Anda di halaman 1dari 13

Besaran-besaran listrik

August 11, 2011oktapiyanti Elektronika 6 Comments

Tegangan listrik (Electricity)

Adalah potensi/tekanan listrik dari suatu sumber listrik, besar tegangan listriknya ditentukan
oleh perbedaan potensi antara satu titik dengan titik lainnya. Satuan tegangan listrik adalah
Volt (V) dan mempunyai simbol huruf E. Alat untuk mengukur tegangan listrik adalah
Voltmeter.

Kuat arus (Intensity)

Adalah banyak muatan listrik yang mengalir tiap detik melalui suatu penghantar. Satuan kuat
arus listrik adalah Ampere (A) dan mempunyai simbol I. Alat untuk mengukur kuat arus
listrik adalah Ampere meter.

Hambatan listrik (Resistance)

Adalah rintangan yang dihadapi oleh aliran listrik pada suatu penghantar. Satuan untuk
mengukur hambatan listrik adalah Ohm () dan mempunyai simbol R, alat untuk mengukur
hambatan listrik adalah Ohm Meter.

Dari percobaan yang dilakukan George Simon Ohm menghasilkan Hukum Ohm dan ditulis
dalam bentuk rumus:

Ket :

E = tegangan listrik (Volt)

I = kuat arus listrik (Ampere)

R = hambatan listrik (Ohm)

Daya listrik (Power)

Adalah kekuatan yang dikandung dalam aliran arus dan tegangan listrik melalui hambatan
dengan besaran tertentu. Satuan ukuran daya listrik adalah Watt (W) dan mempunyai simbol
P. Dapat dirumuskan sebagai berikut:

P=ExI
Ket:

P = daya listrik (Watt)

E = tegangan listrik (Volt)

I = kuat arus listrik (Ampere)

Hubungan antara besaran-besaran listrik menghasilkan rumus sbb:

listrik merupakan suatu muatan yang terdiri dari muatan positif dan muatan negatif ,
dimana sebuah benda akan dikatakan memiliki energi listrik apabila suatu benda itu
mempunyai perbedaan jumlah muatan .sedangkan muatan yang dapat berpindah
adalah muatan negatif dari sebuah benda,berpindahnya muatan negatif ini
disebabkan oleh bermacam gaya atau energi, misal energi gerak,energi panas
dsb.perpindahan muatan negatif inilah yang disebut dengan energi listrik.karena
suatu benda akan senantiasa mempertahankan keadaan netral atau seimbang
antara muatan positif dan muatan negative. Sehingga apabila jumlah muatan positif
lebih besar dari muatan negative, maka benda tersebut mencari muatan negative
untuk mencapai keadaan seimbang.

Listrik memiliki besaran-besaran diantaranya sebagai berikut :

1. Tegangan Listrik

Tegangan listik yaitu perbedaan potensial listrik antara dua titik dalam
rangkaian listrik, dan dinyatakan dalam satuan volt. Besaran ini mengukur
energi potensial dari sebuah medan listrik yang mengakibatkan adanya aliran
listrik dalam sebuah konduktor listrik. Tergantung pada perbedaan potensial
listriknya, suatu tegangan listrik dapat dikatakan sebagai ekstra rendah,
rendah, tinggi atau ekstra tinggi. Secara definisi tegangan listrik
menyebabkan obyek bermuatan listrik negatif tertarik dari tempat
bertegangan rendah menuju tempat bertegangan lebih tinggi. Sehingga arah
arus listrik konvensional di dalam suatu konduktor mengalir dari tegangan
tinggi menuju tegangan rendah.

2. Arus Listrik

Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang disebabkan dari pergerakan
elektron-elektron, mengalir melalui suatu titik dalam sirkuit listrik tiap satuan
waktu. Arus listrik dapat diukur dalam satuan couloumb/detik atau Ampere.
Contoh arus listrik dalam kehidupan sehari-hari berkisar dari yang sangat
lemah dalam satuan mikroAmpere seperti di dalam jaringan tubuh hingga
arus yang sangat kuat 1-200 kiloAmpere seperti yang terjadi pada petir.
Dalam kebanyakan sirkuit arus searah dapat diasumsikan resistansi terhadap
arus listrik adalah konstan sehingga besar arus yang mengalir dalam sirkuit
bergantung pada voltabese dan resistansi sesuai dengan hukum ohm.

3. Hambatan Listrik

Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu


komponen elektronik (misalnya resistor ) dengan arus listrik yang
melewatinya. Hambatan listrik yang mempunyai satuan Ohm. yang dapat
dirumuskan dengan

R adalah hambatan (Ohm)


V adalah tegangan (Volt)
I adalah arus (ampere)

4. Gaya Gerak Listrik ( GGL )

Gaya gerak listrik (GGL) adalah besarnya energi listrik yang berubah menjadi
energi bukan listrik atau sebaliknya, jika satu satuan muatan melalui sumber
itu, atau kerja yang dilakukan sumber arus persatuan muatan. dinyatakan
dalam Volt.

5. Muatan Listrik

Muatan listrik adalah muatan dasar yang dimiliki suatu benda, yang
membuatnya mengalami gaya pada benda lain yang berdekatan dan juga
memiliki muatan listrik. Simbol Q sering digunakan untuk menggambarkan
muatan. sistem satuan internasional dari satuan Q adalah coloumb, yang
merupakan 6.24 x 1018 muatan dasar. Q adalah sifat dasar yang dimiliki oleh
materi baik itu berupa proton (muatan positif) maupun elektron (muatan
negatif). Muatan listrik total suatu atom atau materi ini bisa positif, jika
atomnya kekurangan elektron. Sementara atom yang kelebihan elektron akan
bermuatan negatif. Besarnya muatan tergantung dari kelebihan atau
kekurangan elektron ini, oleh karena itu muatan materi/atom merupakan
kelipatan dari satuan Q dasar. Dalam atom yang netral, jumlah proton akan
sama dengan jumlah elektron yang mengelilinginya (membentuk muatan total
yang netral atau tak bermuatan).

6. Kapasitansi

Kapasitans adalah ukuran jumlah muatan listrik yang disimpan (atau


dipisahkan) untuk sebuah potensial listrik yang telah ditentukan. Bentuk
paling umum dari piranti penyimpanan muatan adalah sebuah kapasitor dua
lempeng/pelat/keping. Jika muatan di lempeng/pelat/keping adalah +Q dan
Q, dan V adalah tegangan listrik antar lempeng/pelat/keping, maka rumus
kapasitans adalah:

C adalah kapasitansi yang diukur dalam farad


Q adalah muatan yang diukur dalam coloumb
V adalah voltase yang diukur dalam volt

7. Induktansi

Induktansi adalah sifat dari rangkaian elektronika yang menyebabkan


timbulnya potensial listrik secara proporsional terhadap arus yang mengalir
pada rangkaian tersebut, sifat ini disebut sebagai induktasi sendiri. Sedang
apabila potensial listrik dalam suatu rangkaian ditimbulkan oleh perubahan
arus dari rangkaian lain disebut sebagai induktansi bersama. Satuan
induktansi dalam satuan internasional adalah weber per ampere atau dikenal
pula sebagai henry (H).
Induktansi muncul karena adanya medan magnet yang ditimbulkan oleh arus
listrik (dijelaskan oleh hukum ampere). Supaya suatu rangkaian elektronika
mempunyai nilai induktansi, sebuah komponen bernama induktor digunakan
di dalam rangkaian tersebut, induktor umumnya berupa kumparan
kabel/tembaga untuk memusatkan medan magnet dan memanfaatkan GGL
yang dihasilkannya.

8. Kuat Medan Listrik

Medan lisrtik adalah ruang di sekitar benda bermuatan listrik dimana benda-
benda bermuatan listrik lainnya dalam ruang ini akan merasakan atau
mengalami gaya listriArah Medan Listrik.
Kuat medan listrik adalah besaran yang menyatakan gaya coloumb per
satuan muatan di suatu titik.

9. Fluks Magnet

Fluk magnetik adalah ukuran total medan magnetik yang menembus bidang.
secara matematis fluk maknetik didefinisikan sebagi perkalian skalar antara
induksi magnetik (B) dengan luas bidang yang tegak lurus pada induksi
magnetik tersebut.

BESARNYA:

f = B A cos q

f = fluks magnetik (weber)


B = induksi magnetik
A = luas bidang yang ditembus garis gayamagnetik
q = sudut antara arah garis normal bidang A dan arah B

Berikut besaran listrik, notasi ( simbol ) dan satuan serta hubungan


persamaan antara besaran :

Besaran listrik satuan dan alat ukurnya :


berikut pengertian dan macam-macam besaran listrik yang sering muncul
dalam dunia kelistrika, Semoga bermanfaat.

Besaran Listrik, hubungan antara tegangan,


arus dan tahanan

A. Tegangan listrik (V)


Tegangan listrik biasa di singkat menjadi "V". Satuan tegangan listrik
adalah Volt (V). Tegangan listrik biasanya diukur dalam bacaan satuan:
volt (V), milivolt (mV), microvolt (uV), kilovolt (kV) dan Megavolt (MV).
Tegangan listrik dapat di ukur dengan menggunakan voltmeter atau
multimeter.

Contoh:
1.000 milivolt = 1.000/1.000 volt = 1 volt
100 volt = 100/1.000 kilovolt = 0,1 kilovolt

B. Arus Listrik (I)

Arus listrik biasa disingkat menjadi I. Satuan arus listrik adalah ampere
(A). Arus listrik adalah reaksi dimana arus mengalir dari potensial tinggi
ke potensial yang lebih rendah atau dari kutub positif (+) ke kutub negatif
(-).
Arus lisrik biasa diukur dan dibaca dalam satuan ampere (A), miliampere
(mA) dan mikroampere (uA).
Konversi pembacaan satuan arus listrik sama seperti pada bacaan satruan
tegangan. Alat untuk mengukur besaran arus listrik adalah multimeter
atau ampere meter.

Pada dasarnya arus listrik dibagi menjadi dua yaitu:

a. Arus searah atau di sebut dengan DC ( Direct Current),

Arus listrik searah adalah arus listrik


yang nilainya konstant, dan mengalir dari
potensial tinggi ke patensial rendah. Besar
arus listrik yang sering digunakan ada pada kisaran 1,5 volt hingga 24
volt.

b. Arus bolak-balik atau disebut dengan AC ( Alternating Current).


Arus listrik bolak-balik adalah arus listrik yang besar dan arahnya
berubah-ubah secara bergantian (bolak-balik), mengalir dari potensial
tinggi ke potensial rendah dan berubah menjadi mengalir dari potensial
rendah ke potensial tinggi. Dalam satu detik pergantian arah tersebut bisa
mencapai 50 hingga 60 kali.
Gelombang listrik pada arus bolak balik digambarkan dalam sinusoidal,
segi empat atau segi tiga. Pasokan listrik di Indonesia (PLN)
menggunakan arus bolak-balik ini.

C. Tahanan Listrik (R)

Tahanan listrik atau bisa di sebut resistan biasa di singkat menjadi R.


Satuan tahanan listrik adalah ohm. Tahanan listrik berfungsi untuk
mengendalikan besarnya arus yang masuk ke rangkaian listrik.
Kompone yang biasa digunakan untuk tahanan listrik dinamakan resistor.

Resistor di bagi menjadi dua, yaitu:

1. Resistor tetap,
2. Resistor tidak tetap (variable resistor).

Satuan tahanan listrik adalah ahm, kilo ohm dan mega ohm. Konversi
pembacaan satuan tahanan listrik sama seperti pembacaan satuan
tegangan listrik dan arus listrik.
Tahanan listrik dapat di ukur dengan ohm meter dan multi meter.
Hubungan antara tegangan listrik (V), arus listrik (I) dan tahanan listrik
(R) dinyatakan dalam rumus:
V=IxR
I=V/R
R=V/I
Contoh:
Sebuah lampu menyala menggunakan baterai dengan tegangan V = 1,5
volt dan tahanan sebesar R = 1,8 kilo ohm, lampu menyala redup.
Bagaima aagar lampu menyala lebih terang?
Jawabannya adalah mengganti nilai Resistor/tahanan/hambatan dengan
menggunakan resistor di bawah 1,8 kilo ohm.
Penjelasan gambar:
- Resistor dipasang seri, R total = R1 + R2 + R3
- Nilai arus listrik (I) adalah sama di semua titik-titik rangkaian,
- Tegangan listrik di R1 (V1) berbeda dengan tegangan listrik di R2 (V2)
berbeda dengan tegangan listrik di R3 (V3).
Contoh pemasangan rangkaian listrik secara seri yaitu pada lampu
penerangan jalan.

Penjelasan gambar:
- Rangkaian dipasang paralel, 1/R total = (1/R1) + (1/R2) + (1/R3)
- Nilai arus listrik (I) di titik-titik rangkaian berbeda. I = I1 + I2
- Tegangan listrik di titik-titik rangkaian adalah sama, V1 = V2 = V3
Contoh pemasangan rangkaian listrik secara paralel yaitu pada lampu
merah.

Sistem Satuan dan Ukuran Standar Kelistrikan

12:43 HaGe No comments

Sistem Satuan

Pada awal perkembangan teknik pengukuran, dikenal dua sistem satuan yaitu sistem metrik
(dipelopori Perancis sejak 1795) dan sistem CGS (centimeter-gram-second) yang dipelopori
oleh Amerika Serikat dan Inggris (kedua Negara ini juga menggunakan sistem metrik untuk
kepentingan internasional). Dan sejak tahun 1960 dikenalkan Sistem Internasional (SI Unit)
sebagai kesepakatan internasional.

Ada enam besaran yang dinyatakan dalam sistem SI, yaitu:


tabel1. besaran dalam sistem SI.

Secara praktis besaran listrik yang sering digunakan adalah volt, amper, ohm, henry dsb. Kini
sistem SI sudah membuat daftar besaran, satuan dan simbol dibidang kelistrikan dan
kemagnetan yang berlaku internasional.

Tabel 2. Besaran dan simbol kelistrikan dalam sistem SI.

Ukuran Standar Kelistrikan

Ukuran standar dalam pengukuran sangat penting, karena sebagai acuan dalam peneraan alat
ukur yang diakui oleh komunitas internasional. Ada enam besaran yang berhubungan dengan
kelistrikan yang dibuat sebagai standart, yaitu standar amper, resistansi, tegangan,
kapasitansi, induktansi, kemagnetan dan temperatur.

1. Standar ampere, menurut ketentuan Standar Internasional (SI) adalah arus konstan yang
dialirkan pada dua konduktor didalam ruang hampa udara dengan jarak 1 meter, diantara
kedua penghantar menimbulkan gaya = 2 x 10-7 newton/m panjang.

2. Standar resistansi, menurut ketentuan SI adalah kawat alloy manganin resistansi 1 yang
memiliki tahanan listrik tinggi dan koefisien temperature rendah, ditempatkan dalam tabung
terisolasi yang menjaga dari perubahan temperatur atmospher.

3. Standar tegangan, ketentuan SI adalah tabung gelas Weston mirip huruf H memiliki dua
elektrode, tabung elektrode positip berisi elektrolit mercury dan tabung electrode negatip diisi
elektrolit cadmium, ditempatkan dalam suhu ruangan. Tegangan electrode Weston pada suhu
20C sebesar 1.01858 V.

4. Standar Kapasitansi, menurut ketentuan SI, diturunkan dari standart resistansi SI dan
standar tegangan SI, dengan menggunakan sistem jembatan Maxwell, dengan diketahui
resistansi dan frekuensi secara teliti akan diperoleh standar kapasitansi (Farad).

5. Standar Induktansi, menurut ketentuan SI, diturunkan dari standar resistansi dan standar
kapasitansi, dengan metode geometris, standar induktor akan diperoleh.

6. Standart temperature, menurut ketentuan SI, diukur dengan derajat Kelvin besaran
derajat kelvin didasarkan pada tiga titik acuan air saat kondisi menjadi es, menjadi air dan
saat air mendidih. Air menjadi es sama dengan 0Celsius = 273,16Kelvin, air mendidih
100C.

7. Standar luminasi cahaya, menurut ketentuan SI adalah Kandela yaitu yang diukur
berdasarkan benda hitam seluas 1 m2 yang bersuhu hk lebur platina ( 1773 oC ) akan
memancarkan cahaya dalam arah tegak lurus dengan kuat cahaya sebesar 6 x 105 kandela.

Besaran Listrik (Arus, Tegangan,


Hambatan Dan Daya Listrik)
HomeReferensi ElektronikaBesaran Listrik (Arus, Tegangan, Hambatan Dan Daya Listrik)
Thursday, August 14th, 2014 - Referensi Elektronika

Beberapa besaran listrik yang harus diketahui dalam mempelajari elektronika adalah
tegangan listrik, arus listrik, hambatan listrik dan daya listrik. Besaran-besaran listrik
tersebut merupakan besaran pokok yang menjadi dasar terbentuknya besaran listrik yang lain.
Besaran listrik yang dihasilkan dari besaran pokok disebut sebagai besaran turunan. Berikut
adalah gambaran singkat dari besaran listrik yang perlu dipahami dalam mempelajari
elektronika.

Jenis Besaran Listrik


1. Tegangan Listrik
Dalam suatu sumber energi listrik terdapat muatan listrik positif dan negatif yang terpisah
sebagai contoh suatu accumulator atau batere memiliki muatan listrik positif pada terminal
positif dan muatan listrik negatif pada terminal negatif. Perbedaan muatan listrik pada kedua
terminal sumber energi listrik tersebut akan mengakibatkan gaya terik menarik antar kedua
muatan tersebut, semakin besar perbedaan muatan listrik yang ada maka semakin besar gaya
terik menarik antara muatan listrik positif dan negatif. Besarnya perbedaan muatan listrik
tersebut disebut sebagai tegangan listrik. Tegangan listrik memiliki satuan volt (V).

Tegangan listrik terjadi apabila :

Antara pasangan elektron yang rapat dan kurang rapat.


Antara tempat yang mempunyai kerapatan elektron yang tinggi dan rendah

Antara tempat yang kekurangan elektron dan yang kelebihan elektron

Tegangan listrik dalam elektronika terdapat 2 jenis yaitu tegangan listrik AC (Alternating
CurrenT) kemudian disebut dengan tegangan AC dan tegangan listrik DC( Direct Current)
yang disebut dengan tegangan DC.

Contoh Sumber Tegangan Listrik :

Accumulator

Solar Cell

Batu Batere

Generator Listrik

2. Arus Listrik
Arus listrik dapat mengalir pada suatu penghantar listrik (konduktor), arus listrik terjadi
apabila dua kutub yang bermuatan listrik berbeda pada suatu sumber listrik dihubungkan
menggunakan suatu bahan konduktor. Arus listrik terjadi akibat beda potensial (tegangan
listrik) antara kedua kutub dengan muatan listrik yang berbeda. Arus listrik mengalir dari
medan listrik dengan potensial yang lebih tinggi ke medan listrik dengan potensial lebih
rendah.

Aliran listrik yang arahnya tetap disebut aliran listrik searah (DC = Direct Current) dan yang
tidak tetap sering disebut aliran listrik bolak-balik (AC = Alternating Current).

Ada 2 macam jenis arus listrik:

Arus searah

Arus bolak-balik

Yang dimaksud dengan arus searah bilamana elektron yang bergerak secara terus menerus
dengan arah yang tetap walau besarnya berubah. Sedangkan pada arus bolak-balik, suatu
masa elektron yang bergerak secara teratur bergantian arah aliran maju atau mundur, dalam
arah maju digambarkan pada sisi + (diatas garis 0) dan arah mundur digambarkan pada sisi
(dibawah garis 0). Selama elektron bergerak maju tegangan akan naik dan akan berada dalam
posisi positif, dalam keadaan diam, tegangan akan menunjukkan 0 Volt dan apabila elektron
bergerak mundur tegangan akan turun dan akan berada dalam posisi negatif.

3. Hambatan Listrik
Bila diantara dua kutub muatan listrik yang berbeda (positif dan negatif) kita hubungkan
dengan sebuah penghantar (konduktor) maka arus listrik akan mengalir lewat penghantar
tersbut. Arus listrik tersebut akan mendapatkan hambatan atau tahanan / Resistance (R)
didalam penghantar. Resistansi atau hambatan listrik pada suatu konduktor atau benda listrik
diukur dalam satuan Ohm.

Telah ditentukan bahwa antara kedua titik diatas 1 Volt dan tahanan penghantar 1 Ohm, maka
kuat arus yang mengalir 1 Ampere. Jadi tegangan 1 Volt itu ialah tinggi tegangan yang dapat
mengalirkan arus 1 Ampere melalui tahanan 1 Ohm. Pernyataan ini lebih jelas dibahas dalam
hukum Ohm.

4. Daya Listrik
Misalkan suatu sumber listrik dengan tegangan listrik atau beda potential (v) dihubungkan
dengan suatu beban dan mengalirlah arus listrik (i). Dimana energi yang diberikan ke masing-
masing elektron yang menghasilkan arus listrik sebanding dengan v (beda potensial).

Dengan demikian total energi yang diberikan ke sejumlah elektron yang menghasilkan total
muatan sebesar dqadalah sebanding dengan v*dq. Energi yang diberikan pada elektron tiap
satuan waktu didefinisikan sebagai daya listrik (power) p = v*i dalam satuan watt.

Besaran-besaran listrik, tegangan listrik, arus listrik, tahanan listrik dan daya listrik ini
merupakan besaran pokok dalam mempelajari rangkaian listrik yang sederhana maupun
rangkaian listrik yang komplek.