Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anak jalanan merupakan komunitas anak yang cukup besar dengan
berbagai masalah kompleks yang belum dapat diatasi hingga kini, khususnya
masalah kesehatannya. Masa kanak-kanak seharusnya diisi dengan belajar dan
bermain agar proses tumbuh kembang berlangsung optimal. Namun, anak jalanan
dihadapkan dengan berbagai risiko yang dapat membahayakan kesehatan dan
1
tumbuh kembang mereka.

Banyak masalah dan bahaya yang harus anak jalanan hadapi.


Berkurangnya partisipasi mereka dalam pendidikan karena harus bekerja, risiko
mengalami kecelakaan lalu lintas, adanya polusi udara, jam kerja yang panjang,
status gizi kurang, paparan terhadap perilaku sosial yang tidak baik, hingga
paparan terhadap perlakuan salah, baik secara fisik, seksual, maupun emosional;
1
merupakan potensi masalah dan bahaya yang mereka hadapi. .

Kegiatan yang diharapkan mendapatkan masalah-masalah yang dihadapi


anak jalanan dan pemecahan masalahnya dapat terlaksana melalui diagnosis
komunitas. Intervensi-intervensi untuk prioritas masalah dalam komunitas anak
jalanan sangat perlu untuk dilaksanakan. Teori perilaku Lawrence Green dalam
kaitannya dengan intervensi-intervensi yaitu memberikan pengarahan faktor-
faktor apa yang dapat dilakukan intervensi dengan segera.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa saja permasalahan yang dihadapi anak jalanan?
1.2.2 Apa prioritas masalah pada anak jalanan?
1.2.3 Intervensi apa yang dapat dilakukan dan kaitannya dengan teori perilaku
Lawrence Green?

1.3 Tujuan Makalah


Laporan ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk mengatasi
permasalahan kesehatan pada anak jalanan, dan diharapkan adanya monitoring
dan evaluasi terhadap program-program yang dijalankan oleh pihak-pihak yang
telah diadvokasi. Permasalahan yang kompleks dari anak jalanan diharapkan
dapat diatasi secara bertahap sehingga kualitas anak jalanan sebagai harapan
bangsa meningkat.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 1 of 21
BAB II
DIAGNOSIS KOMUNITAS

2.1 Analisis Situasi


Dari hasil observasi wawancara secara langsung dengan komunitas anak jalanan
penyemir sepatu di Jalan Letkol Iskandar, Palembang, hanya dilakukan
wawancara secara langsung pada 3 orang anak, antara lain:

Tabel 2.1 Komunitas Anak Jalanan


No. Nama Status Usia Jenis Pendidikan Pekerjaan Penghasilan
Keluarga Kelamin

1. An. Kelvin Anak ke-2 8 tahun Laki-laki Kelas 2 SD Penyemir Rp. 10.000,-
Sanjaya dari 4 Sepatu -15.000,- per
bersaudara hari

2. An. Riki Anak ke-5 11 Laki-laki Putus sekolah Penyemir Rp. 10.000,-
Putra dari 7 tahun kelas 5 SD Sepatu -15.000,- per
bersaudara hari

3. An.Rendi Anak ke-3 10 Laki-laki Kelas 5 SD Penyemir Rp. 10.000,-


dari 4 tahun Sepatu -20.000,- per
bersaudara hari

An. Kelvin Sanjaya tinggal di Kampung 4 Ulu. Di rumahnya,


Kelvin tinggal dengan kedua orangtuanya yang beurusia ayah 35 tahun dan ibu 32
tahun, kakek dan neneknya (anak tidak mengetahui usia kakek dan nenek),
seorang kakak perempuannya yang berusia 10 tahun, dan dua adik laki-laki yang
berusia 6 tahun dan 1 tahun. Kelvin yang saat ini berusia 8 tahun bekerja sebagai
penyemir sepatu dan duduk di bangku kelas 2 SD (Sekolah Dasar). Ayahnya yang
bernama Tn. Dedi bekerja sebagai tukang servis jam dengan latar belakang
pendidikan tidak tamat SMP. Ibunya yang bernama Ny. Pipin bekerja sebagai
penjual baju di pasar 4 Ulu dengan latar belakang pendidikan tidak tamat SMP
(Kelvin tidak tahu penghasilan kedua orangtuanya). Kakak dari Kelvin duduk di
bangku sekolah dasar kelas 4 SD dan tidak bekerja. Kedua adik Kelvin saat ini
belum bersekolah. Rumah yang ditinggali Kelvin dan keluarganya merupakan

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 2 of 21
rumah milik kakek dan neneknya yang berdinding kayu dan berlantai semen.
Kebutuhan sehari-hari Kelvin dan ketiga saudaranya didapatkan dari uang
simpanan neneknya. Kelvin dan saudaranya mandi dan berganti pakaian hanya
sekali sehari, jarang menggosok gigi, memotong kuku, dan makan tidak teratur.
Kelvin belum bisa membaca dan malas sekolah. Kedua orangtua Kelvin sering
bertengkar masalah ekonomi dan jarang memberi uang saku sehingga ayahnya
menyuruh Kelvin untuk bekerja. Kelvin bekerja sebagai penyemir sepatu dengan
penghasilan rata-rata perhari Rp. 10.000,- - 15.000,-. Penghasilan tersebut
kemudian diberikan kepada ibunya.
An. Riki Putra tinggal di Kampung 4 Ulu. Di rumahnya, Riki tinggal
dengan kedua orangtuanya yang berusia ayah 45 tahun dan ibu 40 tahun, 2 orang
kakaknya (sudah tamat sekolah) dan 2 orang adiknya (duduk di bangku sekolah
SD kelas 5 dan kelas 1). Riki yang saat ini berusia 11 tahun bekerja sebagai
penyemir sepatu dan sudah tidak bersekolah lagi (putus sekolah setelah kelas 5
SD). Ayahnya yang bernama Tn. Dedi bekerja sebagai tukang jual jam dengan
latar belakang pendidikan tidak tamat SMP. Ibunya yang bernama Ny. Pipin
bekerja sebagai penjual baju di pasar 4 Ulu dengan latar belakang pendidikan
tidak tamat SMP (Riki tidak tahu penghasilan kedua orangtuanya). Kakak dari
Riki sudah tamat sekolah dan sudah bekerja, 2 orang kakaknya sudah menikah
dan tidak tinggals serumah dengan Riki. Kedua adik Riki saat ini duduk di kelas 1
dan 5 SD. Rumah yang ditinggali Riki merupakan rumah kontrakan yang
berdinding kayu dan berlantai semen. Kebutuhan sehari-hari Riki dan empat
saudaranya didapatkan dari pendapatan orang tua. Riki dan saudaranya mandi dan
berganti pakaian hanya sekali sehari, jarang menggosok gigi, memotong kuku,
dan makan tidak teratur. Riki sudah bisa membaca, tetapi malas sekolah. Riki
mengaku putus sekolah karena tidak naik kelas dan tidak memiliki uang untuk
membeli buku. Kedua orangtua Riki cukup harmonis. Riki mengaku diberi uang
saku Rp 2.000 setiap hari sewaktu masih bersekolah. Riki bekerja sebagai
penyemir sepatu dengan penghasilan rata-rata perhari Rp. 10.000,- - 15.000,-.
Penghasilan tersebut kemudian disimpannya untuk membeli buku, Riki
berkeinginan untuk melanjutkan sekolah.
An. Rendi tinggal di Kampung 4 Ulu. Di rumahnya, Rendi tinggal dengan
Bibinya yang beurusia 40 tahun, dua orang kakak laki-laki yang berusia 13 tahun
dan 12 tahun, dan seorang adik perempuan yang berusia 7 tahun. Rendi yang saat
ini berusia 10 tahun bekerja sebagai penyemir sepatu dan duduk di bangku kelas 5
SD (Sekolah Dasar). Bibinya yang bernama Ny. Astuti bekerja sebagai penjual
BJ. Bibi sudah bercerai dan tidak memiliki anak. Rendi tidak tahu penghasilan
Bibinya. Ayahnya yang bernama Tn. Idristinggal di Jambi dan Rendi tidak
mengetahui pekerjaannya. Ibunya yang bernama Ny. Ratnatelah lama meninggal.
Kakak pertama Rendi sudah tidak bersekolah lagi dan kini bekerja sebagai
penjual ikat pinggang di jalanan. Kakak kedua Rendi sudah tidak bersekolah lagi
dan kini bekerja sebagai penjual kerupuk kemplang di jalanan. Rendi tidak tahu
penghasilan kedua kakaknya. Adik Rendi saat ini sedang duduk di bangku kelas 1
SD (Sekolah Dasar) dan tidak bekerja. Rumah yang ditinggali Rendi dan
keluarganya merupakan rumah sewa yang berdinding kayu dan berlantai semen.
Kebutuhan sehari-hari Rendi dan ketiga saudaranya didapatkan dari penghasilan
Bibi dan kedua kakaknya. Rendi dan saudaranya mandi dan berganti pakaian
hanya sekali sehari, jarang menggosok gigi, memotong kuku, serta makan dan
tidur tidak teratur. Rendi disuruh bekerja oleh Bibinya dan sekarang bekerja
sebagai penyemir sepatu dengan penghasilan rata-rata perhari Rp. 10.000,- -
20.000,-. Penghasilan tersebut diberikan kepada Bibinya untuk kebutuhan
sekolah.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 3 of 21
2.2 Permasalahan Anak Jalanan
Tabel 2.2 Permasalahan Anak Jalanan
Kriteria Permasalahan
Ekonomi Desakan ekonomi keluarga sehingga
orang tua menyuruh anaknya untuk
turun ke jalan guna mencari
tambahan untuk keluarga
Pengetahuan Cenderung lebih menekuni
pekerjaannya daripada pendidikan
Kurangnya konsentrasi anak pada saat
belajar di sekolah maupun di rumah
Kurangnya perilaku hidup bersih dan
sehat
Kurangnya pengetahuan mengenai
bahaya kerja di jalanan terhadap
kesehatan
Kebiasaan Makan 1-2x dalam sehari, makanan
tidak bergizi
Jarang mandi dan menggosok gigi
Fasilitas Kesehatan dan Petugas Saat sakit, tidak pernah dibawa ke
Kesehatan puskesmas, melainkan membeli obat
sendiri di warung
Tidak ada petugas kesehatan yang
memeriksa kesehatan dan
memberikan pendidikan dan promosi
kesehatan kepada anak jalanan
Lingkungan Rumah dan Keluarga Rumah tinggal yang kumuh dan
banyaknya jumlah anggota keluarga
yang tinggal serumah membuat
ketidakbetahan dan
ketidaknyamanan anak berada di
rumah
Keluarga disharmonis
Rendahnya pendidikan orang tua
sehingga mereka tidak mengetahui
fungsi dan peran sebagai orang tua
dan juga ketidaktahuannya mengenai
hak-hak dan kewajiban-kewajiban
anak.
Lingkungan Pekerjaan Sehari bekerja sekitar 6-7 jam
Tidak memakai masker dan topi,
hanya pakaian seadanya, memakai
sandal
Tidak ada tempat kerja yang tetap
Bebasnya melakukan pekerjaan
apapun di jalan
Kebijakan Pemerintah Belum adanya payung kebijakan
mengenai anak yang turun ke jalan
baik kebijakan dari kepala RT
stempat, kepolisian, Pemda, maupun
Departemen Sosial

2.4 Prioritas Masalah


Dari sekian masalah yang ada pada anak jalanan tersebut, kami memutuskan
untuk mengangkat permasalahan DESAKAN EKONOMI KELUARGA,

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 4 of 21
KURANGNYA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, TINGKAT
PENDIDIKAN ORANG TUA YANG RENDAH. Pemilihan area masalah
kesehatan ini didasarkan atas berbagai pertimbangan yaitu
Dalam kasus ini anak jalanan diminta oleh orang tua mereka untuk bekerja
demi mencukupi kebutuhan keluarga yang besar daripada pendapatan, sehingga
menjadi tuntutan keuangan untuk turut ikut bekerja dibandingkan belajar di
sekolah. Rendahnya perekonomian keluarga menjadi salah satu pemicu kurangnya
asupan gizi yang baik, hal ini mengakibatkan kurangnya konsentrasi dan minat
belajar. Mereka rata-rata tinggal di lingkungan yang kumuh, rumah yang sempit
dengan anggota keluarga yang banyak sehingga kurangnya perilaku hidup bersih
dan sehat. Ketidakharmonisan keluarga serta rendahnya tingkat pendidikan kedua
orang tua memicu kurangnya pengetahuan tentang penerapan kebijakan
ketenagakejaan anak dibawah umur.

2.5 Pemecahan Masalah dengan Teori Perilaku Lawrence Green


Dari prioritas masalah, desakan ekonomi keluarga, kurangnya perilaku
hidup bersih dan sehat, tingkat pendidikan orang tua yang rendah, yang
telah kami tetapkan, akan kami lakukan intervensi dengan menggunakan teori
perilaku dari Lawrence Green.

Fase 1. Diagnosa Sosial

Diagnosis sosial yang mempengaruhi kualitas hidup anak jalanan:


Desakan orangtua untuk menyuruh anaknya turun ke jalan guna mencari
tambahan untuk keluarga
Orangtua atau wali yang tidak bekerja
Pendidikan orangtua rendah (tidak tamat SMP) yang tidak mengetahui
fungsi dan peran sebagai orangtua dan hak-hak anak
Berkurangnya minat sekolah karena tanggung jawab dalam pemenuhan
keuangan keluarga
Sandang, papan, dan pangan tidak dapat mencukupi anggota keluarga
sehari-harinya
Hanya mengobati seadanya dengan obat warung apabila sakit

Rumah padat huni dan kawasan kumuh

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 5 of 21
Fase 2. Diagnosa Epidemiologis

Diagnosis epidemiologis, rumah padat huni dan kawasan kumuh serta


anak jalanan hampir setiap hari terpapar pada polusi udara.
Kejadian penyakit ISPA akibat terpapar polusi udara setiap hari
Kebiasaan makan dengan gizi tidak seimbang menyebabkan pertumbuhan
terhambat
Gangguan pencernaan karena makan makanan yang di jual di jalan

Fase 3. Diagnosa Tingkah laku dan lingkungan


Sikap menganggap bekerja di jalan akan dapat banyak uang

Tahu banyak yang ikut kerja di jalanan


Anggapan banyaknya rezeki yang didapat dari bekerja di jalan

Tidak jera meskipun banyak kriminalitas yang terjadi

Kebiasaan bebas untuk melakukan apa saja

Kebiasaan melakukan pengobatan sendiri seadanya


Kebiasaan kurangnya melakukan perilaku hidup bersih dan sehat

Lingkungan jalanan yang menerima anak-anak untuk kerja


Fase 4. Diagnosa Pendidikan dan Organisasi
Predisposing faktor :
- Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan sulitnya mendapatkan
pekerjaan yang lebih layak
- Rendahnya tingkat pendidikan orang tua menjadi faktor pendukung
sulitnya meningkatkan kualitas hidup keluarga sehingga hal ini dapat
memicu ikut mempekerjakan anak di bawah umur dengan tujuan dapat
menambah penghasilan keluarga. Selain itu tingkat pendidikan orang
tua dapat mempengaruhi ketidaktahuan cara mendidik anak serta
menurunkan motivasi anak untuk belajar dan sekolah.
- Minat untuk sekolah sudah tidak ada dan digantikan dengan minat
untuk mencari uang.
- Sikap orangtua yang tidak mempermasalahkan anaknya kerja di jalan

Enabling :
- Tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan
berobat
- Adanya teman yang mengajak dan yang memiliki permasalahan yang
sama
- Adanya organisasi yang menjanjikan banyak hal pada anak-anak agar
kerja di jalan

Reinforcing :
- Adanya sikap para orang tua yang mendorong anak-anaknya agar
kerja di jalan
- Tidak ada yang melarang anak-anak untuk bekerja di jalan
- Krisis moneter dan kemiskinan

Fase 5. Diagnosa Administrasi dan Kebijakan


Implementasi kebijakan yang belum baik mengenai anak jalanan, anak

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 6 of 21
terlantar dan sebagainya menyebabkan banyaknya anak yang bekerja
di jalanan dan tidak terjamin keamanan, kesehatan dan
kesejahteraannya
Penerapan kebijakan dan larangan mempekerjakan anak di bawah umur
telah dilakukan, namun ketidaktahuan orang tua atau kurangnya
pengawasan pemerintah terhadap terlaksananya kebijakan dan
larangan tersebut.

Fase 6. Implementasi
Beberapa program yang akan dilakukan sebagai alternatif pemecahan
prioritas masalah adalah:

Tabel 2.3 Implementasi Alternatif Pemecahan Masalah


Prioritas Penting Kurang penting
Mudah 1. Melakukan penyuluhan mengenai 1. Melakukan penyuluhan tentang
pentingnya pemeriksaan kesehatan kesehatan anak dan perilaku
berkala ke tempat layanan kesehatan hidup bersih dan sehat

Sulit 1. Melakukan pendataan dan konseling 1. Melakukan penyuluhan tentang


kepada keluarga anak jalanan aktivitas pengembangan
2. Melakukan pemberdayaan masyarakat kreativitas, pelatihan kerja
mengenai kegiatan/aktivitas
pengembangan kreativitas untuk
meningkatkan sumber pemasukan
keluarga dan masyarakat

Tujuan program:
a. Tujuan umum
Meningkatkan sumber pendapatan keluarga agar menurunkan jumlah
pekerja anak.
b. Tujuan khusus
Meningkatkan pengetahuan dan kreativitas warga dalam upaya usaha
peningkatan ekonomi keluarga dan masyarakat
Menggiatkan program wajib belajar bagi anak-anak dibawah umur

Sasaran program:
Seluruh bapak dan ibu di Kecamatan 4 Ulu.
Seluruh anak-anak jalanan

Isi program:
Program pelatihan dan pemberdayaan tenaga kerja
Program pengenalan dan pendalaman lapangan kerja yang
memungkinkan bagi orangtua anak-anak jalanan
Program pendidikan gratis dan pengenalan lapangan kerja yang lebih
layak bagi anak-anak jalanan
Program pemeriksaan kesehatan gratis bagi anak-anak jalanan

Media:
Melalui diskusi grup secara individual dan komunitas.
Melalui kelompok-kelompok kecil dengan pengajar untuk anak jalanan.
Melalui peran ibu-ibu pkk sebagai kader kesehatan untuk membantu
petugas kesehatan memeriksa kesehatan
Melalui media cetak seperti televisi dan radio untuk mengajak
masyarakat untuk menyelamatkan anak-anak jalanan dan bukan
memandang sebelah mata

1. Rencana dan Jadwal Kegiatan


Rencana Kegiatan Persiapan

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 7 of 21
Penyusunan proposal, perencanaan anggaran biaya, mengurus izin ke
Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kota Palembang.
Melakukan audiensi kepada pihak pemerintah setempat, instansi swasta,
dan tokoh masyarakat dalam usaha mencari dukungan baik dana maupun
legalitas.
Persiapan materi pelatihan dan pembicara.
Persiapan tempat, peralatan, dan waktu pelatihan.
Kegiatan publikasi meliputi penyebaran undangan ke seluruh orang tua
dan anak jalanan di Kota Palembang.

Tabel 2.4 Rencana Kegiatan Pelaksanaan


PROGRAM DESEMBER JANUARI FEBRUARI
Penyusunan 1 Desember - 21 Desember
proposal, 2016
perencanaan
anggaran biaya,
mengurus izin ke
Dinas Kesehatan
dan Dinas Sosial
Kota Palembang.
Audiensi kepada 22 Desember - 31
pihak pemerintah Desember 2016
setempat, instansi
swasta, dan tokoh
masyarakat dalam
usaha mencari
dukungan baik dana
maupun legalitas.
Persiapan materi 1 Januari 10
pelatihan, Januari 2017
pembicara, dan
tempat, peralatan,
dan waktu pelatihan.
Pemasangan poster 11 Januari 31
dan penyebaran Januari 2017
brosur, kunjungan
ke rumah orangtua
anak-anak jalanan
Melakukan 1 Februari 15
pendataan masalah Februari 2017
melalui assessment
masalah dan
kebutuhan anak
jalanan dan orangtua
anak jalanan
Penyuluhan kepada 16 Februari 28
orangtua dan anak- Februari 2017
anak jalanan dalam
kelompok diskusi

MARET APRIL MEI


Pengajian dan 1 Maret 3 Maret 2017
ceramah agama (Rencana 1x/minggu)

Pembagian sembako 4 Maret 5 Maret 2017


dan modal usaha (Rencana 1x/bulan)
untuk ekonomi
produktif

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 8 of 21
Penimbangan bayi 6 Maret 8 Maret 2017
dan pemberian (Rencana 1x/bulan)
makanan bergizi
pada anak jalanan
Sunatan massal 9 Maret 11 Maret 2017
(Rencana 1x/6 bulan)
Kelompok belajar 12 Maret
paket A (Rencana setiap hari)
Keterampilan 12 Maret
menjahit (Rencana 2x/minggu)
Keterampilan 13 Maret
perbengkelan (Rencana 2x/minggu)
Pelatihan membuat 14 Maret
kue dan barang (Rencana 3x/minggu)
pecah belah

Penyuluhan kepada orangtua dan anak jalanan

Merubah pola pikir para orang tua anak jalanan, bagaimana aspirasi orang
tua terhadap anaknya, apa yang diinginkan dari anaknya. Kegiatan pelayanan
yang diberikan oleh para pekerja sosial adalah memberikan bimbingan mental
kepada orang tua anak jalanan berupa pengajian dan ceramah agama yang
berkaitan dengan peran dan tanggung jawab orang tua terhadap anak sebagai
tujuan utama, disamping itu diberikan bantuan sembako dan modal untuk usaha
ekonomi produktif dalam rangka penguatan fungsi keluarga/orang tua.

Pekerja sosial bersama masyarakat sekitar tempat tinggal anak


jalanan merancang suatu kegiatan yakni penimbangan bayi dan pemberian
makanan bergizi bagi anak jalanan usia balita. Kegiatan sunatan masal dan
kelompok belajar paket A bagi anak jalanan usia sekolah. Untuk anak usia
produktif diberikan kursus keterampilan menjahit untuk anak jalanan perempuan
dan perbengkelan untuk anak jalanan laki-laki. Untuk keluarga/orang tua
diberikan keterampilan membuat kue serta bantuan peralatan. Kegiatan ini
dilaksanakan atas kerja sama dengan puskesmas setempat, dinas pendidikan
kecamatan, masyarakat sekitar tempat tinggal anak jalanan dan pengusaha
setempat.

2. Rencana Kegiatan Pelaksanaan

Hari/tanggal Waktu Kegiatan


16 Februari 28 08.00 08.30 WIB Registrasi dan pembukaan
Februari 2017 08.30 09.30 WIB Kegiatan Penyuluhan

09.30 10.00 WIB Break dan Snack


10.00 11.30 WIB Pelatihan
11.30 12.15 WIB Diskusi interaktif
12.15 13.00 WIB Ishoma
13.00 13.30 WIB Review
13.30 14.00 WIB door prize

3. Rencana Pembiayaan
1. Sumber dana
Sumber dana dalam penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan
diperoleh melalui:
a. Kas Puskesmas
b. Swadaya masyarakat
c. Instansi-instansi terkait

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 9 of 21
d. Para donatur/dermawan
2. Estimasi Dana
Terlampir di lampiran
Tim pelaksana

Penanggung Jawab : dr. Hj. Mariatul Fadilah, MARS


Ketua pelaksana : dr. Risha Meilinda Marpaung
Administrasi & Keuangan : dr. Suci Fahlevi Masri
Pelaksana Lapangan : dr. Lianita, dr. Gina Sonia
Supporting Program : dr. Tri Indah Soraya
Supervisor : dr. Meida Rarasta

Fase 7. Evaluasi Proses

Evaluasi program dilaksanakan tiap bulan pada akhir bulan. Evaluasi


dilakukan dengan tujuan apakah program telah berjalan baik dengan dilihat
faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat serta kekurangan program pada
bulan tersebut, sehingga faktor tersebut dapat dihindari atau dihilangkan pada
bulan berikutnya. Evaluasi dilakukan dengan cara mengadakan rapat anggota tiap
akhir bulan di kantor camat. Di sini para anggota menjelaskan apa saja yang
menjadi hambatan pada saat kegiatan berlangsung dan penilaian mereka atas
kegiatan pada bulan tersebut.

Fase 8. Evaluasi Dampak

Evaluasi dampak dilakukan setiap 3 bulan dan dilakukan dengan cara


observasi dan pendataan langsung ke puskesmas dan dinas sosial terkait. Hasil
pemantauan akan menentukan apakah diperlukan intervensi lanjutan atau program
baru dengan tujuan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan ekonomi per
kapita sehingga menurunkan angka anak jalanan di kecamatan tersebut.

Fase 9. Evaluasi Hasil

Evaluasi akhir dilakukan diakhir program dan dilakukan dengan cara


observasi dan pendataan langsung ke puskesmas dan dinas sosial terkait. Hasil
pemantauan akan menentukan apakah diperlukan perbaikan program, intervensi
lanjutan atau program baru dengan tujuan pemberdayaan masyarakat untuk
meningkatkan ekonomi per kapita sehingga menurunkan angka anak jalanan di
kecamatan tersebut.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 10 of 21
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Diagnosis Komunitas


Diagnosis komunitas merupakan suatu kegiatan untuk menentukan
masalah yang terdapat dalam komunitas melalui suatu studi dan komponen
penting dalam perencanaan program kesehatan. Dalam kegiatan ini, dilakukan
suatu penilaian dan penghubungan suatu masalah, kebutuhan, keinginan, dan
fasilitas yang ada dalam komunitas. Setelah dilakukan penilaian dan
penghubungan,.maka dipikirkan suatu solusi atau intervensi untuk pemecahan
2
masalah yang ada dalam komunitas tersebut.

Suatu diagnosis komunitas yang baik diharapkan dapat bersifat luas dan
mencakup berbagai aspek komunitas seperti budaya, struktur sosial, peran
komunitas, dan lain sebagainya; sebuah diagnosis komunitas yang baik harus
dapat memberikan suatu bayangan bagi para perencana program akan bagaimana
kehidupan di daerah tersebut, masalah-masalah kesehatan yang penting, intervensi
2
yang paling mungkin berhasil, dan cara evaluasi program yang baik.

Pada dasarnya, proses diagnosis komunitas didasarkan pada prinsip-


prinsip diagnosis klinis. Perbedaannya adalah bahwa diagnosis komunitas
diaplikasikan pada komunitas dalam peran dokter yang lebih luas, sedangkan
diagnosis klinis diaplikasikan pada tingkat yang lebih personal. Perbandingan
2
antara diagnosis klinis dan diagnosis komunitas dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1 Perbandingan Diagnosis Klinis dan Diagnosis Komunitas 2

Diagnosis Klinis Diagnosis Komunitas


Pasien Komunitas
Dokter Dokter atau tenaga profesional
Pengumpulan data dari anamnesis Pengumpulan data dari rekam
dan pemeriksaan fisik, data medis, angka mortalitas, angka
pendukung riwayat penyakit, riwayat morbiditas
pengobatan
Penentuan masalah individual Penentuan masalah komunitas
Penentuan pemeriksaan penunjang Penentuan studi atau eksplorasi yang
yang dibutuhkan akan dilakukan pada komunitas
Melakukan survei, skrining, atau
Melakukan pemeriksaan klinis dan surveilans
penunjang Analisis dan interpretasi data
Analisis dan interpretasi data Menentukan diagnosis komunitas
Menentukan diagnosis klinis Merencanakan dan
Memberikan terapi dan edukasi mengimplementasikan pelayanan
dan program untuk komunitas
Follow-up dengan evaluasi program
Follow-up pasien untuk perbaikan Bila tidak ada kemajuan,
klinis pertimbangan untuk ubah atau
Bila tidak ada perbaikan, modifikasi program

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 11 of 21
pertimbangan untuk mengganti
terapi

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melaksanakan diagnosis


2
komunitas terdiri atas:

1. Definisi komunitas: melalui data demografis, data kesehatan, data


kualitatif ditentukan komunitas yang spesifik.

2. Karakteristik komunitas: berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif,


dapat ditentukan masalah kesehatan dalam komunitas yang terpilih untuk
kandidat intervensi.

3. Prioritas masalah: dari masalah yang ada, ditentukan masalah yang


paling penting dalam komunitas.

4. Penilaian masalah kesehatan terpilih: masalah yang terpilih dianalisa


dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang terkait dan strategi serta fasilitas
yang ada untuk rencana intervensi.

5. Intervensi: penentuan intervensi dipengaruhi oleh masalah dan sumber


yang ada.

6. Evaluasi: evaluasi penting untuk menilai pemecahan masalah melalui


intervensi yang diberikan.

3.2 Anak Jalanan


3.2.1 Definisi
Anak Jalanan menurut Departemen Sosial RI adalah anak berusia di
bawah 18 tahun yang menghabiskan sebagian waktunya dengan berada di jalan
lebih dari 6 jam sehari dalam 6 hari dalam seminggu. Menurut United Nations
Convention on the Rights of the Child (UNESCO), anak jalanan adalah anak yang
masih berusia sekolah (518 tahun) yang tidak mengikuti pendidikan di sekolah.

Anak Jalanan terbagi menjadi tiga kelompok menurut United Nations


Children's Fund (UNICEF). Children of the street adalah anak-anak yang pergi
dari rumah, tidak berhubungan lagi dengan keluarganya, tunawisma, tinggal dan
tidur di jalan-jalan perkotaan. Children on the street yang disebut juga sebagai
pekerja anak di jalan, masih tinggal dengan orang tua, namun menghabiskan
sebagian besar waktu mereka bekerja di jalanan untuk membantu keluarganya,
kemudian pulang ke rumah di malam hari. Children in the street merupakan anak
yang tinggal bersama orang tua mereka di jalanan.

Konvensi International Labour Organization (ILO) No.138 yang telah


diratifikasi oleh Indonesia dengan UU No.20 tahun 1999 menyatakan bahwa
pekerja anak adalah anak berumur 5-14 tahun yang melakukan kegiatan ekonomi,
baik secara langsung untuk memperoleh uang, maupun yang sifatnya membantu
orangtua dalam pekerjaan mencari nafkah. Pekerja anak jalanan adalah mereka
yang menjalankan kegiatan ekonominya di jalanan dan tempat-tempat umum
lainnya seperti terminal, stasiun, pasar, tempat hiburan, pusat perbelanjaan, dan
1
taman kota.

3.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Anak Jalanan

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 12 of 21
Banyak faktor yang saling terkait satu sama lain, terdiri atas faktor penarik
dari kota dan faktor pendorong. Krisis ekonomi menyebabkan banyak orang tua
mengalami pemutusan hubungan kerja yang berdampak pada penurunan daya
beli. Banyak anak yang terpaksa harus membantu orang tuanya dan memilih
jalanan sebagai alternatif pelarian mencari pekerjaan karena mereka menganggap
di jalan banyak rezeki yang bisa didapat sesuai dengan tingkat kompetensi yang
ada. Beban hidup anak-anak jalanan menjadi berat karena di usia mereka yang
masih muda dan memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita justru menjadi
tumpuan keluarga untuk mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup
3
seharihari. Hak dan kebutuhan hidup anak jalanan pun tidak dapat terpenuhi.

Faktor keluarga juga tidak kalah mendukung seorang anak menjadi anak
jalanan. Tidak sedikit anak yang hidup dan tumbuh dalam lingkungan yang tidak
kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi anak jalanan.
Banyak anak jalanan berasal dari keluarga yang diwarnai konflik,
ketidakharmonisan, tidak adanya dukungan dan afeksi yang diberikan orang tua,
pola asuh yang terkadang semakin diperparah dengan kekerasan fisik dan
emosional, berpotensi mendorong anak lari meninggalkan rumah. Kondisi ini
terjadi secara bersamaan mendorong timbulnya tekanan yang begitu besar pada
anak sehingga meninggalkan rumah dan melarikan diri ke jalan untuk mencari
kebebasan, perlindungan dan dukungan dari jalanan dan dari rekan-rekan
3
senasibnya.
Ketiga, faktor pergaulan yaitu pengaruh teman yang sudah lebih dahulu mengenal
dunia jalanan. Mereka hidup di jalan dan melakukan aktivitas yang mayoritas
dipandang negatif oleh norma masyarakat. Rata-rata mereka membentuk
komunitas tersendiri di luar kelompok masyarakat seperti geng. Geng dalam
komunitas anak jalanan berfungsi sebagai keluarga bayangan bagi anak-anak yang
bermasalah. Komunitas tersebut juga melahirkan strata dan aktivitas yang sering
bertentangan dengan norma masyarakat. Hal ini memicu konflik seperti
3
pemerasan dan perkelahian antar kelompok, dengan menggunakan senjata tajam.

3.2.3 Masalah Kesehatan pada Anak Jalanan


Masalah kesehatan yang sering terjadi dan dipermasalahkan pada anak
jalanan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dampak terhadap tumbuh kembang dan
kesehatan juga sangat banyak dan kompleks. Pengenalan terhadap masalah
kesehatan dan dampaknya pada anak jalanan sangat memberikan dampak positif
terhadap intervensi dan pemecahan masalah yang sesuai dengan perencanaan
program kesehatan.

Anak jalanan sering diperhadapkan oleh masalah pada pertumbuhan dan


perkembangan fisik, seperti malnutrisi, perawakan pendek, dan gangguan
perkembangan genitalia. Masalah-masalah ini biasanya disebabkan oleh tidak
1
mendapatkan nutrisi yang diperlukan dan waktu istirahat yang tidak adekuat.

Perkembangan kognitif anak jalanan juga mengalami stagnansi karena


anak yang bekerja cenderung lebih menekuni pekerjaannya dibandingkan
sekolahnya. Keterlibatan anak dalam bekerja mengurangi kesempatannya untuk
1
mengembangkan diri melalui pendidikan.

Merokok, menggunakan zat psikoaktif, berjudi, melakukan hubungan seks


dengan pekerja seks, berkelahi, serta melakukan tindakan kriminal merupakan
sekian dari banyak perilaku sosial yang kurang baik yang dapat terjadi pada anak
jalanan. Masalah psikologis yang sering dirasakan oleh anak jalanan, yakni
1
depresi dan perilaku antisosial.

Kesehatan anak jalanan ini juga terganggu. Gangguan kesehatan dapat


datang secara umum dan akibat kerja. Penyakit karena gangguan kesehatan secara

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 13 of 21
umum pada anak jalanan ini yakni malnutrisi, anemia, dan penyakit infeksi, baik
akut (diare, infeksi saluran napas), maupun kronik (tuberkulosis), serta infeksi
parasit. Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang timbul akibat pengaruh kerja
dan lingkungannya. Faktor lingkungan terdiri dari suhu dan polusi udara, suara
bising, pencahayaan, getaran, kendaraan atau alat berat yang ada di lingkungan
kerja, hingga berbagai kuman dan parasit yang ada di lingkungan kerja. Secara
umum polusi udara dikatakan mengganggu perkembangan paru anak dan
meningkatkan kejadian alergi. Kecelakaan lalu lintas merupakan risiko yang
banyak dihadapi pekerja anak jalanan. Faktor risiko ergonomi mencakup antara
lain posisi tubuh yang tidak nyaman, aktivitas yang monoton, mengangkat beban
berat, serta jumlah jam kerja yang panjang. Faktor risiko ini dapat menyebabkan
hambatan pertumbuhan, masalah muskuloskeletal, serta kelelahan, yang pada
akhirnya dapat meningkatkan kejadian kecelakaan kerja dan menurunkan daya
1
tahan tubuh sehingga anak lebih rentan terhadap penyakit.

Kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan tidak saja akan membuat


anak kehilangan kesempatan untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Namun
dikatakan juga bahwa anak yang tidak atau putus sekolah kurang memperoleh
pendidikan kesehatan serta tidak bisa memperoleh layanan kesehatan yang
diselenggarakan pemerintah melalui sekolah, seperti Usaha Kesehatan Sekolah
dan Bulan Imunisasi Anak Sekolah. Lebih jauh dikatakan untuk pekerja anak
perempuan, terhentinya kesempatan sekolah membuat usia perkawinan lebih
1
awal.

3.3 Teori Perilaku PRECEED PROCEED Lawrence Green


PRECEDE/PROCEED adalah model partisipasi masyarakat yang
berorientasi menciptakan masyarakat yang berhasil mengubah perilaku akibat
intervensi promosi kesehatan. Model PRECEDE/PROCEED berfungsi sebagai
frame dengan tujuannya untuk membangun program, menyediakan struktur
organisasi & proses perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi.

Tiga tahap dalam perencanaan program menggunakan


PRECEDE/PROCEED, yaitu:

1. Fluiditas: menggunakan langkah secara berurutan dan konsisten


2. Fleksibilitas: beradaptasi dengan kebutuhan stakeholder
3. Fungsi: berguna untuk menaksir perubahan perilaku
PRECEED memiliki lima tahap:

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 14 of 21
Tahap 1: diagnosis Sosial
Tahap 2: diagnosis epidemiologi
Tahap 3: Perilaku dan diagnosis lingkungan
Tahap 4: Pendidikan dan diagnosis organisasi
Tahap 5: Administrasi dan Kebijakan diagnosis
PROCEED memiliki empat tahap, yaitu:
Tahap 6: Implementasi
Tahap 7: Evaluasi proses
Tahap 8: Evaluasi Dampak
Tahap 9: Evaluasi Hasil

Tahap 1 Diagnosis Sosial


Diagnosis sosial adalah proses penentuan persepsi masyarakat terhadap
kebutuhan kualitas hidupnya dan aspirasi masyarakat untuk meningkatkan
kualitas hidupnya, melalui partisipasi dan penerapan berbagai informasi yang
didesain sebelumnya. Mengukur masalah sosial digunakan indikator sosial, yaitu:

- Absenteeism,
- Achievement,
- Aesthetics,
- Alienation,
- Comfort
- Crime,
- Employment,
- Discrimination,
- Happiness
- Hostility,
- Legitimacy,
- Performance,
- Riots
- Self esteem,
- Unemployment,
- Votes,
- Welfare

Data dapat dikumpulkan dari sensus ataupun vital statistik yang tersedia,
ataupun dengan melakukan pengumpulan data langsung dari masyarakat
menggunakan teknik wawancara dan Focus Group Discussion (FGD).

Tahap 2 Diagnosis Epidemiologi


Pada fase ini dicari faktor kesehatan yang mempengaruhi kualitas. Faktor
ini harus digambarkan secara rinci berdasarkan data yang ada, baik yang berasal
dari data lokal, regional, maupun nasional. Pada fase ini harus diidentifikasi siapa

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 15 of 21
atau kelompok mana yang terkena masalah kesehatan (umur, jenis kelamin,
lokasi, suku dll), bagaimana pengaruh atau akibat dari masalah kesehatan
tersebut.

Bagaimana cara untuk menanggulangi masalah kesehatan tersebut


(imunisasi, perawatan/pengobatan, perubahan lingkungan maupun perubahan
perilaku). Informasi ini sangat diperlukan untuk menetapkan prioritas masalah.
Prioritas masalah kesehatan harus tergambar pada tujuan program dengan ciri who
will benefit how much of what outcome by when.

Vital Indicators:
1. Disability
2. Discomfort
3. Fertility
4. Fitness
5. Morbidity
6. Mortality
7. Physiological risk factors
Dimensions:
1. Distribution
2. Duration
3. Functional level
4. Incidence
5. Intensity
6. Longevity
7. Prevalence

Tahap 3 Diagnosis Perilaku dan Lingkungan


Pada fase ini selain diidentifikasi masalah perilaku yang mempengaruhi
masalah kesehatan juga sekaligus diidentifikasi masalah lingkungan (fisik dan
sosial) yang mempengaruhi perilaku dan status kesehatan ataupun kualitas hidup.
Perencana harus dapat membedakan antara masalah perilaku yang dapat dikontrol
secara individual maupun yang harus dikontrol melalui institusi. Misalnya pada
kasus malnutrisi yang disebabkan karena kemampuan untuk membeli bahan
makanan maka intervensi pendidikan tidak bermanfaat. Jadi health promoterr
perlu melakukan pendekatan perubahan (behavioral change) untuk mengatasi
masalah-masalah lingkungan.
Indikator perilaku:
1. Pemanfaatan yankes (utilization),
2. Upaya pencegahan (Preventive action),
3. Pola konsumsi (consumption pattern),
4. Kepatuhan (compliance),
5. Upaya pemeliharaan kesehatan sendiri (self care)
Dimensi perilaku yang digunakan adalah :
1. earliness,

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 16 of 21
2. quality,
3. persistence,
4. frequency, dan
5. range
Lima langkah dalam Diagnosis Perilaku dan Lingkungan
1. Memisahkan faktor perilaku dan non perilaku penyebab timbulnya masalah
kesehatan;
2. Mengidentifikasi perilaku yang dapat mencegah timbulnya masalah kesehatan
dan perilaku yang berhubungan dengan tindakan perawatan/pengobatan. Faktor
lingkungan yang harus dilakukan adalah mengeliminasi faktor non perilaku yang
tidak dapat diubah, seperti: faktor genetik dan demografik;
3. Mengurutkan faktor perilaku dan lingkungan berdasarkan besarnya pengaruh
terhadap masalah kesehatan;
4. Mengurutkan faktor perilaku dan lingkungan berdasarkan kemungkinan untuk
diubah;
5. Tetapkan perilaku dan lingkungan yang menjadi sasaran program. Setelah itu
tetapkan tujuan perubahan perilaku dan lingkungan yang ingin dicapai program.
Indikator Pengukuran Perilaku:

Behavioral Indicator
1. Compliance
2. Consumption pattern
3. Loping
4. Preventive actions

5. Self care
6. Utilization
Dimensions:
1. Frequency
2. Persistence
3. Promptness
4. Quality
5.Range

Environmental Indicators
1. Economic
2. Physical
3. Services
4. Social
Dimensions:
1. Access
2. Affordability

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 17 of 21
3.Equity

Tahap 4 Diagnosis Pendidikan dan Organisasional


Determinan perilaku yang mempengaruhi status kesehatan seseorang atau
masyarakat dapat dilihat dari :
1. faktor predisposisi (predisposing factor) seperti: pengetahuan, sikap, persepsi,
kepercayaan dan nilai atau norma yang diyakini seseorang,
2. faktor pemungkin (enabling factor), yaitu faktor lingkungan yang memfasilitasi
perilaku seseorang, yaitu lingkungan fisik, dan ketersediaan fasilitas pelayanan
kesehatan.
3. faktor penguat (reinforcing factor) seperti perilaku orang lain yang berpengaruh
(tokoh masyarakat, guru, petugas kesehatan, orang tua, pemegang keputusan)
yang dapat mendorong orang untuk berperilaku.

Pada fase ini setelah diidentifikasi faktor pendidikan dan organisasional,


maka ditetapkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Selain itu, berdasarkan
faktor pemungkin dan penguat yang teridentifikasi ditetapkan tujuan
organisasional yang akan dicapai melalui upaya pengembangan orang dan sumber
daya.

Tahap 5 Diagnosis Administrasi dan Kebijakan


Pada fase ini dilakukan analisis kebijakan, sumber daya dan peraturan
yang berlaku yang dapat memfasilitasi atau menghambat pengembangan program
promosi kesehatan. Kebijakan yang dimaksud disini adalah seperangkat peraturan
yang digunakan sebagai petunjuk untuk melaksanakan suatu kegiatan. Sedangkan
peraturan adalah penerapan kebijakan dan penguatan hukum serta
perundangundangan dan organisasional adalah kegiatan memimpin atau
mengkoordinasi sumber daya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program.
Sedangkan pada diagnosis kebijakan dilakukan identifikasi dukungan dan
hambatan politis, peraturan dan organisasional yang memfasilitasi program dan
pengembangan lingkungan yang dapat mendukung kegiatan masyarakat yang
kondusif bagi kesehatan.

PROCEED dilakukan untuk meyakinkan bahwa program akan tersedia,


dapat dijangkau, dapat diterima dan dapat dipertanggung jawabkan. Oleh sebab
itu, penilaian sumber daya yang dibutuhkan dapat meyakinkan keberadaan
program, perubahan organisasional dibutuhkan untuk meyakinkan program dapat
dijangkau. Perubahan politis dan peraturan dibutuhkan untuk meyakinkan
program dapat diterima oleh masyarakat dan evaluasi dibutuhkan untuk
meyakinkan program dapat dipertanggung jawabkan pada penentu kebijakan,
administrator, konsumen/klien, dan stake holder terkait, yaitu untuk menilai
apakah program sesuai dengan standar yang telah ditetapkan


Tahap 6 Implementasi
Tindakan mengubah tujuan program ke dalam tindakan melalui perubahan
kebijakan, regulasi dan organisasi (Green & Kreuter, 1991, p.432) Pemilihan
metode dan strategi intervensi, misalnya, pendidikan dan/atau sumber daya
lainnya.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 18 of 21
Tahap 7, 8, 9 Evaluasi Proses, Dampak, dan Hasil
Evaluasi proses: Pengukuran implementasi untuk mengontrol, meyakinkan
dan meningkatkan kualitas program

Evaluasi dampak: dampak diamati langsung dari program


Evaluasi hasil: efek jangka panjang program

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Banyak permasalahan yang menjadikan anak-anak menjadi anak jalanan.
Permasalahan-permasalahan ini tidak pelak merupakan fakta yang belum bisa
terselesaikan sampai saat ini. Permasalahan yang diangkat pada laporan ini adalah
desakan ekonomi yang merupakan salah satu dari determinan sosial kesehatan.
Desakan ekonomi membuat anak-anak dengan usia mereka yang masih muda dan
memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita justru menjadi tumpuan keluarga
untuk mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jalanan
dipilih karena anggapan mereka banyak rezeki yang didapat. Pemecahan masalah
desakan ekonomi pada anak jalanan didasarkan pada teori perilaku Lawrence
Green Dampak dan hasil diharapkan dapat terlaksana melalui setiap intervensi-
intervensi melalui program yang terlah direncanakan.

4.2 Saran
Diagnosis komunitas terhadap anak jalanan sangat terbatas jumlahnya.
Ironi anak-anak sebagai generasi penerus dan harapan bangsa yang banyak
bergeser menjadi sampah negara harus dihilangkan melalui intervensi-intervensi
terhadap permasalahan-permasalahan yang didapat dari diagnosis komunitas.
Semua lapisan masyarakat diharapkan tidak memandang anak jalanan sebelah
mata dan wajib ikut serta menjalankan program intervensi yang dilakukan
pemerintah untuk mengurangi prevalensi anak jalanan dan permasalahannya di
Indonesia.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 19 of 21
DAFTAR PUSTAKA
1. Handy F., Soedjatmiko. Masalah Kesehatan dan Tumbuh Kembang Pekerja Jalanan di
Jakarta. Sari Pediatri, 2004; 5(4): 138-144.
2. Handoko, dkk. Laporan Diagnosis Komunitas Profil Penderita Nasofaringitis di
Puskesmas Cipinang Jakarta Timur. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 2013.
3. Hutami G. Laporan Hasil Karya Tulis Ilmiah: Hubungan Perilaku Berisiko dengan
Infeksi HIV pada Anak Jalanan di Semarang. Semarang. Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro, 2014.

LAMPIRAN

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 20 of 21
2

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/3X2dnBVrF-Q8tOYaqvjBn6zZCx2GPQonFHvwR83jIaEoJNYlPfg 1/12/17, 10W06 PM


Page 21 of 21