Anda di halaman 1dari 6

TUGAS ESSAY

KRITIK EVOKATIF
KANDANG
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kritik Arsitektur
yang diampu oleh:

Octavianus H.A. Rogi, ST, M.Si

Oleh:

CARLOS W ANTOU

13021102118

PROGRAM STUDI S1 JURUSAN ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO

2016
KANDANG

Suatu tempat
sakral bagi civitas
akademika Jurusan
Arsitektur Universitas
Sam Ratulangi
Manado. Tempat
dimana hanya
manusia-manusia yang
pernah tinggal disana
mengetahui kesakralan
tempat itu. Tempat itu
bergaya sederhana namun sewaktu-waktu bisa berganti gaya.
Tempat itu terlihat seperti Surga bagi Bos-bos, dan NERAKA bagi
Kuya-Kuyi Ars. Dan tempat itu bernama KANDANG.

KANDANG BISA MERASAKAN KESENANGAN KAMI


Setiap kesenangan itu bukan hanya kami yang rasakan,
kandang itu merasakan hal serupa yang kami rasakan, dia
tertawa bersama dengan kami, dia bersenda gurau bersama
kami, dia memberi kita ruang untuk tertawa, dia melihat
jahilnya kami, dia dan kami saling tertawa bersama.

KANDANG MERASAKAN KELELAHAN KITA


Kelelahan itu biasa tidak bertahan lama, kami diberikan
tempat untuk tidur, kursi dan mejanya rela dia berikan bagi
kami untuk dijadikan tempat melepas lelah dan berbaring, dia
mengerti apa yang kami rasakan, dia tidak tega melihat anak-
anak kesayangannya terlalu lama merasakan penat dan lelah
yang hampir tidak pernah berhenti.

KANDANG MENGETAHUI KELUGUAN KITA


Tingkah lugu kami bisa dia lihat setiap hari, ketika wajah-
wajah kepolosan mulai terpampang, dia tertawa terbahak-
bahak akan hal itu. Dia membiarkan kami bertingkah sesuka
kami, dia hanya tersenyum, dia tertawa akan tingkah kami,
dan kami telah melukis senyum yang indah pada wajah
kandang itu.
KANDANG MENGETAHUI USAHA KITA
Berusaha untuk tetap pada komitmen, berusaha untuk
tetap teguh memegang janji, berusaha untuk memberikan
sesuatu karya baru yang belum tentu dihargai dan dihormati,
berusaha memberikan harapan bagi hidup kami sendiri.
Kandang itu memberi kami tempat untuk berkarya, berusaha,
dan berkarya, dia sudah tahu bahwa kami ingin tujuan itu
tercapai, oleh karena itu dia rela memberi kita ruang untuk
mewujudkan itu.

KANDANG MERASAKAN KESEDIHAN KITA


Derai air mata yang pernah jatuh menetes dipipi kami,
kesedihan hati kami, dan kepenatan pikiran kami, telah
menjadi hal biasa yang kandang itu tahu, dia tidak bisa
mencegah semua hal itu terjadi, dia tidak ingin melihat kami
bersedih, namun dia juga tidak bisa mencegah hal itu terjadi,
namun dia tetap berusaha mengerti situasi kami, dia berusaha
menjadi obat pelipur lara kami.

KANDANG HAMPIR MENGETAHUI SEMUA TENTANG KITA


Dia mengetahui kegembiraan kami, dia merasakan
kelelahan kami, dia melihat keluguan kami, dia mengetahui
usaha kami, dia merasakan kesedihan kami, dan dia hampir
mengetahui semua tentang kita. Dia memberikan segala yang
terbaik yang bisa dia berikan bagi kami, dan karena hal itulah
yang menjadikan kandang itu sangat berharga bagi kami.

Kandang telah menaungi, menampung dan


melindungi kita saat kami berada didalamnya. para Dosen,
Bos-bos senior, dan Survivers tahu pasti perasaan itu
sampai saat ini. Semua kenangan indah itu tidak akan
mungkin kami dapat lupakan begitu saja, semua itu terjadi
seiring proses berkembangnya pribadi masing-masing
kami. Sadar atau tidak sadar tempat itu telah
mempengaruhi perilaku dan karakter kami. Banyak hal
membuat watak, mental, dan sikap kami berubah.
Dan, semua itu berubah saat NEGARA API MENYERANG..!!

Tempat tinggal ituDIRUSAK..!!


Rumah kami DIHANCURKAN..!!
Kandang kami hangus DIBAKAR..!!

Kandang kami yang sangat kami sayangi dibuat


seolah-olah hanya sebuah bangunan yang tidak berarti
apa-apa.

Rumah kami menangis dengan kerasnya saat api itu


mulai menjalar melalui setiap bagian tubuhnya, dia
berteriak minta tolong, dia menjerit dengan kerasnya.

Kami mendengar tangisannya, kami mendengar dia


meminta tolong kepada kami, segala usaha kami lakukan
agar rumah itu selamat dari api kekejaman penguasa kotor
dan dari tangan manusia-manusia keji yang berdasi.
Mereka tidak perduli dengan rumah kami, mereka
berpangku kaki menikmati jeritan kandang kami yang telah
menyatu dengan api kedengkian mereka. Kami tidak bisa
berbuat banyak selain berusaha menolongnya, namun
apalah daya kami yang tidak setegar rumah kami.

Kami melihat dia menutup mata dengar air mata


bercampur sisa-sisa api dan asap yang menyelimutinya.
Tangisan yang keras itu terhenti, suara minta tolong itu
hilang, dan jeritan itu telah sirna. Kami hanya bisa
mengiring kepergian dia yang menjadi rumah kita dengan
air mata penyesalan dan kepedihan yang teramat sangat,
serta dendam yang tidak akan pernah padam.

Kenapa harus RUMAH kami..??


Kenapa harus Kandang kami..??
Kenapa harus kami yang merasakan kepedihan itu..??
Apa kesalahan kami wahai penguasa..??
Senangkah kalian dengan itu..??

503, RUMAH kami terbakar


503, KANDANG kami hancur
503, masa TERKELAM kami
503, awal DENDAM kami
503, AKHIR sebuah kenangan indah itu
503, AWAL cerita baru tanpa KANDANG
503, TIDAK AKAN PERNAH KAMI LUPAKAN

3 tahun sudah kejadian itu berlalu, dan hampir 3


tahun pula kita tinggal dirumah pinjaman. Rumah yang
bersedia menampung penghuni yatim piatu dan penghuni
baru. Penghuni baru terlihat sangat NYAMAN,AMAN,
TENTRAM, dan DAMAI dengan rumah ini, namun tidak
begitu dengan penghuni yatim piatu, rasa rindu akan
Rumah Lama itu sangatlah besar, rumah kecil, sederhana,
pendek, dan tua itu TIDAK AKAN PERNAH TERGANTIKAN.

Masih rindukah pada RUMAH yang dulu..??


Masih ingatkah suasana HALAMAN RUMAH itu..??
Dan masih ingatkah pada KANDANG yang telah
memberikan SEPARUH dirinya agar dia bisa menjadi
RUMAH itu..??

KANDANG ITU RUMAH KAMi YANG


SESUNGGUHNYA.
KANDANG ITU RERUNTUHAN YANG BERARTI.
&
KANDANG ITU ADALAH KAMI YANG MASIH
BERTAHAN.