Anda di halaman 1dari 3

Tumor Odontogenik Epithelium

1. Ameloblastoma
2. Clear Cell Odontogenic Tumor
Merupakan tumor rahang yang jarang. Pertama kali disebutkan
pada tahun 1985. Tumor berasal dari odontogenik tapi histogenesisnya
belum pasti. Penelitian histochemical dan ulltrastruktural menyakan clear
cell merupakan karakteristik yang menonjol dari neoplasma ini. Clear cell
ini diduga punya kesamaan dengan glycogen-rich prescretory ameloblast.
Tetapi penelitian molekuler terbaru, telah mengidentifikasi pengaturan
kembali dari gen EWSR1 pada clear cell ondontogenic carcinoma.
Perubahan genetik bisa ditemukan pada macam-macam tumor, tapi sering
terlihat pada hyalinizing clear cell carcinoma (malignansi kelenjar saliva).
Akibatnya beberapa penulis menyatakan bahwa mungkin clear cell
odontogenic caarcinoma akan menunjukkan variasi intraosseos dari
hyalinizing clear cell caricinoma.
Gambaran klinisnya antara lain; rentang umur 14-89 tahun, 80%
kasus di mandibula, beberapa pasien mengeluhkan nyeri, parethesia, dan
pembengkakan tulang dapat terjadi. Sedangkan gambaran radiografnya,
lesi tampak unilocular atau multilocular radiolusensi.
Gambaran histopatologisnya terdiri dari 3 pola; pola biphase, yaitu
terdiri dari kumpulan beragam ukuran sel-sel epitel, dengan jelas atau
sedikit sitoplasma eosonophilic dicampur dengan lebih banyak sel epitelial
eosinophilic polygonal. Berikutnya ada pola monophase,
dikarakteristikkan oleh clear cell yang tesusun dalam suatu kumpulan atau
tali dan seuntai tipis jaringan ikat hyalinisasi sering memisahkan
kumpulan clear cell. Pola ketiga mirip dengan ameloblastoma pada tahap
dimana sel periperal dari pulau-pulau clear cell terkadang menunjukkan
palisading.
CCOC termasuk jalur klinis agresif, dengan invasi struktur yang
menular dan cenderung untuk menular, khusunya jika perawatan awal
adalah enukleasi atau kuretase. Kebanyakan pasien men=mbutuhkan
sedikit operasi radikal. Keterlibatan metatastik regional nodus limfe dan
pulmonary metastasi juga telah tercatat.
3. Adenomatoid Odontogenic Tumor
Terdapat sebanyak 2%-7% dari tumor odontogenik. Tercatat 750
kasus yang dilaporkan pada literatur. Awalnya lesi ini dipertimbangkan
sebagai variasi ameloblastoma dan disebut adenoameloblastoma. Tapi
karakteristik klinisnya dan perilaku biologisnya mengindikasikan kalau
adenomatoid OT merupakan bagian terpisah. Sumber histogenetik yang
telah dirumuskan dari sel tumor ini terdiri enamel organ, reduced enamel
epitelium, dan rest of mallasez. Tapi beberapa peneliti baru ini menyatakan
lesi ini muncul dari sisa-sisa dental lamina berhubungan dengan
gubernacular cord.
Karakteristik klinisnya biasa terbatas pada pasien muda, dua per
tiga kasus didiagnosis ketika pasien berusia 10-19 tahun. Cenderung pada
bagian anterior rahang, dan dominan pada maksila, serta perempuan juga
lebih sering dibanding laki-laki. Kebanyakan tumor berukuran kecil, tidak
lebih dari 3cm. Massa sesil pada ginggiva facial gigi maksila. Secara klini
tidak bisa dibedakan dengan lesi fibbrosa gingival. Seringnya
asimptomatik dan ditemukan pada pemeriksaan radiograf rutin atau ketika
membuat film utk menentukan kenapa gigi belum erupsi. Lesi yang lebih
besar menyebabkan ekspansi yang tidak sakit pada rahang.
4. Calcifying Epithelial Odontogenik Tumor
Calcifying Epithelial Odontogenic Tumor (CEOT) atau yang sering
dikenal dengan nama Tumor Pindborg pertama kali dijelaskan oleh
Pindborg pada tahun 1956 merupakan neoplasma jinak yang langka
dengan prevelensi 10 sampai 15 kali lebih rendah dari ameloblastoma.
Menurut Kamus Kedokteran Gigi, CEOT merupakan neoplasma
yang jarang terjadi, yang timbul dari epitel odontogenik, dan ditandai
dengan adanya epitel yang bersusun seperti lapisan. Tumor Pindborg
memiliki presentase sekitar 1% dari tumor odontogenik secara
keseluruhan.
Ada dua varian dari lesi ini, sentral dan perifer. Lesi sentral terjadi
terutama di usia pertengahan, memuncak pada usia 40, dengan sebagian
besar terjadi antara usia 30 dan 50 tetapi mungkin terjadi pada setiap usia
dengan predileksi yang sama antara wanita dan pria. Di mana mandibula
dua kali lebih sering daripada maksila.
Tampak berupa lesi rahang yang berkembang meluas secara
perlahan, yang mungkin berhubungan dengan nyeri, sumbatan hidung,
epistaksis, dan sakit kepala. Sekitar setengah dari kasus lesi ini
berhubungan dengan gigi yang impaksi. Pada variasi yang tidak biasa,
termasuk kehadiran sel-sel yang jelas yang bisa mewakili karsinoma sel
odontogenik. Laporan tentang perubahan lesi ini menjadi karsinoma sel
skuamosa jarang terjadi. Sebuah lesi perifer yang timbul dari gingiva
sebagai lesi jaringan lunak ditutupi oleh mukosa normal. Mungkin ini
merupakan sel asal yang terletak di dalam epitel gingiva paling umum di
daerah anterior rahang. Ini bukan agresif dan dapat ditreatment dengan
eksisi sederhana. Sedangkan lesi sentral timbul dari stratum intermedium
dari organ enamel atau dari epitel enamel pada gigi yang impaksi.
Gambaran radiografisnya memperlihatkan adanya destruksi tulang,
multilokular, dan kalsifikasi intratumoral yang membentuk pola
honeycomb dan fokus radiopak yang menyebar atau disebut juga driven
snow. Terlihat campuran antara radiolucent dan radiopak
5. Squamous Odontogenik Tumor
Tumor ini berasal dari transformasi neoplasi dari sisa-sisa epitel
mallasez. Kelihatan berasal dari ligamen periodontal dan berhubungan
dengan permukaan lateral akar gigi dan gigi tidak erupsi. Melibatkan proc.
alveolar dan maksila. Tidak ada faktor predileksi sisi dan jenis kelamin.
Symptomatis berupa sakit ringan berupa pembengkakan gingiva, Gigi
goyang, pertumbuhan lambat.
Gambaran radiograf tidak menunjukkan gambaran yang spesifik,
menunjukkan kerusakan tulang yang berbentuk triangular di sebelah
lateral akar gigi. Kadang juga adanya kerusakan tulang arah vertical, lesi
menunjukkan gambaran sklerosis, diameter > 1,5cm.