Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

KOMUNIKASI KESEHATAN
DALAM BIDANG PELAYANAN KESEHATAN

Disusun Oleh :

UNIVERSITAS MUHAMADIYAH PALANGKA RAYA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan ke hadirat Allah S.W.T.


karena atas berkat ramat serta kehendak-Nya lah kami dapat menyusun
dan menyelesaikan makalah ini. Dalam menyelesaikan makalah ini,
banyak kesulitan yang kami hadapi. Namun berkat bimbingan dari Dosen,
makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Seperti yang kita ketahui beberapa tantangan yang dihadapi oleh tenaga medis guna
meningkatkan kinerja, salah satunya ialah peran komunikasi kesehatan untuk membangun
hubungan yang ideal antara tenaga medis dengan pasiennya. Karenanya kami mengangkat
tema Komunikasi Kesehatan dalam Bidang Pelayanan Kesehatan pada makalah ini untuk
memenuhi tugas.
Kami menyadari, sebagai mahasiswa yang pengetahuannya belum
seberapa dan masih perlu banyak belajar dalam penulisan makalah,
makalah ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang
positif agar makalah ini menjadi lebih baik dan berguna di masa yang
akan datang.
Harapan kami, semoga makalah yang sederhana ini dapat
bermanfaat dan berguna bagi para pembaca ke depannya.

Palangka Raya, Maret


2017
Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................


DAFTAR ISI ..................................................................
BAB I PENDAHULUAN .................................................
A. Latar Belakang .........................................................
B. Rumusan Masalah ....................................................
C. Tujuan Penulisan .......................................................

BAB II PEMBAHASAN ..................................................


A. Pengertian komunikasi Kesehatan ............................
B. Komunikasi Kesehatan Pada Pasien ..........................
C. Komunikasi kesehatan pada Masyarakat ..................
D. Perlunya Komunikasi Kesehatan di Bidang Pelayanan
Kesehatan .................................................................

BAB III PENUTUP .........................................................


A. Kesimpulan ...............................................................
B. Saran ........................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagaimana diketahui, manusia adalah makhluk sosial, yaitu
makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupan
sehari-hari. Oleh karena itu tidak dapat dihindari bahwa manusia
harus selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hubungan
manusia dengan manusia lainnya, atau hubungan manusia dengan
kelompok, atau hubungan kelompok dengan kelompok inilah yang
disebut sebagai interksi sosial. Banyak pakar menilai bahwa
komunikasi adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental bagi
seseorang dalam hidup bermasyarakat. Profesor Wilbur Schramm
menyebutnya bahwa komunikasi dan masyarakat adalah dua kata
kembar yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Sebab tanpa
komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa
masyarakat maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan
komunikasi (Schramm; 1982).
Apa yang mendorong manusia sehingga ingin berkomunikasi
dengan manusia lainnya. Teori dasar Biologi menyebut adanya dua
kebutuhan, yakni kebutuhan untk mempertahankan kelangsungan
hidupnya dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Harold D. Lasswell salah seorang peletak dasar ilmu
komunikasi lewat ilmu politik menyebut tiga fungsi dasar yang
menjadi penyebab, mengapa manusia perlu berkomunikasi :
Pertama, Adalah hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya.
Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui peluang-
peluang yang ada untuk dimanfaatkan, dipelihara dan
menghindar pada hal-hal yang mengancam alam
sekitamya. Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui
suatu kejadian atau peristiwa. Bahkan melalui komunikasi
manusia dapat mengembangkan pengetahuannya, yakni
belajar dan pengalamannya, maupun melalui informasi
yang mereka terima dari lingkungan sekitarnya.
Kedua, adalah upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan
lingkungannya. Proses kelanjutan suatu masyarakat
Sesungguhnya tergantung bagaimana masyarakat itu bisa
beradaptasi dengan lingkungannya. Penyesuaian di sini
bukan saja terletak pada kemampuan manusia memberi
tanggapan terhadap gejala alam seperti banjir, gempa bumi
dan musim yang mempengaruhi perilaku manusia, tetapi
juga lingkungan masyarakat tempat manusia hidup dalam
tantangan. Dalam lingkungan seperti ini diperlukan
penyesuaian, agar manusia dapat hidup dalam suasana
yang harmonis.
Ketiga, adalah upaya untuk melakukan transformasi warisan
sosialisasi. Suatu masyarakat yang ingin mempertahankan
keberadaannya, maka anggota masyarakatnya dituntut
untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peranan.
Misalnya bagaimana orang tua mengajarkan tatakrama
bermasyarakat yang baik kepada anak-anaknya.
Bagaimana sekolah difungsikan untuk mendidik warga
negara Bagaimana media massa menyalurkan hati nurani
khalayaknya, dan bagaimana pemerintah dengan
kebijaksanaan yang dibuatnya untuk mengayomi
kepentingan anggota masyarakat yang dilayaninya.
Ketiga fungsi tersebut menjadi patokan dasar bagi setiap
individu dalam berhubungan dengan sesama anggota masyarakat.
Profesor David K. Berlo dari Michigan State University menyebut
secara ringkas bahwa komunikasi sebagai instrumen dan interaksi
sosial berguna untuk mengetahui dan memprediksi sikap orang lain,
juga untuk mengetahui keberadaan diri sendiri dalam menciptakan
keseimbangan dengan masyarakat (Byrnes, 1965). Jadi komunikasi
jelas tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan umat manusia, baik
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Ia diperlukan
untuk mengatur tata krama pergaulan antar manusia, sebab
berkomunikasi dengan baik akan memberi pengaruh langsung pada
struktur keseimbangan seseorang dalam bermasyarakat, apakah ia
seorang dokter, dosen, manajer, pedagang, pramugari, pemuka
agama, penyuluh lapangan, pramuniaga dan lain sebagainya. Pendek
kata, sekarang ini keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam
mencapai sesuatu yang diinginkan termasuk karir mereka, banyak
ditentukan oleh kemampuannya berkomunikasi.
Komunikasi massa adalah proses penyampaian informasi kepada
khalayak massa dengan media massa. Media massa hanyalah salah
satu faktor yang membentuk proses komunikasi massa tersebut, yaitu
sebagai alat atau saluran..
Iklan merupakan berita pesanan untuk mendorong, membujuk
orang agar tertarik pada barang yang ditawarkan. Secara garis besar
iklan dibagi menjadi dua, yang pertama iklan komersil yaitu iklan yang
bertujuan untuk meningkatkan pemasaran suatu produk dan jasa.
Yang kedua iklan non komersil yaitu bagian dari kampanye sosial
dengan tujuan mengajak, menghimbau atau menyampaikan gagasan
demi kepentingan umum. Iklan non nkomersil lebih dikenal dengan
iklan layanan masyarakat.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Komunikasi Kesehatan?
2. Komunikasi Kesehatan Pada Pasien
3. Komunikasi Kesehatan Pada Masyarakat?
4. Komunikasi Kesehatan di Bidang Pelayanan Kesehatan?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Komunikasi Kesehatan?
2. Untuk Mengetahui Komunikasi Kesehatan Pada Pasien
3. Untuk Mengetahui Komunikasi Kesehatan Pada Masyarakat?
4. Untuk Mengetahui Komunikasi Kesehatan di Bidang Pelayanan
Kesehatan?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Komunikasi Kesehatan


1. Komunikasi
Istilah komunikasi (communication) berasal dari bahasa
Latin communicatus yang artinya berbagi atau menjadi milik
bersama. Dengan demikian komunikasi menunjuk pada suatu
upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan.
Menurut Effendi (1995) komunikasi itu sendiri bisa diartikan
sebagai suatu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada
orang lain untuk memberikan atau untuk mengubah sikap,
pendapat atau perilaku baik secara langsung (lisan) maupun tak
langsung
Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang
(komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk
kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku
orang lain (khalayak). (Hovland, Janis dan Kelley : 1953)
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan,
emosi, keahlian dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol
seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain.
(Barelson dan Steiner, 1964).
2. Kesehatan
Kata dasarnya adalah sehat, yang berarti baik itu sehat
jasmani maupun rohani. Jadi, Kesehatan adalah salah satu konsep
yang sering digunakan namun sukar untuk dijelaskan artinya.
Faktor yang berbeda menyebabkan sukarnya mendefinisikan
kesehatan, kesakitan dan penyakit (Gochman,1988; De
Clercq,1993). Setidaknya definisi kesehatan harus mengandung
paling tidak komponen : biomedis,personal dan sosiokultural.
keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani), dan
sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit,
cacat dan kelemahan. Definisi tersebut tidak hanya meliputi
tindakan yang dapat secara langsung diamati dan jelas tetapi juga
kejadian mental dan keadaan perasaan yang diteliti dan diukur
secara tidak langsung.
3. Komunikasi Kesehatan
Setelah tahu pengertian komunikasi dan kesehatan, apa itu
Komunikasi Kesehatan ?
Proses penyampaian pesan kesehatan oleh komunikator
melalui saluran/media tertentu kepada komunikan dengan tujuan
untuk mendorong perilaku manusia tercapainya kesejahteraan
sebagai kekuatan yang mengarah kepada keadaan (status) sehat
utuh secara fisik, mental (rohani), dan sosial.
Jadi, komunikasi Kesehatan adalah proses penyampaian
informasi tentang kesehatan

B. Komunikasi Kesehatan pada Pasien


1. Komunikasi dengan Pasien Depresi
Depresi adalah suatu keadaan seseorang saat mengalami
emosi yang tidak menyenangkan karena suatu hal. Depresi
merupakan suatu kondisi saat seseorang mengalami suatu
masalah berlebih sehingga otak sulit untuk menerima informasi
(Berry,2007). Pasien depresif umumnya memiliki tekanan dan
beban yang berat yang menyababkan tidak terkontrolnya emosi.
Keadaan depresif pun dapat terjadi karena ketidaksiapan pasien
untuk menerima hal baru.
Komunikasi yang berhasil, yaitu jika terdapat umpan balik
antara pengirim dan penerima pesan serta mendapatkan
pemahaman yang sama mengenai informasi yang
diperbincangkan.Oleh karena itu, seorang tenaga medis harus
mampu untuk berkomunikasi dengan pasien depresif dan membuat
pasien tersebut mengerti serta paham mengenai topik
pembicaraan. Tanda-tanda dari pasien depresi menurut Floyd
(2015) adalah sebagai berikut:
Tidak mampu mengutarakan pendapat dan tidak berniat untuk
melakukan pembicaraan
Merasa dirinya sudah tidak berarti, tidak memiliki tujuan hidup,
serta merasa putus asa dan cenderung ingin bunuh diri
Gerakan tubuh tidak menunjukkan semangat, ketidaksabaran
saat duduk atau menulis
Menunjukkan rasa malas, lelah, tidak memiliki nafsu makan,
sukar tidur dan sering menangis
Berpikir secara lamban, seolah-olah pikiran kosong, dan
konsentrasi terganggu
Merasakan perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk
akal, depersonalisasi dan halusinasi. Terkadang pasien
menunjukkan sikap bermusuhan dan mudah tersinggung
Hal-hal yang dapat dilakukan kepada pasien khusus yang depresif,
yaitu:
Memberikan dukungan untuk mengatasi keputusasaan
Mempererat kekerabatan dengan berinteraksi sesering mungkin
dan berempati untuk membina hubungan saling percaya
Membantunya untuk beradaptasi dengan lingkungan dan
bersosialisasi
Membantunya untuk menjalani pola hidup sehat dan hidup
teratur
Melakukan Terapi Individual Konseling; membantu pasien
mengenali dan mengekspresikan perasaannya,
mengembangkan kemampuan pasien beradaptasi terhadap
masalah (3R=Rekonsiliasi, Reintegrasi, Rekreasi), Terapi Kognitif
& Perilaku (CBT); mengembangkan pola pikir dan perilaku
positif, menumbuhkan sikap optimis dan percaya diri, Terapi
Kelompok; bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial,
mengembangkan sikap asertif, dan sebagai media untuk saling
berbagi cerita, serta Konseling Keluarga; bertujuan
mengembangkan partisipasi keluarga dalam proses terapi.
Menurunkan faktor ekspresi emosi dalam keluarga. Memperbaiki
pola adaptasi keluarga dalam menghadapi perubahan perilaku
pasien
Memberikan obat antidepressant untuk memberikan
ketenangan, menjelaskan kegunaan obat tersebut dan
penggunaannya, serta memantau dosisnya sesuai resep
Menghindari kesan pertama yang buruk di depan pasien, seperti
menyampaikan informasi secara tidak terurut, menyalahkan
pasien dalam keadaan depresif, dan tidak memberikan informasi
dengan jelas kepada pasien
2. Komunikasi dengan Pasien Pasif
Pasien yang pasif dapat membuat tenaga kesehatan merasa
kesulitan karena lebih menutup diri dan merasa sulit untuk
mengungkapkan sesuatu yang dirasakan/dialami. Hal ini
akanmenyebabkan terganggunya proses diagnosis dari pasien
tersebut. Penyebab seorang pasien pasif dapat dikategorikan
dalam dua hal, yaitu karena sifat pasif tersebut merupakan
karakter natural/alami mereka atau karena pasif itu disebabkan
olehfaktor lainnya,seperti rasa sakit, tekanan, perasaan sedih
mendalam, dan sebagainya (Wiener, 1990).Oleh karena itu,
tenaga kesehatan harus memiliki kemampuan interpersonal yang
baik untuk dapat berkomunikasi dengan pasien. Kemampuan
interpersonal tersebut meliputi keinginan untuk mengenal pasien
bukan hanya sebagai benda yang harus diobati, namun sebagai
manusia yang memiliki perasaan untuk dimengerti.
Ciri-ciri seorang pasien pasif antara lain, yaitu bersifat
menerima saja, mengikuti tuntutan dan kemauan orang lain karena
tidak ingin mengalami konflik, tidak berani menatap mata lawan
bicarasaat sedang berbicara, cenderung berbicara setelah lawan
bicara selesai berbicara, serta tidak mampu mempertahankan hak
dan pribadinya. Untuk melakukan komunikasi yang berhasil, tenaga
kesehatan harus mampu menyesuaikan diri secara cepat, tepat
dan cermat pada kondisi khusus ini.Hal yang dapat dilakukan pada
pasien pasif diantaranya, yaitu:
Bertanya dan meminta sertamemberi kesempatan kepada klien
untuk menguraikan segala keluh kesahnya
Bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka kepada pasien
Menganjurkan pasien untuk menguraikan persepsinya dan
meneruskan pembicaraan
Menunjukkan perilaku penerimaan informasi dari pasien secara
mendukung dan fokus untuk mengklarifikasi setiap informasi
yang diberikan pasien
Memberikan saran yang sesuai dengan informasi yang didapat
dengan mengkonfirmasikannya lagi kepada pasien
Menghindari berinteraksi dengan agresif dan pasif
Komunikasi asertif merupakan komunikasi yang tepat
dilakukan kepada pasien pasief karena komunikasi tersebut lebih
terbuka dan menghargai diri sendiri serta orang lain. Saat
melakukan komunikasi tersebut, tenaga kesehatan harus lebih
terbuka, jujur, memahami, dan mendengarkan pendapat diri dan
orang lain, mencari solusi dan keputusan bersama, dan
menghargai diri sendiri dan orang lain, serta mengatasi konflik.
Sikap yang dilakukan dalam komunikasi dengan pasien pasif, yaitu
santai dan tidak kaku, badan tegak lurus, ekspresi dan bahasa
tubuh dapat terukur dan menyesuaikan kondisi, dan melihat
langsung dengan suasana santai.
3. Komunikasi dengan Pasien Marah/Agresif
Marah merupakan suatu respon emosional yang diperlihatkan
dari diri seseorang ke orang lain karena merasa ada yang salah
terhadap dirinya.30 Kemarahan adalah suatu respons terhadap
rasa takut, frustasi, kurangnyakontrol, dan/atau kecemasan
(Sheldon, 2010). Respon yang muncul dari pasien marah tentu
memiliki sebab tertentu, seperti adanya kabar buruk yang
diberikan oleh professional kesehatan ataupun karena kurangnya
informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan.Lloyd dan Bor
(2009) menyarankan professional kesehatan untuk melakukan hal-
hal berikut:
Jaga jarak, jangan menyentuh, jangan memotong pembicaraan,
memahami kemarahannya, memberi solusi, jika sudah berhenti
marah segera ambil alih pembicaraan
Mengetahui penyebab kemarahannya dan menunjukan kemauan
untuk berbicara dan mendengarkan pasien
Menanyakan pertanyaan yang sifatnya terbuka
Tidak menganggu atau mengancam pasien atau keluarganya
dengan cara apapun
Tidak menyetujui atau menjanjikan sesuatu yang tidak dapat
ditepati
Membantu pasien merasa bahwa mereka mempunyai berbagai
pilihan
Jangan membicarakan orang yang marah atau agresif tanpa
sepengetahuan mereka karena mereka dapat menganggapnya
sebagai tindakan yang mengancam mereka
Coba untuk tidak tersinggung atau terlibat terlalu dalam secara
emosional
Menjaga jarak yang aman jika pasien mulai menunjukan tanda-
tanda agresif
Jika keadaan semakin membahayakan, panggilah bantuan
namun tetap awasi pasien jika sedang menghadapi masalah dan
pertahankan situasi jika memungkinkan
4. Komunikasi dengan Geraitri
Pasien geriatri merupakan individu yang berusia 60 tahun
keatas dengan kondisi multipatologi (memiliki beberapa masalah
kesehatan) yang diakibatkan karena beberapa gangguan fungsi
dan mengalami kondisi sosial yang bermasalah.34Terdapat lima
klasifikasi menurut Maryam et al. (2008), yaitu pralansia
(prasenilis), lansia, lansia resiko tinggi, lansia potensial, dan lansia
tidak potensial. Maksud dari klasifikasi pralansia, yaitu seseorang
yang berusia antara 45-59 tahun. Sedangkan lansia, yaitu
seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih. Kemudian yang
dimaksud lansia resiko tinggi, yaitu seseorang yang berusia 70
tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih yang
memiliki masalah kesehatan (Depkes RI, 2003 dalam Maryam et
al., 2008). Lansia potensial, yaitu lansia yang sanggup untuk
melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan
barang/jasa, sedangkan lansia yang tidak potensial, yaitu lansia
yang tidak sanggup untuk mencari nafkah, sehingga hidupnya
bergantung pada bantuan dari orang lain (Depkes RI, 2003 dalam
Maryam et al.,2008).
Selain klasifikasi tersebut, terdapat pula karakteristik.
Menurut Budi Anna Keliat (1999 dalam Maryam et al., 2008), lansia
memiliki karakteristik sebagai berikut. Pertama berusia lebih dari
60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 ayat (2) UU No. 13 tentang
Kesehatan). Kedua, yaitu kebutuhan dan masalah yang bervarisi
dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuhan biopsikososial
sampai spiritual, serta kondisi adaptif hingga kondisi maladaptif.
Ketiga, yaitu lingkungan tempat tinggal yang bervariasi. Selain itu,
menurut Tamher dan Noorkasiani (2009), karakteristik personal
yang sering dijumpai pada kalangan lansia dapat dikelompokkan ke
dalam dua kategori tertentu. Pertama, persepsi mereka tentang
pensiun (yang sedang dijalani) dan kedua, yaitu perubahan peran
lansia yang dapat diamati. Ciri-ciri pasien geriatrik adalah sebagai
berikut, antara lain:
Pasien Usia Lanjut (lansia) yang berusia 60 tahun ke atas
Lansia yang menderita lebih dari 1 penyakit kronis atau
degeneratif dengan/atau tanpa disertai penyakit akut
Lansia yang menghadapi kesulitan untuk berjalan, mengalami
jatuh, atau imobilisasi
Lansia yang menghadapi masalah untuk merawat diri sendiri,
seperti kesulitan makan atau berpakaian
Lansia yang mengalami penurunan daya ingat dini atau
gangguan tingkah laku dini
Lansia dengan masalah kesehatan lain, seperti osteoporosis,
penyakit parkinson, artritis, gangguan berkemih (Inkontinensia
urin), atau gangguan buang air besar
Hal-hal yang dapat dilakukan ketika berkomunikasi dengan pasien
geriatri, yaitu:
Menghormati dan menghargai pasien tanpa memandang segala
kelemahan dan keterbatasannya
Melibatkan pasien dalam komunikasi tentang kondisinya dan
asuhan perawatan yang akan dijalaninya
Melakukan evaluasi terhadap kapasitas komunikasi dan kognitif
pasien
Menggunakan sentuhan (untuk mendapatkan perhatian) bila
perlu
Memberitahukan dengan kalimat yang singkat dan mudah
dipahami

C. Komunikasi Kesehatan Pada Masyarakat


Kesehatan masyarakat (Kesmas) merupakan salah satu cabang
dari ilmu kesehatan yang berfokus pada masyarakat. Permasalahan
kesehatan dalam kesmas tidak dipandang dari sisi individu, tetapi
secara keseluruhan di dalam masyarakat. Dalam konteks ini,
komunikasi menjadi penting mengingat ilmu kesmas berhubungan
langsung dengan masyarakat yang merupakan sekumpulan orang
yang memiliki latar belakang ilmu, budaya, adat-istiadat dan
kebiasaan yang berbeda-beda.
Pentingnya komunikasi dalam kesmas dapat dijabarkan melalui
3 fungsi inti kesmas. Dalam prakteknya, ilmu kesmas memiliki 3 fungsi
inti yaitu fungsi assessment, policy development dan assurance.
Ketiga fungsi ini harus dilaksanakan secara sistematis, sehingga
tujuan akhir untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara
menyeluruh dapat tercapai.
Pada tahap pertama, dalam menjalankan
fungsi assessment atau penilaian, komunikasi sangat diperlukan untuk
memahami betul kebutuhan kesehatan yang diperlukan oleh
masyarakat. Kebutuhan kesehatan masyarakat tidak akan sama satu
dengan yang lain. Misalnya saja kebutuhan pelayanan kesehatan
antara masyarakat desa dan kota tentu tidak sama. Untuk mengetahui
kebutuhan kesehatan masyarakat, maka komunikasi dilakukan.
Sebagai contoh, Gubernur DKI Jakarta saat ini, Bapak Joko Widodo,
terjun langsung ke masyarakat DKI Jakarta dan berkomunikasi
langsung dengan mereka untuk mengetahui kondisi kesehatan warga
DKI dan menilai pelayanan apa yang memang sangat dibutuhkan oleh
warga DKI saat ini.
Berdasarkan hasil penilaian kebutuhan (assessment), kemudian
dibuatlah kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan
masyarakat. Bayangkan jika tidak adanya komunikasi antara pembuat
kebijakan dan masyarakat, maka kebutuhan kesehatan tidak akan
terpenuhi. Misalnya saja di suatu daerah terdapat fasilitas pelayanan
kesehatan. Akan tetapi, jaraknya cukup jauh sehingga membutuhkan
waktu yang lama bagi warga yang sakit untuk dapat mencapai
fasilitas kesehatan tersebut. Dalam kasus ini, yang diperlukan warga
adalah akses yang mempermudah warga ke pelayanan kesehatan
seperti transportasi. Namun karena tidak adanya komunikasi,
pemerintah justru mengeluarkan kebijakan dengan menambah tenaga
kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan di daerah tersebut.
Kebijakan ini mungkin tidak sepenuhnya salah, akan tetapi belum
tepat untuk mengatasi sulitnya akses warga ke fasilitas pelayanan
kesehatan.
Setelah kebijakan dibuat, fungsi terakhir dari kesmas adalah
fungsi assurance, mengawasi pelaksanaan kebijakan yang telah
dibuat. Dalam fungsi ini, tenaga kesmas juga bertugas memberikan
informasi dan edukasi kepada masyarakat terkait kebijakan yang telah
dibuat. Pemberian informasi dan edukasi yang dilakukan kepada
masyarakat tentunya memerlukan komunikasi sebagai medianya.
Sebagai contoh, untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan
bahaya merokok, Departemen Kesehatan membuat poster-poster
yang berisi gambar-gambar organ tubuh yang rusak akibat kebiasaan
merokok. Poster-poster ini merupakan suatu bentuk komunikasi massa
yang berisi pesan kesehatan. Dengan gambar yang menyeramkan
diharapkan masyarakat menjadi sadar akan bahaya merokok dan
mulai mengurangi kebiasaan merokok.
Selain pemberian informasi dan edukasi, kesmas juga berperan
membangun kemitraan antara pemangku kekuasaan dengan berbagai
elemen masyarakat. Untuk menjadi jembatan antara masyarakat dan
pengambil kebijakan, maka tenaga kesmas harus menguasai teknik
komunikasi yang baik. Teknik komunikasi efektif diperlukan oleh
tenaga kesmas karena dalam menjalankan fungsinya, tenaga kesmas
akan berhadapan dengan orang-orang yang berbeda. Misalnya saja
ketika berhadapan dengan pemangku kekuasaan/ pengambil
kebijakan, maka teknik berkomunikasinya akan berbeda ketika
berhadapan dengan masyarakat biasa. Contoh lain, ketika berhadapan
dengan masyarakat yang mempunyai kebudayaan atau kepercayaan
tertentu, maka cara berkomunikasi pun harus disesuaikan agar
tercapai kesepahaman antar kedua belah pihak.
Beberapa ilustrasi di atas merupakan gambaran pentingnya
komunikasi dalam kesehatan masyarakat. Berbicara tentang
kesehatan masyarakat artinya berbicara tentang suatu sistem yang
harus dijalankan secara berurutan sehingga semua elemennya dapat
terlaksana dengan baik. Untuk mencapai tujuan ini, maka komunikasi
sangat diperlukan agar semua komponen dalam kesehatan
masyarakat dapat dilaksanakan dengan baik sehingga derajat
kesehatan masyarakat dapat dicapai setinggi-tingginya.
D. Perlunya Komunikasi Kesehatan di Bidang Pelayanan
Kesehatan
Komunikasi Kesehatan menjadi semakin populer dalam upaya
promosi kesehatan selama 20 tahun terakhir. Contoh, komunikasi
kesehatan memegang peranan utama atau pengontribusi dalam
pemenuhan 219 dari 300 tujuan khusus dalam Healthy People 2010.
Apabila digunakan secara tepat, komunikasi kesehatan dapat
mempengaruhi sikap, persepsi, kesadaran, pengetahuan dan norma
sosial yang kesemuanya berperan sebagai precursor dapa perubahan
prilaku. Komunikasi kesehatan sangat efektif dalam mempengaruhi
prilaku karena didasarkan pada psikologi sosial, pendidikan kesehatan,
komunikasi massa, dan pemasaran untuk mengembangkan dan
menyampaikan promosi kesehatan dan pesan pencegahan
pencegahan.
Karya awal yang mempengaruhi perkembangan komunikasi
kesehatan di susun oleh National Cancer Institute (NCI) dan diberi
judul Making Health Communication Programs Work: A Planners
Guide. Panduann ini menyatakan bahwa bidang ilmu seperti
pendidikan kesehatan, pemasaran sosial, dan komunikasi massa
secara bersama mendefinisikan komunikai kesehatan. Bukan hal luar
biasa apabila mendengar peryataan bahwa komunikasi kesehatan
bahkan merupakan nama yang lebih baik untuk profesi daripada
promosi kesehatan atau pendidikan kesehatan bahwa segala sesuatu
yang dilakukan dalam promosi kesehatan melibatkan komunikasi
untuk kesehatan. Kenyataannya, komunikasu kesehatan telah
didefinisikan secara luas oleh Everett Rogers, seorang pelopor dalam
bidang komunikasi, sebagai segala jenis komunikasi manusia yang
berhubungan dengan kesehatan.
Komunikasi kesehatan juga dapat mencerminkan bagaimana
persoalan kesehatan diterima oleh audiens tertentu. Contoh, NCI
mendefinisikan komunikasi kesehatan sebagai seni dan teknik
menyampaikan informasi, mempengaruhi, dan memotivasi individu,
institusi, dan audiens public tentang pentingnya persoalan kesehatan.
The Centers of Disease Control and Prevention (CDC) mendefinisikan
komunikasi kesehatan sebagai suatu ilmu dan sebagai penggunaan
strategi komunikasi untuk menyampaikan informasi dan
mempengaruhi keputusan individu dan masyarakat yang dapat
meningkatkan kesehatan. Walau begitu, masih ada orang yang
membicarakan konsep tersebut dengan menekankan berbagai bentuk
aplikasinya , termasuk advokasi media, komunikasi resiko, pendidikan
hiburan, materi cetak, dan komunikasi interaktif.
Ada dua perspektif utama yang diambil ketika
mempertimbangkan komunikasi kesehatan dalam praktik promosi
kesehatan saat ini. Beberapa praktisi memandang komunikasi massa
sebagai proses menyeluruh yang membingkai penerapan intervensi
promosi kesehatan. Praktisi ini memandang komunikasi kesehatan
sebagai strategi atau aktifitas sempit seperti publikasi informasi atau
sejenis komunikasi. Antar personal yang mungkin berlangsung antara
pendidik kesehatan dan kliennya. Kedua pemikiran itu menyebabkan
komunikasi kesehatan rentan terhadap penafsiran yang luas dan
kesalahpahaman.
Jadi,komunikasi kesehatan diperlukan di bidang kesehatan
karena komunikasi dalam kesehatan merupakan kunci pencapaian
peningkatan tarap atau tingkat kesehatan masyarakat. Sejauh ini
komunikasi senantiasa berkembang seiring berkembangnya dunia
teknologi komunikasi. komunikasi yang dulunya biasa dilakukan
dengan penyuluhan yang secara langsung berhadapan dengan
masyarakat dan dilakukan dengan media audio/radio sekarang lebih
popular dengan penyampaian pesan atau informasi kesehatan melalui
media internet maupun media cetak dan elektronik. Tidak hanya
bernilai praktis namun mempunyai nilai ekonomis dan tampilannya
lebih menarik. Media yang berkembang tersebut sangat membantu
dalam ketercapaian komunikasi kesehatan karena tercapai atau
tidaknya komunikasi kesehatan lebih dikarenakan penggunaan media
informasi yang tepat, pesan yang sistematis dan mudah dimengerti.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi
tingkah laku manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan
dipelihara secara terus menerus. Komunikasi bertujuan untuk
memudahkan, melancarkan, melaksanakan kegiatan-kegiatan
tertentu dalam rangka mencapai tujuan optimal, baik komunikasi
dalam lingkup pekerjaan maupun hubungan antar manusia
Dari hasil pembahasan mengenai komunikasi kesehatan, dapat
ditarik kesimpulan bahwa komunikasi merupakan penyampaian
informasi yang berisi ide, perasaan, perhatian, makna, serta pikiran
yang diberikan oleh pengirim informasi kepada penerima informasi
dengan harapan si penerima pesan menggunakan informasi tersebut
untuk mengubah sikap dan perilakunya. Komunikasi terdiri dari
komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal yang paling baik
miliki setiap individu adalah sikap asertif yaitu tidak menang sendiri
dan tidak terlalu menahan diri terhadap intervensi orang lain.
Untuk mendapatkan komunikasi yang efektif harus
memerhatikan syarat-syarat dalam berkomunikasi antara lain saling
menghormati, empati, penyampaian jelas, dan rendah hati. Dalam
kehidupan tidak mungkin akan berkomunikasi dengan diri sendiri,
tetapi juga perlu berkomunikasi dengan orang lain, sehingga
komunikasi terdiri dari komunikasi intrapersonal, komunikasi
interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi,
komunikasi massa, dan komunikasi interkultural. Komunikasi yang
dilakukan dengan juga pasti tidak akan selalu berjalan lancar,
terdapat berbagai hambatan yang mengharuskan pihak yang
berkomunikasi mengondisikannya. Hambatan dalam berkomunikasi
dapat berasal dari pengirim pesan, penerima pesan, lingkungan
sekitar, maupun dari pesan itu sendiri.

B. Saran
Semoga hasil makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para
pembaca baik di masa yang sekarang maupun masa yang akan
datang. Penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dan
kekurangan dalam makalah ini, karena penulis pun masih dalam
tahap pembelajaran. Penulis memohon kritik dan saran kepada
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Alo, Lilliweri.2008.Dasar Dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta:


PustakaPelajar.

Jufri, Andry.2013.Makalah Komunikasi Kesehatan.


http://andryjufri.blogspot.com/2013/01 /makalah-
komunikasikesehatan.html

Maulana, Arif. 2012. Pengembangan Komunikasi Kesehatan Perlu


Ditingkatkan.http://www. unpad.ac.id/2012/10/pengembangan-
komunikasi-kesehatanperluditingkatkan/

Rullyana, Gema.2012.Kenapa Manusia Berkomunikasi?.


http://gemarullyana.blogspot.com /2012/11/normal-0-false-false-falseen-
us-x-none.html

Anda mungkin juga menyukai