Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sektor pariwisata sebagai salah satu sumber devisa negara dan dalam upaya
meningkatkan penghasilan masyarakat Indonesia dewasa ini dan dimasa yang
akan datang disadari akan semakin menjadi penting. Oleh karena itu, setiap upaya
yang bertujuan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan disektor ini
perlu didukung dan digalakan.
Salah satu sektor yang erat kaitannya dan cukup menentukan bagi
pertumbuhan dan perkembangan sektor pariwisata adalah sektor kesehatan. Telah
banyak contoh dan pengalaman baik di luar maupun di dalam negeri tentang
dampak positif terhadap pertumbuhan pariwisata bila pengelolaan sektor
kesehatan dilaksanakan dengan baik. Sebaliknya, dampak negatif terhadap
perkembangan pariwisata akan segera terjadi bila muncul suatu outbreak
penyakit, atau pengelolaan pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan tidak
dilakukan dengan memadai.
Sehubungan dengan hal diatas, telah muncul disiplin ilmu yang mempelajari
dan mengaplikasikan aspek kedokteran dan kesehatan dalam kegiatan pariwisata
yang dikenal dengan nama Travel Medicine. Ditingkat internasional telah
muncul organisasi yang menghimpun para peminat baik perorangan maupun
perkumpulan di bidang ini dari berbagai negara, yang bernama International
Society of Travel Mecine (ISTM), sedangkan di tingkat regional muncul Asia
Pasific Society of Travel Health (APTH). Pada tanggal 1 Agustus 1997 didirikan
di Jakarta suatu organisasi yang bernama Perhimpunan Kesehatan Wisata
Indonesia (PKWI) atau dalam bahasa Inggris disebut Indonesia Travel Health
Society (ITHS).
Pada tahun 1997, organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) memperkirakan
bahwa lebih dari 30 juta orang melakukan perjalanan (wisata) dari negara-negara
industri ke negaranegara berkembang. Penelitian menunjukkan bahwa antara 50
75% yang melakukan kunjungan singkat ke negara tropis dan subtropis

1
mengalami gangguan kesehatan ringan dan 5% dan memerlukan penanganan
medis dan kurang dari 1% memerlukan perawatan di rumah sakit.
Industri pariwisata Indonesia meningkat dengan pesat. Pada awal Pelita VI
yang sekaligus awal pembangunan jangka panjang II, yaitu pada tahun 1994,
jumlah wisatawan mancanegara telah mencapai 4.006.312 jiwa, suatu kenaikkan
yang cukup besar yaitu 17,7% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jumlah
penerimaan devisa negara dari wisatawan tahun 1995 sebanyak 5,23 milyard
dollar US, merupakan saham 19,8% dari pendapatan devisa negara. Bahkan untuk
tahun 2005 sektor pariwisata diharapkan menjadi sumber devisa terbesar di
Indonesia akan mampu menarik 11 juta jiwa wisatawan dengan masa tinggal 10
hari yang berarti pemasukan pendapatan sebesar US$ 15 milyard. Selain
wisatawan, perkembangan dunia usaha serta globalisasi telah menyebabkan
peningkatan jumlah arus traveler termasuk business travelers di Indonesia.
Pada tahun 1996 terdapat 600 jutas jiwa wisatawan di seluruh dunia, termasuk
5 juta wisatawan Indonesia. Sehingga untuk mencapai target tahun 2005, dalam
jawangka waktu kurang dari 1 windu diperlukan pendayagunaan segala usaha
dalam bidang yang terkait dengan wisata agar dapat dicapai lebih dari 2 kali
wisatawan di Indonesia dan mereka merasa senang untuk tinggal selama 10 hari.
Kesehatan adalah salah satu faktor yang penting dalam menunjang usaha
peningkatan arus wisata. Jika kesehatan makanan dalam perjalanan kurang
terjamin dan kesehatan lingkungan di tempa tujuan tidak memenuhi standar, maka
wisatawan tidak akan memperpanjang lama tinggalnya. Bila ada wisatawan yang
terkena penyakit dapat timbul masalah seperti terjadinya issue wabah diarre di
Bali pada tahun 1992, maka jumlah kunjungan akan menurun sekali. Hal ini perlu
dicegah dan ditanggulangi dengan cepat dan tepat.
Wisatawan nusantara dengan tujuan ke luar negeri juga meningkat, yang perlu
mendapat informasi mengenai aspek kesehatan di negara / daerah tujuan. Bila
krisis moneter di Indonesia berakhir, diperkirakan industri wisata akan segera
bangkit secara signifikan dan menjadi sumber devisa negara yang amat besar,
dengan demikian kesehatan wisata telah menjadi amat penting sebagai salah

2
satu faktor penunjang. Seperti pepata mengatakan Health is not everything, but
without health everything is nothing.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kesehatan pariwisata dimulai sejak berangkat
dari rumah untuk melakukan wisata, selama perjalanan, sampai di tempat tujuan,
dan kembali dengan aman dan nyaman ke tempat asalnya, sehingga wisatawan
tersebut tidak jera untuk kembali mengunjungi daerah wisata yang telah
dikunjunginya. Dalam siklus perjalanan wisata itu, kesehatan wisata termasuk
upaya pencegahan, tindakan pengobatan jika diperlukan dan kesiapan repratiasi
ke tempat yang memadai / ke negara asalnya.
Upaya pencegahan dimulai sebelum melakukan perjalanan. Wisatawan diberi
informasi dan petunjuk oleh biro wisata/klinik wisata melalui brosur yang
disediakan di biro perjalanan mengenai kesehatan dalam perjalanan dan di daerah
tujuan. Misalnya pemberian vaksinasi seperlunya, dan memakan pil untuk
pencegahan malaria, jika di tujuan masih ada malaria. Untuk mempertahankan
keadaan yang baik serta meningkatkan kesehatan lingkungan, diperlukan
kerjasama instansi yang terkait dalam pariwisata, baik Pemerintsah (Departemen
Kesehatan, Pariwisata, Kimpraswil) maupun pihak swasta dalam bidang
perhotelan serta jasa makanan, dll.
Upaya pengobatan dimulai dalam perjalanan dan di daerah tujuan diusahakan
memadai, sesuai dengan standar yang diperlukan, dan mudah serta cepat didapat.
Jika wisatawan jatuh sakit atau mendapat kecelakaan di suatu tempat dimana
pengobatan kurang memadai, disediakan sarana untuk melakukan repratiasi
secepat mungkin ke rumah sakit terdekat atau tempat rujukan lainnya.
Oleh sebab itu perlunya peran perawat dalam mengatasi hal hal yang tidak
diinginkan oleh wisatawan misalnya ketika wisatawan ingin berpergian ke suatu
wilayah yang berisiko mengalami ancaman wabah penyakit maka disinilah peran
serta perawat dalam meminimalisir penyebaran wabah tersebut kepada wisatawan
sehingga wisatawan yang berkunjung merasa aman dan nyaman hingga kembali
ke negara asalnya. Perawat juga saling bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain
untuk mencegah penularan wabah penyakit tentunya sesuai dengan sistem dan
prosedur yang sudah ditetapkan.

3
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep Keperawatan Pariwisata?
2. Apa saja trend isu dalam Keperawatan Pariwisata?
3. Apa pengertian dari Kesehatan Pariwisata?
4. Apa saja ruang lingkup Kesehatan Pariwisata?
5. Apa saja faktor pendukung Kesehatan Pariwisata?
6. Bagaimana upaya perlindungan kesehatan terhadap wisatawan?

1.3 Tujuan Penulisan


A. Tujuan Umum
1. Mengetahui konsep Keperawatan Pariwisata
B. Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengertian Keperawatan Pariwisata
2. Mengetahui apa saja trend isu dalam Keperawatan Pariwisata
3. Mengetahui apa pengertian dari Kesehatan Pariwisata
4. Mengetahui apa saja ruang lingkup Kesehatan Pariwisata
5. Mengetahui apa saja faktor pendukung Kesehatan Pariwisata
6. Mengetahui bagaimana upaya perlindungan kesehatan terhadap wisatawan

1.4 Manfaat Penulisan


Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat guna menambah pengetahuan mengenai
konsep Keperawatan Pariwisata sehingga dapat diaplikasikan dalam dunia kerja.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Keperawatan Pariwisata


Pengertian perawat adalah orang yang mengasuh dan merawat orang lain
yang mengalami masalah kesehatan. Namun pada perkembangannya, pengertian
perawat semakin meluas. Pada saat ini, pengertian perawat merujuk pada
posisinya sebagai bagian dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan
kepada masyarakat secara profesional.

4
Perawat yaitu tenaga profesional yang mempunyai kemampuan, tanggung
jawab dan kewenangan dalam melaksanakan dan memberikan perawatan kepada
pasien yang mengalami masalah kesehatan.
Pengertian Ilmu Keperawatan adalah ilmu yang mempelajari segala hal
tentang cara merawat seseorang. Ruang lingkup ilmu keperawatan mencukup
ilmu-ilmu dasar seperti ilmu alam, ilmu sosial, ilmu dasar keperawatan, ilmu
kesehatan masyarakat dan ilmu aplikatif seperti ilmu perilaku, ilmu biomedik dan
lain-lain.
Ilmu Keperawatan menggunakan pendekatan dan metode penyelesaian
masalah secara ilmiah, ditujukan untuk mempertahankan, memelihara, menopang
dan meningkatkan integritas seluruh kebutuhan dasar manusia. Keperawatan
dikatakan sebagai sains karena melalui proses observasi, eksperimen dan dapat
dipertanggungjawabkan keilmuannya dalam pelaksanaan praktik keperawatan itu
sendiri.
Sebagai suatu disiplin, sekarang keperawatan disebut sebagai suatu ilmu
di mana keperawatan banyak sekali menerapkan ilmu-ilmu dasar seperti ilmu
perilaku, sosial, fisika, biomedik dan lain sebagainya. Selain itu, keperawatan
juga mempelajari pengetahuan inti yang menunjang praktik keperawatan yaitu
fungsi tubuh manusia yang berkaitan dengan sehat dan sakit serta pokok bahasan
pemberian asuhan keperawatan secara langsung kepada klien.

Seorang perawat harus memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang


keperawatan. Sesuai dengan perannya, perawat memiliki kewenangan untuk
memberikan asuhan keperawatan kepada orang lain berdasarkan ilmu dan praktik
yang dimilikinya. Menjadi seorang perawat merupakan salah satu pekerjaan yang
mulia, dengan memberikan perawatan yang benar sesuai dengan ilmu yang
dimilikinya.
Fungsi perawat yang utama adalah membantu pasien atau klien dalam
kondisi sakit maupun sehat, untuk meningkatkan derajat kesehatan melalui
layanan keperawatan. Dalam menjalankan peranny, perawat akan melaksanakan

5
berbagai fungsi yaitu : Fungsi dependen perawat, fungsi independen perawat dan
fungsi interdependen perawat.
1. Fungsi Independen Perawat
Fungsi independen ialah fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain,
dimana perawat dalam menjalankan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan
keputusan sendiri dalam melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhan
dasar manusia.
2. Fungsi Dependen Perawat
Fungsi dependen ialah fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas
atau instruksi dari perawat lain.
3. Fungsi Interdependen Perawat
Fungsi Interdependen ialah fungsi yang dilakukan dalam kelompok tim yang
bersifat saling ketergantungan di antara satu dengan yang lain.
Menurut Institute of Tourism in Britain (sekarang Tourism Society in
Britain) di tahun 1976 merumuskan : Pariwisata adalah kepergian orang-orang
sementara dalam jangka waktu pendek ke tempat-tempat tujuan di luar tempat
tinggal dan bekerja sehari-harinya serta kegiatan-kegiatan mereka selama berada
di tempat- tempat tujuan tersebut: mencakup kegiatan untuk berbagai maksud,
termasuk kunjungan seharian atau darmawisata/ekskursi (dalam Pendit, 1999 :
30).

A. J. Burkart dan S. Malik dalam bukunya yangb berjudul Tourism, Past,


Present, and Future, berbunyi Pariwisata berarti perpindahan orang untuk
sementara dan dalam jangka waktu pendek ke tujuan-tujuan di luar tempat di
mana mereka biasanya hidup dan bekerja, dan kegiatan-kegiatan merekaselama
tinggal di tempat tujua itu (dalam Soekadijo, 2000 : 3).
Sedangkan menurut Profesor Salah Wahab (dalam Yoeti, 1995 : 107),
Pariwisata adalah suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar yang
mendapat pelayanan secara bergantian diantara orang-orang dalam suatu negara
itu sendiri (di luar negeri) meliputi pendiaman dari daerah lain (daerah tertentu,
suatu negara atau suatu benua) untuk sementara waktu dalam mencari kepuasan

6
yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialaminya dimana ia
bertempat tinggal.
Dalam pengertian kepariwisataan terdapat beberapa faktor penting yang
mau tidak mau harus ada dalam batasan suatu defenisi pariwisata. Faktor-faktor
yang dimaksud menurut Yoeti, (1995 : 109) antara lain :
1. Perjalanan itu dilakukan untuk sementara waktu
2. Perjalanan itu dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain
3. Perjalanan itu, walaupun apa bentuknya, harus selalu dikaitkan dengan
pertamasyaan atau rekreasi
4. Orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak mencari nafkah di tempat
yang dikunjunginya dan semata-mata sebagai konsumen di tempat tersebut.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut diatas, beliau memberikan defenisi


pariwisata sebagai berikut :
Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara
waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud
bukan untuk berusaha atau bisnis atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi,
tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna pertamasyaan dan
rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.
Berdasarkan definisi tersendiri dari keperawatan dan pariwisata yang
dijelaskan di atas, maka dapat diketahui bahwa keperawatan pariwisata adalah
suatu pendekatan secara ilmiah, ditujukan untuk mempertahankan dan
meningkatkan terpenuhinya kebutuhan dasar manusia khususnya kebutuhan
psikologi serta pokok bahasan pemberian asuhan secara langsung kepada klien
untuk mencegah dan menanggulangi masalah fisik maupun mental saat seseorang
melakukan suatu rekreasi.
Perkembangan pariwisata global yang demikian pesat saat ini tidak saja
berdampak terhadap peningkatan perekonomian nasional tetapi juga sekaligus
berdampak negatif karena begitu terbukanya peluang masuk keluarnya wabah
penyakit yang dibawa oleh wisatawan dari suatu negara ke negara yang lain yang

7
meliputi penyakit-penyakit yang sedang berjangkit saat ini, penyakit menular baru
(New Emerging Diseases) seperti :
1. Hand Foot and Mouth Diseases (HFMD) di Singapura
2. Rit Valley Fever di Saudi Arabia dan Yaman
Maupun penyakit-penyakit menular lama yang timbul kembali
(Reemerging Diseases) seperti TBC Paru, Malaria, Ebola. Untuk mengantisipasi
ancaman tersebut secara internasional telah diatir oleh Badan Kesehatan Dunia
(WHO) di dalam International Health Regulation (IHR).
Daerah Propinsi Bali merupakan daerah tujuan wisata, untuk menarik para
wisatawan maka daerah harus mampu menyediakan fasilitas yang nyaman, aman
dan menyenangkan bagi para wisatawan sehingga mereka akan senang tinggal di
daerah ini sehingga merupakan promosi bagi wisatawan lainnya. Kenyamanan
dalam perjalanan tentu berhubungan dengan jaminan pada wisatawan untuk selalu
sehat selama perjalanan. Untuk itu perlu upaya perlindungan kesehatan pada
wisatawan.

2.2 Trend Isu dalam Keperawatan Pariwisata


Trend isu dalam keperawatan pariwisata meliputi beberapa aspek
diantaranya sebagai berikut:
a. Kesehatan Wisata
b. Penyakit Menular saat Berwisata
c. Higiene dan Sanitasi Daerah Tujuan Wisata
d. Traveller Diarrhea
e. Surveilans Penyakit Menular pada Tourist Service
f. Animal Bite During Travelling
g. Kecelakaan Rekreasi Air
h. Gangguan Kesehatan dan Kecelakaan akibat Transportasi
i. Imunisasi untuk Wisatawan
j. Manajemen Pelayanan Kesehatan dengan Health Insurance

2.3 Kesehatan Pariwisata


Kesehatan wisata dimulai sejak berangkat dari rumah untuk melakukan
wisata, selama perjalanan sampai di tempat tujuan dan kembali dengan aman dan

8
nyaman ke tempat asalnya sehingga wisatawan tersebut `tidak jera untuk kembali
mengunjungi daerah wisata yang telah dikunjunginya.
Dalam siklus perjalanan wisata itu, kesehatan wisata termasuk upaya
pencegahan penyakit, tindakan pengobatan jika diperlukan dan kesiapan repatriasi
ke tempat yang memadai/ke negara asalnya.
Upaya pencegahan dimulai sebelum melakukan perjalanan. Wisatawan
diberi informasi dan petunjuk oleh biro wisata/klinik wisata melalui brosur yang
disediakan di biro perjalanan mengenai kesehatan dalam perjalanan dan di daerah
tujuan. Misalnya pemberian vaksinasi seperlunya, dan memakan pil untuk
pencegahan malaria, jika di tujuan masih ada malaria. Untuk mempertahankan
keadaan yang baik serta meningkatkan kesehatan lingkungan, diperlukan
kerjasama instansi yang terkait dalam pariwisata, baik Pemerintsah (Departemen
Kesehatan, Pariwisata, Kimpraswil) maupun pihak swasta dalam bidang
perhotelan serta jasa makanan, dll.
Upaya pengobatan dimulai dalam perjalanan dan di daerah tujuan
diusahakan memadai, sesuai dengan standar yang diperlukan, dan mudah serta
cepat didapat. Jika wisatawan jatuh sakit atau mendapat kecelakaan di suatu
tempat dimana pengobatan kurang memadai, disediakan sarana untuk melakukan
repratiasi secepat mungkin ke rumah sakit terdekat atau tempat rujukan lainnya.

2.4 Ruang Lingkup Pariwisata


Kesehatan pariwisata sendiri sebenarnya dapat dibagi dua yaitu kesehatan
pariwisata fisik dan psikis. Kesehatan parwisata fisik meliputi sarana untuk
penyembuhan penyakit kulit, relaxation, dan kecantikan sementara kesehatan
psikis terdiri dari penyembuhan akibat obat-obat terlarang, depresi, dan gangguan
mental. Kesehatan pariwisata psikis biasanya dilakukan di rumah peristirahatan,
rumah sakit dan pesantren serta hanya terbatas pada pengunjung yang memang
menderita penyakit dan tidak dapat dinikmati oleh rekan, keluarga, dan sanak
keluarga walaupun pada masa sekarang sudah mulai dikembangkan untuk bisa
pula dinikmati oleh keluarga terdekat.
Jenis kesehatan pariwisata fisik yang berkaitan dengan kecantikan
biasanya berupa spa, salon kecantikan dan pemandian air panas. Jenis kesehatan

9
pariwisata ini lebih bisa dinikmati oleh segala lapisan masyarakat karena relatif
lebih murah, banyak pilihan, dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja sesuai
dengan kemampuan finansial masing-masing.

2.5 Peran Keperawatan dalam Medical Tourism


Perawat memiliki peran ganda dalam wisata medis (Medical Tourism),
yaitu untuk membantu klien menemukan lokasi yang tepat di negaramana untuk
mendapatkan perawatan yang diinginkan dan juga untuk memperingatkan klien
kemungkinanmengalami resiko dan etika / hukum dilema . Melayani sebagai
koordinatorklien dapat menjadi peran keperawatan lebih umum dalam wisata
medis.
Mengingat pertanyaan etika dan hukum disebutkan di atas , bersama
dengan probabilitas bahwa pariwisata medis akan terus sebagai daerah
pertumbuhan kesehatan , perlu untuk mengajukan pertanyaan penting tentang
peran ini . Pertanyaan yang perlu diajukan adalah sebagai berikut :
1. Kualifikasi apa yang diperlukan untuk seorang perawat yang bekerja
di bidang pariwisata medis?
2. Apakah kualifikasi ini mencakup keterampilan canggih klinis,
keterampilan bisnis , dan latar belakang yang kuat dalam keperawatan
transkultural ?
3. Persiapan apa harus perawat lakukan untuk peran ini ?
4. Apa tantangan tertentu yang terkait dengan keperawatan dalam
konteks ini ?
Hal ini penting untuk menanyakan apakah perawat yang terlibat dalam
pariwisata medis menyadari potensi masalah medis / etika / hukum dikutip
sebelumnya atau apakah mereka hanya percaya bahwa mereka secara aktif
memberikan kontribusi untuk perawatan orang-orang yang tidak akan menerima
perawatan yang diperlukan di negara asal mereka . Program harus dikembangkan
untuk lebih mempersiapkan perawat untuk tanggung jawab yang terlibat dalam
industri pariwisata ini tumbuh medis. Akan masuk akal untuk mengharapkan
seperti kursus studi akan mencakup unsur-unsur yang kuat transkultural , serta

10
bisnis dan manajemen studi , dan diskusi etika dan hukum yang berkaitan dengan
perawatan pasien .
Perawat yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang pariwisata medis
dapat melakukannya dalam beberapa cara . Langkah pertama akan meningkatkan
basis pengetahuan dan keterampilan di bidang bisnis dan manajemen karena
pariwisata medis pada dasarnya adalah sebuah bisnis . Perawat tertarik di bidang
ini juga didorong untuk mencari di Internet untuk mengidentifikasi rumah sakit
yang memiliki pusat pariwisata medis dan untuk menghubungi perawat yang
bekerja langsung di pusat-pusat tersebut. Selain itu , konferensi menghadiri
dirancang bagi para profesional kesehatan tertarik pariwisata medis akan menjadi
langkah berharga dalam belajar lebih banyak tentang bidang ini . Baru-baru ini
ada beberapa konferensi yang berfokus pada pariwisata medis bagi para
profesional kesehatan .
Perawat dapat memperoleh informasi berharga dengan mengikuti
berbagai kuliah yang disajikan pada konferensi ini dan juga dengan membuat
kontak dengan orang lain di lapangan untuk belajar langsung dari para
profesional yang sudah berpengalaman dalam pariwisata medis.

2.6 Faktor Pendukung Kesehatan Pariwisata


Pariwisata dapat mempengaruhi tidak hanya kesehatan pengunjung tetapi juga
kesehatan masyarakat penjamu. Hal-hal yang berpengaruh terhadap kesehatan
pariwisata diantaranya :
b. Kondisi lingkungan Kondisi lingkungan tempat wisata memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap kesehatan wisatawan. Wisatawan umumnya rentan
tehadap mikroorganisme, dan juga kondisi lingkungan fisik yang berbeda dari
daerah asal mereka. Lingkungan yang bersih dijadikan indikator kualitas oleh
wisatawan karena menunjukkan perhatian otoritas setempat terhadap masalah
kesehatan lingkungan.
c. Makanan dan minuman Kejadian yang muncul umumnya berhubungan
dengan konsumsi makanan atau minuman yang tidak higienis yang
mengakibatkan gangguan saluran pencernaan. Namun masalah tersebut bisa

11
dikontrol melalui penerapan prosedur standar untuk pengelolaan makanan dan
sanitasi lingkungan.
d. Upaya pencegahan, pendidikan dan promosi kesehatan masyarakat Hal ini
termasuk kesehatan lingkungan adalah fundamental dan dapat membawa
perubahan sikap dan perilaku yang dapat mengurangi risiko-risiko terjadinya
pemerosotan kesehatan pariwisata.

2.7 Upaya Perlindungan Kesehatan terhadap Wisatawan


Kesehatan tidak hanya berarti sehat secara fisik tetapi juga sehat secara mental,
sosial dan spiritual. Dengan demikian upaya perlindungan keseharan terhadap
wisatawan meliputi empat faktor tersebut, antara lain :
1. Makanan dan minuman yang sehat sehingga tidak menimbulkan gangguan
pencernaan (diare).
2. Tempat wisata yang aman sehingga tidak menimbulkan kecelakaan (masuk di
lumpur panas di Lahendong, tenggelam di taman laut bunaken).
3. Wisatawan merasa aman dan tidak di teror dalam istorahatnya / suasana yang
nyaman (tidak bisa tidur, ditakut-takuti, ditonton, dsb).
4. Wisatawan perlu keamanan sosial, tidak dirampok/dicuri barang-barangnya.
5. Wisatawan dapat melakukan ibadahnya sesuai dengan kepercayaan/agama
masing-masing.
6. Dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memenuhi standar pelayanan
bila mereka jatuh sakit.
7. Bila diperlukan dapat melakukan evakuasi secara cepat ke negara tempat
asalnya.
Pedoman bagi usaha pariwisata dalam mengupayakan kesehatan wisata di tempat
usaha :
a. Obyek Wisata
1. Mengupayakan lingkungan yang bersih setiap waktu, demikian juga
fasilitas restoran dan WC umum.
2. Menyediakan tempat-tempat pembuangan sampah dalam jumlah memadai
di tempat-tempat strategis.

12
3. Menyediakan fasilitas pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan.
4. Pemberian papan-papan peringatan pada tempat-tempat yang rawan
kecelakaan yang dapat membahayakan pengunjung.
b. Akomodasi, Hotel dan Restoran
1. Menjaga kebersihan kamar hotel, ruangan restoran, seluruh fasilitas dan
perlengkapan.
2. Mengupayakan lingkungan yang bebas lalat, nyamuk, tikus dan binatang
pengganggu lainnya.
3. Mengupayakan semua fasilitas yang ada seperti : salon, kolam renang
dalam keadaan bersih dan bebas hama.
4. Menyediakan pakaian seragam yang bersih, sopan dan menarik untuk
petugas pelayanan.
5. Menciptakan lingkungan yang bersih dan suasana asri sehingga tamu
dapat menikmati hidangan penuh selera.
6. Menciptakan standar kebersihan untuk badan dan pengolahan makanan
dan minuman termasuk peralatan.
7. Selalu menggunakan sarung tangan plastik bila mencuci peralatan dapur
dan juga pakaian tamu.
8. Bertindaklah yang bijaksana bila menjumpai tamu yang kurang sehat,
berikan informasi yang benar mengenai apa yang harus dilakukan.
c. Biro Perjalanan Wisata
1. Menjaga agar armada angkutan yang dimiliki beserta perlengkapannya
dalam kondisi bersih dan berfungsi dengan baik.
2. Bis wisata harus tersedia perlengkapan: tong sampah dan kotak P3K
(Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan).
3. Meletakkan pesan-pesan untuk tidak merokok dalam bis pada
tempattempat yang mudah terlihat.
4. Mewaspadai mereka yang kelihatan kurang sehat dalam perjalanan.
Berikan saran simpatik untuk mengatasi kondisi kurang sehat tersebut.
5. Mengupayakan penampilan yang bersih, baik fisik maupun pakaian para
petugas dan pramuwisata.
d. Imunisasi Untuk Wisatawan
Bila bermaksud mengadakan perjalanan ke luar negeri, selain
rencanakan terlebih dahulu, misalnya 2 bulan sebelumnya, khususnya untuk
kebutuhan vaksinasi, karena ada negara-negara tertentu yang
merekomendasikan untuk divaksinasikan dahulu, seperti vaksinasi menginitis

13
bagi yang akan pergi ke Saudi Arabia (Jemaah Haji), vaksinasi yellow fever
untuk yang akan pergi ke Afrika.
Ada 3 jenis imunisasi:
1. Routinel Immunization: DPT, POLIO, CAMPAK, INFLUENZA.
2. Required Immunization: Yellow Fever, Cholera, Meningococcal
Meningitis.
3. Recommended Immunization: Hepatitis A & B, Typhoid Fever, Japanese
Encephalitis, Cholera, Rabies.

BAB III

14
PENUTUP

3.1 Simpulan
Perkembangan pariwisata global yang demikian pesat saat ini tidak saja
berdampak terhadap peningkatan perekonomian nasional tetapi juga sekaligus
berdampak negatif karena begitu terbukanya peluang masuk keluarnya wabah
penyakit yang dibawa oleh wisatawan dari suatu negara ke negara yang lain yang
meliputi penyakit-penyakit yang sedang berjangkit saat ini, penyakit menular baru
(New Emerging Diseases).
Kesehatan wisata dimulai sejak berangkat dari rumah untuk melakukan
wisata, selama perjalanan sampai di tempat tujuan dan kembali dengan aman dan
nyaman ke tempat asalnya sehingga wisatawan tersebut `tidak jera untuk kembali
mengunjungi daerah wisata yang telah dikunjunginya.
Kesehatan pariwisata sendiri sebenarnya dapat dibagi dua yaitu kesehatan
pariwisata fisik dan psikis. Kesehatan parwisata fisik meliputi sarana untuk
penyembuhan penyakit kulit, relaxation, dan kecantikan sementara kesehatan
psikis terdiri dari penyembuhan akibat obat-obat terlarang, depresi, dan gangguan
mental.
Kesehatan pariwisata psikis biasanya dilakukan di rumah peristirahatan,
rumah sakit dan pesantren serta hanya terbatas pada pengunjung yang memang
menderita penyakit dan tidak dapat dinikmati oleh rekan, keluarga, dan sanak
keluarga walaupun pada masa sekarang sudah mulai dikembangkan untuk bisa
pula dinikmati oleh keluarga terdekat.

3.2 Saran
Kepada para mahasiswa khususnya keperawatan, diharapkan dapat
memahami konsep keperawatan pariwisata dengan baik, sebagai salah satu bentuk
pembelajaran di kelas yang penting untuk diketahui, sebelum terjun dalam dunia
kesehatan wisata yang sebenarnya. Terlebih, Indonesia sebagai pulau yang cukup
banyak diminati wisatawan, maka kesehatan pun harus ditingkatkan utamanya

15
dalam sektor wisata. Dengan penerapan tersebut, diharapkan keperawatan
berbasis pariwisata memiliki masa depan yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA

16
Junior Udara. 2011. Kesehatan Pariwisata. (online). Available:
http://udarajunior.blogspot.co.id/2012/09/kesehatan-pariwisata.html (27
Februari 2016, 14.00 WITA)

Nisya Rifiani dan Hartanti Sulihandari, 2013. Prinsip-Prinsip Dasar Keperawatan.


Penerbit Dunia Cerdas : Jakarta.

Oksfriani. 2011. Konsep Umum Kesehatan Wisata. (online). Available:


https://okshealthenv.wordpress.com/2011/08/05/kesehatan-wisata/ (27
Februari 2016, 20.54 WITA)

Pendit. S, Nyoman. 1999, Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana, Jakarta:


Pradnya Paramita.

Soekadijo. R. G. 2000, Anatomi Pariwisata, Memahami Pariwisata Sebagai


Sistematic Linkage, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Yana Kresna, 2013. Peran Keperawatan dalam Medical Tourism (online). Available:
https://www.scribd.com/doc/187149510/Peran-Keperawatan-Dalam-Medical-
Tourism (27 Februari 2016, 21.10 WITA)

Yoeti, Oka. A. 1995, Pengantar Ilmu Pariwisata, Jakarta : Angkasa.

17