Anda di halaman 1dari 8

TINJAUAN PUSTAKA

Kejang Demam
1. Definisi
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstra kranium. Kejang demam
biasanya terjadi pada anak umur 6 bulan 5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang
tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam.
Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari satu tahun tidak termasuk dalam
kejang demam. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami
kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain, misalnya infeksi SSP, epilepsi yang
kebetulan terjadi bersama demam.

2. Klasifikasi
Pada umumnya, kejang demam dibagi menjadi 2 golongan. Kriteria untuk
penggolongan tersebut dikemukakan oleh berbagai pakar. Dalam hal ini, terdapat perbedaan
dalam penggolongan tersebut, menyangkut jenis kejang, tingginya demam, usia penderita,
lamanya kejang berlangsung, gambaran otak, dan lainnya.
Klasifikasi menurut Prichard dan McGreal
Prichard dan McGreal membagi KD atas 2 golongan, yaitu kejang demam sederhana
dan kejang demam tidak khas. Ciri ciri kejang demam sederhana ialah:
1. Kejangnya bersifat simetris, artinya terlihat lengan dan tungkai kiri yang kejang sama
seperti yang kanan.
2. Usia penderita antara 6 bulan 4 tahun
3. Suhu 100o F (37oC) atau lebih
4. Lamanya kejang berlangsung kurang dari 30 menit
5. Keadaan fungsi saraf/neurologi normal, dan setelah kejang juga tetap normal.
6. EEG/rekam otak yang dibuat setelah tidak kejang adalah normal.
Kejang demam yang tidak memenuhi kriteria di atas digolongkan sebagai KD tidak khas.

Klasifikasi menurut Livingstone


Livingstone juga membagi kejang demam menjadi 2 golongan, yaitu kejang demam
sederhana dan epilepsi yang dicetuskan oleh demam. Ciri-ciri kejang demam sederhana
menurut Livingstone adalah:
1. Kejang bersifat umum
2. Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit)
3. Usia waktu kejang demam pertama muncul kurang dari 6 tahun
4. Frekuensi serangan 1 4 kali dalam satu tahun
5. EEG normal
Kejang demam yang tidak sesuai dengan ciri tersebut di atas disebut oleh Livingstone
sebagai epilepsi yang dicetuskan oleh demam.
Klasifikasi kejang demam menurut Fukuyama
Fukuyama juga membagi kejang demam menjadi 2 golongan, yaitu kejang demam
sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana harus memenuhi semua
kriteria berikut, yaitu:
1. Dikeluarga tidak ada riwayat epilepsi
2. Sebelumnya tidak ada riwayat cedera otak oleh penyebab apapun
3. Serangan kejang demam yang pertama terjadi antara usia 6 bulan 6 tahun
4. Lamanya kejang berlangsung tidak lebih dari 20 menit
5. Kejang tidak bersifat lokal
6. Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca-kejang
7. Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurologis atau abnormalitas
perkembangan
8. Kejang tidak berlangsung dalam waktu singkat.
Bila kejang demam tidak memenuhi kriteria di atas, maka digolongkan sebagai kejang
demam kompleks.

3. Epidemiologi
Kejang demam terjadi pada 2%-4% populasi dari populasi anak 6 bulan 5 tahun.
Delapan puluh persen dari anak yang mengalami kejang demam, merupakan kejang demam
sederhana, sedangkan 20% kasus adalah kejang demam kompleks. Lima belas persen kasus
kejang berlangsung lama (lebih dari 15 menit), dan 16% berulang dalam waktu 24 jam. Usia
kejang demam pertama paling banyak adalah pada kelompok umur 17 23 bulan, dan anak
laki-laki lebih sering mengalami kejang demam. Apabila kejang demam sederhana yang
pertama terjadi pada umur kurang dari 12 bulan, maka risiko kejang demam kedua adalah
50%, dan bila kejang demam pertama terjadi setelah umur 12 bulan, menurun menjadi 30%.
Setelah kejang demam pertama, 2- 4 % anak akan berkembang menjadi epilepsi, dan ini 4
kali risikonya dibandingkan dengan populasi umum.

4. Patofisiologi
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak dperlukan suatu energi
yang didapat darimetabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah
glukosa. Jadi sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah
menjadi CO2 dan air.
Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid dn
permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui
dengan mudah oleh ion Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium (Na+) dan
elektrolit lainnya, kecuali ion Klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron
tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan diluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya.
Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel, maka terdapat perbedaan
potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan
potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat
pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya:
1. Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler
2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari
sekitarnya
3. Perubahan patof isiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.
Pada keadan demam kenaikan suhu 1 C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal
10% 15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak berumur 3
tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa
yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan
keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi dif usi dari ion
Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi,
dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas mutan listrik ini demikian besarnya
sehingga dapat
meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang
disebut dengan neurotransmiter dan terjadilah kejang.
Tiap anak mempunyai ambang kejng yang berbeda dan tergantung dari tinggi
rendahnya ambang kejang seseorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu.
Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38 C
sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 C
atau lebih.
Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih
sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu
diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang.
Sehingga beberapa hipotesa dikemukakan mengenai patof isiologi sebenarnya dari kejang
demam, yaitu:
1. Menurunnya nilai ambang kejang pada suhu tertentu.
2. Cepatnya kenaikan suhu.
3. Gangguan keseimbangan cairan dan terjadi retensi cairan.
4. Metabolisme meninggi, kebutuhan otak akan O2 meningkat sehingga sirkulasi darah
bertambah dan terjadi ketidakseimbangan.
Dasar patof isiologi terjadinya kejang demam adalah belum berf ungsinya dengan baik
susunan saraf pusat (korteks serebri).

5. Diagnosis
Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah bangkitan
kejang pada bayi dan anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan
dengan demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab lain.
Umumnya kejang demam pada anak berlangsung pada permulaan demam akut, berupa
serangan kejang klonik umum atau tonik klonik, singkat dan tidak ada tanda-tanda neurologi
post iktal. Pemeriksaan EEG pada kejang demam dapat memperlihatkan gelombang lambat di
daerah belakang yang bilateral, sering asimetris, kadang-kadang unilateral.Pemeriksaan EEG
dilakukan pada kejang demam kompleks atau anak yang mempunyai risiko untuk terjadinya
epilepsi.
Pemeriksaan pungsi lumbal diindikasikan pada saat pertama sekali timbul kejang demam
untuk menyingkirkan adanya proses infeksi intra kranial, perdarahan subaraknoid atau
gangguan demielinasi, dan dianjurkan pada anak usia kurang dari 2 tahun yang menderita
kejang demam.

6. Penatalaksanaan
Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan saat datang, kejang sudah berhenti.
Berdasakan konsensus penatalaksanaan kejang demam, apabila datang dalam keadaan
kejang, obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan
secara intravena. Dosis diazepam intravena adalah 0,3-0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan
kecepatan 1-2 mg/menit atau dlaam waktu lebih dari 2 menit, dengan dosis maksimal 20mg.
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau di rumah adalah diazepam
rectal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5 0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5mg untuk anak
dengan berat badan kurang dari 10 kg dan diazepam rektal 10mg untuk berat badan lebih
dari 10 kg. Atau diazepam rectal dengan dosis 5mg untuk anak di bawah usia 3 tahun atau
dosis 7,5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun.Kejang yang belum berhenti dengnan diazepam
rektal dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit.
Bila 2 kali dengan diazepam rektal masih kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Dan di sini
dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3 0,5 mg/kg. Bila kejang tetap belum
berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10 20 mg/kg/kali dengan
kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50mg/menit. Bila kejang berhenti dosis
selanjutnya adalah 4 8 mg/kg/hari, yaitu 12 jam setelah dosis awal. Bila dengna fenitoin
kejang belum berhenti, maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif.
Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang
demamnya dan faktor risikonya, apakah kejang demam sederhana atau kompleks.
Pemberian obat saat demam
Antipiretik
Antipiretik pada saat demam dianjurkan, walaupun tidak ditemukan bukti bahwa
penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang demam. Dosis parasetamol yang
digunakan berkisar 10 15 mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali.
Dosis ibuprofen 5 10 mg/kg/kali, 3 4 kali sehari.
Antikonvulsan
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam menurunkan
risiko berulangnya kejang, begitu juga dengan diazepam rektal dosis 0,5 mg/kg setiap 8 jam
pada suhu > 38,5oC. Dosis tersebut tinggi dan dapat menyebabkan ataksia, iritabel, dan sedasi
yang cukup berat pada 25 39% kasus. Fenobarbital, karbamazepin, fenitoin pada saat
demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam.
Pemberian obat rumat
Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam menurunkan
risiko berulangnya kejang. Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulakan gangguan
perilaku dan kesulitan belajar. Obat pilihan saat ini adalah asam valproat meskipun dapat
menyebabkan hepatitis namun insidensnya kecil. Dosis asam valproat 15-40 mg/kg/hari
dalam 2 3 dosis, fenobarbital 3 4 mg/kg/hari dalam 1- 2 dosis. Pengobatan rumat hanya
diberikan bila kejang demam menunjukkan salah satu saja dari ciri berikut:
1. Kejang lama > 15 menit
2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya
hemiparesis, paresis Todd, Cerebral Palsy, retardasi mental, hidrosefalus.
3. Kejang fokal
4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:
a. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam
b. Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulang
c. Kejang demam > 4 kali per tahun
Pengobatan rumat ini diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikas
secara bertahap selama 1 2 bulan.
BAGAN PENGHENTIAN KEJANG DEMAM

KEJAN Diazepam rektal 0,5 mg/kg


atau:
- BB <10 kg = 5 mg
- BB >10 kg = 10 mg
Diazepam IV 0,3 0,5 mg/kg

KEJANG
Diazepam rektal

5 menit

Di Rumah Sakit

Kejang
Diazepam IV
Kecepatan 0,5 1mg/menit (3 5
menit)
Kemungkinan depresi napas dapat

Kejang
Fenitoin bolus IV 10 20 mg/kg
Kecepatan 0,5 1 mg/kg/menit
(Pastikan ventilasi adekuat)

Kejang
Transfer ke ICU
7. Prognosis
Kejadian kejang demam dapat berulang di kemudian hari. Faktor risiko yang menyebabkan
berulangnya kejang demam adalah:
1. Riwayat kejang demam dalam keluarga
2. Usia kurang dari 15 bulan
3. Temperatur yang rendah saat kejang
4. Cepatnya kejang setelah demam.
Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulang adalah 80%, sedangkan bila tidak
terdapat faktor tersebut hanya 10%-15% kemungkinan berulang. Kemungkinan berulang
paling besar pada tahun pertama.
Menurut pengamatan Prichard dan McGreal dari kelompok anak yang menderita kejang
demam sederhana kemungkinan menjadi epilepsi di kemudian hari adalah kurang dari 2%
sedangkan pada kelompok yang menderita kejang demam tidak khas kemungkinan sekitar
30%. Hasil yang berbeda ditemukan oleh Livingstone. Ia berhasil mengikuti perkembangan
201 anak dengan kejang demam sederhana selama 10 tahun lebih dan menemukan bahwa 3%
di antara kelompok anak yang diamatinya menderita epilepsi. Sedangkan dari kelompok
epilepsi yang dicetuskan oleh demam, ia menemukan fakta bahwa 93% di antaranya menjadi
penderita epilepsi.
Nelson dan Ellenberg (1976) dan Annegers dkk (1987) mengemukakan bahwa faktor
risiko terjadinya epilepsi adalah:
1. Kelainan neurologis atau perkembangna yang jelas sebelum kejang demam pertama
2. Kejang demam kompleks
3. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung.
Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4-
6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi 10%-
49%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada
kejang demam.
Selain itu, Ellenberg dan Nelson (1976) juga menyatakna bahwa kejadian kecacatan sebagai
komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Dan kematian karena kejang demam
tidak pernah dilaporkan.