Anda di halaman 1dari 60

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MESIN KONVERSI ENERGI

POMPA

Disusun Oleh :
Achmad Satria Rivaldi MN 061340411501
Firman Harris 061340411509
Galuh Wicaksono 061340411510
Ikhsan Nopratama 061340411512
R.A. Nurul Moulita 061340411518
Vidia Wati 061340411522
Kelas : 5 EGA
Instruktur : H. Yohandri Bow, S.T., M.S.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI S1 TERAPAN TEKNIK ENERGI

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


TAHUN 2015/2016
Aplikasi Pembongkaran dan Pemasangan
Komponen-komponen Pompa

I. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui komponen-komponen yang terdapat pada pompa,
2. Dapat membongkar dan memasang kembali komponen-komponen pompa
dengan baik dan benar.

II. Alat dan Bahan


II.1Alat yang digunakan:
1. Alat perkakas kunci ukuran (10 - 15) Seperangkat
2. Obeng 1 buah
3. Kuas 1 buah

II.2Bahan yang digunakan:


1. Minyak Solar Secukupnya

III. Dasar Teori


Pompa adalah suatu alat pengangkut untuk memindahkan zat cair dari suatu
tempat ke tempat lain dengan memberikan gaya tekan terhadap zat yang akan
dipindahkan, seperti misalnya pemindahan crude oil dari tanki penambungan bahan
baku yang akan dialirkan ke kolom Destilasi. Pada dasarnya gaya tekan yang
diberikan untuk mengatasi friksi yang timbul karena mengalirnya cairan di dalam
pipa saluran karena beda evevasi (ketinggian) dan adanya tekanan yang harus
dilawan.Perpindahan zat cair dapat terjadi menurut arah horizontal maupun
vertikal, seperti zat cair yang berpindah secara mendatar akan mendapatkan
hambatan berupa gesekan dan turbulensi. Sedangkan zat cair dengan perpindahan
ke arah vertical, hambatan yang timbul terdiri dari hambatan-hambatan yang
diakibatkan dengan adanya perbedaan tinggi antara permukaan isap (suction) dan
permukaan tekan (discharge).

Jenis jenis pompa


Adapun Fluida cair yang dialirkan dalam pipa dengan menggunakan alat bantu
berupa pompa seperti yang telah dijabarkan di atas yaitu minyak mentah. Pada
bagian ini akan dijelaskan tentang jenis-jenis pompa, karena pomppa hadir dengan
berbagai jenis serta fungsinya masing-masing. Pompa juga digolongkan sesuai
dengan prinsip operasi dasarnya seperti pompa perpindahan positif dan pompa
dinamik. Pada Prinsipnya, cairan apapun dapat ditangani oleh berbagai macam
pompa, biasanya pompa jenis sentrifugal yang yang lebih ekonomis penggunaanya
diikuti oleh pompa rotary dan reciprocating.

Pompa perpindahan positif


Pompa ini dikenal sesuai dengan caranya beroperasi yaitu, cairan diambil dari
ujung dan dipindahkan ke ujung lain yang dialirkan secara positif, pompa ini
digunakan di berbagai macam sektor untuk memindahkan air maupun fluida yang
kental. Pompa perpindahan positif digolongkan berdasarkan cara pemindahannya:
1. Pompa reciprocating
Yaitu dimana energi mekanis dari penggerak pompa dikonversikan menjadi
energi dinamis/potensial pada cairan yang dipindahkan dengan cara melalui elemen
pemindah yang bergerak secara bolak-balik di dalam silinder. Elemen pemindah
yang bergerak bolak-balik disebut pompa (piston) dan plunyer. Torak biasanya
ukuran diameter relatif lebih besar dari panjangnya, sedangkan plunyer
diameternya jauh lebih kecil dibanding panjangnya. Prinsip dari pompa
reciprocating yaitu, perpindahan dilakukan oleh maju mundurnya jarum poston,
pompa ini hanya digunakan untuk pemompaan cairan kental misalnya saja dari
sumur minyak.
2. Pompa rotary
Pompa jenis ini memiliki prinsip kerja yang tidak jauh berbeda dengan pompa
reciprocating, tetapi elemen pemindahnya tidak bergerak secara translasi
melainkan bergerak secara rotasi di dalam casing (hoursing). Perpindahan
dilakukan oleh gaya putaran sebuah gear, cam dan baling-baling didalam sebuah
ruang bersekat pada casing yang tetap, pompa rotary selanjutnya digolongkan
sebagai gear dalam, gear luar, lobe dan baling-baling dorong. Pompa ini digunakan
untuk layanan khusus dengan kondisi khusus yang terdapat di lokasi industri.

Pompa dinamik
Pompa dinamik juga dikarakteristikan oleh cara pompa tersebut beroperasi
yaitu, impeler yang berputar akan mengubah energi kinetik menjadi tekanan
ataupun kecepatan yang diperlukan untuk memompa fluida. Terdapat dua jenis
pompa dinamik, yaitu:
1. Pompa sentrifugal
Pompa ini merupakan pompa yang sangat umum didalam suatu industri,
biasanya sekitar 70% pompa yang digunakan dalam suatu industri ialah pompa
sentrifugal. Pompa Sentrifugal adalah pompa dengan prinsip kerja merubah energi
kinetis (kecepatan) cairan menjadi energi potensial (tekanan) melalui suatu impeler
yang berputar dalam suatu casing. Pompa ini terdiri dari komponen utama berupa
kipas (impeler) yang dapat berputar dalam sebuah casing (rumah pompa), casing
tersebut dihubungkan dengan saluran isap dan saluran tekan. Untuk menjaga agar
didalam casing selalu terisi cairan, maka ada saluran isap yang harus dilengkapi
dengan katup kaki (foot valve). Impeler yang berputar akan memberikan gaya
sentrifugal sehingga cairan yang ada pada bagian pusat impeler akan terlempar
keluar dari impeler yang kemudian ditahan casing sehingga menimbulkan tekanan
alir.

2. Pompa desain khusus


Pompa jenis ini dirancang untuk suatu kondisi khusus di dalam berbagai
bidang sesuai dengan kebutuhannya, misalnya saja jet pump atau ejector, pompa
jenis ini adalah pompa yang terdiri dari sebuah tabung pancar, nozel kovergen dan
ventury yang berbentuk diffuser. Cara kerjanya ialah, pada bagian kovergen
dihubungkan dengan pipa yang berfungsi sebagai pengisap cairan, fluida dapat
terisap oleh pompa karena adanya daya penggerak dalam bentuk energi tekanan
fluida yang selanjutnya dialirkan melalui nozel dan masuk kedalam tabung dengan
kecepatan yang tinggi sehingga menyebabkan kevakuman di dalam tabung pompa.
maka fluida akan terisap dan bercampur dengan fluida penggerak. Pompa jenis ini
dapat digunakan untuk mencampur dua jenis zat cair, seperti misalnya
pencampuran air dengan liquid foam pada pemadam kebakaran.
Pompa sentrifugal

Pompa sentrifugal merupakan salah satu peralatan paling sederhana dalam


berbagai proses pabrik.
Rumah pompa.
Sudu-sudu atau impeller.
Poros sudu-sudu atau poros impeller.
Poros penghubung impeller dengan motor penggerak.
Ruang antara keliling impeller bagian luar dengan rumah pompa.
Saluran isap.
Saluran tekan

Cara kerja pompa sentrifugal

Pompa sentrifugal bekerja berdasarkan prinsip gaya sentrifugal yaitu bahwa


benda yang bergerak secara melengkung akan mengalami gaya yang arahnya
keluar dari titik pusat lintasan yang melengkung tersebut. Besarnya gaya
sentrifugal yang timbul tergantung dari masa benda, kecepatan gerak benda, dan
jari-jari lengkung lintasannya.

Cara kerja pompa sentrifugal

Impeller adalah semacam piringan berongga dengan sudu-sudu melengkung di


dalamnya dan dipasang pada poros yang digerakkan oleh motor listrik, mesin uap
atau turbin uap. Pada bagian samping dari impeller dekat dengan poros,
dihubungkan dengan saluran isap, dan cairan (air, minyak, dll) masuk ke dalam
impeller yang berputar melalui saluran tersebut. Dan karena gerakan berputar dari
impeller maka cairan yang terdapat pada bagian tersebut ikut berputar akibat gaya
sentrifugal yang terjadi, air didesak keluar menjauhi pusat, dan masuk dalam
ruangan antara keliling impeller bagian luar dan rumah pompa, dan menuju ke
saluran keluar.
Cara kerja pompa sentrifugal
Cairan dipaksa menuju sebuah impeler oleh tekanan atmosfir, atau dalam hal
ini jet pump oleh tekanan buatan.
Baling-baling impeler meneruskan energi kinetik ke cairan, sehingga
menyebabkan cairan berputar. Cairan meninggalkan impeler pada kecepatan
tinggi.

Impeler dikelilingi oleh volute casing atau dalam hal pompa turbin digunakan
cincin diffuser stasioner. Volute atau cincindiffuser stasioner mengubah energi
kinetik menjadi energi tekanan.

Komponen pompa sentrifugal :

Komponen statis:
casing,
penutup casing,
bearings
Impeler

Impeler merupakan cakram bulat dari logam dengan lintasan untuk aliran fluida
yang sudah terpasang. Impeler biasanya terbuat dari perunggu, polikarbonat, besi
tuang atau stainlesssteel, namun bahan-bahan lain juga digunakan. Sebagaimana
kinerja pompa tergantung pada jenis impelernya, maka penting untuk memilih
rancangan yang cocok dan mendapatkan impeler dalam kondisi yang baik. Jumlah
impeler menentukan jumlah tahapan pompa. Pompa satu tahap memiliki satu
impeler dan sangat cocok untuk layanan head (tekanan) rendah. Pompa dua tahap
memiliki dua impeler yang terpasang secara seri untuk layanan head sedang.
Pompa multi-tahap memiliki tiga impeler atau lebih terpasang seri untuk
layanan head yang tinggi.
Impeler dapat digolongkan atas dasar:

1. Arah utama aliran dari sumbu putaran: aliran radial, aliran aksial, aliran
campuran
2. Jenis hisapan: hisapan tunggal dan hisapan ganda
3. Bentuk atau konstruksi mekanis: impeler yang tertutup, impeler terbuka dan
semi terbuka, impeler pompa berpusar/vortex.

Bentuk atau konstruksi mekanis:

Impeler yang tertutup memiliki baling-baling yang ditutupi oleh mantel


( penutup) pada kedua sisinya. Biasanya digunakan untuk pompa air, di mana
baling-baling seluruhnya mengurung air. Hal ini mencegah perpindahan air dari
sisi pengiriman ke sisi penghisapan, yang akan mengurangi efisiensi pompa.
Dalam rangka untuk memisahkan ruang pembuangan dari ruang penghisapan,
diperlukan sebuah sambungan yang bergerak diantara impeler dan wadah pompa.
Penyambungan ini dilakukan oleh cincin yang dipasang diatas bagian penutup
impeler atau di bagian dalam permukaan silinder wadah pompa. Kerugian dari
impeler tertutup ini adalah resiko yang tinggi terhadap rintangan.

Impeler terbuka dan semi terbuka. kemungkinan tersumbatnya kecil. Akan


tetapi untuk menghindari terjadinya penyumbatan melalui resirkulasi
internal, volute atau back-plate pompa harus diatur secara manual untuk
mendapatkan setelan impeler yang benar.

Rumah pompa

Fungsi utama rumah pompa adalah menutup impeler pada penghisapan dan
pengiriman pada ujung dan sehingga berbentuk tangki tekanan. Tekanan pada
ujung penghisapan dapat sekecil sepersepuluh tekanan atmosfir dan pada
ujung pengiriman dapat 20x tekanan atmosfir pada pompa satu tahap. Untuk
pompa multitahap perbedaan tekanannya jauh lebih tinggi. Wadah dirancang
untuk tahan paling sedikit dua kali tekanan ini untuk menjamin batas
keamanan yang cukup.
Fungsi rumah pompa yang kedua adalah memberikan media pendukung dan
bantalan poros untuk batang torak dan impeler.

Wadah

Wadah volute memiliki impeler yang dipasang dibagian dalam wadah. Salah
satu tujuan utamanya adalah membantu kesetimbangan tekanan hidrolik pada
batang torak pompa. Walau begitu, mengoperasikan pompa dengan
wadah volutepada kapasitas yang lebih rendah dari yang direkomendasikan
pabrik pembuatnya dapat mengakibatkan tekanan lateral pada batang torak
pompa. Hal ini dapat meningkatkan pemakaian sil, bantalan poros, dan batang
torak itu sendiri. Wadah voluteganda digunakan bilamana gaya radial menjadi
cukup berarti pada kapasitas yang berkurang.
Wadah bulatmemiliki baling-baling penyebaran stasioner disekeliling impeler
yang mengubah kecepatan menjadi energi tekanan. Wadah tersebut banyak
digunakan untuk pompa multi-tahap. Wadah dapat dirancang sebagai:

Wadah padat : seluruh wadah dan nosel dimuat dalam satu cetakan atau
potongan yang sudah dibuat pabrik pembuatnya.

Wadah terbelah :dua bagian atau lebih disambungkan bersama. Bilamana


bagian wadah dibagi oleh bidang horisontal, wadahnya disebut terbelah secara
horisontal atau wadah yang terbelah secara aksial.

Head gesekan dan head statis

Kurva diperoleh dengan mengabungkan kurva head gesekan sistem dengan


head statis sistem dan setiap perbedaan tekanan yang ada.
Kurva head gesekan merupakan hubungan antara aliran dan gesekan dalam
pemipaan, katup, dan fitting pada bagian hisap dan buang. Oleh karena itu,
head gesekan bervariasi terhadap kuadrat aliran (biasanya berbentuk
parabolis).

Head statis merupakan perbedaan ketinggian antara level cairan pada sisi hisap
dan pada sisi buang.

IV.Prosedur Percobaan

1. Melepaskan baut baut yang ada pada komponen pompa,

2. Menarik dan melepas chasing pompa,


3. Melepaskan seal pada bagian suction pompa dan saluran discharge pompa,

4. Melepas penutup pompa untuk mengamati motor pompa,

5. Melepaskan rumah motor secara perlahan,

6. Membersihkan bagian impeller pompa,

7. Mengamati semua bagian yang ada dalam pompa,

8. Memasang kembali komponen-komponen pompa ke posisi awal dengan baik


dan benar.
V. Data Pengamatan

N Gambar Penjelasan
o
.
1. Cover impeller pada rumah
pompa berfungsi untuk
melindungi impeller dari
kerusakan dan tekanan
fluida kerja.

2. Cover impeller pada rumah


pompa dan baut
penyangganya.
3. Suction pipe berfungsi
untuk menaikkan air ke
dalam impeller dengan
bantuan dari motor
penggerak. Fungsinya
sebagai saluran masuk
cairan ke dalam impeller.
4. Suction seal berfungsi untuk
mengurangi terjadinya
kebocoran pada fluida kerja
di area suction.

5. Discharge pipe berfungsi


untuk mengalirkan air dari
dalam pompa ke tempat bak
penampungan.

6. Discharge seal berfungsi


untuk mengurangi
kebocoran fluida kerja di
area discharge.
7. Cover motor listrik
berfungsi sebagai pembatas
antara kipas rotor dan rotor.

8. Motor listrik adalah sebagai


penggerak impeller pompa.

9. Stator, terdiri dari:

- Gandar, berfungsi
sebagai penopang dan
pelindung bagian dalam
mesin.

- Inti stator

- Kumparan stator

Stator berfungsi
menghasilkan arus listrik
bolak-balik.
10. Rotor berfungsi
menghasilkan medan
magnet listrik.

Kumparan rotor berfungsi


untuk membangkitkan
kemagnetan.

11. Impeller pompa berfungsi


merubah energi kinetik atau
memberikan energi kinetik
pada zat cair, kemudian di
dalam casing diubah
menjadi energi tekanan.

12. Kapasitor berfungsi sebagai


penyimpan listrik dan
penyaring frekuensi.
VI. Analisa Data

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen pada pompa


beserta fungsinya serta dapat membongkar dan memasang kembali pompa.
Pompa yang dipakai pada percobaan ini adalah pompa jenis sentrifugal merek
Shimizhu. Pompa ini memiliki impeller dengan jumlah sudu 41 buah dengan
panjang setiap sudu 0,7 cm dan jarak antar sudu adalah 0,3 cm. Jenis impeller
yang dipakai adalah impeller semi terbuka. Impeller yang digunakan pada pompa
ini berbentuk jari yang biasa disebut impeller pompa denyut. Impeller dengan
bentuk ini biasa digunakan untuk cairan yang benar-benar bersih dan cairan yang
mengandung gas. Impeller ini digerakkan oleh motor listrik yang berada
dibelakang pompa. Motor listrik dapat memutar impeller karena perputaran rotor
yang menghasilkan tenaga untuk memutar impeller pompa.

Kutub-kutub yang ada pada stator dan rotor yang senama mendekat, sehingga
terjadi peristiwa tolak-menolak dan rotor berputar. Kutub rotor menghampiri
kutub stator yang tidak sejenis, sehingga rotor akan tertarik. Ketika kutub dari
rotor dan stator yang berlainan jenis mulai mendekat, hal ini akan mengakibatkan
perubahan arus. Arus yang pada mulanya negatif akan berubah menjadi positif,
begitu pula sebaliknya. Perubahan arus ini akan mengakibatkan perubahan kutub-
kutub magnet pada stator. Kutub yang berbeda dengan rotor, berubah menjadi
kutub yang sama dengan rotor, sehingga akan terjadi proses tolak-menolak, dan
rotor akan berputar kea rah yang berlainan. Proses ini akan menyebabkan rotor
berputar secara terus-menerus yang sangat cepat sehingga rotor yang terus
berputar menghasilkan tenaga untuk memutar impeller pompa.

Perputaran pada impeller selain dipengaruhi oleh perputaran rotor juga


dipengaruhi oleh jumlah sudu pada impeller. Menurut Houlin (2010), semakin
bertambahnya sudu pada impeller, maka head juga akan semakin besar. Bila head
semakin besar, rotor juga berputar semakin cepat. Hal ini akan memicu semakin
cepat pula perputaran impeller.

Pompa pada percobaan pertama ini merupakan pompa yang tidak dapat
dihidupkan (rusak). Hal ini terlihat pada kondisi kapasitor yang telah terbelah.
Terbelahnya kapasitor ini dikarenakan ada komponen yang rusak pada motor
listrik. Seal yang terpasang pada suction dan discharge juga harus diganti karena
sudah tidak layak pakai.

MERANGKAI INSTALASI PEMIPAAN

I. Tujuan Percobaan

1. Merangkai instalasi pemipaan sesuai dengan rangkaian yang diberikan

2. Mengetahui jenis sambungan, katup, dan pipa yang digunakan


II. Alat dan Bahan

II.1Alat yang digunakan:

1. Gergaji pipa 1 buah


2. Penggaris 1 buah
3. Spidol 1 buah
4. Pompa sentrifugal 1 unit

II.2Bahan yang digunakan:

1. Pipa PVC inch 4m


2. Elbow 4 buah
3. Socket T 2 buah
4. Stop Kran 4 buah
5. Lem pipa 1 buah
6. Kertas amplas 1 lembar

III. Dasar Teori

Pipa adalah sebuah silindris yang digunakan untuk mengalirkan fluida.


Sedangkan sistem pemipaan itu sendiri adalah unit pengatur laju aliran fluida cair
maupun gas dengan menggunakan pipa sebagai media transportasinya.
Pada sistem pemipaan, dikenal 2 istilah yaitu piping dan pipe line. Piping
menghubungkan fluida satu sistem ke sitem lainnya, dan biasanya jaraknya cukup
dekat. Sedangkan, pipe line menghubungkan plant satu dengan yang lainnya, dan
jaraknya serta ukurannya sangat besar. Dalam sebuah sistem pemipaan, terdapat
pula istilah NPS (Nominal Pipe Size) dan satu lagi adalah DN (Diameter Nominal).
Kedua istilah tersebut adalah sama, yaitu menunjukkan diameter nominal dari
sebuah pipa. Berikut ini merupakan istilah-istilah yang sering dijumpai dalam
sistem pemipaan :
Piping adalah sistem pemipaan yang menghubungkan antar ekuipment dalam satu
fasilitas dengan jarak pendek dan diameter yang kecil

Pipeline adalah sistem pemipaan yang menhubungkan antar fasilitas, jaraknya


sangat jauh, dan diameter pipanya besar

NPS, banyak digunakan di Amerika Utara dengan satuan inch

DN, digunakan oleh negara di daratan eropa, dengan satuan milimeter

Large bore pipe yaitu pipa yang berukuran lebih besar dari 2 inch

Small bore pipe, yaitu pipa yang memiliki ukuran 2 inch ke bawah

Tubing mempunyai ukuran sampai 4 inch tapi mempunyai ketebalan dinding yang
lebih kecil dari large bore dan small bore

Klasifikasi Sistem Pemipaan


Bahan - bahan pipa secara umum :
1. Carbon Steel

2. Carbon Moly

3. Galvanees

4. Ferra nikel

5. Stainless steel

6. PVC

7. Chrom Moly

Bahan bahan pipa secara khusus :


1. Vibre Glass

2. Alumunium

3. Wrought Iron

4. Cooper

5. Red Brass

6. Nickle Cooper

7. Nickel Chrom Iron

Komponen perpipaan :
1. Pipa
Pipa merupakan komponen berbentuk silinder panjang berongga yang
digunakan untuk mengkonduksikan atau mentransfer fluida. Perbedaan antara pipa
dan tabung adalah dimensi kritikal yang digunakan untuk mendeskripsikan
ukurannya. Untuk pipa, diameter internal digunakan untuk pengukuran standar
ditambah dengan ketebalan dindingnya. Sedangkan untuk tabung, diameter luar
merupakan nilai yang digunakan untuk standar ukuran tabung. Secara umum pipa
yang diproduksi mempunyai 3 jenis bentuk ujung pipanya :
Plain ends (PE) : ujung pipa yang dibentuk persegi
Beveled ends (BE) : bentuk ujung pipanya dipotong membentuk bevel
Threaded ends (TE) : pipa yang dibuat mempunyai ulir pada ujungnya

Pipe Fittings
Pipe fittings merupakan suatu pelengkap yang terletak pada ujung pipa yang
memberikan fleksibilitas pada sistem perpipaan. Pipe fittings umumnya digunakan
untuk mengubah arah aliran, distribusi, meningkatkan atau mengurangi kapasitas
aliran dan interkoneksi. Pipe fittings yang umum digunakan anatara lain elbow,
bend, return, tee, cross, reducer, and cap, plug, union, coupling, boss. Perawatan
dan pemeliharaan pipe fittings sangatlah penting, karena jika kita tidak mengetahui
perawatan sambungan pipa maka akan terjadi kebocoran pada pipa fittings.
Valve
Valve merupakan suatu elemen penting dalam pabrik, tidak bisa dibayangkan
jika suatu pabrik tidak menggunakan valve. Valve tidak hanya mengatur aliran
fluida tetapi juga untuk mengisolasi perpipaan untuk pemeliharaan tanpa rintangan
init yang berhubungan dengan yang lain. Untuk menjaga agar valve dapat dipakai
dalam jangka waktu yang lama maka perlu dilakukan pemelihraan dan perawatan
terhadap alat tersebut. Untuk bahan material :
1. Kuningan

Valve dengan jenis bahan ini tidak boleh digunakan untuk T > 450 F, apabila
digunakan pada temperatur yang melebihi dari yang tersebut diatas maka valve
tersebut akan mengalami kerusakan.
2. Besi

Valve dengan jenis ini juga tidak boleh digunakan untuk T> 450 F.
3. Stainless steel

Valve dengan jenis bahan ini digunakan untuk temperatur rendah dan aliran
korosif. Valve ini tidak boleh digunakan dalam temperatur yang tinggi.
4. Steel baja

Valve jenis ini digunakan untuk temperatur yang tinggi dan tekanan tinggi.
Jadi untuk bahan material tersebut diatas agar valve dapat berfungsi dengan baik
maka harus disesuaikan dengan temperatur.
Rangkaian instalasi pemipaan beserta ukurannya
IV.Prosedur Percobaan

1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan

2. Memotong pipa sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan

3. Menghaluskan permukaan ujung pipa menggunakan amplas

4. Merangkai pipa yang telah dipotong seperti rangkaian yang diberikan

5. Memberi lem pada ujung permukaan pipa ketikadisambungkan dengan pipe fittings
agar memperkecil kemungkinan terjadi kebocoran

6. Menyambungkan rangkaian pipa yang telah dibuat pada suction dan discharge area
pompa
V. Analisa Data

Percobaan minggu ini bertujuan untuk merangkai pipa sehingga terbentuk


instalasinya sesuai dengan rangkaian yang diberikan. Panjang pipa yang
digunakan adalah 4m dengan jenis pvc inch. Pemilihan pipa jenis ini sesuai
dengan jenis fluida yang digunakan yaitu cair. Pipa pvc biasa dipakai untuk suplai
air dirumah tangga. Pada rangkaian instalasi digunakan pula elbow 90 sebanyak
4 buah. Elbow digunakan untuk tempat belokan fluida yang mengalir. Socket T
yang digunakan berjumlah 2 buah. Socket T digunakan untuk tempat
percabangan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana arah aliran dari
fluida jika salah satu stop kran diposisikan dalam keadaan tertutup. Dtop kran
yang digunakan berjumlah 4 buah dengan jenis ball valve. Socket T yang
digunakan adalah ukuran inch.
Ujung pipa yang telah dipotong sebelumnya diamplas telebih dahulu
sebelum disambungkan dengan socket T dan stop kran. Penggunaan socket T dan
stop kran akan mempengaruhi laju aliran dari fluida dan pengaruhnya akan
dibahas pada percobaan selanjutnya.
PEMBUATAN INSTALASI PENYANGGA DAN MENGETAHUI
LAJU ALIR POMPA

I. Tujuan Percobaan

1. Membuat instalasi penyangga pipa

2. Mengetahui laju alir pompa

II. Alat dan Bahan:

II.1. Alat yang digunakan:

1. Palu 1 buah

2. Paku 10 buah

3. Klem 4 buah

4. Gergaji 1 buah

5. Tangki air 2 buah

6. Stopwatch 1 unit
II.2. Bahan yang digunakan:

1. Papan kayu 5m

2. Air Seperlunya

III. Dasar Teori


Pompa adalah alat untuk menggerakan cairan atau adonan. Pompa
menggerakan cairan dari tempat bertekanan rendah ke tempat dengan tekanan yang
lebih tinggi, untuk mengatasi perbedaan tekanan ini maka diperlukan tenaga
(energi). Selain itu, pompa merupakan suatu alat atau mesin yang digunakan untuk
memindahkan cairan dari suatu tempat ke tempat yang lain melalui suatu media
perpipaan dengan cara menambahkan energi pada cairan yang dipindahkan dan
berlangsung secara terus menerus.
Pompa beroperasi dengan prinsip membuat perbedaan tekanan antara bagian
masuk (suction) dengan bagian keluar (discharge). Dengan kata lain, pompa
berfungsi mengubah tenaga mekanis dari suatu sumber tenaga (penggerak) menjadi
tenaga kinetis (kecepatan), dimana tenaga ini berguna untuk mengalirkan cairan
dan mengatasi hambatan yang ada sepanjang pengaliran.
Pada prinsipnya, pompa mengubah energi mekanik motor menjadi
energi aliran fluida. Energi yang diterima oleh fluida akan digunakan untuk
menaikkan tekanan dan mengatasi tahanan tahanan yang terdapat pada
saluran yang dilalui.
Pompa juga dapat digunakan pada proses - proses yang membutuhkan
tekanan hidraulik yang besar. Hal ini bisa dijumpai antara lain pada
peralatan - peralatan berat. Dalam operasi, mesin - mesin peralatan berat
membutuhkan tekanan discharge yang besar dan tekanan isap yang rendah.
Akibat tekanan yang rendah pada sisi isap pompa maka fluida akan
naik dari kedalaman tertentu, sedangkan akibat tekanan yang tinggi pada
sisi discharge akan memaksa fluida untuk naik sampai pada ketinggian
yang diinginkan.

IV.Prosedur Percobaan
1. Menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan

2. Memotong papan kayu sesuai ukuran pipa

3. Merekatkan papan kayu satu dengan yang lain sesuai dengan instalasi pipa yang
telah dibuat dengan menggunakan paku

4. Memasang klem beberapa bagian penyangga agar lebih kuat

5. Menyiapkan tabung dan sambungan listrik

6. Mengisi tabung dengan air

7. Menghubungkan pipa bagian suction dengan tabung yang berisi air

8. Menghidupkan pompa bersamaan dengan menghidupkan stopwatch

9. Mematikan pompa dan mematikan stopwatch

10. Mengukur volume air yang keluar

11. Menghitung laju alir pompa


V. Data Pengamatan

No. Bukaan katup Volume (ml) Waktu


(sekon)
1. Full open 550 2

VI. Perhitungan

Diketahui:
Volume = 550 ml
Waktu = 2 sekon

Ditanya: Debit = ..?

Jawab:
volume 550 ml ml
Q = Debit = waktu = 2s = 275 s
VII. Analisa Data
Pada percobaan kali ini mengenai pembuatan instalasi penyangga dan
mengetahui laju alir pompa. Pada proses instalasi penyangga menggunakan
bahan berupa papan kayu dengan cara merekatkan kayu tersebut pada instalasi
pompa dengan menggunakan palu, agar lebih kuat dilakukan pemasangan klem
pada beberapa bagian penyangga.
Setelah melakukan instalasi penyangga, kemudian dilakukan penentuan laju
alir pompa dengan kondisi bukaan valve full open. Pada percobaan ini

ml
didapatkan nilai laju alir pompa sebesar 275 s . Penentuan laju alir pompa

bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kecepatan aliran fluida. Semakin


besar laju alir volume atau debit suatu fluida tersebut, maka semakin besar nilai
kecepatan aliran fluida.
PENENTUAN EFISIENSI POMPA DENGAN VARIASI BUKAAN KATUP

I. Tujuan Percobaan
1. Mengukur debit air dengan variasi bukaan katup
2. Mengetahui efisiensi pompa

II. Alat dan Bahan

II.1Alat yang digunakan:

1. Pompa sentrifugal 1 unit

2. Instalasi pompa Seperangkat

3. Gelas kimia 250 ml 1 buah

4. Gelas ukur 100 ml 1 buah

5. Stopwatch 1 unit

II.2Bahan yang digunakan:

1. Air Seperlunya
III. Dasar Teori
Pengertian fluida dan head fluida
Fluida adalah suatu zat atau substansi yang akan mengalami deformasi secara
berkesinambungan jika terkena gaya geser (tangensial) sekecil apapun. Fluida
dapat dibagi menjadi:
1. Inviscos (=0)

Compressible

Incompressible
2. Viscos

Laminer: compressible dan incompressible

Turbulen: compressible dan incompressible

Contoh fluida compressible adalah udara, tetapi jika udara mencapai kecepatan 0,3
Mach maka menjadi fluida incompressible, sedangkan contoh fluida
incompressible adalah air. Energi fluida untuk melakukan kerja yang dinyatakan
dalam feet/kaki tinggi tekanan (head) fluida yang mengalir. Jadi, head atau tinggi
tekanan merupakan ketinggian kolom fluida yang harus dicapai fluida untuk
memperoleh jumlah energi yang sama dengan yang dikandung oleh satu satuan
bobot fluida yang sama.

Head ada dalam tiga bentuk yang dapat saling berubah:


1. Head potential/head aktual
Didasarkan pada ketinggian fluida di atas bidang datar. Jadi, suatu kolam air
setinggi 2 kaki/ feet mengandung jumlah energi yang disebabkan oleh posisinya
dan dikatakan fluida tersebut mempunyai head sebesar 2 feet kolam air.
2. Head kinetik/head kecepatan
Head kinetik adalah suatu ukuran energi kinetik yang dikandung satu satuan
bobot fluida yang disebabkan oleh kecepatan dan dinyatakan oleh persamaan yang
biasa dipakai untuk energi kinetik (v2 /2g), energi ini dapat dihitung dengan tabung
pitot yang diletakkan dalam aliran. Kaki kedua dari manometer dihubungkan
dengan pipa aliran secara tegak lurus dari manometer dihubungkan dengan pipa
aliran untuk menyamakan tekanan yang ada pada pipa aliran titik ini.

3. Head tekanan
Head tekanan dalah energi yang dikandung oleh fluida akibat tekanannya dam
persamaannya adalah jika sebuah menometer terbuka dihubungkan dengan sudut
tegak lurus aliran, maka fluida di dalam tabung akan naik sampai ketinggian yang
sama dengan p/ .

Beberapa hal penting pada karakteristik pompa adalah:


a. Head (H)
Head adalah energi angkat atau dapat digunakan sebagai perbandingan antara
suatu energi pompa per satuan berat fluida. Pengukuran dilakukan dengan
mengukur beda tekanan antara pipa isap dengan pipa tekan, satuannya adalah
meter.
b. Kapasitas (Q), satuannya adalah m3 /s
Kapasitas adalah jumlah fluida yang dialirkan persatuan waktu
c. Putaran (n), satuan rpm
Putaran adalah dinyatakan dalam rpm dan diukur dengan tachometer.
d. Daya (P), satuan Watt
Daya dibedakan atas 2 macam, yaitu daya dengan poros yang diberikan motor
listrik dan daya air yang dihasilkan pompa.
e. Momen Puntir (T), satuan N/m.
Momen puntir diukur dengan memakai motor listrik arus searah, dilengkapi
dengan pengukur momen.

f. Efisiensi ( ), satuan % Efisiensi pompa adalah perbandingan antara daya air

yang dihasilkan pompa dengan daya poros dari motor listrik.

Pengertian NPSH
Kavitasi akan terjadi, apabila tekanan statis suatu aliran zat cair turun sampai
di bawah tekanan uap jenuhnya. Jadi, untuk menghindari kavitasi harus diusahakan
agar tidak ada satu bagianpun dari aliran dalam pipa yang mempunyai tekanan
statis lebih rendah dari tekanan yang ditentukan oleh keadaan aliran dalam pompa.
Oleh karena itu, maka definisi suatu tekanan kavitasi atau jika dinyatakan dalam
satuan head disebut dengan Net Positive Suction Head (NPSH). NPSH dapat
dinyatakan sebagai ukuran keamanan pompa dari peristiwa kavitasi
a. NPSH yang tersedia
Merupakan head yang dimiliki oleh suatu zat cair pada sisi isap pompa
(ekuivalen dengan tekanan absolut pada sisi isap pompa), dikurangi dengan
tekanan uap jenuh zat cair di tempat tersebut.
b. NPSH yang diperlukan
Tekanan terendah di dalam besarnya terdapat di suatu titik dekat setelah sisi
masuk sudu impeller. Di tempat tersebut, tekanannya lebih rendah daripada
tekanan pada sisi isap pompa. Hal ini disebabkan karena luas penampang yang
menyempit, dan kenaikan kecepatan aliran karena tebal sudu. Jadi, agar tidak
terjadi penguapan zat cair, maka tekanan pada lubang masuk pompa dikurangi
penurunan tekanan di dalam pompa, harus lebih tinggi daripada tekanan uap zat
cair. Head tekanan yang besarnya sama dengan penurunan tekanan ini disebut
NPSH yang diperlukan. Agar pompa dapat bekerja tanpa mengalami kavitasi, maka
persyaratan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut: NPSH yang tersedia >
NPSH yang diperlukan. Harga dari NPSH yang diperlukan, diperoleh dari pabrik
pompa yang bersangkutan.

Efisiensi pompa
Efisiensi pompa merupakan perbandingan daya yang diberikan pompa kepada
fluida dengan daya yang diberikan motor listrik kepada pompa. Efisiensi total
pompa dipengaruhi oleh efisiensi hidrolis, efisiensi mekanis, dan efisiensi
volumetrik.
a. Efisiensi hidrolis
Efisiensi hidrolis merupakan perbandingan antara head pompa sebenarnya
dengan head pompa teoritis dengan jumlah sudu tak terhingga.
b. Efisiensi mekanis
Besarnya efisiensi mekanis sangat dipengaruhi oleh kerugian mekanis yang
terjadi disebabkan oleh gesekan pada bantalan, gesekan pada cakra, dan gesekan
pada paking.

c. Efisiensi volumetrik
Kerugian volumetrik disebabkan adanya kebocoran aliran setelah melalui
impeller, yaitu adanya aliran balik melalui sisi hisap.

Head loss
Head kerugian (loss) yaitu head untuk mengatasi kerugian-kerugian yang
terdiri dari kerugian gesek aliran di dalam pipa, dan head kerugian di dalam
belokan-belokan (elbow), percabangan, dan perkatupan (valve).
Dasar dari penentuan tinggi tekan (head) pompa adalah persamaan Bernoulli.
Untuk aplikasi pada instalasi pompa, persamaan Bernoulli dalam bentuk energi
head terdiri dari empat head, antara lain head elevasi, head tekanan, head
kecepatan, dan head kerugian (gesekan aliran). Persamaan Bernoulli dalam bentuk
energi head yaitu:
2 2
V P V P
(Z + + ) + H pompa=( Z+ + ) + H losses
2 g g 1 2 g g 2

V 12 V 22 P1 P2
Z 1Z 2+ +
2 g 2 g g g
( )+ H losses
H pompa =
2
V P
Z+ +
2g g
( )+ H losses
H pompa=
P
H pompa= Z +
g
Dimana,
Z = hz = head elevasi, perbedaan muka tinggi air sisi masuk dan keluar (m)
V2
= hv = head kecepatan sisi masuk dan keluar (m)
2g
P
= hp = head tekanan sisi masuk dan keluar (m)
g
H losses = kerugian head

Rumus untuk menghitung head kerugian:


H loss=H gesekan+ H sambungan

Spesifikasi pompa yang digunakan

Merek : National

Tipe : GP-125

Motor : Induksi / 1 fasa

Sumber tegangan : 220 V 50 Hz

Daya output : 125 Watt

Arus : 1,55 Ampere

Kutub : 2 buah

Daya hisap : 9 meter

Total head maksimum : 30 meter

Kapasitas air (ht = 12 m) : 16 Liter/menit

Kapasitas air maksimum : 30 Liter/menit

Pipa hisap/dorong : 1 inchi

Ukuran : 205 x 165 x 218 mm

Berat : 6 6,5 kg
Pompa ini dilengkapi dengan pressure switch on-off dan pipe joint (untuk sakelar
otomatis). Jika pompa ini ingin diubah ke otomatis, maka daoat dilakukan dengan
cara:

1. Lepas penutup lubang, gunakan pipe joint lalu hubungkan sakelar otomatis
dengan lubangnya.

2. Lepas penutup lubang, hubungkan akumulator dengan lubangnya.

Rangkaian pemipaan beserta keterangan katup dan sambungan


IV.

Prosedur Percobaan

1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk percobaan

2. Mengisi wadah dengan air

3. Menghubungkan wadah yang berisi air dengan pipa bagian suction

4. Meletakkan wadah penampung di bagian discharge

5. Menghidupkan pompa

6. Mengatur valve (2) bukaan penuh

7. Menyalakan stopwatch bersamaan dengan meletakkan wadah penampung di


bawah pipa bagian discharge

8. Mematikan stopwatch bersamaan dengan menarik wadah penampung

9. Mengulangi langkah (6) sampai (8) untuk bukaan valve dan tertutup
V. Data Pengamatan

Bukaan valve Volume (ml) Waktu (s)


Full open 351 1,55
488 1,42
Full close 557 1,55
VI. Perhitungan

VI.1 Full open


351 ml ml
Q= = 226,45
1,55 s s
ft
= 62.2 lb 3 d = inch

=1,27 cm

1,27 cm


Q 1
V= A =
4
226,45 ml /s

= 178,76 cm/s
= 1,7876 m/s

2
V1
h1 = K1 2. g
2
m
(1,7876 )
= 10.0 s
2
2.9,8 m/ s

= 1,6303 m
2
m
(1,7876 )
h2 = 0,02 s
2
2.9,8 m/ s

= 0,3260 m

2
m
(1,7876 )
h3 = 0,9 s
2.9,8 m/ s2

= 0,1467 m

h4 = h3
h5 = h1

2
m
( 1,7876
s )
h6 = 2,0 m
2.9,8 2
s

= 0,3260

h7 = h1
h8 = h3
h9 = h3

2
m
( 1,7876
s )
h10 = 10,0 m
2.9,8 2
s

= 1,6303 m

ft
h = 7,7601 m x 3,28084 m
= 25,4506 ft

lb
PV = 0,5065 2

ft
Z1 = 1,2 m x 3,28084 m

= 3,93701 ft

ft
= 62,2216 3
lb

P atm PV
NPSH = - Z1 h -

lb 2 lb 2
14,7 . 144 0,5096 .144
2 ft 2 2 ft 2
= ft - 3,93701 ft - 25,4506 ft ft
62,22 3 62,22 3
lb lb

= 3, 455 ft

cm3 s
Q = 226,45 s . 60 min

cm3 L gal
= 13587 min . 1 1000 cm3 . 0,26417 min1 L

gal
= 3,5892 min

h .Q
whp = 3960

gal
3,455 ft . 3,5892
= min
3960

= 0,00351 hp
1 hp
bhp = 125 watt . 745,7 watt

0,00351 hp
= 0,167628hp . 0,65 . 100%

= 2,845%
1
5.2 2 open

488 ml ml
Q= = 314,1387
1,42 s s
ft
= 62.2 lb 3 d = inch

=1,27 cm

1,27 cm


Q 1
V= A =
4
314,1387 ml / s

= 248,53 cm/s
= 2,4853 m/s

V 12
h1 = K1 2. g
2
m
(2,4853 )
= 10.0 s
2
2.9,8m/ s

= 3,1513 m

m 2
(2,4853 )
h2 = 2,0 s
2.9,8m/ s2

= 0,6302 m

2
m
(2,4853 )
h3 = 0,5 s
2
2.9,8m/ s

= 0,2836 m
h4 = h3
h5 = h1

2
m
( 2,4853
s )
h6 = 2,0 m
2.9,8 2
s

= 0,6302 m

h7 = h1
h8 = h3
h9 = h3

2
m
( 2,4853
s )
h10 = 5,0 m
2.9,8 2
s

= 1,5756 m

ft
h = 13,4243 m x 3,28084 m

= 44,0429 ft

P atm PV
NPSH = - Z1 h - - NPSH2

lb 2 lb 2
14,7 . 144 0,5096 .144
2 ft 2 2 ft 2
= ft - 3,93701 ft 44,0429 ft ft
67,2 3 62,2 3
lb lb

= 15,1275 ft
3
cm s
Q = 314,8387 s . 60 min

cm
3
L gal
= 18,890 min . 1 1000 cm3 . 0,26417 1L

gal
= 4,9902 min

h .Q
whp = 3960

gal
15,1275 ft . 4,9902
= min
3960

= 0,0190 hp

0,0190 hp
= 0,167628hp . 0,65 . 100%

= 17,4378%

5.3 Full closed


557 ml ml
Q=
1,55 s = 359,3 s
ft
= 62,2 lb 3 d = inch

=1,27 cm
1,27 cm


Q 1
V= A =
4
359,3 ml /s

= 283,674 cm/s
= 2,83 m/s

V 12
h1 = K1 2. g
2
m
(2,83 )
= 10.0 s
2
2.9,8 m/ s

= 4,086 m

m 2
(2,83 )
h2 = 2,0 s
2.9,8 m/ s2

= 0,36 m

2
m
(2,83 )
h3 = 0,9 s
2
2.9,8 m/ s

= 0,36 m

h4 = h3 = 0,36 m
h5 =h1 = 4,086 m

2
m
( 2,83
s )
h6 = 2,0 m
2.9,8 2
s
= 0,8173 m

h7 = h1 = 4,086 m
h8 = h3 = 0,36

h = 4,086 m + 0,36 m + 0,36 m + 0,36 m + 4,086 m + 0,8173 m + 4,086 m + 0,36


m
ft
= 14,49 m . 3,28084 m

= 47,5393 ft

PV = 0,5069 lb/in2
3,28084 ft
Z1 = 1,2 m . m

= 3,9370 ft

P atm PV
NPSH = - Z1 h - NPSHR

lb 2 lb 2
14,7 . 144 0,5096 .144
2 ft 2 2 ft 2
= ft - 3,93701 ft 47,5393 ft ft
62,2 3 62,2 3
lb lb

= - 18,6782 ft

NPSH = -1 . -18,6782 ft
= 18,6782 ft

3
cm s
Q = 359,35 s . 60 min

cm
3
1L gal
= 21561 min . 1000 cm
3 . 0,26417 1L
gal
= 5,6957 min

H dalam feet = 18,6282 ft

h .Q
whp = 3960

gal
18,6282 ft . 5,6957
= min
3960

= 0,026 hp

0,026 hp
= 0,167628hp . 0,65 . 100%

= 28,20 %

Keterangan:
K1 = koefisien gesek pada ball valve
K2 = koefisien pada T aliran lurus
K3 = koefisien gesek pada elbow 90o
PV = tekanan vapor pada suhu 36oC
whp = daya pompa yang keluar oleh debit air akibat adanya beda tekan, koefisien
gesek pada rangkaian piping
bhp = daya motor (daya pompa = 125 watt)
n = efisiensi mekanik pompa (0,65)
= efisiensi kinerja pompa pada sistem piping tertentu
VII. Analisa Data
Percobaan minggu ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi bukaan
valve pada laju alir fluida.valve yang diatur pada percobaan ini adalah valve 2.
Variasi yang dilakukan ada 3 yaitu full open,full closed dan bukaan .
Pada variasi bukaan full open, didapat data yaitu air yang tertampung
sebanyak 351 ml dicapai dalam waktu 1,55 sekon. Dari data ini didapat kecepatan

m
aliran fluida yaitu 1,7876 s . Pengaruh koefisien gesek pada setiap pipa yang

dialiri fluida dihitung sehingga didapat nilai NPSH sebesar 3,455ft dan didapat
whp atau daya pompa yang keluar oleh debit air sebesar 0,00351 hp. Dari data-data
tersebut kemudian didapat efisiensi kerja pompa yaitu 2,845%.
Pada variasi bukaan , didapat data yaitu air yang tertampung sebanyak 488
ml didapat dalam 1,42 sekon. Dari data ini didapat kecepatan aliran fluida yaitu

ml
2,4853 s . Sama seperti sebelumnya koefisien gesek dihitung, sehingga didapat

NPSH sebesar 15,1275 ft dengan whp sebesar 0,0190 hp, sehingga didapat
efisiensi sebesar 17,4378%.
Pada variasi full closed, didapat data yaitu air yang tertampung sebanyak 557
ml didapat dalam waktu 1,55 sekon. Dari data ini didapat kecepatan aliran fluida

m
2,83 s . Nilai NPSH 18,6282 ft. Dari data yang telah terkumpul whp yaitu 0,026

hp, sehingga dapat diketahui efisiensinya yaitu 28,20%.


Dari perhitungan yang telah didapat, diketahui bahwa efisiensi pompa yang
paling besar adalah ketika pada kondisi valve 2 full closed, yaitu sebesar 28,20%.
Hal ini dikarenakan, pada saat valve 2 ditutup, tidak ada aliran yang melewati
valve tersebut sehingga hanya ada satu aliran saja yang dilewati fluida. Hal ini
menyebabkan terjadinya peningkatan kecepatan pada variasi ini dan didapat nilai
whp yang ikut meningkat sehingga efisiensinya ikut meningkat pula.

PENGATURAN BUKAAN KATUP UNTUK MENCAPAI


STEADY STATE

I. Tujuan Percobaan
1. Mengatur bukaan katup agar aliran fluida mencapai kondisi steady.
2. Membuat kurva hubungan antara volume tangki dan waktu.

II. Alat dan Bahan


II.1Alat yang digunakan:
1. Pompa sentrifugal 2 unit
2. Gergaji pipa 1 buah
3. Penggaris 1 buah
4. Spidol 1 buah
5. Pipa PVC ukuran in 8 meter
6. Elbow 9 buah
7. Socket T 4 buah
8. Stop kran 8 buah
9. Stopwatch 1 unit
10. Tangki air 2 unit

II.2Bahan yang digunakan:


1. Air Seperlunya

III. Dasar Teori


Pengendalian terhadap proses berkaitan dengan kebutuhan untuk memperkecil
pengaruh perubahan beban. Hal ini dilakukan dengan membuat hubungan antara
sistem proses dan pengendali membentuk sistem lingkar tertutup (closed-loop
system) atau disebut juga sistem pengendalian umpan balik (feedback control
system). Antara sistem proses dan pengendali dihubungkan melalui unit
pengukuran (sensor/transmiter) dan unit kendali akhir (biasanya berupa control
valve). Berdasar bentuk keluaran pengendali, sistem pengendalian umpan balik
dibedakan menjadi pengendalian diskontinyu dan kontinyu. Termasuk kelompok
pengendali diskontinyu adalah pengendali dua posisi. Sedangkan kelompok
pengendali kontinyu adalah pengendali proporsional (P), proporsional-integral
(PI), proporsional-integral derivatif (PID) dan proporsional-derivatif (PD).

Pengendalian diskontinyu
a. Pengendalian diskontinyu dua posisi
Pengendali dua posisi, dahulu on-off, adalah jenis pengendali paling sederhana
dan murah. Keluaran pengendali hanya memiliki dua kemungkinana nilai,
yaitu maksimum (100%) atau minimum (0%).
b. Pengendalian dua posisi
Mekanisme pengendalian dua posisi mudah difahami bila ditinjau
pengendalian tinggi air dalam tangki. Air dalam tangki secara terus menerus
dikeluarkan dengan laju tetap. Apabila permukaan air turun melebihi titik
acuan (R), maka sensor tinggi air akan memberi sinyal bahwa telah terjadi
penurunan permukaan air melebihi batas. Sinyal ini masuk ke pengendali dan
pengendali memerintahkan pompa untuk bekerja. Dengan bekerjanya pompa,
air akan masuk ke tangki dan permukaan air naik kembali. Pada saat tinggi air
tepat mencapai R pompa berhenti sehingga terjadi pengosongan tangki, dan
proses di atas berulang lagi. Siklus ini berlangsung terus menerus. Dengan
demikian pompa akan selalu mati-hidup secara periodik seiring dengan
perubahan tinggi permukaan air.

Peristiwa naik-turun pada tinggi permukaan air secara periodik disebut cycling
atau osilasi. Ini adalah ciri khas pengendali dua posisi. Untuk mencegah osilasi
terlalu cepat, perlu dibuat lebih dari satu batas yaitu batas atas (BA) dan batas
bawah (BB). Batas atas adalah batas tertinggi permukaan air pada saat air naik.
Sedangkan batas bawah adalah batas terbawah permukaan air saat air turun. Lebar
celah antara dua titik batas disebut celah diferensial (differential gap), histeresis,
atau daerah netral.
Dengan adanya dua titik acuan (batas atas dan bawah), maka terdapat daerah
netral yang berada di antara dua titik acuan. Jika permukaan air berada pada daerah
netral, terdapat dua kemungkinan. Pertama, bila air sedang turun maka pompa
tidak bekerja, karena permukaan air masih di atas batas bawah. Kedua, bila
permukaan air sedang naik maka pompa sedang bekerja, karena permukaan air di
bawah batas atas.
Pengendali dua posisi mencatu energi atau massa ke dalam proses dengan
bentuk pulsa-pulsa, sehingga menimbulkan osilasi atau cycling pada variabel
proses. Amplitudo cycling bergantung pada tiga faktor, yaitu: konstanta waktu
proses, waktu mati, dan besar perubahan beban. Amplitudo osilasi menjadi kecil
jika konstanta waktu proses besar, waktu mati pendek, atau perubahan beban
proses kecil.
IV.Prosedur Percobaan
1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2. Menghubungkan 2 unit pompa menjadi satu aliran.
3. Menyiapkan 2 buah tangki air kosong di bagian inlet dan outlet, kemudian mengisi
air pada tangki di bagian inlet.
4. Memberi tanda batas volume pada masing-masing tangki dengan menggunakan
spidol dan penggaris.
5. Menghidupkan pompa bersamaan dengan menghidupkan stopwatch.
6. Mencatat setiap perubahan volume yang terjadi sampai aliran mengalami kondisi
steady.
7. Setelah aliran dalam kondisi steady, pompa dimatikan bersamaan dengan
mematikan stopwatch.
8. Membuat kurva hubungan antara volume tangki dan waktu.
V. Data Pengamatan
Waktu (menit) Volume (m3)
0 0,008331
0,3 0,00722
0,43 0,00611
0,66 0,004999
1,7 0,00611
1,83 0,00722
2,33 0,00611
2,45 0,00499
2,58 0,0038878
2,73 0,002777
3,5 0,002777
3,66 0,0038878
3,9 0,004999
5,83 0,004999
7,283 0,00611
8,65 0,00611
11,22 0,006665
11,5 0,00611
11,66 0,0077117
12,56 0,004999
13 0,0077117
13,5 0,00611
13,83 0,0077117
14,08 0,004999
14,83 0,0038878
14,91 0,004999
15,06 0,0077117
15,33 0,00611
15,63 0,006665
16,2 0,00611
16,93 0,006665
17,06 0,00611
17,56 0,0077117
18,18 0,00611

Keterangan:
Set point ; 0,006 m3

Kurva Hubungan Volume Tangki vs Waktu

Volume (m3 )

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Waktu (menit)
VI. Analisa Data
Percobaan minggu ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi steady pada
aliran fluida dengan cara mengatur bukaan katup. Tangki air yang digunakan
berjumlah dua buah, yaitu pada bagian inlet dan outlet. Pompa yang digunakan
juga dua, yaitu pompa merek Nasional dan pompa merek Shimizhu. Instalasi pipa
pada kedua pompa dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengondisikan tangki
penampung air pada sisi outlet pompa Nasional merupakan tangki air pada sisi
inlet pompa Shimizhu. Pada perangkaian ini juga dibutuhkan tambahan pipa dan
elbow sehingga pipa outlet dari pompa Shimizhu dapat mencapai tangki air
pompa Nasional dan air dapat emngisi tangki.
Pada tangki bagian inlet, diberi tanda batas (set point) yaitu 0,006 m 3 dengan

histerisis 0,001 m3. Dari data yang diperoleh, didapat grafik hubungan

antara waktu dengan volume air dalam tangki. Dari grafik, dapat dianalisa bahwa
laju aliran fluida yang tertampung mulai mencapai set point pada menit ke
15,33 dan perlahan-lahan mempertahankan set pointnya. Untuk mendapatkan
kondisi steady, pengendalian perlu dilakukan yang dalam hal ini yang
dikendalikan adalah laju aliran fluida dengan cara mengatur katup sehingga fluida
dapat dikendalikan atau setidaknya tidak terjadi perbedaan yang begitu mencolok
pada volume air di kedua tangki.
Namun, pengendalian yang dilakukan secara manual ini kurang efektif,
dimana terlihat pada grafik terjadi keterlambatan proses yang ditandai dengan
beberapa data yang melewati batas atas dan bawah, sehingga didapat titik
maksimum dan minimumnya.
VII. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pengendalian proses diperlukan untuk mendapatkan kondisi steady sehingga
volume air pada kedua tangki dapat dikendalikan.
2. Pengendalian yang dilakukan secara manual kurang efektif sehingga didapat
data yang melewati batas atas dan batas bawah yang diperbolehkan.
Daftar Pustaka

Sambas. 2011. Tipe Karakteristik dan Material dari Pipa


(http://sambas-me.blogspot.com/2011/10/tipe-karakteristik-
dan-material-dari.html, di akses pada 10 Oktober 2015)
Ahmad, imam. 2009. Jenis Jenis dan Macam Macam Pipa
(https://opik7th.wordpress.com/2009/10/23/pipa/, di akses 10 Oktober 2015)
Anatora. 24 Januari 2012. Pompa Fluida
(http://anatora.blogspot.com/2012/01/pompa-fluida.html, diakses pada 10
Oktober 2015)
Heriyanto. 2010. Pengendalian Proses. Bandung: __________
Lampiran Gambar

a. Percobaan
minggu pertama

Pembongkaran pompa sentrifugal


b. Percobaan minggu
kedua

Perangkaian instalasi pipa pada pompa


c. Percobaan minggu ketiga

Pembuatan penyangga
instalasi pipa

d. Percobaan minggu keempat dan kelima


Rangkaian pengkondisian laju aliran fluida sehingga mencapai kondisi
steady dan penentuan efisiensi pompa dengan variasi bukaan katup