Anda di halaman 1dari 26

A.

ALAT-ALAT KESEHATAN
Alat kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin, perkakas, dan/atau
implan, reagen in vitro dan kalibratornya, perangkat lunak, bahan atau
material yang digunakan tunggal atau kombinasi, untuk mencegah,
mendiagnosis, menyembuhkan, dan meringankan penyakit, merawat orang
sakit, memulihkan kesehatan pada manusia, dan/atau membentuk struktur dan
memperbaiki fungsi tubuh, menghalangi pembuahan, desinfeksi alat
kesehatan, dan pengujian in vitro terhadap spesimen dari tubuh manusia, dan
dapat mengandung obat yang tidak mencapai kerja utama pada tubuh manusia
melalui proses farmakologi, imunologi atau metabolisme untuk dapat
membantu fungsi/kinerja yang diinginkan.

1. Alat-alat Elektronika
a. EKG (Elektrokardiogram)
Fungsi : untuk mendeteksi kelainan jantung dengan mengukur
aktivitas listrik yang dihasilkan oleh jantung, sebagaimana jantung
berkontraksi.

b. Ultrasonography (USG)
Fungsi : untuk memeriksa dan meneliti keadaan didalam rahim
termasuk kondisi janin atau bayi yang dikandung dalam rahim ibu
hamil dan untuk mengecek adanya penyakit lain dalam tubuh.

1
c. CT-SCAN
Fungsi : untuk melihat hasil foto bagian-bagian dari rangka tubuh
tersebut dengan hasil yang akurat dan lengkap.

d. Sinar X
Fungsi : alat ini biasanya digunakan dibidang kesehatan untuk
keperluan diagnostik
dan terapi dan dibidang industri, antara lain untuk radiografi.

e. Momografi
Fungsi : sebagai alat untuk melihat beberapa tipe tumor dan kista.

2
f. Alat Cek Darah dan GCU (Gula, Kolestrol dan UricAcid)
Fungsi : selain untuk cek darah, juga dapat digunakan untuk mengecek
kadar gula darah, asam urat, dan kolesterol dalam darah.

g. Endoscopy ( alat untuk meneropong organ-organ dalam tubuh manusia


tanpa sayatan/dengan sayatan kulit minimal)
Fungsi : utamanya digunakan dalam mendiagnosis dan merawat gangguan
pencernaan.

h. Anesthesia Marchines (Mesin Anestesi/Mesin Gas)


Fungsi : menyalurkan gas atau campuran gas anestetik yang aman ke
rangkaian sirkuit anestetik yang kemudian dihisap oleh pasien dan
membuang sisa campuran gas dari pasien.

3
2. Alat Perawatan Pasien
a. Hot Water Botle (Botol Panas/Buli-buli Panas)
Fungsi : untuk kompres hangat.

b. Ice Bag (Botol Dingin/Buli-buli Es)


Fungsi : untuk kompres dingin.

c. Breast Pump (Pompa Susu)


Fungsi : untuk membantu memompa air susu keluar dari payudara
wanita yang sedang menyusui.

d. Nipple Shield (Pelindung Puting Susu)


Fungsi : untuk melindungi puting susu yang lecet pada waktu
menyusui sehingga si bayi dapat menghisap air susu melewati alat
tersebut.

4
e. Wind ring
Fungsi : sebagai tempat duduk pada penderita wasir/ambeien.

f. Colostomy Bag
Fungsi : untuk menampung feses pada pasien setelah operasi colon
(pembedahan usus buatan melalui otot dan kulit perut).

g. Bedpan
Fungsi : untuk menampung feses pada pasien yang tidak boleh/bisa ke
WC.

5
h. Urinal
Fungsi : untuk menampung urine pada pasien yang tidak boleh/bisa ke
WC.
Jenisnya :
a) Urinal male : untuk pasien laki-laki

b) Urinal female : untuk pasien wanita

i. Pus basin, Emesis basin


Fungsi : untuk menampung muntah, nanah, kapas bekas dan lain-lain.

6
j. Instrument Tray atau paratus
Fungsi : tempat menyimpan alat-alat perawatan.

3. Alat Untuk Tindakan Medis


a. Handschoen (Sarung Tangan)
Fungsi : untuk melindungi tangan dari pengaruh lingkungan sekeliling.

b. Cathether
Fungsi : untuk mengeluarkan/pengambilan urine.

c. Urine Bag

7
Fungsi : untuk menampung urine yang dihubungkan dengan Balloon
Cathether/Foley Cathether untuk mengeluarkan/pengambilan urine
pada sistem tertutup.

d. Stomach Tube (Maag Slang/Maag Sonde)


Fungsi :
1) untuk mengumpulkan cairan/getah lambung,
2) untuk membilas/mencuci isi perut,
3) untuk pemberian obat-obatan.

e. Feeding Tube
Fungsi : untuk nutrisi/pemberian cairan makanan melalui mulut atau
hidung.

f. Mucus Extractor atau Suction Cathether

8
Fungsi : untuk menyedot lendir dari trakhea bayi baru lahir.

g. Wing needle
Fungsi : sebagai perpanjangan vena untuk pemberian cairan infus atau
obat intra vena dalam jangka lama.

h. Infusion set
Fungsi : selang untuk pemberian cairan infus.

i. Tranfusion Set
Fungsi : untuk pemberian tranfusi darah.

9
j. Spuit / Syringe
Fungsi : untuk menyuntik.

k. Injection Needle (Jarum Suntik)


Fungsi : untuk menyuntik digabungkan dengan alat suntik (Spuit =
Syringe).

l. Gliserin Syringe
Fungsi : untuk menyemprotkan lavement/clysma melalui anus cairan
yang sering digunakan adalah gliserin atau larutan sabun.

10
m. Currete
Fungsi : untuk membersihkan rahim pada pasien abortus/keguguran.

n. Regulator Oksigen
Fungsi : untuk mengatur kadar oksigen.

o. Pen Light
Fungsi : untuk membantu memberikan cahaya supaya pemeriksaan
lebih jelas.

p. Timbangan
Fungsi : untuk mengetahu berat badan seseorang.

q. Kursi Roda
Fungsi : digunakan untuk orang-orang yang tidak bisa jalan atau yang
lumpuh.

11
r. Tongkat
Fungsi : sebagai penyangga tubuh yang digunakan pada pasien yang
mengalami gangguan/cedera/pasca operasi pada kakinya.

4. Alat Untuk Diagnosa Penyakit


a. Buku Test Buta Warna
Fungsi : memeriksa buta warna.

b. Chart Vision Snellen


Fungsi : memeriksa visus/ketajaman penglihatan.

12
c. Reflex Hamer
Fungsi : memeriksa kemampuan refleksi dari bagian tertentu tubuh
kita, misalnya lutut.

d. Tongue depressor/Tongue Blade/Tong spatel


Fungsi : untuk menekan lidah agar dapat memeriksa/melihat kelainan
pada tenggorokan, misalnya amandel, faringitis dan lain-lain.

e. Laringeal mirror
Fungsi : untuk memeriksa/melihat keadaan dalam mulut/tenggorokan.

f. Thermometer
Fungsi : mengukur susu tubuh/badan.
Jenisnya :
1) Thermometer non elektronik (air raksa)
2) Thermometer elektronik

13
g. Stethoscope
Jenisnya :
1) Stethoscope binaural (bagian yang ditempelkan di telinga)
Fungsi : untuk mendengar bunyi organ tubuh misalnya jantung,
paru-paru dan lain-lain.

2) Obstetrical Stethoscope/Stethoscope monoaural/Stethoscope bidan


Fungsi : untuk mendengar bunyi jantung bayi dalam kandungan
ibu hamil.

h. Sphygmomanometer
Fungsi : untuk mengukur tekanan darah.
Jenisnya :
1) Mercurial Sphygmomanometer/tensi meter air raksa

14
2) Anaeroid Sphygmomanometer/Tensi meter tanpa air (memakai
jarum)

3) Electical Sphygmomanometer/Tensi meter tanpa dipompa

i. Speculum
Speculum atau specula (bentuk jamak) adalah alat yang dimasukkan ke
dalam liang rongga tubuh yang kegunaannya adalah untuk
memeriksa/melihat bagian yang berada di dalam liang rongga tersebut.
1) Nasal Speculum
Fungsi : untuk memeriksa rongga hidung.

2) Ear Speculum
Fungsi : untuk memeriksa rongga telinga.

15
3) Rectum Speculum
Fungsi : untuk memeriksa lubang anus/rektal.

4) Vaginal Speculum
Fungsi : untuk memeriksa lubang vagina.

5. Alat-Alat Bedah
a. Scalpel (Pisau Operasi)
Istilah lain yaitu :
1) Scalpel Blade : pisau operasi
Fungsi : pembedahan.

16
2) Scalpel Handle (Pegangan Pisau Operasi)
Fungsi : pegangan pisau operasi.
b. Gunting
Gunting merupakan alat untuk memotong. Jenis-jenis gunting antara
lain:
1) Bandage Scissors/gunting atau Gaas
Fungsi : memotong verband atau kain kasa.
2) Surgical Scissors (gunting operasi)
Fungsi : gunting untuk pembedahan.
3) Dissecting Scissors
Fungsi : gunting untuk memotong jaringan tubuh untuk keperluan
praktek.
c. Forceps
Forceps merupakan alat yang terdiri dari 2 (dua) keping yang saling
berhadapan yang dapat dikontrol (dijepitkan dan dilepaskan) yang
digunakan untuk menjepit atau memegang benda.
1) Thumb Forceps atau Dissecting Forceps/Pinset anatomis
Ciri-ciri : bagian dalam kedua belah ujungnya bergaris-garis
horisontal.

17
2) Surgical Forceps atau Tissue Forceps/pinset operasi
Ciri-ciri : ujung piset keduanya bergigi.

3) Cilia pinset atau Cilia Forceps


Fungsi : untuk menjepit/mencabut rambut.
4) Suture Clip Applying Forceps atau Pinset Agrave
Fungsi : untuk menjepitkan clip pada luka sehingga luka tidak
terbuka.

d. Klem
Klem atau Clamp adalah alat untuk menjepit (memegang dan
menekan) suatu benda.
Jenis-jenis klem antara lain :
1) Artery Forceps/arteri klem
Arteri klem tergolong alat seperti pegangan gunting dengan
cantelan.
Fungsi : untuk menjepit pembuluh darah arteri.
Arteri klem dapat digolongkan ke dalam 2 (dua) bagian:
Kocher : ujungnya bergigi
Pean : ujungnya tidak bergigi

18
2) Peritoneum forceps
Fungsi : untuk menjepit jaringan selaput perut.

e. Needle Holders
Fungsi : untuk menjepit jarum jahit serta menjahit luka terbuka seperti
luka kecelakaan atau pembedahan.

f. Surgical Needles atau Suture Needles/jarum jahit


Fungsi : jarum untuk menjahit luka.
Jenis-jenis jarum jahit:
Ujungnya bulat untuk menjahit otot.
Ujungnya segi tiga untuk menjahit kulit.

g. Suture atau Benang Bedah


Benang bedah dapat dibagi ke dalam 2 (dua) golongan yaitu:
1) Yang dapat diabsorbsi jaringan tubuh
Menurut bahannya terdiri dari:

19
a) Collagen yang berasal dari jaringan usus sapi, sub mukosa
kambing, usus kucing. Sampai sekarang disebut Catgut (usus
kucing)
Catgut dapat dibagi ke dalam 2 (dua) bagian yaitu:
Catgut Plain
Catgut Chromic
Catgut Chromic adalah Catgut Plain yang dilapisi oleh
chromium sehingga daya kekuatan mengikatnya lebih lama.
b) Polygiactin 910 conrtoh : Vicryl
c) Polygiactin acid conrtoh : Dexon
2) Yang tidak diabsorbsi tubuh
Jenisnya yaitu :
Linen dari rami
Sutera (Silk)
Polyamide (Nylon)
.
h. Jarum Bedah
Fungsi : alat ini digunakan untuk menjahit luka, umumnya luka
operasi.

B. PERAWATAN ALAT KESEHATAN


1. Perawatan Elektronika
Perawatan elektronika yang dimaksudkan adalah peralatan yang
menggunakan sumber daya listrik, misalnya alat electrocardiography,
electro encephalography, unit thermography, ventilator, unit monitor EKG,
dan lain-lain.

20
Peralatan elektronik sangat peka terhadap goncangan sehingga
perlu dihindari dari goncangan. Hindari penggunaan alat dari medan
magnet sensitivitas meter tidak berubah. Alat-alat elektronika tidak tahan
pada suhu 25C, sehingga pada waktu menggunakan suhu ruangan
sebaiknya berkisar antara 18C sampai dengan 25C, rata-rata pada
temperatur 21C. Untuk menghindari suhu terlalu tinggi, pada alat perlu
tempati kipas anging di sekitar power supply/sumber daya alat tersebut.
Pengetahuan dan keterampilan penggunaan peralatan memengang peranan
penting dalam perawatan peralatan agar peralatan berjalan dengan baik
dan kerusakan dapat dihindari sejauh mungkin. Pengetahuan dan
keterampilan meliputi:
Sasaran pengukuran telah dipahami terlebih dahulu
Persiapan metode, waktu dan program pengukuran
Kondisi peralatan baik atau tidak

2. Perawatan Alat dari Bahan Baku Logam


Alat-alat yang terbuat dari logam misalnya besi, tembaga maupun
aluminium sering terjadi karatan. Untuk menghidari terjadinya hal
demikian maka alat-alat tersebut harus disimpan pada tempat yang
mempunyai temperatur tinggi (37C) dan lingkungan yang kering kalau
perlu memakai bahan silikon sebagai penyerap uap air.
Sebelum disimpan alat tersebut harus bebas dari kotoran debu
maupun air yang melekat, kemudian diolesi dengan minyak oli, minyak
rem atau parafin cair.

3. Perawatan Alat dari Bahan Baku Gelas


Bahan gelas banyak dipakai dalam laboratorium medis. Ada
beberapa keuntungan maupun kelemahan dari bahan baku gelas tersebut.
Keuntungannya : Bahan gelas tahan terhadap reaksi kimia, terutama
bahan gelas pyrex, tahan terhadap perubahan

21
temperatur yang mendadak, koefisien mulai yang kecil
dan tembus cahaya yang besar.
Kelemahan : Mudah pecah terhadap tekanan mekanik, dan mudah
tumbuh jamur sehingga menggangu daya tembus sinar,
kadang-kadang dengan menggunakan kain katun untuk
membersihkan saja mudah timbul goresan.
Dengan memperhatikan keuntungan dan kelemahan dari bahan gelas,
maka dalam segi perawatan maupun memperlakukan alat-alat gelas harus
perhatikan:
a. Penyimpanan pada ruangan yang suhunya berkisar 27C-37C dan
diberi tambahan lampu.
b. Ruang tempat penyimpanan diberikan silikon sebagai zat higroskopis.
c. Gunakan alkohol, aceton, kapas, sikat halus dan pompa angin untuk
membersihkan lensa sampai merusak lapisan lensa.
d. Pada waktu memanaskan tabung reaksi hendaknya ditempatkan diatas
kawat kasa, atau boleh melakukan pemanasan secara langsung asalkan
bahan gelas terbuat dari pyrex.
e. Gelas yang akan direbus hendaknya jangan dimasukkan langsung
kedalam air yang sedang mendidih melainkan gelas dimasukkan
kedalam air dingin kemudian dipanaskan secara perlahan-lahan.
Sebaliknya untuk pendingin mendadak tidak diperkenangkan.
f. Membersihkan bahan/kotoran dari gelas sebaiknya segera setelah
dipakai dapat menggunakan:
1) Air yang bersih
2) Detergent: dapat menghilangkan lemak dan tidak membawa efek
perubahan fisik.
3) Larutan:
Kalium dishromat 10 gram
Asam belerang 25 ml
Aquadest 75 ml
Kadang-kadang memerlukan perendam sampai beberapa jam,
kemudian dibilas dengan air bersih, dikeringkan dengan udara panas
lalu disimpan ditempat yang kering.

22
4. Perawatan Alat dari Bahan Baku Karet
Sarung tangan dari karet/hand schoen mudah sekali meleleh atau
melengket apabila disimpan terlalu lama. Untuk menghidari kerusakan
dari bahan karet, sebelum melakukan penyimpanan mula-mula bersihkan
kotoran darah atau cairan obat dengan cara mencuci dengan sabun
kemudian dikeringkan dengan menjemur dibawah sinar matahari atau
hembusan udara hangat. Setelah itu taburi talk pada seluruh permukaan
karet.

C. PENYIMPANAN ALAT-ALAT YANG TELAH DISTERILKAN


Penyimpanan berarti mengelola barang yang ada dalam persediaan,
dengan maksud selalu dapat menjamin ketersediannya bila sewaktu-waktu
dibutuhkan presiden. Pada tahap penyimpanan, seluruh alat steril disimpan
pada ruangan dengan kaidah clean room, dimana suhu dan kelembapan
diatur, pembatasan lalu lintas personel, fentilasi agar pertekanan positif, dan
mekanisme lain agar terbebas dari kotoran dan debu sampai alat akan
digunakan kembali. Distribusi alat keluar dari tempat penyimpanan harus
dengan lalu lintas personel minimal diwilayah steril untuk menjaga kondisi
alat tetap steril. Untuk distribusi, petugas pelaksanaan operasional dan
pemeliharaan alat sterilisasi sentral menyerahkan alat-alat yang telah steril ke
petugas administrasi sterilisasi sentral yang kemudian alat dapat diambil
petugas ruangan agar dapat digunakan operator. Ada 2 (dua) macam alat yang
dilihat dari cara penyimpanan, yakni:
1. Alat yang dibungkus
Dalam kondisi penyimpanan yang optimal dan penanganan yang
minimal, dinyatakan steril sepanjang bungkus tetap kering dan utuh.
Untuk penyimpanan yang optimal, simpan bungkusan seteril dalam lemari
tertutup dibagian yang tidak terlalu sering dijamah, suhu udara dan seajuk
atau kelembapan rendah. Jika alat-alat tersebut tidak dipakai dalam waktu

23
yang lama, alat tersebut harus disterilkan kembali sebelum pemakaian.
Alat yang tidak dibungkus harus segera digunakan setelah dikeluarkan.
Jangan menyimpan alat dengan merendam dalam larutan.
2. Pengelolaan benda tajam
Benda tajam sangat beresiko untuk menyebabkan perlukaan
sehingga meningkatkan terjadinya penularan penyakit melalui kontak
darah, untuk menghindari perlukaan atau kecelakaan kerja maka semua
benda tajam harus digunakan sekali pakai, dengan demikian jarum suntik
bekas tidak boleh digunakan lagi. Tidak dianjurkan untuk melakukan daur
ulang atas pertimbangan penghematan karena 17% kecelakaan kerja
disebabkan oleh luka tusukan sebelum atau selama pemakaian. Salah satu
contoh cara yang dianjurkan untuk mencegah perlukaan akibat
penggunaan jarum suntik yaitu jarum suntik tersebut langsung dibuang ke
tempat sementaranya tanpa menyentuh atau memanipulasi bagian
tajamnya seperti dibengkokkan, dipatahkan atau ditutup kembali. Jika
jarum terpaksa ditutup kembali, gunakanlah cara penutupan dengan satu
tangan untuk mencegah jari tertusuk jarum.

D. KALIBRASI ALAT KESEHATAN


Kalibrasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menentukan
kebenaran konvensional nilai penunjukan instrument/alat ukur dan bahan
ukur, dengan cara membandingkan terhadap standar ukurnya yang tertelusur
(traceable) ke standar nasional dan/atau internasional. Kegiatan kalibrasi ini
sangat penting dilakukan untuk setiap alat kesehatan, terlebih bagi alat
kesehatan yang rutin digunakan setiap hari disarana pelayanan kesehatan.
Tujuan dilakukannya kalibrasi ini adalah:
Memastikan kesesuaian karakteristik terhadap spesifikasi dari suatu bahan
ukur atau instrument/alat.
Menentukan deviasi atau penyimpangan terhadap kebenaran konvensional
dari nilai penunjukan suatu instrument ukur atau deviasi dimensi nominal
yang seharusnya untuk suatu bahan ukur.

24
Menjaga keakuratan nilai yang dihasilkan oleh suatu alat sehingga tidak
menyimpang jauh dari ambang batas yang ditentukan.
Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar nasional maupun
internasional.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
54 Tahun 2015 tentang Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan, setiap
peralatan kesehatan terutama yang terdapat dan digunakan disarana pelayanan
kesehatan harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian
Fasilitas Kesehatan, Institusi Pengujian Fasilitas Kesehatan yang berwenang
dan/atau perusahaan swasta terpercaya. Setelah institusi penguji melakukan
kalibrasi terhadap alat kesehatan, selanjutnya setiap alat kesehatan yang
memenuhi standar akan diberikan sertifikat dan tanda yang menyatakan bahwa
alat tersebut sudah layak pakai.

1. Kriteria Alat Kesehatan Wajib Kalibrasi


Menurut aturan pemerintah, alat kesehatan yang digunakan di
sarana pelayanan kesehatan wajib untuk dilakukan uji kalibrasi secara
berkala, setidaknya satu kali setiap tahunnya. Mengapa hal ini
diberlakukan? Tingkat teknologi, beban kerja alat, dan usia suatu alat akan
sangat mempengaruhi kinerja suatu alat kesehatan, baik untuk tingkat
akurasi, ketelitian, maupun keamanannya, sehingga kalibrasi akan sangat
diperlukan untuk menjaga agar alat kesehatan tetap dapat bekerja optimal.
Alat kesehatan yang wajib dikalibrasi adalah yang memiliki kriteria seperti
berikut ini:
Belum memiliki sertifikat dan tanda lulus pengujian atau kalibrasi.
Masa berlaku sertifikat dan tanda lulus pengujian atau kalibrasi telah
habis.
Diketahui penunjukkannya atu hasil keluarannya atau kinerjanya
(performance) atau keamanannya (safety) tidak sesuai lagi, walaupun
sertifikat dan tanda masih berlaku.
Telah mengalami perbaikan, walaupun sertifikat dan tanda masih
berlaku.
Telah dipindahkan bagi yang memerlukan instansi, walaupun sertifikat
dan tanda masih berlaku.

25
Atau jika tanda layak pakai pada alat kesehatan tersebut hilang ataupun
rusak, sehingga tidak dapat memberikan informasi yang sebenarnya.

2. Pelaksanaan Kalibrasi Alat Kesehatan


Dalam pelaksanaanya, kalibrasi dapat dilakukan dengan cara
membandingkan nilai terukur dengan nilai yang diabadikan pada alat
kesehatan. Kegiatan yang dilaksanakan dalam kalibrasi alat kesehatan
yaitu:
Pengukuran kondisi lingkungan.
Pemeriksaan kondisi fisik dan fungsi komponen alat kesehatan.
Pengukuran keselamatan kerja.
Pengukuran kinerja sebelum dan setelah penyetelan atau pemberian
faktor kalibrasi sehingga nilai yang terukur sesuai dengan nilai yang
diabadikan pada bahan ukur.

3. Kriteria Alat Kesehatan Lulus Kalibrasi


Selain kriteria wajib kalibrasi, terdapat pula kriteria alat kesehatan
yang dinyatakan lulus kalibrasi sehingga layak untuk digunakan. Kriteria
tersebut adalah:
Penyimpangan hasil pengukuran dibandingkan dengan nilai yang
diabadikan pada alat kesehatan tersebut tidak melebihi penyimpangan
yang di ijinkan.
Nilai hasil pengukuran keselamatan kerja berada dalam nilai ambang
batas yang di ijinkan.
Dengan melakukan kalibrasi secara berkala, maka tingkat akurasi dan
kinerja dari alat kesehatan dapat terjaga dengan baik.

26