Anda di halaman 1dari 9

Tabel 5.3.

Tabel Identifikasi Tema dan Perbandingan dengan Teori


Emik Kesimpulan Teori
Faktor Pasien
Karena merasa sehat.. hehehe.. Merasa tidak ada keluhan. Hipertensi merupakan silent killer. Penyakit Karena merasa sehat,
gak ada keluhan. walaupun sebetulnya ada ini jarang sekali memberikan gejala atau tidak ada keluhan,
obat dari dokter di rumah itu, saya liat dulu warning sign (CDC, 2013). meskipun ada obat dari
saya betul-betul butuh enggak.. (N) Penelitian lain yang dilakukan Khatib et al dokter saya tidak mau
(2014) menunjukkan bahwa banyak pasien minum. (N, H)
yang tidak minum obat lagi setelah merasa
Saya rasa enggak sih, kalau obat Minum obat hanya jika ada sehat sehingga menjadi tidak patuh minum
saya rasa enggaengga menjamin sih, saya keluhan obat.
rasa hanya meredakan aja mungkin.
Mungkin tapi ya kalau sakit itu kan kalau
bisa diupayakan orang itu sembuh dengan
tidak mengkonsumsi obat tapi harus minum
obat kan pada saat itu kan.(H)

Ya kan biasanya bila aku kurang Malas minum obat Penelitian Khatib et al (2014) juga Terkadang saya malas
tidur biasanya tekanan naik susah tidur ini , menyebutkan kurangnya motivasi pasien minum obat. (E)
naik itu berarti tekanan. Sering minum obat. dalam berobat sehingga mereka menjadi tidak
Kalau lancar biasa aja. Kadang2 ya malas patuh minum obat.
haha (tertawa) (E)

Salah bawa obat jadi


Gak teratur sih, kadang kala lupa Tidak teliti Pasien yang memprioritaskan aktivitas minum saya belum makan obat
kangakgak saya bawakaya kemaren obatnya dibandingkan aktivitas lain akan (H)
tutadi aja mau apamau ke pasar tu, mau menjadi lebih patuh minum obat
jogging tu bisanya kan saya bawanah antihipertensi (Chang, et al., 2010).
salah bawa obatnyapadahal obat
kunyahnya sudah saya makan dulumau
bawa kaptoprilnya gak taunya itu lagi
yang saya bawajadi engga belum makan
obat saya (H)
Saya hentikan atau
Setelah saya makan obat yang Efek samping yang Efek samping obat antihipertensi yang batasi minum obat
amlodipin sepuluh milligram. Nah itu, baru dirasakan pasien dirasaksan oleh pasien dapat membuat pasien karena efek samping,
makan dua itu kali gak salah itu. Baru saya menghentikan pengobatan tanpa memberitahu tidak nyaman, dan takut
hentikan sudah Ya itu aja, ya di di ulu hati dokter (Aina, et al., 2014;Khatib, et al., 2014; ketergantungan. (H,N)
itu, mungkin karna dosisnya mungkin, Tsiantou, et al., 2014; WHO, 2014).
kebesaran mungkin. Mungkin juga seperti Penelitian Wagen (2003) menunjukkan bahwa
itu. Kalo yang lima mili itu enggak masih, banyak diantara pasien menghentikan
enggak. Setelah yang sepuluh itu baru. Kalo pengobatan Lisinopril dan Amlodipine dalam
pendengaran ganggu juga pada saat 12 bulan awal pengobatan dibandingkan
amlodipine lima ganggun juga itu. Gak dengan Valsartan. Hal tersebut dikarenakan
nyaman gitu. Kayanya kalau ada diajak efek samping Valsartan lebih jarang terjadi.
ngomong itu berisik. Susah itu kita itu Penelitian tersebut menunjukkan sebesar 34%
nangkap. (H) pasien mengalami efek samping yang tidak
dapat diterima, dan 42% dilakukan
Kalau efek cepatnya mungkin dari dokter, Takut mengalami efek penggentian jenis obat antihipertensi (Wagen,
tapi saya lebih senang ke herbal gitu na.. samping obat et al., 2003).
Karena efek sampingnya hampir gak ada Penggunaan amlodipine sering menyebabkan
Bisa larinya ke jantung, ke macem-macem edema perifer sebagai efek samping dari
Larinya malah ke ketergantungan.. Saya penggunaanya khusunya pada dosis yang
yang batasin sendiriEnggak, mungkin lebih tinggi (Pruijm, Maillard & Burnier,
karena saya gak minum bertahun-tahun. 2008).
Jadi karena ibu sudah membaca ada efek Selain edema perifer, juga dapat terjadi
sampingnya itu bu ya makanya ibu gak dizziness, penglihatan kabur, sefalgia,
minum lama? palpitasi, fatigue, nyeri dada, sesak, pyrosis,
Iya.. konstipasi, disfungsi seksual (Barrioa, et a.,
2008). Saya takut kalau
cuma itu aja sih takut kalau sudah ketahuan penyakitnya
penyakit kan, kita rasa, e..makan ini kadang Takut ketahuan tekanan Adanya sikap penolakan terhadap diagnosis jadi tidak kontrol (Ju)
mau dikurangi, gak boleh, makan enda boleh darahnya tinggi. yang diterimanya sehingga tidak patuh minum
kan gitu sih. Takut kaya orang-orang, eh itu obat (Aina, et al., 2014, Khatib, et al., 2014).
kena stroke gini gini, sudah takut sudah
..takut (ketawa malu)
Jadi dari takut itu yang kemaren gak
kontrol ?
He eh (tersenyum malu) (Ju)

Kalau obat tidak


Yang turun yg rumah sakit ini aja yg turun. cocok, tidak manjur
Ini kan habis tekanan 140 kasihnya obat Pasien tidak percaya pada Kepercayaan pasien kepada pengobatan yang manjur, dan tidak
captopril bilangku enda cocok ini kan pengobatan di Puskesmas diberikan dari pelayanan kesehatan turut bermanfaat, saya
kemaren aku dikirim ke rumah sakit. Ini aja (kualitas obat). menjadi faktor yang memengaruhi kepatuhan berhentikan. (E, Aw, H)
bukan masalah obat bukan masalah obat pengobatan antihipertensi (Chang, et al.,
mahal murahnya. Yaudah ngalah aku 2010; Aina, et al., 2014)
berarti. Dikasihnya obat kaptopril. Terus
dikasihnya, naik itu 170 sudah itu. Malas
lagi dah ke puskesmas. Jadi bilangku pak
aku mau berobat sekalian tensi. Naik lagi
250. Padahal aku gak pernah 250. Gak
pernah. Kemaren 240 aja gin. Ya itu
puskesmas ngirim aku ke rumah sakit (E)
Kualitasnya bagus yang (merek
obat) kalau yang ini justru kurang begitu Kualtias obat
bagus. Kurang manjur iya kan, memang
harga kan murah... ya kurang begitu manjur,
masih sakit lagi kalau makan itu (Aw)
Cuma kalau saya mengkonsumsi
obat tu saya rasakan sendiri kurang ada Kualitas obat
manfaatnya ya saya berhenti, saya berhenti
kan, sayasaya upayakan untuk
olahraga
(H)
Emik Kesimpulan Teori
Faktor Obat
Ya dicampurlahObat kan pagi, Penggunaan obat tradisional Penggunaan buah-buahan dan sayuran Saya ganti atau
agak siangan minum labu siam, udah, besok, menggantikan atau bersamaan untuk menurunkan tekanan darah memang campur pakai labu siam,
orang seminggu tuh sebiji, gitu aja jarang2 dengan obat antihipertensi. dikenal luas. Sudah banyak penelitian jus mentimun, nanas,
juga gak rutin setiap pang (N) mengenai efek ekstrak buah dan sayuran atau seledri untuk
yang dilakukan. Seperti Apium graveolens menurunkan tekanan
Kalau masih ada jus mentimun, atau yang dikenal dengan nama lokal darah. (N, E)
kayak saya campur nanas, apa namanya, seledri. Tanaman tersebut merupakan
seledri, kadang itu bisa menurunkan tanaman yang digunakan dalam pengobatan
tekanan, saya pake itu dulu, selama masih hipertensi ringan. Tanaman ini mengandung
ada itu, saya pake itu, obatnya saya stop apigenin. Apigenin dalam seledri dilaporkan
(E) berefek hipotensif melalui vasodilator
perifer (Munim, Hanani, & Mandasari,
2008).
Coklat (Theobroma cacao)yang kaya akan
flavonoid yang berperan dalam stimulasi
nitrit oksida, menyebabkan vasodilatasi, dan
mereduksi disfungsi endothelial.
Penggunaan coklat 46-105 gram perhari
dapat menurunkan tekanan darah sistolik
sebesar 5 mmHg dan diastolic sebesar 3
mmHg (Tabssum & Ahmad, 2011).
Penelitian di Jawa-Indonesia menunjukkan
bahwa masyarakat masih sangat percaya
terhadap pengobatan tradisional dan herbal
untuk mengobati hipertensi. Timun dan
belimbing dipercayai dapat menurunkan
tekanan darah (Basuki, Siagian, Ilyas, &
Amri, 2004).
Saleem, et al (2012) melakukan penelitian
kualitatif di Urdu mendapatkan bahwa
sebagian masyarakat masih sangat percaya
terhadap pengobatan tradisional. Hal ini
bukannya hanya terjadi dalam pengobatan
hipertensi namun pada hampir semua
permasalah yang ada.

Emik Kesimpulan Teori


Faktor Lingkungan
Cuma omongannya aja kan. Aku Keluarga dan tetangga Seperti yang telah dijelaskan dalam Konsep Omongan tetangga dan
biasa labu siam aja, tetangga tuh kan dia menyarankan minum obat Blum dimana lingkungan merupakan salah keluarga untuk minum
kencing manis. Kencing mani, tekanan tradisional. satu determinan kesehatan (Blum, 1974). labu siam dan herbal
minum labu siam, tu sekarang kadar Lingkungan sosial terdiri dari sosio- untuk menurunkan
gulanya tu normal, tekanannya enda lagi ekonomi, sosio-budaya, adat istiadat, tekanan darah (E, H)
tinggi Iya ku stop dulu bilang orang coba agama/kepercayaan, organisasi
gak usa minum obat minum itu dulu turun ai kemasyarakatan dll. Melalui lingkungan
itu, turun dikit (E) sosial manusia melakukan interaksi dalam
bentuk pengelolaan hubungan dengan alam
Apanyasama adek saya itukan dan buatannya melalui pengembangan
minum ini anu, pakde..Yaudah ikut. Tapi perangkat nilai, ideologi, sosial dan budaya
saya sebenarnya gak berani Dia mungkin sehingga dapat menentukan arah
dari dokter, (merk produk), itu sayakarena pembangunan lingkungan yang selaras dan
untuk perlemakan hati, apa vitamin aja gitu. sesuai dengan daya dukung lingkungan yang
Tapi ya saya coba minum. Tapi ada gak mana hal ini sering disebut dengan etika
teras ulu hati itu. Tapi kadangkala dia mau lingkungan.
timbul tapi gak anu (H)

Pasien yang memiliki pekerjaan mengalami


Kadang-kadang kita kerjaan juga.. Lingkungan kerja yang Kalau saya ada kerjaan,
efek negatif terhadap kepatuhan minum obat
Gak tentu kita ni.. gak tentu.. kadang-kadang sibuk. pengobatannya jadi
antihipertensi dibandingkan dengan pasien
kalau ada kerja ni, ada orang manggil tertunda. (Sh)
yang tidak bekerja (Lee, et al., 2013).
mogok di jalan, ndak bisa kita mastikan
selesainya ni segini jam gitu ndak bisa.Ya
waktu waktu nya itu tadi, pas kerjaan di
rumah. Kadang-kadang mamanya tu
bilangnya besok aja lah.. yasudah
tetunda (Sh)

Emik Kesimpulan Teori


Faktor Pelayanan Kesehatan
Ya kalau dia tugas siang saya gak bisa Tidak ada alat transportasi. Keterjangkauan pelayanan kesehatan Saya tidak bisa berobat
kesini bu Iya, ndak ada angkot dari rumah merupakana salah satu faktor yang karna tidak ada yang
saya itu (S) mempengaruhi perilaku kesehatan (Blum, antar dan tidak ada
1974). angkot. (S)

Kita mau berobat nanti apakah Pelayanan yang kurang Tsianto, et al.(2014) yang menyebutkan Saya malas datang
katanya sudah marah. Pas ibu mau berobat ramah. hubungan dokter-pasien yang baik dapat berobat karena pelayanan
dulu tapi dulukan paling pertama. Emang membentuk tingkat kepatuhan yang tinggi. yang kasar (E, Az)
ibu gak pernah kepuskesmas. Emang gak Hubungan yang baik ini digambarkan
pernah. Ke mantrikan kan biayanya selawe bagaiman dokter mampu memberi penjelasan
aja kan dua puluh dua lima. Ke puskesmas yang memuaskan untuk pasien dan
emang gak bayar. Tapi itu malasnya sama menciptakan lingkungan komunikasi yang
tukang kartunya.. (E) nyaman.
Cuma saya disini ada yang saya gak suka, Komunikasi yang baik antara petugas-
dulu kan pernah di posyandu, kasar, nah kesehatan juga mencakup bagaimana
sejak itu kami malas datang, kami ndak pemberian edukasi kepada pasien. Edukasi
suka, kami mundur, lama kami mundur, nah yang tepat mengenai cara minum obat dan
pas sudah ganti dokternya jadi kami rajin pentingnya pengobatan akan meningkatkan
lagi datang ke posyandu. Maklum lah kesadaran pasien untuk patuh minum obat
namanya orang tua, faktor umur, jadi kami (WHO, 2003; Saleem, et al.,2012; Aina, et
mudah sensitif. Kalau sama dokter yang al., 2014; Tsianto, et al., 2014).
sudah ganti ini enak, kami suka (Az) Dalam teori blum juga dijelaskan bahwa Tidak minum obat dan
Bilang juga sih, tapi memang ada juga Komunikasi yang kurang Perilaku petugas kesehatan dalam tidak kontrol bisa karena
saya kembali ke situ normal aja... enda ada efektif. memberikan pelayanan yang baik antara lain tidak dikasih obat, tidak
lagi dikasih kan (obat antihipertensi) karna : ramah, cepat tanggap, disiplin tinggi, terapi paham atau keterbatasan
normal aja (Ji) yang tepat sesuai diagnosa, tidak malpraktek waktu konseling (Ji,
pemberian obat yang rasional, dan bekerja Tenaga Medis)
Nah mungkin yang itu yang kita mungkin dengan penuh pengabdian mempengaruhi
sudah kita sampaikan entah kenapa dia tidak perilaku kesehatan (WHO, 2003; Saleem, et
paham atau bisa jadi dia yang kita al.,2012; Aina, et al., 2014; Tsianto, et al.,
sampaikan, atau dia yang tidak mau tau, 2014). Selain itu keterbatasan waktu juga
jadi ya keterbatasan waktu juga untuk menjadi faktor yang berdampak negatif
konseling per individu ya(Tenaga Medis) terhadap kepatuhan minum obat
antihipertensi (WHO,2003).