Anda di halaman 1dari 30

1.

PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang

Salah satu sumberdaya hayati laut yang cukup potensial adalah rumput laut
atau dikenal dengan sebutan lain seaweeds, ganggang laut, atau agar-agar. Jenis
rumput laut yang mempunyai nilai ekonomis dan sudah banyak dibudidayakan secara
intensif di wilayah pesisir adalah jenis Kappaphycus alvarezii atau dikenal dengan
Euchema cottonii. Hasil proses ekstraksi rumput laut banyak dimanfaatkan sebagai
bahan makanan atau sebagai bahan tambahan untuk industri makanan, farmasi,
kosmetik, tekstil, kertas, cat dan lain-lain. Selain itu digunakan pula sebagai pupuk
hijau dan komponen pakan ternak maupun ikan (Sujatmiko, 2003; Maruf, 2005). K.
alvarezii adalah rumput laut ekonomi penting di daerah tropis yang umumnya
berwarna merah dan dinding selnya banyak menhgandung polisakarida yang menjadi
sumber paling penting untuk menyuplai karagenan di dunia. Pasar karagenan terus
tumbuh dan membutuhkan sumber bahan baku yang banyak, setidaknya dalam
kualitas, harga dan volume untuk kebutuhan industri pengolahan (Thirumaran and
Anantharaman, 2009).
Saat ini kegiatan budidaya rumput laut bukan lagi hanya sekedar pekerjaan
sampingan untuk mendapatkan penghasilan tambahan, akan tetapi telah menjadi salah
satu mata pencaharian utama. Hasil penelitian Crawford (2002) di Sulawesi Utara dan
Filipina, mendapatkan kegiatan budidaya rumput laut telah menjadi mata pencaharian
alternatif bagi masyarakat pesisir dan nelayan skala kecil. Didukung dengan
penelitian Aziz (2011) di Bantaeng kegiatan budidaya rumput laut bahkan menjadi
tumpuan harapan baru untuk memperbaiki kondisi ekonomi serta meningkatkan
kesejahteraan mereka yang selama ini identic dengan kemiskinan.
Budidaya rumput laut (K. alvarezii) secara massal di pesisir pantai tentunya
akan meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan. Namun, di samping itu
keberadaan rumput laut sebagai produsen dalam suatu ekosistem menimbulkan
dampak ekologis yang luas. Salah satunya adalah sebagai sumber makanan bagi
organisme herbivor di kawasan tersebut sehingga organisme tersebut dapat meningkat

1
populasinya. Ikan baronang (Siganus guttatus) merupakan salah satu jenis ikan
ekonomis yang herbivora di mana salah satu makanan favoritnya di alam adalah
ganggang atau rumput laut. Dengan demikian, ikan baronang dapat merugikan akan
keberadaan budidaya K. alvarezii. (Kune, 2007). Eklof et. al., (2006) menyatakan
bahwa pada lokasi budidaya rumput laut banyak ditemukan ikan pemangsa rumput
laut. Namun, yang paling banyak tertangkap adalah ikan baronang. Pola ini dikaitkan
dengan keberadaan vegetasi, menunjukkan bahwa rumput laut mungkin sebagai
tempat tinggal dan / atau makanan bagi ikan.

Bagi petani rumput laut, ikan baronang dianggap sebagai salah satu jenis ikan
yang sering mengkonsumsi rumput laut bahkan menjadi hama bagi rumput laut
(Kune, 2007). Tetapi setelah pemeliharaan rumput laut meluas secara serentak maka
serangan ikan-ikan pemakan rumput laut sudah tidak lagi berarti. Namun
bagaimanapun kecilnya serangan itu, tetap mempunyai arti ekologis dan biologis.
Secara ekologis, makanan yang tersedia banyak akan memacu pertumbuham populasi
spesies, dalam hal ini ikan-ikan yang mengkonsumsi rumput laut. Selanjutnya, daya
konsumsi rumput laut oleh ikan baronang ini sangat tergantung pada jumlah massal
rumput laut atau metode budidaya rumput laut yang diterapkan.
Desa arakan merupakan salah satu desa yang sudah lama melakukan kegiatan
budidaya rumput laut. Tahun 1990 budidaya rumput laut di desa Arakan sudah
berkembang dan sudah banyak diminati oleh masyarakat sekitar. Metode budidaya
yang digunakan di Desa arakan ini adalah metode long line. Metode ini memiliki
keunggulan yang baik juga memiliki beberapa kelemahan yang sangat buruk seperti
thallus mudah patah dan hanyut apabila terkena gelombang besar, predator pemangsa
bebas memakan bibit yang mengakibatkan bibit tekelupas, patah, atau habis di makan
(Ngangi 2012). Dengan munggunakan metode budidaya rumput laut menggukanan
sistim Keramba Jaring Apung (KJA) dapat di coba untuk mencegah kerugian
kerugian seperti di atas.

2
Masyarakat pembudidaya sangat mengharapkan adanya satu solusi yang dapat
memberikan gairah baru dalam usaha budidaya rumput laut. Dan salah satu solusi
untuk budidaya rumput laut adalah dengan adanya alat budidaya terproteksi yang
dapat melindungi rumput laut dari berbagai serangan hama dan berbagai masalah
yang sering muncul. Budidaya rumput laut dengan menggunakan metode Kurungan
Jaring Apung merupakan salah satu alternative budidaya rumput laut terproteksi.
Kurungan apung ini dirancang sangat sederhana berbentuk empat persegi panjang
dengan dinding luar terdiri dari jaring multifilamen yang efektive melindungi rumput
laut dari berbagai serangan hama. Tiap sisi terluar mempunyai panjang 2 dan 3
meter, kedalaman alat sekitar 50 60 cm. Sisi atas alat ini terbuka untuk
memudahkan perawatan rumput laut. Untuk menjaga pergeseran wadah dari lokasi
yang di inginkan maka pada salah satu sisi dibagian bawah wadah dikaitkan tali
pelampung/penanda dan selanjutnya dihubungkan dengan tali pemberat/jangkar
utama yang akan menjaga alat untuk tetap berada pada lokasi yang di inginkan.
Wadah ini terbuat dari bahan yang sangat tahan di laut dan juga sangat mudah di
perolah di pasaran dengan harga yang tidak terlalu mahal. Alat ini dapat bertahan
hingga 20 - 30 tahun lebih dengan perawatan yang baik.

3
1.2 Tujuan
Prakek Kerja Lapangan ini bertujuan:

1. Menguji wadah budidaya rumput laut dengan cara keramba jarring apung,
karena metode KJA ini adalah metode yang baru di kembangkan dan belum
banyak di lakukan oleh pembudidaya dan bahkan di Desa Arakan sendiri
belum ada yang melalukan ini.
2. Demi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penulis.

1.3 Waktu dan lokasi


Praktek Kerja Lapangan ini di laksanakan di desa Arakan Kecamatan
Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan, selama 5 minggu dari tanggal 25 Oktober
2016 5 Desember 2016.

Lokasi KJA

Gambar 1. Lokasi Budidaya tanjung Arakan di Desa Arakan

4
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Biologi dan Morfologi Rumput laut (Kappaphycus alvarezii)
Rumput laut (seaweed) adalah ganggang berukuran besar (macroalgae) yang
merupakan tanaman tingkat rendah dan termasuk kedalam divisi thallophyta. Dari
segi morfologinya, rumput laut tidak memperlihatkan adanya perbedaan antara akar,
batang dan daun, Secara keseluruhan, tanaman ini mempunyai morfologi yang mirip,
walaupun sebenarnya berbeda. Bentuk-bentuk tersebut sebenarnya hanyalah thallus.
Bentuk thallus rumput laut ada bermacam-macam, antara lain bulat, seperti tabung,
pipih, gepeng, dan bulat seperti kantong dan rambut dan sebagainya (Aslan, 1998)
Thallophyta adalah tanaman yang morfologinya hanya terdiri dari thallus,
tanaman ini tidak mempunyai akar, batang dan daun sejati. Fungsi ketiga bagian
tersebut digantikan oleh thallus. Tiga kelas utama rumput laut dari thallophyta adalah
Rhodophyceae (ganggang merah), Phaeophyceae (ganggang coklat), Chlorophyceae
(ganggang hijau) yang ketiganya dibedakan oleh kandungan pigmen dan klorofil.
Rhodophyceae yang umumnya berwarna merah, coklat, nila dan bahkan hijau
mempunyai sel pigmen fikoeritrin. Phaeophyceae umumnya berwarna kuning
kecoklatan karena selselnya mengandung klorofil a dan c. Chlorophyceae umumnya
berwarna hijau karena sel-selnya mengandung klorofil a dan b dengan sedikit karoten
(Direktorat Jenderal Perikanan, 2005).
Rumput laut memerlukan substrat sebagai tempat menempel biasanya pada
karang mati, moluska, pasir dan lumpur. Kejernihan air kira-kira sampai 5 meter atau
batas sinar matahari bisa menembus air laut. Tempat hidup Chlorophyceae umumnya
lebih dekat dengan pantai, lebih ke tengah lagi Phaeophyceae, dan lebih dalam alga
Rhodophyceae. Pengukuran kedalaman secara umum untuk rumput laut yang baik
adalah pada waktu air surut. Pada waktu air surut, kedalaman rumput laut berada pada
kedalaman 30 50 cm dari permukaan laut (Direktorat Jenderal Perikanan, 2005).

5
Fotosintesa berlangsung tidak hanya dibantu oleh sinar matahari, tetapi juga
oleh zat hara sebagai bahan makanannya. Tidak seperti tumbuhan pada umumnya
yang zat haranya tersedia di dalam tanah, zat hara alga diperoleh dari air laut
sekitarnya. Penyerapan zat hara dilakukan melalui seluruh bagian tumbuhan dan zat
hara bukan menjadi penghambat pertumbuhan rumput laut. Hal ini terjadi karena
adanya sirkulasi yang baik dari zat hara yang ada di darat dengan dibantu oleh
gerakan air (Indriani dan Sumiarsih, 2003).

Gambar 2. Rumput laut Kappaphycus alvarezii

Kappaphycus alvarezii merupakan rumput laut dari kelompok Rhodopyceae


(alga merah) yang mampu menghasilkan karaginan. Eucheuma dikelompokkan
menjadi beberapa spesies yaitu Eucheuma edule, Eucheuma spinosum, Eucheuma
cottoni, Eucheuma cupressoideum dan masih banyak lagi yang lain. Kelompok
Eucheuma yang dibudidayakan di Indonesia masih sebatas pada Eucheuma cottoni
dan Eucheuma spinosum. Eucheuma cottoni dapat menghasilkan kappa karaginan dan
telah banyak diteliti baik proses pengolahan maupun elastisitasnya. Sedangkan
Eucheuma spinosum mampu menghasilkan iota karaginan.

6
2.2. Ciri-ciri dan Taksonomi Kappaphycus alvarezii
Ciriciri dari genus Eucheuma sp. yaitu thallus dan cabang-cabangnya
berbentuk silinder atau pipih. Waktu masih hidup warnanya hijau hingga kemerahan
dan bila kering warnanya kuning kecoklatan. (Direktorat Jenderal Perikanan, 2005).
Ciri-ciri rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii yaitu thallus silindris ;
percabangan thallus berujung runcing atau tumpul; dan ditumbuhi nodulus (tonjolan-
tonjolan), berupa duri lunak yang tersusun berputar teratur mengelilingi cabang,
jaringan tengah terdiri dari filamen tidak berwarna serta dikelilingi oleh sel-sel besar,
lapisan korteks, dan lapisan epidermis (luar). Pembelahan sel terjadi pada bagian
apikal thallus (Anggadireja dkk, 2006).
Kappaphycus alvarezii tumbuh melekat pada rataan terumbu karang, batu
karang, batua, benda keras, dan cangkang kerang. Kappaphycus alvarezii
memerlukan sinar matahari untuk proses fotosintesis sehingga hanya hidup pada
lapisan fotik. Habitat khas dari Kappaphycus adalah daerah yang memperoleh aliran
air laut yang tetap, lebih menyukai variasi suhu harian yang kecil dan substrat batu
karang mati (Aslan, 1998).

Eucheuma cottonii termasuk dalam kelas Rhodophyceae atau alga merah dengan
klasifikasi sebagai berikut:.
Kingdom : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solieracea
Genus : Eucheuma (Kappaphycus )
Species :Eucheuma cottonii / Kappaphycus alvarezii

2.3. Ekologi dan Penyebaran Rumput Laut


Rumput laut tumbuh hampir diseluruh bagian hidrosfir sampai batas
kedalaman 200 meter. Di kedalaman ini syarat hidup untuk tanaman air masih
memungkinkan. Jenis rumput laut ada yang hidup diperairan tropis, subtropis, dan

7
diperairan dingin. Di samping itu, ada beberapa jenis yang hidup kosmopolit seperti
Ulva lactuca, Hypnea musciformis, Colpomenia sinuosa, dan Gracilaria verrucosa.
Rumput laut hidup dengan cara menyerap zat makanan dari perairan dan melakukan
fotosintesis. Jadi pertumbuhannya membutuhkan faktor-faktor fisika dan kimia
perairan seperti gerakan air, suhu, kadar garam, nitrat, dan fosfat serta pencahayaan
sinar matahari (Puncomulyo, 2006).
Beberapa jenis alga di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi
yaitu Eucheuma sp, salah satu jenis dari kelompok alga merah terutama jenis
alvarezii dan spinosum terdapat di perairan Indonesia seperti Bali, Pameungpeuk,
Sulawesi Selatan, Sulawesi utara dan Maluku (Satari,1998). Kadi dan Atmaja (1988),
menambahkan bahwa pemanenan rumput laut dapat dilakukan sekitar 1-3 bulan dari
saat penanaman. Selanjutnya dikatakan bahwa persyaratan lingkungan yang harus
dipenuhi bagi budidaya Eucheuma adalah:
a. Substrat stabil, terlindung dari ombak yang kuat dan umumnya di daerah terumbu
karang.
b. Tempat dan lingkungan perairan tidak mengalami pencemaran.
c. Kedalaman air pada waktu surut terendah 1- 30 cm.
d. Perairan dilalui arus tetap dari laut lepas sepanjang tahun.
e. Kecepatan arus antara 20 - 40 m/menit.
f. Jauh dari muara sungai.
g. Perairan tidak mengandung lumpur dan airnya jernih.
h. Suhu air berkisar 27280C dan salinitas berkisar 30 -37 ppt.

2.4. Metode Keramba Jaring Apung


Metode Keramba Jaring apung adalah metode budidaya dengan sistim
pengembangan dari metode jarring dan kantong.Metode budidaya rumput laut yang
diterapkan oleh pembudidaya bermacam-macam, dengan istilah yang berbeda-beda
pula. Metode budidaya rumput laut yang dikembangkan ini tergantung kondisi
perairan, modal, ketersediaan alat dan bahan budidaya, serta kemampuan tenaga kerja
pembudidaya. Metode yang umum digunakan oleh pembudidaya, yaitu metode lepas

8
dasar sistem patok dan metode apung (longline dan rakit). Namun disini khusus
dibahas tentang Metode Apung. Metode apung terdiri dari tiga jenis yaitu longline
(tali panjang), rakit bambu, dan kombinasi longline-rakit. Metode yang akan
dijelaskan adalah rakit bamboo atau keramba jarring apung.

Metode jaring merupakan pengembangan dari metode tali tunggal. Metode ini
dikembangkan untuk meningkatkan produktifitas rumput laut yang dihasilkan.
Sehingga dibuat jaring yang memiliki konstruksi lebih kuat terhadap hempasan
ombak/arus air. Metoda jaring lepas dasar adalah metoda penanaman rumput laut
dengan menggunakan jaring net berukuran 2,5 x 5 m2 dengan lebar mata jaring 20
25 cm. Benih rumput laut diikat pada setiap simpul mata jaring sebanyak 100 150
gram Krista F. (2013).

Gambar 3. Metode jarring

Metode kantong merupakan pengembangan dari metode tali tunggal dan


jaring. Bibit rumput yang ditanam dimasukkan ke dalam kantong untuk menghindari
bibit yang terikat rusak dan terbawa arus. Dengan metode kantong bibit yang ditanam
juga terhindar dari hama predator. Kantong yang dibuat dari jaring diikatkan pada tali
yang telah diberi jangkar sebagai penahan terhadap gelombang, sehingga kantong
lebih kuat dan stabil.

9
Metoda jaring lepas dasar berbentuk tabung merupakan metode penanaman
dengan menggunakan jaring berbentuk tabung yang diletakkan dengan kayu
penyangga yang diletakkan 60 cm dari dasar perairan dan masing-masing benih
rumput laut dimasukkan kedalam jaring tersebut yang ukuran mata jaringnya 2,5 cm
dengan diameter tabung 5-10 cm. Ukuran mata jaring juga harus menyesuaikan
ukuran bibit rumput laut yang ditanam. Semakin besar ukuran bibit maka kantong
jaring yang digunakan juga semakin lebar. Tiang pancang yang digunakan harus
mampu menahan bobot bibit yang ditanam dalam kantong jarring. jarak tiap tiang
pancang adalah 3 5 m sedangkan jarak tiap kantong 25 30 cm. Krista F. (2013).

Gambar 4. Metode kantong

10
3. METODE PENELITIAN
3.1 Bahan dan Alat
Pada Praktek Kerja Lapangan ini menggunakan bahan dan peralatan sebagai
berikut : Pipa PVC Inch (7 ujung panjang 4 meter ), sambungan T ( 16 buah) siku
siku ( 8 buah), jarring PE ( ukuran mata inch, panjang 15 meter ), Tali jangkar
nomor 8 inch 20 meter, pelampung 12 buah botol aqua 1,5 Liter, gergaji, gunting,
jarum penjahit jarring, timbangan, ATM. Sementara bahan yang digunakan adalah

bibit rumput laut Kappaphycus alvarezii dengan berat awal 150 Gram

3.2 Konstruksi Wadah Percobaan


Wadah percobaan di desain dengan ukuran P x L x T = 3 m x 2 m x 0,5 m.
keseluruhan wadah di tutup dengan jarring. Wadah ini dibagi menjadi 3 bilik
( ruangan ) sehingga tiap ruangan memiliki ukuran PxLxT= 2 m x 1 m x 0,5 m.
desain wadah dapat dilihat pada gambar 5:

Gambar 5. Desain dan konstruksi wadah budidaya

11
3.3 Rumput Laut Uji
Rumput laut uji yang digunakan adalah bibit rumput laut yang di ambil dari
lokasi setempat yaitu desa Arakan, Kecamatan Tatapan kabupaten Minahasa Selatan.
Kriteria bibit yang baik menurut Nugroho dan Kusnendar (2015) adalah sebagai
berikut :
1. Thallus rumput laut secara morfologi terlihat bersih, segar, dan berwarna
cerah
2. Memiliki kultivar dengan thallus bercabang banyak, rimbun, dan
ujungnya agak runcing.
3. Bibit berumur 25 30 hari.
4. Thallus tidak berlendir, tidak rusak, tidak patah patah, dan tidak berbau
busuk pada saat dilakukan penanaman.
5. Thallus bebas dari penyakit
6. Pemotongan thallus menggunakan pisau yang tajam agar struktur thallus
tidak rusak.
3.4 Analisis Data
Data hasil pengukuran pertambahan berat selama 6 minggu dikonversi menjadi
pertumbuhan mutlak, pertumbuhan relatif dan laju pertumbuhan harian dengan
menggunakan formula di bawah ini:
a. Pertumbuhan mutlak
Mengikuti formula yang ada pada (Efendie, 1979 dalam Wattimury, 2008) :
W = Wt Wo
Dimana, W = Pertumbuhan mutlak dalam berat (gram)
Wt = Berat rata-rata rumput laut uji pada akhir percobaan (gram)
Wo = Berat rata-rata rumput laut uji pada awal percobaan (gram)

b. Pertumbuhan relatif
Pertumbuhan relatif (Weatherley and Gill, 1989 dalam Wattimury, 2008):
Wt Wo
(%)= Wo X 100

Dimana, Gr = Pertumbuhan relatif (%)


Wt = Berat akir percobaan (gram)

12
Wo = Berat awal percobaan (gram)
c. Pertumbuhan harian
Laju pertumbuhan harian didapatkan dengan menggunakan rumus sebagai berikut,
Penniman et al. (1986) dalam Mudeng, (2007).

Dimana, : G = Laju pertumbuhan perhari (%)


Wt = Berat pada saat pengukuran (gram)
Wo= Berat pada saat penebaran (gram)
t= Waktu penelitian (hari)

13
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pertumbuhan yang diperoleh selama kurun waktu 5 minggu adalah
sebagai berikut, sementara hasil perhitungan pertumbuhan tiap minggu akan
dilampirkan :
a.Pertumbuhan mutlak
Pertumbuhan mutlak merupakan selisih pertumbuhan rumput laut pada waktu
tertentu (40 hari) dari waktu awal. Pertumbuhan mutlak dari hasil yang di peroleh
adalah 93,75 Gram. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak tiap satu
bibit (satu satuan percobaan) memiliki pertambahan berat 98,75 Gram.
b. Pertumbuhan relatif
Pertumbuhan relatif merupakan persentasi dari total pertumbuhan mutlak
yang dibagi dengan bobot awal penanaman. Hasil penelitian mendapatkan
pertumbuhan relatif dari rumput laut adalah sebesar 68 %. Pertumbuhan relatif
sebesar 68 % menunjukkan bahwa hasil pertumbuhan rumput laut tidak mencapai 2
kali lipat dari berat awal. Pertumbuhan relatif di bawah 100 % menandakan
pertumbuhan dari rumput laut yang sangat lambat.
c. Pertumbuhan harian
Laju pertumbuhan harian menggambarkan kemampuan rumput laut untuk
tumbuh secara harian. Laju pertumbuhan harian dipengaruhi oleh waktu
pemeliharaan ( Anonim, 2011). Hasil pertumbuhan harian yang diperoleh adalah
sebesar 1,3 %. Pertumbuhan rumput laut yang diperoleh diatas menunjukkan bahwa
budidaya rumput laut dalam keramba jarring apung hanya memberikan sedikit
kenaikan pada pertumbuhan rumput laut, tidak seperti yang di kemukakan oleh
Maruf (2013) bahwa pertumbuhan rumput laut dalam keramba jarring apung
mencapai 3 4 kali lipa dari berat total awal penanaman. Direktorat Jendral
Perikanan Budidaya (2005) juga menyatakan rumput laut yang di budidayakan dalam
kurungan apung dapat mencapai 7 10 kali lipat dari biomasa awal.

Dibawah ini merupakan grafik pertumbuhan rumput laut selama 5 minggu ( 40 )

14
12000

10000

8000 1 2
3 Total
6000 Exponential (Total) Rata - Rata
Exponential (Rata -
4000 Rata )

2000

Gambar 6. Pertumbuhan total rumput laut

Grafik menunjukkan bahwa pertambahan rumput laut yang signifikan terjadi


mulai pada minggu ke III dan menjadi sangat menonjol perbedaan pertumbuhannya
pada minggu ke V. Pernyataan ini didukung oleh pernyataan Mubarak dalam Kumaat,
1991. mengemukakan bahwa pertumbuhan Kappaphycus alvarezii terutama yang
ditanam dekat permukaan dengan kedalaman tetap biasanya lamban pertumbuhannya
pada minggu pertama, kemudian maximum untuk 2 atau 3 minggu selanjutnya diikuti
penurunan terus menerus untuk 6 10 minggu hingga thallus mati.

15
6000

5000

4000
wadah 1
wadah 2
Pertambahan berat (Gram) 3000
wadah 3

2000

1000

Gambar 7. Perbandingan tiap wadah

Grafik diatas menunjukkan bahwa rumput laut yang di budidayakan pada


wadah ketiga bertumbuh secara normal tanpa ada gangguan. Pertumbuhan yang
signifikan terjadi sesudah minggu ke IV. Pada wadah pertama menunjukkan
penurunan bobot rumput laut secara signifikan dari total 3120 pada minggu ke V
menjadi 2810 pada minggu ke 5. Sementara pada wadah kedua pertumbuhannya baik
namun menjadi penurunan pada minggu ke V.

Pertumbuhan rumput laut yang diperoleh dari hasil penelitian menunjukkan


bahwa rumput laut tidak bertumbuh secara optimal. Pertumbuhan rumput laut yang
tidak optimal ini disebabkan karena beberapa faktor diantaranya; gangguan manusia
yang kemungkinan besar adalah anak anak. pemikiran ini didukung oleh kondisi
wadah yang tiba tiba didalamnya sudah terdapat begitu banyak ikan ikan yang
ukurannya tidak mungkin bisa masuk dari luar melewati jarring dari wadah
percobaan. Kondisi perairan yang berubah karena kondisi cuaca yang berubah ubah
menjadikan pertumbuhan rumput laut hal ini didukung oleh pernyataan Soegiarto,
dkk., (1978) bahwa produksi rumput laut dipengaruhi oleh lingkungan yang memadai
demi menunjang peningkatan pertumbuhan dan produksinya.

16
Bibit yang digunakan dalam penelitian juga tidak memenuhi syarat bibit yang
baik (bibit kurang produktif). Bibit yang di ambil dari lokasi merupakan bibit yang
tidak diketahui umur tanamnya sudah berapa hari, dan ada beberapa bibit yang tidak
memiliki thallus yang cukup banyak seperti di syaratkan sebelumnya. Hal ini
didukung oleh pernytaan Indriani dan Sumiarsih (1997), bahwa untuk pemeliharaan
yang kontinyu, sebaiknya menggunakan bibit yang baru setelah penanaman selama
42 45 hari, atau hanya mengambil bagian yang masih muda dari rumput laut yang
dipelihara sebelumnya. Penelitian ini juga mendapatkan beberapa keunggulan dan
kelemahan dalam budidaya rumput laut metode Keramba Jaring Apung. Keunggulan
yang dimiliki oleh metode ini adalah : efisiensi bibit rumput laut yang patah akibat
arus, gelombang, ataupun ice ice. Rumput laut yang patah akan tidak terbuang
percuma karena tetap berada dalam kurungan, tidak mudah kotor terutama karena
endapan endapan perairan sekitar, mudah dalam penanaman dan pemanenan, tidak
mudah terserang hama

Hasil ini didukung oleh pernyataan Maruf (2013) yang menyatakan Pada
dasarnya kurungan apung ini mempunyai beberapa keuntungan diantaranya : mudah
dirawat. Karena bentuk yang sangat sederhana, alat ini akan dengan mudah
dibersihakn dan dirawat untuk menjaga ketahanan alat. Untuk memberikan hasil
yang cukup optimal, maka dibutuhkan 1 buah jaring luar cadangan sebagai jaring
pengganti setiap kali masa penanaman, dengan bentuk yang sederhana dan
mengapung dipermukaan air, alat ini dapat diletakkan disemua bentuk dan level
topografi seluruh Indonesia. Petani rumput laut tinggal hanya menyesuaikan besaran
diameter tali dan panjang tali pemberat. Wadah ini terbukti cukup efektive
melindungi rumput laut dari berbagai serangan hama pemakan rumput laut. Jaring
luar sebagai protektor alat sangat efektive dalam menghindarkan serangan hama yang
sering menyerang rumput laut. Rumput laut akan bersih dari berbagai kotoran
penempel yang ada dilautan. Dengan catatan, bahwa petani juga harus sering
melakukan pembersihan pada dinding luar dan dalam jaring.

17
Kekurangan yang dimiliki oleh wadah budidaya rumput laut dengan metode KJA
adalah : biaya yang besar untuk bahan pembuatan wadah, pembuatan wadah
memakan waktu yang cukup lama, mata jarring sangat mudah kotor oleh endapan
endapan perairan sekitar, biofouling tidak dapat dihindari setelah beberapa waktu,
jika arus dan gelombang terlalu kuat maka bibit rumput laut sangat mudah patah
ataupun lecet karena gesekan.

18
5. PENUTUP
5.1 KESIMPULAN

K. alvarezii adalah rumput laut ekonomi penting di daerah tropis yang


umumnya berwarna merah dan dinding selnya banyak menhgandung polisakarida
yang menjadi sumber paling penting untuk menyuplai karagenan di dunia. Pasar
karagenan terus tumbuh dan membutuhkan sumber bahan baku yang banyak,
setidaknya dalam kualitas, harga dan volume untuk kebutuhan industri pengolahan.
Metode budidaya rumput laut yang diterapkan oleh pembudidaya bermacam-macam,
dengan istilah yang berbeda-beda pula. Metode budidaya rumput laut yang
dikembangkan ini tergantung kondisi perairan, modal, ketersediaan alat dan bahan
budidaya, serta kemampuan tenaga kerja pembudidaya.

salah satu solusi tepat untuk budidaya rumput laut adalah dengan
adanya alat budidaya terproteksi yang dapat melindungi rumput laut dari berbagai
serangan hama dan berbagai masalah yang sering muncul. Salah satu wadah
budidaya rumput laut terproteksi yang disebut dengan Kurungan Apung Rumput
Laut. Kurungan apung ini didisain sangat sederhana berbentuk empat persegi
panjang dengan dinding luar terdiri dari jaring multifilamen yang efektive melindungi
rumput laut dari berbagai serangan hama dan penyakit. Tiap sisi terluar mempunyai
panjang 2 dan 3 meter.

19
Lampiran

Pertambahan berat tiap 1 kali pengukuran dalam satu mingggu

Lampiran 1. Berat Awal

20
Lampiran 2. Minggu pertama

21
Lampiran 3. Minggu kedua

22
Lampiran 4. Minggu ketiga

23
Lampiran 5. Minggu keempat

24
Lampiran 6. Minggu kelima

Lampiran 7. Total pertumbuhan rumput laut

25
Daftar Pustaka

Atmadja, W.S., A. Kadi, Sulistijo, R. Satari. (1998). Pengenalan jenis-jensi rumput


lautIndonesia. Puslitbang Oseanologi LIPI. Jakarta.

Anggadiredja, J. T., Zatnika, A., Purwoto, H. dan Istini, S. (2006). Rumput


laut:Pembudidayaan, Pengolahan dan Pemasaran Komoditas Perikanan
Potensial. Penebar Swadaya. Jakarta.

Aslan, L. M. 1998. Budidaya Rumput Laut.Kanisius. Yogyakarta.

AZIS, H. Y. (2011). Optimasi Pengelolaan Sumberdaya Rumput Laut di Wilayah


Pesisir Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan. Disertasi Institut Pertanian
Bogor. Bogor.

Crowford, B. (2002). Seaweed Farming: An Alternative Livelihood Small-Scale


Fishers. Working Paper. Coastal Resources Center. University Of Rhode
Island.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.2005. Profil Rumput Laut Indonesia.


Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Eklof, J.S., Maricela, T.C., Camilla, N., and Patrik R. (2006). How Do Seaweed
Farms Influence Local Fishery Catches in A Seagrass-Dominated Setting in
Chwaka Bay, Zanzibar. Department of Systems Ecology Stockholm
University, Aquatic Living Resources Journal Vol 19 : 137147.

Indriani. H dan Sumiarsih. 2003. Rumput Laut. Penebar Swadaya. Jakarta.

Krista F. (2013). Teknik Penanaman Rumput Laut. DIKPORA. Jakarta.

Kune, S. 2007. Pertumbuhan Rumput Laut yang Dibudidaya Bersama Ikan Baronang.
Disertasi. Universitas Muhammadiyah Makassar. Makasaar. 1 28 hal.

Maruf, W. F. (2005). Alih Teknologi Industri Rumput Laut Terpadu. Pusat Riset
Pengelolaan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.
Departemen Kelautan dan Perikanan.

Maruf, K. (2013). Kurungan Jaring Apung Harapan Baru Masyarakat Pesisir.


Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Haluoleo.

26
Kumaat T. 1991. Pertumbuhan Eucheuma cottonii Dengan Berat Awal Yang Berbeda
Di Pantai Aertembaga Kotamadya Bitung. Laporan Praktek keterampilan
Lapangan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universiras Sam Ratulangi
Manado. 34 hal.

Mudeng J D. 2007. Pertumbuhan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dan


Eucheuma denticulatum Pada Kedalaman Berbeda di Perairan Pulau Nain
Sulawesi Utara.Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Sam Ratulangi. 61
hal.

Ngangi E. L. A. 2012. Analisis Ekologi, Biologi, dan Sosial Ekonomi Untuk Dasar
Kebijakan Pengelolaan Budidaya Rumput Laut . Tesis, Tidak Dipublikasikan.
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Poncomulyo, T., Maryani, H. & Kristiani, L. 2006. Budidaya dan Pengolahan


Rumput Laut. Jakarta: AgroMedia Pustaka.

Sujatmiko, W. Dan W.I. Angkasa. (2003). Teknik Budidaya Rumput Laut Dengan
Metode Tali Panjang. Pengkajian Ilmu Kehidupan-BPPT. Jakarta.

Thirumaran and Anantharaman. 2009. Daily Growth Rate of Field Farming Seaweed
Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty ex P. Silva in Vellar Estuary.. World
Journal of Fish and Marine Sciences Annamalai University, India Vol-1 (3) :
144-153.

Wattimury K. 2008. Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma denticulatum Yang


Dibudidayakan Pada Kedalaman Dan Berat Awal Berbeda Di Perairan Pulau
Nain, Kabupaten Minahasa Utara. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Universitas Sam Ratulangi. Manado. 39 hal.

27
1. PENDAHULUAN.....................................................................................................1
1.1.Latar belakang......................................................................................................1
1.2 Tujuan..................................................................................................................4
1.3 Waktu dan lokasi..................................................................................................4

2. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................5
2.1. Biologi dan Morfologi Rumput laut (Kappaphycus alvarezii)...........................5
2.2. Ciri-ciri dan Taksonomi Kappaphycus alvarezii.................................................6
2.3. Ekologi dan Penyebaran Rumput Laut...............................................................7
2.4. Metode Keramba Jaring Apung..........................................................................8

3. METODE PENELITIAN........................................................................................11
3.1 Bahan dan Alat...................................................................................................11
3.2 Konstruksi Wadah Percobaan.............................................................................11
3.3 Rumput Laut Uji................................................................................................12
3.4 Analisis Data......................................................................................................12

4. HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................................14

28
5. PENUTUP...............................................................................................................19
5.1 KESIMPULAN..................................................................................................19
Lampiran......................................................................................................................20

Daftar Pustaka..............................................................................................................26

29
Gambar 1. Lokasi Budidaya tanjung Arakan di Desa Arakan
Gambar 2. Rumput laut Kappaphycus alvarezii
Gambar 3. Metode jarring
Gambar 4. Metode kantong
Gambar 5. Desain dan konstruksi wadah budidaya
Gambar 6. Pertumbuhan total rumput laut
Gambar 7. Perbandingan tiap wadah
Lampiran 1. Berat Awal
Lampiran 2. Minggu pertama
Lampiran 3. Minggu kedua
Lampiran 4. Minggu ketiga
Lampiran 5. Minggu keempat
Lampiran 6. Minggu kelima
Lampiran 7. Total pertumbuhan rumput laut

30