Anda di halaman 1dari 33

ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA UDANG VANNAMEI

(Litopenaus Vannamei) DI DESA MOROREJO KECAMATAN


KALIWUNGU KABUPATEN KENDAL

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh :
Ahmad Nasirin
NIM : 124010125

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
2016
ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA UDANG VANNAMEI
(Litopenaus Vannamei) DI DESA MOROREJO KECAMATAN
KALIWUNGU KABUPATEN KENDAL

PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan studi Strata 1
guna memperoleh gelar Sarjana Pertanian

Oleh :
Ahmad Nasirin
NIM : 124010125

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
2016

i
Halaman Pengesahan Laporan

ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA UDANG VANNAMEI


(Litopenaus Vannamei) DI DESA MOROREJO KECAMATAN
KALIWUNGU KABUPATEN KENDAL

Proposal ini telah disetujui


Pada tanggal: .........................................................................................................

Oleh :
Ahmad Nasirin
NIM : 124010125

Pembimbing I Pembimbing II

Sri Wahyuningsih, SP., MP. Rossi Prabowo, S.Si., M.Si.


(NPP.06.01.1.0034) (NPP. 06.05.0.0136)
Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian
Universitas Wahid Hasyim Semarang

Lutfi Aris Sasongko, S.TP., M.Si.


Npp.06.02.1.0074

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................ I
HALAMAN PENGESAHAN................................................................... II
DATAR ISI ............................................................................................... III
DATAR TABEL ....................................................................................... V
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ....................................................................... 4
1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................... 4
1.4. Manfaat Penelitian ......................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori............................................................................... 5
2.2.1. Sejarah udang Vannamei ................................................ 5
2.2.2. Klasifikasi dan Morfologi Udang Vannamei.................. 5
2.2.3. Budidaya Udang Vannamei ............................................ 6
2.2.4. Pemanenan ...................................................................... 10
2.2.5. Pendapatan Usaha Tani................................................... 11
2.2.6. Biaya ............................................................................... 12
2.2.7. Penerimaan dan Pendapatan ........................................... 13
2.2.8. Keuntungan..................................................................... 14
2.2.10. RC ratio ......................................................................... 15
2.2.Kerangka Pemikiran........................................................................ 15
2.3.Penelitian Terdahulu ....................................................................... 18
2.4.Hipotesis.......................................................................................... 19
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Metode Dasar ................................................................................. 20
3.2. Metode Pelaksanaan....................................................................... 20
3.3. Metode Pengambilan sempel ......................................................... 20
3.3.1. Metode Pengambilan Sampel Daerah ................................... 20
3.3.2. Metode Penentuan Responden .............................................. 20

iii
3.4. Macam dan Sumber Data ............................................................... 21
3.4.1. Data Primer ..................................................................... 21
3.4.2. Data Sekunder................................................................. 21
3.5. Teknik Pengumpulan Data............................................................. 21
3.6.Metode Analisis Data...................................................................... 22
3.6.1. Pengujian Hipotesis Pertama.......................................... 22
3.6.2. Pengujian Hipotesis Kedua ............................................ 23
3.7. Pembatasan Masalah ...................................................................... 23
3.8. Asumsi ........................................................................................... 24
3.9.Devinisi dan Pengukuran Variabel.................................................. 24
3.10. Daftar Pustaka.............................................................................. 26

iv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Produksi udang Vannamei ...............................................................3

v
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Wilayah pesisir dan lautan mempunyai peran yang penting sebagai
sumber penghidupan bagi penduduk Indonesia. Kedua wilayah ini
diperkirakan menjadi tumpuan bagi pembangunan bangsa Indonesia di masa
depan. Hal ini disebabkan sebagian besar wilayah Indonesia merupakan
wilayah pesisir dan laut yang memiliki berbagai sumber daya alam serta jasa
lingkungan yang beragam. Ada beberapa sumber daya alam pesisir yang
dapat dikelola dan dikembangkan, diantaranya sumber daya perikanan yang
mencakup sumber daya perikanan tangkap dan perikanan budidaya.
Perikanan budidaya meliputi budidaya payau, pantai dan laut. Semakin
menurunnya produksi yang dihasilkan oleh perikanan tangkap, maka usaha
pemanfaatan lahan tambak, khususnya budidaya air payau (tambak udang)
diharapkan mampu menopang target produksi nasional perikanan (Alikodra
2005).
Udang Vannamei masuk ke Indonesia pada tahun 2001. Pada 2002,
pemerintah memberikan izin kepada dua perusahaan swasta untuk
mengimpor induk udang Vannamei sebanyak 2.000 ekor. Selain itu, juga
mengimpor benur sebanyak 5 juta ekor dari Hawai dan Taiwan serta 300.000
ekor dari Amerika Latin. Induk dan benur tersebut kemudian dikembangkan
oleh hatchery pemula. Sekarang, usaha tersebut telah dikomersilkan dan
berkembang pesat karena peminat udang Vannamei semakin meningkat
(Haliman, 2005).
Spesies ini relatif mudah untuk berkembang biak dan dibudidayakan,
maka udang Putih (Vannamei) menjadi salah satu spesies andalan dalam
budidaya udang di beberapa negara dunia. Beberapa keunggulan yang
dimiliki udang putih antara lain responsif terhadap pakan yang diberikan,
lebih tahan terhadap serangan penyakit dan lingkungan yang kurang baik.
Udang Putih juga memiliki pasaran yang pesat ditingkat Internasional
(Ariawan, 2005).

1
2

Udang Vannamei memiliki nafsu makan yang tinggi dan dapat


memanfaatkan pakan dengan kadar protein rendah, sehingga pada sistem
budidaya dengan pola semi intensif biaya pakan dapat diminimalisir
(Burhanuddin,2009). Sehingga produkrifitas udang Vannamei ini bisa
dipertahankan.
Kehadiran jenis udang Vannamei diharapkan tidak hanya menambah
pilihan bagi petambak tapi juga menopang kebangkitan usaha pertambakan
terutama komoditas udang, introduksi jenis udang baru yang lebih unggul dan
tahan penyakit tampaknya menjadi salah satu kunci perwujudan mimpi di
atas, selain memperkaya dan menambah alternafit jenis udang baru yang
lebih tahan penyakit, peluang investasi pertambakan udang diyakini bakal
kembali prospektif, apalagi hasil budidaya pada lahan uji coba di sejumlah
daerah memang menunjukkan tingginya produktivitas dibanding perolehan
hasil, semisal jenis udang windu yang telah di kenal sebelumnya. (Haliman
dan Adijaya, 2005)
Apabila dilihat saat ini, permintaan udang jenis Vannamei dari Indonesia
oleh pasar dunia masih terbuka dan prospektif. Pasar Amerika dan Jepang,
misalnya permintaan dari Indonesia cukup tinggi. Komoditi udang jenis
Vannamei dari Indonesia bahkan mulai menggeser pasar udang windu yang
sempat meraih masa keemasan pada tahun 1980-an. Pada dekade itu, udang
windu yang banyak dibudidayakan di Makassar, Aceh dan Jatim, sempat
booming, tapi, produksi udang windu dalam empat-lima tahun belakangan
cenderung menurun, karena berbagai sebab, seperti bibit kurang sehat serta
kondisi lingkungan yang terus dipacu berproduksi, sehingga hasilnya semakin
tidak bisa optimal.(Rusmiyati,2014)
Berdasarkan penelitian Boyd dan Clay (2000), produktivitasnya
mencapai lebih 13.600 kg/ha. Produktivitas yang tinggi ini karena udang
putih mempunyai beberapa keunggulan dibanding spesies jenis lainnya,
antara lain: tingkat kelulusan hidup tinggi ketersediaan benur yang
berkualitas, kepadatan tebar tinggi, tahan penyakit dan konversi pakan
rendah.
3

Desa Mororejo sendiri budidaya udang Vannamei cukup berkembang


dengan baik ini menunjakan bahwa potensi yang ada di desa tersebut
sangatlah baik potensi tersebut membantu perekonomian masyarakat yang
notabe wilayahnya pesisir laut. Dengan pemahaman penguasaan teknologi
budidaya dengan baik tidak menutup kemungkinan budidaya udang
Vannamei di desa mororejo bisa masuk ke pasar luar negeri, dengan harga
kisaran 50.000- 70.000/kg di pasar dalam negeri.
Pembudidaya udang Vannamei di desa Mororejo menggunakan metode
intensif sehingga udang yang dihasilkan tidak kalah bagus kualitasnya
ketimbang udang

Tabel 1. Produksi Dan Nilai Produksi Tambak Kabupaten Kendal Tahun 2014
Kecamatan Bandeng Udang
District Kilogram (Rp.000) Kilogram (Rp.000)
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Kaliwungu 2.275.000 28.126.500 1.415.000 79.005.900
2. Brangsong 539.300 6.666.250 411.100 3.316.900
3. Kendal 649.300 8.029.550 298.914 16.584.750
4. Patebon 538.700 6.638.250 927.771 60.234.625
5. Cepiring 327.500 4.004.000 67.300 3.827.700
6. Kangkung 424.300 5.243.150 23.450 623.350
7. Rowosari 173.900 2.143.150 11.950 309.250
Jml/Total 2014 4.928.000 60.890.850 3.155.485 163.901.575
2013 5.091.800 61.539.750 31.150.650 187.850.200
2012 4.987.500 61.969.346 2.326.915 91.949.450
Sumber Data: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kendal 2015
Bedasarkan tabel diatas tahun 2014 kecamatan kaliwungu memperlihatkan
udang menduduki urutan pertama ini tidak menutup kemungkinan bahwa
budidaya udang Vannamei ini bisa lebih diperhatikan sebagai komoditas
ekspor unggulan apabila diusahakan secara maksimum.
4

1.2.Perumusan Masalah
Bedasarkan paparan diatas yang telah dikemukakan, maka dapat
dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apakah usaha budidaya tambak udang Vannamei memberikan
pendapatan dan keuntungan bagi petambak di Desa Mororejo,
Kecamatan Kaliwunggu, Kabupaten Kendal.
2. Bagaimana kelayakan usaha udang Vannamei di desa Mororejo,
Kecamatan Kaliwunggu, Kabupaten Kendal di tinjau dari RC ratio.
1.3.Tujuan Penelitian
Bedasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian adalah:
1. Mengetahui tingkat pendapatan dari usaha udang Vannamei di Desa
Mororejo Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal.
2. Mengetahui kelayakan usaha udang Vannamei ditinjau dari RC ratio di
Desa Mororejo Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan melalui penelitian ini, yaitu:
1. Sebagai acuan bahwa budidaya udang Vannamei di Desa Mororejo
perlu digiatkan.
2. Sebagai acuan budidaya udang Vannamei di budidaya selanjutnya
3. Bagi peneliti: untuk menambah pengetahuan dan untuk meningkatkan
kemampuan di bidang penelitian budidaya udang Vannamei yang dapat
memberi manfaat dalam melakukan penelitian lebih lanjut.
4. Sebagai bahan informasi bagi pemerintah/dinas terkait dalam
menentukan kebijakan untuk meningkatkan daerah tersebut.
5. Sebagai bahan informasi bagi pembaca untuk dijadikan bahan kajian
guna menambah wawasan dan pengetahuan serta sebagai referensi
penelitian selanjutnya.
BAB II
TIJAUAN PUSTAKA
2.1.Landasan Teori
2.1.1. Sejarah Udang Vannamei
Udang putih (L.Vannamei) merupakan spesies introduksi yang
dibudidayakan di Indonesia. Udang putih yang dikenal oleh masyarakat
dengan udang Vannamei ini berasal dari perairan Amerika Tengah.
Negara-negara di Amerika Tengah dan selatan seperti Ekuador,
Venezuela, Panama, Brazil, dan Meksiko sudah lama membudidaykan
jenis udang yang dikenal juga dengan pasific white shrimp ini.
Di Indonesia, udang Vannamei baru diintroduksi dan
dibudidayakan mulai awal tahun 2000-an dengan menunjukkan hasil
yang menggembirakan. Masuknya undang Vannamei ini telah
menggairahkan kembali usaha pertambakan Indonesia yang mengalami
kegagalan budidaya akibat serangan penyakit, terutama bintik putih
(white spot). White spot telah menyerangan tambak-tambak udang udang
windu baik yang dikelola secara tradisional maupun intensif meskipun
telah menerapkan teknologi tinggi dengan fasilitas yang lengkap.
2.1.2. Klasifikasi dan Morfologi Udang Vannamei
Klasifikasi Udang Vannamei (Litopenaus Vannamei) menurut
Haliman dan Adijaya (2005), adalah sebagi berikut:
Kingdom : Animalia
Sub kingdom : Metazoa
Filum : Artrhopoda
Sub filum : Crustacea
Kelas : Malascostraca
Sub kelas : Eumalacostraca
Super ordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Sub ordo : Dendrobrachiata
Infra ordo : Penaeidea

5
6

Super famili : Penaeioidea


Famili : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus Vannamei
Tubuh udang Vannamei dibentuk oleh dua cabang (biramous),
yaitu exopodite dan endopodite. Seluruh tubuhnya tertutup oleh
eksoskeleton yang terbuat dari bahan kitin. Tubuhnya beruas-ruas dan
mempunyai aktivitas berganti kulit luar (eksoskeleton) secara periodik
(molting). Bagian tubuh udang Vannamei sudah mengalami modifikasi,
sehingga dapat digunakan untuk beberapa keperluan antara lain : makan,
bergerak dan membenamkan diri ke dalam lumpur, menopang insang,
karena struktur insang udang mirip bulu unggas serta organ sensor seperti
antenna dan antennulae (Haliman dan Adijaya, 2005).
Litopenaeus Vannamei, biasa juga disebut sebagai udang putih dan
masuk ke dalam famili Penaidae. Anggota famili ini menetaskan telurnya
diluar tubuh setelah telur dikeluarkan oleh udang betina. Udang penaeid
dapat dibedakan dengan jenis lainnya dari bentuk dan jumlah gigi pada
rostrumnya. Penaeid Vannamei memiliki 2 gigi pada tepi rostrum
bagianventral dan 8-9 gigi pada tepi rostrum bagian dorsal.
Umumnya, tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu
bagian kepala dan bagian badan. Bagian kepala menyatu dengan bagian
dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di
bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian dada dan abdomen
terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota
badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam
terdapat ekor kipas 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing.
(Rusmiyati, 2014)
2.1.3. Budidaya Udang Vannamei
Menurut (Andi, 2011) pembesaran udang Vannamei merupakan
suatu kegiatan budidaya yang bertujuan untuk menghasilkan udang
Vannamei ukuran konsumsi. Dalam kegiatan, pembesaran ini udang
7

Vannamei didorong untuk tumbuh secara maksimum hingga mencapai


ukuran panen atau sesuai ukuran pasar.
1. Persiapan Tambak
a. Pengeringan/pengolahan tanah dasar
Air dalam tambak dibuang, ikan-ikan liar diberantas dengan
saponin, genagan air yang masih tersisa di beberapa tempat harus di
pompa keluar. Selanjutnya tambak dikeringkan sampai retak-retak
kalau perlu dibalik dengan cara ditraktor sehingga H2S menghilang
karena teroksidasi. Pengeringan secara sempurna juga dapat
membunuh bakteri patogen yang ada di pelataran tambak.(Rusmiyati,
2014)
Menurut (Andi, 2011) Kolam yang digunakan dalam budidaya
udang Vannamei (litopaneaus Vannamei) adalah pola intensif yaitu
kolam yang dilengkapi terpal menutupi semua bagian, pompa air,
kincir, pakan 100% pelet dan tingkat penebaran yang tinggi. Jumlah
kolam yang ada 9 petak, masing masing petak berukuran 4000m2dan 1
kolam terbesar berukuran 8000 m2. Total luas kolam secara
keseluruhan sebesar 40.000m2.
Kedalamam kolam budidaya udang Vannamei rata rata 2,5 meter,
ketinggian air dari dasar kolam 1,5 - 2 meter, setiap kolam memiliki 1
Center line yang berguna untuk menyedot lumpur, 2 jembatan piling
serta 2 anco untuk mengecek kondisi udang, Setiap kolam mempunyai
saluran pengisian dan pemasukan yang terpisah untuk keperluan
penggantian,penyiapan kolam sebelum penebaran benih, sirkulasi air
dan pemanenan.
b. Pencegahan hama dan penyakit
1. Tidak membuang dan mengganti air apabila udang yang
dipelihara diketahui terkena virus. Tindakan ini dilakukan
untukmencegah penyebaran penyakit ke perairan umum dan
tambak lainnya.
8

2. Tumbuhan air yang diambil dari petakan tambak, tidak dibuang


ke petak lain atau perairan umum karena dikhawatirkan dapat
menyebarkan penyakit.
3. Udang yang sakit atau mati segera dikeluarkan dari tambak dan
dicelupkan ke larutan formalin, selanjutnya dikubur diluar area
petakan tambak.
4. Menerapkan biosekuriti pada seluruh kegiatan dan area
pertambakan, yaitu :
a. Menyiapkan bak sterilisasi bagi manusia yang ingin
masuk ke area tambak,
b. Membatasi akses manusia dan hewan
pembawa penyakit, antara lain kepiting,burung, dan
hewan lainnya untuk masuk ke area tambak dengan
pembuatan pagar pembatas dari jaring ke sekeliling
tambak.
c. Pengendalian hewan berupa burung dapat dilakukan
dengan membuat penghalau berupa tali senar di atas
tambak.(BMP, 2014).
c. Pengapungan dan pemupukan
Perbaikan kualitas tanah dan air dilakukan pemberian kapur bakar
(CaO), 1000 kg/ha, dan kapur pertanian sebanyak 320 kg/ha.
Selanjutnya masukkan air ke tambak sehingga tambak menjadi
macak-macak kemudian dilakukan pemupukan dengan pupuk urea
(150/kg/ha).
d. Pengisian air
Pengisisan air dilakukan setelah seluruh persiapan dasar tambak
telah rampung dan air dimasukkan ke dalam tambak secara bertahap.
Ketinggian air tersebut dibiarkan dalam tambak selama 2-3 minggu
sampai kondisi air betul-betul siap ditebari benih udang. Tinggi air di
petak pembesaran diupayakan 1,0m.
9

2. Persiapan Tebar
Persiapan yang perlu dilakukan sebelum penebaran benur yaitu
persiapan tambak dan peralatannya. Dinding tambak digosok sehari
sebelum tebar yang bertujuan untuk memicu munculnya pakan alami dan
mencegah lumut tumbuh subur di dinding tambak. Kincir perlu
dinyalakan minimal 12 jam sebelum benur ditebar untuk membuang gas-
gas beracun dan meningkatkan kadar oksigen terlarut (DO,dissolved
oxygen) didalam tambak. Kincir air dimatikan satu jam sebelum benur
ditebar bisa istirahat (Haliman dan Adijaya, 2005).
Penebaran benur udang Vannamei dilakukan setelah plangton
tumbuh baik (7-10 hari) sesudah pemupukan. Benur Vannamei yang
digunakan adalah PL10-PL12 berat awal 0,001g/ekor diperoleh dari
hatchery yang telah mendapatkan rekomendasi bebas pantogen, spesific
pathogen free (SPF). Kreteria benur Vannamei yang baik adalah mencapai
ukuran PL-10 atau organ ingsannya telah sempurna, seragam atau rata
tubuh benih dan usus terlihat jals, berenang melawan arus benur yang lulus
seleksi dan telah mengalami proses aklimatisasi bisa langsung ditebar
perlahan-lahan kedalam petak pembesaran dengan dengan kepadatan 100-
125/m2.
3. Hama dan penyakit
Menurut (FAO,2006) beberapa macam hama yang mengganggu
tambak udang, baik yang merupakan hama langsung maupun hama yang
tidak langsung adalah:
a. Hama penggangu
Kepiting, udang penggali (Thalassina), kerang-kerangan, jamur.
b. Hama penyaing
Bekicot, ikan, kepiting, udang.
c. Hama predator
Ikan, kepiting, burung, manusia, serangga, ular, berang-berang,
kadal.
10

1. Jenis penyakit yang dapat menyerang pada udang yaitu


penyakit viral (penyakit yang disebabkan oleh virus) salah
satu kendala dalam budidaya udang vaname adalah
penyakit yang disebabkan oleh infeksi Taura Syndrome
Virus (TSV). Udang vaname (Litopenaeus Vannamei) yang
telah terinfeksi TSV dapat mengalami kematian 80-85%
sehingga dapat menimbulkan kerugian dalam
pembudidayaannya. Kerusakan (luka) yang disebabkan
oleh virus tersebut dapat terlihat dari warna tubuh yang
menjadi kemerahan, terutama pada ekor udang yang mati.
Bercak hitam (melanisasi) yang tidak beraturan di bawah
lapisan kutikula akan tampak pada udang yang masih
bertahan hidup tetapi udang ini kemudian menjadi
pembawa (carrier) virus tersebut (Rufiati, 2008).
2. Penyakit Bakterial, beberapa jenis penyakit bekterial yang
dijumpai menyerang udang di antaranya adalah penyakit
ingsan hitam, penyakit ekor geripis, kaki putus, bercak
hitam, kulit dan otot hitam (black splincter disease). Bekteri
Vibrio Sp. Seperti Vibrio Alginolyticus, V.
Parahaemolyticus, dan V. Angguillanum merupakan bekteri
yang erat kaitannya dengan penyakit tersebut.
Peningkatakan virulensi patogen di perkuat dengan dengan
jeleknya manajemen kualitas air, yang tidak jarang
menimbulkan kematian udang.
2.1.4. Pemanenan
Penen udang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu panen
sebagian dan penen keseluruhan (total). Panen sebagian dilakukan dengan
tujuan untuk menagkap udang yang besar-besar saja. Alat yang paling
umum digunakan untuk panen sebagian yaitu prayang yang terbuat dari
bambu.prayangan dipasang di tepi pematang tambak pada malam hari
dengan bagian prayang terletak tegak lurus pada pematang dan ujung
11

luarnya tepat berada di mulut prayangan. Cara lain adalah dengan


menggunakan jala.
Panen keseluruhan (total) dimaksudkan untuk menagkap seluruh
udang yang dipelihara. Pemanenan total dilakukan dengan cara
mengeringkan petakan tambak sehingga kedalaman air 10-20 cm hanya
pada caren. Alat yang digunakan biasanya berupa seser besar yang
mulutnya direndam dalam dalam lumpur dasar tambak lalu dorong sambil
mengangkatnya jika diperkirakan sudah banyak udang yang masuk ke
dalam seser.(Suyanto dan Mujiman, 2002)
Udang Vannamei dapat dipanen setelah berumur 120 hari (DOC
120, DOC = day of culture) dengan berat berkisar 16-20 g/ekor.
Pemanenan udang Vannamei dapat dilakukan kapan saja, tetapi umumnya
pemanenan dilakukan pada malam hari. Selain untuk menghindari terik
matahari, pemanenan pada malam hari juga bertujuan untuk mengurangi
resiko udang ganti kulit selama panen akibat stres, karena udang yang
ganti kulit akan menyebabkan penurunan harga jual. (Haliman dan adijaya,
2005)
2.1.5. Pendapatan Usahatani
Ukuran keberhasilan suatu manajemen usahatani adalah
produktivitas yang diperoleh dari usaha tani tersebut. Suatu usahatani
dikatakan berhasil jika petani dapat membayar semua biaya-biaya yang
dikeluarkan dan dapat menjaga kontinuitas usahanya. Atau penerimaan
yang diterima lebih besar dari pada biaya yang dikeluarkan. Penerimaan
usahatani adalah semua nilai produk yang dihasilkan dari suatu usahatani
pada periode waktu tertentu. Penerimaan mencakup produk usahatani yang
dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, digunakan untuk bibit dan pakan
ternak, digunakan untuk pembayaran dan disimpan. Penerimaan usahatani
diperoleh dari perkalian antara total produksi dengan harga pasar yang
berlaku pada periode waktu tertentu (Soekartawi dkk,1991).
12

2.1.6. Biaya
Menurut Mulyadi (2002) biaya adalah pengorbanan sumber
ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau yang
kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
Menurut Soeharjo dan Patong (1973) biaya usahatani atau disebut
juga pengeluaran usahatani adalah nilai semua masukan yang habis
terpakai atau dikeluarkan di dalam produksi. Biaya usahatani dapat
berbentuk biaya tunai danbiaya yang diperhitungkan. Biaya tunai adalah
biaya yang dibayar dengan uang, seperti biaya pembelian sarana produksi
dan biaya upah tenaga kerja. Biaya yang diperhitungkan digunakan untuk
menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani apabila bunga
modal dan nilai kerja keluarga diperhitungkan. Sedangkan menurut
Gilarso (2011) menyatakn bahwa biaya adalah semua pengorbanan yang
perlu suatu usaha untuk satu proses produksi, dinyatakan dalam uang
dalam proses pasar yang berlaku. Jika secara skala khusus diperhatiakan
hubungan antara jumlah produk dan biaya produksi, maka jenis biaya
dibagai menjadi dua kelompok yaitu:
1. Biaya Tetap (fixed cost)
Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya yang secara
keseluruhan tetap, atau tidak dapat berubah, jika ada perubahan
dalam besar kecilnya jumlah produk yang dihasilkan (sampai batas
tertentu).
2. Biaya Variabel (variabel cost)
Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya dapat berubah
sesuai dengan (tergantung dari) besar kecilnya jumlah produksi.
Keberhasilan dari suatu usaha dapat dilihat dari besarnya pendapatan
dan penerimaan yang diperoleh dari hasil usaha.
Menurut Gilarso (2003 ) biaya dikelompokkan menjadi dua
yaitu:
a. Biaya implisit yaitu biaya yang secara ekonomis harus
diperhitungkan sebagai biaya produksi meskipun tidak
13

dibayar dalam bentuk uang. Seperti tambak milik sendiri,


tenaga kerja keluarga.
b. Biaya eksplisit yaitu semua pengeluaran yang dipergunakan
untuk membayar fsktor produksi. Seperti pembelian benur,
pakan, sarana produksi dan tenaga kerja.
Menurut Gilarso (2011) menyatakan bahwa biaya produksi
merupakan penjumlahan dari dua komponen biaya yaitu biaya
tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variabel cost).
Gabungan biaya tetap dan biaya variabel disebut biaya total
(total cost) yang secara umum dirumuskans sebagai berikut:

TC=FC + VC

Keterangan:
TC = Biaya total (total cost)
FC = Biaya tetap (fixed cost)
VC = Biaya variabel (variabel cost)
Biaya penyusutan adalah penggantian kerugian atau
pengurangan nilai disebabkan karena waktu dan cara penggunaan
modal tetap. Besarnya dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut:

=

Keterangan :
DC = Biaya penyusutan
NB = Nilai beli
NS = Nilai sisa
U = Umur ekonomis
2.1.7. Penerimaan dan Pendapatan
Menurut Soekartawi (2003) penerimaan adalah banyaknya jumlah
produksi dikalikan harga (banyaknya input dikalikan harga). Jumlah
penerimaan (total revenue) didefinisikan sebagai penerimaan dari
14

penjualan barang tertentu yang diperoleh dari sejumlah satuan barang yang
terjual dengan harga penjualan setiap satuan yang dapat di rumuskan
sebagai berikut :

TR = P . Q

Keterangan :
TR = Total Revenue/Total penerimaan (Rp/kg)
P = Price/Harga (Rp/kg)
Q = Quantity/ Jumlah produksi (kg)
Menurut Soedarsono (2004) Pendapatan dihitung dengan
menggunakan konsep pendapatan yaitu dengan cara mengurangi total
penerimaan dengan total biaya pendapatan.

Menurut Soekarawi (1990) Pendapatan merupakan selisih antara


penerimaan dan seluruh pengeluaran pada usaha tambak. Penerimaan
merupakan nilai dari seluruh produksi baik yang dijual, dikonsumsi oleh
petambak sendiri, diberikan kepada orang lain sebagai upah tenaga
panen, dan digunakan dalam proses produksi. Dengan rumus sebagai
berikut:
NR = TR TC *)

Keterangan:
NR =Pendapatan/income (Rp)
TR =Total penerimaan/Total Revenue (Rp)
TC =Total biaya/Total Costs (Rp)
*) =biaya yang secara nyata dikeluarkan oleh petambak
2.1.8. Keuntungan
Sedangkan keuntungan menurut Wilson Bangun (2007)
keuntungan dapat ditulis sebagai berikut:
= TR TC
Keterangan:
= Besar Keuntungan
15

TR = Total penerimaan (Total revenue)


TC = Total biaya (total cost)

2.1.9. RC Ratio
Menurut Soekartawi, (1995)Untuk mengetahui apakah usaha yang
dijalankan tersebut layak atau tidak maka, dapat digunakan penghitungan
dengan membandingkan total penerimaan dengan total biaya. Sehingga
didapat ru mus sebagai berikut:
RC = TR : TC
Dimana :
RC = Revenue Cost Ratio
TR = Total Penerimaan (Total Revenue)
TC = Total Biaya (Total Cost)
Dengan Ketentuan:
Nilai RC > 1 maka usaha yang dijalankan layak
Nilai RC < 1 maka usaha yang dijalankan tidak layak
2.2.Kerangka Pemikiran
Usaha budidaya tambak di indonesia sangatlah menjanjikan sekali
karena didukung dengan berbagai faktor yang dimiliki oleh daerah
indonesia yaitu salah satunya letak wilayah indonesia yang mayoritas di
kelilingi laut, sengat tidak heran kalau banyak para petani tambak
khususnya pembudidaya udang Vannamei. Dengan penerapan budidaya
yang maksimal para pembudidaya bisa memaksimalkan hasil dari tambak
sehingga hasil dari budidaya dapat meningkat, untuk itu para pembudidaya
harus bisa memilih mulai dari bibit udang atau benur yang berkualitas,
lahan yang berproduktif dalam hal ini cara pengolahan lahan untuk bakal
budidaya udang Vannamei, penaganan atau tanggap pada penyakit ada
ketika proses pembudidaya udang berlangsung, penyediaan pupuk akan
dapat mempercepat pertumbuhan udang Vannamei sehingga bisa optimal.
Dengan produktifitas yang baik untuk menghasilkan udang
Vannamei yang berkualitas maka harga jualpun meningkat secara tidak
16

langsung, maka penerimaan akan bertambah dan bisa menutup biaya


pengeluaran budidaya udang Vannamei ini di Desa Mororejo Kecamatan
Kaliwungu Kabupaten Kendal.
17

KERANGKA PEMIKIRAN

Budidaya udang vannamei

Biaya Penerimaan

Biaya Variabel
Biaya Tetap
Bibit udang
Sewa/ pajak lahan
Pakan, tenaga kerja
Penyusutan peralatan
Pupuk

Pestida,listrik,
TenaKerjs

Pendapatan

Kelayakan

RC

Gambar. 2.1 Kerangka Pemikiran


18

2.3.Penelitian Terdahulu
Nursetyo (2012) bahwa produksi usaha budidaya udang Vannamei
di desa Gedangan untuk satu periode produksi adalah 312 kg. Harga jual
udang Rp 38.154,00/kg, sehingga besarnya penerimaan Rp 11.901.065,00
per periode produksi. Pendapatan dapat diperoleh dari mengurangkan
antara penerimaan dengan total biaya eksplisit. Besarnya pendapatan yang
diperoleh oleh petani tambak udang Vannamei desa Gedangan sebesar Rp
4.889.435,00. Keuntungan diperoleh dengan cara mengurangkan antara
besarnya pendapatan dengan total biaya implisit. Besarnya keuntungan
yang diperoleh petani tambak udang Vannamei desa Gedangan adalah
sebesar Rp 2.956.473,00. Jika dihitung tingkat kelayakan usaha budidaya
udang Vannamei, maka dapat diketahui melalui perbandingan antara
besarnya penerimaan dengan biaya yang dikenal dengan istilah R/C.
Berdasarkan pada informasi yang ditunjukan usaha budidaya udang
Vannamei adalah sebesar 1,3. Ini berarti bahwa usaha budidaya udang
yang dilakukan petani tambak udang Vannamei desa Gedangan adalah
layak secara ekonomis untuk dikembangkan. Rasio tersebut berarti bahwa
setiap penambahan modal Rp 1,00 akan memberikan peningkatan
penerimaan sebesar 1,3.
Wachidatus (2014) R/C Ratio adalah merupakan perbandingan
antara total penerimaan dengan total biaya (Soekartawi, 2001) Dari
penelitian dihasilkan bahwa R/C ratio rata-rata 1,7. Berarti setiap Rp 100,-
yang dikeluarkan kegiatan usaha diperoleh penerimaan sebesar Rp 170,-
hasil ini disebabkan faktor produksi bagus, pemilihan benih baik,
aklimatisasi benih terhadap lingkungan juga baik.
19

2.4.Hipotesis
Bedasarkan dari tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran maka
penelitian ini didasarkan pada hipotesis sebagai berikut:
1. Diduga usaha budidaya tambak udang Vannamei di desa Mororejo,
Kecamatan Kaliwunggu, Kabupaten Kendal memberikan pendapatan
dan keuntungan bagi petambak.
2. Diduga usaha budidaya tambak udang Vannamei di desa Mororejo
Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal secara gross B/C ratio
layak diusahakan.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Dasar
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
analisis yaitu metode yang dipergunakan untuk meneliti status kelompok
manusia, obyek, kondisi, pola pemikiran kelompok peristiwa pada masa
sekarang atau gambaran secara sistematis, aktual dan akurat mengenai
fakta-fakta, sifat-sifat hubungan antara fenomena yang diselidiki. Dan
hasil deskriptif analisis ini dijelaskan dalam sebuah informasi. (Nazir,
1999). Teknik pelaksanaan dari penelitian ini menggunakan metode
survey, yaitu penelitian yang mengambil sempel dari suatu populasi
dengan menggunakan kuisioner sebagai alat bantu untuk mengumpulkan
data (Singaribun,1995).
3.2. Metode Pelaksanaan
Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus (case study)
yaitu suatu penelitian yang lebih terarah dan terfokus pada sifat tertentu
yang tidak berlaku umum sehingga mendapatkan gambaran yang luas dan
lengkap dari objek yang diteliti (Daniel,2002).
3.3. Metode Pengambilan Sampel
2.1.10. Metode Pengambilan Sampel Daerah
Penelitian ini dilakukan di Desa Mororejo Kecamatan Kaliwungu
Kabupaten kendal. Dengan metode purposive sampling atau pengambilan
sengaja. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan bahwa desa Mororejo
Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal memiliki jumlah tambak udang
terbesar di Kabupaten Kendal.
2.1.11. Metode Penentuan Responden
Metode pengambilan sampel/responden dengan menggunakan metode
sensus yaitu metode pengambilan sampel dengan mengambil semua
individu yang ada dalam populasi sebagai sampel responden. Adapun

20
21

jumlah responden yang menjadi sampel sebanyak 4 orang. Responden


penelitian ini adalah pemilik tambak udang Vannamei.
3.4.Macam dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berkut:
3.4.1. Data Primer
Data yang diperoleh langsung dari sumbernya terutama manusianya.
Dalam penelitian ini data primer diperoleh langsung dari objek
penelitian dengan menyebarkan kuesione.
3.4.2. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari lembaga atau instansi yang terkait dengan
penelitian ini.
3.5.Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data di dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
wawancara, observasi, kuisioner, dan pencatatan.
a. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara
melakukan pengamatan langsung dan secara cermat terhadap perilaku
subjek, baik dalam suasana formal maupun santai untuk mendapatkan
informasi data yang mendalam.
b. Wawancara
Wawancara yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui
pertayaan langsung dengan pihak pembudidaya bandeng.
c. Metode Kuisioner dan pencatatan
Metode ini merupakan pengumpulan data dengan membuat daftar
pertayan yang ditujukan kepada pembudidaya bandeng dan kemudian
dicatat hasilnya sehingga data yang diperoleh ini langsung dari
pembudidaya

.
22

3.6.Metode Analisis Data


1.6.1. Pengujian hipotesis pertama
Untuk menguji hipotesis pertama yaitu diduga usaha budidaya
udang Vannamei di desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu
memberikan pendapatan dan keuntungan bagi petambak.

1. Total Biaya
Menurut soekartawi (2002), total biaya merupakan biaya yang
berasal dari penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel, secara umum
dirumuskan sebagai berikut:
TC=FC+VC
Keterangan :
TC: Total Cost
FC: Fixed Cost
VC:Variabel Cost
2. Penerimaan
Menurut Soekartawi (2002), penerimaan diperoleh dari hasil
perkalian jumlah produk dengan harga jual produk yang dihasilkan,
secara umum dirumuskan sebagai berikut:
TR=Y.Py
Keterangan:
TR:Total penerimaan Total Revenue
Y :Produksi yang diperoleh dalam usaha
Py: Harga
3. Pendapatan
Menurut Soekartawi (2002), pendapatan merupakan selisih antar
penerimaan dan semu biaya. Secara umum dirumuskan sebagai berikut
Pd=TR-TC
Keterangan :
Pd= Pendapatan Usaha tani
TR= Total Penerimaan
23

TC=Total Biaya
4. Keuntungan
= TR - TC
Keterangan:
= Keuntungan
TR = Total penerimaan (Total revenue)
TC = Total biaya (Total cost)
1.6.2. Pengujian hipotesis kedua
Untuk menguji hipotesis kedua yaitu Diduga usaha
Vannamei ditinjau dari RC ratio layak untuk diusahakan. Dengan
membandingkan total peneimaan dengan total biaya. Secara
matematis dapat di tuliskan:
RC= TR/TC

Keterangan:
RC = Revenue Cost Ratio
TR = Total Penerimaan (Total Revenue)
TC = Total Biaya (Total Cost)
Dengan Ketentuan:
Nilai RC > 1 maka usaha yang dijalankan layak
Nilai RC < 1 maka usaha yang dijalankan tidak layak
3.7. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah ini bertujuan untuk membatasi penelitian yang
saya teliti yaitu para pembudidaya udang Vannamei di Desa Mororejo
Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal pembatasan meliputi:
1. Data diambil dari kurun waktu semusim budidaya udang Vannamei
pada bulan yang sudah dilewati.
2. Usaha budidaya yang diteliti adalah pemilik tambak udang di desa
Mororejo Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal .
3. Tiap pemilik tambak diambil 2 jumlah tambak.
24

3.8. Asumsi
1. Jenis produksinya diasumsikan sama.
2. Faktor-faktor seperti iklim dan topografi diasumsikan sama di daerah
peneliti.
3. Teknologi dan prasarana budidaya diasumsikan sama.
4. Pembudidaya dianggap rasional karena dalam pembudidaya udang
Vannamei bertujuan memperoleh pendapatan yang maksimum.
3.9. Devinisi dan Pengukuran Variabel
1. Udang Vannamei adalah salah satu jenis udang yang banyak
dibudidayakan warnanya bening kecoklatan dengan ukuran 40
ekor/kg.
2. Usaha tambak adalah pengusahaan segala jenis sumberdaya suatu
tempat untuk pembesaran dimana tempat ini menentukan sekali
keberhasilan budidaya.
3. Luas lahan garap merupakan luas area tambak yang akan nantinya
bakal pembesaran bibit udang. (Ha)
4. Produksi adalah jumlah hasil yang diperoleh dari proses
penggunaan produksi dalam usaha budidaya udang vannmei. (Kg)
5. Biaya variabel biaya yang dikeluarkan untuk membiayai usaha
budidaya udang Vannamei yang nialainya berubah ubah tergantung
besar kuantitas produk yang ingin dihasilkan seperti benur, pakan,
tenaga kerja. (Rp)
6. Biaya tetap biaya yang dikeluarkan untuk membiayai usaha
budidaya udang Vannamei yang nilainya konstan seperti kolam,
mesin, pipa, pomapa dan keranjang. (Rp)
7. Total biaya adalah semua biaya yang digunakan dalam usaha
budidaya udang Vannamei yang terdiri dari biaya tetap dan biaya
variabel. (Rp)
8. Biaya implisit adalah biaya yang tidak dikeluarkan secara nyata
oleh pembudidaya udang Vannamei diantaranya tenaga kerja
dalam keluarga, tanah milik sendiri. (Rp/Kg).
25

9. Umur panen adalah jangka waktu umur dari penyebaran benih


sampai panen.
10. Biaya eksplisit adalah biaya yang dikeluarkan secara nyata oleh
pembudidaya udang Vannamei. (Rp)
11. Benur adalah benih udang vannmei yang berumur PL 10- PL 15
yang siap ditebar. (ekor)
12. Pakan adalah bahan pakan yang dibutuhkan dan tersedia. (Kg)
13. Pestisida atau obat-obtan. (lt/Ha)
14. Pupuk adalah jumlah pupuk yang tersedia untuk digunakan dalam
tambak. (Kg/Ha)
15. Tenaga Kerja adalah suatu alat kekuatan fisik dan otak manusia,
yang tidak dapat dipisahkan dari manusia dan ditujukan pada usaha
produksi. (Rp)
16. Upah tenaga kerja adalah jumlah uang yang dibayarkan kepada
seseorang bedasarkan perjanjian kerja selama periode
pemeliharaan udang Vannamei. (Rp)
17. Produk berupa udang Vannamei segar siap di jual dengan berat
udang sesuai permintaan pabrik. (Kg/kg)
18. Harga nilai barang yang ditentukan dengan uang atau alat tukar
lainyang senilai yang harus dibayar untuk produk atau jasa pada
waktu dan tempat tertentu.
19. Penerimaan adalah hasil perkalian jumlah produk dengan harga
jual produk yang dihasilkan (Rp/kg)
20. Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dan total biaya
yang secara nyata dikeluarkan oleh petambak (Rp/kg)
21. Keuntungan hasil yang diperoleh pembudidaya uadang Vannamei
dari penerimaan setelah dikurangi dengan biaya total pengeluaran
dalam melakukan usaha budidaya udang Vannamei. (Rp/kg)
26

DAFTAR PUSTAKA

Ali kodra.H,S. (2005). Konsep pengelolaan wilayah pesisir secara terapadu dan
berkelanjutan III/2005. Provinsi NTB.
Andi Tanri, L. (2011). Analisis kelayakan finansial budidaya udang Vannamei
(litopeneus Vannamei) pada tambak intensif. skripsi. Di Kabupaten
Takalar.
Ariawan, k.(2005). Peningkatan produksi udang merguiensis melalui optimasi dan
pengaturan oksigen laporan tahunan. Balai besar pengembangan
budidaya air payau. Jepara.
Badan Pusat Statistik (BPS), 2012-2014. Kabupaten Kendal.
Bangun Wilson. (2007) Teori Ekonomi Mikro.Bandung:PT Refika Aditama
BMP.(2014). Seri panduan perikanan skala kecil budidaya udang Vannamei.
Jakarta: PT. Maginate practices.
Burhanuddin . (2009). Riset Budidaya Udang Vannamei (litpnenaeus Vannamei)
dengan Umur Tongkolan Berbeda. Seminar Nasional Hasil Riset
Kelautan dan Perikanan.
Boyd. CE. And Clay. Jw.(2002). Evaluation of belize aqua culture LTD, A
Superintensive shrimp Aquaculture sytem. Report prepared under The
world bank,NACA, and FAO consorsiu work in progress for public
disussion, published by The consorsium 17 pages.
Dahuri, R. (2002) www.google.com. Usaha pertambakan udang Vannamei
prospektif BPEN. Jakarta.
Gilarso, I. (2003). Pengantar ilmu ekonomimikro. Kanesius: yogyakarta.
Gilarso,T.(2011). Pengantar Ekonomi Mikro. Jakarta.Kanisius.
Haliman, RW dan D Adijaya, (2005). Udang Vannamei seri agribisnis
pembudidaya dan pasar udang putih yang tahan penyakit. Jakarta:
Penebar swadaya.
Mulyadi,(2002).Akuntansi Biaya.Aditya media.Yogyakarta.
Nursetyo, dkk,(2012). Analisis usaha budidaya udang Vannamei (Litopeneus
Vannamei). Di Desa Gedangan Kecamatan Purwodadi Kabupaten
Purworejo.
Rufiati, I.(2008). Taura Syndrome Virus (TVS) dan Channel Catfish Disease
Virus (CCDV). Panduan mata kuliah parasit dan penyakit ikan. Jurusan
Perikanan Fakultas Pertanian. UGM. Yogyakarta.
27

Rusmiyati, Sri, (2014). Menjala rupiah budidaya udang Vannamei varietas baru
ungulan. Yogyakarta: Pustaka baru press.
Singarimbun,M dan Efendi S,(1995).Metode Penelitian Survey.LP3S.Jakarta.
Soedarsono,(2004).Pengantar Ekonomi Mikro.Jakarta.LP3S.
Soeharjo dan Patong,(1973) Ilmu Usaha Tani.Departemen Ilmu Sosial
Ekonomi.ITB.
Soekartawi, A., Soeharjo., Jhon.,Dillon & Brian H.J,(1991).Ilmu Usaha Tani
Untuk Perkembangan Petani Kecil.Jakarta.UI-Press.
Soekartawi.(2002). Prinsip dasar ekonomi pertanian. Jakarta: Raja Grafindo
Perrada.
Soekartawi. (1995). Analisis usaha tani. UI Press: Jakarta.
Soekartawi,(2003).Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok bahasan Analisis
Fugsi Cobb-Douglas.Jakarta.Rajah Grafindo.
Suyanto dan Mujiman. (2002). Budidaya udang windu. Penebar swadaya:
Jakarta.
Wachiidatus, S.(2014). Analisis usaha udang Vannamei dan ikan bandeng. Di
Desa Sidokumpul Kecamatan Lamongan Kabupatenlamongan Jawa
timur.