Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

MENINGITIS
DI RUANG SERUNI, RSUD KARSA HUSADA, MALANG

DEPARTEMEN PEDIATRI

Disusun oleh:
NI KOMANG MIMING WIDIYASIH
150070300011061
PSIK K3LN 2012

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2016
A. DEFINISI
Meningitis yang disebut leptomeningitis yang berarti suatu infeksi cairan otak dengan
proses peradangan yang melibatkan piameter, arachnoid, ruangan subarachnoid dan dapat
meluas ke permukaan jaringan otak dan medulla spinalis (Hasan, 1997; Markam, 1995).
Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan
medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001).

B. KLASIFIKASI
Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada
cairan otak, yaitu :

1. Meningitis serosa
Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih.
Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya lues,
Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
2. Meningitis purulenta
Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula
spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria
meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus,
Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas
aeruginosa (Ison et al, 1998).

C. Etiologi

1. Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria


meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus,
Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas
aeruginosa
2. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia
3. Faktor predisposisi : jenis kelamin lakilaki lebih sering dibandingkan dengan wanita
4. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir
kehamilan
5. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.
6. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem
persarafan.

D. PATOFISIOLOGI
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan septikemia,
yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas. Faktor predisposisi
mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan
hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis.
Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid
menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen, semuanya ini penghubung yang
menyokong perkembangan bakteri. Organisme masuk ke dalam aliran darah dan
menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat
menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami
gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat
purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke
dinding membran ventrikel serebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan
fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah
pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK. Pada infeksi akut
pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari
pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya
hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan
endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.

E. GEJALA KLINIS

Tanda-tanda gejala yang ditemukan pada penderita Meningitis:


Keluhan penderita mula-mula nyeri kepala yang menjalar ke tengkorak dan
punggung.
Kesadaran menurun.
Kaku kuduk, disebabkan mengejangnya otot-otot ekstensor tengkuk.
Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi
kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.
Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan
pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi
maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.
Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.
Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat
purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-
tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit
kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul,
lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata

Gejala klinik yang terdapat pada Meningitis Purulenta antara lain:

Akut, langsung berat


Suhu badan meninggi, nyeri kepala hebat menjalar ke tengkuk
Nadi mula-mula melambat kemudian cepat
Kesadaran kemudian menurun, delirium, somnolen sampai koma.
Pada pemeriksaan neurologic ditemukan tanda-tanda perangsangan meningeal
dan dapat ditemukan pula kelumpuhan saraf. Rangsang meningeal yang hebat
pada anak-anak dapat menyebabkan opistotonus.

Gejala klinik yang terdapat pada meningitis serosa antara lain:

Penyakit ini dimulai dengan akut, sub akut dan kronik dengan demam, mudah
kesal, obstipasi dan muntah-muntah.
Tanda Trias Biemond, yaitu : apatis, reflex pupil yang melambat, dan reflex tendon
yang melemah.
Afasia motoric sensorik dan kejang-kejang.
Monoparesis, hemiparesis, gangguan sensibilitas.
Ditemukan tanda-tanda perangsangan meningeal seperti kaku kuduk.
Suhu badan naik turun, nadi lambat (agak kecil)
Gangguan saraf otak, seringkali nervus III (optikus) dan nervus VII (facialis)
Karena tekanan eksudat terhadap saraf tersebut.
Untuk mengetahui penyakit meningitis bakteri atau penyakit meningitis serosa
dilakukan pungsi lumbal untuk pemeriksaan likuor serebrospinalis, seperti table di bawah ini:

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Analisis CSS dari fungsi lumbal :


a) Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih
dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap beberapa jenis
bakteri.
b) Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih
meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus
biasanya dengan prosedur khusus.
2. Glukosa serum : meningkat ( meningitis )
3. LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri )
4. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri )
5. Elektrolit darah : Abnormal .
6. ESR/LED : meningkat pada meningitis
7. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi
atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi
8. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel;
hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor
9. Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial.

G. PENATALAKSANAAN
1. Meningitis Purulenta

1.1 Medikamentosa

Berikan antibiotic ampisilin 300 400 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali pemberian.
Gentamisin 5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 kali pemberian.
Kalau penyebabnya Haemophilus influenza. Berikan kloramfenikol 100
mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali pemberian.
Memberikan kortikosteroid : prednisone, deksametason dosis 2 mg/kgBB/hari.
Bila ada kejang maka diatasi dengan pemberian diazepam dosis 0,5 mg/kgBB secara
intravenous, penobarbital dosis 5-6 mg/kgBB/hari secara oral.

1.2 Perawatan

Perawatan penderita dengan meningitis purulenta sama seperti perawatan koma.


Bila suhu terlalu tinggi perlu diturunkan dengan kompres dingin. Tidak jarang meningitis
purulenta terjadi karena radang telinga tengah. Dalam hal ini perawatan telinga perlu
dilakukan. Nanah harus dapat keluar dari liang telinga sehingga tidak menumpuk didalam.
Jadi lingan telinga harus dijaga supaya tetap terbuka dan tidak tersumbat. Pada stadium
pemulihan mobilisasi harus dilakukan berangsur-angsur.

2. Meningitis Serosa

2.1 Medikamentosa

Pengobatan pada meningitis serosa berdasarkan kausa ataupun penyebabnya.

a) Disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa


Berikan pengobatan spesifik tuberkulosa umumnya dipakai kombinasi streptomisin,
PAS dan INH.
Streptomisin 30-50 mg/kgBB/hari secara intramuscular.
INH 10 20 mg/kgBB/hari secara oral.
PAS 100-200 mg/kgBB/hari secara oral.
Etambutol 15-25 mg/kgBB/hari secara oral.
Kortikosteroid berupa prednisone/deksametason dosis 2 mg/kgBB.
b) Disebabkan oleh virus
Pengobatan yang diberikan bersifat simptomatik, likuor yang dikeluarkan untuk
diagnostic dapat mengurangi gejala nyeri kepala.
c) Disebabkan oleh jamur Cryptococcus neoformans (Cryptococcus atau dulu dikenal
sebagai Torulosis)
Berikan amphotericin B dengan dosis 0,25 mg/kgBB dalam larutan Glukose
5%. Amhotericin B sebaiknya dipakai secara intravena (IV) karena absorbs
melalui lambung kurang baik.
Juga diberikan analgetik dan antihistamin.

2.1 Perawatan

Perawatan penderita dengan meningitis serosa sama seperti perawatan dalam


keadaan koma. Memperhatikan jalan nafas, memberikan makanan cair yang cukup kalori,
vitamin dan mineral dan air diberikan dengan sonde lambung. Kebersihan tubuh harus
dijaga dengan teliti, hindarkan timbulnya decubitus dengan mengubah sikap baring secara
teratur. Fisioterapi diberikan untuk menghindarkan atropi otot dan kekakuan pada sendi.

H. KOMPLIKASI

Komplikasi yang mungkin terjadi adalah :


Efusi subdural, yaitu penumpukan cairan di ruangan subdural karena adanya infeksi
oleh kuman.
Abses otak, radang yang berisi pus/nanah yang terjadi di otak.
Hidrosefalus, adalah bertambah besarnya lingkaran kepala anak yang abnormal
yang disebabkan hipersekresi/penyumbatan cairan serebrospinalis.
Epilepsi, adalah manifestasi gangguan otak dengan berbagai gejala klinik
disebabkan oleh lepasnya muatan listrik dari neuron-neuron otak secara berlebihan
dan berkata tetapi reversible dengan berbagai etiologi.
Paralisis serebri (cerebral palsy), adalah suatu gangguan sikap, gerak,dan tonus
disebabkan perkembangan struktur otak yang abnormal atau lesi yang non progresif
dari otak yang immature.
Arteritis oembuluh darah otak yang dapat mengakibatkan infark otak, adalah infeksi
pada pembuluh darah yang dapat mengakibatkan kematian jaringan otak.
Ensefalitis, adalah radang pada otak.
Tuli, adalah ketidakmampuan untuk mendengar secara normal.
Keterlambatan bicara, adalah keterlambatan perkembangan pembicaraan pada anak
dari yang normal.
Gangguan perkembangan mental dan inteligensi adalah adanya retardasi mental
yang mengakibatkan perkembangan mental dan kecerdasan anak terganggu/kurang
dari normal.

I. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Biodata klien
2. Riwayat kesehatan yang lalu
a. Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ?
b. Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?
c. Pernahkah operasi daerah kepala ?
3. Data bio-psiko-sosial
a. Aktivitas
Gejala : Perasaan tidak enak (malaise).
Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.
b. Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda :
tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi,
disritmia.
c. Eliminasi
Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.
d. Makan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan.
Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.
e. Higiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.
f. Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena,
kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan
halusinasi penciuman.
Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi,
kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal,
hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal,
babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada
laki-laki.
g. Nyeri/keamanan
Gejala : sakit kepala (berdenyut hebat, frontal).
Tanda : gelisah, menangis.
h. Pernafasan
Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru.
Tanda : peningkatan kerja pernafasan.

B. Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan diseminata
hematogen dari pathogen
2. Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan berhubungan
dengan edema serebral, hipovolemia.
3. Risiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan
umum, vertigo.
4. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi.
5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskular,
penurunan kekuatan
6. Anxietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.

C. Intervensi keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan diseminata
hematogen dari patogen.
Mandiri
a. Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan
b. Pertahan kan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat.
c. Pantau suhu secara teratur
d. Kaji keluhan nyeri dada, nadi yang tidak teratur demam yang terus menerus
e. Auskultasi suara nafas ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nfas
dalam
f. Cacat karakteristik urine (warna, kejernihan dan bau )
Kolaborasi

a. Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin.

2. Resiko tinggi terhadap perubahan cerebral dan perfusi jaringan berhubungan


dengan edema serebral, hipovolemia.
Mandiri
a. Tirah baring dengan posisi kepala datar.
b. Pantau status neurologis.
c. Kaji regiditas nukal, peka rangsang dan kejang
d. Pantau tanda vital dan frekuensi jantung, penafasan, suhu, masukan dan
haluaran.
e. Bantu berkemih, membatasi batuk, muntah mengejan.
Kolaborasi.

a. Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat.


b. Berikan cairan iv (larutan hipertonik, elektrolit ).
c. Pantau BGA.
d. Berikan obat : steoid, clorpomasin, asetaminofen

3. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kejang umum/vokal,


kelemahan umum vertigo.
Mandiri

a. Pantau adanya kejang


b. Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas
buatan
c. Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin, diaepam,
venobarbital.

4. Nyeri (akut ) berhubungan dengan proses infeksi, toksin dalam sirkulasi.


Mandiri.

a. Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata, berikan posisi
yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau pasif
dan masage otot leher.
b. Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi)
c. Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif.
d. Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul
Kolaborasi
a. Berikan anal getik, asetaminofen, codein
5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
a. Kaji derajat imobilisasi pasien.
b. Bantu latihan rentang gerak.
c. Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab.
d. Periksa daerah yang mengalami nyeri tekan, berikan matras udsra atau air
perhatikan kesejajaran tubuh secara fumgsional.
e. Berikan program latihan dan penggunaan alat mobiluisasi.
6. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan defisit neurologis
a. Pantau perubahan orientasi, kemamapuan berbicara,alam perasaaan, sensorik
dan proses pikir.
b. Kaji kesadara sensorik : sentuhan, panas, dingin.
c. Observasi respons perilaku.
d. Hilangkan suara bising yang berlebihan.
e. Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik.
f. Beri kessempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas.
g. Kolaborasi ahli fisioterapi, terapi okupasi,wicara dan kognitif.
7. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.
a. Kaji status mental dan tingkat ansietasnya.
b. Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur.
c. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.
d. Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk
sumber penyokong.

DAFTAR PUSTAKA

1. Doenges, Marilyn E, dkk.(1999).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa, I Made
Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester, Yasmin
asih. Ed.3. Jakarta : EGC.
2. Harsono.(1996).Buku Ajar Neurologi Klinis.Ed.I.Yogyakarta : Gajah Mada University
Press.
3. Smeltzer, Suzanne C & Bare,Brenda G.(2001).Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth.Alih bahasa, Agung Waluyo,dkk.Editor edisi bahasa
Indonesia, Monica Ester.Ed.8.Jakarta : EGC.
4. Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And
Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998.
5. Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes.
Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994.
6. Long, Barbara C. perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan. Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan; 1996.
PATHWAY