Anda di halaman 1dari 20

Kemitraan dalam Promosi Kesehatan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengembangan kesehatan masyarakat di Indonesia yang telah dijalankan


selama ini masih memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara pendekatan
pembangunan kesehatan masyarakat dengan tanggapan masyarakat, manfaat yang
diperoleh masyarakat, dan partisipasi masyarakat yang diharapkan. Meskipun di
dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah ditegaskan
bahwa tujuan pembangunan kesehatan masyarakat salah satunya adalah
meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya.
Oleh karena itu pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki perhatian cukup
besar terhadap pembangunan kesehatan masyarakat termasuk perawat spesialis
komunitas perlu mencoba mencari terobosan yang kreatif agar program-program
tersebut dapat dilaksanakan secara optimal dan berkesinambungan.

Salah satu intervensi keperawatan komunitas di Indonesia yang belum


banyak digali adalah kemampuan perawat spesialis komunitas dalam membangun
jenjang kemitraan di masyarakat. Padahal, membina hubungan dan bekerja sama
dengan elemen lain dalam masyarakat merupakan salah satu pendekatan yang
memiliki pengaruh signifikan pada keberhasilan program pengembangan kesehatan
masyarakat (Kahan & Goodstadt, 2001). Pada bagian lain Ervin (2002) menegaskan
bahwa perawat spesialis komunitas memiliki tugas yang sangat penting untuk
membangun dan membina kemitraan dengan anggota masyarakat. Bahkan Ervin
mengatakan bahwa kemitraan merupakan tujuan utama dalam konsep masyarakat
sebagai sebuah sumber daya yang perlu dioptimalkan (community-as-resource),
dimana perawat spesialis komunitas harus memiliki keterampilan memahami dan
bekerja bersama anggota masyarakat dalam menciptakan perubahan di masyarakat.
B. Tujuan

Adapun tujuan pembelajaran dari kemitraan dalam promosi dan pendidikan


kesehatan yaitu :
1. Perawat dapat mengetahui pengertian dari kemitraan dalam pendidikan dan promosi
kesehatan.
2. Perawat dapat mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip kemitraan dalam
pendidikan dan promosi kesehatan di masyarakat..
3. Perawat dapat mengetahui dan menjelaskan model-model dalam kemitraan.
4. Perawat dapat mengetahui dan menerapkan kerangka berpikir dalam kemitraan.
BAB II
PEMBAHASAN

KEMITRAAN DALAM PROMOSI KESEHATAN

A. Pengertian Kemitraan

1. Adanya interaksi dua pihak atau lebih, dimana kedua belah pihak
merupakan mitra atau partner.
2. Penggabungan dari berbagai unsur untuk mencapai sesuatu sasaran/
tujuan yang tidak dapat sepenuhnya dicapai secara efektif dan efisien hanya oleh
salah satu unsur saja.
3. Hubungan kerjasama antara dua pihak atau lebih berdasarkan kesetaraan,
keterbukaan dan saling menguntungkan ( memberi manfaat ).
4. Upaya melibatkan berbagai komponen baik sektor, kelompok, masyarakat,
lembaga pemerintah atau non pemerintah untuk bekerja sama mencapai tujuan
bersama berdasarkan atas kesepakatan, prinsip dan peran masing-masing.
5. Suatu kesepakatan dimana seseorang, kelompok atau organisasiuntuk
bekerja sama mencapai tujuan, mengambil danmelaksanakan serta membagi tugas,
menanggung bersama baikyang berupa resiko maupun keuntungan, meninjau
ulang hubungan masing-masing secara teratur dan memperbaiki kembali
kesepakatan bila diperlukan
6. Adalah suatu bentuk ikatan bersama antara dua atau lebih pihakyang
bekerjasama untuk mencapai tujuan dengan cara berbagikewenangan dan tanggung
jawab dalam bidang kesehatan, salingmempercayai, berbagi pengelolaan, investasi
dan sumber dayauntuk program kesehatan, memperoleh keuntungan bersama dari
kegiatan yang dilakukan.

Indonesia sehat 2010 yang telah dicanangkan oleh departemen kesehatan,


mempunyai visi yang sangat ideal, yakni masyarakat Indonesia yang penduduknya
hidup dalam lingkunganan prilaku sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan
yang bermutu, adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi
tingginya. Untuk mewujudkan visi tersebut telah ditetapkan empat misi
pembangunan kesehatan yang harus dilaksanakan beriringan :
1. Mengerakkan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan
2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata
dan terjangkau
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan
masyarakat beserta lingkungannya.

Untuk merealisasi visi ini, jelas tidak dapat terwujud jika dibebankan pada
sektor kesehatan saja karena kesehatan merupakan dampak dari pembangunan
dari semua faktor pembangunan, oleh karena itu semua sektor harus saling bahu
membahu mewujudkan misi Indonesia Sehat 2010. memang Departemen
Kesehatan yang paling bertanggung jawab namun dalam mengimplementasi
kebijakan dan program, intervensi harus bersama sama dengan sektor lain baik
pemerintah maupun swasta. Dengan kata lain sektor kesehatan merupakan
pemrakarsa dalam menjalin kerjasama atau kemitraan ( partnership ) dengan sektor
terkait.

Kemitraan adalah upaya yang melibatkan berbagai sektor, kelompok


masyarakat, lembaga pemerintah maupun bukan pemerintah, untuk bekerjasama
dalam mencapai suatu tujuan ujian bersama berdasarkan kesepakatan prinsip dan
peran masing-masing. Dengan demikian untuk membangun kemitraan harus
memenuhi beberapa persyaratan yaitu persamaan perhatian, saling percaya dan
saling menghormati, harus saling menyadari pentingnya kemitraan, harus ada
kesepekatan misi , visi, tujuan dan nilai yang sama harus berpijak pada landasan
yang sama, kesediaan untuk berkorban.

B. Syarat Kemitraan
1. Kesamaan perhatian ( common interest )
Dalam membangun kemitraan,masing-masing anggota harusmerasa mempunyai
perhatian dan kepentingan bersama. Tanpaadanya perhatian dan kepentingan yang
sama terhadap suatumasalah niscaya kemitraan tidak akan terjadi. Sektor
kesehatan harus mampu menimbulkan perhatian terhadap masalah kesehatan bagi
sektor-sektor lain non kesehatan, dengan upaya-upaya informasi dan advokasi
secara intensif.
2. Saling mempercayai dan menghormati
Kepercayaan (trust) adalah modal dasar setiap relasi/hubungan antar
manusia, kesehatan harus mampu menimbulkan trust bagi partnernya
3. Saling menyadari pentingnya arti kemitraan
Arti penting dari kemitraan adalah mewujudkan kebersamaan
antar anggota untuk menghasilkan sesuatu yang menuju kearah
perbaikan kesehatan masyarakat pada khususnya, kesejahteraan masyarakat pada
umumnya. Penting dilakukan advokasi dan informasi
4. Kesepakatan Visi, misi, tujuan dan nilai
Visi, misi, tujuan dan nilai tentang kesehatan perlu disepakatibersama, dan akan
sangat memudahkan untuk timbulnya komitmen bersama untuk menanggulangi
masalah kesehatan bersama, hal ini harus meliputi semua tingkatan organisasi
sampai petugas
lapangan

C. Prinsip Kemitraan

1. Saling menguntungkan (mutual benefit)


Saling menguntungkan disini bukan hanya materi tetapi juga non materi, yaitu
dilihat dari kebersamaan atau sinergisme dalam mencapai tujuan
2. Pendekatan berorientasi hasil
Tindakan kemanusiaan yang efektif harus didasari pada realitas dan
berorientasi pada tindakan. Hal ini membutuhkan koordinasi yang berorientasi hasil
dan berbasis pada kemampuan efektif dan kapasitas operasional yang konkrit
3. Keterbukaan (transparansi)
Apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan m-amsainsging
anggota mitra harus diketahhui oleh anggota yang lain Transparansi dicapai melalui
dialog (pada tingkat yang setara) dengan menekankan konsultasi dan pembagian
informasi terlebih dahulu. Komunikasi dan transparansi, termasuk transparansi
finansial, membantu meningkatkan kepercayaan antar organisasi

4. Kesetaraan
Masing-masing pihak yang bermitra harus merasa duduk sama rendah dan
berdiri sama tinggi, tidak boleh satu anggota memaksakan kehendak kepada yang
lain. Kesetaraan membutuhkan rasa saling menghormati antar anggota kemitraan
tanpa melihat besaran dan kekuatan. Para peserta harus saling menghormati
mandat kewajiban dan kemandirian dari anggota yang lain serta
memahami keterbatasan dan komitmen yang dimiliki satu sama lain. Sikap saling
menghormati tidak menghalangi masing-masing organisasi untuk terlibat dalam
pertukaran pendapat yang konstruktif

5. Tanggung Jawab
Organisasi kemanusiaan memiliki tanggung jawab etis terhadap satu sama
lain dalam menempuh tugas-tugasnya secara bertanggung jawab dengan integritas
dan cara yang relevan dan tepat. Organisasi kemanusiaan harus meyakinkan bahwa
mereka hanya akan berkomitmen terhadap sesuatu kegiatan ketika mereka memang
memiliki alat, kompetensi, keahlian dan kapasitas untuk mewujudkan komitmen
tersebut. Pencegahan yang tegas dan jelas terhadap penyelewengan yang
dilakukan oleh para pekerja kemanusiaan harus menjadi usaha yang berkelanjutan

6. Saling Melengkapi
Keragaman dari komunitas kemanusiaan adalah sebuah aset bila dibangun
atas kelebihan-kelebihan komparatif dan saling melengkapi kontribusi yang satu
dengan yang lain. Kapasitas lokal adalah salah satu aset penting untuk ditingkatkan
dan menjadi dasar pengembangang. Ketika memungkinkan, organisasi-organisasi
kemanusiaan harus berjuang untuk menjadikan aset lokal sebagai bagian integral
dari tindakan tanggap darurat dimana hambatan budaya dan bahasa harus diatasi

D. Kerangka Berpikir Dalam Kemitraan

1. Penjajakan
Penting dilakukan penjajakan dengan calon mitra
2. Penyamaan persepsi
Perlu pertemuan awal untuk penyamaan persepsi
3. Pengaturan peran
Pengaturan peran harus dibicarakan dan disepakati bersama
4. Komunikasi intensif
Komunikasi antar mitra sangat diperlukan, agar apabila terdapat permasalahan di
lapangan dapat dilakukan penanganan dengan cepat
5. Melaksanakan kegiatan
Harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerjatertulis
6. Pemantauan dan penilaian
Perlu disepakati sejak awal tentang cara pemantauan dan penilaian.

E. Model Kemitraan

Terdapat lima model kemitraan yang cenderung dapat dipahami sebagai


sebuah ideologi kemitraan, sebab model tersebut merupakan azas dan nafas kita
dalam membangun kemitraan dengan anggota masyarakat lainnya. Model kemitraan
tersebut antara lain:
1. Kepemimpinan (manageralism) (Rees, 2005),
2. Pluralisme baru (new-pluralism),
3. Radikalisme berorientasi pada negara (state-oriented radicalism),
4. Kewirausahaan (entrepreneurialism) dan
5. Membangun gerakan (movement-building) (Batsler dan Randall, 1992).

Berkaitan dengan praktik keperawatan komunitas di atas, maka model


kemitraan yang sesuai untuk mengorganisasi elemen masyarakat dalam upaya
pengembangan derajat kesehatan masyarakat dalam jangka panjang adalah model
kewirausahaan(entrepreneurialism). Model kewirausahaan memiliki dua prinsip
utama, yaitu prinsip otonomi (autonomy) kemudian diterjemahkan sebagai upaya
advokasi masyarakat dan prinsip penentuan nasib sendiri (self-determination) yang
selanjutnya diterjemahkan sebagai prinsip kewirausahaan.

Menurut penulis model kewirausahaan memiliki pengaruh yang strategis pada


pengembangan model praktik keperawatan komunitas dan model kemitraan dalam
pengorganisasian pengembangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Praktik
keperawatan mandiri atau kelompok hubungannya dengan anggota masyarakat
dapat dipandang sebagai sebuah institusi yang memiliki dua misi sekaligus, yaitu
sebagai institusi ekonomi dan institusi yang dapat memberikan pembelaan pada
kepentingan masyarakat terutama berkaitan dengan azas keadilan sosial dan azas
pemerataan bidang kesehatan. Oleh karenanya praktik keperawatan sebagai
institusi sangat terpengaruh dengan dinamika perkembangan masyarakat (William,
2004; Korsching & Allen, 2004), dan perkembangan kemasyarakatan tentunya juga
akan mempengaruhi bentuk dan konteks kemitraan yang berpeluang dikembangkan
(Robinson, 2005) sesuai dengan slogan National Council for Voluntary Organizations
(NCVO) yang berbunyi :New Times, New Challenges (Batsler dan Randall, 1992).

Pada bagian lain, saat ini mulai terlihat kecenderungan adanya perubahan pola
permintaan pelayanan kesehatan pada golongan masyarakat tertentu dari
pelayanan kesehatan tradisional di rumah sakit beralih ke pelayanan keperawatan di
rumah disebabkan karena terjadinya peningkatan pembiayaan kesehatan yang
cukup besar dibanding sebelumnya (Depkes RI, 2004a, 2004b; Sharkey, 2000;
MacAdam, 2000). Sedangkan secara filosofis, saat ini telah terjadi perubahan
paradigma sakit yang menitikberatkan pada upaya kuratif ke arah paradigma
sehat yang melihat penyakit dan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai fokus
pelayanan (Cohen, 1996). Sehingga situasi tersebut dapat dijadikan peluang untuk
mengembangkan praktik keperawatan komunitas beserta pendekatan kemitraan
yang sesuai di Indonesia.

1. Pengembangan Kesehatan Masyarakat

Nies dan Mc. Ewan (2001) mendeskripsikan pengembangan kesehatan


masyarakat (community health development) sebagai pendekatan dalam
pengorganisasian masyarakat yang mengkombinasikan konsep, tujuan, dan proses
kesehatan masyarakat dan pembangunan masyarakat. Dalam pengembangan
kesehatan masyarakat, perawat spesialis komunitas mengidentifikasikan kebutuhan
masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan kemudian mengembangkan,
mendekatkan, dan mengevaluasi tujuan-tujuan pembangunan kesehatan melalui
kemitraan dengan profesi terkait lainnya (Nies & Mc.Ewan, 2001; CHNAC, 2003;
Diem & Moyer, 2004; Falk-Rafael, et al.,1999).

Bidang tugas perawat spesialis komunitas tidak bisa terlepas dari kelompok
masyarakat sebagai klien termasuk sub-sub sistem yang terdapat di dalamnya,
yaitu: individu, keluarga, dan kelompok khusus. Menurut Nies dan McEwan (2001),
perawat spesialis komunitas dalam melakukan upaya peningkatan, perlindungan
dan pemulihan status kesehatan masyarakat dapat menggunakan alternatif model
pengorganisasian masyarakat, yaitu: perencanaan sosial, aksi sosial atau
pengembangan masyarakat. Berkaitan dengan pengembangan kesehatan
masyarakat yang relevan, maka penulis mencoba menggunakan pendekatan
pengorganisasian masyarakat dengan model pengembangan
masyarakat (community development).

Tujuan dari penggunaan model pengembangan masyarakat adalah :


1. agar individu dan kelompok-kelompok di masyarakat dapat berperan-serta aktif
dalam setiap tahapan proses keperawatan, dan
2. perubahan perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan) dan kemandirian masyarakat
yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status
kesehatannya di masa mendatang (Nies & McEwan, 2001; Green & Kreuter, 1991).

Menurut Mapanga dan Mapanga (2004) tujuan dari proses keperawatan


komunitas adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian fungsional klien /
komunitas melalui pengembangan kognisi dan kemampuan merawat dirinya sendiri.
Pengembangan kognisi dan kemampuan masyarakat difokuskan pada dayaguna
aktifitas kehidupan, pencapaian tujuan, perawatan mandiri, dan adaptasi masyarakat
terhadap permasalahan kesehatan sehingga akan berdampak pada peningkatan
partisipasi aktif masyarakat.

Perawat spesialis komunitas perlu membangun dukungan, kolaborasi, dan


koalisi sebagai suatu mekanisme peningkatan peran serta aktif masyarakat dalam
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi implementasi upaya
kesehatan masyarakat. Anderson dan McFarlane (2000) dalam hal ini
mengembangkan model keperawatan komunitas yang memandang masyarakat
sebagai mitra (community as partner model). Fokus dalam model tersebut
menggambarkan dua prinsip pendekatan utama keperawatan komunitas, yaitu (1)
lingkaran pengkajian masyarakat pada puncak model yang menekankan anggota
masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan kesehatan, dan (2) proses
keperawatan.

Asumsi dasar mekanisme kolaborasi perawat spesialis komunitas dengan


masyarakat tersebut adalah hubungan kemitraan yang dibangun memiliki dua
manfaat sekaligus yaitu meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dan keberhasilan
program kesehatan masyarakat (Kreuter, Lezin, & Young, 2000). Mengikutsertakan
masyarakat dan partisipasi aktif mereka dalam pembangunan kesehatan dapat
meningkatkan dukungan dan penerimaan terhadap kolaborasi profesi kesehatan
dengan masyarakat (Schlaff, 1991; Sienkiewicz, 2004). Dukungan dan penerimaan
tersebut dapat diwujudkan dengan meningkatnya sumber daya masyarakat yang
dapat dimanfaatkan, meningkatnya kredibilitas program kesehatan, serta
keberlanjutan koalisi perawat spesialis komunitas-masyarakat (Bracht, 1990).

2. Model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan


masyarakat

Menurut Hitchcock, Scubert, dan Thomas (1999) fokus kegiatan promosi


kesehatan adalah konsep pemberdayaan(empowerment) dan
kemitraan (partnership). Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana
sebagai proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi
transformatif kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan, pemberdayaan,
kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru.
Sedangkan kemitraan memiliki definisi hubungan atau kerja sama antara dua pihak
atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan atau
memberikan manfaat (Depkes RI, 2005). Partisipasi klien/masyarakat
dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif diri terhadap segala kegiatan
yang memiliki kontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan (Mapanga
& Mapanga, 2004)

Pemberdayaan, kemitraan dan partisipasi memiliki inter-relasi yang kuat dan


mendasar. Perawat spesialis komunitas ketika menjalin suatu kemitraan dengan
masyarakat maka ia juga harus memberikan dorongan kepada masyarakat.
Kemitraan yang dijalin memiliki prinsip bekerja bersama dengan masyarakat bukan
bekerja untuk masyarakat, oleh karena itu perawat spesialis komunitas perlu
memberikan dorongan atau pemberdayaan kepada masyarakat agar muncul
partisipasi aktif masyarakat (Yoo et. al, 2004). Membangun kesehatan masyarakat
tidak terlepas dari upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas, kepemimpinan dan
partisipasi masyarakat (Nies & McEwan, 2001), namun perawat spesialis komunitas
perlu membangun dan membina jejaring kemitraan dengan pihak-pihak yang terkait
(Robinson, 2005), misalnya: profesi kesehatan lainnya, penyelenggara pemeliharaan
kesehatan, Puskesmas, donatur / sponsor, sektor terkait, organisasi masyarakat,
dan tokoh masyarakat.

Berdasarkan hubungan elemen-elemen di atas, maka penulis mencoba untuk


merumuskan sebuah model kemitraan keperawatan komunitas dalam
pengembangan kesehatan masyarakat yang dijiwai oleh ideologi
entrepreneurialisme. Model kemitraan keperawatan komunitas dalam
pengembangan kesehatan masyarakat merupakan suatu paradigma yang
memperlihatkan hubungan antara beberapa konsep penting, tujuan dan proses
dalam tindakan pengorganisasian masyarakat yang difokuskan pada upaya
peningkatan kesehatan (Hickman, 1995 dalam Nies & McEwan, 2001). Konsep
utama dalam model tersebut adalah kemitraan, kesehatan masyarakat, nilai dan
kepercayaan yang dianut, pengetahuan, partisipasi, kapasitas dan kepemimpinan
yang didasarkan pada pelaksanaan prinsip-prinsip kewirausahaan dan advokasi
masyarakat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kemitraan dapat disimpulkan berhasil jika banyaknya mitra yang terlibat,


sumberdaya (3M) tersedia (input), pertemuan-pertemuan, lokakarya, kesepakatan
bersama, seminat (proses), terbentuknya jaringan kerja, tersusunnya program dan
pelaksanaan kegiatan bersama (output), membaiknya indikator derajat kesehatan
(outcome).

Fokus praktik keperawatan komunitas adalah individu, keluarga, kelompok


khusus dan masyarakat. Pengorganisasikan komponen masyarakat yang dilakukan
oleh perawat spesialis komunitas dalam upaya peningkatan, perlindungan dan
pemulihan status kesehatan masyarakat dapat menggunakan pendekatan
pengembangan masyarakat (community development). Intervensi keperawatan
komunitas yang paling penting adalah membangun kolaborasi dan kemitraan
bersama anggota masyarakat dan komponen masyarakat lainnya, karena dengan
terbentuknya kemitraan yang saling menguntungkan dapat mempercepat terciptanya
masyarakat yang sehat.
Model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan
kesehatan masyarakat merupakan paradigma perawat spesialis komunitas yang
relevan dengan situasi dan kondisi profesi perawat di Indonesia. Model ini memiliki
ideologi kewirausahaan yang memiliki dua prinsip penting, yaitu kewirausahaan dan
advokasi pada masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang sesuai
dengan azas keadilan sosial dan azas pemerataan.

Dalam tulisan ini telah disajikan analisis mengenai kemanfaatan model


kemitraan keperawatan komunitas terhadap: keperawatan spesialis komunitas,
sistem pendidikan keperawatan komunitas, regulasi, sistem pelayanan kesehatan,
dan masyarakat serta implikasi model terhadap pengembangan kebijakan
keperawatan komunitas dan promosi kesehatan di Indonesia.

B. Saran-Saran

1. Dapat dikembangkannya model praktik keperawatan komunitas yang terintegrasi


antara praktik keperawatan dengan basis riset ilmiah.
2. Mengenalkan model praktik keperawatan komunitas.
3. Meningkatkan proses berpikir kritis dan pengorganisasian pengembangan kesehatan
masyarakat
4. Meningkatkan jejaring dan kemitraan dengan masyarakat dan sektor terkait
5. Meningkatkan legalitas praktik keperawatan spesialis komunitas
6. Mendorong praktik keperawatan komunitas yang profesional
DAFTAR PUSTAKA

Anonym, 2009. Model Kemitraan Keperawatan Komunitas


DalamPengembangan Kesehatan Masyarakat. Dinas Kesehatan kabupaten
Ngawi (online).( http://www.dinkesngawi.net/ di akses 2 Oktober 2009).

Anonym. 2007. Prinsip-prinsip Kemitraan. Sebuah Pernyataan


Komitmen . Global Humanitarian Platform (online).
(www.globalhumanitarianplatform.org di akses 2 Oktober 2009)

KONSEP ADVOKASI DALAM PROMOSI KESEHATAN

A. PENGERTIAN
Kurang berhasil atau kegagalan suatu program kesehatan, sering di sebabkan oleh
karena kurang atau tidak adanya dukungan dari para pembuat keputusan, baik di tingktak
nasional maupun lokal (provinsi, kabupaten, atau kecamatan). Akibat kurangnya dukungan
itu, antara lain rendahnya alokasi anggaran untuk program kesehatan, kurangnya sarana dan
prasarana, tidak adanya kebijakan yang menguntungkan bagi kesehatan dan sebagainya.
Untuk memperoleh atau meningkatkan dukungan atau komitmen dari para pembuat
kebijakan, termasuk para pejabat lintas sektoral diperlukan upaya disebut advokasi.
Advokasi secara harfiah berarti pembelaan, sokongan atau bantuan terhadap
seseorang yang mempunyai permasalahan. Istilah advokasi mula-mula digunakan dibidang
hukum atau pengadilan. Sesorang yang sedang tersangkut perkara atau pelanggaran hukum,
agar memperoleh keadilan yang sesungguh-sungguhnya. Mengacu kepada istilah advokasi
dibidang hukum tersebut, maka advokasi dalam kesehatan diartikan upaya untuk memperoleh
pembelaan, bantuan, atau dukungan terhadap program kesehatan.
Menurut Wesbter Encyclopedia advokasi adalah "act of pleading for supporting or
recommending active espousal" atau tindakan pembelaan, dukungan, atau rekomendasi :
dukungan aktif.
Menurut ahli retorika ( Foss and Foss, et al : 1980) advokasi diartikan sebagai upaya
persuasi yang mencakup kegiatan : penyadaran, rasionalisasi, argumentasi dan rekomendasi
tindak lanjut mengenai sesuatu hal.
Menurut Hopkins (1990) advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kebijakan
publik melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif. Dari beberapa catatan
tersebut dapat disimpulkan secara ringkas, bahwa advokasi adalah upaya atau proses untuk
memperoleh komitmen yang dilakukan secara persuasif dengan menggunakan informasi yang
akurat dan tepat.

B. PROSES DAN ARAH ADVOKASI


Proses advocacy(advokasi) di bidang kesehatan mulai digunakan dalam program
kesehatan masyarakat pertama kali oleh WHO pada tahun 1984, sebagai salah satu strategi
global Pendidikan atau promosi kesehatan.
WHO merumuskan, bahwa dalam mewujudkan visi dan misi Promosi Kesehatan
secara efektif menggunakan 3 strategi pokok, yakni: 1. advocacy(advokasi), 2. Social
Support ( dukungan sosial) dan 3. Empowerment(pemberdayaan masyarakat).
Strategi global ini dimaksudkan bahwa, dalam pelaksanaan suatu program kesehatan
didalam masyarakat, maka langkah yang di ambil adalah:
1. Melakukan pendekatan / lobi dengan para pembuat keputusan setempat, agar mereka ini
menerima dan "commited". Dan akhirnya mereka bersedia mengeluarkan kebijakan, atau
keputusan-keputusan untuk membantu atau mendukung program tersebut. Kegiatan inilah
yang disebut advokasi. Dalam kesehatan para pembuat keputusan baik di tingkat pusat
maupun daerah ini disebut sasaran tersier.
2. Langkah selanjutnya adalah mekakukan pendekatan dan pelatihan kepada tokoh masyarakat
formal maupun informal.
3. Selanjutnya petugas kesehatan bersama-sama tokoh masyarakat tersebut melakukan kegiatan
penyuluhan kesehatan, konseling, dan sebagainya, melalui berbagai kesempatan dan media.
Advokasi di artikan sebagai upaya pendekatan terhadap orang lain yang dianggap
mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan.
Oleh karena itu, orang yang menjadi sasaran atau target advokasi ini para pimpinan suatu
organisasi atau institusi kerja baik di lingkungan pemerintah maupun swasta dan organisasi
kemasyarakatan di berbagai jenjang administrasi pemerintahan ( tingkat pusat, provinsi,
kabupaten, kecamatan dan kelurahan)
Dalam advokasi peran komunikasi sangat penting sebab dalam advokasi merupakan
aplikasi dari komunikasi interpersonal, maupun massa yang di tujukan kepada para penentu
kebijakan (policy makers) atau para pembuat keputusan ( decission makers)pada semua
tingkat dan tatanan sosial.

ARUS KOMUNIKASI ADVOKASI KESEHATAN


Arus komunikasi advokasi Kesehatan. Komunikasi dalam rangka advokasi kesehatan
memerlukan kiat khusus agar komunikasi tersebut efektif antara lain sebagai berikut:
1. Jelas (clear): pesan yang disampaikan kepada sasaran harus disusun sedemikian rupa
sehingga jelas, baik isinya maupun bahasa yang digunakan.
2. Benar (correct): apa yg disampaikan (pesan) harus didasarkan kepada kebenaran. Pesan yang
benar adalah pesan yang disertai fakta atau data empiris.
3. Kongkret (concrete): apabila petugas kesehatan dalam advokasi mengajukan usulan program
yang dimintakan dukungan dari para pejabat terkait, maka harus dirumuskan dalam bentuk
yang kongkrit (bukan kira-kira) atau dalam bentuk operasional.
4. Lengkap (complete): timbulnya kesalahpahaman atau mis komunikasi adalah karena belum
lengkapnya pesan yang disampaikan kepada orang lain.
5. Ringkas (concise) : pesan komunikasi harus lengkap, tetapi padat, tidak bertele-tele.
6. Meyakinkan ( convince) : agar komunikasi advokasi kita di terima oleh para pejabat, maka
harus meyakinkan, agar komunikasi advokasi kita diterima
7. Kontekstual ( contextual): advokasi kesehatan hendaknya bersifat kontekstual. Artinya pesan
atau program yang akan diadvokasi harus diletakkan atau di kaitkan dengan masalah
pembangunan daerah bersangkutan. Pesan-pesan atau program-program kesehatan apapun
harus dikaitkan dengan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat pemerintah
setempat.
8. Berani (courage): seorang petugas kesehatan yang akan melakukan advokasi kepada para
pejabat, harus mempunyai keberanian berargumentasi dan berdiskusi dengan para pejabat
yang bersangkutan.
9. Hati-hati ( contious): meskipun berani, tetapi harus hati-hati dan tidak boleh keluar dari etika
berkomunikasi dengan para pejabat, hindari sikap "menggurui" para pejabat yang
bersangkutan.
10. Sopan (courteous): disamping hati-hati, advokator harus bersikap sopan, baik sopan dalam
tutur kata maupun penampilan fisik, termasuk cara berpakaian.

Advokasi adalah suatu kegiatan untuk memperoleh komitmen politik, dukungan


kebijakan, penerimaan sosial, dan dukungan sistem dari para pembuat keputusan atau pejabat
pembuat kebijakan (WHO, 1989). Oleh karena itu, tujuan utama advokasi adalah
memberikan dorongan dan dukungan dikeluarkannya kebijakan-kebijakan publik yang
berkaitan dengan program-program kesehatan.

C. PRINSIP DASAR ADVOKASI


Advokasi adalah kombinasi antara pendekatan atau kegiatan individu dan sosial, untuk
memperoleh komitmen politik, dukungan kebijakan, penerimaan sosial, dan adanya sistem
yang mendukung terhadap suatu program kesehatan. Untuk mencapai tujuan advokasi ini,
dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan atau pendekatan. Untuk melakukan kegiatan
advokasi yang efektif memerlukan argumen yang kuat. Oleh sebab itu, prinsip-prinsip
advokasi ini akan membahas tentang tujuan, kegiatan, dan argumentasi-argumentasi
advokasi.

Dari batasan advokasi tersebut, secara inklusif terkandung tujuan-tujuan advokasi,


yakni: political commitment, policy support, social aceptance dansistem support.
a. Komitmen politik (political comitment)
Komitmen para pembuat keputusan atau alat penentu kebijakan di tingkat dan disektor
manapun terhadap permasalahan kesehatan tersebut. Pembangunan nasional tidak terlepas
dari pengaruh kekuasaaan politik yang sedang berjal.
b. Dukungan kebijakan (policy support)
Dukungan kongkrit yang diberikan oleh para pemimpin institusi disemua tingkat dan disemua
sektor yang terkait dalam rangka mewujudkan pembangunan di sektor kesehatan. Dukungan
politik tidak akan berarti tanpa dilanjutkan dengan dikeluarkannya kebijakan kongkret dari
para pembuat keputusan tersebut.
c. Penerimaan Sosial ( social acceptance)
Penerimaan sosial, artinya diterimanya suatu program oleh masyarakat. Suatu program
kesehatan apapun hendaknya memperoleh dukungan dari sasaran utama program tersebut,
yakni masyarakat, terutama tokoh masyarakat.
d. Dukungan Sistem (System Support)
Adanya sistem atau organisasi kerja yang memasukkan uinit pelayanan atau program
kesehatan dalam suatu institusi atau sektor pembangunan adalah mengindikasikan adanya
dukungan sistem

D. METODE DAN TEHNIK ADVOKASI


Seperti yang diuraikan di atas, bahwa tujuan utama advokasi di sektor kesehatan
adalah memperoleh komitmen dan dukungan kebijakan para penentu kebijakan atau pembuat
keputusan di segala tingkat.
Metode atau cara dan tehnik advokasi untuk mencapai tujuan itu semua ada
bermacam-macam, antara lain:
1. Lobi Politik (political lobying)
Lobi adalah bincang-bincangsecara informal dengan para pejabat untuk menginformasikan
dan membahas masalah dan program kesehatan yang dilaksanakan
2. Serminar / Presentasi
Seminar / presentasi yang di hadiri oleh para pejabat lintas program dan sektoral. Petugas
kesehatan menyajikan maslah kesehatan diwilayah kerjanya, lengkap dengan data dan
ilustrasi yang menarik, serta rencana program pemecahannya. Kemudian dibahas bersama-
sama, yang akhirnya dharafkan memproleh komitmen dan dukungan terhadap program yang
akan dilaksanakan tersebut.
3. Media
Advokasi media (media advocacy)adalah melakukan kegiatan advokasi dengan
mengumpulkan media, khususnya media massa.
4. Perkumpulan (asosiasi) Peminat
Asosiasi atau perkumpulan orang-orang yang mempunyai minat atau interes terhadap
permaslahan tertentu atau perkumpulan profesi, juga merupakan bentuk advokasi.

E. ARGUMENTASI UNTUK ADVOKASI


Secara sederhana, advokasi adlah kegiatan untuk meyakinkan para penentu kebijakan
atau para pembuat keputusan sedemikian rupa sehingga mereka memberikan dukungan baik
kebijakan, fasilitas dan dana terhadap program yang ditawakan.
Meyakinkan para pejabat terhadap pentingnya program kesehatan tidaklah mudah,
memerlukan argumentasi argumentasi yang kuat. Dengan kata lain, berhasil tidaknya
advokasi bergantung pada kuat atau tidaknya kita menyiapkan argumentasi. Dibawah ini ada
beberapa hal yang dapat memperkuat argumen dalam melakukan kegiatan advokasi, antara
lain:
a. Kredibilitas (Creadible)
Kredibilitas (Creadible) adalah suatu sifat pada seseorang atau institusi yang menyebabkan
orang atau pihak lain mempercayainya atau meyakininya.
Orang yang akan melalukan advokasi (petugas kesehatan) harus Creadible. Seseorang
itu Creadible apabila mempunyai 3 sifat, yakni:
1) Capability (kapabilitas), yakni mempunyai kemampuan tentang bidangnya.
2) Autority ( otoritas), yakni adanya otoritas atau wewenang yang dimiliki seseorang
berdasarkan aturan organisasi yang bersangutan.
3) Integrity (integritas), adalah komitmen seseorang tehadap jabatan atau tanggung jawab yang
diberikan kepadanya.
b. Layak (Feasible)
Artinya program yang diajukan tersebut baik secara tehnik, politik, maupun ekonomi
dimungkinkan atau layak. Secara tehnik layak (feasible) artinya program tersebut dapat
dilaksanakan. Artinya dari segi petugas yang akan melaksanakan program tersebut,
mempunyai kemampuan yang baik atau cukup.

c. Relevan (Relevant)
Artinya program yang yang diajukan tersebut tidak mencakup 2 kriteria, yakni : memenuhi
kebutuhan masyarakat dan benar-benar memecahkan masalah yang dirasakan masyarakat.
d. Penting dan Mendesak (Urgent)
Artinya program yang diajukan harus mempunyai urgensi yang tinggi: harus segera
dilaksanakan dan kalau tidak segera dilaksanakan akan menimbulkan masalah

F. UNSUR DASAR ADVOKASI


Ada 8 unsur dasar advokasi yaitu:
1. Penetapan tujuan advokasi
2. Pemanfaatan data riset untuk advokasi
3. Identifikasi khalayak sasaran advokasi
4. Pengembangan dan penyampaian pesan advokasi
5. Membangun koalisi
6. Membuat presentasi yang persuasif
7. Penggalangan dana untuk advokasi
8. Evaluasi upayaadvokasi

G. PENDEKATAN UTAMA ADVOKASI


Ada 5 pendekatan utama dalam advokasi (UNFPA dan BKKBN 2002) yaitu:
1. Melibatkan para pemimpin
Para pembuat undang-undang, mereka yang terlibat dalam penyusunan hukum, peraturan
maupun pemimpin politik, yaitu mereka yang menetapkan kebijakan publik sangat
berpengaruh dalam menciptakan perubahan yang terkait dengan masalah sosial termasuk
kesehatan dan kependudukan. Oleh karena itu sangat penting melibatkan meraka
semaksimum mungkin dalam isu yang akan diadvokasikan.
2. Bekerja dengan media massa
Media massa sangat penting berperan dalam membentuk opini publik. Media juga sangat
kuat dalam mempengaruhi persepsi publik atas isu atau masalah tertentu. Mengenal,
membangun dan menjaga kemitraan dengan media massa sangat penting dalam proses
advokasi.
3. Membangun kemitraan
Dalam upaya advokasi sangat penting dilakukan upaya jaringan, kemitraan yang
berkelanjutan dengan individu, organisasi-organisasi dan sektor lain yang bergerak dalam isu
yang sama. Kemitraan ini dibentuk oleh individu, kelompok yang bekerja sama yang
bertujuan untuk mencapai tujuan umum yang sama/hampir sama.
4. Memobilisasi massa
Memobilisasi massa merupakam suatu proses mengorganisasikan individu yang telah
termotivasi ke dalam kelompok-kelompok atau mengorganisasikan kelompok yang sudah
ada. Dengan mobilisasi dimaksudkan agar termotivasi individu dapat diubah menjadi
tindakan kolektif
5. Membangun kapasitas
Membangu kapasitas disini di maksudkan melembagakan kemampuan untuk
mengembangakan dan mengelola program yang komprehensif dan membangun critical
mass pendukung yang memiliki keterampilan advokasi. Kelompok ini dapat diidentifikasi
dari LSM tertentu, kelompok profesi serta kelompok lain.

H. LANGKAH-LANGKAH ADVOKASI
Advokasi adalah proses atau kegiatan yang hasil akhirnya adalah diperolehnya
dukungan dari para pembuat keputusan terhadap program kesehatan yang ditawarkan atau
diusulkan. Oleh sebab itu, proses ini antara lain melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
Persiapan advokasi yang paling penting adalah menyusun bahan (materi) atau instrumen
advokasi.
2. Tahap pelaksanaan
Pelaksanaan advokasi sangat tergantung dari metode atau cara advokasi. Cara advokasi yang
sering digunakan adalah lobbi dan seminar atau presentasi.
3. Tahap penilaian
Seperti yang disebutkan diatas bahwa hasil advokasi yang diharafkan adalah adanya
dukungan dari pembuat keputusan, baik dalam bentuk perangkat lunak (software)maupun
perangkat keras (hardware). Oleh sebab itu, untuk menilai atau mengevaluasi keberhasilan
advokasi dapat menggunakan indikator-indikator seperti dibawah ini:
a. Software (piranti lunak): misalnya dikeluarkannya:
- Undang-undang
- Peraturan pemerintah
- Peraturan pemerintah daerah (perda)
- Keputusan menteri
- Surat keputusan gubernur/ bupati
- Nota kesepahaman(MOU), dan sebagainya
b. Hardware (piranti keras): misalnya:
- Meningkatnya anggaran kesehatan dalam APBN atau APBD
- Meningkatnya anggaran untuk satu program yang di prioritaskan
- Adanya bantuan peralatan, sarana atau prasarana program dan sebagainya.
KEMITRAAN DALAM PROMOSI
KESEHATAN
Indonesia sehat 2010 yang telah dicanangkan oleh departemen kesehatan,
mempunyai visi yang sangat ideal, yakni masyarakat Indonesia yang penduduknya hidup
dalam lingkunganan prilaku sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu,
adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi tingginya.

Untuk mewujudkan visi tersebut telah ditetapkan empat misi pembangunan kesehatan yang

harus dilaksanakan beriringan :


1. Mengerakkan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan
2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu,
merata dan terjangkau
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan
masyarakat beserta lingkungannya.
Untuk merealisasi visi ini, jelas tidak dapat terwujud jika dibebankan pada
sektor kesehatan saja karena kesehatan merupakan dampak dari pembangunan
dai semua semua faktor pembangunan, oleh karena itu semua sektor harus
saling bahu membahu mewujududkan misi indonesia sehat 2010. memang
departemen kesehatan yang paling bertanggung jawab namun dalam
mengiplementasi kebijakan dan program, intervensi harus bersama sama
dengan sektor lain baik pemerintah maupun swasta. Dengan kata lain sektor
kesehatan merupakan pemrakarsa dalam menjalin kerjasama atau
kemitraan ( partnership ) dengan sektor terkait
Kemitraan adalah upaya yang melibatkan berbagai sektor, kelompok
masyarakat, lembaga pemerintah maupun bukan pemerintah, untuk
bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan bersama berdasarkan kesepakatan
prinsip dan peran masing-masing.dengan demikian untuk membangun
kemitraan harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu persamaan perhatian,
saling percaya dan saling menghormati, harus saling menyadari pentingnya
kemitraan, harus ada kesepakatan misi, visi, tujuan dan nilai yang sama, harus
berpijak padalandasan yang sama, kesediaan untuk berkorban
Kemitraan dapat disimpulkan berhasil jika banyaknya mitra yang terlibat,
sumberdaya (3M) tersedia ( input ), pertemuan-pertemuan, lokakarya,
kesepakatan bersama,seminat ( proses ), terbentuknya jaringan kerja,
tersusunnya program dan pelaksanaan kegiatan bersama ( output ),
membaiknya indikator derajat kesehatan ( outcome )