Anda di halaman 1dari 35

BULAN BAKTI IKATAN SENAT MAHASISWA KEDOKTERAN INDONESIA 2014

KESEHATAN IBU DAN ANAK

I. Latar belakang
Sebagai Mahasiswa Kedokteran, isu mengenai Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
tentu tidak asing lagi. Isu ini diangkat dalam MDGs tahun 2000 sebagai tujuan (Goal)
4, Reduce Child Mortality, dan 5, Improve Maternal Health, serta 6, Combat
HIV/AIDS, Malaria, and other diseases, ketiga tujuan yang ditetapkan dalam MDGs
ini menjadi pilar dalam penyusunan manual Bulan Bakti Kesehatan Ibu dan Anak ini.
Namun tujuan ini tampak sangat sulit dicapai, mengingat beberapa tahun terakhir ini,
baik di Indonesia maupun di dunia, angka KIA cenderung menurun.
Fakta-fakta yang tercantum dalam laporan MDGs 2013, menyatakan bahwa sejak
1990, kematian pada anak telah menurun sebanyak 41%, yaitu terjadi penurunan
kurang lebih sebanyak 14.000 anak/hari, namun masih ada 6.900.000 anak dibawah
lima tahun yang meninggal pada tahun 2011 (terutama karena penyakit yang bisa
dicegah). Data dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
Data di atas menunjukkan bahwa untuk mencapai target MDGs pada tahun 2015,
diperlukan fokus dan komitmen yang kuat untuk mencapai anak-anak yang
membutuhkan.
Selain itu, UNICEF Indonesia juga menyatakan beberapa isu penting dalam kajian
yang dilakukan pada Oktober 2012 yaitu,
1. Setiap tiga menit, di manapun di Indonesia, satu anak balita meninggal dunia.
Selain itu, setiap jam, satu perempuan meninggal dunia ketika melahirkan atau
karena sebab-sebab yang berhubungan dengan kehamilan.
2. Peningkatan kesehatan ibu di Indonesia, yang merupakan tujuan Pembangunan
Milenium (MDGs) kelima, berjalan lambat dalam beberapa tahun terakhir.
Rasio kematian ibu, yang diperkirakan sekitar 228 per 100.000 kelahiran
hidup, tetap tinggi di atas 200 selama dekade terakhir, meskipun telah
dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu. Hal ini
bertentangan dengan negara-negara miskin di sekitar Indonesia yang
menunjukkan peningkatan lebih besar pada MDGs kelima.
3. Indonesia telah melakukan upaya yang jauh lebih baik dalam menurunkan
angka kematian pada bayi dan balita, yang merupakan MDGs keempat. Pada
tahun 1990, Indonesia menunjukkan perkembangan tetap dalam menurunkan
angka kematian balita, bersama-sama dengan komponen-komponennya, angka
kematian bayi dan angka kematian bayi baru lahir. Akan tetapi, dalam
beberapa tahun terakhir, penurunan angka kematian bayi baru lahir (neonatal)
tampaknya terhenti. Jika tren ini berlanjut, Indonesia mungkin tidak dapat
mencapai target MDGs keempat (penurunan angka kematian anak) pada tahun
2015, meskipun nampaknya Indonesia berada dalam arah yang tepat pada
tahun-tahun sebelumnya.
Beranjak dari data data diataslah, kami Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran
Indonesia mengajak seluruh Fakultas Kedokteran seluruh Indonesia untuk bergabung
dan bergerak bersama-sama untuk mengadakan Bulan Bakti ISMKI dalam
memajukan Kesehatan Ibu dan Anak Indonesia. Dari Mahasiswa Kedokteran untuk
Indonesia.
II. TUJUAN
Tujuan umum
Menggiatkan kembali kinerja dalam pencapaian target MDGs dalam mengurangi
angka kematian ibu dan anak terutama dengan edukasi individual dan keluarga dalam
komunitas tertentu sesuai dengan derajat keparahannya.
Tujuan khusus
1. Meningkatkan peran serta mahasiswa kedokteran indonesia untuk membangun
kesadaran dalam bidang kesehatan ibu dan anak.
2. Meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman masyarakat, terutama
orangtua, akan pentingnya kesehatan ibu dan anak, terutama dalam masa
kehamilan dan pertumbuhan janin & anak.
3. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa kedokteran tentang kesehatan ibu dan
anak sebagai salah satu fokus tujuan MDGs 2015.
4. Pendataan angka kesehatan ibu dan anak di daerah-daerah Indonesia.

III. MANFAAT
1. Peningkatan kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman masyarakat, terutama
orangtua, akan pentingnya kesehatan ibu dan anak, terutama dalam masa
kehamilan dan pertumbuhan janin & anak.
2. Peningkatan peran serta mahasiswa kedokteran indonesia untuk membangun
kesadaran dalam bidang kesehatan ibu dan anak.
3. Peningkatan pengetahuan mahasiswa kedokteran tentang kesehatan ibu dan
anak sebagai salah satu fokus tujuan MDGs 2015.
4. Pembaharuan data untuk angka kesehatan Ibu dan Anak di daerah-daerah di
Indonesia.

IV. WAKTU PELAKSANAAN


Bulan April 2014 (Tentative)

V. TEMPAT
1. Kriteria tempat :
a. Desa binaan masing-masing institusi.
b. Tempat dengan prevalensi masalah kesehatan ibu dan anak tinggi.
2. Pelaksana : Fakultas Kedokteran seluruh Indonesia yang termasuk dalam anggota
ISMKI.

VI. USULAN PROGRAM


1. Edukasi ibu hamil mengenai Antenatal Care dan persalinan
Edukasi ibu hamil ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai antenatal
care dan persalinan diharapkan dengan pemahaman ini pencegahan terhadap kelainan
maupun kematian anak dan Ibu dapat terjadi. Bentuk kegiatan terbagi dua yaitu,
Antenatal Care; berupa penyuluhan mengenai masa kehamilan, pemahaman mengenai
pertumbuhan dan perkembangan janin, pemahaman mengenai antenatal care, serta
kesadaran ibu yang hamil akan pentingnya antenatalcare; dan persalinan, yang berupa,
penyuluhan mengenai persalinan, pemahaman mengenai cara persalinan normal oleh
tenaga medis profesional, serta kesadaran mengenai meminta bantuan dari tempat dan
petugas medis untuk melakukan persalinan. Sasaran edukasi adalah Ibu hamil dan
calon Ibu (perempuan) serta umum di desa binaan atau tempat edukasi ini
berlangsung, sedangkan follow up yang dilakukan dapat berupa pemberian
pengetahuan per keluarga (keluarga binaan) setiap bulannya.

2. Edukasi mengenai gizi dan kesehatan pada ibu dan anak


Edukasi mengenai gizi dan kesehatan pada ibu dan anak bertujuan memberikan
pemahaman mengenai kebutuhan gizi ibu dan anak, dibagi berdasarkan balita dan
neonates; berupa penyuluhan mengenai masa neonatus dan balita, pemahaman
mengenai Kebutuhan dan gizi neonatus dan balita, perlombaan bayi sehat, dan
kesadaran ibu untuk memantau tumbuh kembang anak, serta penyuluhan mengenai
Pola hidup Sehat dan penyakit pada anak, Pemahaman orang tua anak mengenai
pencegahan penyakit tersering pada anak, pemeriksaan antropometri pada anak, dan
pelatihan dokter kecil. Sasaran edukasi adalah keluarga pada desa binaan terutama
yang memiliki bayi atau balita, maupun anak, sedangkan follow up yang dapat
dilakukan berupa pemeriksaan (skrining) kesehatan bayi atau balita setiap bulannya.

Untuk kesehatan Ibu, sasarannya adalah semua perempuan terutama yang berusia 18
tahun ke atas, dengan tujuan mengenai pemahaman kanker serviks dan/atau kanker
payudara, sehingga dapat melakukan pencegahan atau kegiatan yang mengurangi
risiko kanker tersebut. Follow up yang dilakukan dapat berupa pemberian
pengetahuan per keluarga (keluarga binaan) setiap bulannya.

3. Edukasi mengenai pentinga Keluarga Berencana (KB)


Kegiatan KB merupakan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman
tentang Keluarga Berencana (KB) yang merupakan bagian penting yang mendukung
peningkatan angka KIA dan juga dapat menekan pertumbuhan masyarakat yang di
luar kendali sehingga meminimalisir kenaikan angka kematian ibu dan anak, dengan
bentuk kegiatan berupa penyuluhan Keluarga Berencana, menanamkan pemahaman
tentang pengertian KB, pemahaman jenis-jenis KB, kelebihan dan kekurangan, serta
keterangan biaya pemakaian masing-masing alat KB, dan diakhiri dengan penyuluhan
mengenai pentingnya KB. Sasaran edukasi ini adalah keluarga-keluarga di desa
binaan atau tempat edukasi ini berlangsung, sedangkan follow up yang dilakukan
dapat berupa pemberian pengetahuan per keluarga (keluarga binaan) setiap bulannya.

4. Penyuluhan/Workshop Suami Siaga dan Breast-feeding father.


Penyuluhan atau workshop Suami Siaga dab breast-feeding father bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman dan keterlibatan suami dalam membina kesehatan ibu dan
anak. Sasaran program ini adalah suami dan ayah, serta calon ayah, dan pasangan
masing-masing, sedangkan follow up yang dapat dilakukan adalah edukasi per
keluarga (keluarga binaan) setiap bulannya.
VII. LUARAN YANG DIHARAPKAN
1. Kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman masyarakat, terutama orangtua,
akan pentingnya kesehatan ibu dan anak, terutama dalam masa kehamilan dan
pertumbuhan janin & anak meningkat.
2. Peran serta mahasiswa kedokteran indonesia untuk membangun kesadaran
dalam bidang kesehatan ibu dan anak meningkat.
3. Pengetahuan mahasiswa kedokteran tentang kesehatan ibu dan anak sebagai
salah satu fokus tujuan MDGs 2015 meningkat.
4. Data untuk angka kesehatan Ibu dan Anak di daerah-daerah di Indonesia lebih
lengkap sehingga tindakan follow up yang diambil lebih jelas.
5. Berkurangnya faktor risiko turunnya angka kesehatan anak dan ibu.

VIIl. INDIKATOR KEBERHASILAN (Lampiran)


Institusi mengumpulkan hasil kegiatan dalam form (terlampir) dengan rincian :
1. Dilaksanakan oleh 30 institusi : kurang
2. Dilaksanakan oleh 30 - 45 institusi : cukup
3. Dilaksanakan lebih dari 45 institusi : baik

XI. RINCIAN DANA (Lampiran)


Dana yang dibutuhkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, dapat juga merujuk ke
dalam rincian dana Bakti Sosial Wilayah masing-masing daerah.
Lampiran :
1. INDIKATOR KEBERHASILAN
KELUARGA BERENCANA
INDIKATOR SKOR
NO JENIS INTERVENSI
KEBERHASILAN (0-100)
1. Penyuluhan Keluarga Berencana Penyuluhan dihadiri oleh
sekurang-kurangnya
75% warga keseluruhan
(sasaran utama :
pasangan suami istri
usia produktif)

2. Pengertian KB 70% peserta penyuluhan


dapat memahami
dan/atau menjawab
pertanyaan dengan baik
seputar pengertian KB
3. Pemahaman tentang jenis-jenis a. 70% peserta
KB, kelebihan dan kekurangan, penyuluhan dapat
serta keterangan biaya pemakaian menyebutkan jenis-
masing-masing alat keluarga jenis KB
berencana
b. 70% peserta
penyuluhan dapat
menyebutkan
kelebihan dan
kekurangan dari
masing-masing jenis
alat KB
c. 70% peserta
penyuluhan dapat
membedakan cara
pakai alat KB

d. 70% peserta
penyuluhan dapat
menentukan sendiri
alat KB yang sesuai
4. Pentingnya ber-KB Terjadi peningkatan
angka partisipasi KB
warga
(75% pasangan suami
istri usia produktif yang
mengikuti penyuluhan
mengikuti Penyuluhan
KB mengikuti program
KB yang sesuai)
INDIKATOR KEBERHASILAN

KEHAMILAN/ANTENATAL CARE
INDIKATOR SKOR
NO JENIS INTERVENSI
KEBERHASILAN (0-100)
1. Penyuluhan mengenai masa Penyuluhan di hadiri
kehamilan oleh 80% ibu yang
sedang hamil dan atau
atau 80% ibu berusia
produktif
2. Pemahaman mengenai 50% peserta penyuluhan
pertumbuhan dan perkembangan dapat menjawab dan
janin menjelaskan
pertumbuhan dan
perkembangan janin
secara umum pada
trimester 1, 2 dan 3.
3. Pemahaman mengenai antenatal 70 % peserta
care penyuluhan dapat
menjawab dan
menjelaskan nutrisi yang
diberikan kepada ibu
hamil

70% peserta penyuluhan


dapat menjawab
pertanyaan dan
menjelaskan makanan
yang harus dihindari
oleh ibu hamil

50% peserta penyuluhan


dapat menjelaskan apa
yang dimaksud dengan
teratogenik.

70% peserta penyuluhan


dapat menjawab
pertanyaan dan
menjelaskan aktivitas
yang boleh dilakukan
dan yang tidak boleh
dilakukan selama
kehamilan

4. Kesadaran ibu yang hamil akan 80 % ibu yang hamil


pentingnya antenatalcare melakukan pemeriksaan
antenatalcare secara
berkala pada posyandu
ataupun tempat
pelayanan kesehatan
terdekat
PERSALINAN
INDIKATOR SKOR
NO JENIS INTERVENSI
KEBERHASILAN (0-100)
1. Penyuluhan mengenai Persalinan Penyuluhan di hadiri
oleh 80% ibu yang
sedang hamil dan atau
atau 80% ibu berusia
produktif
2. Pemahaman mengenai cara 50 % peserta
persalinan normal oleh tenaga penyuluhan dapat
medis profesional menjawab pertanyaan
seputar cara persalinan
yang dilakukan oleh
tenaga medis profesional

70% peserta penyuluhan


dapat menjawab
pertanyaan seputar
resiko persalinan yang
tidak dilakukan dengan
benar oleh petugas non
medis

50 % peserta
penyuluhan dapat
menjawab pertanyaan
mengenai kondisi
persalinan yang tidak
normal.

3. Kesadaran mengenai meminta 70% ibu yang


bantuan dari tempat dan petugas melahirkan telah
medis untuk melakukan persalinan menggunakan jasa
tenaga medis profesional
(dokter atau bidan)
INDIKATOR KEBERHASILAN

GIZI DAN KESEHATAN NEONATUS DAN BALITA


INDIKATOR SKOR
NO JENIS INTERVENSI
KEBERHASILAN (0-100)
1. Penyuluhan mengenai masa Penyuluhan di hadiri
neonatus dan balita oleh 80% ibu yang
sedang hamil dan atau
atau 80% ibu yang
mempunyai anak balita

2. Pemahaman mengenai Kebutuhan 70 % peserta


dan gizi neonatus dan balita penyuluhan dapat
menjawab dan
menjelaskan mengenai
pentingnya ASI
eksklusif dan masa
pemberian ASI eksklusif

70 % peserta
penyuluhan dapat
menjawab dan
menjelaskan mengenai
waktu pemberian MP
(Makanan Pendamping)
-ASI dan jenis MP-ASI
yang diberikan serta gizi
lainnya
50% peserta penyuluhan
dapat menjawab dan
menjelaskan mengenai
pengertian imunisasi,
pentingnya imunisasi
dan jenis-jenis imunisasi
serta jadwal
pemberiannya

50 % peserta
penyuluhan dapat
menjawab dan
menjelaskan mengenai
pentingnya pemeriksaan
tumbuh kembang serta
jadwal pemeriksaan
tumbuh kembang
dilakukan.
3. Perlombaan bayi sehat 70 % Keaktifan dan
keikutsertaan ibu dalam
mengikutkan anaknya
dalam perlombaan

4. Kesadaran ibu untuk memantau 70 % ibu yang


tumbuh kembang anak mempunyai anak balita
melakukan skrining
tumbuh kembang secara
rutin dan berkala di
pusat pelayanan
kesehatan terdekat.
GIZI DAN KESEHATAN ANAK
INDIKATOR SKOR
NO JENIS INTERVENSI
KEBERHASILAN (0-100)
1. Penyuluhan mengenai Pola hidup Penyuluhan di hadiri
Sehat dan penyakit pada anak oleh 80% anak / siswa
dari suatu sekolah di
lokasi beserta dengan
orang tua anak / siswa
tersebut
2. Pemahaman anak mengenai pola 100% anak peserta
hidup sehat penyuluhan dapat
melakukan simulasi pola
hidup sehat dengan baik

50 % anak peserta
penyuluhan telah
menerapkan pola hidup
sehat dalam kehidupan
kesehariannya
(melakukan follow up)
3. Pemahaman orang tua anak 75% Orang tua siswa
mengenai pencegahan penyakit yang menjadi peserta
tersering pada anak penyuluhan dapat
menjawab pertanyaan
secara umum mengenai
penyakit yang telah
disampaikan
50 % Orang tua siswa
yang menjadi peserta
penyuluhan dapat
menjawab pertanyaan
mengenai penyebab
penyakit, patogenesis
dan pencegahan
penyakit yang telah
disampaikan

Terjadinya penurunan
angka penyakit yang
menjadi endemik pada
anak saat musim tertentu
sebanyak 25%
(perlu dilakukan follow
up)
4. Pemeriksaan antropometri pada Seluruh anak / siswa
anak mengikuti pemeriksaan
antropometri dan di
dapat data nya yang
kemudian disimpulkan
jika terjadi
penyimpangan.
5. Pelatihan dokter kecil Terpilihnya 3 orang
dokter kecil terbaik yang
dapat mengingatkan
teman-temannya untuk
menerapkan pola hidup
sehat
INDIKATOR KEBERHASILAN

KESEHATAN IBU / PEREMPUAN


INDIKATOR SKOR
NO JENIS INTERVENSI
KEBERHASILAN (0-100)
1. Penyuluhan mengenai Kanker Penyuluhan di hadiri
serviks dan / atau kanker payudara oleh 80% ibu dan anak
gadis berusia 18 tahun
keatas
2. Pemahaman mengenai kanker 50% peserta penyuluhan
serviks dan kanker payudara dapat menjawab dan
menjelaskan pertanyaan
mengenai kanker serviks
dan kanker payudara
3. Pemahaman mengenai cara Semua (100%) peserta
pemeriksaan IVA dan Sadari penyuluhan mengikuti
workshop dengan baik
dan tenang

Semua (100%) peserta


penyuluhan telah dapat
melakukan SADARI
untuk mendeteksi kanker
payudara

Semua (100%) peserta


penyuluhan (ibu atau
gadis yang telah
melakukan hubungan
seksual) dapat mengerti
dan melakukan
pemeriksaan IVA untuk
mendeteksi adanya
kanker serviks*
*Ketentuan dan syarat pemeriksaan berlaku
INDIKATOR KEBERHASILAN
SUAMI SIAGA DAN BREASTFEEDING FATHER
INDIKATOR SKOR
NO JENIS INTERVENSI
KEBERHASILAN (0-100)
1. Penyuluhan mengenai Suami Siaga Suami yang menghadiri
penyuluhan sebanyak
50% dari pasangan
suami-istri.
2. Pemahaman mengenai pentingnya 50% peserta penyuluhan
dan tugas Suami Siaga khususnya suami, dapat
menjawab dan
menjelaskan pertanyaan
mengenai suami siaga
3. Pemahaman mengenai Semua (100%) peserta
breastfeeding father penyuluhan mengikuti
workshop dengan baik
dan tenang

75% peserta penyuluhan


memahami penitngnya
peran ayah/suami dalam
memberikan ASI
terhadap anaknya, serta
gizi terhadap anaknya.

50% peserta penyuluhan


khususnya suami, dapat
menjawab dan
menjelaskan pertanyaan
mengenai breast-feeding
father.

2. RINCIAN DANA (Per satu institusi)


1. Edukasi ibu hamil mengenai Antenatal Care dan persalinan
1. Acara (Pembicara 3 orang @ Rp 500.000,00) = Rp 1.500.000,00
2. Kesekretariatan dan Administrasi = Rp 500.000,00
a. Perlengkapan alat tulis
b. Sertifikat peserta dan panitia
c. Seminar kita
d. Plakat/Sertifikat pemateri
e. Fotokopi, dan lain-lain
3. Publikasi dan Pembuatan Poster = Rp 500.000,00
4. Pembuatan Spanduk (2 buah x @ Rp 100.000,00) = Rp 200.000,00
5. Perlengkapan Komunikasi (pulsa, Internet) = Rp 250.000,00
6. Perlengkapan = Rp 1.000.000,00
a. Perlengkapan Acara (games, penyuluhan, alat)
b. Pemeriksaan fisik gratis
7. Modal Penjualan Dana dan Usaha = Rp 150.000,00
8. Perlengkapan P3K = Rp 200.000,00
9. Uang Keamanan = Rp 200.000,00
10. Transportasi = Rp 1.000.000,00
11. Konsumsi (350 orang x @Rp 10.000) = Rp 3.500.000,00
Total Dana = Rp 9.000.000,00

2. Edukasi mengenai gizi dan kesehatan pada ibu dan anak


1. Pembicara 4 orang @ Rp 500.000,00 = Rp 2.000.000,00
2. Kesekretariatan dan Administrasi = Rp 500.000,00
3. Publikasi dan Pembuatan Poster = Rp 500.000,00
4. Pembuatan Spanduk (2 buah x @ Rp 100.000,00) = Rp 200.000,00
5. Perlengkapan Komunikasi (pulsa, Internet) = Rp 250.000,00
6. Perlengkapan Acara = Rp 1.000.000,00
7. Modal Penjualan Dana dan Usaha = Rp 150.000,00
8. Perlengkapan P3K = Rp 200.000,00
9. Uang Keamanan = Rp 200.000,00
10. Transportasi = Rp 1.000.000,00
11. Konsumsi (400 orang x @Rp 10.000,00) = Rp 4.000.000,00
Total Dana = Rp 10.000.000,00

3. Edukasi mengenai pentingnya Keluarga Berencana (KB)


1. Pembicara 2 orang @ Rp 500.000,00 = Rp 1.000.000,00
2. Kesekretariatan dan Administrasi = Rp 500.000,00
3. Publikasi dan Pembuatan Poster = Rp 500.000,00
4. Pembuatan Spanduk (2 buah x @ Rp 100.000,00) = Rp 200.000,00
5. Perlengkapan Komunikasi (pulsa, Internet) = Rp 250.000,00
6. Perlengkapan Acara = Rp 1.000.000,00
7. Modal Penjualan Dana dan Usaha = Rp 150.000,00
8. Perlengkapan P3K = Rp 200.000,00
9. Transportasi = Rp 1.000.000,00
10. Konsumsi (300 orang x @Rp 10.000,00) = Rp 3.000.000,00
Total Dana = Rp 8.800.000,00

4. Penyuluhan/Workshop Suami Siaga dan Breast-feeding father


1. Pembicara 2 orang @ Rp 500.000,00 = Rp 1.000.000,00
2. Kesekretariatan dan Administrasi = Rp 500.000,00
3. Publikasi dan Pembuatan Poster = Rp 500.000,00
4. Pembuatan Spanduk (2 buah x @ Rp 100.000,00) = Rp 200.000,00
5. Perlengkapan Komunikasi (pulsa, Internet) = Rp 250.000,00
6. Perlengkapan Acara = Rp 1.000.000,00
7. Peralatan Workshop = Rp 1.000.000,00
8. Modal Penjualan Dana dan Usaha = Rp 150.000,00
9. Perlengkapan P3K = Rp 200.000,00
10. Transportasi = Rp 1.000.000,00
11. Konsumsi (300 orang x @Rp 10.000,00) = Rp 3.000.000,00
Total Dana = Rp 8.800.000,00
BULAN BAKTI IKATAN SENAT MAHASISWA KEDOKTERAN INDONESIA 2014
Non-Communicable Diseases

II. LATAR BELAKANG


Di wilayah Pasifik dan Asia Timur penyakit tidak menular merupakan 71,03%
penyebab kematian pada tahun 2002, dan menimbulkan DALYs (Disability Adjusted
Life Years) sebesar 46,90%.
Di Indonesia, salah satu masalah kesehatan masyarakat yang sedang kita hadapi
saat ini dalam pembangunan kesehatan adalah beban ganda penyakit, yaitu masih
banyaknya penyakit infeksi yang harus ditangani dan pada pihak lain, semakin
meningkatnya penyakit tidak menular. Proporsi angka kematian penyakit tidak
menular meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 59,5% pada tahun 2007
(Riskesdas 2007).
Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan tingginya prevalensi penyakit tidak
menular di Indonesia, seperti hipertensi (31,7 %), penyakit jantung (7,2%), stroke
(8,3), diabetes melitus (1,1%) dan diabetes melitus di perkotaan (5,7%), asma
(3,5%), penyakit sendi (30,3%), kanker/tumor (4,3), dan cedera lalu lintas darat
(25,9%).
Stroke merupakan penyebab utama kematian pada semua umur, jumlahnya
mencapai 15,4%, hipertensi 6,8%, cedera 6,5%, diabetes melitus 5,7%, kanker
5,7%, penyakit saluran nafas bawah kronik (5,1%), penyakit jantung iskemik
5,1%, dan penyakit jantung lainnya 4,6%. Angka kematian pada kelompok usia 45-54
tahun di daerah perkotaan akibat stroke 15,9% yang merupakan penyebab utama
kematian, diabetes melitus 14,7%, penyakit jantung iskemik 8,7%, hipertensi dan
penyakit jantung lain masing-masing 7,1%, kecelakaan lalu lintas 5,2%, kanker
(payudara, leher rahim, dan rahim) 4,8%, penyakit saluran nafas bawah kronik
(3,2%), sedangkan di pedesaan akibat stroke 11,5% yang menempati peringkat kedua
setelah TB, hipertensi 9,2%, penyakit jantung iskemik 8,8%, diabetes melitus 5,8%,
kanker 4,4%, dan penyakit saluran pernafasan bawah kronik 4,2%. Sementara itu
angka kematian pada kelompok usia 55-64 tahun di daerah perkotaan akibat stroke
26,8% sebagai penyebab utama kematian, hipertensi 8,1, penyakit jantung iskemik
5,8%, penyakit saluran pernafasan bawah kronik 5,1%, penyakit jantung lain 4,7%,
dan kanker 3,2%.
Sedangkan di pedesaan akibat stroke 17,4% juga sebagai penyebab utama
kematian, hipertensi 11,4%, penyakit jantung iskemik 5,7%, penyakit jantung lain
5,1%, penyakit saluran pernafasan bawah kronik 4,8%, dan kanker 3,9%.
Tantangan lain yang dihadapi adalah adanya kecenderungan meningkatnya
masalah-masalah yang berkaitan dengan bertambahnya kelompok usia lanjut (ageing)
yang akan menyebabkan beban pembiayaan kesehatan semakin meningkat. Sementara
itu penderita penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah
tidak lagi mengenal kelompok status sosial ekonomi masyarakat. Tidak sedikit
penderita penyakit jantung dan pembuluh darah yang justru datang dari kalangan
sosial ekonomi menengah kebawah, yang tergolong masyarakat miskin, tidak mampu
dan kurang mampu yang kemungkinan diakibatkan perubahan gaya hidup yang tidak
sehat dan meningkatnya faktor risiko penyakit tidak menular.
Hasil Riskesdas tahun 2007 memperlihatkan prevalensi beberapa faktor risiko
penyakit tidak menular, seperti obesitas umum 19,1% (terdiri dari berat badan lebih
8,8% dan obesitas 10,3%), obesitas sentral 18,8%, sering (satu kali atau lebih setiap
hari) makan makanan asin 24,5%, sering makan makanan berlemak 12,8%, sering
makan/ minum makanan/minuman manis 65,2%, kurang sayur buah 93,6%, kurang
aktivitas fisik 48,2%, gangguan mental emosional 11,6%, perokok setiap hari 23,7%,
dan konsumsi alkohol 12 bulan terakhir 4,6%.
Desentralisasi bidang kesehatan dan komitmen pemerintah belum dapat berjalan
sesuai dengan yang diharapkan. Kerjasama dan dukungan peraturan perundangan-
undangan merupakan tantangan yang sangat penting. Pemberdayaan masyarakat di
bidang kesehatan pada umumnya masih menempatkan masyarakat sebagai objek,
bukan sebagai subjek pembangunan kesehatan. Pengetahuan, sikap dan perilaku
serta kemandirian masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan faktor risiko
penyakit tidak menular masih belum memadai.
Indonesia saat ini berada pada pertengahan transisi epidemiologi dimana penyakit
tidak menular meningkat drastis sementara penyakit menular masih menjadi penyebab
penyakit yang utama. Non Communicable Disease (NCD) atau penyakit tidak menular
(PTM) telah menjadi masalah kesehatan besar tidak hanya di negara maju, tetapi juga
di negara-negara berkembang. 79% kematian disebabkan oleh penyakit menular yang
terjadi di negara berkembang. Pada abad ke-21 ini diperkirakan terjadi peningkatan
insidens dan prevalensi NCD secara cepat, yang merupakan tantangan utama masalah
kesehatan dimasa yang akan datang. WHO memperkirakan, pada tahun 2020 NCD
akan menyebabkan 73% kematian dan 60% seluruh kesakitan di dunia. Diperkirakan
negara yang paling merasakan dampaknya adalah negara berkembang termasuk
Indonesia. Proporsi penyebab kematian oleh penyakit menular di Indonesia telah
menurun sepertiganya dari 44% menjadi 28%, sedangkan proporsi kematian akibat
penyakit tidak menular mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari 42% menjadi
60% (Depkes 2008). Kecenderungan peningkatan ini merupakan konsekuensi dari
demografidan transisi makanan, juga globalisasi dari proses ekonomi.
Terjadinya transisi epidemiologi yang paralel dengan transisi demografi dan
transisi teknologi di Indonesia dewasa ini telah mengakibatkan perubahan pola
penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit tidak menular (NCD) meliputi penyakit
degeneratif dan man made diseases yang merupakan faktor utama masalah morbiditas
dan mortalitas (Depkes RI, 2008). Terjadinya transisi epidemiologi ini disebabkan
oleh perubahan sosial ekonomi, lingkungan dan perubahan struktur penduduk, saat
masyarakat telah mengadopsi gaya hidup tidak sehat, misalnya merokok, kurang
aktivitas fisik, makanan tinggi lemak dan kalori, serta konsumsi alkohol yang diduga
merupakan faktor risiko NCD (WHO, 2007). Proses ini diprediksi akan berjalan terus
seiring dengan perubahan status sosial ekonomi dan gaya hidup. Hal ini tidak terlepas
dari perubahan perilaku sedentary, yaitu suatu gaya hidup yang tidak sehat, tingginya
konsumsi junk-food dan fast-food, konsumsi pangan tinggi kalori, konsumsi makanan
berlemak, konsumsi rokok dan alkohol; serta rendahnya konsumsi serat, buah dan
sayur, dan aktivitas fisik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah badan khusus Perserikatan Bangsa
Bangsa (PBB) yang bertindak sebagai otoritas koordinator masalah kesehatan
masyarakat internasional, termasuk NCD. Pada bulan Mei 2008, 193 negara anggota
WHO menyetujui rencana enam tahun untuk mengatasi penyakit tidak menular,
terutama karena beban yang meningkat pesat di negara berpenghasilan rendah dan
menengah. Selama sesi ke-64 Majelis Umum PBB pada tahun 2010, suatu resolusi
disahkan untuk mengatur pertemuan tingkat tinggi Majelis Umum tentang pencegahan
dan pengobatan NCD dengan peserta kepala negara dan pemerintahan. Resolusi itu
juga mendorong negara anggota PBB pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tahun
2010 untuk mengatasi masalah penyakit tidak menular sebagai tujuan pembangunan
milenium. Pada bulan September 2011, PBB menyelenggarakan KTT Majelis Umum
pertama khusus tentang masalah NCD. Dengan keyakinan bahwa NCD adalah
penyebab dari sekitar 35 juta kematian setiap tahun, masyarakat internasional semakin
terpanggil untuk mengambil langkah-langkah penting untuk pencegahan dan
pengendalian NCD, dan mengurangi dampak terhadap populasi dunia terutama pada
wanita, yang merupakan pengasuh anak.
Bila selama ini NCD sangat dikaitkan dengan Pola Hidup, dalam
perkembangannya semakin nyata bahwa peran gizi pada usia dini diperkirakan lebih
besar perannya dibandingkan perubahan pola hidup semata. Hasil berbagai survey
maupun penelitian kohort berskala kecil dan besar yang dilakukan sejak lebih dari 3
dekade terakhir di berbagai belahan dunia semakin memperkuat bukti besarnya
pengaruh status gizi seseorang pada usia dini, atau 1000 hari pertama kehidupan, yaitu
selama masa dalam kandungan dan dalam dua tahun pertama kehidupannya, terhadap
risiko terjadinya NCD pada usia dewasa. Berbagai penjelasan mengenai hubungan
antara status gizi pada usia dini dengan NCD, antara lain DOHaD (Developmental
Origin of Health and Disease), Development Plasticity dan Mismacth, mempertegas
adanya kaitan tersebut secara ilmiah.
Diusungnya tema Non-communicable diseases ini mengingat penyakit kronis
yang memerlukan waktu yang lama dalam perkembangannya pada tubuh manusia.
Penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala awal sehingga saat timbul gejala,
pasien sudah dalam taraf yang parah.
Dewasa ini, terjadi kecenderungan perubahan lingkungan strategis, antara lain: 1)
transisi epidemiologi, yaitu perubahan pola yang sebelumnya didominasi oleh
penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Keadaan ini merupakan beban
global masyarakat dunia, sehingga membutuhkan pula komitmen global dalam
pengendalian penyakit tidak menular tersebut; 2) transisi lingkungan, ditandai dengan
banyaknya terjadi bencana alam, perubahan iklim global, berkurangnya lahan pangan
karena industrilisasi, dan lain-lain; 3) transisi demografis, ditandai dengan
meningkatnya proporsi usia lanjut, masih tingginya kemiskinan, dan lain-lain; 4)
perubahan sosio-budaya, dengan perubahan gaya hidup yang cendrung menjadi tidak
sehat, laju modernisasi yang cepat, dan berkembangnya nilai-nilai baru.
Pada saat yang sama indonesia mengalami perubahan derajat kesehatan maupun
pola penyakit. Di beberapa daerah yang tingkat kesehatannya lebih baik, penyakit
menular sudah relatif berkurang dan beralih ke penyakit tidak menular seperti
penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes melitus, penyakit kronik dan
degeneratif lainnya. Pergeseran pola penyakit ini juga sebagai dampak menurunnya
angka kematian bayi dan anak, meningkatnya usia harapan hidup, dan peningkatan
berbagai upaya kesehatan. Maka dari itu ISMKI menganggap NCD adalah salah satu
permasalahan besar post MDGs sehingga perlu diselesaikan.

II. TUJUAN

Tujuan umum

Terselenggaranya pencegahan dan penanggulangan faktor risiko penyakit tidak


menular guna menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian penyakit tidak
menular secara terpadu, efektif dan efisien dengan melibatkan pemerintah, civil
society organization dan masyarakat

Tujuan khusus
5. Meningkatkan peran serta mahasiswa kedokteran indonesia untuk
membangun kesadaran dan perilaku gizi seimbang dalam mengatasi masalah
gizi ganda
6. Masyarakat memiliki kesadaran dan pemahaman akan pentingnya
penatalaksanaan komprehensif untuk menghindari terjadinya komplikasi NCD
7. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa kedokteran tentang NCD sebagai salah
satu fokus utama permasalahan kesehatan di indonesia yang membutuhkan
penyelesaian segera
8. Pola hidup masyarakat mengalami perubahan ke arah yang lebih sehat.

III. MANFAAT

2. Dapat mengetahui dinamika prevalensi NCD yang merupakan salah satu fokus
utama permasalahan dimasyarakat.
3. Dapat membantu pemerintah mengatasi permasalahan gizi ganda terkait NCD
4. Dapat membantu masyarakat untuk memperbaiki gaya hidup dan prilaku gizi
yang seimbang
5. Dapat membantu mengurangi faktor resiko dan komplikasi yang ditimbulkan
NCD
6. Dapat meningkatkan peran serta mahasiwa kedokteran indonesia dalam
memberantas NCD

IV. WAKTU PELAKSANAAN


Sesuai dengan rentang waktu bulan bakti NCD

V. TEMPAT PELAKSANAAN

Kriteria tempat
1. Desa binaan
2. Tempat dengan prevalensi masalah gizi tinggi ( gizi buruk atau gizi tinggi )
3. Tempat dengan prevalensi masalah NCD tinggi
VI. LUARAN YANG DIHARAPKAN

1. Mahasiswa kedokteran mengetahui tentang NCD sebagai salah satu fokus isu yang
membutuhkan penanganan dan penyelesaian segera
2. Mahasiswa kedokteran memiliki peran yang berarti dalam pembangunan kesadaran
dan perilaku gizi seimbang masyarakat terkait kejadian NCD
3. Masyarakat memahami penatalaksanaan NCD secara komprehensif
9. Masyarakat mengalami perubahan pola hidup ke arah yang lebih sehat
10. Berkurangnya faktor risiko NCD

VII. INDIKATOR KEBERHASILAN

Kriteria keberhasilan
1. Diikuti kurang dari 30 institusi : kurang
2. Diikuti 30-60 institusi : cukup
3. Diikuti lebih dari 60 institusi : baik

VIII. USULAN PROGRAM

1. Gerakan sarapan dan waspada jajanan


Sebuah program pengembangan masyarakat yang mempunyai tujuan untuk
menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sarapan dan bahaya jajan sembarangan,
sasarannya adalah siswa sekolah dasar. Bentuk kegiatannya adalah penyuluhan,
games dan praktek laboratorium. Follow upnya dilakukan selama satu bulan dengan
membagikan telur sebelum masuk sebanyak 1 minggu sekali.
2. One Stop Hypertension Center
Tujuan kegiatan One Stop Hypertension Center adalah menjadi sebuah tempat
pembinaan terpadu yang mencakup seluruh fokus penatalaksanaan yakni preventif,
promotif, kuartif dan rehabilitatif dalam penanggulangan penyakit Non
Communicable Disease (NCD) atau penyakit tidak menular (PTM) khususnya
Hipertensi, yang telah menjadi masalah kesehatan besar tidak hanya di negara maju,
tetapi juga di negara-negara berkembang.
Konsep pelaksanaan berupa pemberdayaan masyarakat desa setempat sebagi kader
kesehatan sehingga masyarakat belajar untuk mandiri. Dalam jangka panjang,
masyarakat akan memilki kesadaran untuk senantiasa mengetahui kondisi
kesehatannya sebagai upaya preventif sehingga terjadinya komplikasi akibat
hipertensi yang berkelanjutan akan berkurang. Berkurangnya prevalensi akibat
komplikasi akibat hipertensi ini akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Dengan peningkatan kualitas hidup ini, produktifitas masyarakat akan turut
meningkat pula.
3. Menggambar untuk Indonesia
Program ini bertujuan menanamkan pemikiran akan bahaya NCD, sasaran remaja.
bentuk kegiatan berupa lomba pembuatan poster dengan tema penyakit tidak
menular (NCD).

4. Gerakan hidup Sehat dimulai dari diri sendiri


Progam ini bertujuan untuk meningkat kan pengetahuan dan kesadaran masyarakat
akan pentingnya pola hidup sehat dan bahaya dari NCD, sasaran nya adalah remaja
dan dewasa . bentuk kegiatan beruapa edukasi kepada masyarakat.

IX. RINCIAN DANA (per satu institusi)

1. Gerakan Sarapan dan Waspada Jajanan

Telur selama 4 hari ke 100 murid @Rp2.000,00 = Rp 8.000.000,00

Perlengkapan acara (games dan praktek laboratorium) = Rp 500.000,00

Media publikasi, Pin untuk 100 murid @Rp3.000,00 = Rp 300.000,00

Pin untuk panitia (estimasi 50 panitia) @Rp3.000,00 = Rp 150.000,00

Spanduk 1 buah @Rp50.000,00 = Rp 50.000,00

Fotokopi, print = Rp 600.000,00

(proposal, sertifikat panitia, sertifikat sekolah, dll.)


Pigura untuk sertifikat sekolah dan foto bersama = Rp 50.000,00

Akomodasi panitia (minum dan snack) = Rp 350.000,00

Total Dana =Rp10.000.000,00

2. One Stop Hypertension Center

A. Kader muda kesehatan indonesia

Fee pembicara selama 6 bulan : 6 x Rp 200.000,00 = Rp 1.200.000,00

Booklet @ 30 kader : 30 x Rp 25.000,00 = Rp 750.000,00

Transportasi = Rp 500.000,00

Fotokopi : Materi, proposal, kuesioner, pendataan = Rp 300.000,00

Peminjaman alat = Rp 200.000,00

Peralatan klinik = Rp 500.000,00

Perawatan alat = Rp 200.000,00

ID card kader : 30 x Rp 3.000,00 = Rp 90.000,00

ID card tim : 5 x Rp 3.000,00 = Rp 15.000,00

Pertemuan Rutin : 6 x Rp 100.000,00 = Rp 600.000,00

Publikasi dan sosialisasi 6 bulan = Rp 600.000,00

Lain-lain = Rp 45.000,00

Total Dana =Rp 5.000.000,00

B. Screening

Alat screening gula darah = Rp 1.000.000,00


Pemeliharaan alat = Rp 200.000,00

Peralatan klinik lainnya = Rp 800.000,00

Total Dana = Rp 2.000.000,00

3. Menggambar untuk Indonesia

Spanduk = Rp 200.000,00

Media publikasi = Rp 800.000,00

Hadiah pemenang = Rp1.000.000,00

Total Dana = Rp 2.000.000,00

4. Gerakan Hidup Sehat Dimulai dari Diri Sendiri

Fee pembicara, 3 pembicara @ Rp 500.000,00 = Rp 1.500.000,00

Spanduk = Rp 200.000,00

Media publikasi = Rp 500.000,00

Perlengkapan acara = Rp 500.000,00

Konsumsi = Rp 800.000,00

Buku mataeri, foto bersama = Rp 500.000,00

Total Dana = Rp 4.000.000,00