Anda di halaman 1dari 13

widiasari955

A fine WordPress.com site

Beranda

About

Asuhan keperawatan pada klien Abses hepar


11 Nov 2012 Tinggalkan komentar

by widiasari955 in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Abses hati merupakan masalah kesehatan dan social pada beberapa negara yang berkembang
seperti di asia terutama Indonesia. Prevalensi biasanya berhubungan dengan sanitasi yang jelek,
status ekonomi yang rendah serta gizi yang buruk. Meningkatkan arus urbanisasi menyebabkan
bertambahnya kasus abses hati di daerah perkotaan dengan kasus abses hati amebic lebih sering
berbanding abses hati pyogenik dimana penyebeb infeksi dapat di sebabakan oleh infeksi jamur,
bakteri ataupun parasit.

Abses hati adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi bakteri parasit, jamur
maupun nekbrosis steril yang bersumber dari system gastrointestinal yang di tandai dengan
proses supurasi dengan pembentukan pus did ala perenkim hati.

Hampir 10% penduduk dunia terutama penduduk dunia berkembang, pernah terinfeksi
entamoeba histolitica tetapi 10% dari yang terinfeksi dapat menunjukkan gejala. Insidensi
penyakit ini berkisar sekitar 5-15 pasien pertahun. Induvidu yang mudah terinfeksi adalah
penduduk di daerah endemik ataupun wisatawan yang kedaerah endemik dimana laki-laki
tersering di banding perempuan rasio 3:1 hingga 22:1 dan sering pada dewasa umur tersering
pada dekade IV. Kebanyakan amobiasis yang dikenal adalah pria. Usia yang dikenal berkisar 20-
50 tahun terutama pada pria dewasa dan jarang pada anak-anak. Adapun faktor resiko pada abses
hati adalah komsumsi alkohol, kanker, homoseksual, imunosupresi, mal nutrisi, usia tua,
kehamilan dan penggunaan steroid.
B. Tujuan penulisan

1. Agar mahasiawa dapat mengetahui pengertian dari abses hepar

2. Mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala abses hepar

3. Mahasiswa dapat mengetahui cara penanganan/ pengobatan dari abses hepar

4. Mahasiswa dapat mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan abses hepar

BAB II

ISI

A. Konsep Penyakit

1. Defenisi

Abses hati adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi bakteri, parasit, jamur
maupun nekbrosis steril yang bersumber dari sistem gastrointestinal yang ditandai dengan
adanya proses supurasi dengan pembentukan pus di dalam parenkim hati. Dan sering timbul
sebagai komplikasi dari peradangan akut saluran empedu.

Jadi Abses hepar adalah rongga berisi nanah pada hati yang diakibatkan oleh infeksi. Abses hati
adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi bakteri, parasit, jamur maupun
nekrosis steril yang bersumber dari sistem gastrointestinal. Abses hati dahulu lebih banyak
terjadi melalui infeksi porta, terutama pada anak muda, sekunder pada peradangan appendicitis,
tetapi sekarang abses piogenik sering terjadi sekunder terhadap obstruksi dan infeksi saluran
empedu.

2. Etiologi

Bakteri ini bisa sampai ke hati melelui: 1) kandung kemih yang terinfeksi. 2) Luka tusuk atau
luka tembus. 3) Infeksi didalam perut., dan 4) Infeksi dari bagian tubuh lainnya yang terbawa
oleh aliran darah. Gejalanya berkurangnya nafsu makan, mual dan demam serta bisa terjadi nyeri
perut.

Pada umumnya abses hati dibagi dua yaitu abses hati amebik (AHA) dan abses hati pyogenik
(AHP). AHA merupakan komplikasi amebiasis ekstraintestinal yang sering dijumpai di daerah
tropik/ subtropik, termasuk indonesia. Abses hepar pyogenik (AHP) dikenal juga sebagai hepatic
abscess, bacterial liver abscess, bacterial abscess of the liver, bacterial hepatic abscess.

Pada era pre-antibotik, AHP terjadi akibat komplikasi appendisitis bersamaan dengan
pylephlebitis. Bakteri phatogen melalui arteri hepatika atau melalui sirkulasi vena portal masuk
ke dalam hati, sehingga terjadi bakteremia sistemik, ataupun menyebabkan komplikasi infeksi
intra abnominal seperti divertikulitis, peritonitis dan infeksi post operasi. Infeksi terutama
disebabkan oleh kuman gram negatif dan penyebab yang terbanyak adalah E. coli.

3. Tanda dan gejala

Tanda-tanda terjadinya abses hepar yaitu:

a. Hepatomegali

b. Nyeri kwadran kanan atas

c. Efusi pleura

d. Massa pada kwadran kanan atas

e. Asites

f. Jaundice 5

Gejala dari abses hati amuba perjalanannya lambat dan biasanya baru muncul dalam beberapa
hari atau minggu. Gejala-gejala tersebut dapat berupa:

a. Demam, mengigil, berkeringat.

b. nyeri abdomen (pada kwadran kanan atas, dapat berupa nyeri yang terus menerus atau
tertusuk-tusuk, dapat nyeri yang ringan sampai berat)

c. perasaan tidak enak pada seluruh tubuh, gelisah dan malaise

d. anoreksia, BB menurun, diare (jarang), jaundice.

e. nyeri pada persendian.

Abses pada permukaan superior dari hepar dapat memberi nyeri yang menjalar ke bahu kanan,
sedangkan abses yang terdapat pada bare area yaitu daerah yang tidak mempunyai kontak
dengan organ serosa maka nyeri kadang-kadang tidak terdeteksi. Abses pada lobus sinistra dapat
memberi gambaran sebagai nyeri epigastrium.

4. Klasifikasi
Berdasarkan bentuknya abses hepar di klasifikasikan menjadi dua, yaitu:

1) Abses hepar piogenik, Abses pirogenik hati jarang ditemkan, namun labih sering
ditemukan di Negara maju.

2) Abses hepar amuba, Abses amuba hati paling sering disebabkan oleh Enthamuba
histolitica. Abses hati olh enthamuba histolitica mumnya di temukan di Negara berkembang, di
kawasan tropis dan subtropics akibat sanitasi lingkungan yang buruk.

5. Patofisiologi

Pengaruh abses hepar terhadap kebutuhan dasar manusia.

a. Amuba yang masuk menyebabkan peradangan hepar sehingga mengakibatkan infeksi

b. Kerusakan jaringan hepar menimbulkan perasaan nyeri

c. Infeksi pada hepar menimbulkan rasa nyeri sehingga mengalami gangguan tidur atas pola
tidur.

d. Abses menyebabkan metabolisme dihati menurun sehingga menimbulkan perubahan nutrisi


kurang dari kebutuhan.

e. Metabolisme nutrisi di hati menurun menyebabkan produksi energi menurun sehingga


dapat terjadi intoleransi aktifitas fisik.

6. Manifestasi klinik

Keluhan awal: demam/menggigil, nyeri abdomen, anokresia/malaise, mual/muntah, penurunan


berat badan, keringan malam, diare, demam (T > 38), hepatomegali, nyeri tekan kuadran kanan
atas, ikterus, asites, serta sepsis yang menyebabkan kematian

7. Pemeriksaan penunjang

Menurut Julius, ilmu penyakit dalam jilid I, (1998). Pemeriksaan penunjang antara lain

a. Laboratorium

Untuk mengetahui kelainan hematologi antara lain hemoglobin, leukosit, dan pemeriksaan faal
hati.

b. Foto dada

Dapat ditemukan berupa diafragma kanan, berkurangnya pergerakkan diafragma, efusi pleura,
kolaps paru dan abses paru.
c. Foto polos abdomen

Kelainan dapat berupa hepatomegali, gambaran ileus, gambaran udara bebas diatas hati.

d. Ultrasonografi

Mendeteksi kelainan traktus bilier dan diafragma.

e. Tomografi

Melihat kelainan di daerah posterior dan superior, tetapi tidak dapat melihat integritas diafragma.

f. Pemeriksaan serologi

Menunjukkan sensitifitas yang tinggi terhadap kuman.

8. Komplikasi

Saat dignosis ditegakan, menggambarkan keadaan penyakit yang berat, seperti


septikaemia/bakteriemia dengan mortalitas 85%, ruptur abses hati disertai peritonitis generalisata
dengan mortalitas 6-7% kelainan plueropulmonal, gagal; hati, kelainan didalam rongga abses,
henobilia, empiema, fisistula hepatobronkial, ruptur kedalam perikard atau retroperitoneum.
Sistem plueropulmonum merupakan sistem tersering terkena. Secara khusus, kasus tersebut
berasal dari lesi yang terletak di lobus kanan hepar. Abses menembus diagfragma dan akan
timbul efusi pleura, empyema abses pulmonum atau pneumonia. Fistula bronkopleura,
biliopleura dan biliobronkial juga dapat timbul dari reptur abses amuba. Pasien-pasien dengan
fistula ini akan menunjukan ludah yang berwarna kecoklatan yang berisi amuba yang ada.

9. Penatalaksanaan

Secara konvensional dengan drainase terbuka secara operasi dan antibiotik spektrum luas.
Penatalaksanaan saat ini, dengan menggunakan drainase perkutaneus abses intraabdominal
dengan tuntunan abdomen ultrasound atau tomografi computer, komplikasi yang bisa terjadi
adalah perdarahan, perforasi organ intraabdominal, infeksi, atau kesalahan penempatan kateter
untuk drainase. Kadang pada AHP multiple dilakukan reseksi hati.

Penatalaksanaan dengan antibiotik, pada terapi awal digunakan penisilin. Selanjutnya


dikombinasikan dengan antara ampisilin, aminoglikosida, atau sefalosporin generasi III dan
klindamisin atau metronidazol. Jika dalam waktu 48-72 jam, belum ada perbaikan klinis dan
laboratoris, maka antibiotik diganti dengan antibiotik sesuai hasil kultur sensitivitas aspirat abses
hati.

Pengobatan secara perenteral dapat dirubah menjadi oral setelah 10-14 hari, dan kemudian
dilanjutkan kembali hingga 6 minggu kemudian. Pengelolaan dengan dekompresi saluran biliaris
dilakukan jika terjadi obstruksi sistem bilaris yaitu dengan rute transhepatik atau dengan
melakukan endoskopi.
10. Prognosis

Prognosis yang buruk, apabila terjadi keterlambatan diagnosis dan pengobatan, jika hasil kultur
darah yang memperlihatkan penyebab becterial organisme multiple, tidak dilakukan drainase
terhadap abses, adanya ikterus, hipoalbuminemia, efusi pleural atau adanya penyakit lain.

Peningkatan umur, manifestasi yang lambat, dan komplikasi seperti reptur intraperikardi atau
komplikasi pulmonum meningkatkan tiga kali angka kematian. Hiperbilirubinemia juga
termasuk faktor resiko, dengan reptur timbul lebih sering pada pasien-pasien yang juendice.

B. Konsep keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian Adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya


sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut.

Data dasar pengkajian pasien dengan Abses Hepar, meliputi:

a. Aktivitas/istirahat, menunjukkan adanya kelemahan, kelelahan, terlalu lemah, latergi,


penurunan massa otot/tonus.

b. Sirkulasi, menunjukkan adanya gagal jantung kronis, kanker, distritmia, bunyi jantung
ekstra, distensi vena abdomen.

c. Eliminasi, Diare, Keringat pada malam hari menunjukkan adanya flatus, distensi abdomen,
penurunan/tidak ada bising usus, feses warna tanah liat, melena, urine gelap pekat.

d. Makanan/cairan, menunjukkan adanya anoreksia, tidak toleran terhadap makanan/tidak


dapat mencerna, mual/muntah, penurunan berat badan dan peningkatan cairan, edema, kulit
kering, turgor buruk, ikterik.

e. Neurosensori, menunjukkan adanya perubahan mental, halusinasi, koma, bicara tidak jelas.

f. Nyeri/kenyamanan, menunjukkan adanya nyeri abdomen kuadran kanan atas, pruritas,


sepsi perilaku berhati-hati/distraksi, focus pada diri sendiri.

g. Pernapasan, menunjukkan adanya dispnea, takipnea, pernapasan dangkal, bunyi napas


tambahan, ekspansi paru terbatas, asites, hipoksia.

h. Keamanan, menunjukkan adanya pruritas, demam, ikterik, ekimosis, patekis, angioma


spider, eritema.
i. Seksualitas, menunjukkan adanya gangguan menstruasi, impotent, atrofi testis.

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan pasien dengan Abses hepar meliputi :

1. Pola napas, tidak efektif berhubungan dnegan Neuromuskular, ketidakseimbangan


perceptual/kognitif.

2. Perubahan persepsi/sensori: proses pikir berhubungan dengan perubahan kimia: penggunaan


obat-obat farmasi.

3. Kekurangan volume cairan, resiko tinggi terhadap pembatasan pemasukan cairan secara oral
(proses/prosedur medis/adanya rasa mual).

4. Nyeri (akut) berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan, dan integritas otot.

5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanisme pada kulit/jaringan.

6. Resiko tinggi infeksi berubungan dengan luka oprasi dan prosedur invasif.

7. Gangguan kebutuhan tidur berhubungan dengan proses penyakit, efek hospitalisasi,


perubahan lingkungan

8. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi/situasi, prognosis, kebutuhan


pengobatan.

3. Intervensi Keperwatan

Perencanaan berdasarkan Doenges,E.M (2000) perawatan pasien pasca operatif :

1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan ketidakseimbangan perseptual/kognitif.

Tujuan : pola pernapasan normal/efektif dan bebas dari sianosis atau tanda-tanda hipoksia.

Intervensi :

1) Pertahankan jalan udara pasien memiringkan kepala

2) Auskultasi suara napas.

3) Observasi frekuensi dan kedalaman pernapasan, pemakaian otot-otot bantu pernapasan.


4) Pantau tanda-tanda vital secara terus-menerus.

5) Lakukan gerak sesegera mungkin

6) Observasi terjadinya yang berlebih

7) Lakukan penghisapan lendir bila perlu

8) Berikan tambahan oksigen sesuai kebutuhan

9) Berikan terapi sesuai instruksi

2. Perubahan persepsi/sensori: proses pikir berhubungan dengan penggunaan obat-obatan


farmasi

Tujuan: meningkatnya tingkat kesadaran

Intervensi:

1) Orientasikan kembali pasien secara terus-menerus setelah keluar dari pengaruh anestasi.

2) Bicara dengan pasien dengan suara yang jelas dan normal.

3) Minimalkan diskusi yang bersifat negatif.

4) Gunakan bantalan pada tepi lakukan pengikatan jika perlu.

5) Observasi akan adanya halusinasi, depresi dan lain-lain.

6) Pertahankan lingkungan tenang dan nyaman.

3. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan


pemasukan cairan secara oral (proses penyakit/prosedur medis/adanya rasa mual)

Tujuan: terdapat keseimbangan cairan yang adekuat.

Intervensi:

1) Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran.

2) Kaji pengeluaran urinarius, terutama untuk tipe prosedur operasi yang dilakukan.

3) Pantau tanda-tanda vital.

4) Catat munculnya mual/muntah, riwayat pasien mabuk perjalanan.


5) Periksa pembalut, alat drein pada interval regular, kaji luka untuk terjadinya pembengkakan.

6) Berikan cairan parenteral, produksi darah dan/atau plasma ekspander sesuai petunjuk.
Tingkat kecepatan IV jika diperlukan.

7) Berikan kembali pemasukan oral secara berangsur-angsur sesuai petunjuk.

8) Berikan antiemetik sesuai kebutuhan.

4. Nyeri berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan integritas otot, trauma
musculoskeletal/tulang, munculnya saluran dan selang.

Tujuan: rasa nyeri/sakit telah terkontrol/dihilangkan, klien dapat beristirahat dan beraktifitas
sesuai kemampuan.

Intervensi:

1) Kaji skala nyeri, intensitas, dan frekuensinya.

2) Evaluasi rasa sakit secara regular.

3) Kaji tanda-tanda vital.

4) Kaji penyebab ketidaknyamanan yang mungkin sesuai prosedur operasi.

5) Letakkan reposisi sesuai petunjuk.

6) Dorong penggunaan teknik relaksasi.

7) Berikan obat sesuai petunjuk.

5. Kerusakan integeritas kulit berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan


kesehatan.

Tujuan: klien memperlihatkan tindakan untuk meningkatan metabolik.

Intervensi:

1) Kaji kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional

2) Letakkan klien pada posisi tertentu.

3) Pertahankan kesejahteraan tubuh secara fungsional.

4) Bantu atau tindakan untuk melakukan latihan rentang gerak.


5) Berikan perawatan kulit dengan cermat.

6) Pantau haluaran urine.

6. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi dan prosedur invasif.

Tujuannya; tidak terdapat tanda-tanda dan gejala infeksi

Intervensi:

1) Berikan perawatan aseptik dan anti septik, pertahankan cuci tangan yang baik.

2) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka jahitan) daerah yang terpasan alat
invasif.

3) Pantau seluruh tubuh secara teratur, catat adanya demam, menggigil dan diaphoresis

4) Awasi atau jumlah penggunjung

5) Observasi warna dan kejarnya uring

6) Berikan anti biotik sesuai indikasi

7. Gangguan kebutuhan istrahat tidur berhubungan dengan perubahan lingkungan dan efek
hopitalisasi.

Tujuan: kebutuhan istrahat dapat terpenuhi

Intervensi:

1) Kaji kemampuan dan kebiasaan tidur klien

2) Berikan tempat tidur yang nyaman dengan beberapa barang milik pribadinya contoh :
Sarung, guling

3) Dorong aktifitas ringan

4) Intruksikan tindakan relaksasi

5) Dorong keluarga untuk selalu menemani.

6) Awasi dan batasi jumlah penggunjung

8. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi/situasi, pragnosis kebutuhan


pengobatan.
Tujuan: Menyatakan, pemahaman proses penyakit/pragnosis.

Intervensi:

1) Tinjau ulang pembedahan/prosedur khusus yang dilakukan dan harapan masa dating.

2) Diskusikan terapi obat-obatan, meliputi penggunaan resep.

3) Indentifkasi keterbatasan aktivitas khusus.

4) Jadwalkan priode istirahat adekuat.

5) Tekankan pentingnya kunjungan lanjut.

6) Libatkan orang terkenal dalam program pengajaran. Menyediakan instruksi tertulis/materi


pengajaran.

7) Ulangi pentingnya diita nutrisi dan pemasukan cairan adekuat.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Abses hepar adalah rongga berisi nanah pada hati yang diakibatkan oleh infeksi. Abses hati
adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi bakteri, parasit, jamur maupun
nekrosis steril yang bersumber dari sistem gastrointestinal. Abses hati dahulu lebih banyak
terjadi melalui infeksi porta, terutama pada anak muda, sekunder pada peradangan appendicitis,
tetapi sekarang abses piogenik sering terjadi sekunder terhadap obstruksi dan infeksi saluran
empedu.

Berdasarkan bentuknya abses hepar di klasifikasikan menjadi dua, yaitu:

1) Abses hepar piogenik, Abses pirogenik hati jarang ditemkan, namun labih sering
ditemukan di Negara maju.

2) Abses hepar amuba, Abses amuba hati paling sering disebabkan oleh Enthamuba
histolitica. Abses hati olh enthamuba histolitica mumnya di temukan di Negara berkembang, di
kawasan tropis dan subtropics akibat sanitasi lingkungan yang buruk.
DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2011. http://www.tbmcalcaneus.org/abses-hepar-pyogenik/2011/11/25/ . Diakses pada


tangggal 28 November 2011.

Bangfad Sunday. 2008. http://info-medis.blogspot.com/2008/11/abses-hati-liver-abscesses.html.


Diakses pada tanggal 29 November 2011.

Mahyu liansyah. 2009. http://keperawatankomunitas.blogspot.com/2009/11/abses-hati.html.


Diakses pada tanggal 29 November 2011.

http://ilmubedah.info/abses-hepar-20110216.html

http://panmedical.wordpress.com/2010/04/10/abses-hati/

http://www.scribd.com/doc/43509915/ABSES-HATI

https://widiasari955.wordpress.com/2012/11/11/asuhan-keperawatan-pada-klien-abses-hepar/

Tentang iklan-iklan ini

Share this:

Twitter

Facebook

Terkait

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Akibat Penyakit Diare
dan Tifoid

askep ispa

Askep Pada Pasien HEPATITIS

Previous askep pada ngangguan penglihatan Next askep ispa

Tinggalkan Balasan
Laman

About

Kategori

Uncategorized (24)

Arsip

Desember 2012

November 2012

Oktober 2012

Blog di WordPress.com.

Ikuti