu o-nitroasetanilida dan
m-nitroasetanilida. Dalam padatannya, suatu isomer para lebih simetris dan dapat membentuk
kisi kristal lebih teratur dibandingkan kedua isomer lainnya (Hadiana, 2012).
Hidrokarbon aromatik adalah golongan khusus senyawa siklik yang strukturnya terkait
dengan benzena (Hart, 2003). Reaksi yang paling sering dijumpai pada senyawa aromatik
ialah substitusi hidrogen cincin oleh atom atau gugus lain, salah satu reaksi pada senyawa
aromatik adalah nitrasi. Kebanyakan reaksi ini dilakukan pada suhu antara 0 C dan 50 C,
tetapi kondisi ini dapat berubah jika ada subtituen lain pada cincin benzena. Nitrasi aromatik
menggunakan katalis asam sulfat. Asam sulfat memprotonasi asam nitrat, yang kemudian
melepaskan air dan menghasilkan ion nitronium, yaitu NO2+ yang mengandung atom nitrogen
bermuatan positif. Ion nitronium yang merupakan suatu elektrofil kuat menyerang cincin
aromatik. Oleh karena itu, ion nitronium, yaitu NO 2+ adalah pengaktif reaksi nitrasi (Hart,
2003).
Tahap mekanisne reaksi dalam nitrasi yaitu :
Tahap 1. Generasi elektrofil
NO2+ dalam nitrasi berperan sebagai elektrofil (ion nitronium). Ion nitronium dibentuk dari
proton yang disumbangkan oleh katalis asam pada gugus OH dari HNO 3 sehingga terbentuk
senyawa air. Benzena dapat bereaksi dengan asam nitrat, dimana reaksi tersebut dapat
berjalan dengan adanya penambahan katalis asam sulfat, untuk membentuk nitrobenzena.
Reaksi ini disebut nitrasi, gugus nitro (NO 2) yang menyerang benzene melalui substitusi
elektrofilik,
Tahap 2.
Penyerangan elektron benzena pada elektrofil untuk membentuk karbokation intermediet
(catatan: masing-masing oksigen dapat menerima pasangan elektron bebas),
Tahap 3
Hilangnya proton dari karbokation membentuk senyawa aromatik baru. Nitrasi merupakan
reaksi yang digunakan ketika gugus nitro menyerang cincin aromatik
(Loudon, 1995).
Proses rekristalisasi akan berjalan dengan baik apabila pelarut yang digunakan tepat
dan sesuai untuk pengkristalan kembali zat yang dimurnikan. Adapun beberapa syarat agar
suatu pelarut dapat digunakan dalam proses rekristalisasi ialah mampu meberikan perbedaan
daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor. Selain itu,
pelarut tidak meninggalkan pengotor pada kristal dan mudah untuk dipisahkan dengan
kristalnya (Rositawati et al., 2013).

MekanismeReaksi

Tahap 1: Pembentukan ion nitronium (NO2+)

O
- O O
O OH H +
+
H N
N
+ O S OH O
+
O
- + O S OH
O -
O O
H
Asam Nitrat Asam Sulfat

O
+ +
H
O
+
N
O
- O N O + H2O

H
Tahap 2: Reaksi pembentukan p-nitroasetanilida
+
NH CH3 H NH CH3
+
O N O + O
-
O
O +
N
H
asetanilida O

H + NH CH3
C
-
O + O
N
H
O

H + NH CH3 NH CH3
C
-
O + O O O
N N
H
O O
H OH
para-nitroasetanilida

(Williamson, 1994).
Alat
Erlenmeyer 100 mL, batang pengaduk, beaker glass, penangas es, pipet tetes, gelas
ukur 10 mL, Corong Buchner, kertas saring, vacuum pump, corong biasa, cawan petri.

Bahan
Asetanilida, asam asetat glasial, asam sulfat pekat, asam nitrat pekat.
Prosedur Kerja

Asetanilida

- dimasukkan 4 g ke dalam erlenmeyer 100 ml.


- ditambahkan 4 mL asam asetat glasial dan 8 mL asam sulfat pekat.
- didinginkan labu dalam air es.
- dicampurkan 2 mL asam nitrat pekat dan 2 mL asam sulfat pekat ke dalam
erlenmeyer 100 ml lain lalu didinginkan labu dalam air es.
- diteteskan campuran nitrasi tetes demi tetes ke dalam erlenmeyer yang berisi
asetanilida sambil diaduk dan dijaga suhunya 10 C.
- dikeluarkan labu dari es jika penetesan selesai dan dibiarkan selama 1 jam.
- dituangkan ke dalam gelas beker 250 ml yang berisi 100 mL air dan potongan
es lalu diaduk perlahan hingga kristal p-nitroasetanilida memisah.
- dibiarkan selama 15 menit
- disaring kristal dengan corong buchner, dicuci beberapa kali dengan air es.
- direkristalisasi dengan etanol.
- dikeringkan kristal di oven (T = 100 C ), ditimbang, lalu diuji titik lelehnya.

Hasil

4 g asetanilida dimasukan ke dalam labu erlenmeyer 100 mL dan ditambahkan ke


dalamnya 4 mL asam asetat glasial dan 8 mL asam sulfat pekat. Labu didinginkan dalam air
es, sementara itu dalam labu erlenmeyer 100 mL lain yang terpisah, dicampur secara hati-hati
masing-masing 2 mL asam nitrat pekat dan asam sulfat pekat kemudian didinginkan labu
dalam air es. Campuran nitrasi tetes demi tetes dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer yang
berisi asetanilida sambil diaduk dan temperatur dijaga agar tidak lebih dari 10C. Apabila
penetesan telah selesai labu dikeluarkan dari air es dan dibiarkan selama 1 jam.
Larutan kemudian dituangkan ke dalam gelas beker 250 mL yang berisi 100 mL air dan
beberapa potong es dan diaduk perlahan-lahan. Kristal p-nitroasetanilid akan memisah dan
dibiarkan selama 15 menit. Kristal disaring dengan corong Buchner, dicuci beberapa kali
dengan air es kemudian dilakukan rekristalisasi dengan etanol. Hasilnya dikeringkan di dalam
oven pada temperatur 100 C, ditimbang dan ditentukan titik lelehnya.
Waktu yang dibutuhkan

No. Kegiatan Waktu (menit)

1. Preparasi bahan 20
2. Pendiaman 60
Penuangan dalam air es dan pengadukan,
3. 25
serta kristalisasi
4. Penyaringan dalam corong Buchner 30
5. Rekristalisasi 10
6. Pengeringan 30
7. Pengujian titik leleh 20
Total 195

Data Pengamatan
Perlakuan Hasil
4 gram asetanilida + 4 ml asam asetat + 8 ml Larutan bening berwarna coklat pucat
asam fosfat (didinginkan) Tidak ada endapan
Eksoterm
Bau menyengat
2 ml asam nitrat dan 2 ml asam sulfat Tidak berwarna
(didinginkan) Tidak ada endapan
Campuran nitrasi ditambahkan kedalam Warna larutan menjadi kuning kecoklatan
erlenmeyer berisi asetanilida (tetes demi Bau menyengat
tetes) Sangat larut
Tidak ada endapan
Dibiarkan selama 1 jam Warna larutan berubah menjadi kuning
kehijauan
Dituang dalam beaker + beberapa potong es Larutan berubah warna menjadi kuning
(diaduk) bening
Dibiarkan 15 menit Terbentuk endapan
Warna kuning
Disaring dengan buchner + dicuci dengan Kristal berwarna kuning terang
air es
Rekristalisasi dengan etanol panas + Kristal larut
disaring dengan buchner Larutan berwarna kuning bening
Endapan (residu) berwarna berwarna kuning
pucat
Dikeringkan Terbentuk kristal kuning
Massa kristal 2,179 gram
Titik leleh 213C

Hasil Pengamatan
Perlakuan Hasil
4 gram asetanilida + 4 ml asam asetat + 8
ml asam fosfat (didinginkan)

Pendiaman selama satu jam

Pelarutan dengan etanol panas

Perhitungan

HNO3 (aq) + H2SO4 (aq) NO3+ (aq) + H2O (l) + HSO4- (aq)
Asetanilida + Ion Nitrosonium + Ion Asam Sulfat p-nitroasetanilida + Asam Sulfat
C6H5NHCOCH3 (s) + NO2+ (aq) + HSO4- (aq) C6H4NHCOCH3NO2 (s) + H2SO4
M 0,0296 mol 0,0479 mol 0,0375 mol - -
R 0,0296 mol 0,0296 mol 0,0296 mol 0,0296 mol 0,0296 mol
S - 0,0183 mol 0,0079 mol 0,0296 mol 0,0296 mol

Pembahasan
Percobaan sintesis p-nitroasetanilida bertujuan unrtuk mempelajari reaksi nitrasi
senyawa aromatis. P-nitroasetanilida merupakan senyawa turunan asam karboksilat. P-
nitroasetanilida digolongkan sebagai amida primer yang memiliki satu atom hidrogen pada
anilin yang akan digantikan dengan satu gugus asetil. Senyawa ini juga digolongkan sebagai
benzena terdisubstitusi oleh substituen NO2 dan NHCOCH3 pada posisi 1,4. Senyawa p-
nitroasetanilida dalam percobaan kali ini disintesis melalui reaksi nitrasi pada senyawa
asetanilida yang merupakan senyawa aromatis tersubstitusi. Reaksi nitrasi merupakan salah
satu reaksi substitusi elektofilik yang terjadi pada senyawa aromatis dimana ion nitronium
(NO2+) mensubstitusi salah satu atom H dari senyawa aromatis. Ion nitronium (NO2+) dalam
reaksi ini berperan sebagai elektrofil dimana dalam pembentukan elektrofil ini dibutuhkan
asam kuat.
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan kali ini adalah melarutkan kristal
asetanilida dengan larutan asam asetat glasial dan larutan asam sulfat. Asam asetat glasial
digunakan sebagai pelarut asetanilida, dimana asetanilida memiliki kelarutan yang sangat
besar dalam asam asetat glasial. Asam sulfat ditambahkan dengan tujuan memperbesar
kelarutan karena interaksi molekul yang semakin cepat akibat panas yang dihasilkan dari
asam sulfat. Hasil pencampuran diletakkan didalam penangas es agar tidak terjadi reaksi
oksidasi pada gugus karbonil yang dapat menyebabkan asetanilida berubah. Apabila
asetanilida mengalami perubahan, maka molekul target kemungkinan tidak akan terbentuk.
Hasil yang diperoleh dari pencampuran ketiga senyawa tersebut yaitu larutan lama-kelamaan
berubah warna menjadi coklat pucat dikarenakan adanya energi yang diberikan oleh asam
sulfat menimbulkan konjugasi dalam asetanilida menggeser tingkat energi ke daerah visibel.
Asam nitrat pekat dicampurkan dengan asam sulfat pekat pada erlenmeyer lain dengan
perbandingan volume yang sama kemudian didinginkan dalam air es. Perbandingan volume
dibuat sama karena jika berlebih pada asam sulfat maka akan ada reaksi sulfonasi yang terjadi
sehingga produk menjadi tidak murni dan molekul target yang diharapkan berkurang. Reaksi
yang terjadi diatas bersifat eksoterm yang menghasilkan panas, sehingga campuran
diletakkan didalam ice bath untuk mengurangi panas yang terjadi. Pencampuran asam nitrat
pekat dengan asam sulfat pekat bertujuan untuk pembentukan elektrofil NO 2+ yang nantinya
akan mensubstitusi salah satu atom H pada asetanilida dalam reaksi nitrasi. Asam sulfat
dalam pembentukan ion nitronium akan memprotonasi gugus OH dari HNO3 sehingga
membentuk H2O yang merupakan gugus pergi yang baik. H2O yang terbentuk ini kemudian
lepas dan terbentuklah ion NO2+. Adapun mekanisme pembentukan elektrofil adalah sebagai
berikut:
O
O + +
H
O
+
N
O
- O N O + H2O
H O NO 2
+ H O S OH

O H

Hasil pencampuran asam nitrat dengan asam sulfat ini kemudian diteteskan pada
erlenmeyer yang berisi asetanilida (reaksi nitrasi asetanilida mulai terjadi). Pada tahap ini
terjadi reaksi nitrasi. Pencampuran dilakukan pada suhu tidak boleh lebih dari 10 C sambil
diaduk. Pengadukan dilakukan agar reaksi berlangsung lebih cepat dan sirkulasi udara ke
larutan semakin bertambah sehingga meningkatnya suhu secara cepat berkurang.
Penambahan zat penitrasi dilakukan setetes demi setetes agar produk dari kristal p-
nitroasetnilida yang terbentuk jumlahnya maksimal, memperkecil kemungkinan terbentuknya
salah satu isomer dari p-nitroasetanilida yaitu o-nitroasetanilida, untuk mencegah terjadinya
reaksi dinitrasi dan terbentuk p-nitroanilin akibat terlalu banyaknya ion H+ yang dapat
mengkatalisis reaksi hidrolisis nitroasetanilida. Reaksi yang terjadi bersifat eksoterm
sehingga apabila ada sedikit energi yang berupa panas, maka o-nitroasetanilida kemungkinan
terbentuk lebih banyak, oleh sebab itu suhu lingkungan dijaga agar tidak lebih dari 10C.
Reaksi nitrasi asetanilida dimulai dengan penyerangan elektron pada ion nitronium
yang merupakan elektrofil. Gugus nitro dalam nitrasi asetanilida ini akan masuk pada posisi
para karena gugus amida dari asetanilida merupakan pengarah orto-para. Cabang amida yang
memiliki halangan steric besar ini mengakibatkan kemungkinan kecil gugus nitro masuk
pada posisi orto. Hal ini juga akan menyebabkan kemungkinan produk para semakin banyak
sehingga semakin baik dalam perlakuan sintesis. Penyerangan elektron membentuk
karbokation intermediet. Proton dari karbokation ini kemudian di deprotonasi oleh H2O
membentuk senyawa p-nitroasetanilida. Adapun mekanisme reaksinya sebagai berikut:
+
NH CH3 H NH CH3
+
O N O + O
-
O
O N
+

H
asetanilida O

H + NH CH3
C
-
O + O
N
H
O

H + NH CH3 NH CH3
C
-
O + O O O
N N
H
O O
H OH
para-nitroasetanilida

Hasil dari reaksi nitrasi asetanilida adalah larutan berwarna kuning kecoklatan, sangat
larut, dan memiliki bau yang menyengat. Fenomena perubahan warna ini diakibatkan sistem
melepas sejumlah energi (panas) sehingga elektron-elektron yang tereksitasi karena panas
reaksi akan kembali ke keadaan dasarnya dengan panjang gelombang tertentu yang
ditunjukkan dengan munculnya warna tampak.
Larutan kemudian didiamkan selama satu jam. Pendiaman larutan dilakukan agar reaksi
dapat berlangsung hingga semua reaktan bereaksi dan pembentukan p-nitroasetanilida terjadi
mendekati 100%. Larutan yang telah didiamkan kemudian dituangkan ke dalam 100 mL air
yang di dalamnya terdapat beberapa potong es batu kecil. Larutan dituangkan dalam air es
bertujuan agar isomer orto yang kemungkinan terbentuk dalam reaksi nitrasi tadi dapat larut
dalam air dingin, sedangkan isomer para tidak dapat larut dalam air dingin dan membentuk
endapan berupa kristal crude. Suhu yang rendah akan semakin mempercepat pembentukan
kristal karena energi dari dalam orbital yang berikatan terlepas sehingga elektron lebih
cenderung dalam keadaan ground state. Molekul yang melambat akan membentuk ikatan kisi
kristal dengan sesamanya untuk mencapai keseimbangan dalam kondisi suhu tersebut.
Kristal yang terbentuk kemudian disaring dalam corong Buchner dan dicuci
menggunakan akuades dingin. Proses ini dilakuakn dengan tujuan untuk menghilangkan
pengotor sehingga terbentuk kristal yang lebih murni. Kristal dicuci dengan air es berkali-kali
hingga asam (ion H3O+) hilang dan untuk melarutkan isomer orto yang mungkin masih ada.
Residu dari penyaringan ini berupa kristal kuning dimana kristal ini merupakan kristal
p-nitroasetanilida. Kristal p-nitroasetanilida yang dihasilkan dari proses penyaringan tersebut
kemudian direkristalisasi. Proses rekristalisasi dilakukan untuk mendapatkan kristal p-
nitroasetanilida yang lebih murni. Pelarut yang digunakan untuk rekristalisasi p-
nitroasetanilida adalah etanol panas. Pelarut etanol dipilih sebagai pelarut rekristalisasi p-
nitroasetanilida karena pelarut ini hanya dapat melarutkan kristal p-nitroasetanilida dalam
keadaan panas dan dalam keadaan panas ini pelarut tersebut tidak dapat melarutkan zat-zat
pengotornya. Selain itu, pelarut ini memiliki titik didih yang rendah sehingga memudahkan
proses pengeringan.
Etanol panas ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam kristal p-nitroasetanilida
hingga semua kristal melarut. Kristal p-nitoasetanilida yang belum larut sempurna dalam
etanol, kemudian diakukan pemanasan untuk dapat melarutkan secara sempurna. Hal ini
dikarenakan semakin tinggi suhu pelarutan, maka milai kelarutannya juga akan meningkat.
Larutan yang sudah larut sempurna (tidak ada endapan) kemudian disaring panas-panas.
Penyaringan dalam keadaan panas bertujuan untuk menghindari terbentuknya kembali
endapan kristal p-nitroasetanilida pada suhu kamar sehingga menyebabkan p-nitroasetanilida
tidak ikut tersaring.
Filtrat yang dihasilkan dari proses penyaringan ini kemudian didinginkan dalam air
dingin. Pendingan yang dilakukan bertujuan untuk membentuk kristal p-nitroasetanilida
kembali. Proses pendinginan yang dilakukan akan memengaruhi bentuk kristal yang
didapatkan. Penurunan suhu secara cepat, maka akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan
inti yang semakin cepat dari kecepatan pertumbuhan kristal, maka kristalnya kecil, rapuh, dan
banyak. Penurunan suhu yang dilakukan secara perlahan, akan membuat kecepatan
pertumbuhan kristal lebih cepat dari pertumbuhan inti, sehingga kristalnya besar dan elastis.
Kristal yang didapatkan dari proses pendinginan ini berukuran kecil dan rapuh. Hal ini
dikarenakan penurunan suhu yang dilakukan saat proses pendinginan tidak dilakukan secara
perlahan.
Kristal p-nitroasetanilida yang diperoleh kemudian dikeringkan dalam oven. Kristal
yang diperoleh berwarna kuning pucat, berukuran kecil dan memiliki massa sebesar 2,179
gram dan dilakukan identifikas senyawa p-nitroasetanilida dengan uji titik leleh. Titik leleh
yang diperoleh yaitu 213C. Berdasarkan literatur, senyawa p-nitroasetanilida berwarna
kuning pucat dengan titik leleh yaitu 213C-215C. Hasil yang diperoleh telah sesuai dengan
literatur sehingga senyawa yang terbentuk pada percobaan ini adalah p-nitroasetanilida.
Kristal yang didapatkan memiliki tingkat kemurnian yang tinggi dengan ditunjukkan hasil uji
titik leleh yang sesuai dengan senyawa p-nitroasetanilida berdasar literatur. Rendemen yang
dihasilkan dari percobaan sebesar 40,86%. Hasil yang didapatkan hanya 40,86% disebabkan
oleh terbentuknya senyawa o-nitroasetanilida sebagai produk samping yang banyak terlarut
dalam filtrat yang akhirnya dibuang. Kesalahan yang terjadi dimungkinkan akibat etanol
panas yang digunakan untuk melarutkan terlalu banyak sehingga mempersulit pembentukan
kristal.

Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam praktikum sintesis p-nitroasetanilida adalah sintesis p-
nitroasetanilida dilakukan melalui reaksi nitrasi asetanilida (reaksi substitusi aromatik
elektrofilik), dimana dalam nitrasi yang menjadi elektrofil adalah ion nitronium. Senyawa p-
nitroasetanilida terbentuk pada percobaan ini sebanyak 2,179 gram dengan rendemen
40,86%.

Referensi
Williamson, K., L. 1994. Macroscale and Microscale Organic Experiments; 2nd Ed; D. C.
Heath and Company.
Hadiana, Deni. 2012. Polimerisasi Anilin oleh Horseradish Peroksidase dan
Karakteristiknya. Jakarta: Universitas Indonesia.
Hart, H. 2003. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Jakarta: Erlangga.
Loudon, G. M. 1995. Organic Chemistry Third Edition. Redwood City: Cumming Publishing
Company, Inc.
Rositawati, A. L., Taslim, C. M., dan Soetrisnanto, D. 2013. Rekristalisasi Garam Rakyat
dari Daerah Demak Untuk Mencapai SNI Garam Industri. Jurnal Teknologi Kimia dan
Industri. Vol.2, No.4.

Saran
Adapun saran dalam praktikum sintesis asetanilida adalah praktikan harus lebih
berdisiplin selama melakukan percobaan. Praktikan harus menguasai materi yang akan
dilakukan dalam percobaan ini, sehingga data yang diperoleh bisa baik dan tepat serta sesuai
dengan harapan. Praktikan harus cermat dalam mengamati kenaikan suhu selama pemanasan,
supaya produk yang diinginkan tidak ikut teruapkan. Praktikan hendaknya mengerti
skema kerja dengan baik agar tidak terjadi kesalahan pada saat praktikum.
Nama Praktikan
Eka Safitri Lailatul Aini/ 141810301011

Anda mungkin juga menyukai