Anda di halaman 1dari 7

I.

Tujuan

Menjelaskan mekanisme kerja fotodinamik inaktivasi bakteri, cara kerja


instrument LED untuk aplikasi fotodinamik dan potensi penyinaran LED biru-
merah untuk fotoinaktivasi bakteri serta menghitung viabilitas sel bakteri
akibat efek fotodinamik dengan sumber cahaya LED.

II. Dasar Teori

Viabilitas bakteri adalah kelangsungan hidup, aktivitas hidup atau


kemungkinan hidup yang ditunjukkan dengan pertumbuhannya (pada
bakteri) (Pritanti, 1995 : 29).Mikroorganisme (dalam pembahasan ini adalah
bakteri)dapat ditembus sampai tingkat tertentu oleh zat warna vital, seperti
toluidin blue, Netral Red, proflavin atau acridin orange. Zat warna ini akan
diserap dan mengikat asam nukleat mokroorganisme sehingga
mikroorganisme akan menjadi peka terhadap cahaya biasa dan
mikroorganisme akan diinaktivasi. Cara inaktivasi seperti ini disebut
inaktivasi fotodinamik (Depkes RI, 1996 : 21).

LED merupakan semikonduktor kompleks yang dapat mengkonversi energi


listrik menjadi cahaya. LED termasuk sumber cahaya dengan rentang
spektrum absorbsi porfirin tipe fotosensitizier. Kelebihan LED dibandingkan
dengan sumber cahaya lain untuk fotoinaktivasi adalah karena hanya
menghasilkan sejumlah kecil panas dalam cahaya yang ditimbulkan. LED
menghasilkan cahaya dengan berbagai warna. Warna cahaya yang
diemisikan oleh LED bergantung pada komposisi material semikonduktor
yang digunakan, baik inframerah, cahaya tampak maupun ultraviolet
(Schubert, 2006). LED terdiri dari sebuah chip bahan semikonduktor yang
diisi penuh, atau di-dop, dengan ketidakmurnian untuk menciptakan sebuah
struktur yang disebut p-n junction (daerah p didominasi oleh muatan listrik
positif dan n disominasi muatan negative). Pembawa muatan elektron dan
hole mengalir ke junction dari electrode dengan voltase berbeda. Ketika
elektron bertemu dengan hole, diajatuh ketingkat energi yang lebih rendah,
dan melepas energi dalam bentuk photon (Sze, 1985).

Cahaya inframerah dengan panjang gelombang 700 nm 10 -6 nm memiliki


karakteristik mudah diserap oleh bahan organic, termasuk material organik
dalam bakteri yang akan cepat menyerap cahaya inframerah saat terjadi
proses penyinaran, sehingga dalam bakteri akan terjadi kenaikan
temperature yang semakin cepat (Hamanaka, 2005). Absorbsi energi radiasi
oleh sel bakteri secara garis besar mempunyai dua hasil yaitu kematian sel
yang diindikasikan oleh tidak adanya kemampuan untuk membentuk koloni.
Oleh karena itu, dapat diperkirakan bahwa mekanisme utama dari
fotoinaktivasi bakteri dengan cahaya inframerah adalah pemanasan
langsung ke mikroorganisme oleh penyinaran termal (Dhirgo,2007).

- Proses photofisika
Saat penyinaran cahaya terjadi absorpsi satu foton cahaya oleh molekul
porphyrin. Peristiwa absorpsi primer berlangsung sangat cepat
(berlangsung sekitar 10-15s) diikuti dengan eksitasi molekul pada tingkat
energi yang lebih tinggi. Selama transisi elektronik satu dari elektron
dieksitasikan dari keadaan dasar dengan energi rendah selanjutnya
menempati orbital dengan energy yang lebih tinggi, sehingga elektron
memiliki perbedaan energi dari 2 keadaan elektronik molekul absorbs,
yaitu :
N Ahc
En =EnE 0=N A h v=
A
Dengan :
h = Konstanta Planck = 6,626 x 10- 34 J.S
v = Frekuensi
c = Kecepatan cahaya dalam ruang hampa (3 x 108 ms-1)

NA mol1
= Bilangan Avogadro = 6,023 x 1023

- Proses Photokimia
Photokimia merupakan perubahan kimia yang disebabkan oleh cahaya
(Coyle , 1991), yaitu radiasi elektromagnetik (EM) pada range ultraviolet
dan visible(cahaya tampak). Perubahan kimia merupakan peristiwa yang
muncul pada tingkatan molecular akibat absobsi foton, meskipun foton
tidak berperan dalam keseluruhan proses kimia. Mekanisme photokimia
dapat dibagi menjadi 2, yaitu pertama adalah ketika photosensitive
tereksitasi (S*) dan bereaksi dengan oksigen akan mereduksi molekul
subtract (R), dan dapat merubah superoksida (O2-), dan dengan reaksi
oksigen akan menyebabkan kerusakan biomolekul tetangganya. Dan
yang kedua adalah ketika photosensitiser pada keadaan tereksitasi (S*)
akan mentransfer energy ke molekul oksigen menjadi singlet oksigen,
dan bereaksi dengan substract (R), ketika oksigen singlet tereksitasi
dihasilkan photosensitizer dengan gap antara keadaan triplet dasar dan

E
eksitasi yang lebih besar daripada yang diperlukan untuk eksitasi

oksigen ke keadaan singlet tereksitasi.

- Proses photobiologi

Efek cahaya tampak pada organisme telah banyak diinvestigasi pada


tingkat kompleksitas yang berbedabeda.Produk photo kimia berupa
radical oxygen singlet (ROS) adalah agen pengoksidasi yang dapat
secara langsung bereaksi dengan banyak molekul biologi.Residu asam
amino dalam protein adalah target yang penting seperti cysteine,
methionine, tyrosine, histidine, dan tryptophan (Grune et al., 2001).
Oksigen singlet (1O2) adalah elektrophilic dan bereaksi dengan molekul
yang kaya electron menyebabkan kerusakan membran peroksidasi
membran lipid, mengakibatkan kebocoran isi dan kandungan pada sel
serta mengaktivasi sistem transport membran dan enzim-enzim,
gangguan sintesis dinding sel dan munculnya struktur multilamelar di sisi
sekat sel-sel yang membelah, sering dengan bocornya ion-ion postaium
dari dalam sel (Demidova and Hamblin, 2005).
III. Alat dan Bahan
- Instrument sumber cahaya LED
- Isolate bakteri
- Bahan dan Media untuk Isolasi dan Kultur bakteri
- Peralatan untuk seterilisasi dan Inkubasi

IV. Cara Kerja

Langkah yang harus dilakukan pertama adalah mempersiapkan pengkulturan


bakteri, proses ini terdiri dari menyiapkan media Nutrient Broth (larutan gula
atau larutan garam) dan sampel paramecium, mengambil isolate
dimasukkan kepada 10 ml media Nutrient Broth, setelah itu sampel
kemudian diinkubasi, perlakuan diatas dilakukan sebanyak 4 kali dengan
konsentrasi Nutrient Broth yang berbeda. Kemudian sampel disinari denagn
LED biru dengan rentan waktu tertentu.

V. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Reaksi Paramecium sp. Terhadap Perbedaan Konsentrasi Gula
dan Garam

Larutan Konsentrasi Hasil


Ukuran Kecepatan
Gula 10% Normal Tidak terlihat
20% Mengecil ++
30% Mengecil ++
40% Mengecil +++
Garam 10% Mati Mati
20% Mengecil ++
30% Mengecil +
40% Mati Mati

Tabel 2. Reaksi Paramecium sp. Terhadap penyinaran sinar LED merah dan
biru
Sinar LED Waktu Hasil
Kecepatan
Merah 1 menit +++

3 menit +++

5 menit ++
Biru 1 menit +++
3 menit ++
5 menit +
Keterangan:

Tingkat Kecepatan Paramecium sp.

+ : Lambat

++ : Cepat

+++ : Lebih Cepat

VI. Pembahasan

Pada praktikum kali ini membahas mengenai viabilitas sel bakteri pada
fotodinamik inaktivasi dengan sumber cahaya LED yang bertujuan
untukmenjelaskan mekanisme kerja fotodinamik inaktivasi bakteri, cara kerja
instrumen LED untuk aplikasi fotodinamik dan potensi penyinaran LED biru-
merah untuk fotoinaktivasi bakteri serta menghitung viabilitas sel bakteri
akibat efek fotodinamik dengan sumber cahaya LED. Bakteri yang digunakan
dalam praktikum ini adalah Paramecium sp. karena mudah
dikembangbiakkan melalui perendaman pada air sekam di sawah selama
lebih kurang 3 hari.

Untuk mengetahui kemampuan viabilitas bakteri Paramecium sp. diberi


beberapa perlakuan dengan indikator yang berbeda. Pertama dengan
menggunakan larutan garam dan gula, dimana larutan yang digunakan
adalah larutan gula dengan konsentrasi 10%, 20%, 30% dan larutan garam
10%, 20%, dan 30%. Sedangkan yang kedua diberi perlakuan dengan
penyinaran LED merah dan biru selama 1 menit, 3 menit, dan 5 menit.
Selanjutnya setiap percobaaan yang dilakukan pada bakteri diamati
dibawah mikroskop untuk mengetahui pengaruhnya terhadap viabilitas
bakteri.

Pada percobaan pertama dilakukan dengan cara menyiapkan larutan


gula dan garam dengan konsentrasi yang telah ditetapkan, kemudian
meneteskan larutan padaParamecium sp. dan mengamatinya pada
mikroskop. Dari hasil pengamatan yang diperoleh dapat dilihat bahwa pada
saat diberi larutan gula dengan konsentrasi 10%, ukuran bakteri normal atau
tidak berubah dari ukuran semula dan pergerakannya juga tidak terlalu
terlihat. Namun pada saat ditempatkan di larutan gula dengan konsentrasi
yang lebih tinggi, ukuran bakteri mengecil dan pergerakannya menjadi lebih
cepat. Peristiwa mengecilnya ukuran bakteri ini biasa disebut dengan krenasi
atau mengkerut yang terjadi karena bakteri berada pada konsentrasi yang
tinggi, sehingga cairan intrasel bergerak keluar dari sel. Proses inilah yang
disebut dengan osmosis, yang menyebabkan sel menjadi krenasi dan tidak
berfungsi lagi. Sedangkan pada larutan garam, bakteri juga semakin
mengecil dan pergerakannya semakin lambat seiring dengan meningkatnya
konsentrasi. Bahkan pada larutan garam dengan konsentrasi 40% bakteri
terlihat tidak bergerak atau mati.

Percobaan selanjutnya dilakukan dengan memberi paparan sinar LED


merah dan biru pada bakteri dengan durasi waktu paparan yang berbeda.
Dari hasil pengamatan yang diperoleh dapat dilihat bahwa pada saat
pemaparan sinar LED biru selama 1 menit, pergerakan bakteri masih
cenderung cepat atau aktif bergerak. Namun pada saat durasi pemaparan
ditingkatkan menjadi 3 menit dan 5 menit pergerakannya semakin
melambat. Begitu juga dengan pada saat pemaparan sinar LED merah.Hal ini
terjadi karena energi foton yg dihasilkan kecil dan Poryphyrin hanya
menyerap energi foton yg kecil sehingga menyebabkan paramecium
cenderung lebih lambat. Dari hasil pengamatan tersebut menunjukkan
bahwa LED merah dan biru memiliki potensi untuk menginaktivasi bakteri,
karena membran sel dari paramecium dapat rusak ketika mendapat paparan
LED dengan besar gelombang diatas 420nm dan melemahkan pergerakan
selnya pada periode tertentu.

VII. Kesimpulan

Bakteri Paramecium sp. dapat diinaktivasi dengan larutan gula dan garam
karena kedua larutan tersebut merupakan larutan hipertonis yang dapat
menyebabkan membrane sel bakteri tersebut mengalami krenasi yakni
pengerutan atau pengecilan karena peristiwa osmosis antara larutan
intraseluler dan kedua larutan tersebut.

Penyinaran dengan Led warna merah dan biru juga dapat menginaktivasi
bakteri Paramecium sp. karena kedua warna tersebut mempunyai panjang
gelombang lebih dari 420nm, dimana hampir semua bakteri rentan terhadap
paparan cahaya dengan panjang gelombang 405 hingga 420 nm.

Daftar pustaka

Astuti, Suryani D, dkk. Potensi Pemaparan Light Emitting Diode (LED)


Inframerah Untuk Fotoinaktivasi Bakteri Bacillus subtilis. Surabaya :
Universitas Airlangga

Fadli Ama, dkk. 2015. Pedoman Praktikum Biomekanika dan Biotransportasi.


Surabaya : Universitas Airlangga

Pritanti, L. 1995. Uji Viabilitas Candida Tropicalis, Strain G XIII 2.A. Terhadap
Senyawa Fenol Pada Medium Air Laut Sintetik. Laporan Penelitian
Magang Balibang Mikrobiologi. Bogor : LIPI