Anda di halaman 1dari 79

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO A BLOK 25

DISUSUN OLEH : KELOMPOK A1


TUTOR : dr. Jalalin, Sp.KFR

Muhammad Fahmi 04011381419142


Sarah Qonitah 04011381419145
Reza Nurdesni 04011381419148
Intania Winalda 04011381419150
Wulan Purnama Sari 04011381419160
Alia Zaharani Utami 04011381419162
Trisa Andami 04011381419167
Fadhila Khairunnisa 04011381419171
M. Rifqi Ulwan Hamidin 04011381419183
Rafika Triasa 04011381419186
Putri M. K. I. Dunda 04011381419202
Davin Caturputra Setiamanah 04011381419212

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, atas limpahan berkat-Nya penyusun bisa
menyelesaikan tugas laporan tutorial ini dengan baik tanpa aral yang memberatkan.
Laporan ini disusun sebagai bentuk dari pemenuhan tugas laporan tutorial skenario A
yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) di
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, khususnya pada Blok Tumbuh Kembang dan
Geriatri. Terima kasih tak lupa pula kami sampaikan kepada dr. Jalalin, Sp.KFR yang telah
membimbing dalam proses tutorial ini, beserta pihak-pihak lain yang terlibat, baik dalam
memberikan saran, arahan, dan dukungan materil maupun inmateril dalam penyusunan tugas
laporan ini.
Penyusun menyadari bahwa laporan ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik yang membangun sangat kami harapkan sebagai bahan pembelajaran yang baru bagi
penyusun dan perbaikan di masa yang akan datang.

Palembang, 25 Maret 2017


Penyusun

Kelompok Tutorial A1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... 1
DAFTAR ISI......................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 3
I.1. Latar Belakang.............................................................................. 3
I.2. Maksud dan Tujuan...................................................................... 3

1
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................... 4
SKENARIO A............................................................................ 4
II.1. Klarifikasi Istilah.......................................................................... 5
II.2. Identifikasi Masalah..................................................................... 5
II.3. Analisis Masalah.......................................................................... 7
II.4. Sintesis Masalah.......................................................................... 41
II.4.1. Tahap Perkembangan ..................................................... 41
II.4.2. Nutrisi dan Pola Makan pada Batita................................ 49
II. 4.3. Cerebral Palsy ................................................................. 54
II.5. Kerangka Konsep........................................................................ 73
BAB III PENUTUP............................................................................................. 74
III.1. KESIMPULAN.............................................................................. 74
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 74

2
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Blok Tumbuh Kembang dan Geriatri adalah blok ke-25 semester VI dari Kurikulum
Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Palembang. Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus sebagai bahan
pembelajaran untuk menghadapi kasus yang sebenarnya pada waktu yang akan datang.

I.2. Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu:
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis
pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

3
SKENARIO A BLOK 25

Sabrina usia 20 bulan dibawa ke Puskesmas karena belum bisa duduk.

Sabrina baru bisa tengkurap pada usia 12 bulan. Saat ini bisa merayap, kepala bisa berdiri teg
ak selama beberapa detik, dan belum bisa duduk. Sabrina belum bisa bicara, baru mengoceh
ya ya dan ma ma, sering tidak menoleh bila dipanggil. Sabrina belum bisa memegang ben
da, belum bisa memasukkan makanan ke mulut dan bertepuk tangan.

Sabrina anak kedua dari ibu usia 28 tahub. Selama hamil ibu sehat, periksa kebidanan 3 kali.
Lahir spontan pada usia kehamilan 36 minggu, ditolong bidan, pecah ketuban beberapa saat s
ebelum dilahirkan. Setelah lahir tidak langsung menangis, menangis setelah lebih kurang 10
menit. Berat badan lahir 2.100 gram, panjang badan tidak diukur. Dirujuk ke ruang Perinatal
RSMH karena susah bernafas dan dirawat selama seminggu. Saat dirawat anak mengalami k
uning dan diterapi sinar, tidak pernah kejang.

Riwayat imunisasi sudah mendapat imunisasi BCG, Polio 4x, DPT, Hepatitis B dan HiB 4 x,
dan Campak 1 x pada usia 10 bulan.

Sabrina masih mendapat ASI, diberi susu formula sejak usia 2 bulan selang seling dengan AS
I. Sekarang makan nasi tim, belum bisa makan nasi biasa.

Pada pemeriksaan ditemukan BB 7,7 kg, PB 78 cm, lingkar kepala 42 cm. Tidak ada gambara
n dismorfik, anak sadarm kontak mata ada, tapi tidak mau tersenyum kepada pemeriksa. Ana
k tidak bisa bicara, bisa mengucapkan ya-ya dan ma-ma, dan menoleh ketika dipanggil denga
n suara keras. Anak bisa tengkurap dan menahan kepala beberapa detik. Belum bisa mengam
bil dan memegang kubus. Keempat anggota gerak kaku dan susah ditekk, gerakan kurang, de
ngan kekuatan 3. Tonus meningkat, refleks fisiologis meingkat, refleks Babinsky (+), tidak ad
a refleks Moro dan refleks menggenggam. Tidak ada gerakan yang tidak terkontrol. Tidak ada
kelainan anatomi pada anggota gerak. Hasil pemeriksaan KPSP usia 18 bulan didapatkan tida
k ada yang bisa lakukan Sabrina.

4
I. Klarifikasi Istilah

No Istilah Definisi

1. Refleks Moro Suatu respon itba-tiba pada bayi baru lahir a


kibat suara dan gerakan yang mengejutkan (e
kstremitas bawah fleksi dan ekstremitas atas
ekstensi)

2. Refleks Babinsky Dorsofleksi pada ibu jari kaki yang terjadi ak


ibat adanya stimulasi pada telapak kaki; nor
mal pada infant.

3. Pemeriksaan KPS Formulir yang digunakan untuk mengetahui


P (Kuisioner Pra-S perkembangan anak apakah normal atau ada
krining Perkemba penyimpangan.
ngan)

4. HiB Haemophylus influenza tipe B, sejenis bakter


i yang menyebabkan meningitis dan pneumo
nia.

II. Identifikasi Masalah

No Identifikasi masalah Problem Concern

1 Sabrina usia 20 bulan dibawa ke Puskesmas kar


ena belum bisa duduk. Saat ini bisa merayap, ke
pala bisa berdiri tegak selama beberapa detik, da
n belum bisa duduk. Sabrina belum bisa bicara,
baru mengoceh ya ya dan ma ma, sering tida

k menoleh bila dipanggil. Sabrina belum bisa m


emegang benda, belum bisa memasukkan maka
nan ke mulut dan bertepuk tangan. Sabrina baru
bisa tengkurap pada usia 12 bulan.
2 Sabrina anak kedua dari ibu usia 28 tahun. Sela

5
ma hamil ibu sehat, periksa kebidanan 3 kali. La
hir spontan pada usia kehamilan 36 minggu, dito
long bidan, pecah ketuban beberapa saat sebelu
m dilahirkan. Setelah lahir tidak langsung mena
ngis, menangis setelah lebih kurang 10 menit. B
erat badan lahir 2.100 gram, panjang badan tida
k diukur. Dirujuk ke ruang Perinatal RSMH kare
na susah bernafas dan dirawat selama seminggu.
Saat dirawat anak mengalami kuning dan ditera
pi sinar, tidak pernah kejang.

3 Riwayat imunisasi sudah mendapat imunisasi B


CG, Polio 4x, DPT, Hepatitis B dan HiB 4 x, da
n Campak 1 x pada usia 10 bulan.

4 Sabrina masih mendapat ASI, diberi susu formul


a sejak usia 2 bulan selang seling dengan ASI. S
ekarang makan nasi tim, belum bisa makan nasi
biasa.
5 Pada pemeriksaan ditemukan BB 7,7 kg, PB 78
cm, lingkar kepala 42 cm. Tidak ada gambaran d
ismorfik, anak sadarm kontak mata ada, tapi tida
k mau tersenyum kepada pemeriksa. Anak tidak
bisa bicara, bisa mengucapkan ya-ya dan ma-ma,
dan menoleh ketika dipanggil dengan suara ker
as. Anak bisa tengkurap dan menahan kepala be
berapa detik. Belum bisa mengambil dan meme
gang kubus. Keempat anggota gerak kaku dan s
usah ditekk, gerakan kurang, dengan kekuatan 3.
Tonus meningkat, refleks fisiologis meingkat, r
efleks Babinsky (+), tidak ada refleks Moro dan
refleks menggenggam. Tidak ada gerakan yang t
idak terkontrol. Tidak ada kelainan anatomi pad
a anggota gerak. Hasil pemeriksaan KPSP usia 1
6
8 bulan didapatkan tidak ada yang bisa lakukan
Sabrina.

III. Analisis Masalah

1. Sabrina usia 20 bulan dibawa ke Puskesmas karena belum bisa duduk. Saat ini bisa
merayap, kepala bisa berdiri tegak selama beberapa detik, dan belum bisa duduk.
Sabrina belum bisa bicara, baru mengoceh ya ya dan ma ma, sering tidak menol
eh bila dipanggil. Sabrina belum bisa memegang benda, belum bisa memasukkan m
akanan ke mulut dan bertepuk tangan. Sabrina baru bisa tengkurap pada usia 12 b
ulan.

Bagaimana tahap perkembangan yang normal sampai usia 20 bulan?

7
8
Apa makna klinis dari kondisi Sabrina yang sekarang?

a. Tengkurap usia 12 bulan.


Interpetasi : Keterlambatan Motorik Kasar
Normal : 2-4 bulan
b. Saat ini bisa merayap, kepala bisa berdiri tegak dalam beberapa detik dan belum
bisa duduk (usia 20 bulan)

Interpetasi : Keterlambatan Motorik Kasar


Normal: Duduk ( 6 bulan ), Headlag ( 4 bulan menghilang )
c. Mengucapkan 2 suku kata (20 bulan )

Interpetasi : Keterlambatan Bicara


Normal : 6 bulan
d. Belum Bisa Memasukan Makanan Ke mulut (20 bulan)

Interpetasi : Keterlambatan Personal


9
Normal : 6 bulan
Dari uraian diatas didapatkan bahwa sabrina mengalami Global Development
Delay (keterlambatan 2 atau lebih), hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor tapi
seperti pada kasus kemungkinan disebabkan oleh asfiksia perintal (liat APGAR
terlebih dahulu) bisa jadi sudah sampai mengganggu otak, dikarenakan lahir
premature pada Sabrina, Premature juga berpengaruh besar dengan gangguan ini
karena belum matangnya organ organ yang berfungsi pada hal ini.

Apa faktor-faktor yang menyebabkan gangguan perkembangan anak secara umu


m dan pada sabrina?
Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu faktor
dalam (internal) dan faktor luar (eksternal/lingkungan). Pertumbuhan dan
perkembangan merupakan hasil interaksi dua faktor tersebut. Faktor internal terdiri
dari perbedaan ras/etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, kelainan genetik,
dan kelainan kromosom. Anak yang terlahir dari suatu ras tertentu, misalnya ras Eropa
mempunyai ukuran tungkai yang lebih panjang daripada ras Mongol. Wanita lebih
cepat dewasa dibanding laki-laki. Pada masa pubertas wanita umumnya tumbuh lebih
cepat daripada laki-laki, kemudian setelah melewati masa pubertas sebalinya laki-laki
akan tumbuh lebih cepat. Adanya suatu kelainan genetik dan kromosom dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti yang terlihat pada anak
yang menderita Sindroma Down. Selain faktor internal, faktor eksternal/lingkungan
juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Contoh faktor lingkungan
yang banyak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak adalah gizi,
stimulasi, psikologis, dan sosial ekonomi. Gizi merupakan salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak. Sebelum lahir, anak tergantung
pada zat gizi yang terdapat dalam darah ibu. Setelah lahir, anak tergantung pada
tersedianya bahan makanan dan kemampuan saluran cerna. Hasil penelitian tentang
pertumbuhan anak Indonesia (Sunawang, 2002) menunjukkan bahwa kegagalan
pertumbuhan paling gawat terjadi pada usia 6-18 bulan. Penyebab gagal tumbuh
tersebut adalah keadaan gizi ibu selama hamil, pola makan bayi yang salah, dan
penyakit infeksi. Perkembangan anak juga dipengaruhi oleh stimulasi dan psikologis.
10
Rangsangan/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya dengan penyediaan alat
mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain akan
mempengaruhi anak dlam mencapai perkembangan yang optimal. Seorang anak yang
keberadaannya tidak dikehendaki oleh orang tua atau yang selalu merasa tertekan
akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangan. Faktor lain
yang tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan anak adalah faktor
sosial ekonomi. Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan
lingkungan yang jelek, serta kurangnya pengetahuan.

2. Sabrina anak kedua dari ibu usia 28 tahun. Selama hamil ibu sehat, periksa kebida
nan 3 kali. Lahir spontan pada usia kehamilan 36 minggu, ditolong bidan, pecah ke
tuban beberapa saat sebelum dilahirkan.

Apa hubungan riwayat kehamilan dengan keterlambatan perkembangan pada S


abrina?
Riwayat kehamilan dan gangguan perkembangan cukup berkaitan erat. Dari sisi gang
guan perkembangan anak, faktor-faktor prenatal yang diduga dapat menyebabkan gangguan p
erkembangan antara lain gizi ibu, faktor mekanis baik dari bentuk uterus maupun adanya gan
gguan pada uterus (myome uteri), adanya paparan toksin dan zat-zat kimia, gangguan endokri
n, terpapar radiasi pada trimester awal, infeksi dan kelainan imunologis. Pada fase perinatal, i
nfeksi , BBLR dan trauma saat kelahiran merupakan penyebab terjadinya gangguan perkemb
angan pada anak. Selanjutnya, pada fase pasca natal, gangguan pada perkembangan biasanya
disebabkan oleh asupan gizi yang kurang, terpapar toksin, sosioekonomi, lingkungan pengasu
h, stimulasi dan obat-obatan. Pada kasus Sabrina, diragukan bahwa otak Sabrina tidak berke
mbang secara sempurna kemudian juga faktor asfiksia sewaktu kelahiran dapat menyebabkan
terjadinya hipoksia terhadap jaringan otak yang kemudian memicu terjadinya lesi-lesi pada lo
bus otak. Kejadian ini dapat menyebabkan terjadiny palsi serebralis yang menyebabkan gang
guan-gangguan motorik yang dialami oleh Sabrina.

Bagaimana ANC yang normal pada ibu hamil?

Kunjungan antenatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak
minimal empat kali selama kehamilan dalam waktu sebagai berikut : sampai dengan

11
kehamilan trimester pertama ( 14 minggu ) 1 kalo kunjungan, dan kehamilan trimester kedua
(14-28 minggu) satu kali kunjungan dan kehamilan trimester ketiga ( 28 -36 minggu ke -36)
dua kali kunjungan.

3. Setelah lahir tidak langsung menangis, menangis setelah lebih kurang 10 menit. Ber
at badan lahir 2.100 gram, panjang badan tidak diukur. Dirujuk ke ruang Perinatal
RSMH karena susah bernafas dan dirawat selama seminggu. Saat dirawat anak me
ngalami kuning dan diterapi sinar, tidak pernah kejang.

Apa hubungan BBLR dengan ketelambatan perkembangan Sabrina?

BBLR merupakan suatu faktor resiko terjadinya Keterlambatan motorik pada anak
disebabkan karena terjadi retardasi pertumbuhan sejak didalam kandungan sehingga organ-
organ yang harusnya berkembang tidak berkembang karena kurangnya asupan nutrisi yang
sesuai.

Apa dampak bayi tidak langsung menangis dan adakah hubungannya dengan ka
sus Sabrina?

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernapas secara spontan dan
teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia
pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil,
kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengarui kesejahteraan bayi selama atau sesudah
persalinan.

Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau
kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. Pada bayi yang
mengalami kekurangan oksigen akan terjadi pernapasan yang cepat dalam periode yang
singkat. Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan berhenti, denyut jantung juga
mulai menurun, sedangkan tonus neuromuscular berkurang secara berangsurangsur dan bayi
memasuki periode apnea yang dikenal sebagai apnea primer. Perlu diketahui bahwa kondisi
pernafasan megap-megap dan tonus otot yang turun juga dapat terjadi akibat obat-obat yang
diberikan kepada ibunya. Biasanya pemberian perangsangan dan oksigen selama periode
12
apnea primer dapat merangsang terjadinya pernafasan spontan. Apabila asfiksia berlanjut,
bayi akan menunjukkan pernafasan megap-megap yang dalam, denyut jantung terus
menurun, tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terlihat lemas (flaccid).
Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apnea yang disebut
apnea sekunder.

Pada kasus ini, Asfiksia pada sabrina berhubungan dengan Cerebral Palsy, karena
asfiksia neonatal dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ bayi (jantung, paru, ginjal,
dan hati) dan pada kasus yang berat dapat mengakibatkan kerusakan pada otak dengan
manifestasi terjadinya hambatan dalam perkembangan dan spastik. Hal ini juga didukung
oleh Nelson (1981) dan Blair (1989) dalam Wiknyosastro (1996) bahwa kerusakan otak
seperti serebral palsi dicurigai kaitannya dengan asfiksia, dan enam penelitian juga
menunjukkan adanya hubungan antara asfiksia dengan serebral palsi.

Adakah hubungan terapi sinar dengan gangguan perkembangan Sabrina?


Terapi sinar tidak ada hubungannya dengan gangguan perkembangan. Terapi sinar sen
diri digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum yang terlalu tinggi pada bayi yang m
engalami jaundince. Efek dari terapi sinar sendiri adalah warna coklat-keabuan yang gelap pa
da kulit sebagai akibat dari paparan sinar fototerapi terhadap kadar bilirubin direct yang terlal
u banyak dalam darah. Namun, perubahan warna kulit ini lama-kelamaan akan menghilang se
iring fototerapi dihentikan. Kemudian juga, efek samping dari fototerapi adalah gangguan pa
da retina (apabila tidak digunakan penutup mata) dan dehidrasi akibat hipertermia.

Apa indikasi dilakukannya Terapi Sinar ?

Fototerapi diindikasikan pada kadar bilirubin yang meningkat sesuai dengan umur
pada neonatus cukup bulan atau berdasarkan berat badan pada neonatus prematur (sesuai
dengan American Academy of Pediatrics).

13
Kontraindikasi fototerapi adalah pada kondisi dimana terjadi peningkatan kadar
bilirubin direk yang disebabkan oleh penyakit hati atau obstructive jaundice.

Adakah dampak dari Terapi sinar pada kasus ?


Efek dari terapi sinar sendiri adalah warna coklat-keabuan yang gelap pada kul
it sebagai akibat dari paparan sinar fototerapi terhadap kadar bilirubin direct yang terl
alu banyak dalam darah. Namun, perubahan warna kulit ini lama-kelamaan akan men
ghilang seiring fototerapi dihentikan. Kemudian juga, efek samping dari fototerapi ad
alah gangguan pada retina (apabila tidak digunakan penutup mata) dan dehidrasi akib
at hipertermia.

4. Riwayat imunisasi sudah mendapat imunisasi BCG, Polio 4x, DPT, Hepatitis B dan
HiB 4 x, dan Campak 1 x pada usia 10 bulan.

Bagaimana jadwal imunisasi pada anak?

14
Apa manfaat dan resiko pemberian imunisasi ?

Pemberian imunisasi memberikan manfaat sebagai berikut :


1. Untuk anak, bermanfaat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit menular
yang sering berjangkit;
2. Untuk keluarga, bermanfaat menghilangkan kecemasan serta biaya pengobatan jika anak
sakit;
3. Untuk negara, bermanfaat memperbaiki derajat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat
dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara (Depkes RI, 2001).
Umumnya efek samping imunisasi tergolong ringan, misalnya:
Nyeri atau bekas berwarna kemerahan di bagian yang disuntik

Demam Pusing
Mual Hilang nafsu makan

15
Untuk efek samping yang tergolong parah (misalnya kejang dan reaksi alergi), jarang
sekali terjadi. Pertimbangkanlah kembali jika Anda berencana untuk tidak menyertakan anak
ke dalam program imunisasi karena risiko efek samping vaksinasi itu sendiri lebih kecil
dibandingkan manfaatnya sepanjang hidup.

5. Sabrina masih mendapat ASI, diberi susu formula sejak usia 2 bulan selang seling
dengan ASI. Sekarang makan nasi tim, belum bisa makan nasi biasa.
Bagaimana pola makan pada batita?

Pada anak usia 6-24 bulan, kebutuhan terhadap berbagai zat gizi semakin
meningkat dan tidak lagi dapat dipenuhi hanya dari ASI saja. Pada usia ini anak berada pada
periode pertumbuhan dan perkembangan cepat, mulai terpapar terhadap infeksi dan secara
fisik mulai aktif, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi harus terpenuhi dengan
memperhitungkan aktivitas bayi/anak dan keadaan infeksi. Agar mencapai gizi seimbang
maka perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI atau MP-ASI, sementara ASI tetap
diberikan sampai bayi berusia 2 tahun. Pada usia 6 bulan, bayi mulai diperkenalkan kepada
makanan lain, mula-mula dalam bentuk lumat, makanan lembik dan selanjutnya beralih ke
makanan keluarga saat bayi berusia 1 tahun. Ibu sebaiknya memahami bahwa pola pemberian
makanan secara seimbang pada usia dini akan berpengaruh terhadap selera makan anak
selanjutnya, sehingga pengenalan kepada makanan yang beranekaragam pada periode ini
menjadi sangat penting. Secara bertahap, variasi makanan untuk bayi usia 6-24bulan semakin
ditingkatkan, bayi mulai diberikan sayuran dan buah-buahan, lauk pauk sumber protein
hewani dan nabati, serta makanan pokok sebagai sumber kalori. Demikian pula jumlahnya
ditambahkan secara bertahap dalam jumlah yang tidak berlebihan dan dalam proporsi yang
juga seimbang.

Pada anak usia 6-24 bulan makanan terdiri dari Air Susu Ibu (ASI) dan
Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). MP-ASI (Makanan Pendamping Air Susu
Ibu) adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau
anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI.

Apa efek dari pemberian ASI yang diselingi dengan susu formula?

16
Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh jumlah
ASI yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI
tersebut. Pertumbuhan fisik yang sempurna, perkembangan kecerdasan yang pesat, hingga
kematangan emosional seorang anak, terpacu berkat ASI eksklusif enam bulan. ASI tanpa
bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar empat
bulan. Setelah itu ASI hanya berfungsi sebagai sumber protein, vitamin dan mineral utama
untuk bayi yang mendapat makanan tambahan yang tertumpu pada beras.
ASI juga memberikan efek yang baik dalam perkembangan saluran cerna,
khususnya pada usus. Perkembangan sel-sel usus bayi yang diberikan ASI lebih baik
dibanding susu formula, di mana hal ini sangat penting karena saluran cerna pada bayi akan
berkembang secara signifikan karena adanya respons makanan dan kemampuan saluran cerna
dalam mengenal protein makanan sehingga tidak mengenalnya sebagai benda asing dan
membentuk respons imun terhadapnya, karena apabila tahap ini terganggu maka bayi bisa
mengembangkan dan mengidap alergi terhadap makanan berprotein.
Pemberian susu formula dini berisiko meningkatkan terjadinya penyakit
infeksi, seperti infeksi saluran pencernaan, infeksi saluran napas. Selain itu, pemberian susu
formula dini juga dapat meningkatkan terjadinya penyakit noninfeksi, seperti penyakit alergi,
obesitas, hingga kurang gizi. Selain itu, karena pemberian ASI yang tidak eksklusif
(dicampur susu formula) dapat menyebabkan terjadinya gangguan, baik pertumbuhan
maupun perkembangan pada bayi.
Pemberian nutrisi yang baik:
Usia Nutrisi
0-6 bulan ASI eksklusif Jangan memberi
makanan dan minuman
tambahan (air kelapa ,
tajin , madu , pisang )
6-9 Bulan ASI + MP-ASI Perlu diingat
berbentuk halus (bubur tiap kali berikan ASI
susu, biscuit, pisang, lebih dulu baru MP-ASI
papaya yang dilumatkan)
9-12 Bulan ASI + Bayi mulai
diperkenalkan dengan
makanan lembek yaitu
berupa nasi tim/ saring
bubur saring dengan
frekuensi dua kali sehari.
17
Pemberian RDA usia tinggi X BB ideal =
Nutirisi Pada kasus: 120 kkal/kg X 8,5 = 1020 kkal
BB ideal untuk
70cm = 8,5 kg

Bagaimana pemberian nutrisi pada bayi prematur dan BBLR?

Nutrisi yang optimal sangat kritis dalam manajemen bayi BBLR tetapi terdapat
kesulitan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi mereka karena berbagai mekanisme ingesti dan
digesti makanan belum sepenuhnya berkembang. Jumlah, jadwal, dan metode pemberian
nutrisi ditentukan oleh ukuran dan kondisi bayi. Nutrisi dapat diberikan melalui parenteral
ataupun enteral atau dengan kombinasi keduanya. Bayi preterm menuntut waktu yang lebih
lama dan kesabaran dalam pemberian makan dibandingkan bayi cukup bulan. Mekanisme
oral-faring dapat terganggu oleh usaha memberi makan yang terlalu cepat. Penting untuk
tidak membuat bayi kelelahan atau melebihi kapasitas mereka dalam menerima makanan.
Toleransi yang berhubungan dengan kemampuan bayi menyusu harus didasarkan pada
evaluasi status respirasi, denyut jantung, saturasi oksigen, dan variasi dari kondisi normal
dapat menunjukkan stress dan keletihan. Bayi akan mengalami kesulitan dalam koordinasi
mengisap, menelan, dan bernapas sehingga berakibat apnea, bradikardi, dan penurunan
saturasi oksigen. Pada bayi dengan reflek menghisap dan menelan yang kurang, nutrisi dapat
diberikan melalui sonde ke lambung. Kapasitas lambung bayi prematur sangat terbatas dan
mudah mengalami distensi abdomen yang dapat mempengaruhi pernafasan.

Masa neonatus, nutrisi BBLR merupakan kebutuhan paling besar dibandingkan


kebutuhan pada masa manapun dalam kehidupan untuk mencapai tumbuh kembang optimal.
Pertumbuhan BBLR yang direfleksikan per kilogram berat badan hampir dua kali lipat bayi
cukup bulan, sehingga BBLR membutuhkan dukungan nutrisi khusus dan optimal untuk
memenuhi kebutuhan tersebut (Nasar, 2004). Bayi berat lahir rendah (BBLR) memerlukan
tata laksana nutrisi khusus dikarenakan keterbatasan cadangan nutrisi tubuh, termoregulasi
yang belum stabil, imaturitas fungsi organ, potensi pertumbuhan cepat, serta risiko tinggi
terhadap terjadinya morbiditas. Bayi yang dilahirkan secara prematur dengan berat badan
2000 gram (4 lb) atau lebih biasanya tumbuh subur dengan ASI. Namun bayi dengan berat
badan lahir kurang dari 2000 gram, dapat mempunyai angka pertumbuhan demikian cepat
sehingga ASI saja tidak dapat memasok nutrien esensial yang cukup untuk pertumbuhan
18
normal. Densitas kalori ASI baik ASI untuk bayi aterm maupun ASI untuk bayi prematur
adalah 67 kkal/100 ml pada 21 hari pertama laktasi. Formula dengan densitas sama dapat
digunakan untuk BBLR, tetapi formula dengan konsentrasi lebih tinggi yaitu 81 kkal/100 ml
seringkali lebih disukai. Formula ini memungkinkan pemberian kalori lebih banyak dengan
volume lebih kecil, menguntungkan bila kapasitas lambung terbatas atau bayi memerlukan
restriksi cairan. Juga mensuplai cukup air untuk ekskresi metabolit dan elektrolit dari
formula. Bayi dapat mencapai full enteral feeding (~150 180 mL/kg/hari), kira-kira 2
minggu untuk bayi 1000 gram pada waktu lahir dan kira-kira 1 minggu untuk bayi 1000
1500 gram dengan menerapkan protokol evidence-based feeding. Dapat dicatat bahwa
beberapa bayi, terutama yang kurang dari 1000 gram, tidak akan mentolerir volume yang
lebih besar dari pemberian makan (seperti 180 mL/kg/hari atau lebih). Pencapaian yang cepat
dari full enteral feeding akan menyebabkan pelepasan yang lebih awal dari kateter pembuluh
darah dan berkurangnya kejadian sepsis serta komplikasi yang berkaitan dengan kateter.
Frekuensi dari pemberian makan diakukan pemberian makan setiap 3 jam sekali untuk bayi >
1250 gram. Angka kejadian dari intoleransi makanan, apnea, hipoglikemik, dan necrotizing
enterocolitis (NEC) tidak terlalu berbeda, tetapi waktu rawat dalam pemberian makan setiap
3 jam sekali, menjadi berkurang. Waktu untuk memulai, volume, serta durasi disarankan
volume minimal dari pemberian susu (10 15 mL/kg/day). Hal ini dilakukan pada 24 jam
pertama kehidupan. Jika pada 24 48 jam, tidak ada ASI maupun susu donor, pertimbangkan
susu formula. Pengenalan lebih dini pada pemberian makan awal dibandingkan dengan bayi
yang dipuasakan, tidak menunjukkan hasil yang signifikan pada kejadian NEC. Namun
minggu-minggu awal kehidupan, dukungan nutrisi lengkap sulit pada Very Low Birth Weight
(VLBW), karena toleransi makan yang buruk terkait dengan ketidakdewasaan sistem
gastrointestinal. Dengan demikian, adanya defisit relevan pada energi dan nutrisi yang
diberikan selama dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan banyak bayi prematur
yang tumbuh terbatas.

Bagaimana perbandingan komposisi susu formula dan ASI ?

19
6. Pada pemeriksaan ditemukan BB 7,7 kg, PB 78 cm, lingkar kepala 42 cm. Tidak ad
a gambaran dismorfik, anak sadar kontak mata ada, tapi tidak mau tersenyum kep
ada pemeriksa. Anak tidak bisa bicara, bisa mengucapkan ya-ya dan ma-ma, dan
menoleh ketika dipanggil dengan suara keras. Anak bisa tengkurap dan menahan k
epala beberapa detik. Belum bisa mengambil dan memegang kubus. Keempat angg
ota gerak kaku dan susah ditekk, gerakan kurang, dengan kekuatan 3. Tonus meni
ngkat, refleks fisiologis meingkat, refleks Babinsky (+), tidak ada refleks Moro dan
refleks menggenggam. Tidak ada gerakan yang tidak terkontrol. Tidak ada kelaina
n anatomi pada anggota gerak. Hasil pemeriksaan KPSP usia 18 bulan didapatkan
tidak ada yang bisa lakukan Sabrina.
Apa interpretasi dari pemeriksaan fisik?

BB 7,7 kg
20
Dari Z-score dibawah : dibawah -2 SD dan diatas -3 SD :
Underweigth

PB 78 cm
Dari Z-score dibawah : terletak diantara +2 dan -2 SD : Normal

21

Bagaimana mekanisme abnormalitas dari pemeriksaan fisik?


- Hambatan dalam bicara dan menelan:
Asfiksia neonatorum et causa HMD O2 dan nutrisi ke otak Iskemia
pada salah satu a. Cerebri segmen bawah aliran darah kolateral terganggu
hipoperfusi serebri terbentuknya watershed zone kerusakan pada white matter
periventrikular white matter pada regio periventrikular rusak dan tidak berkembang
axon motorik yang melalui regio periventrikular tidak berkembang traktus
ekstrapiramidal (menghubungkan cerebelum dan ganglia basalis dengan LMN cornu
posterior) terganggu kontraksi involunter pada seluruh otot (orofaringeal)
kesulitan dalam bicara dan menelan
- Tonus otot meningkat :
Ketidak mampuan signal inhibitor descending dari traktus kortikospinal
menuju ke medulla spinalis refleks spinal tonus otot meningkat
- Keempat anggota gerak kaku dan susah ditekuk :
Pada usia awal white matter ada pregio periventrikular tidak berkembang
sempurna axon motorik yanng terdapat pada regio periventrikular tidak
22
berkembang sulit menerima signal inhibitory descending yang berasal dari korteks
ke medulla spinalis refleks spinalis meningkat tonus otot meningkat (rigiditas,
distonia) terutama pada ekstremitas atas

Bagaimana cara mengukur pertumbuhan anak?

Kurva Pertumbuhan WHO

Pada tahun 2006, WHO mengeluarkan sebuah kurva pertumbuhan standar yang
menggambarkan pertumbuhan anak umur 0-59 bulan di lingkungan yang diyakini dapat
mendukung pertumbuhan optimal anak. Untuk membuat kurva pertumbuhan ini, WHO
melakukan penelitian multisenter pada tahun 1997 sampai 2003 dengan tujuan untuk
menggambarkan pertumbuhan anak yang hidup di lingkungan yang tidak memiliki faktor
penghambat pertumbuhan. Data dikumpulkan dari 6 negara yaitu Brazil, Ghana, India,
Norwegia, Oman dan Amerika. Penelitian ini terdiri atas dua bagian; pertama adalah
penelitian longitudinal (subyek diikuti dari lahir sampai usia 2 tahun); dan kedua adalah
penelitian cross-sectional (pada anak usia 1,5 sampai 5 tahun). Panjang badan diukur pada
posisi tidur telentang untuk anak usia 0-2 tahun dan setelah usia 2 tahun tinggi badan diukur
sebagai tinggi berdiri.

a. Penelitian longitudinal Pada awal penelitian terdapat 1737 subyek yang memenuhi kriteria
penelitian, namun data yang digunakan adalah data 882 subyek yang menyelesaikan
penelitian ini. Subyek diberi makan sesuai dengan rekomendasi WHO yaitu mendapat ASI
sampai usia 12 bulan dan mendapat makanan tambahan setelah berumur 6 bulan. Ibu
subyek penelitian tidak merokok.

b. Penelitian cross-sectional Subyek diambil dari strata demografik yang sama dengan subyek
penelitian longitudinal. Terdapat 6669 subyek usia 18-71 bulan yang masing-masing dinilai
dalam satu kali pengukuran.

IDAI telah menetapkan untuk skrining pertumbuhan anak dengan umur sampai 5 tahun dapat
menggunakan kurva pertumbuhan WHO.

Bagaimana cara melakukan pemeriksaan refleks Moro?


Pemeriksaan refleks Moro dilakukan dengan cara sebagai berikut:
23
i. Pasien berbaring terlentang,
ii. Tangan pemeriksa diletakkan pada punggung dan leher pasien, kemudian perlahan tubuh pasi
en diangkat. Pastikan lengan pasein bebas.
iii. Jatuhkan tangan pemeriksa secara mendadak sebagian,
iv. Refleks positif apabila terjadi abduksi dan diikuti fleksi ekstermitas atas, menghasilkan gerak
an sedikit memeluk,
v. Refleks ini menghilang usia enam bulan.

Bagaimana cara melakukan pemeriksaan refleks Babinsky?

Bagaimana cara melakukan pemeriksaan refleks fisiologis ?

Refleks neurologik bergantung pada suatu lengkungan (lengkung refleks) yang terdiri
atas jalur aferen yang dicetus oleh reseptor dan sistem eferen yang mengaktifasi organ
efektor, serta hubungan antara kedua komponen ini. Bila lengkung ini rusak maka refleks
akan hilang. Selain lengkungan tadi didapatkan pula hubungan dengan pusat-pusat yang
lebih tinggi di otak yang tugasnya memodifikasi refleks tersebut. Bila hubungan dengan
pusat-pusat yang lebih tinggi di otak yang tugasnya memodifikasi refleks tersebut. Bila
hubungan dengan pusat yang lebih tinggi ini terputus, misalnya karena kerusakan pada
24
sistem piramidal, hal ini akan mengakibatkan refleks meninggi. Bila dibandingkan dengan
pemeriksaan-pemeriksaan lainnya, misalnya pemeriksaan sensibilitas, maka pemeriksaan
refleks kurang bergantung kepada kooperasi pasien. Ia dapat dilakukan pada orang yang
kesadarannya menurun, bayi, anak, orang yang rendah inteligensinya dan orang yang
gelisah. Dalam sehari-hari kita biasanya memeriksa 2 macam refleks fisiologis yaitu
refleks dalam dan releks superfisial. Refleks dalam (refleks regang otot) Refleks dalam
timbul oleh regangan otot yang disebabkan oleh rangsangan, dan sebagai jawabannya
maka otot berkontraksi. Refleks dalam juga dinamai refleks regang otot (muscle stretch
reflex). Nama lain bagi refleks dalam ini ialah refleks tendon, refleks periosteal, refleks
miotatik dan refleks fisiologis. Refleks superfisialis Refleks ini timbul karena
terangsangnya kulit atau mukosa yang mengakibatkan berkontraksinya otot yang ada di
bawahnya atau di sekitarnya. Jadi bukan karena teregangnya otot seperti pada refleks
dalam. Salah satu contohnya adalah refleks dinding perut superfisialis (refleks abdominal).

Tingkat jawaban refleks

Jawaban refleks dapat dibagi atas beberapa tingkat yaitu :

- (negatif) : tidak ada refleks sama sekali

- : kurang jawaban, jawaban lemah 10

- + : jawaban normal

- ++ : jawaban berlebih, refleks meningkat

25
26
27
HIPOTESIS

SABRINA, 20 bulan, dibawa ke puskesmas karena belum bisa duduk, diduga me


nderita keterlambatan perkembangan motorik.

a. Apa diagnosis kerja pada kasus?


Diagnosis Growth Developmental Delay e.c. Cerebral Palsy tipe spastik quadriplegia

1. Anamnesis

Pada Cerebral palsy dapat ditemukan gejala danggun motorik berupa kelainan fungsi
dan lokasi serta kelainan bukan motorik yang menyulitkan gambaran klinis Cerebral palsy.
Kelainan fungsi motirik terdiri dari :
A) Spastisitas
Terdapat peningkatan tonus otot dan refleks yang disertai dengan klonus dan refleks
babinski yang positif. Tonus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang meskipun
28
penderita dalam keadaan tidur. Peningkatan tonus ini tidak sama derajatnya pada suatu
gabungan otot, karena itu tampak sikap yang khas dengan kecenderungan terjadi kontraktur
misalnya lengan dalam adduksi, fleksi pada sendi siku dan pergelangan tangan dalam pronasi
serta jari-jari dalam fleksi sehingga posisi ibu jari melintang di telapak tangan. Tungkai dalam
sikap adduksi, fleksi pada sendi paha dan lutut, kaki dalam fleksi plantar dan telapak kaki
berputar ke dalam.
Tonic neck reflex dan refleks neonatal menghilang pada waktunya. Kerusakan
biasanya terletak pada trkstu kortikospinalis. Golongan spastisitas ini meliputi 2/3
penderita Cerebral palsy.
Banyak kelumpuhan spastisitas tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan,
yaitu :
1.Monoplegia/monoparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak pada stu sisi, tetapi salah satu anggota
gerak lebih hebat dari yang lainnya.
2. Hemiplagia/hemiparesis
Kelumpuhan lengan dan tungkai di sisi yang sama.
3. Diplegia/diparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi tungkai lebih hebat daripada
lengan.
4. Tertaplagia/tetraparesis/quadriplagia
Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi lengan lebih atau sama hebatnya
dibandingkan dengan tungkai.


Gambar 1. Kelumpuhan spastisitas tergantung kepada letak dan besarnya
kerusakan

B) Tonus otot yang berubah

29
Bayi pada golonggan ini pada usia bulan pertama tampak flasid dan berbaring
seperti kodok terlentang, sehingga tampak seperti kelainan pada lower motor
neuron. Menjelang umur 1 tahun barulah terjadi perubahan tonus otot dari rendah
hingga tinggi. Bila dibiarka berbaring tampak flasid dan sikapnya seperti kodok
terlentang, tetapi bila dirangsang atau mulai diperiksa tonus ototnya berubah
menjadi spastis. Refleks otot yang normal dan refleks babinski negatif, tetapi yang
khas ialah refleks neonatal dan tonic neck reflex menetap. Kerusakan biasanya
terletak di batang otak dan disebabkan oleh asfiksia perinatal atau ikterus. Golongan
ini meliputi 10-20% dari kasus Cerebral palsy.
C) Koreo-atetosis(extrapiramidal Cerebral Palsy)
Kelainan yang khas ialah sikap yang abnormal dengan pergerakan yang terjadi
dengan sendirinya (involuntary movement). Pada 6 bulan pertama tampak bayi
flasid, tapi sesudah itu barulah muncul kelainan tersebut. Refleks neonatal menetap
dan tampak adanya perubahan tonus otot. Dapat timbul juga gejala spastisitas dan
ataksia. Kerusakan terletak di ganglia basal dan disebabkan oleh afiksia berat atau
ikterus kern pada masa neonatus. Golongan ini meliputi 5-15% dari kasus Cerebral
palsy.
D) Ataksia
Ataksia adalah gangguan koordinasi. Bayi dalam golongan ini biasanya flasid
dan menunjukan perkembangan motorik yang lambat. Kehilangan keseimbangan
tampak bila mulai belajar duduk. Mulai berjaan sangat lambat dan semu pergerakan
canggung dan kaku. Kerusakan terletak si serebelum. Terdapat kira-kira 5% dari
kasus Cerebral palsy.
E) Gangguan pendengaran
Terdapat pada 5-10 % anak dengan Cerebral palsy. Gangguan berupa
gangguan neurogen terutama persepsi nada tinggi, sehingga sulit menagkap kata-
kata. Terdapat pada golongan koreo-atetosis.
F) Gangguan bicara
Disebabkan oleh gengguan pendengaran atau retardasi mental. Gerakan yang
terjadi dengan sendirinya di bibir dan lidah menyebabkan sukar mengontrol otot-otot
tersebut sehingga anak sulit membentuk kata-kata dan sering tampak beliur.
G) Gangguan mata

Gangguan mata biasanya berupa strabismus konvergen dan kelainan refraksi.
Pada kedaan afiksia yang berat dapat terjadi katarak. Hampir 25%penderita
Cerebral palsy menderita kelainan mata.
30

Pasien dapat datang dengan keluhan :

Pola gerak abnormal Epileptic seizures,


Terlambat dalam perkembangan Gelisah
Sulit berkonsentrasi
berdiri dan berjalan
Sentral paresis (hemiparesis, Gangguan dalam penglihatan,

paraparesis, atau tetraparesis) pendengaran dan berbicara.


Spasticity (kekakuan) deformitas tulang dan sendi (talipes
Ataxia equinus, contracture, scoliosis, hip
Choreoathetosis dislocation)
Retardasi mental

Pemeriksaan Khusus Cerebral palsy


1. Pemeriksaan Refleks, tonus otot, postur dan koordinasi
2. Pemeriksaan mata dan pendengaran setelah dilakukan diagnosis Cerebral palsy
ditegakan.
3. Pungsi lumbal harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebabnya
suatu proses degeneratif. Pada Cerebral palsy CSS normal.
4. Pemeriksaan EEG dilakukan pada penderita kejang atau pada golongan hemiparesis
baik yang disertai kejang maupun yang tidak.
5. Foto Rontgen kepala, MRI, CT-Scan, cranial ultrasounds umtuk mendapatkan
gambaran otak.
6. Penilaian psikologi perlu dikerjakan untuk tingkat pendidikan yang dibutuhkan.
7. Pemeriksaan metabolik untuk menyingkirkan penyebab lain dari retardasi mental.

b. Apa diagnosis banding pada kasus?


a) Proses degeneratif
b) Higroma subdural
c) Arterio-venosus yang pecah
d) Kerusakan medula spinalis
e) Tumor intrakranial

c. Apa epidemiologi dari diagnosis pada kasus?


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi insidensi penyakit ini yaitu: populasi yang
diambil, cara diagnosis dan ketelitiannya. Misalnya insidensi Cerebral Palsy di Eropa
(1950) sebanyak 2,5 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan di Skandinavia sebanyak 1,2 -
1,5 per 1000 kelahiran hidup. Gilroy memperoleh 5 dari 1000 anak memperlihatkan defisit
motorik yang sesuai dengan Cerebral Palsy, 50% kasus termasuk ringan sedangkan 10%

31
termasuk berat. Yang dimaksud ringan ialah penderita yang dapat mengurus dirinya
sendiri, sedangkan yang tergolong berat ialah penderita yang memerlukan perawatan
khusus; 25% mempunyai intelegensi rata-rata (normal), sedangkan 30% kasus
menunjukkan IQ di bawah 70, 35% disertai kejang, sedangkan 50% menunjukkan adanya
gangguan bicara. Laki-laki lebih banyak daripada wanita (1,4 : 1). Insiden relatif Cerebral
Palsy yang digolongkan berdasarkan keluhan motorik adalah sebagai berikut: spastik 65%,
atetosis 25%, dan rigid, tremor, ataktik sebesar 10%.

d. Apa etiologi dan faktor risiko dari diagnosis pada kasus?


Penyebab cerebral palsy dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu:
a. Prenatal

1. Malformasi Kongenital 4. Preeklampsia/Eklampsia


2. Infeksi Intruterine 5. Asfikasia Neonatus
3. Radiasi

b. Perinatal

1. Hipoksia 3. Trauma Lahir


2. Perdarahan Intrakranial 4. Prematuritas

32
c. Postnatal
1. Trauma Kapitis
2. Infeksi (Meningitis bakterial , abses serebri, dll)
3. Kernicgterus

Faktor resiko:

e. Bagaimana patofisiologi dan atau patogenesis diagnosis pada kasus?


d. Seperti di ketahui sebelumnya bahwa cerebral palsy merupakan kondisi
neurologis yang di sebabkan oleh cedera pada otak yang terjadi sebelum
perkembangan otak sempurna. Karena perkembangan otak berlangsung selama
dua tahun pertama. Cerebral palsy dapat di sebabkan oleh cedera otak yang
terjadi selama periode prenatal , perinatal, dan postnatal. Trauma cerebral yang
menyangkut trauma dari arteri cerebral media adalah rangkaian patologis yang
paling sering di temukan dan dikonfirmasi dari pasien dengan cerebral palsy
spastic hemiplegia dengan menggunakan evaluasi dari computed tomography
(CT) dan magnetic resonance imaging (MRI) . Penilaian tersebut telah
menunjukkan kehilangan jaringan (nekrosis dan atrofi) dengan atau tanpa gliosis.
Beberapa anak dengan cerebral palsy hemiplegia mengalami atrofi
periventricular, menunjukkan adanya ketidaknormalan pada white matter. Pada
pasien dengan cerebral palsy bergejala quadriplegia, gangguan motorik yang
terjadi pada kaki bisa sama sampai lebih berat daripada tangan. Yang terkait
dengan cerebral palsy bentuk ini adalah adanya rongga yang terhubung dengan
ventrikel lateral , multiple cystic lesion pada white matter, diffuse cortical
atrophy, dan hydrocephalus. Cerebral palsy bentuk coreoathetoid yang kadang
mengalami spastisitas cenderung terjadi bayi pada cukup 12 bulan, dystonia dari
ekskremitas juga sering terjadi bersama spastisitas tapi cenderung tidak dikenali.
Hipotonus yang menetap atau atonic pada cerebral palsy menunjukkan adanya
keterlibatan cerebellar pathways. Long-track signs seperti reflex deep-tendon
cepat dan respon plantar extensor cenderung disertai hipotonia. Pembesaran
sistem ventricular adalah yang paling sering dihubungkan pada neuro-imaging.
Prevalensi dari spastic diplegia atau quadriplegia meningkat di Australia, swedia,
dan united kingdom pada tahun 1970 seiring dengan meningkatnya tingkat
kelahiran bayi premature. Selama 30 tahun terakhir , neuropathologist telah
memaparkan bahwa periventricular white matter merupakan lokasi terpenting
dari kelainan yang menyebabkan disfungsi motorik kongenital. Periventricular
leukomalacia adalah istilah untuk karakteristik lesi necrosis koagulatif pada white
matter yang dekat dari ventrikel lateral , dengan menggunakan pemeriksaan
ultrasound mencari tanda adanya trauma pada white matter secara virtual seperti
kedua area hiperechoic (echodense) dan hipoechoic (echolusent). Bayi yang lahir
pada umur kehamilan kurang dari 32 minggu beresiko tinggi terhadap kedua lesi
hiperechoic dan hipoechoic. Umumnya lesi hiperechoic menandakan kongesti
vascular atau hemorrhage dan penampakan dini dari kerusakan jaringan.
Sedangkan lesi hipoechoic tampak pencerminan dari pelepasan/kehilangan
jaringan nekrotik dan perkembangan struktur seperti kista.

f. Apa manifestasi klinis dari kasus?


e. Anak dengan CP memiliki 3 tipe masalah motorik yaitu : impairment
primer, impairment sekunder dan impairment tersier. Impairment primer
secara langsung berhubungan dengan lesi yang terjadi pada SSP. Impairment
primer antara lain: tonus otot (spastisitas, distonia), keseimbangan, kekuatan,
selektivitas dan sensoris. Impairmen sekunder berkembang sejalan dengan
waktu sebagai respon dari impairment primer dan perkembangan otot.
Impairment sekunder antara lain kontraktur (equinus, adduction), deformitas
(skoliosis). Impairment tersier adalah bentuk adaptasi dari anak terhadap
impairment primer dan sekunder.

f. Salah satu contoh: impairment primer yaitu spastisitas gastrocnemius


yang kemudian mengarah pada fleksi plantar ankle dan hiperkekstensi lutut
saat berdiri sebagai mekanisme adaptasi.
g. Selain itu, ada beberapa masalah yang dapat terjadi terkait dengan CP,
antara lain: kejang, intellectual impairment, visual impairment, keterbatasan
belajar, masalah pendengaran, masalah komunikasi dan disartria, disfungsi
oromotor, masalah gastrointestinal, masalah gigi, disfungsi sistem respirasi,
masalah BAK dan BAB, gangguan sosial emosional.

h. Gambaran klinis cerebral palsy tergantung dari bagian dan luasnya jaringan
otak yang mengalami kerusakan, yaitu :
a. Paralisis. Dapat berbentuk hemiplegia, kuadriplegia, diplegia, monoplegia,
triplegia. Kelumpuhan ini mungkin bersifat flaksid, spastik atau campuran.
b. Gerakan involunter. Dapat berbentuk atetosis, khoreoatetosis, tremor dengan
tonus yang dapat bersifat flaksid, rigiditas, atau campuran.
c. Ataksia. Gangguan koordinasi ini timbul karena kerusakan serebelum.
Penderita biasanya memperlihatkan tonus yang menurun (hipotoni), dan
menunjukkan perkembangan motorik yang terlambat. Mulai berjalan sangat
lambat, dan semua pergerakan serba canggung.
d. Kejang. Dapat bersifat umum atau fokal.
e. Retardasi mental. Ditemukan kira-kira pada 1/3 dari anak dengan cerebral
palsy terutama pada grup tetraparesis, diparesis spastik dan ataksia. Cerebral
palsy yang disertai dengan retardasi mental pada umumnya disebabkan oleh
anoksia serebri yang cukup lama, sehingga terjadi atrofi serebri yang
menyeluruh. Retardasi mental masih dapat diperbaiki bila korteks serebri tidak
mengalami kerusakan menyeluruh dan masih ada anggota gerak yang dapat
digerakkan secara volunter. Dengan dikembangkannya gerakan-gerakan
tangkas oleh anggota gerak, perkembangan mental akan dapat dipengaruhi
secara positif.
f. Gangguan penglihatan (misalnya: hemianopsia, strabismus, atau kelainan
refraksi), gangguan bicara, gangguan sensibilitas.
g. Problem emosional terutama pada saat remaja.
i. Element penting gangguan motorik pada cerebral palsy adalah
munculnya reaksi postural primitive atau reflex, seperti reflex tonus leher,
assimetris dan simetris, reflex moro, dan reaksi berjalan dan penempatan
otomatis. Berat dan persisten nya reaksi tersebut beberapa hal berhubungan
dengan berat dan tipe dari cerebral palsy. Faktor penting lainnya dalam hal
pengklasifikasian seorang anak dengan cerebral palsy adalah ada dan beratnya
kecacatan yang di sebabkan oleh gangguan motorik. Oleh karena itu retardasi
mental dan epilepsy biasa terjadi pada anak dengan cerebral palsy dan
kecacatan bisa menjadi lebih gawat dari gangguan motorik itu sendiri dalam
hal terbatasnya potensi untuk perbaikan fungsional.

j. Gangguan motorik pada cerebral palsy dapat di bagi berdasarkan :

1. Disfungsi Motorik
- Spastisitas : lokasi lesi yang menyebabkan spastisitas terutama pada traktus
kortikospinal. Pada spastisitas terjadi peningkatan konstan pada tonus otot,
peningkatan reflex otot kadang di sertai klonus (reflex peregangan otot yang
meningkat) dan tanda Babinski positif. Tonic neck reflex muncul lebih lama
dari normal namun jarang terlihat jelas, dan reflex neonatus lainnya
menghilang pada waktunya. Hipertonik permanent dan tidak hilang selama
tidur. Peningkatan tonus otot tidak sama pada sesuatu gabungan otot. Lengan
adduksi, siku dan pergelangan tangan flexi, tangan pronasi, jari flexi dengan
jempol melintang di telapak tangan. kaki adduksi, panggul dan lutut flexi, kaki
plantar-flexi dengan tapak kaki berputar ke dalam. Golongan spastisitas ini
meliputi 2/3-3/4 penderita cerebral palsy.

k. Banyak kelumpuhan spastisitas tergantung kepada letak dan


besarnya kerusakan, yaitu:

1. Monoplegia/monoparesis
l. Kelumpuhan keempat anggota gerak pada stu sisi, tetapi salah satu
anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya.
2. Hemiplagia/hemiparesis
m. Kelumpuhan lengan dan tungkai di sisi yang sama.
3. Diplegia/diparesis
n. Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi tungkai lebih hebat
daripada lengan.
4. Tertaplagia/tetraparesis/quadriplagia
o. Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi lengan lebih atau sama
hebatnya dibandingkan dengan tungkai.
p.
q. Gambar 2. Kelumpuhan spastisitas tergantung kepada letak dan
besarnya kerusakan
r.
- Perubahan tonus otot : lokasi lesi yang menyebabkan ketidaknormalan tonus
otot terutama pada brain stem . bayi pada golongan ini pada usia bulan
pertama tampak flaksid dan berbaring dengan posisi seperti katak terlentang
dan mudah di kelirukan dengan bayi dengan kelainan motor neuron menjelang
umur 1 tahun barulah terjadi perubahan tonus otot daari rendah hingga tinggi.
Bila dibiarkan berbaring tampak flaksid dan sikap seperti katak terlentang
namun bila dirangsang atau mulai diperiksa tonus ototnya berubah menjadi
spastis. Reflex otot normal atau sedikit meningkat dan klonus jarang
ditemukan. Tanda Babinski bisa positif maupun tidak. Karakteristik dari
cerebral palsy tipe ini adalah reflex neonatus dan tonic neck reflex menetap,
kadang terbawa hingga masa kanak-kanak. Reflex tonus otot dan reflex moro
sangat jelas. Sindrom dari perubahan tonus otot dapat disertai dengan
choreoathetosis dan ataxia. Sekitar 10-25 persen anak dengan cerebral palsy
mengalami sindrom ini.
2. Disfungsi Nonmotorik
- Gangguan perkembangan mental : hal ini ditemukan pada sekitar setengah dari
seluruh pasien cerebral palsy . perkembangan mental harus selalu di nilai
dengan perhatian besar pada anak dengan retardasi perkembangan motorik.
Kecacatan motorik harus selalu dapat dimengerti dan latih potensi terbaik anak
sebelum perkembangan intelektual mereka di evaluasi. Tipe lain dari
gangguan perkembangan motorik bisa terlihat pada anak dengan cerebral
palsy, beberapa dari mereka menunjukkan gejala perhatian yang mudah
teralih, kurang konsentrasi, gelisah, dan prilaku tidak di duga.
- Konvulsi : konvulsi adalah gambaran klinik yang kompleks, biasanya pada
anak tetraparesis dan hemiparesis Pemeriksaan electroencephalogram harus di
lakukan pada kondisi tersebut.
- Retardasi pertumbuhan : retardasi pertumbuhan terlihat pada semua jenis
gangguan pergerakan . retardasi pertumbuhan paling signifikan pada
hemiparesis, ukuran tangan, kaki, kuku yang tidak sama adalah tanda
diagnostic yang penting.
- Gangguan sensorik : gangguan sensasi adalah hal biasa yang di temukan pada
hemiparesis.
- Gangguan penglihatan : paling sering adalah strabismus yang biasa di temukan
pada pasien dengan spastic diparesis. Katarak terlihat utamanya pada anak
dengan asphyxia pada periode perinatal yang berat, scar setelah koreoretinitis
terlihat pada anak dengan infeksi fetus.
- Gangguan pendengaran : di temukan 5-10 persen dari seluruh anak yang
menderita cerebral palsy. gangguan pendengaran ditemukan paling banyak
pada anak dengan choreoathetosis dan syndrome perubahan tonus otot.
- Kesulitan berbicara : dapat ringan hingga berat. Pada choreoathetosis
biasanya pergerakan involunter juga mempengaruhi bibir dan otot lidah.

g. Apa saja pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan?


s. Secara umum,
pemeriksaan laboratorium untuk anak dengan kemungkinan gangguan perkembangan
tidak dibedakan dengan tes skrining yang dilakukan pada anak yang sehat. Hal ini
penting dan dilakukan dengan periodik. Adapun beberapa pemeriksaan penunjangnya
antara lain:

a. Skrining metabolik

t. Skrining metabolik meliputi pemeriksaan: serum asam amino, serum glukosa,


bikarbonat, laktat, piruvat, amonia, dan creatinin kinase. Skrining metabolik rutin
untuk bayi baru lahir dengan gangguan metabolisme tidak dianjurkan sebagai
evaluasi inisial pada KPG. Pemeriksaan metabolik dilakukan hanya bila
didapatkan riwayat dari anamnesis atau temuan pemeriksaan fisik yang mengarah
pada suatu etiologi yang spesifik. Sebagai contohnya, bila anak-anak dicurigai
memiliki masalah dengan gangguan motorik atau disabilitas kognitif, pemeriksaan
asam amino dan asam organik dapat dilakukan. Anak dengan gangguan tonus otot
harus diskrining dengan menggunakan kreatinin phospokinase atau aldolase untuk
melihat adanya kemungkin penyakit muscular dystrophy.

b. Tes sitogenetik

u. Tes sitogenetik rutin dilakukan pada anak dengan KPG meskipun tidak
ditemukan dismorfik atau pada anak dengan gejala klinis yang menunjukkan suatu
sindrom yang spesifik. Uji mutasi Fragile X, dilakukan bila adanya riwayat
keluarga dengan KPG. Meskipun skrining untuk Fragile X lebih sering dilakukan
anak laki-laki karena insiden yang lebih tinggi dan severitas yang lebih buruk,
skrining pada wanita juga mungkin saja dilakukan bila terdapat indikasi yang
jelas. Diagnosis Rett syndrome perlu dipertimbangkan pada wanita dengan
retardasi mental sedang hingga berat yang tidak dapat dijelaskan.

c. Skrining tiroid

v. Pemeriksaan tiroid pada kondisi bayi baru lahir dengan hipotiroid kongenital
perlu dilakukan. Namun, skrining tiroid pada anak dengan KPG hanya dilakukan
bila terdapat klinis yang jelas mengarahkan pada disfungsi tiroid.

d. EEG

w. Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada anak dengan KPG yang memiliki
riwayat epilepsia tau sindrom epileptik yang spesifik (Landau-Kleffner). Belum
terdapat data yang cukup mengenai pemeriksaan ini sehingga belum dapat
digunakan sebagai rekomendasi pemeriksaan pada anak dengan KPG tanpa
riwayat epilepsi.

e. Imaging

x. Pemeriksaan imaging direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin pada KPG


(terlebih bila ada temuan fisik berupa mikrosefali). Bila tersedia MRI harus lebih
dipilih dibandingkan CT scan jika sudah ditegakkan diagnosis secara klinis
sebelumnya.

h. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus?


PENATALAKSANAAN
Perlu ditekankan pada orang tua penderita CP, bahwa tujuan dari pengobatan bukan
membuat anak menjadi seperti anak normal lainnya. Tetapi mengembangkan sisa
kemampuan yang ada pada anak tersebut seoptimal mungkin, sehingga diharapkan
anak dapat melakukan aktifitas seharihari tanpa bantuan atau hanya membutuhkan
sedikit bantuan saja. Sehingga dalam menangani anak dengan CP, harus memahami
berbagai aspek dan diperlukan kerjasama multidisiplin seperti disiplin anak, saraf,
mata, THT, bedah orthopedi, bedah syaraf, psikologi, rehabilitasi medis, ahli wicara,
pekerja sosial, guru sekolah luar biasa. Disamping itu juga harus disertakan peranan
orangtua dan masyarakat. (Lin, 2003) Secara garis besar, penatalaksanaan penderita
CP adalah sebagai berikut :

1. Aspek Medis

a. Aspek Medis Umum

Gizi

Gizi yang baik perlu bagi setiap anak, khususnya bagi penderita CP. Karena sering
terdapat kelainan pada gigi, kesulitan menelan, sukar untuk menyatakan keinginan
untuk makan. Pencatatan rutin perkembangan berat badan anak perlu dilaksanakan.
Halhal yang sewajarnya perlu dilaksanakan seperti imunisasi, perawatan kesehatan
dan lainlain. Konstipasi sering terjadi pada penderita CP. Dekubitus terjadi pada
anakanak yang sering tidak berpindahpindah posisi.

b. Terapi dengan obatobatan Dapat diberikan obatobatan sesuai dengan kebutuhan


anak, seperti obatobatan untuk relaksasi otot, anti kejang, untuk athetosis, ataksia,
psikotropik dan lainlain.

c. Terapi melalui pembedahan ortopedi Banyak hal yang dapat dibantu dengan bedah
ortopedi, misalnya tendon yang memendek akibat kekakuan/spastisitas otot, rasa sakit
yang terlalu mengganggu dan lainlain yang dengan fisioterapi tidak berhasil. Tujuan
dari tindakan bedah ini adalah untuk stabilitas, melemahkan otot yang terlalu kuat
atau untuk transfer dari fungsi.

d. Fisioterapi Teknik tradisional Latihan luas gerak sendi, stretching, latihan


penguatan dan peningkatan daya tahan otot, latihan duduk, latihan berdiri, latihan
pindah, latihan jalan. Contohnya adalah teknik dari Deaver.
Motor function training dengan menggunakan sistem khusus yang umumnya
dikelompokkan sebagai neuromuskular facilitation exercise. Dimana digunakan
pengetahuan neurofisiologi dan neuropatologi dari refleks di dalam latihan, untuk
mencapai suatu postur dan gerak yang dikehendaki. Secara umum konsep latihan ini
berdasarkan prinsip bahwa dengan beberapa bentuk stimulasi akan menimbulkan
reaksi otot yang dikehendaki, yang kemudian bila ini dilakukan berulangulang akan
berintegrasi ke dalam pola gerak motorik yang bersangkutan. Contohnya adalah
teknik dari : Phelps, Fay-Doman, Bobath, Brunnstrom, Kabat-Knott-Vos.

e. Terapi Okupasi

Terutama untuk latihan melakukan aktifitas seharihari, evaluasi penggunaan alatalat


bantu, latihan keterampilan tangan dan aktifitas bimanual. Latihan bimanual ini
dimaksudkan agar menghasilkan pola dominan pada salah satu sisi hemisfer otak.

f. Ortotik

Dengan menggunakan brace dan bidai (splint), tongkat ketiak, tripod, walker, kursi
roda dan lainlain. Masih ada pro dan kontra untuk program bracing ini. Secara
umum program bracing ini bertujuan :

Untuk stabilitas, terutama bracing untuk tungkai dan tubuh

Mencegah kontraktur Mencegah kembalinya deformitas setelah operasi Agar


tangan lebih berfungsi

g. Terapi Wicara Angka kejadian gangguan bicara pada penderita ini diperkirakan
berkisar antara 30 % - 70 %. Gangguan bicara disini dapat berupa disfonia, disritmia,
disartria, disfasia dan bentuk campuran. Terapi wicara dilakukan oleh terapis wicara.

2. Aspek Non Medis

a. Pendidikan Mengingat selain kecacatan motorik, juga sering disertai kecacatan


mental, maka pada umumnya pendidikannya memerlukan pendidikan khusus
(Sekolah Luar Biasa).

b. Pekerjaan Tujuan yang ideal dari suatu rehabilitasi adalah agar penderita dapat
bekerja produktif, sehingga dapat berpenghasilan untuk membiayai hidupnya.
Mengingat kecacatannya, seringkali tujuan tersbut silut tercapai. Tetapi meskipun dari
segi ekonomis tidak menguntungkan, pemberian kesempatan kerja tetap diperlukan,
agar menimbulkan harga diri bagi penderita CP.

c. Problem sosial Bila terdapat masalah sosial, diperlukan pekerja sosial untuk
membantu menyelesaikannya.

d. Lainlain Halhal lain seperti rekreasi, olahraga, kesenian dan aktifitasaktifitas


kemasyarakatan perlu juga dilaksanakan oleh penderita ini.

i. Apa saja komplikasi diagnosis pada kasus?


y. Komplikasi yang dapat terjadi pada anak-anak dengan KPG, yakni
kemunduran perkembangan pada anak-anak yang makin memberat. Jika tidak
tertangani dengan baik, dapat mempengaruhi kemampuan yang lain, khususnya aspek
psikologi dari anak itu sendiri. Salah satunya, anak akan mengalami depresi akibat
ketidakmampuan dirinya dalam menghadapi permasalahannya. Sehingga anak itu
dapat bersikap negatif atau agresif.

j. Bagaimana prognosis pada kasus?


z. Prognosis KPG pada anak-anak dipengaruhi oleh pemberian terapi dan
penegakkan diagnosis lebih dini (early identification and treatment). Dengan
pemberian terapi yang tepat, sebagian besar anak-anak memberikan respon yang baik
terhadap perkembangannya. Walau beberapa anak tetap menjalani terapi hingga
dewasa. Hal tersebut karena kemampuan anak itu sendiri dalam menanggapi
terapinya. Beberapa anak yang mengalami kondisi yang progresif (faktor-faktor yang
dapat merusak sistem saraf seiring berjalannya waktu), akan menunjukkan
perkembangan yang tidak berubah dari sebelumnya atau mengalami kemunduran.
Sehingga terapi yang dilakukan yakni meningkatkan kemampuan dari anak tersebut
untuk menjalani kesehariannya.

k. Apa SKDI pada kasus?

aa. Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk

ab. Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut
dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya.
Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan

ac. IV. Sintesis Masalah


ad.
1 Tahap Perkembangan

A. Definisi Perkembangan
ae. Banyak ahli yang memberikan definisi yang berbeda tentang perkembangan
namun intinya sama. Ikatan dokter Anak Indonesia memberikan pengertian
perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dan struktur/ fungsi tubuh yang
lebih kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirakan dan diramalkan sebagai
hasil dari proses diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ-organ dan sistemnya
terorganisasi (IDAI, 2002).
af. Perkembangan (development) adalah suatu proses bertambahnya struktur dan
fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus,
bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian yang memilki pola yang tetap,
berurutan dan berlangsung secara terus-menerus sebagai hasil dari proses menuju
kematangan atau dewasa (maturation). Bila terjadi keterlambatan perkembangan
maka akan mempengaruhi perkembangan di tahap selanjutnya.
ag. Tumbuh kembang anak memiliki prinsip umum. Adapun prinsip umum
tumbuh kembang, yaitu:
1) Perkembangan menimbulkan perubahan
2) Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan
selanjutnya
3) Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
4) Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
5) Perkembangan mempunyai pola yang tetap
6) Perkembangan memiliki tahap yang berurutan
7) Perkembangan memiliki hubungan yang erat dengan maturasi SSP
8) Arah Perkembangan berupa Sefalokaudal atau Proksimodistal

ah. Perkembangan secara umum terdiri dari empat sektor perkembangan, yaitu:

1. Perkembangan kemampuan gerak kasar


ai. Semua gerakan yang dilakukan oleh tubuh disebut kemampuan motorik.
Perkembangan motorik adalah tercapainya kematangan pengendalian gerak
tubuh yang berkaitan erat dengan perkembangan pusat motorik di otak.
Gerakan motorik pada anak dapat lebih jelas dibedakan menjadi gerakan
motorik kasar dan gerakan motorik halus.Gerakan motorik kasar adalah
gerakan yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan
dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti berjalan, gerakan
duduk, berdiri, membalik dari telungkup menjadi telentang atau sebaliknya dan
lain-lain.
2. Perkembangan kemampuan gerak halus
aj. Gerakan motorik halus adalah gerakan berhubungan dengan kemampuan anak
melakukan gerakan yang melibatkan bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh
otototot kecil serta memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati
sesuatu, gerakan mengambil suatu benda dengan hanya menggunakan ibu jari
dan telunjuk tangan, menulis, menari, dan lain-lain.
3. Perkembangan kemampuan bicara, bahasa, dan kecerdasan
ak. Kemampuan berkomunikasi diperlukan anak untuk saling mengerti satu sama
lain. Komunikasi aktif dan komunikasi pasif perlu dikembangkan secara
bertahap. Anak dilatih untuk mau dan mampu berkomunikasi aktif (berbicara,
mengucapkan kalimat-kalimat, menyanyi dan bentuk ungkapan lisan lainnya)
dan berkomunikasi pasif (anak mampu mengerti orang lain).
4. Perkembangan kemampuan personal sosial
al. Seorang anak pada awal kehidupan masih bergantung pada orang lain untuk
memenuhi kebutuhannya (misal: makanan, pakaian, kesehatan, kasih sayang,
pengertian, rasa aman, dan kebutuhan akan perangsangan mental, sosial, dan
emosional).
B. Tahap Perkembangan
am. Tahapan perkembangan khususnya tahap batita merupakan tahapan
perkembangan penting karena pada tahap ini perkembangan mencapai kecepatan
yang optimal. Berdasarkan panduan yang digunakan di Indonesia, terdapat tahapan
perkembangan anak menurut usia dikelompokkan menjadi beberapa tahapan usia,
yaitu:
an.
ao.
ap.
aq.
ar.
as.
at.
au.

C. Faktor faktor yang Mempengaruhi Perkembangan


av. Pada setiap periode tumbuh kembang terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi:
1) Faktor-faktor prenatal
- Nutrisi Ibu
aw. Kekurangan nutrisi sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu
hamil lebih sering menyebabkan bayi BBLR atau lahir mati dibandingkan
cacat bawaan. Efek lain dari kekurangan nutrisi pada saat kehamilan dapat
menyebabkan hambatan pertumbuhan otak, bayi baru lahir lebih mudah
terkena infeksi, anemia, abortus.
- Penyakit Metabolik /Hormonal Ibu
ax. Banyak hormon yang berperan pada pertumbuhan janin yaitu insulin,
hormon plasenta, somatotropin peptida-peptida lainnya dan tiroid. Defisiensi
hormon mengakibatkan pertumbuhan susunan saraf pusat terganggu sehingga
dapat terjadi retardasi mental, cacat bawaan, dan lain-lain.
- Bahan Kimia, Mekanik dan Radiasi
ay. Proses organogenesis pada kehamilan trisemester I yang merupakan
masa yang sangat peka terhadap paparan zat teratogenik. Pemberian beberapa
jenis obat, seperti thalidomide, methadion, phenitoin, obat anti kanker dapat
menyebabkan kelainan bawaan. Trauma mekanik pada kehamilan dapat
menyebabkan perdarahan dan abortus. Radiasi pada janin sebelum usia 18
minggu menyebabkan mikrosefali, kerusakan otak, cacat bawaan lainnya dan
bahkan kematian sedangkan efek radiasi pada laki-laki dapat menyebabkan
cacat bawaan pada anaknya.
- Penyakit Infeksi Kehamilan
az. Infeksi intrauterin yang dikaitkan dengan cacat bawaan adalah
Toxoplasma, Others, Rubella, Cytomegallo virus, Herpes Simplex (TORCH),
dll.
- Gangguan Imunitas
- Stress/Psikologi ibu
- Preeklampsia/ Eklampsia
ba.
2) Faktor Perinatal
- Usia Kehamilan
bb. Usia kehamilan berhubungan dengan maturitas otak janin. Kelahiran
prematur menyebabkan perubahan perkembangan substansia alba pada otak
secara mikroskopis yang merupakan faktor risiko terjadinya gangguan
perilaku di masa yang akan datang, seperti Attention Deficit Hyperactivity
Disorder (ADHD) dan autisme.
- BBLR
bc. Berat badan lahir rendah bila berat lahir kurang dari 2500 gram.
Penelitian Wulandari ME menunjukkan bahwa anak usia balita dengan riwayat
Berat badan lahir rendah / BBLR memiliki risiko gangguan perkembangan
motorik halus 27,6 kali dibandingkan anak normal dan risiko gangguan
perkembangan motorik kasar 8,18 kali lebih besar dibandingkan anak yang
nomal.
- Asfiksia Neonatus
bd. Kejadian asfiksia neonatorum dapat menyebabkan terjadinya neonatal
encephalopathy yang berdampak pada perkembangan anak di masa yang akan
datang.
- Hiperbilirubinemia
3) Faktor Pascanatal
- Adanya kelainan genetik/kongenital anak Kelainan genetik/ kongenital anak
merupakan salah satu fakor yang mempengaruhi perkembangan anak. Anak
dengan Sindrom Down mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang
mengalami keterlambatan disebabkan oleh hipotonia otot, perkembangan otak
yang terhambat dan secara tidak langsung mempengaruhi proses tumbuh
kembang anak Sindrom Down, yaitu penyakit jantung kongenital.
- Kelainan hormonal anak Tumbuh dan berkembang anak memerlukan suatu
homeostasis fungsi hormonal tumbuh. Anak dengan hipotiroid biasanya
tumbuh kembang menjadi lebih lambat akibat kecepatan metabolisme dalam
tubuh yang lambat.
- Status gizi anak
- Lingkar kepala
be. Penelitian Gunn CA, et al (2013) menunjukkan bahwa lingkar kepala
dapat digunakan untuk menilai pertumbuhan massa otak59 dan penelitian
Cheong JLY, et al (2008) menunjukkan bahwa lingkar kepala dapat
berhubungan dengan kognitif anak. Lingkar kepala yang terlalu besar sering
dikaitkan dengan kejadian autisme pada anak. Penelitian lain menunjukkan
bahwa penurunan kecepatan pembesaran lingkar kepala berhubungan dengan
gangguan perkembangan pada usia 1-24 bulan.
- ASI eksklusif
bf. Pemberian ASI eksklusif dianjurkan oleh WHO selama 6 bulan
pertama. Terdapat beberapa keuntungan pemberian ASI eksklusif pada 6 bulan
pertama kehidupan anak, yaitu terbangunnya hubungan emosional antar ibu
dan anak, pemberian ASI eksklusif pada anak dapat meningkatkan
perkembangan fisik dan mental anak.
- Riwayat Sakit Berat/Infeksi
- Psikososial anak
- Sosial Ekonomi
- Stimulasi Keluarga

2. Nutrisi dan Pola Makan pada Batita

bg. Gizi Seimbang untuk Bayi 0-6 bulan

bh. Gizi seimbang untuk bayi 0-6 bulan cukup hanya dari ASI. ASI merupakan
makanan yang terbaik untuk bayi oleh karena dapat memenuhi 9 semua zat gizi
yang dibutuhkan bayi sampai usia 6 bulan, sesuai dengan perkembangan sistem
pencernaannya, murah dan bersih. Oleh karena itu setiap bayi harus
memperoleh ASI Eksklusif yang berarti sampai usia 6 bulan hanya diberi ASI
saja.

bi. Gizi Seimbang untuk Anak 6-24 bulan

bj. Pada anak usia 6-24 bulan, kebutuhan terhadap berbagai zat gizi semakin
meningkat dan tidak lagi dapat dipenuhi hanya dari ASI saja. Pada usia ini anak
berada pada periode pertumbuhan dan perkembangan cepat, mulai terpapar
terhadap infeksi dan secara fisik mulai aktif, sehingga kebutuhan terhadap zat
gizi harus terpenuhi dengan memperhitungkan aktivitas bayi/anak dan keadaan
infeksi. Agar mencapai gizi seimbang maka perlu ditambah dengan Makanan
Pendamping ASI atau MP-ASI, sementara ASI tetap diberikan sampai bayi
berusia 2 tahun. Pada usia 6 bulan, bayi mulai diperkenalkan kepada makanan
lain, mula-mula dalam bentuk lumat, makanan lembik dan selanjutnya beralih
ke makanan keluarga saat bayi berusia 1 tahun. Ibu sebaiknya memahami
bahwa pola pemberian makanan secara seimbang pada usia dini akan
berpengaruh terhadap selera makan anak selanjutnya, sehingga pengenalan
kepada makanan yang beranekaragam pada periode ini menjadi sangat penting.
Secara bertahap, variasi makanan untuk bayi usia 6-24 bulan semakin
ditingkatkan, bayi mulai diberikan sayuran dan buah-buahan, lauk pauk sumber
protein hewani dan nabati, serta makanan pokok sebagai sumber kalori.
Demikian pula jumlahnya ditambahkan secara bertahap dalam jumlah yang
tidak berlebihan dan dalam proporsi yang juga seimbang.

bk. Gizi Seimbang untuk Anak usia 2-5 tahun

bl. Kebutuhan zat gizi anak pada usia 2-5 tahun meningkat karena masih berada
pada masa pertumbuhan cepat dan aktivitasnya tinggi. Demikian juga anak
sudah mempunyai pilihan terhadap makanan yang disukai termasuk makanan
jajanan. Oleh karena itu jumlah dan variasi makanan harus mendapatkan
perhatian secara khusus dari ibu atau pengasuh anak, terutama dalam
memenangkan pilihan anak agar memilih makanan yang bergizi seimbang.
Disamping itu anak pada usia ini sering keluar rumah sehingga mudah terkena
penyakit infeksi dan kecacingan, sehingga perilaku hidup bersih perlu
dibiasakan untuk mencegahnya.

bm. Makanan Bayi Umur 0-6 Bulan

bn. Berikan hanya ASI saja sampai berumur enam bulan (ASI Eksklusif). Kontak
fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI terutama 30 menit
pertama setelah lahir. Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi
kebutuhan gizi bayi. Berikan ASI dari kedua payudara, berikan ASI dari satu
payudara sampai kosong kemudian pindah ke payudara lainnya (Depkes RI,
2005). Kolostrum jangan dibuang tetapi harus segera diberikan pada bayi.
Walaupun jumlahnya sedikit, namun sudah memenuhi kebutuhan gizi bayi
pada hari-hari pertama. Pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga bayi berusia
dua tahun. Waktu dan lama menyusui tidak perlu dibatasi dan frekuensinya
tidak perlu dijadwal (diberikan pagi, siang dan malam hari). Serta sebaiknya
jangan memberikan makanan atau minuman (air kelapa, air tajin, air teh, madu,
pisang, dan lain-lain) pada bayi sebelum diberikan ASI karena sangat
membahayakan kesehatan bayi dan mengganggu keberhasilan menyusui.

bo. Makanan Bayi Umur 6-9 Bulan

bp. Hal-hal yang harus diperhatikan:

a. Pemberian ASI diteruskan.

b. Bayi mulai diperkenalkan dengan MP-ASI berbentuk lumat halus karena bayi
sudah memiliki refleks mengunyah. Contoh MP-ASI berbentuk halus antara lain
bubur susu, biskuit yang ditambah air atau susu, pisang dan pepaya yang dilumatkan.
Berikan untuk pertama kali satu jenis MP-ASI dan berikan sedikit demi sedikit mulai
dengan jumlah 1-2 sendok makan, 1-2 kali sehari. Berikan untuk beberapa hari secara
tetap, kemudian baru diberikan jenis MP-ASI yang lain.

c. Perlu diingat tiap kali berikan ASI lebih dulu baru MP-ASI, agar ASI dimanfaatkan
seoptimal mungkin. d. Memperkenalkan makanan baru pada bayi, jangan dipaksa.
Kalau bayi sulit menerima, ulangi pemberiannya pada waktu bayi lapar, sedikit demi
sedikit dengan sabar, sampai bayi terbiasa dengan rasa makanan tersebut.

Makanan Bayi Umur 9-12 Bulan

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

a. Pemberian ASI diteruskan.

b. Bayi mulai diperkenalkan dengan makanan lembek yaitu berupa nasi tim/ saring
bubur saring dengan frekuensi dua kali sehari.

c. Untuk mempertinggi nilai gizi makanan, nasi tim bayi ditambah sedikit demi
sedikit dengan sumber zat lemak, yaitu santan atau minyak kelapa/ margarin. Bahkan
makanan ini dapat menambah kalori bayi, disamping memberikan rasa enak juga
mempertinggi penyerapan vitamin A dan zat gizi lain yang larut dalam lemak. Nasi
tim bayi harus diatur secara berangsur. Lambat laun mendekati bentuk dan kepadatan
makanan keluarga.
d. Berikan makanan selingan 1 kali sehari. Dipilih makanan yang bernilai gizi tinggi,
seperti bubur kacang hijau, buah dan lain-lain. Diusahakan agar makanan selingan
dibuat sendiri agar kebersihan terjamin.

Jenis Makanan Bayi

Air Susu Ibu (ASI) ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar mamae
wanita melalui proses laktasi. ASI juga mengandung sejumlah zat penolak bibit
penyakit antara lain laktoferin, immunoglobulin, dan zat lainnya yang melindungi
bayi dari berbagai penyakit infeksi. Pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya
diberi ASI saja tanpa tambahan cairan/ makanan. Pemberian ASI secara eksklusif
dianjurkan untuk jangka waktu setidaknya selama 6 bulan. ASI dapat diberikan
sampai berusia 2 tahun.

Susu formula adalah susu komersil yang dijual dipasar atau ditoko, biasanya terbuat
dari susu sapi atau susu kedelai diperuntukkan khusus untuk bayi. Susu formula dapat
diberikan sebagai pengganti ASI dalam keadaan sebagai berikut:

a. ASI tidak keluar sama sekali sebagai pengganti ASI adalah susu formula. b. Ibu
meninggal sewaktu melahirkan.

c. ASI keluar tetapi jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi. Selain
susu bayi yang diberikan kepada bayi sehat, produsen susu bayi juga membuat
formula-formula khusus untuk diberikan kepada bayi dengan kelainan metabolisme
tertentu agar bayi tersebut tetap dapat tumbuh normal, baik fisik atau kejiwaanya.
Susu formula semacam ini dikenal dengan formula diit atau special formula (Moehyi,
2008). Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2002
menunjukkan bahwa pemberian susu formula kerap kali dilakukan pada bayi kurang
dari 2 bulan. Hal ini terjadi karena ibu bekerja kembali saat bayi berusia 6-8 minggu.
Oleh sebab itu, cakupan pemberian susu formula meningkat tiga kali lipat dalam
kurun waktu antara 1997 sebesar 10,8% menjadi 32,4% di tahun 2002.

Makanan Pendamping ASI Menurut Depkes RI (2006), makanan pendamping ASI


adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau
anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI. Selain itu, WHO
(2003) menegaskan bahwa MP-ASI harus diberikan setelah anak berusia 6 bulan
karena pada masa tersebut produksi ASI semakin menurun sehingga supply zat gizi
dan ASI tidak lagi memenuhi kebutuhan gizi anak yang semakin meningkat. Makanan
pendamping ASI untuk bayi sebaiknya memenuhi persyaratan, seperti memenuhi
kecukupan gizi, susunan hidangan memenuhi pola menu seimbang dan
memperhatikan selera terhadap makanan, bentuk dan porsi disesuaikan dengan daya
terima, toleransi, dan keadaan faali anak, serta memperhatikan sanitasi/ higiene
(Pudjiadi, 2005). Tujuan memberikan makanan pendamping ASI adalah melengkapi
zat gizi yang kurang terdapat dalam ASI/ susu formula, mengembangkan kemampuan
bayi untuk menerima bermacam makanan dengan berbagai tekstur dan rasa,
mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan, dan melakukan
adaptasi terhadap makanan yang mengandung kalor energi yang tinggi.

Kebutuhan Zat Gizi

Pada Bayi Setiap bayi memerlukan nutrisi yang baik dan seimbang. Artinya, setiap
bayi memerlukan nutrisi dengan menu seimbang dan porsi yang tepat, tidak
berlebihan dan disesuaikan dengan kebutuhan tubuhnya. Jika pemberian nutrisi pada
bayi kurang baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya maka pertumbuhan dan
perkembangannya akan berjalan lambat. Sebaliknya, jika pemberian nutrisi melebihi
kapasitas yang dibutuhkan akan menyebabkan kegemukan yang mengakibatkan
pertumbuhan dan perkembangan bayi menjadi terganggu. Energi atau kalori sangat
berpengaruh terhadap laju pembelahan sel dan pembentukkan struktur organ-organ
tubuh. Apabila energi berkurang maka proses pembelahan sel akan terganggu dapat
mengakibatkan organ-organ tubuh dan otak bayi mempunyai sel-sel yang lebih sedikit
dari pada pertumbuhan normal. Protein sebagai zat pembangun sangat diperlukan bayi
untuk pembuatan selsel baru dan merupakan unsur pembentukkan berbagai struktur
organ tubuh (Asydhad, 2006).

Pisang

Pisang adalah tanaman herba yang berasal dari kawasan Asia Tenggara. Tanaman
pisang menyukai daerah alam terbuka yang cukup sinar matahari, cocok tumbuh di
dataran rendah sampai pada ketinggian 1000 meter lebih diatas permukaan laut. Pada
dasarnya tanaman pisang merupakan tumbuhan yang tidak memiliki batang sejati.
Batang pohonnya terbentuk dari perkembangan dan pertumbuhan pelepahpelepah
yang mengelilingi poros lunak panjang. Batang pisang yang sebenarnya terdapat pada
bonggol yang tersembunyi di dalam tanah. Berdasarkan manfaatnya bagi kepentingan
manusia, pohon pisang dibedakan atas tiga macam, yaitu:

1. Pisang serat

Pisang serat adalah tanaman pisang yang tidak untuk diambil buahnya, tetapi diambil
seratnya. Serat pisang dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pakaian.

2. Pisang hias

Seperti halnya pisang serat, pisang hias juga tidak dimanfaatkan untuk diambil
buahnya. Jenis pisang ini memiliki morfologi daun yang indah sehingga cocok
dijadikan tanaman penghias halaman rumah atau pinggir jalan.

3. Pisang buah

Pisang jenis ini sudah tidak asing lagi karena paling banyak dijumpai. Pisang buah
ditanam dengan tujuan untuk dimanfaatkan buahnya. Pisang buah dapat dibedakan
menjadi 4 golongan.

a. Golongan pertama adalah pisang yang dapat dimakan langsung setelah masak,
misalnya pisang susu, pisang barangan, pisang mas, dan pisang raja. b.
Golongan kedua adalah pisang yang dapat dimakan setelah diolah terlebih
dahulu, misalnya pisang tanduk, pisang uli, pisang kapas, dan pisang
bangkahulu.

c. Golongan ketiga adalah pisang yang dapat dimakan langsung setelah masak
maupun diolah terlebih dahulu, misalnya pisang kepok, pisang raja, dan pisang awak.

d. Golongan keempat adalah pisang yang dapat dikonsumsi sewaktu masih mentah,
misalnya pisang klutuk atau pisang batu yang sering dijadikan bahan untuk membuat
rujak (Supriyadi dan Suyanti, 2008). Buah pisang mempunyai kandungan gizi yang
baik, antara lain menyediakan energi yang cukup tinggi dibandingkan dengan buah-
buahan yang lain. Pisang kaya akan vitamin dan mineral seperti kalium, magnesium,
besi, fosfor, dan kalsium. Oleh karena itu, buah pisang kerap digunakan sebagai
makanan pemula yang diberikan pada bayi. Hasil penelitian Widodo (2003),
mengungkapkan bahwa di Indonesia jenis MP-ASI yang umum diberikan kepada bayi
sebelum usia 4 bulan adalah pisang 57,3%. Hal yang sama juga diperoleh dari
penelitian Saragih (2008) yang dilakukan di Kabupaten Nias Selatan sebanyak 87,0%
jenis MP-ASI yang diberikan kepada bayi adalah dalam bentuk bubur dan buah.
Bubur yang diberikan berupa nasi tim dan ditambah dengan lauk-pauk, dan buah yang
sering diberikan adalah pisang.

3. Cerebral Palsy

bq. Definisi
br. Definisi menurut consensus internasional 2006, palsi serebral
adlaah suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif, karena
suatu kerusakan/gangguan pada sel motoric di susunan saraf pusat yang
sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya.
bs. Hal yang masih menjadi kontroversi adalah sampai umur
berapa otak yang dikatakan sedang tumbuh. Pemakaian istilah serebral juga
kurang tepat, karena yang mengalami kerusakan bukan hanya bagian korteks,
tetapi juga mengenai ganglia basalis, pons, pusat pada bagian subkortikal otak
tengah (midbrain), atau serebelum. Istilah palsi juga kurang tepat, pada palsi
serebral jarang ditemukan paralisis, melainkan yang Nampak adalah hipotoni,
spastisitas, gerakan yang berlebihan, atau gangguan kontrol motoric.
bt. Etiologi dan Patogenesis
bu. Manifestasi klisis dari serebral palsi dapat disebabkan karena
adanya abnormalitas structural dari otak; kerusakan yang terjadi pada prenatal,
perinatal, atau postnatal karena insufisiensi vascular; toksin atau infeksi; atau
resiko patofisiologis dari prematuritas. Hal ini termasuk dari kelahiran
premature, gestasi multiple, IUGR, jenis kelamin laki-laki, skor Apgar rendah,
infeksi intrauterine, abnormalitas tiroid maternal, strokes prenatal, asfiksia
perinatal, paparan metil merkuri maternal, dan defisiensi iodine maternal.
Penelitian menunjukkan bahwa faktor prenatal mengakibatkan 70-80% kasus
serebral palsi. Etiologi pasti sulit diketahui, karena kadang-kadang terdapat
lebih dari satu etiologi.
bv. Apabila ditemukan lebih dari satu anak dalam keluarga yang
menderita kelainan ini, kemungkinan besar penyebabnya adalah faktor
genetic. Adapun studi dari Norwegia pada anak dengan serebral palsi yang
didiagnosis sebelum umur 5 tahun berhubungan dengan skor Apgar yang
rendah pada menit ke 5. Prevalensi tertinggi terjadi pada anak dengan berat
lahir rendah; tetapi rationya lebih tinggi pada skor Apgar yang rendah (<4)
pada anak dengan berat lahir normal. Kelahiran preterm merupakan faktor
resiko pada serebral palsi, tetapi pada kehamilan postterm pada 42 minggu
atau lebih juga berhubungan dengan meningkatnya resiko dari serebral palsi.
bw. Kelainan kromosom atau pengaruh zat teratogen, yang terjadi
pada 8 minggu pertama kehamilan, dapat erpengaruh pada proses
embryogenesis, sehingga dapat menyebabkan kelainan yang ebrat. Pengaruh
zat teratogen setelah trimester pertama akan mengganggu maturase otak.
Infeksi pada janin, yang terjadi pada masa pertumbuhan janin, akan
mengakibatkan kerusakan pada otak. Kejadian hipoksik-iskemik dapat
mengakibatkan kelainan mikroanatomi sekunder akibat dari gangguan migrasi
neural crest. Komplikasi perinatal tipe hipoksik-iskemik dapat mengakibatkan
iskemik atau infark otak. Bayi premature sangat rentan terhadap kemungkinan
terjadinya kondisi ini. Penyebab pascanatal antara lain adalah infeksi,
meningoensefalitis, trauma kepala. Racun yang berasal dari lingkungan seperti
gas CO atau logam berat dapat juga mengakibatkan palsi serebral.
bx.
by.
bz. Faktor Resiko
1. Faktor ibu
a. Siklus menstruasi yang panjang
b. Riwayat keguguran sebelumnya
c. Riwayat bayi lahir mati
d. Ibu dengan retardasi mental
e. Ibu dengan penyakit tiroid, terutama defisiensi yodium
f. Kejang pada ibu
g. Riwayat melahirkan anak dengan berat badan kurang dari 2000 gram
h. Riwayat melahirkan anak dengan deficit motoric, retardasi mental atu deficit
sensori
2. Faktor prenatal
a. Polihidramnion
b. Ibu dalam pengobatan hormon tiroid, progesterone atau estrogen
c. Ibu dengan proteinuria berat atau hipertensi
d. Ibu terpapar merkuri
e. Multiple/malformasi kongenital mayor pada bayi/kelainan genetic
f. Bayi laki-laki/kehamilan kembar
g. Perdarahan pada trimester ketiga kehamilan
h. Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterine (IUGR)
i. Infeksi virus kongenital (HIV, TORCH)
j. Radiasi Faktor-faktor resiko CP
k. Asfiksia intrauterine (abrupsio plasenta, plasenta previa, masalah lain pada
plasenta, anoksia maternal, kelainan umbilicus, ibu hipertensi, toksemia
Prematuritas, BBLR Hipoksia intrauterine Perdarahan otak
gravidarum)
l. DIC oleh karena kematian prenatal salah satu bayi kembar
3. Faktor perinatal
Enzim, faktor pembekuan belum sempurna
a. Bayi premature, umur kehamilan kurng dari 30 minggu
b. Berat badan lahir kurang dari 1500 g
Hipoksia pada otak
c. Korioamnionitis
d. Bayi bukan letak kepala
Perdarahan otak
e. Asfiksia perinatal berat Lesi pada otak
f. Keadaan hipoglikemi lama atau menetap
g. Kelainan jantung bawaan sianosis
4. FaktorDipascanatal
ruang subdural
a. Infeksi (meningitis, ensefalitis yang terjadi pada 6 bulan pertama kehidupan)
b. Perdarahan intracranial (pada Lobus frontal
bayi tidak bisamalformasi
premature, menekan refleks primitif darah atau
pembuluh
Menekan motor korteks serebri
trauma kepala)
c. Leukomalasia periventricular
d. Hipoksik-iskemik (pada aspirasi meconium), HIE
Refleks moro dan (hipoksik
menggengam masihiskemik
ada
ensefalopati)
CP spastik
e. Kern-ikterus
f. Persistent fetal circulation atau persistent pulmonary
Kelemahan hypertension
otot-otot untuk mengunyah of the
Gangguan pada UMN
newborn
g. Penyakit metabolic
h. Racun: logam berat, gas CO Tidak bisa makan nasi, hanya makan bubur dan susu
Lengan dan tungkai kaku, susah untuk digerakkan, kedua tungkai saling menyilang

Ditmbah krn BBLR menyebabkan gagal mengejar pertum


Intake kalori kurang
KEP

BB rendah
TB rendah

ca. Patofisiologi
cb. Tahap mayor perkembangan otak pada manusia:
LK kecil
mikrosefali
Neurulasi primer minggu 3-4 gestasi
Perkembangan prosensefali bulan 2-3 gestasi
Proliferasi neuronal bulan 3-4 gestasi
Migrasi neuronal bulan 3-5 gestasi
Organisasi bulan 5 gestasi sampai postnatal
Myelinisasi setelah lahir sampai postnatal
cc. Studi kohort menunjukkan adanya peningkatan resiko serebral
palsi pada anak yang lahir hampir preterm (37-38 minggu) atau postterm (42
minggu) dibandingkan dengan anak yang lahir 40 minggu.
1. Kerusakan pada otak atau perkembangan otak abnormal
cd. Kerusakan atau perkembangan yang abnormal dapat terjadi pada tahap
manapun, mengakibatkan manifestasi klinis bervariasi pada serebral palsi.
Kerusakan serebral sebelum minggu 20 gestasi dapat menyebabkan deficit migrasi
neuronal, kerusakan pada minggu 26 dan 34 dapat menyebabkan periventricular
leukomalacia (focus nekrosis koagulatif pada white matter yang berdekatan dengan
ventrikel lateral), kerusakan pada minggu 34 dan 40 dapat menyebabkan kerusakan
otak fokal atau multifocal.
ce. Kerusakan otak karena insufisiensi vascular tergantung pada faktor
yang bervariasi pada saat terjadinya kerusakan, termasuk distribusi vascular pada
otak, efisiensi dari aliran serebral dan regulasi aliran darah, dan respon biokimia
dari jaringan otk akibat berkuranganya oksigenasi
2. Prematuritas dan vaskulatur serebral
cf. Sebelum aterm, distribusi dari sirkulasi fetal ke otak terjadi karena
adanya kecenderungan hipoperfusi pada white matter periventrikuler. Hipoperfusi
dapat menyebabkan perdarahan matriks germinal atau periventricular
leukomalasia. Antara minggu 26-34 gestasi, periventricular white matter yang
terletak dengan dengan ventrikel lateral sangat rentan terhadap kerusakan. Area ini
membawa serat yang bertanggung jawab pada kontrol motrik dan tonu otot pada
kaki, kerusakan disini dapat menyebabkan diplegia spastik (predominan spastisitas
dan kelemahan pada kaki, dengan atau tanpa keterlibatan lengan pada derajat yang
lebih ringan)
3. Periventricular leukomalacia
cg. Ada dua faktor penting yang berkontribusi pada terjadinya
periventricular leukomalacia, yaitu hipoksik-iskemik dan infeksi/inflamasi.
ch. Periventricular white matter pada otak neonatal disuplai oleh segmen
distal arteri serebral yang berdekatan dengan area tersebut. Walaupun aliran darah
kolateral dari dua sumber arterial dapat melindungi area tersebut saat arteri tersebut
terobstruksi (contoh: stroke tromboembolik), zona watershed ini rentan terhadap
kerusakan akiabt hipoperfusi serebral (akibat penurunan aliran darah serebral ke
otak). Pada prematuritas dan tepat aterm memiliki aliran darah ke otak yang
rendah, periventricular white matter rentan terhadap iskemia. Autoregulasi dari
aliran darah serebral biasanya dapat melindungi otak fetus dari hipoperfusi, tetapi
terbatas pada janin premature karena imaturitas dari mekanisme vasoregulator dan
underdevelopment dari otot polos arteriolar.
ci. Pada infeksi dan inflamasi, proses ini melibatkan aktivasi sel
microglial (makrofag pada otak) dan pelepasan sitokin, yang menyebabkan
kerusakan pada sel spesifik pada otak dalam tahap perkembangan yaitu
oligodendrosit. Oligodendrosit merupakan sel otak suportif yang melapisi neuron
untuk membentuk myelin, yang diperlukan untuk perkembangan white matter.
Infeksi intrauterine mengaktivasi sistem imun fetal, yang memproduksi sitokin
(seperti IFN dan TNF) yang bersifat toxic untuk premyelinating oligodendrosit.
Infeksi juga mengaktifkan sel microglial, yang melepaskan radikal bebas.
Premyelinating oligodendrosit memiliki pertahanan imatur terhadap spesies
oksigen reaktif (seperti pada rendahnya produksi glutathione, antioksidan).
cj. Excitotoxicity adalah proses dimana terjadi peningkatan level
glutamate ekstraselular yang menstimulasi oligodendrosit untuk meningkatkan
influx kalsium, yang menstimulasi pelepasan ROS. Glutamate meningkat akibat
hipoksia yang menyebabkan sel white matter menurunkan reuptake glutamate
karena kurangnya energi untuk mengoperasi pompa glutamate. Glutamate juga
dikeluarkan dari sel microglial akibat respon inflamasi.
4. Perdarahan periventricular-intraventricular
ck. Perdarahan intraventricular merupakan perdarahan dari matriks
subependymal (asal dari sel otak fetus) ke ventrikel otak. Pembuluh darah disekitar
ventrikel berkembang pada trimester 3 akhir, karena itu bayi premature memiliki
pembuluh darah periventricular yang underdeveloped, yang menjadi predisposisi
peningkatan resiko terjadinya perdarahan intraventricular. Terdapat hipotesis
bahwa perdarahan ini dapat menyebabkan periventricular leukomalacia karena
darah yang kaya besi menyebabkan konversi hidrogen peroksida ke radikal
hidroksil yang dimediasi besi, menyebabkan kerusakan oksidatif.
5. Term cerebral vascular dan kerusakan akibat hipoperfusi
cl. Pada bayi aterm, dimana sirkulasi pada otak sangat mirip dengan
sirkulasi serebral pada dewasa, kerusakan vascular pada saat ini cenderung sering
terjadi pada distribusi dari arteri serebral media, yang menyebabkan serebral palsi
spastik hemiplegik. Otak yang aterm juga rentan terhadap hipoperusi, yang sering
terkena pada area watershed pada korteks (contohnya pada bagian distal pada arteri
serebral utama), menyebabkan serebral palsi spastik quadriplegic. Basal ganglia
juga dapat terkena, meyebabkan serebral palsi ekstrapiramidal atau diskinetik.
cm. Klasifikasi
1. Berdasarkan gejala klinis

cn.
2. Berdasarkan kemampuan fungsional
a. Ringan
co. Penderita masih dapat melakukan pekerjaan/aktivitas sehari-hari,
sehingga hanya sedikit membutuhkan bantuan.
b. Sedang
cp. Aktivitas sangat terbatas sekali. Penderita membutuhkan bermacam-
macam bantuan/pendidikan khusus agar dapat mengurus dirnya sendiri,
bergerak, atau berbicara, sehingga dapat bergaul di tengah masyarakat dengan
baik.
c. Berat
cq. Penderita sama sekali tidak dapat melakukan aktivitas fisik dan tidak
mungkin hidup tanpa pertolongan orang lain. Pendidikan/latihan khusus sangat
sedikit hasilnya. Sebaiknya penderita seperti ini ditampung pada tempat
perawatan khsuus, terutama bila disertai dengan retardasi mental atau yang
diperkirakan akan menimbulkan gangguan social-emosional, baik bagi
keluarga maupun lingkungannya.
cr. Palisano dkk, 2007 membagi berdasarkan derajat kemampuan fungsional
sebagai berikut
cs. Gambaran umum tingkat kelompok umur 4-6 tahun:
- Tingkat I : penderita dapat berjalan tanpa batasan
- Tingkat II : penderita dapat berjalan dengan batasan
- Tingkat III : penderita dapat berjalan menggunakan alat bantu tongkat
- Tingkat IV : penderita dapat memobilisasi diri sendiri dengan batasan,
dapat menggunakan kursi roda otomatis
- Tingkat V : penderita menggunakan kursi roda yang dikendalikan orang
lain
3. Berdasarkan tingkat keparahan palsi serebral dapat dinilai dari fungsi motoric yang
dapat dilakukan oleh penderita. Hal tersebut dilakukan dengan menggunakan gross
motor calssifiaction system-expanded and revised (GMFCS ER). Pada uumnya
GMFCS ER melakukan klasifikasi berdasarkan kemampuan penderita dalam
melakukan inisiasi gerakan motor sendiri. Klasifikasi tersebut dibagi dalam 2
kelompok umur, yaitu untuk anak kurang dari 2 tahun dan untuk anak di atas 2
tahun.

ct.
cu.
cv. Diagnosis dan Gejala Klinis
cw. Manifestasi klinis serebral palsi tergantung pada lokasi yang terkena,
yaiut pakah kelainan terjadi secara luas di korteks dan batang otak, atau hanya
terbatas pada daerah tertentu. Untuk diagnosis serebral palsi, diperlukan beberapa
pemeriksaan. Terutama untuk kasus baru atau yang belum kita kenal, harus dipastikan
baha proses gangguan otak tersebut tidak progresif. Untuk itu, diperlukan anamnesis
yang cermat dan pengamatan yang cukup.
cx. Pemeriksaan perkembangan motoric, sensorik, dan mental perlu
dilakukan secermat mungkin.kelainan gerakan motoric dan postur merupakan ciri
utama, tetapi sering juga disertai dengan gangguan yang bukan motoric, seperti
kejang, retardasi mentl, gangguan psikologik, dan lainnya.
cy. Manifestasi gangguan motoric atau postur tubuh dapat berupa
spastisitas, rigitditas, ataksia, tremor, atonik/hipotonik, tidak adanya refleks primitive
(pada fase awal) atau refleks primitive menetap (pada fase lanjut), serta dyskinesia
(sulit melakukan gerakan volunteer). Gejala tersebut dapat timbul sendiri atau
merupakan kombinasi dari gejala di atas.
cz. Pada umumnya, diagnosis pada anak dibawah umur 6 bulan sulit
ditegakkan, karena pada umur di bawah 6 bulan tidak banyak milestone
perkembangan yang bisa dinilai. Karena itu untuk memudahkan diagnosis, Levine
(1960) membagi kelainan motoric pada palsi serebral menjadi 6 kategori berikut
(akronim POSTER):
1. Posturing/abnormal movements
da. Penderita mengalami gangguan posisi tubuh atau gangguan bergerak
2. Oropharyngeal problems
db. Penderita mengalami gangguan orofaring, seperti gangguan menelan dan
focus di lidah
3. Strabismus
dc. Kedudukan bola mata penderita tidak sejajar
4. Tone
dd. Penderita mengalami kelainan tonus, seperti hipertonus atau hipotonus
5. Evolutional maldevelopment
de. Evolusi perkembangan penderita terganggu, terdapat refleks primitive yang
menetap, atau refleks protective equilibrium gagal berkembang
6. Reflexes
df. Terdapat peningkata refleks tendon dalam atau menetapnya refleks
Babinski
dg. Diagnosis dapat ditegakkan apabila minimal terdapat 4 kelainan dari 6 kategori
motoric di atas dan disertai oleh proses penyakit yang tidak progresif.
dh. Menurut Illingworth (1987) diagnosis palsi serebral dapat ditegakkan dengan
cara sebagai berikut:
1. Tipe spastik
a. Umur 3 bulan pertama
- Pada bayi spastik, terdapat gerakan yang terbatas. Pada spastik
quadriplegia, tampak anggota gerak bawah dalam keadaan ektensi dan
lengan terletak kaku di dekat badan. Pada hemiplegi, satu tangannya
terletak erat di dekat badan dan terdapat gerakan yang asimetris
- Amati bentuk kepala, ekspresi wajah, dan perhatian bayi terhadap
sekelilingnya. Lakukan pengukuran lingkar kepala, lingkar kepala kecil
berhubungan dengan retardasi mental
- Angaktlah bayi dalam posisi tengkurap dengan memegang bagian lengan.
Akan tampak ekstensi kedua kaki, gerakan asimetris, dan kedua kaki saling
bersilangan
- Angkat bayi dalam posisi terlentang, maka kepala akan tampak terkulai,
tangan dan kaki tergantung bebas tanpa disertai fleksi pada siku atau lutut.
Ubah posisi bayi dengan posisi duduk, maka tampak leher terklai.
Gerakkan bayi ke kanan dank e kiri, perhatikan kemampuan mengontrol
kepala. Dudukkan bayi dalam posisi condong ke dean, maka bayi akan
segera terjatuh ke belakang karena spasme otot erector trunkus, gluteus dan
hamstring
- Periksa refleks primitif
b. Usia 4-8 bulan
- Amati kualitas dan simetrisitas gerakan anak
- Saat bermain kubus, perhatikan kekauan ketika anak meraih kubus tersebut
- Angkatlah anak dengan memegangnya pada setinggi dada di bawah lengan,
maka kaki akan tampak ekstensi
- Letakkan pada posisi terlentang, lakukan tes knee jerk, abduksi paha,
dorsofleksi sendi kaki; periksa adanya klonus, tes Oppenheim dan Gordon.
Pada anak hemiplegi, tampak anggota gerak lebih pendek dan lebih dingin
pada perabaan
- Perhatikan tanda retardasi mental dan ukur lingkar kepala, serta lakukan tes
pendengaran
c. Umur 9 bulan ke atas
- Perhatikan gejala-gejala tersebut di atas
- Berilah anak mainan kubus, suruh buat Menara, perhatikan adanya tremor
atau ataksia. Dapat pula anak diberi benang dan manik-manik, minta anak
meronce, misalnya membuat kalung
- Bila anak sedang berdiri atau berjalan, perhatikan apakahn berjalan
dengan ujung jari kaki atau apakah ada kelainan cara berjalan
- Beridirkan anak pada satu kaki, bila ada hemiplegi akan tampak jelas
- Perhatikan adanya tanda retardasi mental
2. Tipe athetoid
di. Bentuk khas kelainan ini adalah berupa ekstensi pada siku dan pronasi apda
pegelangan tangan. Tonus ekstensor meningkat, sehingga kepala terkulai kalau
anak didudukkan dari posisi tidur. Tipe ini sering disertai kesulitan menghisap dan
menelan. Gerakan athetosis dapat diamati kapan saja setelah anak berumur 6 bulan,
tersering pada 1 tahun. adanya kelainan ini dicurigai apabila terdapat ataksia ketika
anak meraih benda. Pada umur 1 tahun terdapat kseulitan untuk pandangan ertikal,
serta terdapat hypoplasia enamel gigi susu, dan tuli pada nada tinggi. Reaksi
plantar dan knee jerk normal, karena traktus piramidalis tidak terkena.
3. Tipe rigid
dj. Ciri khasnya adalah adanya rigiditas pada semua anggota gerak dan tidak
ditemukan kelainan pada traktus piramidaslis. Umumnya disertai dengan retardasi
mental.
4. Tipe ataksia
dk. Terdapat tanda-tanda ataksia ketika anak meraih benda, pada waktu duduk,
atau ketika berjalan
5. Tipe hipotonik
dl. Hampir semua anak dengan kelainan ini mengalmai retardasi mental. Lingkar
kepalanya kecil, terdapat gerakan yang meningkat; fit terdapat pada sepertiga
kasus. Reaksi plantar adalah ekstensor dan knee jerk meningkat sehingga dpaat
menyingkirkan hipotonia kongenital dan sindrom Werdnig-Hoffman.
dm.

dn. Untuk mendiagnosis palsi serebral, dapat juga dilakukan pemeriksaan


penunjang seperti:
- Pemeriksaan mata dan pendengaran
- Pemeriksaan serum antibody terhadap TORCH dan HIV
- Foto x-ray, CT scan atau MRI kepala
- EEG, EMG, dan BERA
- Analiis kromosom
- Tes untuk mencari kemungkinan penyakit metabolic
- Penilaian psikologik
do.
dp. Penulisan diagnosis

dq.
dr. Komplikasi
1. Kontraktur yaitu sendi tidak dapat digerakkan atau ditekuk karena otot
memendek.
2. Skoliosis yaitu tulang belakang melengkung ke samping disebabkan
karena kelumpuhan hemiplegia.
3. Dekubitus yaitu adanya suatu luka yang menjadi borok akibat mengalami
kelumpuhan menyeluruh, sehingga ia harus selalu berbaring di tempat tidur.
4. Deformitas (perubahan bentuk) akibat adanya kontraktur.
5. Gangguan mental. Anak CP tidak semua tergangu kecerdasannya, mereka ada
yang memiliki kadar kecerdasan pada taraf rata-rata, bahkan ada yang berada di
atas rata-rata.
6. Gangguan komunikasi
7. Ketidakmampuan belajar

ds. Tatalaksana
dt. Terapi non farmakologis
- Edukasi dan motivasi keluarga
du. Orang tua dididik bagaimana menangani anaknya pada aktivitas harian
seperti makan, menggendong, memakai pakaian, mandi, dan bermain-main
dengan cara yang akan membatasi pengaruh tonus otot abnormal.
- Fisioterapi (untuk motorik kasar)
dv. Fisioterapi segera dimulai secara intensif dan dilakukan sepanjang
penderita hidup, orang tua dapat membantu latihan di rumah. Fisioterapi
meliputi:
Teknik tradisional
dw. Meliputi latihan gerak sendi, latihan penguatan dan peningkatan daya
tahan otot, serta latihan duduk, berdiri dan jalan.
Motor function training dengan menggunakan system khusus, yang
umumnya dikelompokkan sebagai neuromuscular facilitation exercise.
Dimana digunakan pengetahuan neurofisiologi dan neuropatologi dari
refleks didalam latihan, untuk mencapai suatu postur dan gerak yang
dikehendaki. Secara umum konsep latihan ini berdasarkan prinsip bahwa
dengan beberapa bentuk stimulasi akan ditimbulkan reaksi otot yang
dikehendaki, yang kemudian bila ini dilakukan berulang-ulang akan
berintegrasi ke dalam pola gerak motorik yang bersangkutan.
dx. Contohnya adalah teknik dari Phelps, Fay-Doman, Bobath,
Brunnstrom, Kabat-Knott-Vos.
dy.
- Terapi Okupasi (untuk motorik halus)
dz. Okupasional terapi meliputi latihan fungsi tangan, aktifitas bimanual,
latihan aktifitas hidup sehari-hari, modifikasi tingkah laku dan sosialisasi.
- Terapi wicara
ea. Bertujuan untuk mengembangkan anak agar dapat berbahasa secara
pasif dan aktif.
- Terapi Ortotik
Dilakukan dengan penggunaan bracing.
Bertujuan untuk mengurangi beban aksial, stabilisasi, untuk pencegahan,
dan koreksi deformitas.
Pemakaian nightsplint mengambil keuntungan dari tonus yang menurun
yang terjadi selama tidur untuk menambah regangan otot antagonis yang
lemah.
Alat bantu yang dipergunakan berupa kruk ketiak, rolator, walker, dan kursi
roda manual/listrik.
- Pemakaian alat bantu
eb. Pada penderita tipe spastik quadriplegia ditatalaksana dengan kursi
roda bermotor, alat makan khusus, pembiasaan cara duduk.
- Pendidikan
ec. Mengingat selain kecacatan motorik, juga sering disertai kecacatan
mental, maka pada umumnya pendidikannya memerlukan pendidikan khusus
(SLB).

ed. Terapi farmakologis


1. Benzodiazepin :
Usia < 6 bulan tidak direkomendasi
Usia > 6 bulan: 0,12-0,8 mg/KgBB/hari PO dibagi 6-8 jam (tidak lebih 10
mg/dosis)
2. Baclofen (Lioresal) : 3 x 10 mg PO (dapat dinaikkan sampai 40-80
mg/hari)
3. Dantrolene (Dantrium): dimulai dari 25 mg/hari, dapat dinaikkan
sampai 40 mg/hari
4. Haloperidol : 0,03 mg/KgBB/hari PO dosis tunggal (untuk
mengurangi gerakan involusi)
5. Botulinum toksin A :
Usia < 12 tahun belum direkomendasikan
Usia > 12 tahun : 1,25-2,5 ml (0,05-0,1 ml tiap 3-4 bulan)
Apabila belum berhasil dosis berikutnya dinaikkan 2x/tidak lebih 25 ml perkali
atau 200 ml perbulan

ee.REHABILITASI PEDIATRIC

ef. Jenis terapi yang dilakukan dapat dikelompokkan sebagai berikut :


1. Rehabilitasi Medik:
- fisioterapi (terapi fisik)
- terapi okupasi
- terapi wicara
eg.Tujuan utama adalah untuk memperbaiki pola gerakan, fungsi bicara dan
bahasa serta tugas-tugas praktis sehari-hari. Terapi Fisik biasanya dimulai pada
usia satu tahun, dan dengan tujuan utama mencegah kelemahan dan gangguan
pada otot yang dapat menyebabkan pengecilan otot akibat tidak dilakukan
aktivitas dan memperbaiki atau menghilangkan kontraktur yang akan
menyebabkan otot menjadi kaku dan dalam posisi abnormal. Kontraktur
merupakan komplikasi yang paling banyak terjadi pada anak CP. Tujuan yang
lain adalah memperbaiki perkembangan motoriknya. Pada terapi okupasi anak
akan dilatih untuk melakukan kegiatan sehari-had seperti makan, minum,
berpakaian, atau mandi, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap
pengasuhnya. Terapi Wicara membantu anak mempelajari berkomunikasi secara
bervariasi tergantung tingkat gangguan bicara dan bahasanya
2. Terapi perilaku
eh.Terapi ini dilengkapi terapi rehabilitasi, yang dilakukan oleh seorang psikolog.
Bimbingan emosional dan psikologikal mungkin dibutuhkan pada setiap usia
yang seringkali mengalami masa-masa sulit pada usia remaja sampai dewasa
muda.
3. Terapi obat (medikamentosa)
ei. Dokter biasanya memberikan pengobatan medikamentosa pada kasus-kasus
CP yang disetai kejang yang bertujuan mencegah kejangnya. Obat lain yang
mungkin diberikan adalah obat untuk mengontrol spastisitas (kekakuan otot)
yang biasanya diberikan dalam rangka persiapan operasi. Bila terjadi gerakan-
gerakan abnormal sering akan diberikan obat-obatan untuk mengontrol gerakan
abnormal tersebut.
4. Terapi Okupasi
ej. Operasi sering direkomendasikan bila terjadi kontraktur yang berat yang
menyebabkan gangguan gerakan, terutama gerakan berjalan. Atau operasi untuk
mengurangi spastisitas-nya (kekakuan otot).

ek. V. Kerangka Konsep


el.

em.

en.
eo.
ep.
eq.
er.
es.
et.
eu.
ev.
ew.
ex.
ey.
ez.
fa.
fb.
fc.
fd.
fe.
ff.
fg.
fh.
fi.
fj.
fk.
fl.
fm.
fn.
fo.
fp.
fq. BAB III
PENUTUP
fr.
fs. III.1. KESIMPULAN
ft. Sabrina, 20 bulan lahir preterm (36 minggu) dengan berat lahir 2100
gram dibawa ibunya ke Puskesmas karena belum bisa duduk menderita
Global Developmental Delay e.c. Cerebral Palsy tipe spastik quadriplegia.
fu.

fv. DAFTAR PUSTAKA

fw.

Nelson, Waldo, dkk. 2000. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Ed.15, vol.1. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC

Saharso D. 2006. Cerebral Palsy Diagnosis dan Tatalaksana dalam Naskah


Lengkap Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak XXXVI Kapita Selekta Ilmu
Kesehatan Anak VI. Surabaya: RS DR. Soetomo
O'shea TM, Klinepeter KL, Dillard RG. Prenatal Events and the Risk of Cerebral
Palsy in Very Low Birth Weight Infants. American Journal of Epidemiology
2008;147;362-369
Soetjiningsih. 1995. Palsi serebralis dalam tumbuh kembang anak. Surabaya:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Swaiman KF. Intellectual and motor deterioration. Dalam Pediatric neurology
principles and practice. Mosby Company, St Louis, 1989
Parkers, J., Donnelly, D. dan Hill N. 2005. Further Information about Cerebral
Palsy. Scope Library and Information Unit. April 2005.
(http:/www.scope.org.uk/publications/index.shtml)

Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Gizi Seimbang. 2014


Departemen Kesehatan RI. Pedoman Umum Pemberian Makanan Pendamping
Air Susu Ibu (Mp-Asi) Lokal. 2006

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku kuliah ilmu kesehatan anak 2.
Jakarta : Infomedika Jakarta ; 2007
Rudolph C D, Rudolph A 20
Sabrina, M,bulan
Hostetter M K, Lister G, Siegel N J. Rudolph's
Pediatrics, 21st Ed. McGraw-Hill. USA. 2003
Kliegman R M, Behrman R E, Jenson H B, Stanton B F. Kliegman: Nelson
Textbook of Pediatrics, 18th ed. Saunders, An Imprint of Elsevier. USA. 2007
Saharso D. Palsi Serebral dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Divisi
Neuropediatri Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo
Surabaya. Surabaya: FK UNAIR/RS DR. Soetomo, 2006.
Ropper A H, Brown R H. Adams and Victors Principeples of Neurology, 18th ed.
McGraw-Hill. USA. 2005
Saharso D. Cerebral Palsy Diagnosis dan Tatalaksana dalam Naskah Lengkap
Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak XXXVI Kapita Selekta Ilmu
Kesehatan Anak VI. Surabaya: RS DR. Soetomo, 2006
Rohkamm R, Color Atlas of Neurology. New York: Thieme ; 2004. p 288
Soedarmo, Sumarno dkk. Buku Ajar Neurologi Anak. Edisi 1. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI. 1999 : 116
Johnston MV. Encephalopaties: Cerebral Palsy dalam Kliegman: Nelson
Textbook of Pediatrics, 18th ed. eBook Nelson Textbook of Pediatrics, 2007.
Moster D, Wilcox AJ, Vollset SE, Markestad T, Lie RT. Cerebral palsy among
term and postterm births.JAMA. Sep 1 2010;304(9):976-82.
Hankins GDV, Speer M. Dening the Pathogenesis and Pathophysiology of
Neonatal Encephalopathy and Cerebral Palsy. OBSTETRICS & GYNECOLOGY
2003;102;628-636
Adnyana IMO. Cerebral Palsy Ditinjau dari Aspek Neurologi. Cermin Dunia
Kedokteran 1995, No.104; 37-40
Prematur, BBLR, asfiksia neonatorum, hiperbilirubinemia

fx.
fy.

Peredaran pembuluh darah imatur & asfiksia neonatorum

Kadar O2 rendah