Anda di halaman 1dari 38

KATA PENGANTAR

Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pakan dan mengurangi


ketergantungan pada bahan pakan dan pakan dari pabrikan, maka
disusunlah buku petunjuk ini yang memuat informasi tentang pedoman
pembangunan pabrik pengolah pakan skala kecil, peralatan yang
digunakan, cara pengolahan bahan pakan, nutrisi, formula, standar mutu
(SNI), pelatihan dan analisa ekonomi.

Buku petunjuk ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi petugas dinas
peternakan, penyuluh, kelompok peternak dan pihak terkait dalam
mengembangkan usaha pengolahan pakan skala kecil pada tingkat
kelompok.

Jakarta, April 2010

DIREKTUR BUDIDAYA TERNAK NON RUMINANSIA,

Drh. Dajadi Gunawan, MPH


NIP.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. iii.

I. PENDAHULUAN ............................................................................ .. 1.
1. Latar Belakang ......................................................................... 1.
2. Tujuan ..................................................................................... 2.
3. Pengertian ................................................................................ 2.
4. Ruang Lingkup ......................................................................... 3.

II. TAHAP PEMBANGUNAN PABRIK PAKAN SKALA KECIL ........... 3.


1. Penentuan Lokasi ..................................................................... 3.
2. Pendirian Bangunan Pabrik ..................................................... 3.
3. Tata Letak Pabrik Pakan .......................................................... 3.
4. Proses Pengolahan Pakan ....................................................... 4.
5. Kebutuhan Peralatan ................................................................ 6.

III. ALAT DAN MESIN PENGOLAH PAKAN .......................................... 6.


1. Silo ........................................................................................... 6.
2. Pengering ( Dryer) .................................................................... 7.
3. Saringan Kasar ( Screen ) ........................................................ 7.
4. Pemecah ( Hammer mill ) ......................................................... 7.
5. Penggiling/Penepung ( Diskmill ) ............................................. 8.
6. Pemipil jagung (Corn sheller ) .................................................. 8.
7. Ayakan ( Shifter ) ...................................................................... 8.
8. Timbangan ( Weight ) ............................................................... 9.
9. Pengaduk/ Pencampur ( Mixer ) ............................................... 9.
10. Pembangkit Uap ( Steam Boiler ) ............................................. 9.
11. Pencetak Pelet ( Pelletizer ) ..................................................... 10.
12. Pemecah Pelet ( Crumble ) ..................................................... 10.
13. Pendinging ( Cooler ) .............................................................. 10.
14. Mesin Jahit Kemasan ( Sewing Machine ) ............................... 11.
15. Peralatan Pendukung Lain ...................................................... 11.
- Gerobak / Troley .................................................................... 11.
- Kaitan / Gaco ......... 11.
- Wadah/ Bak Penampung dan Skop .............. 11.
- Peralatan Bengkel .................................................................. 11.

IV. PENGOLAHAN BAHAN PAKAN ....................................................... 12.


1. Survey Ketersediaan Bahan Baku Pakan ................................ 12.
2. Perhitungan Kebutuhan Pakan ................................................ 12.
3. Tujuan Penggunaan Bahan Pakan .......................................... 12.
4. Syarat-syarat Bahan Pakan ..................................................... 13.
5. Pengujian Mutu Bahan Pakan .................................................. 13.

V. NUTRISI DAN FORMULA PAKAN .................................................... 14.

VI. PELATIHAN ..... 20.

VII. ANALISIS EKONOMI......... 21.

VIII. PENUTUP ... 25


DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA .. 26.

LAMPIRAN :
1 . Hasil Pengujian Bahan Pakan Jagung .. 27.

2. Hasil Pengujian Bahan Pakan Dedak ... 28.

3. Analisis Ekonomi Pengelolaan Pabrik Pakan Skala


Kecil ( kapasitas 2 ton / hari ) .......................................... 29.

4. Keuntungan Pabrik Pakan Skala Kecil Ayam Broiler ....... 30.


PEDOMAN
PEMBANGUNAN PABRIK PAKAN SKALA KECIL
DAN PROSES PENGOLAHAN PAKAN

I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pakan ternak merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam
usaha budidaya ternak. Kebutuhan pakan ternak meliputi jenis, jumlah
dan kualitas bahan pakan yang diberikan kepada ternak secara langsung
akan dapat mempengaruhi tingkat produksi dan produktifitas ternak yang
dipelihara.
Tingkat keuntungan yang diperoleh dari usaha budidaya ternak sangat
dipengaruhi oleh total biaya pakan yang dikeluarkan, dimana biaya
pakan dapat mencapai 60 -70 % dari seluruh biaya produksi yang
diperlukan untuk usaha budidaya ternak.
Ketergantungan peternak pada penggunaan pakan jadi yang diproduksi
oleh perusahaan pakan masih tinggi, dimana sebagian besar bahan
pakan tersebut masih diimpor. Apabila terjadi fluktuasi kenaikan harga
bahan pakan, akan mengakibatkan tingginya harga pakan jadi.
Penyediaan pakan yang murah, dari bahan pakan lokal yang tersedia
secara terus menerus di sekitar tempat usaha budidaya serta dapat
memenuhi kebutuhan gizi ternak, perlu diupayakan untuk memperoleh
keuntungan yang maksimal dalam menunjang keberhasilan usaha
budidaya yang dilakukan.
]

Pembangunan pabrik pakan ternak skala kecil pada tingkat kelompok


sangat diperlukan karena akan sangat menunjang usaha budidaya
peternakannya. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam
memproduksi pakan bukan hanya pada aspek kualitas saja, tetapi perlu
diperhatikan juga aspek ekonomis, dimana pakan yang dihasilkan dapat
terjangkau oleh kemampuan peternak.
Agar pakan dapat tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau,
maka pemerintah terus melakukan upaya upaya pembangunan pabrik
pakan skala kecil. Untuk itu diperlukan sebuah petunjuk bagaimana
membangun sebuah pabrik pakan skala kecil .

2. Tujuan

Tujuan dari Petunjuk Pembangunan Pabrik Pakan Skala Kecil (PP-SK)


dan pengolahan pakan adalah :
1) Para pihak terkait dalam pengembangan pakan mempunyai
panduan dalam proses pembangunan PP-SK dan pengolahan
pakan
2) Sebagai acuan petugas teknis dilapangan untuk
mensosialisasikan pengembangan PP-SK

3. Pengertian
Dalam petunjuk ini yang dimaksud dengan :

1) Pabrik Pakan Skala Kecil adalah suatu unit industri pengolah


pakan ternak dengan kapasitas kurang dari 5 ton/hari, untuk pakan
ternak unggas maupun ternak ruminansia yang menggunakan
peralatan dan mesin secara mekanis.
2) Alat dan Mesin Pengolah Pakan adalah peralatan yang
digunakan dalam proses pengolahan pakan.
3) Analisis Proksimat adalah pengujian laboratorium bahan pakan
yang akan diformulasi dan diolah menjadi ransum pelet, crumble,
atau mash. Parameter pengujian bahan ini meliputi parameter kadar
air, protein, lemak, serat kasar, abu, kalsium (Ca), dan fospor (P),
sesuai standar nasional Indonesia (SNI).
4) Pakan adalah campuran dari beberapa bahan pakan, baik yang
sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun
secara khusus untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis
ternaknya.
5) Bahan Pakan adalah bahan-bahan hasil pertanian, perikanan,
peternakan atau bahan lainnya yang layak dipergunakan sebagai
pakan, baik yang telah diolah maupun yang belum diolah.
6) Pengujian Mutu Pakan adalah kegiatan dan tata cara menguji
sampel pakan untuk mengetahui mutunya.
7) Bahan Pakan Konvensional adalah bahan pakan yang sering
digunakan dalam pakan yang mempunyai kandungan nutrisi yang
cukup dan disukai ternak. Bahan pakan konvensional adalah jagung
kuning, bungkil kedelai, pollard (dedak gandum), tepung ikan, dedak
padi, dan bahan lainnya.
8) Bahan Pakan Substitusi adalah bahan pakan yang berasal dari
bahan yang belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan pakan,
akan tetapi dari kandungan nutrisinya masih memadai untuk diolah
menjadi pakan. Bahan pakan subtitusi adalah bungkil inti sawit,
lumpur sawit, tetelan daging (sisa fleshing), kulit biji kakao, kulit biji
kopi, dan lain-lain.
9) Restriksi adalah nilai batas maksimum atau minimum dari
pemakaian satu atau lebih bahan pakan di dalam menyusun suatu
formula dalam pakan.
10) Formulasi adalah suatu tahap kegiatan dalam produksi pakan yang
bisa dilakukan dengan berbagai cara atau metode seperti
kandungan nutrisi, batas penggunaan, energi, serta harga bahan
pakan. Untuk memudahkan formulasi ini sudah tersedia perangkat
atau program komputer yang dapat membuat formulasi pakan
secara cepat.
11) Pakan Bentuk Mash adalah bentuk pakan merupakan tepung dan
granula berbagai jenis bahan pakan yang komposisinya telah
dihitung dan ditentukan sebelumnya.
12) Pakan Bentuk Pelet adalah pakan yang berasal dari berbagai
bahan pakan dengan perbandingan komposisi yang telah dihitung
dan ditentukan dan diolah dengan mesin pelet.
13) Pakan Bentuk Crumble adalah pakan yang dipecah dengan
tujuan untuk memperkecil ukurannya agar bisa dimakan oleh ternak.
Kelebihan pakan bentuk pelet dan crumble adalah distribusi bahan
pakan lebih merata sehingga kehilangan nutrisi bisa dicegah serta
tidak akan tercecer pada waktu dikonsumsi ternak.

4. Ruang Lingkup
Untuk membangun PP-SK perlu diperhatikan 4 aspek penting yaitu : (1)
pengelolaan PP-SK, (2) pengelolaan bahan pakan, (3) proses
pengolahan bahan baku di PP-SK , (4) pelatihan.
1) Pengelolaan PP-SK
a. Penentuan lokasi
b. Persyaratan bangunan
c. Tata letak bangunan
d. Kebutuhan peralatan
2) Pengelolaan Bahan Baku
a. Survey ketersediaan bahan baku
b. Penghitungan kebutuhan pakan
c. Penciptaan formula pakan
3) Pengolahan Bahan Baku
4) Pelatihan
a. Pelatihan operasionalisasi alsin
b. Pelatihan formula pakan

II. TAHAP PEMBANGUNAN PABRIK PAKAN SKALA KECIL


1. Penentuan Lokasi
Pabrik pakan skala kecil sebaiknya didirikan di daerah sentra-sentra
usaha peternakan atau di daerah sentra bahan baku pakan. Hal tersebut
dengan pertimbangan untuk memudahkan transportasi serta mengurangi
biaya produksi.
2. Pendirian Bangunan Pabrik
Luas bangunan pabrik pakan skala kecil yang dibutuhkan berkisar 100
200 m. Persyaratan bangunan pabrik pakan skala kecil adalah :
1) Bangunan harus dapat melindungi bahan pakan, peralatan dan
produk pakan yang dihasilkan.
2) Konstruksi bangunan permanen.
3). Mempunyai sirkulasi udara yang cukup.
4) Lokasi pabrik pakan disarankan tidak berada ditengah-tengah
pemukiman penduduk.
5) Apabila pabrik pakan berada dekat dengan pemukiman sebaiknya
dilengkapi dengan kipas pengisap (exhaust fan) dan cerobong.
6) Tersedia air yang cukup untuk pembersihan lantai dan pencucian
alat.
7). Bangunan pabrik diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan
penempatan peralatan, bahan pakan dan produk yang dihasilkan,
serta memudahkan pekerja.
3. Tata Letak Pabrik Pakan
Untuk menjaga agar alur proses pengolahan pakan tertib/teratur dan
menghasilkan produk sesuai standar, maka pabrik pakan harus diatur tata
letak dari bangunan dan penempatan peralatan pengolah pakan seperti
gambar dibawah ini.
Keterangan :
Ruangan tidak perlu disekat, kecuali
untuk kantor
1. Ruang kantor
2. Tempat bahan baku ( silo )
3. Mesin pemecah (Hammermill)
4. Mesin penepung ( Diskmill)
5. Ruang servis alat (bor duduk dan
alat-alat bengkel)
6. Ayakan (shifter)
7. Mesin pencampur ( Mixer)
8. Mesin pembangkit uap (Steam
boiler)
dan Mesin pencetak pelet
(Pelletizer)
9. Alat penganginan (cooler) dan
pemecah pelet (crumble)
10. Tempat pengemasan
(mesin pengemas dan mesin jahit)
11. Tempat produk
12. Timbangan.
4. Proses Pengolahan Pakan

Proses pengolahan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh


terhadap mutu pakan, disamping faktor lain, seperti bahan pakan, bahan
tambahan, peralatan pengolahan, serta perhitungan formulasi.
Secara garis besar, proses pengolahan pakan jadi mengikuti suatu
mekanisme seperti yang tersaji pada gambar-1.

Gambar-1 : Mekanisme proses pengolahan pakan jadi

PENERIMAAN BAHAN PENGADUKAN/ MIXING PRODUK MASH


PAKAN

SORTASI PEMBERIAN UAP


PANAS

PEMBERSIHAN/ PEMELETAN PRODUK PELET


PENYARINGAN

PENGECILAN UKURAN PEMBENTUKAN


DAN PENGAYAKAN CRUMBLE

FORMULASI PEMBENTUKAN DAN PRODUK


PENGAYAKAN CRUMBLE

PENIMBANGAN PENGEMASAN

PENYIMPANAN
A

Dalam proses pengolahan bahan pakan ada beberapa tahapan yaitu :


1) Penerimaan Bahan pakan
Dalam tahap penerimaan bahan pakan yang perlu diperhatikan
adalah pengamatan fisik bahan dan konsistensi mutu bahan.
2) Sortasi
Sortasi bahan pakan bertujuan untuk memisahkan bahan mana yang
layak diolah atau yang tidak layak di olah.
3) Pembersihan/ Penyaringan (Screening)
Pembersihan bahan pakan terdiri dari pembersihan secara fisik dengan
cara pengayakan.
4) Pengecilan Ukuran (grinding) dan pengayakan (Sieving)
Pengecilan ukuran bertujuan untuk menghancurkan, menggiling atau
menghaluskan. Sedangkan pengayakan bertujuan untuk menghasilkan
hasil gilingan seragam.
5) Penimbangan (Weighing)
Penimbangan bahan baku dilakukan setelah perhitungan formulasi.
Untuk bahan pakan makro seperti tepung jagung, tepung bungkil
kedele, bekatul padi digunakan timbangan kasar (skala ratusan
kilogram). Sedangkan untuk bahan pakan mikro/additives, seperti :
methionin, minyak ikan, vitamin, mineral mix, premix, antioksidan, anti
jamur digunakan timbangan analitis atau elektronik.
6) Pencampuran/ pengadukan (Mixing)
Proses pencampuran atau pengadukan bertujuan agar bahan
tercampur secara merata(homogen) dan seluruh komponen bahan
pakan yang di formulasi dapat tersebar secara seimbang
7). Pemberian Uap Panas (steaming)
Pemberian uap panas bertujuan untuk menimbulkan aroma pada
pakan jadi dan juga bertujuan menstaerilkan bahan.
8) Pembentukan pelet (pelletizing)
Pelletizing bertujuan untuk membentuk suatu kesatuan pakan, atau
pemadatan sehingga tidak mudah tercecer.
9) Pembentukan Crumble (crumbling)
Pembentukan crumble bertujuan untuk memotong atau memecah pelet
hasil pengolahan pelletizer menjadi beberapa bagian.
10) Pendinginan atau Penganginan (Cooling )
Proses pendinginan atau penganginan (cooling ) bertujuan untuk
menghilangkan uap air yang terdapat pada permukaan luar pelet hasil
palletizing. Proses cooling ini hanya berlangsung selama 5- 15 menit.
11) Pengemasan ( Packaging )
Proses pengemasan bertujuan untuk memudahkan pengangkutan
hasil produk, dan untuk menjaga agar pakan tidak cepat mengalami
penurunan mutu.
12) Penjahit kemasan (sewing )
Penjahitan kemasan dilakukan agar produk pakan terlindung, juga
mencegah kontaminasi atau tercampurnya bahan dengan benda asing.

13) Penyimpanan (Storage )


Penyimpanan pakan sebaiknya ditempatkan pada tempat yang tidak
terlalu gelap, hal ini bertujuan untuk mencegah timbulnya proses
enzimatis pada pakan yang berakibat penurunan mutu produk.
5. Kebutuhan Peralatan
Observasi dan informasi kebutuhan peralatan perlu dikuasai dan diakses
secara maksimal, agar peralatan yang dibeli dan digunakan merupakan
alat yang telah terbukti kinerjanya. Disamping itu harus tersedia suku
cadang dengan mudah.
Peralatan yang akan digunakan dalam pabrik pakan skala kecil perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Sudah memenuhi standar mutu (SNI), dan sudah diuji dibawah
lembaga yang berwenang serta mengutamakan produk lokal.
2) Spesifikasi teknis peralatan sesuai dengan kebutuhan .

III. ALAT DAN MESIN PENGOLAH PAKAN

Untuk alat dan mesin pengolah pakan yang digunakan untuk keperluan
sendiri, minimal diperlukan : Hammermill, Mixer, Pengering dan Timbangan.
Jenis alat dan mesin yang dipergunakan untuk pembuatan pakan ternak pada
pabrik pakan skala kecil terdiri dari : Silo, Pengering, Saringan, Hammermill,
Diskmill, Pemipil Jagung, Ayakan, Mixer, Steam Boiler, Pencetak Pelet,
Pemecah Pelet, Pendingin, Timbangan, Mesin Jahit Kemasan dan alat
pendukung lainnya.

1. Silo
Silo merupakan unit (sarana) penyimpanan bahan pakan, terutama yang
berbentuk biji-bijian (cereal grains). Untuk pabrik pakan skala kecil, silo
tidak terlalu diperlukan, sebagai pengganti dapat digunakan bangunan
gudang penyimpan bahan pakan.
Penampungan bahan pakan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Terlindung dengan kemasan.
Tidak ditempatkan pada tempat terbuka.
Dilakukan pemisahan antara satu bahan dengan bahan lainnya.
Tidak ditempatkan pada tempat yang gelap.
Kondisi udara dan cahaya yang cukup.
2. Pengering (Bed dryer)

Berfungsi untuk mengeringkan bahan baku pakan dengan cara udara


panas dari burner/heater dihisap kipas dan disebar merata yang akan
mengeringkan bahan baku pakan yang ada di bak pengering kapasitas
muat sampai dengan 1 ton.

DRYER

3. Saringan kasar (Screen )

Dipergunakan untuk membersihkan bahan pakan dari benda asing (besi,


kerikil, pasir, kayu dan lain-lainnya). Penyaringan tahap awal ini
dimaksudkan untuk menyaring bahan agar mempunyai ukuran yang relatif
seragam sebelum dilakukan pengecilan ukuran.

4. Pemecah (Hammer mill)

Dipergunakan untuk memperkecil ukuran bahan pakan berupa biji-bijian


kering atau bahan pakan lainnya.
5. Penggiling/Penepung (Disk mill)

Alat ini berfungsi untuk mengecilkan ukuran bahan pakan menjadi bentuk
seperti tepung agar pakan jadi yang terbentuk dapat dicerna dengan baik
oleh ternak.

DISKMILL

6. Pemipil Jagung (Corn Sheller)

Dipergunakan untuk memipil jagung kering dari bonggolnya

CORN SHELLER

7. Ayakan( shifter )

Alat ini berfungsi untuk menyaring bahan yang digiling dari alat disk mill
sehingga ukuran bahan menjadi seragam dan akan memudahkan
pengolahan selanjutnya. Sebaiknya menggunakan ukuran mash yang
kecil sehingga bagian yang masih kasar akan digiling kembali.
8. Timbangan (Weighing)
Timbangan kasar (makro) dipergunakan untuk menimbang bahan
dengan skala kilogram.
Timbangan halus (mikro/ additive ) dengan skala miligram atau gram.

9. Pengaduk/Pencampur ( Mixer )

Untuk mencampur bahan pakan supaya homogen, terdiri dari 2 jenis


Mixer type horizontal kapasitas 300-500kg, dengan daya motor 12 hp.
Mixer type vertikal kapasitas mencapai lebih 2 ton/jam, dengan daya
motor 3 hp dan hp.

HORIZONTAL MIXER VERTICAL MIXER

10. Unit pembangkit uap ( steam boiler )

Tujuan pemberian steam adalah untuk memunculkan aroma dalam


ransum sehingga dapat meningkatkan palatabilitas pada ternak.
11. Pencetak Pelet (Pelletizer).

Pakan bentuk pelet dibuat dengan menggunakan mesin pelet (pelletizer) 2


(dua) tipe mesin pelet yang umum digunakan :
- mesin pelet proses basah ( tipe horizontal dengan penekan screw) dan
- mesin pelet proses kering (tipe vertikal dengan penekan geardrum )

tipe horizontal tipe vertical

12. Pemecah Pellet (Crumble)


Mesin pemecah pelet (crumble) terutama digunakan untuk pakan ayam
pedaging (periode grower dan finisher). Mesin ini berfungsi untuk
memecah pelet menjadi dua atau tiga bagian. Tenaga motor yang
digunakan 1 HP dengan kapasitas pengolahan 400-500 kg/jam (skala
kecil ).

CRUMBLE

13. Pendingin (cooler )


Fungsi alat ini untuk mendinginkan/mengeringkan pelet hasil dari proses
pemeletan, dengan meniupkan udara dari kipas yang digerakkan motor.

COOLER
14. Mesin Jahit Kemasan (sewing machine )
Dengan mesin pengemas dan mesin jahit, bahan pakan dalam kemasan
akan tertutup dan terlindung dengan baik.

15. Peralatan pendukung lain terdiri atas :


Gerobak / Troley
Untuk memudahkan dan mempercepat membawa bahan pakan.

Kaitan ( Gaco )
Penggunaan gaco terutama pada saat menaikkan atau menurunkan
karung bahan pakan atau mengangkut pelet yang sudah dikemas
dalam karung.

Wadah atau bak penampung dan skop


Diperlukan untuk menampung bahan pakan yang akan ditimbang dan
hasil pengolahan,terutama untuk pengolahan pakan kapasitas kecil.

Peralatan bengkel
Terdiri dari kunci, palu, obeng,tang, gergaji dll digunakan kalau ada
masalah pada peralatan.

IV. PENGELOLAAN BAHAN PAKAN

Sebelum melakukan formulasi pakan dan mengolah bahan pakan menjadi


pakan jadi, perlu dilakukan dulu survey ketersediaan bahan pakan,
penghitungan kebutuhan pakan di PP-SK serta harus dipahami informasi
yang berkaitan dengan tujuan penggunaan bahan pakan, syarat-syarat bahan
pakan, uji mutu bahan pakan, fungsi bahan pakan, bahan pakan yang umum
digunakan, dan bahan pakan substitusi.

1. Survey Ketersediaan Bahan Baku pakan

Penggunaan bahan pakan lokal merupakan tujuan pengembangan pabrik


pakan skala kecil di pedesaan. Hal ini dilakukan agar diperoleh beberapa
keuntungan sebagai berikut :

1) Dapat menyerap produk hasil pertanian lokal, terutama bahan pakan


utama, yaitu jagung, dedak padi, dan tepung ikan. Selain itu juga,
bahan pakan substitusi/alternatif seperti ampas tahu, ampas kecap,
ampas kelapa, limbah kulit udang, daun talas, bungkil inti sawit, dan
lainnya.

2) Mendorong perekonomian pedesaan, karena dengan digunakannya


bahan pakan lokal akan meningkatkan permintaan bahan pakan yang
dapat diproduksi secara kontinu karena ada kepastian pasar.

3) Mendorong pemanfaatan lahan pertanian menjadi lahan produktif


karena adanya permintaan hasil pertanian dan kepastian pasar.

2. Penghitungan Kebutuhan Pakan

Jumlah kebutuhan pakan bisa disesuaikan dengan jumlah ayam yang


dipelihara di dalam kandang. Sebagai patokan kebutuhan pakan optimal
bisa dihitung dengan cara sebagai berikut :
1) Jumlah ayam = 3.000 ekor/kandang
2) Lama 1(satu) siklus pemeliharaan sampai panen = 40 hari
3) Jumlah produksi ayam = 1kg/2 kg pakan
4) FCR = 2 (Feed Conversion Ratio)
5) Jumlah pakan dibutuhkan/kandang/siklus (40hari) = 3.000 x 2 kg = 6
ton.
3. Tujuan Penggunaan Bahan Pakan
Tujuan penggunaan bahan pakan dimaksudkan agar hasil penyusunan
formula pakan harus terkomposisi atau terbuat dari bahan yang
mempunyai kandungan nutrisi yang lengkap. Kandungan nutrisi itu meliputi
protein, lemak, serat kasar, mineral, energi yang diperlukan dan lainnya
sebelum produksi pakan dilakukan agar memperoleh hasil yang maksimal
seperti :

1) Laju pertumbuhan karkas


2) Laju produksi telur,
3) Ketahanan terhadap penyakit
4) Ketahanan terhadap kondisi lingkungan
5) Palatabilitas dan
6) Tingkat kecernaan yang baik.

4. Syarat-syarat Bahan Pakan


Sebelum mengolah pakan dalam jumlah yang cukup besar, perlu
diperhatikan informasi tentang keberadaan bahan pakan. Pakan yang
akan digunakan harus memenuhi persyaratan antara lain :
1) Mengandung nilai nutrisi tinggi
2) Mudah diperoleh,
3) Mudah diolah,
4) Tidak mengandung racun (antinutrisi),
5) Harga murah dan terjangkau,
6) Butirannya halus atau bisa dihaluskan.

5. Pengujian Mutu Bahan Pakan


Bahan pakan yang akan digunakan selayaknya diuji dulu. Pengujian
bahan pakan ataupun pakan dapat dilakukan secara fisik, kimia dan
biologis.

1) Pengujian secara fisik .


Cara ini digunakan untuk mendapatkan informasi bahan secara
keseluruhan, dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:

Makroskopis
Meliputi : warna masih tetap (tidak berubah) , pecah atau utuh (untuk
biji-bijian) , bebas bau tengik, bebas benda asing, bebas jamur, bebas
insekta, kadar air (basah/kering),

Mikroskopis
Menggunakan mikroskop , untuk mengetahui kemurnian bahan
pakan; memerlukan tenaga terlatih yang dapat mengidentifikasi dan
menghitung berapa bahan yang tercampur beserta kontaminasinya,
misalnya benda asing, jamur, dll.

2) Pengujian Secara Kimiawi

Cara ini lebih akurat namun memerlukan waktu dan biaya yang cukup
tinggi . Dari analisa kimia ini biasanya meliputi :

Analisa Proksimat , yaitu menggolongkan komponen yang ada


dalam bahan pakan , meliputi kadar : Air, abu (mineral Calsium dan
phosphor), protein kasar, lemak kasar dan, serat kasar

Analisa Serat, biasanya digunakan untuk mengetahui kandungan


sellulose, hemisellulose dan lignin utuk pakan ruminansia (hijauan)

Bomb Calorimeter, untuk menghitung Energy Total (gross energi)


pakan dan bahan atau produk sampingan (faeces dan urine) ,
jaringan.

Chromatography, untuk melihat kandungan mineral dengan dasar


melihat perbedaan warna , sangat sensitif, mudah dan cepat.

Calorimetry dan pectrometry , analisas kimia dimana cahaya


dilewatkan cairan sample dan akan menghasilkan informasi
konsentrasi atau komponen/zat makanan, obat-obatan dan vitamin.

Analisis Asam Amino dan Protein, terutama untuk pakan


konsentrat ternak non ruminansia yaitu asam amino. Peralatan dan
pengoperasian dengan peralatan yang canggih.

3) Biologi
Pengujian secara biologi dilakukan dengan Metode Mikrobiologi dan
menggunakan hewan ternak dengan persyaratan tertentu untuk
mengaplikasikannya.

Alamat Balai Pengujian Mutu Pakan:


Balai Pengujian Mutu Pakan Ternak (BPMPT) Bekasi:
Jln. MT. Haryono No.98, Kec Setu, Kab. Bekasi 17320
Telp. (021)- 82602182, Fax . (021)- 82602182

V. NUTRISI DAN FORMULA PAKAN

Dalam pengolahan pakan perlu diketahui nilai nutrisi dari bahan inkonvensional
yang umum digunakan dan substitusinya .
Berikut ini Nutrisi beberapa bahan pakan penting dari hasil uji di Balai
Pengujian Mutu Pakan Ternak (BPMPT) th 2007 :

K. Air K. Abu Protein Lemak Serat K. Ca K. P


Jenis Bahan (%) (%) Kasar Kasar Kasar (%)
(%) (%) (%) (%)
Jagung 11.73 1.21 7.83 3.68 3.28 0.06 0.59

1.64
Dedak Padi 10.56 7.37 11.86 15.24 8.63 0.10
0.80
Bk. Kedele 8.79 7.06 44.37 1.90 3.39 0.35
4.79
Tp. Ikan Lokal 10.73 29.76 40.83 11.32 13.77 8.69
3.97
Tp. Ikan Import 14.78 22.53 52.76 4.40 1.46 5.93
Tepung Tulang
0.60 97.79 0.00 0.56 2.51 31.12 0.08
Tp. Kerang
0.41 97.43 - - 0.20 - -
0.54
Bungkil Kelapa 5.87 5.77 19.44 15.97 11.38 0.04
0.09
Bkl. Kacang 13.87 17.48 5.65 6.28 18.64 0.50
0.45
BK. Inti Sawit 7.55 3.88 14.69 10.34 26.51 0.20
0.81
Pollard 12.09 4.07 14.75 4.17 7.55 0.26
MBM
5.17 21.58 52.79 13.21 3.55 - -
PMM
5.23 21.85 55.06 9.81 3.46 - -
Corn Gluten
Meal 6.76 2.86 12.66 5.49 1.23 0.33 0.37
Nutrisi beberapa bahan pakan Substitusi dari hasil uji di BPMPT tahun 2007 :

Protein Lemak Serat


K. Air K. Abu K. Ca K. P
Jenis Bahan Kasar Kasar Kasar
(%) (%) (%) (%)
(%) (%) (%)

Onggok 12.74 1.30 1.88 1.05 11.24 0.06 TTD

Limbah
11.99 6.83 9.01 9.53 3.03 0.38 0.22
Kacang

Kulit Kopi 11.34 8.00 13.01 1.71 31.56 0.69 0.12

Dedak
12-13 - 8.5 4.0 3.0 - -
Jagung

Kopra 5.36 6.86 20.16 10.64 2.29 0.30 0.56

Kulit Coklat 4.69 10.42 6.48 0.95 47.30 0.37 0.00

Ampas Kecap 7.77 8.31 34.82 0.66 6.85 0.49 0.12

Kulit Udang 14.37 44.34 25.46 1.57 17.85 11.88 1.17

Maggot
8.31 13.10 34.29 25.24 18.02 4.11 0.56
Kering
GE
Keong Mas 8.51 51.25 28.23 2.11 8.22 3609.2

Keong Sawah 3.10 70.51 20.55 0.92 3.33 27.22 0.25

Formula pakan sangat mempengaruhi mutu / kualitas produk pakan yang


dihasilkan, untuk itu penguasaan formula pakan sangat diperlukan .

Dalam menyusun formula pakan beberapa hal yang harus diperhatikan, antara
lain :
1. Jenis pakan yang akan dibuat dan nutrisi yang terkandung (sesuai SNI/PTM)
seperti terlampir.
2. Metode formulasi yang akan digunakan.
Ada beberapa metode pembuatan /penyusunan formulasi , yaitu :
(a). Metode Linier adalah metode paling sederhana dan praktis. Prinsip
yang digunakan dengan mengetahui dan menghitung kandungan
protein bahan pakan. Sehingga nutrisi bahan pakan merupakan modal
pokok.

(b). Metode Exel , yaitu menyusun dengan bantuan computer program


exel karena mempermudah perhitungan. Diperlukan ketrampilan
untuk melakukan proses ini.

3. Ketersediaan bahan pakan.


Untuk mengetahui ketersediaan bahan pakan, kelompok peternak atau
petugas dapat melakukan inventarisasi potensi bahan pakan yang berada
disekitar lokasi pabrik.

4. Harga dan kualitas bahan pakan.


Fluktuasi harga bahan pakan perlu dipantau secara intensif guna
menghitung biaya produksi pakan yang murah dan berkualitas. Selanjutnya
untuk mengetahui kualitas bahan pakan yang baik perlu diperhatikan
beberapa hal : (a). Warna tidak berubah; (b) tidak berbau tengik ; (c) tidak
terlalu basah/lembab; (d). Tidak berjamur dan (e). tidak tercampur bahan
lain.

Berikut ini disajikan beberapa contoh formula pakan praktis untuk beberapa
jenis ternak

1. Pakan untuk Petelur

1.1 Pakan untuk periode awal (starter) sebaiknya menggunakan pakan


jadi produksi pabrik

1.2 Pakan untuk periode pertumbuhan (Grower) sbb :

Formula A Formula B
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung 50.0 % Jagung 50 .0 %
Dedak 27.5 % Dedak 22.0 %
Bkl. Kedele 3.0 % Bkl. Kedele 4.0 %
Bkl. Kac. Tanah 3.0 % Bkl. Kac. Tanah 3.0 %
Tepung Gaplek 8.0 % Tepung Onggok 10.0 %
Tepung Ikan 3.0 % Bkl. Kelapa 2.5 %
Tepung Udang 5.0 % Tepung Ikan 2.0 %
Premix 0.5 % Tepung Udang 6.0%
Premix 0.5%
Formula C Formula D
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung 50.0 % Jagung 55.0 %
Dedak/bekatul 22.0 % Dedak halus 0.7 %
Kacang Kedel 7.0 % Ampas kelapa 1.3 %
Tepung Onggok 5.0 % Tepung ikan 1.0 %
Bungkil Kelapa 2.5 % Bungkil kelapa 0.5 %
Tepung gaplek 5.0 % Tepung daun lamtoro 1.0 %
Tepung Ikan 2.0 % - -
Tepung Udang 6.0 % - -
Premix 0.5 % - -

Formula E Formula F
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung kuning 45.0 % Jagung kuning 35.0 %
Dedak 29.0 % Dedak 31.0 %
Bkl. Kedele 5.0 % Bungkil kedele 5.0 %
Kulit buah kopi 10.0 % Kulit buah kopi 15.0 %
Tepung ikan 5.0 % Tepung ikan 6.0 %
Minyak kelapa 2.0 % Minyak kelapa 3.0 %
Kapur 2.0 % Kapur 3.0 %
Premix 2.0 % Premix 2.0 %

Formula G Formula H
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung kuning 25.0 % Jagung kuning 50.0 %
Bungkil kedele 12.0 % Dedak 20.0 %
Daun talas 3.8 % Bungkil kedele 12.0 %
Daun talas 8.0 % Lumpur sawit 8.0 %
Tepung ikan 10 % Keong Mas 2.0 %
Minyak Kelapa 3% Tepung ikan 1.5 %
Kapur 2% Minyak kelapa 2.5 %
Premix 2% Kapur 2.0 %
Premix 2.0 %
1.3 Pakan untuk periode bertelur (layer) sbb :

Formula A Formula B
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung 50% Jagung 5,5%
Dedak/bekatul 20% Kedele 0,7%
Bkl. Kacang Tanah 6% Tp. Tapioka 1,3%
Bkl. Kelapa 3% Tp. Kc. Tanah 1,0%
Kacang Hijau 3% Tp. Daun singkong 0,5%
Tepung Tulang 2% Tp. Bekicot 1,0%
Kapur 2% Tp. Cacing Tanah 5%
Mineral 6%
Kulit kerang 6%

Formula C Formula D
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung kuning 25% Jagung 42,5%
Beras 25% Beras 20%
Kacang hijau 25% Dedak 10%
Bagah 25% Tepung ikan 10%
Tambahan hijauan segar

Formula E Formula F
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung kuning 35% Jagung kuning 25%
Dedak 31% Bungkil kedele 1%
Bungkil Kedele 5% Daun talas 31%
Kulit buah kopi 15% Ampas kelapa 11%
Tepung ikan 6% Tepung ikan 10%
Minyak kelapa 3% Minyak kelapa 3%
Kapur 3% Kapur 2%
Premix 2% Premix 2%

Formula G
Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung kuning 50%
Dedak 20%
Bungkil kelapa 8%
Lumpur sawit 8%
Keong mas 2%
Tepung ikan 5%
Minyak kelapa 3%
Kapur 2%
Premix 2%
2. Pakan Ayam Pedaging

2.1 Pakan periode awal (starter) sebaiknya menggunakan pakan jadi


produksi pabrik.

2.2 Pakan periode pertumbuhan (grower) sbb :

Formula A Formula B
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung 42.5% Jagung 27,5%
Beras 20% Beras 50%
Dedak 10% Dedak 12%
Tepung ikan 10% Tepung ikan 10%
Bungkil kedele 15% Garam 0.5%
Kulit kerang 2%
Garam 0.5%
Formula C Formula D
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung 50% Jagung 50%
Sorgum 10% Sorgum 10%
Bekatul 7% Bekatul 20%
Tepung gaplek 5% Tepung gaplek 2%
Tepung Rese 8% Tepung daun pepaya 3%
Tepung ikan 3% Tepung bekicot 7%
Tepung bulu 6.5% Tepung bulu 7%
Kacang hijau 9% Minyak kelapa 1%
Tp. Daun Singkong 1.5%

Formula E
Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung 5.5%
Dedak halus 0.7%
Tepung ikan 1.0%
Tepung daun lamtoro 1.0%
Bungkil kelapa 0.8%
Minyak kelapa 0.3%
Tp. Kerang/ kapur 0.05%
3. Pakan Itik

Pakan itik, dibagi menjadi 3 phase pemeliharaan :


3.1 Pakan Starter (umur 1 hari 2 minggu)
3.2 Pakan Grower (umur 2 minggu 4 bulan)
3.3 Pakan Layer (umur 4 bulan 2 tahun)

3.1. Pakan periode awal (Starter).


Pakan untuk anak itik (Meri) sebaiknya menggunakan pakan starter
jadi produksi pabrik.

3.2. Pakan periode pertumbuhan (Grower).

Formula A Formula B
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Dedak 35% Dedak 45%
Nasi kering 34.5% Cangkang udang 25%
Kepala udang 10% Ikan segar 20%
Ikan rucah 20% Konsentrat 9.5%
Premix 0.5% Premix 0%

Formula C
Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung giling 25%
Bekatul 35%
Kedele 10%
Ikan 9%
Daun singkaong 5%
Bekicot cincang 15%
Garam 1%

3.3 Periode itik bertelur (layer)

Formula A Formula B
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Dedak 55% Dedak 30,5%
Menir 13% Ikan rucah 21%
Cangkang udang 20% Cangkang udang 12%
Ikan segar 9% Nasi kering 33%
Kapur 2% Tepung Kapur 3%
Premix 0.5% Premix 0.5%
Formula C Formula D
Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase
Dedak 25.5% Jagung 10%
Ikan rucah 12% Bekatul 15%
Konsentrat 3% Bungkil kelapa 5%
Ampas tempe 58% Beras merah 30%
Premix 0.5% Kedele giling 12%
Tepung kapur 1% Tp. Tulang 4.5%
Tp. ikan 3%
Garam 0.5%

Formula E
Jenis Bahan Pakan Persentase
Jagung 25%
Dedak kasar 25%
Kc. Kedele giling 15%
Bekicot cincang 15%
Tepung ikan 10%
Tepung daun singkong 5%
Garam 5%

VI. PELATIHAN

Pelatihan /magang yang diperlukan dalam pengembangan pakan khususnya


dalam pembangunan pabrik pakan skala kecil dan pengolahan pakan adalah :

1. Pelatihan Operasionalisasi Alsin


1.1 Aspek operasional alat
1.2 Aspek komponen alat
1.3 Aspek perawatan
1.4 Aspek pengolahan pakan
2. Pelatihan Formulasi Pakan
3. Pelatihan Pengujian Pakan

VIII. ANALISIS EKONOMI

Pengelolaan pabrik pakan skala kecil harus memperhatikan nilai efisiensi dan
ekonomis dalam pemanfaatannya. Secara ekonomis dalam pemanfaatannya
akan menguntungkan kalau biaya operasionalnya tidak melebihi dari
penerimaan bersih atau hasil yang sesungguhnya.
Alat dan Mesin atau Alsin yang digunakan harus sudah teruji kinerja dan
kemampuannya sesuai spesifikasi teknisnya dalam pengolahan pakan atau
sudah mempunyai standar tertentu. Alsin tersebut harus telah dapat
dioperasionalkan sehingga dapat memberikan hasil yang baik selama masa
pakai atau umur ekonomisnya.

Setiap peralatan yang digunakan harus mempunyai analisa pemanfaatan


yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga dapat memberikan keuntungan
yang wajar bagi pengelolanya. Demikian pula bahan pakan yang digunakan
harus dari bahan yang bermutu baik dan mempunyai nilai gizi yang sesuai
dengan kebutuhan untuk tiap jenis ternak dalam tingkat pertumbuhan tertentu.
Biaya pokok per kg pakan yang dihasilkan masih dapat memberikan
keuntungan setelah dipasarkan atau untuk digunakan sendiri oleh kelompok.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian pabrik pakan


yaitu :

1. Umur ekonomis.

Secara ekonomis pemanfaatan pabrik pakan akan menguntungkan kalau


diusahakan dilokasi dimana banyak terdapat sarana pendukung seperti
bengkel, kios suku cadang, tersedia bahan pakan yang cukup yang murah
dari bahan pakan yang tersedia disekitar lokasi tempat pengolahan pakan
tersebut. Pemanfaatan pabrik pakan ini harus sudah mempunyai analisa
yang menyeluruh sehingga pabrik pakan yang didilrikan tersebut akan
dapat berjalan dan memberikan keuntungan secara terus menerus pada
kelompok dan peternak sekitarnya.

Umur ekonomis suatu Alsin adalah sejak dari pembelian dalam keadaan
baru 100% hingga umur pada saat Alsin tersebut tidak ekonomis lagi dan
sebaiknya diganti dengan yang baru daripada jika terus digunakan.
Dengan kata lain biaya perawatannya sudah semakin besar. Nilai akhir
suatu Alsin adalah harga nya pada akhir umur ekonomisnya. Penghitungan
nilai akhir suatu peralatan diasumsikan 10% dari harga pembelian setelah
melalui penghitungan penyusutan setiap tahun atau diperkirakan 5 tahun.

2. Umur Teknis
Selanjutnya harus diperhatikan umur secara teknis yaitu kemampuan Alsin
memberikan hasil kinerja yang baik dalam pengoperasiannya, komponen
peralatan, masa pakai efektif, tingkat kerusakan. Umur teknis adalah batas
dimana alsin tersebut masih bisa beroperasi secara normal sampai sama
sekali tidak bisa digunakan. Umur ekonomis dan Teknis harus dapat
berjalan seiring dan saling bersinergi untuk memberikan hasil yang baik.
3. Perhitungan Biaya
3.1 Biaya Tetap
Komponen biaya tetap bersifat berdiri sendiri (independen) terhadap
penggunaan alsin. Dengan kata lain biaya tetap tidak berubah
dengan adanya perubahan jam kerja, pengoperasian dll. Biaya
tersebut adalah sebagai berikut;
1). Biaya penyusutan
Penurunan dari nilai biaya modal suatu alat akibat dari
pertambahan umur alsin dalam penggunaan. Rumus yang
digunakan adalah :
AD = (IC - SR)/N
Dimana :
AD = biaya penyusutan tiap tahun, Rp/th
IC = harga beli mesin (Investment Cost)
SR = Nilai Akhir, Rp (asumsi 10% dari harga beli)
N = Perkiraan umur ekonomis, th

2) Biaya Bunga Modal


Biaya bunga modal adalah biaya kesempatan (opportunity cost)
dari bunga yang diinvestasikan dalam suatu usaha yang
menyebabkan uang tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk
tujuan lain. Dengan kata lain biaya bunga modal diperhitungkan
untuk mengembalikan nilai modal yang ditanam, sehingga pada
akhir umur peralatan diperoleh suatu nilai present value (nilai
sekarang) sama dengan nilai modal yang ditanam.

Perhitungan bunga modal yang digunakan adalah bunga


terhadap modal rata-rata yaitu :

IC + SR
AI = X IR
2
Dimana :
AI = Bunga Modal, Rp
IC = Harga Awal, Rp
SR = Nilai Akhir, Rp (10% x harga beli)
IR = Tingkat suku bunga saat ini

3) Asuransi dan Pajak


Hal ini di Indonesia belum popular, sehingga belum dimasukkan
dalam perhitungan biaya.

3.2. Biaya Tidak Tetap


Komponen biaya tidak tetap adalah adalah :
1). Biaya perawatan dan perbaikan
Besarnya biaya perawatan dan perbaikan diasumsikan sebesar 2
% dari harga awal.

2) Biaya Operator
Biaya operator tergantung pada keadaan setempat, dimana
mereka menerapkan upah operator yang berbeda. Biaya operator
per jam dapat dicari dari :
Gaji Upah Operator (Rp)/hari
Biaya Operator/jam =
Kapasitas Kerja Alsin (jam/hari)

3) Biaya bahan bakar


Adalah pengeluaran solar atau bensin pada kondisi kerja per jam.
a. Untuk mesin diesel (bahan bakar solar)
FNCM = 0,18 x HP
b. Untuk mesin bensin (bahan bakar premium)
FCNM = 0,38 x HP
Dimana :
FCNM = Kebutuhan bahan bakar,Liter/jam
HP = Besar tenaga engine (penggerak)
Biaya bahan bakar = FNCM x harga bahan bakar/lt

4) Biaya olie mesin


Besarnya kebutuhan olie dapat dicari dengan rumus :

OILCN = 0,001 x HP
dimana :
OILOCN = Kebutuhan oli, Lt/jam
HP = Besar tenaga engine (penggerak)

4. Kriteria Investasi
Ada dua kelompok Kriteria Investasi yaitu perhitungan dengan
Undiscounted dan Discounted
4.1. Undiscounted
Adalah perhitungan yang tidak memperhatikan waktu dari arus
biaya dan pemasukan. Perhitungan ini juga tidak memasukkan
perubahan nilai terhadap waktu. Terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu :
1) Break Even Point (BEP), Titik Impas
Titik Impas adalah dimana pemasukan dan pengeluaran pada
titik tersebut adalah sama

BEP = FC/{ 1 (VC/R)


dimana :
BEP = pemasukan, Rp/ton
FC = biaya tetap, Rp/Th
VC = biaya tidak tetap, Rp/th
R = Penerimaan kotor,th

Pemanfaatan Alsin disesuaikan dengan jenis alsin serta


produk yang dihasilkan misalnya mesin tetas (doc/periode),
pakan (ton/th).

2) Pay Back Periode (PBP), Periode Pengembalian.


Adalah waktu sejak awal pembelian/investasi sampai waktu
dimana keuntungan bersih sama dengan biaya untuk investasi
awal atau waktu yang diperlukan untuk mengembalikan
investasi yang telah ditanam.

Rumus yang digunakan adalah:

PBP = IC / AABF
AABF = B (X ) { (FC AD) + VC (X)}

dimana :
PBP = periode pengembalian,th
IC = harga pembelian, Rp
B = pemasukkan, Rp/th
FC = biaya tetap/th
AD = biaya penyusutan/th
VC = biaya tidak tetap/th
X = tingkat penggunaan,ton/th

4.2. Discounted

Perhitungan discounted adalah kriteria perhitungan yang


mempertimbangkan adanya perubahan nilai uang terhadap waktu.
Ada 3 (tiga) perhitungan discounted :
1) Net Present Value (NPV)
Adalah selisih antara nilai present value ( nilai saat ini) dari
pemasukan dengan present value dari pengeluaran selama
umur ekonomisnya. NPV harus lebih besar atau sama dengan
nol agar tidak rugi.
2) Internal Rate of Return (IRR)
IRR adalah nilai bunga NPV bernilai nol (total pemasukkan =
pengeluaran).
Nilai IRR ini adalah nilai maksimum dari bunga Bank dimana
investor tidak menderita kerugian. Nilai IRR didapat dengan cara
interpolasi dari 2(dua) nilai bunga bank :

NPV (1)
IRR = IR(2) IR(1) x
NPV(2) -NPV(1)
dimana :
IR (1) = tingkat bunga terendah (bunga bank saat ini)
IR (2) = tingkat bunga bank tertinggi
NPV (1) = net present value dengan tingkat bunga terendah
NPV (2) = net present value dengan tingkat bunga tertinggi

3) Benefit Cost Ratio (BCR)


BCR adalah perbandingan antara nilai present value dari
pemasukan dengan present value dari pengeluaran

dimana :

Present value (NPV) pemasukan


BCR =
Present value (NPV) pengeluaran

IX. PENUTUP

Pabrik pakan skala kecil ini akan dapat dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok
peternak sesuai dengan pakan yang diperlukan.Bahan pakan dapat disediakan
secara lokal baik dari bahan pakan konvensional yang sudah dikenal selama ini
maupun bahan pakan inkonvensional yang berasal dari sisa agroindustri seperti
bungkil inti sawit, lumpur sawit, tepung singkong, onggok-onggok, keong mas,
kulit buah kopi dll.

Untuk mempercepat pembangunan pabrik pakan skala kecil tersebut sangat


dibutuhkan dukungan dari Pemerintah Daerah, Swasta dan Masyarakat berupa
bimbingan teknis, pendanaan dan sosialisasi sehingga pengembangan pabrik
pakan berdampak baik terhadap ketersediaan dan pemenuhan kebutuhan
pakan ternak serta sekaligus dapat meningkatkan pendapatan para peternak.

DIREKTORAT BUDIDAYA TERNAK NON RUMINANSIA.


X. DAFTAR PUSTAKA

1. Rizal Alamsyah, Ir, MSc. : Pengolahan Pakan Ayam dan Ikan


Secara Modern, Jakarta: Penebar
Swadaya, 2005.

2. Soejono, Mohamad, MSC, MS : Analisis dan Evaluasi Pakan - UGM.


1991 Staf Bagian Kimia Makanan dan
Pengolahan Bahan Makanan Ternak,
Kimia Makanan Ternak Fakultas
Peternakan IPB.

3. Tanenjaya R. : Pakan, Makalah disampaikan pada


pendidikan dan pelatihan Production
Enginering bagi Supervisor Industri
Pakan ternak, 1997.

4. Wahyu S. : Ilmu Nutrisi Unggas, Universitas


Gajah Mada, 1985.
XI. DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran -1. HASIL PENGUJIAN BAHAN PAKAN JAGUNG

KADAR KADAR PROTEIN LEMAK SERAT


NO PROPINSI Ca P
AIR ABU KASAR KASAR KASAR
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Jawa Tengah 1
(Jagung Banyumas)
1 15.90 1.23 9.04 1.78 2.05 0.15 0.24
Jawa Tengah 2
(Jagung Putih)
2 15.73 1.32 8.29 3.10 2.58 0.04 0.27
Jawa Tengah 3
(Jagung PBG)
3 13.26 1.27 8.55 3.73 1.52 0.02 0.25
Jawa Tengah 4
(Jagung Madura)
4 14.20 1.35 10.45 4.41 2.87 0.20 0.28
Jawa Tengah 5
(Jagung Giling)
5 13.86 1.15 7.98 5.49 1.90 0.12 0.15
Jawa Tengah 6
(Jagung Giling)
6 16.58 1.03 8.08 2.16 1.75 0.08 0.14
Jawa Tengah 7
(Jagung Putih)
7 13.69 1.21 9.34 3.55 2.51 0.06 0.14
Jambi 1
8 15.92 1.37 7.98 2.31 3.52 0.17 0.22
Jambi 2
(Jagung Halus)
9 14.7 1.02 8.5 2.5 2.64 0.2 0.15
Jambi 3
(Jagung Giling)
10 17.08 1.01 8.06 1.41 1.55 0.09 0.15
Jambi 4
11 (Jagung Giling) 15.97 0.95 6.19 3.59 3.15 0.15 0.55

12 Jambi 5 13.6 1.5 7.44 2.39 4.67 0.02 0.25

13 Jambi 6 13.61 1.13 7.8 1.43 3.07 0.02 0.18

14 Batam 12.89 0.8 6.67 1.58 1.72 0.13 0.12

15 Sulawesi Selatan 12.84 1.45 8.38 4.33 3.63 0.21 0.25

*) BALAI PENGUJIAN MUTU PAKAN TERNAK TAHUN 2006


Lampiran -2 HASIL PENGUJIAN BAHAN PAKAN DEDAK

KADAR KADAR PROTEIN LEMAK SERAT


NO PROPINSI Ca P
AIR ABU KASAR KASAR KASAR
1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 Jawa Tengah 1 11.27 7.65 10.36 7.13 12.99 0.17 0.78

2 Jawa Tengah 2 9.48 8.46 10.96 6.30 15.60 0.14 0.59

3 Jambi 1 9.4 10.18 12.96 15.2 8.92 0.15 2.08

4 Jambi 2 10.09 11.84 8.6 7.41 23.11 0.02 0.14

5 Jambi 3
9.56 17.22 7.05 6.92 23.92 0.03 0.56
6 Jambi 4
10.89 9.91 10.57 7.7 14.64 0.04 1.26
7 Batam 1
9.08 17.38 5.24 3.6 30.93 0.07 0.3
8 Batam 2 12.85 7.5 11.26 9.5 8.54 0.11 0.96

*) BALAI PENGUJIAN MUTU PAKAN TERNAK TAHUN 2006


Lampiran 3 : Analisis Ekonomi Pengelolaan Pabrik Pakan
Skala kecil ( kapasitas 2 ton / hari )

(000 Rp )
No Uraian Satuan Harga Jumlah

I Modal Tetap

- Tanah 150 m 200 30.000


- Bangunan 100 m 500 50.000
- Alat/mesin 1 unit 75.000 75.000

Sub total I 155.000

II Biaya Tetap /th


- Perawatan( 4% dari 600
Biaya bangunan)
- Penyusutan( 10% 6.750
dari biaya peralatan)
- Pengawasan mutu 5.000
- Promosi/ pemasaran 5.000
- Biaya modal ( 20 % ) 9.000
- Asuransi ( 5% dr
biaya Bangunan ) 2.500
- Biaya lain-lain 5.000
Sub total II 33.850

Biaya Tidak Tetap/th


- Biaya Pakan (Broiler) 1.169.689
- Upah tenaga kerja 48.000
III - Kemasan 30.000
- Listrik dan telepon 30.000
- Air 15.000
- Angkutan 30.000
- Bahan bakar 6.750
- Pelumas 300
- Lain-lain 2.000
Sub Total III 1.331.739

Biaya Produksi/tahun 1.365.589


Lampiran -4 : Keuntungan Pabrik Pakan Skala kecil Ayam Broiler
Skala Kecil ( 2 ton/ hari )

( 000)
No Uraian Rumus Jumlah
( Rp)

1. Harga pakan (Protein 21,5%) - 2,850

2. Penjualan/tahun 2.000 kg x 300 hr x Rp 2,850,- 1.710.000

3. Biaya total produksi pakan Biaya tetap dan biaya tidak 1.365.589
tetap

4. Penghasilan kotor/th Rp1.710.000 Rp1.365.589 344.411

5. Pajak (20% ) 20 % x Rp 344.411 68.882.2

6. Keuntungan bersih sebelum Rp344.411 Rp68.882,2 275.528,8


cicilan

7. Keuntungan bersih setelah Keuntungan seb cicilan 89.528,8


cicilan ( investasi/modal tetap +
bunga Bank)10%
Rp275.528,8 ( Rp 155.000 +
Rp 31.000) = Rp 275.528,8
Rp 186.000