Anda di halaman 1dari 11

PENGATURAN MAKAN PADA ATLET

Oleh : DR. dr. Zainal Abidin, DSM Internist, SPGK.

Seorang atlet setiap hari harus memperhatikan kondisi fisiknya agar dapat tampil secara prima dalam setiap
pertandingan. Dalam proses latihan dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi dalam bidang olahraga
maka pengaturan makan yang optimal harus mendapat perhatian dari setiap orang yang terlibat.
Pada periode persiapan di pemusatan latihan, periode pertandingan maupun periode pemulihan makan pada
atlet harus diatur sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan kondisi fisik.

Seorang atlet yang mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang secara terencana akan berada pada
status gizi baik dan mampu mempertahankan kondisi fisik secara prima. Makanan yang memenuhi gizi
seimbang memegang peranan penting untuk atlet yang ingin berprestasi maksimal dalam suatu
pertandingan. Bahkan dengan kombinasi yang baik dari bakat atlet serta teknik latihan dan pelatih terbaik,
makanan yang tidak memenuhi syarat dan gizi tidak seimbang tidak mungkin berprestasi secara maksimal.

Makanan dengan gizi seimbang adalah makanan yang mengandung jumlah kalori dengan proporsi sebagai
berikut:
60 70% karbohidrat;
10 15% protein;
20 25% lemak, serta; cukup vitamin, mineral dan air.

Dalam pembinaan prestasi dikenal periodisasi penyelengggaraan latihan sebagai berikut:


1. Periode persiapan pertandingan;
2. Periode pertandingan;
3. Periode pemulihan/transisi.

1. Periode Persiapan Pertandingan

Sebelum mulai dengan latihan, atlet harus berada dalam kondisi fisik yang baik. Oleh karena itu atlet
dikembangkan fisiknya agar siap menghadapi latihan berat dan intensif. Pada periode persiapan, program-
program latihan disusun dalam jadwal latihan harian sesuai dengan peak [puncak prestasi] yang
diharapkan.

Pada awalnya dikenal tahap persiapan umum dimana dilakukan perbaikan keadaan umum kesehatan, status
gizi dan semua unsur kesegaran jasmani.
Setelah tahap persiapan umum dilanjutkan dengan tahap persiapan khusus. Pada tahap ini kondisi fisik tetap
dipertahankan, latihan fisik diarahkan pada pengembangan fisik disesuaikan dengan cabang olahraga yang
diikuti. Pada periode ini penyediaan makanan harus benar-benar dapat memenuhi kuantitas dan kualitas gizi
yang baik yaitu jumlah energi dan komposisi gizi seimbang, karena pada masa ini status gizi dan kesehatan
atlet harus berada dalam kondisi yang baik.
Atlet dikondisikan pada pola makan yang baik. Waktu makan utama dan makan selingan dibuat jadwal yang
sesuai dengan jadwal latihan agar tidak mengganggu latihan. Jadwal waktu makan yang sudah disepakati
harus ditaati oleh semua pihak yang terlibat. Pola makan 5-6 kali sehari dengan 3 kali waktu makan utama
disertai selingan bisa digunakan oleh atlet selama di pelatnas.

2. Periode Pertandingan

Memasuki tahap pertandingan baik kondisi fisik dan mental sudah mencapai kondisi yang sebaik-baiknya.
Pada masa pertandingan, seluruh aktifitas atlet difokuskan pada kegiatan pertandingan yang tahapnya dapat
berlangsung satu hari sampai kegiatan beberapa hari berturut-turut.
Pada umumnya aktifitas atlet pada saat pertandingan dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Jadwal Pertandingan

Atlet mengikuti pertandingan dengan jadwal pertandingan selesai satu hari, misalnya angkat berat, atau
jadwal pertandingan selesai beberapa hari dengan jarak waktu yang berbeda-beda, misalnya panahan,
bulutangkis dan lain-lain.

Keikutsertaan Atlet dalam Pertandingan

Atlet mengikuti pertandingan satu nomor pertandingan, misalnya binaraga atau beberapa nomor
pertandingan, misalnya atletik, renang dan lain-lain.

Waktu Pertandingan
Atlet mengikuti Pertandingan dengan waktu pertandingan mulai dari 3 menit, misalnya angkat besi, sampai
dengan waktu pertandingan 2 hari, misalnya balap sepeda.

Lama Pertandingan
Lamanya waktu pertandingan mulai dari pagi hari sampai dengan siang hari, misalnya marathon atau
pertandingan yang membutuhkan waktu relatif lama,

misalnya sepak bola.


Kiat Dalam Penyediaan Makanan Pada Saat Bertanding
Makanan yang dikonsumsi selain memenuhi syarat gizi, sebaiknya sudah dikenal atlet. Makanan harus
mempunyai nilai psikologis yang tinggi sehingga terciptalah semboyan eat to win. Atlet sebaiknya memiliki
makanan yang sudah familier dan mudah dicerna.

Tujuan utama pemberian makanan pada atlet sebelum pertandingan adalah untuk mempersiapkan atlet agar
mendapatkan energi yang adequat dan hidrasi yang optimal. Puasa sebelum pertandingan tidak
diperbolehkan karena secara fisiologis tidak masuk akal oleh karena makanan dibutuhkan untuk mengganti
glikogen.
Pemberian makanan diatur sedemikian rupa sehinggga sebelum pertandingan dimulai proses pencernaan
makanan sudah selesai. Hal ini penting oleh karena pada saat pertandingan aliran darah terkonsentrasi
menuju ke otot untuk menyalurkan zat gizi dan oksigen yang dibutuhkan pada saat otot berkontraksi. Atlet
sebaiknya mengkonsumsi makanan lengkap yang terakhir kira-kira 3 4 jam sebelum bertanding. Tenggang
waktu ini tidak boleh sampai menimbulkan penurunan kadar gula darah atau menimbulkan rasa lapar
sawaktu pertandingan. Namun waktu makan yang terakhir ini juga harus disesuaikan dengan kebiasaan
makan atlet.

Makanan tidak boleh merangsang atau menyebabkan masalah yang tidak baik pada saluran pencernaan.
Makanan harus lebih banyak mengandung karbohidrat kompleks, rendah lemak dan protein, cukup vitamin
dan mineral serta cukup air. Hindari makanan yang banyak mengandung lemak dan protein karena makanan
tersebut lebih lama dicerna sehingga kedua zat ini, lemak dan protein, tidak memberi kontribusi sebagai
cadangan glikogen otot dan hati yang dibutuhkan saat pertandingan.

Kurang lebih satu jam menjelang pertandingan, atlet harus menghindari minuman yang banyak
mengandung gula [manis sekali]. Pemberian satu gelas [200 cc] air putih yang ditambah satu sendok teh [5
gr] gula diperbolehkan oleh karena konsentrasi minuman tersebut tidak melebihi 2,5%.pemberian minuman
manis yang melebihi konsentrasi gula 2,5% dapat menimbulkan peningkatan gula darah yang akan
merangsang produksi hormon insulin.

Peningakatan hormon insulin ini dpat menyebabkan terjadinya hipoglikemi [reactive hypoglycemia].
Keadaan ini dapat terjadi pada saat atlet sedang bertanding dengan gejala-gejala pusing, mual dan muntah
sampai kolaps.
Minum air sebanyak 150 250 cc, pada waktu 30 60 menit sebelum pertandingan dan saat istirahat
diantara pertandingan sangat dianjurkan.
Minuman yang mengandung kalori, vitamin, mineral dan elektrolit yang terlarut didalamnya bermanfaat
untuk menghindari terjadinya dehidrasi serta dapat mengganti zat gizi yang terpakai.

Pemberian cairan selama pertandingan sangat penting untuk mempertahankan status dehidrasi atau
menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit. Atlet setiap kali harus mengambil kesempatan minum
minuman yang telah tersedia. Kesempatan minum jangan menunggu sampai terjadi rasa haus oleh karena
pada waktu terasa haus ini sudah menunjukkan adanya dehidrasi awal.

Rasa haus bukan indikator yang efektif untuk menilai kebutuhan air atlet selama latihan dan pertandingan.
Atlet harus ditekankan kesadarannya akan kebutuhan air yang banyak dalam setiap kesempatan. Minum
sebaiknya dilakukan secara teratur setiap 10 15 menit sebanyak 150 250 cc air dingin 10o C. Pada
olahraga endurans sangat penting diperhatikan adalah mengganti keringat yang terbuang akan semakin
banyak apabila pertandingan olahraga endurans dilaksanakan pada lingkungan sangat panas.

Pada olahraga endurance yang sangat lama [lebih dari 2 jam] pemberian cairan harus mengandung
karbohidrat dan elektrolit. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiponatremia.
Pemberian karbohidrat pada saat bertanding dengan cara suplemen makanan bertujuan untuk mencegah
terjadinya hipoglikemi, mencegah kelelahan dan untuk mempertahankan daya kerja otot. Pemberian
suplemen makanan karbohidrat bisa berupa cairan ataupun padat tergantung kesukaan atlet dan jenis
olahraganya. Makanan padat yang tinggi karbohidrat kompleks dan rendah serat, misalnya buah pisang
dapat diberikan pada atlet.

Segera setelah bertanding, pemberian makanan dan minuman ditujukan terutama untuk memulihkan
cadangan glikogen serta mengganti cairan, vitamin, mineral dan elektrolit yang terpakai selama
pertandingan. Pemberian makanan setelah pertandingan harus memperhatikan keadaan atlet. Sering terjadi
bahwa nafsu makan dari sebagian besar atlet berkurang. Untuk itu segera setelah pertandingan, atlet harus
minum air dingin [suhu 10o C] sebanyak 1 2 gelas. Kemudian atlet dianjurkan untuk minum berupa cairan
yang mengandung karbohidrat, vitamin, mineral dan elektrolit secara kontinyu dengan intrerval waktu
tertentu sampai terjadi hidrasi.

Pada keadaan ini dapat diberikan minuman berupa jus buah-buahan dan sayuran. Setelah keletihan dari atlet
tersebut berkurang, kira-kira 4 jam setelah pertandingan, dapat diberikan secara berangsur-angsur makanan
lengkap biasa seperti sebelum pertandingan dilaksanakan. Pola hidangan yang dapat dikonsumsi atlet
sesaat menjelang pertandingan adalah sebagai berikut:
3 4 jam sebelum bertanding, makanan lengkap biasa, misalnya nasi dengan lauk-pauk.
2 3 jam sebelum bertanding sebaiknya dalam bentuk makanan kecil, misalnya roti [kurang dari 500
kalori].
1 2 jam sebelum bertanding, makanan cair berupa jus buah diberikan kepada atlet.
30 60 menit sebelum bertanding, atlet hanya boleh diberi minuman cair saja.

3. Periode Pemulihan Atlet

Pada periode ini atlet harus tetap mempersiapkan kondisi fisik secara prima dengan latihan-latihan yang
sesuai. Pengaturan makanan pada periode pemulihan ditujukan untuk mempertahanakan status gizi.
Makanan harus tetap memenuhi gizi seimbang [well balance diet]. Jumlah masukan makanan harus
disesuaikan dengan aktifitas sehari-hari.

Makanan yang dikonsumsi atlet harus tetap mengikuti pola makan seperti di pemusatan latihan. Pola makan
5 6 kali sehari dengan tiga kali waktu makan utama dan jadwal waktu makan yang tepat harus tetap
dijalankan oleh atlet di tempatnya masing-masing. Pemantauan status gizi secara rutin harus tetap
dilaksanakan terutama untuk mengontrol berat badan. Atlet harus melakukan penimbangan badan setiap
hari untuk mengetahui keadaan berat badan.

Perubahan-perubahan biokimia yang terjadi selama latihan dan pertandingan bisa dilihat dan akan dijelaskan
serta didiskusikan dalam presentasi. Semoga bermanfaat.

Secara umum rekomendasi pemberian cairan pada atlet adalah :


Pemberian cairan pada atlet lebih didasarkan intensitas dan durasi latihan.

Kegiatan berolahraga harus dimulai dalam keadaan dalam keadaan hidrasi yang
baik/normal

Hidrasi tubuh yang baik sebelum pertandingan dapat memelihara keseimbangan


cairan tubuh

Cairan yang hilang harus selalu diberikan setiap waktu setiap sesi pertandingan.

Pemberian cairan dilakukan secara bertahap, selama dan setelah


latihan/pertandingan mengonsumsi cairan 150-250 cc dengan interval waktu
tertentu.

Sebaiknya membiasakan atlet untuk memenuhi kebutuhan cairannya ketika masa


pelatihan, sehingga ketika musim pertandingan laju pengosongan lambung tetap
terpelihara

Cairan yang diberikan untuk menggantikan cairan yang hilang adalah cairan yang
mengandung glukosa 5-7%, maksimal diberikan dalam waktu 1 jam setara dengan
30-60 gram glukosa, dan dengan suhu 15 200C. Suhu terlalu dingin dan terlalu
panas mengganggu proses penyerapan di gastrointestinal.

cairan yang biasa diberikan pada fase latihan karena atlet sudah terbiasa dengan
cairan tersebut

Cairan yang mengandung sukrosa, glukosa, fruktosa dan maltodextrin adalah cairan
yang dapat diterima dengan mudah oleh lambung dan tidak akan menyebabkan rasa
tidak nyaman pada lambung. Cairan yang mengandung laktosa sering kali
menyebabkan rasa tidak nyaman pada lambung terutama atlet yang intoleransi
laktosa.

Pada pertandingan endurans dengan durasi lama dapat terjadi hiponatremia (<135
meq) dan hipokalemia (<3,5 meq). Karena itu atlet dianjurkan untuk mengonsumsi
minuman atau makanan yang mengandung natrium (Na) dan kalium (K). Kehilangan
natrium dan kalium dapat diganti dengan minuman yang mengandung elektrolit
seperti sports drinks. Kandungan natrium yang dianjurkan dalam sport drink adalah
80-90 meq.

Jenis cairan yang bisa diberikan adalah air putih, sport drink atau jus buah dengan
karbohidrat 5-7%.

Hindari cairan yang mengandung kafein dan alkohol karena mempunyai efek
diuretik.
Berikut contoh makanan dan minuman dalam olahraga endurance.

Jumlah dengan 50
Deskripsi Catatan
gram glukosa
Tidak berkalori, tetapi dibutuhkan untuk
Air
menggantikan cairan yang hilang
Sport drink dengan Digunakan sebagai sumber karbohidrat, enak
karbohidrat 4-8 % dan 600-1000 ml diminum, karena rasanya, namun mengandung
elektrolit sedikit elektrolit
Absorpsi lambat karena mengandung glukods.
Tidak mengandung elekrolit dapat digunakan
Soft drink dengan
500 ml sebagai pengganti cairan karena rasanya yang
karbohidrat 11%
enak. Minuman cola mengandung sedikit kafein.
Tidak mengandung elektrolit
Absorbsi lambat karena mengandung glukosa.
Jus Buah dengan
500 ml Tidak mengandung elektrolit. Dapat menimbulkan
karbohidrat 8-12 %
rasa tidak enak karena mengandung fruktosa.
Sumber karbohidrat konsentrat dengan nilai kalori
Sports gel dengan
1.5 2 gelas yang tinggi. Masih dibutuhkan cairan sebagai
karbohidrat 60-70 %
pengganti cairan yang hilang.
Makanan padat dapat mengurangi rasa lapar
2 3 buah ukuran pada pertandingan dengan durasi lama. Masih
Pisang
sedang dibutuhkan cairan sebagai pengganti cairan yang
hilang
Sumber karbohidrat padat. Jumlah yang besar
dapat menimbulkan diare. Masih dibutuhkan
Jelly Beans 50 gram
dibutuhkan cairan sebagai pengganti cairan yang
hilang
Sebagai sumber energi. Hindari menambahkan
2 helai roti + 4 sdt
Jam Sandwich makanan yang mengandung lemak seperti
selai
mentega dan kacang
Mengandung kadar lemak yang tinggi, karena itu
akan lambat diabsorbsi. Dapat mengurangi rasa
Coklat bar 1.5 2 bar
lapar. Masih dibutuhkan cairan sebagai pengganti
cairan yang hilang
Cereal Bar 1.5 2 bars Makanan dengan mengandung lemak yang
bercariasi dari rendah hingga ketinggi
Bentuk kabrohidrat padat dengan kadar lemak
Sports bars 1 1.5 bars
bervariasi. Kadang-kadang ditamhkan herbal

Sumber : Loise Brke, VichDeakin & Vicki dan dekan Deakin; Clinical sports Nutrition (Third
Edition)

Dengan mengatur pola makan sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan, performa
seorang atlet marathon akan lebih baik dan bisa mencpai prestasi yang baik pula.

PENYELESAIAN KASUS
A. Identitas Olahragawan
Nama Tn. E
Umur 23 tahun
Sex Laki - Laki
Pekerjaan Mahasiswa FKM UJ
Tinggi Badan 172 cm
Berat Badan 56
Akifitas olahraga Futsal

B. Data Subyektif
1. Berkaitan dengan riwayat penyakit
a. Riwayat penyakit sekarang: tidak ada
b. Riwayat penyakit dahulu: pernah menderita typhus saat duduk di bangku SMP.
2. Berkaitan dengan riwayat gizi
a. Aktifitas fisik
Sebagai seorang mahasiwa FKM UJ memiliki aktifitas fisik yang sedang
b. Alergi/ pantangan makanan
Tidak memiliki riwayat alergi
c. Kesukaan
Olahragawan ini suka mengkonsumsi ikan laut dan buah nangka.
d. Kebiasaan makan
Tn. E jarang sarapan, kalaupun sarapan biasanya berupa roti dan susu serta suka minum jus jambu
dan nangka

C. Fisik Klinis
Memiliki tekanan darah normal yaitu 120/85 mmHg.

D. Data Obyektif
1. Antropometri
BB : 56 kg
TB : 172 cm
BBI : (TB 100) 10% (TB 100)
: (172 100) 10% (172 100)
: 72 7,2 = 64,8 kg

E. Status Sosial Ekonomi


Status sosial ekonomi Tn.E tergolong menengah.

F. Assessment Gizi
Perhitungan IMT : BB/(TB)2 = 56/(1,72)2 = 18,92 kg/m2
Penilaian :
Berdasarkan IMT, pasien memiliki status gizi Normal (18,92 kg/m2), karena
batasan BB Normal yaitu 18,5-22,9 kg/m , menggunakan WHO WPR/IASO/IOTF dalam the Asia Pacific
2

Perspective : Redefining Obesity and its Treatment, dengan kategori :


<18,5 kg/m2 : BB kurang
18,5-22,9 kg/m2 : normal
23 : BB lebih
23-24,9 kg/m2 : at risk (dengan resiko)
25-29,9 kg/m2 : obese I
30 kg/m2 : obese II

G. Intervensi Gizi
1. Planning
a. Tujuan Diet
- Tercapainya berat badan dan komposisi badan yang ideal
- Menghasilkan penampilan yang prima
- Menjaga stamina tubuh dengan ritme latihan dan jadwal yang padat
b. Prinsip Diet
Makanan atlet harus mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan untuk mengganti zat-zat
gizi dalam tubuh yang berkurang akibat digunakan untuk aktifitas olahraga.
c. Syarat Diet
Karbohidrat = 65% total energi
Protein = 15% total energi
Lemak = 20% total energi
d. Kebutuhan Zat Gizi
BBI = (TB 100) 10% (TB 100)
= (172 100) 10% (172 100)
= 72 7,2 = 64,8 kg
IMT =
=
= 18,92 kg/m2 status gizi Normal
Energi Total = BMR + AF + SDA + energi latihan

BMR = 1514
AF = 1,8
SDA = 10% x 1514
= 151,4
Penambahan energi untuk latihan / hari
Jumlah latihan per minggu = 7 kali per minggu
Faktor aktivitas olahraga =8
Lama aktivitas olahraga = 60 menit
=
= = 480 kkal
Energi Total = 1514 kkal + 1,8 + 151,4 + 480
= 2147,2 kkal
Jadi kebutuhan energi total olahragawan ini setiap harinya adalah sebesar 2147,2 kkal.

Kebutuhan protein = 20% x E total


= 20% x 2147,2 kkal
= 429,44 kkal / 4
= 107,36 g
Kebutuhan lemak = 20% x E total
= 20% x 2147,2 kkal
= 429,44 kkal / 9
= 47,72 g

Kebutuhan karbohidrat = 60% x E total


= 60% x 2147,2 kkal
= 1288,32 kkal / 4
= 322,08 g
e. Kebutuhan Cairan
- BB sebelum berlatih (A) = 56 kg
- BB sesudah berlatih (B) = 55,5 kg
- Perbedaan (A-B=C) = 0,5 kg = 0,5 L
- Vol. air yang diminum selama OR (D) =1L
- Total keringat yang hilang (C+D=E) = 1,5 L
Jadi, agar cairan tetap diproduksi, penggantian cairan yaitu sebesar 1,5 x volume cairan yang hilang
2. Implementasi
Menu gizi atlet terlampir

H. Kajian Pustaka
Tujuan pengaturan makanan bagi atlet adalah untuk mengisi cadangan glikogen otot dan hati
serta menjaga karbohidrat maupun lemak agar tetap tersedia dalam darah untuk digunakan oleh otot.
Penggunaan karbohidrat dan lemak sebagai sumber energi selama olahraga tergantung pada
intensitas dan lamanya aktivitas tersebut. Secara umum, penggunaan karbohidrat meningkat dengan
meningkatnya intensitas fisik. Sebaliknya, penggunaan karbohidrat menurun dengan makin lamanya
aktivitas fisik yang berlangsung. Namun, jumlah absolut karbohidrat dan lemak yang digunakan oleh
otot dapat dinaikan, tergantung pada ketersediaannya. Meskipun tubuh dapat menggunakan lemak
pada intensitas kegiatan yang lebih rendah, lemak tidak dapat menyediakan energi secepat
kerbohidrat pada kegiatan fisik yang berat (Rimbawan 2004).
Untuk menunjang prestasinya, atlet memerlukan zat gizi yang cukup, baik kualitas maupun
kuantitas. Untuk memperoleh prestasi yang optimal, perlu disusun perencanaan makanan berjangka,
baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang yang selanjutnya dijabarkan dalam program
perencanaan makanan atlet. Perencanaan makanan atlet perlu diselaraskan dengan perencanaan
program latihan meliputi periode persiapan, pertandingan dan transisi. Perencanaan gizi meliputi
empat hal, yakni:
1. Perbaikan status gizi: pada umumnya perbaikan status gizi dilaksanakan pada periode persiapan
umum
2. Pemeliharaan status gizi: dapat dimulai sejak awal periode persiapan apabila atlet telah memiliki
status gizi normal. Sebaliknya, pemeliharaan status gizi pada atlet yang belum memiliki status gizi
normal dilakukan setelah status gizi normal.
3. Pengaturan gizi pertandingan: pada periode pertandingan perlu disusun perencanaan makanan:
sebelum bertanding, saat bertanding dan setelah bertanding, terutama untuk olahraga yang
memerlukan waktu bertanding lebih dari 60 menit.
4. Pemulihan status gizi: perencanaan makanan untuk memulihkan kondisi fisik atlet dilaksanakan pada
periode transisi (Irianto 2007).
Setiap atlet membutuhkan sejumlah energi dan zat-zat gizi lain yang cukup untuk melakukan
aktivitasnya. Penyelenggaraan makanan bagi atlet menjadi sangat penting karena memerlukan suatu
penyusunan hidangan yang sehat/seimbang dan tepat, agar kebutuhan gizi atlet dapat dipenuhi untuk
mencapai prestasi puncak.
Menurut DBGM (1997), oksigen, air, energi dan zat gizi dibutuhkan untuk proses kehidupan.
Makanan untuk seorang atlet harus mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan untuk mengganti
zat-zat gizi dalam tubuh yang berkurang akibat digunakannya zat-zat gizi tersebut untuk aktivitas
olahraga. Menu seorang atlet harus mengandung semua zat gizi yang diperlukan yaitu karbohidrat,
lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Menu atlet harus disusun berdasarkan jumlah kebutuhan
energi dan komposisi gizi penghasil energi yang seimbang. Menu makanan harus mengandung
karbohidrat sebanyak 60-70%, lemak 20-25% dan protein sebanyak 10-15% dari total kebutuhan
energi seorang atlet. Menu yang disusun berdasarkan kebutuhan jumlah energi dan komposisi gizi
penghasil energi seimbang, serta dibuat dari bahan makanan yang memenuhi kriteria gizi seimbang,
umumnya sudah mengandung vitamin dan mineral sesuai dengan kebutuhan atlet.
Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat (1993) menyatakan bahwa untuk atlet
kecukupan zat-zat gizinya berbeda dengan rata-rata kecukupan masyarakat pada umumnya karena
aktivitas atlet tidak sama dengan aktivitas masyarakat serta kondisi-kondisi tertentu pada atlet harus
ditunjang nutrisi yang tepat. Mihardja (2000) mengatakan, kebutuhan gizi harian atlet berubah-ubah,
tergantung pada intensitas latihannya. Klasifikasi Olahraga tiap cabang olahraga mempunyai macam-
macam aktivitas serta lama aktivitas yang berbeda-beda. Oleh sebab itu masing-masing cabang
olahraga tersebut digolongkan menurut tingkat intensitas serta kebutuhan energi yang diperlukannya
seperti yang tercantum di bawah ini.
Daftar resmi tentang pembagian ini masih belum ada, sehingga sewaktu-waktu dapat
mengalami perubahan. Apabila ada satu cabang olahraga yang belum tercantum di dalam daftar ini,
penggolongannya supaya disesuaikan dengan cabang olahraga yang kira-kira aktivitasnya sama
dengan yang telah ada.
3. Monitoring
MONEV ABCD Intervensi gizi Intervensi
Antropometri Asupan atlet Konseling
BB: 56 kg E : 1667,2 kcal, berat badan Penjelasan
TB: 172 cm P : 62,52 g dan komposisi mengenai
L : 37,05 g
BBI: 64,8kg badan yang gizi atlet
KH : 270,92 g
ideal

I. PEMBAHASAN
Tn. E seorang olahragawan dalam bidang futsal, memiliki berat badan 56 kg dengan tinggi
badan 172 cm. memiliki riwayat penyakit dahulu yaitu thypus di bangku SMP
Berdasarkan hasil penghitungan IMT, diketahui memiliki status gizi normal. Olahragawan ini
memiliki makanan favorit ikan laut dan buah nangka.
Setelah dilakukan perhitungan kebutuhan gizi bagi atlet, olahragawan ini memiliki kebutuhan
energi sebesar 1667,2 kcal. Kebutuhan cairan olahragawan ini sebesar 1,5 L. Jadi, agar cairan tetap
diproduksi, penggantian cairan yaitu sebesar 1,5 x volume cairan yang hilang.
Untuk proses monitoring, evaluasi dan tindak lanjut dalam hal antropometri yaitu menjaga berat
badan dan komposisi badan yang ideal,

J. KESIMPULAN
1. Atlet telah diberikan intervensi gizi sesuai dengan prioritas masalah yang dihadapi, yaitu berat badan
dan komposisi badan yang ideal.
2. Kebutuhan gizi atlet pada responden ini yaitu E : 1667,2 kcal, P : 62,52 g, L :
37,05 g, KH : 270,92 g

K. SARAN
Disarankan pada atlet untuk tetap menjaga berat badan dan komposisi badan yang
ideal, Menghasilkan penampilan yang prima, serta Menjaga stamina tubuh dengan ritme latihan dan
jadwal yang padat.