Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

CA LIDAH

I. ANATOMI FISIOLOGI LIDAH


1. Anatomi lidah

Lidah terletak didasar mulut, ujung dan pinggiran lidah bersentuhan dengan gigi
bawah. Lidah secarara anatomi terbagi atas 3 bagian, yakni:

a. Apek linguae (ujung lidah)

b. Corpus linguae (badan lidah)

c. Radix linguae (akar lidah)

Lidah memiliki 4 papila, yakni:

a. Papila foliate

b. Papila fungiformis

c. Papila sirkumfalata

d. Papila filiformis

Susunan otot yang ada pada lidah ada 2 otot yakni:

a. Otot intrinsik

b. Otot ekstrinsik

2. Fisiologi lidah

Lidah adalah organ pengecap, pada lidah terdapat reseptor untuk rasa. Reseptor ini
peka terhadap stimulus dari zat-zat kimia, sehingga disebut kemoreseptor. Reseptor
tersebut adalah kuncup-kuncup pengecap (taste buds).

Pengecapan merupakan fungsi utama dari taste buds,tetapi indera penghidu pun
sangat berperan dalam persepsi pengecapan. Indera pengecapan memungkinkan
kita merasakan tekstur makanan lembut atau kasar, zat-zat yang terkandung dalam

1
makanan, serta rasa makanan itu sendiri. Makna pentingnya adalah bahwa
pengecapan memungkinkan manusia memilih makanan sesuai keinginannya.

Sensasi pengecapan terjadi karena rangsangan terhadap berbagai reseptor


pengecapan, ada sedikitnya 13 reseptor kimia yang ada pada sel-sel pengecapan,
antara lain: 2 reseptor natrium,2 reseptor kalium, 1 reseptor klorida,1 resptor
adenosine, 1 reseptor inosin, 1 reseptor manis, 1 reseptor pahit,1 reseptor glutamate,
dan 1 reseptor ion hydrogen.

Kemampuan reseptor tersebut dikumpulkan menjadi 5 kategori umum: asam, asin,


manis, pahit dan umami disebut sensasi pengecapan utama.

1. Rasa asam, disebabkan oleh asam karena konsentrasi ion hydrogen


2. Rasa Asin, dihasilkan oleh garam yang terionisasi,karena konsentrasi Na
3. Rasa manis, dibentuk oleh beberapa zat kimia organic (gula, glikol, alcohol,
aldehide, keton, amida, ester, asam, amino, protein, asam sulfonat, asam
halogenasi), dan garam anorganik dari timah dan berilium.
4. Rasa Pahit, juga tidak dibentuk oleh satu zat kimia, zat pembentuk rasa manis bila
terjadi perubahan pada struktur kimianya dapat menjadi pahit. Rasa pahit juga
dapat mengindikasi bahwa makanan tersebut mengandung toxin atau beracun.

Kuncup-kuncup pengecap ini ada yang tersebar dan ada pula yang berkelompok dalam
tonjolan-tonjolan epitel yang disebut papila. Terdapat empat macam papila lidah:

1. Papila foliate, pada pangkal lidah bagian lateral,


2. Papila fungiformis, pada bagian anterior.
3. Papila sirkumfalata, melintang pada pangkal lidah.
Ketiga papila di atas mengandung kuncup pengecap, dan
4. Papila Filiformis, terdapat pada bagian posterior. Pada foliate tidak terdapat
kuncup-kuncup pengecap.

2
Setiap kuncup pengecap terdiri dari dua macam sel, yaitu sel pengecap dan sel
penunjang, pada sel pengecap terdapat silia (rambut gustatori) yang memanjang ke
lubang pengecap. Zat-zat kimia dari makanan yang kita makan, mencapai kuncup
pengecap melalui lubang-lubang pengecap (taste pores).

Pada lidah reseptor-reseptor yang sensitif terhadap rasa manis terdapat pada ujung
lidah, sedangkan untuk rasa masam terdapat pada bagian kanan dan kiri lidah.
Pangkal lidah sensitif untuk rasa pahit dan bagian samping depan sensitif terhadap
rasa asin.

II. PENGERTIAN

Karsinoma lidah adalah suatu tumor yang terjadi didasar mulut, kadang-kadang
meluas kearah lidah dan menyebabkan gangguan mobilitas lidah (Van de Velde, 1999).

Kanker lidah adalah suatu neoplasma maligna yang timbul dari jaringan epitel
mukosa lidah dengan selnya berbentuk squamous cell carcinoma (cell epitel gepeng
berlapis), juga beberapa penyakit-penyakit tertentu (premaligna). Kanker ganas ini dapat
menginfiltrasi ke daerah sekitarnya, disamping itu dapat melakukan metastase secara
limfogen dan hematogen.

3
III. ETIOLOGI

Kanker rongga mulut memiliki penyebab yang multifaktorial dan suatu proses yang
terdiri dari beberapa langkah yang melibatkan inisiasi, promosi dan perkembangan tumor.
Secara garis besar, etiologi kanker lidah:
1. Tembakau: 80% penderita kanker lidah adalah perokok. Risiko perokok adalah 5-9
kali lebih besar dibandingkan bukan perokok.
2. Alkoholisme: peminum berat mempunyai risiko 30 kali lebih besar dan efeknya
sinergis dengan merokok.
3. Infeksi virus dalam rongga mulut: Human papilloma virus (HPV) khususnya HPV
16 dan HPV 18.
4. Oral hygiene yang jelek.
5. Sunburn: iritasi sinar matahari dan iritasi kronis lainnya.
6. Gaya hidup: kebiasaan mengunyah sirih.
Sumber lain menyebutkan beberapa etioogi atau penyebab kanker lidah yaitu
Kanker rongga mulut memiliki penyebab yang multifaktorial dan suatu proses yang terdiri
dari beberapa langkah yang melibatkan inisiasi, promosi dan perkembangan tumor.
Secara garis besar, etiologi kanker lidah:

1. Predisposisi genetic
2. Efek hormonal
3. Lesi prakanker
4. Iritasi kronis, trauma, dan inflamasi
5. Kegagalan fungsi sistem imun
6. Terapi obat
7. Faktor lingkungan (Radiasi pengion, Pemajanan sinar matahar,i Efek radon dan
medan electromagnet, Polusi kimia, Polusi udara)
8. Kebiasaan pola hidup (Rokok dan tembakau, Nutrisi, Konsumsi alcohol, Praktik
seksual)
9. Virus
10. Faktor-faktor psikososial (Sifat kepribadian dan sikap; Sistem pendukung social)
(Baradero Mary, dkk.2007.Seri Asuhan Keperawatan Klien Kanker.Jakarta:EGC)
IV. PATOFISIOLOGI
Kejadian kanker lidah disebabkan oleh banyak faktor yang dikelompokkan menjadi
beberapa faktor, yaitu Faktor luar, faktor heriditer dan faktor non heriditer. Faktor
luar meliputi rokok, alcohol, infeksi kronis dan trauma krinis. Faktor non heriditer
meliputi Faktor fisik seperti sinar ultraviolet, Faktor biologis seperti virus (papiloma
yang ditularkan melalui hubungan suami istri,hepatitis) parasit, dan bakteri.

Faktor-faktor tersebut akan memicu suatu rangsang karsinogen yang mengenai sel
squamous carcinoma pada mukosa mulut yang tidak mempunyai keratin sebagai

4
pelindung.
Dimukosa mulut tersebut, zat-zat karsinogen tertampung dan berproliferasi secara
tidak terkontrol. Kanker lidah yang mengenai radix linguae biasanya asimptomatis
hingga proses penyakit berlanjut hingga timbul nyeri menelan dan pergerakan lidah
yang terbatas. Kanker pada posterior lidah (radix linguae) dominan bermetastase ke
colli/leher. Ketika kanker mengenai corpus linguae tanda yang paling sering terlihat
adalah putih-putih pada lidah yang tidak bisa dihilangkan. Kemudian bisa terbentuk
ulkus yang mudah berdarah. Kanker pada anterior (corpus linguae) dominan
metastase pada kelenjar limfe submental dan submandibular. Penatalaksanaan
kanker lidah meliputi operasi glosektomi dan diseksi leher yang dilanjutkan dengan
kemoterapi.

V. MANIFESTASI KLINIS
1. Tanda awal umumnya berupa ulkus tanpa nyeri yang tidak sembuh-sembuh.
Kemudian membesar dan menekan atau menginfiltrsi jaringan sekitar yang
megakibatkan nyeri lokal, otalgia ipsilateral dan nyeri mandibula (Suyatno, 2010).
2. Infiltrasi ke otot-otot ini mengakibatkan gerakan lidah terbatas sehingga proses
menelan bolus makanan dan bicara terganggu. Kanker ini dapat menginfiltrasi
jaringan sekitarnya seperti dasar mulut (floor of mouth, FOM), dasar lidah dan
tonsil (Suyatno, 2010. Bedah Onkologi Diagnostik dan Terapi. Jakarta: Sagung
Seto).
3. Sejalan dengan kemajuan kanker pasien dapat mengeluhkan nyeri tekan, kesulitan
mengunyah, menelan, dan berbicara, batuk dengan sputum bersemu darah atau
terjadi pembesaran nodus limfe servikal. (Baughman Diane C, 2000).
VI. KLASIFIKASI

Klasifikasi ca lidah terdiri dari:


a. Tumor primer
1) TIS adalah karsinoma in situ
2) T1 adalah tumor dengan penampang kurang kurang 2 cm.
3) T2 adalah tumor dengan penampang sama dengan 2 cm dengan infiltrasi
dangkal.
4) T3 adalah tumor dengan penampang lebih dari 2 cm dengan infiltrasi dalam.
5) T4 adalah tumor dengan penampang lebih dari 4 cm dan tumor tersebut sudah
sudah meluas disekelilingnya.
b. Pembesaran kelenjar limfe
1) N0 : Kelenjar-kelenjar leher yang palpable tidak ada.
2) N1 : Sudah ada kelenjar leher yang palpable, mobile serta holmolateral.
3) N2 : Kelenjar leher yang palpable, mobile serta heterolateral/bilateral.
4) N3 : Kelenjar-kelenjar leher ini sudah fixed, baik holmolateral atau bilateral.

5
c. Metastase
1) M0 = Metastase jauh tidak ada.
2) M1 = Metase jauh sudah ada.
Penggolongan stadium klinis karsinoma lidah berdasarkan kesepakatan Amerika Serikat
(AJCC) dan Perancis (UICC) tahun 2002

VII. KOMPLIKASI
1. Komplikasi akut yang dapat terjadi adalah :
a. Mukositis: Mukositis oral merupakan inflamasi pada mukosa mulut berupa
eritema dan adanya ulser yang biasanya ditemukan pada pasien yang
mendapatkan terapi kanker. Biasanya pasien mengeluhkan rasa sakit pada
mulutnya dan dapat mempengaruhi nutrisi serta kualitas hidup pasien.
b. Kandidiasis: Pasien radioterapi sangat mudah terjadi infeksi opurtunistik berupa
kandidiasis oral yang disebabkan oleh jamur yaitu Candida albicans. Infeksi
kandida ditemukan sebanyak 17-29% pada pasien yang menerima radioterapi.
c. Dysgeusia adalah respon awal berupa hilangnya rasa pengecapan, dimana salah
satunya dapat disebabkan oleh terapi radiasi.
d. Xerostomia: Xerostomia atau mulut kering dikeluhkan sebanyak 80% pasien yang
menerima radioterapi. Xerostomia juga dikeluhkan sampai radioterapi telah
selesai dengan rata-rata 251 hari setelah radioterapi. Bahkan tetap dikeluhkan
setelah 12-18 bulan setelah radioterapi tergantung pada dosis yang diterima
kelenjar saliva dan volume jaringan kelenjar yang menerima radiasi.
2. Komplikasi kronis adalah:
a. Karies gigi: Karies gigi dapat terjadi pada pasien yang menerima radioterapi.
Karies gigi akibat paparan radiasi atau yang sering disebut dengan karies radiasi
adalah bentuk yang paling destruktif dari karies gigi, dimana mempunyai onset
dan progresi yang cepat. Karies gigi biasanya terbentuk dan berkembang pada 3-
6 bulan setelah terapi radiasi dan mengalami kerusakan yang lengkap pada
semua gigi pada periode 3-5 tahun.

6
b. Osteoradionekrosis: Osteoradionekrosis (ORN) merupakan efek kronis yang
penting pada radioterapi. Osteoradionekrosis adalah nekrose iskemik tulang yang
disebabkan oleh radiasi yang menyebabkan rasa sakit karena kehilangan banyak
struktur tulang.
c. Nekrose pada jaringan lunak : Komplikasi oral kronis lain yang dapat terjadi
adalah nekrose pada jaringan lunak, dimana 95% kasus dari osteoradionekrosis
berhubungan dengan nekrose pada jaringan lunak. Nekrose jaringan lunak
didefinisikan sebagai ulser yang terdapat pada jaringan yang terradiasi, tanpa
adanya proses keganasan (maligna). Evaluasi secara teratur penting dilakukan
sampai nekrose berkurang, karena tidak ada kemungkinan terjadinya
kekambuhan. Timbulnya nekrose pada jaringan lunak ini berhubungan dengan
dosis, waktu, dan volume kelenjar yang terradiasi. Reaksi akut terjadi selama
terapi dan biasanya bersifat reversibel, sedangkan reaksi yang bersifat kronis
biasanya terjadi menahun dan bersifat irreversibel.
VIII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. CT-scan atau MRI dilakukan untuk menilai detail lokasi tumor, luas ekstensi tumor
primer.
2. USG hepar, Foto thorax dan bone scan untuk evaluasi adanya metastasis jauh.
3. Biopsi
a. FNAB (Fine Needle Apiration Biopsy), dilakukan pada tumor primer yang
metastasis ke kelenjar getah bening leher.
b. Biopsi insisi atau biopsi cakot (punch) dilakukan bila tumor besar (>1 cm)
c. Biopsi eksisi dilakukan pada tumor yang kecil ( 1 cm atau kurang) (Suyatno, 2010).
Pemeriksaan penunjang
1. Biopsi
a. Incisional biopsy
Dengan cara mengambil sampel dari daerah carcinoma dan daerah yang sehat,
sehingga diketahui batas jelas dari carcinoma. Tetapi kejelekannya adalah
pembuluh darah menjadi terbuka, dan ini akan mempermudah penyebaran dari
carcinoma tersebut, sedangkan keuntunganya dapat mengetahui batas dari
carcinoma guna terapi selanjutnya ( Penyinaran ).
Cara biopsy ini dapat dilakukan pada cacinoma lidah yang masih kecil dengan
atau tanpa metastase. Excisi jaringan yang diduga carcinoma dengan jarak 1 1,5
cm dari jaringan sehat. Hasil excisi diletakkan pada gabus ( maksudnya adalah
untuk cukup bersih ). Dengan kasa yang diberi formalin diletakkan diatas preparat
agar preparat tidak melengkung sehingga topograpi tidakm berubah, kemudian

7
dikirim ke patologi anatomi. Dipotong menjadi 7 preparat, dan dilihat bagian mana
yang tidak bersih dapat diulang excisinya.Setelah dilakukan pemeriksaan diatas
(incisional biopsi) baru dilakukan pemeriksaan patologi anatomi untuk menentukan
tumor ganas atau bukan.
b. Brush biopsy
Pada prosedur ini, sampel diambil pada permukaan mukosa yang terlihat
abnormal dengan cara mengumpulkan sel epitel mukosa dengan menggunakan
alat berbentuk sikat, menempatkan sampel dalam slide dan melakukan tindakan
fiksasi sebelum membawa jaringan tersebut ke laboratorium. Tindakan
pengambilan sampel dengan skapel dan jarum biopsi diindikasikan pada kanker
yang sudah jelas terlihat, terdapat kecurigaan yang kuat terhadap lesi atau lesi
terdapat pada orang yang memiliki faktor-faktor resiko kanker mulut. Sedangkan
brush biopsi diindikasikan pad keadaan yang sebaliknya.
c. Teknik cahaya khemoluminesen
Jaringan yang dicurigai sebagai kanker disinari dengan khemoluminesen setelah
sebelumnya diwarnai dengan asam asetat. Hasilnya akan terlihat gambaran opak
acetowhite pada jaringan yang terkena kanker atau jaringan yang abnormal.
IX. PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan Farmakologi
1) Kemoterapi
Kemoterapi digunakan pada karsinoma stadium lanjut dan sebagai terapi paliatif
pada tumor rekuren untuk mengurangi rasa nyeri. Regimen yang digunakan adalah
cisplatin dan 5-fluorouracil. Adapun regimen lain yang biasa digunakan adalah
docetaxel yang mana merupakan agen efektif dan memiliki tingkat respon yang lebih
baik pada pasien-pasien dengan stadium lanjut, rekuren, ataupun metastasis.
Docetaxel berbeda dalam mekanisme kerjanya dengan cisplatin dan 5-fluorouracil
sehingga dapat dikombinasikan untuk mendapatkan hasil pengobatan yang lebih
baik. Kemoterapi kombinasi ini menghasilkan tingkat respons 90-93%. Efek samping
yang dapat terjadi pada pemberian kombinasi terapi ini yaitu leukopenia, neutropenia,
thrombositopenia, alopesia, dan diare.

b. Penatalaksanaan non farmakologi


1) Radio Therapy
Radio therapy dilakukan bila:
Tumor Inoperable, T3 atau lebih, N3, M0 M1
a) External X ray
Yaitu dengan memasukkan jarum radium sel-sel carcinoma ikut masuk kedalam.
Dapat digunakan dengan cara lain yaitu : Penderita dinarcose, kemudian

8
memasukkan polyethtylene catherter dan melalui charteter ini dimasukkan
benang yang diikat dengan radium maka radium ini akan tersebar secara merata,
bila sudah selesai benang ditarik keluar cara ini disebut application.
b) Radon seeds
Dengan biji-biji radon yang diletakkan sekitar cartinoma
o Cytostatica theraphy :
Metotrexate (Mtx) dapat Mendepresi sum-sum tulang, ini dapat diatasi
denganleokoporin. Mempunyai akumulasi baik. Dapat dipakai untuk merubah T3
menjadi T2-T1.
o Surgical/Hemiglosectomy (total glossectomy)
Dilakukan pengangkatan pada bagian yang diindikasi terkena carcinoma atau
hemiglosectomy atau total glossectomy apabila tumor cukup besar dan sudah
bermetastase ke daerah leher.
Pada metastasenya dilakukan:
Pada N1 dan N2, dilakukan RND (Radical Neck Disection) yang diangkat
a. Kelenjar leher
b. Kelenjar sub madibula.
c. V. Jugularis interna.
d. Kelenjar supra ciavicularis Pada N3, dilakukan bilateral neck dissection.

9
ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
I. IDENTITAS PASIEN
Nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, nomor register,
tanggal masuk, dan nama penanggung jawab pasien elama dirawat.
II. RIWAYAT KESEHATAN
1) Keluhan utama: Luka pada lidah yang tidak sembuh-sembuh.
2) Riwayat penyakit sekarang: Luka pada lidah yang tidak sembuh-sembuh.
Kemudian membesar dan menekan atau menginfiltrsi jaringan sekitar yang
megakibatkan nyeri lokal, otalgia ipsilateral dan nyeri mandibula.
3) Riwayat penyakit dahulu
a. Tembakau: 80% penderita kanker lidah adalah perokok. Risiko perokok adalah
5-9 kali lebih besar dibandingkan bukan perokok.
b. Alkoholisme: peminum berat mempunyai risiko 30 kali lebih besar dan efeknya
sinergis dengan merokok.
c. Infeksi virus dalam rongga mulut: Human papilloma virus (HPV) khususnya HPV
16 dan HPV 18.
d. Oral hygiene yang jelek.
III. PEMERIKSAAN FISIK
- Keadaan Umum
- Pemeriksaan Tanda - Tanda Vital (TTV)
- Pemeriksaan Head to Toe (inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi)
- Pemeriksaan B1-B6 :
1. B1 (Breathing)
Sesak napas, RR meningkat, penggunaan otot bantu pernafasaan.
2. B2 (Blood)
Takikardia, Hipertensi (nyeri hebat).
3. B3 (Brain)
Gangguan saraf IX & X (penurunan reflek menelan), saraf XII (gerakan lidah
terganggu).
4. B4 (Bladder)
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urine,
perubahan bising usus, distensi abdomen.
5. B5 (Bowel)
Anoreksia, nafsu makan menurun, nyeri telan, perubahan berat badan.
6. B6 (Bone)
Kelemahan atau keletihan, perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor
yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC
1. CT-scan atau MRI dilakukan untuk menilai detail lokasi tumor, luas ekstensi tumor
primer.
2. USG hepar, Foto thorax dan bone scan untuk evaluasi adanya metastasis jauh.

10
3. Biopsi
a. FNAB (Fine Needle Apiration Biopsy), dilakukan pada tumor primer yang
metastasis ke kelenjar getah bening leher.
b. Biopsi insisi atau biopsi cakot (punch) dilakukan bila tumor besar (>1 cm).
c. Biopsi eksisi dilakukan pada tumor yang kecil ( 1 cm atau kurang) (Suyatno,
2010).

11
INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


Keperawatan

1. Ketidakseimban NOC Pengelolaan nutrisi (Nutrion Management ) :


gan nutrisi Monitor catatan masukan kandungan nutrisi
kurang dari Setelah dilakukan tindakan dan kalori.
kebutuhan tubuh keperawatan Anjurkan masukan kalori yang tepat sesui
Nutritional Status dengan tipe tubuh dan gaya hidup.
Faktor-faktor yang adekuat dengan kriteria Berikan makanan pilihan.
berhubungan : hasil : Anjurkan penyiapan dan penyajian makanan
dengan teknik yang aman.
Ketidakmampuan Intake nutrisi baik Berikan informasi yang tepat tentang
pemasukan atau 1 2 3 4 5
kebutuhan nutrisi dan bagaimana cara
mencerna
Intake makanan baik memperolehnya
makanan atau Kaji adanya alergi makanan
1 2 3 4 5
mengabsorpsi zat- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
zat gizi Asupan cairan cukup menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
berhubungan 1 2 3 4 5 dibutuhkan pasien
dengan faktor Yakinkan diet yang dimakan
biologis, psikologis Peristaltic usus mengandungtinggi serat untuk mencegah
normal konstipasi
atau ekonomi.
1 2 3 4 5
Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan
Berat badan makanan harian
meningkat Monitor adanya penurunan BB dan
g u l a darah

12
1 2 3 4 5 Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan
tidakselama jam makan
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam,
totalprotein, Hb dan kadar Ht
Monitor mual dan muntah
Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor intake nuntrisi
Nutrition Monitoring

BB pasien dalam batas normal


Monitor adanya penurunan berat badan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa
dilakukan
Monitor interaksi anak atau orangtua selama
makan
Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama
jam makan
Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah
patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan
kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan perkembangan
Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan
jaringan konjungtiva
Monitor kalori dan intake nuntrisi

13
Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral.
Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet
Weight Management
Diskusikan bersama pasien mengenai
hubungan antara intake makanan, latihan,
peningkatan BB dan penurunan BB
Diskusikan bersama pasien mengani
kondisi medis yang dapat mempengaruhi BB
Diskusikan bersama pasien mengenai
kebiasaan, gaya hidup dan factor herediter
yang dapat mempengaruhi BB
Diskusikan bersama pasien mengenai
risiko yang berhubungan dengan BB
berlebih dan penurunan BB
Dorong pasien untuk merubah
kebiasaan makan
Perkirakan BB badan ideal pasien

KETERANGAN PENILAIAN NOC:

Scor Keterangan
e
1 sangat membahayakan sekali/ kondisi sangat berat/ tidak menunjukkan perubahan/ tidak adekuat/tidak
pernah menunjukkan
2 banyak hal yang membahayakan/ masih banyak hal yang memberatkan kondisi/ perubahan sangat
terbatas/ sedikit adekuat/ jarang menunjukkan
3 cukup membahayakan/ kondisi cukup atau sedang dalam menunjukkan perbaikan/ perubahan taraf

14
sedang/ cukup adekuat/kadang-kadang menunjukkan
4 membahayakan dalam tingkat ringan/ sedikit lagi sudah membaik/ banyak prubahan/ adekuat tingkat
sedang/ sering menunjukkan
5 kondisi sudah tidak membahayakan/ kondisi baik/ berubah sesuai target/ sangat adekuat/ selalu
menunjukkan

2. Risiko Infeksi

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi


Keperawatan Hasil

2. Resiko Infeksi NOC NIC :

Dengan faktor- Setelah dilakukan Infection Control (Kontrol infeksi)


faktor resiko : tindakan
keperawatn risiko Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
- Prosedur Infasif infeksi terkontrol Pertahankan teknik isolasi
- Ketidakcukupan
dengan kriteria
pengetahuan Batasi pengunjung bila perlu
untuk hasil :
Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat
menghindari berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
paparan Klien bebas
Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
patogen dari tanda
Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
- Trauma dan gejala
kperawtan
- Kerusakan infeksi
jaringan dan Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
1 234
peningkatan Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
5 Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai
paparan
lingkungan Menunjukkan dengan petunjuk umum
- Ruptur kemampuan Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi
membran untuk kandung kencing
amnion mencegah Tingktkan intake nutrisi

15
- Agen farmasi timbulnya Berikan terapi antibiotik bila perlu
(imunosupresan infeksi
) 1 234
- Malnutrisi Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
- Peningkatan
5
paparan Jumlah Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
lingkungan leukosit dalam Monitor hitung granulosit, WBC
patogen batas normal Monitor kerentanan terhadap infeksi
- Imonusupresi 1 234 Batasi pengunjung
- Ketidakadekuat 5 Saring pengunjung terhadap penyakit menular
an imum
buatan Menunjukkan Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
- Tidak adekuat perilaku hidup Pertahankan teknik isolasi k/p
pertahanan sehat Berikan perawatan kuliat pada area epidema
sekunder 1 234 Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan,
(penurunan Hb, 5 panas, drainase
Leukopenia, Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
penekanan Dorong masukkan nutrisi yang cukup
respon Dorong masukan cairan
inflamasi)
Dorong istirahat
- Tidak adekuat
pertahanan Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
tubuh primer Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
(kulit tidak Ajarkan cara menghindari infeksi
utuh, trauma Laporkan kecurigaan infeksi
jaringan, Laporkan kultur positif
penurunan
kerja silia,
cairan tubuh
statis,
perubahan
sekresi pH,
perubahan
peristaltik)

16
- Penyakit kronik

KETERANGAN PENILAIAN NOC:


Sco Keterangan
re
1 sangat membahayakan sekali/ kondisi sangat berat/ tidak menunjukkan perubahan/ tidak
adekuat/tidak pernah menunjukkan
2 banyak hal yang membahayakan/ masih banyak hal yang memberatkan kondisi/ perubahan sangat
terbatas/ sedikit adekuat/ jarang menunjukkan
3 cukup membahayakan/ kondisi cukup atau sedang dalam menunjukkan perbaikan/ perubahan
taraf sedang/ cukup adekuat/kadang-kadang menunjukkan
4 membahayakan dalam tingkat ringan/ sedikit lagi sudah membaik/ banyak prubahan/ adekuat
tingkat sedang/ sering menunjukkan
5 kondisi sudah tidak membahayakan/ kondisi baik/ berubah sesuai target/ sangat adekuat/ selalu
menunjukkan

3. Nyeri Akut

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


Keperawatan

3. Nyeri akut NOC : Manajemen nyeri (Pain Management) :


berhubungan Setelah dilakukan Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
dengan agen tindakan keperawatan Kaji nyeri secara komprehensif meliputi (lokasi,
cedera biologis Pain Control dengan karakteristik, dan onset, durasi, frekuensi, kualitas,

17
kriteria hasil : intensitas nyeri)
Mengenali faktor Kaji skala nyeri
penyebab Gunakan komunikasi terapeutik agar klien dapat
1 2345 mengekspresikan nyeri
Mengenali onset Kaji factor yang dapat menyebabkan nyeri timbul
(lamanya sakit) Anjurkan pada pasien untuk cukup istirahat
1 2345 Control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
Menggunakan Monitor tanda tanda vital
metode pencegahan Ajarkan tentang teknik nonfarmakologi (relaksasi)
untuk mengurangi untuk mengurangi nyeri
nyeri Jelaskan factor factor yang dapat mempengaruhi nyeri
1 2345 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
Menggunakan Analgesic Administration
metode nonanalgetik
untuk mengurangi Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat
nyeri nyeri sebelum pemberian obat
1 2345 Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan
Mengunakan frekuensi
analgesik sesuai Cek riwayat alergi
dengan kebutuhan Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi
1 2345 dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu
Mencari bantuan Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan
tenaga kesehatan beratnya nyeri
1 2345 Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan
Melaporkan gejala dosis optimal
pada petugas Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk
kesehatan pengobatan nyeri secara teratur
1 2345 Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
Mengenali gejala analgesik pertama kali
gejala nyeri Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri
1 2345 hebat
Melaporkan nyeri Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala

18
yang sudah (efek samping)
terkontrol
1 2345

KETERANGAN PENILAIAN NOC:


Scor Keterangan
e
1 sangat membahayakan sekali/ kondisi sangat berat/ tidak menunjukkan perubahan/ tidak adekuat/tidak
pernah menunjukkan
2 banyak hal yang membahayakan/ masih banyak hal yang memberatkan kondisi/ perubahan sangat
terbatas/ sedikit adekuat/ jarang menunjukkan
3 cukup membahayakan/ kondisi cukup atau sedang dalam menunjukkan perbaikan/ perubahan taraf
sedang/ cukup adekuat/kadang-kadang menunjukkan
4 membahayakan dalam tingkat ringan/ sedikit lagi sudah membaik/ banyak prubahan/ adekuat tingkat
sedang/ sering menunjukkan
5 kondisi sudah tidak membahayakan/ kondisi baik/ berubah sesuai target/ sangat adekuat/ selalu
menunjukkan

4. Hipertermi

N Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


o Keperawatan

4. Hipertermi NOC NIC :


berhubungan Fever treatment
dengan penyakit Setelah dilakukan Monitor suhu sesering mungkin

19
tindakan Monitor IWL
keperawatanThermor Monitor warna dan suhu kulit
egulation dalam Monitor tekanan darah, nadi dan RR
batas normal dengan Monitor penurunan tingkat kesadaran
kriteria hasil : Monitor WBC, Hb, dan Hct
Monitor intake dan output
Tidak menggigil Berikan anti piretik
1 2345 Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab
Nadi dbn ( 60-100 x/ demam
menit) Selimuti pasien
1 2345 Lakukan tapid sponge
Kolaborasipemberian cairan intravena
RR dbn ( 16-24 x/ Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
menit) Tingkatkan sirkulasi udara
1 2345 Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya
Suhu dbn (36-37C) menggigil
1 2345
Temperature regulation
Monitor suhu minimal tiap 2 jam
Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
Monitor TD, nadi, dan RR
Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan
tubuh
Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat
panas
Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negatif dari kedinginan

20
Beritahukan tentang indikasi terjadinya
keletihan dan penanganan emergency yang
diperlukan
Ajarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan
yang diperlukan
Berikan anti piretik jika perlu
Vital sign Monitoring
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau
berdiri
Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan irama pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan abnormal
Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

21
KETERANGAN PENILAIAN NOC:

Scor Keterangan
e
1 sangat membahayakan sekali/ kondisi sangat berat/ tidak menunjukkan perubahan/ tidak adekuat/tidak
pernah menunjukkan
2 banyak hal yang membahayakan/ masih banyak hal yang memberatkan kondisi/ perubahan sangat
terbatas/ sedikit adekuat/ jarang menunjukkan
3 cukup membahayakan/ kondisi cukup atau sedang dalam menunjukkan perbaikan/ perubahan taraf
sedang/ cukup adekuat/kadang-kadang menunjukkan
4 membahayakan dalam tingkat ringan/ sedikit lagi sudah membaik/ banyak prubahan/ adekuat tingkat
sedang/ sering menunjukkan
5 kondisi sudah tidak membahayakan/ kondisi baik/ berubah sesuai target/ sangat adekuat/ selalu
menunjukkan

5. Kurang Pengetahuan

N Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


o Keperawatan

5. Kurang NOC : Mengajarkan proses penyakitnya :


pengetahuan
b/d Setelah dilakukan Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang
tindakan keperawatan penyakitnya
- keterbatasan klien mengetahui Jelaskan patofisiologi penyakitnya dan bagaimana
kognitif

22
- interpretasi tentang proses hubungannya dengan anatomi dan fisiologinya
terhadap penyakitnya : Deskripsikan tanda dan gejala dari penyakitnya
informasi yang
Jelaskan pada pasien bagaimana mengelola
salah Klien familier
- kurangnya gejala ytang timbul
dengan nama Deskripsikan proses penyakitnya
keinginan
penyakitnya
untuk mencari Identifikasi faktor penyebab penyakitnya
informasi 1 2345
Jelaskan tentang kondisi penyakit pasien saat ini
- tidak Klien dapat
Diskusikan gaya hidup yang harus dirubah untuk
mengetahui mendeskripsikan
sumber- mencegah komplikasi atau kekambuhan
proses
sumber penyakitnya
penyakitnya
informasi. Diskusikan rencana terapi yang akan dijalani
1 2345
pasien
Klien dapat
Jelaskan komplikasi yang bisa muncul
mendeskripsikan
faktor penyebab Anjurkan pasien untuk mengontrol risiko
dari penyakitnya Anjurkan pasien segera ke pelayanan kesehatan
1 2345 ketika muncul gejala yang sama
Klien dapat
mendeskripsikan
faktor risiko
1 2345
Klien dapat
mendeskripsikan
efek samping dari
penyakitnya
1 2345
Klien dapat
mendeskripsikan
tanda dan gejala
1 2345

23
Klien dapat
mendeskripsikank
omplikasi mungkin
terjadi
1 2345

Klien dapat
mendeskripsikan
cara pencegahan
komplikasi
1 2345

KETERANGAN PENILAIAN NOC:


Sco Keterangan
re
1 sangat membahayakan sekali/ kondisi sangat berat/ tidak menunjukkan perubahan/ tidak
adekuat/tidak pernah menunjukkan
2 banyak hal yang membahayakan/ masih banyak hal yang memberatkan kondisi/ perubahan sangat
terbatas/ sedikit adekuat/ jarang menunjukkan
3 cukup membahayakan/ kondisi cukup atau sedang dalam menunjukkan perbaikan/ perubahan
taraf sedang/ cukup adekuat/kadang-kadang menunjukkan
4 membahayakan dalam tingkat ringan/ sedikit lagi sudah membaik/ banyak prubahan/ adekuat
tingkat sedang/ sering menunjukkan
5 kondisi sudah tidak membahayakan/ kondisi baik/ berubah sesuai target/ sangat adekuat/ selalu

24
menunjukkan

25
DAFTAR PUSTAKA

Ackerman, Lauren Vedder (1989).Pathology Surgical,7th edition, The


C.V.Mosby company.Washington DC.

Baradero Mary, dkk. (2007). Seri Asuhan Keperawatan Klien Kanker. Jakarta :
EGC

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8.


EGC. Jakarta.

Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.

Roezin Averdi. (2004). Ilmu Penyakit Telinga-Hidung-Tenggorok. Jakarta: FKUI.

Roezin, Averdi. (2003). Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga-


Hidung-Tenggorok. Jakarta: FKUI.

Suyatno. (2010). Bedah Onkologi Diagnostik dan Terapi. Jakarta: Sagung Seto.
http://nurseammar.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatan-karsinoma-
lidah.html

26