Anda di halaman 1dari 25

VIOLENCE, SEX, PORN, DAN GENDER PADA MEDIA

ANALISIS SEMIOTIKA TERHADAP FILM CLOCKWORK ORANGE


KARYA STANLEY KUBRICK

Ditulis Sebagai Pemenuhan Tugas Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah
Literasi Media

Dosen Pengampu:

Nindi Aristi, S.Sos., M.Comn.

Disusun Oleh:

Fatwa Al Faruq

210110150246

Kelas A

Program Studi Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Komunikasi

Universitas Padjadjaran

Jatinangor

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT. atas limpahan berkat dan rahmat dari-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang akan menganalisis
semiotika yang terdapat dalam film Clockwork Orange karya Stanley Kubrick.

Semoga makalah ini dapat digunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk,
maupun pedoman bagi pembaca maupun diri penulis sendiri nantinya dalam
memahami seluk-beluk semiotika. Sebagaimana dikatakan, Manusia tidak dapat
hidup tanpa tanda, karena tanda sudah digunakan bahkan sejak adanya peradaban
manusia, sampai sekarang pun tanda-tanda masih kita gunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat menambah khazanah
pengetahuan dan pemahaman para pembaca, khususnya juga bagi penulis sendiri.

Bak kata pepatah Tak ada gading yang tak retak, penulis mengakui
masih banyak terdapat kekurangan/kesalahan yang disebabkan masih kurangnya
pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan pembaca untuk dapat memberikan masukan berupa kritik dan
saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini dan demi
perkembangan diri penulis sendiri.

Jatinangor, 23 Desember 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1

BAB II FOKUS ANALISIS ........................................................................ 3

2.1 Latar Belakang Film Clockwork Orange.................................... 3

2.2 Visualisasi dan Deskripsi per Adegan........................................ 5

BAB III KAJIAN PUSTAKA ................................................................... 14

3.1 Teori Media Violence.............................................................. 14

3.2 Teori Stereotip Gender pada Media.......................................... 14

3.3 Teori Behaviorisme................................................................... 15

3.4 Teori Totalisme......................................................................... 15

3.5 Teori Semiotika........................................................................ 15

BAB IV ANALISIS SEMIOTIKA ........................................................... 17

BAB V PENUTUP ..................................................................................... 21

5.1 Kesimpulan ............................................................................... 21

5.2 Saran ......................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 22

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu faktor penting dalam lingkungan sosial masyarakat modern saat ini adalah
media massa. Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi ini telah menyedot perhatian
para ahli untuk mengurai dampakdampaknya bagi kehidupan manusia. Salah satu dari
masalah yang banyak diperdebatkan oleh pada ahli adalah efek terpaan kekerasan di media
massa, apakah memiliki efek negatif, seberapa besar pengaruhnya, dan apakah terdapat
faktorfaktor lain yang juga turut berperan. Selain mengandung unsur kekerasan, media juga
tidak jarang menampilkan stereotip gender.

Media merupakan salah satu saluran komunikasi yang berfungsi untuk menyebarkan
atau menyimpan informasi atau data kepada khalayak 1. Salah satu output dari media tersebut
adalah film.

Media massa kini berdampak pada gaya hidup masyarakat sekarang ini yang menjadi
modern. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh media massa yang sifatnya mengikuti
perkembangan yang ada.

Film, juga dikenal sebagai movie, gambar hidup, film teater atau foto bergerak,
merupakan serangkaian gambar diam, yang ketika ditampilkan pada layar akan menciptakan
ilusi gambar bergerak karena efek fenomena phi. Ilusi optik ini memaksa penonton untuk
melihat gerakan berkelanjutan antar objek yang berbeda secara cepat dan berturut-turut.
Proses pembuatan film merupakan gabungan dari seni dan industri. Sebuah film dapat dibuat
dengan memotret adegan sungguhan dengan kamera film; memotret gambar atau model
miniatur menggunakan teknik animasi tradisional; dengan CGI dan animasi komputer; atau
dengan kombinasi beberapa teknik yang ada dan efek visual lainnya.

Kata sinema "sinema", yang merupakan kependekan dari sinematografi, sering


digunakan untuk merujuk pada industri film, pembuatan film dan seni pembuatan film.
Definisi sinema zaman sekarang merupakan seni dalam simulasi pengalaman untuk
mengkomunikasikan ide, cerita, sudut pandang, rasa, keindahan atau suasana dengan cara

1 https://en.wikipedia.org/wiki/Media_(communication) (diakses pada tanggal 23


Desember 2016, pukul 09:20)

1
direkam dan gambar bergerak yang di program bersamaan dengan penggerak sensorik
lainnya2.

2 Severny, Andrei (2013-09-05). "The Movie Theater of the Future Will Be In Your
Mind". Tribeca film. Dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Film (diakses pada
tanggal 23 Desember 2016, pukul 09:23)

2
BAB II

FOKUS ANALISIS

2.1 Latar Belakang Film Clockwork Orange

Clockwork Orange adalah film fiksi ilmiah-kriminal-distopia tahun 1971 yang


diproduksi dan disutradai oleh Stanley Kubrick. Film ini adalah film adaptasi langsung dari
novel tahun 1962 berjudul A Clockwork Orange karya Anthony Burgess. Film ini
menggambarkan adegan-adegan kekerasan dan menyoroti penyakit kejiwaan, kenakalan
remaja, fenomena gang, dan isu-isu sosial, politik, dan ekonomi pada masa depan distopia
Inggris3.

Clockwork Orange sendiri menceritakan pada distopia Inggris di masa depan ada jenis
narkoba baru dalam bentuk susu. Karakter utamanya, Alex, adalah seorang pemuda
kharismatik, namun nakal dan psikopat. Ia dan gangnya senang melakukan kekerasan kepada
masyarakat, mengkonsumsi narkoba, dan melakukan pemerkosaan.

Namun pada suatu hari, anggota gangnya berkhianat dan menjebaknya sehingga ia
ditangkap polisi dan dijebloskan ke penjara. Di dalam penjara, ia menjadi kelinci percobaan
pemerintah. Percobaan itu bertujuan untuk menekan angka kejahatan yang ada, namun
dengan cara menghilangkan kehendak bebas obje penelitian tersebut.

Meskipun film ini sangat kuat menonjolkan adegan kekerasan, pelecehan terhadap
wanita, pornografi, dan narkotika, tetapi penerimaan masyarakat terhadap film ini terhitung
sangat baik. IMDB, salah satu situs kritik film memberikan skor 8,3 dari skor maksimal 10
dan menempatkan film ini pada posisi 79 dalam jajaran 250 film terbaik sepanjang masa
menurut IMDB4. Rotten Tomatoes, situs kritik film yang lain memberikan skor 90% untuk
film tersebut5.

Film yang menghabiskan dana sebesar $2.200.0006 ini berhasil mendapatkan 4 nominasi
pada gelaran 44th Academy Award pada tahun 1972. Selain itu film ini juga berhasil
3 https://en.wikipedia.org/wiki/A_Clockwork_Orange_(film) (diakses pada 23
Desember 2016, pukul 10:40)

4 http://www.imdb.com/title/tt0066921/ (diakses pada 23 Desember 2016, pukul


10:46)

5 https://www.rottentomatoes.com/m/clockwork_orange/ (diakses pada 23


Desember 2016, pukul 10:50)

3
mendapatkan 17 nominasi dari acara penghargaan lain, dan memenangkan 8 penghargaan,
salah satunya adalah Best Foreign Film pada gelaran 33rd Venice International Film Festival
pada tahun 19727.

Clockwork Orange, yang mendapatkan pendapatan sebesar $26.600.000 di Amerika Utara


mendapatkan kritik yang baik dari mayoritas suara kritikus dunia. Seperti contohnya kritik
yang dilontarkan oleh NY Daily News :

Kubrick is not offering violence for the sake of violence. It is there in excess (as are the
phallic symbols) to emphasize the total moral decay. As Kubrick would have it, our future
world is a raging inferno polluted by ultra-violence, a barren place where Manson-like
tribes of young Cockneys prowl about getting their kicks from clubbing drunks and raping
women; and finally a place of wanton disorder where the fine line that separates the law from
the criminal no longer exists.8

Kubrick tidak menawarkan kekerasan hanya demi kekerasan semata. Ada simbol-simbol
kekuasaan yang berlebihan yang menyoroti kerusakan moral. Seperti yang diprediksi
Kubrick, dunia kita di masa depan akan berkecamuk dengan kekerasan, suatu tempat yang
tandus dimana kelompok pemuda berkeliaran dari pengaruh minuman dan memperkosa
wanita; dan terakhir adalah tempat kekacauan terjadi dimana garis pemisah antara hukum dan
kriminal sudah tidak ada lagi

Atau sebuah kritik yang dilontarkan oleh penonton awam di situs IMDB, yaitu varun_iitian9

Another glorifying feature is the central idea of the movie. If a human is striped of the
choice to choose from good and evil, he no longer remains a human, he becomes a
clockwork. When Alex is brain-washed and "programmed" to choose only good, he wasn't

6 A Clockwork Orange (1972)". Box Office Mojo. Dalam


https://en.wikipedia.org/wiki/A_Clockwork_Orange_(film) (diakses dalam 23
Desember 2016, pukul 11:01)

7 http://www.imdb.com/title/tt0066921/awards?ref_=tt_awd (diakses pada 23


Desember 2016, pukul 11: 08)

8 http://www.nydailynews.com/entertainment/movies/clockwork-orange-mind-
shattering-1971-review-article-1.2514068 (diakses pada 23 Desember 2016,
pukul 13:10)

9 http://www.imdb.com/title/tt0066921/reviews?filter=best (diakses pada 23


Desember 2016 pukul 13:30)

4
accepted by the society and this shows the irony in the objectives of the British Government.
The word Orange from the title presumably comes from the word "Ourange" that loosely
means man. And hence the title is so appropriate to the movie.

Fitur lain yang memuaskan adalah ide pokok dari film tersebut. Jika seorang manusia
diambil hak untuk memilih antara baik dan buruk, ia bukan lagi seorang manusia, ia akan
menjadi mesin jam. Ketika Alex dicuci otaknya dan diprogram untuk hanya memilih
kebaikan, ia tetap tidak diterima oleh masyarakat dan ini menunjukkan ironi objektif kepada
pemerintah Inggris. Kata Orange pada judul mungkin datang dari kata Ourange yang secara
bebas berarti pria (manusia). Yang kemudian judulnya sangat berkaitan dengan film tersebut.

Dari situ dapat disimpulkan bahwa masyarakat sangat menyanjung sisi psikoogis dan politik
dari film ini, dengan mengesampingkan faktor kekerasan dan pornografi.

2.2 Visualisasi dan Deskripsi per Adegan

Gambar Adegan Deskripsi

Meja yang berbentuk seakan-


akan menggambarkan tubuh
wanita.

Detik: 1:30
Secara eksplisit ditunjukkan
adegan kekerasan dimana
karakter utama dan
kelompoknya menganiaya
seseorang di jalan.

5
Detik: 3:17
Tabel 1 : Visualisasi dan Deskripsi per Adegan

Gambar Adegan Deskripsi

Ditunjukkan adegan pemerkosaan


seorang wanita yang dilakukan
oleh segerombolan pemuda.

Detik: 5:05

Kembali ditunjukkan adegan


kekerasan berupa perkelahian
antara dua kelompok pemuda.

Detik: 6:17

Lanjutan Tabel 2 : Visualisasi dan Deskripsi per Adegan

6
Gambar Adegan Deskripsi

Ditunjukkan adegan
kekerasan seperti saat
karakter utama dan
kelompoknya membuat
kekacauan dengan
merusak properti di
dalam rumah seseorang
(gambar bawah) dan
melakukan kekerasan
dengan menendang
pemilik rumah tersebut
(gambar atas)

Detik: 11:10 11:30

7
Kembali ditunjukkan
adegan pemerkosaan
seorang wanita.

Detik: 12:32
Lanjutan Tabel 3 : Visualisasi dan Deskripsi per Adegan

Gambar Adegan Deskripsi

Kembali ditunjukkan
ornamen berbentuk tubuh
seorang wanita.

Detik: 13:35

8
Kembali ditunjukkan
secara eksplisit adegan
hubungan seksual.

Detik: 27:20
Lanjutan Tabel 4 : Visualisasi dan Deskripsi per Adegan

Gambar Adegan Deskripsi

Kembali ditunjukkan
secara eksplisit adegan
kekerasan, dan ditambah
ditunjukkannya darah
yang bisa jadi membuat
beberapa penonton
merasa tidak nyaman.

Detik: 33:22

9
Ditunjukkan ornament
berukuran besar yang
berbentuk alat reproduksi
laki-laki.

Detik: 38:54
Lanjutan Tabel 5 : Visualisasi dan Deskripsi per Adegan

Gambar Adegan Deskripsi

Ditunjukkan adegan
dengan bergaya
mesir kuno, tiga
orang wanita yang
menjadi pelayan
seorang laki-laki.

Det
ik: 55:00

10
Ditunjukkan adegan
kekerasan yaitu
sseseorang
menginjak karakter
utama.

Detik: 1:19:08
Lanjutan Tabel 6 : Visualisasi dan Deskripsi per Adegan

Gambar Adegan Deskripsi

Ditunjukkan adegan
tubuh wanita yang
terbuka.

Detik: 1:21:00

11
Ditunjukkan adegan
kekerasan yaitu
pengeroyokan
kepada karakter
utama.

Detik: 1:34:20
Lanjutan Tabel 7 : Visualisasi dan Deskripsi per Adegan

Gambar Adegan Deskripsi

Ditunjukkan adegan
kekerasan yang
dilakukan oleh polisi.

Detik: 1:37:02

12
Ditunjukkan adegan
kekerasan secara
psikis. Dalam
adegan ini, karakter
utama
diperdengarkan
secara keras lagu
yang memicu
Detik: 1:55:22
traumanya.
Lanjutan Tabel 8 : Visualisasi dan Deskripsi per Adegan

Gambar Adegan Deskripsi

Ditunjukkan adegan
tubuh wanita yang
terbuka.

Detik: 1:57:09

13
Kemudian film ini ditutup
dengan ditunjukkan
adegan hubungan seksual
dan ditonton oleh banyak
orang.

Detik: 2:08:12
Lanjutan Tabel 9 : Visualisasi dan Deskripsi per Adegan

BAB III

KAJIAN PUSTAKA

3.1 Teori Media Violence

Terpaan media massa yang mengandung kekerasan oleh banyak ahli diyakini
memiliki kontribusi dalam meningkatkan perilaku agresif (Anderson dan Bushman, 2001;
2002). Meskipun, kekuatan pengaruh dan apakah ia menjadi satusatunya faktor pengaruh
dan dalam kondisi bagaimana terpaan kekerasan di media dapat menunculkan agresivitas
telah pula menjadi perdebatan (Freedman, 1986; FriedrichCofer, Huston, 1986).

Salah satu jenis media massa yang diyakini memiliki pengaruh yang kuat pada
khalayak adalah media audio visual. Kekuatan pengaruh media audio visual disebabkan
media jenis ini tidak hanya mampu mengoptimalkan pesan melalui pendengaran, melainkan
juga penglihatan dan gerakan sekaligus, dimana pesan bergerak memiliki daya tarik lebih
dibandingkan pesan statis. Bagaimana pengaruh tayangan kekerasan di televisi terhadap

14
agresivitas telah ditunjukkan oleh para ahli (Bushman dan Huesman, 2000; Huesmann dan
Miller, 1994; Bushman dan Anderson, 2001; Wood, Wong dan Chachere, 1991 dalam),
demikian juga dengan film (Huesmann, MoiseTitus, Podolski, Eron, 2003 dalam) dan video
games (Sherry, 2001; Anderson dan Bushman, 2001)10.

3.2 Teori Stereotip Gender pada Media

Gender menurut Bell dan Blaeure dalam Sari (2010:174) didefinisikan sebagai harapan
masyarakat mengenai pria dan wanita yang telah dikonstruksikan. Selain itu Butler (1998)
juga menyebutkan bahwa gender sengaja dibangun disesuaikan dengan budaya yang ada,
bukan terjadi secara alamiah11.

Sari (2010:177) menyebutkan bahwa melalui pemberitaan, kisah fiksi ataupun iklan
sebenarnya media massa telah berperan dalam sosialisasi gender. Sehingga apa yang
disosialisasikan oleh media akan membentuk stereotip tertentu. Stereotip merupakan bagian
dari budaya yang diteruskan dan dipercayai oleh masyarakat tertentu.

3.3 Teori Behaviorisme

Behaviorisme menyatakan bahwa organisme lahir tanpa sifat-sifat sosial atau


psikologis; perilaku adalah hasil pengalaman; dan perilaku digerakkan atau dimotivasi oleh
kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan.

Teori ini melahirkan metode pelaziman klasik (classical conditioning). Pelaziman


klasik adalah memasangkan stimulus yang netral atau stimulus terkondisi dengan stimulus
tertentu yang melahirkan perilaku tertentu. Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang,
stimulus yang netral akan menghasilkan respon yang terkondisikan12.

Dalam film Clockwork Orange, karakter utama diberikan apa yang disebut oleh penulisnya
sebagai Ludovico Therapy, dimana ia diberikan obat pemicu rasa takut, bingung, dan mual

10 Milla, M. N. (2006). Pengaruh Terpaan Kekerasan Media AudioVisual. Jurnal


Psikologi Universitas Gadjah Mada, hal 1-2.

11 Perdana, D. D. (2014). Stereotip Gender dalam Film Anna Karenina. Jurnal


Interaksi, 123 - 124.

12 Rakhmat, J. (1985). Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosdakarya.

15
sambil diberikan tayangan kekerasan dalam jangka waktu yang lama, dengan tujuan ia akan
merasa takut, bingung dan mual saat ia melakukan kejahatan13.

3.4 Teori Totalisme

Teori totalisme adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh Robert Jay Lifton. Teori tersebut
menggambarkan karakteristik dari ideologi dan pergerakan organisasi yang menginginkan
kuasa penuh terhadap perilaku dan pemikiran manusia.

Dalam opini Lifton, meskipun percobaan-percobaan tersebut selalu gagal, kegagalan


mereka mengikuti satu pola dan menyebabkan jenis kerusakan psikologi pada individu dan
masyarakat yang dapat diprediksi sebelumnya14.

Dalam film tersebut, dikisahkan bahwa pemerintahan, lewat instansi sosial lembaga
pemasyarakatan (penjara) mempunyai kontrol penuh atas para tahanannya, sampai
melakukan terapi untuk menghilangkan kehendak bebas para tahanan.

3.5 Teori Semiotika

Secara umum, tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi seseorang. ...Pierce
mengatakan bahwa tanda itu sendiri merupakan contoh dari kepertamaan, objeknya adalah
Kekeduaan, dan penafsirnyaunsur pengantaraadalah contoh dari Keketigaan. Keketigaan
yang ada dalam konteks pembentukan tanda juga membangkitkan semiotika yang tak
terbatas, selama suatu penafsir (gagasan) yang membaca tanda sebagai tanda bagi yang lain
(yaitu sebagai wakil dari suatu makna atau penanda) bisa ditangkap oleh penafsir lainnya.
Penafsir ini adalah unsur yang harus ada untuk mengaitkan tanda dengan objeknya (induksi,
deduksi, dan penangkapan [hipotesis] membentuk tiga jenispenafsir yang penting). Agar bisa
ada sebagai suatu tanda, maka tanda tersebut harus ditafsirkan (dan berarti harus memiliki
penafsir)15

Berdasarkan klasifikasi tersebut, Peirce membagi tanda menjadi sepuluh jenis :

1. Qualisign, yakni kualitas sejauh yang dimiliki tanda

13 https://en.wikipedia.org/wiki/Ludovico_technique (Diakses pada 23 Desember


2016, pukul 17:02)

14 https://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Jay_Lifton#Totalism (diakses pada 23


Desember 2016, pukul 17:29)

15 Sobur, A. (2006). Semiotika Komunikasi. Bandung: Rosdakarya.

16
2. Iconic Sinsign, yakni tanda yang memperlihatkan kemiripan
3. Rhematic Indexical Sinsign, yakni tanda berdasarkan pengalaman langsung
4. Dicent Sinsign, yakni tanda yang memberikan informasi tentang seuatu
5. Iconic Legisign, takni tanda yang menginformasikan norma atau hukum
6. Rhematic Indexical Legisign, yakni tanda yang mengacu kepada objek tertentu
7. Dicent Indexical Legisign, yakni tanda yang bermakna informasi dan menunjuk
subjek informasi
8. Rhematic Symbol, yakni tanda yang dihubungkan dengan objeknya melalui asosiasi
ide umum
9. Dicent Symbol, adalaha tanda yang langsung menghubungkan dengan objek melalui
asosiasi dalam otak
10. Argument, yakni tanda yang merupakan iferens seseorang terhadap sesuatu
berdasarkan alasan tertentu

Icon 4 orang pemuda sedang duduk


1 orang sedang berdiri
2 buah patung berbentuk wanita tanpa
BAB IV busana berwarna putih
1 buah kepala patung
ANALISIS Lampu di kanan dan kiri tempat duduk
SEMIOTIKA 2 buah patung berbentuk pada di atas
lampu
Seragam berwarna putih
Topi berwarna hitam
Ruangan berwarna hitam
Sofa berwarna hitam
Gelas yang berisi cairan putih
Index Patung berbentuk wanita tanpa busana
berfungsi sebagai meja
Lampu di kanan dan kiri sebagai
penerangan utama
Cairan putih merupakan minuman
yang akan dikonsumsi
Orang yang berdiri seakan berperan
sebagai penjaga / bodyguard
17
Symbol Tulisan Moloko Vellocet
Baju putih dan topi hitam sebagai
identitas kelompok
Tabel 2.1 Analisis Semiotika 1

Icon 4 orang pemuda sedang berdiri


1 orang sedang berbaring
Cahaya di kejauhan
Jalan
Tembok di kanan kiri dan langit-langit
Topi berwarna hitam
Ruangan berwarna hitam
Tongkat
Index Bentuk bangunan menyerupai
terowongan
Cahaya di kejauhan sebagai
penerangan utama
Karakter utama yang menghunuskan
tongkat kepada orang yang sedang
berbaring
Symbol Baju putih dan topi hitam sebagai
identitas kelompok

Tabel 2.2 Analisis Semiotika 2

18
Icon 4 orang pemuda
1 orang wanita tanpa busana
Bayangan di belakang
Tembok berwarna coklat
Baju berpola loreng-loreng
Celana kulit
Topi berwarna hitam
Sepatu bot
Index Bayangan di belakang menandakan
adanya cahaya dari depan
Wanita yang berpose seolah ingin
melepaskan diri
Para pemuda yang menarik-narik
wanita tersebut
Symbol Kostum loreng-loreng sebagai
identitas kelompok

Tabel 2.3 Analisis Semiotika 3

Icon 1 orang pemuda


1 ornamen besar berbentuk alat
reproduksi pria
Pintu berarna putih
Tembok berpola pohon
Topi hitam
Baju berwarna putih
Topeng
2 buah lukisan wanita tanpa busana
Index Alat reproduksi laki-laki yang dibuat
menjadi ornamen menandakan
pemujaan kepada laki-laki
2 buah lukisan wanita tanpa busana
menunjukkan wanita sebagai objek
untuk dipamerkan
19
Symbol Pakaian putih dan topi hitam sebagai
simbol dari identitas kelompok
Tabel 2.4 Analisis Semiotika 4

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil analisis yang sudah dipaparkan, disimpulkan bahwa pada film Clockwork
Orange mengandung kekerasan dan juga mengandung unsur stereotip gender yang sangat
kuat dan jelas. Fakta ini didukung oleh beberapa adegan diantaranya adalah adegan
pemerkosaan yang seolah-olah menggambarkan wanita hanyalah objek yang semata-mata
hanya digunakan untuk seks. Juga adegan dimana patung wanita berfungsi sebagai meja dan
alat penyimpan minuman yang mana minumannya keluar dari bagian payudara patung

20
tersebut. Hal itu juga menggambarkan seolah-olah wanita ada hanya untuk melayani laki-
laki. Kemudian ada juga adegan pengeroyokan, perkelahian antar geng, dan melukai teman
sesama geng yang menampilkan kekerasan secara eksplisit.

5.2 Rekomendasi

Berdasarkan hasil kesimpulan, penulis menyampaikan saran yang pertama di bidang


akademis di dalam kajian ilmu komunikasi, diharapkan perlu mempertimbangkan kaitannya
dan memperdalam analisisnya dari berbagai teks maupun jurnal tentunya bisa membantu
penelitian-penelitian terhadap penyampaian pesan komunikasi di era dengan teknologi yang
semakin canggih seperti sekarang ini.

Saran yang kedua ditujukan kepada masyarakat yang menjadi konsumen film yang
mungkin mengandung konten kontruksi gender dan kekerasan, agar memilih tontonan sesuai
usia dan ikut turut serta mengawasi anggota keluarga sendiri agar tidak salah dalam memilih
film. Terkadang suatu film bertemakan seperti ditujukan untuk anak-anak (bertema
superhero) namun malah menampilkan adegan kekerasan yang berlebihan secara eksplisit.

Seiring perkembangan teknologi media, seharusnya masyarakat semakin menguatkan


filter diri sendiri agar tidak terbawa arus teknologi dan media yang begitu cepat. Meskipun
teknologi berkembang sangat cepat, namun nilai dan norma dalam diri sendiri tetap harus
dipertahankan untuk menjaga diri dari pengaruh teknologi dan media yang tidak selamanya
baik.

DAFTAR PUSTAKA

A Clockwork Orange (1972)". Box Office Mojo. Dalam


https://en.wikipedia.org/wiki/A_Clockwork_Orange_(film) (diakses dalam 23 Desember
2016, pukul 11:01)

http://www.imdb.com/title/tt0066921/ (diakses pada 23 Desember 2016, pukul 10:46)

http://www.imdb.com/title/tt0066921/awards?ref_=tt_awd (diakses pada 23 Desember 2016,


pukul 11: 08)

21
http://www.imdb.com/title/tt0066921/reviews?filter=best (diakses pada 23 Desember 2016
pukul 13:30)

http://www.nydailynews.com/entertainment/movies/clockwork-orange-mind-shattering-1971-
review-article-1.2514068 (diakses pada 23 Desember 2016, pukul 13:10)

https://en.wikipedia.org/wiki/A_Clockwork_Orange_(film) (diakses pada 23 Desember 2016,


pukul 10:40)

https://en.wikipedia.org/wiki/Ludovico_technique (Diakses pada 23 Desember 2016, pukul


17:02)

https://en.wikipedia.org/wiki/Media_(communication) (diakses pada tanggal 23 Desember


2016, pukul 09:20)

https://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Jay_Lifton#Totalism (diakses pada 23 Desember 2016,


pukul 17:29)

https://www.rottentomatoes.com/m/clockwork_orange/ (diakses pada 23 Desember 2016,


pukul 10:50)

Milla, M. N. (2006). Pengaruh Terpaan Kekerasan Media AudioVisual. Jurnal Psikologi


Universitas Gadjah Mada, hal 1-2.

Perdana, D. D. (2014). Stereotip Gender dalam Film Anna Karenina. Jurnal Interaksi, 123 -
124.

Rakhmat, J. (1985). Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosdakarya.

Severny, Andrei (2013-09-05). "The Movie Theater of the Future Will Be In Your Mind".
Tribeca film. Dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Film (diakses pada tanggal 23 Desember
2016, pukul 09:23)

Sobur, A. (2006). Semiotika Komunikasi. Bandung: Rosdakarya.

22