Anda di halaman 1dari 28

BIOLOGI KELAPA SAWIT

1. TANDAN BUAH SAWIT


Tanaman kelapa sawit (Elaeis quinensis Jacq) merupakan tumbuhan tropis golongan plama yang
termasuk tanaman tahunan.
Berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah,pada umumnya kelapa sawit dibedakan
menjadi 3, yaitu:Dura, Pisifera dan Tenera.

Dura, ciri-cirinya : Daging tipis, cangkang tebal, dan tidak terdapat lingkaran serabut pada
bagian luar cangkang.

Pisifera, ciri-cirinya : daging buah tebal dan cangkang sangat tipis bahkan tidak ada.

Tenera, ciri-cirinya : daging buah cukup, bercangkang tipis, terdapat serabut di sekeliling
cangkang dan tandan buah lebih banyak tetapi ukurannya relatif lebih kecil.

Hampir sebagian besar tanaman kelapa sawit unggul untuk kepentingan komersial adalah
berjenis TENERA. Dimana jenis tersebut dihasilkan dengan menyilangkan DURA dan
PSIFERA. Sedangkan jenis sawit yang tidak unggul umumnya berjenis DURA atau PSIFERA.

Mengapa TENERA yang digunakan untuk kepentingan komersil? Karena jenis ini memiliki
produksi dan rendeman tinggi, serta pengolahannya tidak merusak mesin. Sebaliknya untuk jenis
DURA atau PSIFERA, produktivitas rendah, rendemen 16%, PKO tidak dapat dimanfaatkan
karena cangkang tidak dapat dipecahkan dan dapat merusak mesin pabrik.

TENERA yang unggul tersebut hanya dihasilkan oleh sumber benih yang telah memiliki koleksi
induk DURA dan PSIFERA terpilih. Sedangkan sawit asalan yang berjenis DURA atau
PSIFERA umumnya dikumpulkan langsung dari kebun-kebun produksi.
Buah sawit berukuran kecil antara 12-18 gr/butir yang duduk tergantung pada kesempurnaan
penyerbukan. Beberapa bulir bersatu membentuk tandan. Buah sawit yang dipanen dalam bentuk
tandan disebut dengan tandan buah sawit.

Tanaman kelapa sawit sudah mulai menghasilkan pada umur 24-30 bulan, buah yang pertama
keluar masih buah pasir, artinya blm dapat diolah dalam pabrik, karena masih mengandung
minyak yang rendah.

Dalam satu pohon terdapat bunga betina dan bunga jantan yg berbeda, sehingga penyerbukannya
adalah penyerbukan silang. Jumlah bunga betina dan bunga jantan yang terbentuk dipengaruhi
oleh sifat tanaman dan pengaruh lingkungan seperti pemeliharaan, pemupukan dan perlakuan
lainnya.

Umur buah tergantung jenis tanaman, umur tanaman dan iklim, umumnya buah telah dapat
dipanen setelah 6 bulan terhitung setelah penyerbukan.

2. PEMBENTUKAN MINYAK DALAM BUAH

Hasil utama yang dapat diperoleh dari tanda buah sawit ialahminyak sawit yang terdapat dalam
daging buah (mesokarp) dan minyak inti sawit yang terdapat pada kernel.
Kedua jenis minyak ini berbeda dalam hal komposisi asam lemak dan sifat fisika-kimia.

Minyak sawit dan inti sawit mulai terbentuk sesudah 100 hari setelah penyerbukan. dan berhenti
setelah 180 hari atau setelah dalam buah minyak sudah jenuh. Jika dalam buah sduah tidak
terjadi lagi pembentukan minyak, maka yang terjadi ialah pemecahan trigliserida menjadi asam
lemak bebas dan gliserol. Pembentukan minyak berakhir jika dari tandan yang bersangkutan
telah terdapat buah membrondol normal.

CH2RCOO CH2OH

CHRCOO + 3H2O <---> CHOH + RCOOH

CH2RCOO CH2OH

TAG + H2O <---> DAG + ALB


DAG + H2O <---> MAG + ALB
MAG + H2O <----> Gliserol + ALB

Minyak yang mula-mula terbentuk dalam buah adalah trigliserida yang mengandung asam
lemak bebas jenuh dan setelah mendekati masa pematangan buah terjadi pembentukan
trigliserida yang mengandung asam lemak yang tidak jenuh.

Minyak yang terbentuk dalam daging buah maupun dalam inti terbentuk emulsi pada kantong-
kantong minyak dan agar minyak tidak keluar dari buah, maka buah dilapisi dengan malam yang
tebal dan berkilat.
Untuk melindungi minyak dari oksidasi yang dirangsang oleh sinar matahari maka tanaman
tersebut membetuk senyawa kimia perlindung yaitu karotin. Setelah penyerbukan kelihatan buah
berwarna hitam kehijau-hijauan dan setelah terjadi pembentukan minyak terjadi perubahan
warna buah menjadi ungu kehijau-hijauan. Pada saat pembentukan minyak terjadi yaitu
trigliserida dengan asam lemak tidak jenuh, tanaman membentuk karotin dan phitol untuk
melindungi dari oksidasi, sedangkan klorofil tidak mampu melakukannya sebagai antioksidasi.

3. KLASIFIKASI MUTU TBS (TANDAN BUAH SEGAR)

Dasar penentuan klasifikasi mutu buah yang dipakai menurut kriteria panen bagi tanaman
sebagai berikut :

Buah Mentah adalah buah yang kurang dari 2 brondol lepas per Kg berat tandannya.

Buah Masak normal adalah buah yang lebih dari 2 brondolan lepas per Kg berat
tandannya sampai kurang dari 90 % buah yang memberondol terhadap tandannya.

Buah busuk/janjang kosong adalah lebih 90% brondolan yang lepas dari tandannya.

Gagang panjang adalah panjang gagang lebih dari 3 cm dari dasar janjang.

Tandan digigit tikus adalah kerusakan tandan yang disebabkan oleh gigitan tikus.
Kategori tandan digigit tikus yaitu apabila brondolan pada tandan telah rusak akibat
gigitan tikus sebanyak 5 brondol atau lebih. Pada bekas gigitan tersebut akan terlihat
kernel yang ada didlam brondolan.

Brondolan lepas adalah brondolan yang masuk ke pabrik dan dihitung persentasenya
terhadap jumlah berat tandan setiap analisa.

Sampah/kotoran adalah kotoran yang ikut masuk bersama buah ke pabrik, antara lain :
daun sawit, pasir, batu, gagang buah (bonggol), kelopak buah (calyx) dll.

Buah abnormal (buah batu dan buah sakit) adalah buah yang kelihatan masak tetapi tidak
ada brondolan yang lepas dari tandannya dan pada ujung brondolan timbul retak-retak.
Sedangkan pada buah sakit ditandai dengan adanya jamur pada permukaan brondolan.
MORFOLOGI DAN BIOLOGI KELAPA SAWIT

Nama latin dari kelapa


sawit adalah Elaeis guineensis Jacq. Elaeis berasal dari kata Elaion yang berarti minyak dalam
bahasa Yunani dan Guineensis berasal dari kata Guinea yaitu pantai Barat Afrika. Jacq berasal
dari nama ahli botani (botanist) Amerika bernama Jacquin.
Berdasarkan Taksonomi, kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :

Divisi : Tracheophyita
Sub Divisi : Pteropsida
Kelas : Angiospermeae
Sub Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Cocoideae
Famili : Palmae
Sub Famili : Cocoideae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq.

Varietas dari kelapa sawit cukup banyak dan diklasifikasikan dalam berbagai hal, yaitu
berdasarkan tipe buah, bentuk luar, tebal cangkang, warna buah dan lain-lain.
1. Varietas Berdasarkan Warna Kulit Buah

Berdasarkan warna kulit buah, spesies Elaeis guineensis Jacq dibedakan menjadi 3 Varietas,
sebagai berikut :
Nigrescens Buahnya berwarna violet sampai hitam waktu masih muda dan menjadi merah
kuning (orange) sesudah matang.
Virescens Buahnya berwarna hijau waktu masih muda dan menjadi merah kuning (orange)
sesudah matang.
Albescens Buah muda berwarna kuning pucat (keputih-putihan), tembus cahaya karena
mengandung sedikit karotein dan tetap menjadi kekuning-kuningan sesudah matang dan
ujungnya berwarna ungu kehitaman.

2. Varietas Berdasarkan Ketebalan Cangkang dan Daging Buah

Berdasarkan tebal tipisnya cangkang (tempurung) dan daging buah (mesocarp), spesies Elaeis
guineensis jacq dapat dibedakan menjadi 3 Varietas, yaitu :
Dura Buah dengan cangkang cukup tebal antara 2,0 5,0 mm dan tidak terdapat lingkaran pada
bagian luar cangkang. Daging buah relatif tipis dengan perbandingan daging buah terhadap buah
antara 20% - 65%. Sedangkan kernel berukuran besar tetapi kandungan minyaknya rendah.
Pisifera Buah dengan cangkang tipis (bahkan hampir tidak ada) sedangkan daging buahnya
tebal. Perbandingan daging buah terhadap buah cukup tinggi. Kernel berukuran kecil dengan
kandungan minyak yang rendah. Jenis Pisifera tidak dapat diperbanyak tanpa menyilangkan
dengan jenis yang lain. Varietas ini dikenal sebagai tanaman betina yang steril sebab bunga
betina gugur pada fase dini.
Tenera Buah yang memiliki sifat-sifat yang berasal dari Dura dan Pisifera. Cangkang tipis
dengan ketebalan antara 1,0 2,5 mm dan terdapat lingkaran sabut disekelilingnya.
Perbandingan daging buah terhadap buah cukup tinggi antara 60% - 90%. Tandan buah yang
dihasilkan Varietas Tenera lebih banyak daripada Varietas Dura dan Pisifera tetapi ukuran
tandanya relatif lebih kecil.

3. Bagian Dari Tanaman

3.1. Daun

Daun terdiri dari :


a. Kumpulan anak daun (leaf lets) yang mempunyai helaian (lamina) dan tulang anak daun
(midrib)
b. Rachis yang merupakan tempat anak daun melekat,
c. Tangkai daun (petiole) yang merupakan bagian antara daun dan batang,
d. Seludang daun (sheath) yang berfungsi sebagai perlindungan dari kuncup dan memberi
kekuatan pada batang.
Daun dihasilkan dalam urutan yang teratur. Daun termuda yang sudah mengembang sempurna
secara konvensional dinamakan daun nomor satu, sedangkan daun yang masih terbungkus
seludang (pupus daun atau spear leaf) dinamakan daun nomor negatif (-1, -2, dan seterusnya).
Daun yang bernomor sama pasti berada pada fase fisiologis yang sama dalam proses inisiasi
sampai senescence.

3.2. Batang

Batang diselimuti oleh pangkal pelepah daun tua sampai kira-kira umur 11-15 tahun. Setelah itu
bekas pelepah daun mulai rontok, biasanya mulai dari bagian tengah batang kemudian meluas ke
atas dan ke bawah. Batang kelapa sawit tua biasanya sudah tidak ada lagi bekas tangkai pelepah
daun tua kecuali sedikit di bawah tajuknya.
Batang mempunyai 3 fungsi utama, yaitu:
a. Sebagai struktur yang mendukung daun, bunga dan buah,
b. Sebagai sistem pembuluh yang mengangkut air dan hara mineral dari akar ke atas serta hasil
fotosintesis (fotosintat) dari daun ke bawah.
c. Kemungkinan juga berfungsi sebagai organ penimbun zat makanan.

3.3. Akar

Fungsi akar adalah :


a. Menunjang struktur batang diatas tanah,
b. Menyerap air dan unsur-unsur hara dari dalam tanah,
c. Sebagai salah satu alat respirasi.
Sistem perakaran kelapa sawit merupakan sistem akar serabut, terdiri dari akar primer, sekunder,
tersier dan kuartener.
Akar primer umumnya berdiameter 6-10 mm, keluar dari pangkal batang dan menyebar secara
horisontal dan menghujam ke tanah dengan sudut beragam,
Akar sekunder berdiameter 2-4 mm,
Akar tersier berdiameter 0,1-0,3 mm, panjang hanya 1-4 mm dan tidak berlignin.
Secara umum sistem perakaran kelapa sawit lebih banyak berada dekat dengan permukaan tanah,
tetapi pada keadaan tertentu akar juga bisa menjelajah lebih dalam.

3.4. Bunga

Kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu (monoecious), artinya bunga jantan dan betina
terdapat satu pohon, tetapi tidak pada tandan yang sama. Walaupun demikian kadang-kadang
dijumpai juga bunga jantan dan betina pada satu tandan (hermaprodit).
Bunga muncul dari ketiak daun dan setiap ketiak daun hanya menghasilkan satu infloresen
(bunga majemuk). Beberapa bakal infloresen biasanya gugur pada fase-fase awal perkembangan,
sehingga pada individu terlihat beberapa ketiak daun tidak menghasilkan infloresen.

3.5. Buah

Secara botani buah kelapa sawit digolongkan sebagai drupe, terdiri dari pericarp yang
terbungkus oleh exocarp (atau kulit), mesocarp (yang secara salah kaprah disebut (pericarp), dan
endocarp (cangkang) yang membungkus 1-4 inti/kernel (umumnya hanya satu). Inti memiliki
testa (kulit), endosperm yang padat dan sebuah embrio.
Minyak dalam mesocarp mulai disintesis pada periode 120 hari setelah anthesis (hsa) dan mulai
berhenti pada saat buah terlepas dari tangkainya (memberondol).
Sintesis minyak yang masih terjadi pada tandan buah yang sudah dipanen dapat diabaikan karena
jumlahnya kecil sekali. Yang lebih perlu diperhatikan adalah naiknya kandungan asam lemak
bebas (FFA = Free Fatty Acid) pada tandan buah yang sempat menginap di TPH (Tempat
Pengumpulan Hasil) atau loading ramp pabrik.
Memberondolnya buah secara normal terjadi pada 150 155 hsa (dengan selang tertentu; secara
individual berkisar antara 120 200 hsa). Semua buah akan memberondol dari tandan buah
dalam waktu 2-4 minggu atau sedikit lebih lama pada tandan buah yang besar.
Kriteria kematangan buah yang umum berlaku adalah 2 berondolan per kg tandan buah segar
(TBS/FFB = Fresh Fruit Bunch).
KELAPA SAWIT

Tanaman Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) termasuk ke dalam famili Palmae dan subkelas
Monocotyledoneae. Spesies lain dari genus Elaeis adalah E. melanococca yang dikenal sebagai
kelapa sawit Amerika Latin. Beberapa varietas unggul yang ditanam adalah : Dura, Pisifera dan
Tenera.

A. VARIETAS

Varietas yang banyak diusahakan umumnya merupakan varietas jenis Tenera (persilangan
varietas jenis Dura dan Pisifera). Varietas ini mewarisi sifat-sifat unggul seperti inti kecil,
cangkang tipis, daging buah tebal (6090 % dari buah) serta kandungan minyak yang tinggi.
Beberapa contoh varietas unggul kelapa sawit, yaitu:

1. Deli Dura x Pisifera Dolok Sinumbah


a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
b. Jumlah tandan 12 tandan/tahun
c. Berat tandan 17 kg
d. Kandungan minyak 6,8 ton/ha/tahun

2. Deli Dura x Pisifera Bah Jambi


a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
b. Jumlah tandan 13 tandan/tahun
c. Berat tandan 16 kg
d. Kandungan minyak 6,9 ton/ha/tahun

3. Deli Dura x Pisifera Marihat


a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
b. Jumlah tandan 12 tandan/tahun
c. Berat tandan 17 kg
d. Kandungan minyak 6,7 ton/ha/tahun.

4. Deli Dura x Pisifera lame


a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
b. Jumlah tandan 14 tandan/tahun
c. Berat tandan 16 kg
d. Kandungan minyak 7,0 ton/ha/tahun
5. Deli Dura x Pisifera Yangambi
a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
b. Jumlah tandan 13 tandan/tahun
c. Berat tandan 16 kg
d. Kandungan minyak 6,9 ton/ha/tahun

6. Deli Dura x Pisifera AVROS


a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
b. Jumlah tandan 12 tandan/tahun
c. Berat tandan 16 kg
d. Kandungan minyak 7,0 ton/ha/tahun.

B. BOTANI

Morfologi kelapa sawit adalah sebagai berikut:

1. Akar
Tanaman kelapa sawit memiliki jenis akar serabut. Akar utama akan membentuk akar sekunder,
tertier dan kuartener.

2. Batang
Batang kelapa sawit berbentuk silinder dengan diameter sekitar 2075 cm. Tinggi batang
bertambah sekitar 45 cm per tahun. Dalam kondisi lingkungan yang sesuai pertambahan tinggi
dapat mencapai 100 cm per tahun.

3. Daun
Susunan daun kelapa sawit membentuk susunan daun majemuk. Susunan ini menyerupai
susunan daun pada tanaman kelapa. Panjang pelepah daun sekitar 7,59 m. Jumlah anak daun
pada setiap pelepah berkisar antara 250400 helai. Produksi pelepah daun selama satu tahun
mencapai 2030 pelepah.

4. Bunga
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu. Rangkaian bunga jantan terpisah
dengan rangkaian bunga betina. Umumnya tanaman kelapa sawit melakukan penyerbukan silang.

5. Buah
Buah terkumpul di dalam tandan. Dalam satu tandan terdapat sekitar 1.600 buah. Tanaman
normal akan menghasilkan 2022 tandan per tahun. Jumlah tandan buah pada tanaman tua
sekitar 1214 tandan per tahun. Berat setiap tandan sekitar 2535 kg.

Secara anatomi buah kelapa sawit tersusun dari:

a. Pericarp atau daging buah. Pericarp terdiri dari:


Mesokarp, yaitu kulit luar buah yang keras dan licin.
Mesokarp, yaitu bagian daging buah yang berserabut. Mesokarp merupakan bagian yang
mengandung minyak dengan rendemen paling tinggi.

b. Biji yang tersusun dari :


Endokarp (tempurung) yang merupakan lapisan keras dan berwarna hitam.
Endosperm (kernel) yang berwarna putih. Kernel akan menghasilkan minyak inti atau palm
kernel oil.
makalah tentang kelapa sawit Selasa, November 20, 2012 kehutanan punya 2 comments BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia, tanaman kelapa sawit merupakan tanaman
yang banyak dikebunkan oleh perusahaan-perusahaan besar, baik pemerintah maupun swasta.
Bahkan masyarakat pun banyak bertanam kelapa sawit secara kecil-kecilan. Hal ini
menunjukkan bahwa tanaman kelapa sawit sangat cocok tumbuh di Indonesia. Jika Indonesia
ditargetkan untuk menjadi negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, tentu orang-
orang yang mengelolanya, mulai dari pembibitan, penanaman sampai ke teknik pengelolahan
hasil panen harus berlaku profesional. A. Sejarah Penyebaran Tanaman Kelapa Sawit Pada
awalnya bangsa Portugis mengenal tanaman kelapa sawit saat melakukan perjalanan ke Pantai
Gading (Ghana). Mereka heran ketika menyaksikan penduduk setempat menggunakannya untuk
memasak dan sebagai bahan kecantikan. Tanaman kelapa sawit masuk ke Indonesia dan daerah-
daerah lain di Asia sebagai tanaman hias sekitar tahun 1848. Daerah pertama di Indonesia yang
diketahui sangat cocok untuk membudidayakan tanaman kelapa sawit ini adalah Sumatera Utara.
Perkebunan kelapa sawit di Indonesia dilakukan oleh beberapa perusahaan perkebunan kelapa
sawit. Di pulau Sumatera saja hingga tahun 1920 sudah puluhan perusahaan perkebunan yang
menanam kelapa sawit. Masa suram bagi tanaman kelapa sawit sempat terjadi pada waktu
penjajahan Jepang, yang mengakibatkan kebun kelapa sawit diganti dengan tanaman pangan. Hal
itu menyebabkan pabrik-pabrik pengolahan tidak lagi berproduksi. Potensi areal perkebunan
Indonesia masih terbuka luas untuk tanaman kelapa sawit. Upaya perluasan perkebunan
komoditas kelapa sawit dilaksanakan dengan jangkauan daerah penanaman meluas ke luar dari
daerah serta kelapa sawit sebelumnya, yaitu dengan membangun perkebunan-perkebunan baru di
Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Data menunjukkan kecendrungan peningkatan luas areal
perkebunan kelapa sawit, khususnya perkebunan rakyat. B. Perdagangan Kelapa Sawit Kelapa
sawit merupakan minyak nabati yang penting, di samping kelapa, kacang-kacangan, jagung,
bunga matahari, dan sebagainya. Komoditas kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan
yang menjanjikan. Minyak kelapa sawit mampu menghasilkan berbagai hasil industri hilir yang
dibutuhkan manusia, seperti minyak goreng, mentega, sabun, kosmetik, dan lain sebagainya.
Minyak kelapa sawit yang mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh dalam proses
selanjutnya akan menghasilkan fraksi olein, stearin, dan fatty acid. Olein dipergunakan untuk
pembuatan minyak goreng, stearin digunakan untuk pembuatan mentega, sedangkan fatty acid
dalam pengembangannya dapat digunakan sebagai bahan dasar oleokimia. Tanaman kelapa sawit
merupakan komoditi yang sangat menguntungkan, sehingga perluasan areal sangat maju pesat.
Industri pengolahan kelapa sawit di Indonesia terus mengalami peningkatan. Sejumlah pabrik
dengan kapasitas produksi minyak sawit CPO (Crude Palm Oil) tersebar hampir di seluruh
provinsi di Indonesia. Pemasaran produk kelapa sawit pada perkebunan besar negara dilakukan
secara bersama melalui kantor pemasaran yang sudah ditunjuk bersama, sedangkan untuk
perkebunan besar swasta, pemasaran dilakukan oleh masing-masing perusahaan. Pada umumnya
perusahaan besar, baik negara maupun swasta menjual produk kelapa sawit dalam bentuk olahan,
yaitu minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO). Penjualan langsung kepada
eksportir ataupun ke pedagang atau industri dalam negeri. Perkebunan kelapa sawit yang
dikelola oleh rakyat yang hasil produksinya terbatas, penjualan sulit dilakukan apabila ingin
menjualnya langsung ke industri pengolah. Oleh karena itu, petani harus menjualnya melalui
pedagang tingkat desa atau melalui KUD, kemudian berlanjut ke pedagang besar hingga ke
industri pengolah. Penjangnya rantai pemasaran hasil perkebunan rakyat ini menyebabkan
tingkat keuntungan yang diperoleh para petani relatif kecil. A. Prospek Budidaya Kelapa Sawit
Permintaan yang cenderung terus meningkat menyebabkan harga minyak sawit dalam negeri pun
terus menunjukkan peningkatan, walaupun perlu diperhatikan bahwa harga minyak sawit dalam
negeri sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama harga minyak goreng dari bahan lain di
dunia. Produksi minyak kelapa sawit (CPO) di dalam negeri diserap oleh industri pangan,
terutama industri minyak goreng dan industri nonpangan seperti industri kosmetik dan farmasi.
Potensi pasar yang lebih besar dipegang oleh industri minyak goreng. Potensi tersebut terlihat
dari semakin bertambahnya jumlah penduduk yang membutuhkan minyak goreng dalam proses
memasak bahan pangannya. Komoditas kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan yang
sangat menjanjikan. Pada masa depan, minyak sawit diyakini tidak hanya mampu menghasilkan
berbagai hasil industri hilir yang dibutuhkan manusia seperti minyak goreng, mentega, sabun,
kosmetik, tetapi juga menjadi subtitusi bahan bakar minyak yang saat ini sebagian besar dipenuhi
dengan minyak bumi. A. Produk Kelapa Sawit dan Pemanfaatannya Hasil utama tanaman kelapa
sawit adalah minyak sawit atau yang sering dikenal dengan nama CPO (Crude Palm Oil) dan inti
sawit. Minyak sawit dapat dimanfaatkan di berbagai industri karena memiliki susunan dan
kandungan gizi yang cukup lengkap. Industri yang banyak menggunakan minyak sawit sebagai
bahan baku adalah industri pangan, industri kosmetik, dan farmasi. Bahkan minyak sawit telah
dikembangkan sebagai sakah satu bahan bakar. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa minyak
sawit memiliki keuntungan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Keunggulan tersebut
antara lain: Menjadi sumber minyak nabati termurah karena efisiensi minyak kelapa sawit ini
tinggi; Dibanding minyak lainnya, minyak kelapa sawit mempunyai produktivitas yang tinggi;
Dibanding minyak nabati lainnya, minyak kelapa sawit mempunyai manfaat yang lebih luas,
baik pada industri pangan, maupun pada industri non pangan; Kandungan gizi minyak kelapa
sawit lebih unggul daripada minyak nabati lainnya. B. Teknik Budidaya Tanaman Kelapa Sawit
1. Syarat Tumbuh Sebagai tanaman yang dibudidayakan, tanaman kelapa sawit memerlukan
kondisi lingkungan yang baik atau cocok, agar mampu tumbuh subur dan dapat berproduksi
secara maksimal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit antara lain
keadaan iklim dan tanah. Selain itu, faktor yang juga dapat mempengaruhi pertumbuhan kelapa
sawit adalah faktor genetis, perlakuan budidaya, dan penerapan teknologi. a. Iklim Curah hujan
dan kelembaban Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan di daerah tropik, dataran rendah
yang panas, dan lembab. Curah hujan yang baik adalah 2.500-3.000 mm per tahun yang turun
merata sepanjang tahun. Daerah pertanaman yang ideal untuk bertanam kelapa sawit adalah
dataran rendah yakni antara 200-400 meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian tempat lebih
500 meter di atas permukaan laut, pertumbuhan kelapa sawit ini akan terhambat dan produksinya
pun akan rendah. Penyinaran matahari Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit
adalah 7-5 jam per hari.pertumbuhan kelapa sawit di Sumatera Utara terkanal baik karena berkat
iklim yang sesuai yaitu lama penyinaran matahari yang tinggi dan curah hujan yang cukup.
Umumnya turun pada sore atau malam hari. Suhu Suhu merupakan faktor penting untuk
pertumbuhan dan hasil kelapa sawit. Suhu rata-rata tahunan daerah-daerah pertanaman kelapa
sawit berada antara 25-27 0C, yang menghasilkan banyak tandan. Variasi suhu yang baik jangan
terlalu tinggi. Semakin besar variasi suhu semakin rendah hasil yang diperoleh. Suhu, dingin
dapat membuat tandan bunga mengalami merata sepanjang tahun. b. Tanah Pertumbuhan dan
produksi kelapa sawit dalam banyak hal bergantung pada karakter lingkungan fisik tempat
pertanaman kelapa sawit itu dibudidayakan. Jenis tanah yang baik untuk bertanam kelapa sawit
adalah tanah latosol, podsolik merah kuning, hidromorf kelabu, aluvial, dan organosol/gambut
tipis. Kesesuaian tanah untuk bercocok tanam kelapa sawit ditentukan oleh dua hal, yaitu sifat-
sifat fisis dan kimia tanah. Sifat fisis tanah Pertumbuhan kelapa sawit akan baik pada tanah yang
datar atau sedikit miring, solum dalam dan mempunyai drainase yang baik, tanah gembur, subur,
permeabilitas sedang, dan lapisan padas tidak terlalu dekat dengan permukaan tanah. Tanah yang
baik bagi pertumbuhan juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara
alamiah maupun hara tambahan. Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai berpasir dan
tanah gambut tebal. Dalam menentukan batas-batas yang tajam mengenai kesesuaian sifat fisis
tanah di antara tipe-tipe tanah memang relatif sulit. Sifat kimia tanah Tanaman kelapa sawit
dapat tumbuh baik pada tanah pH 4,0-6,5 dan pH optimumnya antara 5,0-5,5. Tanah yang
memiliki pH rendah biasanya dijumpai pada daerah pasang surut, terutama tanah gambut. Tanah
organosol atau gambut mengandung lapisan yang terdiri atas lapisan mineral dengan lapisan
bahan organik yang belum terhumifikasi lebih lanjut memiliki pH rendah. 2. Pemeliharaan
Tanaman Pemeliharaan tanaman merupakan hal yang sangat penting dalam usaha budidaya
tanaman karena menentukan masa perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Perawatan tidak
hanya ditujukan pada tanamannya, tetapi juga pada media tanah pada lahan pertanaman tersebut.
Perawatan tanaman kelapa sawit meliputi penyulaman, pembuatan piringan, penanaman tanaman
sela, pengendalian gulma, pemangkasan, pemupukan, dan penyerbukan buatan. 2.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut. Sebagai bahan kajian mahasiswa
mengenai panen dan penanganan pasca panen pada tanaman kelapa sawit. Sebagai cara untuk
mempelajari berbagai cara panen dan penanganan pasca panen pada tanaman kelapa sawit.
Sebagai syarat untuk melaksanakan tugas individu dari dosen. BAB II METODE PENULISAN
2.1 Objek Penulisan Objek penulisan mencakup gambaran/penjelasan, penentuan saat panen
yang tepat, cara panen, perubahan-perubahan yang terjadi setelah panen, pemeliharaan kualitas
selama penyimpanan dan pengangkutan dan penentuan kelas produk (grading). 2.2 Metode
Pengumpulan Data Dalam penulisan makalah ini, penulis secara umum mendapatkan bahan
tulisan dari berbagai referensi, baik dari tinjauan kepustakaan berupa buku buku atau dari
sumber media internet yang terkait dengan budidaya kelapa sawit dengan panen dan penanganan
pasca panennya. 2.3 Metode Analisis Penyusunan makalah ini berdasarkan metode deskriptif
analisis, yaitu dengan mengidentifikasi permasalahan berdasarkan fakta dan data yang ada,
menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lainnya, serta mencari
alternatif cara panen dan penanganan pasca panen yang tepat. BAB III HASIL DAN
PEMBAHASAN 3.1 Manajemen Panen Kelapa Sawit Tujuan manajemen budidaya kelapa sawit
adalah untuk menghasilkan produksi kelapa sawit yang maksimal per hektar areal dengan biaya
produksi serendah mungkin, menjaga perkebunan beserta infrastrukturnya dengan menggunakan
teknologi yang ramah lingkungan dan secara sosial dapat dipertangung-jawabkan,
mempertahankan produktivitas tinggi secara berkesinambungan dalam beberapa generasi
pertanaman serta mempertahankan kesuburan tanah dalam jangka panjang. Tahapan akhir dari
kegiatan budidaya kelapa sawit adalah panen tandan buah segar (TBS) yang menjadi salah satu
kunci penentu produktivitas kelapa sawit. Produktivitas kelapa sawit ditentukan oleh seberapa
banyak kandungan minyak yang diperoleh dan seberapa baik mutu minyak yang dihasilkan.
Hasil minyak yang diperoleh dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah tata
cara panen kelapa sawit. Pada makalah ini akan dibahas tentang bagaimana manajemen panen
kelapa sawit agar diperoleh tingkat produktivitas yang tinggi. A. Identifikasi Tanaman Siap
Panen Dalam budidaya kelapa sawit panen merupakan salah satu kegiatan penting dan
merupakan saat-saat yang ditunggu oleh pemilik kebun, karena saat panen adalah indikator akan
dimulainya pengembalian inventasi yang telah ditanamkan dalam budidaya. Melalui pemanenan
yang dikelola dengan baik akan diperoleh produksi yang tinggi dengan mutu yang baik dan
tanaman mampu bertahan dalam umur yang panjang. Berbeda dengan tanaman semusim,
pemanenan kelapa sawit hanya akan mengambil bagian yang paling bernilai ekonomi tinggi
yaitu tandan buah yang menghasilkan minyak kelapa sawit dan inti kelapa sawit dan tetap
membiarkan tanaman berproduksi secara terus menerus sampai batas usia ekonomisnya habis.
Secara umum batas usia ekonomis kelapa sawit berkisar 25 tahun, dan dapat berkurang
bergantung dari tingkat pemeliharaan yang dilakukan termasuk cara pemananen. Pemanen kelapa
sawit yang salah akan mengakibatkan rendahnya produksi dan pendeknya usia ekonomis. Oleh
karena itu, pemanenan harus dilakukan dengan tepat agar tanaman tetap berproduksi baik dan
diperoleh mutu yang baik. Selain itu setelah panen harus segera dilakukan penanganan pasca
panen menginggat tandan buah kelapa sawit akan cepat mengalami penurunan mutu dalam
waktu 24 jam setelah panen. Pertanyaan yang pertama kali muncul dalam benak pemilik kebun
kepala sawit adalah kapan panen pertama/perdana dilakukan agar segera diperoleh hasil (baca
uang) dan tidak merusak tanaman kelapa sawit. Penentuan panen pertama secara umum
dilakukan berdasarkan umur tanaman dan dikoreksi melalui performa tanaman. Hal ini bermakna
meskipun tanaman telah memiliki umur yang cukup untuk menghasilkan tandan buah sawit,
tetapi bilamana performa tanaman, khususnya bonggol dan ukuran tandan buah terlaku kecil
(kurang ari 3 kg) maka umur pertama panen di tunda dengan membuang bunga dan bakal buah
yang ada. Kelapa Sawit sudah mulai berbunga, tetapi tandan buah segar yang dihasilkan belum
mencapai 3 kg sehingga tanaman belum dapat dikategorikan sebagai tanaman menghasilkan.
Bilamana performa/penampilan bonggol batang belum cukup kekar tetapi sudah berbunga, maka
pada tanaman tersebut harus diablasi yaitu pembuangan bunga untuk membuang tandan kecil
(kurang dari 3 kg) pada tanaman baru berbuah dan untuk mendorong pertumbuhan tanaman agar
diperoleh pertumbuhan tanaman yang seragam. Secara normal kelapa sawit yang tumbuh subur
sudah dapat menghasilkan buah serta siap dipanen pertama pada umur sekitar 3,5 tahun jika
dihitung mulai dari penanaman biji kecambah di pembibitan. Namun jika dihitung mulai
penanaman di lapangan maka tanaman berbuah dan siap panen pada umur 2,5 tahun. B.
Identifikasi Tandan Buah Masak Jumlah dan mutu minyak yang dihasilkan kelapa sawit
bergantung dari berbagai faktor, dan salah satu faktor terpenting adalah kematangan buah pada
saat dipanen dan penangananya sampai di PKS. Panen harus menghasilkan tandan buah segar
pada kematangan optimal, pemanenan pada tandah buah mentah (belum optimal) cenderung
akan mengakibatkan berkurangnya jumlah minyak yang dihasilkan, dan sebaliknya pemanenan
yang terlalu matang dan penanganan yang lambat atau busuk akan menghasilkan minyak dengan
kandungan Free Fatty Acid (asam lemak bebas) yang tinggi. Tanaman kelapa sawit rata-rata
menghasilkan buah 20-22 tandan/tahun. Pada tanaman yang semakin tua produktivitasnya
semakin menurun menjadi 12 14 tandan/tahun. Banyaknya buah yang terdapat dalam satu tandan
tergantung pada faktor genetik, umur, lingkungan dan teknik budidaya. Jumlah buah pertandan
pada tanaman yang cukup tua mencapai 1600 buah. Matang panen kelapa sawit dapat dilihat
secara visual dan secara fisiologi. Secara visual dapat dilihat dari perubahan warna kulit buah
menjadi merah jingga, sedangkan secara fisiologi dapat dilihat dari kandungan minyak yang
maksimal dan kandungan asam lemak bebas yang minimal. Pada saat matang tersebut dicirikan
pula oleh membrondolnya buah. Kriteria tandan buah yang masak pada tanaman muda dan
tanaman menghasilkan sedikit berbeda. Pada tanaman muda yang baru pertama kali dipanen,
kriteria matang tandan matang panen berupa 1-2 brondolan per tandan perlu digunakan
mengingat tandan masih kecil dan cepat masak. Standar ini harus disesuaikan berdasarkan
kondisi iklim setempat dan pengalaman pekerja. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada
5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah
yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. Ciri-ciri lain yang digunakan adalah
apabila sebagian buah sudah membrondol (jatuh di piringan). Secara alamiah dan bobot rata-rata
tandan sudah mencapai 3 kg. Jumlah brondolan buah inilah yang dijadikan dasar untuk memanen
tandan buah, yaitu tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun, jumlah brondolan kurang lebih
10 butir dan tanaman dengan umur lebih 10 tahun, jumlah brondolan sekitar 15-20 butir. Namun
secara praktis digunakan kriteria umum yaitu pada setiap 1 kg tandan buah segar (TBS) terdapat
2 brondolan. Kriteria panen yang diharapkan adalah bila tingkat kematangan buah sudah
mencapai fraksi kematangan 13 dimana persentase buah luar yang jatuh sekitar 12,5 %-75 %.
Ada dua jenis sistem panen, yaitu sistem giring dan sistem tetap. C. Persiapan Panen Teknik
panen yang baik bertujuan untuk memperoleh jumlah minyak maksimum dengan kualitas yang
paling baik. Untuk mencapai maksud ini perlu kematangan buah yang optimum, selang panen
yang tepat, metode pengumpulan buah, dan pengangkutan hasil yang baik ke pabrik pengolahan
buah sawit. Aspek yang paling penting diperhatikan dalam panen dan pengangkutan buah adalah
hal-hal yang mempengaruhi kualitas akhir dari minyak sawit, khususnya menyangkut kadar asam
lemak bebas. Jadi, untuk mendapatkan hasil panen yang berkualitas tinggi sebaiknya dibuat
persiapan panen yang baik. Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah setelah
umur 2-3 tahun. Buah akan menjadi masak sekitar 5-6 bulan setelah penerbukan. Agar panenan
berjalan lancar, tempat pengumpulan hasil (TPH) harus dipersiapkan dan jalan pengangkutan
hasil (pasar pikul) diperbaiki untuk memudahkan pengangkutan hasil panen dari kebun ke
pabrik. Para pemanen juga harus mempersiapkan peralatan yang akan digunakan. Pemanenan
kelapa sawit perlu memperhatikan beberapa ketentuan umum agar tandan buah segar (TBS) yang
dipanen sudah matang, sehingga minyak kelapa sawit yang dihasilkan bermutu baik. A. Kriteria
Tanaman Menghasilkan Agar tanaman belum menghasilkan (TBM) dapat digolongkan menjadi
tanaman menghasilkan (TM), maka perlu diperhatikan kriteria berikut. a) Kerapatan panen telah
mencapai 60% atau lebih b) Bobot tandan rata-rata lebih berat daripada 3 kg. c) Angka sebaran
panen lebih banyak daripada 5. 1. Kerapatan Kerapatan panen adalah angka persentase jumlah
pohon yang memiliki tanda buah yang sudah matang panen dalam suatu areal pertanaman belum
menghasilkan (TBM). Untuk mengetahui kerapatan panen tersebut, maka dilakukan pemeriksaan
dan pencatatan jumlah pohon yang sudah memiliki tandan buah matang panen dari setiap petak
tanaman yang terdapat dalam areal TBM tersebut. Bila terdapat lebih dari 60% atau lebih pohon
yang mempunyai tandan matang panen, maka petak tersebut dinyatakan menjadi tanaman
menghasilkan (TM). 2. Bobot rata-rata tandan Setiap tandan yang sudah matang panen diambil
secara acak dari setiap hektar tanaman kemudian ditimbang. Jika rata-rata bobot telah lebih dari
3 kg maka panenan dapat dilakukan dan diteruskan dengan pemeriksaan penyebaran panen. Bila
bobot rata-rata tandan masih di bawah 3 kg, panen harus ditangguhkan, karena tandan kecil
secara teknik tidak dapat diolah pabrik sehingga tidak mempunyai nilai ekonomis. Kriteria
matang panen yang dijadikan patokan di perkebunan kelapa sawit adalah bila sudah ada 2
brondolan (buah yang lepas dari tandannya) untuk tiap kilogram tandan yang beratnya kurang
dari 10 kg atau satu brondolan untuk tiap kilogram tandan beratnya lebih dari 10 kg. Melihat
adanya brondolan yang jatuh ke piringan, maka panenan dapat dilakukan. 3. Kerapatan sebaran
panen Kerapatan sebaran panen adalah angka yang menyatakan jumlah pohon yang telah
memiliki tandan matang panen dalam baris tanaman pada satu petak (blok) tanaman sawit.
Angka ini penting diketahui untuk efisiensi pemanenan, karena menyangkut jarak (ruang) dan
waktu yang dibutuhkan untuk memanen. B. Derajat Kematangan Buah Mutu minyak buah
biasanya dinyatakan sebagai persentase minyak tandan. Untuk tujuan praktis disebut rendemen
minyak atau nisbah ekstraksi. Rendemen minyak (RM) yang diperoleh di pabrik sangat
dipengaruhi oleh standar kematangan buah yang mana buah berubah warna dari hitam menjadi
merah oranye hingga terjadi kematangan penuh. 1. Kriteria matang panen Faktor yang vital
adalah konversi karbohidrat menjadi minyak di mesokrap berlangsung pada stadia akhir
perkembangan buah. Seminggu sebelum masak hanya 80% minyak dari potensi total minyak
dalam mesokrap, sintesis minyak berlangsung terus sebelum buah tanggal dari tandan
(membrondol). Penurunan atau peningkatan yang nyata dari kandungan minyak setelah buah
membrondol dan sebelum membusuk ditandai oleh perubahan ciri-ciri jaringan mesokrap.
Gambar 1. Kriteria matang yang siap dipanen Kadar minyak tertinggi terdapat pada saat buah
membrondol, seyogianya untuk mengoptimalkan hasil adalah mengutip buah yang membrondol,
tetapi hal ini tidak praktis dan tidak ekonomis, karena tandan buah akan matang keseluruhannya
selama 15 hari sesudah brondolan pertama. Karena tandan kecil yang lebih cepat membrondol
daripada tandan yang besar. Maka jika panenan ditunggu hingga semua atau hampir semua buah
membrondol, pembusukan buah yang terlebih dahulu masak mulai terjadi dan dapat menurunkan
kualitas dan kuantitas. Di sisi lain, jika pemanenan dilakukan sejak buah yang pertama
membrondol, maka kadar asam lemak bebas (ALB) rendah pada minyak maupun inti. Gambar 2.
Brondolan Penentuan saat panen sangat mempengaruhi kandungan asam lemak bebas (ALB)
minyak sawit yang dihasilkan. Apabilan pemanenan buah dilakukan dalam keadaan lewat
matang, maka minyak yang dihasilkan mengandung asam lemak bebas (ALB) dalam persentase
tinggi (lebih dari 5%). Sebaliknya, bila pemanenan dilakukan dalam keadaan buah belum
matang, selain kadar ALBnya rendah, rendemen minyak yang diperoleh juga rendah. Gambar 3.
Buah sawit siap panen Berdasarkan hal tersebut, ada beberapa tingkatan dari tandan buah segar
(TBS) yang dipanen. Tingkatan TBS tersebut sangat mempengaruhi mutu panen, termasuk
kualitas minyak sawit yang dihasilkan. Tabel. Tingkatan TBS yang dipanen Tingkat Jumlah
Brondolan Kematangan 0. 1. 2. 3. 4. 5. 1-12,5% buah luar membrondol 12,5-25% buah luar
membrondol 25-50% buah luar membrondol 50-75% buah luar membrondol 75-100% buah luar
membrondol Buah dalam juga membrondol, dan ada buah yang busuk Mentah Kurang matang
Matang I Matang II Lewat matang I Lewat matang II Sumber: Pusat Penelitan Marihat, 1983
Jadi, berdasarkan tingkat TBS yang dipanen tersebut di atas, maka derajat kematangan yang baik
adalah jika tandan-tandan yang dipanen berada tingkat 1,2, dan 3. Secara ideal dengan mengikuti
ketentuan dan kriteria matang panen dan terkumpulnya brondolan serta pengangkutan yang
lancar, maka dalam suatu panenan akan diperoleh komposisi tingkat tandan segar sebagai
berikut. 1) Jumlah brondolan di pabrik sekitar 25% dari berat tandan seluruhnya. 2) Tandan yang
terdiri atas tingkat kematangan 2 dan 3 minimal 65% dari jumlah tandan. 3) Tandan yang terdiri
atas tingkat kematangan 1 maksimal 20% dari jumlah tandan. 4) Tandan yang terdiri atas tingkat
kematangan 4 dan 5 maksimal 15% dari jumlah tandan. Untuk memperoleh tingkat kematangan
tandan perlu diatur frekuensi panen atau putaran panen di suatu kebun. Dalam keadaan yang
tidak terhindarkan, dapat saja hasil panenan dari tingkat kematangan tandan yang lebih tinggi,
sehingga komposisi tandan buah segar (TBS) dengan tingkat kematangan (3 dan 4) : 65%, mulai
matang (2) : 20%, dan lewat matang (5) : 15%. Dengan komposisi demikian akan diperoleh
produksi minyak maksimum dengan biaya minimum dan asam lemak bebas (ALB) masih berada
di bawah 5%. 2. Frekuensi panen Untuk memperoleh keseragaman kematangan pada standar
yang dikehendaki, maka suatu areal pertanaman harus dipanen setiap hari. Karena hal seperti ini
tidak ekonomis, maka perlu diadakan putaran atau rotasi panen. Untuk menentukan selang atau
interval panen yang tepat perlu dievaluasi kekurangan setiap panen serta kualitas dan kuantitas
maksimum. Sebaiknya memanen tidak perlu terlalu singkat dan terlalu lama untuk memperoleh
kuantitas dan kualitas hasil serta biaya panen yang optimal. Umumnya putaran panen yang
dianjurkan adalah 7-10 hari. Jika selang waktu kurang dari 7 hari, banyak buah kurang matang;
tetapi jika selang waktu lebih dari 10 hari, maka banyak buah kelewat matang; sehingga tandan
buah segar tidak merata matangnya. 1.1 Pengolahan Hasil Panen Hasil panen dari kebun
merupakan tandan buah segar (TBS) yang harus segera diangkut ke pabrik pengolahan untuk
mendapatkan hasil minyak kelapa sawit yang bermutu tinggi. Proses pengolahan hasil panen ini
berlangsung cukup panjang, dimulai dari pengangkutan TBS dari lahan pertanaman ke pabrik
pengolahan sampai menghasilkan minyak kelapa sawit dan hasil sampingannya. Hasil olahan
utama TBS pada pabrik pengolahan adalah: 1) Minyak sawit yang merupakan hasil pengolahan
daging buah, 2) Minyak inti sawit yang dihasilkan dari ekstraksi inti sawit. A. Pengangkutan
TBS ke Pabrik Pengolahan Tandan buah segar (TBS) yang baru dipanen harus segera diangkut
ke pabrik dapat segera diolah. Buah yang tidak dapat segera diolah akan mengalami kerusakan
atau akan menghasilkan minyak dengan kadar asam lemak bebas tinggi, sehingga sangat
berpengaruh tidak baik terhadap kualitas minyak yang dihasilkan. Salah satu upaya untuk
menghindari terbentuknya asam lemak bebas adalah pengangkutan buah dari kebun ke pabrik
harus dilakukan secepatnya dan menggunakan alat angkut yang baik, seperti lori, traktor
gandengan, atau truk. Sebaiknya dipilih alat angkut yang besar, cepat, dan tidak terlalu banyak
membuat guncangan selama dalam perjalanan. Hal ini untuk menjaga agar perlukaan pada buah
tidak terlalu banyak. Segera setelah sampai di pabrik, pengolahan harus secepatnya ditimbang
dulu, kemudian memasuki tahap-tahap pengelolaan selanjutnya. Tandan buah segar yang
diterima dari kebun harus ditimbang dengan cermat yang nantinya perlu di dalam proses
pengendalian mutu, rendemen hasil yang diperoleh. TBS yang sudah diterima dari kebun dan
sudah ditimbang harus secepat mungkin masuk pengolahan tahap pertama agar gradasi mutu
dapat ditekan sekecil mungkin, yaitu tahap perebusan atau sterilisasi tanda buah. BAB IV
KESIMPULAN Setelah ditinjau dari pembuatan makalah ini, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang dibudidayakan yang memerlukan
kondisi lingkungan yang baik atau cocok, agar mampu tumbuh subur dan dapat berproduksi
secara maksimal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit antara lain
keadaan iklim dan tanah. Selain itu, faktor yang juga mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit
adalah faktor genetis, perlakuan budidaya, dan penerapan teknolgi. Untuk teknik panen yang
baik bertujuan untuk memperoleh jumlah minyak yang maksimum dengan kualitas yang paling
baik. Buah yang dipanen itu harus mencapai optimum kematangannya dengan selang panen yang
tepat, sesuai kriteria matangnya dan pengangkutan hasil yang baik ke pabrik pengolahan buah
sawit. Rendemen minyak (RM) yang diperoleh di pabrik sangat dipengaruhi oleh standar
kematangan buah yang mana buah berubah warna dari hitam menjadi merah oranye hingga
kematangan penuh. Hasil panen dari kebun merupakan tandan buah segar (TBS) yang harus
segera diangkut ke pabrik pengolahan untuk mendapatkan hasil minyak kelapa sait yang bermutu
tinggi. DAFTAR PUSTAKA http://hendrasagio.blogspot.com/2010/10/blog-post.html. Diakses
pada tanggal 20 Maret 2012. http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomy-
agriculture/2122285-panen-kelapa-sawit/. Diakses pada tanggal 22 Maret 2012.
http://isroi.com/2009/07/29/foto-foto-sawit/. Diakses pada tanggal 20 Maret 2012.
http://kabarsawit.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 20 Maret 2012. http://rony-
bujangjumendang.blogspot.com/2012/01/manajemen-panen-kelapa-sawit-tujuan.html. Diakses
pada tanggal 22 Maret 2012. http://sawitgembala.blogspot.com/2010/08/kegiatan-panen-buah-
segar-kelapa-sawit.html. Diakses pada tanggal 22 Maret 2012.
http://sawitku.wordpress.com/2009/10/31/berbagai-hasil-olahan-dari-kelapa-sawit/. Diakses pada
tanggal 20 Maret 2012. http://wwwbutonutara.blogspot.com/2011/09/kelapa-sawit-butur-untuk-
kepentingan.html. Diakses pada tanggal 20 Maret 2012. Tim Bina Karya Tani. 2009. Pedoman
Bertanam Kelapa Sawit. Yrama Widya. Bandung.

Sumber: http://forester-untad.blogspot.co.id/2012/11/makalah-tentang-kelapa-sawit.html
Konten adalah milik dan hak cipta forester untad blog
Morfologi tanaman kelapa sawit
BAB.1 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Untuk penjelasan tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq)
adalah salah satu tanaman perkebunan yang ada di Indonesia merupakan
memiliki masa depan yang cukup cerah karena terdapat keunggulan di
dalamnya. Tanaman kelapa sawit bukanlah tanaman asli Indonesia namun
kedatangan kelapa sawit ke Indonesia merupakan komoditi yang penting
terhadap ekspor di Indonesia. Hasil dari minyak kelapa sawit menjadikan
komoditi ini sebagai sumber devisa bagi negara Indonesia.
Asal mula tanaman kelapa sawit, belu di ketahui,tetapi beberapa
sumber menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit berasal dari dua negara
asal yaitu Amerika Selatan (Elaeis melanococca atau Elaeis oleivera ) dan di
negara Afrika (spesies Elaeis guineen sis). Spesiesyang dijelaskan ni mulai
menyebar ke seluruh dunia beriklim tropis, salah satunya Indonesia.
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman pengahasil minyak nabati
tertinggi, karena minyak yang di hasilkan memiliki keunggulan jika di
bandingkan dengan minyak hasil olahan lainnya yaitu memiliki kadar
kolesterol yang rendah bahkan non kolestrol.Apa lagi dengan tingkat
konsumsi minyak sawit makin lama semakin meningkat, dan permintaan
konsumen pun makin lama semakin banyak,sehingga dibutuhkan bahan
baku untuk mencukupi kebutuhan yang ada.
Saat ini untuk pelaku usaha tani kelapa sawit di Indonesia
yaituperusahaan perkebunan besar swasta, perkebunan Negara dan
perkebunan rakyat. Usaha perkebunan kelapa sawit rakyat umumnya
dikelola dengan model kemitraan dengan perusahaan besarswasta dan
perkebunan Negara. Khusus untuk perkebunan sawit rakyat, permasalahan
umum yang dihadapi dalam budidaya tanaman kelapa sawit adalah
rendahnya produktivitas dan mutu produksinya. Penyebab rendah tingkat
produktivitas perkebunan sawit rakyat adalah karena teknologi produksi
yang digunakan masih relative sederhana dalam budidaya seperti
pembibitan sampai dengan panennya. Oleh sebab itu maka dibutuhkan
teknologi yang mendukung untuk menciptakan produksi kelapa sawit yang
tinggi.
Saat ini tanaman kelapa sawit dibudidayakan pada lahan-lahan
marginal yang relatif berada di luar jawa. Karena tanaman kelapa sawit
merupakakn tanaman relative toleran terhadap kondisi lahan yang
marginal. Sebagai salah satu tanaman penghasil minyak nabati, tanaman
kelapa sawit memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. Hal
ini dikarenakan tanaman kelapa sawit memiliki banyak keunggulan
dibanding dengan tanaman penghasil minyak nabati pada tanaman-
tanaman lainnya.Oleh sebab itu maka sebagai mahasiswa pertanian
pengetahuan tentang tanaman kelapa sawit dapat mendukung peningkatan
produksi kelapa sawit sangat penting untuk dipelajari. Mengingat
pentingnya pengetahuan tentang tanaman kelapa sawit dalam mendukung
produksinya, maka diperlukan mengetahui bagian bagian morfologi pada
tanaman kelapa sawit.

1.2 Tujuan
Pada acara Praktikum Teknologi Produksi Tanaman Pangan dan
Perkebunan mengenai morfologi tanaman kelapa sawit terdapat beberapa
tujuan yang ingim dicapai antara lain :
1. Mengenal dan mengidentifikasi identifikasi tanaman kelapa sawit.
2. Memberikan pengalaman dan wawasan keilmuan bagi mahasiswa mengenai
kelapa sawit.

BAB.2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kelapa Sawit


Sejak pertengahan 2000, kelapa sawit telah menyusul kacang kedelai
menjadi tanaman minyak yang paling penting di dunia. Produksi minyak
sawit terutama didukung oleh penanaman intensif selama dua dekade
terakhir di Malaysia dan Indonesia yang sejauh dua utama produsen minyak
sawit (Frank,2013). Produksi minyak sawit telah terbukti menjadi kuat
mesin pertumbuhan ekonomi ( Lane,2012).
Tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan saat ini terdiri dari dua
jenis yang umum di tanam yaitu E. guineensis dan E. oleifera. Antara 2 jenis
tersebut mempunyai fungsi dan keunggulan di dalamnya. Jenis E.
guineensis memiliki produksi yang sangat tinggi sedangkan E.
oleifera memiliki tinggi tanaman yang rendah. banyak orang sedang
menyilangkan kedua species ini untuk mendapatkan species yang tinggi
produksi dan gampang dipanen. Jenis E. oleifera sekarang mulai
dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya
genetik yang ada. Kelapa sawit Elaeis guinensis Jacq merupakan tumbuhan
tropis yang berasal dari Afrika Barat. Tanaman ini dapat tumbuh di luar
daerah asalnya, termasuk Indonesia. Tanaman kelapa sawit memiliki arti
penting bagi pembangunan nasional (Syahputra,2011).
Masa umur ekonomis kelapa sawit yang cukup lama sejak mulai
tanaman mulai menghasilkan, yaitu sekitar 25 tahun menjadikan jangka
waktu perolehan manfaat dari investasi di sektor ini menjadi salah satu
pertimbangan yang ikut menentukan bagi kalangan dunia
(Krisnohardi,2011). Untuk mendapatkan tanaman kelapa sawit yang baik
dan produksi yang maksimal, maka sebelum melakukan budidaya maka
harus mengetahui klasifikasi dan morfologi dari tanaman sawit begitu pula
syarat tumbuh tanaman kelapa sawit yang benar. Dengan mengetahui
klasifikasi tanaman kelapa sawit maka dapat memahami macam-macam
jenis kelapa sawit dari varietas unggul yang dapat dibudidayakan. Dengan
mengetahui morfologi tanamann kelapa sawit maka dapat memahami
spesifikasi setiap bagian yang dimiliki tanaman kelapa sawit. Untuk
tanaman kelapa sawit memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Divisi : Embryophyta Siphonagama
Kelas : Angiospermae
Ordo : Monocotyledonae
Famili : Arecaceae
Sub famili : Cocoideae
Genus : Elaeis
Spesies : E.guineensis. Jacq, E.oleifera (HBK) Cortes, E.odora.
2.2 Syarat tumbuh tanaman kelapa sawit
Daerah pengembangan tanaman kelapa sawit yang sesuai sekitar 15
LU-15 LS. Untuk ketinggian pertanaman kelapa sawit yang baik berkisar
antara 0-500m dpl. Tanaman kelapa sawit menghendaki curah hujan sekitar
2.000-2.500 mm/tahun. Suhu optimum untuk pertumbuhan kelapa sawit
sekitar 29-30 C. Intensitas penyinaran matahari yang baik tanaman kelapa
sawit sekitar 5-7 jam/hari.
Kelembaban optimum yang ideal sekitar 80-90 % untuk pertumbuhan
tanaman. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada jenis tanah
Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol. Kelapa sawit
menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase baik dan
memiliki lapisan solum yang dalam tanpa lapisan padas. Untuk nilai pH
yang optimum di dalam tanah adalah 5,05,5. Respon tanaman terhadap
pemberian pupuk tergantung pada keadaan tanaman dan ketersediaan hara
di dalam tanah, Semakin besar respon tanaman, semakin banyak unsur
hara dalam tanah (pupuk) yang dapat diserap oleh tanaman untuk
pertumbuhan dan produksi (Arsyad,2012).
Tanah sedikit mengandung unsur hara tetapi memiliki kadar air yang
cukup tinggi. Sehingga cocok untuk melakukan kebun kelapa sawit karena
memiliki kemampuan tumbuh yang baik, memiliki daya adaptif yang cepat
terhadap lingkungan (Adriadi,2012). Kondisi topografi pertanaman kelapa
sawit sebaiknya tidak lebih dari sekitar 15. Kemampuan tanah dalam
meyediakan hara mempunyai perbedaan yang sangat menyolok dan
tergantung pada jumlah hara yang tersedia, adanya proses fiksasi dan
mobilisasi, serta kemudahan hara tersedia untuk mencapai zona perakaran
tanaman (Arsyad,2012). Minyak sawit ditanam sebagai industri tanaman
perkebunan, sering (terutama di Indonesia) pada hutan hujan baru
dibersihkan atau hutan rawa gambut bukan pada lahan yang sudah
terdegradasi atau bekas lahan pertanian (Mukherjee,2009).

2.3 Jenis Dari Kelapa Sawit


Tanaman kelapa sawit dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan tebal
tipisnya cangkang dan daging buah tanaman kelapa sawit, yang dijelaskan
sebagai berikut:
1. Dura
Jenis dura memiliki ciri-ciri yaitu: tebal cangkangnya sekitar 2-8 mm,
kemudian tidak terdapat lingkaran serabut pada bagian luar cangkang. Pada
daging buah relatif tipis, daging biji besar dengan kandungan minyak
rendah, banyak digunakan sebagai induk betina dalam program pemuliaan.
2. Pisifera
Jenis pisifera memiliki ciri-ciri yaitu: tebal cangkangnya sangat tipis
(bahkan hampir tidak ada), kemudian daging buah lebih tebal dari pada
daging buah jenis Dura, daging biji sangat tipis, tidak dapat diperbanyak
tanpa menyilangkan dengan jenis lain, dengan persilangan diperoleh jenis
Tenera. Pisifera tidak dapat digunakan sebagai bahan untuk tanaman
komersial, tetapi digunakan sebagai induk jantan.
3. Tenera
Jenis tenera ciri-ciri antara lain: tebal cangkangnya tipis 0,5-4 mm,
terdapat lingkaran serabut disekeliling tempurung, daging buah ini sangat
tebal, tandan buah lebih banyak (tetapi ukurannya lebih kecil), merupakan
hasil persilangan Dura dengan Pisifera. Jenis tenera merupakan yang paling
banyak ditanam dalam perkebunan dengan skala besar di sekitar. Umumnya
jenis ini menghasilkan lebih banyak tandan buah.
Kelapa sawit memiliki karakteristik tertentu sesuai dangan orijinnya.
Persilangan antara Dura (D) dan Pisifera (P) menghasilkan bahan tanaman
komersial jenis Tenera (T atau DP). Karakteristik Tenera merupakan
rekombinasi antara sifat sifat Dura dan Pisifera. Tetua Dura yang digunakan
sebagai materi dasar persilangan sebagian besar berasal dari Dura Deli
sedangkan tetua Pisifera berasal dari berbagai orijin (Raisawati,2010).

2.4 Morfologi Tanaman Kelapa Sawit


Tanaman kelapa sawit merupakan salah satu komoditi perkebunan
yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan penyumbang devisa terbesar
bagi negara Indonesia dibandingkan dengan komoditi perkebunan lainnya.
Setiap tanaman memiliki morfologi yang berbeda-beda cirinya dan
fungsinya yang dijual. Sehingga pada budidaya tanaman kelapa sawit
memerlukan pengetahuan awal terlebih dahulu mulai dari morfologinya
sebelum melakukan budidaya. Tanaman kelapa sawit secara morfologi
terdiri atas bagian vegetatif (akar, batang, dan daun) dan bagian generatif
(bunga dan buah). Morfologi tanaman sawit adalah sabagai berikut:
a. Akar
Kelapa sawit termasuk tanaman yang mempunyai perakaran yang
dangkal (akar serabut), sehingga mudah mengalami cekaman kekeringan.
Adapun penyebab tanaman mengalami kekeringan diantaranya transpirasi
tinggi dan diikuti dengan ketersediaan air tanah yang terbatas pada saat
musim kemarau (Maryani,2012). Pada tanaman kelapa sawit yaitu akar
serabut, yang terdiri atas akar primer, sekunder, tersier, dan kuartieryang
mana setiap bagian tersebut memiliki fungsi.
Untuk akar primer dapat tumbuh vertikal (radicle) maupun mendatar
(adventitious roots) dan berdiameter sekitar 6-10 mm. Akar sekunder, yaitu
akar yang tumbuh dari akar primer, arah tumbuhnya mendatar maupun ke
bawah, berdiameter sekitar 2-4 mm. Sedangkan pada akar tertiera adalah
akar yang tumbuh dari akar sekunder. Arah tumbuhnya mendatar ke
samping, dengan panjang sekitar 0.7-1.2 mm. Dan pada akar kuartier yaitu
akar cabang dari akar tersier berdiameter 0,2-0,8 mm dan panjang sekitar
2cm. Akar tersier dan kuarter berada 2-2,5 m dari pangkal pokok atau luar
piringan dan berada di dekat pemukaan tanah. Pada akar tanaman kelapa
sawit tidak berbuku, kemudian ujungnya meruncing, dan berwarna putih
atau kekuningan.
b. Batang
Batang pada kelapa sawit memiliki ciri yaitu tidak memiliki kambium
dan umumnya tidak bercabang. Pada pertumbuhan awal setelah pafe muda
terjadi pembentukan batang yang melebar tanpa terjadi pemanjangan
internodia (Sunarko,2007). Batang tanaman kelapa sawit berfungsi sebagai
struktur pendukung tajuk (daun, bunga, dan buah). Kemudian fungsi
lainnya adalah sebagai sistem pembuluh yang mengangkut unsur hara dan
makanan bagi tanaman. Tinggi tanaman biasanya bertambah secara
optimal sekitar 35-75 cm/tahun sesuai dengan keadaan lingkungan jika
mendukung. Umur ekonomis tanaman sangat dipengaruhi oleh
pertambahan tinggi batang/tahun. Semakin rendah pertambahan tinggi
batang, semakin panjang umur ekonomis tanaman kelapa sawit.
c. Daun
Daun merupakan pusat produksi energi dan bahan makanan bagi
tanaman. Bentuk daun, jumlah daun dan susunannya sangat berpengaruhi
terhadap tangkap sinar mantahari (Vidanarko,2011). Pada daun tanaman
kelapa sawit memiliki ciri yaitu membentuk susunan daun majemuk,
bersirip genap, dan bertulang sejajar. Daun-daun kelapa sawit disanggah
oleh pelepah yang panjangnya kurang lebih 9 meter. Jumlah anak daun di
setiap pelepah sekitar 250-300 helai sesuai dengan jenis tanaman kelapa
sawit. Daun muda yang masih kuncup berwarna kuning pucat. Duduk
pelepah daun pada batang tersusun dalam satu susunan yang melingkari
batang dan membentuk spiral. Pohon kelapa sawit yang normal biasanya
memiliki sekitar 40-50 pelepah daun. Pertumbuhan pelepah daun pada
tanaman muda yang berumur 5-6 tahun mencapai 30-40 helai, sedangkan
pada tanaman yang lebih tua antara 20-25 helai. Semakin pendek pelepah
daun maka semakin banyak populasi kelapa sawit yang dapat ditanam
persatuan luas sehingga semakin tinggi prokdutivitas hasilnya per satuan
luas tanaman.
d. Bunga
Tanaman kelapa sawit akan mulai berbunga pada umur sekitar 12-14
bulan. Bunga tanaman kelapa sawit termasuk monocious yang berarti
bunga jantan dan betina terdapat pada satu pohon tetapi tidak pada tandan
yang sama. Tanaman kelapa sawit dapat menyerbuk silang ataupun
menyerbuk sendiri karena memiliki daun jantan dan betina. Biasanya
bunganya muncul dari ketiak daun. Setiap ketiak daun hanya menghasilkan
satu infloresen (bungan majemuk). Biasanya, beberapa bakal infloresen
melakukan gugur pada fase-fase awal perkembangannya sehinga pada
individu tanaman terlihat beberapa ketiak daun tidak menghasilkan
infloresen.
f. Biji
Setiap jenis kelapa sawit biasanya memiliki ukuran dan bobot biji
yang berbeda. Jenis biji dura panjangnya sekitar 2-3 cm dan bobot rata-rata
mencapai 4 gram, sehingga dalam 1 kg terdapat 250 biji. Biji dura deli
memiliki bobot 13 gram per biji, dan biji tenera afrika rata-rata memiliki
bobot 2 gram per biji. Biji kelapa sawit umumnya memiliki periode dorman
(masa non-aktif). Perkecambahannya dapat berlangsung lebih dari 6 bulan
dengan keberhasilan sekitar 50%. Agar perkecambahan dapat berlangsung
lebih cepat dan tingkat keberhasilannya lebih tinggi, biji kelapa sawit
memerlukan pre-treatment.
e. Buah
Buah kelapa sawit termasuk buah batu dengan ciri yang terdiri atas
tiga bagian, yaitu bagian luar (epicarpium) disebut kulit luar, lapisan tengah
(mesocarpium) atau disebut daging buah, mengandung minyak kelapa sawit
yang disebut Crude Palm Oil (CPO), dan lapisan dalam (endocarpium)
disebut inti, mengandung minyak inti yang disebut PKO atau Palm Kernel
Oil.
Proses pembentukan buah sejak pada saat penyerbukan sampai buah
matang kurang lebih 6 bulan. Dalam 1 tandan terdapat lebih dari 2000 buah
(Risza,1994). Biasanya buah ini yang digunakan untuk di olah menjadi
minyak nabati yang digunakan oelh manusia. Buah sawit (Elaeis guineensis)
adalah sumber dari kedua minyak sawit (diekstraksi dari buah kelapa) dan
minyak inti sawit (diekstrak dari biji buah) (Mukherjee,2009).
Cangkang kelapa sawit merupakan salah satu limbah pengolahan
minyak kelapa sawit yang cukup besar, yaitu mencapai 60% dari produksi
minyak. Tempurung kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai arang aktif.
Arang aktif dapat dibuat dengan melalui proses karbonisasi pada suhu
550oC selama kurang lebih tiga jam. Karakteristik arang aktif yang
dihasilkan melalui proses tersebut memenuhi SII, kecuali kadar abu. Tingkat
keaktifan arang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari daya serap iodnya sebesar
28,9% (Kurniati,2008).

DAFTAR PUSTAKA

Adriadi, A., dkk. 2012. Analisis Vegetasi Gulma pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elais
quineensis jacq.) di Kilangan, Muaro Bulian, Batang Hari. Jurnal Biologi
Universitas Andalas (J. Bio. UA.) 1 (2): 108-115.
Arsyad, A., dkk.2012. Pemupukan Kelapa Sawit Berdasarkan Potensi Produksi Untuk
Meningkatkan Hasil Tandan Buah Segar (Tbs) Pada Lahan Marginal Kumpeh.
Penelitian Universitas Jambi Seri Sains 14 (1): 29-36.

Frank, N. EG., el all.2013. Breeding oil palm (Elaeis guineensis jacq.) for fusarium
wilt tolerance: an overview of research programmes and seed production
potentialitiees in Cameroon. International Journal of Agricultural Sciences 3
(5) :513-520.

Krisnohardi, A. 2011. Analisis Pengembangan Lahan Gambut Untuk Tanaman Kelapa


Sawit Kabupaten Kubu Raya . J. Tek. Perkebunan & Psdl 1 (1):1-7.

Kurniati, E. 2008. Pemanfaatan Cangkang Kelapa Sawit Sebagai Arang Aktif. Ilmu
Teknik 8 (2): 96-103.

Lane, Lee.2012. Economic growth, climate change, confusion and rent seeking: The
case of palm oil. Journal of Oil Palm & The Environment 1 (3):1-8.

Maryani, A. T. 2012. Pengaruh Volume Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan Bibit


Kelapa Sawit Di Pembibitan Utama. Jurnal Agroekoteknologi 1(2): 64-75.

Mukherjee, S., dan Mitra, A. 2009. Health Effects of Palm Oil. J Hum Ecol 26 (3): 197-
203.

Raisawati, T. 2010. Monitoring Keragaan Bibit Kelapa Sawit di Pembibitan Utama.


Akta Agrosia 13 (1) : 29-34.

Risza, S. 1994. Kelapa Sawit, Upaya Peningkatan Produktivitas. Yogyakarta:


Kanisius.

Sunarko. 2007. Petunjuk Praktis Budi Daya & Pengolahan Kelapa Sawit.
Tanggerang: Agromedia Pustaka.
Syahputra, E. dkk. 2011. Weeds Assessment Di Perkebunan Kelapa Sawit Lahan
Gambut. J. Tek. Perkebunan & PSDL 1 (1): 37-42.

Vidanarko. 2011. Buku Pintar Kelapa Sawit. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Anda mungkin juga menyukai