Anda di halaman 1dari 3

OBESITAS

EPIDEMIOLOGI

Dalam 10 tahun terakhir ini, angka prevalensi atau kejadian obesitas di seluruh dunia
menunjukkan peningkatan yang signifikan. Saat ini, 1,6 miliar orang dewasa di seluruh dunia
mengalami berat badan lebih (overweight), dan sekurang-kurangnya 400 juta diantaranya
mengalami obesitas. Pada tahun 2015, diperkirakan 2,3 miliar orang dewasa akan
mengalami overweight dan 700 juta di antaranya mengalami obesitas.

Prevalensi overweight dan obesitas juga meningkat sangat tajam di kawasan Asia-Pasifik.
Sebagai contoh, 20,5% dari penduduk Korea Selatan tergolong overweight dan 1,5%
tergolong obesitas. Di Thailand, 16% penduduknya mengalami overweight dan 4%
mengalami obesitas. Di daerah perkotaan Cina, prevalensioverweight adalah 12,% pada laki-
laki dan 14,4% pada perempuan, sedang di daerah pedesaan prevalensioverweight pada laki-
laki dan perempuan masing-masing adalah 5,3% dan 9,8% (Inoue, 2000).

Obesitas tidak hanya ditemukan pada penduduk dewasa tetapi juga pada anak-anak dan
remaja. Penelitian yang dilakukan di Malaysia akhir-akhir ini menunjukkan bahwa prevalensi
obesitas mencapai 6,6% untuk kelompok umur 7 tahun dan menjadi 13,8% pada kelompok
umur 10 tahun (Ismail & Tan, 1998). Di Cina, kurang lebih 10% anak sekolah mengalami
obesitas, sedangkan di Jepang prevalensi obesitas pada anak umur 6-14 tahun berkisar antara
5% s/d 11% (Ito & Murata, 1999).

Di Indonesia, angka prevalensi obesitas juga menunjukkan angka yang cukup


mengkhawatirkan. Berdasarkan data SUSENAS tahun 2004, prevalensi obesitas pada anak
telah mencapai 11%. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2010, rata-
rata prevalensi obesitas pada anak di Indonesia adalah sekitar 14%, dan Provinsi DKI Jakarta
tercatat memiliki prevalensi tertinggi, yakni 19,2%.Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia 15
tahun adalah 10,3% terdiri dari laki-laki 13,9%, dan perempuan 23,8% , sedangkan
prevalensi overweight pada anak-anak usia 6-14 tahun pada laki-laki 9,5% dan pada
perempuan 6,4%. Angka ini hampir sama dengan estimasi WHO sebesar 10% pada anak usia
5-17 tahun.

ETIOLOGI

Obesitas biasanya disebabkan oleh kelebihan masukan makanan bukannya dari kelebihan
makanan (overreating) yang masif. Simpanan lemak tubuh bertambah ketika masukan energi
melebihi pengeluaran, dan keadaan ini biasanya terjadi bila ada keseimbangan energi yang
sedikit positif selama masa yang lama. Pengeluaran energi total selama latihan fisik anak
gemuk terkontrol bertambah, tetapi bila dikoreksi menurut kenaikan massa tubuh adalah
ekuivalen dengan pengeluaran energi total anak tidak gemuk (nonbese). Obesitas dapat akibat
dari penambahan jumlah atau ukuran sel lemak, adiposit. Orang gemuk dapat menjadi
resisten terhadap insulin, menyebabkan penambahan insulin dalam sirkulasi. Orang gemuk
berespon terhadap makanan karbohidrat dengan menaikkan insulin dan penggunaan asam
lemak bebas dikurangi. Selama regimen pengurangan berat badan, orang gemuk kurang
menghantarkan makan ke sel-selnya daripada orang kurus, karena mobilasi asam lemak bebas
kurang.

Faktor lingkungan

Hampir seluruh obesitas anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik tingkat
aktivitas fisik yang rendah atau asupan kalori yang terlalu besar. Waktu yang dihabiskan
untuk menonton televisi berhubungan langsung dengan angka obesitas anak dan remaja, dan
efek ini dapat terus berlanjut ke usia dewasa. Dalam dua studi, waktu menonton televisi pada
usia 5 tahun ke atas memiliki korelasi dengan meningkatnya BMI pada usia 26-30 tahun.
Satu studi lain menunjukkan bahwa efek televisi terhadap obesitas terutama disebabkan
perubahan dalam asupan energi. Mengurangi waktu menonton televisi dan bermain komputer
selama 2 tahun pada anak usia 4-7 tahun yang overweight terbukti efektif untuk mengurangi
BMI dan asupan energi tanpa perubahan dalam aktivitas fisik. Video game yang memerlukan
aktivitas fisik interaktif dari pemainnya, walaupun terbukti meningkatkan pemakaian energi
selama permainan, tidak memiliki efek jangka panjang terhadap obesitas dan penggunaannya
menurun tajam seiring waktu.

Penelitian juga menunjukkan hubungan antara waktu tidur yang kurang dengan obesitas atau
resistensi terhadap insulin. Mekanisme hubungan ini diperkirakan berhubungan dengan
perubahan kadar leptin dan ghrelin dalam serum, atau tersedianya waktu yang lebih banyak
untuk mengkonsumsi makanan pada anak yang tidur lebih sedikit.

Faktor genetik

Studi yang ada menunjukkan bahwa keturunan berperan dalam 30-50% variasi akumulasi
jaringan lemak, namun polimorfisme genetik untuk hal ini belum ditemukan. Beberapa
sindrom spesifik dan kelainan gen tunggal yang terkait dengan obesitas anak telah ditemukan.
Semua ini adalah penyebab yang sangat jarang untuk obesitas anak, hanya mencakup kurang
dari 1% obesitas anak yang dijumpai di pusat-pusat penelitian. Selain obesitas, anak dengan
sindrom genetik ini umumnya memiliki temuan karakteristik dalam pemeriksaan fisik.

Faktor endokrin

Faktor endokrin sebagai penyebab ditemukan hanya dalam kurang dari 1% obesitas
anak dan remaja, beberapa di antaranya adalah hipotiroid, kelebihan kortisol (penggunaan
kortikosteroid, Cushing syndrome), defisiensi hormon pertumbuhan, dan lesi hipotalamus
(infeksi, malformasi vaskular, neoplasma, atau trauma). Anak dengan masalah endokrin
umumnya berpostur pendek dan/atau mengalami hypogonadism.
Sumber :

Obesitas [online]. 2009 [cited 2013 april 10]; available from: URL: http://milissehat.web.id/?
p=91

Obesitas [online]. 2011 [cited 2013 april 10]; available from: URL:
http:// ugm.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=78