Anda di halaman 1dari 35

Kelompok 3

Kelas A

FITRIA
CITRA HUMAIROH UZRA
YOGI MANDALA
NURBAITI
IRMASIL YETNI

Program PendidikanProfesiApotekerAngkatan III


FakultasFarmasi
UniversitasAndalas
Padang
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT karena rahmat dan karunia-Nya penulis
dapat menyelesaikan makalah tugas mata kuliah Swamedekasi dengan judul
Gastroenterologi.
Selama penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapatkan bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak.Maka pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih yang setulusnya.
Penulis juga menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah ini.Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan tanggapan berupa
kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi perbaikan tugas ini
kedepannya.Harapan penulis, semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Amin Ya Rabbal alamin.

Padang, Desember 2016

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I. PENDAHULUAN 1
BAB II. ISI
2.1. Anatomi Saluran Gastrointestinal secara Umum
2.2. Riwayat Pemeriksaan Fisik
2.3. Kondisi yang Mempengaruhi Rongga Mulut
2.4. Gingivitis
2.5. Dispepsia
2.6. Diare
2.7. Konstipasi
2.8. IBS
2.9. Haemorhoid

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN


3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

Gastrointestinal (GI) pada dasarnya adalah sebuah tabung panjang yang


membentang dari mulut ke anus dengan sejumlah daerah khusus.Sebagian besar
nutrisi dalam makanan harus dicerna sebelum mereka dapat
diasimilasikan.Pencernaan melibatkan hidrolisis polisakarida, oligosakarida,
protein dan lipid dalam reaksi katalis oleh enzim.Produk hidrolisis, seperti
monosakarida, asam amino, asam lemak bebas dan monoacylglycerols, kemudian
dapat diserap.Beberapa nutrisi, vitamin dan mineral misalnya, diserap tanpa perlu
dicerna terlebih dahulu.
Pencernaan makanan dan penyerapan nutrisi dalah fungsi utama dari GI
bersama-sama dengan organ lainnya, seperti pankreas, hati dan empedu serta
kandung kemih.GI memiliki peran yang signifikan dalam homeostasis nutrisi dan
dalam melindungi tubuh terhadap patogen yang tertelan bersama makanan.Tentu
saja, segala proses tersebut sangat kompleks dan melibatkan banyak organ yang
berbeda. Akibatnya, ada banyak kondisi yang mempengaruhi saluran GI, beberapa
diantaranya bersifat akut dan terbatas yang dapat direspon baik dengan obat OTC,
dan yang lainnya dapat bersifat serius yang memerlukan perawatan khusus.

BAB II
ISI

2.1 Anatomi Saluran Gastrointestinal secara Umum


Secara umum saluran GI terdiri atas:
1. Rongga mulut, terdiri dari; pipi, langit-langit keras dan lunak, serta lidah.
2. Lambung;berbentuk seperti J, yang meneruskan makanan dan cairan dari
esophagus kemudian diteruskan ke duodenum. Terletak di bagian kiri
dari abdomen dan bagian anterior dari tulang rangka. Lambung
melengkung lebih rendah pada pada perut dengan posisi yang berdekatan
dengan hati.
3. Hati;terletak dibawah diafragma dan sebelah kanan dari bagian tengah
perut. Hati memiliki banyak fungsi, termasuk metabolisme karbohidrat,
lipid, dan protein serta beberapa obat.
4. Kandung empedu; berbentuk seperti buah pir, terletak di bagian bawah
dari hati yang berfungsi untuk menyimpan empedu yang dibuat di hati.
5. Pancreas; terletak di bagian belakang lambung. Pancreas merupakan
organ yang penting untuk menghasilkan enzim pencernaan yang
diteruskan ke duodenum serta juga mensekresi hormone seperti insulin.

2.2 Riwayat dan Pemeriksaan Fisik


Riwayat pasien sangat penting dalam pemeriksaan fisikdari saluran GI oleh
farmasis karena keterbatasan pemeriksaan hanya pada mulut. Ini dapat
memungkinkan untuk memastikan dari diagnosis untuk kondisi seperti ulcer pada
mulut atau saluran cerna.

2.3 Kondisi yang Mempengaruhi Rongga Mulut


Proses pencernaan dimulai dari rongga mulut. Posisi lidah dan pipi
menentukan gigi untuk menghancurkan makanan menjadi ukuran yang lebih
kecil.Saliva yang terdapat pada mulut juga membantu dalam mencerna
karbohidrat (oleh enzim amylase).
Pemeriksaan rongga mulut dapat dilakukan dengan mudah oleh farmasis
dengan bantuan cahaya yang cukup.Gangguan pada rongga mulut dapat
ditunjukkan dengan adanya ulcer atau nyeri pada bagian tertentu di mulut.
2.3.1 Ulcer pada mulut
Kejadian dari penyakit ini mencapai 80% dengan ulcer kecil (MAU/ minor
Aphthous Ulcers) dan terjadi pada semua usia, namun sering dilaporkan pada usia
20-40. Perokok juga memiliki risiko yang lebih tinggi.
Penyebab terjadinya ulcer mulut masih belum diketahui, beberapa teori
mengatakan hal tersebut disebabkan oleh stress, trauma, hipersensitivitas terhadap
makanan, defisiensi nutrisi (seperti zat besi, zink, dan vitamin B) serta akibat
infeksi.Ciri-ciri MAU adalah ulcer dengan bulatan putih keabuan dengan diameter
kira-kira 1 cm dan nyeri.Biasanya dapat sembuh dalam 7-14 hari.

a. Pertanyaan spesifik yang dapat diajukan pada pasien :


Pertanyaan Relevansi
Jumlah ulcer - MAU yang terjadi berjumlah satu per satu atau
kumpulan kecil. Ulcer yang besar mengindikasikan
patologi yang serius.
- Pasien dengan sejumlah ulcerdapat mengindikasikan
bentuk lain dari MAU yang lebih parah, seperti
mayor atau herpetiform.
Lokasi ulcer - Ulcer pada MAU terletak pada bagian samping dari
pipi, lidah, dan di bibir
- Sedangkan untuk kategori mayor atau herpetiform,
ulcer terdapat pada bagian belakang mulut
Ukuran dan bentuk - Bentuk ulcer yang tidak beraturan cenderung
disebabkan oleh trauma
- Jika ulcerberukuran besar atau sangat kecil
kemungkinan tidak disebabkan oleh MAU
Terkait nyeri - Setiap pasien dengan ulcer tanpa rasa nyeri pada
rongga mulut harus dirujuk.
Usia - MAU biasanya terjadi pada usia 10-40 tahun, MAU
pada anak kecil merupakan hal yang jarang yang
dapat disebabkan oleh infeksi dengan herpes
simplex, sehingga untuk pasien di bawah usia 10
tahun, segera dirujuk untuk memastikan diagnose.

b. Kondisi yang Dieliminasikan dari Self-Medication:


1) Major aphthous ulcers
Yaitu dengan karekteristik bentuk ulcer yang besar (diameter lebih dari 1
cm), terdapat sejumlah ulcer yang saling berkumpul terdiri dari 10 ulcer
atau lebih menjadi bentuk yang lebih besar.Susah sembuh hingga beberapa
minggu.
2) Herpetiform ulcers
Ulcer dengan ukuran yang lebih besar yang dapat mencapai 100 ulcer pada
suatu waktu.Biasanya sembuh dalam 1 bulan dan ulcer terletak pada
bagian belakang rongga mulut.
3) Trauma
Trauma pada mukosa mulut dapat mengakibatkan kerusakan dan
ulcerasi.Pasien mungkin saja tidak memiliki riwayat ulcer atau gejala dari
inflamasi sistemik.
4) Kandidiasis mulut
Ditandai dengan bercak putih krim lembut.
5) Herpes simplex
Virus ini biasanya menjadi penyebab ulcer mulut pada anak-anak.Ulcer
terbut dapat menyebabkan infeksi pada beberapa bagian dari mukosa
mulut, khususnya gusi, lidah, dan pipi.Ulcer ini cenderung kecil, banyak,
dan berbeda.Sebelum terjadi ulcer, pasien menunjukkan gejala infeksi
sistemik seperti demam dan faringitis.
6) Squamous cell karsinoma
Sering terjadi lesi ganas pada rongga mulut.Sekitar 2000 orang didiagnosa
setiap tahunnya di UK. Merokok dapat meningkatkan risiko dan terjadi
sekitar 75% kasus, serta sering terjadi pada pasien dengan usia di atas50
tahun.
7) Erythema multiforme (Stevens Johnson syndrome)
Infeksi atau terapi obat dapat menyebabkan erythema multiforme,
mencapai 50% kasus dari kasus dengan penyebab yang tidak diketahui.
8) Behcets syndrome
Banyak pasien akan menderita dari penyakit kambuhan. Nyeri major
aphthous ulcers lambat untuk disembuhkan. Lesi juga dapat terjadi pada
are genital dan mata (iridosilitis).

c. Penanganan yang Harus Ditindak lanjuti


Pengobatan lebih lanjut harus dilakukan pada kondisi ulcer yang meliputi:
- Terjadi pada anak di bawah usia 10 tahun.
- Durasi yang lebih dari 14 hari.
- Ulcer tanpa rasa nyeri.
- Adanya tanda atau gejala penyakit sistemik, seperti demam.
- Diameter ulcer lebih dari 1 cm.
- Gabungan ulcer terdiri dari 5-10 atau lebih

d. Bukti Ilmiah dan Obat OTCdalam PengobatanMAU:


1) Kortikosteroid
- Triamnicolone acetonide 0,1% dalam Orabase (Adcortyl in Orabase
0,1%)
Obat ini berubah statusnya pada tahun 1994 dari POM (prescription-only)
menjadi P (OTC medicine).Serta juga disarankan dalam pengobatan
MAU.Namun tidak boleh digunakan secara rutin, dan hanya digunakan
saat kondisi yang agak parah.
Penggunaan: digunakan 2-4 kali sehari hingga 5 hari. Dari percobaan, obat
ini dapat ditoleransi dengan baik, dan tidak ada efek samping yang
dilaporkan.Serta tidak adanya interaksi obat karena obat digunakan secara
lokal dan belum dilaporkan adanya efek teratogen, namun pembuktian
keamanan pada ibu hamil masih belum banyak.
- Pil Hidrokortison Na Suksinat (corlan)
Penelitian tentang formulasi bentuk tablet hidrokortisone dilakukan karena
efektivitas yang kurang dari penggunaan bentuk salep. Kemudian diujikan
kepada 52 pasien ulcer dengan 23 diantara nya menderita MAU.Hasil yang
diperoleh 22 pasien dari 23 menunjukkan bahwa rasa nyeri lebih cepat
hilang dan tingkat kesembuhan lebih cepat.Namun belum ada data klinis
yang menunjukkan bahwa obat ini lebih baik dibanding placebo.
Penggunaa: tiap pil mengandung 2,5 mg hidrokortison.Untuk dewasa dan
anak di atas 12 tahun 4x1 pill.Belum ada laporan terkait interaksi dengan
obat lainnya dan efek samping.Serta aman digunakan bagi ibu hamil.

2) Anastesi atau analgetik


- Choline salisilat (Bonjela, Dinnefords Teejel Gel)
Choline salisilat menunjukkan efek analgesic pada beberapa penelitian
skala kecil. Salah satu studi pada tahun 1970 oleh Reedy, mengatakan
bahwa dari 27 pasien MAU yang dievaluasi, tidak menunjukkan
perbedaan yang signifikan dari penggunaan choline salisilat dengan
plesebo terhadap jumlah ulcer, namun secara signifikan dapat
menghilangkan nyeri.
Penggunaan:
baik digunakan untuk anak di bawah usia 10 tahun yang menderita MAU
untuk pertama kalinya.
Dewasa dan anak di atas 10 tahun dapat digunakan bentuk gel, setiap 3-4
jam atau bila perlu.
Obat ini sangat aman dan dapat digunakan untuk semua usia, termasuk ibu
hamil. Dan belum diketahui interaksi serta efek samping yang dapat
ditimbulkan.
- Anastesi lokal ( lidocaine: anbesol (2%) atau liquid (0,9%) dan
benzocaine gel)
Semua anastesi lokal memeliki durasi aksi yang singkat.Obat ini tidak
boleh diberikan lebih dari 8 kali dalam sehari.Belum ada laporan terkait
interaksi, efek samping yang ditimbulkan dan memiliki persentasi yang
kecil terikait reaksi hipersensitivitas yang dapat terjadi.Namun
penggunaannya harus dihindari pada ibu hamil trimester ke-3.

Tabel 1. Obat-obatan untuk penanganan ulcers

Pasien yg
Penggunaan Interaksi perlu
Obat Efek samping kehamilan
pd anak-anak obat mendapatkan
pelatihan
Adcortyl in Ya, tp belum Tidak ada Tidak Tidak ada Aman
Orabase ada batasan ada
usia
Corlan >12 tahun Tidak ada Aman
Tapi belum ada
bukti yang kuat
Choline >10 tahun* Aman
salisilat
Lidocaine Dapat Pada dosis
Benzocain menyebabka besar dapat
e n reaksi menurnkan
sensitivitas respirasi
neonatal.
Hindari pada
trimester ketiga

*batas usia adalah ketetapan author. Produk yang dipasarkan mempunyai lisensi
digunakan pada remaja.
2.3.2 Oral thrush
Oral thrush merupakan suatu kondisi di mana jamur Candida albicans
terakumulasi pada lapisan mulut.Jamur ini menyebabkan lesi putih krem, biasanya
di lidah atau pipi bagian dalam.Lesi dapat bersifat menyakitkan dan menimbulkan
sedikit darah ketika disentuh.
Oral thrush tidak begitu sulit untuk didiagnosa, dapat dilakukan dengan
wawancara terkait riwayat pasien serta pemeriksaan fisik.Penyakit ini dilaporkan
terjadi sekitar 5% pada bayi baru lahir dan 10% pada orang tua.

a. Pertanyaan Spesifik yang Dapat Diajukan pada Penderita Oral


Thrush
Pertanyaan Relevansi
Ukuran dan bentuk lesi Tipe pasien dengan penyakit oral thrush yaitu adanya
patches, yang bentuknya cenderung tidak tetap dan
ukuran yang berbeda mulai dari kecil hingga besar
Terkait rasa nyeri Patches yang berwarna putih dan tanpa rasa sakit,
terutama pada orang tua, harus ditindak lanjuti untuk
mencegah patologi yang lebih parah
Lokasi dari lesi Oral thrush sering mempengaruhi lidah dan pipi.
Meskipun juga dapat menyerang faring akibat
endapan dari penggunaan inhalasi steroid

b. Kondisi yang Dieliminasikan dari Self-Medication:


1) Leukoplakia
Merupakan prekanker dengan gejala patch putih yang biasanya terjadi
pada orang dengan usia di atas 50 tahun. Tidak seperti oral thrush, pada
leukoplakia patch tidak bisa hilang.
2) Ulcer mulut dan squamosal sel karsinoma
Sepertiyang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa penyakit ini sering terjadi
lesi ganas pada rongga mulut.Sekitar 2000 orang didiagnosa setiap
tahunnya di UK. Merokok dapat meningkatkan risiko dan terjadi sekitar
75% kasus, serta sering terjadi pada pasien dengan usia di atas 50 tahun.
c. Penanganan yang Harus Ditindak lanjuti
Pengobatan lebih lanjut harus dilakukan pada kondisi oral thrush yang
meliputi:
- Terjadi pada pasien diabetes
- Lama penyakit lebih dari 3 minggu
- Terjadi pada pasien dengan system imun yang lemah
- Pasien dengan lesi yang tidak menimbulkan rasa nyeri

d. Bukti Ilmiah dan Obat OTC dalam Pengobatan Oral Thrush:


Hanya gel oral daktarin (miconazole) yang tersedia sebagai obat OTC
untuk pengobatan oral thrush.Obat ini terbukti efikasi dan dapat menyembuhkan
80-90% serta lebih baik dibanding nistatin.
Penggunaan: dosis tergantung usia pasien dan penyebaran lesi. Jika lesi
tersebar sedikit, pemberian dapat dilakukan dengan mengoleskan langsung pada
area.Untuk infeksi yang lebih umum, dapat diberikan 5 mL.
Dewasa dan anak di atas 6 tahun, 4x1 5 mL
Anak di bawah 6 tahun, 2x1 5 mL
Anak di bawah 2 tahun yang terinfeksi, 2x1 2,5 mL
Pengobatan terus dilanjutkan hingga 2 hari setelah gejala hilang, untuk
menghindaari terjadinya infeksi kambuhan.Efek samping yang dapat muncul yaitu
mual dan muntah, namun jarang terjadi. Dapat berinteraksi dengan beberapa obat,
seperti: terferadine, astemizole, mizolastine, cisapride, triazolam, midazolam,
quinidine, pimozide, HMG-CoA reduktase, dan antikoagulan.
Ada studi yang menunjukkan penggunaan warfarin bersama mikonazole,
dapat meningkatkan kadar warfarin.Selain itu, hindari penggunaan pada ibu
hamil.

2.4 Gingivitis (Radang gusi)

Gingivitis adalah radang/inflamasi pada gusi dan disebabkan oleh


penumpukan plak pada gigi. Hal ini dapat dicegah jika menyikat gigi secara
teratur. Diperkirakan lebih dari 85%, usia diatas 40 tahun banyak mengalami
radang gusi dan lebih banyak terjadi pada pria dari pada wanita, karena berkaitan
dengan masalah kebersihan.

a. Etiologi
Setelah menyikat gigi, gigi menjadi dilapisi oleh campuran air liur dan
cairan gingival. Bakteri yang terdapat dimulut menempel pada lapisan ini dan
mulai berkembang biak, membentuk plak, saat menyikat gigi berikutnya, akan
menghilangkan plak dan menempel lagi. Namun, jika plak terbentuk selama 3
atau 4 hari, bakteri mulai memproduksi kalsium fosfat internal lebih dikenal
sebagai tartar (kalkulus). Zat ini menempel kuat pada permukaan gigi dan
mempertahankan bakteri in situ, bekteri ini akan melepaskan enzim dan toksin zat
yang menyerang mukosa gingiva, sehingga menyebabkan inflamasi (radang pada
gusi). Jika plak tidak dihilangkan, maka inflamasi dapat menjalar kebagian bawah
gigi, melibatkan ligamen periodontal dan struktur gigi yang terkait. Adanya celah
antara gigi dan gusi selama periode tahun,menyebabkan akar gigi dan tulang bisa
terkikis, sehingga menjadi longgar dan hilang (copot). Ini adalah penyebab utama
dari gigi yang hilang (copot) pada orang di atas usia 40 tahun.

b. Pertanyaan Spesifik yang Dapat Diajukan pada Penderita Gingivitis :


Pertanyaan Relavansi
Teknik menggosok gigi Menyikat gigi yang terlalu bersemangat dapat menyebabkan
gusi berdarah. Pastikan pasien tidak terlalu berlebihan
membersihkan gigi
Gusi berdarah gusi yang berdarah tanpa paparan trauma dan tidak bisa
dijelaskan atau tak beralasan perlu rujukan

c. Kondisi yang Dieliminasikan dari Self-Medication:


1) Periodontitis
Jika gingivitis tidak diobati, maka dapat menjadi periodontitis. Gejalanya
sama seperti gingivitis, tapi pasien akan mengalami pendarahan spontan
pada gigi dan gangguan rasa. Pergi ke dokter gigi diperlukan untuk
menghilangkan tartar/ plak.
2) Pendarahan spontan/tiba-tiba
Sejumlah kondisi yang dapat mengakibatkan pendarahan tiba-tiba pada
gusi, seperti agranulositosis dan leukemia. Gejala lain yang mungkin dapat
hadir kelelahan, kelemahan dan tanda-tanda penyakit sistemik seperti
demam, maka diperlukan rujukan langsung ke GP. Obat-obatn yang dapat
menginduksi pendarahan pada gusi, seperti warfarin, heparin, dan
golongan NSAID. Konsultasi dengan prescriber untuk menyarankan
pengobatan alternatif yang diperlukan.
Hal-hal penting yang mengindikasikan "gingivitis : rasa busuk terkait
dengan perdarahan gusi. tanda-tanda penyakit sistemik, pendarahan spontan pada
gusi.

d. Bukti Ilmiah dan Obat OTC dalam Pengobatan Gingivitis :


Secara sederhana tidak ada pengganti untuk kebersihan mulut yang baik.
Pencegahan pembentukkan plak adalah kunci untuk gusi dan gigi yang sehat.
Menyikat gigi sekali sehari, dengan atau tanpa pasta gigi, cukup untuk menjaga
kebersihan mulut pada tingkat yang memadai. Jika pasien menyikat gigi lebih
teratur daripada ini maka akan lebih baik lagi. Menyikat gigi sebaiknya dilakukan
setelah makan, dan flossing dianjurkan untuk menjangkau area yang sulit
dijangkau oleh sikat gigi.
Terdapat sejumlah produk kebersihan mulut yang dipasarkan, baik melalui
outlet apotek atau toko umum. Produk ini harus untuk disediakan untuk
gingivitis. Obat kumur mengadung klorheksidin, heksetidin, hydrogen peroksida,
sodium perborat dan povidoniodin. Klorheksidin lebih efektif sebagai antibakteri,
dapat mengurangi pembentukan plak dan gingivitis. Povidon-iodine memiliki sifat
sebagai antiseptic, dan bermanfaat pada infeksi oral tetapi tidak terlalu
menunjukkan efek yang signifikan dalam mengurangi gingivitis dan pembentukan
plak, kecuali dikombinasikan dengan hydrogen peroksida. Kombinasi hydrogen
peroksida dan povidon-iodines, saling sinergis dan efektif dalam menghambat
pembentukkan plak.

e. Resep praktis dan pemilihan produk


Semua obat kumur, kecuali yang mengandung iodin, tampaknya bebas dari
interaksi obat, memiliki efek samping yang minimal dan dapat digunakan oleh
semua kelompok pasien. Namun pemakaian obat kumur yang mengandung iodine
pada ibu hamil sebaiknya dihindari, karena iodine dapat masuk ke plasenta dan
diabsorpsi oleh fetus. Hal ini dapat mengakibatkan hipotyroid dan penyakit
gondok pada fetus dan bayi yang baru dilahirkan.
- Klorheksidin glukonat (Corsodyl 0,2%, Eludril 0,1%)
Dosis untuk dewasa dan anak-anak adalah 10 ml, dua kali sehari.
Pemakaian yang berkepanjangan dapat menyebabkan kejang lidah dan gigi
berwarna coklat. Corsodyl juga tersedia dalam bentuk gel dan spray.
- Provodine-iodine (Betadine)
Dosis untuk dewasa dan anak-anak > 6 tahun adalah 10 ml, empat kali
sehari. Jangan digunakan lebih dari 14 hari. Pemakaian pada wanita hamil
dan penderia tiroid harus sebaiknya dihindari.
- Hexatidine (Oraldin)
Dosis untuk dewasa dan anak-anak > 6 tahun adalah 15 ml, 2-3 kali sehari.

Tabel 2. Obat-obatan untuk Penanganan Gingivitis


Obat Untuk Efek Interaksi Pasien yang perlu
anak samping obat dipantau
klorheksidin Tidak - - - Ibu hamil :
ada oke
batasa
Povidone- >6 thn - - Penyakit Sebaiknya
iodine tiroid dihindari
Heksatidin >6 thn Iritasi - - Ibu hamil :
ringan, oke
lidah mati
rasa

2.5 Dispepsia
Dispepsia merupakan istilah umum yang digunakan oleh profesional
kesehatan yang merujuk pada kelompok untuk gejal pada perut bagian atas yang
timbul dari lima kondisi : non-ulkus dispepsia (indingestion), refluks, gastritis,
ulkus duodenum, ulkus lambung. lima kondisi ini mewakili 90% dari kasus
dispepsia yang hadir untuk GP.
a. Etiologi
Etiologi dispesia berbeda pada setiap penderita, tergantung pada kondisi
mana pasien menderita. Ketidakmampuan sfingter esophagus bagian bawah
adalah penyebab utama dari refluks esofagitis. Peningkatan produksi asam
menyebabkan inflamati didalam perut (gastritis) dan biasanya disebabkan oleh
infeksi Helicobacter pylori, NSAID, atau konsumsi alkohol. Kehadiran H. pylori
merupakan pusat duodenum dan ulkus lambung, H.pylori hadir di hampir semua
individu. Mekanisme yang mempengaruhi etiologi ulkus peptikum masih belum
jelas tetapi bakteri diduga mengeluarkan faktor kimia tertentu yang
mengakibatkan kerusakan mukosa lambung. Akhirnya, ketika tidak ada penyebab
spesifik dapat ditemukan pada gelaja yang dirasakan pasien, keluhan dikatakan
dispepsia non-ulkus.
b. Gambaran klinis dari dispepsia
Pasien dengan dispepsia dapat merasakan dengan berbagai gejala umum,
seperti perut tidak nyaman, kembung, perut kembung, perut terasa penuh, mulas.
Pada refluks esofagitis, jika mulas adalah gejala perut bagian atas yang dominan.

c. Pertanyaan Spesifik yang Dapat Diajukan pada Penderita Dispepsia


d. Kondisi yang Dieliminasikan dari Self-Medication:
1) ulkus peptikum
Mengesampingkan tukak lambung mungkin adalah pertimbangan utama
untuk apoteker ketika menilai pasien dengan gejala dispepsia. Ulkus
diklasifikasikan baik pada lambung atau duodenum. Paling umum terjadi
pada pasien yang berusia antara 30 dan 50, meskipun pasien di atas usia
60, terhitung 80% dari kematian, mereka hanya mencapai 15% dari kasus.
Biasanya pasien akan dinilai membaik dengan membatasi nyeri mid-
epigastrium yang digambarkan sebagai konstan, mengganggu, atau
menggerogoti.
2) Pada tukak lambung, nyeri datang saat perut kosong, biasanya satu jam
atau lebih setelah makan, Secara umum tidak berkurang dengan antasida
atau makanan dan diperparah oleh alkohol atau kafein. Tukak lambung
juga dapat mengakibatkan kehilangan BB dan pendarahan pada GI, dari
pengalaman kehilangan berat badan yang mencapai 10 kg dapat
mengindikasikan kanker, terutama pada umur lebih dari 40 tahun. Rasa
sakit yang terkait dengan ulkus duodenum sering membuat pasien
terbangun beberapa jam setelah tertidur tapi rasa sakit reda pada pagi hari
dan lega setelah makan.

Obat-obat yang dapat menginduksi dispepsia


Sejumlah obat dapat meyebabkan iritasi pada lambung atau
ketidaknyamanan pada GI, seperti penggunaan aspirin atau NSAID
lainnya, dimana sekitar 25% dapat menyebabkan dispesia pada pasien.
Obat lainnya yang perlu diwaspadai adalah golongan ACEI, alkohol, Iron,
Antibiotik makrolida, Metronidazol, Estrogen, dan Teofilin.

3) Irritable bowel syndrome (syndrome iritasi usus)


Pasien yang lebih muda (<45 tahun), yang memiliki uncomplicated
dyspepsia, nyeri perut bagian bawah dan kebiasaan buang air besar diubah
cenderung memiliki sindrom iritasi usus besar.

4) Gastric carcinoma (Kanker lambung)


Kanker lambung adalah maligna/keganasan GI paling umum ketiga setelah
kanker kolorektal dan pankreas. Namun hanya 2% dari pasien yang
dirujuk oleh dokter mereka untuk endoskopi yang memiliki keganasan.
Karena itu adalah kondisi yang langka dan apoteker sangat tidak mungkin
untuk menghadapi pasien dengan karsinoma. Biasanya pasien akan
mengalami ketidaknyamanan, nyeri perut bagian atas dengan mual dan
muntah. Gejala lainnya adalah perdarahan GI, kelelahan, penurunan berat
badan yang tidak dapat dijelaskan dan disfagia.
5) Kanker esophagus
Pada tahap awal, kanker esofagus mungkin tidak diketahui. Dari waktu ke
waktu, esofagus akan menjadi terbatas, pasien akan mengeluh sulit
menelan dan mengalami sensasi mencuat makanan di kerongkongan.
Berkembangnya penyakit ditandai denganpenurunan berat badan menjadi
menonjol meskipun pasien mempertahankan nafsu makan yang baik.
6) Angina atipikal
Gejala ini mungkin disebabkan oleh makan berat. dalam kasus seperti
antasida akan gagal untuk meredakan gejala dan lakukan rujukan bila
dibutuhkan.

Hal-hal penting yang mengindikasikan "dyspepsia:


i. Tinja berwarna
ii. Buang air besar yang lama
iii. Nyeri digambarkan sebagai yang parah jika melemahkan atau yang
membangunkan pasien di malam hari
iv. Muntah terus-menerus
v. Nyeri tak tertahankan
vi. Sensasi bahwa makanan menempel di tenggorokan
vii. Kegagalan pengobatan
viii. Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan

e. Bukti Ilmiah dan Obat OTC dalam Pengobatan Dispepsia


OTC antasida dan antagonis H2 adalah senyawa utama dalam obat untuk
dyspepsia
- Antasida
Antasida telah digunakan selama beberapa dekade untuk
mengobati dyspepsia dan memiliki banyak khasiat dan terbukti dalam
menetralisir asam lambung. Namun kapasitas penetral setiap antasid
bervariasi sesuai dengan garam logam yang digunakan. Disamping itu,
kelarutan masing-masing garam logam berbeda, yang mempengaruhi onset
dan durasi aksi mereka. Garam natrium dan kalium yang paling sangat
larut, yang membuat mereka cepat bererek namun durasinya singkat.
Garam magnesium dan aluminium yang kurang larut dan memiliki durasi
onset lebih lambat tapi efeknya lebih bagus. Garam kalsium memiliki
keuntungan yaitu kerjanya cepat, namun memiliki prolonged action.
Menggabungkan dua atau lebih bahan antasida untuk memastikan onset
cepat (umumnya garam Na : sodium bicarbonate) dan prolonged action
(Garam Al, Mg, dan Ca).
Antasida dapat mempengaruhi absorbsi sejumlah obat via chelation
dan adsorpsi. Obat-obat yang sering dipengaruhi seperti tetrasiklin,
kuinolon, imidazol, fenitoin, penisilamin, dan bifosfonat. Disamping itu,
penyerapan sediaan enterik berlapis dapat dipengaruhi karena antasida
meningkatkan pH-lambung. Mayoritas interaksi ini mudah diatasi dengan
mengatur waktu konsumsi, minimal 1 jam antara dosis masing masing
obat.
Kebanyakan pasien dapat menggunakan antacid, kecuali untuk
kelompok pasien yang diet garam, sebaiknya hindari antacid yang
mengadung sodium. Antacid tidak direkomendasikan pada anak<12 thn
yang mengalami dyspepsia, namun dapat diberikan obat golongan lainnya.
- Alginat ( The gaviscon range, Algicon)
Untuk pasien yang menderita sakit maag dan refluks produk
alginate adalah pengobatan lini pertama. Saat kontak dengan asam
lambung presipitat alginate keluar, membentuk spons seperti matriks yang
mengapung di atas isi perut. Dalam uji klinis, produk yang mengandung
alginate telah menunjukkan pengendalian gejala yang lebih baik
dibandingkan dengan plasebo dan antasida.
Produk yang mengandung alginate adalah sediaan kombinasi yang
mengadung alginate dan antacid. Pemberian yang paling baik adalah
sesudah makan and sebelum tidur, atau bisa dikonsumsi bila dibutuhkan.
Dapat diberikan pada ibu hamil, pada pasien yang diet garam/ konsumsi
garamnya dibatasi hindari sediaan alginate yang dikombinasikan dengan
sodium (Gaviscon dan asilone heartburn). Golongan ini dilaporkan tidak
memiliki efek samping atau interaksi dengan obat lainnya.
- Antagonis H2
Dua antagonis H2 yang saat ini tersedia OTC: ranitidine dan
famotidine. Cimetidine juga tersedia OTC sampai saat ini tetapi telah
ditarik dari penjualan, mungkin karena penjualan yang buruk. Sebenarnya
tidak ada keraguan, pada dosis POM, agen ini bekerja. namun, dosis yang
lebih rendah digunakan untuk indikasi OTC berlisensi dan pertanyaannya
adalah apakah pada dosis rendah masih efektif atau tidak. Penjualan obat-
obat golongan antagonis H2 dibatasi, hanya untuk orang dewasa dan anak-
anak di atas usia 16. Tidak dapat diberikan kepada wanita hamil dan hanya
untuk penggunaan jangka pendek.
i. Famotidin (Pepcid AC)
Dosis untuk famotidin adalah satu tablet yang diambil/dikonsumsi
segera dan, jika gejalanya menetap, beri dosis tambahan dapat diulang
setelah 1 jam. Dosis maksimum adalah 20 mg (2 tablet) dalam 24 jam.
Famotidin juga tersedia sebagai PepcidTwo, yang merupakan kombinasi
antara famotidin, kalsium karbonat, dan magnesium hidroksida. Dosis
PepcidTwo sama dengan Pepcid AC. PepcidTwo memiliki keuntungan
tambahan yaitu onset lebih cepat.
ii. Ranitidin (Zantac 75).
Dosis untuk Zantac75 mirip dengan pepcid AC, satu tablet yang
diambil/dikonsumsi segera dan jika gejala menetap maka tablet lebih
lanjut harus diambil 1 jam kemudian. Dosis maksimum adalah 300 mg (4
tablet) dalam 24 jam. Zantac 75 memiliki lisensi yang sedikit berbeda,
tidak dapat digunakan untuk pencegahan mulas dan dosis maksimum
hanya dua tablet dalam 24 jam.

Tabel 3. Obat-obatan untuk Penanganan Dispepsia


Obat Untuk Efek Interaksi obat Pasien yang perlu dipantau
anak samping
Antasid Ibu hamil : oke
Sodium >12 thn - - Pasien
oke
(only) dengan
Konstipasi tetrasiklin,
Diare penyakit
Calcium kuinolon,
konstipasi
hati -
(only) imidazol,
Mg (only)
fenitoin,
Al (only)
penisilamin,
dan bifosfonat
Alginates
Gaviscon >6 thn - - Pasien oke
dengan
>12 thn
Asilone >6 thn penyakit
heartburnn hati
Antagonis H2 Ibu hamil : tidak
Pepcid AC >16 thn Diare, - -
direkomendasikan
Zantac 75
konstipasi,
sakit kapala,
ruam

2.6 Diare
2.6.1 Latar belakang
Diare adalah meningkatnya frekuensi feses yang banyak berisi air biasanya
berhubungan dengan kegiatan usus pada setiap individu. Diare dapat
diklasifikasikan menjadi akut ( kurang dari 7 hari), persisten (lebih dari 14 hari)
atau kronik (kurang lebih sebulan). Kebanyakan pasien akan pergi ke apotek
dengan diagnosis sendiri mengenai diare akut. Itu untuk memastikan diganosis
mereka karena interpertasi pasien mengenai gejala-gejala mungkin tidak cocok
secara medis tentang diare.

2.6.2 Prevalensi dan Epidemiologi


Prevalensi dan epidemiologi diare tidak diketahui. Kemungkinan karena
jumlah pasien tidak terlihat atau mereka melakukan pengobatan sendiri.
Bagaimanapun, diare akut merupakan penyakit yang umum dan telah dilaporkan
sebagai penyakit kedua dalam masalah di rumah tangga di US pada semua
golongan umur antara satu sampai dua kali per tahun.
2.6.3 Etiologi
Etiologi penyakit diare berdasarakan penyebabnya. Gastroenteritis akut
merupakan penyebab diare dalam semua golongan usia, biasanya disebabkan
karena virus sebagai sumbernya. Umumnya implikasi virus adalah rotanovirus.
Virus Norwalk dan norwalk seperti virus. Rotanovirus adalah kebanyakan
penyebab diare apada anak dibawah usia 2 tahun.
Penyebab diare karena bakteri, seperti Shigella dan salmonella merupakan
spesies dari diare invasive, berpenetrasi pada mukosa usus halus, dimana E.coli
dan Basillus menghasilkan toxin yang aktif untuk sekresi elektrolit pada lumen
usus. Bakteri penyebab diare secara normal dhasilkan dari kontaminasi makanan
dan minuman yang dimakan.

2.6.4 Perbedaan Diagnosis


Diare akut jarang mengancam kehidupan. Kebanyakan penyebab diare
adalah infeksi virus dan bakteri. Dan apoteker dapat dengan tepat dalam
memecahkan kasus yang berkaitan dengan diare. Hal yang penting dalam
pemecahan kasus, perlu nya dilakukan identifikasi pasien, bertanya bagaimana
sebenarnya gejala yang dirasakan sehingga bisa dipastikan apa yang dpat
dilakukan seorang apoteker. Dehidrasi merupakan faktor utama dalam diare, baik
yang sangat muda maupun sangat tua. Ada beberapa pertanyaan yang dapat
diajukan untuk memastikan diagnosis mereka diterima atau ditolak. Pada tabel
6.10 ada sejumlah pertanyaan yang dapat ditanyakan mengenai diare spesifik
untuk membantu dalam diagnosis.

Ciri-ciri klinis diare akut


Gejala-gejala yang biasanya dapat muncul pada diare akut :
Mual, muntah
Kram perut
Jika penyebabnya adalah virus dapat terjadi gejala batuk dan dingin

Untuk memastikan gejala dapat dilakukan observasi dalam 2 sampai 4 hari.


Bagaimanapun penyebab diare karena rotanovirus adalah persistens dalam jangka
waktu lama.

2.6.5 Kondisi yang Dieliminasikan dari Self-Medication:

1) Giardiasis
Giardiasis terjadi karena infeksi protozoa pada usus halus, yang terdapat
pada air yang kurang bersih. Pasien yang terkontaminasi air tersebut
biasanya memiliki gejala-gejala seperti flatulen, epigastric, dan kembung.
Jika pasien sudah diduga giardiasis, maka pengobatan yang dilakukan
adalah terapi antibiotik.
2) Iritasi syndrome bowel
Pasien yang berumur lebih dari 45 tahun dengan rasa sakit pada bagian
bawah perut dan sejarah diare dan konstipasi yang memiliki IBS.
Obat-obatan yang dapat menginduksi diare
Beberapa jenis obat-obatan seperti POM dan OTC dapat menginduksi
diare. Jika sudah pasti penyebab diare karena obat-obatan tersebut, perlu
dilakukan konsultasi dan disarankan digunakan obat yang lain.
3) Radang usus dan penyakit Crohn
Kondisi yang berkaitan dengan karakteristik dalam inflamasi kronik pada
gastrointestinal dan periode yang menyebabkan relaps. Dapat terjadi pada
beberapa golongan umur, walaupun insiden banyak terjadi antara usia 20
30 tahun. Pada beberapa kondisi, diare merupakan salah satu gejala
penyakit ini.
4) Syndrome Malabsrobsi
Intoleran terhadap laktosa sering di diagnosa pada bayi dibawah 1 tahun.
Pada kondisi ditandai dengan gejala demam, muntah, dapat terjadi.
Penyakit Kolik memiliki beberapa insiden : pertama, pemberian lebih awal
cereal pada anak-anak dalam masa pertumbuhan akan menjadi salah satu
unsur diet.
5) Faecal Impaction
Faecal impaction adalah yang biasa terlihat dengan mudah dan kurangnya
pergerakan. Pasien yang mengalami masalah dalam buang air besar.
Sehingga dbutuhkan pergerakan manual agar feses bisa keluar.
6) Kanker kolon
Kanker kolon memiliki beberapa gejala seperti diare, perut terasa penuh,
dan berat badan menurun.

Berikut skema yang menjelaskan perbedaan kasus diare :


2.6.6 Evidance base Diare Akut untuk OTC

Petunjuk pada tabel diatas :


Rekonstitusi ORT : jumlah air yang diperlukan unuk membuat serbuk
berdasarkan nama dagang yang digunakan. Untuk contoh,
Diorolit yang dibutuhkan 200mL air per sachet serbuk dimana
Rehidrat dibutuhkan 250 mL air. Sekali rekonstitusi, ORT
harus disimpan di freezer dan diminum dalam 24 jam.
Guedline untuk penggunaan pada anak : < 1 th : durasi > 1 hari
: < 3 th : durasi > 2 hari
: >3 th : durasi > 3 hari
Kaolin dan Morphine : disalahgunakan. Simpan terlindung dari
cahaya

2.7. Konstipasi

2.7.1. Latar belakang


Konstipasi, serupa dengan diare, perbedaannya terletak pada orang dll.
Konstipasi timbul ketika pasien mengalami reduksi pada perut dengan kesulitan
dalam defekasi atau susah buang air besar. Bagaimanapun, banyak orang yang
tetap percaya terhadap sesuatu yang bergerak abnormal pada perut.

2.7.2. Prevalensi dan epidemiologi

Konstipasi penyakit yang umum. Dapat terjadi pada semua golongan umur
tetapi lebih banyak pada orang tua. Mereka memiliki estimasi 25 sampai 40 %
semua umur diatas 65 mengalami konstipasi. Mayoritas orang tua mempunyai
frekuensi yang normal dalam pergerakan perut tetapi ketegangan pada bagian
bawahnya. Kemungkinan hal tersebut terjadi karena pola hidup, menurunnya
cairan yang masuk, kekurangan nutrisi, menghindari makanan dengan serat dan
menderita penyakit kronis. Wanita tiga kali lebih banyak terserang konstipasi
diandingkan laki-laki.

2.7.3.Etiologi

Waktu transit usus meningkat, yang mana penyerapan air lebih cepat dari
usus besar untuk makanan yang lebih keras sehingga lebih sulit untuk dilalui.
Frekuensi ini menjadi penyebab karena kekurangan serat, perubahan pola hidup
dan atau lingkungan dan penggunaan pengobatan. Kadang-kadang pasien menolak
pembuangan air besar secara refleks atau normal.

2.7.4. Diagnosis

Kegiatan yang pertama dilakukan apoteker adalah mengkonfirmasi pasien


yang terserang konstipasi. Ajukan pertanyaan apa yang menjadi penyebab pasien
mengalami konstipasi. Biasanya konstipasi tidak harus menjadi penyakit yang
serius dan penyebab sebagian besar orang dewasa yang kekurangan serat,
walaupun pada orang tua banyak faktor yang mnejadi penyebab konstipasi. Tabel
6.13 adalah pertanyaan yang dapat diajukan untuk membantu dalam diagnosis.
2.7.5. Ciri-ciri klinis konstipasi

Ketidakmampuan untuk defekasi, pasien biasanya merasa tidak senang


pada perut dan kembung. Pada anak-anak, orang tua biasanya memperhatikan
anak-anak mereka yang kesulitan buang air besar dan mengalmai penurunan nafsu
makan. Adanya darah yang muncul pada saat buang air besar biasanya karena
adanya pemaksaan pada saat buang air besar. Sebagian besar kasus ini, darah tidak
indikasikan sebagai penyakit yang mengancam. Pada pasien dengan konstipasi
akut tidak memilki gejala lain, apabila ada sedikit darah bisa ditanya di apotek,
bagaimanapun jika kehilnagn banyak darah atau memiliki gejala penyakit terkait
seperti malaise dan distensi abdomen, dan berusia 40 tahun kemudian ini perlu
dilakukan rujukan untuk ke dokter.
2.7.6. Kondisi yang berkaitan dengan Konstipasi

Obat-obatan menginduksi konstipasi

Sejarah pengobatan harus di tanyakan pada pasien karena banyak pengobatn yang
dapat menyebabkan konstipasi. Berikut merupakan beberapa obat-obatan yang
dapat menyebabkan konstipasi :

Antikolinergik seperti obat antiparkinson, antipsikotik


Antihipertensi, seperti verapamil
Analgetik opioit
Aluminium yang terdapat pada antasida
Besi
Sukralfat
1) Syndorm usus besar
Pasien yang lebih muda dibawah 45 tahun dengan sakit pada bagian
abdominal dan sejarah diare dan konstipasi yang memilki IBS
2) Kehamilan
Konstipasi umum pada kehamilan, spesialnya pada trisemester ketiga.
Adanya peningkatan progesteron, beratnya uterus berlawanan dengan
kolon karena ada fetus, menurunnya pergerakan dan pengkonsumsian
suplement zat besi akan meningkatnya konstipasi ketika hamil.
Kebanyakan pasien mengeluhkan tinja yang keras sehingga mengalami
penurunan buang air besar, jika menggunakan pencahar harus diresepkan
3) Depresi
Pasein yang mengalami depresi akan memilki masalah dalam saluran
cerna yaitu salah satunya konstipasi.
4) Kanker kolorektal
Karsinoma kolorektal biasanya dialami pasien yang berusia 40.
Bagaimanapun, insiden karsinoma meningkat jumlahnya bersamaan
dengan meningkatnya umur dan beberapa pasien diatas 4 tahun akan
ditandai dengan adanya masalah dalam usus besar. Pasien mengeluh sakit
pada bagian abdominal, rektal berdarah, dan tenemus.
5) hipotiroid
Hipotiroid mempengaruhi 10 kali lebih pada wanita dibandingkan pada
laki-laki. Gejala hipotiroid sering tak tampak dan membahayakan. Pasien
mengalami penaikan berat edan, letargi, rambut kaar, dan kulit kering serta
konstipasi ini karena secara alami adanya perubahan yang terlibat, pasien
dengan gejala ini akan merasa ketidaknyamanan.

2.7.7. Evidence Base OTC

Sterculia (Normacol dan Normacol Plus granul atau saset)


Kedua produk ini mengandung 62% sterkulia tetapi Normacol Plus
juga mengandung 8% frangula. Dosis kedua produk ini sama. Dewasa dan
anak-anak usia diatas 12 dapat menggunakan satu atau dua saset atau satu
sendok makan penuh, sekali atau dua kali sehari setelah makan. Untuk
anak-anak usia 6-12 tahun, dosisnya setengah dari dosis dewasa.
Granul harus di berada dalam kondisi kering yang langsung
diletakkan pada lidah dan langsung ditelan menggunakan air yang cukup.
Bisa juga menggunakannya dengan menaburkan pada makanan yang
bersifat lunak seperti yoghurt.

Laksatif stimulan (e.g bisacodyl, gliserol, senna, natrium pikosulfat)


Laksatif stimulan meningkatkan motilitas GI. Aksi ini barangkali
akan menyebabkan nyeri pada bagian abdominal yang merupakan efek
samping utama dari laksatif stimulant. Selain itu, laksatif juga
memungkinkan terjadinya kerusakan pada syaraf dengan pemakaian
jangka panjang dan ini merupakan kasus yang sering terjadi bila laksatif
disalahgunakan. Onset laksatif diatas lebih cepat dibandingkan dengan
laksatif kelas lainnya. Biasanya 6-12 jam Obat-obat ini bisa digunakan
semua jenis pasien. Tidak ada interaksi obat dan aman saat kehamilan.

Bisacodyl (Dulco-lax)
Bisacodyl tersedia dalam bentuk tablet atau suppositoria dan bisa
diberikan ke pasien di semua usia. Dosisnya diberikan sebelum
waktu tidur. Anak-anak dibawah 4 tahun harus menggunakan
suppositoria pediatric (5 mg). untuk anak berusia antara 4-10 tahun
dosisnya adalah 5 mg (satu tablet) dan untuk dewasa dan anak usia
diatas 10 tahun dosisnya 5-10 mg (satu sampai dua tablet).

Glycerol suppositories
Preparat ini biasanya digunakan ketika dibutuhkan pergerakan yang
cepat pada usus besar. Efek tersebut akan terjadi dalam 15-30 menit.
Ukuran preparat dibuat bervariasi sehingga bisa digunakan disemua
umur. 1 g suppositoria dirancang bagi bayi. 2 g untuk anak-anak dan
4 g untuk dewasa.

Senna (e.g. Senokot, Nylax)


Senna tersedia dalam bentuk sirup atau tablet. Keduanya formulasi
mengandung sennosida 7,5 mg per dosis. Dewasa dan anak usia 12
tahun keatas menerima dosis 15-30 mg (2-4 sendok makan 5 mL
atau 2-4 tablet) sehari. Anak diatas 6 tahun dosisnya setengah dosis
dewasa dan untuk anak diatas 2 tahun dosisnya 3,75-7,5 mg
(setengah sampai satu sendok makan 5 mL) sehari.

Natrium pikosulfat (laxoberal Liquid)


Dewasa dan anak 10 tahun keatas dosisnya satu sampai dua sendok
makan 5 mL (5-10 mg) saat malam hari. Anak usia 4-10 tahun dapat
menggunakan setengah dari dosis dewasa (setengah sampai satu
sendok makan 5 mL) (2,5-5 mg) saat malam hari. Anak-anak usia
dibawah 4 tahun bisa menerima Laxoberal tapi dosis harus
disesuaikan dengan berat badan anak (250 g per kg).
Osmotic laxatives (e.g. Lactulose, magnesium salts)
Aksinya adalah dengan menahan cairan dalam usus besar oleh
osmosis atau dengan mengubah pola distribusi air dalam feses. Kembung,
nyeri abdominal dan kolik dilaporkan sering terjadi. Obat-obatan tersebut
bisa digunakan disemua jenis pasien, tidak ada interaksi obat dan aman
bagi saat kehamilan.

Laktulose
Laktulosa diberikan dua kali sehari untuk semua usia. Dosis
dewasanya 15 mL, untuk anak-anak usia 5-10 tahun dosisnya 10 mL,
untuk usia 1-5 tahun dosisnya 5 mL dan anak-anak usia dibawah 1
tahun adalah 2,5 mL. Dosis untuk semua usia dapat dikurangi
berdasarkan kondisi pasien setelah 2-3 hari. Dilaporkan bahwa 20%
pasien mengalami kembung yang mengganggu dan keram yang
terjadi selang beberapa hari setelah penggunaan obat.
Lasitol secara kimia sangat mirip dengan laktulosa dan diberikan
dalam bentuk sasetan. Keuntungan obat ini adalah dosisnya yang
bisa diberikan hanya sekali sehari.

Magnesium salts
Magnesium ketika digunakan sebagai laksatif biasanya diberikan
dalam bentuk magnesium hidroksida. Dosis dewasanya antara 20-50
mL. Tidak direkomendasikan untuk anak-anak.

Stool softener (liquid paraffin dan docusate sodium)

Paraffin cair
Paraffin cair secara tradisional telah digunkan untuk menangani
konstipasi. Namun, efek samping tidak diinginkannya
mengakibatkan obat ini jarang digunakan lagi karena sudah banyak
tersedia preparat yang lebih aman dan lebih efektif. Didapatkan
laporan kasus terjadinya kematian akibat aspirasi dari paraffin cair
yang mengawali terjadinya lipid pneumonia.

Docusate sodium
Dokusat mempunyai aksi sebagai agen pelunak dan stimulant.
Tersedia dalam bentuk kapsul (Dioctyl) atau larutan(Docusan).
Dapat diberikan pada anak usia 6 bulan keatas. Anak-anak dengan
usia 6 bulan dan 2 tahun dosisnya 12,5 mg (5 mL Docusal larutan
pediatric) 3 kali sehari. Untuk anak berusia antara 2-12 tahun
dosisnya 12,5-25 mg (5-10 mL) 3 kali sehari. Dewasa dan anak
diatas 12 tahun dapat menerima dosis 500 mg sehari dalam dosis
terbagi. Berbeda dengan paraffin cair, dokusat hampir bebas dari
efek samping. Dokusat dapat diberikan disemua kalangan usia dan
aman bagi ibu hamil.

2.8. Irritable bowel syndrome (IBS)

2.8.1 Latar belakang


IBS merupakan salah satu kondisi saluran GI yang sering ditemukan di
pelayan primer. Merupakan kerusakan pada bagian fungsional usus besar yang
berakibat nyeri abdominal yang dihubungkan dengan perubahan pada lingkungan
usus besar.

2.8.2 Prevalensi dan epidemiologi


IBS terjadi sebanyak 10-20 % diseluruh dunia dan dua kali lebih sering
terjadi pada wanita dibanding pria. Sering terdiagnosa pada kalangan muda.

2.8.3 Etiologi
Etiologi IBS secara anatomis tidak dapat dijelaskan tapi hampir bisa
dipastikan penyakit ini akibat dari multifaktor seperti emosional, diet, dan
hormon. Factor psikologi dilaporkan merupakan faktor kuat yang menimbulkan
gejala dimana didapatkan pada pasien yang tingkat stresnya tinggi atau depresi.
Hal demikian akan memperburuk kondisi pasien. Gejalanya berupa diare dan
konstipasi.

2.8.4 Gambaran klinis IBS


IBS dikarakterisasi oleh adanya nyeri abdominal, lokasinya dikhususkan
berada pada bagian kiri bawah dari abdomen yang kondisinya dapat berkurang
bila BAB. Gejala biasanya diikuti dengan diare atau konstipasi disertai kembung.
Point penting untuk mengindikasikan IBS:
Darah pada feses
Anak dibawah 16 tahun
Pasien usia 40 tahun keatas yang berubah lingkungan usus besarnya
Pasien tanpa riwayat IBS sebelumnya

2.8.5 Evidence base pada obat over-the-counter


Beberapa obat OTC telah dipasarkan secara spesifik untuk mengatasi gejala
pada IBS, yaitu mebevarin, alverine, hyoscine dan peppermint oil. Sebagai
tambahan, dapat digunakan obat lain untuk mengatasi gejala spesifik yang
mengikuti IBS (cth. Loperamid untuk mengatasi diare).

Hyoscine
Beberapa trial telah diinvestigasi untuk melihat keefektifan dari
hyoscine dalam menangani IBS. Namun, hanya tiga trial yang memenuhi
persyaratan menyimpulkan bahwa adanya gambaran mengenai keefektifan
obat ini. Meta-analisis terakhir yang dilakukan Poynard et al (2001)
menyatakan bahwa hyoscine memiliki tingkat keefektifan yang paling
rendah dari obat-obat ralaksasi otot polos yang lain.

Antispasmodics (mebevarine, alverine dan peppermint oil)


Meta-analisi yang dilakuakan Poynard dkk menyatakan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan dari mebevarin terhadap placebo ketika
dilakukan pengumpulan data dari semua trial.
Salah satu penelitian yang dilakukan Tudor (1986) yang
membandingkan antara alverin dan mebevarin pada 45 pasien
menyimpulkan bahwa alverin memiliki efikasi yang mirip dengan
mebevarin. Namun, penelitian ini tidak menggunakan grup placebo dalam
penelitiannya dan masih belum bisa terlihat jelas apa ekstensi keefektivan
alverin.
Pitter & Ernst (1998) melalui penelitiannya menyatakan bahwa
peppermint oil dapat mengurangi gejala IBS tapi karena terbatasnya desain
yang dilakukan, efikasi dari peppermint oil ini masih dianggap belum
memungkinkan.

Kesimpulan
Berdasarkan EBM, lini pertama IBS adalah mebevarin.

2.8.6 Teknik peresapan dan pemilihan produk

Hyoscine butylbromide (Buscopan)


Rekomendasi permulaan dosis pada dewasa adalah satu tablet tiga
kali sehari, dapat juga ditingkatkan sampai dua tablet empat kali sehari bila
diperlukan. Dapat diberikan pada anak usia diatas 6 tahun (satu tablet tiga
kali sehari). Buscopan merupakan derivate kuartener dari hyoscin yang
tidak dapat menembus BBB sehingga tidak menimbulkan efek sedasi
walaupun dapat menyebabkan mulut kering dan konstipasi. Hindari
penggunaan obat ini dengan obat yang juga memiliki efek antikolinergik.
Aman digunakan selama kehamilan, namun pasien dengan glaucoma,
myasthenia gravis dan pembesaran prostat sebaiknya tidak menerima obat
ini.

Mebevarine (e.g. Colofac IBS)


Dewasa dan anak diatas 10 tahun dosisnya satu tablet tiga kali sehari saat 20
menit sebelum makan. Mebevarin tidak diketahui interkasinya dengan obat
lain. Tidak perlu perhatian khusus dan aman selama kehamilan. Sangat
jarang terjadi efek samping walaupun reaksi alergi pernah dilaporkan
terjadi.

Alverine (Spasmonal)
Dewasa dan anak usia diatas 12 tahun menerima satu atau dua kapsul tiga
kali sehari. Cocok digunakan bagi wanita hamil. Tidak ditemukan interaksi
dengan obat lain dan dapat digunakan disemua kalangan pasien. Dapat
menyebabkan mual, sakit kepala, pusing, rasa gatal, ruam dan reaksi alergi.

Peppermint oil (e.g. Mintec, Colpermin)


Dewasa dan anak diatas 15 tahun dapat menggunakan peppermint oil.
Dosisnya 1 satu kapsul tiga kali sehari sebelum makan. Obat ini sering
menyebabkan rasa panas dibagian perut dan ruam alergi yang jarang
diaporkan pernah terjadi. Aman digunakan selama kehamilan dan tidak ada
interaksi dengan obat lain serta dapat digunakan sema kalangan pasien.

2.9 Haemorrhoids

2.9.1 Latar belakang


Haemorhoids (wasir) merupakan keluhan yang sering terjadi. Pasien
mungkin akan merasa malu untuk mengungkapkan gejala dan oleh sebab itu perlu
memberikan respon simpatik kepada pasien dan dilakukan jauh dari orang banyak
untuk menghindari rasa malu pasien.

2.9.2 Prevalensi dan epidemiologi


Haemorhoid dapat terjadi diberbagai usia tapi jarang terjadi pada anak-anak
dan dewasa diabawah 20 tahun. Kejadiannya meningkat seiring bertambahnya
usia dan paling sering terjadi pada pasien dengan rentang usia 40-65 tahun.
2.9.3 Etiologi
Penyebab haemorhoid kemungkinan disebabkan banyak faktor secara
anatomis (degenerasi jaringan elastic), psikologi (meningkatnya tekanan kanal
pada anus) dan mekanis (ketegangan saat BAB).
Haemorhoid dapat diklasifikasikan menjadi eksternal atau internal.
Perbedaannya digambarkan melalui letak anatomis dari haemorhid.

2.9.4 Gambaran klinis haemorhoid


Pendarahan, nyeri, dan gatal pada anus sering terjadi. Pasien bahkan sering
tanpa gejala sampai haemorhoidnya prolaps. Setelah BAB haemorhoid kembali ke
posisi normal secara spontan atau dapat dilakukan secara manual.
Nyeri dirasakan pasien yang memliki kelas haemorhoid eksternal yang telah
menjadi thrombus. Rasa nyeri akan meningkat saat BAB sehingga pasien kadang
memilih untuk menahan BAB nya sehingga mengakibatkan munculnya
konstipasi. Konstipasi menyebabkan fases akan semakin keras sehingga rasa nyeri
yang dirasakan akan semakin parah.

Point penting untuk mengindikasikan haemorhoid:


Nyeri abdominal
Darah pada fases
Demam
Pasien yang harus menormalkan anusnya secara manual
Menetapnya perubahan pada lingkungan usus besar pada pasien usia
pertengahan
Pendarahan pada rektal yang tidak jelas
2.9.5 Evidence base pada obat over-the-counter
Telah banyak produk diperdagangkan untuk meringankan dan mengobati
haemorhoid. Hal ini termasuk pada obat yang tingkat terapeutiknya luas seperti
anstesi, astringents, antiinflamasi dan agen protector. Banyak juga produk yang
mengandung kombinasi dari agen-agen tersebut.

Lanjutkan : Kak irmasil