Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PASIEN


GANGGUAN PENGLIHATAN

DISUSUN OLEH : Kelompok 9

NAMA :
DWI RAHAYU PUTRA BAGINDA
ERIKA SOLIA MAHARAJA
ERINDA JENY PUTRI PRATIWI
JALIKA RISKA AMALIA
KARTINI INDAH WIDI NOVITA SARI
CAHYANI WIWID AGNESIA
PRODI : PSIK 1-A
DOSEN : SATRIAWATI, S.Kep, Ns

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES MEDISTRA LUBUK PAKAM
TAHUN AJARAN 2016-2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena dengan
rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah
ini.Tidak lupa saya ucapkan kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah
memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari sempurna dan
disana sini masih banyak kekurangan dan, oleh sebab itu saya sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Pada kesempatan ini juga saya tak lupa mengucapkan terima kasih.Dan
semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-
teman.Amin.

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................I
DAFTAR ISI...........................................................................................................II
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik..............................................................1
1.3 Faktor Mendasar Komunikasi Terapeutik..............................................1
1.4 Teknik Komunikasi Terapeutik..............................................................2
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Panca Indera Mata & penglihatan .......................................................3
B. Gangguan Indera Penglihatan Sebagai Penerima Pesan ......................3
C. Teknik Komunikasi Terapeutik Pada Pasien Gangguan Penglihatan....4
D. Syarat-syarat Yang Harus Dimiliki perawat berkomunikasi.................5
BAB III STUDY KASUS
A. Aplikasi Komunikasi Pada Klien Gangguan Penglihatan.....................6
BAB IV
Kesimpulan.....................................................................................................7
Saran...............................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................8

1I
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi Terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat
dengan pasien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah pasien. Komunikasi ini
juga termasuk komunikasi interpersonal yaitu komunikasi antara orang orang secara
tatap muka yang membuat setiap peserta menagkap reaksinya secara langsung baik
verbal maupun non verbal.
Sedangkan menurut As Hornby (1974) terapeutik merupakan kata sifat yang
dihubungkan dengan seni dari penyembuhan. Mampu terapeutik bearti seseorang
mampu melakukan atau mengkomunikasikan perkataa, perbuatan, atau ekspresi yang
memfasilitasi proses penyembuhan.

1.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik


1. Membantu pasien untuk mengurangi beban perasaan, pikiran dan mengambil
tindakan untuk mengubah situasi.
2. Mengurangi keraguan, membantu mengambil tindakan yang efektif.
3. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri dalam rangka
peningkatan derajat kesehatan.
4. Mempererat hubungan antara perawat dengan pasien.

1.3 Faktor Mendasar Komunikasi Terapeutik


a) Harus memahami sebenar benarnya tentang siapa dirinya.
b) Harus ada empati.
c) Orang yang dibantu harus merasa bebas untuk mengeluarkan segala sesuatu
yang dalam dirinya tersebut.

1
1.4 Teknik Komunikasi Terapeutik
Tiap klien tidak sama oleh karena itu diperlukan teknik berkomunikasi yang
berbeda pula. Teknik ini ada banyak cara dengan :
1) Mendengar Aktif
Konsentrasi aktif dan persepsi terhadap pesan orang lain yang menggunakan
semua indera. Contoh : pesan penting & orang penting.
2) Mendengar Pasif
Kegiatan mendengar dengan diikuti kegiatan Non verbal kontak mata,
menganggukan kepala, tambahan verbal. Contoh : uh huuh, mmhumm, yeah.
3) Penerimaan
Mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukan
ketertarikan dan tidak menilai.
4) Fokusing
Memberi area diskusi, lebih spesifik dan dimengerti.
5) Observasi
Kegiatan mengamati klien/ orang lain apabila terdapat konflik antara verbal
dan non verbal.
6) Menawarkan Informasi
Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan respon
lebih lanjut. Tujuannya memfasilitasi komunikasi/ klien untuk mengambil
keputusan.
7) Diam
Untuk mengorganisir pemikiran, memproses informasi, menunjukan perawat
bersedia menunggu respon.
8) Asertive
Kemampuan dengan cara menyakinkan dan nyaman mengekspresikan
pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai hak orang lain (klien).
9) Memberi Pengakuan/ Penghargaan
Memberi salam pada klien dengan menyebut namanya. Contoh : Saya
melihat anda sudah bisa menyisir rambut sendiri.
10) Klarifikasi
Menanyakatan klien apa yang tidak mengerti perawat terhadap situasi yang
ada.

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pancaindera Mata dan Penglihatan


Pada dasarnya gangguan sensoris bisa dibagi menjadi :
a) Gangguan pada Pusat Nervous yang terkait dengan fungsi sensoris dalam
komunikasi :
Brocca/ Brodmanns area : Pusat pendengaran.
Girus Angularis : Memproses kata kata diyubah dalam bentuk audisi.
Area Werniecke : Pengolah secara komprehensip audio visual.
b) Gangguan pada Nervous cranial yang terkait dengan fungsi komunikasi sensoris.
c) Gangguan sensori persepsi : Misalnya pada klien dengan hullusinasi/ illusi.
d) Klien dengan penurunan kesadaran.
e) Klien Autis, Klien Mental retardate.

B. Gangguan Indera Penglihatan Sebagai Penerima Pesan


Kemampuan individu untuk melihat dimungkinkan oleh sistem organ yang
disebut mata. Sistem ini terdiri atas organ organ yang menerima dan memfokuskan
cahaya yang masuk kedalam mata, sel sel reseptor penglihatan. Gangguan
penlihatan dapat terjadi baik karena kerusakan organ,misal:kornea,lensa
mata,kekeruhan humor viterus,maupum kerusakan kornea,serta kerusakan saraf
penghantar impuls menuju otak.
Oleh karena itu, komunikasi yang dilakukan harus mengoptimal fungsi
pendengaran dan sentuhan karena fungsi penglihatan sedapat mungkin harus
digantikan oleh informasi yang dapat ditrasfer melalui indra yang lain.Sebagai
contoh,ketika melakukan orientasi ruang perawat secara lisan misalnya dengan
menerangkan letak meja kursi,menerangkan beberapa langkah posisi tempat tidur dari
pintu,letak kamar mandi dan sebagaiannya.

3
C. Teknik Teknik Berkomunikasi Terapeutik Pada Pasien Gangguan
Penglihatan
Berikut adalah teknik-teknik yang perlu diperhatikan selama berkomunikasi
dengan klien yang mengalami gangguan penglihatan :
1. Sedapat mungkin ambil posisi yang dapat dilihat klien bila ia mengalami
kebutaan persial atau sampaikan secara verbal keberadaan / kehadiran perawat
ketika anda berada didekatnya.
2. Indentifikasi diri anda dengan menyebut nama(dan peran)anda.
3. Berbicara menggunakan nada suara normal karena kondisi klien tidak
memungkinkan menerima pesan verbal secara visual.Nada suara anda
memagang peranan besar dan bermakna bagi klien.
4. Terangkan alasan anda menyentuh atau mengucaokan kata-kata sebelum
melakukan sentuhan pada klien.
5. Informasikamn kepada klien ketika anda akan menggilakannya / memutus
komunikasi
6. Orientasikan klien dengan suara-suara yang terdengar disekitarnya.
7. Orientasikan klien pada lingkungan bila klien dipindah kelingkungan/ruangan
yang baru.

Agar komunikasi dengan orang dengan gangguan sensori penglihatan dapat


berjalan
Lancar dan mencapai sasarannya , maka perlu juga diperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
1) Dalam berkomunikasi pertimbangan isi dan mata nada suara
2) Periksa lingkungan fisik
3) Perlu adanya ide yang jelas sebelum berkomunikasi
4) Berkomunikasikan pesan secara singkat
5) Komunikasikan hal-hal yang berharga saja
6) Dalam merencanakan komunikasi,berkonsultasilah dengan pihak lain agar
memperoleh dukungan.

4
D. Syarat Syarat Yang Harus Dimiliki Perawat Berkomunikasi Dengan
Pasien Gangguan Penglihatan
Dalam melakukan komunikasin terapeutik dengan pasien dengan gangguan
sensori penglihatan,perawat dituntut untuk menjadi komunikator yang baik sehingga
terjalin hubungan terapeutik yang efektif antara perawat dan klien,untuk itu syarat
yang harus dimilki oleh perawat dalam berkomunikasi dengan pasien dngan
gangguan sensori penglihatan adalah :
1) Adanya kesiapan artinya pesan atsun informasi, cara penyampaian dan
salurannya harus dipersiapkan terlebih dahulu secara matang.
2) Kesungguhan artinya apapun wujud dari pesan atau informasi tersebut tetap
harus disampaikan secara sungguh-sungguh atau serius.
3) Ketulusan artinya sebelum individu memberikan informasi atau pesan kepada
individu lain pemberi informasi harus merasa yakin bahwa apa yang
disampaikan itu merupakan sesuatu yang baik dan menang perlu serta berguna
untuk pasien
4) Kepercayaan diri artinya jika perawat mempunyai kepercayaan diri maka hal
ini akan sangat berpengaruh pada cara penyampaiannya kepada pasien.
5) Ketenangan artinya sebaik apapun dan sejak apapun yang akan
disampaikan,perawat harus bersifat tenang,tidak emosi maupun memancing
emosi pasien,karena dengan adanya ketenangan maka informasi akan lebih jelas
baik dan lancar.
6) Keramahan artinya bahwa keramahan ini merupakan kunci sukses dari kegiatan
komunikasi,karena dengan keramahan ya ng tulus tanpa dibuat-buat akan
menimbulkan perasaan tenang,senang dan aman bagi penerima
7) Kesederhanaan artinya didalam penyampaian informasi,sebaiknya dibuat
sederhana baik bahasa, pengungkapan dan penyampaiannya.Meskipun
informasi itu panjang dan rumit akan tetapi kalau dberikan secara sederhana
berurutan dan jelas maka akan memberikan kejelasan secara sederhana
berurutan dan jelas maka akan memberikan kejelasan informasi dengan baik.

5
BAB III
STUDY KASUS

Aplikasi Komunikasi Pada Klien Dengan Gangguan Penglihatan


Seorang klien dengan gangguan penglihatan sedang dirawat di Rumah Sakit
Putri Hijau, Ruang VII, Kamar 6, dengan diagnosa GGK+Cardiomegali+Retinopatia
Diabetes yang tidak dapat melihat lagi,
kemudian seorang perawat datang untuk memberi obat. Pasien berusia 44
tahun, jenis kelamin perempuan, agama muslim.

Perawat : Selamat sore bu.. (dengan suara agak keras karena si Ibu juga juga
mengalami penurunan ketajaman pendengaran sambil menyentuh lengan
klien)
Klien : Iya Nak..
Perawat : Masih ingat dengan saya bu?
Klien : Siapa?
Perawat : Saya kemarin yang menghantar ibu ke Poli Mata
Klien : Oiya, ibu ingat. Ada apa Nak?
Perawat : Saya perawat dinas sore yang akan merawat ibu satu minggu kedepan,
mulai sekarang kalau ibu butuh sesuatu ibu bisa panggil saya ya. Nama
saya perawat Gina, dan sekarang waktunya ibu minum obat.
Klien : Iya Nak, itu obat apa?
Perawat : Ini vitamin untuk mata ibu, diminum sekarang ya bu..
Klien : iya Nak.. kamu tolong ibu minumnya ya..
Perawat : iya Bu.. ibu buka mulutnya ya, udah ditelan obatnya, ini minumnya..
minum yang banyak ya bu supaya obatnya mudah larut.
Klien : Terima kasih ya Nak..
Perawat : iya bu, saya permisi dulu ya..
Klien : iya Nak.

6
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kemampuan menerapkan teknik komunikasi terapeutik memerlukan latihan dan
kepekaan serta ketajaman perasaan, karena komunikasi terjadi tidak dalam
kemampuan tetapi dalam dimensi nilai, waktu dan ruang yang turut mempengaruhi
keberasilan komunikasi yang terlihat melalui dampak terapeutik bagi klien dan juga
kepuasan bagi perawat.Komunikasi juga akan memberikan dampak terapeutik bila
dalam penggunannya diperhatikan sikap dan teknik komunikasi terapeutik.
Jika diterapkan dalam dunia kedokteran atau keperawatan maka pasien dengan
gangguan sensori penglihatan akan merasa puas tidak ada keluhan dan memberikan
persahabatan serta penyembuhan lebih cepat, disamping itu tenaga medis dan
paramedis akan merasa puas karena dapat memberikan pelayanan yang baik dan
penyembuhan.

B. Saran
Perawat harus bisa menghadapi klien dengan gangguan penglihatan agar terjadi
hubungan terapeutik dengan klien. Walaupun pasien tidak dapat melihat, perawat
harus merawat klien dengan baik dan perawat tidak boleh menyepelekan klien
tersebut dan mendahulukan kebutuhan klien lain yang tidak mengalami gangguan
persepsi sensori, khususnya gangguan melihat

7
DAFTAR PUSTAKA

Pearce, Evelyn C. 2008. Komunikasi terapeutik pada klien gangguan penglihatan.


Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

http://www.academia.edu/4773602/APLIKASI_TEORI DOROTHY E
JHONSON _DALAM_ASUHAN_KEPERAWATAN_DI_RUMAH_SAKIT

http://www.kemhan.com/2012/05/dorothy-e-
jhonson.html#.VBgg8MJ_ucw

http://www.bascommetro.com/2008/11/dorothy-e-jhonson.html

8
9