Anda di halaman 1dari 27

PENGENALAN BENTUK LAHAN

G. MERAPI SILUK PARANGKUSUMO

TUGAS FIELDTRIP GEOMORFOLOGI

Oleh :

Nama : Muhammad Amiruddin Nurullah

NIM : 712215208

Kelas : 4

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
YOGYAKARTA
2016
HALAMAN PENGESAHAN

PENGENALAN BENTUK LAHAN


GUNUNG MERAPI SILUK PARANGKUSUMO
TUGAS FIELDTRIP GEOMORFOLOGI

Oleh :

Nama : Muhammad Amiruddin Nurullah

NIM : 712215208

Kelompok : 09

Yogyakarta, 2 Juni 2016


Dosen Pengampu,

Dr. R. Andy Erwin Wijaya, S.T,. M.T

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
rahmat dan karunia-Nya sehingga Laporan Tugas Fieldtrip Geomorfologi ini dapat
terselesaikan dengan baik.

Adapun penulisan tugas ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari


macam-macam bentuk lahan di alam yang terbentuk akibat proses geomorfologi.

Dalam penyusunan laporan ini, penulis menyadari pengetahuan dan


pengalaman penulis masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
adanya kritik dan saran dari berbagai pihak agar makalah ini lebih baik dan
bermanfaaat.

Serta akhir kata semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun
pembaca.

Yogyakarta, 2 Juni 2016

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAM PENGESAHAN.....................................................................................ii
KATA PENGANTAR............................................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................v
BAB :
HALAM PENGESAHAN.....................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................iv
BAB :
I. PENDAHULUAN ...........................................................................1
II. TINJAUAN UMUM...........................................................................3
2.1 Lokasi Bentuk Vulkanik................................................................3
2.2 Lokasi Bentuk Lahan Asal Fluvial................................................4
2.3 Lokasi Bentuk Lahan Asal Marine dan Eolian..............................5
III. HASIL DAN PEMBAHASAN...........................................................8
3.1 Bentuk Lahan Asal Vulkanik.........................................................8
3.2 Dampak Lingkungan Dari Gunung Api........................................9
3.3 Kaitan dengan Tambang................................................................11
3.4 Bentuk Lahan Asal Fluvial............................................................11
3.5 Pembentukan Yang Terjadi............................................................15
3.6 Manfaat Sungai..............................................................................15
3.7 Bentuk Lahan Asal Marine............................................................15
3.8 Bentuk Lahan Eolian.....................................................................17
IV. KESIMPULAN...................................................................................22
4.1 Kesimpulan ...................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................24

4
DAFTAR GAMBAR

Gambar : Halaman
2.1 Lokasi Pertama di kali Kuning Sleman Yogyakarta........................3
2.2 Lokasi kedua di jembatan Siluk, Kali Opak, Kabupaten Bantul.....4
2.3 Lokasi ketiga di Parangkusumo.......................................................5
2.4 Lokasi Marine..................................................................................6
2.5 Gumuk pasir.....................................................................................7
3.1 Gradien sungai elevasi Braided dan Meander..................................12
3.2 Sungai Braided.................................................................................13
3.3 Penampang sungai Meander............................................................13
3.4 Kecepatan Air...................................................................................14
3.5 Kali opak..........................................................................................15
3.6 Gumuk pasir sabit............................................................................18
3.7 Gumuk pasir melintang....................................................................19
3.8 Gumuk pasir memanjang.................................................................19
3.9 Gumuk pasir parabolik.....................................................................20
3.10 Gumuk pasir bintang......................................................................21

5
BAB I
PENDAHULUAN

Permukaan bumi selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu sebagai


akibat proses geomorfologi, baik tenaga endogen maupun tenaga eksogen. Proses
endogen termasuk kegiatan kegunungapian dan proses-proses pembentukan
perbukitan dan pegunungan. Yang akan mengakibatkan perubahan bentuk permukaan
bumi karena aktifitas gunung api, tektonik maupun gempa bumi sehingga
menghasilkan struktur geologi maupun geomorfologi.

Struktur geologi merupaka faktor pengontol yang dominan didalam evolusi.


Bentuk lahan dan struktur geologi dicerminkan oleh bentuk lahannya. Dalam
mempelajari ssuatu geomorfologis, harus mempelajari sejarah perkembangannya
saat tersier hingga pleistosen dengan memperhatikan perubahan-perubahan iklim dan
geologi.

Geomorfologi dapat di defenisikan sebagai ilmu yang membicarakan tentang


bentuk lahan yang mengukir permukaan bumi baik di atas maupun dibawah
permukaan air laut, menekankan cara pembentukannya secara konteks ke
lingkungannya. Di dalam mempelajari geomorfologis yang sangat penting adalah
aspek utama geomorfologi, antara lain :

a. Aspek Morfologi
Mencakup morfometri yaitu aspek ukuran dan bentuk unsur-unsur penyusun
bentuk lahan serta morfologi yang merupakan susunan dan objek alami yang
ada dipermukaan bumi sesuai dengan proses perkembagannya.
b. Aspek Morfolgenesa
Asal usul pembentukan bentuk lahan dan perkembangannya sehingga
menghasilkan konfigurasi permukaan bumi yang berbeda-beda.
c. Aspek Morfo-Asosiasi
Keterkaitan antara bentuk lahan satu dengan yang lain dalam susunan
keruangan atau sebarannya dipermukaan bumi. Ini sangat penting karena
pembentukan lahan dipermukaan bumi ditentukan oleh berbagai faktor
seperti topografi, bahan, iklim, organisme, vegetasi, dan waktu.

1
Klasifikasi bentuk lahan yang didasarkan pada genesis, proses, atau batuan
dikemukakan oleh Veestapen (%1983) terdapat 8 bentuk lahan antara lain :

a) Bentuk lahan asal Vulkanis


b) Bentuk lahan asal Marine
c) Bentuk lahan asal Denudasional
d) Bentuk lahan asal Flufial
e) Bentuk lahan asal Eoaliang
f) Bentuk lahan asal Pelarutan
g) Bentuk lahan asal Plasial

Pada pengenalan bentuk lahan ini yang akan diamati hanya 4 bentuk yang
tersebar dari Gunung Merapi sampai Paragkritis.

BAB II
TINJAUAN UMUM

2
2.1 Lokasi Bentuk Lahan Asal Vulkanik

Kelerengan,
14=25%
Gunung Merapi

Jalur
Kali Kuning Lava

Lokasi: Kali Kuning


Tumpuk
Koordinat : 1102537,3 E
an
73723,9 S
Elevasi : 668 mdpl Material

Gambar 2.1 : Lokasi Pertama di Kali Kuning, Sleman Yogyakarta

Lokasi lahan ini berada di kali kuning, Sleman, Yogyakarta dan termasuk ke
dalam bentang alam volkanik yaitu bentang alam yang pembentukannya dikontrol
oleh proses keluarnya magma dari dalam bumi. Terjadi perubahan pada sungai
Kuning akibat adanya aktifitas Vulkanik. Sungai kuning berada pada Zona Proksimal
atau berada dilereng, contohnya sungai ini pertama terbentuk karena pelapukan
namun tidak terlihat kerena telah terjadi erupsi. Bukti terjadi pelapukan dari Merapi
yaitu :
a. Ukuran Butir yang masih besar-besar
b. Batuan yang masih besar-besar.

Morfologi gunungapi dibedakan menjadi 3 zona, yaitu :

1. Zona pusat erupsi (central zone)


2. Zona proksimal
3. Zona distal

3
Keterdapatan mineral biasanya berada di daerah volkanik tua.

2.2 Lokasi Bentuk Lahan Asal Fluvial

Utara
Lokasi: Jembatan Siluk Kaliopak
Koordinat : 1102246,8 E
Utara 7576,8 S Dataran banjir
Elevasi : 36 mdpl Gosong Tepi

Gosong Tengah

Gambar 2.2 : Lokasi kedua di Jembatan Siluk, Kali Opak

Lokasi lahan ini terdapat pada Jembatan Siluk, Kali Opak, Kabupaten Bantul,
Kecematan Imogiri, Yogyakarta dan termasuk ke dalam bentang alam fluvial yaitu
bentang alam yang terbentuk dari proses fluviatil (aktifitas sungai). Di daerah ini
terdapat tiga bentuk lahan, yaitu :

1. Gosong tepi (endapan yang ada di tepi sungai)


2. Gosong tengah (endapan yang ada di tengah sungai)
3. Dataran banjir (daerah di luar sungai yang hanya tergenang air ketika banjir
terjadi).

Ketiga bentuk tersebut dipengaruhi oleh proses pengendapan. Dapat


terbentuk karena adanya material yang diangkut yang merupakan ketermenerusan
material yang terdapat di kali kuning yang terlapukan dan berpindah ke sungai akibat
arus angin.

Terjadi pengendapan di daerah sungai karena arus sungai yang melambat


karena daerahnya yang sudah datar atau landai. Pelebaran sungai disebabkan oleh

4
arus sungai yang melemah, sedangkan pendalaman sungai disebabkan oleh arus
sungai yang kuat.

Bentuk material di daerah fluvial berbeda dengan yang ada di daerah


vulkanik yang berupa material primer, pada daerah fluvial materialnya umumnya
berupa endapan placer. Jika dikaitkan dengan pertambangan maka bisa diketahui
bahwa metode penambangan dan konsentrasi endapanya akan berbeda antara daerah
vulkanik dan daerah fluvial.

2.3 Lokasi Bentuk Lahan Asal Marine dan Eolian (Gumuk Pasir)

Utara Lokasi: Pantai Parangkusumo


Koordinat : 1101922,2 E
8122,2 S
Elevasi : 3 mdpl

Gambar 2.3 : Lokasi ketiga di Pantai Parangkusumo

Lokasi lahan ini terletak di Pantai Parangkusumo yang merupakan bagian


hulu dari Kali Kuning. Di tempat ini akan dilihat bentuk lahan Marine, Pasang surut
dan Gumuk Pasir.

a. Bentuk Lahan Marine

Bentuk lahan ini termasuk ke dalam bentang alam marine (pesisir) yaitu bentang
alam yang terbentuk akibat aktifitas air laut, karena masih terdapat bukti-bukti air

5
laut. Garis air terendah ketika pasang surut dan garis air tertinggi yang dipengaruhi
oleh badai ini dinamakan kawasan pesisir atau marine.

Pasir yang ada di pantai ini berasal dari material di lokasi 1 yaitu kali kuning yang
terlapukan dan tertransportasi ke daerah pantai, yang kemudian pasir tersebut
kembali terendapkan di pantai akibat arus ombak.

U Perbukitan Karst

Gambar 2.4 : Marine


Di dekat daerah pesisir ini terlihat bukit-bukit karst yang material utama
pembentuknya adalah koral(batu gamping). Perbukitan ini terbentuk akibat adanya
proses struktural yang mengangkatnya dari dasar laut ke permukaan.

b. Gumuk Pasir

Bentuk lahan ini termasuk ke dalam bentang alam eolian yaitu bentang alam
yang terbentuk oleh adanya arus angin. Beberapa syarat terbentuknya gumuk pasir,
yaitu :

1. Tersedia material berukuran pasir halus hingga kasar dalam jumlah yang
banyak.
2. Adanya periode kering yang panjang dan tegas.
3. Adanya angin yang mampu mengangkut dan mengendapkan bahan pasir
tersebut.
4. Gerakan angin tidak banyak terhalang oleh vegetasi maupun obyek lain.

6
Utar
Gumu a
k Pasir

Gambar 2.5 Gumuk Pasir

Bentuk gumuk pasir bermacam-macam tergantung pada faktor-faktor jumlah dan


ukuran butir pasir, kekuatan dan arah angin, dan keadaan vegetasi. Bentuk gumuk
pasir pokok yang perlu dikenal adalah bentuk melintang (transverse), sabit
(barchan), parabola (parabolic), dan memanjang (longitudinal dune).

7
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Bentuk Lahan Asal Vulkanik


Bentang alam vulkanik adalah bentang alam yang bentuk pembentukannya
dikontrol oleh proses keluarnya magma dari dalam bumi. Bentang alam vulkanik
umumnya dihubungkan dengan gerak tektonik, gunung api sebagia besar dijumpai
didepan zona penunjaman (subduction zone). Morfologi gunung api dibedakan
menjadi 3 zona, yaitu :
1. Zona pusat erupsi (central zone)
Pada zona ini, pusat erupsi terjadi dan energy terbesar dari pusat erupsi
ada pada zona ini. Dengan adanya kegiatan vulkanisme yang tinggi, banyak
menyebabkan aktifitas-aktifitas lain seperti Hidrotermal dan Mineralisasi
sehingga banyak terjadi proses alterasi menghasilkan berbagai macam unsur
yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti emas. Telah diketahui, tambang-
tambang emas besar diindonesia seperti Grasberg, Papua dulunya merupakan
zona pusat erupsi gunung api purba. Namun perlu diketahui, saat gunung api
masih aktif , zona ini sangat berbahaya. Kandungan gas-gas beracun dan
sulfur yang berbau menyengat dan pekat dapat menyebabkan pingsan atau
bahkan kematian apabila terhirup melampaui batas. Saat terjadi erupsi zona
inilah yang sangat sangat hancur.
2. Zona proksimal
Zona dengan lapisan soil yang tipis dan material piroklastik sedikit
terorietasi dan mengalami proses pelapukan dan erosi. Material piroklastik ini
setelah beberapa bulan atau beberapa tahun bisa menjadi sumber
penghasupan bagi tanaman melalui berbagai unsur dibawanya. Maka dari itu,
zona ini sudahh mulai dikembangkan menjadi lahan perkebunan dimana
sayuran dapat tumbuh subur. Selain itu daerah proksimal menjadi derah
penangkap air hujan yang sangat baik yang kemudian mengalirkan ke zona-
zona dibawahnya.

3. Zona distal

8
Zona ini merupakan zona dengan kelerengan landai dan menjadi derah
tangkapan air dari zona proksimal. Litologi penyusunnya kebanyakan adalah
konglomerat, lahar, batupasir, dan tuff. Daerah ini masih cukup subur dengan
adanya jatuhan piroklastik yang sampai daerah ini saat terjadi erupsi, zona ini
dapat menjadi daerah aman namun dapat juga menjadi daerah berbahaya
terutama pada kawasan yang terletak disekitar sungai tempat lahar
menerjang. Pada zona ini yang terjadi bukan proses pelapukan atau erosi
melainkan proses pengendapan (sedimentasi)

3.2 Dampak lingkungan dari gunung api


Gunung api dapat mempengaruhi lingkungan, pengaruh baik (sesumber), maupun
pengaruh buruk ( bencana) bagi manusia.
Dampak positif dari gunung api
a) Panas bumi
Panas bumi dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik dari proses
hidrotermal yang terjadi didaerah gunung api seperti yang diusahakan
dipegunungan Dieng dan Lahendong
b) Sebagai taman wisata, dikembangkan darri potensi keindahan alam dan
suasana alam yang masih asri dan sejuk seperti kaliurang, Puncak dan
Sarangan.
c) Sebagai daerah pertanian yang subur seperti yang banyak dijumpai
diseluruh Indonesia contohnya : Batu, Kaliurang, Dieng, Wonosobo.
d) Sebagai daerah pengisian (recharger) air tanah bagi daerah-daerah sekitar
gunung api seperti Gunung Merapi untuk daerah sekitar Yogyakarta.
e) Sebagai daerah penyeimbang atau pembagi hujan bagi daerah sekitarnya.

Selain berpotensi sebagai dearah yang menguntungkan, gunung api juga


berpotensi sebagi sumber bencana. Secara garis besar bahaya akibat erupsi gunung
api dapat dibagi menjadi 2 yaitu ;

1) Bahaya langsung (primer)


Bahaya langsung (primer) akibat gunung api meliputi ;
a) Aliran lava
Terjadinya aliran cairan yang pijar atau cair dan bersuhu tinggi
(12000c). Alirannya menuruni lereng yang terjal dan dapat mencapai

9
beberapa kilometer. Semua benda yang dilaluinya akan hangus dan
terbakar. Apabila longsor akan menimbulkan awan panas.
b) Bom gunung api
Batuan yang panas dan pijar berukuran 10cm - 2 m, batuan ini dapat
terlempar dari pusat erupsi sejauh hingga 10 km. bila tiba ditanah
Bomini akan mengeluarkan letusan dan akan hancur.
c) Pasir lapilli
Campuran material letusan yang berukurannya lebih kecil dari bom
(lebih besar 2 mm). Sedangakan lapilli lebih besar dari pada pasir
hingga mencapai beberapa cm. apabila terjadi letusan pasir dan lapilli
ini dapat terlempar hingga puluhan Km. Pasir dan lapilli ini dapat
menghancurkan atap rumah, karena bebannya juga dapat merusak
lahan pertanian hingga dapat membunuh tanaman.
d) Awan pijar
Suspense dari material halus yang dihasilkan oleh erupsi gunung api
dan dihembus oleh angin hingga mencapai beberapa kilometer. Awan
pijar ini merupakan campuran yang pekat dari gas, uap dan material
halus yang bersuhu tinggi (hingga 12000C). Suspensi ini berat
sehingga mengalir menuruni lereng gunung api dan seolah-olah
meluncur, luncurannya dapat mencapai 10-20 km dan dapat
membakar apa yang dilaluinya seperti yang terjadi pada Gunung
Merapi pada tahun 1994, 2006, dan 2010 yang memakan korban
akibat letusan awan panas ini.
e) Abu Gunungapi
Abu ini merupakan campuran material yang paling halus dari suatu
letusan gunungapi. Suhunya bisa tidak panas lagi. Ukuranya kurang
dari 1 mkikro-2 mm. Bahaya yang dapat ditimbulkan antara lain bisa
mengganggu penerbangan seperti yang terjadi pada saat letusan
Gunungapi Kelud, dapat menimbulkan sesak napas apabila terlalu
banyak menghisap abu gunung api dan menimbulkan penyakit yang
terisapnya abu gunung api yang mengandung silica bebas.
f) Gas beracun
Kadar gas yang tinggi dapat menimbulkan kematian. Gunung api
biasanya mengeluarkan gas CO, CO2, H2S, HCN, H3AS, NO2, Cl2 dan
gas lain yang jumlahnya sedikit. Nilai batas ambang untuk gas CO 50

10
ppm (part per million, 5.00 ppm). Sedangkan gas H2S yang sangat
mematikan pada 0,05 ppm. Gas yang dikeluarkan saat erupsi tidak
begitu berbahaya karena gas tersebut langsung terbakar pada saat
terjadi letusan gunung api. Yang paling berbahaya adalah apabila gas
tersebut dikeluarkan pada sisa-sisa gunung api. Seperti yang terjadi di
pegunungan Dieng. Gas tersebut BJ-nya lebih besar dari udara bebas
sehingga letaknya berada pada daerah-daerah yang rendah seperti
dilembah-lembah, dekat permukaan tanah.
2) Bahaya setelah terjadi letusan (sekundera)
Bahaya aliran lahar. Lahar terbentuk dari batuan yang dilemparkan dari
pusat erupsi baik block, bom, lapilli, tuff, abu, maupun longsoran kubah lava.
Apabila terjadi hujan lebat yang turun bersamaan atau setelah erupsi maka
endapan material hasil erupsi tersebut akan tersangkut oleh aliran air
membentuk, aliran bahan rombakan yang biasa disebut aliran lahar. Aliran
lahar ini mempunyai kekuatan merusak yang besar dan akan melalui apa saja
yang ada didepannya tanpa kecuali baik pemukiman, hutan tanah pertanian
maupun tanggul sungai yang dilaluinya.
3.3 Kaitan dengan tambang
Magma yang keluar bersamaan dengan mineral-mineral dapat di tambang
namun terdapat cara penambangan yang berbeda karena tergantung dari material-
material.

3.4 Bentuk Lahan Asal Fluvial


Sistem Fluvial merupakan sistem yang berhubungan dengan aliran air sungai
yang terjadi darat karena gaya grafitasi. Floodplain (dataran banjir) adalah daerah
yang berada diluar channel yang hanya tergenang air ketika banjir terjadi.
Endapanya relative lebih halus dari endapan chanel serta dinding chanel, endapan
didalam chanel tentu saja lebih kompleks kerana bentuk chanel sungai akan
membawa mekanisme arus dan kecepatan debit yang berbeda-beda pada chanel
airnya mengalir terus menerus sehingga yang terjadi adalah traksi (bedload) yang
bekerja disana terus menerus menyulitkan material halus mengendap sedangkan
di floodplain airnya diam disitu saja hanya arus suspense yang bekerja saat banjir
datang membawa material sedimen halus yang meluap keluar dinding chanel

11
kemiringan lereng pada sungai braided lebih curam dari
sungai meander yang berada jauh ke arah downstream (hilir)
hal ini juga diperkuat dari kematangan tekstur endapannya.
Gambar 3.1 : Gradien sungai Elevasi Braided dan Meander

Dari gambar diatas kelihatan gradien elevasi sungai braided itu lebih tinggi dari
sungai meander yang arusnya lebih rendah dan mengisi gradien landform yang lebih
landai,, hal ini bisa menggambarkan komposisi tekstur dari produk sedimentasi
keduanya (sungai meander karena lokasinya lebih jauh maka kemungkinan produk
sedimentasinya lebih matang). Bagaimana proses terbentuknya bar-bar dalam chanel
sungai braided diatas ? Kondisi yang unik yang jadi syarat sungai braided ini adalah
Discharge sedimen yang besar ini memungkinkan proses pengendapan ang cepat
ketika arus melemah.

Gambar 3.2 : sungai Braided


Ketika aliran rendah (karena discharge sediment yang tinggi di sungai braided
(sungai besar dengan channel relatif lurus) akan mengendapkan gundukan material
kasar (namanya bar) dicirikan pola alirannya juga liniear terhadap channel maka
bentuk barnya juga akan memanjang. Nichols (2009) sungai Braidedini dinamakan
sungai dengan sistem transporti dominan berupa Bedloadtransport.Bedload

12
merupakan jenis aliran yang berada didasar sungai yang bersentuhan langsung
dengan bed (rolling saltation, draging,dll) lawannya adalah suspended load
(Suspensi dan disolusi). Discharge sedimen yang tinggi dengan kemiringan lereng
yang cukup segnifikan maka erosi sifatnya pararel terhadap chanel tapi karena infuks
sedimen yang banyak maka kemungkinan sedimen ni untuk bergerak menyentuh bed
(dasar aliran) akan sangat mungkin terjadi.

Gambar 3.3 : Penampang sungai Meander


Gambar diatas menunjukan suatu penampang sungai Meander, tidak benar-
benar membentuk U (setengah tabung) tapi sedikit mencong ke arah kelokan luar
chanel dimana bagian itu (kelokan luar) merupakan bagian yang paling dalam dari
penampang chanel karena tergerus (tererosi terus oleh arus bedload yang dipicu oleh
aliran spiralhelicoidal) sedangkan pada bagian kelokan luar pada profil gambar
diatas sebelah kanan cenderung lebih dangkal dan membentuk kemiringan lebih
landai karena berisi endapan akresi lateral (point bar) hasil erosi dari dinding bank
sebelahnya (kelokan luar chanel tadi disebalah kiri pada gambar)

Gambar 3.4 : Kecepatan air

13
Airan selalu semakin cepat pada saat mendekati (menghantam) bank (dinding
Chanel) pada kondisi lurus (seperti pada chanel sungai lurus misalnya penampang A)
aliran tercepat berada pada tengah chanel.pengaruh deflection (pantulan) dari
kelokan sebelumnya inilah yang memicu aliran semakin cepat ketika berbenturan
benturan dengan dinding chanel.
3.5 Pembentukan yang terjadi
Proses pembentukan yang terjadi akibat adanya sungai yang dapat diamati terbagi
menjadi 3 yaitu :
1. Gosong tengah
Endapan yang terbentuk ditengah sungai
2. Gosong Tepi
Endapan yang ditemukan ditepi sungai
3. Dataran banjir
Dataran yang berada diluar, dan di tumbuhi rumput-rumput.

Gambar 3.5 : Kali Opak


Terdapat pengendapan atau sedimentasi yang terjadi akibat dari kekuatan atau
debit aliran sungai tidak sekuat dari hulu hal ini yang menyebabkan terdapat
batuan-batuan ditepi sungai sehingga terjadi pelebaran pada sungai.

3.6 Manfaat Sungai


3.6.1 Dampak Positif
Di temukannya Endapan plaser yang terdapat pada dataran banjir dan gosong
tepi yang dapat di lakukan penambangan sedangkan pada dataran gosong tengah
tidak dapat dilakukan proses penambangan karena aliran air yang dapat
menyebabkan perluasan pada sungai.
3.6.2 Dampak Negatif

14
Terjadinya banjir yang di akibatkan oleh hujan yang menyebabkan
bertambahnya air pada sungai dan aliran air atau debit air semakin kuat.

3.7 Bentuk Lahan Asal Marine (Pesisir)


Kawasan pesisir terletak antara garisan terendah ketika pasang surut dan garis
air tertinggi yang dipengaruhui oleh badai. Proses pesisir melibatkan interaksi
tiada henti antara energi proses pesisir dengn material pesisr. Jika energi pesisir
sangat tinggi, erosi akan terjadi dan garis pantai akan mundur. Sebaliknya jika
pasokan material dari darat besar, deposit akan mendominasi dan garis pantai akan
maju.
Tinggal didaerah pesisir meski seolah menyenangkan seperti yang dipilih oleh
2/3 populasi penduduk bumi, namun resiko alam yang dihadapi juga banyak
ragamnya :
- Naiknya air laut menyebabkan erosi pesisir semakin meningkat.
- Tanah longsor sering terjadi pada daerah pesisir yang memiliki tebing cukup
terjal.
- Pantai-pantai berpasir sering bermigrasi karena arus sepanjang pantai
- Badai sering mengancam
- Demikian pula dengan tsunami.
Ada dua jenis arus yang berkembang dipantai yaitu : arus sepanjang pantai
(longshore current) dan arus robek (rip current). Gelombang yang bergerak dari
laut dalam dicirikan oleh puncak yang panjang dan menerus, namun mereka
jarang sejajar dengan garis pantai. Sehingga sebagian dari gelombang terlebih
dahulu pecah dan menyentuh pantai dibandingkan sebagian lainnya. Efek dari
pertemuan menyudut antara gelombang dan garis pantai adalah pembelokan
gelombang agar relatif sejajar dengan garis pantai, disebut refraksi gelombang.
Meskipun telah refraksi gelombang tetap selalu mendekati pantai dengan
sudut tertentu menyebabkan massa air diantara breaker dan garis pantai bergerak
sejajar garis pantai menghasilkan arus sepanjang pantai (longshore current). Arus
sepanjang pantai sangat penting karena mereka mampu mengerosi, membawa dan
mengendapkan sejumlah besar sedimen dipantai. Pergerakan sedimen akibat arus
sepanjang pantai disebut longshore driff. Gelombang membawa massa air ke
pantai, sehingga harus ada mekanisme untuk mengembalikannya kembali ke laut.
Salah satu caranya adalah membentuk arus robek (rip current). Arus robek adalah
arus permukaan yang sempit dan mengalir keluar kearah laut melalui zona

15
breaker. Arus ini berbahaya bagi para perenang pemula. Sebagian massa air yang
dibawa keluar oleh arus robek disumbangkan oleh arus sepanjang pantai.
Sehingga arus robek berfungsi sebagai sel sirkulasiarus sepanjang pantai. Lokasi
terbentuknya arus robek juga di tentukan oleh konfigurasi dasar laut pantai seperti
cekungan. Mereka terbentuk pada gelombang yang tingginya paling renda.
Ketinggian gelombang dikontrol oleh variasi kedalaman air didaerah cekung yang
tinggi gelombangnya akan lebih rendah dibandingkan daerah lain.
Pantai adalah jalur atau bidang yang memanjang tinggi serta lebarnya
dipengaruhi oleh pasang surut dari air laut yang terletak antara daratan dan laut
(Thornbry, 1954) faktor-faktor yang mempengaruhi morfologi pantai dipengaruh
diatropisme tipe batuan struktur geologi perubahan naik turunnya muka air laut
serta pengendapan sedimen asal dataran/sungai. Erosi dataran dan angin.
Daerah pantai yang masih mendapat pengaruh air laut dibedakan menjadi 3 (tiga)
yaitu :
Beach (daerah pantai yaitu daerah yang lansung mendapat pengaruh air laut
dan selalu dapat dicapai oleh pasang naik dan surut.
Shore line (garis pantai) yaitu jalur pemisahan yang relatif merupakan batas
antara daerah yang dicapai air laut dan yang tidak bisa
Coast(pantai) yaitu daerah yang berdekatan dengan laut dan masih mendapat
pengaruh dari air laut.
3.8 Bentuk lahan Eolian
Endapan oleh angin terbentuk oleh adanya pengikisan, pengangkutan dan
pengendapan bahan-bahan tidak kompak oleh angin. Endapan karena angin yang
paling utama adalah gumuk pasir (sand stones) dan endapan debu (loose). Kegiatan
angin mempunyai dua aspek utama yaitu, : bersifat erosif dan deposisi. Bentuknya
yang berkembanga terdahulu mungkin akan berkembang dengan baik apabila
dipadang pasir terdapat batuan.
Gumuk pasir adalah gundukan bukit dari pasir yang terhembus angin. Gumuk pasir
dapat dijumpai pada daerah yang memiliki pasir sebagai material utama kecepatan
ngin tinggi untuk mengikis dan mengangkut butir-butir berukuran pasir dan
permukaan tanah untuk tempat pengendapan pasir biasanya terbetuk didaerah kering.
Bentuk lahan asal proses eolian dapat terbentuk dengan baik jika memiliki
persyaratan sebagai berikut :

16
1. Tersedia matrial berukuran pasir halus hingga pasir kasar dengan jumlah yang
banyak
2. Adanya periode kering yang panjang dan tegas.
3. Adanya angin yang mampu mengangkut dan mengendapkan bahan pasir
tersebut
4. Gerakan angin tidak banyak terhalang oleh vegetasi maupun objek lain.
5. Bentuk gumuk pasir bermacam-macam tergantung pada faktor-faktor jumlah
dan ukuran batu pasir. Kekuatan dan aragh angin dan keadaan vegetasi.
Bentuk gumuk pasir pokok yang perlu dikenal adalah bentuk sabit (barchan),
melintang (transvere dune), memanjang (longitudinal dune), parabola
(parabola dune), bintang (star dune).

a. Gumuk pasir sabit (barchan)


Gumuk pasir ini bentuknya menyerupai bulan sabit dan terbentuk pada
daerah yang tidak memiliki barrier (penghalang). Besarnya kemiringan
lereng daerah yang menghadap angin lebih landai dibandingkan dengan
kemiringan lereng daerah yang membelakangi angin. Sehingga apabila dibuat
penampang melintang tidak simetri. Ketinggian gumuk pasir sabit umumnya
antara 5-15 meter. Gumuk pasir ini merupakan perkembangan karena proses
eolian tersebut terhalangi oleh adanya beberapa tumbuhan sehinggga terbetuk
gumuk pasir seperti ini dan daerah yang menghadap angin lebih landai
dibandingkan dengan kemiringan lereng daerah yang membelakangi angin.

Gambar 3.6 : Gumuk pasir sabit (barchan)

b. Gumuk pasir melintang (transvere dune)

17
Gumuk pasir ini terbentuk didaerah yang tidak berpengahalang dan
banyak cadangan pasirnya. Berbentuk gumuk pasir mintang menyerupai
ombak dan tegak lurus terhadap arah angin. Awalnya gumuk pasir ini
mungkin hanya beberapa saja kemudian karena proses eolian yang terus
menerus maka terbentuklah bagian yang lain dan menjadi sebuah koloni.
Gumuk pasir ini akan berkembang menjadi bulan sabit apabila pasokan
pasirnya berjurang.

Gambara 3.7 : Gumuk pasir melintang (transvere dune)

c. Gumuk pasir memanjang (longitudinal dune)


Gumuk pasir yang berbentuk lurus dan sejajar satu sama lain. Arah
dari gumuk pasir tersebut searah dengan gerakan angin. Gumuk pasir ini
berkembang karena berubahnya arah angin dan terdapatnya celah diantara
bentuk gumuk pasir awal. Sehingga cela yang ada terus menerus
mengalami erosi sehingga menjadi lebih lebar dan memanjang.

Gambar 3.8 : Gumuk pasir Memanjang


d. Gumuk pasir parabolic (parabolic dune)

18
Gumuk pasir ini hampir sama denga gumuk pasir barchan akan tetapi
yang membedakan adalah arah angin. Gumuk pasir parabolik arahnya
berhadapan dengan datangnya angin. Awalnya mungkin pasir ini
berbentuk sebuah bukit dan milintang, tetapi karena pasokan pasirnya
berkurang maka gumuk pasir ini terus tergerus oleh angin sehingga
membentuk sabit dengan bagian yang menhadap kearah angin curam.

Gambar 3.9 : Gumuk pasir Parabolik

e. Gumuk pasir bintang (star dune)


Gumuk pasir yang dibentuk sebagai hasil kerja angin dengan berbagai
arah yang bertumbukan. Bentukan awalnya meruapakan sebuah bukit dan
disekelilingnya berbentuk dataran, sehingga proses eolin pertama kali
akan terfokuskan pada bukit ini dengan arah angin yang datang dari
berbaga sudut sehingga akan terbentuk bentuk lahan baru seperti bintang.
Bentuk seperti ini akan hilang setelah terbentuknya bentukan baru
disekitarnya.

19
Gambar 3.10 : Gumuk pasir Bintang

BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
1) Di dalam mempelajari geomorfologis yang sangat penting adalah aspek
utama geomorfologi, antara lain :

20
a) Aspek Morfologi
Mencakup morfometri yaitu aspek ukuran dan bentuk unsur-unsur
penyusun bentuk lahan serta morfologi yang merupakan susunan dan
objek alami yang ada dipermukaan bumi sesuai dengan proses
perkembagannya.
b) Aspek Morfolgenesa
Asal usul pembentukan bentuk lahan dan perkembangannya sehingga
menghasilkan konfigurasi permukaan bumi yang berbeda-beda.
c) Aspek Morfo-Asosiasi
Keterkaitan antara bentuk lahan satu dengan yang lain dalam susunan
keruangan atau sebarannya dipermukaan bumi. Ini sangat penting karena
pembentukan lahan dipermukaan bumi ditentukan oleh berbagai faktor
seperti topografi, bahan, iklim, organisme, vegetasi, dan waktu.
2) terdapat 8 bentuk lahan antara lain :
a. Bentuk lahan asal Vulkanis
b. Bentuk lahan asal Marine
c. Bentuk lahan asal Denudasional
d. Bentuk lahan asal Flufial
e. Bentuk lahan asal Eoaliang
f. Bentuk lahan asal Pelarutan
g. Bentuk lahan asal Plasial
3) Morfologi gunung api dibedakan menjadi 3 zona, yaitu :
1. Zona pusat erupsi (central zone)
2. Zona proksimal
3. Zona distal
4) Bentuk gumuk pasir pokok yang perlu dikenal adalah bentuk sabit (barchan),
melintang (transvere dune), memanjang (longitudinal dune), parabola
(parabola dune), bintang (star dune).

21
DAFTAR PUSTAKA

Adi Prabowo dan R. Andy Erwin Wijaya, 2016. Fieldtrip Geomorfologi Pengenalan
Bentuk Lahan Gunung Merapi-Parangkritis. Jurusan Teknik Pertambangan
Sekolah Tinggi Teknologi Nasional.

http://udhnr.blogspot.co.id/2009/01/gumuk-pasir-atau-sand-dunes.html

https://thekoist.wordpress.com/2012/09/19/sistem-fluvial-dan-aluvial/

https://www.google.co.id/search?
hl=id&site=imghp&tbm=isch&source=hp&biw=1366&bih=603&q=sungai+br
aided+dan+sungai+meander&oq=sungai+braided+dan+sungai+meander&gs_l
=img.3...1637.25059.0.25939.33.32.0.0.0.0.0.0..0.0....0...1ac.1.64.img..33.0.0.l
SLpDzZ2LcI#imgrc=GgETCgxHJ5Uj2M%3A

Nichols, 2009. Sedimentology and Stratigraphy, second edition. John Willey and
sons Ltd-Willey blackwell publishing. Chichester. UK.

Thornbury, William D. 1954. Principles of Geomorphology. John Willey and sons.


Inc, New York.

Veestapen, H Th, 1983. Applied Geomorphology, ITC, Encede. The Netherlands.

www.google.map.com

22