Anda di halaman 1dari 57

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN SEHAT MENTAL


Keperawatan Komunitas III
Dosen Pembimbing : Ns. Desty Dwi Ariani

Di susun oleh
Kelompok 4:

1. Naila Winarni SR142080021


2. Vidia Amanda Indah Sari SR1420800
3. Putri Kurniawati SR1420800
4. Wawan Dharmawan SR1420800
5. Dewan Sukma E.S SR1420800
6. Roli Safie SR1420800
7. Nanda Patroji SR1420800

Prodi S1 Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah
Pontianak
2016/2017
Kata Pengantar
Segala puji syukur atas kehadirat ALLAH SWT yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karunia-Nya serta Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan
kepada junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW. Sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Sehat
Mental. Penulisan ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan
oleh dosen pengampu matakuliah Keperawatan Komunitas III.

Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data data yang kami peroleh dari
buku panduan, serta informasi dari media massa yang berhubungan dengan Asuhan
Keperawatan Pada Klien Dengan Sehat Mental.

Kami harap makalah ini dapat memberikan manfaat dan wawasan untuk
Mahasiswa/i. Makalah ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik
dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Kuburaya, Mar 2017

Kelompok 4

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keperawatan kesehatan mental dan psikiatrik adalah suatu bidang
spesialisasi praktek keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai
ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya ( ANA ).
Semuanya didasarkan pada diagnosis dan intervensi dari adanya respons individu
akan masalah kesehatan mental yang actual maupun potensial. Ada empat
karakteristik keperawatan :
1. Fenomena yaitu rentang respons-respons yang berkaitan dengan kesehatan
yang teramati pada orang sakit dan sehat yang menjadi focus diagnosa dan
penanganan keperawatan.
2. Teori yaitu konsep-konsep, prinsip-prinsip dan proses yang memandu
intervensi keperawatan dan pemahaman tentang respons yang berhubungan
dengan kesehatann.
3. Tindakan-tindakan yaitu intervensi untuk mencegah kesehatan.
4. Pengaruh yaitu evaluasi tindakan keperawatan yang berhubungan dengan
respon kesehatan yang teridentifikasi dan hasil asuhan keperawatan yang
diantisipasi.
Pelayanan yang menyeluruh difokuskan pada pencegahan penyakit
mental, menjaga kesehatan, pengelolaan atau merujuk dari masalah kesehatan
phisik dan mental, diagnosis dan intervensi dari gangguan mental dan akibatnya,
dan rehabilitasi (Haber & Billing, 1993).
Keperawatan jiwa / mental diharapkan mampu mengkaji secara
komprehensif, menggunakan ketrampilan memecahkan masalah secara efektif
dengan pengambilan keputusan klinik yang komplek (advokasi), melakukan
kolaborasi dengan profesi lain, peka terhadap issue yang mencakup dilema etik,
pekerjaan yang menyenangkan, tanggung jawab fiskal. Jadi peran keperawatan
jiwa profesional telah berkembang secara komplek dari elemen-elemen sejarah
aslinya.
Sejarah Perkembangan Keperawatan Jiwa Dalam sejarah evolusi
keperawatan jiwa, kita mengenal beberapa teori dan model keperawatan yang
menjadi core keperawatan jiwa, yang terbagi dalam beberapa periode. Pada
awalnya perawatan pasien dengan gangguan jiwa tidak dilakukan oleh petugas
kesehatan (Custodial Care). Perawatan bersifat isolasi dan penjagaan. Mereka
ditempatkan dalam suatu tempat khusus, yang kemudian berkembang menjadi
Primary Consistend of Custodial Care.
Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu
mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta
mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Kesehatan jiwa meliputi:
1. Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri
2. Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain
3. Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari - hari.
Keperawatan jiwa dimulai antara tahun 1770 dan 1880 seiring dengan
kejadian penanganan pada seorang penyakit mental. Sebelumnya, pada masa
peradaban dimana roh-roh dipercaya sebagai penyebab gangguan dan
mengusirnya agar sembuh. Para leluhur Yunani, Romawi dan Arab percaya bahwa
gangguan emosional diakibatkan tidak berfungsinya organ pada otak. Mereka
menggunakan berbagai pendekatan tindakan seperti : ketenangan, gizi yang baik,
kebersihan badan yang baik, musik dan aktivitas rekreasi. Selama abad 7 sebelum
masehi, Hippocrates menjelaskan perubahan perilaku atau watak dan gangguan
mental disebabkan oleh perubahan 4 cairan tubuh atauhormon, yang dapat
menghasilkan panas, dingin, kering dan kelembaban. Aristotle melengkapi dengan
hati, dan Seorang Dokter Yunani, Galen :menyatakan emosi atau kerusakan
mental dihubungkan dengan otak. Orang Yunani menggunakan kuil sebagai
rumah sakit dan memberikan lingkungan udara bersih, sinar matahari dan air
bersih untuk menyembuhkan penyakit jiwa/mental. Bersepeda, Jalan-jalan, dan
mendengarkan suara air terjun ini sebagai contoh penyembuhan.
Falsafah biasanya diartikan sebagai suatu pandangan dan pengetahuan
yang mendasar, yang selanjutnya digunakan untuk mengembangkan dan
membangun suatu persepsi atau asumsi tertentu tentang kehidupan. Falsafah
memberikan suatu gambaran atau pandangan terhadap suatu sistem nilai dan
keyakinan. Bagi setiap individu, falsafah berperan dalam membantu seseorang
memahami makna dari pengalaman hidup yang dijalaninya serta berfungsi
sebagai penuntun dalam bersikap dan berperilaku. Falsafah hidup seseorang
berkembang melalui dari hasil belajar, hubungan interpersonal, pendidikan formal
maupun informal, agam, dan dipengaruhi oleh latar belakang budaya serta
lingkungan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan sehat mental?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat menjelaskan asuhan keperawatan terhadap
pasien dengan sehat mental.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui definisi kesehatan jiwa.
b. Mengetahui kriteria sehat jiwa menurut Yahoda.
c. Mengetahui rentang sehat jiwa.
d. Mengetahui pengertian keperawatan sehat jiwa.
e. Mengetahui prinsip-prinsip keperawatan kesehatan jiwa.
f. Mengetahui perkembangan keperawatan kesehatan jiwa.
g. Mengetahui konseptual model keperawatan kesehatan jiwa.
h. Mengetahui peran perawat kesehatan jiwa.
i. Mengetahui sejarah usaha kesehatan jiwa di Indonesia.
j. Mengetahui upaya kesehatan jiwa di Indonesia.
k. Mengetahui aspek etik dan legal dalam keperawatan jiwa.
l. Mengetahui program kesehatan jiwa.
m. Mengetahui asuhan keperawatan kesehatan jiwa.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Kesehatan Jiwa


1. A mind that grows and adjust, is in control, and is free of serious stress.
(Kondisi jiwa seseorang yang terus tumbuh berkembang dan mempertahankan
keselarasan, dalam pengendalian diri serta terbebas dari stress yang serius.)
(Rosdahl, Textbook of BasicNursing, 1999:58)
2. Indicator ofmental health Include positive attitude toward self, growth,
development, self actualization, integration, autonomy, reality perception &
environmental mastery. (Indikator sehat jiwa meliputi sikap yang positif
terhadap diri sendiri, tumbuh, berkembang, memiliki aktualisasi diri,
keutuhan, kebebasan diri, memiliki persepsi sesuai kenyataan dan kecakapan
dalam beradaptasi dengan lingkungan.) (Stuart & Laraia, Principle and
Practice Psychiatric Nursing, 1998) (Yahoda)
3. The capacity of individuals within the groups & environment to interact with
one an other in ways that promote subjective well-being, optimal development
and use mental abilities (cognitive, affective and relational) and achievement
of individual and collective goals consistens with justice. (Kemampuan
individu dalam kelompok dan lingkungannya untuk berinteraksi dengan yang
lain sebagai cara untuk mencapai kesejahteraan, perkembangan yang optimal,
dengan menggunakan kemampuan mentalnya (kognisi, afeksi, dan relasi)
memiliki prestasi individu serta kelompoknya konsisten dengan hukum yang
berlaku.) (Australian Health Minister, Mental Health Nursing Practice,
1996:25)
4. Refers to an adaptation to distress by mobilizing internal & external resources
to mini-mize tension. (Merujuk pada penyesuain diri terhadap distres dengan
rnengerahkan sumber-sumber internal dan eksternal untuk memininnlalisir
ketegangan.) (Antai Otong, Psychiatric Nursing Biological and Behavioral
Concept, 1995:66)
5. Kesehatan jiwa bukan hanya tidak ada gangguan jiwa, melainkan
mengandung berbagai karakteristik yang positif yang menggambarkan
keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan
kepribadiannya. (WHO).
6. Kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional
secara optimal dari seseorang dan perkembangan ini berjalan selaras dengan
orang lain. (UU Kesehatan Jiwa No. 3 Tahun 1996)

B. Kriteria Sehat Jiwa Menurut Yahoda


1. Sikap positif terhadap diri sendiri
2. Tumbuh kembang dan aktualisasi diri
3. Integrasi (keseimbangan/keutuhan)
4. Otonomi
5. Persefsi realitas
6. Environmental mattery (Kecakapan dalam adaptasi dengan lingkungan)

C. Rentang Sehat Jiwa


1. Dinamis bukan titik statis
2. Rentang dimulai dari sehat optimal- mati
3. Ada tahap-tahap
4. Adanya variasi tiap individu
5. Menggambarkan kemampuan adaptasi
6. Berfungsi secara efektif: sehat

D. Pengertian Keperawatan Kesehatan Jiwa


Menurut Dorothy, Cecelia
Perawatan psikiatrik/keperawatan kesehatan jiwa: Proses dimana perawat
membantu individu atau kelompok dalam mengembangkan konsep diri yang positif,
meningkatkan pola hubungan antar pribadi yang lebih harmonis serta agar berperan
lebih produktif di masyarakat (Dorothy, Cecelia).
Pengertian di atas memfokuskan bantuan perawat pada konsep diri individu
yang terganggu pada klien
gangguan mental. Sebagai contoh seseorang yang mengalami kebingungan
identitas seperti gay, banci, waria, merupakan gangguan pada self identity, dimana
terjadi gangguan identitas diri apakah ia seorang laki-laki atau perempuan. Di
samping itu banyak konsep diri yang lain seperti Body Image (gambaran diri), self
ideal (ideal diri), role (peran), selfesteem (harga diri).
Klien gangguan jiwa memiliki hubungan yang tidak harmonis misalnya
bermusuhan dengan orang lain dan mengancam (agression) atau curiga yang
berlebihan (paranoid). Klien gangguan jiwa juga seringkali tidak produktif di
masyarakat, bahkan cenderung merugikan masyarakat misalnya mencuri
(cleptomany), malas (abulia), atau perilaku deviasi sosial lain seperti pemakaian zat
adiktif.

Menurut American Nurses Associations (ANA)


Keperawatan jiwa adalah area khusus dalam praktek keperawatan yang
menggunakan Ilmu tingkah laku manusia sebagai dasar dan menggunakan diri
sendiri secara terapeutik dalam meningkatkan, mempertahankan, memulihkan
kesehatan mental klien dan kesehatan mental masyarakat dimana klien berada
(American Nurses Associations).
Pengertian menurul ANA tersebut lebih memfokuskan pada spesifikasi bidang
ilmu keperawatan jiwa (area khusus). Ilmu keperawatan terbagai menjadi beberapa
cabang dan spesifikasi seperti keperawatan anak (pediatryc nursing), keperawatan
bedah (medicalsurgical nursing), keperawatan komunitas (community nursing), dan
sebagainya. Masing-masing spesifikasi memiliki dasar keilmuwan dan bidang kajian
yang khas untuk memper kaya batang tubuh ilmunya (Body of Knowledge), misalnya
untuk keperawatan jiwa lebih banyak dilandasi ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi,
sosiologi, dan komunikasi.
Fokus selanjutnya adalah penggunaan diri sendiri secara terapeutik, artinya
perawat jiwa membutuhkan alat atau media untuk melakukan perawatan. Alat yang
digunakan selain keterampilan teknik dan alat-alat klinik, yang terpenting adalah
menggunakan dirinya sendiri (use self Therapeutic). Sebagai contoh misalnya gerak
tubuh (posture), mimik wajah (faceexpression), bahasa (language), tatapan mata
(eye), pendengaran (listening), sentuhan (touching), nada suara (vocalization), dan
sebagainya.

Menurut Kaplan Sadock


Proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan
perilaku yang akan mendukung integrasi. Pasien atau klien dapat berupa individu,
keluarga,kelompok, organisasi atau komunitas.
Pengertian tersebut lebih memfokuskan pada upaya perawat dalam mendukung
integrasi seseorang. Ciri orang yang sehat jiwanya adalah adanya integrasi atau
kesatuan yang utuh antara berbagai aspek dalam dirinya sendiri. Misalnya adanya
hubungan yang jelas antar persepsi dengan emosi. Adanya integrasi antara dirinya
dengan aturan atau norma yang berlaku dalam budayanya. Adanya korelasi antara
stimulus dan respon. Sebagai contoh klien gangguan jiwa tidak memilki integrasi
antara verbal dengan ekspresi wajah pada kasus: "perasaan yang tidak berkaitan"
(Innaprophiate affect) misalnya; "suster saya sedih sekalianak saya meninggal"
padahal ia tertawa terbahak-bahak.
Pada pasien yang memilki kelainan suka memperlihatkan alat kelaminnya pada
orang lain (exibisionism) jelas tidak adanya integrasi antara perilaku dengan norma
budaya yang berlaku dalam masyarakat.
Klien gangguan jiwa bisa individu atau perorangan yang datang ke klinik atau
rumah sakit, misalnya adanya keluhan menarik diri (withdrawl) dan tidak mau
bergaul. Bisa dalam bentuk keluarga misalnya penyuluhan tentang pentingnya kontrol
atau pengobatan yang teratur pada keluarga klien. Bisa juga dalam bentuk kelompok
seperti wanita tuna susila, kelompok pengidap HIV AIDS, kelompok post power
syndrome, atau penyuluhan pada masyarakat umum melalui televisi, radio, poster,
pamflet dan sebagainya.

Menurut Caroline dalam Basic Nursing, 1999.


Mental health nursing skill:... care of clients with deviations in mental health,
however provides a challenging opportunity for nurses to use these ability fully, must
be emotionally available, able to listen, non puriishing, supportive, understanding,
and encouraging.... (Keahlian perawatan kesehatan mental adalah merawat seseorang
dengan penyimpangan mental, dimana memberikan kesempatan kepada perawat
untuk mengoptimalkankemampuannya, harus peka, memiliki kemampuan untuk
mendengar, tidak hanya menyalahkan, memberikan penguatan/dukungan, memahami
dan memberikan dorongan....)
Definisi tersebut lebih memfokuskan pada syarat-syarat keahlian (skill) seorang
perawat jiwa yaitu peka atau sensitif, kemampuan mendengar, memberi penguatan.
Memahami dan memberikan dorongan. Pada prinsipnya semua pasien gangguan Jiwa
memilki tiga hal berikut yaitu: tidak tahu, tidak mau, dan tidak mampu. Tugas
perawat adalah menambah pengetahuannya dengan harapan berubah perilakunya atau
menjadi termotivasi. Misalnya, menjelaskan manfaat mandi bagi kesehatan, manfaat
berpikir positip, manfaat menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama atau
memberikan dorongan agar tetap berusaha, menambah ilmu, dan berdo'a.
Contoh lain perawat berusaha melatih klien berbicara sesuai kenyataan
(assertif), melatih relaksasi, melatih keterampilan kerja (occupational therapy),
melatih optimis dan sebagainya, hal tersebut sangat penting untuk memperkuat klien
dalam menghadapi berbagai stressor. Hal lain adalah pentingnya Expression f eeling
bagi klien untuk menyampaikan konflik psikisnya. Peran perawat adalah menjadi
pendengar yang baik yang dikenal dengan teknik komter listening.

Menurut Clinton & Nelson


Dalam perspektif keperawatan jiwa komunitas, Keperawatan Jiwa adalah
sebagai berikut:...The primay ro/e of mental health nurses is to meet the needs of the
consumer, and that do this effectively involves taking in emphatic and critical stance
on mental helath policy and mental health care. (Cinton & Nelson, Mental Health
Nursing Practice, 1996:1)
Definisi di atas lebih memfokuskan pada peran utama perawat kesehatan men
tal adalah untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan pasien dan hal tersebut dilakukan
secara efektif melalui sikap empati (memahami apa yang dirasakan klien), sikap
kritis dalam menelaah kebijakan kesehatan dan perawatan kesehatan mental.
Perawat jiwa berusaha menemukan dan memenuhi kebutuhan dasar klien yang
terganggu seperti kebutuhan fisik (fisiologis need). Kebutuhan rasa aman (safety
need), kebutuhan mencintai dan disayangi (belonging loving needs), kebutuhan harga
diri (selfesteem) dan kebutuhan aktualisasi (actualizations needs). Klien gangguan
jiwa umumnya mengalami gangguan selain fisiologis sebagai keluhan utama.Tetapi
selanjutnya seluruh kebutuhan menjadi terganggu sebagai dampak terganggunya
kebutuhan psikologis.
Sebagai contoh banyak klien gangguan jiwa yang merasa tidak aman atau tidak
diterima oleh lingkungan, hilangnya rasa cinta akibat ditinggal mati oleh orang yang
berarti. Terganggunya harga diri akibat PHK, atau terganggunya aktualisasi diri
akibat gagal dalam sekolah. Perawat berupaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan
tersebut dengan menjalin rasa percaya (trust), dan berusaha memahami apa yang
dirasakan oleh kliennya (empaty).

Menurut Patricia D. Barry


Nursing is an art and science that combines and integrates the theories and
practices of many different fields: social sciences, such as psychology and sociology;
bask science such asanatomy, physiology, microbiology, and biochemistry; and
medical science the diagnosis and treating of illness. Nursing Is blopsychosocial
science-that is, in assessing and planning care for the human responses to Illness, it
draws on knowledge of human biology, psychology, and the human social system of
family, friends and community as the foundations of its practice. This approach to
assessment Is called a holistic model of care. (Patricia D.Barry, Mental Health &
Mental Illness, 1998:72)
Keperawatan adalah Ilmu dan kiat yang merupakan perpaduan dan integrasi
dari area teori-teori yang berbeda: Ilmu-ilmu sosial, seperti psikologi dan sosiologi,
Ilmu-ilmu dasar seperti Anatomi, fisiologi, mikrobiologi, dan biokimia serta ilmu
medis tentang diagnosa dan pengobatan terhadap penyakit. Keperawatan adalah ilmu
yang meliputi aspek Biospikososial, dimana pengkajian dan perencanaan respon
manusia terhadap keadaan sakit, hal ini digambarkan dalam kemampuan pengetahuan
biologi, psikologi, dan sistem sosial dalam keluarga, sahabat dan masyarakat sebagai
dasar pelaksanaan praktik. Pendekatan ini dikenal dengan model keperawatan yang
holistic.
Berdasarkan definisi di atas keperawatan jiwa dibangun oleh berbagai teori
yang mendasari secara terapadu dan saling berakaitan (interconnect). Artinya seorang
perawat jiwa harus menguasai teori-teori tertentu sebagai prasyarat ilmu kejiwaannya.
Hal ini penting karena manusia tidak dipandang sebagai bagian-bagian yang terpisah,
tetapi sebagai satu kesatuan yang utuh (holistic). Sebagai contoh ketika seseorang
sakit, misalnya Decompensatio Cordis atau gagal jantung secara biologis ia akan
terganggu (nyeri, sesak, susah beraktivitas, susah tidur), secara psikologis ia
terganggu (cemas, takut, marah, menyesal, pesimis), secara sosial ia akan terganggu
terpisah dari keluarga, tidak bisa bertugas, tidak bisa aktif dalam kegiatan sosial,
susah berbicara, tidak bertemu tetangga), spritualnyapun terganggu artinya setelah
sakit menjadi susah untuk mengikuti kegiatan keagamaan, melakukan ibadah tidak
sempurna, tingginya biaya yang dikeluarkan menjadi mudah marah, tidak sabar,
berburuk sangka dan sebagainya. Pendekatan klien secara holistic tersebut
membutuhkan dasar keilmuan yang kompleks dan saling berkaitan, misalnya ilmu
biologi, patologi, dan ilmu psikologi.

Menurut AntaiOtong
Perawat kesehatan mental secara kontinyu memiliki peran penting dalam
mengidentifikasi pasien-pasien yang berisiko, mengkaji respon pasien terhadap stress
sepanjang rentang kehidupannya dan dalam mengembangkan komunikasi yang
terapeutik. Beliau menjelaskan: Psychiatric mental health nurse will continue to have
pivotal roles in identifying clients at risk, in assessing client response to stress a cross
the life span. And in developing therapeutic interventions. (Antai Otong, Psychiatric
Nursing Biological and Behavioral Concept, 1995)
Berdasarkan definisi di atas perawat kesehatan mental bertanggung jawab
secara kontinyu dalam seluruh rentang kehidupan klien dari mulai fase anak sampai
lansia yang dikenal dengan history life span. Peran lain yang sangat penting
berdasakan definisi di atas adalah mengidentifikasi pasien yang berisiko. Gangguan
jiwa berat dapat dihindari dengan cara penemuan kasus dini atau analisa potensial
situasiyang dapat menjadi faktor pencetus gangguan jiwa. Di antara situasi yang
berisiko menjadi faktor pendukung terjadinya gangguan jiwa antara lain, keluarga
broken home, peperangan, pecandu narkotika, konflik berkepanjangan, krisis
ekonomi, penggusuran, kehilangan orang yang berarti, dan sebagainya.
Setiap orang memiliki kultur historis yang berbeda mulai dari cara dia
dilahirkan, cara dia diasuh (parenting pattern), lingkungan tempat dia dibesarkan,
pendidikan yang diperoleh. Tugas perawat menggali dan menganalisa faktor-faktor
yang potensial menjadi stressor dan membantu memperkuat mekanisme pertahanan
diri klien (cope mechanism) agar klien dapat beradaptasi terhadap stressor yang
potensial menyebabkan gangguan jiwa.
Menurut Stuart Sundeen
Psychiatric Nursing is an interpersonal process that promotes and maintains
behaviors that contribute to integrated functioning. The patient may be an Individual,
family, group, organization, or community. The three domains of psychiatric nursing
practice are direct care, communication and management. (Stuart Sundeen's &
Laraia, Psychiatric Nursing, 1998:15)
Keperawatan mental adalah proses interpersonal dalam meningkatkan dan
mempertahankan perilaku yang berpengaruh pada fungsi integrasi. Pasien tersebut
bisa individu, keluarga, kelompok, organisasi, atau masyarakat. Tiga area praktik
keperawatan mental yaitu perawatan langsung, komunikasi dan management.
Berdasarkan definisi di atas fokus utama pada klien keperawatan jiwa adalah
promotif dan preventif. Hal ini penting mengingat kekambuhan klien gangguan jiwa
tetap tinggi sekitar 15-20 %. Perawatan klien yang sudah menderita gangguan jiwa
sangat lama antara 1-10 tahun, hal itu memerlukan biaya yang sangat tinggi dan
sumber daya yang sangat banyak. Berdasarkan hal tersebut maka promotif dan
maintenance kesehatan jiwa sangat penting. Misalnya dengan cara mengadakan crisis
center, konsultasi remaja, konsultasi pranikah, padat karya bagi pengangguran,
promosi kesehatan jiwa, gerakan anti NAPZA, dan sebagainya. Menurut Stuart
Sundeen tiga area praktik keperawatan mental yaitu perawatan langsung,
komunikasi dan management menjadi tugas perawat jiwa.

E. Prinsip-prinsip Keperawatan Kesehatan Jiwa


1. Roles and functions of psychiatric nurse: competent care (Peran dan fungsi
keperawatan jiwa: perawatan yang kompeten)
a. Keperawatan jiwa mulai muncul sebagai profesi awal abad ke-19 dan
pada masa tersebut berkembang menjadi spesialis dengan peran dan
fungsi- fungsi yang unik.
b. Keperawatan jiwa adalah suatu proses interpersonal dengan tujuan untuk
meningkatkan dan memelihara perilaku-perilaku yang mendukung
terwujudnya satu kesatuan yang harmonis (integrated). Kliennya bisa
berupa individu, keluarga, kelompok, organisasi atau masyarakat. Tiga
wilayah praktik keperawatan jiwa meliputi perawatan langsung,
komunikasi dan manajemen.
c. Ada 4 faktor yang dapat menentukan tingkat penampilan perawat jiwa,
yaitu aspek hukum, kualifikasi perawat, lahan praktik, dan inisiatif dari
perawat sendiri (Stuart &Laraia, 1998:13)
2. Therapeutic Nurse patient relationship (hubungan yang terapeutik antara
perawat dengan klien)
a. Hubungan perawat klien yang terapeutik adalah pengalaman belajar yang
bermakna dan pengalaman memperbaiki emosional klien. Perawat
menggunakan atribut-atribut yang ada pada dirinya dan teknik
keterampilan klinik yang khusus dalam bekerja bersama dengan klien
untuk perubahan perilaku klien.
b. Kualitas pelayanan dibutuhkan oleh perawat agar dapat menjadi penolong
yang efektif meliputi; pengetahuan tentang diri sendiri, klarifikasi nilai-
nilai yang dianut, menggali perasaan-perasaan yang muncul, kemampuan
untuk memberikan contoh, memiliki jiwa kemanusiaan, dan sikap etis dan
bertanggung jawab.
c. Model struktural dan model analisis transaksional digunakan untuk
menguji komponen-komponen proses komunikasi dan melakukan
identifikasi masalah bersama antara klien dengan perawat. Teknik
komunikasi terapeutik yang menolong klien juga dapat didiskusikan.
Dimensi respon yang sejati, saling menghormati, memahami, dan empatik
secara nyata harus ditampilkan.
d. Dimensi konfrontasi, kesegeraan (immediacy), perawat yang menutup diri,
perasaan terharu yang disebabkan kepura-puraan, dapat memberikan
stimulasi rote play dan memberikan kontribusi terhadap penilaian diri
pasien (insight).
e. Kebuntuan dalam komunikasi terapeutik seperti resisten, transferen,
konterferens, dan adanya pelanggaran wilayah pribadi klien merupakan
penghambat dalam komunikasi terapeutik.
f. Hasil terapeutik dalam bekerja dengan klien gangguan psikiatrik berkaitan
dengan dasar pengetahuan perawat, keterampilan klinik, kapasitas
introspeksi dan evaluasi diri perawat.
3. Conceptual models of psychiatric nursing (konsep model keperawatan jiwa)
a. Konsep Model Keperawatan Jiwa terdiri atas 6 macam, yaitu:
Psychoanalytical (Fraud, Erickson), Interpersonal (Sullivan, Peplau),
Social (Caplan, Szasz), Existential (Ellis, Rogers), Supportive Therapy
(Wermon, Rockland), Medical (Meyer, Kraeplin).
4. Stress adaptation model of psychiatric nursing (model stress dan adaptasi
dalam keperawatan jiwa)
a. Stress adaptasi model Stuart memberikan asumsi bahwa lingkungan
secara alami memberikan berbagal strata sosial, dimana perawatan
psikiatri disediakan melalui proses keperawatan dalam bilogis, psikologis,
sosio-kultural, dan konteks legal etis, bahwa sehat/sakit,
adaptif/maladaptif sebagai konsep yang jelas, tingkat pencegahan primer,
skunder, tersier termasuk di dalamnya 4 tingkatan dalam penatalaksanaan
psikiatrik.
b. Standar kesehatan mental tidak begitu jelas dibandingkan dengan
gangguan mental. Saat ini satu dari dua orang di Amerika Serikat memiliki
gangguan psikiatrik atau penyakit ketergantungan obat pada masa
hidupnya.
c. Komponenkomponen Biopsikososial model mencangkup faktor-faktor
predisposisi (pendukung), stresor pencetus, penilaian terhadap stressor,
sumber-sumber copng, dan coping mekanisme.
d. Pola-pola respon individu mencangkup respon coping individual, yang
mana hal tersebut merupakan subjek diagnosa keperawatan.
e. Kegiatan keperawatan psikiatrik dijelaskan dalam empat tahap tindakan;
krisis, akut, pemeliharaan, dan peningkatan kesehatan.
5. Biological context of psichiatric nursing care (keadaan-keadaan biologis
dalam keperawatan jiwa)
a. Perawat psikiatrik harus belajar mengenai struktur dan fungsi dari otak,
mencangkup proses neurotransmission,untuk lebih memahami etiologi,
mempelajarinya dan lebih efektif dalam strategi intervensi gangguan
psikiatrik.
b. Brain imaging teknik seperti CT, MRI, BEAM, PET, dan SPECT untuk
melihat secara langsung kondisi otak yang akan menolong dalam
diagnosis beberapa kelainan otak dan memahami hubungan antara struktur
dan fungsi otak.
c. Penelaahan tantang gen yang membawa kelainan mental telah membawa
kesulitan dan ketidakyakinan sampai saat ini tetapi dapat meningkatkan
penelitian dimasa yang akan datang.
d. Irama sirkardian seperti sebuah jaringan jam internal yang mengendalikan
kegiatan-kegiatan dalam tubuh meliputi gaya hidup, tidur, perasaan,
makan, minum, kesuburan dan sakit dalam siklus waktu 24 jam.
e. Psikoimunlogi adalah bidang kajian baru yang memperdalam tentang
pengaruh faktor-faktor psikososialpada sistem saraf dalam respon imun.
f. Perawat psikiatrik membutuhkan kemampuan untuk mendapatkan riwayat,
penampilan fisik, kemampuan menginterprestasikan hasil laboratorium
untuk menemukan gejala-gejala dan untuk indikasi proses rujukan.
g. Implikasi klinis dari penelitian tentang neurosains telah didiskusikan
dalam hubungannya dengan skizofrenia, kelainan mood, gangguan panik,
dan merujuk pada indikasi yang khusus.
h. Pada tahun 1990-an telah disebut sebagai dekade otak dan wajah
keperawatan psikiatrik ditandai dengan tantangan integrasi antara
informasi neurosins biopsikososial model dari keperawatan jiwa.
6. psychological context of psikiatric nursing care (keadaan-keadaan psikologis
dalam keperawatan jiwa)
a. Pengujian status mental menggambarkan rentang hidup psikologis klien
melalui waktu. Hal ini membuktikan bahwa perawat melakukan observasi
prilaku klien dan menggambarkannya secara objektif serta tidak
menyalahkannya.
b. Pengelompokan pengkajian status mental klien meliputi penampilan
pasien, pembicaraan, aktivitas motorik, mood, affect, interaksi selama
wawancara, persepsi, isi pemikiran, proses pikir, tingkat kesadaran,
memory, tingkat konsentrasi dan kalkulasi, iinformasi dan kecerdasan,
keputusan (judgement), dan penilaian diri.
c. Test psikologis menilai kemampuan intelektual dan kognigtif serta
menggambarkan fungsi kepribadian.
d. Behaviour rating scale menolong ahli klinis dalam mengukur tingkat
masalah klien, membuat diagnosis yang lebih akurat, menggambarkan
kemajuan klien, mendokumentasikan kemanjuran tindakan.
7. Sosiocultural context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan sosial
budaya dalam keperawatan jiwa)
a. Kepekaan terhadap budaya adalah salah satu pengetahuan dan ketrampilan
yang dibutuhkan untuk kesuksesan dalam intervensi keperawatan pada
kehidupan klien yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda.
b. Faktor resiko untuk gangguan psikiatrik dari sosisokultural merupakan
faktor predisposisiyang dapat secara berarti meningkatkan potensial
kelainanpsikiatrik, menurunkan potensial klien untuk sembuh, atau
kebalikannya. Hal tersebut meliputi umur, etnik, gender, pendidikan,
pendapatan, dan sistem keyakinan.
c. Variasi dari stressor sosiokulturalmenghambat perkembangan perawatan
kesehatan mental meliputi: keadaan yang merugikan, stereotype,
intoleransi, stigma, prsangka, discrimination, rasisme.
d. Respon coping dan gejala-gejala kelainan mental yang muncul
diekspresikan secara berbeda dalam budaya yang berbeda.
e. Pengkajian kepada klien yang mengalami faktor sosiokultural menarik
bagi perawat untuk mampu mengidentifikasi masalah-masalah klien dan
pengenmabngan tindakan keperawatan agar lebih akurat, sesuai, dan
memiliki kepekaan budaya.
f. Bersama-sama antar perawat dengan klien membutuhkan persetujuan
mengenai respon koping klien secara alami pemahaman dalam
memecahkan masalah, dan harapan akan hasil konteks sosiokultural.
8. Environmental context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan
lingkungan dalam keperawatan jiwa)
a. Bagian-bagian dari lingkungan secara langsung akan mempengaruhi
pelayanan keperawatan mental. Perawat seharusnya memberikan
informasi-informasi baru dan mengintegrasikannya kedalam praktik untuk
menyediakan keperawatan yang berkualitas dan pelayaanan ang efektif.
9. Legal ethical context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan legal etika
keperawatan jiwa)
a. Terdapat dua tipe penerimaan klien di rumah sakit jiwa. Kesepakatan
yang disadari dengan kesepakatan yang tidak disadari. Esepakatan yang
tidak disadari meliputi isu mengenai, hukum dan aspek etik serta legal
dan aspek profesional.
b. Klien psikiatrik memiliki variasi hak asasi yang luas dan hak-hak sebagai
warga sipil. Mereka selayaknya mendapatkan informasi hak tersebut dan
pihak rumah sakit menghargai hak tersebut. Beberapa dari hak tersebut
bersifat kontroversi dan dilematis.
c. Perawat psikiatrik memiliki tiga peran dalam menampilkan tugas
profesional dan tugas pribadi; pemberi pelayanan, pekerja dari pihak
rumah sakit, dan sebagai warga negara pribadi.
10. Implementing the nursing process: standards of care (penatalaksanaan proses
keperawatan: dengan standar-standar perawatan)
a. Proses keperawatan bersifat interaktif, suatu proses pemecahan masalah
(problem solving), digunakan oleh perawat sebagai sistematis dan secara
individual untuk mencapai tujuan keperawatan.
b. Pengkajian seharusnya merefleksikan keadaan, proses, dan informasi
biopsikososiospiritual klien, data dikumpulkan secara sistematik yang
secara ideal didasari konsep-konsep perawatan jiwa.
c. Diagnosa keperawatan seharusnya meliputi respon adaptif klien atau
respon maladaptif klien, mengidentifikasikan karakteristik respon
tersebut, dan pengaruh stressornya.
d. Perencanaan keperawatan seharusnya meliputi prioritas diagnosa
keperawatan dan tujuan yang diharapkan.
e. Intervensi keperawatan seharusnya secara langsung membantu klien
meningkatkan insight (penilaian terhadap dirinya) dan pemecahan
masalah melalui perencanaan tindakan yang pasif.
f. Evaluasi meliputi penilaian kembali fase-fase sebelumnya dari proses
keperawatan menentukan tahapan untuk merencanakan tujuan yang
hendak dicapai.
11. Actualizing the psychiatric nursing role: profesional performance standards
(aktualisasi peran keperawatan jiwa: melalui penampilan standar-standar
profesional)
a. Standar penampilan profesional di aplikasikan untuk mengatur tanggung
jawab pribadi dan untuk praktik, hal tersebut seharusnya didemonstrasikan
oleh perawat baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Standar
juga berhubungan dengan otonomi dan self definition.
b. Perawat psikiatri juga membutuhkan partisipasi aktif dalam organisaasi
evaluasi formal keseluruhan pola-pola perawatan melalui peningkatan
kesehatan kualitas jenis aktifitas yang meliputi sistem, konsumen, evaluasi
klinik.
c. Evaluasi penampilan meliputi peninjauan kembali secara administratif
penampilan kerja dan supervisi klinik playanan keperawatan.
d. Perawat psikiatrik diharapkan untuk secara kontinyu belajar untuk
memelihara informasi yang lalu dan memperoleh informasi yang terkini
dalam bidangnya.
e. Rekan sejawat membutuhkan pandangan perawat psikiatrik yang
memandang kelompok sebagai tim kolaborasi dalam pemberian pelayanan
keperawatan.
f. Pertimbangan legal etis dan isu terapeutik mempengaruhi aspek-aspek
dalam perawatan psikiatri dan digunakan dalam pengambilan keputusan
etis dalam merawat klien.
g. Kolaborasi adalah sharing dalam perencanaan, pengambilan keputusan
pemecahan masalah, penentuan tujuan, dalam bekerjasama dengan
komunikasi yang terbuka.
F. Perkembangan Keperawatan Kesehatan Jiwa

Secara skematis dapat dilihat bahwa perkembangan keperawatan kesehatan jiwa


dimulai dari cara menangani klien yang memiliki masalah sikap, perasaan, dan
konflik. Kemudian berkembang kearah pencegahan primer dan penanganan secara
multidisiplin. Perkembangan selanjutnya mengarah pada bidang spesialisasi
keperawatan jiwa yang membutuhkan pendidikan keterampilan khusus.

G. Konseptual Model Keperawatan Kesehatan Jiwa


Model View of Behavioral Therapeutic Roles of Patient &
Deviation prosess Therapist
Sychoanalytical EGO tidak mampu Asosiasi bebas & Klien:
(Freud, mengontrol ansietas, analisa mimpi mengungkapka
Erickson) konflik tidak selesai Transferen untuk n semua
memperbaiki pikiran &
tarumatik mimpi
masa lalu
Interpersonal Ansietas timbul & Build feeling Patient: Share
(sullivan, dialami secara security anxietas
interpersonal, basic Trusting Theraspist:
peplau)
fear is fear rejection relatinship & use empathy
binterpersonal & relationship
satisfaction
Social Sicial & factorscreate Environment Pasien:
(caplan,szasz) factor create stress, manipulation menyampaika
which cause anxiety, & social n masalah
symptom support dengan
menggunakan
sumber yang
ada di
masyarakat
Terapist:
menggali
sistem sosial
klien
Existensi Individu gagal Experience Klien:
al (Ellis, menemukan & in berperan serta
Rogers) menerima diri relationship, dalam
sendiri conducted in pengalaman
group. yang berarti
Encouraged untuk
to accept mempelajari
self & diri
Terapist:
control
memperluas
behaviour
kesadaran diri
klien
Supportiv Faktor biopsikososial Menguatkan Klien: terlibat
e terapy & respon maladaptif respon dalam
(wermon, saat ini koping identifikasi
rockland) adaptif koping
Terapist:
hubungan
yang hangat &
empatik
Medical( Combination from Pemeriksaan Klien:
meyer, physiological, diagnostik, menjalani
kraeplin) genetik, terapi prosedur
environmental & somatik, diagnostik &
social farmakologi terapi jangka
k & tehnik panjang
interpersonal Terapist:
therapy,
repport
efeccts,
diagnose
illnes,
therapeutic
approach
Berdasarkan konseptual model keperawatan diatas, maka dapat dikelompokkan
kedalam 6 model yaitu:
1. Psychoanalitycal (Freud, Erikson)
Model ini menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi pada seseorang
apabila ego (akal) tidak berfungsi dala mengntrol id (kehendak nafsu atau insting).
Ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan akalnya (ego) untuk mematuhi
tata tertib, peraturan, norma, agama (super ego/daas uber ich), akan mendorong
terjadinya penyimpangan perilaku (deviation of Behavioural).
Faktor penyebab lain gangguan jiwadala teori ini adalah adanya konflik
intrapsikis teruta,a pada masa anak-anak. Misalnya ketidak puasan pada masa oral
dimana anak tidak mendapatkan air susu secara sempurna, tidak adanya stimulus
untuk belajar kata-kata, dilarang dengan kekerasan untuk memasukkan benda
kedalam mulutnya pada fase oral dan sebagainya. Hal ini menyebabkan traumatic
yang membekas pada masa dewasa.
Proses terapi pada model ini adalah menggunakan metoda asosiasi bebas dan
analisa mimpi, trasnsferen untuk memperbaiki traumatik masa lalu. Misalnya klien
dibuat dalam keadaan yang ngantuk sangat. Dalam keadaan yang tidak berdaya
pengalaman alam bawah sadarnya digali dengan pertanyaan-pertanyaan untuk
menggali traumatic masa lalu. Hal ini lebih dikenal dengan metode hypnotic yang
memerlukan keahlian dan latihan yang khusus.
Dengan cara demikian, klien akan mengungkapkansemua pikiran dan
mimpinya, sedanagkan terapist berupaya untuk menginterprestasi pikiran dan
mimpi pasien.
Peran perawat adalah berupaya melakukan assasment Atau pengkajian
engenai keadaan-keadaan traumatik atau stressor yang dianggap bermakna pada
masa lalu misalnya (pernah di siksa orang tua, pernah disodomi, diperlakukan
secara kasar, diterlantarkan, diasuh dengan kekerasan, diperkosa pada masa anak),
dengan menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik setelah terjalin trust
(saling percaya.
2. Interpersonal (sullivan, peplau)
Menurut konsep model ini, kelainan jiwa seseorang bisa muncul akibat
adanya ancaman. Ancaan tersebut menimbulkan kecemsan (anxiety) ansietas tibul
dan dialami seseorang akibat adanya konflik nsaat berhubungan dengan oran lain
(interpersonal).
Menurut konsep ini perasaan takut seseorang didasari adanya ketakutan
ditolak atau tidak diterima oleh orang disekitarnya. Sebagai contoh dalam kasus
seorang anak yang tidak dikehendaki (unwanted child) dimana seorang anak
dilahirkan dari hasi hubungan gelap, ibunya pernah berupaya untuk membunuhnya
karena merasa malu dan melanggar norma, lingkungannya tidak meneria dengan
hangat karena dianggap anak yang haram, teman-temannya engejek, ayahnya tidak
pernah memberikan kasih sayang, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak
diterima oleh orang lain.
Proses terapi menurut konsep ini adalah build feeling security (berupaya
membangun rasa aman dengan kien), trusting relationship and interpersonal
satisfaction (menjalin hubungan yang saling percaya) dan membina kepuasan
dalam bergaul dengan orang lain sehingga klien merasa berharga dan dihormati.
Peran perawat dalam terapi adalah share anxieties (berupaya melakukan
sharing mengenai apa-apa yang dirasakan klien, apa yang biasa dicemaskan oleh
klien saat berhubungan dengan orang lain), theraspist use empathy and
relationship (perawat berupaya bersikap empati dan turut merasakan apa-apa yang
dirasakan oleh klien). Perawat memberikan respon verbal yang mendorong rasa
aman klien dalam berhubungan dengan orang lain seperti: saya senang berbicara
dengan anda, saya siap membantu anda, anda sangat menyenangkan bagi saya.

3. Social (caplan, szasz)


Menurut konsep ini seseorang akan mengalami gangguan jiwa atau
penyimpangan prilaku apabila banyaknya faktor sosial dan faktor lingkungan yang
akan memicu munculnya stres pada seseorang (social and environmental factors
create stress, which cause anxiety and symptom). Akumulasi stressor yang ada
pada lingkungan seperti; bising, macet, tuntutan persaingan pekerjaan, harga
barang yang mahal, perswaingan kemewahan, iklim yang sangat panas atau
dingin, ancaan penyakit, polusi, sampah, akan mencetuskan stress pada individu.
Stressor dari lingkungan diperparah oleh stresor dala hubungan sosial seperti
atasan yang galak, istri yang cerewet, anak yang nakal, tetangga yang buruk, guru
yang emngancam atau teman sebaya yang jahat akan memunculkan berbagai
stressor dan membangkitkan kecemasan.
Prinsip proses terapi yang sangat penting dalam konsep model ini adalah
environment manipulations and social support (pentingnya modifikasi lingkungan
dan adanya dukungan sosial). Sebagai contoh diruah harus bersih, teratur, harum,
tidak bising, ventilasi cukup, penataan alat dan perabotan yang teratur. Lingkungan
kantor yang asri, bersahabat, ada taman, tata lampu yang indah hubungan kerja
yang harmonis, hubungan suami istri yang memuaskan.
Peran perawat daam memberikan terapi menurut model ini adaah pasien harus
menyampaikan masalah dalam menggunakan sumber yang ada di masyarakat
melibatkan teman sejawat, atasan, keluarga atau suami-istri. Sedangkan terapist
berupaya: menggali sistem sosial klien seperti suasana dirumah, kantor, disekolah,
dimasyarakat atau tempat kerja.
4. Existensial (ellis, rogers)
Menurut teori model eksistensia gangguyan priaku atau gangguan jiwa terjadi
bila individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan hidupnya. Membenci diri
sendiridan mengalami gangguan body image-nya.
Pertanyaan yang tidak bisa dijawab adalah: siapakah saya ini sebenarnya ? apa
tujuan saya lahir didunia ini ? apa kelebihan dan kekurangan saya ? bagaimana
seharusnya saya bersikap agar orang ain enyukai saya ? seringkali individu merasa
asing dan bingung dengan dirinya sendiri, sehingga pencarian makna
kehidupannya (eksistensinya) menjadi kabur.
Prinsip dalam proses terapi adalah: mengupayakan individu agar
berpengalaman bergaul dengan orang lain, memahami riwayat hidup orang lain
yang dianggap sukses atau dianggap sebagai panutan (experience in relationship),
memperluas kesadaran diri dengan cara intropeksi (self assessement), bergaul
dengan kelompok sosial, dan kemanusiaan (conducted ingroup), mendorong untuk
menerima jati dirinya sendiri dan menerima kritik atau feed back tentang
prilakunya dari orang lain (encouraged to accept self and contol behaviour).
Prinsip keperawatannya adalah: klien dianjurkan untuk berperan serta dalam
meperoleh pengaaman yang berarti untuk empeajari dirinya dan mendapatkan feed
back dari orang lain, isalnya melalui terapi aktivitas kelompok. Terapist berupaya
untuk eperluas kesadaran diri klien melalui feed back, kritik, saran atau reward &
punishment
5. Sipportive therapy (wermon, rockland)
Penyebab gangguan jiwa dalam konsep model ini adalah: faktor
biopsikososial dan respon maladaptif saat ini. Aspek biologisnya menjadi masaah
seperti: sering sakit maag , migrain, batuk-batuk. Aspek biologisnya mengaami
banyak keluhan seperti: mudah cemas, kurang percaya diri, perasaan bersalah,
ragu-ragu, pemarah. Aspek sosialnya memiliki masalah seperti: susah bergaul,
menarik diri, tidak disukai, bermusuhan, tidak mampu mendapatkan pekerjaan,
dan sebagainya. Semua hal tersebut terakumulasi menjadi penyebab gangguan
jiwa. Fenomena tersebut muncul akibat ketidakmampuan dalam beradaptasi pada
masalah-masalah yang muncul saat ini dan tidak ada kaitannya dengan masalalu.
Stressor saat ini misalnya berupa PHK atau ujian yang dianggap penting sekali
seperti ujian PNS, ujian saringan masuk PTN, test masuk pekerjaan.
Ketidakmapuan beradaptasi dan menerima apapun hasilnya setelah berupaya
maksimal, menyebabkan individu menjadi stress.
Prinsip proses terapinya adalah menguatkan respon coping adaptif, individu
diupayakan mengenal terlebih dahulu kekuatan-kekuatan apa yang ada pada
dirinya; kekuatan mana yang dapat dipakai alternatif pemecahan masalahnya.
Perawat harus membantu individu dalam melakukan identifikasi coping yang
dimiliki dan yang biasa digunakan klien. Terapist berusaha untuk menjalin
hubungan yang hangat dan empatik dengan klien untuk menyiapkan coping klien
adaptif.
6. Medical (meyer, kraeplin)
Menurut konsep ini gangguan jiwa cenderung muncul akibat multifactor yang
kompleks meliputi: aspek fisik, genetik, lingkungan dan faktor sosial. Sehingga
fokus penatalaksanaannya harus lengkap melalui pemeriksaan diagnostik, terapi
somatik farmakologik dan teknik interpersonal. Perawat berperan dalam
berkolaborasi dengan tim medis dalam melakukan prosedur diagnostik dan terapi
jangka panjang, terapist berperan dalam pemberian terapi, laporan mengenai
dampak terapi, menentukan diagnosa, dan menentukan jenis pendekatan terapi
yang digunakan. (therapy, repport effects, diagnose illness, therapeutic approach).

H. Peran Perawat Kesehatan Jiwa


Menurut Weiss (1947) yang dikutip oleh Stuart Sundeen dalam principles and
practice of psychiatric nursing care (1995), peran perawat adalah sebagai attitude
therapy, yakni:
1. Mengobservasi perubahan, baik perubahan kecil atau menetap yang terjadi pada
klien.
2. Mendemonstrasikan penerimaan.
3. Respek.
4. Memahami klien.
5. Mempromosikan ketertarikan klien dan berpartisipasi dala interaksi.
Sedangkan menurut Peplau, peran perawat meliputi:

1. sebagai pendidik
2. sebagai pemimpin di dalam situasi yang bersifat lokal, nasional, dan
internasional;
3. sebagai surrogate parent;
4. sebagai konselor.
Dan sebagai tambahan dari peran perawat adalah:
1. bekerja sama dengan lembaga kesehatan mental.
2. konsultasi dengan yayasan lembaga kesejahteraan.
3. memberikan pelayanan kepada klien di luar klinik.
4. aktif melakukan penelitian.
Secara skematis peran perawat kesehatan jiwa dapat di gambarkan sebagai
berikut:

Legal & Clinic Patient


al

PSYCHIA

Soci Professio Fisc


Direct Communica
Care Coordinati
on

Delegatio Collaboratio
n

Manageme
nt

Psychiatric

I. Sejarah Usaha Kesehatan Jiwa di Indonesia


Diperkirakan bahwa 2-3% dari jumlah penduduk Indonesia menderita
gangguan jiwa berat. Bila separuh dari mereka memerlukan perawatan di rumah sakit
dan jika penduduk Indonesia berjumlah 120 juta orang maka ini berarti bahwa 120
ribu orang dengan gangguan jiwa berat memerlukan perawatan di rumah sakit.
Padahal yang tersedia sekarang hanya kira-kira 10.000 tempat tidur.
Di Indonesia sejak dulu sudah di kenal adanya gangguan jiwa, misalnya dalam
cerita Mahabrata dan Ramayana di kenal adanya Srikandi Edan,Gatot Kaca
Gandrung. Bagaimana gangguan jiwa ini di lakukan pada zaman dahulu kala di
Indonesia tidak di ketahui dengan jelas. Bila beberapa tidakan kepada penderita
gangguan jiwa sekarang di anggap sebagai warisan nenek moyang kita, maka kita
dapat membayangkan sedikit bagaimanakah kiranya paling sedikit sebagian dari
jumlah gangguan jiwa itu di tangani pada zaman dahulu, adapun tindakan yang di
maksud adalah di pasung, dirantai, atau di ikat lalu di tempatkan tersendiri di rumah
atau di hutan (bila gangguan jiwa berat dan membahayakan di biarkan berkeliaran di
desa, sambil mencari makan dan menjadi tontonan masyarakat malahan ada kalanya
di perlakukan sebagai orang sakti, mbah wali atau medium (perantara antara roh dan
manusia).
1. Zaman Kolonial
Sebelum ada rumah sakit jiwa di Indonesia, para gangguan jiwa di tampung
di RS sipil aau RS militer di jakarta, semarang dan surabaya. Yang di tampung
pada umumnya penderita gangguan jiwa berat. Ternyata tempat RS yang di
sediakan tidak cukup. Tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda mengadakan sensus
terhadap penderita ganguan jiwa di Pulau Jawa dan Madura. Hasilnya kira-kira ada
600 orang penderita gangguan jiwa di Pulau Jawa dan Madura, 200 orang lagi di
daerah-daerah lain. Keadan demikian untuk penguasa pada waktu itu sudah ada
cukup alasan untuk membangun RS Jiwa. Maka pada tanggal 1 juli 1882, di
bangun Rumah Jakit Jiwa pertama di Bogor, kemudian berturut-turut RSJ Lawang
(23 Juni 1902), RSJ Magelang (1923) dan RSJ Sabang (1927). RSJ ini tergolong
RS besar dan menampung penderita gangguan jiwa menahun yang memerlukan
perawatan lama.
Pemerintah Hindia Belanda mengenal 4 macam tempat perawatan penderita
psikiatrik, yaitu:
a. RS Jiwa (kranzinningengestichten)
Di Bogor, Magelang, Lawang dan Sabang, RSJ terus penuh, sehingga terjadi
penumpukan pasien di RS sementara, tempat tahanan sementara kepolisian dan
penjara-penjara. Maka di bangunlah annexinrichtingen pada RS jiwa yang
suda ada di Semplak (Bogor) tahun 1931 dan pasuruan (dekat Lawang) tahun
1932.
b. RS sementara (Doorgangshuizen)
Tempat penampungan sementara bagi pasien psikotik yng akut, di pulangkan
setelah sembuh, yang perlu prawatan lebih lama di kirim ke RS Jiwa yang di
dirikan di Jakarta, Semarang, Surabaya. Ujung Pandang, Palembang, Bali,
Banjarmasin, Manado, Medan.
c. Rumah Perawatan (Veerplegtehuiizen)
Berfungsi sebagai RS Jiwa tetapi di kepalai seorang perawat berijazah di
bawah pengawasan dokter umum.
d. Koloni
Tempat penampunan pasien psikiatrik yang sudah tenang, pasien dapat bekerja
di bidang pertanian serta tinggal di rumah penduduk, tuan rumah di beri uang
kos dan masih berada di bawah pengawasan.
Rumah-rumah semacam ini di bangun jauh dari kota dan masyarakat umum.
Perawatan bersifat isolasi dan penjagaan (custodial care). Teori dasar (yang sekarang
tidak di anut lagi):
a. apasien harus keluar dari rumah dan lingkungan yang menyebabkan ia sakit, oleh
sebab itu harus di rawat di suatu tempat yang tenang, sehingga terbiasa dengan
suasana rumah sakit.
b. Menghindari stigma (cap yang tidak baik).
1) Dewasa ini pemerintah hanya memiliki satu jenis rumah sakit jiwa yaitu RSJ
Pemerintah, untuk menyederhanakan dan memperkuat struktur organisasi
serta sekaligus menghapus kecenderungan kepada diskriminasi pelayanan.
2) Terdapat pula kecenderungan membangun rumah sakit yang tidak besar lagi,
tetapi berkapasitas 250-300 tempat tidur, karena lebih efektif dan efisien. RS
juga sebaiknya tidak terpencil tetapi berada di tengah-tengah masyarakat agar
kegiatan dan hubungan akan lebih terjamin.
3) Cara pengobatan yang dahulu sering di pakai di RSJ adalah isoasi dan
penjagaan (custodial care), sejak tahun 1910 telah di coba untuk
meninggalkan penjagaan yang terlalu ketat terhadap pasien dengan
memberikan kebebasan yang lebih besar (no restrin). Kemudian pada tahun
1930 di coba terapi kerja.
4) Semua RSJ dam fasilitasnya di biayai oleh pemerintah Hindia Belanda, yang
akhirnya membentuk Dienstvan het krankzinnigenwezen untuk mengurus hal
ini. Dari pihak swasta atas prakarsa Van Wullffen Palthedi dirikan koloni di
Lenteng Agung yang mendapat subsidi dari pemerintah. Witte Kruis Kolonie
suatu usaha swasta untuk menampung pengemis di daerah jawa tengah tetapi
juga bersedia menerima orang bekas pasien gangguan jiwa yang sudah tenang,
di rawat Cuma-Cuma.
2. Zaman setelah kemerdekaan
Mambawa babak baru bagi perkembangan usaha kesehatan jiwa, oktober
1947 Pemerintah RI membentuk Jawatan usaha penyakit Jiwa, karena masih
terjadi revolusi fisik maka belum dapat berkerja dengan baik. Pada tahun 1950
pemerintah RI menugaskan untuk melakasanakan hal-hal yang di anggap penting
bagi penyelenggaraan dan pembinaan kesehatan jiwa di Indonesia. Jawatan ini
bernaung di bawah Departemen Kesehatan tahun 1958 di ubah menjadi Urusan
Penyakit Jiwa, 1960 menjadi Bagian Kesehatan Jiwa, dan tahun 1966 menjadi
Direktorat Kesehatan jiwa yang sampai sekarang di pimpin oleh Direktur
Kesehatan Jiwa atau kepala Direktorat Kesehatan Jiwa.
Direktorat Kesehatan Jiwa menyempurnakan struktur organisasinya
menjadi Dinas, yang di ubah menjadi Subdirektorat Peningkatan (Promosi),
Subdirektorat Pelayanan dan Pemulihan, Sub direktorat rehabilitasi dan
Subdirektorat Kesehatan Jiwa.
Dengan di tetapkan UU kesehatan Jiwa No. 3 Tahun 1966 oleh pemerintah,
maka lebih terbuka untuk menghimpun semua potensi guna secara bertahap
melaksanakan modernisasi semua sistem rumah sakit serta fasilitas kesehatan jiwa
di Indonesia. Direktorat kesehatan jiwa mengadakan kerja sama dengan berbagai
instansi pemerintah dan dengan fakultas kedokteran, badan internasional, seminar
nasional dan regional asia serta rapat kerja nasional serta daerah. Adanya
pembiaan sistem pelaporan, tersusun PPDGJ I tahun 1973 dan di terbitkan tahun
1975 serta integrasi dalam pelayanan kesehatan di puskesmas.
Pihak swasta pun lebih memikirkan masalah kesehatan jiwa, terutama di
kota-kota besar. Di Jakarta, kemudian di Yogjakarta dan Surabaya serta beberapa
kota lainnya didirikan sanatorium kesehatan Jiwa. RSU pemerintah dan RS ABRI
menyediakan tempat tidur untuk pasien gangguan jiwa yang mendirikan bagian
psikiatri demikian pula RS swasta seperti RS St. Carolus di Jakarta, RS Gunung
Maria (Minahasa). Di Jakarta dan Surabaya telah di dirikan Pusat Kesehatan Jiwa
Masyarakat.
Metode pengobatan penderita gangguan jiwa telah banyak mengalami
kemajuan dari jaman ke jaman. Evolusi ini merupakan cerminan dari perubahan
dasar-dasar filosifo dan teori tentang pengobatan.
a. Awal Sejarah
Gangguan jiwa masih di anggap penykit yang tidak bisa di sembuhkan dan
berkaitan dengan dosa atau kejahatan, sehingga terkadang pengobatan yang di
lakukan pun bersifat brutal dan tidak manusiawi (Maramis, 1990).
b. Abad Pertengahan
Orang yang mengalami gangguan jiwa biasanya di penjara/kurung oleh
keluarganya. Bahkan mereka di buang dan di biarkan hidup di jalanan dengan
mengemis. Namun setelah ada beberapa kelompok agama yang memberikan
sumbangan, para penderita mulai di salurkan kerumah sakit- rumah sakit (Stuart
Sudeen, 1998).
c. Abad ke 15-17
Kondisinya masih memprihatinkan. Penderita laki-laki dan perempuan di
satukan. Mereka mendapat pakaian dan makanan yang tidak layak, bahkan
sering di rantai, di kurung dan di jauhkan dari sinar matahari (Connoly, 1968; di
kutip oleh Antai Otong, 1994).
d. Abad ke-18
Terjadinya revolusi Perancis dan Amerika yang memberikan inspirasi pada
masyarakat luas akan kebebasan serta perlakuan yang adil untuk semua.
e. Abad ke-19
Didirikan rumah sakit jiwa pertama, McLean Asylum di Massachusetts yang
memberikan pengobatan secara manusiawi pada penderita gangguan jiwa (Start
Sudeen, 1998).
f. Abad ke-20
Disebut era psikiatri, karena para medis mulai menggali basis gangguan jiwa
secara ilmu dan klinik, seperti Adolph Meyer (1866-1950) dengan teori
psikobiologi Clifford Beers (1876-1943) yang menulis artikel mengenai
perawatan intensif, Emil Kraepelin (1856-1926) dengan klasifikasi gangguan
jiwanya, Eugen Bleuler (1857-1961) yang menemukan istilah skizofrenia,
Sigmund Freud (1856-1939) yang mengembangkan teori psikoanalisis,
psikoseksual dan neurosis, Carl Gustav Jung (1857-1961), Karen Horney
(1885-1952) dan Harry Stack Sullivan (1892-1949) dengan teori
interpersonalnya.
Kesehatan jiwa berkembang pest pada perang dunia II karena mengunakan
pendekatan metode pelayanan Public Health Survice. Konsekuensinya peran
perawat jiwa juga berubah dari peran pembantu menjadi peran aktif dalam tim
kesehatan, untuk mengobati penderita gangguan jiwa. Pada masa kini, perawatan
gangguan penderita gangguaan jiwa lebih di fokuskan pada basis komunitas. Ini
sesuai dengan hasil konferensi Nasional I Keperawatan Jiwa (Oktober,2004),
bahwa pengobatan akan di fokuskan dalam hal tindakan preventif. Beberapa jurnal
menunjukan bahwa tindakan preventif sangat penting.
a. Childhood maltreatment (physical abuse, sexual abuse, exposure abuse) yang di
dapat seseorang ketika kecil ternyata memberi pengaruh yang menyebabkan
kerentanan mengalami gangguan jiwa. Dari 8000 responden, 14% pernah
menyatakan mengalami salah satu dari ketiga jenis tersebut, dan 34%
menyatakan mengalami lebih dari satu jenis (American Jounrnal Of Psychiatry,
volume 160, August 2003).
b. Perempuan yang mengalami depresi ketika usianya 18-21 tahun- mempunyai
kecenderungan menderita obesitas di bandingkan dengan yang tidak
mengalaminya. Namun secara umum, mereka baik laki-laki maupun perempuan
yang mengalami depresi ketika usianya 11-15 tahun, maka dia mempunyai
kecenderungan untuk mengalami obesitas lebih tinggi di masa adult-nya
(Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine, voluma 157, August 2003).
c. Dari seluruh responden berusia 26 tahun, lebih dari setengahnya mengalami
gangguan kesehatan jiwa yang di prediksikan sama dengan gangguan jiwa yang
mungkin di deritanya ketia berusia 15 tahunan (Archives of General Psychiatry,
voluma 60, july 2003).
d. Terapi farmakology dan psikoterapi yang di berikan secara bersamaan kepada
wanita berpenghasilan rendah (low income) penderita depresi, ternyata dapat
menurunkan tingkat depresi. Dilaporkan bahwa mereka yang hanya mendapat
terapi farmakologi saja, menunjukkan penurunan tingkat depresi dan juga
peningkatan aktivitas kerja rumah maupun pekerjaannya. Sedangkan mereka
yang hanya mendapat psikoterapi saja juga mengalami penurunan tingkat
depresi tetapi tidak mengalami peningkatan dalam aktivitas rumah atau
pekerjaannya (Journal of The American Medical Association, Volume 290, July
2003).
e. Seorang anak dengan orang tua yang mengalami gangguan jiwa, maka iya
kecenderungan untuk mengalami gangguan jiwa pula pada masa adolescent-nya
(Pediatrics, volume 112, August 2003).

J. Upaya Kesehatan Jiwa Di Indonesia


Bagaimana para penderita gangguan jiwa di perlakukan pada zaman dahulu di
Indonesia, tidak di ketahui secara pasti namun pada masa zaman kolonial Belanda,
Para penderita di tampung di rumah sakit-rumah sakit sipil atau militer. Semakin
banyaknya jumlh penderita gangguan jiwa, mendorong pemerintah pada saat itu
untuk mendirikan Rumah Sakit Jiwa pertama di Bogor pada tanggal 1 Juli 1882
(sekarang RSJ Mazoeki Mahdi). Selanjutnya di Lawang (23 Juni 1902), RSJ
Magelang (1923), dan RSJ Sabang (1927).
Pada masa kolonial Belanda di kenal 4 macam tempat perawatnpenderita
gangguan jiwa:
1. RS Jiwa (kranzinnigengestichen)
2. RS Sementara (Doorgangshuizen)
3. Tempat penampungan sementara bagi penderita psikotik yang akut dan di
pulngkan setelah sembuh. Bagi mereka yang memerlukan perawatan yang
lama, di kirim ke RSJ.
4. Rumah Perawatan (Veerplegtehuiizen)
Berfungsi sebagai RSJ tetapi di kepalai oleh seorang perawat berijazah di
bawah pengawasan dokter umum.
Koloni merupakan tempt penampungan penderita gangguan jiwa yang sudah
tenang. Penderita dapat bekerja di bidang pertanian dan tinggal bersama rakyat. Tuan
rumah di beri living cost dan masih berada di bawah pengawasan. Rumah-rumah
semacam ini di bangun jauh dari kota dan masyarakat umum. Namun sangat di
sayangkan, setelah jepang menduduki Indonesia perkembngan kesehatan jiwa sempat
mengalami kemunduran, bahkan RSJ yang berada di Sabang hancur.
Selama tahun 1940 s/d 1990 terjadi berbagai gerakan perubahan kesehatan
mental, di antaranya:
1. Tahun 1946: Peluncuran Undang-undang Kesehatan ental; Perubahan yang
terjadi: Terbentukanya farmasi Institut nasional kesehatan mental yang
mendukung penelitian tentang intervensi, diagnosa psikiatri dan pencegahan
serta pengobatan gangguan jiwa.
2. Tahun 1961: Komisi Presiden Kesehatan dan gangguan jiwa. Perubahan
yang terjadi: Dukungan legislatif untuk pendidikan bagi tenaga profesi
kesehatan jiwa termasuk perawat, pekerja sosial, psikiatri dan psikolog.
3. Tahun 1963: Peluncuran Undang-Undang tentang pusat kesehatan jiwa
masyarakat. Perubahan yang terjadi: Deinstitusionalisasi klien gangguan
jiwa kronik pindah dari institusi (RSJ) kepusat rehabilitaasi masyarakat.
4. Tahun 1970-1980: Munculnya minat pada aspek biologi dan neurologi dari
gangguan jiwa dan pengobatannya. Perubahan yang terjadi:nmunculnya
generasi ketiga obat psikotropik popularitas terapi biologi meningkat.
5. tahun 1990-an: Dekade otk. Perubahan yang terjadi:
a. Semakin berkembanganya neurobilologi dan teknologi
b. Identifikasi penelitian-penelitian diagnostik yang inovatif khususnya
untuk skizoprenia dan gangguan mood.
6. Tahun 1990-awal abad ke-20: Terjadinya perubahan pada ekonomi dan
sosial reformasi pelayanan kesehatan. Perubahan yang terjadi:
a. Meningkatnya jumlah tunawisma.
b. Kurangnya dukungan dana legislatif untuk pencegahan primer, sekunder
dan tersier.
c. Epidemik global AIDS.
d. Perlunya pemberian pelayanan kesehatan yang sistematis.
e. Berkembangnya resiko tinggi gangguan jiwa pada wanita hamil.
f. Kekerasan pada wanita dan anak-anak, orang tua dan pengguna obat-
obatan terlarang.

K. Aspek Etik dan Legal dalam Keperawatan Jiwa


Etika keperawatan adalah nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang di yakini oleh
profesi keperawatan dalam melaksanakan tugasnya yang berhubungan dengan pasien,
masyrakat dan teman sejawat maupun dengan organisasi profesi, serta pengaturan
praktik dalam keperawatan itu sendiri (Berger & Williams,1999). Bagi profesi
keperawatan, etika keperawatan merupakan suatu acuan dalam melaksanakan praktik
keperawatan, tidak terkecuali keperawatan jiwa. Jadi keputusan dan tindakan
keperawatan psikiatri kepada klien di bedakan oleh apa yang di namakan dengan
etchical manner (cara yang sesuai etik). Pengambilan sesuai etik adalah upaya untuk
mengambil suatu keputusan dari kekurangan/kesalahan suatu situasi tanpa guideline
yang jelas, bila perawat sudah mengetahui bagaimana nilai-nilai personalnya dan
mengimplementasikannya di dalam kerangka kerjanya sesuai kode etik, maka ia
dapat mengembangkan dua kualitas, yakni kualitas asuhan keperawatan yang di
berikannya dan akan mendapatkan kepuasan dari pelayanan yang ddi berikan
tersebut. Menurut Curtin (1978) yang di kutip oleh Stuart sundeen dalam principles
and practice of psychiatric Nursing Care (1995), membuat suatu model untuk critical
etichal analysis (pengambilan keputusan sesuai etik):
a. Meliputi pengumpulan informasi untuk mengklarifikasi latar belakang issue
tersebut.
b. Mengidentifukasi komponen etik atau keadaan dilema yang terjadi, seperti
adakah faktor kebebasannya (di lihat dari sudut pandang pemaksaan) atau
adakah faktor ancamannya (di lihat dari sudut hak untuk dapat menolak
pelayanan).
c. Mengklarifikasi hak dan tanggung jawab yang ada pada seluruh pihak. Ini
meliputi klien, perawat dan mungkin juga pihak lain seperti keluarga klien,
dokter, lembaga keperawatan kesehatan, ulama/pendeta, pekerja sosial dan
mungkin juga hakim. Hal ini adalah alternatif eliminasi agar tidak erjadi
pelanggaran hak atau tampak membahayakan.
1) Utilitarianism
2) Egoism
3) Formalism
4) Fairness
d. Yang terakhir adalah solusi yang di implementasikan kedalam tindakan.
Dalam konteks memenuhi harapan sosial dan sesuai dengan hukum yang
berlaku, perawatan memutuskan ke dalam tujuan dan metode implementasi

L. Program Kesehatan Jiwa


Renstra Kemenkes 2010-2014 menjelaskan bahwa visi pembangunan kesehatan
Indonesia antara lain menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup
sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan yang berkualitas,
meningkatkan surveyor, monitor ing dan informasi kesehatan serta meningkatkan
pemberdayaan masyarakat. Kesehatan jiwa merupakan salah satu arah dari visi
kesehatan tersebut. Masalah kesehatan jiwa terutama gangguan jiwa secara tidak
langsung dapat menurunkan produktifitas, apalagi jika onset gangguan jiwa dimulai
pada usia produktif . Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka perlu pelayanan
kesehatan jiwa yang komprehensif , holistic, dan paripurna. Kegiatan dapat dilakukan
dengan menggerakkan dan memberdayakan seluruh potensi yang ada di masyarakat,
baik warga masyarakat sendiri, tokoh masyarakat, dan profesi kesehatan.
Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan kepada masyarakat
harus memiliki tenaga yang handal agar promosi, prevensi, kurasi, dan rehabilitasi
terhadap masyarakat yang menderita sakit, beresiko sakit, maupun masyarakat yang
sehat dapat dilakukan secara menyeluruh, termasuk didalamnya adalah pelayanan
kesehatan jiwa. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang ada di puskesmas
diharapkan mampu memberika pelayanan keperawatan secara komprehensif, holistic,
kontinyu dan paripurna kepada masyarakat yang mengalami masalah psikososial dan
gangguan jiwa di wilayah kerjanya.
Masalah kesehatan jiwa mempunyai lingkup yang sangat luas dan kompleks
serta tidak terpisahkan (integral) dari kesehatan terutama dalam menunjang
terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh. Gangguan Jiwa merupakan salah satu
masalah kesehatan dan masih banyak ditemukan di masyarakat. Masalah gangguan
jiwa secara tidak langsung akan menurunkan produktivitas apalagi jika menderita
gangguan jiwa dimulai pada usia produktif selain itu juga menambah beban dari
keluarga penderita.
Menurut penelitian WHO beban akibat penyakit gangguan jiwa yang diukur
dengan hari-hari produktif yang hilang (DALY / Dissability Adjusted Life years )
disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa tahun tahun 2000 sebesar 12,3 %.
Berdasarkan Survey Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) tahun 1995 yang
dilakukan oleh Balitbang Depkes menunjukkan bahwa prevalensi gangguan jiwa
adalah sebesar 264 per 1000 anggota rumah tangga.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN SEHAT

ASUHAN KEPERAWATAN SEHAT MENTAL PADA INFANT


A. Tahap bayi (Basic Trust Vs Miss Trust)
1. Pengertian
Adalah tahap perkembangan bayi usia 0-18 bulan dimana pada
usia ini bayi belajar terhadap kepercayaan dan ketidakpercayaan. Masa ini
merupakan krisis pertama yang dihadapi oleh bayi.
2. Karakteristik perilaku
a. Karakteristik normal
1) Menangis ketika ditinggal oleh ibunya
2) Menangis saat basah, lapat, haus, dingin, panas, sakit.
3) Menolak atau menangis saat digendong oleh orang yang tidak
dikenalnya.
4) Segera terdiam saat digendong, dipeluk, atau dibuai.
5) Saat menangis mudah dibujuk untuk diam.
6) Menyembunyikan wajah dan tidak langsung menangis saat
bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya.
7) Mendengarkan musik atau bernyanyi dengan senang.
8) Menoleh mencari sumber suara saat namanya dipanggil.
9) Saat diajak bermain melihatkan wajah senang.
10) Saat diberikan meinan meraih mainan atau mendorong dan
membantingnya.
Diagnosa keperawatan : kesiapan peningkatan perkembangan infant
3. Intervensi
Intervensi Generalis
a. Segera mengendong, memeluk dan membuai bayi saat bayi menangis.
b. Memenuhi kebutuhan dasar bayi (lapar, haus, basah, sakit).
c. Memberi selimut saat bayi kedinginan.
d. Mengajak bericara dengan bayi.
e. Memanggil bayi sesuai dengan namanya.
f. Mengajak bayi bermain (bersuara lucu, mengerakkan benda,
memperlihatkan benda berwarnamenarik, benda berbunyi).
g. Keluarga bersabar dan tidak melampiaskan kekesalan atau kemarahan
pada bayi.
h. Segera membawa bayi kepada pusat layanan kesehatan bila bayi
mengalami masalah kesehatan atau sakit.
Intervensi Spesialis
Terapi stimulasi perkembangan psikososial anak usia 0-18 bulan.
ASUHAN KEPERAWATAN SEHAT PADA USIA TODDLER
A. Pengertian
Adalah tahap perkembangan anak usia 1,5 3 tahun dimana pada usia
ini anak akan berlajar mengerjakan segala sesuatu yang berkaitan dengan
kebutuhannya secara mandiri (otonomi).
1. Karakteristik Perilaku
a. Karakteristik normal.
b. Anak mengenal namanya sendiri.
c. Anak bertanya segala hal yang baru atau asing menurutnya.
d. Anak melakukan kegiatanya sendiri dan tidak mau dibantu.
e. Anak sering mengatakan tidak atau jangan.
f. Anak mulai bergaul dengan orang lain dan mau berpisah dengan orang
lain.
g. Anak mulai belajar untuk mengikuti kegiatan keagamaan.
h. Rasa malu terjadi ketika anaksecara jelas menyadari dirinya sendiri
karena pemaparan negatif.
i. Keraguan anak akan berkembang jika orang tua secara jelas membuat
mali/ mempermalukan anak dihadapan orang lain, maka sebaiknya
orang tua dapat memberikan sikap yang arif ketika anak menjalani
masa ini.
Diagnosa keperawatan : kesiapan peningkatan perkembangan
Toddler
2. Intervensi Perkembangan Normal
Intervensi generalis
a. Memberikan mainan sesuai perkembangan anak.
b. Melatih dan membimbing anak untuk melakukan kegiatan secara
mandiri.
c. Memberikan pujian pada keberhasilan anak.
d. Tidak menggunakan kalimat perintah tetapi memberikan alternatif
pilihan.
e. Tidak melampiaskan kemarahan atau kekesalan dalam bentuk
penganiayaan fisik pada anak(memukul, menjambak, menendang dll).
f. Melibatkan anak dalam kegiatan agama keluarga.
g. Hindarkan suasana yang dapat membuat anak merasa tidak aman
(menakut-nakuti, membuat terkejut, kalimat negatif, mencela).
h. Bila anak mengamuk, lindungi dari bahaya cidera, terjatuh, terluka.
i. Membimbing anak untuk BAK/BAB di toilet.
Intervensi Spesiais
Terapi stimulasi perkembangan psikososial anak usia 1,5 3 tahun.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN SEHAT MENTAL
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN USIA PRA SEKOLAH
(USIA 3 6 TAHUN)
A. Pengertian
Adalah tahap perkembangan anak usia 3 6 tahun dimana pada usia
ini anak akan belajar berinteraksi dengan orang lain, berfantasi dan
berinisiatif, pengenalan identitas kelamin, meniru.
B. Batasan karakteristik
1. Anak suka mengkhayal dan kreatif.
2. Anak punya inisiatif bermain dengan alat-alat di rumah.
3. Anak suka bermain dengan teman sebaya
4. Anak mudah berpisah dengan orang tua.
5. Anak mengerti mana yang benar mana yang salah.
6. Anak berlajar merangkai kata dan kalimat.
7. Anak mengenal berbagai warna.
8. Anak membantu melakukan pekerjaan rumah sederhana.
9. Anak mengenal jenis kelaminnya.
10. Belajar ketermpilan baru melalui permainan.
C. Diagnosa keperawatan
Berdasarkan data yang didapat melalui wawancara, observasi, maka
perawat dapat merumuskan diagnosa keperawatan sebagai berikut:
Kesiapan peningkatan perkembangan pre school
D. Rencana tindakan keperawatan pasien
Tujuan
1. Mempertahankan pemenuhan kebutuhan fisik yang optimal.
2. Mengembangkan keterampilan motorik kasar dan halus.
3. Mengembangkan keterampilan berbahasa.
4. Mengembangkan keterampilan adaptasi psikososial.
5. Pembentukan identitas dan peran sesuai jenis kelamin.
6. Mengembangkan kecerdasan.
7. Mengembangkan nilai-nilai moral.
8. Meningkatkan peran serta keluarga dalam meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan.
Tindakan keperawatan
1. Pemenuhan kebutuhan fisik yang optimal
a. Kaji pemenuhan kebutuhan fisik anak
b. Anjurkan pemberian makanan dengan gizi yang seimbang
c. Kaji pemberian vitamin dan imunisasi ulang (booster)
d. Ajarkan kebersihan diri
2. Mengembangkan keterampilan motorik kasar dan halus
a. Kaji kemampuan motorik kasar dan halus anak
b. Fasilitasi anak untuk bermain yang menggunakan motorik kasar
(kejar-kejaran, seluncuran, sepak bola, tangkap bola dll)
c. Fasilitasi anak untuk kegiatan dengan menggunakan motorik halus
(belajar menggambar, mewarnai, menulis, mwarnai, menyusun balok
dll)
d. Menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi anak untuk bermain
di rumanh
3. Mengembangkan keterampilan bahasa
a. Kaji keterampilan bahasa yang dikuasai anak
b. Berikan kesempatan anak bertanya dan bercerita
c. Sering mengajak komunikasi
d. Ajari anak membaca
e. Belajar bernyanyi
4. Mengembangkan keterampilan adaptasi psikososial
a. Kaji keterampilan adaptasi psikososialanak
b. Berikan kesempatan anak bermain dengan teman sebaya
c. Berikan dorongan dan kesempatan ikut perlombaan
d. Latih anak berhubungan dengan orang lain yang lebih dewasa
5. Membentuk identitas dan peras sesuai jenis kelamin
a. Kaji identitas dan peran sesuai jenis kelamin
b. Ajari mengenal bagian-bagian tubuh
c. Ajari mengenal jenis kelamin sendiri dan membedakan dengan jnis
kelamin anak lain
d. Berikan pakaian dan mainan sesuai jenis kelamin
6. Mengembangkan kecerdasan
a. Kaji perkembangan kecerdasan anak
b. Bimbing anak dengan imajinasinya untuk menggali kreatifitas,
bercerita
c. Bimbing anak belajar keterampilan baru
d. Berikan anak kesempatan dan bimbing anak membantu melakukan
pekerjaan rumah sederhana
e. Ajari anak pengenalan benda, warna, huruf, angka
f. Latih membaca, menggambar dan berhitung
7. Mengembangkan nilai moral
a. Kaji nilai-nilai moral yang sudah diajarkan pada nank
b. Ajarkan dan latih menerapkan nilai agama dan budaya yang positif
c. Kenalkan anak terhadap nilai-nilai mana yang baik dan tidak
d. Berikan pujian atas nilai-nilai positif yang dilakukan oleh anak
e. Latih kedisiplinan
8. Meningkatkan peran serta keluarga dalam meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan
a. Tanyakan kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak
b. Tanyakan upaya yang sudah dilakukan keluarga terhadap anak
c. Berikan reinforcement atas upaya positif yang sudah dilakukan
keluarga
d. Anjuran keluarga untuk tetap rutin membawa anaknya ke fasilitas
kesehatan (posyandu dan puskesmas)
e. Anjurkan keluarga untuk memberikan makanan bergizi seimbang
f. Berikan pendidikan kesehatan tentang tugas perkembangan normal
pada usia pra sekolah
g. Berikan infirmasi cara menstimulasi pekembangan pada usia pra
sekolah
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN SEHAT PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN USIA SEKOLAH
(USIA 6-12 TAHUN)
A. Pengertian
Adalah tahap perkembangan anak usia 6-12 tahun dimana pada usia
ini anak akan belajar memiliki kemampuan nekerja dan mendapat
keterampilan dewasa, belajar menguasai dan menyelesaikan tugasnya,
produktif belajar, kenikmatan dalam berkompetisi kerja dan merasakan
bangga dalam keberhasilan melakukan sesuatu yang baik. Bisa membedakan
sesuatu yang baik/ tidak dan dampak melakukan hal yang baik atau tidak.
B. Batasan Karakteristik
1. Mampu menyelesaikan tugas dari sekolah atau rumah
2. Mempunyai rasa bersaing misal ingin lebih pandai dari teman, meraih
juarapertama
3. Terlibat dalam kegiatan kelompok
4. Mulai mengerti nilai mata uang dan satuannya
5. Mapu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sederhana misal merapikan
tempat tidut, menyapu dll
6. Memiliki hobby tertentu, misal naik sepeda, membaca buku cerita,
menggambar
7. Memiliki teman akrab untuk bermain
8. Tidak ada tanda bekas luka penganiayaan
C. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data yang didapat melalui wawancara, observasi, maka
perawat dapar merumuskan diagnosa keperawatan sebagai berikut:
Kesiapan peningkatan perkembangan usia sekolah
D. Rencana Tindakan Keperawatan Pasien
Tujuan
1. Mempertahankan pemenuhan kebutuhan fisik yang optimal
2. Mengembangkan keterampilan motorik kasar dan halus
3. Mengembangkan keterampilan adaptasi psikososial
4. Mengembangan kecedasan
5. Mengembangkan nilai-nilai moral
6. Meningkatkan peran serta keluarga dalam meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan
Tindakan keperawatan
1. Mempertahankan pemenuhan kebutuhan fisi yang optimal
a. Kaji pemenuhan kebutuhan fisik anak
b. Anjurkan pemberian makanan dengan gizi yang seimbang
c. Kolaborasi pemberian vitamin dan vaksinasi ulang (booster)
d. Ajarkan kebersihan diri
2. Mengembangkan keterampilan motorik kasar dan halus
a. Kaji keterampilan motorik kasar dan halus anak
b. Fasilitasi anak untuk bermain yang menggunakan motorik kasar
(kejar-kejaran, papan seluncuran, sepeda, sepak bola dll)
c. Fasilitasi anak untuk kegiatan dengan menggunakan motorik halus
(belajar menggambar, melukis, mewarnai, membuat kerajian tangan
seperti vas, kotak pensil, lampion dsb)
d. Menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi anak untuk bermain
3. Mengembangkan keterampilan adaptasi psikososial
a. Kaji keterampilan adaptasi psikososisla anak
b. Sediakan waktu bagi anak untuk bermain keluar rumah bersama teman
sekelompoknya
c. Berikan dorongan dan kesempatan ikut berbagai perlombaan
d. Berikan hadiah atas prestasi yang dirih
e. Latih anak berhubungan dengan orang lain yang lebih dewasa
4. Mengembangkan kecerdasan
a. Kaji perkembangan kecerdasan anak
b. Mendiskusikan kelebihan dan kemampuannya
c. Memberikan pendidikan dan keterampilan yang baik bagi anak
d. Memberikan bahan bacaan dan permainan yang meningkatkan
kreatifitas
e. Bimbing anak belajar keterampilan baru
f. Libatkan anak melakukan pekerjaan rumah sederhana misalnya masak,
membersihkan rumah, menyirami tanaman, menyapu
g. Latih membaca, menggambar dan berhitung
h. Asah dan kembangkan hobby yang dimiliki anak
5. Mengembangkan nilai-nilai moral
a. Kaji nilai-nilai moral yang sudah diajarkan pada anak
b. Ajarkan dan latih menerapkan nilai agama dan budaya yang positif
c. Ajarkan hubungan sebab akibat suatu tindakan
d. Bimbing anak saat menonton tv dan membaca buku cerita
e. Berikan pujian atas nilai-nilai positif yang dilakukan anak
f. Latih kedisiplinan
6. Meningkatkan peran serta keluarga dalam meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan
a. Tanyakan kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak
b. Tanyakan upaya yang sudah dilakukan keluarga terhadap anak
c. Berikan reinfocement atas upaya positif yang sudah dilakukan
keluarga
d. Anjurkan pada keluarga untuk memberikan makanan bergizi seimbang
e. Berikan pendidikan kesehatan tentang tugas perkembangan normal
pada usia sekolah
f. Berikan informasi cara menstrimulasi perkembangan pada usia
sekolah
ASUHAN KEPERAWATAN SEHAT PADA REMAJA
(Identity Vs Role Diffusion)
A. Pengertian
Adalah tahap perkembangan remaja usia 12 18 tahun dimana pada
saat ini remaja harus mampu mencapai identitas diri meliputi peran, tujuan
pribadi, keunikan dan ciri khas diri. Bila hal ini tidak tercapai maka remaja
akan mengalami kebingungan peran yang berdampak pada rapuhnya
kepribadian sehingga akan terjadi gangguan konsep diri.
B. Karakteristik Perilaku
Karakteristik normal
1. Menilai diri secara objektif, kelebihan dan kekurangan diri
2. Bergaul dengan teman
3. Memiliki teman curhat
4. Mengikuti kegiatan rutin (olahraga, seni, pramuka, pengajian dll)
5. Bertanggung jawab dan mampu mengambil keputusan tanpa tergantung
pada orang tua
6. Menentukan identitas diri, memiliki tujuan dan cita-cita masa depan
7. Tidak menjadi pelaku tindak antisosial dan tindak asusila
8. Tidak menuntut orang tua secara paksa untuk memenuhi keinginan yang
berlebih dan negatif
9. Berprilaku santun, menghormati orang tua, guru dan bersikap baik pada
teman
10. Memiliki prestasi yang berarti dalam hidup
Diagnosa keperawatan
Kesiapan peningkatan perkembangan remaja
Intervensi perkembangan normal
1. Intervensi generalis:
a. Memfasilitasi remaja untuk mengikuti kegiatan yang positif dan
bermanfaat
b. Tidak membatasi atau terlalu mengekang remaja melainkan
membimbingnya
c. Menciptakan suasana rumah yang nyaman untuk pengembangan bakat
dan kepribadian diri
d. Menyediakan waktu untuk diskusi, mendengarkan keluhan, harapan
dan cita-cita remaja
e. Tidak menganggap remaja sebagai junior yang tidak memiliki
kemampuan apapun
2. Intervensi spesialis
a. Terapi kelompok tarapeutik : remaja
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN SEHAT PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN USIA DEWASA AWAL
(usia 20-30 tahun)
A. Pengertian
Merupakan tahap perkembangan manusia yang berada pada 20-30
tahun dan pada usia ini individu harus mampu berinteraksi akrab dengan
orang lain (Ericson, 1983). Pada masa ini penekanan utama dalam
perkembangan identitas diri untuk membuat ikatan dengan orang lain yang
menghasilka hubungan intim. Orang dewasa mengembangkan pertemanan
abadi dan mencari pasangan atau menikah dan terikat dalam tugas awal
sebuah keluarga. Levinson (1978) mengatakan bahwa pada masa ini
seseorang berada pada puncak intelektual dan fisik. Selama periode ini
kebutuhan untuk mencari kepuasan diti tinggi. Selain itu masa dewasa awal
sesorang berpindah melalui tahap dewasa baru, dari asumsi peran yunior pada
pekerjaan, memulai perkawinan dan peran orangtua dan memulai pelayanan
pada komunitas ke suatu tempat yang lebih senior dirumah, pekerjaan dan di
komunitas. Kegagalan dalam berhubungan akrab dan memperoleh pekerjaan
dapat menyebabkan individu menjauhi pergaulan dan merasa kesepian lalu
menyendiri.
B. Karakteristik Prilaku
1. Karakteristik perilaku normal
a. Menjalin interaksi yang hangat dan akrab dengan orang lain
b. Mempunyai hubungan dekat dengan orang-orang tertentu (pacar,
sahabat)
c. Membentuk keluarga
d. Mempunyai komitmen yang jelas dalam bekerja dan berinteraksi
e. Merasa mampu dan mandiri karena sudah bekerja
f. Memperlihatkan tanggungjawab secara ekonomi, sosial dan emosional
g. Mempunyai konsep diri yang realistis
h. Menyukai diri dan memiliki tujuan hidup
i. Berinteraksi baik dengan keluarga
j. Mampu mengatasi stres akibat perubahan dirinya
k. Menganggap kehidupan sosialnya bermakna
l. Mempunyai nilai yang menjadi pedoman hidupnya

2. Karakteristik penyimpangan perkembangan


a. Tidak mempunyai hubungan akrab
b. Tidak mandiri dan tidak mempunyai komitmen hidup
c. Konsep diri tidak realistis
d. Tidak menyukai diri sendiri
e. Tidak mengetahui arah hidup
f. Tidak mampu mangatasi stres
g. Hubungan dengan orangtua tidak harmonis
h. Bertindak semaunya sendiri dan tidak bertanggungjawab
i. Tidak memiliki pedoman dan nilai hidup yang jelas, mudah
terpengaruh
j. Menjadi pelaku tindak antisosial (kriminal, narkoba, tindak asusila)
C. Diagnosa keperawatan
Kesiapan peningkatan perkembangan dewasa
ASUHAN KEPERAWATAN SEHAT MENTAL TAHAP DEWASA
(usia 30 60 tahun)
A. Definisi
Adalah tahap perkembangan manusia usia 30 60 tahun dimana pada
tahap ini merupakan tahap dimana individu mampu terlibat dalam kehidupan
keluarga, masyarakat, pekerjaan, dan mampu membimbing anaknya. Individu
harus menyadari hal ini, apabila kondisi tersebut tidak terpenuhi dapat
menyebabkan ketergantungan dalam pekerjaan dan keungan
B. Karakteristik Perilaku
Karakteristik Normal
a. Menilai pencapaian hidup
b. Merasa nyaman dengan pasangan hidup
c. Menerima perubahan fisik dan psikologis yang terjadi
d. Membimbing dan menyiapkan generasi di bawah usianya secara arif dan
bijaksana
e. Menyesuaikan diri dengan orang tuanya yang sudah lansia
f. Kreatif : mempunyai inisiatif dan ide ide melakukan sesuatu yang
bermanfaat
g. Produktif : mampu menghasilkan sesuatu yang berarti bagi dirinya dan
orang lain, mengisi waktu luang dengan hal yang positif dan bermanfaat.
h. Perhatian dan perduli dengan orang lain : memperhatikan kebutuhan orang
lain.
i. Mengembangkan minat dan hobi
Diagnosa keperawatan : kesiapan peningkatan perkembangan dewasa
C. Intervensi Keperawatan
1. Intervensi Generalis
a. Menjelaskan perkembangan usia dewasa yang normal dan
perkembangan yang menyimpang
b. Menerima proses penuaan dan perubahan peran dalam keluarga
c. Berinteraksi dengan baik dengan pasangan dan menikmati
kebersamaan dengan keluarga
d. Memperluas dan memperbaharui minat atau kesenangan
e. Memanfaatkan kemandirian dan kemampuan diri secara positif
2. Intervensi Spesialis
a. Terapi stimulasi perkembangan psikososial usoa 30 60 tahun.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan bahagia serta mampu
mengatasi tantanganhidup, dapat menerima orang lainsebagaimana adanya serta
mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Kesehatan jiwa masyarakat (Community Mental Health) merupakan suatu
orientasi kesehatan jiwa yang dilaksanakan di masyarakat. Kesehatan jiwa
masyarakat ini dititik beratkan pada upaya promotif dan preventif tanpa
melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif. (KepMenKes No. 220)
Peran perawat kesehatan jiwa masyarakat adalah:
1. Mengidentifikasi, mengklasifikasi dan memetakan permasalahan kesehatan
jiwa
2. Pendidikan kesehatan dalam upaya preventif danj promotif penemuan kasus
dini, skiring dan tindakan yang cepat.
3. Pemberi asuhan keperawatan pada intervensi kondisi krisis