Anda di halaman 1dari 11

7 unsur universal suku Toraja

Pengertian Suku Toraja


Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti orang
yang berdiam di negeri atas. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini
Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah
adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan
peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan
berlangsung selama beberapa hari. Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to
riaja, yang berarti orang yang berdiam di negeri atas. Pemerintah kolonial
Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Ada juga versi lain bahwa
kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya
orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut
menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman
suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja. Suku Toraja terkenal akan
ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual
pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya
dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi
Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan
500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten
Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama
Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme
yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui
kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
B. Sejarah Suku Toraja
Dulu ada yang mengira bahwa Teluk Tonkin, terletak antara Vietnam utara
dan Cina selatan, adalah tempat asal suku Toraja. Sebetulnya, orang Toraja
hanya salah satu kelompok penuture bahasa Austronesia. Awalnya, imigran
tersebut tinggal di wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya pindah ke
dataran tinggi. Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan
perdagangan dan politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische
Compagnie (VOC). Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran
tinggi Sulawesi tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan
hanya memiliki sedikit lahan yang produktif.
Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir terhadap pesatnya
penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku Makassar dan
Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme sebagai target
yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-an, misi penyebaran
agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan pemerintah kolonial
Belanda. Selain menyebarkan agama, Belanda juga menghapuskan
perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis digambarkan di
sekitar wilayah Sadan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja awalnya
merupakan subdivisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut.
Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja status regentschap, dan
Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun 1957.
Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku
Toraja karena penghapusan jalur perdagangan yang menguntungkan Toraja.
Beberapa orang Toraja telah dipindahkan ke dataran rendah secara paksa
oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak ditetapkan pada tingkat yang
tinggi, dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit masyarakat.
Meskipun demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya
Toraja, dan hanya sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen. Pada
tahun 1950, hanya 10% orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen.
Penduduk Muslim di dataran rendah menyerang Toraja pada tahun 1930-an.
Akibatnya, banyak orang Toraja yang ingin beraliansi dengan Belanda
berpindah ke agama Kristen untuk mendapatkan perlindungan politik, dan
agar dapat membentuk gerakan perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan
Makassar yang beragama Islam. Antara tahun 1951 dan 1965 setelah
kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami kekacauan akibat
pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam, yang bertujuan untuk
mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi. Perang gerilya yang
berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin banyak
orang Toraja berpindah ke agama Kristen.
Pada tahun 1965, sebuah dekret presiden mengharuskan seluruh penduduk
Indonesia untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui: Islam,
Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha. Kepercayaan asli Toraja (aluk)
tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya menentang dekret
tersebut. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima
sebagai bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo
dilegalkan sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

C. Unsur-unsur Kebudayaan Suku Toraja

Bahasa
Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja, dengan
Sadan Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional adalah bahasa resmi dan digunakan oleh masyarakat, akan
tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di Tana Toraja.
Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae , Talondo ,
Toala , dan Toraja-Sadan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-
Polinesia dari bahasa Austronesia. Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja
yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri.
Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja
menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang
diperkenalkan sejak masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari
keragaman dalam bahasa Toraja. Contoh : BAHASA INDONESIA > BAHASA
TORAJA > ENGLISH
Bangun = milik = to build .
rokok= pelo = cigarette .
merokok= mapello= smoking .
sirih= pangngan= betel
topi = songko= hat
panas = malassu = hot
Berikut Keragaman Bahasa Toraja :
Denominasi ISO 639-3
Populasi (tahun) Dialek
Kalumpang kli
12,000 (1991) Karataun, Mablei, Mangki (Eda), Bone Hau (Tada).
Mamasa mqj
100,000 (1991) Mamasa Utara, Mamasa tengah, Pattae (Mamasa Selatan,
Patta Binuang, Binuang, Tae, Binuang-Paki-Batetanga-Anteapi)
Tae rob
250,000 (1992) Rongkong, Luwu Timur Laut, Luwu Selatan, Bua.
Talondo tln
500 (1986)
Toala tlz
30,000 (1983) Toala, Palili.
Torajan-Sadan sda
500,000 (1990) Makale (Tallulembangna), Rantepao (Kesu), Toraja Barat
(Toraja Barat, Mappa-Pana).
Ciri yang menonjol dalam bahasa Toraja adalah gagasan tentang duka cita
kematian. Pentingnya upacara kematian di Toraja telah membuat bahasa
mereka dapat mengekspresikan perasaan duka cita dan proses berkabung
dalam beberapa tingkatan yang rumit. Bahasa Toraja mempunyai banyak
istilah untuk menunjukkan kesedihan, kerinduan, depresi, dan tekanan
mental. Merupakan suatu katarsis bagi orang Toraja apabila dapat secara
jelas menunjukkan pengaruh dari peristiwa kehilangan seseorang; hal
tersebut kadang-kadang juga ditujukan untuk mengurangi penderitaan
karena duka cita itu sendiri.
Religi (Agama) Suku Toraja

Sistem kepercayaan tradisional suku Toraja adalah kepercayaan


animisme politeistik yang disebut aluk, atau jalan (kadang diterjemahkan
sebagai hukum). Dalam mitos Toraja, leluhur orang Toraja datang dari surga
dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku Toraja
sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta. Alam
semesta, menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia
(bumi), dan dunia bawah. Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan
menghasilkan kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul cahaya. Hewan
tinggal di dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi
panjang yang dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat
manusia, dan surga terletak di atas, ditutupi dengan atap berbetuk pelana.
Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo
Ongon-Ongon (dewi gempa bumi), Pong Lalondong (dewa kematian), Indo
Belo Tumbang (dewi pengobatan), dan lainnya. Agama: mayoritas penduduk
memeluk agama Krtisten selebihnya merupakan pemeluk agama Katholik,
Islam, dan Alukta. Adapun perincian tempat ibadah ialah sebagai berikut:
Gereja Kristen: 11buah, Gereja Katholik: 1 buah, Mesjid : 1 buah.
Kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik
dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara pemakaman, disebut to
minaa (seorang pendeta aluk). Aluk bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi
juga merupakan gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaaan. Aluk
mengatur kehidupan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual
keagamaan. Tata cara Aluk bisa berbeda antara satu desa dengan desa
lainnya. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa ritual kematian
dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya bahwa ritual kematian
akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual
kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya. Ketika ada para
misionaris dari Belanda, orang Kristen Toraja tidak diperbolehkan menghadiri
atau menjalankan ritual kehidupan, tetapi diizinkan melakukan ritual
kematian. Akibatnya, ritual kematian masih sering dilakukan hingga saat ini,
tetapi ritual kehidupan sudah mulai jarang dilaksanakan.

Sistem Kemasyarakatan
Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat
dengan kelas sosial. Ada tiga tingkatan kelas sosial: bangsawan, orang biasa,
dan budak (perbudakan dihapuskan pada tahun 1909 oleh pemerintah Hindia
Belanda). Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan untuk
menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk
menikahi perempuan dari kelas yang lebih tingi, ini bertujuan untuk
meningkatkan status pada keturunan berikutnya. Sikap merendahkan dari
Bangsawan terhadap rakyat jelata masih dipertahankan hingga saat ini
karena alasan martabat keluarga.
Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga, tinggal di
tongkonan, sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana
(pondok bambu yang disebut banua). Budak tinggal di gubuk kecil yang
dibangun di dekat tongkonan milik tuan mereka. Rakyat jelata boleh menikahi
siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan dalam
keluarga untuk menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan budak
dilarang mengadakan perayaan kematian. Meskipun didasarkan pada
kekerabatan dan status keturunan, ada juga beberapa gerak sosial yang
dapat memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan atau perubahan
jumlah kekayaan.
Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki.Budak dalam
masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga. Kadang-kadang orang
Toraja menjadi budak karena terjerat utang dan membayarnya dengan cara
menjadi budak. Budak bisa dibawa saat perang, dan perdagangan budak
umum dilakukan. Budak bisa membeli kebebasan mereka, tetapi anak-anak
mereka tetap mewarisi status budak. Budak tidak diperbolehkan memakai
perunggu atau emas, makan dari piring yang sama dengan tuan mereka,
atau berhubungan seksual dengan perempuan merdeka. Hukuman bagi
pelanggaran tersebut yaitu hukuman mati.

Sistem Pengetahuan
Di Tanah Toraja terdapat beberapa kesenian yang dapat memberikan
suatu pengetahuan secara tak langsung tentang adat dan istiadat serta
pengetahuan tentang sejarah Tanah Toraja. Diantaranya kesenian upacara
Rambu Tuka.
Upacara syukuran atau Rambu Tuka, antara lain adalah upacara perkawinan,
maupun selamatan rumah (membangun rumah, merenovasi atau memasuki
rumah baru). Upacara selamatan rumah disebut juga upacara pentahbisan
rumah. Upacara jenis ini harus dilaksanakan pagi hari dan diharapkan selesai
di sore hari. Pemotongan hewan korban juga dilakukan, namun jumlahnya
tidak sebanyak saat upacara kematian. Itu juga yang menyebabkan banyak
anggapan bahwa upacara kematian di Tator memang lebih meriah
dibandingkan upacara lainnya

Para perajin parang tersebar di berbagai wilayah Toraja. Namun kalau


Anda ingin melihat proses pembuatannya, maka datanglah pada hari pasaran
(6 hari sekali) yang digelar di Rantepao. Hari pasaran ini merupakan pasar
terluas di Toraja, dengan keistimewaan perdagangan kerbau dan babi yang
sangat besar.
Tanah lapang luas yang menampung kerbau dengan para penjualnya
bersisian dengan kios-kios para perajin parang. Sistem pembuatan parang
tradisional yang cukup cepat pengerjaannya bisa disaksikan di sini. Anda juga
bisa menemukan perajin parade di Desa La Bo, Kelurahan Sangga Lange
(terusan arah Kete Kesu), yang selain bertani, mereka juga membuat parang
dan dengan senang hati mereka akan memperlihatkan cara pembuatannya.
Tentu saja, sebagai rasa terima kasih, selayaknya Anda memberikan
penghargaan berupa tips (min. Rp. 10.000,-) atas peragaan yang mereka
sajikan, atau beli parangnya dengan harga sekitar Rp. 65.000,-. Namun harus
diakui, parang dan pedang yang dijual di pasar permanen Rantepao lebih
halus buatannya, tentu dengan harga yang lebih variatif, sesuai dengan
model, ukuran dan motif yang ada.
Budaya adalah salah satu harta berharga yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia. Perlu pemeliharaan dan kepedulian agar warisan budaya tidak
semakin tergerus oleh budaya asing. Banyak cara yang dapat dilakukan
untuk tetap mempertahankan budaya. Seperti halnya kain tenun Toraja.
Budaya tenun di Toraja telah menjadi warisan secara turun temurun, dengan
tetap mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang kegiatan menenun.
Sehingga, diharapkan tenun Toraja takkan hilang ditelan jaman.
Selain itu, karena tenun telah menjadi salah satu sumber mata pencaharian
yang berbasis budaya, maka aktivitas tersebut sangat membantu
melestarikan budaya itu sendiri.

Sistem Teknologi
Perubahan Teknologi Pertanian Pembahasan tentang Teknologi
Pertanian dibatasi pada teknik budidaya atau pra panen dan pascapanen
yang dilakukan oleh masyarakat tani di lokasi penelitian. Hasil survei
menunjukkan bahwa pada era desentralisasi sekarang telah terjadi
perubahan komponen-komponen teknologi pertanian di Tana Toraja.
Komponen komponen tersebut meliputi: pengolahan tanah (pariu), jenis
benih (banne), penanaman (mantanan), pemeliharaan (matora), pemanenan
(mepare), pengangkutan (dibaa), pengeringan (mangalloi), penyimpanan
dan pengolahan. Dari sisi waktu kapan mulai terjadi perubahan, jawaban
responden cukup beragam. Tujuh responden menyatakan perubahan telah
berlangsung sejak 10 tahun yang lalu, 10 respoden menyatakan sejak 15
tahun yang lalu, 13 responden menjawab 20 tahun yang lalu dan hanya 5
responden yang mengatakan perubahan telah terjadi sejak lebih dari 20
tahun yang lalu.
Untuk pertanyaan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya
perubahan, hanya 4 responden yang menyatakan bahwa perubahan
teknologi pertanian merupakan inisiatif petani sendiri (faktor internal).
Jawaban atas pertanyaan yang lebih mendalam (depth interview), kira-kira
apa yang mendorong munculnya inisiatif sendiri tersebut adalah:
1) tayangan televise
2) pengalaman melihat dari daerah lain yang lebih maju
3) ada kebutuhan dari diri sendiri untuk meningkatkan diri dengan
memperbarui teknologi yang ada.
Deskripsi perubahan teknologi pertanian telah terjadi perubahan mendasar
pada berbagai kegiatan budidaya pertanian di Tana Toraja terutama yang
menyangkut berbagai upacara adat. Berbagai bentuk upacara seperti
mangkaro kalo (sebelum tanam), menamu (ketika padi sudah mulai berisi),
mepase (ketika padi akan dipotong, manglika (menaikkan padi ke lumbung),
dan buka allang (mengambil padi dari lumbung) sekarang sudah tidak
dilakukan lagi. Hal ini terkait dengan semakin sempitnya waktu masyarakat
tani dan perhatian terhadap upacara tersebut yang semakin menurun.
Beberapa kegiatan teknologi pertanian lainnya, baik pra panen dan pasca
panen juga telah mengalami perubahan seperti ditunjukkan pada Tabel 1.
Jika diamati, perubahan teknologi pertanian yang terjadi di Desa Lembang
Turunan saat ini keadaannya tidak jauh berbeda dengan daerah pertanian
dataran rendah lain. Tetapi dari wawancara mendalam diketahui bahwa
perubahan tersebut lebih lambat dibanding dengan daerah lainnya. Hal ini
disebabkan karena hasil pertanian padi bukan merupakan satu-satunya
tumpuan bagi keluarga di Toraja, meskipun padi merupakan lambang
kemakmuran bagi keluarga, yang ditandai dengan banyaknya lumbung yang
dimiliki.

Sistem kesenian
1) Rumah Tongkonan
Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan
kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata
tongkonan berasal dari bahasa Toraja tongkon (duduk). Tongkonan
merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan
dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja
oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena
Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya
dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan.
Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai
pusat pemerintahan. Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga
yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan
anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum
bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat
biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di
Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu
membangun tongkonan yang besar.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya
dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada empat jenis tongkonan.

Tongkonan layuk atau tongkonan pesio Aluk, Tongkonan tempat menciptakan


dan menyusun aturan-aturan social keagamaan. Tempat kekuasaan tertinggi,
yang digunakan sebagai pusat pemerintahan.
Tongkonan pekamberan atau pekaindoran adalah tongkonan yang berfungsi
sebagai tempat pengurus atau pengatur pemerintahan adat, berdasarkan
aturan dari Tongkonan Pesio Aluk. Selain itu, Tongkonan Pekanbera
merupakan milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam
adat dan tradisi lokal sedangkan anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan
batu.
Tongkonan Batu Ariri adalah tongkonan yang berfungsi sebagai tongkonan
penunjang. Tongkonan ini mengatur dan berperan dalam membina persatuan
keluarga serta membina warisan tongkonan.
Tongkonan Marimbunna yaitu Tongkonan yang terletak di kelurahan Tikala,
sekitar 6 km arah utara rantepao. Marimbunna merupakan nama dari orang
pertama yang datang di daerah ini. Peninggalannya berupa rumah sekaligus
tempat mandi yang letaknya berada di atas karang, liang batu yang proses
pembuatannya di pahat dengan menggunakan kayu serta ada juga kuburan
marimbunna yang di ukir berbentuk perahu dan kerbau berdiri. Di sini
terdapat jasad marimbunna yang tinggal tulangnya saja, namun rambutnya
tetap menempel di dahinya.
2) Ukiran kayu

Ukiran kayu Toraja: setiap panel melambangkan niat baik.


Bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak memiliki sistem tulisan. Untuk
menunjukkan kosep keagamaan dan sosial, suku Toraja membuat ukiran kayu
dan menyebutnya Passura (atau tulisan). Oleh karena itu, ukiran kayu
merupakan perwujudan budaya Toraja. Setiap ukiran memiliki nama khusus.
Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan
kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti
kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan.
contoh ukiran kayu Toraja, terdiri atas 15 panel persegi.
Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan
agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah
melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan
keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang
yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas dan kanan atas
melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak cepat
dan bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini
juga menunjukkan adanya kebutuhan akan keahlian tertentu untuk
menghasilkan hasil yang baik.

Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja,
selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering
digunakan sebagai dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan
abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam
ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya
meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran
mereka sendiri. Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen
geometris.

Upacara pemakaman
Tempat penguburan Toraja yang diukir.
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling
penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka
biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk,
hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang
besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan
orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi
pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang
rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai
tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang
dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan
puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan
oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak,
orang miskin, dan orang kelas rendah.
Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-
minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang
bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat
mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja
percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba
tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah,
atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan
beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati
dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah
itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.
Sebuah makam.
Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin
berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih.
Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau,
termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang
sedang dalam masa tertidur. Suku Toraja percaya bahwa arwah
membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat
sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan
ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan
tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu
panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat
karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.
Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di
makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang
dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu
pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu
digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu
yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti
mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut
biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat
petinya terjatuh.

Musik dan Tarian


Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam
upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan
untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang
arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat. Pertama-tama,
sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang
malam untuk menghormati almarhum (ritual terseebut disebut Mabadong).
Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara
pemakaman. Pada hari kedua pemakaman, tarian prajurit Maranding
ditampilkan untuk memuji keberanian almarhum semasa hidupnya. Beberapa
orang pria melakukan tarian dengan pedang, prisai besar dari kulit kerbau,
helm tanduk kerbau, dan berbagai ornamen lainnya. Tarian Maranding
mengawali prosesi ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante,
tempat upacara pemakaman. Selama upacara, para perempuan dewasa
melakukan tarian Makatia sambil bernyanyi dan mengenakan kostum baju
berbulu. Tarian Maakatia bertujuan untuk mengingatkan hadirin pada
kemurahan hati dan kesetiaan almarhum. Setelah penyembelihan kerbau dan
babi, sekelompok anak lelaki dan perempuan bertepuk tangan sambil
melakukan tarian ceria yang disebut Madondan.
Tarian Manganda ditampilkan pada ritual MaBua.
Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari
selama musim panen. Tarian Mabugi dilakukan untuk merayakan Hari
Pengucapan Syukur dan tarian Magandangi ditampilkan ketika suku Toraja
sedang menumbuk beras. Ada beberapa tarian perang, misalnya tarian
Manimbong yang dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian
Madandan oleh perempuan. Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana
suku Toraja menari. Sebuah tarian yang disebut Mabua hanya bisa dilakukan
12 tahun sekali. Mabua adalah upacara Toraja yang penting ketika pemuka
agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling pohon suci.
Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pasuling.
Suling berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian
Mabondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang
menari dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Suku Toraja juga
mempunyai alat musik lainnya, misalnya Papelle yang dibuat dari daun
palem dan dimainkan pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan
rumah.