Anda di halaman 1dari 14

Nama: Harry Agustian

NIM: 145020301111009

Reformasi Akuntansi Pemerintahan di Indonesia


Di Indonesia, akuntansi pemerintahan secara historis belum banyak berkembang
sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945. Menurut catatan sejarah, produk akuntansi
pemerintahan Indonesia pertama adalah neraca kekayaan negara yang dikeluarkan
pada tahun 1948. Bentuk akuntabilitas keuangan ini masih dalam bahasa dan mata
uang Belanda. Mulai akhir tahun 2003, barulah akuntansi pemerintahan
mendapatkan perhatian dan dasar hukum yang menggantikan produk Belanda
tersebut yaitu UU No 17 tahun 2003. UU No.17 th 2003 tentang keuangan negara
menjadi pijakan penting perkembangan akuntansi pemerintahan di Indonesia. UU
keuangan negara tersebut diikuti pula dengan UU No.1 th 2004 tentang
Perbendaharan Negara dan UU No.15 th 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan
dan Tanggung jawab Keuangan Negara. Dengan ketiga undang-undang tersebut,
tuntutan akan akuntansi pemerintahan semakin nyata.
Sebelum UU No. 17 th 2003, pengelolaan keuangan negara dilakukan dengan
pencatatan tunggal (single entry), dengan menggunakan Cash basis. Akuntansi
pemerintahan pada saat itu, sangat sederhana (simple), buku-buku yang digunakan
anatara lain buku kas umum (BKU), buku kas tunai, buku Bank, buku pengawasan
dana UYHD (Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan), buku pengawasan kredit
anggaran per mata anggaran (MAK), buku panjar (porsekot dan buku pungutan dan
penyetoran pajak. Laporan yang dibuat sangat sederhana, seperti misalnya Laporan
Surplus/Defisit, Laporan keadaan Kas (LKK) dan Laporan Keadaan Kredit Anggaran
(LKKA).
Akuntansi berbasis kas penerapannya sedehana dan mudah dipahami. Sehingga
tidak memerlukan waktu lama untuk membuatnya dan SDM yang mengerjakannya
juga tidak harus professional. Namun akuntansi berbasis kas mempunyai beberapa
kekurangan antara lain, kurang informatif karena hanya berisikan informasi tentang
penerimaan, pengeluaran, dan saldo kas, dan tidak memberikan informasi tentang
aset dan kewajiban. Mestinya sebagai lembaga Negara yang mengelola keuangan
negara, pemerintah mestinya wajib menyajikan asset yang dimiliki oleh pemerintah,
atau neraca. Sedangkan neraca hanya dapat dibuat dengan akuntansi berbasis
akrual.
Guna meminimalisir kelemahan akuntansi berbasis kas tersebut dan agar keuangan
negara dapat disajikan dengan lebih informatif, maka pemerintah mengeluarkan
Undang- Undang No 17 tahun 2003. UU ini mewajibkan penerapan akuntansi
berbasis akrual pada setiap instansi pemerintahan, baik pemerintah pusat maupun
pemerintahan daerah. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 36 ayat (1) yang berbunyi
sebagai berikut Pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis
akrual dilaksanakan selambat-lambatnya dalam 5 (lima) tahun. Sehingga dalam
jangka waktu lima tahun sejak terbitnya UU tersebut pemerintah harus telah mulai
menggunakan akuntansi pemerintahan berbasis akrual.
Adapun dasar hukum akuntansi pemerintah yaitu UU Nomor 1 Tahun 2004 pasal 51
yaitu:
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

1. Menteri keuangan menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan,


aset, utang, dan ekuitas dana, termasuk transaksi pembiayaan dan
perhitungannya
2. Menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD selaku pengguna anggaran
menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang dan
ekuitas dana, temasuk transaksi pendapatan dan belanja, yang berada dalam
tanggung jawabnya.
3. Akuntansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) digunakan
untuk menyusun laporan keuangan pemerintah pusat/ daerah sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan
Standar Akuntansi Pemerintah (SAP)
Defenisi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang tercantum dalam Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No. 71 Tahun 2010 (2010:1) adalah prinsip-prinsip
akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan
Pemerintah. Laporan keuangan pemerintah terdiri atas Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan Permerintah Daerah (LKPD).
Dasar hukum SAP adalah UU No. 17/2003 pasal 32 :
Bentuk dan isi LPJ pelaksanaan APBN/APBD disusun dan disajikan sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP)
Standar Akuntansi disusun oleh suatu Komite Independen dan ditetapkan
dengan PP
Laporan keuangan pokok menurut SAP adalah:
1. Laporan Realisasi Anggaran;
2. Neraca;
3. Laporan Arus Kas
4. Catatan Atas Laporan Keuangan
Laporan keuangan Pemerintah untuk tujuan umum juga mempunyai kemampuan
prediktif dan prospektif dalam hal memprediksi besarnya sumber daya yang
dibutuhkan untuk operasi berkelanjutan, sumber daya yang dihasilkan dari operasi
yang berkelanjutan serta resiko dan ketidakpastian yang terkait.
Pengguna laporan keuangan pemerintah adalah:
1. Masyarakat
2. Para wakil rakyat, lembaga pengawas dan lembaga pemeriksa
3. Pihak yang memberi atau beperan dalam proses donasi, investasi dan
pinjaman
4. Pemerintah
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

Tujuan dari Standar Akuntansi Pemerintahan adalah :


1. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) adalah prinsip-prinsip akuntansi
yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan
pemerintah
2. SAP disusun dalam rangka meningkatkan transparansi dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan negara
3. SAP berlaku untuk Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Selain tujuan
di atas, Standar Akuntansi Pemerintahan bertujuan untuk :
a. Akuntabilitas ; mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pelaksanaan
kebijakan sumber daya dalam mencapai tujuan
b. Manajemen ; memudahkan fungsi perencanaan, pengelolaan dan
pengendalian atas aset, kewajiban dan ekuitas dana pemerintah
c. Transparansi ; memberikan informasi keuangan yang terbuka, jujur,
menyeluruh kepada stakeholders
d. Keseimbangan Antargenerasi ; memberikan informasi mengenai
kecukupan penerimaan pemerintah untuk membiayai seluruh
pengeluaran, dan apakah generasi yang ada ikut menanggung beban
pengeluaran tersebut
SAP Berbasis Kas Menuju Akrual
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), yang ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2005 menggunakan basis modifikasian kas
menuju akrual (Cash Towards Accrual) guna menjembatani penerapan basis kas
menuju basis akrual kepada basis akual secara penuh.
PP Nomor 24 Tahun 2005 mencakup tantang:
1. No 01 tentang Penyajian Lapoan Keuangan
2. No 02 tentang Lapoan realisasi anggaran
3. No 03 tentang Laporan Arus Kas
4. No 04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan
5. No 05 tentang Akuntansi Persediaan
6. No 06 tentang Akuntansi Investasi
7. No 07 tentang Akuntansi Aset Tetap
8. No 08 tentang Akuntansi Konstuksi dalam pengejaan
9. No 09 tentang Akuntansi kewajiban
10. No 10 tentang koreksi dan peristiwa luar biasa
11. No 11 tentang Lapoan Keuangan Konsolidasian
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

SAP Berbasis Kas Menuju Akrual adalah SAP yang mengakui pendapatan, belanja,
dan pembiayaan berbasis kas, serta mengakui aset, utang, dan ekuitas dana
berbasis akrual. Basis kas menuju akrual ini melakukan pencatatan dengan cara
menggunakan basis kas pada periode pelaksanaan anggaran (yaitu pendapatan
diakui pada saat kas diterima ke Kas Negara dan belanja diakui pada saat kas
dikeluarkan dari Kas Negara). Dan pada akhir periode diperlukan penyesuaian-
penyesuaian untuk mencatat belanja harta tetap yang dilakukan pada periode
pelaksanaan (dengan menggunakan metode kolorari), serta mencatat hak ataupun
keawajiban Negara.
Basis kas untuk pendapatan dan belanja yang dilakukan pada periode anggaran,
akan menghasilkan penyusunan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan Laporan
Arus Kas (LAK), sedangkan pencatatan pada akhir periode (dengan jurnal kolorari)
akan diperoleh Neraca. Aset, kewajiban, dan ekuitas merupakan unsur neraca
sedangkan pendapatan, belanja, dan pembiayaan merupakan unsur Laporan
Realisasi Anggaran. Dengan kata lain, Neraca disajikan dengan basis akrual dan
Laporan Realisasi Anggaran disajikan dengan basis kas.
Ketentuan lebih lanjut mengenai penerapan SAP Berbasis Akrual secara bertahap
pada pemerintah pusat diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. Ketentuan lebih
lanjut mengenai penerapan SAP Berbasis Akrual secara bertahap pada pemerintah
daerah diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. Perbedaan mendasar SAP
berbasis kas menuju akrual dengan SAP berbasis akrual terletak pada PSAP 12
menganai laporan operasional. Entitas melaporkan secara transparan besarnya
sumber daya ekonomi yang didapatkan, dan besarnya beban yang di tanggung
untuk menjalankan kegiatan pemerintahan. Surplus / defisit operasional merupakan
penambah atau pengurang ekuitas/ kekayaan bersih entitas pemerintahan
bersangkutan ( PP NO 71 Tahun 2010)
Neraca dan Laporan Realisasi Anggaran merupakan laporan-laporan yang saling
berhubungan. Pendapatan yang merupakan isi Laporan Realisasi Anggaran
didefinisikan sebagai semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang
menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan
yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.
Selanjutnya belanja yang juga menjadi isi Laporan Realisasi Anggaran didefinisikan
sebagai semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang
mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang
tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.
Ekuitas dana lancar merupakan unsur neraca sehingga pendapatan dan belanja
seharusnya langsung mempengaruhi ekuitas dana lancar dalam neraca. Akan tetapi
penerimaan pendapatan dan pengeluaran belanja berdasarkan basis kas hanya
mempengaruhi jumlah kas tetapi tidak secara langsung mempengaruhi ekuitas
dana lancar. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa akun-akun pendapatan dan
belanja merupakan akun pembantu ekuitas dana lancar. Penerimaan pendapatan
dicatat terlebih dahulu dalam akun pendapatan dan pengeluaran belanja dicatat
dalam akun belanja kemudian pada akhir tahun ditutup ke akun ekuitas dana lancar.
(Bandingkan dengan pengertian pendapatan dan biaya sebagai akun pembantu
modal dalam akuntansi komersial). Seluruh penerimaan dan pengeluaran
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

pemerintah harus ada dalam anggaran artinya harus melalui atau tercantum dalam
Laporan Realisasi Anggaran. Pendapatan, belanja, dan pembiayaan yang
merupakan unsur Laporan Realisasi Anggaran akan diakui atau dicatat pada saat
kas diterima atau dikeluarkan. Pendapatan, belanja, dan pembiayaan hanya
mempengaruhi kas dan tidak mempengaruhi komponen lainnya dalam pos neraca
pada saat penerimaan dan pengeluaran kas. Akibat perlakuan seperti ini, neraca
hanya terdiri dari sisi debet kas sisi kredit ekuitas. Itupun ekuitas muncul pada akhir
periode pada saat pendapatan dan biaya ditutup ke ekuitas dana lancar.
Konsekuensi dari penggunaan basis kas menuju akrual ini adalah dibutuhkannya
penggunaan jurnal korolari. Misalnya terjadi transaksi pembelian kendaraan senilai
100.000.000 secara tunai. Karena segala pengeluaran yang melibatkan kas harus
disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran dengan basis kas, maka transaksi ini
akan dicatat dengan cara:
Dr. Belanja Kendaraan Rp100.000.000
Cr. Kas Rp100.000.000
Belanja kendaraan merupakan akun nominal yang akan disajikan dalam Laporan
Realisasi Anggaran, sedangkan kas merupakan akun riil yang akan disajikan dalam
Neraca. Akibatnya, apabila hanya jurnal tersebut yang dibuat, maka hanya akun kas
yang disajikan sebagai bagian aktiva Neraca. Padahal, menurut SAP, Neraca
pemerintah harus disajikan dengan basis akrual atau memperesentasikan semua
sumber daya yang dimiliki dan tidak terbatas kas saja. Karena itulah, dibutuhkan
jurnal tambahan yaitu jurnal korolari sebagai solusi penerapan basis kas menuju
akrual ini
Jurnal Korolari
Dr. Kendaraan Rp. 100.000.000
Cr. Ekuitas dana yang diinvestasikan dalam aset tetap Rp.
100.000.000
Pencatatan transaksi tersebut telah sesuai dengan SAP karena telah menyajikan
akun Neraca dengan basis akrual dan menyajikan akun Laporan Reliasasi Anggaran
dengan basis kas. Jurnal korolari ini penting supaya transaksi yang melibatkan akun
riil selain kas bisa tetap disajikan dalam Neraca dan disisi lain komponen Laporan
Realisasi Anggaran seperti pendapatan, belanja, dan pembiayaan tetap dapat pula
disajikan. Jurnal korolari digunakan agar transaksi yang mempengaruhi akun
Neraca (selain kas) dan Laporan Realisasi Anggaran dapat dicatat pada waktu yang
sama.
Kelebihan Akuntansi Berbasis kas dapat diuraikan sebagai berikut:
Beban/biaya belum diakui sampai adanya pembayaan secara kas walaupun
beban telah tejadi, sehingga tidak menyebabkan pengurangan dalam
penghitungan pendapatan . Pendapatan diakui pada saat diterimanya kas,
sehingga menceminkan posisi yang sebenarnya.
Penerimaan kas biasanya diakui sebagai pendapatan
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

Laporan keuangan yg disajikan mempelihatkan posisi keuangan yg ada pada


saat tsb.
Tidak perlu membuat pencadangan untuk kas yg belum tetagih
Sedangkan Kekurangan SAP berbasis kas yaitu:
Metode Cash Basis tidak menceminkan besarnya kas yg tersedia
Akan dapat menurunkan perhitungan pendapatan, karena adanya
pengakuan pendapatan sampai diterimanya uang kas
Setiap pengeluaan kas diakui sebagai beban
Sulit dalam melakukan transaksi yang tertunda pembayarannya, karena
pencatatan diakui pada saat kas masuk atau keluar
Sulit untuk menentukan suatu kebijakan kedepannya karena selalu
berpatokan kepada kas
SAP berbasis Akrual
Peraturan Pemerintah Nomor 71 2010 Pasal 1 ayat (8) menyebutkan bahwa yang
dimaksud dengan SAP Berbasis Akrual, yaitu SAP yang mengakui pendapatan,
beban, aset, utang, dan ekuitas dalam pelaporan finansial berbasis akrual, serta
mengakui pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam pelaporan pelaksanaan
anggaran berdasarkan basis yang ditetapkan dalam APBN/APBD. Basis Akrual untuk
neraca berarti bahwa asset, kewajiban dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada
saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan
berpengaruh pada keuangan pemerintah, tanpa memperhatikan saat kas atau
setara kas di terima atau di bayar (PP No.71 tahun 2010).
SAP berbasis akrual di terapkan dalam lingkungan pemerintah yaitu pemerintah
pusat, pemerintah daerah dan satuan organisasi di lingkungan pemerintah pusat/
daerah, jika menurut peraturan perundang undangan satuan organisasi dimaksud
wajib menyajikan laporan keuangan (PP No.71 Tahun 2010). SAP Berbasis Akrual
tersebut dinyatakan dalam bentuk PSAP dan dilengkapi dengan Kerangka
Konseptual Akuntansi Pemerintah. PSAP dan Kerangka Konseptual Akuntansi
Pemerintahan dalam rangka SAP Berbasis Akrual dimaksud tercantum dalam
Lampiran I Peraturan Pemerintah nomor 71 Tahun 2010.
Penyusunan SAP Berbasis Akrual dilakukan oleh KSAP melalui proses baku
penyusunan (due process). Proses baku penyusunan SAP tersebut merupakan
pertanggungjawaban profesional KSAP yang secara lengkap terdapat dalam
Lampiran III Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010. Penerapan SAP Berbasis
Akrual secara bertahap dilakukan dengan memperhatikan urutan persiapan dan
ruang lingkup laporan. SAP Berbasis Kas Menuju Akrual dinyatakan dalam bentuk
PSAP dan dilengkapi dengan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan. PSAP
dan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan dalam rangka SAP Berbasis Kas
Menuju Akrual tercantum dalam Lampiran II Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun
2010.
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

Secara rinci pengakuan atas item-item yang ada dalam neraca dengan penerapan
basis akrual adalah :
1. Persediaan diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh
pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan
andal. Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya
dan/atau kepenguasaannya berpindah.
2. Investasi, suatu pengeluaran kas atau aset dapat diakui sebagai investasi
apabila memenuhi salah satu kriteria:
a. Kemungkinan manfaat ekonomik dan manfaat sosial atau jasa pontensial
di masa yang akan datang atas suatu investasi tersebut dapat diperoleh
pemerintah;
b. Nilai perolehan atau nilai wajar investasi dapat diukur secara memadai
(reliable). Pengeluaran untuk perolehan investasi jangka pendek diakui
sebagai pengeluaran kas pemerintah dan tidak dilaporkan sebagai belanja
dalam laporan realisasi anggaran, sedangkan pengeluaran untuk
memperoleh investasi jangka panjang diakui sebagai pengeluaran
pembiayaan.
3. Aktiva tetap, untuk dapat diakui sebagai aset tetap, suatu aset harus
berwujud dan memenuhi kriteria:
a. Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;
b. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
c. Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas; dan
d. Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan
4. Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP), suatu benda berwujud harus diakui
sebagai KD jika:
a. besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi masa yang akan datang
berkaitan dengan aset tersebut akan diperoleh;
b. biaya perolehan tersebut dapat diukur secara andal; dan
c. aset tersebut masih dalam proses pengerjaan
KDP dipindahkan ke pos aset tetap yang bersangkutan jika kriteria berikut ini
terpenuhi:
1. Konstruksi secara substansi telah selesai dikerjakan; dan
2. Dapat memberikan manfaat/jasa sesuai dengan tujuan perolehan.
5. Kewajiban, suatu kewajiban yang diakui jika besar kemungkinan bahwa
pengeluaran sumber daya ekonomi akan dilakukan atau telah dilakukan
untuk menyelesaikan kewajiban yang ada sampai saat ini, dan perubahan
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

atas kewajiban tersebut mempunyai nilai penyelesaian yang dapat diukur


dengan andal.
Kelebihan Akuntansi berbasis akrual :
Beban diakui saat terjadi transaksi, sehingga informasi yg diberikan lebih
handal dan terpercaya
Pendapatan diakui saat tejadi transaksi, sehingga informasi yang diberikan
lebih handal dan terpecaya walaupun kas belum diterima
Setiap penerimaan dan pembayaran akan dicatat kedalam masing-masing
akun sesuai dengan transaksi yang terjadi
Adanya peningkatan pendapatan perusahaan karena kas yang belum
diterima dapat diakui sebagai pendapatan
Laporan keuangan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan
kebijakan dimasa datang dengan lebih tepat
Laporan keuangan yang dihasilkan dapat diperbandingkan dengan entitas
lain, baik pemerintah maupun bisnis. Hal ini dimungkinkan karena kerangka
dan ruang lingkup yang sama telah digunakan dengan menerapkan basis
akrual
Kekurangan akuntansi berbasis akrual :
Biaya yang belum dibayarkan secara kas, akan dicatat efektif sebagai
biaya sehingga dapat mengurangi pendapatan
Adanya resiko pendapatan yang tak tertagih sehingga dapat mengurangi
pendapatan
Tidak ada perkiraan yang tepat kapan kas yang belum dibayarkan oleh
pihak lain dapat diterima
SEJARAH PERKEMBANGAN STANDAR AKUNTANSI DI INDONESIA
Perubahan pada perkembangan global semakin menuntut di hampir seluruh negara
di dunia, ditopang dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang
semakin memperbudak seluruh bangsa. Membawa perubahan zaman yang
seharusnya menjadikan kemajuan dalam sifat transaparansial, akuntable, dan
relevansi di segala bidang. Standar akuntansi keuangan adalah sebuah pedoman
atau standar umum untuk menyusun laporan keuangan yang merupakan
pernyataan resmi tentang masalah akuntansi tertentu yang dikeluarkan oleh badan
yang berwenang dan berlaku di lingkungan tertentu. Untuk mewujudkan sifat
transparansial, akuntable, dan relevansi maka diperlukan suatu pedoman yang
disebut standar akuntansi keuangan. Standar akuntansi keuangan dapat
diumpamakan sebagai cerminan dari kondisi praktik bisnis yang sebenarnya terjadi.
Oleh karena itu, pengembangan standar akuntansi keuangan yang baik, akan
sangat relevan dan dibutuhkan pada masa sekarang ini.
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

Berikut ini adalah perkembangan standar akuntansi Indonesia mulai dari awal
sampai dengan saat ini yang menuju konvergensi dengan IFRS (Sumber: Ikatan
Akuntan Indonesia, 2008):
1. Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia: Indonesia memakai standar
akuntansi belanda (Sound Business Practices)
2. Tahun 1955: Indonesia belum mempunyai undang undang resmi / peraturan
tentang standar keuangan
3. Tahun 1974: Indonesia mengikuti standar Akuntansi Amerika yang dibuat oleh
IAI yang disebut dengan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI)
4. Tahun 1984: PAI ditetapkan menjadi standar akuntansi Indonesia
5. Akhir tahun 1984: PAI mengikuti standar yang bersumber dari IASC
(International Accounting Standart Committee)
6. Sejak tahun 1994: PAI sudah committed mengikuti IASC / IFRS
7. Tahun 2008: SAK mengacu kepada IFRS
8. Tahun 2012: IFRS mulai diresmikan dan diterapkan
Belanda datang ke Indonesia kurang lebih akhir abad ke-16 dengan tujuan untuk
berdagang. Kemudian mereka membentuk perserikatan Maskapai Belanda yang
dikenal dengan nama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) yang didirikan
pada tahun 1602. VOC membuka cabangnya di Batavia pada tahun 1619 dan akhir
abad ke-18 VOC mengalami kemunduran dan akhirnya dibubarkan pada 31
Desember 1799. Dalam kurun waktu itu, VOC memperoleh hak monopoli
perdagangan rempah-rempah di Indonesia, dan sejak saat itu Belanda telah
melakukan pencatatan atas mutasi transaksi keuangannya.
Sehubungan dengan itu, Ans Saribanon (1980) mengemukakan bahwa menurut
Stible dan Stroomberg, bukti autentik mengenai catatan pembukuan di Indonesia
paling tidak sudah ada menjelang pertengahan abad ke-17. Hal itu ditunjukan
dengan adanya sebuah instruksi Gubernur Jenderal VOC pada tahun 1642 yang
mengharuskan dilakukan pengurusan pembukuan atas penerimaan uang, pinjaman-
pinjaman, dan jumlah uang yang diperlukan untuk pengeluaran (eksploitasi)
garnisun-garnisun dan galangan kapal yang ada di Batavia dan Surabaya.
Setelah VOC bubar pada tahun 1799, kekuasaannya diambil alih oleh Kerajaan
Belanda. Zaman penjajahan Belanda dimulai tahun 1800-1942 yang catatan
pembukuannya menekankan pada mekanisme debet dan kredit yang antara lain
dijumpai pada pembukuan Amphioen Socyteit (bergerak dalam usaha peredaran
morfin) di Batavia.
Pada abad ke-19 banyak perusahaan Belanda yang didirikan atau membuka cabang
di Indonesia. Catatan pembukuannya merupakan modifikasi sitem Venesia-Italia,
dan tidak dijumpai adanya pemikiran konseptual untuk mengembangkan sistem
pencatatan tersebut karena kondisinya sangat menekankan pada prakti-praktik
dagang yang semata-mata untuk kepentingan perusahaan Belanda.
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

Pada tahun 1955, Indonesia pun belum mempunyai undang-undang resmi untuk
peraturan tentang standar keuangan. Pada tahun 1974, Indonesia mulai mengikuti
standar Akuntansi Amerika yang dibuat oleh IAI yang disebut dengan Prinsip
Akuntansi Indonesia (PAI). Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah organisasi profesi
akuntan yang juga merupakan badan yang menyusun standar akuntansi di
Indonesia. Organisasi profesi ini terus berusaha menanggapi perkembangan
akuntansi keuangan yang terjadi baik tingkat nasional, regional maupun global,
khususnya yang mempengaruhi dunia usaha dan profesi akuntansi sendiri.
Perkembangan akuntansi keuangan sejak berdirinya IAI pada tahun 1957 hingga
kini perkembangan standar akuntansi ini dilakukan secara terus menerus.
Awal sejarah adanya standar akuntansi keuangan di Indonesia adalah ketika
menjelang diadakannya pasar modal aktif di Indonesia tahun 1973. Pada tahun
1973 terbentuk Panitia Penghimpunan Bahan-bahan dan Struktur GAAP dan GAAS.
Pada tahun tersebut juga dibentuk Komite Prinsip Akuntansi Indonesia (Komite PAI)
yang bertugas menyusun standar keuangan. Ini merupakan masa awal IAI
menerapkan system standar akuntansi di Indonesia yang dituangkan di dalam buku
berjudul Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI). Komite PAI telah bertugas selama
empat periode kepengurusan IAI sejak tahun 1974 hingga 1994 dengan susunan
personel yang selalu diperbarui. Selanjutnya, pada periode kepengurusan IAI tahun
1994-1998 nama Komite PAI diubah menjadi Komite Standar Akuntansi Keuangan
(Komite SAK), kemudian pada kongres VIII, tanggal 23-24 September 1998 di
Jakarta, Komite SAK diubah menjadi Dewan Standar Akuntansi Keuangan untuk
masa bakti 1998-2000 dan diberikan otonomi untuk menyusun dan mengesahkan
PSAK.
Pada 1984, komite PAI membuat sebuah revisi standar akuntansi dengan cara lebih
mendasar jika dibandingkan PAI 1973 dan mengkodifikasikan ke dalam sebuah buku
berjudul Prinsip Akuntansi Indonesia 1984. Prinsip tersebut memiliki tujuan untuk
membuat suatu kesesuaian terhadap ketentuan akuntansi yang dapat diterapkan di
dalam dunia bisnis.
Pada 1994, IAI telah melakukan berbagai langkah harmonisasi menggunakan
standar akuntansi internasional di dalam proses pengembangan standar akuntansi
dan melakukan revisi total pada PAI 1984 dan sejak itu mengeluarkan serial standar
keuangan yang diberi nama Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang diterbitken
sejak 1 Oktober 1994. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) ditetapkan sebagai
standar akuntansi yang baku di Indoneisa. Perkembangan standar akuntansi ketiga
ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dunia usaha dan profesi akuntansi dalam
rangka mengikuti dan mengantisipasi perkembangan internasional. Banyak standar
yang dikeluarkan itu sesuai atau sama dengan standar akuntansi internasional yang
dikeluarkan oleh IASC.
Sekarang ini ada dua PSAK yang dikeluarkan oleh 2 Dewan Standar Akuntansi
Keuangan, yaitu:
1. PSAK Konvensional
2. PSAK Syariah
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

Digunakan oleh entitas yang melakukan transaksi syariah baik entitas lembaga
syariah maupun non lembaga syariah. Pengembangan dengan model PSAK umum
namun berbasis syariah dengan acuan fatwa MUI. PSAK ini tentu akan terus
bertambah dan revisi sesuai kebutuhan perkembangan bisnis dan profesi akuntan.
Setelah terjadi sebuah perubahan harmonisasi menjadi adaptasi, selanjutnya
dilakukan adopsi guna terjadi konvergensi terhadap Internasional Financil Standards
(IFRS). Adopsi dilakukan secara penuh dengan tujuan tercapainya konvergensi
terhadap IFRS sehingga standar akuntansi keuangan dapat terlaksanakan lebih baik
di masa selanjutnya.
Di dalam proses berkembangnya standar akuntansi keuangan, terjadi beberapa
revisi yang dilakukan secara kontinyu, yaitu baik penyusunan ataupun penambahan
dari standar itu sendiri.sejak tahun 1994, telah dilakukan sekitar enam kali revisi
hingga tahun 2007. Di dalam revisi tersebut, ditambahkan sejumlah standar, yaitu
KDPPLK Syariah, 5 PSAK revisi, dan 6 PSAK baru. Saat ini terdapat 2 KDPPLK, 7 ISAK
dan 62 PSAK.
Sejak tahun 1994 hingga 2004, ada perubahan Kiblat dari US GAAP ke IFRS, hal ini
ditunjukkan Sejak tahun 1994, telah menjadi kebijakan dari Komite Standar
Akuntansi Keuangan untuk menggunakan International Accounting Standards
sebagai dasar untuk membangun standar akuntansi keuangan Indonesia. Dan pada
tahun 1995, IAI melakukan revisi besar untuk menerapkan standar-standar
akuntansi baru, yang kebanyakan konsisten dengan IAS. Beberapa standar diadopsi
dari US GAAP dan lainnya dibuat sendiri.
Merupakan konvergensi IFRS Tahap 1, Sejak tahun 1995 sampai tahun 2010, buku
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) terus direvisi secara berkesinambungan, baik
berupa penyempurnaan maupun penambahan standar baru. Proses revisi dilakukan
sebanyak enam kali yakni pada tanggal 1 Oktober 1995, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1
Oktober 2004, 1 Juni 2006, 1 September 2007, dan versi 1 Juli 2009. Pada tahun
2006 dalam kongres IAI X di Jakarta ditetapkan bahwa konvergensi penuh IFRS akan
diselesaikan pada tahun 2008. Target ketika itu adalah taat penuh dengan semua
standar IFRS pada tahun 2008. Namun dalam perjalanannya ternyata tidak mudah.
Sampai akhir tahun 2008 jumlah IFRS yang diadopsi baru mencapai 10 standar IFRS
dari total 33 standar (terjadi pada periode 2006-2008).
Dari revisi tahun 1994 IAI juga telah memutuskan untuk melakukan harmonisasi
standar PSAK kepada International Financial Reporting Standard (IFRS). Selanjutnya
harmonisasi tersebut diubah menjadi adopsi dan terakhir adopsi tersebut ditujukan
dalam bentuk konvergensi terhadap International Financial Reporting Standard.
Program konvergensi terhadap IFRS tersebut dilakukan oleh IAI dengan melakukan
adopsi penuh terhadap standar internasional (IFRS dan IAS).
Salah satu bentuk revisi standar IAI yang berbentuk adopsi standar international
menuju konvergensi dengan IFRS tersebut dilakukan dengan revisi terakhir yang
dilakukan pada tahun 2007. Revisi pada tahun 2007 tersebut merupakan bagian
dari rencana jangka panjang IAI yaitu menuju konvergensi dengan IFRS sepenuhnya
pada tahun 2012.
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

Skema menuju konvergensi penuh dengan IFRS pada tahun 2012 dapat dijabarkan
sebagai berikut:
1. Pada akhir 2010 diharapkan seluruh IFRS sudah diadopsi dalam PSAK;
2. Tahun 2011 merupakan tahun penyiapan seluruh infrastruktur pendukung
untuk implementasi PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS;
3. Tahun 2012 merupakan tahun implementasi dimana PSAK yang berbasis IFRS
wajib diterapkan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki akuntabilitas
publik.
Revisi tahun 2007 yang merupakan bagian dari rencana jangka panjang IAI tersebut
menghasilkan revisi 5 PSAK yang merupakan revisi yang ditujukan untuk
konvergensi PSAK dan IFRS serta reformat beberapa PSAK lain dan penerbitan PSAK
baru. PSAK baru yang diterbitkan oleh IAI tersebut merupakan PSAK yang mengatur
mengenai transaksi keuangan dan pencatatannya secara syariah. PSAK yang
direvisi dan ditujukan dalam rangka tujuan konvergensi PSAK terhadap IFRS adalah:
1. PSAK 16 tentang Properti Investasi
2. PSAK 16 tentang Aset Tetap
3. PSAK 30 tentang Sewa
4. PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan
Pengungkapan
5. PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran
PSAK-PSAK hasil revisi tahun 2007 tersebut dikumpulkan dalam buku yang disebut
dengan Standar Akuntansi Keuangan per 1 September 2007 dan mulai berlaku sejak
tanggal 1 Januari 2008.
Sejarah Akuntansi
Pada dasarnya akuntansi itu sama yaitu sarana bagi manajemen untuk
mengkomunikasikan posisi keaungan, kinerja dan perubahan posisi keaungan
kepada pihak yang berkepentingan. Akuntansi menyediakan informasi bagi pasar
modal-pasar modal besar, baik domestik maupun internasional. Awalnya, akuntansi
dimulai dengan sistem pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping) di
Italia pada abad ke 14 dan 15.
Lucalah orang yang pertama sekali mempublikasikan prinsip-prinsip dasar double
accounting system dalam bukunya berjudul : Summa the arithmetica geometria
proportioni et proportionalita di tahun 1494. Banyak ahli sejarah yang berpendapat
bahwa prinsip dasar double accounting system bukanlah ide murni Luca namun dia
hanya merangkum praktek akuntansi yang berlangsung pada saat itu dan
mempublikasikannya.
Paruh Pertama abad 20, seiring tumbuhnya kekuatan ekonomi Amerika Serikat,
kerumitan masalah akuntansi muncul bersamaan. Kemudian Akuntansi diakui
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

sebagai suatu disiplin ilmu akademik tersendiri. Setelah Perang Dunia II, pengaruh
Akuntansi semakin terasa di Dunia Barat. Bagi banyak negara, akuntansi
merupakan masalah nasional dengan standar dan praktik nasional yang melekat
erat dengan hukum nasional dan aturan profesional.
Perkembangan Akuntansi
Tahun 1775 : pada tahun ini mulai diperkenalkan pembukuan baik yang single
entry maupun double entry.
Tahun 1800 : masyarakat menjadikan neraca sebagai laporan yang utama
digunakan dalam perusahaan.
Tahun 1825 : mulai dikenalkan pemeriksaaan keuangan (financial auditing).
Tahun 1850 : laporan laba/rugi menggantikan posisi neraca sebagai laporan yang
dianggap lebih penting.
Tahun 1900 : di USA mulai diperkenalkan sertifikasi profesi yang dilakukan melalui
ujian yang dilaksanakan secara nasional.
Tahun 1925 : Mulai diperkenalkan teknik-teknik analisis biaya, akuntansi untuk
perpajakan, akuntansi pemerintahan, serta pengawasan dana pemerintah. Sistem
akuntansi yang manual beralih ke sistem EDP dengan mulai dikenalkannyapunch
card record.
Tahun 1950 s/d 1975 : Pada periode ini akunansi sudah menggunakan computer
untuk pengolahan data. Lalu, sudah dilakukan Perumusan Prinsip Akuntansi (GAAP).
Hingga Perencanaan manajemen serta management auditing mulai diperkenalkan.
Tahun 1975 : Total system review yang merupakan metode pemeriksaan efektif
mulai dikenal. Dan Social accounting manjadi isu yang membahas pencatatan
setiap transaksi perusahaan yang mempengaruhi lingkungan masyarakat.
Perkembangan Akuntansi di Indonesia
Akuntansi mulai diterapkan di Indonesia sejak tahun 1642. Akan tetapi bukii yang
jelas terdapat pada pembukuan Amphioen Societeit yang berdiri di Jakarta sejak
1747. Selanjutnya akuntansi di Indonesia berkembang setelah UU Tanam Paksa
dihapuskan pada tahun 1870. Hal ini mengakibatkan munculnya para pengusaha
swasta Belanda yang menanamkan modalnya di Indonesia.
Praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusur pada era penjajahan Belanda sekitar
17 (ADB 2003) atau sekitar tahun 1642 (Soemarso 1995). Jejak yang jelas berkaitan
dengan praktik akuntansi di Indonesia dapat ditemui pada tahun 1747, yaitu praktik
pembukuan yang dilaksanakan Amphioen Sociteyt yang berkedudukan di Jakarta
(Soemarso 1995). Pada era ini Belanda mengenalkan sistem pembukuan
berpasangan (double-entry bookkeeping) sebagaimana yang dikembangkan oleh
Luca Pacioli. Perusahaan VOC milik Belanda-yang merupakan organisasi komersial
utama selama masa penjajahan-memainkan peranan penting dalam praktik bisnis
di Indonesia selama era ini (Diga dan Yunus 1997).
Nama: Harry Agustian
NIM: 145020301111009

Pengiriman Van Schagen merupakan titik tolak berdirinya Jawatan Akuntan Negara-
Government Accountant Dienst yang terbentuk pada tahun 1915 (Soermarso 1995).
Akuntan publik yang pertama adalah Frese & Hogeweg yang mendirikan kantor di
Indonesia pada tahun 1918. Pendirian kantor ini diikuti kantor akuntan yang lain
yaitu kantor akuntan H.Y.Voerens pada tahun 1920 dan pendirian Jawatan Akuntan
Pajak-Belasting Accountant Dienst (Soemarso 1995).
Pada era penjajahan, tidak ada orang Indonesia yang bekerja sebagai akuntan
publik. Orang Indonesa pertama yang bekerja di bidang akuntansi adalah JD Massie,
yang diangkat sebagai pemegang buku pada Jawatan Akuntan Pajak pada tanggal
21 September 1929 (Soemarso 1995).
Kesempatan bagi akuntan lokal (Indonesia) mulai muncul pada tahun 1942-1945,
dengan mundurnya Belanda dari Indonesia. Pada tahun 1947 hanya ada satu orang
akuntan yang berbangsa Indonesia yaitu Prof. Dr. Abutari (Soermarso 1995). Praktik
akuntansi model Belanda masih digunakan selama era setelah kemerdekaan
(1950an). Pendidikan dan pelatihan akuntansi masih didominasi oleh sistem
akuntansi model Belanda. Nasionalisasi atas perusahaan yang dimiliki Belanda dan
pindahnya orang orang Belanda dari Indonesia pada tahun 1958 menyebabkan
kelangkaan akuntan dan tenaga ahli (Diga dan Yunus 1997).