Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

Pengujian Efek Anti Diare

KELOMPOK 4
Selasa, 5 April 2011

Aldila Indah R 260110090029


Natur Yasinka 260110090030
Silviana D. A. 260110090031
Dianti Nofriani 260110090032
Novita Chandra 260110090033
Harna L. P. 260110090034
Ridha Tria 260110090036
Pramuja Aria M. 260110090039

LABORATORIUM FARMAKOLOGI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2011

Pengujian Efek Anti Diare

I. TUJUAN
Mengetahui sejauh mana aktivitas obat anti diare dapat menghambat
diare yang disebabkan oleh oleum ricini pada hewan percobaan dan
metode transit intestinal.

II. PRINSIP

Efek obat anti diare dalam menghambat gerak peristaltik usus dapat
ditandai dengan terhambatnya aliran tinta cina yang melewati usus.

III. TEORI

Diare merupakan buang air besar (defekasi) dengan tinja, berbentuk


cairan atau setengah cairan (setengah padat), dengan kandungan air pada tinja
lebih banyak dari biasanya, normalnya 100200 ml/tinja (Hendarwanto, 1996).
Pada diare, tinja mengandung lebih banyak air dibandingkan yang normal. Tetapi
apabila mengeluarkan tinja normal secara berulang tidak disebut diare (Andrianto,
1995). Dengan kata lain, diare merupakan keadaan buang air besar dengan banyak
cairan (mencret) dan merupakan gejala dari penyakit-penyakit tertentu atau
gangguan lainnya (Tjay dan Rahardja, 2002).

Diare sebenarnya adalah proses fisiologis tubuh untuk mempertahankan


diri dari serangan mikroorganisme (virus, bakteri, parasit dan sebagainya) atau
bahan-bahan makanan yang dapat merusak usus agar tidak menyebabkan
kerusakan mukosa saluran cerna. Diare dikatakan meningkat ketika frekuensi
meningkat dengan konsentrasi tinja lebih lembek atau cair, bersifat mendadak dan
berlangsung dalam waktu 7-14 hari (Sunoto, 1996).

Secara normal makanan yang terdapat di dalam lambung dicerna menjadi


bubur (chymus), kemudian diteruskan ke usus halus untuk diuraikan lebih lanjut
oleh enzim-enzim. Setelah terjadi resorpsi, sisa chymus tersebut yang terdiri dari
90% air dan sisa-sisa makanan yang sukar dicernakan, diteruskan ke usus besar
(colon). Bakteri-bakteri yang biasanya selalu berada di colon mencerna lagi sisa-
sisa (serat-serat) tersebut, sehingga sebagian besar dari sisa-sisa tersebut dapat
diserap pula selama perjalanan melalui usus besar. Airnya juga diresorpsi kembali
sehingga akhirnya isi usus menjadi lebih padat (Tjay dan Rahardja, 2002).

Beberapa klasifikasi diare antara lain adalah:


1. Klasifikasi berdasarkan pada jenis infeksi gastroenteritis (diare dan
muntah), diklasifikasikan menurut dua golongan:
a. Diare infeksi spesifik: titis abdomen dan poratitus, disentri bani
(Shigella).
b. Diare non spesifik.
2. Klasifikasi lain diadakan berdasarkan organ yang terkena infeksi:
a. Diare infeksi enternal atau diare karena infeksi di usus (bakteri, virus,
parasit).
b. Diare infeksi parenteral atau diare karena infeksi di luar usus (otitis,
media, infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran urin, dan lainnya)
(Andi, 2010).
3. Klasifikasi diare berdasarkan lamanya diare:
a. Diare akut atau diare karena infeksi usus yang bersifat mendadak, dan
bisa berlangsung terus selama beberapa hari. Diare ini disebabkan
oleh karena infeksi usus sehingga dapat terjadi pada setiap umur dan
bila menyerang umumnya disebut gastroenteritis infantile.
b. Diare kronik merupakan diare yang berlangsung lebih dari dua
minggu, sedangkan diare yang sifatnya menahun diantara diare akut
dan diare kronik disebut diare sub akut (Andrianto, 1995).

Patogenesis terjadinya proses diare kronik sangat kompleks dan multipel


(Andrade et al., 2000). Patogenesis utama pada diare kronik adalah kerusakan
mukosa usus (Suraatmaja, 2005) yang menyebabkan gangguan digesti dan
transportasi nutrien melalui mukosa. Faktor penting lainnya adalah faktor
intraluminal yang menyebabkan gangguan proses digesti saja misalnya akibat
gangguan pankreas, hati, dan membran brush border enterosit. Biasanya kedua
faktor tersebut terjadi bersamaan sebagai penyebab diare kronik (Ghishan, 2008).
Pada tahap awal kerusakan mukosa usus disebabkan oleh etiologi diare
akut yang tidak mendapat penanganan dengan baik. Akhirnya berbagai faktor
melalui interaksi timbal balik mengakibatkan lingkaran setan. Keadaan ini tidak
hanya menyebabkan perbaikan kerusakan mukosa tidak efektif tetapi juga
menimbulkan kerusakan mukosa yang lebih berat dengan segala komplikasinya
(Suraatmaja, 2005).
Enteropatogen misalnya infeksi bakteri/infestasi parasit yang sudah
resisten terhadap antibiotik/anti parasit, disertaiov ergrowth bakteri non-patogen
seperti Pseudomonas, Klebsiella, Streptococcus, Staphylococcus, dan sebagainya
akan memprovokasi timbulnya lesi di mukosa usus. Kerusakan epitel usus
menyebabkan kekurangan enzim laktase dan protease yang mengakibatkan
maldigesti dan malabsorpsi karbohidrat dan protein. Pada tahap lanjut, setelah
terjadi malnutrisi, terjadi atrofi mukosa lambung, usus halus disertai penumpulan
vili, dan kerusakan hepar dan pankreas yang mengakibatkan terjadinya maldigesti
dan malabsorpsi seluruh nutrien. Makanan yang tidak dicerna dengan baik akan
meningkatkan tekanan koloid osmotik dalam lumen usus sehingga terjadilah diare
osmotik. Ov ergrowth bakteri yang terjadi mengakibatkan dekonjugasi dan
dehidroksilasi asam empedu. Dekonjugasi dan dehidroksilasi asam empedu
merupakan zat toksik terhadap epitel usus dan menyebabkan gangguan
pembentukan ATP-ase yang sangat penting sebagai sumber energi dalam absorpsi
makanan (Suraatmaja, 2005).
Usus merupakan organ utama untuk pertahanan tubuh. Defisiensi sekretori
IgA (SigA) dan cell mediated immunity akan menyebabkan individu tidak mampu
mengatasi infeksi bakteri/virus/jamur atau infestasi parasit dalam usus, akibatnya
kuman akan berkembang biak dengan leluasa, terjadiovergrowth dengan akibat
lebih lanjut berupa diare kronik dan malabsorpsi makanan yang lebih berat
(Suraatmaja, 2005).

Kelompok obat yang sering kali digunakan pada diare adalah:


1. Kemoterapeutik untuk terapi kausal, yakni memberantas bakteri penyebab
diare, seperti antibiotika, sulfonamida, kinolon, dan funazolidon.
2. Obstipansia untuk terapi simtomatis, yang dapat menghentikan diare dengan
beberapa cara, yakni:
a. Zat-zat penekan peristaltik (antimotilitas) sehingga memberikan lebih
banyak waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus: candu
dan alkaloidnya, derivat-derivat petidin (difenoksilat dan loperamida), dan
antikolinergik (atropin, ekstra belladonna). Adapun mekanisme kerja obat-
obatan ini adalah menstimulasi aktivasi reseptor pada neuron menterikus
dan menyebabkan hiperpolarisasi dengan meningkatkan konduktansi
kaliumnya. Hal tersebut menghambat pelepasan asetilkolin dari pleksus
mienterikus dan menurunkan motilitas usus. Loperamid merupakan opioid
yang paling tepat untuk efek lokal usus karena tidak menembus sawar
otak. Oleh karena itu loperamid hanya menimbulkan sedikit efek sentral
dan tidak menimbulkan efek ketergantungan (Tjay dan Rahardja, 2002).
b. Adstringensia, yang menciutkan selaput lendir usus, misalnya asam semak
(tanin) dan tannalbumin, garam-garam bismut, dan aluminium (Tjay dan
Rahardja, 2002).
c. Adsorbensia, misalnya yang pada permukaannya dapat menyerap
(adsorpsi) zat-zat beracun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri atau yang
adakalanya berasal dari makanan (udang, ikan) (Tjay dan Rahardja, 2002).
3. Spasmolitika,yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang
seringkali mengakibatkan nyeri perut pada diare, antara lain papaverin dan
oksifenonium (Tjay dan Rahardja, 2002).

Pengobatan simtomatik dengan opiat atau loperamid bermanfaat untuk


mengurangi hebatnya diare. Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa obat-
obat ini dapat menimbulkan efek samping seperti distensi abdominal, dll (Neal,
2005).

Obat antimotilitas secara luas digunakan sebagai simtomatis pada diare


akut ringan sampai sedang. Opioid seperti morfin, difenoksilat, dan kodein
menstimulasi aktivasi reseptor pada neuron mienterikus dan menyebabkan
hiperpolarisasi dengan meningkatkan konduktansi kaliumnya. Hal tersebut
menghambat pelepasan asetilkolin dari pleksus mienterikus dan menurunkan
motilitas usus (Neal, 2005).

Loperamid adalah opioid yang paling tepat untuk efek local pada usus
karena tidak menembus ke dalam otak. Oleh karena itu, loperamid hanya
mempunyai sedikit efek sentral dan tidak mungkin menyebabkan ketergantungan
(Neal, 2005).

Loperamid merupakan derivat difenoksilat dengan khasiat obstipasi yang


dua sampai tiga kali lebih kuat tetapi tanpa khasiat terhadap susunan saraf pusat
sehingga tidak menimbulkan ketergantungan. Zat ini mampu menormalkan
keseimbangan resorpsi-sekresi dari sel-sel mukosa, yaitu memulihkan sel-sel yang
berada dalam keadaan hipersekresi ke keadaan resorpsi normal kembali (Tjay dan
Rahardja, 2002).

Loperamid tidak diserap dengan baik melalui pemberian


oral dan penetrasinya ke dalam otak tidak baik, sifat-sifat ini
menunjang selektifitas kerjanya. Kadar puncak dalam plasma
dicapai dalam waktu 4 jam sesudah minum obat. Masa laten
yang lama ini disebabkan oleh penghambatan motilitas saluran
cerna dan karena obat mengalami sirkulasi enterohepatik (Andi,
2010).

Loperamid memperlambat motilitas saluran cerna dengan


mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinalis usus. Obat ini
berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek
konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor
tersebut. Waktu paruh 7-14 jam (Andi, 2010).

Terapi Rehidrasi : Larutan oral yang mengandung elektrolit dan glukosa


diberikan untuk mengoreksi dehidrasi berat yang dapat diakibatkan oleh infeksi
akibat organisme toksigenik. Terapi ini lebih penting daripada terapi dengan obat,
terutama pada bayi dan pada diare karena infeksi (Neal, 2005).

Antibiotik : Berguna hanya untuk infeksi tertentu, misalnya kolera dan


disentri basiler berat, yang diterapi dengan tetrasiklin (antibiotic spectrum
luas). Kuinolon, tampaknya efektif melawan patogen diare yang paling penting
(Neal, 2005).

IV. ALAT DAN BAHAN

IV.1. Alat

- Alat bedah

- Alat/meja bedah

- Sonde oral mencit

- Penggaris (pengukur jarak)

- Timbangan

IV.2. Bahan

- Hewan percobaan (mencit putih)

- Loperamid HCl (0,24 dan 0,48 mg/mL)

- Tinta cina

- Suspensi PGA 2% (diwarnai hitam dengan tinta cina/norit 0,1/10


gram sebagai marker)

V. PROSEDUR

Bobot mencit ditimbang, kemudian mencit dikelompokkan menjadi 3


kelompok secara acak. Pada kelompok kontrol negative, mencit diberi PGA 2%,
kelompok 2 diberi Loperamid dosis 0,24 mg/mL dan kelompok 3 diberi
Loperamid dosis 0,48 mg/mL. Pada t=45 menit, semua hewan diberikan tinta cina
0,1 mL/10 g mencit, secara oral. Pada t- 65 menit, semua hewan dikorbankan
dengan dislokasi tulang leher. Kemudian mencit dibedah dan ususnya idkeluarkan
secara hati-hati sampai teregang. Usus yang sudah teregang diukur :

1) Panjang usus yang dilalui norit mulai dari pylorus sampai ujung akhir
(berwarna hitam).

2) Panjang seluruh usus dari pylorus sampai rectum. Selanjutnya dihitung


rasio normal jarak yang detempuh marker terhadap panjang usus
seluruhnya.

Hasil-hasil pengamantan disajikan dalam tabel dan dibuat grafik.

VI. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

VI.1. Data pengamatan

Panjang Usus Rata-


Mencit Kelompok Rasio
Usus Termarker Rata
1 51.5 13 0.25

2 54.5 10.5 0.19


I 0.325
3 56 32 0.57

4 46.4 13.3 0.29

1 62 11 0.18

2 54 10 0.19
II 0.88
3 43.2 15.5 0.36

4 53.9 8.2 0.15


1 48 18 0.38

2 59.5 9.5 0.09


III 0.37
3 63.5 14 0.22

4 53.8 9.5 0.8

VI.2. Analisis dan perhitungan

Hipotesis :
Ho : 1 = 0, artinya seluruh perlakuan memberikan efek yang
sama terhadap mencit.
H1 : 1 0, artinya tidak seluruh perlakuan memberikan efek
yang sama terhadap mencit.

Tabel ANAVA

SV DK JK KT FHIT FTAB

Rata-Rata 1 0.048 0.048 0.167 4.26

Perlakuan 2 0.019 0.0095


Kekeliruan
9 0.513 0.057
eksperimen
Jumlah 12 0.58

Perhitungan
DK :

Rata rata =1
Perlakuan = p-1 = 3-1 = 2
Kekeliruan eksperimen = Dktotal-Dkperlakuan Dkrata-rata= 12-
2-1=9
Total = 12
Jumlah Kuadrat :

JKR

JKR=
Yi 2 =
0.7612
=0.048
DkTotal 12

JKP
0.327 2+ 0.2182+ 0.2162
JKP= 0.048=0.019
3

JKE
2
JKE=( Y ) JKPJKR=0.580.0190.048=0.513

Kuadrat Tengah :

0.048
KTR
=0.048
1
0.019
KTP
=0.0095
2
0.513
KTE
=0.057
9

F-hit

KTP 0.0095

Fhit = = =0.167
KTE 0.057

Kesimpulan
F0.05 ( 2: 9 )=4.26
Ftabel :

Karena Fhitung < Ftabel maka H0 diterima


artinya artinya seluruh perlakuan memberikan efek yang sama
terhadap mencit

VI.3. Grafik

Grafik Rasio Terhadap Jenis Obat


0.9
0.8
0.7
0.6
R 1
a 0.5 2
s 0.4 3
i 4
o 0.3
0.2
0.1
0
Kontrol negatif Loperamid dosis I Loperamid dosis II

Jenis Obat
0.9

0.8

0.7

0.6
1
0.5
2
0.4 3
0.3 4

0.2

0.1

0
Kontrol negatif Loperamid dosis I Loperamid dosis II

VII. PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini dilakukan uji obat diare. percobaan kali ini
bertujuan agar praktikan lebih mengetahui sejauh mana obat tersebut bekerja.
Percobaan kali ini diawali dengan pembagian kelompok hewan pecobaan yang
pada praktikum kali ini adalah mencit menjadi 3 kelompok. Kemudian mencit
diberi tanda agar tidak tertukar saat dilakukan pengamatan. Kemudian mencit
ditimbang untuk melakukan perhitungan terhadap dosis obat yang akan diberikan.
Dosis obat berbanding lurus dengan berat badan mencit sehingga apabila ada
perbedaan berat badan, dosis yang diberikan pun harus berbeda agar memberikan
efek yang sesuai. Mencit yang digunakan haruslah mencit yang sedang
dipuasakan sebelumnya karena apabila tidak dipuasakan kemungkinan tidak
tepatnya pengamatan semakin besar karena adanya makanan yang masih dicerna
pada lambung atau usus mencit yang dapat mempengaruhi perjalanan zat penanda
yang digunakan karena adanya pencernaan makanan. Zat penanda yang digunakan
yaitu tinta cina. Ketika menit 0, mencit diberikan obat diamana kelompok 1 diberi
gom arab karena merupakan kelompok pembanding (kelompok control negatif),
kelompok 2 diberi obat yang akan diuji dengan dosis 1 lalu kelompok 3 diberi
obat yang akan diuji dosis 2. Obat yang digunakan sebagai bahan uji yaitu
loperamid dengan dosis 0,24mg/ml dan 0,48mg/ml. Kelompok pembanding harus
dibuat agar dapat mengetahui efek obat yang diuji terhadap peristaltik usus mencit
dimana nantinya panjang usus yang ditandai oleh zat penanda antara kelompok
pembanding dan kelompok yang diberi obat uji. Kelompok yang diberi obat pun
harus dilakukan pada 2 dosis agar mengetahui hubungan konsentrasi obat dengan
efek farmakologinya dengan cara membandingkan keduanya. Kemudian mencit
dibiarkan sampai menit ke 45, mencit, lalu diberikan tinta cina secara peroral.
Pemberian waktu selama 45 menit dimaksudkan agar efek farmakologi obat dapat
tercapai ketika diberikan zat penanda, karena obat diberikan secara peroral
biasanya memberikan efek yang lebih lama dibandingkan dengan obat yang
diberikan secara parenteral. Kemungkinan absorpsi obat yang tidak teratur, yang
tergantung pada faktor-faktor seperti perbaikan yang mendasar, jumlah atau jenis
makanan dalam saluran cerna, dan perusakan beberapa obat oleh reaksi dari
lambung atau oleh enzim-enzim dari saluran cerna. Kerugiannya adalah
beberapa jenis obat dapat rusak oleh adanya enzim saluran cerna, perlu kerjasama
dari penderita, tidak dapat dilakukan bila pasien koma, dan banyak faktor yang
dapat mempengaruhi bioavailibilitasnya. Bioavailibilitas adalah jumlah obat,
dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh
maupun aktif. Tinta cina diberikan dengan maksud menandai sejauh mana
perjalanan yang dapat ditempuh suatu zat pada pencernaan mencit. Tinta cina
berwarna sangat pekat sehingga sangat cocok untuk digunakan pada pengamatan
ini dimana akan memberikan tanda hitam pada usus mencit. Kemudian pada saat
menit ke 65 atau 20 menit setelah pemberian tinta cina, mencit didislokasi leher
agar mempermudah untuk pengukuran panjang usus yang tertandai karena
praktikan harus mengeluarkan ususnya dari perut mencit. Pembedahan hewan
percobaan harus dilakukan dengan hati-hati agar usus mencit yang merupakan
tujuan pengamatan tidak tergangu dan tidak terlalu mempengaruhi hasil
pengamatan. Pengeluaran usus pun harus dilakukan secara hati hati dan jangan
sampai usus tertarik karena ketika usus tertarik panjang usus kemungkinan akan
bertambah sehingga ada perubahan pada pengukuran panjang yang akan
dilakukan berikutnya. Setelah itu dilakukan pengukuran panjang usus dari
lambung hingga ke anus yang merupakan panjang usus keseluruhan dan dari
lambung hingga ke tanda terakhir yang diberikan tinta cina pada usus mencit.
Data dari pengukuran tersebut digunakan untuk mengetahui rasio dari kelompok
mencit kontrol negatif, kelompok mencit dengan obat uji I, dan kelompok mencit
dengan obat uji II. Rasio tersebut digunakan untuk mengetahui efek obat
antidiare yang diuji yaitu loperamid. Loperamid merupakan derivat difenoksilat
dengan khasiat obstipasi yang dua sampai tiga kali lebih kuat tetapi tanpa khasiat
terhadap susunan saraf pusat sehingga tidak menimbulkan ketergantungan. Zat ini
mampu menormalkan keseimbangan resorpsi-sekresi dari sel-sel mukosa, yaitu
memulihkan sel-sel yang berada dalam keadaan hipersekresi ke keadaan resorpsi
normal kembali. Dari data kelompok 4, panjang usus yang termarker pada mencit
obat uji I lebih pendek dibandingkan dengan panjang usus yang termarker pada
mencit obat uji II. Konsentrasi obat uji I lebih kecil dibandingkan dengan obat uji
I, seharusnya efek antidiare yang ditimbulkan dalam mempengaruhi gerakan
peristaltik kurang efektif jika dibandingkan dengan obat uji II. Hal tersebut
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu teknik pemberian tinta cina secara peroral
belum benar, karena pada saat mencit untuk obat uji I dilakukan pembedahan tinta
cina tidak hanya tersebar dalam usus tapi juga tersebar pada organ lain.
Kemungkinan pada saat melakukan teknik penyondean untuk pemberian obat
secara peroral, praktikan melakukan dengan tidak tepat, sehingga sebagian tinta
cina ada yang masuk ke dalam saluran pernafasan. Oleh karena itu, tinta cina yang
seharusnya memarker usus, menjadi tersebar ke bagian organ tubuh yang lain,
sehingga panjang usus yang termarker pada mencit untuk obat uji I menjadi lebih
pendek dibandingkan dengan panjang usus yang termarker pada mencit untuk
obat uji II. Kemudian, dari data pengukuran panjang usus yang dimarker dan
panjang usus seluruhnya dapat diperoleh hasil persentase inhibisi peristaltik. Dari
data keseluruhan persen inhibisi dari mencit untuk obat uji I yaitu sebesar 66,67%,
dan persen inhibisi dari mencit untuk obat uji II yaitu sebesar 66,08%.
Seharusnya persen yang didapat dari persen inhibisi peristaltik pada obat uji I
lebih kecil dibandingkan dengan persen inhibisi peristaltik pada obat uji II, karena
konsentrasi pada obat uji II lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi pada
obat uji I. Hal tersebut terjadi karena konsentrasi dapat mempengaruhi efek kerja
suatu obat dalam tubuh. Jika konsentrasi obat lebih besar dalam pemberian obat,
maka efek terapi dari obat tersebut akan lebih meningkat.

Dari hasil percobaan aktivitas suatu obat antidiare akan menimbulkan


efek yang dapat menghambat diare. Obat yang diuji dalam percobaan ini yaitu
loperamid yang dapat menghambat diare dengan cara menekan peristaltik dari
usus. Namun, aktivitas suatu obat antidiare dapat dipengaruhi beberapa faktor.
Seperti, cara pemberian obat, konsentrasi suatu obat, serta faktor eksternal lain.

VIII. KESIMPULAN
Aktivitas obat antidiare dapat menghambat diare. Salah satu cara untuk
menghambat diare tersebut dengan menekan peristaltik usus. Metode
transit intestinal dapat digunakan untuk mengetahui persentase inhibisi
peristaltik dari suatu obat antidiare. Persentase inhibisi peristaltik dari
obat uji (loperamid) I yang didapat dalam percobaan yaitu 66,67%.
Sedangkan, persentase inhibisi peristaltik dari obat uji (loperamid) II
yang didapat dalam percobaan yaitu 66,08%.
DAFTAR PUSTAKA

Andi. 2010. Pengujian Aktivitas Antidiare. Available online at


http://andiscientist.blogspot.com/2010/11/pengujian-aktivitas-
antidiare.html [diakses 9 April 2011]

Andrade, J.A.B., C. Murcira, and U.F. Neto. 2000. Persistent diarrhea. Mac
Millan. Philadelphia.

Andrianto, P. 1995. Penatalaksanaan dan Pencegahan Diare Akut. Penerbit Buku


EGC. Jakarta.

Ghishan, F. K. 2008. Chronic Diarrhea. Edisi ke-18. Saunders. Philadelpia.

Hendarwanto. 1996. Diare Akut Karena Infeksi Ilmu Penyakit Dalam. FKUI.
Jakarta.

Neal, M. J. 2005. At A Glance Farmakologi Medis. Penerbit Buku EGC. Jakarta.


Sunoto. 1996. Buku Ajar Diare. Depkes RI. Jakarta.

Suraatmaja, S. 2005. Gastroenterologi Anak. Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK


UNUD/RS Sanglah. Denpasar.

Tjay, Tan Hoan dan Kirana, Rahardja. 2002. Obat-obat Penting, Khasiat,
Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya Edisi Kelima. PT Elex Media
Komputindo. Jakarta.