Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN

Pada praktikum ini, dilakukan analisa kadar protein dengan metode makro-kjeldahl untuk
bahan pangan Energen Jahe. Analisa kadar protein ini bertujuan untuk menentukan persentase
kadar nitrogen yang ada dalam bahan pangan tersebut, baik nitrogen yang ada dalam protein
maupun non-protein (urea, asam amino, amina, atau amida). Oleh karena itu, hasil pengukuran
yang diperoleh disebut crude protein. Metode makro-kjeldahl ini terdiri dari 3 tahapan utama,
yaitu: destruksi, destilasi, dan titrasi.
1. Tahap Destruksi
Tahap destruksi bertujuan untuk merombak atau menghidrolisis unsur-unsur protein
yaitu C, H, O, N, S, dan P. Destruksi dimulai dengan menghaluskan ukuran sampel
menjadi ukuran lebih kecil menggunakan blender kemudian dihomogenkan. Kemudian,
sampel dimasukkan ke dalam labu kjeldahl yang kering agar sampel tidak menempel di
didinding labu. Setelah itu, dilakukan penambahan H2SO4 pekat yang berfungsi untuk
mereduksi senyawa nitrogen yang terdapat dalam bahan pangan. Tahap ini juga diikuti
dengan penambahan 2 buah batu didih dan 1 tablet kjeldahl. Batu didih digunakan untuk
membantu pemerataan panas dalam larutan sehingga proses destruksi dapat berjalan
sempurna. Tablet kjeldah berfungsi sebagai katalisator yang dapat mempercepat
berlangsungnya destruksi sampel menjadi unsur-unsur yang lebih sederhana. Tablet
kjeldahl terdiri dari K2SO4, CuSO4, Se, dan HgO. Katalisator dapat meningkatkan titik
didih asam sulfat sehingga proses destruksi dapat berjalan dengan lebih cepat dan
mengurangi penggunaan energi yang berlebihan. Suhu destruksi berjalan sekitar 370-
410C, waktu destruksi berjalan sekitar 45 menit tetapi dalam praktikum waktu yang
diperlukan jauh lebih lama hal ini disebabkan karena praktikan belum mengetahui kapan
waktu yang tepat untuk mengingkatkan alat pemanasannya dengan baik, sehingga
diperlukan waktu yang lebih lama untuk mendestruksinya.
Pada proses ini, dilakukan pemindahan skala pemanasan dari skala 1 hingga skala 3.
Pemindahan skala ini didasarkan pembentukkan asap, awalnya digunakan skala 1 dengan
api kecil. Lalu ketika mulai terbentuk asap putih (SO 2) dilakukan pemindahan ke skala dua
dengan api yang lebih besar. Kemudian, jika asap putih tersebut tidak bergerak menuju
pipa hisap maka skalanya dinaikkan menjadi skala 3, pemanasan dilakukan hingga seluruh
asap putih yang ada hilang dan cairan menjadi jernih. Jika larutan sudah jernih dan tidak
terdapat asap putih, skala diubah menjadi 0 dan labu didiamkan dan dibiarkan dingin.
Pada tahap ini terbentuk asap putih, asap putih terbentuk dari sulfur dioksida (SO 2)
yang direduksi dari asam sulfat. Senyawa ini mampu mereduksi senyawa yang
mengandung nitrogen menjadi ammonia (NH3) yang akan bereaksi dengan asam sulfat
membentuk (NH4)2SO4. Asap putih ini bersifat racun, sehingga pemanasan yang dilakukan
harus bertahap karena jika pemanasan terlalu cepat atau suhu tinggi dapat menyebabkan
SO2 terbentuk cepat dan terjadi akumulasi dalam labu. Asap putih yang masuk ke pipa
hisap akan direaksikan dengan air yang dapat mengikat SO 2 sehingga SO2 tidak keluar dari
labu melainkan membentuk asam sulfit (H2SO3) yang tidak berbahaya.
Tahap destruksi dianggap selesai jika dalam larutan tidak terdapat asap putih dan
larutan menjadi jernih.

2. Tahap Destilasi
Pada tahap ini, dilakukan penambahan 100 mL akuades ke dalam labu yang sudah tidak
terlalu panas. Penambahan akuades ini bertujuan untuk mengencerkan larutan hasil
destruksi. Akuades ditambahkan sedikit demi sedikit melalui dinding labu sambil digoyang
sehingga larutan dapat tercampur dan suhu larutan turun, penambahan akuades dilakukan
dengan labu berada dibawah aliran air mengalir. Kemudian ditambahkan pula 100 mL
NaOH 10 N sedikit demi sedikit. NaOH ditambahkan melalu dinding labu dengan tujuan
untuk menetralkan larutan yang awalnya mengandung asam kuat dan pekat juga untuk
mencegah terjadinya over heating. Penambahan NaOH mampu mendekomposisi
(NH4)2SO4 membentuk NH4OH yang sifatnya labil sehingga membentuk NH 3 dan H2O
yang akan ditangkap oleh larutan HCl 0,1 N yang telah ditambahkan indikator MR-MB.
NaOH yang ditambahkan ke dalam labu digoyang perlahan dibawah air mengalir hingga
terbentuk lapisan Cu(OH)2, akan tetapi pada praktikum ini tidak terbenntuk lapisan
Cu(OH)2 berwarna biru, yang terbentuk adalah endapan berwarna coklat dan larutannya
pun juga coklat. Hal ini disebabkan karena (?)
Kemudian dilanjutkan dengan penambahan bubuk logam Zn setengah sendok tanduk
secara tegak lurus dengan labu. Bubuk Zn ini berfungsi untuk membantu proses destilasi
karena Zn dapat bereaksi secara perlahan dengan NaOH membentuk Zincate. Penambahan
bubuk Zn ini bertujuan untuk mencegah terjadinya super heating, mencegah terjadinya
percikan cairan, dan tidak menimbulkan gas yang besar. Setelah ditambahkan bubuk Zn
labu dibilas dengan NaOH yang sebelumnya dihentikan kini dilanjutkan kembali hingga
habis. Setelah penambahan Zn, mulut labu harus segera ditutup dengan tangan karena saat
proses netralisasi terbentuk gas NH3 yang dijaga agar tidak sampai hilang karena menguap.
Bagian bawah labu takar pun diharus dikeringkan menggunakan lap kering agar ketika
dipanaskan tidak menyebabkan labu menjadi pecah.
Hasil destilasi harus kontak secara langsung, antara HCl dan gas NH 3 yang terbentuk,
sehingga ujung pipa destilasi harus dalam keadaan tercelup larutan HCl. Hal ini bertujuan
agar gas NH3 yang terbentuk selama destilasi dapat langsung ditangkap oleh HCl yang
akan berikatan dengan Cl membentuk NH4Cl. Jika gas NH3 lepas, maka akan menguap
diudara sehingga kadar protein yang ditangkap menjadi tidak valid seperti yang
seharusnya.
Tahap destilasi diakhiri ketika volume destilat mencapai 150 mL dan semua ammonia
telah terdestilasi secara sempurna, yang diketahui dengan pengujian pH larutan
menggunakan kertas lakmus merah. Jika tetap berwarna merah menunjukkan bahwa
ammonia sudah habis berikatan dengan HCl sehingga kondisinya asam. Jika biru perlu
dipanaskan kembali karena belum semua ammonica berikatan dengan HCl.

3. Tahap Titrasi
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui berapa banyak HCl yang mengikat NH3. Sisa
HCl yang tidak mengikat NH3 akan dititrasi dengan NaOH 0,1 N yang sudah distandarisasi
dengan asam oksalat. Standarisasi dilakukan agar mengetahui normalitas NaOH yang
sesungguhnya sehingga dapat digunakan untuk perhitungan kadar protein. Dengan adanya
titrasi dapat diketahui jumlah N bebasnya. Titrasi diakhiri jika destilat mengalami
perubahan warna menjadi hijau relaxa. Perubahan warna terjadi karena adanya reaksi
antara HCl dengan NaOH yang tidak berikatan dengan NH 3 yang dihasilkan dari proses
destilasi. Semakin banyak Cl yang tertitrasi maka semakin sedikit kadar N dalam larutan
tersebut sehingga kadar protein sampel pun semakin sedikit.

Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh hasil perhitungan %crude protein dari ketiga
sampel sereal Energen Jahe berturut-turut adalah sebesar 3,9049%; 3,6043%; dan 3,8174%
dengan rata-rata 3,7874%. Dari ketiga hasil tersebut diperoleh nilai standar deviasi sebesar
0,1701 sehingga diketahui rangenya yaitu 3,78740,1701. %protein yang masuk range adalah
3,9406% dan 3,8174% dan diperoleh rata-rata protein yang masuk range adalah 3,8790%. Dari
data nutrition fact, diketahui bahwa %protein refference nya adalah 3,4482%. Dari kedua data
tersebut dapat diketahui nilai %errornya yaitu sebesar 12,4935%. Perbedaan kadar protein hasil
percobaan dengan nilai teoritis dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
- Unsur N yang terproses bukan hanya murni berasal dari protein, sehingga
menyebabkan perhitungan protein sampel menjadi sedikit lebih banyak/besar daripada
refferencenya.
- Kesahalan pengamatan pada saat titrasi (baik perubahan warna maupun angka yang
tertera pada buret), sehingga mempengaruhi hasil perhitungan. Saat tepat berubah,
praktikan menduga belum ada perubahan sehingga proses titrasi dilanjutkan sehingga
terjadi over titrasi (warna menjadi terlalu tua).
- Ketidaktelitian dalam pencampuran zat sehingga tidak efektif dalam analisa.

Kesimpulan
- Analisa kadar protein dengan cara makro kjeldahl meliputi tahan destruksi, destilasi,
dan titrasi.
- Kadar protein yang ditentukan dengan cara makro kjeldahl merupakan penentuan kadar
protein kasar berdasarkan pada protein dan non-protein yang mengandung N.
- Kadar protein kasar diperoleh dengan mengalikan %N dengan faktor konversi (FK),
faktor konversi yang digunakan adalah 6,25.
- Kadar protein kasar hasil pengujian sampe Energen Jahe adalah 3,8790%.