Anda di halaman 1dari 5

METODE PERHITUNGAN KEBUTUHAN

TENAGA PERAWAT
Posted on 17 Februari 2015 by Mamuk

Untuk mengetahui kebutuhan perawat dalam sebuah rumah sakit dapat


menggunakan berbagai pilihan metode. Berikut ini macam metode yang dapat
digunakan dalam menghitung kebutuhan tenaga perawat :

1. Metode Rasio
2. Metode Need
3. Metode Douglas
4. Metode Demand
5. Metode Gillies
6. Metode Swandsburg
7. Metode Nina
8. Metode Hasil Lokakarya Keperawatan
9. Metode Hasil Workshop Perawatan di Ciloto
10. Metode Standar Ketenagaan Perawat dan Bidan di Rumah Sakit

Berikut ini keterangan masing masing metode perhitungan keperawatan

1. Metode Rasio

Metoda ini menggunakan jumlah tempat tidur sebagai denominator personal yang
diperlukan.Metoda ini paling sering digunakan karena sederhana dan
mudah.Metoda ini hanya mengetahui jumlah personal secara total tetapi tidak bisa
mengetahui produktivitas SDM rumah sakit,da kapan personal tersebut
dibutuhkan oleh setiap unit atau bagian rumah sakit yang mebutuhkan.Bisa
digunakan bila: kemampuan dan sumber daya untuk prencanaan personal
terbatas,jenis,tipe, dan volume pelayanan kesehatan relatif stabil.Cara rasio yang
umumnya digunakan adalah berdasarkan surat keputusan menkes R.I. Nomor 262
tahun 1979 tentang ketenagaan rumah sakit,dengan standar sebagai berikut :

Tipe RS TM/TT TPP/TT TPNP/TT TNM/TT


A& B 1/(4-7) (3-4)/2 1/3 1/1
C 1/9 1/1 1/5 3/4
D 1/15 1/2 1/6 2/3
Khusus Disesuiakan Disesuiakan Disesuiakan Disesuiakan

Keterangan :
TM = Tenaga Medis
TT = Tempat Tidur
TPP = Tenaga Para Medis Perawatan
TPNP = tenaga para medis non perawatan
TNP = tenaga non medis
Cara perhitungan ini masih ada yang menggunakan, namun banyak rumah sakit
yang lambat laun meninggalkan cara ini karena adanya beberapa alternatif
perhitungan yang lain yang lebih sesuai dengan kondisi rumah sakit dan
profesional.

2. Metode Need

Cara ini dihitung berdasarkan kebutuhan menurut beban kerja yang


diperhitungkan sendiri dan memenuhi standar profesi. Untuk menghitung seluruh
kebutuhan tenaga, diperlukan terlebih dahulu gambaran tentang jenis pelayanan
yang diberikan kepada klien selama di rumah sakit. Diskripsi tentang pelayanan
yang diberikan kepada pasien. Misalnya saja untuk klien yang berobat jalan, ia
akan melalui/mendapatkan pelayanan, antara pembelian karcis, pemeriksaan
perawat/dokter, penyuluhan, pemeriksaan laboratorium, apotik dan sebagainya.
Kemudian dihitung standar waktu yang diperlukan agar pelayanan itu berjalan
dengan baik. (Hudgins 82).

Menurut Hundgins (1992) menggunakan standar waktu pelayanan pasien adalah


sebagai berikut :

3. Metode Douglas

Untuk pasien rawat inap, Douglas (1984) menyampaikan standar waktu pelayanan
pasien rawat inap sebagai berikut :

1) Perawatan minimal memerlukan waktu : 1 2 jam/24


jam

2) Perawatan intermediet/parsial memerlukan waktu : 3 4 jam/24 jam

3) Perawatan maksimal/total memerlukan waktu : 5 6 jam/24 jam

Dalam penerapan sistem klasifikasi pasien dengan tiga kategori tersebut di atas
adalah sebagai berikut :

Kategori I : Self Care / Perawatan Mandiri (Minimal)

Kegiatan sehari-hari dapat dilakukan sendiri, penampilan secara umum baik, tidak
ada reaksi emosional, pasien memerlukan orientasi waktu, tempat dan pergantian
shift, tindakan pengobatan biasanya ringan dan simpel.

Asuhan keperawatan minimal mempunyai kriteria sebagai berikut ::

1. Kebersihan diri, mandi ganti pakaian dilakukan sendiri


2. Makan dan minum dilakukan sendiri
3. Ambulansi dengan pengawasan
4. Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap jaga (shift)
5. Pengobatan minimal dengan status psikologis stabil
6. Persiapan prosedur memerlukan pengobatan

Kategori II : Intermediet Care / Perawatan Sedang(Partial)

Kegiatan sehari-hari untuk makan dibantu, mengatur posisi waktu makan.


memberi dorogan agar mau makan,eliminasi dan kebutuhan diri juga dibantu atau
menyiapkan alat untuk ke kamar mandi.Penampilan pasien sakit sedang.Tindakan
perawatan pada pasien ini monitor tanda-tanda vital,periksa urine reduksi,fungsi
fisiologis,status emosinal,kelancaran drainage atau infus.Pasien memerlukan
bantuan pendidikan kesehatan untuk support emosi 5-10 menit/shift atau 30-60
menit/shiftdengan mengobservasi side efek obat atau reaksi alergi.

Asuhan keperawatan parsial mempunyai kriteria sebagai berikut :

1. Kebersihan diri dibantu, makan dan minum dibantu


2. Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali
3. Ambulansi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
4. Pasien dengan kateter urine, pemasukan dan pengeluaran intake output
cairan dicatat / dihitung.
5. Pasien dengan infus, persiapan pengobatan yang memerlukan prosedur

Kategori III : Intensive Care / Perawatan Total

Kebutuhan sehari-hari tidak bisa dilaksanakan sendiri,semua dibantu oleh perawat


penampian sakit berat.pasien memerlukan observasi terus-menerus.

Asuhan keperawatan total mempunyai kriteria sebagai berikut :

1. Semua keperluan pasien dibantu


2. Perubahan posisi, observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap 2 jam
3. Makan melalui slang ( NGT / pipa lambung ), terapi intravena
4. Dilakukan penghisapan lender (suction)
5. Gelisah / disorientasi.

Berdasarkan kategori tersebut, didapatkan jumlah perawat yang dibutuhkan pada


pagi, sore dan malam sesuai dengan tingkat ketergantungan pasien :

Klasifikasi Pasien
No Minimal Parsial Total
Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam
1 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20
2 0,34 0,28 0,14 0,54 0,30 0,20 0,72 0,60 0,40
3 0,51 0,42 0,21 0,81 0,45 0,30 1.08 0,90 0,60
dst
Sumber : Dauglas (1984)

Berdasarkan derajat ketergantungan, identifikasi jumlah pasien yang dirawat


dilakukan dengan mengikuti panduan sebagai berikut :

1. Dilakukan 1x sehari pada waktu yang sama dan sebaiknya dilakukan oleh
perawat yang sama selama beberapa hari sesuai kebutuhan, dengan
menggunakan format klasifikasi pasien berdasarkan derajat
ketergantungan
2. Setiap pasien dinilai berdasarkan kriteria klasifikasi pasien (minimal
memenuhi 3 kriteria)
3. Pasien dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi tersebut dengan memberi
tanda (I) pada kolom yang tersedia sehingga dalam waktu 1 hari dapat
diketahui beberapa jumlah pasien dengan klasifikasi minimal, parsial dan
total.
4. Bila pasien hanya mempunyai 1 kriteria dari klasifikasi tersebut, maka
pasien dikelompokkan pada klasifikasi diatasnya.

4. Metode Demand

Cara demand adalah perhitungan jumlah tenaga mennurut kegiatan yang memang
nyata dilakukan oleh perawat. Konversi Kebutuhan Tenaga adalah seperti pada
perhitungan cara Need.

Menurut Tutuko (1992) setiap klien yang masuk Ruang Gawat Darurat
dibutuhkan waktu sebagai berikut :

* Untuk Kasus Gawat Darurat : 86,31 menit 87 menit

* Untuk Kasus Mendesak : 71,28 menit 71 menit

* Untuk Kasus Tidak Mendesak : 33,69 menit 34 menit

Menurut Depkes Filipina (1984) kebutuhan pasien adalah sebagai berikut :

Rata-rata jam perawatan/


Jenis Pelayanan
pasien/hari
Non Bedah (Interna) 3,4 jam
Bedah 3,5 jam
Campuran Bedah dan Non Bedah (Interna) 3,5 jam
Post Partum 3,0 jam
Bayi Baru Lahir 2,5 jam
Anak anak 4,0 jam

Menurut Althaus et al 1982 dan Kirk 1981 adalah sebagai berikut :


Level I (Minimal) : 3,2 jam.
Level II (Intermediate) : 4,4 jam.
Level III (Maksimal) : 5,6 jam.
Level IV (Intensif Care) : 7,2 jam.

Catatan : BOR = * PT * TT

5. Metode Gillies

6. Metode Swandsburg

7. Metode Nina

8. Metode Hasil Lokakarya Keperawatan

9. Metode Hasil Workshop Perawatan di Ciloto

10.Metode Standar Ketenagaan Perawat dan Bidan di Rumah Sakit