Anda di halaman 1dari 7

A.

Definisi Koflik
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, konflik adalah percekcokan,
perselisihan atau pertentangan baik dari segi pemikiran atau kebijakan. Sejak
jaman dahulu hingga sekarang konflik masih sering terjadi bahkan kian
meluas dalam berbagai hal. Konflik juga dapat terjadi dalam dunia
keperawatan dan yang lainnya.
Konflik diartikan sebagai bentuk perselisihan antara sikap
bermusuhan atau kelompok penentang ide-ide ( Gillies, 1994). Konflik
sebagai masalah internal dan eksternal yang terjadi sebagai akibat dan
perbedaan pendapat, nilai-nilai, atau keyakinan dari dua orang atau lebih
( Marquis dan Huston, 1998).
Swansburg (2000), menjelaskan bahwa konflik berhubungan dengan
perasaan diabaikan, tidak dihargai, serta beban berlebihan yang timbul dari
interaksi antara interaksi perawat dengan perawat, perawat dengan pasien,
perawat dengan keluarga dan pengunjung, perawat dengan dokter, dan lain-
lain. Sedangkan manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi
antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik.

B. Penyebab Konflik
Banyak penyebab yang dapat memicu tejadinya konflik, bisasanya
paling sering terjadi antara suatu kelompok hingga organisasi, dan banyak
faktor yang dapat menyebabkan konflik itu muncul. Baik yang berawal dari
dalam diri individu atau merespon terhadap perubahan yang terjadi.
Mempertahankan keinginan atau merubahnya juga dapat menimbulkan
konfik baik dalam diri maupun dalam organisasi. Faktor-faktor yang
bertanggung jawab terhadap terjadinya konflik, yaitu:
1. Perilaku Menentang, sebagai bentuk dari ancaman terhadap suatu dialog
rasional, dapat menimbulkan gangguan protocol penerimaan untuk interaksi
dengan orang lain, berupa verbal dan nonverbal. Contoh perilaku
menentang, seperti menolak, menggerutu, kepatuhan semu, dan atau
menolak untuk berpartisipasi.
2. Stress timbul disebabkan oleh banyaknya stressor dalam lingkungan kerja.
Kondisi stress dapat menyebabkan adanya tekakan mental pada seseorang
bila bersinggungan padasedikit saja masalah dapat memicu terjadinya
konflik.
3. Kondisi ruangan, terlalu sempit atau tidak kondusif dalam melalukan
kegiatan rutin. Sehingga mudah terjdi konflk, baik antar pengunjung pasien
di ruangn yang sempit atau hubungan moton di dalam lingkungan tersebut.
4. Kewenangan, antara dokter dan perawat yang berlebihan, dan tidak saling
mengindahkan usulan-usulan. Contoh : Adanya jarak yang jauh antara
dokter dan perawat dapat memperlambat penyembuhan pasien, mungkin
disebabkan oleh keengganan perawat menyampaikan perkembangan pasien
dan sifat ketus dokter kepada perawat yang menyebabkan terjadinya
keengganan.
5. Penyebab lainnya, diakibatkan oleh adanya perbedaan nilai dan keyakinan
antara tim kesehatan atau antara tim kesehatan dengan keluarga pasien.
Seperti terjadinya eksldusifisme, yaitu pemikiran kelompok tertentu
memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan kelompok lainnya.
6. Peran ganda, seorang perawat yang berperan lebih dan satu peran hampir
pada waktu yang bersamaan, masih merupakan fenomena jamak dalam
pelayanan tatanan kesehatan baik komunitas maupun rumah sakit, sehingga
terjadi kebingungan dalam mendahulukan penyelesaian dan kegagalan
tanggung jawab serta tanggung gugat untuk suatu tugas pada individu atau
kelompok.
7. Kekurangan sumber daya inisiasi, merupakan penyebab absolute terjadinya
konflik. Contohnya, persaingan yang berorientasi pada uang (money
orientated) dalam memperebutkan klien, jabatan atau kedudukan.
8. Perubahan. Perubahan yang terjadi cepat atau lambat dapat menyebabkan
terjadinya konflik. Terjadi pada individu yang tidak siap perubahan atau
sebaliknya yang sangat menginginkan perubahan.
9. Komunikasi. Penyampain informasi yang tidak seimbang dapat merusak
tatanan organisasi maupun suatu hubungan. Penggunaan bahan dan media
yang tidak efektif akan menyebabkan terjadinya kecemburuan sosial
maupun konflik yang merusak.

C. Kategori konflik
Konflik dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu, konflik intrapersonal,
interpersonal, dan antar kelompok.
1. Intrapersonal.
Konflik yang terjadi pada individu sendiri. Keadaan ini merupakan
masalah internal untuk mengklarifikasi nilai dan keinginan dari konflik
yang terjadi.
2. Interpersonal.
Konflik interpersonal terjadi antara dua orang atau lebih di mana
nilai, tujuan dan keyakinan berbeda. Konflik ini sering terjadi karena
seseorang secara konstan berinteraksi dengan orang lain, sehingga
ditemukan perbedaan-perbedaan.
3. Antar kelompok.
Konflik terjadi antar dua atau lebih dari kelompok orang,
departemen, atau organisasi. Sumber konflik jenis ini adalah hambatan
dalam mencapai kekuasaan dan otoritas (kualitas jasa layanan), serta
keterbatasan prasarana.
D. Proses Konflik

Proses konflik dibagi menjadi beberapa tahapan antara lain :

1. Konflik Laten
Tahapan konflik yang terjadi terus menerus (laten) dalam suatu
organisasi. Misalnya, kondisi tentang keterbataan staf dan perubahan yang
cepat. Kondisi tersebut memicu pada ketidak stabilan suatu organisasi dan
kualitas produksi, meskipun konflik yang ada kadang tidak tampak secara
nyata atau tidak pernah terjadi.

2. Konflik yang dirasakan (Felt conflict)


Konflik yang terjadi karena adanya suatu yang dirasakan sebagai
ancaman, ketakutan, tidak percaya, dan marah. Konflik ini disebut juga
sebagai konflik affectives. Hal ini penting bagi seseorang untuk
menerima konflik dan tidak merasakan konflik tersebut sebagai suatu
masalah/ancaman terhadap keberadaannya.

3. Konflik yang nampak / sengaja ditimbulkan (Manifest Conflict)


Konflik yang sengaja dimunculkan untuk mencari solusi. Tindakan
yang dilaksanakan mungkin menghindar, kompetisi, debat atau mencari
penyelesaian konflik. Setiap orang tidak sadar belajar menggunakan
kompetisi, kekuatan dan agresivitas dalam menyelesaikan konflik dalam
perkembangannya. Sedangkan penyelesaian konflik dalam suatu
organisasi, memerlukan suatu upaya dan strategi untuk mencapai tujuan
organisasi.

4. Resolusi konflik
Resolusi konflik adalah suatu penyelesaian masalah dengan cara
memuaskan semua orang yang terlibat di dalamnya dengan prinsip win-
win solution.

5. Konflik Aftermatch
Konflik yang terjadi akibat dari tidak terselesaikannya konflik yang
pertama. Konflik ini akan menjadi masalah besar kalau tidak segera diatasi
atau dikurangi penyebab dari konflik yang sama
E. Strategi penyelesaian konflik
Strategi penyelesaian konflik dapat dibedakan menjadi 6, yakni:

1. Kompromi atau negosiasi


Suatu strategi penyelesaian konflik dimana semua yang terlibat
saling menyadari dan sepakat pada keinginan bersama. Penyelesaian
strategi ini sering diartikan sebagai lose-lose situation. Kedua unsur yang
terlibat meyerah dan menyepakati hal yang telah dibuat. Di dalam
manajemen keperawatan, strategi ini sering digunakan oleh middle dan top
manajer keperwatan. (Nursalam, 2009)
Ketika masing-masing pihak yang berkonflik berusaha mengalah
dalam satu atau lain hal, terjadilah tindakan berbagi, yang mendatangkan
kompromi. Dalam maksud kompromis (compromising), tidak jelas siapa
yang menang siapa yang kalah. Alih-alih, muncul kesediaan dari pihak-
pihak yang berkonflik untuk membatasi objek konflik dan menerima solusi
meski sifatnya sementara. Karena itu ciri khas maksud kompromis adalah
bahwa masing-masing pihak rela menyerahkan sesuatu atau
megalah.contohnya bisa berupa kesediaan untuk menerima kenaikan gaji 2
dollar per jam dan bukannnya 3 dollar, untuk menerima kesepakatan parsial
dengan sudut pandang tertentu, dan untuk mengaku turut
bertanggungjawab atas sebuah pelanggaran. (Robbins, 2008)

2. Kompetensi
Strategi ini dapat diartikan sebagai win/lose penyelesaian konflik.
Penyelesaian ini menekankan bahwa hanya ada satu orang atau kelompok
yang menang tanpa mempertimbangkan yang kalah. Akibat negatif dari
strategi ini adalah kemarahan, putus asa, dan keinginan untuk perbaikan di
masa mendatang. (Nursalam, 2009)
Ketika seseorang berusaha memperjuangkan kepentingannya
sendiri, tanpa memedulikan dampaknya atas pihak lain yang berkonflik,
orang dapat kita katakan sedang bersaing (competing). Contoh dari
perilaku ini mencakup maksud untuk mencapi tujuan anda dengan
mengurbankan tujuan orang lain, berupaya meyakinkan orang lain bahwa
kesimpulan anda benar dan kesimpulan ia salah, dan mencoba membuat
orang lain dipesalahkan atas suatu masalah. (Robbins, 2008)

3. Akomodasi
Ketika salah satu pihak berusaha menyenangkan hati lawannya,
pihak tersebut kiranya akan bersedia menempatkan kepentingan lawan
diatas kepentingannya sendiri. Dengan kata lain, agar hubungan tetap
terpelihara, salah satu pihak bersedia berkurban. Kita menyebut maksud ini
sebagai akomodatif (accommodating). Contohnya adalah kesediaan untuk
mengurbankan kepentingan Anda sehingga tujuan pihak lain dapat tercepai,
mendukung pendapat orang lain meskipun Anda sebenarnya enggan, serta
memaafka seseorang atas suatu pelanggaran dan membuka pintu bagi
pelanggaran selanjutnya. (Robbins, 2008)
Istilah lain yang sering digunakan adalah cooperative. konflik ini
berlawanan dengan kompetisi. Pada strategi ini seseorang berusaha
mengakomodasi permasalahan, dan memberi kesempatan pada orang lain
untuk menang. Masalah utama pada strategi ini sebenarnya tidak
terselesaikan strategi ini biasanya digunakan dalam politik untuk merebut
kekuasaan dengan berbagai konsekuensinya. (Nursalam, 2009)

4. Smoothing
Teknik ini merupakan penyelesaian konflik dengan cara
mengurangi kompnen emosional dalam konflik. Pada strategi ini, individu
yang terlibat dalam konflik berupaya mencari kebersamaan daripada
perbedaan dengan penuh kesadaran dan introspeksi diri. Strategi ini bisa
diterapkan pada konflik yang ringan, tetapi untuk konflik yang besar,
misalnya persaingan pelayanan/hasil produksi,tidak dapat dipergunakan.
(Nursalam, 2009)

5. Menghindar
Semua yang terlibat dalam konflik, pada strategi ini menyadari
tentang masalah yang dihadapi, tetapi memilih untuk menghindar atau
tidak menyelesaikan masalah. Strategi ini biasanya dipilih bila ketidak
sepakatan membahayakan kedua pihak, biaya penyelesaian lebih besar
daripada menghindar, atau perlu orang ketiga dalam menyelesaikannya,
atau jika masalah dapat terselesaikan dengan sendirinya. (Nursalam, 2009)
Seseorang mungkin mengakui adanya konflik namun ia ingin
menarik diri atau menekannya. Contoh-contoh dari perilaku meghindar
(avaiding) adalah mencoba mengabaikan sesuatu konflik dan menghindari
orang lain yang tidak bersepakat dengan anda. (Robbins, 2008)

6. Kolaborasi
Strategi ini merupakan strategi win-win solution. Dalam
kolaborasi, kedua unsur yang terlibat menentukan tujuan bersama dan
bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan. Karena keduanya meyakini
akan tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan, masing-masing
meyakininya. Strategi kolaborasi tidak akan bisa berjalan bila kompetisi
insentif sebagai bagian dari situasi tersebut, kelompok yang terlibat tidak
mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan masalah, dan tidak adanya
kepercayaan dari kedua kelompok atau seseorang. (Nursalam, 2009)
Ketika setiap pihak yang berkomplik berkeinginan untuk bersama-
sama memperjuangkan kepentingan kedua belah pihak, dapat dikatakan
mereka sedang bekerjasama dan mengupayakan hasil yang sama-sama
menguntungkan. Dalam bekerja sama (collaborating), maksud para pihak
adalah menyelesaikan masalah dengan memperjelas perbedaan ketimbang
mengakomodasi sudut pandang. Contohnya adalah upaya untuk mencari
solusi menang-menang yang memungkinkan tujuan belah pihak
sepenuhnya tercapai dan pencarian kesimpulan yang menyatakan wawasan
yang valid dari kedua belah pihak. (Robbins, 2008)
DAFTAR PUSTAKA

Hidayah nur. 2012. Manajemen keperawatan. Makassar. Alauddin University Press.

Nursalam, M. Nurs, (Hons). 2009. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik


Keperawatan profesional Edisi kedua, Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam, M. Nurs, (Hons). 2012. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik


Keperawatan profesional Edisi ketiga, Jakarta: Salemba Medika.

Robbins, S, 2008. Perilaku Organisasi jilid 12. Jakarta: Salemba Empat.

Swansburg, Russel C. 2000, Pengantar Kepemimpinan dan manajemen keperawatan.


Jakarta: EGC