Anda di halaman 1dari 44

Object 9

3
6

PENGERTIAN
Suatu metode untuk mengeluarkan lendir atau sekret dari jalan nafas. Penghisapan ini
biasanya dilakukan melalui mulut, nasofaring, atau trakea.

TUJUAN
1. Mempertahankan kepatenan jalan nafas.
2. Mencegah aspirasi pulmonal oleh cairan atau darah

Persiapan Alat :
1. Alat Nonsteril.
Object 7
1
4 Object 8
2
5

a. Alat penghisap lendir (suction) dengan botol berisi larutan desinfektan, misal:
Lysol 2%.
b. Pinset.
c. Sarung tangan/ handscoen.
d. 2 kom kecil tertutup: 1 kom kecil tertutup berisi aquades / NaCl 0,9% dan 1 kom
kecil tertutup berisi larutan desinfektan (savlon 1:100)
e. Tongue spatel bila perlu.
f. Kertas tissue.
g. Kantong balutan kotor.
h. Plester dan gunting.
i. 1 botol NaCl 0,9%.
j. Nierbeken / bengkok.
k. Oksigen.
2. Alat Steril.
a. Kateter penghisap (suction) steril.

Persiapan Klien
Menjelaskan prosedur dan tujuan dilakukannya penghisapan lendir.
Prosedure :
1. Menutup sampiran (kalau perlu).
2. Mencuci tangan.
3. Mengatur posisi klien.
4. Meletakkan nierbeken didekat klien.
5. Memakai handscoen bersih.
6. Menghubungkan kateter suction ke pipa suction.
7. Menyalakan mesin, masukkan kateter penghisap ke dalam kom berisi aquades / NaCl
0,9%
8. Memasukkan ujung kateter dengan tangan kanan ke dalam mulut / hidung sampai
kerongkongan
9. Melepaskan jepitan dan penghisap lendir dengan menarik dan memasukkan kateter
dengan perlahan-lahan dengan arah diputar.
Lama penghisapan 10 15 detik dalam 3 menit untuk mencegah hypoxia.
10. Menarik kateter dan bersihkan dengan aquadest / NaCl 0,9%.
11. Mengulangi prosedur sampai jalan nafas bebas dari lender.
12. Mematikan mesin dan lepaskan kateter dari selang penghisap.
13. Merapihkan pasien dan kembalikan keposisi semula.
14. Merapihkan alat dan lepas sarung tangan.
15. Mencuci Tangan
16. Mendokumentasikan tindakan
PEMERIKSAAN GLASGOWS COMA SCALE (GCS)

PENGERTIAN
Memeriksa tingkat kesadaran pasien dengan menggunakan Skala Koma Glasgow

TUJUAN
1. Mendapatkan data obyektif
2. Evaluasi perkembangan pasien

KEBIJAKAN
1. Dilakukan pada pasien baru
2. Yang melakukan adalah perawat / bidan

PERALATAN
Alat tulis

PROSEDUR PELAKSANAAN

A. TAHAP PRA INTERAKSI


1. Melakukan verifikasi data sebelumnya
2. Mencuci tangan
3. Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar

B. TAHAP ORIENTASI
1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan kepada keluarga / klien
3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

C. TAHAP KERJA
1. Mengatur posisi klien : supinasi
2. Menempatkan diri disebelah kanan pasien, bila mungkin
3. Memeriksa reflek membuka mata dengan benar
4. Memeriksa reflek verbal dengan benar
5. Memeriksa reflek motorik dengan benar
6. Menilai hasil pemeriksaan

Membuka Mata :
Spontan 4
Dengan perintah 3
Dengan rangsang nyeri 2
Tidak berespon 1

Respon Verbal
Berorientasi 5
Bicara membingungkan 4
Kata - kata tidak tepat 3
Suara tidak dapat dimengerti 2
Tidak berespon 1

Respon Motorik
Dengan perintah 6
Melokalisasi nyeri 5
Menarik area nyeri 4
Fleksi abnormal 3
Ekstensi 2
Tidak berespo 1

D. TAHAP TERMINASI
1. Melakukan evaluasi tindakan
2. Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
3. Berpamitan dengan pasien
4. Membereskan alat - alat
5. Mencuci tangan
6. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

UNIT TERKAIT
1. Ruang Rawat Inap
2. IGD
3. HCU
SOP PERAWATAN INFUS

PENGERTIAN

Perawatan pada tempat pemasangan infus

TUJUAN

Mencegah terjadinya infeksi

KEBIJAKAN
1. Dilakukan padza pasien yang terpasang infus
2. Petugas yang melakukan adalah perawat / bidan

PERALATAN
1. Sarung tangan 1 pasang
2. Pinset anatomis steril 2 buah
3. Perlak dan pengalas
4. Penunjuk waktu
5. Kassa steril, gunting plester
6. Plester / hipavik
7. Lidi kapas
8. Alkohol 70 %
9. Iodine povidon solution 10 %
10. Na Cl 0,9 %
11. Bengkok 2 buah

PROSEDUR PELAKSANAAN

Tahap Pra Interaksi

1. Melakukan verifikasi data sebelumnya

2. Mencuci tangan

3. Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar

Tahap Orientasi
1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik

2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga / pasien

3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

Tahap Kerja

1. Mengatur posisi klien ( tempat tusukan infus terlihat jelas )

2. Memakai sarung tangan

3. Membasahi plester dengan alkohol dan buka balutan dengan menggunakan


pinset.

4. Membersihkan bekas plester

5. Membersihkan daerah tusukan dengan iodine povidon

6. Menutup dengan kasa steril

7. Memasang plester penutup

8. Mengatur tetesan infus

Tahap Terminasi

1. Melakukan evaluasi tindakan

2. Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya

3. Berpamitan dengan pasien

4. Membereskan alat alat

5. Mencuci tangan

6. Mencatat kegiatan dalam lembatcatatan keperawatan


UNIT TERKAIT

Ruang rawat inap


SOP / PROTAP PEMERIKSAAN PERNAFASAN
Pemeriksaan pernapasan

Pengertian :
Merupakan tatacara pemeriksaan pernapasan. Pernapasan merupakan salah satu
indikator untuk mengetahui sistem pernapasan.
Tujuan :
1. Mengetahui irama, frekuensi, dan kedalaman pernapasan.
2. Menilai kemampuan fungsi pernapasan
Kebijakan :

Alat dan bahan:


1. Arloji (jam) atau stop-watch.
2. Buku catatan.
3. Pena

Prosedur :
1. Jelaskan prosedur pada klien.
2. Cuci tangan
3. Atur posisi pasien.
4. Hitung frekuensi dan irama pernapasan.
5. Catat hasil.
6. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
SOP / PROTAP PEMERIKSAAN DENYUT NADI
Pemeriksaan denyut nadi

Pengertian :
Merupakan tatacara pemeriksaan denyut nadi. Denyut nadi merupakan indikator
untuk menilai sistem kardiovaskuler.
Tujuan :
1. Mengetahui denyut nadi (irama, frekuensi, dan kekuatan).
2. Menilai kemampuan fungsi kardiovaskuler.
Kebijakan :

Alat dan bahan:


1. Arloji (jam) atau stop-watch.
2. Buku catatan nadi.
3. Pena
Prosedur :
1. Jelaskan prosedur pada klien.
2. Cuci tangan
3. Atur posisi pasien.
4. Letakkan kedua tangan penderita telentang disisi tubuh.
5. Tentukan letak arteri (denyut nadi yang akan dihitung)
6. Periksa denyut nadi (arteri) dengan menggunakan ujung jari telunjuk, jari tengah,
dan jari manis. Tentukan frekuensi permenit, keteraturan irama dan kekuatan
denyutan.
7. Catat hasil.
8. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
SOP / PROTAP PENGUKURAN SUHU
Pengukuran suhu
Pengertian :
Merupakan tatacara pemeriksaan suhu tubuh. Suhu tubuh merupakan indikator untuk
menilai keseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran panas. Rentang suhu
tubuh dapat diukur dengan menggunakan termometer air raksa melalui oral, rektal,
maupun axila dan menggunakan termometer digital.
Tujuan :
Pengukuran suhu tubuh dilakukan untuk mengetahui rentang suhu tubuh.
Kebijakan :

Alat dan bahan:


1. Termometer
2. Tiga buah botol
Botol pertama berisi larutan sabun
Botol kedua berisi larutan desinfektan
Botol ketiga berisi larutan air bersih

1. Bengkok
2. Kertas/tissue
3. Vaselin/jelly
4. Buku catatan suhu
5. Sarung tangan

Prosedur :
1. Pemeriksaan Suhu Oral

1. Jelaskan prosedur pada klien.


2. Cuci tangan
3. Gunakan sarung tangan
4. Atur posisi pasien.
5. Tentukan letak bawah lidah.
6. Turunkan suhu termometer dibawah 34 o C 35 o C.
7. Letakkan termometer di bawah lidah sejajar dengan gusi.
8. Anjurkan mulut dikatupkan selama 3 menit.
9. Angkat termaometer dan baca hasilnya.
10.Catat hasil.
11.Bersihkan termometer dengan kertas tisu.
12.Cuci dengan air sabun, desinfektan dan bilas dengan air bersih, dan
keringkan.
13.Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
1. Pemeriksaan Suhu rektal

1. Jelaskan prosedur pada klien.


2. Cuci tangan
3. Gunakan sarung tangan
4. Atur posisi pasien.
5. Tentukan termometer dan atur pada nilai nol lalu oleskan vaselin jelly
6. Letakkan telapak tangan pada pada sisi glutea pasien dan masukkan
termometer ke dalam rektal jangan sampai berubah tempatnya dan ukur
suhu.
7. Setelah 3-5 menit angkat termaometer dan baca hasilnya.
8. Catat hasil.
9. Bersihkan termometer dengan kertas tisu.
10.Cuci dengan air sabun, desinfektan dan bilas dengan air bersih, dan
keringkan.
11.Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

1. Pemeriksaan suhu aksila

1. Jelaskan prosedur pada klien.


2. Cuci tangan
3. Gunakan sarung tangan
4. Atur posisi pasien.
5. Tentukan letak aksila dan bersihkan daerah aksila dengan menggunakan
tisu.
6. Letkkan termometer pada daerah aksila dan lengan pasien fleksi diatas
dada.
7. Setelah 3-10 menit angkat termaometer dan baca hasilnya.
8. Catat hasil.
9. Bersihkan termometer dengan kertas tisu.
10.Cuci dengan air sabun, desinfektan dan bilas dengan air bersih, dan
keringkan.
11.Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
SOP / PROTAP PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR
PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR
Aspek yang di nilai Nilai
1 2 3 4
1. A. Persiapan alat
Baki dan alasnya, thermometer, stetoskop, tensimeter,
centimeter/meteran/pita ukur, timbangan bayi, tongue spatel,
opthalmoscope, jam tangan, alat tulis, lembar pengkajian.
B. Tahap pre interaksi
2. Cek catatan perawatan dan catatan medis klien
3. Cuci tangan
4. Siapkan/dekatkan alat-alat
C. Tahap orientasi
5 Berikan salam, panggil klien/keluarga dengan namanya
6. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan pada keluarga
D. Tahap kerja
7. Berikan kesempatan klien atau keluarga untuk bertanya sebelum
kegiatan dimulai
8 Melakukan observasi keseluruhan tubuh bayi: postur, ekstremitas
termasuk kondisi kulit, warna kulit, adanya kelainan pada kulit,
pergerakan bayi, tanda lahir, verniks.
9. Mengukur tanda-tanda vital: Pernapasan, tekanan darah, suhu, nadi.
10 Kaji kepala: bentuk, adanya benjolan, mengukur lingkar kepala dengan
pita ukur
11 Kaji muka : simetris/proporsional wajah
12 Kaji telinga: bentuk, lokasi, pengeluaran (k/p)
13 Kaji mata : simetris, kebersihan kelopak mata, strabismus, pupil, reflek
terhadap cahaya (kornea, pupil), mata boneka
14 Kaji hidung: simetris, lubang hidung, keadaan cuping hidung, adanya
milia, Reflek (glabella, bersin)
15 Kaji mulut: kebersihan, pergerakan lidah, variasi normal, adanya
kelainan pada bibir/ palatum (labioplatoskizis), reflek (rooting, isap,
gawn, ekstrution, swaling)
16 Kaji leher dan dada: panjang leher, clavicula, lingkar dada, gerakan
dada, kesimetrisan putting susu, pengeluaran puting susu, bunyi napas,
bunyi jantung (apeks jantung), refleks tonic neck
17 Kaji abdomen: peristaltik usus, kondisi tali pusat, gerakan pernapasan
abnormal,lingkar abdomen, perdarahan tali pusat, Refleks abdomen
18 Kaji genetalia: perempuan, labia mayora, labia minora, klistoris,
pengeluaran, variasi normal.
Laki-laki: turunnya testis, jumlah testis, kondisi penis, scrotum, variasi
normal, dua testis dalam skrotum
Anus: suhu tubuh, adanya kelainan (atresia ani)
19. Kaji ekstremitas atas dan bawah : pergerakan normal, simetris/tidak,
jumlah jari,refleks babinsky, genggam, melangkah, refleks peres
20 Menimbang BB dan mengukur TB
E. Tahap terminasi
17 Simpulkan hasil kegiatan
18 Berikan reinforcement positif pada keluarga
19 Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
20 Akhiri kegiatan
21 Cuci tangan
F. Dokumentasi
22. Catat hasil tindakan dalam catatan keperawatan
TOTAL NILAI
Nilai 1 : Tidak dilakukan (25%) Nilai 3 : Dilakukan kurang tepat (75%)
Nilai 2 : Dilakukan salah (50%) Nilai 4 : Dilakukan dengan sempurna (100%)
Evaluasi..
Saran
SOP / PROTAP MEMBERIKAN CAIRAN MELALUI VENA DENGAN
WINGNEEDLE
MEMBERIKAN CAIRAN MELALUI VENA DENGAN WINGNEEDLE
Nama mahasiswa :
NIM :
NO ASPEK YANG DINILAI NILAI
1 2 3 4
A. Persiapan alat
Baki dan alas, cairan infus yang dibutuhkan, set infus, wingneedle
steril, kapas alkohol dalam tempatnya, betadin, alat cukur (bila
perlu), kain pengalas dan perlak, gunting verban, kasa steril dalam
bak instrumen, korentang dalam tempatnya, plester, nierbeken,
standar infuse, spalk, kasa gulung
B. Tahap pre-interaksi
2. Baca catatan keperawatan dan catatan medis klien
3. Siapkan alat-alat dan privasi ruangan
4. Cuci tangan
C. Tahap orientasi
5. Berikan salam, panggil nama klien
6. Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan kepada klien/keluarga
D. Tahap kerja
7. Mendekatkan alat ke dekat pasien
8. Pasien dibedong atau pasang pengikat tangan (bila perlu) dan
tidurkan terlentang
9. Perlak dan kain pengalas di pasang di bawah anggota tubuh yang
akan dipasang infuse
10. Botol cairan digantung, tutup botol di desinfektan dengan kapas
alkohol lalu tusukkan selang udara kemudian selang infuse di
pasang dan di sambung dengan wingneedle
11. Tutup jarum dibuka cairan dialirkan sampai keluar sehingga tidak
ada udara di dalam selang saluran infuse selanjutnya diklem dan
jarum ditutup kembali
12. Daerah permukaan kulit yang akan ditusuk di desinfektan dengan
kapas alkohol lalu jarum ditusukkan ke vena dengan lubang jarum
menghadap ke atas
13. Bila berhasil maka darah akan masuk ke dalam selang dan klem di
longgarkan untuk melihat kelancaran cairan atau tetesan
14. Bila tetesan lancar jarum di fiksasi
15. Memasang spalk dan tali spalk
16. Menghitung jumlah tetesan sesuai kebutuhan
17. Pasien dirapikan dan alat-alat dikembalikan pada tempatnya
E. Tahap terminasi
14. Mengobservasi reaksi pasien
15. Membuat kontrak selanjutnya
16. Mencuci tangan
17 Mendokumentasikan tindakan keperawatan
TOTAL NILAI
SOP / PROTAP PERAWATAN TALI PUSAT

Nama Mahasiswa :.
NIM :
No Aspek yang di nilai Nilai
1 2 3 4
1. A. Persiapan alat
Kassa, Air DDT, bengkok, pinset 2 buah, sarung tangan
B. Tahap pre interaksi
2. Cek catatan perawatan dan catatan medis klien
3. Cuci tangan
4. Siapkan/dekatkan alat-alat
C. Tahap orientasi
5 Berikan salam, panggil klien/keluarga dengan namanya
6. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan pada keluarga
D. Tahap kerja
7. Berikan kesempatan klien atau keluarga untuk bertanya sebelum
kegiatan dimulai
8. Menanyakan keluhan dan kaji gejala spesifik yang ada pada klien
9. Memulai tindakan dengan cara yang baik
10 Berikan privasi pada klien
11 Gunakan sarung tangan
12 Pastikan bayi dalam posisi nyaman dalam pegangan atau terbaring
dalam incubator
13 Buka pakaian dan popok bayi
14 Gunakan alcohol untuk perawatan tali pusat agar perawatan lebih
adekuat
15 Rapikan kembali popok dengan lipatan ke depan dan berada di bawah
tali pusat, biarkan tali pusat dalam keadaan terbuka
E. Tahap terminasi
16 Evaluasi kegiatan yang dilakukan sesuai dengan tujuan yang
diharapkan (subyektif dan obyekti)
17 Simpulkan hasil kegiatan
18 Berikan reinforcement positif pada keluarga
19 Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
20 Akhiri kegiatan
21 Cuci tangan
F. Dokumentasi
22. Catat hasil tindakan dalam catatan keperawatan
SOP / PROTAP MEMASANG NGT PADA BAYI DAN ANAK

NO ASPEK YANG DINILAI NILAI


1 2 3 4
A. Persiapan alat
1. 1. baki dan alas
2. NGT sesuai kebutuhan (bayi no. 5-8 dan anak no. 10-14)
3. Spuit 10-20 cc
4. Serbet makan
5. Kain alas
6. Nierbeken
7. Plester dan gunting
8. Makanan cair yang hangat sesuai kebutuhan
9. Air matang dalam tempatnya

1. Obat yang telah dicairkan (bila perlu)

B. Tahap pre-interaksi
2. Baca catatan keperawatan dan catatan medis klien
3. Siapkan alat-alat dan privasi ruangan
4. Cuci tangan
C. Tahap orientasi
5. Berikan salam, panggil nama klien
6. Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan kepada klien/keluarga
D. Tahap kerja
7 Perawat mencuci tangan
8. Anak diatur dalam posisi semi fowler. Pada anak yang gelisah bila tidak
ada orang lain yang membantu pasang restrain, pada bayi di bedong
9. Meletakkan kain alas di bawah kepala bayi/anak
10. Serbet makan dipasang di atas dada. Nierbeken diletakkan disamping
pipi
11. Lubang hidung dibersihkan
12. Mengukur panjang pipa yang akan di masukkan
13. Memberi batas panjang pipa yang harus masuk
14. Memasukkan pipa lambung ke dalam salah satu lubang hidung sampai
batas yang telah ditentukan
15. Memeriksa ketepatan pipa masuk ke dalam lambung dengan cara:
- Menghisap cairan lambung dengan spuit
- Mendengarkan melalui stetoskop sementara melalui pipa
dimasukkan udara 2-3 cc dengan spuit
16. Menambatkan pipa lambung dengan plester
17. Spuit dipasang pada pangkal pipa kemudian udara di hisap kembali
18. Beri kenyamanan pada anak selama pemberian makan
19 Tuangkan sedikit air matang pada bayi (2-5 cc) di susul dengan
makanan cair melalui pinggir spuit
20 Bila makanan cair sudah habis, tuangkan lagi sedikit air matang
21 Setelah selesai memberi makan, posisikan anak dalam keadaan semi
fowler dan miringkan ke kanan selama setengah jam
Pada bayi, setelah pemberian makanan melalui pipa, bayi diangkat dan
punggungnya di tepuk-tepuk kemudian dibaringkan miring
22 Alat-alat dibersihkan, dirapikan dan dikembalikan ke tempat semula.
23 Perawat mencuci tangan
24 Catat macam dan jumlah makanan cair yang diberikan
25 Observasi keadaan umum selanjutnya
26. E. Tahap terminasi
Evaluasi perasaan klien
27. Simpulkan hasil kegiatan
Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
25 Bereskan alat-alat
26. Cuci tangan
F. Dokumentasi
27. Catat hasil tindakan dalam catatan keperawatan
SOP / PROTAP MEMASANG INFUS PADA ANAK

NO ASPEK YANG DINILAI NILAI


1 2 3 4
A. Persiapan alat
1. 1. Wing needle/abocath/jarum kupu-kupu (bersayap) dengan
nomor yang sesuai
1. infus set mikro
2. cairan infus yang dibutuhkan bayi/anak
3. kapas alkohol dalam tempatnya
4. plester dan gunting
5. spalk/bidai
6. kasa gulung
7. kasa steril dan betadine
8. Tourniquet
9. perlak dan alasnya
10.sarung tangan
11.Nierbeken
12.Standar infus
13.Baki dan alasnya

B. Tahap pre-interaksi
2. Baca catatan keperawatan dan catatan medis klien
3. Siapkan alat-alat dan privasi ruangan
4. Cuci tangan
C. Tahap orientasi
5. Berikan salam, panggil nama klien
6. Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan kepada klien/keluarga
D. Tahap Kerja
7 perawat cuci tangan
8. Menggantungkan cairan infus pada standar infus
9. Membersihkan karet penutup botol cairan infus atau membuka tutup
botol cairan infus
10. Menusukkan set infus ke dalam botol cairan infus kemudian ruang
tetesan di isi setengah
11. Set/selang infus di isi cairan dan dikeluarkan udaranya
12. menentukan lokasi yang akan dipasang infus lalu memakai hand scoon
13. melakukan pembendungan daerah yang akan di pasang infus
14. mencuci hamakan daerah/lokasi yang akan di pasang infus kemudian
menusukkan wing needlee/abokat ke dalam vena sedalam mungkin
15. buka pembendung dan sambungkan wing needle dengan selang infus
dan pengatur tetesan dibuka
16. memperhatikan ada/tidaknya pembengkakan
17. daerah yang ditusuk diberi betadin dan ditutup dengan kasa steril
kemudian wing needle ditempelkan dengan plester
18. pasang spalk/bidai dan dibalut dengan kasa gulung. Mengatur tetesan
dalam satu menit sesuai instruksi
19 merapikan bayi/anak dan alat yang digunakan
20 mencatat tanggal, jam pemberian cairan dan macam cairan
21 mengobservasi reaksi bayi/anak
E. Tahap terminasi
22 Evaluasi perasaan klien
23 Simpulkan hasil kegiatan
24 Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
25 Bereskan alat-alat
26. Cuci tangan
F. Dokumentasi
27. Catat hasil tindakan dalam catatan keperawatan
SOP / PROTAP MEMANDIKAN BAYI

No Aspek yang di nilai Nilai


1 2 3 4
1. A. Persiapan alat
Handuk dan waslap bersih, sabun bayi dan sampo, cotton bud atau
kapas bersih, kapas untuk membersihkan daerah perineal, waskom 2
buah atau bath up, bengkok, air hangat, popok dan pakaian bersih,
keranjang/plastic pakaian kotor.
B. Tahap pre interaksi
2. Cek catatan perawatan dan catatan medis klien
3. Cuci tangan
4. Siapkan/dekatkan alat-alat
C. Tahap orientasi
5 Berikan salam, panggil klien/keluarga dengan namanya
6. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan pada keluarga
D. Tahap kerja
7. Berikan kesempatan klien atau keluarga untuk bertanya sebelum
kegiatan dimulai
8. Menanyakan keluhan dan kaji gejala spesifik yang ada pada klien
9. Memulai tindakan dengan cara yang baik
10 Berikan privasi pada klien
11. Pastikan bayi dalam posisi nyaman dalam pegangan atau terbaring
dalam incubator
12. Periksa kembali temperatur air dengan suhu (37-38 derajat) hangat-
hangat kuku, air dalam waskom hanya digunakan untuk membasuh
(sponge bathing) dan membersihkan rambut
13. Usap mata dari kantus dalam ke luar. Gunakan air bersih dan bagian
yang berbeda untuk tiap mata.
14. Bersihkan wajah dengan lembut. Gunakan air biasa tanpa
menggunakan sabun
15 Pegang bayi dengan aman, gunakan foot ball hold, basahi rambut
dengan air secara lembut
16 Usapkan sampo bayi dengan menggunakan waslap, bilas rambut dan
keringkan kulit kepala dengan cepat
17 Bersihkan telinga dengan gerakan memutar dan gunakan bagian yang
berbeda untuk tiap-tiap telinga.
18. Setelah melepas selimut mandi atau pakaian bayi, bersihkan leher,
dada, lengan dan punggung dengan cara yang sama.
19 Bersihkan tubuh dengan sabun dan air, bilas dengan hati-hati dan
keringkan bagian tubuh yang dibersihkan sebelum berpindah ke bagian
lain
20. Membersihkan bagian genetalia
21 Akhiri kegiatan
21 Cuci tangan
F. Dokumentasi
22. Catat hasil tindakan dalam catatan keperawatan
SOP / Protap Menerima Pasien Baru
Pengertian Menerima pasien yang baru masuk Puskesmas untuk dirawat sesuai yang berlaku.
Pasien segera memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
Tujuan Sebagai acuan untuk penerimaan pasien baru.
Kebijakan - Ada petugas yang terampil
Prosedur Persiapan :
- Pasien dan keluarganya diterima dengan ramah.
- Bila pasien dapat berdiri, atau berat badan sebelum penderita dibaringkan.
- Selanjutnya lakukan pengkajian data melalui anamnese dan pemeriksaan fisik.
- Laporan pasien pada penanggung jawab ruangan.
- Pasien dan keluarga diberi penjelasan tentang tata tertib yang berlaku di
Rumah Sakit serta orientasi keadaan ruangan/fasilitas yang ada.
- Mencatat data dari hasil pengkajian pada catatan medik dan catatan perawatan
pasien.
- Memberitahukan prosedur perawatan/tindakan yang segera dilakukan.
Unit
terkait
Poliklinik, Ruang Perawatan
SOP Memberikan oksigen
SOP Memberikan oksigen
Pengertian Memberikan oksigen pada pasien
Tujuan Untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada pasien
Kebijakan Dibawah tanggung jawab dan pengawasan dokter
Prosedur PERSIAPAN ALAT :
1. Tabung O2 lengkap dengan manometer
2. Mengukur aliran (flowmeter)
3. Botol pelembab berisi air steril / aquadest
4. Selang O2
5. Plester
6. kapas alkohol
PELAKSANAAN :
1. Atur posisi semifoler
2. Slang dihubungkan
3. Sebelum memasang slang pada hidung pasien slang dibersihkan dahulu dengan
kapasa alkohol
4. Flowmeter dibuka, dicoba pada punggung tangan lalu ditutup kembali
5. Memasang canul hidung, lakukan fixasi (plester)
6. Membuka flowmeter kembali dengan ukuran sesuai advis dokte
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Apakah jumlah yang masuk (cc/mnt) sudah sesuai dengan instruksi? Lihat angka
pada manometer
2. Apakah ujung kateter oksigen sudah masuk maksimal kelubang hidung? Bila
ujung kateter masih belum masuk maksimal, supaya posisi kateter diperbaiki
3. Bila memakai oksigen, tetap/masih sianosis lapor dokter
4. memberitahukan pada keluarga pasien untuk melapor kepada petugas bila
tabung oksigen / air steril habis.
Unit terkait Ruang inap, KIA
Penerimaan Pasien Baru Ruang Perinatologi
Transcript
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERINA STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL
PENERIMAAN PASIEN BARU RUANG PERINATOLOGI No. Dokumen : RPS/SPO/PRN/005
Tgl Terbit : 30 April 2015 No. Revisi : 00 Tgl Revisi : - Hal 2 / 2 Pengertian Pasien baru adalah
pasien yang datang dari poliklinik, IGD, pindahan dari ruangan lain yang akan dirawat di Unit
Rawat Inap. Tujuan Sebagai acuan pelaksanaan perawatan dalam menerima pasien baru. Kebijakan
1. Keputusan Direktur RSIA RP Soeroso tentang Kebijakan Pelayanan Perinatologi
No.039G/RS.RPS/S.Kep/Dir/X/2014, tanggal 30 Oktober 2014. 2. Setiap pasien masuk harus
diterima oleh Perawat. Prosedur 1. Pasien datang ke ruangan disertai status. 2. Pasien ditempatkan
di kelas yang telah disepakati. 3. Perawat memperkenalkan diri. 4. Diterangkan hak dan kewajiban
kepada pasien dan keluarganya. 5. Melaksanakan program orientasi kepada pasien, memberitahu
tentang denah ruangan, letak kamar mandi, ruangan perawat dan memberitahu fasilitas yang
tersedia serta cara penggunaannya. Perawat memberitahu tentang jadwal kegiatan rutin ruangan
antara lain waktu mandi, makan, kunjungan dokter dan waktu besuk. 6. Melaksanakan asuhan
keperawatan mulai dari pengkajian sampai evaluasi. Unit terkait 1. Instalasi Rawat Jalan. 2.
Instalasi Gawat Darurat. Disiapkan oleh Tanggung Jawab Perubahan Diperiksa oleh Disetujui oleh
Nama Rosdiana, AMK Dr.drg. Pradnya Paramita, MARS, MPM Jabatan Asst. Manajer
Keperawatan Direktur Tanda Tangan
Prawatan PICU,NICU dan sinar biru
A. PERAWATAN NICU DAN PICU
1. NICU ( Neonate Intensive Care Unit )
a. Definisi NICU
Merupakan unit perawatan intensif untuk bayi baru lahir ( neonatus ) yang memerlukan
perawatan khusus misalnya berat badan rendah, fungsi pernafasan kurang sempurna, prematur,
mengalami kesulitan dalam persalinan, menunjukkan tanda tanda mengkuatirkan dalam
beberapa hari pertama kehidupan.
Definisi Ruangan NICU ( Neonatal Intensive Care Unit ) adalah ruang perawatan intensif
untuk bayi yang memerlukan pengobatan dan perawatan khusus, guna mencegah dan
mengobati terjadinya kegagalan organ-organ vital.

b. Level Perawatan Bayi Baru Lahira.


1) Level I adalah untuk bayi risiko rendah, dengan kata lain bayi normal yang sering
digunakan istilah rawat gabung (perawatan bersama ibu). Perawatan Level 1 mencakup
bayi lahir sehat yang segera dilakukan rawat gabungdengan ibunya, sehingga dapat
menunjang penggunaan ASI eksklusif.
2) Level II adalah untuk bayi risiko tinggi tetapi pengawasan belum perlu intensif. Pada
level ini bayi diawasi oleh perawat 24 jam, akan tetapi perbandingan perawat dan bayi
tidak perlu Perawatan Level II meliputi perawatan bayi bermasalah yang memerlukan
perawatan khusus yang terbagi menjadi dalam ruangan infeksi dan non infeksi. Adapun
bayi yang dapat dirawat di level ini antara lain bayi dengan hiperbilirubinemia yang
memerlukan terapi sinar maupun transfusi tukar; bayi berat badan lahi rrendah (BB
1500-kurang dari 2500 gram) atau sangat rendah (BB kurang dari 1500 gram), bayi
kurang bulan (umur kehamilan di bawah 34-36 minggu) yang memerlukan perawatan
dalam inkubator; bayi yang tidak dapat atau tidak boleh diberikan minum peroral,
sehingga harus diberikaninfus intravena, bayi yang membutuhkan terapi oksigen, tetapi
belum memerlukan alat bantu nafas mekanis, misalnya bayi dengan distres atau
gangguan nafas, riwayat lahir tidak langsung menangis; bayi dengan gejala hipo
glikemia (kadar gula darah rendah) atau ibu dengan riwayat diabetesmelitus; bayi
dengan riwayat tindakan persalinan yang menyebabkan traumabayi lahir, misalnya
dengan forcep atau vacum ekstraksi; bayi sakittersangka infeksi sedang-berat yang
memerlukan pemberian antibiotikasecara intravena dan nutrisi intravena.
3) Level III adalah untuk bayi risiko tinggi dengan pengawasan yang benar-benar ekstra
ketat. Satu orang perawat yang bertugas hanya boleh menangani satu pasien selama 24
jam penuh.Perawatan level III (NICU)meliputi perawatan bayi sakit kritis atau belum
stabil yang memerlukansupport alat bantu nafas mekanik ( Bubble Nasal CPAP atau
Ventilatormekanik), tindakan operatif maupun pemberian obat-obatan atau tindakan
intervensi khusus. Adapun bayi yang harus dirawat di NICU antara lain bayi dengan
sindroma gawat nafas derajat 3 dan 4 yang memerlukan support alat bantu nafas
mekanik ( Bubble Nasal CPAP atau Ventilator mekanik),Aspirasi air ketuban (
Meconeum Aspiration Syndrome ); Bayi berat badan lahir amat atau sangat rendah
(kurang dari 1200 gram), atau bayi dengan umur kehamilan kurang dari 34 minggu
yang belum mendapatkan obat kematangan paru; Bayi dengan kelainan kongenital yang
membutuhkan tindakan operatif, misalnya bayi dengan obstruksi saluran pencernaan
hernia diafragmatika, omfalokel, penyakit jantung bawaan, perforasi usus,atresia ani,
dll; serta perawatan bayi pasca operasi besar yang membutuhkansupport ventilator
mekanik; Bayi yang membutuhkan intervensi invasif,misalnya pemberian surfaktan,
transfusi tukar, pemasangan akses umbilikal,pemasangan akses vena dalam dan akses
arteri, ventilator mekanik.

c. Fasilitas Ruang Perawatan Bayi Baru Lahir


1) Level I: ruang perawatan biasa; pasien dirawat di ruang atau kamar biasadan tidak
memerlukan alat atau fasilitas khusus.
2) Level II: ruang perawatan memerlukan monitor dan inkubator.
3) Level III: selain monitor dan inkubator, ruangan juga mesti difasilitasi ventilator.
Monitor berfungsi untuk mengontrol detak jantung dan otak.Sedangkan ventilator
untuk membantu sistem pernapasan.

d. Lama Perawatan BBLR


Lamanya waktu perawatan pasien bayi dengan BBLR tentutergantung kasus. Namun
biasanya mereka diperbolehkan pulang jika sudah mendekati tanggal kelahiran idealnya.
Contoh bayi yang dilahirkan 6 minggu lebih dini dari seharusnya, biasanya mesti menjalani
perawatan di rumah sakitkurang lebih 4 minggu, atau lebih cepat dua minggu dari kelahiran
idealnya.Pertimbangan lainnya, bayi akan dipulangkan jika kondisi tubuhnya sudahstabil,
organ-organ vitalnya sudah berfungsi baik, dan berbagai risiko yang mengancam sudah bisa
dihindari. Salah satu indikatornya adalah kemampuan bayi untuk mengisap atau buang air besar
dan kecil sudah baik.
e. Perawatan Berorientasi Keluarga
Dewasa ini banyak NICU yang menganjurkan agar para orang tua melibatkan diri dalam
melayani kebutuhan harian pada bayi. Staf NICU mengajari para orang tua apa yang dapat
mereka lakukan, di mana menyimpan keperluan bayi, serta bagaimana cara memegang,
menyentuh dan merawat bayi. Pelibatan orang tua dalam perawatan bayi berkisar pada
penggantian popok sampai pada pemberian susu. Jika perlu, lebih dari satu kali biasanya
perawat mengajar orang tua cara mengganti popok bayi yang berada di antara berbagai
peralatan yang memonitornya, mencuci mukanya yang kecil dan merawat bayi ketika berada
dalam inkubator. Di hari-hari pertama, mungkin orang tua baru diperbolehkan untuk hanya
menyentuh bayi, tetapi jika bayi sudah cukup kuat, orang tua dapat merawat bayinya sendiri.

Peralatan yang Ada di NICU


Secara singkat beberapa peralatan yang ada di NICU yang biasa digunakan pada bayi-bayi
yang dirawat di NICU, hal ini tergantung dari berat ringannya kondisi bayi.
a. Feeding tube
Sering bayi di NICU tidak bisa mendapatkan makanan yang mereka butuhkan melalui
mulut langsung, sehingga perawat akan memasang selang kecil melalui mulut sampai ke
lambung. Sebagai jalan untuk memasukan ASi atau susu formula.

b. Infant warmers
Ini adalah tempat tidur dengan penghangat yang ada diatasnya, sehingga bayi dapat
terhindar dari hipotermi. Orang tua dapat menyentuh bayi di warmers, yang tentunya berbicara
dulu kepada perawat.

c. Inkubator
Ini adalah tempat tidur kecil yang tertutup oleh plastik keras yang transparan, suhu di
inkubator diatur sesuai dengan kondisi bayi. Terdapat lubang disetiap samping inkubator
sebagai jalan untuk perawat dan dokter memeriksa pasien. Orang tua dapat menyentuh bayinya
lewat lubang tersebut.

d. Jalur infus
Sebuah kateter kecil yang fleksibel yang dimasukan kedalam pembuluh darah vena.
Hampir semua bayi yang dirawat di NICU diinfus untuk kebutuhan cairan dan obat-obatan,
biasanya di lengan atau kaki atau bahkan dapat dibuat umbilical chateter (sebuah kateter yang
dimasukan keumbilical) pada situasi tertentu dibutuhkan IV line yang lebih besar untuk
memasukan cairan dan obat-obatan, ini dilakukan oleh dokter bedah pediatrik.
e. Monitor
Bayi di NICU tersambungkan ke monitor sehingga staff NICU akan selalumengetahui
tanda-tanda vital mereka. Dalam satu monitor dapat terekambeberapa tanda-tanda vital, antara
lain denyut nadi, pernafasan, tekanandarah, suhu dan SpO2 (kandungan oksigen dalam darah ).

f. Blue light therapy


Terapi cahaya yang digunakan untuk bayi-bayi yang kadar bilirubinnya lebih tinggi dari
normal, biasanya digunakan di atas bayi dengan bayi telanjang dan matanya ditutup dengan
pelindung mata khusus, lamanya terapi cahaya tergantung dari penurunan kadar bilirubin,
biasanya diperiksa ulang setelah 24 jam pemakaian cahaya.
g. Bubble CPAP
Alat bantu napas dengan menggunakan canul kecil ke dalam lubang hidung bayi, hal ini
biasanya digunakan untuk bayi yang sering lupa napas (apnoe).
h. Ventilator
Mesin napas yang digunakan untuk bayi yang mempunyai gangguan nafas berat, hal ini
dengan menggunakan selang kecil melalui hidung atau mulut sampai ke paru

2. PICU ( Paediatric Intensive Care Unit )


Merupakan unit perawatan intensif untuk anak anak.Dilengkapi dengan Bed side panel
(untuk oksigen, suction dan lampu), monitor, incubator canggih, pediatric respirator, baby
blanket/blue lamp, serta perlengkapan yang diperlukan untuk terselenggaranya perawatan
intesif dan kritis yang bermutu tinggi pada bayi baru lahir. Unit ini didukung oleh tim ahli yang
terdiri dari dokter ahli penyakit anak, perinatologis.
Unit Perawatan Intensif Pediatrik menyediakan perawatan yang sangat khusus untuk anak-
anak sakit kritis dan neonatus. Unit ini dikelola dengan perawat yang khusus merawat anak-
anak dengan penyakit jantung atau paru-paru, malformasi mengancam jiwa lahir, kepala berat
dan trauma tubuh, luka bakar parah, pra-dan pasca-organ penerima transplantasi, pasca-operasi
jantung, dan setiap penyakit medis.
Layanan meliputi:
- Monitor elektronik lengkap dengan life-support systems.
- Bronkoskopi fleksibel.
- Extracorporeal membrane oxygenation (ECMO)/Oksigenasi membran extracorporeal,
untuk memberikan jantung sementara / melewati paru-paru untuk pernapasan reversibel
atau gagal jantung pada neonatus dan anak yang lebih tua.
- Perangkat pembantu ventrikel untuk menjembatani anak-anak dalam gagal jantung
untuk transplantasi.
B. PERAWATAN TERAPI SINAR (Sinar Biru)
Tata Cara (Perawatan Bayi dengan Terapi Sinar)
Dalam perawatan bayi dengan terapi sinar yang perlu diperhatikan tidak saja bayinya, tetapi
juga perangkat yang dipergunakan. Hendaknya diperiksa apakah seluruh lampu telah terpasang
dengan baik. Lampu yang digunakan sebaiknya tidak dipergunakan lebih dari 500 jam, yaitu guna
menghindari turunnya energi yang dihasilkan oleh lampu yang dipergunakan.
Hal-hal yang diperhatikan dalam perawatan bayi :
1. Diusahakan agar bagian tubuh bayi yang kena sinar dapat seluas mungkin dengan membuka
pakaian bayi.
2. Kedua mata dan gonad ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya.
3. Bayi diletakkan 8 inci di bawah sinar lampu. Jarak ini dianggap jarak yang terbaik untuk
mendapatkan energi yang optimal.
4. Posisi bayi sebaiknya diubah-ubah setiap 18 jam agar bagian tubuh yang terkena cahaya dapat
menyeluruh.
5. Suhu bayi diukur secara berkala 4-6 jam/kali.
6. Kadar bilirubin diperiksa setiap 8 jam atau sekurang-kurangnya sekali dalam 24 jam.
7. Hemoglobin juga harus diperiksa secara berkala terutama pada penderita dengan hemolisis.
8. Perhatikan hidrasi bayi, bila perlu konsumsi cairan bayi dinaikkan.
9. Lamanya terapi sinar dicatat.
Bila dalam evaluasi bayi tidak terlihat banyak perubahan dalam konsentrasi bilirubin, perlu
diperhatikan kemungkinan lampu yang tidak efektif atau adanya komplikasi pada bayi seperti
dehidrasi, hipoksia, infeksi dan metabolisme, dll. Dalam hal ini komplikasi tersebut harus
diperbaiki.
Komplikasi terapi sinar
Setiap cara pengobatan selalu akan disertai efek samping. Di dalam penggunaan terapi sinar,
penelitian yang dilakukan selama ini tidak memperlihatkan hal yang dapat mempengaruhi proses
tumbuh kembang bayi. Baik komplikasi segera ataupun efek lanjut yang terlihat selama ini bersifat
sementara yang dapat dicegah atau ditanggulangi dengan memperhatikan tata cara penggunaan
terapi sinar yang telah dijelaskan di atas.
Kelainan yang mungkin timbul pada terapi sinar
1. Peningkatan insensible water loss pada bayi.
Hal ini terutama akan terlihat pada bayi kurang bulan. Oh dkk. (1972) melaporkan kehilangan
ini dapat meningkat 2-3 kali lebih besar dari keadaan biasa. Untuk hal ini pemberian cairan
pada penderita dengan terapi sinar perlu diperhatikan dengan sebaiknya.
2. Frekuensi defekasi yang meningkat.
Banyak teori yang menjelaskan keadaan ini, antara lain dikemukakan karena meningkatnya
peristaltic usus (WIndorfer dkk., 1975). Bakken (1976) mengemukakan bahwa diare terjadi
karena efek sekunder yang terjadi pada pembentukan enzim lactase karena meningkatnya
bilirubin indirek pada usus. Pemberian susu dengan kadar laktosa rendahakan mengurangi
timbulnya diare. Teori ini masih belum dapat dibuktikan secara pasti, karenanya masih sering
dipertentangkan (Chung dkk., 1976).
3. Timbulnya kelainan kulit yang sering disebut flea bite rash di daerah muka, badan, dan
ekstremitas. Kelainan ini segera hilang setelah terapi dihentikan. Pada beberapa bayi dilaporkan
pula kemungkinan terjadinya bronze baby syndrome (Kopelman dkk., 1971). Hal ini terjadi
karena tubuh tidak mampu mengeluarkan dengan segera hasil terapi sinar. Perubahan warna
kulit yang bersifat sementara ini tidak mempengaruhi proses tumbuh kembang bayi.
4. Gangguan retina
Kelainan retina ini hanya ditemukan pada binatang percobaan (Noell dkk., 1966). Penelitian
Dobson dkk., (1975) tidak dapat membuktikan adanya perubahan fungsi pada retina demikian
pula fungsi mata pada umumnya. Walaupun demikian penyelidikan selanjutnya masih harus
terus dijalankan.
5. Gangguan pertumbuhan
Pada percobaan binatang ditemukan gangguan pertumbuhan (Ballowics dkk., 1970). Lucey
dkk., (1972) dan Drew dkk., (1976) secara klinis tidak dapat menemukan gangguan tumbuh
kembang pada bayi yang mendapat terapi sinar. Meskipun demikian hendaknya pemakaian
terapi sinar dilakukan dengan indikasi yang tepat selama waktu yang diperlukan.
6. Kenaikan suhu
Beberapa penderita yang mendapatkan terapi mungkin memperlihatkan kenaikan suhu. Bila hal
ini terjadi, terapi dapat terus dilanjutkan dengan mematikan sebagian lampu yang
dipergunakan.
7. Beberapa kelainan lain seperti gangguan minum, letargi, iritabilitas kadang-kadang
ditemukan pada penderita. Keadaan ini hanya bersifat sementara dan akan menghilang dengan
sendirinya.
8. Beberapa kelainan yang sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti ialah kelainan
gonad, terjadinya hemolisis darah dan beberapa kelainan metabolisme lain.
Sampai saat ini tampaknya belum ditemukan efek lanjut terapi sinar pada bayi. Komplikasi
segera juga bersifat ringan dan tidak berarti dibandingkan dengan manfaat penggunaannya.
Mengingat hal itu, adalah wajar bila terapi sinar mempunyai tempat tersendiri dalam
penatalaksanaan hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir.
Terapi Sinar Biru pada Bayi Sakit Kuning
Penyakit kuning atau jaundice ini biasanya membuat kulit dan mata bayi berwarna kuning.
Penyakit kuning bisa diderita bayi yang baru lahir hingga bayi berusia satu bulan.
Belum sempurnanya organ hati pada bayi menyebabkan kadar bilirubin tinggi dalam tubuh.
Dalam tahap normal, keadaan bayi kuning tidak perlu dirisaukan. Dengan penanganan tepat, warna
kuning pada bayi dapat berangsur-angsur hilang. Hal ini menunjukkan bahwa kerja organ hati telah
berfungsi dengan baik.
Foto Terapy untuk Penyakit Kuning pada Bayi Baru Lahir
Di Rumah Sakit, biasanya sudah disediakan fasilitas foto terapy, yaitu pencahayaan dengan
sinar biru. Cahaya memecahkan bilirubin dalam kulit dan menjadikan penyakit kuning semakin
pudar. Fungsi terapi sinar biru ini akan mengubah bilirubin menjadi senyawa yang larut dalam air
sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh bayi. Berapa lama bayi menjalani terapi sinar biru tergantung
pada kadar bilirubin, biasanya sekitar 2-4 hari. Bila kadar bilirubin 12-15 mg/dl, terapi dilakukan
selama 2-3 hari. Bila kadarnya mencapai 15-20 mg/dl terapi dilakukan selama 3-4 hari.
Bayi kuning dianggap normal apabila kondisi tersebut berlangsung kurang dari dua minggu.
Warna kuning pada tubuh pun tidak menjalar sampai telapak tangan dan telapak kaki.
Kondisi bayi kuning yang perlu diwaspadai antara lain:
- Tubuh bayi sudah berwarna kuning sebelum 24 jam semenjak dilahirkan
- Warna kuning pada bayi berlangsung selama lebih dari 2 minggu
- Warna kuning menjalar hingga ke telapak tangan dan telapak kaki
- Feses bayi bewarna pucat, tidak kekuningan
- Kadar bilirubin dalam darah lebih dari 10% pada bayi prematur atau 12% pada bayi cukup usia.
Pada kondisi ini, bayi diduga mengalami infeksi berat, hemolisis autoimun (yaitu sel-sel darah
putih menghancurkan sel-sel darah merah), atau kekurangan enzim tertentu. Jika tidak segera
ditangani, bilirubin dapat meracuni otak atau dikenal dengan istilah acute bilirubin encephalopathy.
Selain itu, dapat juga merusak syaraf sehingga menyebabkan tuli, cacat, terhambatnya pertumbuhan
hingga kematian.

SUMBER :
Dalam http://www.medicalera.com/qna_answer.php?thread=3402 diakses pada Jumat, 20 Oktober
2011, jam 20.35 WITA.
Dalam http://karirperawat.blogspot.com/2009/11/tata-cara-perawatan-bayi- dengan-terapi.html
diakses pada Jumat, 20 Oktober 2011, jam 20.44 WITA
Dalam http://blogjoss-ridwan.blogspot.com/2010/10/pengertian-ruang-perawatan.html diakses pada
Jumat, 20 Oktober 2011, jam 21.05 WITA
Dalam http://balimedhospital.co.id/konten/halaman_fasilitas.php?ditail=33 diakses pada Jumat, 20
Oktober 2011, jam 20.54 WITA
Dalam http://travelling.setyobudianto.com/2011/02/terapi-sinar-biru-pada-bayi-sakit.html diakses
pada Jumat, 20 Oktober 2011, 21.38 jam WITA
Beranda
About
Curriculum Vitae
Gagasan Inovasi
STABLE Program
Pengabdian Masyarakat
Pengajaran
Penelitian
Lain-lain
Buletin Perinasia
Galery

SPO Perawatan Metode Kanguru

1. Pengertian
Perawatan metode kanguru (Kangaroo Mother Care) atau disebut juga asuhan kontak kulit dengan
(skin to skin contact) merupakan metode khusus asuhan bagi bayi berat lahir rendah atau bayi
prematur.
Berdasarkan tipe pelaksanaannya, PMK dibedakan menjadi 2 (dua) tipe yaitu:
1. PMK sewaktu-waktu (intermitten)
Tipe ini dilakukan apabila bayi masih mendapat cairan atau obat-obatan intravena, bantuan
khusus seperti oksigen atau minum melalui oral gastric tube (OGT).
Asuhan harus dilakukan selama lebih dari 1 (satu) jam untuk memberikan hasil yang optimal
dan mengurangi stress pada bayi.
2. PMK secara terus menerus (continue)
Tipe ini dilakukan pada bayi yang sudah memenuhi kriteria dan tidak memerlukan bantuan
khusus untuk bernafas.
Tipe ini dilakukan untuk meningkatkan berat badan bayi, meningkatkan kemampuan bayi
menyusu dan kemampuan ibu untuk merawat bayinya sampai kriteria pemulangan bayi
terpenuhi.
1. Tujuan
Suatu metode untuk meningkatkan berat badan bayi prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR)
Menstabilkan denyut jantung, pola pernafasan dan saturasi oksigen
Memberikan kehangatan pada bayi
Meningkatkan durasi tidur
Mengurangi tangisan bayi dan kebutuhan kalori
Mempercepat peningkatan berat badan dan perkembangan otak
Meningkatkan hubungan emosional ibu dan bayi
Meningkatkan keberhasilan dan memperlama durasi menyusui

Manfaat bagi Rumah sakit


Mempersingkat lama rawat di rumah sakit sehingga bayi cepat pulang dan tempat tersebut
dapat digunakan bagi klien lain yang memerlukan (turn over meningkat).
Pengurangan penggunaan fasilitas (listrik, inkubator, alat canggih lain) sehingga dapat
membantu efisiensi anggaran.
Dengan adanya turn over serta efisiensi anggaran diharapkan adanya kemungkinan kenaikan
penghasilan (revenue).
Efisiensi tenaga karena ibu lebih banyak merawat bayinya sendiri
Beban kerja petugas berkurang

1. Kebijakan
Komunikasi antara petugas kesehatan dengan orang tua sangat penting dalam menunjang
keberhasilan PMK.
Kelahiran prematur atau BBLR dapat menyebabkan kecemasan keluarga sehingga setia
tindakan yang akan dilakukan pada bayi harus diinformasikan dengan jelas untuk mencegah
terjadinya salah persepsi dan mengurangi kecemasan orang tua.

1. Prosedur
Kriteria bayi PMK
Berat badan lahir kurang dari 1800 gram
Keadaan umum stabil selama 3 hari berturut-turut, meliputi:

nadi (120-160x/menit)
respirasi (30-60x/menit)
suhu (36,5-37,5 C)
Kriteria pulang untuk bayi PMK
Bayi sudah dapat menyusu
Tanda vital bayi stabil
Pertambahan berat badan setiap hari minimal 20 gram selama 3 hari berturut-turut
Ibu memahami asuhan kontak kulit-kulit
Ibu percaya diri merawat bayi di rumah
Ada dukungan keluarga

Tata laksana PMK


a. Tahap Persiapan
Persiapan alat

Alat pengukur tanda vital bayi (thermometer, stetoskop, jam)


Gendongan dan topi bayi
Persiapan bayi

Ukur tanda-tanda vital meliputi suhu, nadi, respirasi


Buka pakaian bayi kecuali popok
Persiapan orang tua

Cuci tangan (ibu atau ayah yang akan melakukan PMK)


Buka pakaian atas ibu atau ayah

b. Tahap Implementasi
Posisikan bayi di dada ibu atau ayah
Pertahankan posisi dengan menggunakan gendongan bayi
Tepi kain penggendong bagian atas harus dibawah telinga bayi
Pakaikan topi bayi
Pakai kembali baju atas ibu atau ayah

c. Tahap Evaluasi
Pantau kondisi bayi mencakup tanda-tanda vital dan status oksigenisasi
Identifikasi tanda-tanda bahaya yang menetap dan lakukan tindakan sesuai masalah yang
ditemukan
Tanda-tanda Bahaya dan Pelaksanaannya
a. Apnea : rangsang bayi dengan mengusap punggungnya agar bayi bisa bernafas kembali.
b. Sulit bernafas : cek posisi bayi, periksa kemungkinan bayi kedinginan.
c. Sulit minum, tidak mau bangun untuk minum: bangunkan bayi saat kondisi tidur tidak
nyenyak (rapid eyes movement/REM).
d. Diare: periksa konsistensi faeces, tetap berikan ASI
e. Kulit kuning: tetap berikan ASI
Apabila pertolongan pertama tidak berhasil anjurkan ibu untuk mencari pertolongan tenaga
kesehatan.
1. Unit Terkait
1. Dokter spesialis Anak
2. Dokter Spesialis Kebidanan
3. Ruang Perinatologi
4. Ruang NICU
5. Ruang Nifas
1. Dokumen Terkait
1. SK Kementerian Kesehatan
2. SK Direktur RS. Hasan sadikin
Pemakaian Lampu Bluelight
Transcript
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERINA STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL
PEMAKAIAN LAMPU BLUELIGHT No. Dokumen : RPS/SPO/PRN/017 Tgl Terbit : 30 April
2015 No. Revisi : 00 Tgl Revisi : - Hal 2 / 2 Pengertian Suatu alat lampu therapy yang
menggunakan lampu ultra violet. Tujuan Untuk therapi bayi yang terkena penyakit kuning atau
hiperbilurubin. Kebijakan Keputusan Direktur RSIA RP Soeroso tentang Kebijakan Pelayanan
Perinatologi No.039G/RS.RPS/S.Kep/Dir/X/2014, tanggal 30 Oktober 2014. Prosedur 1. Letakkan
lampu bluelight dalam posisi tegak lurus. 2. Hubungkan kabel power suplay ke stopkontak PLN
yang tersedia. 3. Tekan tombol power ON/OFF. 4. Letakkan Bayi dalam box atau ranjang bayi,baju
bayi di buka dan mata ditutup. 5. Gunakan kaca mata khusus atu penutup mata dan tutup kelamin
dengan pampers. 6. Atur jarak antara lampu bluelight dan incub ator dari box bayi antar 30 cm. 7.
Atur posisi bayi tiap 2 jam posisi telentang/tengkurap. 8. Perhatikan dan catat jam pemakaian lampu
bluelight. 9. Jika pemakaian telah selesai lampu bluelight bisa di matikan dengan menekan tombol
off. Unit terkait 1. NICU. 2. Perina. Disiapkan oleh Tanggung Jawab Perubahan Diperiksa oleh
Disetujui oleh Nama Diniyarti, Am.Keb Rosdiana, AMK Dr.drg. Pradnya Paramita, MARS, MPM
Jabatan Koordinator Asst. Manajer Keperawatan Direktur Tanda Tangan
STANDAR OPERASIONAL PEOSEDUR
(SOP)
PEMBERIAN TRANFUSI DARAH
Pengertian : memberikan transfusi darah sesuai intrusi atau program
Tujuan : memenuhi kebutuhan dasar dan mencegah terjadinya anemia
Indikasi : pasien dengankadar hemoglibin di bawah 7 gr/dl
A. Tahap preinteraksi
1. Membaca program tindakan
2. Menyiapkan alat
1) Standar infus
2) Cairan steril sesuai instruksi
3) Tranfusi set steril
4) IV kateter sesuai ukuran ( 18 )
5) Bidai atau ( k/p pada anak )
6) Perlak dan pengalas
7) Tourniquet
8) Instrumens steril ( pinset, gunting dan com )
9) Kapas alkohol
10) Bengkok
11) Tempt sampah
12) Kasa steril
13) Sarung tangan
14) Salf antibiotik
15) Plester
16) Darah atau plasma
17) Obat antihistamin
18) Tensimeter dan termometer
19) Formulir observasikhusus dan alat tulis
3. Memasang sampiran
4. Mencuci tangan
5. Mendekatkan alat kepasien

B. Tahap orientasi
1. Memberi salam
2. Menanyakan adanay keluhan
3. Menjelaskan prosedur tindakan kepasien atau keluarga
4. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya

C. Tahap kerja
1. Menggunakan sarung tangan
2. Mengukur tanda vital
3. Membebaskan lengan pasien dari baju
4. Meletakan perlak dan pengalas di bawah lwngan pasien
5. Menyiapkan larutan NaCl 0,9 % dengan tranfusi set
6. Memasang infus NaCl 0,9 %
7. Mengatasi tetesan tetap lancar
8. Memastikan tidak ada udara didalam selang infus
9. Mengontrol kembali darah yang akan diberikan kembali kepada pasien
1) Wanita
2) Identitas
3) Jenis dan golongan darah
4) Nomor kantong darah
5) Tanggal kadaliarsa
6) Hasil cross test dan jumlah darah
10. Mengganti cairan NaCl 0,9 % dengan darah setelah 15 menit
11. Mengatur tetesan darah

D. Tahap terminasi
1. Mengganti adanya reaksi transfusi dan komplikasi
2. Mengevaluasi perasaan pasien
3. Menyimpulkan hasil kegiatan
4. Melakukan kontrak waktu untuk kegiatan selanjutnya
5. Mengakhiri kegiatan
6. Merapikan alat
7. Melepas sarung tangan
8. Mencuci tangan
9. Mengukur tanda vital tiap 5 menit untuk 15 menit pertama, tiap 15 menit
untuk jam berikutnya dan tiap 1 jam sampai dengan tranfusi selesai
Sop Pemasangan Infus Pump
Transcript
BLUD RSUD dr.H.Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas PEMASANGAN INFUS PUMP NO.
DOKUMEN: REVISI: 01 HALAMAN: TANGGAL: DITETAPKAN OLEH DIREKTUR Dr. H.
Bawa Budi Raharja,MM NIP. 19640131 199903 1 002 PROSEDUR TETAP PENGERTIAN
Infusion pump adalah suatu alat untuk mengatur jumlah cairan / obat yang masukkan ke dalam
sirkulasi darah pasien secara langsung melalui vena TUJUAN 1. Untuk menjaga pemberian cairan
parenteral sesuai kebutuhan klien. 2. Mencegah kelebihan volume cairan yang diberikan
KEBIJAKAN Dilakukan pada pasien yang memerlukan pemantauan dan pengukuran secara khusus
cairan yang masuk melalui intravena/parenteral PERSIAPAN 1. Infuse pump dan tiang penyangga
2. Cairan infus 3. Infus set sesuai dengan kebutuhan alat infuse pump PROSEDUR KERJA 1.
Bawa alat-alat ke dekat klien 2. Siapkan cairan infus dan infuse set dan gantungkan di tiang
pengangga infuse pump 3. Pasangkan bagian selang pada infus set pada infuse pump, pastikan
tidak ada udara pada selang 4. Pasang drip sensor (jika ada) sesuai jenis infus pump pada tempat
tetesan infus set 5. Nyalakan infuse pump 6. Atur infus set pada infuse pump sesuai infuse set
yang digunakan dan jenis infus pump yang digunakan 7. Atur jumlah cairan yang akan diberikan
pada pasien tiap jam dan total caiaran keseluruhan yang akan dimasukan 8. Tekan start untuk
memulai pemberian cairan 9. Jika ada hal yang kurang tepat, alat akan memberikan peringatan
dengan suara dan lampu yang menyala merah pada tulisan air, occlusion, flow err, empty, door,
completion 10. Evaluasi respon klien terhadap pemberian cairan. UNIT TERKAIT IGD dan
Bangsal Rawat Inap
Standar Operasional Prosedur Syringe Pump
Transcript
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SYRINGE PUMP 1.
PENGERTIAN SYRINGE PUMP Syringe pump adalah suatu alat yang digunakan untuk
mengatur pemberian medikasi intravena pada klien. 2. TUJUAN PENGGUNAAN SYRINGE
PUMP a. Menjaga pemberian medikasi intravena sesuai kebutuhan klien b. Memberikan medikasi
dengan dosis kecil dan waktu yang lama 3. PERSIAPAN ALAT a. Syringe pump dan standar infus
b. Spuit 10 cc/ 20 cc/ 30 cc/ 50 cc dan medikasi klien c. Selang penghubung spuit dengan
medicut/venvlon (IV ekstension) 4. PROSEDUR KERJA 1. Bawa semua alat kedekat klien 2.
Siapkan spuit dan medikasi klien 3. Pasang spuit ke syringe pump dan kunci 4. Sambungkan selang
penghubung dari spuit ke akses intravena klien (penvlon/medicut/three way) 5. Tekan tombol
On/Off 6. Atur dosis dengan tekan tombol rate/D.Limit/ml (SELECT) sehingga muncul RATE
pada layar, putar dial setting di sebelah samping (rate dalam satuan ml/H = cc/jam) 7. Tekan start
(jika sudah operasional maka lampu indikator akan menyala hijau berputar) INDIKATOR EROR
(KESALAHAN) PLUNGER CLUT (pengunci spuit tidak tepat dalam pemasangan) OCCLUSI (ada
buntuan pada selang penghubung, medicut, venvlon, plebitis ) NEARLY EMPTY (medikasi hampir
habis) LOW BAT (baterai hampir habis) Ketika terjadi eror maka ALARM akan berbunyi dan
lampu indikator berkedip merah (tanda alat tidak beroperasi) Matikan ALARM dg tekan tombol
STOP Cari penyebab dan selesaikan masalah (sesuai indikator eror) Ukur dosis / rate ulang terus
jalan kan START
SOP PEMASANGAN MONITOR

1. Pengertian
Adalah suatu alat yang difungsikan untuk memonitor kondisi fisiologis pasien. Dimana proses
monitoring tersebut dilakukan secara real-time, sehingga dapat diketahui kondisi fisiologis pasien
pada saat itu juga.

2. Parameter Bedside Monitor


Parameter adalah bagian-bagian fisiologis dari pasien yang diperiksa melalui pasien monitor. Jika
kita ketahui ada sebuah pasien monitor dengan 5 parameter, maka yang dimaksud dari lima
parameter tersebut adalah banyaknya jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan oleh pasien monitor
tersebut.

Didalam istilah pasien monitor kita mengetahui beberapa parameter yang diperiksa, parameter
itu antara lain adalah :

a. EKG adalah pemeriksaan aktivitas kelistrikan jantung, dalam pemeriksaan ECG ini juga
termasuk pemeriksaan Heart Rate atau detak jantung pasien dalam satu menit.
b. Respirasi adalah pemeriksaan irama nafas pasien dalam satu menit
c. Saturasi darah / SpO2, adalah kadar oksigen yang ada dalam darah.
d. Tensi / NIBP (Non Invasive Blood Pressure) / Pemeriksaan tekanan darah.
e. Temperature, suhu tubuh pasien yang diperiksa.

3. Jenis Bedside Monitor


a. Pasien Monitor Vital Sign
Pasien monitor ini bersifat pemeriksaan stndar, yaitu pemeriksaan ECG, Respirasi, Tekanan darah
atau NIBP, dan Kadar oksigen dalam darah / saturasi darah / SpO2.

b. Pasien Monitor 5 Parameter


Pasien monitor ini bisa melakukan pemeriksaan seperti ECG, Respirasi, Tekanan darah atau NIBP,
kadar oksigen dalam darah / saturasi darah / SpO2, dan Temperatur.

c. Pasien Monitor 7 Parameter


Pasien monitor ini biasanya dipakai diruangan operasi, karena ada satu parameter tambahan yang
biasa dipakai pada saat operasi, yaitu ECG, Respirasi, Tekanan darah atau NIBP (Non Invasive
Blood Pressure) , kadar oksigen dalam darah / Saturasi darah / SpO2, temperatur, dan sebagai
tambahan adalah IBP (Invasive Blood Pressure) pengukuran tekanan darah melalui pembuluh darah
langsung, EtCo2 (End Tidal Co2) yaitu pengukuran kadar karbondioksida dari sistem pernafasan
pasien.

4. Cara Kerja
a. Lepaskan penutup debu
b. Siapkan aksesoris dan pasang sesuai kebutuhan
c. Hubungkan alat ke terminal pembumian
d. Hubungkan alat ke catu daya
e. Hidupkan alat dengan menekan/mamutas tombol ON/OFF
f. Set rentang nilai (range) untuk temperatur, pulse dan alarm
g. Perhatikan protap pelayanan
h. Beritahukan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan
i. Hubungkan patient cable, stap dan chest electrode ke pasien dan pastikan sudah terhubung dengan
baik
j. Lakukan monitoring
k. Lakukan pemantauan display terhadap heart rate, ECG wave form, pulse, temperatur, saturasi
oksigen (SpO2), NiBP, tekanan hemodinamik
l. Setelah pengoperasian selesai matikan alat dengan menekan tombol ON/OFF
m. Lepaskan hubungan alat dari catu daya
n. Lepaskan hubungan alat dari terminal pembumian
o. Lepaskan patient cable, strap, chest electrode dan bersihkan
p. Pastikan bahwa Bedside Monitor dalam kondisi baik dan siap difungsikan lagi
q. Pasang penutup debu
r. Simpan alat dan aksesoris ke tempat semula

Anda mungkin juga menyukai