Anda di halaman 1dari 4

Didakwa Pasal Berlapis, Pasutri Pembuat

Vaksin Palsu Pasrah Jum'at, 11 November 2016 | 21:40 WIB


TEMPO.CO, Bekasi - Suami-istri, Taufiqurrohman dan Rita Agustina, terdakwa kasus
dugaan pembuatan vaksin palsu, menyatakan tak mengajukan nota pembelaan atau eksepsi
atas dakwaan yang diajukan jaksa penuntut umum dalam sidang di Pengadilan Negeri Bekasi.
Pasutri ini didakwa pasal berlapis atas perbuatannya itu.

"Karena tidak ada eksepsi, maka sidang berikutnya langsung pembuktian," kata ketua majelis
hakim, Marper Pandiangan, sebelum menutup persidangan di Pengadilan Negeri Bekasi,
Jumat, 11 November 2016. Adapun, sidang lanjutan dijadwalkan pada Jumat, 18 November
2016. Karena itu, penuntut umum diminta membawa barang bukti sesuai dakwaannya.

Jaksa mendakwa keduanya dengan Pasal 196, 197, 198 Undang-Undang Nomor 36/2009
tentang kesehatan dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun. Sebab, mereka memproduksi
vaksin tanpa izin, serta vaksin yang dibuat tak sesuai standar. Selain itu, terdakwa didakwa
dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen karena diduga menipu dengan
memproduksi dan menjual vaksin palsu.

Menanggapi dakwaan jaksa, penasihat hukum terdakwa Taufiqurrohman dan Rita Agustina,
Rosiyan Umar, memastikan kliennya tak mengajukan nota pembelaan. Dengan begitu, artinya
kliennya secara tidak langsung mengakui semua dakwaan yang diajukan jaksa penuntut
umum. "Sejak pertama kali sudah menyatakan tak mengajukan eksepsi," kata Rosiyan.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Bekasi Andi Adikawira mengatakan pihaknya
akan membawa sejumlah bukti sesuai dakwaan kepada kedua terdakwa, seperti botol bekas
vaksin untuk bayi, hasil produksi berbagai jenis vaksin, hasil uji laboratorium yang
menyatakan vaksin tersebut palsu, dan barang bukti lain. "Barang bukti cukup banyak, ada
transaksi penjualan vaksin juga," kata Andi.

Ia menambahkan, selain Taufiqurrohman dan istrinya yang tak mengajukan eksepsi, sejumlah
terdakwa lain juga tak mengajukan nota pembelaan atas dakwaan jaksa penuntut umum.
Dengan begitu, sidang lanjutan langsung mengagendakan pembuktian. "Ada beberapa yang
mengajukan eksepsi," kata Andi.

Pengadilan Negeri Bekasi menggelar sidang perdana terhadap 15 terdakwa dengan 14 berkas.
Mereka adalah Kartawinata alias Ryan, Nuraini, Sugiyati alias Ugik, Nina Farida, Suparji Ir.,
Agus Priayanto, M. Syahrul Munir, Manogu Elly Novita, Sutarman bin Purwanto, Thamrin
alias Erwin, Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina, Mirza, Sutanto bin Muh Akena, serta
Irnawati.
Sedangkan empat terdakwa lain, yaitu Seno, Muhammad Farid, H. Syafrizal, dan Iin Sulastri,
akan menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri
Bekasi, Senin pekan depan, 14 November 2016. "Sidang memang dijadwalkan pada 11 dan
14 November 2016," kata Andi.

ADI WARSONO

Suami-Istri Pembuat Vaksin Palsu Diancam


15 Tahun Penjara Jum'at, 11 November 2016 | 17:32 WIB
TEMPO.CO, Bekasi - Jaksa penuntut umum mendakwa suami-istri pembuat vaksin
palsu, Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina, dengan pasal berlapis. Dengan dakwaan itu
mereka diancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Bekasi Andi Adikawira Putera mengatakan
Hidayat dan istrinya didakwa dengan Pasal 196, 197, 198 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dan Undang-Undang Perlindungan
Konsumen. "Ancaman 5 tahun dan 15 tahun penjara," katanya seusai persidangan, Jumat, 11
November 2016.

Menurut Andi, pasangan itu dikenakan pasal berlapis sesuai dengan peranan yang mereka
lakukan, yaitu membuat serta menjual vaksin palsu. "Hasil produksinya membahayakan
sehingga melanggar undang-undang perlindungan konsumen," katanya.

Sidang dengan agenda pembacaan dakwaan oleh penuntut umum Yashinta Irrene dibantu oleh
Andi Adikawira Putera itu berjalan sekitar tiga jam. Selama persidangan, Hidayat yang
mengenakan pakaian putih dan celana hitam dengan peci hanya menunduk di hadapan
majelis hakim. Begitu juga dengan istrinya.

Seusai pembacaan dakwaan, keduanya menyatakan tak akan mengajukan esepsi atau nota
pembelaan. Karena itu, sidang berikutnya pada Jumat, 18 November 2016, agenda sidang
langsung masuk ke pembuktian. "Tolong jaksa membawa semua bukti-bukti ke persidangan,"
kata ketua majelis hakim, Marper Pandiangan, sebelum menutup persidangan.

Setelah sidang Hidayat dan istrinya buru-buru meninggalkan ruangan sidang menuju ke
ruang tahanan di pengadilan ditemani jaksa penuntut. Mereka berusaha menghindari kamera
wartawan yang sudah menunggu sejak sidang dimulai pukul 13.00 WIB.

ADI WARSONO
Suami-Istri Pembuat Vaksin Palsu Jalani
Sidang Perdana Jum'at, 11 November 2016 | 15:08 WIB
TEMPO.CO, Bekasi - Pasangan suami-istri pembuat vaksin palsu, Hidayat Taufiqurahman
dan Rita Agustina, menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Bekasi, Jumat, 11
November 2016. Agenda sidang adalah mendengarkan dakwaan dari jaksa penuntut umum.

Berdasarkan pengamatan Tempo, sidang dimulai pukul 13.00 di ruang Kartika lantai 3
Pengadilan Negeri Bekasi di Jalan Pramuka, Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Sidang dipimpin
ketua majelis hakim Marper Pandiangan.

Hidayat lebih dulu tiba di Pengadilan pukul 10.00 menggunakan mobil tahanan kejaksaan
dari Lembaga Pemasyarakatan Bulak Kapal, Bekasi, dengan tangan diborgol. Sedangkan
istrinya tiba pukul 12.00 menggunakan mobil tahanan dari Rumah Tahanan Pondok Bambu,
Jakarta Timur.

Saat persidangan dimulai, keduanya terlihat serius mendengarkan dakwaan yang dibacakan
jaksa penuntut umum Yashinta Irinne. Hingga berita ini ditulis, pembacaan dakwaan masih
berlangsung.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Bekasi Andi Adikawira mengatakan, hari ini,
baru 15 terdakwa dengan 14 berkas yang disidangkan di Pengadilan Negeri Bekasi. "Empat
terdakwa dengan tiga berkas disidang Senin pekan depan," kata Andi, Jumat, 11 November
2016.

Juru bicara Kejaksaan Negeri Bekasi, Firly Sarkowi, mengatakan sidang akan dibagi menjadi
empat kelompok. Sebab, jumlah terdakwa cukup banyak, mencapai 19 orang. Karena itu,
sidang akan dipimpin empat ketua majelis di empat ruangan terpisah.

Adapun para terdakwa adalah Kartawinata alias Ryan, H Syafrizal dan Iin Sulastri, Nuraini,
Sugiyati alias Ugik, Nina Farida, Suparji Ir, Agus Priayanto, M. Syahrul Munir, Seno,
Manogu Elly Novita, Sutarman bin Purwanto, Thamrin alias Erwin, Hidayat Taufiqurahman
dan Rita Agustina, Mirza, Sutanto bin Muh Akena, Irnawati, dan Muhamad Farid.

Badan Reserse Kriminal Polri mengungkap jaringan peredaran vaksin palsu untuk balita pada
pertengahan tahun ini. Salah satu yang digerebek ialah produsen vaksin palsu di perumahan
mewah Kemang Pratama Regency, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.

Di rumah mewah yang berada di Jalan Kumala 2 itu, polisi menangkap pasangan suami-istri,
Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina. Dari lokasi, penyidik menyita sejumlah cairan
yang diduga bahan vaksin palsu dan ribuan botol kemasan vaksin.

ADI WARSONO