Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang Analisis Exergi dan Termoekonomi ini dengan
baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih
kepada Ibu NOVI INDAH RIANI. S.Pd, M.T. selaku Dosen mata kuliah
Termodinamika 1 yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai analisis exergi dan termoekonomi dalam
kehidupan sehari-hari ataupun di dunia Industri. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah
yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.

Akhir kata kami berharap semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan dapat
berguna bagi kami sendiri maupun orang lain yang membacanya dan memberikan
manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Surabaya, 19 Desember 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................... ii
BAB 1 : PENDAHULUAN ............................................................ 1
LATAR BELAKANG ....................................................... 1
IDENTIFIKASI MASALAH ........................................... 1
PEMABATASAN MASALAH ........................................ 1
RUMUSAN MASALAH ................................................... 2
TUJUAN ............................................................................ 2
BAB 2 : PEMBAHASAN .................................................................
BAB 3 : PEMBAHASAN ..................................................................
BAB 4 : PENUTUP ............................................................................
KESIMPULAN ....................................................................
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................

2
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Metode analisis eksergi digunakan dalam menghitung eksergi yang musnah (exergy
destruction) dan mengkaji efisiensi proses.

Pada beberapa tahun terakhir ini analisis eksergi telah menjadi metode penting yang
komprehensif dan mutakhir dalam studi tentang desain, analisis dan optimasi suatu sistem termal.
Hampir disemua industri menggunakan sistem termal dalam proses pengolahan bahan baku
menjadi prodaknya.

Perancangan sistem termal juga ditentukan oleh pertimbangan dari sudut ekonomi karena faktor
biaya juga menjadi dasar pengambilan keputusan.

1.2. Identifikasi Masalah (Latar Belakang)


Sesuai dengan judul makalah ini Analisis Exergi dan Termoekonomi dan terkait dengan
seringnya Analisi Exergi dan Termoekonomi kehidupan sehari-hari dan dunia Industri, maka
masalahnya dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Apa definisi dari Analisis Exergi?
2. Apa definisi dari Analisis Termoekonomi?
1.3. Pembatasan masalah
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada
masalah :
1. Definisi tentang Analisis Exergi.
2. Definisi tentang Analisis Termoekonomi

1.4. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diu diatas, yang menjadi rumusan dalam
penelitian yaitu :
1. Apa Pengertian Analisis Exergi?
2. Apa Pengertian Analisis Termoekonomi?

1.5. Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah diatas makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui:

1
1. Mengetahui Pengertian Analisis Exergi.
2. Mengetahui Pengertian Analisis Termoekonomi.

BAB 2
PEMBAHASAN
ANALISIS EXERGI
2.1. Definisi Exergi
Exergi adalah potensi penggunaan energi, exergi juga dapat diartikan sebagai kerja maksimun
teoritis yang mampu diperoleh saat sistem berinteraksi dalam mencapai kesetimbangan. exergi
perlu ditentukan lingkungan referensi yang menunjukkan bagaimana nilai numeric exergi
didapatkan

2.1.1. Lingkungan referensi exergi


Lingkungan referensi exergi atau lingkungan dapat diasumsikan sebagai system kompesibel
sederhana yang berukuran besar dan memiliki temperature yang sama pada T0 dan tekanan P0.
Walaupun sifat intensif lingkungan tidak berubah, tetapi sifat ekstensif lingkungan dapat berubah

2
karena interaksi dengan system lain. Perubahan sifat ekstensif energy berhubungan dengan hukum
pertama T dS, yaitu

Karena T0 dan tekanan P0 konstan, maka persamaannya menjadi :

2.1.2. Dead State


Keadaan mati tercapai ketika terdapat dua buah system yang telah mencapai keadaan
setimbang antara keduanya. Pada keadaan mati, masing-masing system dan lingkungan memiliki
energy, tetapi nilai exerginya adalah nol, karena tidak adanya kemungkinan terjadi perubahan
spontan di dalam system atau dalam lingkungan, juga tidak timbul interaksi antara keduanya.

2.1.3. Aspek exergi


Exergi adalah suatu ukuran menjauhnya keadaan system dari keadaan lingkungan atau merupakan
sifat system dari lingkungan bersama-sama.
Nilai exergi tidak dapat negative.
Exergi tidak dapat dikekalkan, tetapi dapat diusnahkan dengan ireversibilitas

2.2. Neraca exergi tertutup


Neraca exergi sistem tertutup merupakan gabungan dari neraca entropi dan neraca energi
sistem tertutup

W : kerja
Q : perpindahan panas antara sistem dan daerah sekitarnya
Tb : temperature batas
: entropi
Maka neraca exergi adalah

3
2.2.1. Perpindahan Exergi mendampingi kalor
Perpindahan energi dapat dinyatakan :

Tanpa memperhatikan sifat keadaan di sekitarnya, exergi transfer dapat diartikan sebagai
besarnya perpindahan exergi yang mendampingi perpindahan kalor ketika kerja yang dapat
dikembangkan dengan mensuplai perpindahan kalor ke siklus daya reversible yang beroperasi
antara Tb<T0.

2.2.2. Perpindahan Energi menyertai kerja

4
Kerja yang dilakukan oleh sistem terhadap lingungan sebanding dengan p 0 (V2 V1 ), maka
jumlah kerja maksimum dari sistem kombinasi adalah :

Seperti halnya untuk perpindahan kalor, kerja, dan perpindahan exergi yang menyertai dapat
memiliki arah yang sama atau berlawanan. Jika tidak terdapat perubahan volume system selama
proses, perpindahan exergi yang menyertai kerja sebanding dengan W.

2.3. Aliran Exergi


Konsep ini berguna untuk mengatur bentuk volum dari neraca laju exergi. Ketika massa
mengalir melalui batas volume alir, maka akan terjadi perpindahan exergi disertai aliran kerja.
Persamaan aliran exergi spesifik:
ef = h h0 T0(s s0) + V 2/2 + gz
ket: h dan s = entalp[i dan entropispesifik pada sisi masuk dan sisi keluar
h0 dan s0 = entalpi dan entropi dalam keadaan mati
Perpindahan Exergi yang Menyertai Kerja Aliran

kerja aliran diberikan dengan dasar m


(pv). Sehingga pengembangan kerja pada sisi masuk dan

sisi keluar menjadi:

[ Laju
menyertai aliran kerja ]
perpindahan yang =m(pv
p v) 0

Ket: m
= laju aliran massa, p = tekanan, v = volume pada sisi masuk dan sisi keluar

Konsep aliran exegi pada suatu system tertutup yang mengisi daerah berbeda pada waktu t
dan waktu kemudian t + t. selama interval waktu t sebagian dari massa awal yang berada di
dalam daerah. Ditunjukkan pada gambar dbwah ini:

5
Peningkatan volum system tertutup dalam interval waktu t sebanding dengan volume
daerah e sehingga perpindahan exergi yang menyertai kerja adalah

perpinda h an exergi =W p0 V dimana V =me v e


menyertai kerja

[ perpinda
menertai kerja ]
h an exergi =W m ( p v )
e 0 e

Pengembangan konsep aliran energy


Ketika aliran massa melewati batas volume atur maka perpindahan exergi yang menyertai adalah

[ energilajuyang disertai aliran massa ]


waktu perpindah an =m
e

2
m
u+( V
2
+ gz )
Dimana e adalah energy spesifik pada sisi masuk dan sisi keluardari suatu volume atur. Dan
ketika massa masuk dan keluar dari suatu volume atur, maka perpindahan exergi yang menyertai
adalah:

[ exergi menyertai aliran massa ]


laju waktu perpinda h an =m [ ( eu ) + p ( vv ) T ( ss ) ]
0 0 0 0 0

Laju waktu perpindahan exergi menyertai aliran massa dan aliran kerja adalah:

[ ]
Laju waktu perpindahan exergi
menyertai aliran massa [ e + ( pv p0 ) ]
=m
dan aliran kerja


m [ ( eu0 ) + p0 ( v v 0 ) T 0 ( ss 0 ) + ( pv p0 ) ]

Perkembangan exergi berkembang seiring dengan terjadinya entalphi dalam pengembangan neraca
laju energy volum atur dan memiliki setiap besaran yang merupakan penjumlahan aliran massa
(energy dalam spesifik untuk entalphi, dan exergi dalam spesifik untuk aliran exergi).

2.4. NERACA LAJU EXERGI UNTUK VOLUME ATUR (control volume exergy
ratebalance)
Berhubungan dengan materi sebelunnya yaitu aliran exerxi,pada materi ini dijekaskan lebih
spesifik lagi mengenai volume atur ruang masuk dan keluar pada sebuah system
perpindahannya.Tujuan utama pada materi ini adalah untuk menghitung kerja aliran pada sisi
masuk ataupun keluaran.

6
Persamaan umum neraca laju energy,
T0 dv
dE
dt
= 1
j Tj (
Q j W p0 ) (
dt
E d )
Sedangkan pada neraca laju energy volume atur
d E cv T dV cv
( ) ( )

= 1 0 Q j W cv p0 + mi efi me e feE d
dt j Tj dt j j

Perbedaan yang dapat diambil adalah pada kerja sisi aliran masuk dan sisi aliran keluar,ditandai
dengan symbol berwaarna merah.
d E cv
=laju peruba h an exergi
dt

Qj = laju waktu perpindahan kalor pada batas dimana temperature sesaat

adalah Tj
T0
( 1 )Q = perpindahan exergi yang menyertai
Tj j

W cv =laju waktu perpinda h an energi melalui kerja

mi e fi =laju aliran masuk i

me e fe =laju aliran masuk e

Ed =laju waktu pemusnahanexergi

2.4.1. Bentuk Kondisi Tunak


d E cv dV cv
Bentuk ini adalah dimana pada keadan tunak = =o ,jadi dapat dituliskan
dt dt

dengan persamaan

T0 dV cv
( ) ( )

0= 1 Q j W cv p0 + mi e fi me e feE d
j Tj dt j j

2.4.2. Efisiensi Exergetik(Hukum Kedua)


Tujuan utama dari materi ini adalah penggunaan konsep exergi dalam menilai keefektifan
pemanfaatan sumber energi.
2.4.3. Penyesuaian Penggunaan Akhir Dengan Sumber

7
Pada sisitem tertutup yang menerima perpindahan kalor,energy akan mengalami kerugian karena
terjadi proses perpindahan kalor keselilingnya dengan melewati suatu permukaan yang
bertemperatur berbeda.Dapat diturunkan rumus apabila sistem tersebut bekerja dalam keadaan
tunak dalam persamaan berikut,

pers 1
Qs=Q u+Q l

pers 2
T0 T T
( 1
Ts) ( ) ( )
Q s= 1 0 Qu + 1 0 Ql + Ed
Tu Tl

Pers 1 mengindikasikan energy dibawa masuk oleh perpindahan kalor, Qs atau juga digunakan

Qu , atau kerugian ke sekeliling Ql

Pers 2 menujukkan exergi yang dibawa ke system yang menyertai kalor Qs berupa exergi

dipindahkan dari system yang menyertai perpindahan kalor Qu atau dihancurkan oleh

ireversibilitas dalam system.


Efisiensi produk dalam bentuk input/output
Qu
= Qs

sehingga dapat dituliskan,


( 1T 0 /T u ) Qu
=
( 1T 0 /T s ) Qs

atau

8
( 1T 0 /T u )
=
( 1T 0 / T s)

merupakan efisiensi exergetik.Parameter dan masing-maing menugkur seberapa jauh

efektifitas yang dapat diukur.Tetapi dalam hal ini mengukur efisiensi berdasarkan basis exergi

dan menukur berdasarkan basis energi.


Biaya kerugian kalor,dalam system yang terdapat pada gambar diatas sangat memungkinkan adanya
penghitungan biaya kerugian kalor .Kalor yang terbyang pada gambar diatas dapat dihitung nilai
biaya kerugiannya drngan pers,

[nilai biaya kerugian kalor Ql pada T l ]= c f ( 1T 0 /T l ) Ql

2.4.4. Efisiensi Exergetik Pada Komponen Umum


Biasanya efisiensi diperoleh dari penggunaan laju exergetik, namun Pendekatan yang digunakan
disini adalah bekerja sebagai suatu model untuk pengembangan persamaan efisiensi exergetik pada
komponen lain

Turbin, pada operasi turbi yang dalam keadaan tunak dengan tidak ada perpindahan kalor dengan
sekelilingnya, maka dari persamaannya dapat memberikan

cv E
W
e f 1e f 2= +
m m

Suku disebelah kiri adalah penurunan aliran exergi dari masukan turbin sampai keluaran.

Persamaan ini menunjukkan aliran exergi berkurang sebab turbin manghasilkan cv / m


W dan

d/ m
E . Sehingga efisiensi turbin exergetik adalah
exergi diproses

W cv
m
=
e f 1e f 2

Kompressor dan Pompa, dalam keadaaan tunak tidak terjadi perpindahan kalor dengan
sekelilingnya. Maka dari persamaannya dapat memberikan

9
cv
( )
W
m
E
=e f 2ef 1+ d
m

Sehingga efisiensi pompa exergetik adalah


e f 2e f 1
=
W cv
( )m

Alat penukar kalor tanpa pencampuran, dalam keadaab tunak


m
h ( e f 1e f 2 ) =m d
c ( ef 4e f 3 ) + E

Sehingga efisiensi Alat penukar kalor exergetik adalah:


m
c ( e f 4 e f 3 )
=
m
h ( e f 1e f 2 )

Penukar kalor persentuhan langsung, dalam keadaan tunak


m 2 ( e f 3e f 2 ) + E d
1 ( ef 1e f 3 ) =m

Sehingga efisiensi Penukar kalor persentuhan langsung exergetik adalah:


m
2 ( e f 3e f 2 )
=
m
1 ( e f 1e f 3 )

2.4.5. PENGGUNAAN EFISIENSI EXERGETIK


Efisiensi exergetik merupakan langkah yang sangat berguna untuk penanfaatan efektivitas
sebuah sumber.Ini dapat dilakukan dengan membandingkan nilai efisiensi yang telah ditentukan
sebelum dan sesudah modifikasi serta mampu menunjukkan perbaikan setelahnya.Efisiensi dapat
berupa mengurangi konsumsi bahan bakar, memanfaatkan sumber-sumber dengan lebih baik,
penambahan investasi dan lain sebagainya.Salah satu metode efisiensi exergetik adalah kogenerasi
dimanatujuan utamanya adalah menghasilkan daya dan perpindahan kalor dengan menggunakan
suatu sisitem yang terintegrasi dengan tingkat pengeluaran biaya yang lebih rendah dibandingkan
pengoperasian masing-masing instalasi tersebut.Beberapa contoh lagi yaitu pemulihan daya dan
pemulihan kalor buangan.

10
BAB III
PEMBAHASAN
TERMOEKONOMI
3.1. Definisi Analisis Termoekonomi
Hampir disemua industri menggunakan sistem termal dalam proses pengolahan bahan baku
menjadi prodaknya. Perancangan sistem termal juga ditentukan oleh pertimbangan dari sudut
ekonomi karena faktor biaya juga menjadi dasar pengambilan keputusan.
Termoekonomi adalah cabang dari ilmu termal yang mengkombinasikan analisis
termodinamika suatu sistem termal (secara analisis eksergi) dengan prinsip ekonomi untuk
mengetahui hal-hal apa saja yang harus dianalisis dari suatu sistem termal tersebut untuk
meningkatkan efisiensinya secara keseluruhan baik dari segi prestasi termal maupun ekonominya.
Hasil dari analisis termoekonomi adalah berupa informasi khusus yang tidak bisa diperoleh dengan
analisis termodinamika konvensional ataupun analisis ekonomi secara umum. Informasi ini berguna
untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat di koreksi dari suatu sistem, sehingga dapat
digunakan sebagai acuan untuk mengurangi kerugian ataupun memperbaiki efisiensi sistem yang
dianalisis, dalam hal ini adalah suatu sistem yang harus melakukan proses-proses termal untuk
melakukan produksi, seperti pembangkit listrik ataupun pabrik-pabrik industri.

Menurut Adrian Bejan, George Tsatsaronis dan Michael Moran dalam bukunya Thermal
Design and Optimization, sebuah analisis termoekonomi yang lengkap terdiri dari empat langkah
yaitu :

1. Analisis eksergi, dimaksudkan untuk mengetahui laju aliran eksergi (energi berguna) dari
setiap titik aliran substansi dari suatu sistem termal.
2. Analisis ekonomi, dimaksudkan untuk mengetahui laju biaya dari setiap komponen suatu
sistem termal berdasarkan analisis yang menggunakan parameter-parameter ekonomi.
3. Analisis pembiayaan eksergi, dimaksudkan untuk mengetahui laju biaya dari setiap aliran
substansi suatu sistem termal yang didasarkan pada data hasil analisis eksergi.
4. Evaluasi termoekonomi, dimaksudkan untuk mengetahui variabel-variabel apa saja yang
dapat dikoreksi dari analisis sebelumnya, sehingga dapat ditinjau kembali untuk menyusun
informasi acuan baru demi mengurangi kerugian ataupun memperbaiki efisiensi sistem
termal yang dianalsis.

11
Teori Hukum Kedua Termodinamika ditetapkan oleh N. L. Sadi Carnot pada tahun
1824. Ini dihasilkan dari usahanya untuk menemukan ekspresi umum untuk jumlah kerja
maksimum yang dapat dilakukan oleh mesin untuk mengkonversi panas menjadi kerja
mekanik. Ekspresi analitis pertama dari hukum kedua tidak terjadi sampai 1865 ketika
Clausius memperkenalkan entropi. Gagasan tentang kerja berguna, termasuk istilah difusi,
pertama kali diperkenalkan oleh Willard Gibbs pada tahun 1873.

Termoekonomi pertama kali dikembangkan pada tahun enam puluhan. Nama itu diciptakan
oleh profesor M. Tribus (1962). Konsep itu berkembang baik di kalangan akademis berkat upaya
Yehia El-Sayed, Richard Gaygioli, Tadeusz Kotas dan Michael Moran pada awal tahun 80-an dan
Antonio Valero dan George Tsatsaronis pada akhir tahun 80-an. Banyak peneliti menyambut positif
inisiasi ini.

George Tsatsaronis menerbitkan serangkaian makalah, Tsatsaronis G, Winhold M (1985),


Tsatsaronis G, Moran M. (1996), Tsatsaronis G., dan F. Cziesla kemudian, Yehia El-Sayed banyak
menerbitkan makalah tentang optimasi biaya, YM El-Sayed (2003), El-Sayed YM dan Tribus M
(1983). Dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak literatur tentang termoekonomi.

Untuk mengevaluasi dan membandingkan termoekonomi, metodologi yang berbeda tersedia


dalam literatur Frangopoulos, C.A., Tsatsaronis G., Valero, A., dan Spakovsky, M, telah
mengusulkan sistem CGAM (Christos Frongopoulos, George Tsatsaronis, Antonio Valero, Michael
R. Von Spakovsky). Semuanya menyimpulkan bahwa eksergi dapat dimusnahkan atau eksergi tidak
dapat dikonversi, Bejan, A. et al (1996), Szargut, J., et al (1988), Kotas T, J,. (1985).

Yusuf Siahaya ,(2009), Thermoeconomic Analysis of Gas Turbine Power Plant Type GE MS
6001B, Jurnal Penelitian Engineering, Vol. 12 No. 2 tahun 2009; Thermoeconomic Analysis and
Optimizationof Gas Turbine Power Plant, Proceeding the International Conference on Fluid and
Thermal Energy Conversion 2009; Exergoeconomic (Thermoeconomic) Analysis of Gas Turbine
Power Plant, Proceeding of the International Seminar on Energy Science and Technology
(SISEST-2008) . Termoekonomi adalah alat yang ampuh untuk memahami interkoneksi antara
termodinamika dan ekonomi. Metode termoekonomi adalah alat berharga dalam optimisasi sistem
energi yang kompleks.

3.2. Tujuan Analisis Termoekonomi


Tujuan dari sebuah analisis termoekonomi dapat berupa:

12
a. untuk menghitung secara terpisah biaya setiap produk yang dibangkitkan oleh sebuah sistem
yang mempunyai lebih dari satu produk;
b. untuk mengerti proses formasi biaya dan aliran biaya dari sistem tersebut;
c. untuk mengoptimalkan variabel spesifik dalam sebuah komponen tunggal;
d. untuk mengoptimalkan keseluruhan sistem.

Karena biaya-biaya bervariasi dari tahun ke tahun ketika kita mengevaluasi sebuah desain
sistem termal dari sudut pandang biaya, kita menggunakan pendekatan biaya tersamakan (levelized
costs).

Dalam sebuah analisis ekonomi konvensional, sebuah keseimbangan biaya biasanya dirumuskan
untuk sistem secara menyeluruh yang beroperasi pada keadaan stedi.

Keseimbangan biaya mengekspresikan bahwa tingkat biaya (cost rate) yang berhubungan dengan
produk dari sistem sama dengan tingkat total pengeluaran yang dibuat untuk menghasilkan produk,
yang disebut tingkat biaya bahan bakar dan tingkat biaya yang berhubungan dengan investasi modal
serta operasi dan perawatan. Laju dan masing-masing dihitung dengan membagi kontribusi
tahunan investasi modal dan biaya tahunan operasi dan perawatan dengan jumlah satuan waktu
operasi sistem pertahun.

3.3. Penggunaan Exergi dalam Desain

Gambar diatas megilustrasikan penggunaan exergi pada rancangan, yang menunjukkan


sebuah sistem termal. Bahan bakar masuk ke unit pembangkit daya, menghasilkan daya yang
kemudian masuk ke unit heat-recovery steam generator (HRSG) dengan output-an gas pembakaran.
Air masuk ke HRSG dengan massa aliran w menerima exergi akibat perpindahan kalor dari gas
pembakaran dan keluar sebagai uap pada kondisi yang diinginkan untuk kegunaan proses lain. Hasil
pembakaran yang masuk HSRG memiliki nilai ekonomi yang dapat dihitung sebagai fungsi nilai
bahan bakar karena sumber exerginya dari inputan yang berupa bahan bakar.

13
Gambar 7.13 menunjukkan biaya bahan bakar tahunan yang menukar irreveribilitas Heat-
recovery sebagai fungsi Tave. Sehingga jika Tave bertambah besar, maka jumlah biaya bahan bakar
juga meningkat. Biaya total adalah jumlah dari biaya modal dan biaya bahan bakar. Dari gambar,
dapat dilihat bahwa biya total bernilai minimum pada pada titik a, sehingga T ave mendekati optimal
pada titik a sampai a.
Pada kajadian nyata, biaya-biaya tersebut tidak dapat ditentukan secara tepat seperti pada
gambar 7.13, karena sebuah sistem termal terdiri dari beberapa komponen yang mana optimasi pada
satu komponen tidak menjamin hasilnya akan optimaum pada seluruh sistem.

3.4. Biaya Exergi Kogenerasi

Sistem kogenerasi pada prinsipnya memiliki dua produk yaitu tenaga listrik yang dinyatakan
dengan e dan uap tekanan rendah untuk penggunaan beberapa proses.
Pada boiler, total biaya untuk menghasilkan uap aliran keluar sebanding dengan biaya aliran
masuk ditambah biaya-biaya lain dan operasi boiler. Hal ini dinyatakan dengan neraca laju biaya
pada boiler sebagai berikut:

14
Dimana C nilai biaya dari aliran dan Zb faktor yang menghitung nilai biaya berkaitan dengan biaya
lain operasi boiler.
Dengan biaya exergi, setiap nilai biaya berhubungan dengan perpindahan exergi dan biaya
satuan. Jadi untuk aliran masuk dan keluar dapat ditulis:

Dimana c menyatakan biaya per unit exergi (sen per kWh) dan berkaitan dengan laju perpindahan
exergi. Jika diasumsikan feedwater dan udara pembakar memasuki boiler dengan mengabaikan
exergi dan biaya, sedangkan hasil pembakaran dikeluarkan ke sekeliling dengan mengabaikan
biaya, maka menjadi:

Pada Turbin, laju biayanya adalah dimana C e nilai biaya yang berkaitan
dengan listrik, C1 dan C2 berkaitan dengan uap masuk dan keluar, dan Z t berkaitan dengan
kepemilikan dan operasi turbin. Jika ditambah dengan pembiayaan exergi, maka persamaannya
menjadi
Satuan biaya yang sama dimiliki oleh uap tekanan rendah sehingga c 2=c1. Persamaannya
menjadi

Suku pertama diruas kanan memperhitungkan biaya exergi dan suku kedua biaya dari sistem itu
sendiri.
Dimana adalah efisiensi turbin exergetik.

Jadi, dengan mengaplikasikan neraca laju biayan ke boiler dan turbin, maka kita dapat menentukan
biaya setiap produk sistem kogenerasi.

BAB 3
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
15
1. Sistem termodinamika dikategorikan dalam control volume system atau open system.
Persamaan yang disusun telah dapat digunakan untuk menghitung dan menganalisis energi
dan eksergi.
2. Eksergi kimia merupakan komponen eksergi udara yang dominan dibandingkan eksergi
fisiknya.
3. Metode analisis eksergi berdasarkan hukum termodinamika kedua telah berhasil
menentukan besaran eksergi yang habis/rusak (destroyed exergy)
4. Untuk menghitung secara terpisah biaya setiap produk yang dibangkitkan oleh sebuah
sistem yang mempunyai lebih dari satu produk,untuk mengerti proses formasi biaya dan
aliran biaya dari sistem tersebut, untuk mengoptimalkan variabel spesifik dalam sebuah
komponen tunggal, untuk mengoptimalkan keseluruhan sistem.

DAFTAR PUSTAKA

Ananda, S. (2015), Analisis Exergi siklus kombinasi Turbin Gas-Uap. Palembang [word]
(www.scribd.com/mobile/document/320024674/makalah-exergi )
Yawara, E. (2014), Exergi [PDF] (www.scribd.com/mobile/document/234197547/exergi )
Rahmad (2016), EXERGI [online] (id.m.wikipedia.org/wiki/exergi)
16
Ahern, J. E. (1980). The exergy method of energy systems analysis. Canada: John Wiley and
Sons Inc.

Bejan, A. (1998). Advanced engineering thermodynamics, 2nd ed. New York: John Wiley
and Sons Inc.

engel, Y.A., Boles, M.A. (2006). Thermodynamics: an engineering approach, 5th


ed.,Dubuque, Iowa: McGraw-Hill.

olpan, C.. (2005). Exergy analysis of combined cycle cogeneration systems. Middle East
Technical University.

17
18
19
20
21
22

Anda mungkin juga menyukai