Anda di halaman 1dari 13

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PASIEN HIPERTENSI

RAWAT JALAN TIDAK PATUH MINUM OBAT ANTIHIPERTENSI DI


PUSKESMAS SEMPAJA SAMARINDA : SEBUAH PENELITIAN
KUALITATIF

Lili Widianto, Indah Susilowati, Yesaya


Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
Korespondensi : Lili Widianto, email: android.lilium@gmail.com

ABSTRAK
Latar belakang: Keberhasilan penatalaksanaan hipertensi secara farmakologi
dipengaruhi oleh kepatuhan pasien untuk minum obat antihipertensi. Namun
sebagian pasien hipertensi rawat jalan di Puskesmas Sempaja diketahui tidak
patuh minum obat. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
pasien tidak patuh minum obat antihipertensi. Metode: Penelitian menggunakan
metode kualitatif dengan desain in-depth interview. Didapatkan 9 partisipan dari
poli umum dan lansia dengan menggunakan skrining data rekam medik dan
kuesioner MMAS-8 (Morisky 8 Item Medication Adherence Questionnaire) dan
2 partisipan dari tenaga medis yang telah ditentukan. Rekaman in-depth interview
ditranskrip dan direfleksikan. Kemudian dilakukan identifikasi tema dengan
metode triangulasi. Hasil: Didapatkan 9 partisipan dengan kepatuhan sedang dan
rendah yang terdiri dari 6 perempuan dan 3 laki-laki. Faktor yang teridentifikasi
adalah faktor pasien: merasa sehat, malas minum obat, takut terdiagnosis, merasa
pengobatan tidak manjur, tidak teliti, takut efek samping obat, dan efek samping
yang dirasakan pasien; faktor obat: menggunakan obat tradisional bersamaan atau
menggantikan obat antihipertensi; faktor lingkungan: pekerjaan yang sibuk,
tetangga dan keluarga yang menyarankan pengobatan tradisional; faktor
pelayanan kesehatan: kesulitan transportasi, pelayanan kurang ramah, jenis obat
yang terbatas. Kesimpulan: Faktor penyebab tidak patuh minum obat
dikarenakan faktor pasien, faktor obat, faktor lingkungan, dan faktor pelayanan
kesehatan. Dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk mengidentifikasi
penyebab secara sistematis, optimalisasi edukasi dan konseling, optimalisasi
program prolanis, edukasi penggunaan obat tradisional melalui upaya kesehatan
tradisional komplementer, follow-up per individu, serta mengajak kerjasama
tokoh masyarakat untuk ikut serta dalam penyelesaian permasalahan yang ada.

Kata Kunci : Kepatuhan minum obat antihipertensi, MMAS-8.


akan mengalami kerugian finansial
PENDAHULUAN
dan sumber daya.5
Hipertensi adalah kondisi
Banyak faktor yang
terjadinya peningkatan tekanan darah
mempengaruhi pasien tidak patuh
sistolik 140mmHg dan atau
seperti faktor terkait pasien, faktor
diastolik 90 mmHg. Penyakit ini
terkait petugas kesehatan, faktor
menyebabkan 9,4 juta penduduk
terkait sistem pelayanan kesehatan,
dunia meninggal akibat komplikasi
faktor obat, dan faktor lingkungan.
(stroke & penyakit jantung) per
Masalah yang terjadi berupa efek
tahun.1
samping obat, kompleksitas regimen
Prevalensi hipertensi di
obat, biaya pengobatan, masalah
Indonesia meningkat dari 7,6 (2007)
psikologis, kurangnya dukungan
menjadi 9,5 persen (2013).
sosial, problem kognitif, masalah
Kalimantan Timur menduduki
komunikasi dokter-pasien,
peringkat ke-3 prevalensi hipertensi
ketersediaan pelayanan kesehatan,
tertinggi (29,6%).2 Profil kesehatan
dan lain sebagainya. 4,5,6,7,8,9,10
Kalimantan Timur menyebutkan
Puskesmas Sempaja
bahwa hipertensi adalah penyakit
merupakan salah satu Puskesmas
nomor dua terbanyak di Puskesmas
induk yang berada di kota
pada tahun 2013 dengan 190.866
Samarinda. Puskesmas ini telah
kasus.3
melakukan berbagai kegiatan
Keberhasilan tatalaksana
promotif, preventif, kuratif maupun
hipertensi secara farmakologi salah
rehabilitatif penyakit hipertensi.
satunya dipengaruhi oleh kepatuhan
Salah satu program yang
pasien untuk minum obat
dilaksanakan Puskesmas ini adalah
antihipertensi. Namun berdasarkan
Prolanis (Program Pengelolaan
data tercatat hanya 50 % pasien yang
Penyakit Kronis) yang mencakup
patuh mengkonsumsi obat. Ha ini
penyakit hipertensi serta upaya
turut berkontribusi terhadap kejadian
kesehatan tradisional komplementer.
4,5,6
komplikasi kardiovaskuler. Selain 11,12

berdampak pada penderita, sistem


Terjadi pengingkatan kasus
pelayanan kesehatan juga
hipertensi di Puskesmas Sempaja

2
dari 107 kasus baru (2014) menjadi memiliki masalah dalam komunikasi
454 kasus baru baru (2015). Untuk akan dieksklusi.
mengendalikan morbiditas dan Teknik pengambilan sampel
mortalitas akibat hipertensi maka menggunakan teknik purposive
diperlukan penatalaksanaan yang sampling. Jumlah sampel tidak
tepat. Namun berdasarkan hasil ditentukan dalam proposal
pengamatan peneliti, sebagian pasien penelitian. Sampel diambil hingga
mengaku tidak patuh minum obat data yang dikumpulkan dinilai jenuh.
pada saat dilakukan anamnesa
Instrumen Penelitian
singkat di poli rawat jalan.
Penelitian ini menggunakan
Berdasarkan hasil
MMAS-8 (Morisky 8 Item
pengamatan yang dibandingkan
Medication Adherence
dengan literatur, peneliti ingin
Questionnaire) untuk menilai
mengetahui faktor-faktor apa saja
kepatuhan minum obat
yang mempengaruhi pasien
antihipertensi, interview guide, alat
hipertensi yang sedang rawat jalan
perekam suara.
tidak patuh minum obat
Wawancara
antihipertensi di Puskesmas
Penelitian ini menggunakan
Sempaja.
teknik in-depth interview. Proses
wawancara dilakukan oleh satu
METODOLOGI
Sampel penelitian orang peneliti untuk masing-masing
Sampel penelitian ini adalah partisipan dengan bantuan alat
pasien hipertensi yang berkunjung di perekam suara. Wawancara
Puskesmas Sempaja Samarinda pada dilakukan oleh dua orang peneliti
tanggal 8-15 Januari 2016 dengan dengan total 11 partisipan.
Wawancara yang dilakukan
kriteria: berusia 18 tahun,
menggunakan pedoman wawancara
terdiagnosis hipertensi minimal
yang diadopsi dari penelitian lain
selama 1 tahun, dan dibuktikan tidak
yang telah dilakukan oleh Samantha
patuh minum obat antihipertensi
(2014) di Samarinda.
dengan MMAS-8. Pasien yang tidak
Partisipan yang telah dinilai
bersedia menjadi sampel dan
dengan MMAS-8 dapat memilih
untuk diwawancarai langsung di

3
Puskesmas atau dengan mengatur Sh () SMP Banjar Islam Mekanik
56 tahun
ulang pertemuan di rumah partisipan. E () SD Banjar Islam IRT
Wawancara dilakukan sekitar 30 47 tahun
Aw () SMA Tiongho Budha Swasta
menit. Data wawancara kemudian 55 tahun a
ditriangulasikan dengan data rekam Ju () SMA Madura Islam IRT
51 tahun
medik partisipan. Ji () SD Bugis Islam IRT
44 tahun
Analisis
Hasil rekaman suara Tabel 2. Persentase Karakteristik Partisipan

ditranskrip dan direfleksikan oleh Karakteristik N (%)


Usia (tahun)
peneliti. Kemudian dilakukan 18-35 1 (11,1%)
identifikasi tema dengan metode 36-45 1 (11,1%)
46-55 3 (33,3%)
triangulasi. >55 4 (44,4%)
Jenis Kelamin
Etika Penelitian Laki-laki 3 (33,3%)
Partisipan dalam penelitian Perempuan 6 (66,7%)
Tingkat Pendidikan
sudah mendapatkan penjelasan dan SD 4 (44,4%)
menandatangani lembar persetujuan. SMP 1 (11,1%)
SMA 4 (44,4%)
HASIL PENELITIAN Status Pernikahan
Didapatkan 11 partisipan Menikah 9 (100%)
Tidak Menikah 0 (0%)
yang terdiri dari 9 pasien dan 2 Tekanan Darah
tenaga medis Puskesmas Semapaja. < 140/90 0(0%)
140/90 9 (100%)
Karakteristik pasien dirangkum Lama Terdiagnosis
dalam Tabel 1 dan 2. 1 tahun 2 (22,2%)
2 tahun 4 (44,4%)
3 tahun 1 (11,1%)
4 tahun 2 (22,2%)
Jumlah Obat
1 macam 3 (33,3%)
Tabel 1. Karakteristik Partisipan
2 macam 6 (66,7%)
Pendidika Suku Agam Pekerjaa
n terakhir a Faktor Pasien
Az () SMA Banjar Islam Katering Penelitian ini menemukan
58 tahun
H () SMA Jawa Islam bahwa faktor terkait pasien terdiri
Penjual
55 tahun nasi
dari :
goreng
N () SD Jawa Islam IRT 1. Minum obat hanya jika ada
33 tahun
S () SD Jawa Islam IRT keluhan.
57 tahun

4
Karena merasa sehat, tidak ada 6. Pasien tidak percaya pada
keluhan, meskipun ada obat dari pengobatan di Puskesmas (kualitas
dokter saya tidak mau minum. (N, obat).
H) Kalau obat tidak cocok, tidak
Partisipan mengaku tidak minum manjur manjur, dan tidak
obat apabila merasa sehat dan tidak bermanfaat, saya berhentikan. (E,
ada keluhan. Aw, H)
2. Malas minum obat. Partisipan lebih mempercayai
Terkadang saya malas minum kualitas obat dari pelayanan
obat. (E) kesehatan yang lebih tinggi dan obat
Hambatan lain berupa rasa malas. yang lebih mahal.
3. Tidak teliti.
Faktor Obat
Salah bawa obat jadi saya belum
Penggunaan obat tradisional
makan obat. (H)
menggantikan atau bersamaan
Partisipan tidak teliti dalam
dengan obat antihipertensi.
membawa obat antihipertensi.
Saya ganti atau campur pakai labu
4. Efek samping obat.
siam, jus mentimun, nanas, atau
Saya hentikan atau batasi minum
seledri untuk menurunkan tekanan
obat karena efek samping, tidak
darah. (N, E)
nyaman, dan takut ketergantungan.
(H,N)
Faktor Lingkungan
Partisipan tidak minum obat
Penelitian ini menemukan
dikarenakan takut ketergantungan
faktor lingkungan berupa keluarga,
dan efek samping obat yang tidak
tetangga, dan lingkungan kerja.
nyaman.
1. Keluarga dan tetangga
5. Takut ketahuan tekanan darahnya
menyarankan minum obat
tinggi.
tradisional.
Saya takut kalau ketahuan
Omongan tetangga dan keluarga
penyakitnya jadi tidak kontrol. (Ju)
untuk minum labu siam dan herbal
Partisipan tidak kembali ke
untuk menurunkan tekanan darah.
pelayanan kesehatan karena takut
(E, H)
penyakitnya diketahui.

5
Partisipan mendapat saran dari
PEMBAHASAN
keluarga dan tetangga untuk
Secara umum dari
menggunakan obat tradisional.
keseluruhan 9 pasien (100%) yang
2. Lingkungan kerja yang sibuk.
diwawancarai memiliki tekanan
Kalau saya ada kerjaan,
darah 140/90 pada saat kontrol.
pengobatannya jadi tertunda. (Sh)
Hal ini sesuai dengan literatur yang
Partisipan tidak datang ke pelayanan
menjelaskan bahwa tidak patuh
kesehatan apabila sedang sibuk.
minum obat merupakan salah satu
faktor tidak berhasilnya pengobatan.4
Faktor Pelayanan Kesehatan
Berdasarkan penelitian
1. Tidak ada alat transportasi.
ditemukan 4 faktor yang menjadi
Saya tidak bisa berobat karna tidak
penyebab pasien hipertensi yang
ada yang antar dan tidak ada
sedang rawat jalan tidak patuh
angkot. (S)
minum obat antihipertensi di
Partisipan terkendala alat transportasi
Puskesmas Sempaja. Berikut adalah
untuk datang ke pelayanan
pembahasan mengenai faktor-fakor
kesehatan.
yang ditemukan.
2. Pelayanan yang kurang ramah.
Saya malas datang berobat karena Faktor Pasien
pelayanan yang kasar. (E, Az) Hipertensi merupakan silent
Partisipan mendapatkan pelayanan killer. Penyakit ini jarang sekali
yang kasar sehingga malas berobat. memberikan gejala atau warning
3. Komunikasi yang kurang efektif. sign. Hal ini masih tidak banyak
Tidak minum obat dan tidak kontrol diketahui oleh orang-orang.4
bisa karena tidak dikasih obat, tidak Penelitian ini sejalan dengan
paham atau keterbatasan waktu penelitian Khatib et al (2014) yang
konseling (Ji, Tenaga Medis) menunjukkan bahwa banyak pasien
Partisipan tidak mendapatkan yang tidak minum obat lagi setelah
penjelasan yang sesuai untuk merasa sehat.
kembali periksa dan adanya Disebutkan juga kurangnya
keterbatasan waktu konseling dari motivasi pasien dalam berobat
pelayanan kesehatan. berefek negatif terhadap kepatuhan

6
minum obat. Sedangkan pasien yang lebih sering muncul pada
memprioritaskan aktivitas minum penggunaan obat amlodipin dengan
obatnya dibandingkan aktivitas lain dosis dua kali lebih besar.14 Hal ini
akan menjadi lebih patuh minum terjadi pada salah satu pasien yang
obat antihipertensi.6,7,8 mengalami tinittus dan nyeri ulu hati
Efek samping obat setelah mengkonsumsi amlodipine
antihipertensi yang dirasakan oleh dengan dosis 2 x 10 mg. Setelah
pasien dapat membuat pasien dilakukan penelusuran lebih lanjut
menghentikan pengobatan tanpa melalui data rekam medik
memberitahu dokter. Penelitian didapatkan bahwa resep yang
Wogen (2003) menunjukkan bahwa sebenarnya diberikan oleh dokter
banyak pasien menghentikan adalah 1 x 10 mg.
pengobatan Lisinopril dan Penelitian lain menunjukkan
Amlodipine dalam 12 bulan awal adanya sikap penolakan terhadap
pengobatan dibandingkan dengan diagnosis yang diterimanya sehingga
Valsartan. Hal tersebut dikarenakan pasien tidak patuh minum obat. Hal
efek samping Valsartan lebih jarang ini sejalan dengan hasil penelitian
terjadi. Penelitian tersebut ini.6
menunjukkan sebesar 34% pasien Faktor lainnya berupa
mengalami efek samping yang tidak kepercayaan pasien kepada
dapat diterima, dan 42% dilakukan pengobatan dari pelayanan
penggentian jenis obat kesehatan yang memengaruhi
antihipertensi .13 Penggunaan kepatuhan pengobatan antihipertensi
5,6,7
amlodipine sering menyebabkan . Hal ini sejalan dengan hasil
edema perifer sebagai efek samping penelitian ini.
dari penggunaanya khususnya pada Pengetahuan menjadi salah
dosis yang lebih tinggi.14,15 Selain satu faktor pasien tidak patuh minum
edema perifer, juga dapat terjadi obat. Meningkatkan pengetahuan
dizziness, penglihatan kabur, pasien mengenai pentingnya minum
sefalgia, palpitasi, fatigue, nyeri obat dengan edukasi kelompok dan
dada, sesak, pyrosis, konstipasi, konseling individu yang dilakukan
disfungsi seksual.15 Efek samping oleh penyedia layanan kesehatan

7
dalam menangani faktor terkai sudah ada di Puskesmas Sempaja ini
pasien. Edukasi selayaknya perlu dioptimalisasikan.
dilakukan oleh orang yang dikenal
masyarakat, dipercaya, mampu Faktor Obat
mendalami kebiasaan setempat, dan Obat hipertensi yang tersedia
mampu menggunakan bahasa di Puskesmas Sempaja sebanyak 5
setempat agar efektif.4,5,7 Edukasi jenis obat, yaitu: Amlodipin 5 mg;
yang diberikan dapat berupa cara Amlodipin 10 mg; Furosemide 40
penggunaan obat yang tepat, efek mg; Nicardipine 30 mg; Kaptopril 25
samping obat antihipertensi, mg.Pasien akan mendapatkan obat
perlunya kontrol ulang tekanan selama 10 hari dan kemudian
darah.10 kembali kontrol untuk mengecek
Selain itu juga dapat tekanan darahnya dan mengambil
dilakukan kerja sama dengan pihak obat.
asuransi kesehatan sebagai penyedia Dari wawancara yang
logistik.5 Hal ini mungkin dapat dilakukan didapatkan bahwa
dilakukan dengan optimalisasi salah partisipan yang tidak patuh minum
satu program kesehatan di obat menggunakan obat tradisonal.
Puskesmas, yaitu Prolanis. Prolanis Hal ini serupa dengan penelitian di
adalah suatu sistem pelayanan Nigeria, dimana terdapat 5 pasien
kesehatan dan pendekatan proaktif yang menggunakan obat tradisional
yang dilaksanakan secara terintegrasi bersamaan dengan pengobatan dan 2
yang melibatkan Peserta, Fasilitas pasien yang menghentikan
Kesehatan dan BPJS Kesehatan pengobatan dan hanya menggunakan
dalam rangka pemeliharaan obat tradisional.5
kesehatan bagi peserta BPJS. Penggunaan obat tradisional
Program ini terdiri dari pembentukan untuk menurunkan tekanan darah
klub beranggotakan pasien penyakit memang dikenal luas. Banyak
kronis, konsultasi medis, edukasi, penelitian mengenai efek ekstrak
metode pengingat via sms, serta buah dan sayuran yang dilakukan.
kunjungan rumah.11 Program yang Seperti Apium graveolens atau yang
dikenal dengan nama lokal seledri.

8
Tanaman tersebut merupakan tradisional yang tepat dan kedudukan
tanaman yang digunakan dalam obat antiihipertensi yang tidak dapat
pengobatan hipertensi ringan. serta merta digantikan oleh obat
Apigenin dalam seledri berefek tradisional.18 Edukasi dan penyediaan
hipotensif melalui vasodilator contoh-contoh obat tradisional yang
perifer.16 telah terbukti secara EBM kepada
Penelitian di Jawa-Indonesia masyarakat dapat membantu
menunjukkan bahwa masyarakat masyarakat untuk lebih kritis dalam
masih sangat percaya terhadap menyikapi asumsi dari lingkungan
pengobatan tradisional dan herbal sekitar.
untuk mengobati hipertensi. Timun Faktor obat lainnya seperti
dan belimbing dipercayai dapat efek samping obat kaptopril yang
menurunkan tekanan darah.17 menyebabkan batuk, regimen
Penelitian lain di Pakistan juga pengobatan yang kompleks,
mendapatkan bahwa sebagian ketersediaan obat yang ditemukan
masyarakat masih sangat percaya pada penelitian lainnya tidak
terhadap pengobatan tradisional. 9 ditemukan dalam wawancara.4,5
Puskesmas Sempaja sudah Regimen yang diterima pasien dalam
memiliki beberapa daftar tanaman penelitian dinilai tidak cukup
yang dapat digunakan untuk kompleks untuk menyebabkan pasien
pengobatan tradisional. Salah satu tidak patuh minum obat.
program pengembangan yang telah
Faktor Lingkungan
dijalankan adalah upaya kesehatan
Model segitiga epidemiologi
tradisional dan komplementer yang
menjelaskan bahwa lingkungan
berkaitan dengan pemanfaatan
merupakan salah satu faktor yang
TOGA (Tanaman Obat Keluarga).12
mempengaruhi kejadian penyakit. 19
Untuk mencapai tujuan pengobatan
Lingkungan yang dibahas
hipertensi, dapat dilakukan integrasi
dalam penelitian ini mencakup
penggunaan obat tradisional dan obat
keluarga dan lingkungan sekitar atau
antihipertensi secara Evidence Based
tetangga. Dalam penelitian ini
Medicine (EBM). Diperlukan
ditemukan bahwa keluarga dan
edukasi mengenai penggunaan obat
tetangga memberikan pengaruh

9
negatif berupa saran pengunaan obat termasuk dari keluarga, masyarakat
tradisional dan herbal. Data dari dan tokoh masyarakat.4,5,10
penelitian ini sedikit berbeda dengan
Faktor Pelayanan Kesehatan
data dari penelitian lain. Penelitian di
Fasilitas pelayanan kesehatan
Nigeria menyebutkan bahwa faktor
merupakan salah satu faktor yang
keluarga yang berperan berupa
mempengaruhi tidak patuhnya pasien
larangan dari anggota keluarga untuk
minum obat antihipertensi Hal ini
berobat ke pelayanan kesehatan yang
serupa dengan penelitian yang
ada.5 Namun dalam penelitian ini
dilakukan di Nigeria. Pasien
tidak ditemukan adanya faktor
mengeluhkan jarak yang jauh, biaya
larangan dari keluarga. Beberapa
yang cukup besar untuk membayar
keluarga pasien justru memberikan
alat transportasi.5 Meskipun dalam
dukungan positif terhadap pasien
penelitian ini partisipan tidak
untuk berobat.
mempermasalahkan segi ekonomi.
Faktor lain yaitu lingkungan
Namun dikarenakan tidak adanya
kerja yang sibuk. Pasien yang
alat transportasi, pasien terpaksa
memiliki pekerjaan mengalami efek
menunda waktu berobat.
negatif terhadap kepatuhan minum
Kualitas pelayanan yang
obat antihipertensi dibandingkan
diterima juga mempengaruhi
20
dengan pasien yang tidak bekerja.
kepatuhan minum obat pasien.
Pentingnya edukasi selain
Partisipan mengaku tidak mau
kepada pasien juga kepada keluarga
berobat lagi dikarenakan adanya
dan masyarakat. Hal ini karenakan
pengalaman buruk terhadap
keluarg mempunyai peran penting
pelayanan kesehatan yang diterima.
10
dalam memotivasi pasien. Hal ini
Hal ini serupa dengan penelitian lain
sudah dilakukan oleh Puskesmas
yang menyebutkan hubungan dokter-
Sempaja. Namun terkendala dengan
pasien yang baik dapat membentuk
adanya beberapa pasien yang datang
tingkat kepatuhan yang tinggi.6,8,9
tanpa ditemani keluarga. Sehingga
Hubungan yang baik ini
perlu dioptimalisasikan lagi dengan
digambarkan bagaimana dokter
dukungan dari seluruh pihak
mampu memberi penjelasan yang
memuaskan untuk pasien dan

10
menciptakan lingkungan komunikasi keterbatasan ini diminimalisir
yang nyaman. Komunikasi yang baik dengan metode triangulasi.
antara petugas-kesehatan juga
KESIMPULAN DAN SARAN
mencakup bagaimana pemberian
Hasil dari penelitian ini
edukasi kepada pasien. Edukasi yang
adalah terdapat 4 faktor yang terjadi
tepat mengenai cara minum obat dan
pasien hipertensi yang sedang rawat
pentingnya pengobatan akan
jalan di Puskesmas Sempaja, yaitu
meningkatkan kesadaran pasien
faktor pasien, faktor obat, faktor
untuk patuh minum obat.6,15
lingkungan, dan faktor pelayanan
Perilaku petugas kesehatan
kesehatan.
dalam memberikan pelayanan yang
Dibutuhkan kerjasama dari
baik antara lain : ramah, cepat
berbagai pihak untuk
tanggap, disiplin tinggi, terapi yang
mengidentifikasi penyebab secara
tepat sesuai diagnosis, tidak
sistematis, optimalisasi edukasi dan
malpraktek, pemberian obat yang
konseling, optimalisasi program
rasional, dan bekerja dengan penuh
prolanis, edukasi penggunaan obat
pengabdian akan mempengaruhi
5,6,9 tradisional melalui upaya kesehatan
perilaku kesehatan. Selain itu
tradisional komplementer, follow-up
keterbatasan waktu juga menjadi
per individu, serta mengajak
faktor yang berdampak negatif
kerjasama tokoh masyarakat untuk
terhadap kepatuhan minum obat
ikut serta dalam penyelesaian
antihipertensi.4,5,6 Hal ini sejalan
permasalahan yang ada.
dengan yang ditemukan dalam
Penelitian ini dilakukan
penelitian ini.
secara kualitatif hanya
Penelitian ini memiliki
menggambarkan keadaan dari
keterbatasan dari sumberdaya yang
partisipan saja. Diharapkan
tersedia. Peneliti terbatas oleh waktu
penelitian ini menjadi dasar untuk
yang sempit, ketersediaan tempat
penelitian selanjutnya agar kualitas
wawancara yang kondusif, serta
pengobatan pasien hipertensi
keterbatasan sarana berupa alat
menjadi semakin baik.
perekam suara sehingga tidak ada
Penelitian ini dapat menjadi
dokumentasi audiovisual. Namun
sebuah hipotesis untuk penelitain

11
kuantitatif selanjutnya. Beberapa hal a qualitative study. BMC Health
Services Research, 14: 624.
yang baru ditemukan didalam
penelitian ini dapat diperjelas dengan 6. Tsiantou, V., Pantzou, P., Elpida,
P., Koulierakis, G., and
menggunakan statistik sehingga
Kyriopoulos, J. (2010). Factors
kedepannya dapat menjadi saran Affecting Adherence to
Antihypertensive Medication in
perbaikan bagi sistem pelayanan
Greece: Results from a
Puskesmas maupun pembelajaran di Qualitative Study. Patient
preference and adherence, 4,
bidang akademik.
335-343.
Perbaikan komunikasi
7. Khatib, R., Scwalm, J. D., Yusuf,
petugas kesehatan-pasien-keluarga-
S., Hayness, R. B., Mckee, M.,
masyarakat sangat diperlukan guna Khan, M., Nieuwlaat. (2014).
Patient and Healthcare Provider
meningkatkan kepatuhan pasien
Barriers to Hypertension
dalam pengobatan hipertensi. Awareness, Treatment and
Follow Up: A Systematic Review
and Meta-Analysis of Qualitative
DAFTAR PUSTAKA
and Quantitative Studies. PLoS
1. World Health Organization.
ONE 9 (1):e84238.
(2013). A global brief o
Hypertension. WHO press:
8. Wai, K. C., Elley, C. R., Nosa, V.,
Switzerland, 9-19.
Kennelly, J., Mabotuwaa, T., &
Warren, J. (2010). Perspectives
2. Badan Penelitian dan
on adherence to blood pressure-
Pengembangan Kesehatan
lowering medication among
Kementerian Kesehatan RI.
Samoan Patients: qualitative
(2013). Riset Kesehatan Dasar
interviews. Journal of Primary
(Riskesdas) 2013. Jakarta.
Health Care, 2(3), 217-224.
3. Dinas Kesehatan Provinsi
Kalimantan Timur. (2013). Profil
9. Saleem, F., Hassali, M., Shafie,
Kesehatan Provinsi Kalimantan
A., Atif, M. (2012). Drug
Timur Tahun 2013. Dinas
Attitude and Adherence: A
Kesehatan Provinsi Kalimantan
Qualitative Insight of Patients
Timur: Samarinda.
with Hypertension. Malaysia:
University Sains Malaysia.
4. World Health Organization.
Journal Young Pharmacology,
(2003). Adherence to Long-Term
4(2): 101-7.
Therapies: Evidence for Action.
10. Shima, R., Farizah, M. H., Majid,
5. Aina, O.O, et al. (2014).
H. A. (2014). A qualitative study
Perceptions of inhibitors and
on hypertensive care behavior in
facilitators for adhering to
primary health care settings in
hypertension treatment among
Malaysia. Patient Preference and
insured patients in rural Nigeria:
Adherence, 8: 1597-1606.

12
16. Tabassum, N., & Ahmad, F.
11. Badan Penyelenggara Jaminan (2011). Role of natural herbs in
Sosial. (nd). Panduan Praktis the treatment of hypertension.
Prolanis. Jakarta. Pharmacognosy Reviews, 5(9),
30-40.
12. Departemen Kesehatan Republik http://doi.org/10.4103/09737847.
Indonesia. (2014). Peraturan 79097.
Menteri Kesehatan No.75 Tahun
2014. Jakarta. 17. Basuki, B., Siagian, M., Ilyas, E.
I., Amri, Z. (2004). Combined
13. Wogen, J., Kreilick, C.A., traditional medicine and
Livornese, R. C., Yokoyama, K, pharmacological antihypertensive
& Frech, F. (2003). Patient drugs in a rural community of
Adherence with Amlodipine, West Java, Indonesia. Medical
Lisinopril, or Valsartan Therapy Journal Indonesia, 13: 246-251.
in a Usual-Care Setting. Journal
of Managed Care Pharmacy, 18. Zhang, A. L., Xue, C. C., &
9(5), 424-429. Fong, H. S. (2011). Herbal
Medicine: Biomolecular and
14. Erdine, S. (2010). Compliance Clinical Aspects 2nd Edition.
with the Treatment of
Hypertension: The Potential of 19. Timmreck, T. C. (2004).
Combination Therapy. The Epidemiologi Suatu Pengantar.
Journal of Clinical Hypertension, Jakarta: EGC.
12(1), 40-46.
20. Lee, G. K. Y., Wang, H. H. X.,
15. Barros, V., Escobar, C., de la Liu, K. Q. L., Cheung, Y.,
Figuera, M., Llisterri, J. l., Morisky, D. E., & Wong, M. C.
Honorato, J., Segura, J., & S. (2013). Determinants of
Calderon, A. (2008).Tolerability medication adherence to
of high doses of lercanidipine antihypertensive Medications
versus high doses of other among a Chinese population
dihydropyridines in daily clinical using Morisky Medication
practice: the TOLERANNCE Adherence scale. PLoS One;
study. Cardiovascular Drug 8(4): e62775.
Reviews, 26: 2-9.

13