Anda di halaman 1dari 56

Optimalisasi Pengelolaan Aset Daerah

26/07/2016/in BPKAD, Pengelolaan Keuangan, Umum /

Aset atau barang daerah merupakan potensi ekonomi yang dimiliki oleh daerah. Potensi ekonomi
bermakna adanya manfaat finansial dan ekonomi yang bisa diperoleh pada masa yang akan
datang, yang bisa menunjang peran dan fungsi pemerintah daerah sebagai pemberi pelayanan
publik kepada masyarakat. Pemahaman akan aset bisa berbeda antara ilmu perencanaan,
manajemen keuangan, dan akuntansi.

Sumber Aset Daerah

Aset daerah diperoleh dari dua sumber, yakni dari APBD dan dari luar APBD. Secara singkat,
berikut pengertian dan implikasi kedua sumber aset ini:

1. Aset yang bersumber dari pelaksanaan APBD merupakan output/outcome dari terealisasinya
belanja modal dalam satu tahun anggaran. Namun, pengakuan besarnya nilai aset tidak sama
dengan besaran anggaran belanja modal. Penafsiran atas Permendagri No.13/2006 memang
memungkinkan kita menyataan bahwa besaran belanja modal sama dengan besaran penambahan
aset di neraca. Hal ini kurang pas jika neraca dipandang dari konsep akuntansi, karena penilaian
suatu aset haruslah sebesar nilai perolehannya (konsep full cost). Artinya, seluruh biaya yang
dikeluarkan sampai aset tersebut siap digunakan (ready to use) haruslah dihitung sebagai kos aset
bersangkutan. Dalam konsep anggaran kinerja, biaya yang dikeluarkan adalam semua biaya yang
menjadi masukan (input) dalam pelaksanaan kegiatan yang menghasilkan aset ini. Dengan
demikian, termasuk di dalamnya belanja pegawai dan belanja barang & jasa, selain dari belanja
modal tentunya. Jadi, kos untuk aset adalah seluruh pengeluaran untuk mencapai outcome.

2. Aset yang bersumber dari luar pelaksanaan APBD. Dalam hal ini, pemerolehan aset tidak
dikarenakan adanya realisasi anggaran daerah, baik anggaran belanja modal maupun belanaj
pegawai dan belanja barang & jasa. Pemda sering menerima aset dari pihak lain, seperti lembaga
donor dan masyarakat. Saat ini, beberapa daerah menerima penambahan aset yang cukup
signifikan dari pihak lain, seperti di Aceh, Sumut, dan DIY. Di Aceh, ALGAP dan LGSP
memberikan sumbangan peralatan kerja seperti komputer jinjing, jaringan internet, dan printer.
Belum lagi pembangunan gedung untuk perkantoran dari NGO asing.

Pengelolaan Aset

Pengelolaan aset daerah diatur dalam PP No.6/2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah,
yang kemudian ditindaklanjuti dengan Permendagri No.17/2007 tentang Pedoman Pengelolaan
Barang Milik Daerah. Lingkup pengelolaan aset dimaksud meliputi (1) perencanaan kebutuhan
dan penganggaran, (2) pengadaan, (3) penggunaan, (4) pemanfaatan, (5) pengamanan dan
pemeliharaan, (6) penilaian, (7) penghapusan, (8) pemindahtanganan, (9) penatausahaan, dan
(10) pembinaan, pengawasan, dan pengendalian. Sepertinya sudah diatur dengan sangat lengkap,
mulai dari hulu sampai hilir. Tapi, mengapa di daerah tetap terjadi masalah?
Beberapa Isu Penting terkait Aset Daerah

1. Perencanaan dan penganggaran. Pada praktiknya, di daerah sering dianggarkan sesuatu yang
tidak dibutuhkan, sedangkan yang dibutuhkan tidak dianggarkan. Hal ini bisa terjadi karena
adanya kepentingan-kepentingan tertentu, seperti rente, yang diterima oleh aparatur daerah
sebelum pengadaan barang dilaksanakan. Di sebuah daerah, ketika kami diminta menyusun
APBD-nya, ternyata ada beberapa aset yang sudah diterima dan dipakai, padahal dianggarkan
saja belum. Pihak supplier (fihak ketiga) biasanya cuma bilang: ambil saja dulu, masalah
pembayaran kan bisa diatur dalam APBD.

2. Pengadaan. Tahapan ini paling sulit. Selain rawan dengan praktik korupsi, ancaman menjadi
tersangka (lalu menjadi terpidana) cukup besar. Oleh karena itu, masalaha yang paling sering
muncul adalah: mekanisme pengadaannya penunjukan langsung, pemilihan langsung, atau tender
bebas? Yang unik, banyak aparatur daerah yang tidak mau menjadi panitia pengadaan karean
takut terjerat kasus korupsi. Akibatnya, jikapun ikut ujian sertifikasi (sebagai syarat menjadi
panitia pengadaan barang dan jasa sesuai Keppres No.80/2003), umumnya sengaja tidak
meluluskan diri. Artinya, mendingan ndak lulus daripada menjadi panitia lelang. Wah!

3. Pemeliharaan. Setiap pemeliharaan terkait dengan anggaran untuk pemeliharaan. Belanja


pemeliharaan ternyata salah satu objek belanja yang paling sering difiktifkan
pertanggungjawabannya. Jika dicermati dalam Laporan Realisasi Anggaran (LRA), atau dalam
Perhitungan APBD, biasanya anggaran belanja pemeliharaan terealisasi 100%. Habis tak bersisa.
Yang menarik, berdasarkan penelitian di negara-negara berkembang, terutama di Afrika dan
Amerika Latin (IMF, 2007; World Bank, 2008) fenomena ghost expenditures merupakan hal
yang biasa. Artinya, alokasi untuk pemeliharaan selalu dianggarkan secara incremental meskipun
banyak aset yang sudah tidak berfungsi atau hilang. hal ini terjadi karena tidak adanya
transparansi dalam penghapusan dan pemidahtanganan aset-aset pemerintah.

4. Penghapusan. Penghapusan aset bermakna tidak ada lagi nilai suatu aset yang akan
dicantumkan di neraca. Penghapusan dari buku besar dilakukan setelah kepemilikan aset tersebut
tidak lagi di daerah, tetapi di pihak lain atau dimusnahkan atau dibuang. Dalam persepktif
akuntansi, penghapusan dilakukan dengan cara membuat jurnal, misalnya: mendebit rekening
Ekuitas Dana-Diinvestasikan dalam Aset Tetap dan mengkredit Aset Tetap.

Sumber : https://syukriy.wordpress.com/2009/04/25/optimalisasi-pengelolaan-aset-daerah/

Tags: aset daerah

Share this entry

Pengelolaan Aset Daerah


26/05/2016/in BPKAD, Pengelolaan Keuangan /

A. FUNGSI PENGELOLAAN ASET / KEKAYAAN DAERAH

Pemerintah Daerah perlu menyiapkan instrumen yang tepat untuk melakukan


pengelolaan/manajemen aset daerah secara profesional, transparan, akuntabel, efesien dan efektif
mulai dari tahap perencanaan, pendistribusian dan pemanfaatan serta pengawasannya.

Pengelolaan/manajemen aset daerah meliputi beberapa tahap yaitu : perencanaan kebutuhan,


penganggaran, pengadaan, pendistribusian (termasuk penyimpanan), penggunaan, pemeliharaan
dan penghapusan. Setiap tahap, mulai dari perencanaan kebutuhan hingga penghapusan aset
daerah harus diketahui dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat melalui DPRD.

Aset daerah, pada dasarnya merupakan bagian dari aset negara yang harus dikelola secara
optimal dengan memperhatikan prinsip efesiensi, efektivitas, transparansi dan akuntabilitas.

Secara sederhana pengelolaan kekayaan (aset) daerah meliputi tiga fungsi utama, yaitu :

1. Adanya perencanaan yang tepat

2. Pelaksanaan/pemanfaatan secara efesien dan efektif

3. Pengawasan (monitoring)

a. Perencanaan

Untuk melaksanakan kewenangannya, baik itu yang menjadi kewenangan wajib maupun
kewenangan pilihan, pemerintah daerah memerlukan barang atau kekayaan untuk menunjang
pelaksanaan tugas dan kewenangannya. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu membuat
perencanaan kebutuhan aset yang digunakan sebagai rujukan dalam pengadaan aset daerah.
Berdasarkan rencana, pemerintah daerah kemudian mengusulkan anggaran pengadaannya.
Dalam hal ini masyarakat dan DPRD perlu melakukan pengawasan (monitoring) mengenai
apakah aset ataupun kekayaan yang direncanakan sebagai milik daerah tersebut benar-benar
dibutuhkan oleh daerah ?, dan kalaupun sangat dibutuhkan, maka pengadaannya harus dikaitkan
dengan cakupan layanan yang dibutuhkan dan diawasi.

Pengadaan barang atau kekayaan daerah harus dilakukan berdasarkan sistem tender (compulsory
competitive tendering contract). Hal itu dilakukan agar pemerintah daerah dan masyarakat tidak
dirugikan.
Selain itu DPRD dituntut untuk lebih tegas dan cermat dalam mengawasi proses perencanaan
pengadaan kekayaan daerah. Perencanaan juga meliputi perencanaan terhadap aset yang belum
termanfaatkan atau masih berupa aset potensial. Perencanaan yang dilakukan harus
memperhatikan 3 (tiga) hal, yaitu melihat kondisi daerah dimasa lalu, aset yang dibutuhkan
untuk masa sekarang dan perencanaan kebutuhan aset dimasa yang akan datang. Pemerintah
daerah perlu menetapkan standar kekayaan minimum yang harus dimiliki daerah untuk dapat
memenuhi cakupan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat. Untuk itu perlunya dibuat
perencanaan strategik, baik yang sifatnya jangka pendek, menengah maupun jangka panjang
mengenai pengelolaan aset daerah serta perlunya ditetapkan indikator kinerja pengelolaan
kekayaan daerah. Indikator kinerja ini sangat penting untuk menilai kinerja pemerintah daerah
dalam hal mengelola kekayaan daerah serta memberi petunjuk bagi pemerintah daerah untuk
bertindak agar terhindar dari ekses negatif.

b. Pelaksanaan

Setelah perencanaan dilakukan secara tepat, selanjutnya yang menjadi permasalahan adalah
pelaksanaannya.

Kekayaan milik daerah harus dikelola secara optimal dengan memperhatikan prinsip efesiensi,
efektivitas, transparansi dan akuntabilitas. Peran penting masyarakat dan DPRD juga sangat
dibutuhkan dalam rangka melakukan pengawasan (monitoring) terhadap pemanfaatan aset
daerah tersebut, agar tidak terjadi penyalahgunaan kekayaan milik daerah. Pengelolaan juga
menyangkut pendistribusian, pengamanan dan perawatan. Untuk itu diperlukan adanya unit
pengelola kekayaan daerah yang profesional agar tidak terjadi overlapping tugas dan
kewenangan dalam pengelolaan kekayaan daerah. Begitu pula dalam hal pengamanan terhadap
kekayaan daerah, harus dilakukan secara memadai baik pengamanan fisik maupun melalui
sistem pengendalian interen.

Ada hal cukup penting harus diperhatikan oleh pemerintah daerah yaitu perlu dilakukan
perencanaan terhadap biaya operasi dan pemeliharaan untuk setiap kekayaan daerah yang
diadakan. Hal ini disebabkan karena sering kali biaya operasional atau pemeliharaan tidak
dikaitkan dengan belanja modal. Mestinya terdapat keterkaitan antara belanja modal dengan
biaya operasional dan pemeliharaan, dimana biaya tersebut merupakan commitment cost yang
harus dilakukan. Selain biaya operasional dan pemeliharaan, biaya lain yang harus diperhatikan
misalnya biaya asuransi kerugian.

Pengelolaan aset atau kekayaan daerah harus memenuhi prinsip akuntabilitas publik.
Akuntabilitas publik yang dipenuhi sekurang-kurangnya meliputi :

1. Akuntabilitas kejujuran dan akuntabilitas hukum (accountabilty for probity and legality)

2. Akuntabilitas proses (process accountability)

3. Akuntabilitas kebijakan (policy accountability)


Akuntabilitas kejujuran (accountability for probity) terkait dengan menghindari dari
penyalahgunaan jabatan (abuse of power) oleh pejabat dalam hal penggunaan dan pemanfaatan
kekayaan daerah, sedangkan akuntabilitas hukum terkait dengan jaminan adanya kepatuhan
terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Akuntabilitas hukum juga dapat diartikan bahwa
kekayaan daerah harus memiliki status hukum yang jelas agar pihak tertentu tidak dapat
menyalahgunakan/mengklaim kekayaan daerah tersebut.

Akuntabilitas proses terkait dengan dipatuhinya prosedur yang digunakan dalam melaksanakan
pengelolaan kekayaan daerah, termasuk dilakukannya compulsory competitive tendering contrac
(CCTC) serta langkah antisipasi kemungkinan terjadinya mark up, ketika proses penganggaran
terhadap rencana atau program pengadaan barang daerah. Untuk itu diperlukan kecukupan sistem
informasi akuntansi, sistem informasi manajemen barang daerah dan prosedur administrasi. Hal
ini bertujuan untuk mewujudkan akuntabilitas kebijakan pengelolaan aset daerah. Akuntabilitas
kebijakan terkait dengan pertanggungjawaban pemerintah daerah terhadap DPRD dan tentunya
masyarakat luas, atas kebijakan-kebijakan perencanaan, pengadaan, pendistribusian penggunaan
ataupun pemanfaatan kekayaan daerah, pemeliharaan serta sampai kepada tahap penghapusan
barang daerah.

c. Pengawasan.

Pengawasan yang ketat perlu dilakukan sejak tahap perencanaan sampai pada tahap penghapusan
aset. Dalam hal ini peran serta masyarakat dan DPRD serta auditor internal sangat penting.
Keterlibatan auditor internal dalam proses pengawasan sangat penting untuk menilai konsistensi
antara praktek yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan standar yang berlaku. Selain itu
pula, auditor internal juga sangat penting keterlibatannya untuk melakukan penilaian kebijakan
akuntansi yang diterapkan, menyangkut pengakuan aset (recognition), pengukurannya
(measurement) dan penilaiannya (evaluation). Pengawasan tujuannya untuk menghindari
penyimpangan dalam setiap fungsi pengelolaan atau manajemen aset daerah. Sistem dan teknik
pengawasan perlu ditingkatkan agar masyarakat mudah mengetahui oknum-oknum yang hendak
menyalahgunakan kekayaan milik daerah tersebut.

B. FUNGSI PENGELOLAAN ASET DAERAH.

Ada hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk mendapat perhatian, dari ketiga fungsi yang
seperti diuraikan diatas yakni berkenaan dengan upaya optimalisasi pengelolaan aset daerah.
Untuk itu diperlukan strategi yang tepat dalam pengelolaan aset daerah. Sasaran strategi yang
harus dicapai dalam kebijakan pengelolaan aset daerah antara lain :

1. Terwujudnya ketertiban administrasi mengenai kekayaan daerah, baik menyangkut


inventarisasi tanah dan bangunan, sertifikasi kekayaan daerah, penghapusan dan penjualan aset
daerah ;

2. Terciptanya efesiensi dan efektivitas penggunaan aset daerah ;

3. Pengamanan aset daerah dan ;


4. Tersedianya data atau informasi yang akurat mengenai jumlah kekayaan daerah.

Strategi optimalisasi pengelolaan kekayaan (aset) daerah meliputi :

1. Identifikasi dan inventarisasi nilai dan potensi aset daerah ;

2. Adanya sistem informasi manajemen aset daerah ;

3. Pengawasan dan pengendalian pemanfaatan aset dan ;

4. Pelibatan berbagai profesi atau keahlian yang terkait seperti auditor internal dan appraisal
(penilai).

Tags: aset, BMD

Share this entry

Pemerintah Daerah perlu menyiapkan instrumen yang tepat untuk melakukan pengelolaan aset
daerah secara profesional, transparan, akuntabel, efesien dan efektif mulai dari tahap
perencanaan, pendistribusian dan pemanfaatan serta pengawasannya.

Pengertian

Sebelum melangkah jauh, perlu diketahui terlebih dahulu apa itu arti dari aset dan pengelolaan
aset daerah, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam memahami tujuan atau bagaimana
dalam mengelola aset daerah yang dimiliki.

Berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)

Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai
akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau social dimasa depan
diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam
satuan uang, termasuk sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi
masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.
Dalam Permendagri No. 17 tahun 2007 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Pengelolaan
barang daerah adalah suatu rangkaian kegiatan dan tindakan terhadap daerah yang meliputi:

1. Perencanaan kebutuhan dan penganggaran;


2. Pengadaan;
3. Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran;
4. Penggunaan;
5. Penatausahaan;
6. Pemafaatan;
7. Pengamanan dan pemeliharaan;
8. Penilaian;
9. Penghapusan;
10. Pemindahtanganan;
11. Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian;
12. Pembiayaan; dan
13. Tuntutan ganti rugi.

Prinsip Dasar Pengelolaan Aset Daerah


Setelah sudah mengetahu arti dari pengelolaan aset itu apa, maka langkah selanjutnya yang perlu
diketahui lagi adalah mengenai prinsip prinsip dasar dalam pengelolaan tersebut. Hal ini
dimaksudkan agar supaya memudahkan dalam hal pengelolaan aset daerah secara efisien dan
efektif serta menciptakan transparansi kebijakan pengelolaan aset daerah.

Tiga ( 3 ) prinsip dasar itu adalah sebagai berikut :

1. Adanya perencanaan yang tepat,

2. Pelaksanaan/pemanfaatan secara efesien dan efektif,

3. Pengawasan (monitoring).

Untuk lebih memudahkan dalam memahami, maka akan dibahas satu persatu dari tiga prinsip
diatas.

Adanya perencanaan yang tepat,

Pemerintah daerah sangat diharuskan untuk memiliki atau membuat perencanaan kebutuhan aset
yang digunakan sebagai rujukan dalam pengadaan aset daerah. Berpijak dengan rencana yang
sudah dibuat ini, kemudian pemerintah daerah baru bisa mengusulkan anggaran pengadaannya.
Dalam situasi seperti ini, maka peran serta masyarakat khususnya anggota DPRD sangat penting
dalam hal ikut melakukan pengawasan ( monitoring ) apakah kekayaan aset yang tadi sudah
direncanakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan benar benar dibutuhkan atau tidak?.

Dan juga dalam hal Pengadaan barang atau kekayaan daerah harus dilakukan berdasarkan sistem
tender (compulsory competitive tendering contract). Hal ini dilakukan dengan tujuan agar
pemerintah daerah dan masyarakat tidak dirugikan.

Selain masyarakat, tentunya anggota DPRD dituntut untuk lebih tegas dan cermat dalam
mengawasi proses perencanaan pengadaan kekayaan daerah. Perencanaan juga meliputi
perencanaan terhadap aset yang belum termanfaatkan atau masih berupa aset potensial.

Ada tiga ( 3 ) hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun perencanaan yang tepat :

1. melihat kondisi daerah dimasa lalu,

2. aset yang dibutuhkan untuk masa sekarang dan

3. perencanaan kebutuhan aset dimasa yang akan datang.

Pemerintah daerah perlu menetapkan standar kekayaan minimum yang harus dimiliki
daerah untuk dapat memenuhi cakupan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat.

Untuk itu perlunya dibuat perencanaan strategik, baik yang sifatnya jangka pendek, menengah
maupun jangka panjang mengenai pengelolaan aset daerah serta perlunya ditetapkan indikator
kinerja pengelolaan kekayaan daerah. Indikator kinerja ini sangat penting untuk menilai kinerja
pemerintah daerah dalam hal mengelola kekayaan daerah serta memberi petunjuk bagi
pemerintah daerah untuk bertindak agar terhindar dari ekses negatif.

Pelaksanaan

Setelah menyusun dan memiliki perencanaan yang dilakukan secara tepat, tahapan selanjutnya
adalah eksekusi atau tahap pelaksanaan. Dalam pelaksanaanya harus mengedepankan dan
memperhatikan prinsip prinsip seperti efesiensi, efektivitas, transparansi dan akuntabilitas hal
ini bertujuan supaya bisa optimal dalam mengelola aset daerah yang dimiliki.

Dan sekali lagi Peran penting masyarakat dan DPRD juga sangat dibutuhkan dalam rangka
melakukan pengawasan (monitoring) terhadap pemanfaatan aset daerah tersebut, agar tidak
terjadi penyalahgunaan kekayaan milik daerah.

Pengelolaan juga menyangkut pendistribusian, pengamanan dan perawatan. Untuk itu diperlukan
adanya unit pengelola kekayaan daerah yang profesional agar tidak terjadi overlapping tugas dan
kewenangan dalam pengelolaan kekayaan daerah. Begitu pula dalam hal pengamanan terhadap
kekayaan daerah, harus dilakukan secara memadai baik pengamanan fisik maupun melalui
sistem pengendalian interen.

Ada hal cukup penting harus diperhatikan oleh pemerintah daerah yaitu perlu dilakukan
perencanaan terhadap biaya operasi dan pemeliharaan untuk setiap kekayaan daerah yang
diadakan. Hal ini disebabkan karena sering kali biaya operasional atau pemeliharaan tidak
dikaitkan dengan belanja modal.

Mestinya terdapat keterkaitan antara belanja modal dengan biaya operasional dan pemeliharaan,
dimana biaya tersebut merupakan commitment cost yang harus dilakukan. Selain biaya
operasional dan pemeliharaan, biaya lain yang harus diperhatikan misalnya biaya asuransi
kerugian.

Pengelolaan aset atau kekayaan daerah harus memenuhi prinsip akuntabilitas publik. ketiga ( 3 )
prinsipt tersebut adalah sebagai berikut :

1. Akuntabilitas kejujuran dan akuntabilitas hukum (accountabilty for probity


and legality) ;

2. Akuntabilitas proses (process accountability) ;

3. Akuntabilitas kebijakan (policy accountability).

PENJELASAN :

Akuntabilitas kejujuran (accountability for probity) terkait dengan menghindari dari


penyalahgunaan jabatan (abuse of power) oleh pejabat dalam hal penggunaan dan pemanfaatan
kekayaan daerah, sedangkan akuntabilitas hukum terkait dengan jaminan adanya kepatuhan
terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Akuntabilitas hukum juga dapat diartikan bahwa
kekayaan daerah harus memiliki status hukum yang jelas agar pihak tertentu tidak dapat
menyalahgunakan/mengklaim kekayaan daerah tersebut.

Akuntabilitas proses terkait dengan dipatuhinya prosedur yang digunakan


dalam melaksanakan pengelolaan kekayaan daerah, termasuk dilakukannya
compulsory competitive tendering contrac (CCTC) serta langkah antisipasi
kemungkinan terjadinya mark up, ketika proses penganggaran terhadap
rencana atau program pengadaan barang daerah. Untuk itu diperlukan
kecukupan sistem informasi akuntansi, sistem informasi manajemen barang
daerah dan prosedur administrasi. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan
akuntabilitas kebijakan pengelolaan aset daerah.

Akuntabilitas kebijakan terkait dengan pertanggungjawaban pemerintah


daerah terhadap DPRD dan tentunya masyarakat luas, atas kebijakan-
kebijakan perencanaan, pengadaan, pendistribusian penggunaan ataupun
pemanfaatan kekayaan daerah, pemeliharaan serta sampai kepada tahap
penghapusan barang daerah.

Pengawasan

Setelah ada penyusunan perencanaan yang tepat serta diikuti dengan tahapan pelaksanaan maka
prinsip dasar ketiga atau yang terakhir adalah tahapan pengawasan.

Pengawasan yang ketat perlu dilakukan sejak tahap perencanaan sampai pada tahap penghapusan
aset. Dalam hal ini peran serta masyarakat dan DPRD serta auditor internal sangat penting.
Keterlibatan auditor internal dalam proses pengawasan sangat penting untuk menilai konsistensi
antara praktek yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan standar yang berlaku.

Selain itu pula, auditor internal juga sangat penting keterlibatannya untuk melakukan penilaian
kebijakan akuntansi yang diterapkan, menyangkut pengakuan aset (recognition), pengukurannya
(measurement) dan penilaiannya (evaluation).

Tentu dengan adanya Pengawasan yang jeli dan ketat bertujuan untuk menghindari
penyimpangan dalam setiap fungsi pengelolaan atau manajemen aset daerah. Sistem dan teknik
pengawasan perlu ditingkatkan agar masyarakat mudah mengetahui oknum-oknum yang hendak
menyalahgunakan kekayaan milik daerah tersebut.

FUNGSI atau MANFAAT PENGELOLAAN ASET DAERAH


Setelah mengetahui ketiga prinsip dasar mengenai pengelolaan aset daerah sekaligus dengan
ditindaklajuti dengan tahapan penerapan, maka diharapakan output dari perencanaan,
pelaksanaan dan pengawasan aset suatu daerah memiliki fungsi atau manfaat yaitu :

1. Terwujudnya ketertiban administrasi mengenai kekayaan daerah,baik


menyangkut inventarisasi tanah dan bangunan, sertifikasi kekayaan daerah,
penghapusan dan penjualan aset daerah,

2. Terciptanya efesiensi dan efektivitas penggunaan aset daerah,

3. Pengamanan aset daerah dan,

4. Tersedianya data atau informasi yang akurat mengenai jumlah kekayaan


daerah.

TIPS atau STRATEGI OPTIMAL

Agar bisa mengoptimalkan dalam pengelolaan kekayaan aset yang dimiliki suatu daerah, ada
beberapa tips yang perlu dilakukan atau diterapkan.
Berikut tips atau strategi untuk optimalisasi pengelolaan kekayaan (aset) daerah :

1. Identifikasi dan inventarisasi nilai dan potensi aset daerah ;

2. Adanya sistem informasi manajemen aset daerah ;

3. Pengawasan dan pengendalian pemanfaatan aset dan ;

4. Pelibatan berbagai profesi atau keahlian yang terkait seperti auditor internal
dan appraisal (penilai).

PENUTUP

Demikian beberapa poin yang bisa kami bagikan mengenai beberapa hal penting yang berkaitan
dengan Pengelolaan Aset Daerah. Semoga apa yang sudah tertulis diatas bisa bermanfaat bagi
siapa saja yang berkompeten atau bersangkutan dengan perihal Pengelolaan Aset Daerah.

Optimalisasi Pengelolaan Aset Daerah


April 25, 2009
tags: akuntansi, aset, barang, daerah, manajemen, Permendagri No. 17/2007, Permendagri
No.13/2006, PP No. 6/2006
by syukriy

Aset atau barang daerah merupakan potensi ekonomi yang dimiliki oleh daerah. Potensi ekonomi
bermakna adanya manfaat finansial dan ekonomi yang bisa diperoleh pada masa yang akan
datang, yang bisa menunjang peran dan fungsi pemerintah daerah sebagai pemberi pelayanan
publik kepada masyarakat. Pemahaman akan aset bisa berbeda antara ilmu perencanaan,
manajemen keuangan, dan akuntansi.

Sumber Aset Daerah

Aset daerah diperoleh dari dua sumber, yakni dari APBD dan dari luar APBD. Secara singkat,
berikut pengertian dan implikasi kedua sumber aset ini:

1. Aset yang bersumber dari pelaksanaan APBD merupakan output/outcome dari


terealisasinya belanja modal dalam satu tahun anggaran. Namun, pengakuan besarnya
nilai aset tidak sama dengan besaran anggaran belanja modal. Penafsiran atas
Permendagri No.13/2006 memang memungkinkan kita menyataan bahwa besaran belanja
modal sama dengan besaran penambahan aset di neraca. Hal ini kurang pas jika neraca
dipandang dari konsep akuntansi, karena penilaian suatu aset haruslah sebesar nilai
perolehannya (konsep full cost). Artinya, seluruh biaya yang dikeluarkan sampai aset
tersebut siap digunakan (ready to use) haruslah dihitung sebagai kos aset bersangkutan.
Dalam konsep anggaran kinerja, biaya yang dikeluarkan adalam semua biaya yang
menjadi masukan (input) dalam pelaksanaan kegiatan yang menghasilkan aset ini.
Dengan demikian, termasuk di dalamnya belanja pegawai dan belanja barang & jasa,
selain dari belanja modal tentunya. Jadi, kos untuk aset adalah seluruh pengeluaran untuk
mencapai outcome.

2. Aset yang bersumber dari luar pelaksanaan APBD. Dalam hal ini, pemerolehan aset
tidak dikarenakan adanya realisasi anggaran daerah, baik anggaran belanja modal
maupun belanaj pegawai dan belanja barang & jasa. Pemda sering menerima aset dari
pihak lain, seperti lembaga donor dan masyarakat. Saat ini, beberapa daerah menerima
penambahan aset yang cukup signifikan dari pihak lain, seperti di Aceh, Sumut, dan DIY.
Di Aceh, ALGAP dan LGSP memberikan sumbangan peralatan kerja seperti komputer
jinjing, jaringan internet, dan printer. Belum lagi pembangunan gedung untuk
perkantoran dari NGO asing.

Pengelolaan Aset

Pengelolaan aset daerah diatur dalam PP No.6/2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah,
yang kemudian ditindaklanjuti dengan Permendagri No.17/2007 tentang Pedoman Pengelolaan
Barang Milik Daerah. Lingkup pengelolaan aset dimaksud meliputi (1) perencanaan kebutuhan
dan penganggaran, (2) pengadaan, (3) penggunaan, (4) pemanfaatan, (5) pengamanan dan
pemeliharaan, (6) penilaian, (7) penghapusan, (8) pemindahtanganan, (9) penatausahaan, dan
(10) pembinaan, pengawasan, dan pengendalian. Sepertinya sudah diatur dengan sangat lengkap,
mulai dari hulu sampai hilir. Tapi, mengapa di daerah tetap terjadi masalah?

Beberapa Isu Penting terkait Aset Daerah

1. Perencanaan dan penganggaran. Pada praktiknya, di daerah sering dianggarkan sesuatu


yang tidak dibutuhkan, sedangkan yang dibutuhkan tidak dianggarkan. Hal ini bisa terjadi
karena adanya kepentingan-kepentingan tertentu, seperti rente, yang diterima oleh
aparatur daerah sebelum pengadaan barang dilaksanakan. Di sebuah daerah, ketika kami
diminta menyusun APBD-nya, ternyata ada beberapa aset yang sudah diterima dan
dipakai, padahal dianggarkan saja belum. Pihak supplier (fihak ketiga) biasanya cuma
bilang: ambil saja dulu, masalah pembayaran kan bisa diatur dalam APBD.

2. Pengadaan. Tahapan ini paling sulit. Selain rawan dengan praktik korupsi, ancaman
menjadi tersangka (lalu menjadi terpidana) cukup besar. Oleh karena itu, masalaha yang
paling sering muncul adalah: mekanisme pengadaannya penunjukan langsung, pemilihan
langsung, atau tender bebas? Yang unik, banyak aparatur daerah yang tidak mau menjadi
panitia pengadaan karean takut terjerat kasus korupsi. Akibatnya, jikapun ikut ujian
sertifikasi (sebagai syarat menjadi panitia pengadaan barang dan jasa sesuai Keppres
No.80/2003), umumnya sengaja tidak meluluskan diri. Artinya, mendingan ndak lulus
daripada menjadi panitia lelang. Wah!

3. Pemeliharaan. Setiap pemeliharaan terkait dengan anggaran untuk pemeliharaan.


Belanja pemeliharaan ternyata salah satu objek belanja yang paling sering difiktifkan
pertanggungjawabannya. Jika dicermati dalam Laporan Realisasi Anggaran (LRA), atau
dalam Perhitungan APBD, biasanya anggaran belanja pemeliharaan terealisasi 100%.
Habis tak bersisa. Yang menarik, berdasarkan penelitian di negara-negara berkembang,
terutama di Afrika dan Amerika Latin (IMF, 2007; World Bank, 2008) fenomena ghost
expenditures merupakan hal yang biasa. Artinya, alokasi untuk pemeliharaan selalu
dianggarkan secara incremental meskipun banyak aset yang sudah tidak berfungsi atau
hilang. hal ini terjadi karena tidak adanya transparansi dalam penghapusan dan
pemidahtanganan aset-aset pemerintah.

4. Penghapusan. Penghapusan aset bermakna tidak ada lagi nilai suatu aset yang akan
dicantumkan di neraca. Penghapusan dari buku besar dilakukan setelah kepemilikan aset
tersebut tidak lagi di daerah, tetapi di pihak lain atau dimusnahkan atau dibuang. Dalam
persepktif akuntansi, penghapusan dilakukan dengan cara membuat jurnal, misalnya:
mendebit rekening Ekuitas Dana-Diinvestasikan dalam Aset Tetap dan mengkredit Aset
Tetap.

(KODE : PASCSARJ-0263) : TESIS PENGARUH MANAJEMEN ASET TERHADAP


OPTIMALISASASI PEMANFAATAN ASET TETAP PEMERINTAH DAERAH
(PROGRAM STUDI : AKUNTANSI)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dengan berlakunya UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.


25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32/2004 dan UU No.
33/2004 merupakan landasan perubahan sistem pemerintahan daerah termasuk
perimbangan Keuangan Negara. Perubahan itu mengarah pada pelaksanaan
desentralisasi atau otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab (Arifin
et al. 2003). Diberlakukannya kedua undang-undang di atas, untuk menghilangkan
ketimpangan, ketidakharmonisan, dan tidak kreatifnya daerah akibat
diberlakukannya UU No 5/1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di daerah dan
telah memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

Pembentukan Undang-undang tentang Perimbangan Keuangan antara


Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah dimaksudkan untuk mendukung
pendanaan atas penyerahan urusan kepada pemerintah daerah yang diatur dalam
undang-undang tentang Pemerintahan Daerah. Perimbangan keuangan mencakup
pembagian keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara
proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi,
kondisi, dan kebutuhan daerah.
Sumber-sumber pendanaan pelaksanaan pemerintahan daerah terdiri atas
Pendapatan Asli Daerah, dana perimbangan, pinjaman daerah, dan lain-lain
pendapatan yang sah. Pendapatan Asli Daerah merupakan pendapatan daerah yang
bersumber dari hasil pajak daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah yang bertujuan untuk
memberikan keleluasaan kepada daerah dalam menggali pendanaan dalam
pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas desentralisasi.

Konsekuensi logis dari pelaksanaan UU Nomor 32 dan 33 tahun 2004 adalah daerah
telah diberikan kewenangan yang lebih besar untuk mengatur sumber dayanya
termasuk bagaimana mengoptimalkan dan memanfaatkan aset daerah yang
dimilikinya dengan jalan menerapkan sistem manajemen aset sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku. Dengan demikian pemerintah daerah
dituntut memiliki suatu kemandirian dalam membiayai sebagian besar anggaran
pembangunannya. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus dapat mengarahkan
dan memanfaatkan sumber daya yang ada secara berdayaguna dan berhasil guna
serta mampu melakukan optimalisasi sumber-sumber penerimaan daerah termasuk
optimalisasi dan pemanfaatan dari aset-aset yang ada.

Aset daerah adalah semua harta kekayaan milik daerah baik barang berwujud
maupun barang tak berwujud (Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 Bab I pasal 1).
Barang Daerah adalah semua barang berwujud milik daerah yang berasal dari
pembelian dengan dana yang bersumber seluruhnya atau sebagian dari APBD dan
atau berasal dari perolehan lainnya yang sah (Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 Bab
I pasal 1). Barang berwujud atau disebut dengan aktiva tetap adalah barang yang
mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi dan digunakan untuk
penyelenggaraan kegiatan pemerintah dan pelayanan publik. Aktiva tetap antara
lain terdiri dari tanah, jalan dan jembatan, bangunan air, instalasi dan jaringan,
gedung, mesin dan peralatan, kendaraan, meubelair dan perlengkapan serta
bukubuku perpustakaan.

Pentingnya pengelolaan aset terutama tanah merupakan sumber daya alam yang
sangat penting bagi kehidupan dan keberadaan manusia. Salah satu bentuk
pengelolaan aset adalah konsep real property, yaitu suatu hak perorangan atau
badan hukum untuk memiliki dalam arti menguasai tanah dengan suatu hak atas
tanah, misalnya hak milik atau hak guna bangunan berikut bangunan (permanen)
yang didirikan di atasnya atau tanpa bangunan. Pengertian penguasaan di atas
perlu dibedakan antara penguasaannya secara fisik atas tanah dan/atau bangunan
yang disebut real estate. Sedangkan real property merupakan kepemilikan sebagai
konsep hukum (penguasaan secara yuridis) yang dilandasi dengan sesuatu hak atas
tanah (Siregar, 2004)
Pengelolaan (manajemen) aset daerah merupakan salah satu faktor penentu kinerja
usaha yang sehat, sehingga dibutuhkan adanya analisis optimalisasi dalam
penilaian aset daerah, yaitu : inventarisasi, identifikasi, legal audit, dan penilaian
yang dilaksanakan dengan baik dan akurat. Sekarang ini, Sistem Informasi
Manajemen Aset (SIMA) merupakan suatu sarana yang efektif untuk meningkatkan
kinerja sehingga transparansi kerja dalam pengelolaan aset sangat terjamin tanpa
perlu adanya kekhawatiran akan pengawasan dan pengendalian yang lemah
(Siregar, 2004).

Pemerintah Kabupaten X memiliki potensi di berbagai sektor dan untuk menunjang


optimalisasi potensi daerah yang ada dan peningkatan pelayanan publik,
Pemerintah Daerah didukung oleh sarana dan prasarana yang dimiliki. Sarana dan
Prasarana yang merupakan aktiva tetap (fixed aset) yang dimiliki Pemerintah
Daerah tersebut diklasifikasikan berupa : tanah, jalan dan jembatan, instalasi dan
jaringan, bangunan gedung, alat-alat besar, alat angkutan, alat bengkel dan alat
ukur, alat pertanian, alat kantor dan alat rumah tangga, alat-alat studio, alat-alat
kedokteran, alat-alat laboratorium, buku perpustakaan, barang bercorak seni dan
budaya.

B. Penelitian Terdahulu dan Perbedaan Penelitian

Penelitian mengenai Manajemen Aset di Kabupaten X belum pernah dilakukan


namun beberapa penelitian mengenai manajemen aset telah banyak dilakukan oleh
beberapa penelitian sebelumnya. Pakiding (2006) dalam penelitiannya tentang
"Pengaruh Manajemen Aset Terhadap Optimalisasi Aset Tetap (Tanah dan
Bangunan), Studi Kasus di Kabupaten Bantul. Variabel yang digunakan Inventarisasi,
identifikasi, legal audit dan penilaian. Sampel sebanyak 40 orang dengan metode
purposive sampling. Pendekatan yang digunakan untuk mengetahui pengaruh
variabel bebas diukur dengan menggunakan statistik deskriptif, korelasi spearman
rank dan diestimasi dengan regresi multinomial logistik. Hasil penelitian
memberikan gambaran bahwa manajemen aset dalam optimalisasi aset tetap
(tanah dan bangunan) dipengaruhi secara signifikan oleh inventarisasi dan penilaian
aset. Variabel bebas lainnya identifikasi dan legal audit menunjukkan hasil yang
tidak signifikan atau tidak berpengaruh.

Chair (2001) mengadakan suatu studi kasus di pemerintah daerah DKI Jakarta
tentang peranan manajemen dalam upaya meningkatkan kegunaan aset tanah dan
bangunan untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Penelitian ini mencoba
mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan keprogresifan status
manajemen aset daerah. Metode yang digunakan adalah cluster analysis dan hasil
yang diperoleh adalah adanya tingkat aktifitas yang tinggi terhadap pelaksanaan
dan pengawasan manajemen aset tanah dan bangunan serta adanya pembedaan
kinerja manajemen aset kelurahan yang terbentuk berdasarkan luas tanah dan
bangunan yang dimiliki.

Bertovic, et al. (2002) menjelaskan bagaimana teknik mengimplementasikan


manajemen aset secara bertahap (studi kasus pemerintah lokal di Negara Kroasia)
beserta beberapa permasalahan yang mesti diwaspadai selama pelaksanaan dan
solusi praktisnya. Di negara New Zealand (2001) pengelolaan aset tetap dikelola
oleh suatu departemen tersendiri (the treasury) dan telah menetapkan garis-garis
besar strategi serta mengeluarkan pedoman dan prosedur yang harus ditempuh
dalam melakukan akuisisi dan manajemen aset tetap. Sementara itu, Bohn (2002)
mengadakan penelitian tentang pilihan berbagai alternative manajemen terhadap
hutang dan aset pemerintah dalam suatu neraca keuangan yang meliputi kekayaan
(treasury) The Federal Reserve, serta jaminan sosial. Penelitian ini mengkaji berapa
jumlah dana yang harus diinvestasikan oleh pemerintah. Hasil penelitian
menyimpulkan bahwa saham pendapatan tetap yang memenuhi kualitas tertinggi
(high-quality fixed-income securities) merupakan patokan (benchmark) terbaik dan
jaminan sosial yang paling diminati oleh manajer aset pemerintah.

Pahlevi (2002) mengadakan penelitian tentang pengelolaan manajemen aset real


estate pada perusahaan daerah (PD) pasar jaya dengan pendekatan analisis Cluster
dan Chi-Square untuk mengetahui sejauhmana status kinerja dan kepentingan unit-
unit pasar di dalam melaksanakan faktor-faktor kunci manajemen aset Real Estate.
Hasil analisis nya menunjukkan bahwa secara statistik terdapat perbedaan kinerja
yang signifikan antara status manajemen aset Real Estate yang terbentuk dari
analisis cluster berdasarkan variabel klasifikasi unit-unit pasar, pendapatan kotor,
jumlah karyawan, dan total luas lantai bangunan. Ciptono dan Wiryawan (2001)
mengadakan suatu studi yang menjelaskan tentang penerapan real time strategic
dengan memotret praktik manajemen aset bangunan perusahaan (corporate real-
estate asset management or CREAM) di Indonesia. Dalam era transformasi
(reformasi) nasional dan otonomi daerah, organisasi publik dan bisnis dituntut untuk
mampu mengembangkan daya saing, efisiensi, dan keefektifannya guna melakukan
proses perubahan secara kreatif dan berkesinambungan (sustainable) untuk
menjadi the leader of crisis. Penelitian ini menggunakan metode cluster analysis
(chi-square dan Cramer's V analysis) sebagai alat analisisnya.

Mahsun (2003) melakukan studi kasus pada Pemerintah Kota Yogyakarta tahun
anggaran 2001/2002 tentang analisis efektivitas manajemen aset properti riil
Pemerintah Daerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah : pertama
dengan melakukan wawancara dengan pejabat di lingkungan pemerintah kota, yang
kedua melakukan pengamatan dan observasi di lingkungan pemerintah kota dan
yang ketiga melakukan tinjauan data baik literatur akademik maupun laporan

pertanggungjawaban. Hasil penelitian menunjukan bahwa praktek manajemen aset


di Pemerintah Kota Yogyakarta masih belum optimal, karena pemkot masih belum
mempunyai kapasitas yang memadai untuk mengelola aset-aset yang dimiliki
terutama aset besar.

Agustina (2005) melakukan suatu studi kasus yang dilakukan di Kabupaten


Pontianak tentang manajemen aset (tanah dan bangunan) Pemerintah Daerah. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa identifikasi atas tanah dan bangunan yang belum
dimanfaatkan oleh Pemerintah Daerah menjadi sumber pendapatan asli daerah dan
meningkatkan pelayanan publik (public service). Dadson et. al (2006) menjelaskan
tentang mengoptimalkan manajemen aset tanah di Ghana dalam rangka menuju
good governance. Langkah-langkah tersebut berada di seputar legislasi, organisasi
dalam sektor tanah, data base dan peta serta mekanisme sistem lahan yang
berkelanjutan.

Penelitian yang dilakukan Bloom Quist dan Oldach (2005) menjelaskan bahwa
optimalisasi aset perusahaan memerlukan pendekatan perbaikan yang "cerdas"
dengan memadukan teknologi secara strategis, metodologi yang handal, proses
pemeliharaan yang terbaik dan perubahan budaya dalam sebuah program yang
terkoordinasi dan berkelanjutan. Sementara itu, Wardhana (2005) meneliti
mengenai bagaimana mengelola aset Kota Jakarta. Penelitian ini membahas
mengenai keberadaan potensi kota sebagai aset yang dimiliki/dikuasai Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta, permasalahan yang dihadapi berikut upaya penyelesaiannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlu adanya restrukturisasi organisasi dalam
pengelolaan aset melalui pembentukan Badan Pengelola dan Dewan Supervisi Aset

Kota, sehingga dari sisi anggaran biaya pengelolaan aset dapat ditekan secara
signifikan dan kinerja organisasi dalam pengelolaan aset akan dapat diukur.

Perbedaan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya adalah pada


lokasi penelitian yang mana mengambil lokasi Penelitian di Kabupaten X. Adapun
alasan dipilihnya Kabupaten X sebagai lokasi penelitian karena memiliki jumlah
aset-aset properti khususnya tanah dan bangunan yang sangat banyak.

Atas dasar uraian di atas, maka penelitian ini tertarik melakukan penelitian terkait
pengaruh manajemen aset terhadap optimalisasi aset dengan judul PENGARUH
MANAJEMEN ASET TERHADAP OPTIMALISASI ASET TETAP PEMERINTAH
KABUPATEN X".

C. Perumusan Masalah

Penelitian ini memfokuskan pada pengaruh manajemen aset terhadap optimalisasi


pemanfaatan aset tetap di Pemerintah Kabupaten X. Inventarisasi, legal audit,
pemanfaatan, pengawasan dan pengendalian aset daerah berperan sangat penting
dalam memberikan informasi yang cepat, tepat dan dapat dipertanggungjawabkan
dalam penyusunan strategi pembangunan daerah.
Permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten X adalah pelaksanaan
manajemen aset atau pengelolaan asetnya yang meliputi prosedur penatausahaan
inventarisasi dan identifikasi aset daerah secara fisik dan yuridis yang belum
terlaksana dengan baik dan benar. Ketidaktertiban dalam pengelolaan data base
aset, sehingga aset-aset yang dikelola Pemerintah Daerah cenderung tidak optimal
dalam penggunaannya. Hal ini menyebabkan Pemerintah Daerah akan mengalami
kesulitan untuk mengembangkan dalam optimalisasi dan pemanfaatan aset di masa
yang akan datang. Implikasi atas pemanfaatan dari pengelolaan aset yang tidak
optimal adalah tidak diperolehnya nilai yang terkandung dalam aset itu sendiri,
misalnya dari aspek ekonomi adalah tidak diperolehnya revenue yang sepadan
dengan besarnya nilai aset yang dimiliki atau dengan kata lain tingkat
pengembaliannya rendah.

Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan suatu kajian yang mendalam
tentang optimalisasi dari pemanfaatan aset tanah dan bangunan yang
dimiliki/dikelola oleh Pemerintah Kabupaten X. Kajian-kajian tersebut meliputi
optimalisasi potensi fisik, lokasi, nilai, jumlah/volume, legal yang dimiliki aset
sehingga diharapkan daerah dapat menggali sumber-sumber pendapatannya dalam
rangka kemandirian daerah dalam hal pendanaannya, serta faktor-faktor yang
berhubungan dengan manajemen aset di daerah.

Oleh karenanya, penelitian ini adalah untuk menilai pengaruh manajemen aset
terhadap optimalisasi aset tetap yang berupa tanah dan bangunan. Secara lebih
rinci, rumusan masalah dituliskan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut ini.

1. Apakah terdapat pengaruh inventarisasi terhadap optimalisasi aset tetap (tanah


dan bangunan) di Pemerintah Kabupaten X ?

2. Apakah terdapat pengaruh identifikasi terhadap optimalisasi aset tetap (tanah


dan bangunan) di Pemerintah Kabupaten X ?

3. Apakah terdapat pengaruh legal audit terhadap optimalisasi aset tetap (tanah
dan bangunan) di Pemerintah Kabupaten X ?

4. Apakah terdapat pengaruh penilaian terhadap optimalisasi aset tetap (tanah dan
bangunan) di Pemerintah Kabupaten X ?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh manajemen aset di Pemerintah


Kabupaten X dalam optimalisasi aset tetapnya. Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan masukan yang baik bagi Pemerintah Daerah dalam pemanfaatan
asetnya. Secara lebih rinci, tujuan penelitian dengan mendasarkan pada pertanyaan
penelitian di atas adalah sebagai berikut ini.
1. Untuk memperoleh bukti empiris terkait pengaruh inventarisasi terhadap
optimalisasi aset tetap (tanah dan bangunan) di Pemerintah Kabupaten X.

2. Untuk memperoleh bukti empiris terkait mengetahui pengaruh identifikasi


terhadap optimalisasi aset tetap (tanah dan bangunan) di Pemerintah Kabupaten X.

3. Untuk memperoleh bukti empiris terkait mengetahui pengaruh legal audit


terhadap optimalisasi aset tetap (tanah dan bangunan) di Pemerintah Kabupaten X.

4. Untuk memperoleh bukti empiris terkait mengetahui pengaruh penilaian


terhadap optimalisasi aset tetap (tanah dan bangunan) di Pemerintah Kabupaten X.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan


manfaat sebagai berikut ini.

1. Pemerintah Kabupaten X

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada Pemerintah


Kabupaten X dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan pelaksanaan
manajemen aset untuk optimalisasi dan pemanfaatan aset tetapnya.

2. Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah/wawasan dalam bidang ilmu


pengetahuan terutama manajemen aset khususnya pengelolaan aset di daerah.

Makalah Tentang Barang Miliik Daerah


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Otonomi Daerah mempunyai konsekuensi bahwa peran pemerintah pusat akan


semakin kecil, sebaliknya peran pemerintah daerah semakin besar dalam
pembangunan daerah/wilayahnya. Pemerintah daerah dituntut memiliki
kemandirian dalam membiayai sebagian besar anggaran pembangunannya. Oleh
karena itu pemerintah daerah harus dapat melakukan optimalisasi sumber-sumber
penerimaan daerahnya.
Salah satu sektor yang dapat diharapkan menjadi pendapatan daerah
terutama di perkotaan adalah melalui sektor properti. Potensi sektor properti di
daerah tidak hanya dalam pembangunan properti saja, namun juga menyangkut
pengelolaan properti yang sudah termanfaatkan ataupun yang belum
termanfaatkan secara optimal. Banyak sumber yang dapat ditarik dari sektor
properti, baik yang termasuk dalam kategori sumber penerimaan konvensional
(seperti: PBB, PP1, BPHTB dan lain-lain) maupun sumber penerimaan baru atau non
konvensional (seperti: Development Impact Fees, penerimaan akibat perubahan
harga dasar tanah dan lain-lain).

Namun dalam perkembangannya untuk menghadapi otonomi daerah,


pemerintah daerah tidak hanya mengoptimalkan pada potensi pajak dari sektor
properti saja, tetapi juga harus mengetahui jumlah dan sejauh mana pemanfaatan
aset properti yang dimiliki pemerintah daerah saat ini. Manajemen aset properti ini
sangat penting diketahui karena di samping sebagai penentuan aktiva tetap dalam
faktor penambah dalam total aset daerah juga dapat dimanfaatkan sebagai salah
satu sumber pendapatan yang menopang pendapatan asli daerah.

Pengelolaan aset daerah bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Hal ini
terbukti dari masih banyaknya pengecualian kewajaran atas nilai aset pemerintah
daerah dalam opini BPK-RI atas laporan keuangan pemerintah daerah. Kondisi
tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam
pengelolaan aset sehingga menyajikan aset daerah dengan kurang atau tidak
wajar. Untuk itu manajemen aset daerah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
dalam rangka optimalisasi pendapatan asli daerah sebagai sumber utama
pendanaan operasional pemerintah daerah sesuai dengan semangat otonomi
daerah.

B. RUMUSAN MASALAH

Dari uraian latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1) Apa Dasar Hukumnya BMD?

2) Bagaimana Manajemen Asetnya?


3) Apa Pengertian Barang dan Aset Daerah?

4) Serta Bagaimana Pengelolaan BMD?

C. TUJUAN PENULISAN

Dari uraian latar belakang dan rumusan masalah di atas maka yang menjadi
tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1) Untuk Mengetahui Apa Dasar Hukum BMD

2) Untuk Mengetahui Bagaimana Manajemen Asetnya

3) Untuk Mengetahui Pengertian Barang dan Aset Daerah

4) Untuk Mengetahui Bagaimana Pengelolaan BMD


BAB II

PEMBAHASAN

A. DASAR HUKUM
Barang Daerah disebut Barang Milik Daerah (BMD) pelaksanaan
pengelolaannya berdasarkan peraturan perundang-undangan, diantaranya sbb:
1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
2) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah.
Berikutnya pelaksanaan teknis pengelolaan BMD diatur dalam Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan
Barang Milik Daerah.

B. MANAJEMEN ASET
Standar Akuntansi Pemerintahan mendefinisikan aset adalah sumber daya
ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari
peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan
diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat
diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non keuangan yang diperlukan
untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang
diperlihara karena alasan sejarah dan budaya.
Sementara itu, pengertian aset secara umum adalah barang (thing) atau
sesuatu barang (anything) yang mempunyai nilai ekonomi (economic value), nilai
komersial (commercial value) atau nilai tukar (exchange value) yang dimiliki oleh
badan usaha, instansi atau individu (perorangan). Istilah properti seringkali melekat
dengan istilah lain untuk memberikan pengertian yang lebih jelas secara hukum,
yaitu real estate dan real property dimana keduanya mempunyai makna yang
berbeda meskipun ada juga yang menyebutnya sebagai sinonim dalam lingkup
tertentu. Selanjutnya, Real estate is the physical land and appurtenances affixed to
the land, e.g., structure. Real estate bersifat tidak bergerak (immobile) dan
berwujud (tangibel), yang termasuk dalam pengertian ini adalah tanah, semua
benda yang secara alami sebagai bagian dari tanah, seperti pepohonan dan barang
mineral dan juga segala sesuatu yang dibangun oleh manusia seperti bangunan,
jaringan dan lain sebagainya.

Real property merupakan kumpulan atas berbagai macam hak dan interest
yang ada dikarenakan kepemilikan atas satuan real estate, meliputi hak untuk
menggunakan, menyewakan, memberikan kepada orang lain atau tidak. Properti
selain sebagai investasi, juga merupakan aset. Pengertian aset adalah sesuatu yang
memiliki nilai. Real estate sebagai komponen utama dari aset daerah, oleh
pemerintah daerah selanjutnya harus dapat dimanfaatkan sebagai aset yang
produktif dan berguna sehingga berdampak positif dalam pembangunan ekonomi
daerah dan kesejahteraan masyarakat. Dalam neraca keuangan daerah aset dapat
menjadi modal bila dapat menghasilkan pendapatan. Namun masih banyak daerah
yang belum menyadari peran dan potensi pengelolaan aset secara cermat.
Dalam Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6
Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah menyebutkan bahwa
pengelolaan barang milik negara/daerah meliputi perencanaan kebutuhan dan
penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan
pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, penatausahaan,
pembinaan, pengawasan dan pengendalian.
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007
tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, pengelolaan barang milik
daerah meliputi; perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan,
penerimaan, penyimpanan dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan,
pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan,
pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian, pembiayaan dan
tuntutan ganti rugi.

C. PENGERTIAN BARANG DAN ASET DAERAH


1. Barang Daerah
BMD berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 2004 adalah semua barang yang dibeli
atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.
Selanjutnya pengertian BMD berdasarkan PP Nomor 6 Tahun 2006, adalah sebagai
berikut:
BMD meliputi:
1) Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD.
2) Barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah, meliputi :

a. Barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis.


b. Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian /kontrak.
c. Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang, atau
d. Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap.
Dengan demikian pengertian BMD sebagaimana disebut dalam Permendari No.
17 Tahun 2007 adalah semua kekayaan daerah baik yang dibeli atau diperoleh atas
beban APBD maupun yang berasal dari perolehan lain yang sah baik yang bergerak
maupun yang tidak bergerak beserta bagian-bagiannya ataupun yang merupakan
satuan tertentu yang dapat dinilai, dihitung, diukur atau ditimbang termasuk hewan
dan tumbuh-tumbuhan kecuali uang dan surat-surat berharga lainnya.
2. Aset
Pengertian Aset sebagaimana dikutip dari Modul Diklat Teknis Manajemen Aset
Daerah, LAN-2007, seperti berikut ini:
Asset atau Aset ( dengan satu s ) yang telah di Indonesiakan secara umum
adalah barang (thing) atau sesuatu barang (anything) yang mempunyai:
1) Nilai ekonomi (economic value),
2) Nilai komersial (commercial value) atau
3) Nilai tukar (exchange value); yang dimiliki oleh instansi, organisasi, badan usaha
ataupun individu perorangan.

Asset (Aset) adalah barang, yang dalam pengertian hukum disebut benda, yang
terdiri dari benda tidak bergerak dan benda bergerak, baik yang berwujud (tangible)
maupun yang tidak berwujud (Intangible), yang tercakup dalam aktiva/kekayaan
atau harta kekayaan dari suatu instansi, organisasi, badan usaha atau individu
perorangan.

Sedangkan pengertian Aset sebagaimana disebut dalam Buletin Teknis,


Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP), adalah sumber daya ekonomi
yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa
lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan
dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur
dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk
penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara
karena alasan sejarah dan budaya.

Aset tersebut dalam Buletin Teknis PSAP terdiri dari:

1) Aset Lancar : Kas dan setara kas, Investasi jangka pendek, Piutang dan
Persediaan. Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera
untuk direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas)
bulan sejak tanggal pelaporan, atau berupa kas dan setara kas.
2) Investasi Jangka Panjang : Investasi merupakan aset yang dimaksudkan untuk
memperoleh manfaat ekonomik seperti bunga, dividen, dan royalty, atau manfaat
sosial, sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka
pelayanan pada masyarakat. Investasi pemerintah dibagi atas dua yaitu investasi
jangka pendek dan investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek termasuk
dalam kelompok aset lancar sedangkan investasi jangka panjang masuk dalam
kelompok aset nonlancar.
3) Aset Tetap : Tanah, Peralatan dan Mesin, Gedung dan Bangunan, Jalan, Irigasi dan
Jaringan, Aset Tetap Lainnya dan Konstruksi dalam Pengerjaan.Aset Tetap
merupakan aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas)
bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh
masyarakat umum.
4) Aset Lainnya : Aset tak berwujud, Tagihan penjualan ansuran, TP dan TGR,
Kemitraan dengan pihak ketiga dan aset lain-lain. Aset lainnya merupakan aset
pemerintah yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai aset lancar, investasi jangka
panjang, aset tetap dan dana cadangan.

Sesuai Permendari No. 17 Tahun 2007, BMD digolongkan berupa barang


persedian dan barang inventaris (barang dengan penggunaannya lebih dari 1
tahun) yang terdiri dari 6 (enam) kelompok yaitu:

1) Tanah;

2) Peralatan dan Mesin;


3) Gedung dan Bangunan;

4) Jalan, Irigasi dan Jaringan;

5) Aset Tetap Lainnya; dan

6) Konstruksi dalam Pengerjaan.

Bedasarkan lingkup aset dan penggolongan BMD tersebut diatas, BMD


merupakan bagian dari Aset Pemerintah Daerah yang berwujud yang tercakup
dalam Aset Lancar dan Aset Tetap.

Menyangkut aset tak berwujud yang tercakup dalam Aset Lainnya, secara
khusus tidak disebut dalam Permendari No. 17 Tahun 2007. Aset ini dimiliki untuk
digunakan dalam menghasilkan barang dan jasa atau digunakan untuk tujuan
lainnya. Aset tak berwujud diantaranya berupa lisensi dan franchise, hak cipta
(copyright), paten dan hak lainnya serta hasil kajian/penelitian, bagaimanapun
tetap perlu dilakukan penatausahaannya untuk keperluan pengelolaan BMD dalam
rangka perencanan kebutuhan pengadaan dan pengendalian serta pembinaan
aset/barang daerah.

D. PENGELOLAAN BMD.
Pengelolaan BMD merupakan rangkaian kegiatan dan/atau tindakan terhadap
BMD, yang meliputi:

1. Perencanaan Kebutuhan Dan Penganggaran;

2. Pengadaan;

3. Penerimaan, Penyimpanan Dan Penyaluran;

4. Penggunaan;

5. Penatausahaan;

6. Pemanfaatan;

7. Pengamanan Dan Pemeliharaan;

8. Penilaian;
9. Penghapusan

10. Pemindahtanganan;

11. Pembinaan, Pengawasan Dan Pengendalian;

12. Pembiayaan;

13. Tuntutan Ganti Rugi.

Pengelolaan BMD sebagai bagian dari Pengelolaan Keuangan Daerah yang


dilaksanakan secara terpisah dari Pengelolaan Barang Milik Negara.

Lingkup Pengelolaan BMD terdiri dari:

1) Barang yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah yang penggunaannya/


pemakaiannya berada pada Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD)/Instansi/lembaga Pemerintah Daerah lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;

2) Barang yang dimiliki oleh Perusahaan Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah
lainnya yang status barangnya dipisahkan.

BMD yang dipisahkan adalah barang daerah yang pengelolaannya berada


pada Perusahaan Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah lainnya yang anggarannya
dibebankan pada anggaran Perusahaan Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah
lainnya.

Pelaksanaan tugas dan wewenang serta tanggung jawab pengelolaan BMD


dilaksanakan oleh Pejabat Pengelola BMD, yang terdiri dari: Kepala Daerah sebagai
pemegang kekuasaan pengelolaan BMD berwenang dan bertanggungjawab atas
pembinaan dan pelaksanaan pengelolaan BMD.

Adapun kewenangannya sbb :

1) Menetapkan kebijakan pengelolaan BMD;

2) Menetapkan penggunaan, pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah dan


bangunan;
3) Menetapkan kebijakan pengamanan BMD;

4) Mengajukan usul pemindahtanganan BMD yang memerlukan persetujuan DPRD;

5) Menyetujui usul pemindahtanganan dan penghapusan BMD sesuai batas


kewenangannya; dan

6) Menyetujui usul pemanfaatan BMD selain tanah dan/atau bangunan.

Sekretaris Daerah selaku pengelola, berwenang dan bertanggungjawab:

1) Menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan BMD;

2) Meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan BMD;

3) Meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan pemeliharaan/perawatan BMD;

4) Mengatur pelaksanaan pemanfaatan, penghapusan dan pemindahtanganan BMD


yang telah disetujui oleh Kepala Daerah;

5) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi BMD; dan

6) Melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BMD.

Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola BMD bertanggung


jawab mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan BMD yang ada pada masing-
masing SKPD;

Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku pengguna BMD,


berwenang dan bertanggung jawab:

1) Mengajukan rencana kebutuhan BMD bagi SKPD yang dipimpinnya kepada Kepala
Daerah melalui pengelola;

2) Mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan penggunaan


BMD yang diperoleh dari beban APBD dan perolehan lainnya yang sah kepada
Kepala Daerah melalui pengelola;
3) Melakukan pencatatan dan inventarisasi BMD yang berada dalam
penguasaannya;

4) Menggunakan BMD yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan


penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang
dipimpinnya,

5) Mengamankan dan memelihara BMD yang berada dalam penguasaannya;

6) Mengajukan usul pemindahtanganan BMD berupa tanah dan/atau bangunan yang


tidak memerlukan persetujuan DPRD dan BMD selain tanah dan/atau bangunan
kepada Kepala Daerah melalui pengelola;

7) Menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan


penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang
dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola;

8) Melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan BMD yang ada dalam
penguasaannya; dan

9) Menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan


Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya
kepada pengelola.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah selaku kuasa pengguna BMD, berwenang
dan bertanggung jawab:

1) Mengajukan rencana kebutuhan BMD bagi unit kerja yang dipimpinnya kepada
Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan;

2) Melakukan pencatatan dan inventarisasi BMD yang berada dalam penguasaannya;

3) Menggunakan BMD yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan


penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi unit kerja yang dipimpinnya;

4) Mengamankan dan memelihara BMD yang berada dalam penguasaannya;


5) Melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan BMD yang ada dalam
penguasaannya; dan

6) Menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran


(LBKPS) dan Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) yang berada dalam
penguasaannya kepada kepala satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan.

Penyimpan Barang bertugas menerima, menyimpan dan menyalurkan barang


yang berada pada pengguna/kuasa pengguna; dan Pengurus Barang bertugas
mengurus BMD dalam pemakaian pada masing-masing pengguna/kuasa pengguna.

Pelaksanaan pengelolalaan BMD berdasarkan pada azas sbb :

1. Azas Fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah di bidang


pengelolaan BMD yang dilaksanakan oleh kuasa pengguna barang, pengguna
barang, pengelola barang dan Kepala Daerah sesuai fungsi, wewenang dan
tanggung jawab masing-masing;

2. Azas Kepastian Hukum, yaitu pengelolaan BMD harus dilaksanakan berdasarkan


hukum dan peraturan perundang-undangan;

3. Azas Transparansi, yaitu penyelenggaraan pengelolaan BMD harus transparan


terhadap hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar;

4. Azas Efisiensi, yaitu pengelolaan BMD diarahkan agar BMD digunakan sesuai
batasan-batasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menunjang
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal;

5. Azas Akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan BMD harus dapat


dipertanggungjawabkan kepada rakyat;

6. Azas Kepastian Nilai, yaitu pengelolaan BMD harus didukung oleh adanya
ketepatan jumlah dan nilai barang dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dan
pemindahtanganan BMD serta penyusunan neraca Pemerintah Daerah.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Aset merupakan sumberdaya yang penting bagi pemerintah daerah. dengan
mengelola aset daerah secara benar dan memadai, pemerintah daerah akan
mendapatkan sumber dana untuk pembiyaan pembangunan di daerah. Dalam
mengelola aset daerah, pemerintah daerah harus memperhatikan perencanaan
kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan
penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan dan
pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan,
pengawasan dan pengendalian, pembiayaan dan tuntutan ganti rugi. Keseluruhan
kegiatan tersebut merupakan aspek-aspek penting yang terdapat dalam
manajemen aset daerah. Dengan melakukan perencanaan kebutuhan aset,
pemerintah daerah akan memperoleh gambaran dan pedoman terkait kebutuhan
aset bagi pemerintah daerah.
Dengan perencanaan kebutuhan aset tersebut, pemerintah daerah dapat
terhindarkan dari kepemilikan aset yang sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat
menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan pada masyarakat.
Selain faktor perencanaan kebutuhan aset, faktor pengamanan dan pemeliharaan
aset juga harus menjadi pertimbangan pemerintah daerah. Dengan pengamanan
dan pemeliharaan aset, pemerintah daerah dapat menjaga kepemilikan dan dapat
menerima manfaat ekonomis aset dalam rangka usaha pemerintah daerah
memberikan pelayanan pada masyarakat. Faktor yang tidak kalah penting dalam
pengelolaan aset pemerintah daerah adalah sistem informasi data. Dengan sistem
informasi data aset pemerintah daerah yang memadai, pemerintah daerah dapat
lebih mudah dan cepat untuk memperoleh data terkait aset ketika dibutuhkan
sewaktu-waktu. Dengan sistem informasi data, pemerintah daerah juga dapat
menyusun laporan aset secara lebih handal sehingga dapat memberi informasi
yang lebih handal pada pemakai informasi dalam laporan keuangan.
Selain faktor-faktor pengelolaan aset daerah yang didasarkan pada teori atau
undang-undang, pemerintah daerah penting juga untuk mempertimbangkan aspek
lain seperti aspek kebijakan pimpinan dan strategi.

Aspek ini merupakan faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan aset
tanah dan bangunan karena dengan kebijakan dan strategi pengelolaan aset oleh
pimpinan pemerintah daerah dapat memberi arahan bagi pelaksanaan pengelolaan
aset pemerintah. Dengan adanya kebijakan dan strategi pengelolaan aset yang
tepat oleh pimpinan pemerintah daerah akan dapat mengoptimalkan manfaat aset
bagi pemerintah daerah.

B. SARAN
Untuk meningkatkan penerimaan retribusi pemanfaatan kekayaan daerah,
maka pemerintah perlu menyiapkan instrumen yang tepat untuk melakukan
pengelolaan/manajemen aset daerah secara profesional, transparan, akuntabel,
efisen, dan efektif, mulai dari perencanaan, pendistribusian, pemanfaatan, serta
pengawasan pemanfaatan aset daerah tersebut.
Kemudian, dalam menunjang peningkatan penerimaan dari retribusi
pemanfaatan kekayaan daerah, alangkah baiknya jika Kepala Daerah yaitu Bupati,
begitu dilantik langsung mengetahui dan memahami secara persis kondisi aset
daerah lalu melaporkannya kepada rakyat secara berkala.

HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

BARANG MILIK NEGARA

Makalah

Diajukan Guna Memenuhi

Tugas Kelompok Hukum Administrasi Negara

U
S

OLEH :

REGULER B 2013

KELOMPOK 6

ESTER HUTASOIT (3131111010)

BOIMAN BOANGMANALU (3131111004)

KRISTINA TUMANGGOR (3133111024)

MUHAMMAD ABDUL HARIS (3131111026)

WAHYU ANDIRA (3133111056)

JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2015
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Masalah

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Barang Milik Negara

B. Macam-Macam Barang Milik Negara

C. Pengelolaan Barang Milik Negara

D. Badan Usaha Milik Negara

E. Hak-Hak Pengelolahan Barang Milik Negara

1. Hak Milik Negara/ pemerintah

2. Pemerintah Sebagai Pemilik Kepunyaan Publik

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Terbitnya Peraturan Pemerintah No.27 tahun 2014 yang mencabut PP No.06

tahun 2006 jo PP 38 tahun 2008 tentang Pengelolaan Barang Negara/Daerah yang

ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Keuangan No.78 tahun 2014 tentang tata

cara pelaksanaan Pengeloaan Barang Milik Negara di Kementerian/Lembaga dan

Permendagri Nomor 17 tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah yang

ruang lingkupnya mulai dari Perencanaan kebutuhan sampai dengan Pelaporan

sesungguhnya sudah dapat memberikan guide/petunjuk pelaksanaan yang cukup

memadai.1[1]

Fakta di lapangan masih membuktikan bahwa diserahi fungsi sebagai

pengguna barang tidak sesuai dengan harapan. Permasalahan klasik seperti:

manajemen Sumber Daya Manusia, ketidakpedulian dalam pemeliharaan aset dan

penatausahaan BMN/D yang karut marut, hal ini kita dapat ketahui catatan atas

opini Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat

(disclaimer) hampir setiap tahun masih di dominasi masalah Pengelolaan Barang

Milik Negara/Daerah. Ruang lingkup barang milik negara mengacu pada pengertian

barang milik negara berdasarkan rumusan dalam Pasal 1 angka 10 dan angka 11

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Atas dasar

pengertian tersebut lingkup barang milik negara disamping berasal dari pembelian

atau perolehan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara juga berasal

1[1] Hartoyo, Nafsi. 2015. Artikel kekayaan negara dan perimbangan-keuangan. Malang:
Wisdyaiswara Balai Diklat. Di akses : Selasa, 05 Agustus 2014 11:17 edit Kamis, 22 Januari 2015
dari perolehan lainnya yang sah. Barang milik negara yang berasal dari perolehan

lainnya yang sah diperjelas lingkupnya yang meliputi barang yang diperoleh dari

hibah/sumbangan/sejenisnya, diperoleh sebagai pelaksanaan perjanjian/kontrak,

diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang dan diperoleh berdasarkan

putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Penghitungan dan pencatatan penyusutan pada tingkat kuasa pengguna

barang. Penghitungan dan pencatatan penyusutan dilakukan oleh unit pembantu

penatausahaan, dalam hal dibentuk unit pembantu penatausahaan di lingkungan

kuasa pengguna barang. BMN meliputi unsur-unsur aset lancar, aset tetap, aset

lainnya dan aset bersejarah. Aset lancar adalah aset yang diharapkan segera untuk

direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan

sejak tanggal pelaporan.2[2]

Hasil penghitungan dan pencatatan penyusutan yang dilakukan oleh kuasa

pengguna barang dan hasil penghimpunan yang dilakukan oleh kuasa pengguna

barang sebagaimana dihimpun oleh pengguna barang.

Seluruh barang milik negara yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia

mutlak harus dilakukan agar terpotret secara jelas nilai aset/kekayan negara yang

saat ini berada di penguasaan masing-masing kementerian/lembaga negara.

Selanjutnya setelah itu dilakukan tahap penilaian ulang (revaluasi) aset/kekayaan

negara, khususnya yang berupa tanah dan/atau bangunan oleh pengelola barang

guna mendapatkan nilai wajar atas aset tetap tersebut. Inventarisasi dan reevaluasi

barang milik negara/daerah merupakan bagian tak terpisahkan dari proses

manajemen aset negara itu sendiri,


2[2] Ahmadi, 2013. Laporan Barang Milik Negara Pengadilan Agama Wonosari Badan Peradilan
Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia. Dalam Jurnal Laporan Barang Milik Negara.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Barang-Barang Milik Negara?
2. Sebutkan Macam-Macam Barang-Barang Milik Negara?
3. Bagaimana Pengelolaan Barang-Barang Milik Negara?
4. Sebutkan Badan Usaha Milik Negara?
5. Apa Hak-hak Pengelolahan Barang Milik Negara?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk Mengetahui Pengertian Barang-Barang Milik Negara


2. Untuk Mengetahui Macam-Macam Barang-Barang Milik Negara
3. Untuk Mengetahui Pengelolaan Barang Milik Negara
4. Untuk Mengetahui Badan Usaha Milik Negara
5. Untuk Mengetahui Pengelolaan Barang Milik Negara.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Barang Milik Negara


Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D) adalah semua barang yang dibeli atau

diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah (APBN/D)

atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. MN/D merupakan aset negara yang

harus dikelola dengan baik. Pengelolaan aset negara tersebut tidak hanya berupa

proses administratif semata, tetapi juga harus dipikirkan bagaimana cara

meningkatkan efisiensi, efektifitas dan menciptakan nilai tambah dalam mengelola

aset tersebut. Pengelolaan aset negara mencakup lingkup perencanaan kebutuhan

dan penganggaran; pengadaan; penggunaan; pemanfaatan; pengamanan dan

pemeliharaan; penilaian; penghapusan; pemindahtanganan; penatausahaan;

pembinaan, pengawasan, dan pengendalian. 3[3]

3[3] Binbangkum, Ditama. 2012. HIBAH BARANG MILIK NEGARA/DAERAH. Sie Infokum.
Barang milik negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas

beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang syah. Barang dari perolehan

lainnya yang sah. BMN/D dapat dimanfaatkan atau dipindahtangankan apabila tidak

digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan negara/daerah. Dalam konteks

pemanfaatan tidak terjadi adanya peralihan kepemilikan dari pemerintah kepada

pihak lain. Sedangkan dalam konteks pemindahtanganan akan terjadi peralihan

kepemilikan atas BMN/D dari pemerintah kepada pihak lain. Pemindahtanganan

BMN/D merupakan tindak lanjut atas penghapusan BMN/D itu sendiri. 4[4]

Barang Milik Negara meliputi semua barang yang dibeli atau diperoleh atas

beban APBN atau bersal dari perolehan lainnya yang sah. Perolehan lainnya yang

sah antara lain berupa transfer masuk, hiba, pembatalan penghapusan, dan

ramapasan. Tidak termasuk dalam pengertian BMN adalah barang-barang yang

dikuasai dan atau dimilik oleh:

a. Pemerintahan Daerah

b. Badan Usaha Milik Negara / badan Usaha Milik Daerah. 5[5]

c. Bank Pemerintahan dan Lembaga Keuangan Milik Pemerintahan

4[4] Binbangkum, Ditama. 2012. HIBAH BARANG MILIK NEGARA/DAERAH. Sie Infokum

5 [5] Badan usaha milik Negara/ Badan Usaha Milik Daerah yang Terdiri dari1. Perusahaan Perseroan

2. Perusahaan Umum(Adriati, Alicia. 2009.Sistem Akuntansi Barang Milik Negara. Dalam Jurnal Analisis
atas manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Barang Milik Negara merupakan bagian dari aset pemerintahan, Unsur-unsur

aset tetap dan persedian.6[6] Barang milik negara memiliki sistem untuk mengatur

pengelolaan dalam suatu negara yaitu sistem akuntasi barang milik negara atau

disebut SABMN yaitu suatu subsistem dari sistem akuntansi instansi (SAI). Sistem

ini diselenggarakan dengan tujuan untuk menghasilkan informasi yang diperlukan

sebagai alat pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN serta pengelolaan Barang

Milik Negara yang dikuasai oleh suatu unit akuntansi barang.

B. Macam-Macam Barang Milik Negara

Pengelolaan BMN terkait pada kegiatan penggunaan sendiri, pemanfaatan

atau pendayagunaan melalui transaksi sewa, pinjam pakai, kerjasama

pemanfaatan, Bangun Guna Serah (BOT), Bangun Serah Guna (BTO), kerjasama

penyediaan infrastruktur (prasarana), pemindahtanganan, penjualan, tukar

menukar, hibah, penyertaan modal, pemeliharaan, BMN tidak digunakan (idle),

pemusnahan, dan penghapusan BMN.7[7]

Jenis BMN yang tertengarai pada PP tersebut adalah (1) tanah, (2) bangunan,

dan (3) BMN selain tanah dan bangunan. BMN selain tanah & bangunan mencakupi

BMN.

6[6] Aset Tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 bulan untuk
digunakan dalam keagiatan pemerintahan atau dimanfaatkan oleh masayarakat umum.Persediaan
adalah aset lancar dalam bentuk baran atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung
kegiatan opersional pemerintah, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan diserahkan
dalam rangka pelayanaan kepda masyarakat. (Adriati, Alicia. 2009.Sistem Akuntansi Barang Milik
Negara. Dalam Jurnal Analisis atas manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas).

7[7] Hoesada, Jan dan & Ling, Mei.2014. Barang Milik Negara/Daerah.
http://www.ksap.org/sap/barang-milik-negaradaerah. 1 September 2014
BMD tanah/bangunan untuk pemanfaatan dan pemindahtanganan berdasar

nilai wajar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan sesuai Ayat (3) Pasal

51 dilakukan tim yang ditetapkan Gubernur/Bupati/Walikota sesuai Ayat (2) Pasal 51

dengan/tanpa Penilai yang ditetapkan Gubernur/Bupati/Walikota sesuai Ayat (2)

Pasal 51. BMD bukan tanah/bangunan bernilai wajar diatas Rp. 5 Miliar oleh

Pemerintah Daerah dilakukan setelah mendapat persetujuan DPRD.

Pemindahtangan BMD selain tanah/bangunan bernilai wajar tepat Rp.5 Miliar

kebawah dilakukan oleh Pemerintah Daerah tanpa perlu persetujuan DPRD.

Dengan demikian nilai buku aset tercantum dineraca Pemda tak dapat

digunakan untuk pengelolaan BMD, karena tak selalu merepresentasikan nilai wajar.

Dibutuhkan Permendagri khusus tentang (1) tata cara penetapan status tidak

diperlukan lagi Pasal 54 (1) dan (2) tatacara penetapan nilai wajar BMD yang akan

dipindahtangankan, agar tak menimbulkan berbagai masalah dalam audit BPK.

Disamping klasifikasi tersebut di atas, terdapat klasifikasi BMN Bersifat Khusus,

yaitu BMN berspesifikasi khusus, mengandung kompleksitas khusus (bandar,

bandara, bendungan, kilang minyak bumi, instalasi tenaga listrik), BMN

dikerjasamakan sebagai investasi & kontrak bilateral, barang lain bersifat khusus

sesuai ketetapan Gubernur/Bupati/Walikota.

C. Pengelolaan Barang Milik Negara

Pengelolaan Barang khususnya Milik Daerah yang baik tentunya akan

memudahkan penatausahaan asset daerah dan merupakan sumberdaya penting

bagi pemerintah daerah sebagai penopang utama pendapatan asli daerah. Oleh

karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk dapat mengelola aset secara

memadai dan akurat.


Dalam hal pengelolaan aset, pemerintah daerah harus menggunakan

pertimbangan aspek perencanaan kebutuhan, penganggaran, pengadaan,

penerimaan, penyimpanan dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan,

pemanfaatan atau penggunaan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian,

penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian,

pembiayaan dan tuntutan ganti rugi agar aset daerah mampu memberikan

kontribusi optimal bagi pemerintah daerah yang bersangkutan. 8[8] Adapun

peratutan dari pengelolaan Barang Milik Negara:

1. PMK No. 123/PMK.06/2013 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara Yang Berasal

Dari Aset Lain-Lain9[9]


2. Barang Milik Negara PMK No. 33/PMK.06/2012 tentang Tata Cara Pelaksanaan Sewa

Barang Milik Negara dan PMK No. 271/KMK.06/2011 tentang Pedoman Pelaksanaan

Tindak Lanjut Penertiban Barang.


3. tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan

danPemindahtangan Barang Milik Negara dan Lampiran


PMK No. 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan,

Pemanfaatan,Penghapusan dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara


PMK No. 13/PMK.04/2006tentang Penyelesaian terhadap Barang yang Dinyatakan

Tidak Dikuasai, Barang yang Dikuasai Negara, dan Barang yang Menjadi Milik

Negara.

8[8] Hartoyo, Nafsi. 2015. Artikel kekayaan negara dan perimbangan-keuangan. Malang:
Wisdyaiswara Balai Diklat. Di akses : Selasa, 05 Agustus 2014 11:17 edit Kamis, 22 Januari 2015

9[9] PMK No. 123/PMK.06/2013 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara Yang Berasal Dari Aset Lain-
Lain
Pengelolaan barang milik negara/daerah sebagaimana diatur dalam

peraturanpemerintah ini dilaksanakan dengan memperhatikan asas-asas sebagai

berikut : Azas fungsional, Azas kepastian hukum, Azas transparansi, Azas efisiensi,

Azas akuntabilitas dan Azas kepastian nilai. Barang milik negara/daerah meliputi

barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN/APBD dan juga barang yang

berasal dari perolehan lainnya yang sah. 10[10]

Pengelolaan barang milik negara/daerah berdasarkan PP Nomor 6 Tahun 2006

meliputi :

a. Perencanaan kebutuhan dan penaganggaran, penghapusan, pemindahtanganan


b. Pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian

dan penatausahaan

Dalam pengelolaan Barang Milik Negara dapat pula memindahtangan yang

harus memiliki syarat tertentu. Adapun bentuk-bentuk pemindahtangan BMN/D

tersebut meliputi :

a. Penjualan;
b. Tukar menukar;
c. Hibah;
d. Penyertaan modal pemerintah pusat/daerah.

10[10] Adapun barang yang berasal dari perolehan lain yang sah meliputi :a. Barang yang diperoleh
dari hibah/sumbangan atau yang sejenis.
b. Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak.
c. Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang.
d. Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap(Haryono, Dwi. Martoyo dan Hasfi, Nyemas. 2013. Pengelolaan Barang Milik Daerah. Dalam jurnal
Tesis PMIS-UNTAN-PSIAN-2013).
Pengelolaan Barang Milik Negara yang terdapat dalam UU Nomor 1 Tahun 2004,

selanjutnya dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun

2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, Peraturan Pemerintah. 11[11]

Peraturan Pemerintah tersebut menjabarkan bahwa pemanfaatan BMN berupa

tanah / dan atau bangunan dilaksanakan oleh Pengelola Barang. Selain itu

pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah dilaksanakan berdasarkan pertimbangan

teknis dengan memperhatikan kepentingan Negara/Daerah dan kepentingan umum.

Bentuk pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah berupa:

a. Sewa;
b. Pinjam Pakai;
c. Kerja Sama Pemanfaatan;
d. Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna;
e. Kerja Sama Penyediaan Infrastruktur.

Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) telah dituntut untuk

meningkatkan komitmen dalam pengelolaan BMN di lingkungan Kementerian

Pekerjaan Umum, baik dalam rangka penatausahaan, pengamanan, perkuatan,

11 [11] Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah,
Peraturan Pemerintah tersebut menyatakan bahwa:1. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum
Negara adalah Pengelola Barang Milik Negara

2. Pengelola Barang menetapkan Barang Milik Negara berupa tanah dan/atau bangunan yang harus
diserahkan oleh Pengguna Barang karena sudah tidak digunakan untuk menyelenggarakan tugas dan
fungsi instansi bersangkutan;

3. Tindak lanjut pengelolaan atas penyerahan tanah dan/atau bangunan tersebut meliputi:

a. Ditetapkan status penggunaannya untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah
lainnya;

b. Dimanfaatkan dalam rangka optimalisasi Barang Milik Negara/Daerah;

c. Dipindahtangankan.(Waloejo, Herri dan Widyaiswara. 2014. Kebijakan Pemanfaatan Barang Milik


Negara Berupa Bangunan Guna Serah/ Bangunan Serah Guna. Dalam Jurnal Pusdiklat KNPK di buat 31
Desemeber 2014. 08:46.)
maupun pengamanan terhadap seluruh BMN yang cukup besar. Namun tidak bisa

dipungkiri, bahwa dalam usahanya banyak ditemui berbagai macam permasalahan

seputar pengelolaan BMN.12[12] Contoh dalam Kasus Pengelolahan Barang Milik

Negara yang Kurang baik Masih teringat di benak kita musibah bendungan

Situgintung di Ciputat yang menelan korban 100 orang tewas dan 100 lainnya

sampai dengan sekarang belum ditemukan. Musibah tersebut tidak hanya menelan

korban jiwa namun juga kerugian material yang tidak sedikit akibat sapuan banjir

bandang. Lalu apa hubungannya manajemen aset dengan kejadian di atas?

Hubungannya adalah kalau saja bendungan Situgintung yang menjadi aset daerah

di kelola (terus dipelihara dan diaudit) dengan baik, kecil kemungkinan bobolnya

tanggul Situgintung terjadi dan kerugian yang dideritapun dapat diminimalkan.

Kalau bendungan/tanggul di Jakarta dan sekitarnya menjadi aset daerah dan

dipelihara dengan baik, kejadian situgintung-situgintung lainnya tidak akan

terulang. Kalau saja semua pihak, baik pemerintah pusat maupun pemerintah

daerah mau bersungguh-sungguh melaksanakan modernisasi manajemen aset,

maka seharusnya aset pemerintah dan daerah bisa memberikan nilai tambah bagi

semua pihak termasuk masyarakat sebagai stakeholder. 13[13]

12[12] Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain Undang-undang Nomor 17/2003 tentang


Keuangan Negara, Undang-undang Nomor 01/2004 tentang Perbendaharaan Negara, Peraturan
Pemerintah Nomor 06/2006 tentang Pengelolaan Badan Milik Negara/Daerah, Permen Keuangan Nomor
120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan BMN, dan PMK Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan BMN ( Pusat
Komunikasi Publik Kementerian Pekerja Umu. 2005. Dalam Artikel permasalahan Seputar Pengelolaan
Barang Milik Negara. Diakses: 17.964. alamat Web; pustaka.pu.go.id/new/artikel-detail.asp?id=305).

13[13] Dari contoh diatas merupakan suatu aset negara yang tidak dikelolah dengan baik oleh
pemerintah, sehingga tanggul situgintung jebol dan menyebabkan material masyarakat mengalami
kerusakan yang dapat merugikan mereka (Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pekerja Umu. 2005.
Dalam Artikel permasalahan Seputar Pengelolaan Barang Milik Negara. Diakses: 17.964. alamat Web;
pustaka.pu.go.id/new/artikel-detail.asp?id=305).
Manajemen asset di Indonesia telah memiliki dasar hukum yang jelas yaitu

UUNo.1/2004 tentang Perbendaharaan Negara yang ditindaklanjuti PP No.27/2014

tentang Pengelolaan BarangMilik Negara/Daerah Pasal 85 menyebutkan agar

dilakukan inventarisasi atas BMN/D (barang milik negara/daerah), khusus berupa

tanah dan/atau bangunanyang berada di kementerian/lembaga minimal sekali

dalam 5 tahun. Sedangkan untuk selain tanah dan/atau bangunan hal itu

merupakan kewenangan dan menjadi domain/tanggungjawab masing-masing

Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Barang. Oleh sebab itu, Pemerintah

melalui Menteri Keuangan selaku BUN (Pengelola Barang), menginstruksikan kepada

Dirjen Kekayaan Negara, sebagai unit organisasi yang vital dalam pengelolaan

BMN, agar menjadi terdepan mewujudkan best practices tata kelola barang

milik/kekayaan negara dengan langkah pencatatan, inventarisasi dan revaluasi

aset/kekayaan Negara yang diharapkan akan mampu

memperbaiki/menyempurnakan administrasi pengelolaan BMN yang ada saat ini.

Penatausahaan Kementerian Pekerjaan Umum juga mengatur penghapusan

BMN yang sudah tidak layak sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. 14

[14] Usaha menata aset secara akurat dan akuntabel memang memerlukan

komitmen yang tinggi dari seluruh jajaran, Untuk itu perlu dilakukan usaha

peningkatan Sumber Daya Manusia secara terus-menerus terhadap seluruh petugas

terkait penatausahaan dan pengelola BMN, serta mengintensifkan pembelajaran

para petugas BMN di tingkat Satker dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan

BMN serta tercatat dan ditertibkannya seluruh aset Kementerian Pekerjaan Umum. 15

[15]

14[14] Nomor 02/PRT/M/2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Penetapan Status Penggunaan,


Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan BMN di lingkungan Kementerian Pekerjaan
Umum.
D. Badan Usaha Milik Negara
.Undang-Undang tentang BUMN yang terbaru adalah UU no. 19 tahun 2003 tentang

BUMN (badan usaha milik Negara).16[16] Secara umum wajah BUMN di Indonesia

lebih menampakkan citra birokrasi pemerintahan daripada sebuah unit usaha.

Dalam hal ini Fungsi BUMN terdapat pada pasal 66 UU No. 19 Tahun 2003.
17
[17]dengan menyusun seperangkat kebijakan yang tegas, jelas dan pasti. Upaya

tersebut sebenarnya telah dimulai melalui prinsip-prinsip Clean Government dan

Good Corporate Governance. Dengan hal ini akan tercipta transparancy,

accountability dan fairness yang selanjutnya membangun iklim positif dalam

berusaha dan meningkatkan nilai BUMN. 18[18] Kekayaan Negara yang dipisahkan

adalah: Kekayaan Negara yang berasal dari APBD untuk dijadikan penyertaan modal

Negara pada persero dan atau perum serta perseroan terbatas lainnya pasal 1 ayat

15[15] Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 17/2007 tentang Tim Penertiban BMN dengan
amanat Undang-Undang Nomor 39/2008 tentang Kementerian Negara ( Pusat Komunikasi Publik
Kementerian Pekerja Umu. 2005. Dalam Artikel permasalahan Seputar Pengelolaan Barang Milik
Negara. Diakses: 17.964. alamat Web; pustaka.pu.go.id/new/artikel-detail.asp?id=305).

16[16] BUMN adalah salah satu pelaku kegiatan ekonomi dalam perekonomian nasional yang
berdasarkan demokrasi ekonomi. BUMN mempunyai peranan penting dalam penyelenggaraan
perekonomian nasional guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat (Anggriani,jum . 2012.hukum
administrasi Negara.yogyakarta.graha ilmu.hlm 133-134)

17[17] Pasal 66 UU No. 19 Tahun 2003 menyatakan bahwa pemerintah dapat memberikan penugasan
kepada BUMN untuk menyelenggarakan fungsi dan kemanfaatan umu(Ayriza, Yulia. 2001.Peran BUMN
dalam pembinaan dan pengembangan Usaha Mikro kecil dan menengah. Dalam Jurnal Penelitian
Humaniora. Vol. 13 No. 2 Oktober 2008)

18[18] Yusroni, Nanang. 2007. Eksistensi, Dan Kinerja Ekonomi Nasional Dalam Sistem Ekonomi Pasar.
Dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol. 2 No. 3, April 2007.
10. Macam Badan Usaha Milik Negara adalah persero dan Perusahaan umum. 19[19]

Perusahaan Perseroan (Persero), Perusahaan Umum (Perum) Perusahaan Jawatan

(Perjan).20[20] Maksud dan tujuan dari pendirian suatu BUMN terdapat di dalam

pasal 2 UU ini yaitu:

a. Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada

umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya dan mengejar ke untungan

b. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan

lemah, koprasi dan masyarakat. Pengawasan BUMN dilakukan oleh komisaris dan

dewan pengawasan dan restrukturisas 21[21].

E. Hak-Hak Pengelolahan Barang Milik Negara


Peraturan Pemerintah No 17 dan No. 66 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan

Penyelenggaraan Pendidikan, yang didalamnya memuat pembatalan status PT

BHMN. Besarnya organisasi UGM membuat terbentuknya unit penatausahaan BMN

sebanyak 107 unit untuk menuju BMN yang tertib administrasi, tertib hukum, dan

tertib fisik.22[22]

19[19] Persero adalah : BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam
saham seluruh atau yang paling seikit 51 % saham nya dimiliki oleh Negara RI yang tujuan utama nya
mengejar keuntungan. (pasal 1 ayat 2). BUMN yang seluruh modalnya dimiliki oleh Negara dan terbagi
atas saham, yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang atau jasa yang
bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan .
(pasal 1 ayat 4).

20[20] Ramdhan, R. Bumn, Bums, Koperasi. (Yogyakarta:2014), Macam-macam badan usaha milik
neagara

21[21] Pasal 1 ayat 11 UU no. 19 tahun 2003 menyebutkan bahwa pengertian dari restrukturisasi
adalah : upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah
strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan
meningkatkan nilai perusahaan( UU. No 19 Tahun 2003)
Badan-badan yang bersifat hukum publik yaitu : Negara, provinsi, kabupaten

dapat mempunyai hak-hak milik dan hak-hak lain sama seperti halnya badan-badan

hukum perdata atau perorangan, sehingga dapat melakukan perbuatan-perbuatan

seperti: menjual, menyewakan, memanfaatkan tanah pekarangan. Pemerintah

hanya dapat menetapkan aturan-aturan guna kepentingan pemakain yang baik dan

aman namun tidak dapat menetapkan syarat-syarat financial. Penggantian financial

dan pengenaan pembatasan-pembatasan dalam pemakaian biasa hanya dapat

dilakukan berdasarkan hukum publik. Contoh : pemungutan pajak, retribusi.

1. Hak Milik Negara/ pemerintah

Badan-badan pemerintah dapat memiliki kekayaan (vermogen), seperti : tanah,

gedung, mobil dinas, kapal, jembatan, instansi pelabuhan, stasiun kereta api dan

lain-lain.

a. Hak milik privat (domaine prive)


Menurut J.B.V Proudhon hak privat adalah: Benda-benda kepunyaan Negara seperti :

tanah, sawah, kebun kopi, kebun karet, rumah dinas pegawai, gedung perusahaan

Negara. Hukum yang mengaturnya adalah hukum yang mengatur tentang hak milik

perdata biasa, yaitu pasal 570 dan seterusnya yang di dalam KUH perdata. Barang-

barang pribadi Negara atau pemerintah memiliki status yang kurang lebih sama

dengan barang-barang milik pribadi seseorang atau badan hukum perata. Artinya :

barang-barang itu digunakan untuk pemakaian sendiri dan tidak di tujukan bagi

22[22] Nurwahid. 2010. Pengelolaan Barang Milik Negara : Implementasi Penatausahaan Barang
Milik Negara Di Universitas Gadjah Mada.. http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?
mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=66295
umum. Contoh gedung-gedung, kantor-kantor, rumah-rumah dinas, mobil dinas dan

barang-barang perabotan atau peralatan kantor.

Kemampuan atau kesanggupan untuk berbuat sesuatu, kekuatan, wewenagan,


pengaruh, mampu sedangkan pengertian di miliki adalah : kepunyaan atau hak.
dimana di UUD 1945 pasal 33 ayat tiga menjelaskan hak kekayaan alam. 23[23] Hak
meguasai dari Negara dimaksudkan untuk memberi wewenang:

1. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan , penggunaan, persedian dan


pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut.

2. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang


dengan bumi air dan ruang angkasa.

3. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang- orang dan


perbuatan hukum yang mengenai bumi, air, ruang angkasa.

2. Pemerintah Sebagai Pemilik Kepunyaan Publik

Pemerintah atau Negara dapat menjadi egeiner atau pemilik dari kepunyaan public,

mengenai ini ada 2 pendapat :

1. Pendapat yang menyatakan tidak berhak. 24[24]

2. Marcel waline : Negara dapat menjadi egainaar dari benda-benda yang termasuk

kepunyaan publik, tetapi dalam menjalankan hak-hak yang oleh KUH perdata di beri

kepada suatu egainaar, kekuasaan negara itu terbatas saja. Mr. von Reeken (1893)

berpendapat bahwa: Benda-benda yang ditujukan kepada penyelenggaraan

23[23] Pasal 33 (3) UUD 1945 : Bumi da air dan kekayaan alam yang terkandung didalam nya dikuasai
oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Undang-Undang Dasar 1945
Pasal 33 ayat 3)

24[24] Prudhon mengatakan bahwa : kepunyaaan public tidak dapat dijadikan egainaar atau hak
milik oleh pemerintah, karena benda-benda yang menjadi kepunyaan public tidak masuk dalam KUH
perdata pasal 570 (Subekti.2010. Kitab Undang Hukum Perdata. Jakarta: Pradnya Paramita)
kepentingan umum, bukan benda di luar perniagaan. Benda diluar perniagaan

berarti benda yang dikeluarkan dari pergaulan hukum biasa.


BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D) adalah semua barang yang dibeli atau

diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah (APBN/D)

atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Barang milik negara adalah semua

barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan

lainnya yang sah. Barang dari perolehan lainnya yang syah. BMN/D dapat

dimanfaatkan atau dipindahtangankan apabila tidak digunakan untuk

penyelenggaraan pemerintahan negara/daerah. BMN Bersifat Khusus, yaitu BMN

berspesifikasi khusus, mengandung kompleksitas khusus (bandar, bandara,

bendungan, kilang minyak bumi, instalasi tenaga listrik), BMN dikerjasamakan

sebagai investasi & kontrak bilateral, barang lain bersifat khusus sesuai ketetapan

Gubernur/Bupati/Walikota.

B. Saran
Sering kali segi pengelolaan barang milik Negara di anggap kurang penting oleh

sebagian lembaga atau instansi Negara. Kurang penting disini berarti sering

mengenyampingkan sumber daya manusianya yang memegang wewenang atau

fungsi sebagai pengelola barang milik Negara. Baik pemberian wewenang,

penempatan pegawai, sarana prasarana, pembinaan, pengawasan, dan

kesejahteraan, sehingga berpengaruh pada kinerja dan hasil laporan. Maka

sebaiknya para lembaga atau instansi Negara harus sadar akan pentingnya

pengelolaan Barang Milik Negara.


DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Anggriani, Jum . 2012.Hukum Administrasi Negara. Yogyakarta: Graha Ilmu

Martosoewignjo dan Sri sumantri. 1993. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Ramdhan, R. 2014.Bumn, Bums, Koperasi (Macam-Macam Badan Usaha Milik Negara).

Yogyakarta: Graha Ilmu

Subekti. 2010. Kitab Undang Hukum Perdata. Jakarta: Pradnya Paramita

Jurnal:

Adriati, Alicia. 2009.Sistem Akuntansi Barang Milik Negara. Dalam Jurnal Analisis atas

manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas

Ahmadi, 2013. Laporan Barang Milik Negara Pengadilan Agama Wonosari Badan Peradilan

Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia. Dalam Jurnal Laporan Barang Milik

Negara.

Ayriza, Yulia. 2001.Peran BUMN dalam pembinaan dan pengembangan Usaha Mikro kecil

dan menengah. Dalam Jurnal Penelitian Humaniora. Vol. 13 No. 2 Oktober 2008)
Binbangkum, Ditama. 2012. HIBAH BARANG MILIK NEGARA/DAERAH. Sie Infokum

Haryono, Dwi. Martoyo dan Hasfi, Nyemas. 2013. Pengelolaan Barang Milik Daerah.

Dalam jurnal Tesis PMIS-UNTAN-PSIAN-2013

Hoesada, Jan dan & Ling, Mei.2014. Barang Milik Negara/Daerah.

http://www.ksap.org/sap/barang-milik-negaradaerah . 1 September 2014

Jurnal Produk Hukum yang Berkaitan dengan Barang Milik Negara.2013. di update 27

September

Nurwahid. 2010. Pengelolaan Barang Milik Negara : Implementasi Penatausahaan Barang

Milik Negara Di Universitas Gadjah Mada.. http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?

mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=66295

2013

Pemerintah Republik Indonesia, 2014. Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2014

tentang Pengelolaan Barang Milik Negara mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 6

tahun 2006 jo PP 38 tahun 2008

Pemerintah Republik Indonesia, 2007. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun

2007 tentang Pedoman Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah.

PMK No. 123/PMK.06/2013 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara Yang Berasal Dari

Aset Lain-Lain.

Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pekerja Umum. 2005. Dalam Artikel permasalahan

Seputar Pengelolaan Barang Milik Negara. Diakses: 17.964. alamat Web;

pustaka.pu.go.id/new/artikel-detail.asp?id=305.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik

Negara.Pasal 66.

Undang - Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat 3.

Waloejo, Herri dan Widyaiswara. 2014. Kebijakan Pemanfaatan Barang Milik Negara

Berupa Bangunan Guna Serah/ Bangunan Serah Guna. Dalam Jurnal Pusdiklat KNPK

di buat 31 Desemeber 2014. 08:46.

Yusroni, Nanang. 2007. Eksistensi, Dan Kinerja Ekonomi Nasional Dalam Sistem Ekonomi

Pasar. Dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol. 2 No. 3, April 2007.

DAFTAR PUSTAKA
PP Nomor 6 Tahun 2006 : tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.

Elisa.ugm.ac.id ( Slide Hukum Benda Milik Negara );

www.mandikdasmen.depdiknas.go.id ( Slide Pelaporan Barang Milik Negara Atas


Dana

Dekonsentrasi ).

Mardiasmo, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Andi, Yogyakarta, 2002.

Chabib Soleh dan Heru Rochmansjah, Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah, Sebuah
Pendekatan Struktural Manuju Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik, Fokusmedia,
Bandung, 2010.

Anda mungkin juga menyukai