Anda di halaman 1dari 433

STRUKTlJ

R BETON
BERTULANG
BERDASARKAN SK.SN T-15-1991-03
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM . RI

.
ISTIMAWAN Dlp9HUSOOO
'
.
STRUKTUR
BETON
BERTULANG
BERDASARKAN SK.SNI T-15-19 91-
03
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM RI

. ./, 4.
I

ISTIMAWAN DIPOHUSODO

. r
DA FTA R ISi

KATA PENGANTAR

Kepala Sadan Penelitian dan Pengembangan


Departemen Pekeaan Umum Republik
Indonesia IR. Soenarjono Danoedjo

KATA PENGANTAR

Ji 1. SIFAT BAHAN SETON DAN


MEKANIKA LENTUR

I I
i.1.
1.2.
Baton
Peraturan dan Standar
Perencanaan Struktur Baton

. 1.3.
1.4.
Bertulang
Semen dan Air
Bahan Agregat

r
1.5. Adukan Seton
1.6.. ... .Kat Seton Terhadap Gaya Tekan
1.7. - Kuat Seton Terhadap Gaya Tarik
1.8. Sifat Rangkak dan Susut
1.9. Baja Tutangan
1.1O. Balok Ter1en'tur 1
j Soal-soai 2

2. BALOK PERSEGI DAN PLAT


. . BERTULANGAN TARIK SAJA
,.,, I , , 2.1. Pendahuluan
2.2. Metode Analisis dan Perencanaan
2.3. Anggapan-anggapan
2.4. Kuat Lentur Penampang Balok Persegi
5.4. Keseimbangan Gayaaya
1t
Dalam
5.5. Hubungan Tegangan dan Regangan . h""I
5.6. Metode Transformasi Penampang 1tlt1
I. Penampang Balok Bertulangan

Seimbang, Kurang, atau Lebih

.. .
5.7. Analisis Balok Persegi Bertulangan Tarik 159
33

':
Saja
Tarik Pambatasan Penulangan
i.
35 5.8. Penampang Balok Bertulangan
Parsyaratan Kekuatan 3
... Seimbang, Kurang, atau Lebih
161
Analisis Balok Terlentur 5.9. Perencanaan Balok Persegi Bertulangan Tarik
163
Saja
Bertulangan Tarik Saja 171
e 5.10. Perencanaan Balok Persegi Bertulangan Rangkap


L PlatTer1entur 175
Io. Analisis Plat Terlentur Satu Arah 5.11. Analisis Balok Persegi Bertulangan Rangkap 1 71
42 5.12., Perencanaan Kuat Geser dan Torsi
45
46
1 SoaJ-soal
Perencanaan Balok Terlentur 180
1.
Bertulangan Tarik Saja 48
1 6. PA NJA NG PENYA LURAN DAN
2. Perencanaan Plat Terlentur Satu Arah 58
SoaJ-soaJ 62 SAMBUNG AN BAJA 18 1
TULANGAN
18 1
6.1. Pendahuluan
PENAMPA NG BALOK T DAN 183
BALOK BERTULANGAN RA NGKA P 66 6.2. Panjang Penyafuran Tulangan Baja Tarik 1R5
6.3. Panjang Penyaluran Tulangan Baja Tekan
I. Pendahuluan 6.4. Persyaratan Jangkar, Kait, dan
66 Hi fl
Bengkokan
Analisis Balok T Terlentur 68 5.5. .Sambungan Batang Tulangan
1U;'
Pembatasan Penulangan Tarik Balok T 72 6.6. Sambungan Tularigan Baja Tarik
1!)3
Analisis Baok Bukan Psrsegi Empat 76 . 6.7. Sambungan Tulangan Baja Tekan
J4
Perencanaan Balok T 6.8. Pemberhentian dan Pembengkokan Batang
78
). Ba!ok Persegi Bert1Jlangan Rangkap . . 84 Tulangan Struktur Bentang 195
Sederhana
r Analisis Balok Terlentur Bertulangan Rangkap (Kond1s1 I) 86 6.9. Persyaratan Panjang Penyaluran Tulangan
3. Analisis Balok Terlentur Bertulangan Rangkap (Kondisi II} 91 M9men Positif Balok Bentang Sederhana 203
3. Perencanaan Balok Bertulangan Rangkap Soal-soal 205
97
Soal-soai "102
7. STR UKTUR BENTANG MENER
PENULA NGA N G ESER DA US DAN PLAT DUA AR AH 20 7
N PUNTIR BALOK 106 7.1. Pendahuluan 207
TERLENTUR
I. Kuat 106 7.2. Struktur Baioi< dan Plat Menerus 208
Geser
> Periiaku Balok tanpa Periulangan Geser 109 7.3. Pemberhentian Tulangan Struktur Bentang Menerus 2 10
3. Psrencanaan Penulangan Geser 1 12 7.4.
Konsep P-mdekatan Struktur 230
Plat Dua Arah
i. Geser pada Balok 126 7.5.. Moman Statis Total Tertaktor
Tinggi 232
). Gesar 1 7.6. Metode PerencanaaA Langsung
Friksi 2M
30
). Gaser pada Kansai Pendek 7.7. Metode Rangka Ekivalen
1 2t31
32
r KuatTorsi (Puntir} Soal-soal
137 264
3. Pedoman Penulangan Torsi ..; 140 . . . ;,.-

SoaJ-soaJ ..149 8. KEMAMPUAN KELA YANAN 268


' - . 8.1. Pendahuluan
METODE PERENCA NAAN ELASTIK 268
152 8.2. Lendutan 269
I. Pendahuluan 152 8.3. Moman lnersia Penampang
271
- Konsep dan Anggapan-anggapan Retak
1 275
53 8:4. Lendutan Seketika
3. Tegangan ijin 154 .
T vu
PENULANGAN STRUKTUR TAHAN GEMPA
I 12. Pendahuluan
12.1. Pemencaran Energi dan Tingkat Daktilitas
420
8.5. Lend
12.2. Persyaratan Perencanaan dan Analisis
12.3. Struktur Rangka dengan Beban Lentur dan 428
utan Jangka Panjang 12.4. Beban Aksial Kecil
429
I I Struktur Rangka dengan Beban Lentur dan
2n 12.5. Beban Aksial Besar
Ketentuan Kuat Gaser 431
8.6. Lendutan Struktur Bentang Menerus 281 12.6.
8.7. Pangendalian Retak ,.,.. 281
Soal-soat

285

9. STRUKTUR KOLOM
287
287 12.7.' Struktur Dinding, Diafragma, dan Rangka Batang 434
9.1. Pendahullan
9.2. Kekuatan Kolom Eksentrisitas Kecil 290 9.11. F i ncanaan Kolom Pendek Eksentrisitas C. 2.
9.3. Persyaratan Detail Penulangan Kolom 292 a Keku Besar 322
9.4. Analisis Kolom Pendek Eksentrisitas Kecil k atan 9.; 3. Struktur Kolom Langsing Fond
295 .329
t 0 asi
9.5. Perencanaan Kolom Pendek Eksentrisitas Kecil 297 o untu Seal-soal Telap
301 r k 339 ak
9.6. Hubungan Beban Aksial dan Moman
Penampang Kolom Bertulangan Seimbang 302 R Kolo Dindi
. ! .
Kakuatan Kolom Eksentrisitas Besar '305 e m 10. STRUKTUR FONDASI ng
9.8.
d 320 342
9.9. Analisis Kolom Pandek Eksentrisitas Besar
306 34.4
u 9.
316 10.1. PandahuluC'll
9.10. Metode Pendekatan Empiris k 2. 342 4
s Pere 0.3.
Fondasi Telapak Kolom Setempat 435
351 12.8. Titik Pertemuan Rangka
437
355
0. 4. Fondasi Bujur Sangkar 13.
361 DETAIL PENULANGAN 441
10.5. Fondasi Empat Persegi Panjang 13.1. Pendahuluan
Fondasi Gabungan 368 441
0.6. 13.2. G_ambar Kerja Pemasangan Penulangan
Fondasi Terikat Gabungan 372 442
10.7. 13.3. S1stem Notasi dan Tanda Batang Tulangan
375 445
Scal-soal 13.4. Daftar-daftar
13.5. Daftar Bengkokan Batang Tulangan
447
377

..
11. DASAR-DASAR SETON PRATEGANGAN 13.6. Pemasangan Batang Tulangan Baja
450
377 453
11.1. Pendahuluan J
11.2. Konsep Dasar dan Pendekatan Perencanaan Apendiks
378
383 1 Apendiks A: Tabel-Tabel
11.3. Pola Tegangan Balok Seton Prategangan 455
392 Apendiks B: Notasi- Notasj
11.4. Kehilangan Gaya Prategangan 507
1.5.
11.6.
Analisis Balok Baton Prategangan
Perencanaan Bentuk Penampang
394
'
''#' ' Apandiks C: Dattar Buku
Al.'Uan lnd e k s
Tentang Pengarang
515
5 19
dan Tata Letak Tendon 52 7

403
. 411
11.7. Metode Pengimbangan Beban
11.8. Kuat Lentur Komponen Prategangan

415

421 j)(
11.9. Kuat Gaser Komponen Prategangan
423
Soal-soal

viii
_.: \..
O E? A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M
.I
SADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PU KATA PENGANTAR
JAL.AN PATilMUP.A NO. 20 KEBAYO SARLI - JAKARTA TEL?. 71508:3, T.395083, 711529,
711580
t
.. .
J
I

.,,. "
Sasaran utama buku ini menyajikan dasar-dasar pangertian sistem struktur beton seder
KATA PENGANTAR hana pada umumnya, dan perilaku serta kekuatan komponen struktur beton bertulang
pa da khususnya Bersamaan dengan berkembangnya p.enelitian dan
penrbitan/penerje mahan buku-buku literatur struktur baton yang meningkat pada akhir-
akhir ini, dimaksud kan juga untuk mengetengahkan informasi kepada pambaca
terutama berkaitan dengan
Jalam rangka usaha memasyarakatkan ilmu dan teknologi sesuai dengan perkembangan di
penggunaan metode dan peraturan terbaru yang diberlakukan di Indonesia. Akan tetapl
atu pihak dan mendorong terjaminnya mutu produk di lain pihak, maka Pemerintah melaiul
buku ini sama sakali dimaksudkan bukan untuk memuat berbagai risafah teoritis mengennl
Jepartemen terkait menyiapkan parangkat standar yang diproyeksikan menjadi Standar
analisis dan perencanaan struktur baton. bertulang, tetapi mengutamakan pendekatan

.
Nasional Indonesia (SNI) dan berlaku secara
nasional. pra Js dan bersifat nor.-kalkulus. Buku ini ditengkapi dengan berbagai contoh permasa
SK SNI T-15-1991-03 dengan judul "Tata Cara Penghitungan Struktur Seton untuk 'sa
lahan mendasar, berikl.'.1 fangkah-langkah penyeiesaiannya dipilih dari berbagai buku acu-
ngunan Gedung, merupakan salah satu wujud standar yang dikeluarkan cieh Departemen
Pekeaan Umum yang perfu disebarfuaskan ." an untuk c1isajikan dalam bentuk yang sudah dikenal sebagai langkah standar. Format de
SETON BERTULANG" ini periu didukung. agar sasaran pembuatan standar tarsebut da-
mikian dipilih disertai dengan harapan agar upaya penguasaan dasar-dasar pengetahuan
at segera tercapai. d[.tn pemahaman peraturan baru mengenai struktur baton bertulang dapat berlangsung
Untuk seiap usaha memasyarakatkan standar seperti halnya penerbitan bi.;ku
"STRUKTUR
- dengan lebih baik lagi.
Di Indonesia, peraturan atau pedoman yang mengatur perancanaan dan pelaksa
Saya ucapkan selamat atas usaha Penulis, sdr. Ir. ISTIMAWAN DIPOHL.:3000, semoga
xi
ermanfaat.

Jakarta. Oesember 1993


.
;
Kepala SA DA N UTBANG l
PU J
1.

,,
'

Ir. Soenarjono Danoedjo


naanben alami pembaharuan bt? dimaks m gi pesatnya la.ju perkembangan ilmu p:gatahuan dan teknologi khususnya yang
gunan
beton berapa kali, sajak Paraturan udkan e berkaitan dengan baton ataupun struktur bAton bertulang.
bartulang
yang Baton Indonesia 1955 (PBI un hik n Dalcm era pembangunan,. kadang-kadang dirasakan bahwa di suatu daerah
diterbitka
n oleh 1955), PBl 1971, sarta yang memen g atau lokasl tertentu terutama di kota-kota basar dengan bangunan-bangunan pencakar
Departem terakhir adalah Standar SK uhi i
en langit nya, kebutuhan akan terssdianya peraturan yang memadai dan mencakup
Pekerja SNI T-15-1991-03 yang juga kebutu m perkembang fm teknofogi mutakhir sangat mendesak. Tatapi hendal<nya diingat pufa
Umum RI
di or al s.ebagai Pedoman han b bahwa karena lu asnya negen ini, di daerah lainterutama di pelosok-pelosok terkadang
telah
Seton 1989. Pembaharuan dalam a masih dijumpal puh
meng
tersabut tentunya upaya n 1dU
bahwa konsep peraturan yang lama belum sepenuhnya dikuasai. Dengan sendirinya
un tuk menghadapi keadaan tidak seimbang yang demikian, menjadi bagian tugas bagi
da Bab 8, dan baton pratagangan. Pada Bab 6 diketengahkan mengenai tata-cnr tt ptt
para teknokrat dan rekayasawan yang bergerak di bidan struktur baton untuk
nyambungan dan perhitungan sarta persyartan panjang penyaluran batang baja tuhmu
mengatasinya terutama melaJui upaya pendidikan dan pelatihan intens!f yang
an, sedangkan Bab 7 mengetangahkan diskusi mengenai struktur bentang menerus dun
bersinambung.
plat penulangan dua arah. Pada Bab 9 dan Bab 10 diketengahkan tata-cara analisis dan
Dengan memperhatikan keadaan tersebut di_ atas dan daJam rangka upaya mem perancanaan untuk aplikasi, berturut-turut untuk komponen struktur kolom dan fondasl.
Kamudian pada Bab 11 diketengahkan dasar-dasar pemahaman struktur baton metodo
.
perkenalkan Tata Cara Penghitungan Struktur Baton SK SNI T-15-1991-03 lebih luas,
prategangan, dan pada Bab 12 adalah tata cara penulangan yang harus diperhatikan

buku ini disusun dengan sepenuhnya menggunakannya sebagai bahan acuan utama de pada bangunan-bangunan tahan gempa. Seperti di etahui, karena di Indonesia balum

" terse dia pedoman atau standar pelaksanaan pekerjaan detail penulangan, masih sering
ngan menggunakan_ sistem satuan SL Sedangkan sebagai referensi (acuan) pelengka,p
dijum pai dalam petaksanaannya di lapangan terkesan tidak sistamatis, kurang rapih,
nya banyak diambildari berbagai buku yar.g membahas struktur beton berdasarkan
yang tldnk jarang mengakibatkan hasilpekarjaan menjadi kurang efisien, bahkan tidak
pada ACI Building Code. Seperti diketahui, penyusunan SK SNI T-15 1991-03 juga
dapat morm-
menggu nakan ACI 318M-83 sabagai acuan utama di samping beberapa peraturan
nuhi persyaratan. Untuk itu, sebagai diskusi penutup dan merupakan bab yang terokhlr,
lainnya, sesuai dengan kebutuhan di Indonesia. Dangan demikian diharapkan buku
Bab13, diketengahkan diskusi mengenai tata-cara menyusun detail pemasangan tulanu
ini dapat menambah kakayaan khazanah dunia pengatahuan dan berguna sabagai
an yang perlu diparhatikan.
sumber informasi teknolgi serta aruan perancanaan bagi para pelajar sekolah kejuruan
teknik, mahasiswa, teknisi, ar sitak, dan rekayasawan yang bergerak di bidang struktur Pada kesempatan yang baik ini, parkenankan penulis menyampaikan rasa
tenmn kasih yang sebesar-basamya kepada banyak pihak yang telah membantu dalam
beton.
penyiap an naskah buku ini. Khususnya kepada asistan, Ir. Djoko Sumiyanto yang telah
Kerangka dasar dan pengelompokan diskusi dalam buku ini didasarkan pada
mamban tu dalam proses editing, kepada Ir. Jacobus Wiryawan beserta stat: Freddy
pe ngalaman penul!s selama melaksanakan tugas sebagai pengajar di Fakultas Teknik
Kasenda dnn
Uni versitas Gadjah Mada. Dangan mengacu pada buku-buku yang meneiaah tentang
Ashida di Computa Computer Centre, Yogyakarta, yang telah memberikan banyak bantu
meka- '
an dalam memproses data dan kata. Kepada isteri dan anak, R3.diyanti dan Shiddieq, pu
. nika dan kekuatan bahan, pada Bab 1 dibahas mengenai sifat-sifat penting bahan adukan
nulberhwang atas kebaikannya untuk kesabaran, dorongan, dan dukungannya, dan
baton dan baja tulangan, di samping pembahasan perilaku balok terlentur pada umum
kepada merakalah buku ini dipersembahkan.
nya.. Pada Bab 2 dikatenyahkan pembahasan metode analisis dan perencanaan untuk
balok persegi bertulangan tarik saja, di samping juga untuk plat penulangc.;n satu arah. Se
dangkan Bab 3 membahas balok persegi bertulangan rangkap, balok-T, dan balok bukan
persegi empat. Bab 4 mengetengahkan diskusi mengenai analisis dan -perencanaan
pe nulangan geser dan puntir untuk berbagai kompcinen struktur beton bertulaf!g.
termasuk di antaranya untuk balok tinggi, konsol pendek, dan mekanisme gaya geser
friksi. Pada
Bab 5 diketengahkan pembahasan mengenai metode perencanaan elastik untuk struktur

baton. Meskipun pendekatan cara elastik untuk struktur baton bertulang sudah tidk di tuk terutama dalam kaitannya dangan perilaku elastik komponerY struktur, misal nya dalam
anjurkan, akan tetapi kehadirannya sebagai ilmu pengetahuan masih saja bermanfaat un didalarni memperhitungkan kemampuan kelayanan struktur yang dibahas lebih lanjut pa-
... ISTIMAWAN DIPOHUSODO
I

\
SIFAT BAHAN SETON DAN
MEKANIKA LENTUR

1.1. B ET O N

' .

Aa

I ..
Baton didapat dari pencampuran bahan-bahan Nilai kuat tekan baton relatif tinggi dibandingkan dengan kuat tariknya, dan baton
agregat halus dan kasar yaitu pasir, batu, batu peq h, merupakan bahan bersifat getas. Nilai kuat tariknya hanya berkisar 9% -15.% saja dari
atau bahan semacam lainnya, dengan menambahkan kuat tekannya. Pada penggunaan sebagai komponen strukturaJ bangunan, umumnya
secukupnya bahan pe rekat semen, dan air sebagai baton diperkuat dengan batang tulangan baja sebagai bahan yang dapat bekerja
bahan pembantu guna keperluan reaksi kimia selama sama dan
proses pengerasan dan perawatan baton bertangsung. mampu membantu kelemahannya, ter:utama pada bagian yang menahan gaya tarik. Oe
Agregat halus dan kasar, disebut sebagai banan ngan damikian tersusun pembagian tugas, di mana batang tulangan baja bertugas mem
susun kasar campuran, merupakan komponen perkuat dan rnenahan gaya tarik, sedangkan baton hanya diparhitungkan untuk menahan
utama beton. Nilai kekuatan serta daya tahan ( gaya tskan. Komponen struktur baton dengan kerja sama seperti itu disabut sebagai be.
dur,aJ;ility) baton merupakan fungsi ari banyak f ton bertulangan baja atau lazim disebut baton bertulang saja Oalam perkembangannya,
aktor, di antaranya ialah nilai ' bding campuran dan didasarkan pada tujuan peningkatan kemampuan kekuatan komponen, sering juga dijum
mutu bahan susun, metode pelaksanaan pai baton dan tulangan baja bersama-sama ditempatkan pada bagian struktur di mana
pengecoran, pelaksana an finishing, temperatur, dan ke-
kondisi perawatan pengerasannya. . puanya menahan gaya tekan.
3 1 SIFAT BAHAN BETON DAN MEKANIKA LENTURAN
BAB 1 SIFAT BAHAN BETON DAN MEKANIKA LENTllllAN J

.. .
Dengan sendirinya untuk mengatur kerjasama antara dua macam bahan yang
a sitat dan perilakunya dalam rangka membentuk satu kesatuan perilaku struktural PSI 1955 rnerupakan terjernahan dari GBVI ( Gewapend Beton Voorschriften In
nendukung beban, diperlukan cara hitungan berbeda dangan apabila hanya digu Indonesia) 1935, ialah suatu peraturan produk pemerintah penjajahan Belanda di Indone
satu macam bahan saja separti halnya pada struktur baja, kayu, alumunium, dan sia. PSI 1955 mernberikan katentuan tata cara perencanaan rnenggunakan rnetode elas
se
Y'a tik atau cara n, dengan menggunakan nilai banding modulus alastisitas baja dan baton, n,
.
Carjasama antara bahan baton dan baja tulangan hanya dapat terwujud dengan yang bernilai tatap untuk segala keadaan bahan dan pambebanan. Satasan mutu bahan
di
:m pada kaadaan-kaadaan; (1) lakatan sampuma antara batang tulangan baja di dalarn peratu:-an baik untuk beton maupun tulangan baja masih rendah di samping per
da
eton keras yang membungkusnya sehingga tidak terjadi penggalinciran di antara aturan tata cara palaksanaan yang sederhana sasuai dengan taraf teknologi yang dikuasai
ya; (2) baton yang mengalilingi barang tulangan baja barsifat kedap sehingga pada waktu itu. PBI 1971 Nl-2 diterbitkan dengan memberikan beberapa pembaharuan
melindungi dan mencegah tarjadinya karat baja; (3) angka muai kedua bahan terhadap PBI 1955, di antaranya yang terpenting adalah: (1) Di dalam perhitungan meng
ham a, di mana untuk setiap kenaikan suhu satu derajat Celcius angka muai gunakan metode elastik atau disebut juga sebagai cara n aiau metoda tegangan kerja,
baton manggunakan nilai n yang variabel tergantung pada mutu baton dan waktu (kecepatan)
0 sampai 0,000013 sedangkan baja 0,000012, sehingga tegangan yang timbul
Jerbedaan nilai dapat pembebanan, sarta keharusan untuk memasang tulangan rangkap bagi balok-balok yang
diabaikan.
ebagai konsakuensi dari lakatan yang sempuma antara kedua bahan, di daarah ikut menentukan kekuatan struktur; (2) Diperkenalkannya perhitungan metode kekuatan
1tu komponen struktur akan tarjadi retak-retak baton di dakat baja tulangan. (ultimit) yang meskipun belum merupakan keharusan untuk memakai, diketengahkan sa
Retak
mg damikian dapat diabaikan sejauh tidak mampengaruhi penampilan struktural bagai alternatif; (3) Diperkenalkannya dasar-dasar perhitungan bangunan tahan gempa.
en yang barsangkutan. . Sedangkan Standar Tata Cara Penghitungan Struktur Seton nomor: SK SNI T-15-
1991-03 memberikan ketentuan-ketentuan baru, antara lain yang terpenting untuk diper
hatikan adalah; (1) Parhitungan perencanaan lebih diutamakan serta diarahkan untuk
JER ATUR A N DA N STANDA R PERENCA mengg.unakan metode kakuatan (ultimit). sedangkan metode elastik ( cara n) masih ter
NAAN
STRUKTUR SETON BERTULANG cantum sebagai alternatif dan diberikan di bagian belakang; (2) Konsep hitungan kaarryan
an dan beban yang lebih realistik dihubungkan dangan tingkat daktilitas struktur; (3) Tata
cara hitungan gessr dan puntir pada kaadaan ultimit {batas); (4) Menggunakan satuan SI
n dan standar parsyaratan struktur bangunan pada hakekatnya ditujukan urituk dan notasi disuaikan dengan yang dipakai di kalangan internasional; (5) Ketentuan-ka
3raan uma manusia, untuk mancegah korban manusia. Olah karana itu, tentuan. detail penulangan yang lebih rinci untuk beberapa komponen struktur; (6) Me
paratur
ur bangunan harus menetapkan syarat minimum yang berhubungan dengan se- gatengahkan beberapa katentuan yang belum tersedia pada peraturan sebelumnya, mi
nan. Dengan dernikian perlu disadaii bahwa suatu paraturan bangunan bukanlah salnya mengenai struktur bangunan tahan gempa, beton prategangan, pracetak, kompo
>eriakukan sebagai petunjuk praktis yang disarankan untuk dilaksanakan, bukan sit, cangkang, piat lipat, dan iain-iain.
3rupakan buku pegangan pelaksanaan, bukan pula dimaksildkan untuk meng- Sampai dengan saat sekarang, penguasaan pengetahuan dan teknologi yang ber
oengetahuan, pertimbangan taknik, serta pengalaman-pengalaman di masa lalu. kaitan dengan sifat dan perilaku struktur beton terus menerus mengalami perkembangan
raturan bangunan tidak mambebaskan tanggung jawab pihak perancana untuk sehingga standar dan peraturan yang r;nengatur tata cara perencanaan dan pelaksanaan
lkan struktur bangunan yang ekonomis dan yang lebih panting, adalah aman.
nya juga maoyesuaikan untuk selalu diperbaru. Standar Tata Cara Penghitungan Struk.1ur
ndonesia, peraturan atau pedoman standar yang mengatur perencanaan dan seton nomor: SK SNI T-15-1991-03 disusun dengan sepenuhnya berdasarkan partim
rnn bangunan baton bertulang telah baberapa kali mangalami perubahan dan bangan tersebut. Sehingga Panitia Panyusun mamandang parlu untuk menggunkan
1Jan, sejak Peraturan Seton lndonesf'a 1955 (PBI 1955) kemudian PSI 1971 acuan paraturan-peraturan dan standar dari berbagai negara, terutama ACI 318-83, guna
terakhir adalah Standar Tata Cara Penghitungan Struktur Baton nornor: SK SNi menyesuaikan dengan penguasaan teknologi mutakhir tetapi tetap tanpa meninggalkan
-03. Pernbaharuan tarsebut tiada lain ditujukan untuk rnemenuhi kebutuhan pertimbangan kondisi teknologi di dalam negeri.
1ya mengimbangi pesatnya laju perkembangan ilmu pengetahuan dan taknologi Semua Peraturan dan Pedoman Standar tersebut di atas diterbitkan oleh Departe
lyang berhubungan dengan baton atau baton bertulang.
rnen Pekerjaan Umum Republik Indonesia dan diberlakukan sebagai peraturan standar
resmi. Dengan. seridirinya apabila suatu dokumen mencantumkannya sebagai peraturan
3 1 SIFAf BAHAN SETON DAN MEKANIKA LENTURAN
BAB 1 SIFAT BAHAN SETON DAN MEKANIKA LENTURAN 6

yang harus diikuti, maka sesuai dengan prosedur yang berlaku peraturan tersebut
<uatan hukum dalam pengendalian perencanaan dan pelaksanaan bangunan he- 1.4 BAHAN AGREGAT
1rtulang langkap dengan sagala sanksi yang diberlakukan. Buku ini disusun taruta
mgacu pada Standar Tata Ca.ra Panghitungan Struktur Baton nomor: SK SNI T-15- Agregat terbagi atas agregat halus dan kasar. Agregat halus umumnya terdiri dari pasir
:>3 (sela!ljutnya disabut SK SNI T-15-1991-03), dangan tidak menutup kemung atau partikaf-partikel yang lewat saringan # 4 atau 5 mm, sedangkan agragat kasar tidak le
pada beberapa hal mengangkat permasalahan dar. menggunakan acuan dari pera wat saringan tarsabut. Ukuran maksimum agregat kasar dalam struktur baton diatur di da
ain dengan tujuan untuk dapat memperoleh pembahasan selengkap mungkin. lam peraturan untuk kepentingan berbagai komponen, namun pada dasarnya bertujuan
agar agregat dapat masuk atau lewat di antara sela-sela tulangan atau acuan. Agregat
yang digunakan harus memenuhi ketentuan Sii 0052-80 dan dalam hal-hal yang tidak
tercakup dalam standar tersebut juga harus memenuhi ketentuan ASTM ( American
SEMEN DA N
Society for Testing Materials ) C33-86 untuk agregat normal, serta pada ASTM C330-80
AIR
untuk agre
gat ringan.
n yang digunakan untuk bahan baton adalah Semen Portland atau Semen Port Umumnya ponggunaan bahan agregat dalam adukan baton mencapai jumlah :t
ozzoian, berupa semen hidrolik yang berfungsi sebagai bahan perekat bahan su- 70% - 75% dari seluruh volume massa padat baton. Untuk mencapai kuat beton baik per
1ton. Dengan _ienis semen tersebut diperlukan air guna berlangsungnya reaksi lu diperhatikan kepadatan dan kekerasan massanya, karena umumnya semakin padat dan
kimi
lda proses hidrasi. Pada proses hidrasi semen mengeras dan mengikat bahan su keras massa agregat akan makin tinggi kekuatan dan durability-nya (daya tahan terhadap
ton membentuk massa padat. Semen Portland yang pada awalnya ditemukan di penurunan mutu akibat pengaruh cuaca). Untuk membentuk massa padat diperlukan su
kota Dorset, lnggris, adalah bahan yang umumnya digunakan untuk keperluan ter-
Semen Portland terutama mengandung kalsium dan almunium silika. Dibuat dari suilan gradasi butiran agregat yang baik. Di samping bahan agregat harus mempunyai cu
utama limestone yang mengandung kalsium oksida (CaO), dan lempung yang kup kekerasan, sitat kekal, tidak bersifat reaktiiterhadap alkali, dan tidak mengandung ba
gian-b?gian kecil (< 70 micron) atau lumpur. Nilai kuat baton yang dicapai sangat ditentu
mdung silika dioksida ( SiO;) serta almunium oksida ( Alz(J;J. Setelah melalui kan oleh mutu bahan agregat ini.
suatu
; industri, semen dipasarkan dalam bentuk bubuk dikemas dalam kantung (berat :t
. Semen Portland yang dipakai harus memenuhi syarat Sii 0013-81 dan Peraturan
Bahan Bangunan Indonesia (PUBI) 1982, sadangkan Semen Portland Pozzolan
1.5 ADUKA N BETON
memenuhi syarat Sii 0132-75. Di dalam syarat pelaksanaan pekerjaan beton h.arus
Jmkan dengan jelas janis semen yang boleh dipakai, dan harus selalu
Seton sebagai bahan _yang berasal dari pengadukan bahan-bahan susun agregat kasar
dipertahan
suai dengan yang dipakai pada waktu penentuan rencana dan halus kamudian diikat dengan semen yang bereaksi dengan air sebagai bahan pere
campuran.
Air yang digunakan untuk membuat beton harus bersih, tidak boleh mengandung kat, harus dicampur dan diaduk dengan benar dan merata agar dapt dicapai mutu baton
<. asam, aikali, garam-garam, zat organik atau bahan-bahan lain yang bersif at meru J baik. Pada umumnya pengadukan bahan beton dilakukan dengan r'nenggunakan mesin,
ton dan baja tulangan. Sebaiknya dipakai air tawar bersih yang dapat diminum. a kecu,ali jika hanya untuk mendapatkan baton mutu rendah pengadukan dapat dilakukan
>erhatikan bahwa air yang berasal dari sumber alam tanpa pengolahan sering ma tanpa menggunakan mesin pangaduk; i<ekentalan adukan baton harus diawasi dan di
ung garam-garam anorganik, zat organik, dan zat-zat mengapung seperti lempung kendalikan dengan cara memeriksa slump pada setiap adukan baton baru. Nilai slump di-
mah liat, minyak, dan kotoran lainnya, yang berpengaruh buruk terhadap mutu dan . g.makan sebagai petunjuk ketepatan jumlah pemakaian air dalam hubungannya dengan
3ton. Nilai banding berat air dan semen untuk suatu adtJkan beton dinamakan wa faktor air semen yang ingin dicapai. Waktu pengadukan yang lamanya tergantung pada
nent ratio (w.c.r.). Agar terjadi proses hidrasi yang sempurna dalam adukan beton, kapasitas isi mesin pengaduk, jumlah adukan, jenis serta susunan butir bahan susun, dan
mumnya dipakai nilai water cement ratio (w.c.r.) 0,40 - 0,60 tergantung mutu slump baton, pada umumnya tidak kurang dari 1,50 menit semenjak dimulainya penga
baton
1endak dicapai. Samakin tinggi mutu beton yang ingin dicapai umumnya menggu ,,, " dukan, dan hasiladukannya menunjukkan susunart dan wama yang merata.
nilai w.c.r. rendah, sedangkan di lain pihak, untuk menambah daya workabl1ity Sesuai dengan tingkat mutu baton yang hendak dicapai, perbandingan campur
(kele
sifat mudah dikerjakan) dipertukan nilai w.c.r. yang lebih an bahan susun harus ditentukan agar beton yang dihasilkan memberikan: (1) Kelacakan
tinggi.
dm1 konsistensi yang memungkinkan pengerjaan beton (penuangan, perataan, pama-

J
BAB 1 SIFAT BAHAN SETON DAN MEKANIKA LENTURAN
BAB 1 SIFAT BAHAN SETON DAN MEKANIKA LENllJt\AN I

3.tan) dengan mudah ke dalam acuan dan sekitar tulangan baja tanpa menimbulkan ke- 40
1ungkinan terjadinyc. segregasi atau pemisahan agregat dan bleeding air; (2) Ketahanan

1rhadap kondisi lingkungan khusus (kedap air, korosif, dan lain-lain}; (3) Memenuhi uji-: 35

30
1at yang hendak icapai.
Untuk kepentingan pengendalian mutu di samping pertimbangan ekonomis, be 25
n dengan nilai kuat tekan fc' lebih dari 20 MPa perbandingan campuran bahan susun

il
20
I

nya boleh menggur.akan teknik penakaran volume, di mana volume tersebut adalah ha-

3ton baik pada percobaan maupun produksinya harus didasarkan pada teknik penakar- fc' maksiinum

I
1 berat. Untuk baton dengan nilai fc' sampai dengan 20 MPa, pada pelaksanaan produk
i
l

konversi takaran berat sewaktu membuat rencana campuran. Sedangkan untuk baton l
L------....l-------""------_._- - -1.-
0,001 0.002 0.003 0.004
mgan nilai fc' tidak lebih dari 10 MPa, perbandingan campuran boleh menggunakan ta regangan (nvnmvn)

iran volume 1 pc : 2 ps : 3 kr atau 1 pc : 3/2 ps : 5/2 kr (kedap air), dengan Gambar 1.1.
catatan nilai
ump tidak melampaui 100 mm. Sedangkan ketentuan sesuai dengan PSI 1971, dikenal Tegangan Tekan benda uji beton
berapa cara untuk menentukan perbandingan antar-fraksi bahan susun dalam suatu
geser, puntiran, ataupun merupakan gabungan dari gaya-gaya tersebut.Secara umurn
iukan. Untuk beton mutu BO, perbandingan jumlah agregat (pasir dan kerikil, atau batu dapat dipahami bahwa perilaku tersebut tergantung pada hubungan regangan-tegsngan
cah) terhadap jurniah semen tidak boleh melampaui 8 : 1. Untuk baton mutu B 1 yang terjadi di dalam baton dan juga jenis tegangan ya'1g dapat ditahan. Karena sifat
dan
125dapat memakai perbandingan campuran unsur bahan beton dalam takaran volum6 bahan. baton yang hanya mempunyai nilai kuat tarik relatif rendah, maka pada umumnya
pc :2 ps : 3 kr atau i pc :3/2 ps :5/2 kr. Apabila hendak menentukan perbandingan hanya c:perhitungkan bekerja dengan baik di daerah tekan pada penampangnya, dan hu

antar

:tksi bahan baton mutu K175 dan mutu lainnya yang lebih tinggi harus dilakukan per bungan regangan-tegangan yang timbul karena pengaruh gaya tekan tersebut diguna
)baan campuran rencana guna dapat menjamin tercapainya kuat tekan karakteristik kan sebagai dasar pertimbangan.
yang
nginkan dengan meriggunakan bahan-bahan susun yang ditentukan. Dalam pelaksa Kuat tekan beton diwakili oleh tegangan tekan maksimum fc'dengan satuan N/m 7
tan pekerjaan bater. di mana angka perbandingan antar-fraksi bahan susunnya dida atau MPa (Mega Pascal). Sabelum diberlakukannya sistem satuan SI di Indonesia, nilai te
ttkan dari percobaan campuran rencana harus diperhatikan bahwa jumlah semen mini gangan menggunakan satuan kgf/cm2. Kuat tekan beton umur 28 hari berkisar antara nilai
um dan nilai faktor afr semen maksimum yang digunakan harus disesuaikan dengan kea 1Q-65 MPa. Urituk struktur baton bertclang pada umumnya menggunakan baton de
tan sekeiiling. ngan kuat tekan berkisar 17-30 MPa, sedangkan untuk baton prategangan digunakan
baton dengan kuat tekan lebih tinggi, berkisar antara 3o-45 MPa. Untuk keadaan dan ke
pe;luan struktur khusus, baton ready-mix sanggup mencapai nilai kuat tekan 62 MPa dan
.6 KUAT S ETON TERHADAP GAYA TEKAN )
mbahasan lebih rinci mengenai teori serta teknologi baton berkaitan dengan meran
ngserta penyusunan bahan-bahan tarmasuk cara pelaksanaan pengadukan, penuang untuk memproduksi baton kuat tekan tinggi te:-s.ebut umumnya dilaksanakan dengan pe
' finishing, serta perawatan keras, adalah di luar lingkup pembahasan buku ini karena r.gawasan ketat dalam laboratorium.
Nilai kuat tekan baton didapatan melalui tta-cara pengujian standar, menggu -
nakari mesin uji dengh cara membe.rlkan beban tekan bertingkat dengan kecepatan p_e
ningkatan beban tertentu atas benda .uji silinder beton (diameter 150 mm, tinggi 300 mm)
ku-buku acuan teknologi baton tdlah banyak yang mengulasnya. Hal yang demH-:ian lt . ,, sampai hancur. Tata-cara pengujian yang umumnya dipakai adalah standar ASTM ( Ame
kanlah berarti bahwa pengetahuan perencanaan dan penyusunan bahan beto'.1 dike rican Society for Testing Materials) C39-86. Kuat tekan masing-masing benda uii ditentu
mpingkan, tetapi tujuan panulisan buku ini labih diutamakan dan ditujuka!'l untuk kan oleh tegangan tekan tertinggi (f0 ') yang dicapai benda uji umur 28 hari akibat beban
rnem has masalah perencanaan dan analisis siruktur baton bartulang. Perhatian tekan selama percobaan. Denqan demikian, seperti tampak pada Gambar 1.1, harap
diutamakan n dipusatkan kepada persoalan bagaimanakah perilaku komponen dica
struktur beton ber tat bahwa tegangan fc' bukanlah tegangan yang timbul pada saat benda uji hancur mela
ang pada waktu mer.ahan berbagai beban di antaranya ialah gaya aksial, lenturan, inkan tegangan maksimum pada saat regangan beton ( Eb ) mencapai nilai 0,002. Di Indo
gaya
nesia, dengan mengingat berbagai pertimbangan teknis dan ekonomis, masih memper-
BAB 1 SIFAT BAHAN BETON DAN MEKANIKA LENTURAN 9
B 1 SIF.Q" BAHAN SETON DAN MEKANltl.A LENTURAH

tnrgantung pada nilai kuat betonnya, dengan demikian nilai modulus elastisitas beton
, dengan mengingat barbagai pertimbangan teknis dan ekonomis, masih memper: pun akan akan beragam pula Sesuai dengan teori elastisitas, secara umum kemiringan
kan menggunakan benda uji barbentuk kubus, umumnya bersisi 150 mm, sebagai kur va pada tahap awaf menggambarkan nilai modulus elastisitas suatu bahan. Karena
atif dari bentuk silinder. Dengan demikian, panting untuk disadari adanya perbedaan kur va pada baton berbentuk lengkung maka nilai regangan tidak berbanding lurus
psngujian dari kedua bentuk benda uji sehubungan dengan gambaran kekuatan be dengan

ang ingin diketahui. Merupakan hal yang sulit untuk dapat merumuskan ecar nllal tegangannya berarti bahan baton tidak sepenuhnya barsifat elastis, sedangkan nilai
tpat
ngan nilai kekuc.tan yang dihasilkan oleh kedua bantuk untuk berbaga1 kondrst modulus elastisitas berubah-ubah sasuai dengan kekUatannya dan tidak apat ditetapkan
b
maupun metode pengujiannya: Faktor-faktor seperti kuat tarik baton dan luasn rnelalui kemiringan kurva. Bahan baton bersifat elasto plastis di mana akibat dari beban te
b1-
kontak pada mesin uji berpengaruh lebih besar pada kekuatan bentuk kubus t ap yang sangat kecil sekalipun, di samping mernperlihatkan kemampuan elastis bahan
d1ban
kan dengan bentuk silinder, sehingga diper1ukan nilai korelasi rata-rata antara kedu- beton juga menunjukkan deformasi permanen.
Untuk baton berat normal, kuat tekan silinder ukuran 150 mm x 300 mm adalah
.. Di dalam perkembangannya di berbagai negara, sejaJan dengan semakin berkem
80%
kubus ukuran 150 mm x 150 mm, dan 83% kuat kubus 200 mm x 200 mm.Seperti bangnya penggunaan baton ringan dipandang perlu untuk menyertakan besaran kera
di
hui PSI 1971 menggunakan nilai masing-masing 83% dan 87%. Kurva-kurva patan ( density) pada penetapan modulus elastisitas bahan baton. Sehingga pada pene
pad
bar 1.2. memperlihatkan hasil percobaan kuat tekan benda uji baton berumur 28 han rapannya digunakan rumus-rumus empiris yang menyertakan besaran berat disamping
k berbagai macam adukan rencana. kuat betonnya. Sesuai dengan SK SNI T-15-1991-03 pasaJ 3.1.5 digunakan rumus nilai
Oengan mengamati berma_cam kurva tegangan-regangan kuat baton berbeda, modulus elastisitas baton sebagai berikut:
ak bahwa umumnya kuat tekan maksimum tercapai pada saat nilai satuan regangan Ee = 0,043 w
50
Ji;
m g'mencapai 0,002. Selanjutnya nilai tegangan fe' akan turun dengan bertambah- di mana, Ee = modulus elastisitas baton tekan (MPa)
nilai regangan sampai benda uji ha11cur pada nilai e' mencapai 0,003-0,005. Seton We = berat isi baton (kg/m3)
tinggi lebih getas dan akan ha11cur pada nilai regangan rnaksimum yang lebih
rendah
fc' = kuat tekan baton (MPa)
mdinakan dengan beton kuat rendah. Pada SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.2 mene Rumus empiris tersebut hanya berlaku untuk baton dengan berat isi berkisar antara 1500
<a b hwa regangan kerja maksimum yang diperhitungkan di serat tepi baton teka11
fc'= 40 t.l'a dan 2500 kgf/m3. Untuk baton kepadatan normal dengan berat isi 23 kN/m3 dapat digu
ar adalah 0,003 sebagai batas hancur. Regangan kerja maksimum 0,003 terseb nakan nilai Ee= 4700Vfe'
bo
adi tiE:ik konservatif untuk beton kuat tinggi dengan nilai fe' antara 55-80 MPa. 11dak
erti pada kurva tegangan-regangan baja, kemiringan awal kurva pada baton sangat be
!m dan umumnya2Ssedikit agak melengkung. Kemiringan awal yang beragam tersebut
2!)
l

I I

l
I 0,001 0,002 0,003 0,004
regangan (mmmvn)

Gambar 1.2.
Barbagai Kuat Tekan benda uji
baton J

-.
,.
I

waktu (uroor)
II 5 tahun

Gambar 1.3.
Diagram Kuat Baton versus Umur Seton
BAB 1 SIFAT BAHAN SETON DAN MEKANIKA l:ENTURAN
BAB 1 . SIFAT BAHAN SETON DAN MEKANIKA LENTURAN 11

... .. 1.8 SIFAT RANGKAK DAN SUSUT

Jentuk kurva yang berbeda apabila kondisi pembebanan berbeda. Atau dengan
ka-
Apabifa diperhatikan, hubungan regangan-tegangan untuk mutu beton sama akan
1, dengan kondisi pembebaryan berbeda, yang berarti nilai regangannya berbeda,
diperoleh bentuk kurva yang berbeda pula. Pada umumnya nilai kuat maksimuni Pada baton yang sedang menahan beban akan terbentuk suatu hubungan regangan
un-
utu baton tertentu akan berkurang pada tingkat pembebanan yang lebih lamban dan tegangan yang merupakan fungsi dari waktu pembebanan. Baton menunjukkan sifat
lower rates of strain. Nilai kuat baton beragam sesuai dengan umumya dan elastis mumi hanya pada waktu menahan beban singkat. Sedangkan pada beban tidak
biasanya singkat, sementara baton mengalami regangan dan tegangan akibat beban terjadi pula
uat baton ditentukan pada waktu beton mencapai umur 28 hari setelah pengecoran.
k kurva kuat beton versus waktu untuk mutu baton tertentu tampak seperti pada peningkatan regangan sesuai dengan jangka waktu pembebanan, dan disebut sebagai
,ar 1.3. Umumnya pada umur 7 hari kuat beton mencapai 70% dan pada umur 14 deformasi rangkak ( creep). Rangkak adalah sifat di mana baton mengalami perubahan
bentuk {deformasi) permanen akibat beban tetap yang bekerja padanya Rangkak timbul
iencapai 85o/o-90% dari kuat beton umur 28 hari. Pada kondisi pembebanan tekan
dengan intensitas yang semakin berkurang untuk selang waktu tertentu dan kemungkin
tu baton menunjukkan suatu fenomena yang disebut rangkak ( creep).
an berakhir setelah beberapa tahun berjalan. Pada umumnya baton dengan mutu tinggi
mempunyai tingkat nilai rangkak yang lebih kecil dibandingkan dengan mutu beton
lebih rendah. Besarnya deformasi rangkak sebanding dengan besamya beban yang
KUAT SETON TERHADAP GAYA TARIK ditahan dan juga jangka waktu pembebanan. Pada umumnya rangkak tidak
mengakibatkan dam
pak langsung terhadap kekuatan struktur tetapi akan mengakibatkan timbulnya redistri
cuat tekan dan tarik bahan beton tidal< berbanding lurus, setiap usaha perbaikan busi tegangan pada beban kerja dah kemudian mengakibatkan terjadinya peningkatan
kekuatan tekan hanya disertai peningkatan kecil nilai kuat tariknya. Suatu perkiraan lendutan (defleksi).
dapat dipakai, bahwa nilai kuat tarik bahan beton normal hanya berkisar antara Pada umumnya proses creep (rangkak) selalu dihubungkan dengan susut arena
5% dari kuat tek&nnya. Kuat tarik bahan beton yang tepat sulit untuk diukur. Suatu keduanya terjadi bersamaan dan sering-kalimemberikan pengaruh sama, ialah deformasi
endekatan yang umum dilakukan dengan menggunakan modulus of rupture, yang bertambah sesuai dengan berjalannya waktu. Faktor-faktor yang mempengaruhi be
ialafi
Jan tarik lentur beton yang timbul pada pengujian hancur balok beton polos (tanpa samya rangkak adalah: {1) sifat bahan dasar, seperti komposisi dan kehalusan semen, ku
an), sebagai pengukur kuat tarik sesuai teori elastisitas. Kuat tarik bahan beton alitas adukan, dan kandungan mineral dalam agregat; (2) rasio air terhadap jumlah semen,
juga
1kan melalui pengujian split cilinder yang umumnya memberikan hasil yang lebih atau kadar air; (3) suhu pada waktu proses pengerasan; (4) kelembaban nisbi selama
ba-
lebih mencermin kan kuat tarik yang sebenamya. Nilai pendekatan yang diperoleh I :penggunaan; (5) umur baton pada saat beban bekerja; (6) lama pembebanan; (7) nilai ta
1sil pengujian berulang kali mencapai kekuatan 0,50-0,60 kali .../tc', sehingga I .gangan; (8) nilai banding luas permukaan dan volume komponen struktur; dan (9) nilai
untuk
normal digunakan nilai 0,57.../tc'. Pengujian tersebut menggunakan benda uji slump. Sedangkan proses susut secara umum didefinisikan sebagai perubahan volume
silin
ton berdiameter 150 mm c.. panjang 300 mm, diletakkan pada arah memanjang di
lat penguji kemudian beban tekan diberikan merata arah iegak dari atas pada yang tidak berhubungan dengan beban. Pada umumnya faktor-faktor yang mempenga
selu
ruhi terjadinya rangkak jug a mempengaruhi susut, khususnya faktor-f aktor yang ber
.njang silinder. Apahila kuat-tarik terlampaui, benda uji terbelah menjadi dua hubungan dengan hilangnya kelembaban. Proses susut pada baton apabila dihalangi s
bagian
ung ke ujung. Tegangan tarik yang timbul sewakt benda uji terbelah disebut cara tidak merata {oleh penulangan misafnya), akan menimbulkan deformasi yang umum
seba
it cilinder strength, diperhitungkan sebagai berikut:
nya bersifat menambah terhadap deformasi rangkak. Maka dari itu, agar dapat dicapai
2 p
fr =-; L D ting kat kelayanan baik diperlukan pengendalian dan perhitungan dalam hal proses
susut ter
a, t, = kuat tarik belah (N/m2), sebut.
P = beban pada waktu belah (N),
L = panjang benda uji silinder (m),
D = diameter benda uji silinder (m).

l J
BAB 1 SIFAT BAHAN BETON DAN MEKANIKA LENTUAAN 13
SIFAT B)IHAN BETON DAN MEKANIKA LENTURAN
1

BAJ A TU LANG AN ..
fak dapat menahan gaya tarlk melebihi nilai tertentu tapa mengalami retak-rtak._ - - - - '-...= id- - -
ar baton dapat bekerja dengan baik dalam suatu s1stem struktur, pertu d1ban u, ag
k mban tugas
an memberinya perkuatan penulangan yang terutama a an menge
m gaya tarik yang bakal timbul c!i dalam sistem. Untuk kepertuan penulaga
ters makan bahan baja yang memiliki sif at teknis menguntungkan, dn baJa
.tuiangn unakan dap.at berupa batang baja lonj_orn ataupun kawat rankai las (
wJre mesh ) irupa batang kawat baja yang dirangka1 (d1anyam) dengan tekn1k
ty
pengelaan. Yan
.t tersebut. terutama dipakai untuk plat dan cangkang tipis ata struktur lm regangan
yang t
impunyai tempat cukup bebas untuk pamasangan tulangan, 1arak sas1, oan Gambar 1.4.
_seh
ton sasuai dangan persyaratan pada umumnya. Bahan batang ba1a ragk.a1 Diagram Tegangan versus Regangan Batang Tulangan Baja
da
engelasan yang dimaksud, didapat dari hasil penarikan baja pada suhu d.mgm dan
Jk dengan pola ortogonal, bujur sangkar, atau persegi empat, dengan d1las pada Sitat fisik batang tulangan baja yang paling penting untuk digunakan dalam perhi
titik pertemuannya. . tungan perencanaan baton bertulang ialah tegangan luluh ( fy) dan modulus elastisitas
Untuk panulangan baton prategangan diguflakan kawat, ba1k tunggal ataupu
( Es). Suatu diagram hubungan tegangan-regangan tipikal untuk batang baja tulangan da
:ii kumpulan kawat membentuk strand. Tersedia banyak variasi kawt dan.stran_d pat dilihat di Gambar 1.4.Tegangan luluh (titik luluh) baja ditentukan mslalui prosadur pe
dar1_
:an dan sif at yang berbeda-beda, yang paling menonjol dan leb1h se1g ngujian standar sesuai Sii 0136-84 dengan ketentuan bahwa tegangan luluh adalah te
_d1paka1

..
strand yang berisi 7 batang kawat (satu batang di teng_ah, enam mengehhng1
secara gangan baja pada saat mana meningkatnya tegangan tidak disartai lagi dengan peningk_at
. Kuat tarik ultimit minimum untuk strand mutu 170 adalah 1700 MPa dan mutu 1 O
,,. an regangannya. Di dalam perencanaan atau analisis baton bertulang umumnya nilai te
1800 MPa, dengan titik luluh yang tidak jelas. Dalam strata pelayanan beban gangan luluh baja tulangan diketahui atau ditentukan pada awal perhitungan.

1
l<eqa,
prategangan mempunyai nilai tegangan 1000 MPa sampai dengan 1100 MPa. . .. Di samping usaha standarisasi yang telah dilakukan oleh masing-masing negara
Agar dapat berlangsung lekatan erat antara baja tulangan dengan bton, selam produsen baja, kebanyakan produksi baja tulangan baton pada dewasa ini masih berori
berpenampang bulat (BJTP) juga digunakan batang deformas1an (BJTD), entasi pada spesifikasi teknis yang ditetapkan ASTM. Di Indonesia produksi baja tulangan
pola "b t

.
latang tulangan baja yang permukaannya dikasarkan secara khusus, d1 en sm er- dan baja-struktur telah diatur sesuai dengan Standar lndustri Indonesia, antara lain de
s
enoan pola tertentu. atau batang tulangan yang dipilin pada proses produksmy. ngan Sii 0136-80 dan Sii 318-80.
- ukan yang dikasarkan atau pola sirip sangat beragam tergantung pada

..
Modulus elastisitas baja tulangan ditentukan berdasarkan kemiringan awal kurva
mesm
)erm a Tk . t k
atau cetak yang dimdiki oleh produsen, aso.I masih dalam batas-batas.spes1 1 as1 e ,- tegangan-regangan di daerah elastik di mana antara mutu baja yang satu dengan lainnya

pengujian untuk meiakukan pendekatan dan penelitian yang berhubungan dengan


lng diperkenankan oi-ah standar. Baja tulangan _pols (JTP) hnya d1gunakan tidak banyak bervariasi. Ketentuan SK S T-15-1991-03 menetapkan bahwa nilai modu

untu.<

lus elastisitas baja adalah 200.000 MPa, sedangkan modulus elasiHsitas untuk tendon

Jan pengikat sengk atau spiral,.umumna d1ben k1t pada u1ungnya.


Di banyak nagara termasuk di negara k1ta, telah d1laksanakan banyak percobaan prategangan harus dibuktikan dan ditentukan melalui pengujian atau dipasok oleh pabrik
produsen. Umumnya untuk tendon prategangan nilai modulusnya lebih rendah, sesuai
dengan penetapan ASTM A416 biasanya dipakai nilai 186.000 MPa.
Jmi penulangan baton. Di antaranya adalah percobaan penulangan liengan cara
cement di mana digunakan bahan kayu, bambu, atau bahan lain utuk peulang2n ASTM menggolongkan batang tulangan baja dengan memberi namer, dart # 3
. Ataupun baton de-ngan perkuatan fiber (serat) di mana seagat b an 1mbuhar. sampai dengan # 18 sesuai dengan spesifikasi diameter, luas penampang, dan berat tiap
1
Jatan digunakan serat-serat baja atau serat dan serbuk bahan lam, dem1k1an pula satuan panjang seperti terfihat dalam Daftar 1.1 sebagai berikut ini.
usa
lemperbaiki mutu b& an betonnya sendiri dengan menggunakan abu terbang ( fly
dan sebagainya.
14 BAB 1 SIFAT" BAHAN <:>trON DAN MEKANIKA LENTURAN BAB 1 SIFAT BAHAN SETON DAN MEKANIKA LENlllf\AN '

Daftar 1.1. 1.10 BALOK TERLENTUR


Standar batang baja tulangan ASTM

diameter luas berat Dengan msnggunakan prinsip keseimbangan statika dapat ditentukan besar momen d,
nomor nominal nominal nominai
geser yang terjadi pada setiap penampang balok yang bekerja menahan beban. Pert
batang (inch) (mm) .. (inch) (ITTTI2) (kg/m)
tian lebih lanjut tentunya menentukan kemampuan balok tersebut untuk menahan bnt>
0,375 9,50 0, 110 71 0,559 dengan cara memperhitungkan tegangan-tegangan yang timbul di dalamnya. Dlstrlbt
# 3
4 0,500 12,7 0,200 129 0,994 tegangan-tegangan pada penampang balok sebenarnya rumit, dan asil perhitungi
5 0,625 15,9 0,310 200 1,552
yang tepat dapat diperoleh berdasarkan teori elastisitas. Akan tetapi dengan .menggun
6 0,750 19, 1 0,440 284 2,235
22,2 0,600 387 3,041 kan asumsi-asumsi dan penyederhanaan tertentu dapat dikembangkan hubungan rn n t
7 0,875
8 1,000 25,4 0,790 510 3,973 matik cukup tepat untuk ungkapan tegangan-tegangan lentur dan geser tersebut. Sep
9 1,128 28,7 1,000 645 5,059 ti diketahui, bahwa untuk balok dari sebarang bahan homogen (serba-sama) dan ohml
10 1,270 32,3 1,270 819 6,403, berlaku rumus lenturan sebagai berikut:
11 1,410 35,8 1,560 1006 7,906 Mc
14 1,693 43,0 2,250 1452 11,380 f=
2581 20,240 -
18 2,257 57,3 4,000 1
di mana , f = tegangan lentur
Menurut Sii 0136-80, dilakukan pengelompokan baja tulangan untuk beton bertulang se M = momen yang bekerja pada balok
perti tertera pada Oaftar 1.2 sebagai berikut: c = jarak serat terluar terhadap garis netral, baik di daerall tekan maupun tarl
Daftar 1.2. I = momen inersia penampang balok terhadap garis netral
Jenis dan Ke!as baja tulangan sesuai Sil 0136-80 Sehingga berdasarkan rumus fenturan tersebut, dihiillng momen maksimum yang dapr
-- I .. disediakan oleh penampang balok, atau dalam hal ini disebut sebagai momen tahanan.
BATASULUR KUATTARIK fb I
MINIMUM
JENIS KELAS SIMBOL MINIMUM MR =
N/mm2 N/mm2 c
di mana, MR= momen tahanan

I I
(kgf/nlm2) (kgflmm2)

1 235 382 fb = tegangan lentur ijin


polos BJTP24
(24) (39) - Langkah tersebut dapat dilakukan secara langsung untuk baJok dari sebarang ba
2 I BJTP30 294
(30)
480
(49)
han serba-sama dengan bentuk dan ukuran penampang tertentu di mana momen
inersil dapat dihitung dengan mudah. Lain halnya dengan balok beton bertulang,
defor- 1 8JTD24 .235 382 penggunaar rumus lentur tersebut akan menghadapi masalah terutama sehubungan
masian (24) {39) sifat bahan betor bertulang yang tidak homogen dan tidak berperilaku elastik pada
2 8JTD30 294 480 seluruh jenjang kekuat annya.
(30) (49) Konsep lain ialah konsep kopel momen dalam, yang jika digunakan untuk meng
3 BJTD35 343 490 analisa kuat balok akan bersifat lebih umum dan dapat digunakan baik untuk bahan balo
(35) (50) homogen ataupun tidak, juga untuk balok yang mempunyai distribusi tegangan linea1
4 BJT040 392 559 maupun nonlinear. Konsep tersebut akan memudahkan bila digunakan untuk menjabar
(40) (57) kan mekanisme gaya-gaya da/am bafok baton bertulang karena mampu menggambarkan
5 BJTOSO 490 61 pola tahanan c:Jasar yang terjadi.
(SO) {68) Untuk dapat mengenaJ lebih jauh kedua konsep, yaitu metode kopel momen da
iam dan rumus lenturan, berikut ini diketengahkan tiga macam analisis balok kayu homo-
I
L
BAB 1 SIF/iJ" BAHAN SETON DAN MEKANIKA LENTlJl\AN 1
6 BAB 1 SF/iJ" BAHAN SETON DAN MEKANIKA LENTURAN

en yang berbeda. Agar dapat dibandingkan, contoh penyelesaian permasalahan meng No dan Nr masing-masing bekerja pada titik berat segitiga distribusi tegangan, baik
untul
tegangan tekan ataupun tarik. Dengan demikian lengan Uarak) di antara keduanya
adnlnl
unakan kedua macam pendekatan tersebut.
Z= 333,33 mm.

Agar memenuhi keseimbangan 'l:.(H) = 0, maka N0 harus sama dengan Nr.


Kedui
:ontoh 1.1
)ebuah balok kayu dengan potongan seperti tampak pada Gambar 1.5 digunakan pada gaya N0 dan Nrbekerja bersamaan menimbulkan kopel momen dalam (atau momen
:Jrak bentangan 6,0 m di antara dua perletakan sendi-rol dan menahan beban total (ter to
nasuk berat sendiri) 17,5 kNlm'. Dengan menggunakan ukuran-ukuran nominal seperti hanan dalam) masing-masing sebesar N 0 (z) dan Nr(z ).
Untuk setiap penampang, momen tahanan dalam harus dapat men-gimbangi mo
rang tampak dalam gambar, men lentur yang ditimbulkan oleh beban luar yang bekerja.
i. Hitung tegangan /entur maksimum menggunakan cara kopel momen Maka, Mmal<s = No (z) atau Nr(Z)
dalam. 78,75( 10)3 = N 0 (333,33)
>. Periksa hasil yang didapat dari (a} dengan menggunakan rumus lenturan.
dengan demikian, N0 =
Nr = 236,27 kN
No = (luas segitiga tegangan) x (lebar
:> enyelesaian.
)ari gambar diagram pembebanan, momen maksimum dapat diperoleh: balok) atau, No = 236,27(10)3 = 112( 250 ) fpuncak (250)
Karena letak garis netral di tengah-tengah, maka fpuncak= fdasar= 7,56 N/mm2
M mal<s =
1
-wl
1
= ( 2
- (17,5) 6) =
78,75 kNm
28 8 Dengan demikian, balok kayu mampu menahan beban apabila tegangan lentur ijin
kay1
fegangan lentur maksimum dipeoleh dengan cara sebagai berikut: labih besar dari 7,56 MPa.
Dari gambar dapat diperhatikan bahwa latak garis netral (g.n) di tengah-tengah tinggi ba-.
lok. Ni!ai tegangan dan regangan pada penampang terdistribusi mengikuti garis lurus dan Memeriksa hasil yang didapat dari (a) dengan menggunakan rumus lenturan :

..
titik bemilai nol di garis netral, yang berlaku sabagai sumbu titik berat ke nilai maksimum
f = Mc
di serat tepi terluar.Oaerah di atas garis netral adalah tempat bekerjanya gaya tekan, I
sedang dimana ,
kan darah di bawah garis netral tempat bekerjanya gaya tarik. Karena tegangan
tersebut
timbul akibat perilaku lentur balok, disebut sebagai tegangan lentur. I =..]_ bh3 = 2-(250) = 2604166668 m m4
No adalah resultante gaya tekan dalam, atau jumlah seluruh satuan gaya tekan di
.. (500)

f
12
3

12
= 78,75(10)6 (250 ) =
N/mm2

atas garis netral. Sadangkan Nr adalah resultante gaya tarik dalam, atau jumlah 7 56
26041666.68
seluruh sa- tuan gya tarik di bawah garis netral.

250 Conteh penyelesaian tersebut di atas berdasarkan pada teori elastik dan menggunakar
anggapan-anggapan sebagai berikut:
1) bidang potongan tampang rata sebelum terientur akan tetap rata sssudah lenturat
terjadi, berarti nilai regangan akibat le11tur terdistribusi linear dengan nilai nol pada
F ris netral dan nilai maksimum pada sefat tepi terfuar,
z 2) bahan bersifat serba-sama, nilai modulus elastisitas tidak bervariasi atau bemilai tet
ai
sehingga r_egangan berbanding lurus dengan tegangan di dalam batas proporsiona
dan distribusi tegangan bervariasi linear, dengan nilai nol pada sumbu netral dan nllt
maksimum pada serat tepi terluar.

Cara pendekatan kopel momen dalam juga dapat digunakan untuk mendapatkan nilal ku
diagram regangan momen
gaya-gaya
at momen (momen tahanan) suatu balok sabagaimana contoh berikut ini. .
Gambar 1:S. Sketsa Conteh

1.1
18 BAB 1 SIFAT BAHAN BETON DAN MEKANIKA LENTURAN .
BAB 1 SIFAT BAHAN SETON DAN MEKANIKA LENTUHAN 19

50 c 8,4 MPa v 120


71

z
2 '

150
- - - - - - - - - - - -1 . z
: ',,
,, 7.4 MPa"'
Gambar 1.7. Sketsa Conteh 1.3

25
C ontoh 1.3.
!c r
A 8.4 MPa '
Tentukan momen tahanan (MR) suatu balok T kayu seperti tampak pada Gambar 1.7.
Gambar 1.6. Sketsa Conteh 1.2 Tegangan Jentur ijin kayu 7,4 MPa. Gunakan ukuran-ukuran nominal seperti tertera pada
qambar dan anggaplah bahwa distribusi tegangan linear.
C on t eh
1.2.
Tentukan momen tahanan (MR) suatu balok kayu berpenampang empat persegi Penyelesaian.
panjang seperti tampak pada Gambar 1.6. Tegangan lentur ijin bahan kayu 8,4 MPa: Letak garis netral haruslah pada tempat di mana keseimbangan momen statis tercapai sa
G_unaan ukuran-ukuran nominal seperti tertera pada gambar srta anggapan bahwa hingga diagram regangan dan tegangan dapat ditentukan.
d1stnbus1 te
gangan linear seperti tampak pada . = l:(A y) 3600(165) mm
gambar. +7500(75\ 1042
'
y l:A 11100
P enyel esaian. Karena letak garis netralsedemikian rupa sehingga jarak serat tepi bawah terhadap garis
Resultants gaya t'1rik dan gaya tekan adalah: netral lebih jauh daripada tepi atas, tegangan ijin akan tercapai di tepi bawah lebih awal.
No = NT = 112(8,4)(75)(50) = 15,75 Te gangan-tegangan yang terjadi akan tampak SBperti dilukiskan pada gambar.
kN 112(z) =213(75) = 50 mm Selanjutnya dengan membandingkan dua segi tiga sebangun akan didapat tegangan di
M,q = No (Z} =Nr(Z) = 5,75(100)(10) = 1,575 kNm tepi atas:
74
= 75,8 ( . ) 5 383MPa
Pemeriksaan momen tahanan dengan menggunak_an rumus lenturan:
Mc . fb I
t
t =- dan MR = - atas 104, 2
/ c
3 Tegangan di sisi bawah flens (sayap) adalah, .
1 =2-(bh3) =..!... (sq(150j =14062500 mm4
12 12 t = 45.B(?,4) 3 253MPa
flens 104,2 , .
M R = 8,4 (14062500)1
75
= 1 575 kNm
' . Gaya tarik dalam yang timbul dapat ditentukan letak dan besamya sebagai

berikut: Nr = tegangan x /uasan=l (7,4)(104,2} (50){10)-3 =


Cara pendekatan kopel momen dalam dapat juga digunakan untuk menganalisa bentuk
bentuk penampang tak beraturan bukan empat persegi, walaupun apabila untuk balok ba 19,277kN
2
han serba-sama (homogen) lebih tepat bila menggunakan rumus lenturan.
... Gaya Nrterletak pada 213(104,2) = 69,5 mm di bawah garis netral. Karena bentuk luasan
daerah tekan bukan empat persegi,gaya tekan dalam diuraikan menjadi beberapa kompo
nen seperti tampak pada Gambar 1.8. Dengan mengacu pada Gambar 1.7 dan Gambar
1.8, komponen gaya tekan dalam, komponen kopel momen dalam dan MR
dapat dihitung.
2 Q BAB 1 SIFAT BAHAN BETON DAN MEKANIKA LENTURAN BAB 1 SIFAT BAHAN BETON DAN MEKANIKA 11 N lllllAN 2 1

SOAL-SOAL

1-1. Berat satuan baton bertulang normal umumnya diperhitungkan 23 kN/m3. Tentukan
berat per meter panjang untuk:
a Balok beton bertulang penampang persegi, lebar b :::: 400 mm, tinggi h = 700 mm.
b. Balok beton bertulang seperti tampak pada gambar.
{ 950 'I

Garnbar 1.8. Sketsa Conteh


1.3 1%100tiBS78iQl0000-"J! j1:D
SCJ-m
Komponen gaya-gaya adalah sebagai berikut:
=-----1- t.:.={i?E=--=-....-
N01 = 3,253(120)(30)(10-3) = 1i,71 kN r---.:i.;
N02 = 1.12(2, 130)(120)(30)(10 -3) = 3,834 kN
N 03 = ;12(3,253)(45,8)(50)(10 -:i) = 3,725 kN 650
Lengan momen komponen gaya tekan terhadap gaya tarik:
= 69,5 + 45,8 + 15 = 130,3 mm
z,
= 69,5 + 45,8 + 20 = 135,3 mm
z2
z 3 = 69,5 + 213(45,8) = 100 mm
Kopel momen dalam = ( komponen gaya} x (lengan momen):
M,q 1 = 11,71(130,3)(1Q -3) = 1,526 kNm Gambar Saal 1-1
MR2 = 3,834(135,3)(10 -3) = 0,519 kNm
MR 3 = 3,725(100)(10 -3) = 0,373 kNm 1-2. a. Hitung momen tahanan ( MR ) dari balok kayu persegi b = 150 mm, h = 350 mm,
Jumlah komponen-komponen gaya tekan: dan Fb= 7 MPa, dengan menggunakan cara kopel momen da/am.
b. Periksalah hasil hitungan pada (a) dengan menggunakan rumus lenturan.
N 0 = N 01 + N02 + N 03 = 19,269 kN (bandi_ngkan dengan Nr = 19,277
kN) Jumlah komponen-!<omponen kopel momen dalam :
1-3. Suatu balok kayu dengan b = 200 mm, h =400 mm, terletak di atas dukungan seder
MR = MR 1 + Mp2 + M_q3 2,418 kNm = hana bentang 4,0 m menahan beban mati (termasuk berat sendiri) 10 kN/m dan
P2maiiksaan menggunakan rumus lenturan:
2 be ban terpusat 27 kN tepat di tengah-tengah bentang.
ft = Ix +A (d)
a Hitung tegangan ientur maksimumnya dengan mengsunakan cara kopel mo-
men dalam.
3 3 . 2 2
= , (5q (150) + 1 (120) + 7500(29,2) + 3600(60,2) b. Periksa hasil hitungan (a) denan menggunakan rumus lenturan.
(30)
= 33773844 nrn4
6 1-4. Suatu balok kayu penampang seperti tergambar, terletak di atas dukungan sederha
M = !El_= 7,4(33773844) (10)- ,
2 399
kNm
na bentang 4,0 m menahan beban (termasuk berat send iri) 17,5 kN/m.
=
R C (104,2)
(bandingkan dengan MR = 2,418 kNm ) penyelesaiannya menggunakan cara kopel momen dafam.
"

Seperti yang telah dijelaskan sebeiumnya, balok beton bertulang bukan bahan homo
gen, tersusun dari bahan agregat di samping digunakannya baja tulangan. Untuk itu ru
mus lenturan bahan homogen (serba-sama) tidak dapat digunakan, sehingga umumnya
a Hitung tegangan lentur maksimumnya dengan menggunakan cara kopel momen c. Hitung besarnya gaya tekan total.
dalam. d. Hitung momen tahanannya dengan menggunakan cara kopel momen dalam

----------------------------
b. i;:>eriksa hasil hitungan (a) dengan menggunakan rumus lenturan. apa bila tegangan lentur ijinnya adalah 110 MPa.

-
22 BAB 1 SIFAT BAHAN BETON DAN MEKANIKA LENTURAN

2
BA LOK PERSEGI DAN PLAT
BERTULANGAN TARIK SAJA

Gambar Soal 1-4

1-5. Suatu balok kayu penampang seperti tergambar, terletak di atas dukungan sederha
2. 1 PENDAHULUA N
na bentang 3,5 m menahan beban (termasuk berat sendiri} 15,0 kN/m.
a Hitung tegangan lentur maksimumnya dengan menggunakan cara kopel Apabila suatu gelagar balok bentang sederhana menahan beban yang mengakibatkan
momen
dalam. timbulnya momen lentur, akan terjadi deformasi (regangan) lentur di dalam balok tersebut.
Pada kejadian momen lentur positif, regangan tekan terjadi di bagian atas dan regangan
b. Periksa hasil hitungan (a) dengan menggunakan rumus lenturan.
tarik di bagian bawah dari penampang . Regangan-regangan tersebut mengakibatkan
c. Hitung besarnya gaya tekan total.
tim bulnya tegangan-tegangan yang harus ditahan oleh balok, tegangan tekan di
d. Hitung momen tahanannya dengan menggunakan cara kopel momen dalam apa
sebelah atas dan tegangan tarik di bagian bawah. Agar stabilitasnya terjamin, batang
,bila tegangan lentur ijinnya adalah 110 MPa.
balok sebagai bagian dari sistf!l yang menahan lentur harus kuat untuk menahan
300
tegangan tekan dan tarik tersebut. Uiltuk memperhitungkan kemampuan dan

11
kapasitas dukung komponen struk1ur baton terlentur (balok, plat, dinding, dan
sebagainya), sifat utama bahwa bahan baton kurang mampu menahan tegangan tarik
akan menjadi dasar pertimbangan. -Dangan cara memperkuat dengan batang tulangan
baja pada daerah di mana tegangan tarik be kerja akan didapat apa yang dinamakan

. . . . . . . . . . . . _. . ' J. struk1ur baton bertulang. Apabila dirancang dan


dengan cara yang saksam struk1ur baton bartulang dengan susunan ba-

dilaksanakan
I
. han seperti tersebut di atas akan memberikan kemampuan yang dapat diandaikan untuk
200
melawan lenturan.
Gambar Soal 1-5
Karena tulangan baja dipasang di daerah tegangan tarik bekerja, di dekat serat ter-
bawah, maka secara teoretis balok disebut sebagai bertulangan baja tarik saja. Harap
dica tat bahwa di bagian tekan suatu penampang umumnya juga dipasang parkuatan
tulangan, akan tetapi dengan pengertian mekanisma yang berbeda seperti yang akan
dibahas lebih lanjut di belakang. Kecuali itu, agar panulangan mambentuk suatu
kerangka kokoh yang stabil umumnya pada masing-masing sudut komponen perlu
dlpasangi tulangan baja.
BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pt.AT BEATULANOAN TARIK IAJA 2 II

24 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PlAT BERTULANGAN TARIK SAJA

muat metode tersebi.Jt sebagai altematif sejak tahun 1956, pada tahun 1963 memper
lakukan kedua metode setara, dan sajak tahun 1971 metoda tersebut diangkat menjadi
2. 2 METODE ANALISIS DAN PER ENCANAAN satu-satunya teknik analisis dan perencanaan untuk berbagai pamakaian praktis. Waiau
demikian, metode tegangan kerja masih dicantumkan, digunakan sebagai metode alter
Perencanaan komponen struktur baton dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak timbul natif penetapan daya-guna kelayanan (serviceability) struktur. Di lndonesa. metode pe
retak berlebihan pada penampang sewaktu mendukung beban kerja, dan masih mem rencanaan kekuatan baru diperkenalkan daiam PSI 1971 dan dipakai sebagai metode al
punyai cukup keamanan serta cadangan kekuatan untuk menahan beban dan tegangan tamatif di samping metode tegangan kerja yang masih juga dipertahankan Proses peru
lebih lanjut tanpa mengalami runtuh. Timbulnya tegangan-tegangan lentur akibat ter bahan dan pengembangannya di Indonesia terasa sangat lambat, antara lain karena me
jadinya momen karena beban Juar, dan tegangan tersebut merupakan faktor yang me tode lama sudah mendarah mendaging sehingga terasa sulit untuk meninggalkannya.
nentukan dalam menetapkan dimensi geometris penampang komponen struktur. Proses Sesungguhnya telah disadari bahwa tiada satupun alasan ilmiah yang masih hendak
perencanaan atau analisis umumnya dimulai dengan memenuhi persyaratan terhadap len mem pertahankan metode tegangan kerja untuk perencanaan dan analisis struktur
tur, kemudian baru segi-segi lainnya, seperti kapasitas geser, defleksi, retak, dan panjang baton ber tulang, akan tetapi hambatan utama datang dari aspek pendidikan dan
penyaluran, dianalisis sehingga keseluruhannya memenuhi syarat. penyuluhan yang
Seperti diketahui, untuk bahan yang bersifat serba-sama dan elastis, distribusi re mencakup matra cukup luas.
gangan maupun tegangannya linear berupa garis lurus dari garis netral ke nilai maksimum Anggapan-anggapan yang dipakai sebagai dasar untuk metode kekuatan (ultimit)
di serat tepi terfuar. Dengan demikian nilai tegangannya berbanding lurus dengan nilai re pada dasamya mirip dengan yang digunakan untuk metoda tegangan kerja Perbedaan
gangan dan hal tersabut berfaku sampai dengan dicapainya batas sebanding (propor nya terletak pada kenyataan yang didapat dari berbagai hasil penelitian yang menun
tional limit). Untuk bahan baja dengan mutu yang umum digunakan sebagai komponen jukkan bahwa tegangan baton tekan kira-kira sebanding dengan reaganna hanya
s1ruktural, nilai batas sebanding dan nilai tegangan luluh letaknya berdekatan hampir sampai pada tingkat pembebanan tertentu. Pada tingkat pembebanan m1, apablla beban
berimpit, dan nilai tegangan lentur ijin didapat dengan cara membagi tegangan luluh de ditambah terus, keadaan sebanding akan lenyap dan diagram tegangan tekan pad pe-
ngan faktor aman. Pada struktur kayu, nilai tegangan lentur ijin didapatkan dengan cara nampang balok baton akan berbentuk setara dengan kurva tegangan-regangan .baton
lebih langsung dengan menggunakan faktor aman pembagi terhadap tegangan lentur pa tekan seperti terlihat pada Gambar 1.1 dan Gambar 1.2. Pada metode tegangan keria. be
tah. Dengan menggunakan cara penetapan tegangan lentur ijin seperti tersebut, yang di ban yang diperhitungkan adalah service loads (beban kerja), sadangkan penampang
dasarkan pada anggapan hubungan linear antara tegangan dengan regangan, analisis komponen struktur direncana atau dianalisa berdasarkan pada nilai tegangan tekan lentr
serta perencanaan struktur kayu dan baja dapat dilakukan seperti apa yang telah dibahas ijin yang umumnya ditentukan bemilai 0,45 fc' di mana pola distribusi tegangan tekan li
dalam contoh-contoh masalah di Bab1. Dengan demikian mengikuti sepenuhnya sesuai near atau sebanding lurijs dengan jarak terhadap garis netr8.l. Sedangkan pada metode
dengan teori elastisitas. kekuatan (ultimit), service loads diperbesar, dikaiikan suatu faktor beban dengan maksud
Meskipun disadari bahwa pada kenyataannya bahan beton bersifat tidak serba sa untuk memperhitungkan terjadinya beban pada saat keruntuhan telah di ambang pintu.
ma( nonhor.nogeneous) dan tidak sepenuhnya elastik, selama ini cara pendekatan Kemudian dengan menggunakan beban kerja yang sudah diperbesar (beban terfaktor)
linear seperti tersebut di atas juga digunakan dan dianggap benar bagi bahan baton. tersebut, struktur direncana sedemikian sehingga didapat nilai kuat guna ada saat run
Salama .t uh yang besarnya kira-kira lebih kecil .sedikit dari kuat batas runtuh set.mgg.uhnya.
kurun waktu cukup lama perencanaan serta analisis dic;iasarkan pada pemahaman terse Kekuatan pada saat runtuh tersebut dinamakan kuat ultimit dan beban yang bekeria pada
but dan dinamakan sebagai metode elastik. cara-n, atau metode tegangan kerja ( Work atau dekat dengan saat runtuh dinamakan beban ultimit. Kuat rencana penampang kom
ing Stress Design method, WSD method'}. ponen struktur didapatkan melalui perkalian kuat teoretis atau kuat nominal dengan fak
Sejak jangka waktu 30 tahun belakangan ini telah dikenal metode pendekatan lain tor kapasitas yang dimaksudkan untuk memperhitungkan kemungkinan. buruk Y_ang ber
yang lebih realistik, ialah bahwa hubungan sebanding antara tegangan dan regangan kaitan dengan faktor-faktor bahan, tenaga kerja. ukuran-ukuran, dan pengendalaan mutu
da lam baton terdesak hanya berlaku sampai pada suatu batas keadaan pembebanan pekerjaan pada umumya. Kuat teoretis atau kuat nominal dipeoleh erdasrkan pada
terten tu, yaitu pada tingkat beban sedang. Pendekatan ini dinamakan metode keseimbangan statis dan kesesuaian regangan-tega,ngan yang tldak linear d1 dalam pe
perencanaan ke kuatan ( Ultimate Strength Design method, USO method ) atau nampang komponen tertentu.
metode perencanaan kuat ultimit. Metode tersebut mulai dikenalkan sejak tahun 60-an,
sejak dimuat di dalam peratu ran baton di beberapa negara. ACI Building Code, misalnya,
telah mengenal baik dan me-
BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTUL.ANGAN TARll< SA.JA 21
26 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTUL.ANqAN 111.RIK
SAJA

_..... A

l b
l ' '
reta.k-reta.k
\ .
:_. A
::::. :::. l
{ rc'(tekan) fc' (tekarl
f,/ (tekan)

- - - 9._arilr - -
d

15 (tarik )

penampang satuan tegangan


poton9an A-A satuan regangan (c)
(a) (b)
cc (tarik)
satuan regangan fc (tarik)
penampang satuan tegangan Gambar 2.2.
(b) (c)
potongan A-A Perilaku lentur pada beban sedang
(a) Gambar 2.1.

Perilaku lentur pada beban kecil


Pada Gambar 2.3 dapat dilihat distribusi tegangan dan regangan yang timbul pada
atau dekat keadaan pembebanan ultimit, di mana apabila kapasitas batas kekuatan baton
. Untuk membahas metode kekuatan lebih lanjut, berikut ini diberikan tinjauan ulang
penlaku balok baton bertulang bentangan sederhana untuk memikul beban yang berang terlampaui dan tulangan baja mencapai luluh, baJok mengalami hancur. Sampai dengan ta
sur meningkat dari mula-mula kecil sampai pada suatu tingkat pembebanan yang menye hap ini, tampak bahwa tercapainya kapasitas uitimit merupakan proses yang tidak dapat
babkan hancumya struktur. berulang. Komponen struktur telah retak dan tulangan baja meluluh, mulur. terjadi lendut
an besar,dan tidak akan dapat kembali ke panjang samula. Bila komponen lain dari sistem
Pada beban kecil, dengan menganggap belum terjadi retak baton, secara bersama
mengalami hal yang sama, mencapai kapasitas ultimitnya, struktur secara keseluruhan
sama baton dan baja tulangan bekerja menahan gaya-gayadi mana gaya tekan ditahan
oleh baton saja. Distribusi tegangan akan tampak seperti tampak pada Gambar 2. 1 di akan remuk dalam strata runtuh atau setengah runtuh meskipun belum hancur secara ke
ma na distrjbusi tegangannya linear, bemilai nol pada garis.netral dan sebanding tlengan seluruhan: Walaupun tidak dapat dijamin sepenuhnya untuk dapat terhindar dari keadaan
re gangan yang terjadi. Kasus demikian ditemui bila tegangan maksimum yang timbul tersebut, namun dengan menggunakan beberapa faktor aman maka tercapainya keadaan
pada pada serat tarik masih cukup rendah, niiainya masih di bawah modulus of rpture. ultimit dapat diperhitungkan serta dikendalikan.
Pada beban sadarig, kuat tarik baton dilampaui dan baton mengalami retak rambut seperti b
tam pak pada Gambar 2.2. Karena baton tidak dapat meneruskan gaya tarik melintasi
daerah retak, karena terputus-putus, baja tulangan akan mengambilalih memikul seluruh
No
gaya-ta rik yang timbul. Distribusi tegangan untuk penampang pada atau dekat bagian
yang retak
tampak seperti pada Gambar 2.2, dan haJ yang demikian diperkirakan akan terjadi pada
ni
lai tegangan baton sampai dengan 112.fc' Pada keadaan tersebut tegangan baton tekan h pe
na
m
masih dianggap bemilai sebanding dengan nilai regangannya. Pada beban yang lebih pa
d ng
besar lagi, nilai regangan serta tegangan tekan akan meningkat dan cenderung untuk ti po
to c5 (tarik)
dak lagi sebanding antara keduanya, di mana tegangan baton tekan akan membentuk n9
an
kurva nonlinear. Kurva tegangan di atas garis netraJ (daerah tekan) berbentuk sama de A- satuan regangan (b)
A
ngan kurva tegangan-regangan baton seperti yang tergambar pada Gambar 2.3. () Gambar 2.3.
Nr f5 (tarik) satuan
tegangan
(c)
Perilaku lentur dekat beban ultimit
28 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PlAT BERTULANGAN 11\RIK SAJA BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pl.AT BERTULANGAN TARIK SAJA 29

2.3 ANGGAPAN-ANGGAPA N Sehubungan dengan anggapan nomor 3, bentuk penampang di daerah tarik dan
besarnya selimut baton tidaklah mempengaruhi kekuatan lentur. Tinggi penampang yang
Pendekatan dan pengembangan metode perencanaan kekuatan didasarkan atas angga menentukan adaJah finggi efektif d, yaitu jarak dari serat tepi tekan terluar terhadap titik
pan-anggapan sebagai berikut : berat tulangan tarik. Regangan baton tekan maksimum pada serat tepi tekan terluar (
1) Bidang penampang rata sebelum terjadi lenturan, tetap rata setelah terjadi lenturan eb') sebagai regangan ultimit ditetapkan sebesar 0,003 (PBI 1971 menggunakan
dan tetap barkedudukan tegak iurus pada sumbu bujur balok (prinsip Bernoulli). Oieh 0,0035). Penetapan nilai tersebut didasarkan atas hasil-hasil pengujian yang
karana itu, nilai regangan dalam penampang komponen struktur terdistribusi linear menunjukkan bahwa umumnya regangan lentur baton hancur berada di antara nilai
atau sebanding lurus terhadap jarak ke garis netraJ (prinsip Naviar). 0,003 dan 0,004. Untuk semua keadaan dianggap bahwa lekatan antara baja-tulangan
2) Tegangan sebanding dengan regangan hanya sampai pada kira-kira beban sedang, di dengan beton beriangsung sampuma, tanpa tarjadi gelinciran.
mana tegnan baton tekan tidak malampaui 112 fc '. Apabila baban meningkat
sampai bbn ut1m1t, tegangan yang timbul tidak sebanding lagi dengan
regangannya berarti d1stnbus1 tegangan tekan tidak lagi linear. Bentuk blok tegangan 2.4 K_UAT LENTUR BALOK PERSEGI
baton takan pada pa_ napangnya berupa garis lengkung dimulai dari garis netraJ
dan berakhir pada serat tepi tekan ertuar..Teangan tekan maksimum sebagai kuat Telah dikemukakan bahwa distribusi tagangan baton tekan pada penampang bentuknya
tekan lentur baton pada umumnya tidak tel')ad1 pada srat tepi tekan terluar, tatapi setara dengan kurva tagangan-ragangan baton tekan. Seperti tampak pada Gambar 2.4,
agak masuk ke dalam. bentuk distribusi tagangan tersebut berupa garis Iengkung dengan nilai nol pada garis
3) alar:'1 meperhitungkan kapasitas momen ultimit komponen struktur, kuat tarik baton netral, dan untuk mutu baton yang berbeda akan Iain pula bantuk kurva dan Iangkungan
dibaikn (tldak diperhitungkan) dan seluruh gaya tarik dilimpahkan kepada tulangan nya. Tampak bahwa tegangan takan fc'. yang merupakan tegangan maksimum, posisinya
ba.Ja tar1k. bukan pada serat tapi takan tarluar tetapi agak masuk ke dalam.
Pada suatu komposisi tartentu balok manahan beban sademikian hingga
Ke_mudin untuk meperhitungkan letak resultants gaya tarik yang bekerja pada tulangan .. ragangan takan lentur beton maksimum ( e'b msks) mancapai 0,003 sedangkan tegangan
baja, baJa tulangan d1angap teregang secara serempak dengan nilai regangan diukur pa- tarik baja tu langan mencapai tegangan luluh .f y- Apabila hal demikian terjadi,
da pusat bratnya. Apablla regangan baja tulangan ( e 5) belum mencapai luluh ( ey). nilai te penampang dinamakan mancapai keseimbangan regangan, atau disebut penampang
gangn baJa tulangan adalah Esfs. Hal yang demikian menganggap bahwa untuk tegang bertulangan seimbang, merupakan suatu kondisi khuus yang akan dibahas labih lanjut
n baJa tul.angan yang belum mencapai fy. maka tegangan sebanding dengan regangan- di Bab 2.5. Dengan derni kian berarti bahwa untuk suatu komposisi baton dengari
ya sasuai hukum Hooke. Sedangkan untuk regangan yang sama atau lebih besar dari jumlah baja tertantu akan morn berikan keadaan hancur tertantu pula.
maka tegangan baja tidak lagi sabanding dengan regangannya dan digunakan nilai fy- Ey. : Berdasarkan pada anggapan-anggapan seperti yang telah dikamukakan di atas, da
pat dilakukan pengujian regangan, tegangan, dan gaya-gaya yang timbul pada penam
pang baJok yang bekarja menahan momen batas, yaitu moman akibat beban luar yang tim
bul tepat pad saat terjadi hancur. Mame ini mencarminkan kekuatan dan di masa.laJu di
sebut sebagai kuat lentur ultimit balok. Kuat lentur" suatu balok baton tersadia karana
ber langsungnya mekanisme tegangan-tegangan dalam yang timbul di dalam baJok yang
pada keadaan tertentu dapat diwakili oleh gaya-gaya dalam. Seperti tampak pada
Gambar 2.4,
N0 adaJah resultants gaya tekan dalam, merupakan resultante seluruh gaya ekan pada
daerah di atas garis netral. Sedangkan Nr adaJah resultante gaya tarik dalam, merupakan
tsil< r:y Is = ly

penampang diagram tegangan gaya-gaya


potongan A-A
(a)
diagram regangan (c) (d) jumlah seluruh gaya tarik yang diperhitungkan untuk daerah di bawah garis natraJ. Kedua
(b)
Gambar 2.4. gaya ini, arah garis kerjanya sejajar,sama besar, tetapi berlawanan arah dan dipisahkan da

Balok menahan momen ultimit ngan jarak z sehingga membentuk ..kopel momen tahanan dalam di mana nilai maksimum-
),
BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTULANGAN TAAIK SA.IA 31
30 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pt..AT BERTULANGAN l'ARIK SAJA

nya disebut sebagai kuat lentur atau momen tahanan penampang komponen struktur ter
lentur.
Momen tahanan dalam tersebut yang akan menahan atau memikul momen I,
lentur I

rencana aktual yang ditimbulkan oleh beban luar. Untuk itu dalam merencanakan balok :I

pada kondisi pembebanan tertentu harus disusun komposisi dimensi balok beton dan I
jumlah serta besar (luas) baja tulangannya sedemikian rupa sehingga _dapat
menimbulkan momen tahanan dalm paling tidak sarna dengan momen lentur maksimum
yang ditimbul kan oleh beban. Menentukan momen tahanan dalam merupakan hal yang
kompleks se hubungan dengan bentuk diagram tegangan tekan di atas garis netral
yang berbentuk garis lengkung. Kesulitan timbul tidak hanya pada waktu menghitung
besamya Na. tetapi juga penentuan letak garis kerja gaya relatif terhadap pusat berat
Gambar 2.5.
tulangan baja tarik. Teta pi karena momen tahanan dalam pada dasamya merupakan Blok Tegangan Ekivalen untul< perencanaan dan analisis kekuatan I'
fungsi dari No dan z, tidaklah sangat penting benar untuk mengetahui bentuk tepat Ii
distribusi tegangan tekan di atas garis netral. Untuk menentukan momen tahanan dalam, telah digunakan sacara luas karena bentuknya berupa empat persegi panjang yang me
yang panting adalah mengetahui
terlebih dahulu resultante total gaya baton tekan N 0, dan letak garis kerja gaya dihitung I mudahkan dalam penggunaannya, baik untuk perencanaan maupun analisis.
terhadap serat tepi tekan terluar, sehingga jarak z dapat dihitung. Kedua nilai tersebut Berdasarkan bentuk empat persegi panjang, seperti tampak pada Gambar 2.5, in
dapat ditentukan melalui penyederhanaan bentuk distribusi tegangan lengkung diganti
tensitas tegangan baton tekan rata-rata ditentukan sebesar 0,85 fc' dan dianggap bekerja
kan dengan bentuk ekivalen yang lebih sederhana, dengan menggunakan nilai intensitas
pada daerah tekan dari penampang balok selebar b dan sedalam a, yang mana
tegangan rata-rata sedemikian sehingga nilai dan letak resultants tidak berubah.
besamya
Untuk tujuan penyederhanaan, Whitney telah mengusulkan bentuk persegi pan
jang sebagai distribui tegangan baton tekan ekivalen. Standar SK SNI T-15-1991-03 pa ditehtukan dengan rumus:
a= p, c
sal 3.3.2 ayat 7 juga menetapkan bentuk tersebut sebagai ketentuan, meskipun pada di c = jarak serat tekan terluar ke garis netral,
ayat 6 tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk-bentuk yang lain sepan mana, {3 = konstanta yang merupakan fungsi dart kolas kunt bolon
1
jang hal tersebutmerupakan hasil-hasil pengujian. Pada kenyataannyaT usulan Whitney

Standar SK SNI T-15-1991-03 menetapkan hilai p, diambil 0,85 untuk fr:' "' 30 ua.

J
berkurang 0,008 untuk setiap kenaikan 1 MPa kuat baton, dan nilai tersobut tldak holuh
f
-.kurang dari 0,65. Dari berbagai hasil penelitian dan pengujian telah terbukti bahwa hasil
perhitungan dengan menggunakan distribsi tegangan persegi empat ekivalen tersebut
kan hasil yang mendekati tarhadap tegangan aktual yang rumit. Sebuah gambar
memberi
isometrik htibungan gaya".-gaya dalam dapat dilihat pada Gambar 2.6. Dengan mengguna
kan distribusi tegangan bentuk persegi empat ekivalen serta anggapan-anggapa kuat

l
rencana yang diberiakukan, dapat ditentukan besamya kuat lentur ideal Mn dari balok
di ba ton bertulang empat persegi dengan enulangan tarik saja.
fy 2.1.

biol< tegangan
tekan aktual
(a)
Gambar 2.5. Co Tentukan Mn dari suatu balok dengn penampang seperti tampak pada Gambar 2.7, de-

kopelmomen gaya-gaya
nto
h =
ngan tulangan baja tarik saja, fc' 30 MPa, fy = 400 MPa
dalam (c)
Blok Tegangan ekivalen Whitney
BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pt.AT BERTULANGAN TARD< SAJA 33
32 BAB 2 BA1..0K PERSEGI DAN PtN BERTULANGAN TARIK
SAJA

b= 2SO

M n = A s fy (d-!)
2
. f c'ab
= 1472,6(400)(523,8)(10)-6 =308,54 kNm
Perhitungan di atas didasarkan pada asumsi bahwa tulangan baja telah mencapai regang
an luluh (berarti juga tegangan luluhnya) sebelum baton mencapai regahgan batas maksi
mum 0,003. Asumsi tersebut kemudian diperiksa kebenarannya.
Menentukan letak garis netraJ penampang adaiah sebagai berikut:
a = {31 c (SK SNIT-15-1991-03 pasal 3.3.2)
/3 1 = 0,85 untuk fc'= 30 MPa
a 92,40
A 9 =3025 =1472. 6
diagram regangan diagram tegangan maka. c =--=--=108,7 l'TYTl
nvn2 dan kopel momen 0,85 0,85
dalam
Gambar 2.7. dengan meriggunakan segitiga sebangun pada diagram, dicari regangan yang terjadi da
Sketsa untuk Contoh 2.1
lam tulangan baja tarik bila regangan baton mancapai 0,003.
0,003= _Es__
Fenyelesaian. c (d - c)

Dengan menggunakan anggapan bahwa tulangan baja tarik telah mencapai tegangan lu-
jadi - ( d - c)( o 003) = (570 -108,7)(0 003 ) = 0 0127 rrm/ rrm
luh ( fy). kemudian harus diperiksa sebagai berikut: Es - C ' 108,7 ' '
,
I H=O Regangan luluh tulangan baja (ey) dapat ditentukan berdasarkan hukum Hooke,
No = NT !
Es =
(0,85 fc' )ab= As fy 400
_ As f y 1472.6(400) L
92,40 mm
a - 0, 85 fc' b 0,85{300)(2E> } _ !i_ _ 0,0020 mn/ mn
Ey 200000
- E -
5

Nilai a adaJah kedaJaman blok tegangan yangharus terjadi bila dikehendaki kesei! hasil tersebut menunjukkan nilai regangan tulangan baja pada saat tegangan bnja fy
llbang an gaya-gaya arah horisontal. mon capai nilai 400 MPa. Karena regangan yang timbul pada baja tulangan (0,0127)
lebih be sar dari regangan luluhnya (0,002), baja tulangan mancapai tegangan luluh
Menghitung Mn : sebelum ba ton mencapai regangan maksimum 0,003 dan berarti asumsi yang
berdasarkan pada gaya baton takan : digunakan pada awal analisis benar, bahwa tegangan yang terjadi pada baja tulangan
tarik sama dengan tegang
Mn =N 0 (d -%) an

Mn =0,85 '(ab)(d - ) M n = NT (d - ).
92 40
=0,85(30)(92,40) (250)( 570- )(10) -6 = 308,54
kNm

berdasarkan pada gaya tarik tulangan beton :


luluh baja
Seperti yang telah dikemukakan di atas, meskipun rumus lenturan tidak berlaku lagi
daJam metoda perencanaan kekuatan akan tetapi prinsip-prinsip dasar teori lentur
2.5 P ENA MPANG BALOK masih digu nakan pada analisis penampang. Untuk letak garis netral tertentu,
BERTULANGAN perbandingan antara re gangan baja dengan regangan baton maksimum dapat
SEIMBANG, KURANG, ditetapkan berdasarkan distribusi
DAN LEBIH
34 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PlAT BERTUl.ANGAN TARIK
SAJA BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTULANGAN TARIK SAJA 35

regangan linear. Sedangkan letak garis netral tergantung pada jumlah tulangan baja tarik
dikit daripada keadaan seimbang, lihat Gambar 2.8, dan tulangan baja tarik akan
yang dipasang dalam suatu penampang sademikian sehingga blok tegangan tekan baton
mendahu lui mencapai regangan luluhnya (tegangan luluhnya) sabelum baton
mempunyai kedalaman cukup agar .dapat tercapai kesaimbangan gaya-gaya, di mana
mancapai regangan maksimum 0,003. Pada tingkat keadaan ini, bertambahnya
re
baban akan mengakibatkan tu langan baja mulur (memanjang) cukup banyak sesuai
sultante tegangan tekan seimbang dengan resultante tegangan tarik (I H = 0).
dangan perilaku bahan baja (lihat di agram f-e baja), dan berarti bahwa baik
Apabila
regangan baton maupun baja terus bertambah te tapi gaya tarik yang bakerja pada
pada penampang tersebut luas tulangan baja tariknya ditambah, kedalaman blok tegang
tulangan baja tidak bertarnbah besar. Dengan demikian berdasarkan keseimbangan
an baton tekan akan bertambah pula, dan oleh karenanya letak garis netral akan bergeser
gayaaya horisontal I H= 0, gaya baton tekan tidak mungkin bartambah sedangkan
ke bawah lagi. Apabila jumlah tulangan baja tarik sedemikian sehingga letak garis netral
tegangan takannya terus maningkat berusaha mengimbangi be ban, sehingga
pada posisi di mana akan terjadi secara bersamaan regangan luluh pada baja tarik dan
mengakibatkan luas daarah takan beton pada penampang menyusut (bar kurang)
re gangan baton tekan maksimum 0,003, maka panampang disebut bertulangan
yang berarti posisi garis netral akan berubah bergerak naik. Proses tersebut di atas
seimbang. Kondisi keseimbangan regangan menempati posisi panting karena marupakan
terus berlanjut sampai suatu saat daerah baton tekan yang terus berkurang tidak
pembatas antara dua keadaan panampang balok baton bartulang yang barbada cara
mampu lagi menahan gaya tekan dan hancur sebagai afak sekunder. Cara hancur
hancurnya.
demi kian, yang sangat dipengaruhi oleh peristiwa maluluhnya tulangan baja tarik
Apabila panampang balok baton bertulang mangandung jumlah tulangan baja tarik
I

berlangsung meningkat secara bertahap. Segara setelah baja mencapai titik luluh,
labih..banyak dari yang diparlukan untuk mencapai keseimbangan regangan,
lendutan balok me ningkat tajam sehingga dapat merupakan tanda awal dari II 1

penampang balok damikian disebut bertulangan lebih ( overreinforced). Berlebihnya


kehancuran. Meskipun tulangan baja barperilaku daktail (liat), tidak akan tertarik lepas
tulangan baja ta rik mengakibatkan garis netral bergeser ka bawah, lihat Gambar 2.8. Hal
dari beton sekalipun pada waktu terja di kehancuran.
yang demikian pa da gilirannya akan berakibat baton mandahului mancapai regangan
maksimum 0,003 sa belum tulangan baja tariknya luluh. Apabila penampang balok
tersebut dibebani momen labih besar lagi, yang bararti ragangannya samakin basar
sahingga kemampuan regang an beton terlampaui, maka akan barlangsung keruntuhan
2..6 PEMBATA SAN PENULANG A N TARIK
dengan baton hancur secara mendadak tanpa diawali dengan gejala-gajala peringatan
tarlebih dahulu. Sedangkan apabila suatu penampang balok baton bertulang
mengandung jumlah tulangan baja tarik
kurang dari yang diperlukan untuk mencapai keseimbangan regangan, penampang demi '
Dengan demikian ada dua macam cara hancur, yang pertama kehancuran diawali molulull-
kian disebut bertulangan kurang (underreinforced). Letak garis netral akan lebih naik
nya tulangan baja tarik berlangsung secara periahan dan bertahap sohingga sempat rnurn
se-
berikan tanda.-tanda keruntuhan, sedangkan bentuk kehancuran dengan diawali trnn
cumya baton tekan terjadi secara mendadak tanpa sempat mamberikan peringatan. Tun tu
f r:c =O, 003 Jj'v
,f---=---< saja cara hancur pertama yang lebih disukai karena dengan adanya tanda peringatan, resi
flc< 0,003
ko akibatnya dapat diperkecil. Untuk itu, standar SK SNI T-15-1991-03 menetapkan pem
batasan penulangan yang perlu diperhatikan. Pada p2::>.al 3.3.3 ditetapkan bahwa jumlah
tulangan baja tarik tidak.bolah malebihi 0,75 dari jumlah tulangan baja tarik yang diperlu
kan untuk mancapai keseimbangan regangan,
g.n. penulangan lebih /
- - - - - - - r As s; 0,75 Asb
Apabila jumlah batas penulangan tersebut dapat dipenuhi akan membarikan jaminan bah
wa kehancuran daktail dapat berlangsung denga_n diawali meluluhnya tulangan baja
tarik terlebih dahulu dan tidak akan terjadi kehancuran getas yang lebih bersif at
/
/
mendadak.
/
Ungkapan pembatasan jumlah penulangan tersabut dapat pula dihubungkan da
r:s< r:y
lam kaitannya dangan rasio penulangan (p) atau kadang-kadang disebut rasio baja, per
y )'
bandingan antara jumlah luas penampang tulangan baja tarik (As) terhadap luas efektif pa
Gambar 2.8. nampang (lebar b x tinggi efektif d ),
Variasi letak gans rmtr;1I

I I
! I
I,

f, I
_3 6 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PL.JJ BERTUl.ANGAN lARIK SAJA
BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PlR" BERTUl...ANGAN TARD< SAJA 37

_ Pb b d f y
As
p= b d Cb - (0,85 fc' )f3 1b

Apabila pembatasan dibertakukary, di mana rasio penulangan maksimum yang Pb d fy (2- 2)


diijinkan di batasi dengan o,75 kali rasio penulangan keadaan seimbang {Pb), (0,85 fc')/3 1
sehingga : Dengan menggunakan persamaan (2-1) dan (2-2), dapat dicari
Pm111cs= 0,75 Pb p,,.
(2 - 3)
Untuk menentukan rasio penulangan keadaan seimbang (Ai) dapat diuraikan berdasarkan (0,85 fc' /3, ) 600
pada Gambar 2.9 sebagai berikut: .

Letak garis netral pada keadaan seimbang dapat ditentukan dangan menggunakan seg1 Pb =
(600+fy}

fy
tiga sebanding dari diagram regangan.
Dari persamaan terakhir tersebut di atas, untuk mendapatkan nilai Pb dapat digunakan daf
.....EJL_ _ d tar yang dibuat berdasarkan berbagai kombinasi nilai fc' dan fy-
o'. 003 - (o,003 + .)
Conteh 2.2
Oengan memasukkan nilai E,, = 200.000 MPa, maka: Pada Contoh 2. 1, tentukan jumlah tulangan baja tarik yang diperlukan untuk mencapai

Cb =
0,003 (d)
f -
keadaan seimbang, di mana d = 570 mm, b = 250 mm, Ey = 0,002. Dengan mengacu
kepada definisi keadaan keseimbangan, diagram regangan haruslah seperti ditunjukkan
L
(O, 003+ pada Gambar 2.10.
2000 (2-
1) Penyelesaian.
600 (d)
Cb
600+fy .....EL= (d cb )
0,003 0,002
dan, !<arena I H= 0 dan Nob= NTh., maka (0,85 fc' )/31CtP =
Asb fy 0,002 Co = 0,003(570 - Cb )
0,002 c0 + 0,003 c0 = 1,71

b fc' ) /3,b
(0,85 0,85 fc I

z d . z

I
i . .
,

"' I
, ,
diagram regangan
diagram tegangan dan
kopel momeo dalarn diagram J
, -0 regangan
002 kopel momen daiarn
diagram tegangan dan

Gambar 2.9.
Keadaan Seimbang Re
1a11qan Gambar 2.1o. , J
Sketsa Conteh 22

, 1
1 .1
BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pl.AT BERTULANGAN TAAIK SAJA 39
38 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pt.AT BEATutANGAN i:a.AIK SAJA

Penyelesaian.
1,71 As 1473
Cb = 0,005=342 mm 0 0103
p = bd = 250(570) =
ab = {31 cb = 0,85(342) = 290, 7 mm DariTabel A-6 Apendiks A, untuk fy= 400 MPa dan fc'= 30 MPa, didapat _:
Nob = (0,85fc ') b
= 0,85(30)(290,7)(250)1Q-3 = 1853,2 kN
t
I
Pmaks= 0,75 Pb= 0,0244 > 0,0103
Persyaratan peraturan dapat juga diungkapkan dalam persamaan As(maJt.sJ = 0,75 Ast>. di
Nrb = Astf y
mana Asbsudah dihitung pada Contoh 2.2.
Nrb = Nob . As(maks)= 0,75(4633) = 3466 mm2> 1473 mm2
maka tulangan yang diperlukan, Tabel A-6 pada Apandiks A membarikan nilai 0,75 Pb dan pyang disarankan untuk berba
A - NTh - Nob gai kombinasi tagangan luluh baja dan kuat baton, untuk komponen baJok dan plat
sb - f - f
y y Tabal tarsebut digunakan sebagai acuan praktis untuk menantukan agar baJok
1853,2 (10) 3 = 4633 rrm 2 mamenuhi per syaratan daktilitas yang ditetapkan. Dengan demikian konsep dan kriteria
400 penampang se imbang berguna sebagai acuan atau patokan, baik untuk perencanaan
Dengan membandingkan luas tulangan baja yang diperlukan untuk mencapai keadaan ataupun analisis dalam menentukan cara hancur yang sesuai dengan peraturan. Apabila
seimbang dengan luas tulangan tersedia pada penampang balok (3cp25 = 1473 mm2), jumlah tulangan baja tarik melabihi tulangan baja tarik yang diperlukan untuk mencapai
da pat disimpulkan penampang tersebut bertulangan kurang, di mana hancumya kaadaan seimbang,
diawali de ngan meluluhnya tulangan baja tarik. akan terjadi hancur getas, sedangkan di lain pihak bila jumlah luas tulangan baja tarik ku
Pemeriksaan apakah persyaratan balok tipe daktail terpenuhi dilakukan sebagai berikut: rang dari tulangan baja tarik yang diperlukan untuk mancapai kaadaan seimbang, terjadi
0,75 Asb= 0,75(4633) mm2 = 3475 mm2> 1473 mm2 hancur daktail.
Sampai di sini harap diperhatikan bahwa untuk balok yang sama, penulangan ringan ter SK SNI T-15-1991-03 pasaJ 3.3.5. persamaan (3.3-3) juga memberikan batas mini
nyata lebih efisien dibandingkan dengan penulangan berat. Hal tarsebut dapat dijelaskan mum rasio panulangan sebagai berikut:
bahwa untuk balok dengan dimensi tertentu, pertambahan As akan disartai dangan ber 1,4
Pmlnlmum
kurangnya panjang lengan momen pada kopel momen dalam (z= d -112a).
=-,
Agar didapat gambaran yang jeias kita tinjau ulang permasalahan pada Conteh 2.1 y
terdahulu dengan As digandakan dua kali dan kamudian dihitung nilai Mn untuk diban
Batas minimum panulangan tersebut diparlukan untuk lebit:l manjamin tidak
dingkan hasilnya, sabagai berikut: terjadinya hancur secara tiba-tiba seperti yang terjadi pada balok tanpa tulangan.
As = 2(1473) = 2946 mm2 {naik 100%) Karena bagaimana pun, balok baton dangan panulangan tarik yang sedikit sekaJipun
a = 2946(400) = 184,8 mm harus mempunyaf kuat moman yang lebih besar dari balok tanpa tulangan, di mana
0,85(30)(250) . yang terakhir tersabut diprhi tungkan berdasarkan modulus pacahnya. Pembatasan
minimum seperti di atas tidak ber laku untuk plat tipis dengan ketabaJan tetap dan
plat dari baJok T yang tearik. Penulang
an minimum plat harus memperhitungk?Fl kebutuhan memenuhi persyaratan tulangan su
18 8
M n = 0,85(30)(184,8)(250)( 570- ){10) = 5627 sut dan suhu seperti yang telah diatur dalam SK SNI T-15-1991-03 pasaJ 3. 16.12.
kNm

PadahaJ seperti didapat dari Conteh 2.1, Mn= 308,54 kNm, hanya ada kenaikan sebesar Pemeriksaan ulang daktilitas pada permasalahan Contoh 2. 1 dengan menggunakan 0, 75 Pb
: sebagai pembatas, menggunakan Tabet A-6 Apendiks A.

(562,7 -308,54) x 100%= 82%


(308,54)

C onteh 2.3
2. 7 P ERSYARATAN KEKUATA N Panerapan faktor keamanan daJam struktur bangunan di satu pihak bartujuan untuk me 1 1

ngandalikan kemungkinan terjadinya runtuh yang mambahayakan bagi penghuni, di lain


pihak harus juga memperhitungkan faktor ekonomi bangunan. Sehingga untuk menda
patkan faktor kaamanan yang sesuai, perlu ditatapkan kebutuhan relatit yang ingin dicapai
4Q BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pl.AT BERTULANGAN V.AIK SAJA BAB 2 BALOK PEASEGI DAN Pl.AT BERTULANGAN TARD< SAJA 41

untuk dipakai sebagai dasar konsep faktor kaamanan tersebut. Struktur bangunan dan dalam menentukan kuat rancananya Pamakaian faktor dimaksudkan untuk mempemi
komponan-komponannya harus dirancanakan untuk mampu mamikul baban labih di tungkan kemungkinan penyimpangan terhadap kakuatan bahan, pengerjaan, ketidak te
atas beban yang diharapkan bekarja. Kapasitas labih tarsebut disediakan untuk patan ukuran, pengandalian dan pengawasan pelaksanaan, yang sekalipun masing-ma
mamperhi tungkan dua keadaan, yaitu kamungkinan tardapatnya beban kerja yang sing faktor mungkin masih dalam toleransi persyaratan tetapi kombinasinya memberikan
lebih basar dari yang ditatapkan dan kamungkinan terjadinya penyimpangan kekuatan kapasitas lebih randah. Dengan demikian, apabila faktor;dikaJikan dangan kuat idaaJ
komponen struk tur akibat bahan dasar ataupun pengerjaan yang tidak memenuhi teo ratik berarti sudah termasuk mamperhitungkan tingkat daktilitas, kepentingan, serta
syaral ting
Kritaria dasar kuat rencana dapat diungkapkan sebagai berikut kat ketepatan ukuran suatu komponen struktur sedemikian hingga kekuatannya dapat di-
tentukan.
Kekuatan yang tersedia :i: Kekuatan yang dibutuhkan Standar SK SNI T-15-1991-03 pasal 2.2.3 ayat 2 memberikan fktor reduksi
keku- atan rp untuk berbagai mekanisme, antara lain sebagai berikut:
Kekuatan setiap penampang komponen struktur harus diperhitungkan dengan menggu
=
Lentur tanpa baba aksial 0,80 'I i,
nakan kriteria dasar tersebut. Kekuatan yang dibutuhkan, atau disebut kuat perlu
Gaser dan Puntir
0,60
= ,'I'
menurut ; SK SNI T-15-1991-03, dapat diungkapkan sebagai beban rencana ataupun
Tarik aksial, tanpa dan dangan lentur = 0,80 Ii
momen, gaya geser, dan gaya-gaya lain yang berhubungan dengan beban rencana.
Takan aksiaJ, tanpa dan dengan lentur (sangkang) = 0,65
Saban rencana atau beban terfaktor didapatkan d mengalikan beban kerja dengan
I

Tekan aksia I,tanpa dan dengan lantur (spiral) = o, 70


faktor beban, dan
Tumpuan pada baton = O, 70
kemudian digunakan subskrip u sebagai penunjuknya.Dengan demikian, apabila diguna
Dengan damikia. dapat dinyatakan bahwa kuat momen yang digunakan MR (kapasi1as
kan kata sifat rencana atau rancangan menunjukkan bahwa beban sudah terfaktor. Untuk
momen) sama dangan kuat momen ideaJ Mn dikalikan dangan f aktor ,
beban mati dan hidup SK SNI T-15-1991-03 pasaJ 3.2.2 ayat 1 menetapkan bahwa
MR =; Mn (2-4)
beban rencana, gaya gesar rancana, dan momen rencana ditetapkan hubungannya
Konsep i<eamanan seperti di atas, berbeda dengan apa yang telah kita kenaJ dalam
dengan beban kerja atau beban guna melalui persamaan sebagai berikut:
PSI 1971. DaJam PSI 1971, faktor atau koefisien keamanan terdiri dari koeflsian
U= 1,20+ 1,6L persamaan (3.2-1) SK SNIT-15-1991-03
pamakaian
di mana U adalah kuat rencana (kuat perlu), D adalah beban mati, dan L adalah beban
(y p). bahan (y m). dan beban (y 5). Koefisien pemakaian baton hanya dibedakan untuk
hi dup. Faktor beban berbeda untuk beban mati, beban hidup, beban angin, atauun
ta gangan takan lentur pada baban tetap (beban mati + beban hidup) dan beban
be ban gempa. Katantuan faktor baban untuk jenis pembebanan lainnya, tergantung sementara
kombi nasi pembebanannya terdapat dalam SK SNI T-15-1991-03 pasaJ 3.2.2 ayat 2,3, - (beb8!1ati + baban hidup + ebal"! angin atau gempa), sementara untuk tulangan baja
dan 4. tidak dibadakan. Koefisian bah untuk baton maupun baja didasarkan pada tingkat pa
Sebagai contoh baban rancana adalah Wu = 1,2woL + 1,6wLL, sadangkan momen

perlu atau momen rancana untuk beban mati dan hidup adalah Mu = 1,2MoL + PasaJ 3.2.3 memberikan katentuan konsep kaamanan lapis kadua ialah raduksi ka pasitas
1,6MLL. Penggunaan faktor beban adalah usaha untuk mamperkirakan kemungkinan teoretik komponen struktur dengan menggunakan faktor reduksi kekuatan (9)
terdapat be ban kerja yang labih basar dari yang ditatapkan, perubahan penggunaan,
ataupun urutan dan matoda pelaksanaan yang berbeda Separti diketahui, kanyataan di
dalam praktak terdapat beban hidup trtantu yang cendarung timbul labih basar dari
perkiraan awal. Lain haJnya dengan beban mati yang sebagian basar darinya berupa
barat sandiri, sa hingga faktor beban dapat ditentukan lebih kecil. Untuk
mamparhitungkan berat struktur, berat satuan baton bert1:1lang rata-rata ditetapkan
sabesar. 2400 kgf/m3 = 23 kN/m3 dan penyimpangannya.tergantung pada jumlah
kandungan baja tulangannya. Kuat ultimit komponan struktur harus mamperhitungkan
seluruh baban kerja yang bekerja dan ma
sing-ma-sing dikalikan dangan faktor beban yang sesuai.
nyimpangan pelaksanaan pekerjaan, berlaku baik untuk keadaan beban tatap maupun 1
beban sementara merupakan gabungan beban tetap dengan pengaruh-pe ngaruh I
beban sementara. Dengan demikian, faktor keamanan suatu komponen angin dan gampa. Dangan demikian, besar faktor keamanan untuk masing-ma sing
struktur baton bertulang tidak jelas karena nilainya merupakan gabungan dari jenis beban (beban mati, beban hidup, beban angin, atau beban gempa) tidak dike
baton dan baja, yang ter gantung pada variasi komposisinya. Sedangkan tahui proporsinya. Dangan demikian pula, analisis dan perencanaan untuk setiap
koefisien beban, secara global dibeda kan ar.tara .beban tetap dan_ beban penam pang harus dihitung dua kaJi, masing-masing untuk kondisi beban tetap dan
sem':ltara, berlaku baik untuk baton maupun baja. Saban tatap tardiri dari beban se mentara. Dari kedua perhitungan tarsebut diambil yang paling aman,
beban mati terrnasuk barat komponen sendiri, dan beban hidup. Sedangkan sehingga tidak ja rang keputusan akhir didasarkan pada nilai yang terlalu konservatif.

42 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pt.AT BERTut.ANGAN TARIK SA.IA


BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pl.AT BERTULANGAN TARUC SAJA 43

2. 8 ANALISIS BALOK TERLENTUR DariTabel A-6 didapat: 0,75pb= 0,0244


BERTULANGAN TARIK SAJA karena 0,0193 < 0,0244, dapat dipastikan tulangan baja tarik sudah meluluh.
Pm1n= 1 1
(,.4 .4 = 0,0035 < 0,0193
=
Analisis penampang balok terfentur dilakukan dengan terfebih dahufu mengetahui dimen si y 400

!
unsur-unsur penampang balok yang terdiri dari: jumlah dan ukuran tulangan baja tarik a = As fr 2600(400) = i3 9 mm
(A ), lebar balok (b), tinggi efektif ( cf), tinggi total ( h), fc' dan fy. sedangkan yang dicari
adalah
5 kekuatan balok ataupun manifestasi kekuatan dalam bentuk yang lain, misalnya ,I ( 2a)
(0,85 fc' )b 0, 85(30)(300)
2
5.
'
menghitung Milt atau memeriksa kehandalan dimensi penampang balok tertentu terha
dap beban yang bekerja, atau menghitung jumlah beban yang dapat dipikul balok. Di lain
z = d-- = 4501-3-5,9= 3821 rrm
pihak, proses perencanaan balok terlentur adalah menentukan satu atau lebih unsur di
mensi penampang balok yang belum diketahui, atz,u menghitung jumlah kebutuhan tu Berdasarkan pada tulangan baja :
langan tarik dalam penampang berdasarkan mutu bahan dan jenis pembebanan yang su Mn = As fy z= 2600(400){ 382,1)10-S = 39,38 kNm
dah ditentukan. Panting sekali untuk mengenal perbedaan dua pekerjaan dan pennasa MR:: tjJM11 = 0,8(397,38) = 317,91 kNm
lahan tersebut dengan baik, masing-masing memiliki langkah penyelesaian berbeda.
Menghitung Mu :
C onteh 2.4
Berat sendiri balok = 0,50(0,30)(23) = 3,45 kN/m
Buktikan bahwa balok pada Gambar 2. 11 telah cukup memenuhi persyaratan SK SN/ T-
Saban mati = 12 kN/m
15-1991-03. Beban mati merata = 12 kN/m (di luar berat sendiri), beban hidup merata =
Total beban mat imerata = 15,45 kN/m
12 kN/m, Beban hidup terpusat = 54 kN (di tengah bentang). Mutu bahan : fc' = 30 MPa,
=
400 MPa. Pembuktian dilakukan dengan cara membandingkan kuat momen praktis Bebanmatimerata tarfaktor =
15,45(1,2) = 18,54 kN/m
fy
MR dengan momen rencana yang ditimbulkan oleh beban rencana (beban terfaktor) Mu Baban hidup merata terfaktor =
12(1,6) = 19,20 kN/ m
Beban hidup terpusat terfaktor = 54( 1,6) = 86.4 kN
Jika MR Mu maka balok akan memenuhi persyaratan. wu = 18,54 + 19,20 =
37,74 kN/m
Pu = 86,4 kN
P enyel esai an. Mu ::l8 w u 2 +l4 P.u l \ \ " < I/

Menentukan MR: =i-(37,74)(6)


2
+f (86,4){6) = 299,43 kNm < 317,91 kNm .
As= 2600 mm2 (Tabet A-2)
Terbukti bahwa balok tersebut memenuhi syarat.
- - 2600 0
p - b d - 300(450)
0193 Analisis dapat pula diterapkan untuk suatu komponen struktur yang pada masa lalu
direncanakan berdasarkan pda metoda te9angan kerja {cara-n ). Seperti diketahui, pada
300
54 kN
metode perencanaan tegangan (beban) kerja mungkin tidak menggunakan pembatasan

Jn;c rasio penulangan sehingga penulangan balok canderung berlebihan. Meskipun hal de
mikian tidak sesuai dengan filosofi peraturan yang diberfakukan sekarang, bagaimanapun

<
balok-balok tersebut nyatanya sampai saat ini digunakan dan bekerja, sehingga analisis :

trk:,'.J
I '
kapasitas momennya secara rasional dilakukan dengan hanya memperhitungkan tulangan
I

I baja tarik 0,75 Pb- Atau dengan kata lain, pendekatan dilakukan dengan mengabaikan ke
i:..;;;.;....
diagram tegangan dan
penampang kopel momen dalarn kuatan baja di luar jumlah 75% dari jumlah tulangan tarik yang dipertukan untuk mencapai
potongan AA keadaan seimbang. Untuk lebih jelasnya, Contoh 2.5 berikut akan memberikan gambaran
Gambar 2.11. lebih jelas mengenai hal tersebut.
Si<etsa Conteh 2.4
1 :1
I
44 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTUlANGAN RIK SAJA
BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pt.AT BERTUl..ANGAN TARIK SAJA 45

Conteh 2.5 2.9 PLAT TERLENTUR


Hitunglah MR dari balok dengan d =
500 mm, b
mutu bahan : kuat beton 20 MPa, tulangan baja fy
= 300 mm, As = 6032 (dua lapis), dan
= 300 MPa Struktur bangunan gedung umumoya tersusun atas komponen plat lantai, balok anak,
ba lok induk, dan kolom, yang umumnya dapat merupakan satu kesatuan monolit atau
Penyeleaalan. t ter rangkai seperti haJnya pada sistem pracetak. Plat juga dipakai untuk atap, dinding,
As= 4824 mm2 dan lan tai tangga, jembatan, atau pelabuhan.Patak plat dibatasi oleh balok anak pada
4824
=- =0 0322 kedua sisi panjang dan oleh baJok induk pada kedua sisi pendek. Apabila plat didukung
p bd (300)(500) ' - sepanjang kaempat sisinya seperti tersebut di atas, dinamakan sabagai plat dua arah di
0,75P?,= 0,0241 = Pmaks mana lentur an akan timbul pada dua arah yang saJing tegak lurus. Namun, apabila
perbandingan sisi panjang terhadap sisi pendek yang sating tegak lurus lebih besar dari
Karena p> 0,75pbt digunakan p= 0,0241 sebagai maksimum,
2, plat dapat diang gap hanya bekerja sebagai plat satu arah dengan lenturan utarna
maka, nilai A s efektif= pbd = 0,0241(300)(500) = 3615 mm2.
pada ara.{1 sisi yang lebih pendek. Sehingga struktur plat satu arah dapat didefinisikan
As 35 (300) _
212 6 sebagai plat yang didukung pada dua tepi yang berhadapan sedemikian sehingga
a 0,85 ' b 0,85(20)(300 ) - ' mm
lenturan timbul hanya dalam satu arah saja, yaitu pada arah yang tegak lurus tefhadap
a 212,6
arah dukungan tepi.
SK SNI T-15-1991-03 juga mengenaJ jenis plat lain, yaitu plat yang diberi penulang
z =d -2=
-= 393,7 an baja pada dua arah atau lebih yang tidak menggunakan balok-baJok untuk media pe
500-- 2
nvn
Mn = A 5 fy z= 3615(300)(393, 7)(10)-e= 426,97 kNm limpahan beban tetapi menumpu langsung pada kolom sebagai komponen struktur pe
MR = ?Mn= (0,8)(426,97) = 341,58 kNm nopang. Dalam hal demikian, plat dianggap didukung oleh sistem grid , terdiri dari balok
balok yang tingginya sarna dengan plat dan menyatu menjadi satu kesatuan dengan plat
Dengan demikian dapat diberikan ringkasan atau ikhtisar analisis untuk balok perse itu sendiri. Kolom-kolom penyangga memberikan tekanan pons yang hendak menembus
gi terlentur bertulangan tarik saja, dengan urutan sebagai berikut: plat ke atas. Sistem kerja demikian berakibatkan timbulnya tegangan gesar cukup besar
yang dinarnakan geser pons, dan apabila plat tldak kuat akan retak atau bahkun pocnh
t) Buat daftar hal-hal yang diketahui. tor-
2) Tentukan apa yang harus dicari (pekerjaan analisis umunya mencari MR , Mn ,
beban hidup atau mati yang dapat didukung).
3) Hitung rasio penulangan :
As
p= b d
4) Bandingkan hasilnya dengan 0,75pb atau Pmaks juga terhadap Pmlni untuk menentukan
apakah penampang memen.uhi syarat.
5) Hitung kedalaman blok tegangan baton tekan :
As fy

a (0,85 )
6) Hitung panjang lengan kopel momen dalam, z= d - 1a
7) Hitung momen tahanari (momen dalarn)
ideal M,,, Mn = Nr z= As fy z, atau
Mn =Noz= 0,85fc' abz
8) MR = ;Mn Gambar 2.12.
Plat beton bertulang
f
46 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pt.Ar BERTUL.ANGAN T.6.RIK SAJA

tembus.. Untuk menanggulangi tekanan pons tersebut pada umumnya di tempat kolom
penumpu plat diberi penebalan berupa drop panel, atau memperbesar ukuran kolom di
ujung atas di teinpat tumpuan yang biasanya disebut sebagai kapital kolom atau kepala
i BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pl.AT BERTULANGAN TARIK SAJA 4
ii'

kolom. Apabila sistem tersebut digunakan untuk struktur dengan bentangan lebih pen
dek dan beban yang didukung lebih ringan, dapat pula dibuat tanpa menggunakan pena 7
balan dengan drop panel atau kepala kolom, jadi plat betul-betul rata dan didukung.lang
sung oleh kolom, lihat Gambar 2.12. lah rata-rata. Dengan demikian, cara menyebut jumlah tulangan baja untuk plat berbeda
dengan yang digunakan untuk komponen struktur lainnya. Kecuali diameter tulangan ju
ga disebutkan jarak spasi pusat ke pusat (p.k..p) batang tulangan. Tabel A-5 memberikan
kemudahan untuk penetapan tulangan pakok baja tarik untuk plat. Sebagai misal, apabila
2.10 ANALISI S PLAT TERLENTUR SATU ARAH
plat diberi penulangan baja 022 (As= 380 mm2) dengan jarak pusat ke pusat 400 mm,
ma
Karena beban yang bekerja pada plat semuanya dilimpahkan menurut arah sisi pendek,
ka setiap pias satu meter lebar plat, luas tulangan baja rata-rata 2,50 x 380 = 950,
maka suatu plat terlentur satu arah yang menerus di atas beberapa perietakan dapat mm2,
diper lakukan sebagaimana layaknya sebuah balok persegi dengan tingginya setebaf dan penulangan disebut: 022-400 atau As= 950,3 mm2/m'.
plat dan lebarnya adalah satu satuan panjang, umumnya 1 meter. Apabila diberikan Standar SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.16.12 menetapkan bahwa untuk plat
beban merata plat melendut membentuk kelengkungan satu arah, dan oleh karananya lantai serta atap struktural yang hanya menggunakan tulangan pokok lentur satu arah,
timbul momen lentur pada arah tersebut. Saban merata untuk plat biasanya salain pe nulangan pokok harus dipasang juga tulangan susut dan suhu dengan arah
menggunakan satuan kN/m2 (kPa), karena diperhitungkan untuk setiap satuan lebar tegak lurus terhadap tulangan pokoknya. Peraturan lebih jauh menetapkan bahwa
maka dalarn perencanaan dan analisis diubah satuannya menjadi beban per satuan apabila digunakan tulangan baja deformasian (BJTD) mutu 30 untuk tulangan susut
panjang (kN/m). Apabila bentangan dan beban yang bekerja memenuhi kriteria SK SNI T- berlaku syarat minimum
15-1991-03 pasal 3.1.3 ayat 3, maka peraturan memperbolehkan menggunakan koefisien As = 0,0020 bh, sedangkan untuk mutu 40 berfaku syarat minimum As = 0,0018 bh, di
momen dan gaya geser. standar. mana b dan h adalah lebar satuan dan tebal plat. Di samping itu juga barlaku ketentuan
Tulangan pokok lentur plat satu arah dipasang pada arah tegak lurus terhadap du bahwa plat struktural dengan tebal tetap, jumlah luas tulangan baja searah dengan ben
kungan. Karena analisis dan perencanaan dilakukan untuk setiap satuan lebar plat maka tangan (tulangan pokok) tidak bolah kurang dari tulangan susut dan suhu yang diperlu
jumlah penulangan jug a dihitung untuk setiap satuan lebar tersebut, dan merupakan jum- kan. Jarak dari pusat ke pusat tulangan pokok tidak boleh lebih dari tiga kalitebal plat I 1,

atau 500 mm, sedangkan jarak tulangan susut dan suhu tidak boleh lebih dari lima kali I
tebal atau 500 mm.

Conteh 2.6
Suatu plat penulangan satu arah untuk struktur interior, penampangnya seperti tampak
pada gambar, bentangannya 4 m. Digunakan tulangan baja dengan fy = 300 MP a, se
dangkan kuat beton MPa, selimut beton pelindung tulangan baja 20 mm. Tentukafl
beban hidup yang dapat didukung oleh plat tersebut. Dari Gambar 2. 14, tulangan
baja 016 dengan jarak p.k.p. 180 mm dengan arah tegak /urus terhadap dukungan.
Gambar 2.13. 1000 20
Plat Satu Arah (bersii)
Gambar 2.14.
Sketsa Conteh 2.6

016-180 => '

!\l IJil{\\\lltt;,,
'!'":';l\
,c-
i
-;<' A
l 1"
BAB 2 BALOK PEASEGI DAN Pl.AT BERTULANGAN TARIK SAJA 49
48 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTULANGAN RIK SAJA

nampang tulangan. Per1u diketahuibahwa untuk tiga besaran perencanaan tersebut dida
patkan banyak sekali kemungkinan kombinasi antar ketiganya yang dapat memenuhi ke
1?enyelesai an

(Tabel A-5)
butuhan kuat momen untuk penggunaan tertantu.Secara teoratik dapat dikatakan bahwa
A 5 = 1117mm 2/m'
60 balok lebar tetapi pendek kemungkinan mempunyai MR yang sama dengan balok sempit
d =165- 20- 2 tetapi tinggi. Per1u diketahui juga bahwa keputusan untuk menentukan nilai-nilai tersebut
1117 akan sangat dipengaruhi oleh batas ketantuan-ketentuan peraturan di samping juga per
= = -0,0085
p bd 1000(13/j timbangan teknis pelaksanaannya. Dengan demikian, untuk menentukan bentuk dan di
dari Tabel A-6, Pmsks= 0,75 Pb=
0,0241

Nilai minimum A 5.untuk plat adalah yang diperiukan untuk tulangan susut dan suhu. mensi panampang balok terbaik bukaniah hal yang mudah karena perhitungan beaya ru-
Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan nilai minimum dengan memeriksa Asmln- . panya tidak hanya ditentukan oleh rendahnya volume baton maupun jumlah tulangan
As minimum= 0,0020bh= 0,0020(1000)(165) = 330 mm2/m'<As= 1117 mm2/m' baja yang harus dipasang di dalam balok, tetapi masih ada faktor lain yang harus
a As fy 1117 (300) = 19,7 mm dipartim bangkan misalnya saja dari teknis pelaksanaannya
(o, 85 fc' )b O,
85(20)(1000) Dengan memanfaatkan hubungan internal yang sudah dikenal pada waktu rnemba
19 7 has analisis balok terdahulu, kemudian dilakukan modifikasi-modifikasi tertentu agar pro
z =d -!=137- =127,15 11Vll
2 2 ses perencanaan dapat lebih disederhanakan.
Mn = As fy z= 1117(300)(127,15)1Q-6 = 42,61 kNm (per meter lebar) Ungkapan kekuatan balok baton bertulang penampang persegi bertulangan tarik saja
MR = 0,8 Mn= 0,8(42,61) = 34,1 kNm te lah dikenal, yaitu :
Selanjutnya menghitung beban hidup yang masih dapat didukung oleh plat. Perlu diingat MR = <P N0 z= q, Nrz dan MR= 4' (0,85 fc' )ba(d -112 a)
bahwa beban yang harus didukung oleh plat adalah beban mati (berat sendiri) dan beban As fy
dimana ,
hidup (yang akan dihitung). Notasi Mu digunakan untuk momen yang dihasilkan dari be- a - (o, 85 f c' )b
ban terf aktor yang diperhitungkan.

i
Dengan menggunakan rumus-rumus tersebut dapat dilakukan usaha penyederhanaan
2
Mu(DL ) = (1,2 Wotf ) dengan cara mengembangkan besaran tertentu sedemikian sehingga dapat disusun da
-4
w 0L lam bentuk daftar.
= berat plat = 16,5 (100) (23)(10) = 3,80 kN I m2 As
2 p atau A = p bd
=H1,2(3,80)
} = 9,12
=-
lv!_u(DL ) bd .
(4) kNm A 5 fy p bd fy p d fy
MR yang tersedia untuk menahan beban hidup : 32,1-9, 12 = 22,98
kNm a = (0,85 fc' )b (o,85 tc' )b = (0,85 fc')
kemudian ditetapkan nilai w = e.!..r..
Mu(LL) = i(1,6 WLLf 2 ) = 22,98 kNm fd
8 (22,98)
WLL = ( )2 7,18 kN /m
116 4 maka, d
a
Sehingga dapat disimpulkan_, prosedur mengh.itung MR plat terlentur satu arah menggu = w 0,85
nakan cara yang sama dengan balok persegi. masukkan dalam ungkapan MR :

2.11 PERENCANAAN BALOK TERLENTUR


MR = ;(0,85 fc'){b)( ru 0, 5){d -ru 2 ( SS)}
MR = ; bd 2 f c' co (1-0,59 ru} (2 - 5)
BERTULANGAN TARIK SAJA dari persamaan tersebut didapat bilangan k, sebagai berikut :
K = fc' w (1 - 0,59 w) (2 - 6)
Oalam proses perencanaan balok penampang persegi terlentur untuk fy dan fc' tertentu, Bilangan k disebut sebagai koefisien tahanan yang nilainya tergantung pada p, fc dan fy
''ang harus ditetapkan lebih lanjut adalah dimensi lebar balok, tinggi balok, dan luas pa-
Tabel A-8 sampai dengan A-37 pada Apendiks A. memberikan nilai k dalam satuan MPa
,' BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PL.AT BERTUL.ANGAN TARIK SAJA 61

50 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTULANGAN V.RIK SAJA


I
Tulangan yang diperlukan :
As = p bd
untuk setiap nilai p dan berbagai pasangan fc' dan fr Nilai p yang digunakan dalam tabel
= 0,0135(250)(570) = 1924 mm2
adalah nilai maksimum atau 0,75p11-
Dengan demikian ungkapan secara umum untuk MR menjadi :
Secara teoretis sebarang batang tuJangan atau kombinasi beberapa batang tulangan
MR = t;bd 2k (2-7)
yang jumiah total luas penampangnya sama dengan atau lebih dari 19,24 cm2 dapat
Sebagai contoh, akan dihitung kembaii momen tahanan MR untuk Conteh 2.4.
ma
1) = ..&. = 2600 0 0193 menuhi kebutuhan. Tetapi harus diingat bahwa peraturan mengharuskan untuk mema
p bd 300(450) '.
sang paling tidak dua batang tulangan baja tarik di sudut-sudut sengkang agar terbentuk
2) Dari Tabel A-29 didapat k= 6,5479 MPa kerangka penulangan kokoh. Kemudian agar mudah dalam pelaksanaan
MR = ;bd2k= 0,8(300)(450)2(6,5479)(10) -3 pemasangannya
= 318,23 kNm batang-batang tulangan baja yang dipilih sebaiknya terdiri dari batang dengan diameter
Dengan menggunakan cara di atas, pendekatan analisis menjadi lebih singkat dan sama dan sedapat mungkin ditempatkan dalam satu baris (elevasi) yang sama. SK SNIT-
lebih mudah dibandingkan dengan yang digunakan pada penyelesaian Contoh 2.4 di ha 15-1991-03 menetapkan persyaratan jarak bersih minimum antar-tulangan dan selimut
laman 42, dan kedua-duanya dapat diterima. beton pelindung tulangan baja. Jarak bersih antara tulangan dalam satu baris tidak boleh
kurang dari diameter tulangan, atau 25 mm, atau 1,33 ukuran agregat maksimum.
C on t eh 2.7. Apabila diperfukan penulangan lebih dari satu lapis maka jarak bersih antara
Rencanakan suatu balok persegi beton bertulang untuk menahan momen beban kerja lapis satu dengan lainnya minimum 25 mm. Persyaratan selimut baton tercantum dalam
mati 65 kNm (termasuk berat sendiri) ditambah momen beban guna hidup 135 kNm. SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.16.7, antara lain dapat disebu1kan di sini, bahwa untuk
Pertimbangan arsitektural butuh lebar balok 250 mm, dan tinggi balok total 650 mm. balok dan kolom yang tidak berhubungan langsung dengan cuaca luar atau tidak
Gunakan bahan beton f c '= 20 MP a dan baja fy = 400 MP a. Dari tiga besaran kontak langsung dengan tanah, tebal selimut baton untuk segala macam tulangan
perencanaan yang harus ditentukan dalam persoalan ini, b dan h telah ditetapkan adalah 40 mm. Pada Tabel A-38 menggabungkan persyaratan jarak antara tulangan dan
Sehingga penyele saian dan penentuan luas penampang tuiangan baja yang diperlukan selimut baton ke da lam tabel lebar minim.;,n balok untuk berbagai lapis batang
dapat dilaksanakan tulangan. Harap diperhatikan bahwa tulangan yang digunakan sebagai sengkang adalah
Jangsung. tulangan 010. Sengkang ada lah suatu bentuk khusus penulangan yang ten.:tama
ditujukan dan berfungsi sebagai pe ngikat membentuk kerangka tulangan, di samping
Peny elesaian bennanfaat menahan geser yang lebih lanjut dibahas pada Bab 4: untuk
Total momen rencana : mempertimbangkan pemilihan batcing tulangiin baja da
MR = 1,2 MoL + 1,6 MLL lam rangka memanuhi kebutuhan As (1853 mm2), dapat dipakai pilihan kombinasi
= 1,2(65) + 1,6(135) = 294 kNm =
berikut: 3 batang 029 :A 5 1983 mFT12
4 batang 025 :A 5 = 1964 mm2
perkircikan d =
(h-80) = (650 - 80) 570 mm = 5 batang 022 :.As= 1900 mm2
Karena MR = ipbd 21c; dan sebagai batas bawati MR= Mu , maka ungkapan dapat ditulis Dengan menyimak ulang tabel A-38 didapatkan bahwa satu-satunya pilihan kombinasi
se- bagai : Mu= t;bd2k, yang dapat diterima adalah 3 batang 029, yang apabila disusun dalam satu lapis membu-
di mana k adalah : tuhkan lebar balok minimum 245 mm. Dua kombinasi yang lain ternyata tidak dapat
6
Mu 294(10) dipa sang dalam satu lapis pada balok dengan !ebar 250 mm.
k- -- 2
4,52 MPa
- bd 2- 0,8(250)(570) Sampai dengan tahap ini harus dilakukan pemeriksaan tinggi efektif aktual yang tersedia
DariTabel A-27, didapatkan nilai k= 4,5398 untuk p= 0,0135. {d) untuk dibandingkan dengan tinggi yang semula diperkirakan.
DariTabel A-6 (atau A-27), didapatkan :0,75 Pb= 0,0163 =Pmaks d aktua = 650 - 40 - 5 - 112(29) = 590,S mm
Hasil tersebut agak lebih besar dari nilai d yang samula diperkirakan dan dipakai dalam per
1,4 5 hitungan sehingga tampak bahwa hasil d aktual agak konservatif atau pada kondisi yang
sedangkan Pm1n=- ,- 0,003
y lebih aman. Karena perbedaannya kecil tidak per!u revisi hitungan. Pada umumnya untuk
52 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTUlANGAN TARIK SA.IA BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pt.AT BERTULANGAN TARIK SA.JA 53

memilih dan menetapkan dimensi komponen struktur baton selalu digunakan bilangan DariTabel A-15 didapatkaf'.' k= 3,3818 MPa.
bulat dengan tujuan agar memudahkan dan tidak banyak menimbulkan permasalahan da
lam pembuatan acuan (cetakan) di aksanaannya.
Bentuk lain dari masalah perencanaan disajikan pada Contoh.2.8 di mana dapat di
Sampai tahap ini masihterdapat dua bilangan yang belum diketahui yaitu b dan dyang
da pat diperoleh melalui dua macam cara pendekatan yang berbeda.

golongkan sebagai bentuk perencanaan bebas karena dimensi lebar balok, tinggi balok, Cara yang pertama ialah dengan memperkirakan nilai terlebih dahulu untuk kemu
b
dan luas penampang tulangan baja ti.dak atau belum ditantukan. Psnyelesaiannya dian digunakan mencari d. Pendekatan dengan cara demikian lebih mudah, karena
pada
secara taoretis akan melibatkan banyak kemungkinan kombinasi besaran-besaran
umumnya alasan praktis pelaksanaan dan arsitektural menghendaki b tidak tertalu
sehubungan batas kebutuhan ketiga faktor yang belum diketahui tersebut. Seperti
lebar. Perkirakan b = 300 mm dan gunakan rumus Mu= tP bd 2k, .
d -;
diketahui, rasio penulangan harus lebih besar dari Pmln tetapi tidak melampaui Pmaks.
sehingga kebutuhan jumlah total tulangan harus terfetak di antara dua nilai tersebut.
pertu - <P bk
Untuk digunakan pada pe
rencanaan, Tabel A-6 memberikan rekomendasi nilai yang diperlukan dan merupakan nilai
6
p maksimum. Dalam menggunakan tabel tersebut usahakan untuk tidak menggunakan ni 281 -
58 4
(10)
lai pyang lebih besar. Apabila digunakan nilai pyang lebih besar akan didapat - 0,8(301)(3,3818) B. rrm
penampang -
beton yang lebih kecil sehingga besar kemungkinan mengundang masalahi lendutan. "k . d 588,4 .
P 300 = 1,96 => rasio baik
amen saan ras10
Untuk perkiraan kasar, ummnya digunakan hubungan empiris rasio antara lebar b=
dan tinggi balok beton persegi yang didapat dari pengalaman praktek yang dapat diterima Berat sendiri balok baton (beban mati) akan mulai diperhitungkan yang dengan demikian
dan cukup ekonomis, ialah: berakibat momen rencana berubah dan bertambah, sehingga ukuran balok diperkirakan
1,0 s dibs 3,0 juga harus diperbesar menjadi 300 x 700 mm2.
Berdasarkan pengalaman pula, dari rentang nilai tersebut, rasio dlb yang sering diguna Berat sendiri balok = 0,30(0,70)(23) = 4,83 kN/m'.
kan dan um_umnya memenuhi syarat terletak pada nilai 1,5 dan 2,2. Hubungan-hubungan M'J tambahan karena berat balok :
seperti tersebut di atas dapat dlgunakan sebagai sarana pendekatan penyelesaian per 2
Mu = .!(1,2) (4,83) (6) = 26,08 kNm
masalahan perencanaan yang dihadapi. 8 .

Jumlah berat total mengakibatkan Mu= 281 + 26,08 = 307,08 kNm


Conteh 2.8 Dengan menggunakan nilai p, k, dan b yang sama seperti hitungan terdahulu, didaptkan
Rencanakan suatu balok persegi beton bertuang yang bertulangan tarik saja yang ter nilai dbaru.
letak pada dukungan sederhana untuk beb_an guna mati 13,10 kN/m' (tidak termasuk
berat sendiri) dan beban guna hidup 29,2 kNlm'. Panjang bentang balok 6 m. Gunakan [K 307,08(10)
6
tulangan baja D 1O untuk sengkangnya, fc' = 20 MPa,_ fy = 300 MPa.
d pertu =y = 0,8 (300)(3,3818) 615,1 mm=
P "k . d 615,1 . .
amen saan ras10 b= 300 = 2,05 => raSIO baik

Penyelesaian = 1,2(13,1) + 1,6(29,2) = 62,44 kN/m'


Hitung momen rencana Mu yang untuk sementara dengan tanpa memperhitungkan berat Harap dicatat bahwa yang dihitung di atas adalah beban renr.ana tertaktor.
sendiri, yang tentunya akan dimasukkan juga dalam perhitungan kemudian. 2
M u = iwuf 2 =i(62,44) (6) = 281 kNm
Wu = 1 ,2WoL + 1 ,6WLL
Uhat Tabel A-6, perkirakan nilai p, gunakan I' = 0,O 1?l .
Luas tulangan yang diperlukan : As= pbfi . h perlu = 615, 1 + 112(29) + 5 + 40 = 674,6 mm => gunakan h = 680 mm
As = 0,0127(300)(615, 1) ;;: 2343 mm2 tinggi balok efektif aktual: d = 680 - 40 - 5 - 112(29) = 620,5 mm > 615, 1
Dari Tabel A-4 dipilih 4 batang tulangan 029, mm
Nil kti" 2642 d 620.5
As = 2642 mm2 > 2343 mm2
1 ru a tr p = 300(620,S) 0,0142 dan rasio
b = 2,068
Dari Tabet A-38 diperoleh b = 303,0 mm_yang masih dalam batas toleransi (berselisih 300
1% dari nilai b aktual). Selanjutnya menentukan tinggi balok total h.
Cara pendekatan yang kedua untuk pemecahan permasalahan pada contoh ini ia-. lah
dengan menetapkan terlebih dahulu rasio dlb yang diinginkan dan selanjutnya men
S4 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTULANGAN RIK SAJA
cari b dan d melalui hbungan matematik. Sebagai contoh, ditotapkan rasio dlb =
2,0,
maka d = 2b, kemudian dengan menggunakan lagi rumus Mu= bd2 kdidapatkan:
6

Gambar 2.15.
Sketsa Rancangan
Conteh 2.8

2
Perhitungan di atas berdasarkan ukuran penampang balok 300 x 700 mm ,
sedangkan hasil rencana didapatkan 300 x 680 mm2. Kemungkinan masih dapat
dilakukan modifikasi proporsi tulangan baja dan baton sedemikian hingga didapat
penampang yang lebih efi sien. Untuk mengetahui efisiensi hasil perencanaan
dilakukan dengan cara menghitung berapa persen kelebihan kapasitas penampang
terhadap yang diperlukan, atau nilai ban
ding antara kuat balok terhadap momen yang bekerja.
Sketsa rancangan diberikan pada Gambar 2.15, mungkin saja rencana tersebut
belum merupakan yang terbaik dan masih dapat dioptimalkan lagi. Sketsa hasil
rancangan akhir harus jelas dan umumnya menunjukkan dimensi-dimensi sebagai
berikut:
a lebar balok.
b. tinggi balok total dan/atau tinggi efektif.
c. jumlah dan ukuran batang tulangan pokok, jumlah luas.
d. selimut beton pelindung tulangn baja.
e. ukurari sengkang.
=

i
Mu -
bd2
3. Dari Tabel A-8 sampai A-37, dapatkan rasio penulangan.
BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTUlANGAN TARI< SAJA 65
4. Hitung As yang diperlukan, As pertu = pbd
b3 103864806= 25966201 mm3 5. Tentukan batang tulangan yang akan dipasang, dipilih dari tabel dengan
4 memperhi tungkan apakah tulangan dapat dipasang pada satu lapis di dalam
b perlu= i'25966201= 296,1rrvn balok. Periksa uiang tinggi efektif aktual balok dan bandingkan dengan tinggi
Dari hasil hltungan di atas tampak bahwa dengan menganggap b efektif yang dipakai untuk perhitungan. Apabila tinggi efektif aktual lebih tinggi
= 300 miTI rupanya telah mendekati hasil rencana. Dengan berarti hasil rancangan agak kon servatif (berada dalam keadaan lebih
damiki&n langkah selanjutnya menghitung d yang di partukan aman). Sebaliknya, apabila tinggi efektif aktual kurang dari tinggi efektif yang
dangan menggunakan cara separti yang_ dilakukan pada diperhitungkan berarti dalam keadaan tidak aman dan
bahasan sebelumnya. harus dilakukan revisi perhitungan.
Kemudian dapat disusun suatu ikhtisar perencanaan balok 6. Buatlah sketsa hasilrancangan
persegi terlentur bertu- langan tarik saja sebagai berikut:
a) Ukuran penampang diketahui, menghitung As b} Merencana dimensi penampang dan As
1. Ubahlah beban atau moman yang bekerja menjadi beban atau momen 1. Ubahlah beban atau momen menjadi beban atau momen rencana dan
rencana (Wu mungkin ter masuk menentukan perkiraan berat .sendiri balok yang belum
atau Mu}. termasuk berat sendiri. diketahui dimensinya untuk diperhitungkan sebagai bebari mati. Tinggi dan
2. Berdasarkan h yang diketahui, perkirakan d dengan lebar balok terpilih agar meme nuhi syarat dan berupa bilangan bulat. Jangan
menggunakan hubungan d = h - 80 mm, dan kemudian lupa untuk menggunakan faktor beban di dalam memperhitungkan beban mati
hitunglah kyang diperlukan memakai persamaan : tambahan.
2. Pilihlah rasio penulangan yang diperlukan
- dengan menggunakan tabel A-4 untuk
k
keperluan tersebut, kecuali bila dimensi balok terlalu kecil atau memang dikehendaki
pengurangan penulangan.
281 1
2 Mu ( 0) =103864806 Pmin S P S Pmaks
bd perlu ip k 0,8 mm1
(3,3818) 3. DariTabel A-8 sampai A-37, dapatkan nilai k.
apabila d = 2b, maka b( 2b)2 = 4. Perkirakan b dan kemudian hitung d yang diperlukan,
103864806 mm3
1

li1'i
I.'
58 BAB 2 BALOK PEASEGI DAN PLAT BERTULANGAN TARIK SA.IA BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTULANGAN 11.RIK SA.JA 61

d perlu= Jffi t
Q3)
Daftar 2.1.
Tebal minimum balok dan plat satu arah (kutipan Tabel 32.S(a) SK SNI T-15-1991-

Apabila rasio dlb memenuhi syarat (1,5 -:- 2,2), dimensi tersebut dapat dipakai untuk
balok yang direncanaka11. TEBAL MINIMUM, h

5. Perhitungkan h kemudian hitung ulang barat balok, dan bandingkan berat balok ter- I

I '
SATU WUNG KEDUA WUNG KANTILEVER
sebut dengan bera balok yang sudah dimasukkan dalam perhitungan. DUATUMPUAN MENERUS MENERUS
6. Lakukan revisi hitungan momen rencana Mu dengan menggunakan hasil hitungan KOMPONEN
berat sendiri balok yang terakhir. STRU<TUR KOMPONEN TIDAK MENDUKUNG ATAU MENYATU DENGAN
PAATISI ATAU KONSTRUKSI LAIN YANG AKAN RUSAK
7. Dengan menggunakan b, k, dan nilai Mu yang baru didapat, hitunglah d perlu.
AKIBATLENDUTAN BESAR

dperlu= l
Plat solid
satu arah -l 20 -l 24 - 28 -l 10
Periksa apakah rasio dlb memanuhi syarat.
8. Hitur.g As yang diperlukan, As perlu = pbd
9. Pilihlah batang tulangan yang akan digunakan serta mameriksa apakah batang tulang
Balok atau
plat lajur
- l -l - - 21
l
-8
l
satu arah 16 18,5
an dapat dipasang pada balok dalam satu lapis.
1o. Tentukan h, bila perlu dengan pembulatan ke atas (dalam cm) untuk mendapatkan bi
kelayanan atau kinarja struktur pada beban kerja. Daftar 2.1 (kutipan dari Tabel 3.2.5.a
langan bulat yang baik. Hal demikian mungkin akan mengakibatkan tinggi efektif aktu
SK SNI T-15-1991-03) memberikan ketebalan minimum balok dan plat satu arah dikaitkan
aJ lebih besar daripada tinggi efektif rencana dan berarti hasil rancangan akan sedikit
de ngan panjang bentangan. Ketentuan tersabut dapat dipakai untuk komponen
kons'3f'Vatif (berada pada keadaan yang lebih aman).
struktur yang tidak mendukung atau berhubungan dengan struktur lain yang cenderung
11 Buatlah sketsa hasilrancangan.
akan ru sak akibat lendutan. Apabila mendukung atau berhubungan dengan struktur
separti ter sebut, lendutan harus dihitung secara analitis. Untuk balok atau plat satu arah
dengan te baJ kurang dari nilai yang tertera daJam daftar, lendutannya harus dihitung
2.12 PERENCANAAN PLAT TERLENTUR SATU ARAH dan ukuran ter sebut dapat digunakan apabila lendutan memanuhi syarat. Nilai-nilai
dalam Oaftar 3.2.5.a hanya diperuntukkan bagi baJok dan plat baton bertulangan satu
Pada saat sekarang, di mana perkembangan teknologi telah rneningkat dengan pasat, arah, nonprategangan,
untuk mendapatkan bahan struktur baton bartulang mutu tinggi bukanlah sesuatu yang berat baton nonnal ( we = 23 kN/m3) dan baja tulangan BJTD mutu 40. Apabila digunakan
sulit separti pada masa lalu. Dengan menggunakan bahan baja dan baton mutu tinggi mutu tulangan baja yang lain nilai dari daftar harus dikalikan dengan faktor berikut :
akan didapat ukuran atau dimensi komponan struktur baton bartulang yang semain me
ngecll. Sebenamya pengaruh peningkatan kuat atau mutu bahan ter:tiadap deflaksi kom _ (a, 4+ ;0) .
ponen struktur hanya kecil saja, yang berpengaruh besar adaJah ukuran penampang atau
daJam haJ ini momen inersia penampang. Akan terjadi lendutan lebih besar pada Untuk struktur beton ringan dengan.satuan mass a
di antara 1500-2000 kgf/m3 nilai dari
kompo nen stniktur bahan mutu tinggi dibandingkan dengan komponen struktur yang daftar dikalikan dengan faktor berikut :
sama teta pi dibuat dari bahan dengan mutu yang lebih rendah, yang pada umumnya (1,65 - 0,005
We).
luas penam pangnya lebih besar sehingga momen inersianya juga besar.
akan tetapi bagaimanapun nilai yang didapat tidak boleh kurang dari 1,09 sedangkan
Penentuan tebal plat terfentur satu arah tergantung pada beban atau momen lentur
satu an we dalam kgf/m3. Sebagai contoh, untuk plat satu arah yang terlatak pada
' yang bekerja, defleksi yang terjadi, dan kebutuhan kuat geser yang dituntut. Standar SK
dukungan sederhana, baton dengan berat normal dan tulangan baja mutu 40, tebal
SNIT-15-1991-03 menentukan kriteria tinggi balok dan plat dikaitkan dengan bentangnya
daJam rangka usaha membatasi lendutan basar yang berakibat mengganggu kemampuan
minimum yang diperlukan adalah 1l jika dikehendaki menggunakan dimensi
tersebut tanpa menghi tung lendutan, di mana l adalah panjang bentang plat.
Mangenai persyaratan lendutan labih tanjut akan dibahas lebih lanjut pada Bab 8 di
belakang.
BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PlMBERTULANGAN TARIK SA.IA I8 I

5 8 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTULANGAN TARIK SA.JA

h . . l [ 302] 3000 ( 0,8286) .


SK SNl T-15-1991-03 pasal 3.16.7 memberikan ketentuan tebal selimut baton
pelindung tulangan baja untuk plat yang permukaannya tidak terbuka atau berhubungan

0,4+ =124 3 mm
langsung dengan cuaca luar, atau ti?ak kontak langsung dengan tanah. Selimut baton mtmmum= J=
ti 20 700 20
dak boleh kurang dari 20 mm apabila plat, dinding, dan plat berusuk menggunakan ba digunakan h = 125,0 mm dan selanjutnya rencanakan plat untuk setiap lebar 1m.
tang tulangan 036 atau kurang. Tidak boleh kurang dari 40 mm apabila menggunakan ba Tentukan beban mati berat sendiri plat,
tang tulangan 044 dan 056. Untuk permukaan plat yang terbuka terhadap cuaca luar (0,125)(23) =
2,875 kN/m2
atau berhubungan dengan tanah, tebal se!imut baton minimum 50 mm apabila Total beban rencana adalah,
menggunakan tuiangan 019 sampai dengan 056, dan 40 mm apabila menggunakan Wu = 1,2Wot + 1 ,6W LL
tulangan 016, ka wat W31 atau 031, atau ukuran yang lebih kecil. Apabila plat baton == 1,2(2,875) + 1,6(16) = 29,05 kN/m2
dicer langsung dan permanen berhubungan dengan tanah,- selimut baton minimum Tentukan momen rencana,
untuk segala ukuran tu 1 1 2
langan baja adaJah 70 mm. M u = 3wul2 =8(29,05)(3) =32,68 kNm
Seperti yang telah diuraikan di depan, cara yang dipakai SK SNI T-15-1991-03 un Perkirakan ddengan penggunaan tulangan Q19 dan selimut baton minimum 20 mm,
tuk membatasi timbulnya lendutan besar ialah dengan menerapkan syarat tbal d == 125 - 20 -9,5 = 95,5 mm
minimum. Akan tetapi meskipun plat telah memenuhi syarat tebal minimum, misalnya, Tentukan k yang diperlukan,
masih tetap harus dirancang untuk kuat lenumya. Lendutan plat tidak perlu dihitung
k =
ataupun diperik sa secara analitis kecuali apabila plat merupakan struktur pendukung
tp bd2
atau berhubungan dengan komponen lain yang akan rusak bila mengalami lendutan
= 32,68(10)3 = 4,479 MPa
besar. 2
0,8(1) (95,5)
Standar SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.1.7 memberikan ketentuan mengenai pan
jang bentangan untuk perencanaan balok atau plat yang secara integral tidak DariTabel A-15 untuk nilai k = 4,4782 didapat p = 0,0177
menyatu dengan dukungannya, sebagai berikut : periksa PmakSr
Pmaks = 0,0241 > 0,0177 gunakan p = 0,0177

panjang bentang = bentang bersih + tebal komponen As = p bd= 0,0177(1000)(95,5) = 1690 mm2/m'
Ketentuan tersebut dapat digunakan sebagai pedoman tetapi nilainya tidak boleh
lebih besar dari jarak antar-pusat dukungan. Karena tebal plat belum ditentukan, Dari Tabel A-3 pilihlah batang tulangan pokok, dipilih tulangan 019 dengan jarak
umumnya pa da awal perencanaan digunakan jarak antar-pusat dukungan. Conteh pusat ke pusat 150 mm {As= 1890,2 mm2). Syarat peraturan tentang jarak maksimum
berikut akan mem berikan gambaran mengenai bagaimana cara menggunakan an tara batang tuiangan telah dibahas pada Bab 2.10. Jarak minimum antara batang
ketentuan SK SNI T-15- 1991-03 untuk tebal minimum plat satu arah. tulangan untuk plat secara praktis diambil tidak kurang dari 100 mm, meskipun
peraturan mem bolehan jarak yang lebih dekat lagi seperti yang dibahas pada Conteh
Contoh 2.9 2.7.
Rencanakan suatu plat satu arah yang terletak pada dukungan sederhana dan men
dukung beban hidup terbagi rata 16 kPa. Panjang bentang 3,0 m (pusat ke pusat
dukungan), beton fc'= 20 MPa dan baja fy = 300 MPa. lkuti ketentuan SK SN/ T-15-
1991- 03 mengenai persyaratan tebal minimum dan gunakan pembulatan sampai
dengan cen timeter untuk tebaf plat.

Penyeleaaian
Oapatkan h minimum yang diperlukan kemudian perkirakan berat sendiri plat.
Dari Daftar 2.1, atau SK SNIT-15-1991-03 Tabel 3.2.5.a,
Gambar 2.16.
Sketsa perencanaan Conteh 2.9
BAS 2 BALOK PERSEGI DAN Pl.AT BERTULANGAN TARIK SAJA fJ 1

6Q BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PlMBERTUt.ANGAN 'D\RIK SAJA

Periksa jarak maksimum antara batang tulangan baja disesuaikan dengan ketentuan
A. = 0,0018 bh ( 4:;) untuk mutu bajalebih tinggi dari 40,
SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.16.6: diukur pada regangan leleh sebesar 0,35% dan dalam segala hal tidak boleh kurang
=
Jarak maksimum 3h atau 500 mm
dari As= 0,0014bh.
3h = 3(125) = 375 mm >.150 mm 1O)Jumlah luas penampang tulangan baja pokok tidak boleh kurang dari jumlah fua.s pe-
Maka, gunakan batang tulangan 019 dengan jarak pusat ke pusat 150 mm. nulangan susut dan suhu.
Selanjutnya. sesuai SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.16.12, menentukan penulangan 11) Buatlah sketsa rancangan.
susut dan suhu (temperatur),
As= 0,0020bh= 0,0020(1000)(125) = 250 mm2/m'
Pilih batang tulangan baja 09 dengan jarak dari pusat ke pusat 250 mm ( As= 254
mm2). atau batang 010 jarak p.k.p 300 mm (A5 = 262 mm2). Jarak maksimum = Sh
atau 500 mm. Maka, gunakanlah batang tulangan baja 09 dengan jarak p.k.p 250
mm.Sesuai SK SNI T- 15-1991-03 pasal 3.3.5 ayat 3, luas penampang tulangan
pokok harus lebih besar dari tu langan baja untuk susut dan suhu.
tulangan pokok 1890 mm2 > tulangan susut 254 mm2
Buatlah sketsa rancangan-(lihat .Gambar 2.16).

Dengan demikian maka ringkasan langkah-langkah atau ikhtisar perencanaan plat


terlentur satu arah adalah sebagai berikut :
1) Hitung h minimum plat sesuai dengan Oaftar 2.1 atau SK SNI T-15-1991-03 Tabel
3.2.5.a, pembulatan dalam centimeter.
2) Hitung beban mati berat sendiri plat, dan kemudian hitunglah beban rencana total Wu.
3) Hitung momen rencana Mu-
4) Perkirakan dan hitung tinggi efektif plat d, gunakan batang tulangan baja 019 dan se-
limut baton pelindung tulangan baja 20 mm, dengan hubungannya sebagai berikut:
d= h - 29,5 mm

5) Hitung kperlu,
k= I
'bd2
6) Tentukan rasio penulangan pdari Tabel A-6 sampai A-10 dan tidak melmpaui Pmak .I
Apabila p > Pmaks maka plat dibuat lebihtebal lagi.
7) Hitung As yang diperlukan,
As = pbd
8) Dengan menggunakan Tabel A-3 pilihlah tulangan baja pokok yang akan dipasang.
Periksalah jarak maksimum antara tulangan dari pusat ke pusat 3h atau_ 500 111m.
Periksa ulang anggapan yang digunakan pada langkah ke 4.
9) Sesuai SK SNI T-15-1991-03 pilih tulangan untuk susut dan suhu sebagai berikut :
As =0,0020bh untuk baja mutu 30,
As == 0,0018bhuntuk baja mutu 40,
62 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pl.Ar BERTULANGAN TARIK SAJA
BAB 2 BAlOK PERSEGI DAN PLAT BERTULANGAN TARIK SAJA 63

SOAL-SOAL

Soal-soal berikut ini berkaitan dengan masalah penulangan tarik saja, di mana untuk balok
gunakan selimut baton pelindung tulangan 40 mm dengan tulangan 010 untuk seng

kang, sedangkan untuk plat gunakan selimut baton 20 mm. J---;-------------------,(
1500 7500 ,

2-1. Suatu balok dangan b = 350 mm, A 5 = 3025, t0 '= 30 MPa, tuiangan baja mutu 300, Gambru Soal 2-6

tentukan kuat 'momen (Mn ) apabila :


a. d = 360 mm Suatu balok baton bertulang persegi mendukung beban di atas bentang 7,0 m se
b. d = 540
mm perti tergambar. Saban mati 24 kN/m' tidak termasuk berat sendiri, 0t = 20 MPa, fy =
1

c. d = 720 mm, bandingkan hasil-hasilnya dalam bentuk tabulasi. 400 MPa, b =


400 mm, h = 650 mm, dan menggunakan 5 batang tulangan 028.
Buktikan bahwa balok tersebut cukup kuat untuk menahan momen yang terjadi.
2-2. Hitunglah kapasitas momen ideal (Mn} untuk balok dengan lebar b = 300 mm, d =
520 mm, fc ' = 30 MPa, fy = 400 MPa, dengan penulangannya sebagai berikut : 2-7. Plat satu arah seperti tergambar dengan bentang 3 m dari pusat ke pusat dukung
a. 3 batang tulangan baja 025 an. Hitung MR dan tentukan beban kerja hidup yang bisa didukung oleh balok, be
b. 3 batang tulangan baja 028 ban mati yang bekerja hanyalah berat sendiri, f0 ' = 20 MPa, fy = 300 MPa .
c. 3 batang tulangan baja 032, bandingkan hasilnya dalam bentuk tabulasi.

2-3. Hitung kapasitas momen ideal (M.'l) untuk balok dengan tulangan baja mutu 400,
I I
A s = 4028, b = 300 mm, d = 600 mm.
=
a. f0 ' 20 MPa
b. fc' = 30 MPa
c. t0 ' = 35 MPa, bandingkan hasil-hasilnya dalam bentuk tabulasi.

2-4. Hitunglah momen tahanan (M,g) untuk balok dengan d = 600 mm, b = 350 mm, di
pakai 4 batang tulangan 025.
Gambar Seal 2-7
2-8. Suatu balok baton bertulang persegi terletak pada suatu perletakan sederhana de
a. f 1 = 30 MPa, fy = 300
0 MPa
=MPa
30 MPa, fy = 400

b. fc' ngan bentangan 7 m', mendukung beban kerja merata yang terdiri dari beban hi
dup merata 20 kN/m' dan beban mati merata 24 kN/m' (sudah termasuk perkiraan
2-5. Suatu balok beton bertulang terletak di atas bentangan sederhana 9 m dengan b = berat sendiri balok), menggunakan tulangan baja mutu 400, fc' = 20 MPa. Guna
500 mm, d =1075 mm, h = 1150 mm. Balok mendukung beban kerja yang terdiri kanlah Tabel A-6 untuk menentukan rasio penulangan, lebar balok 400 mm, pilih bi
dari hidup merata 52 kN/m' dan mati merata (tidak termasuk berat sendiri) 32 kN/m'. langan bulat untuk h, sengkang dari batang tulangan 010. Periksalah apakah balok
Periksalah apakah balok mampu r;nenahan momen lentur yang terjadi. Periksa juga tersebut cukup kuat menahan beban dengan cara membandingkan Mu dengan
rasio penulangannya untuk menjamin masih dalam batas-batas ketentuan peratur MR. buat sketsa rancangannya
an untuk: (a) penulangan 6 batang 032, dan (b) penulangan 6 batang 036, se
dangkan f 0 ' = 20 MPa, fy = 300 MPa. 2-9. Rencanakan balok baton bertulang penampang persegi menahan momen rencana
total Mu=180 kNm (sudah termasuk momen karena berat sendiri). Tuntutan arsitek-
11
,,
BAB 2 BALOK PERSEGI DAN PLAT BERTULANGAN TARll< SA.JA 86
64 BAB 2 BALOK PERSEGI DAN Pt.AT BERTULANGAN TARIK SAJA

tural memertukan b = 300 mm dan h = 580 mm, fc' = 20 MPa, f y= 300 MPa. 2-15. Rencanakan suatu balok beton bertulang persegi yang terfetak di atas dukungan
Buatlah sketsa rancangan. sederhana seperti terfihat pada gambar, beban mati merata tidak termasuk berat
sendiri balok, sedangkan fc' = 20 MPa. fy = 400 MPa
2-10. Ulangi soal nomor 2-9 deng Mu= 540 kNm, lebar b= 4oo mm, h = 700 mm, fc'
30 MPa, fy = 300 MPa. 2-16. Rencanakan plat lantai baton bertulangan satu arah dengan dukungan sederhana
bantang 3 m, mendukung beban kerja hidup merata 15 kPa dan berat sendiri plat,
2- i1. Untuk balok yang dirancang pada soal 2-10, bila tulangan pokok yang dipasang fc' = 20 MPa, fy = 300 MPa. Berikan sketsa rencana.
salah pemasangannya sedemikian sehingga kedalaman efektif d = 600 mm, apakah
balok masih kuat? Periksalah dengan membandingkan Mu dengan MR dari balok 2-17. Rencanakan plat lantai baton bertulangan satu arah dengan dukungan saderhana
yang menggunakan luas penampang tulangan baja aktual,b aktual, dan tinggi efek- dan bentang 3,0 m, mendukung beban guna hidup marata 8 kPa, beban mati me
rata 1,25 kPa dan berat sendiri, fc' = 20 MPa, fy = 300 MPa, pembulatan ukuran
tif d = 600 mm.
te bal plat setiap 1O mm.
2-12. Rencanakan suatu balok baton bertulang penampang persegi pada dukungan se a rencanakan plat sesuai syarat tebal minimum paraturan.
derhana 1o m, mendukung beban kerja merata yang terdiri dari beban hidup b. rencanakan plat dengan ketebaJan yang paling tipis yang masih
merata dimungkinkan o- leh peraturan.
30 kN/m' dan beban mati merata (tidak termasuk berat sendiri balok) 15 kN/m', kare
na diba-tasi cleh ukuran kolom maka lebar balok tidak bisa lebih besar dari 400 2-18. Rencanakan plat baton dangan penulangan satu arah dan dukungan sederhana
seperti tergambar, beban kerja h!dup marata 10 kPa. fc' = 20 MPa, fy = 400 MPa.
mm, fc' = 20 MPa, fy = 400 MPa. Berikan sketsa rencananya.
Berikan sketsa rencana.
2-13. Rencanakan suatu balok baton bertulang persegi pada dukungan sederhana 11 m,
mendukung beban kerja merata yang terdiri dari beban hidup merata 30 kN/m ' dan
beban mati merata (tidak termasuk berat sendiri balok) 23 kN/rn' lebar balok
dibatasi
450 mm, fc' = 20 MPa, fy = 300 MPa. Berikan sketsa rencana. /1 30) )1

Gambar Soal 218


2-14. Rencanakan suatu balok baton bertulang penampang persegi pada dukungan se
derhana 14 m, mendukung beban kerja"merata yang terdiri dari beban hidup merata
20 kN/m' dan beban mati merata (tidak termasuk berat sendiri balok) 12 kN/m', fc' =
30 MPa, fy = 400 MPa. Berikan sketsa rencana.

f 1 1 11
OL
LL

1 1 111T11 1 111111:11111
== 7.2
4,3kN/m'
kN/m'

Gambar Seal 2-15


,.
l BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP 87
\:

3 .: "'"T'"F53 ' 1

'-- = t engah

PENA MPANG BALOK T DAN Gambar 3.1.


Sistem balok dan balok induk lantai
B.ALOK BERTULA NGA N RANGKA P
sebagai badan. Dalam hal ini, plat yang berfungsi sebagai flens dari balok T juga harus
di rencana dan diperhitungkan tersendiri terhadap lenturan pada arah melintang
terhadap balok-balok pendukungnya. Dengan demikian plat yang berlungsi sebagai
f/enstersebut akan berperilaku sebagai komponen struktur yang bekerja pada dua arah
lenturan yang saJing tegak lurus. Pada perpotongan antar-balok T, struktur akan
mendukung momen lentur negatif di mana tepi atas plat berada dalam keadaan tertarik
3.1 P ENDA HULUA N sedangkan badan balok di bagian bawah dalam keadaan terdesak. HaJ demikian akan
tampak lebih jelas pada tum puan bentangan sebelah dalam (interior} struktur balok
Komponen lantai atau atap bangunan gedung struktur baton bertulang dapat berupa plat bentangan menerus yang akan dibahas lebih lanjut kelak.
dengan seluruh beban yang didukung langsung dilimpahkan ke kolom dan selanjutnya Untuk keperluan perencanaan dan analisis, serta penyederhartaan perilaku plat ter
ka fondasi .bangunan. Seperti yang telah dikemukakan di depan, bentangan struktur plat lentur pada dua arah yang rumit, standar SK SNI T-15-1991-03 menetapkan kriteria lebar
demikian tidak dapat panjang karena pada ketebalan tertentu (berarti juga berat sendiri) efektif tertentu untuk plat ( f/ens) yang diperhitungkan bekerja sama dengan balok-balok I
menghasilkan struktur yang tidak hemat dan praktis. Olah karena itu telah banyak dikem dalam rangka menahan momen lentur yang bekerja pada balok. Labar f/ens efektif untuk
bangkan jenis sistem struktur plat yang bertujuan untuk memperoleh bentangan sepan bentuk simetrik tidak boleh diperhitungkan lebih besar dari jarak spasi antar-balok pen-
jang mungkin dengan masalah beban mati sekecil mungkin. Salah satu di antaranya dukung (lihat Gambar 3.3).
dina makan sistem balok anak dan induk, terdiri dari plat yang bertumpu pada balok anak
yang
membe.ntuk rangka dengan balok induk serta kolom sebagai penopang struktur keselu 1 1 11 11 11 I I I I II

ruhan. Pada sistem seperti ini umumnya balok anak dan induk dicetak menjadi satu kesa ;: =:::= ::: ::: ,- - - - .' _:.. _ _ :- - - -
- - - - - - - - - - - - - 1..:l
tuan monolit dengan plat. Sistem berbeda dapat ;uga dilaksanakan, di mana hubungan
::::::@ :tJ
11 11 11 11 11 1 1 1 1
11 I I baJok 11 11 11 baJok 1 1 I I
plat dan balok bukan merupakan satu kesatuan monolit, baik dengan cara pracetak mau 11 I I anal< 11 11 I I anak I I 1 1
pun cetak di temp;:it. Gambar 3.1 menunjukkan sistem monol!tik tipikal. Pada umumnya 11 11 1 \_1 1 1 1
,
11 :iJ
balok anak membagi bentangan balok induk menjadi setengah, sepertigaan, seperem-". I i 1 1' 11 I 11 11
11 11 11 11 11 11 1 1
patan, seperti tampak pada Gambar 3.2. 11 11 11 II 1 1 11 11

L'
Analisis dan perencanaan balok yang dicetak menjadi satu kesatuan monolit de 11 11 balok 11 11 11 1 1 baJok 11
I I I I k I I 11 11 1 1 i'lduk 11
ngan plat lantai atau atap, didasarkan pada anggapan bahwa antara plat dengan balok- 11 kDlom 11 )'------; I I I kolom I I I I
ba 11 11 11 11 11 11 11
lok terjadi interaksi saat menahan momen lentur positif yang bekerja pada balok. lnteraksi
s: ::::: := = - =::: :t5 = :::.:.::::. . :_ :@:13
antara plat dan balok-balok yang menjadi satu kesatuan pada penampangnya 11 11 11 1 1 11
membentuk huruf T tipikal, dan oleh karena itulah balok-balok dinamakan sebagai balok ..... ,,,,. .... ......
T. Seperti tam pak dalam Gambar 3.3, plat akan beriaku sebagai lapis sayap ( flens) tekan
11
"""
Gambar 3.2
dan balok-balok Tata letak balok anak aan balok induk
1
6 8 .BAB 3 . BAL.OK T DAN BALOK PERSEGI BERTUl.ANGAN RANGKAP BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANOKAP 69

lebar Hens efektl = b Sesuai dengan ketentuan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.5 ayat 1, rasio penulangan ak

' t tual ditentukan dengan menggunakan lebar badan balok (b.,) dan bukannya lebar flens
efektif (b). Ketentuan tersebut berlaku apabila badan balok dalam keadaan tertarik. Kare
na flens balok T menyediakan daerah tekan yang relatif luas, pada umumnya kapasitas
balok pendukung slstlm pial
momen tahanan ditentukan oleh luluhnya baja tulangan tarik. Maka dari itu, cukup aman
bila dilakukan anggapan bahwa baja tulangan tarik akan meluluh sebelum baton
mencapai regangan tekan batas dan kemudian hancur. Gaya tarik totaJ Nr pada keadaan
batas (uiti mit) dillitung dengan menggunakan persamaan berikut:
Gambar 3.3.
Balok T sebagai bagian sistem lantai Nr = As fy
Untuk proses analisis harus diketahui terlebih dahulu bentuk blok tegangan tekan. Se
Standar SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.1.10 memberikan pembatasan lebar flans perti halnya pada analisis balok persegi yang telah dibahas, gaya tekan total N0 harus se
efektif baJok T sebagai berikut: - imbang dan sama dengan gaya tarik total Nr- Bentuk blok tegangan takan harus
1) Labar flens afektif yang diperhitungkan tidak lebih dari seperempat_ anjng bent.ang sesuai
balok, sedangkan lebar efektif bagian plat yang menonjol di kedua s1s1 dan dengan luasan daerah baton tekan. Dengan demikian terdapat dua kemungkinan keada
balok.tldak lebih dari delapan kali tebal plat, dan jug a tidak lebih besar dari separoh an yang akan terjadi, blok tegangan tekan seluruhnya masuk di dalam daerah flens, atau
jarak bers1h de ngan balok di sebelahnya. Atau dengan kata lain, lebar flans efektif meliputi seluruh daerah flens ditambah sabagian lagi masuk di badan balok. Berdasarkan
yang diperhitung kan tidak lebih besar dan diambilnilai terkecildari nilai-nilai berikut: dua kemungkinan tersabut ditetapkan dua terminologi analisis, ialah balok Tpersegi dan
a seperempat panjang bentang balok, balok Tmumi. Perbedaan antara keduanya di samping parbedaan bentuk blok tegangan -
b. bw+ 16h,. nya adalah bahwa pada balok T persegi dengan lebar ffens etektif b dilakukan analisis
c. jarak dari pusat ke pusat antar-balok. . . da ng.an cara sama seperti balok persegi dengan lebar b (lebar flans), dengan
2) Untuk baJok yang hanya mempunyai f/ens pada satu sisi,lebar efekt1f ba1an plat yng mengabaikan daerah baton tertarik, samentara untuk balok T mumi dilaksanakan
menonjol yang diperhitungkan tidak Iebih besar dari seperduabelas pan1ang dengan memperhi tungkan blok tegangan tekan mencakup daerah kerja berbentuk huruf
bentang an balok, atau enam kalitebal plat, atau 112 jarak bersih dengan balok di T.
sebelahnya.
3) Untuk balok yang khusus dibentuk sebagai balok T dengan maksud untuk mendapat Contoh 3.1
kan tambahan luas daerah tekan, ketebalan flans tidak boleh lebih besar dari separoh Balok T yang merupakan bagian dari suatu sistem lantai dengan jarak spasi antar-balok
lebar balok, dan lebar f/enstotal tidak boleh lebih besar dari empat kalilebar balok. 800 rrim, b = =
800 mm, bw 250 mm, h, 50 mm, d= =
300 mm, As = 3029. Hitunglah kuat
momen tahanan MR apab11a fy = 400 MPa (mutu 40) dan fc '= 20 MPa.

3.2 A NALISIS BALOK T TERLENTUR P enyelesaian


Karena panjang bentangan tidak dike .ahi, lebar flans efektif ditentukan berdasarkan
Persyaratan daktilitas (liat) balok T sama dengan yang disyaratkan bagi bal eegi di te bal flens dan jarak antara baJok satu dengan lainnya.
mana rasio penulangan maksimum tidak boleh lebih besar dari 0,75 p,,. Tetap1 rnlai_ terse bw + 16h1= 250 + 16(50) = 1050 mm
- but tidaldah sama dengan nilai-nilai yang tercantum dalam tabel untuk baJok _perseg1, =
jarak antara balok ke balok 800 mm
kare na bentuk balok T memberikan daerah tekan khusus yang cenderung leb1h luas. Dengan demikian b yang digunakan = 800 mm
Untuk digunakan seba.gai alat bantu dalam perencanaan dan analisis diberikan variasi Oianggap bahwa tulangan baja tarik mencapai tegangan luluhnya, untuk kemudian
pendekat
menghitung Nr.
an nilai o, 75 Pb sebagaimana balok persegi yang dapat diikuti lebih lanjut pada Bab 3.3.
NT = As fy= 1982(400)10-3= 792,8 kN
Sedangkan nilai rasio penulangan minimum ditetapkan seperti yang sudah dikenal
Seandainya f/ens ditegangkan penuh seluruhnya hingga mencapai 0,85 fc', akan mem
daJam
berikan gaya tekan total: N0 =
(0,85fc' )h,b = 0,85(20)(50)(800)1 (}-3 =
680 kN
pembahasan terdahulu:
1,4
An1n =
fy
70 BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP BAS 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUl.ANGAN RANGKAP 71

' , y =30,4 v

r tb 17s,so
,k 250 J
Gambar 3.5.
Daerah tekan balok T

Momen tahanan da/amnominal (ideal) dapat ditentukan:


Gambar 3.4. Mn = Nr(z)= 793,2(0,2696) = 213,8 kNm
Sl<etsa Contoh 2.1
Dengan demikian momen tahanan MR adalah:
Karena 792,8 > 680, daerah blok tegangan tekan akan meliputi flans seluruhnya MR=' Mn= 0,8(213,8) = 171 kNm
ditam bah sebagian masuk ke daerah balok di bawah flens, dengan sisa gaya tekan Selanjutnya dilakukan pemeriksaan anggapan bahwa penampang akan hancur liat (dak
yang beker- ja adalah: N0 = 792,8 - 680 = 112,8 kN. tail), di mana tulangan baja akan meluluh terlebih dahulu.
Tampak bahwa daerah blok tegngan tekan masuk ke daerah balok di bawah flans, oleh Untuk balok T penyelesaiannya akan lebih mudah dengan cara membandingkan jumlah
karenanya dilakukan analisis balok Tmumi. luas tulangan tarik aktual terhadap 75% tulangan tarik perlu untuk mencapai keadaan se
Sisa gaya tekan tersebut di atas (Nr- N0) bekerja di daerah badan balok di bawah imbang (0,75Asb).
f/ens. Kedudukan garis netral pada keadaan seimbang didapat sebagai berikut:
Nr- No= (0,85fc' }bw (a- hr )

Penyelesaian untuk a akan didapat:


= 600 (d) 600 (300
112 8 180 mm
. Nr - No 76,50 )
mm Cb f y +600 400+600
a = (0,85 fc' }bw + hr -0,85(20)(250 } +50

Pemeriksaan Pm 1 Dengan menggunakan hubungan yang sudah dikenal pada balok persegi a = 0,85 c,
,,, yang kurang lebih dapat juga diterapkan untuk balok J, I'
Anln = 1,4 = =0 ab = 0,85(180) = 153 1 11

0035 mm
fy 400 ,
Maka, gaya tekan total dalam keadaan seimbang Nobt adalah: 1 1
1982
As 0,0264 >0,0035 Nob = 0,85fc'{b(hr) +bw ( ab- hr)}
Paktuat = bwd = (250)(3)0)
= 0,85(20){800(50) + 250(153-50)}(10)
Untuk menghitung besarnya kopel momen dalam, perlu diketahui terlebih dahulu jarak Ie = 1117,75 kN = Nrb
ngan antara gaya N0 dan Nr. Kedudukan Nr adalah-tepat pada tilik pusat luas tulangan ta Juga dikarenakan Nrb = Asb fy. maka:
rik sedangkan N 0 pada titik pusat luasan daerah tekan (Gambar 3.5). Dengan mengacu A = 1117, 75 = 2794 mm 2
pa da garis tepi sisi atas penampang, letak titik pusat luasan terhadap tepi atas dapat Sb 40Q . .
ditetap
yang mana adalah jumlah luas tulangan baja tarik yang dibutuhkan untuk mencapai keada
kan sebagai berikut:
an seimbang.
- }: (Ay) Sedangkan, As(maks) = 0,75 Asb = 0,75 (2794) = 2096 mm2 > 1983 mm2
Y - }:A
A 1 = 800(50) = 40000 mm2 A 2 = 250(26,5) = 6625 mm2
40000(25) +6625 (50+13.25) , mm
30 4
y 40000 + 6625
Dengan demikian kedudukan N 0 telah ditentukan, maka lengan kopel momen:
z=d -y = 300 - 30,4 = 269,6 mm
72 BAS 3 BALOK T DAN BAL.OK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP
BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP 73

3.3 PEMBATASAN PENULANGAN TARIK BALOK-T


Daftar 3-1
Apabila diamati langkah-langkah analisis pada pemeriksaan hancur daktail (liat) Contoh Nilai-nilai A._ lJ11lJk Balok T
3.1 sebenamya didasarkan atas hubungan-hubungan sebagai berikut:
600
1) Co = fy + 600(d) fc' (MPa) fy {MPa) Astm s} {rrvTI2)

2) So = 0,85 cb (dimana /11 = 0,85) 17 240 0,0452K1 dimana :


3) Nob= 0,85 fc'{bh,+ bw(CltJ - h1)}
300
350
0,0362K2
0,0310KJ .
K 3 = h,[b+ bw{0;d}-bw]
4) Nob= Nn,= Asb fy 400 0 0271K"
5) As(maJcs)= 0,75 Asb
20 240 0,0532K1
Untuk mencari As(maJcsJ dengan kombinasi persamaan-persamaan di atas,
300 0,0425K2
didapat kan persamaan sebagai berikut: 350 0,0365K3
_ 0,75 NDb 400 0,0319K"
As(maJcs J
fy . 25 240 0,066SK1 K4 = hr[b+bw {'5 d}- bw]
= O,?S(O 85 f ')[bh +{{3,&XJ (d) h,}bw ]
300 0,0532K2
fy ' c f &JO +fy
350
400
0,0456K3
0,0399K"
d}-bw]
K 5 =h.[b+b w{' S

K =hr [b+bw f0 d}- bw]


0,638 fc' ht [ b+bw {( f3' ) 600 d _ 1}] 30 240 0,0798K1

l
6
fy h, 600 + fy 300 0,0638K2
Dengan memasukkan berbagai pasangan nilai kombinasi fc' dan fY' didapat nilai As(maksJ
dalam bentuk daftar seperti yang tersusun pada Dattar 3-
350
400
0,0547K3
0,0479K" 0,512 d}
1. 35 240 0,0930Ks Kl = hr [b +bw h, -bw
300 0,0744Ke {
Kembali pada Contoh 3.1, dengan menggunakan persamaan tersebut di atas dihi
tung As<maJcsJ yang diijinkan oleh peraturan:
350
400
0,0638K,
0,0558Ks
K. 8 = ht [b+bw {0,4h86, d} -bw l
A,1,,.,..) =0,0319 h1 [b + bw { h5 (d)}-bw]
=0.0319(5o)[aoo + 250{ 0 5i) }-250] Conteh 3.2

= 1,55(800 + 515) Untuk balok T dengan spasi jarak 1500.mm, b = 250 mm, d = 610 mm, h,= 100 mm, hi
= 2097 mm2:: 2096 mm2 tunglah kuat momen tahanan MR> apibila fc' = 20 MPa , fy = 300 MPa, As = 6029 (dua
Nilai tersebut adalah luas penampang tulangan tarik yang diijinkan dipasang sehubungan /apis). Panjang bentangan balok 8 m.
dengan persyaratan daktilitas struktur. Karena nilainya masih lebih besar dari luas
penam pang tulangan aktual As terpasang (2097 > 1983), dijamin akan tercapai Penyelesaian
parsyaratan han- cur liat (daktail) sasuai dengan peraturan. Tampak bahwa nilai Hitung lebar flens efektif :
As<ma1csJ Yang didapat sebe namya tidak barbeda jauh dengan nilai 0,75 Ast>- saperempat panjang bentang = 114(8) = 2 m = 2000 mm
bw+ 16hr= 250 + 16(100) = 1850 mm
jarak antara balok ke balok = 1500 mm
maka digunakan b = 1500 mm
74 BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP
BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP 76

Nr = As fy= 3963(300)1Q-3 = 1189,8 kN


Berikut diberikan ikhtisar analisis penampang baJok T terlentur, sebagai berikut:
Berdasarkan luasnya, flens mampu menyediakan gaya tekan sebesar: 1) Tentukan lebar f/ens efektif menggunakan ketentuan SK SNI T-15-1991-03 pasal
No = (0,85 fc' )bh1= 0,8?(20)(1500)(100)(10)-3 = 2550 kN
Karena 2550 > 1189,8 f/ensmenyed_i akan daerah tekan cukup luas sedemikian ' 3.1.10.
2) Gunakan anggapan bahwa tulangan bajatarik telah meluluh, untuk kemudian menghi-
sehingga blok tegangan tekan seluruhnya masih berada di dalamnya. Maka balok
tunggaya tarik total, Afr= As fy
berlaku sebagai balok T persegi dengan lebar b =1500 mm.
3) Hitung gaya tekan yang tersedia apabila hanya daerah flens saja yang menyediakan
Untuk balok demiki. meskipun untuk menentukan MR dianggap sebagai balok T per
segi, ada kemungkinan pada waktu dilakukan pemeriksaan As maksimuni, balok tersebut
daerah tekan, N0 =
0.8S/c'bh1
4) Apabila Nr > N0, balok berperilaku sebagai balok T mumi dan selisih gaya tekan akan
berperilaku sebagai balok T mumi pada keadaan seimbang. ditampung di sebagian daerah badan baJok di bawah flens. Sedangkan bila Nr < N'
Pemariksaan Pmi,,. berperilaku sebagai balok persegi dengan lebar b, atau disebut ba/ok T persegi.
1,4 1,4
Pmln =-;;= =0,0047
300 ,Apabila dihitung sebagai balok T mumi, langkah selanjutnya adalah sebagai berikut:
As 3963 5) Tentukan letak batas tepi bawah blok tangan tekan di daerah badan balok di bawah
Ps.Jdua1 = bwd = ( 10 ) 0,0260 >0,0047 ffens.
250 6
Rasia penulangan P.!kta yang akan digunakan untuk menghitung k, Nr - No
a (0,85 fc' )bw +hr
_ As 3963 O 0043
P - b d 1500(610) ' 6) Peliksa Pmim
1,4 d As
Harap menjadikan perh.atian, dalam kasus ini diperlukan sikap hati-hati untuk tidak men Pmln =-,- an Ps.ktual =b d
y w
campur-adukkan dua pengertian yang berbeda antara rasio penulangan aktual yang di
Pa1ctua1harus lebih besar dari Pmin-
gunakan untuk menghitung kuat momen dan yang digunakan untuk membandingkan
nya dengan Pmin Kedua rasio penulangan dihitung dengan cara dan penggunaan yang 7) Tentukan letak titik pusat daerah tekan total dengan menggunakan hubungan
berbeda. atau persamaan sebagai berikut:
-
Oengan hasil p = 0,0043 gunakanlah Tabel A-15 untuk mendapatkan nilai k. Y -;- ): A
Dari tabel didapat kparlu = 1,2409 MPa. kemudian, z= d - y
MR = i? bd 2k= 0,8(1500)(610)2(1,2409)(10)-<> 8) Hitung momen tahanan, MR= tp Nrf..z) atau q,N.,{z)
= 554,1 kNm 9) Pemeriksaan persyaratan daktilitas menggunakan ungkapan As(maksJ dari Daftar 3-1,
Periksalah daktilitas balok dengap membandingkan antara nilai A 5 dengan A aktuaJ, As(maksJ h_arus lebih besar dari A 8aktaJ.
{0,567 (d) )}
As( maks ) =0,0425 ht b+ bw
l h, -1 Sedangkan apabila dihitung sebagai balok T persegi, langkahnya adalah sebagai berikut:
{
0 5 610 14 As
= o,0425 (100>{1fOO + 2so( > 5) Periksa Pmim
1)} t
Pmln = -f- dan Psktual = bd
=8987 mm2 y w

As aktual = 3963 mm2, karena 8987 > 3963 balok akan berperilaku daktail (liat) dan PaktuaJ harus lebih besar dari Pm1n-

seperti anggapan pada awaJ perhitungan bahwa tu!angan baja tarik sudah meluluh 6) Hitung rasio penulangan untuk kemudian menentukan k,
pada waktu terjadi momen ultimit. As
p= bd
76 BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUlANGAN AANGKAP 7) Mengacu pada Tabel pada Apendiks A, dicfapatkan nilai k yang diperlukan ntuk nilai
p yang didapat dari langkah 6.
8) Hitung mome tahanan, MR= ; bd2k
9) Pemeriksaan persyaratan daktilitas dengan menggunakan ungkapan As(maksJ darl BAS 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUl.ANGAN RANGKAP 77
Oaftar 3-1, di mana As(maksJ harus lebih besar dari As- .

Apabila pemeriksaan batasan tulangan maksimum (langkah 9) menghasilkan As le Penyeleaaian


bih besar dari As(maksr momen tahanan MR dihitung dengan menggunakan As(maks) yang
Labar flens efektif diperhitungkan 170 mm. _
dalam hal ini disebut sebagai As efektif. Anggaplah bahwa tulangan bajatarik akan melutuh, hitung N,,
Nr = As fy= 4071,5(300)1<r'= 1221,4 kN
Hitung gaya tekan di daerah antara dua lekukan seluas 170 x 100 mm2,
3.4 ANALISI S BALOK
N0 = (0,85 fc' )hr b = 0,85(20)(100)(170)1Q-3
BUKA N PERSEGI EMPAT
= 289 kN
Karena 1221,4 > 289 maka blok tegru:igan tekan masih membutuhkan sebagian daerah di
bawah lekukan untuk menampung selisih tegangan tekan yang besamya adaJah:
1221,4 - 289 = 932,4 kN
Selisih tegangan tekan tersabut akan dicakup oleh daerah tekan di bawah lekukan, per
hatikan Gambar 3.7, sedaJam;
a Nr - No +h =1 932,4 (1-0 )3 +100
Balok-balok dengan bentuk penampang selain persagi dan huruf T juga sering diguna (0,85 fc' ) 0,85( 20 )( 450 )
bw
kan khususnya untuk struktur yang manggunakan sistem pracetak. Sistem pracetak = 221,9 mm dari tap( atas balok
membutuhkan ruang-ruang tertentu untuk mengatur penempatan dan keserasian antara Pemeriksaan Pmlnr
komponen satu dengan lainnya. Pendekatan analisis sama dengan yang telah dibahas, Pm1n = = 1,4 = 0 0047
yaitu didasarkan pada konsep kopel momen dalam, hanya saja bentuk blok tegangan ba fy 300 '
ton tekan menyesuaikan dengan bentuk penampang balok. Sehingga pada prinsipnya 4071 5
= = = 0 0148 >0 0047
metode analisis sama dengan yang digunakan pada balok Tmumi. Paktua/ bwd (450)( 610 ) ' '
Tentukan kedudukan gaya tekan N0 pada titik berat daerah tekan, dan mengacu pada
Conteh 3.3 Gambar 3.8, titik pusat tersebut terletak pada jarak y dari tepi atas penarnpang (garis acu
Hitunglah kuat momen tahanan MR untuk balok yang tergambar pada Gambar 3.6, le an).
kukan yang tampak pada penampang balok kemungkinan disediakan untuk tempat me y = :l(Ay)
nopang plat pracetak, fy =300 MPa (mutu 30), fc 20 MPa. ):A
A 1 = 170(100) = 17000 mm2 A 2 = 121,9(450) = 54855 mm2
140170140 II

610

Gambar 3.7.
450 Daerah beton tekan

Gambar 3.6.
Sketsa Contoh 3.3
78 BAB 3 BALOK T DAH BALOK PEASEGI BERTULANGAN BAB 3 BALOK T DAH BALOK PERSEGI BERTUl..ANGAN RANGKAP 79
RANGKAP

7
mm Keharusan untuk mempertimbangkan segi-sagi pelaksanaan ataupun hubungan dengan
11000(50) +54ass {10o+i (121,9)} _
komponan struktur lainnya mungkin juga mempengaruhi penentuan lebar badan balok
13
y 40000+54855 . 4,

dengan diperolehnya nilai y tersebut, maka lengan momen z misalnya ukuran kolom ataupun sistam pelaksanaan pembuatan acuan (cetakan). '
dihitung:
z = d- Y= 610 - 134,7 = 475,3 mm Contoh 3.4.
Menghitung kapasitas momen tahanan ldeaJ fv1n dan momen tahanan MF+ Rencanakan balok T untuk sistem lantai dengan tebal plat lantai 100 mm didukung oleh
Mn= Ny(z) = 1221,4(0,4753) = 580,53 kNm balok-ba/ok berjajar yang masing-masing berjarak 2 m dari sumbu ke sumbu, panjang
MR= </I Mn= 0,8(580,53) = 464,42 kNm bentangan
20 balok 7m, lebar balok bw =300 mm, d =480 mm, h = 550 mm, baton fc' =
Memeriksa persyaratan batas penulangan As(maks) (lihat Tabet 3-1), MPa, fy = 400 MPa (mutu 40). Momen karena beban guna MoL =85 kNm (termasuk berat
=
sistem lantai) dan MLL 170 kNm.
As('"""'! = 0,0425 ht { b+ bw( O , l d -1)}
= 0,0425 (100) 170 +
450
0 567 (610)
- Penyelesaian
)}
bentang struk tur balok menerus. Sedangkan untuk lebar flens efektif (b), seperti sudah
{ ( ' 100 1
dikemukakan di depan, standar SK SNI T-15-1991-03 memberikan batasan mengenai lebar
= 5425 mm2 > 4071,5 mm2
tersebut.
Harap diperhatikan bahwa pada langkah terakhir tersebut menggunakan persamaan dari
Tabel 3-1 dengan mengingat bahwa daerah tekan di atas lekukan bersifat dan dianggap
berperilaku sama dengan f/ens balok T.

3 .5 PERENCANA AN BALOK T

Dalam merencanakan balok T, pada langkah awal disarankan untuk menentukan apakah
balok tersebut berperilaku sebagai balok Tpersegi atau balok Tmurni. Apabila ditentukan
sebagai balok T persegi, maka prosedur P.erencanaan sama dengan yang dilakukan
pada perencanaan balok persegi bertulangan tarik dengan ukuran-ukuran penampang
yang te lah diketahui (lihat bab 2.10). Sedangkan apabila sebagai balok Tmumi
perencanaan dila kukan dengan cara perkiraan yang kemudian diikuti dengan analisis.
Berdasarkan pada bentuknya, umumnya flens mMyediakan daerah tekan lebih dari
cukup sehingga blok tegangan tekan seluruhnya terletak di dalam daerah flens.
Sehingga hampir s_elalu di
jumpai bahwa balok T umumnya dianalisa atau direncanakan sebagai balok :r persegi.
Perencanaan balok T adalah proses menentukan dimensi tebal dan lebar flens, le
bar dan tinggi efektif badan balok, dan luas tulangan baja tarik. Dalam perencanaan pe
nampang balok T yang mendukung momen lentur positif umumnya sebagian dari
kelima bilangan sudah diketahui terlebih dahulu. Penentuan tebal flens biasanya tidak
lepasdari perencanaan struktur plat, sedangkan dimensi balok terkait dengan kebutuhan
menahan gaya geser dan momen lentur yang timbul pada dukungan dan di tengah
Menentukan momen rencana, berarti dasar blok tegang an tekan berimpit dengan dasar flens seperti tampak pada
Mu= 1,2 MoL + 1,6 MtL = 1,2(85) + 1,6(170) = 374 kNm. Gambar 3.8.
Menentukan tinggi efektif balok, MR =t/J (0,85 fc' )bh,(d -112.h,)
d =h- 70 mm = 550 - 70 = 480 mm = 0,8(0',85)(20)(1750)( 100){480-112(100)}(1 Q)-Q
= 1023,4 kNm
Lebar flens etektif,
seperempat panjang bentangan = 114{7000) = 1750 mm
bw+ 16 h1= 300 +16(100) = 1900 mm
jarak antar-balok = 2000 mm 100

gunakan lebar flens efektif b = 1750 mm


Selanjutnya adalah menentukan apakah baiok akan berperilaku sebagai balok T
murni atau persegi dengan cara menghitung momen tahanan MRt dan dengan
menganggap se luruh flens berada di daerah tekan. Dengan anggapan tersebut

Gambar 3.8. Balol<: T - Conteh 3.4


80 BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTlA..ANG.AH RANOKAP 81

Karena 1023,4 > 374, maka luasan flens efektif total tidak perlu seluruhnya sebagai Contoh 3.5.
dae
Rencanakan balok T dengan b =
650 mm, bw = 300 mm, h = 650, hr= 90 mm. Anggap
rah tekan dan dengan demildan balok T diperhitungkan berperilaku sebagai bal()k bahwa /ebar flans efektif yang diberikan dapat diterima Balok T akan mendukung
persegi dengan lebar b =
1750 mm.
Rencanakan sebagai balok persegi dengan lebar b dan tinggi efektif d, momen rencana total Mu = 440 kNm, f0 ' = 20 MPa, fy = 400 MPa, gunakanlah
selimut
374 1 6
beton pelindung tulangan 40 mm dan sengkang dari batang tulangait 010.
k perfu= Mu ( O ) 1 1595
MPa
2 2 Penyelesaian
; bd 0,8(175q(480) '

Dari Tabel A-27, piiihlah rasio penulangan yang sesuai dengan nilai k = 1,1595
Moman rencana total Mu =
440 kNm (diketahui).
MPa, diperoleh: p= 0,0030. Kedalaman efektif, d = 550 - 70 = 480
Sering terjadi bahwa nilai rasio penulangan balok T untuk kuat momen lebih rendah
mm Labar f/ensefektif, b = 650 mm
(diketahui).
dari Pm1n- tetapi masih dapat digunakan.
Menentukan MR dengan anggapan flens seluruhnya berada dalam daerah tekan,
Hitung luas tulangan baja tarik yang dibutuhkan,
MR = l/>(0,85fc' )bh, (d- 112.h,)
As= p bd= 0,0030(1750)(480) = 2520 mm2 = 0,8(0,85)(20)(650)(90)(480 -112(90)1(10 = 346 kNm
Kemudian memilih batang tulangan tarik, gunakan 4 tulangan 029 (As= 2642 mm2). MR< Mw maka balok akan berperilaku sebagai balok Tmumi.
bwminimum =
303 mm:::: 300 mm
Hitunglah perkiraan jarak lengan kopel momen dalam,
Periksa d aktual,
d = 550 -40 - 10 -112(29) = 486 mm >480 mm z = d -112h,= 480 -112(90) = 435 mm
Periksa Pmln dan As(maa.r _ J!!.L _
Hitunglah As yang diperlukan,
14
Pm1n = = = 0 0035

' 6
) 0,0181 440(10)
fy 400 ' >0,0035 3161
As 2642 As - q, fyz - 0,8( 400)( 435) rnnz
PaktuaJ = bwd = ( 00)(
Tentukan batang tulangan baja tarik, gunakan 2036 dan 1040 (As total = 3292,4 mm2),
3 486 bw minimum = 288 mm.
Hitung dalam efektif aktualbalok,
Asr..- 1 = 0,0319h1 {b+b,.(0,5 (d) 1) } d = 550 - 40 - 5 - 112(40) = 485 mm
gunakan d = 485 mm
= 0,0019(100){1750 +300(0,S%4B6) -1) Pemeriksaan kapasitas balok dengan analisis MR :
} Lebar flens efektif telah ditetapkan, b = 650 mm
Oengan menganggap bahwa tulangan baja tarik meluluh, maka gaya tarik Nr adalah:
= 6997 nm2>2642 nm2
Nr = A 5 fy = 3292,4(400)(10)-3= 1317 kN
Dengan menganggap seluruh flens sebgai daerah tekan, makagaya tekan oleh flens:
N0 =
(0,85fc' )bh 1 =
0;85(20)(650)(90)(10)-3 = 9B4,5 kN < 1317 kN
Karena 1317 > 994,5 maka blok tegangan tekan masuk ke daerah badan balok di
bawah flens sehingga monumpung selisih gaya tekan sebesar: 1317 - 994,5 = 322,5
kN. Seli sih gaya tekan tersobut bokerj di daerah badan baJok di bawah flens.
Oengan demikian
analisis balok dilakuknn uubagal balok Tmumi sesuai dengan anggapan semula.
Kedalaman blok tounngnn tnknn total, a. seperti pada Gambar 3.10 dapat dihitung seba-
gai berikut, 3
Gambar 3.9. Sketsa perencanaan Conteh 3.4 N1 N,, 322,5 (10)
a ,.., ---...._ .11, . +90 =153 mm
(O,U !1 I,,')II. 0, ll!J( 20 )( 300 )
BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUlANGAN BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAH AANOKAf' 83
RANGKAP
82 BAS
3

b-650 1'

bw =300

Gambar 3.10. Oaerah tekan Contoh 3.5

Memeriksa
Pmin. - = 1 4 = 0,0035
Pmin - fy 400 Gambar 3.11. Sketsa rancangan Contoh 3.5

- = 3292.4 = 0,0226 >0,0035


Paktua/ - b d (300 }( 485 ) . . berbagai macam bentuk balok karena bagaimanapun perkiraan rencana tersebut selalu di
w ggunakan gans tep1 atas ikuti dan diperiksa dengan proses analisis. Tetapi secara khusus metoda tersebut bekerja
Menentukan letak titik pusat daerah tekan dengan men
penam- pang sebagai acuan,

- 2: (Ay) dengan baik untuk perencanaan balok T yang bentuk dasamya sedemikian sehingga titik
y - }:A pusat blok tegangan tekan berlokasi di tempat yang tidak jauh dari tengah-tengah flens
sehingga mudah untuk memperkirakan nilai z.
A '= 650(90) = 58500 m.':12 A.e= 300(63) = 18900 mm2
. 1 Suatu metode alternatif lain dalam merencana balok T murni ialah dengan cara
58500(45) +18900 90+ 2 (63) menghitung kebutuhan tulangan baja tarik untuk dua kopel momen dalam secara terpi

y = ------ -=----= 63,7


58500+1 8900
sah. Kopel momen yang terdiri dari pasangan gaya tekan di daerah flens dengan gaya
tarik pada tulangan, dan pasangan gaya tekan di daerah badan balok di bawah flens
z = d - y= 485 - 63,7 = 421,3 mm
den gan gaya tarik pada tulangan. Kemudian As yang diperlukan dihitung, yang
Menghituna momen tahanan MR,
merupakan jumlah kebutuhan tulangan baja tarik dalam membentuk keseimbangan
. - M R = q,NT_ z= Ok,8(13) 0 o : udapat disimpulkan bahwa berdasarkan kedua kopel momen tersebut. Metode demikian sama dengan pendekatan
Seoerti yang sudah d1tentu an, u - .
yang digu nakan pada perencanaan balok bertulangan tekan atau bertulangan rangkap.
racangan untuk momen lentur telah memenuh1
syarat. Memeriksa As(maksJ.
Dari segenap uraian di atas dapat diringkas langkah-langkah atau ikhtisar peren -
5
As( maks = 0,0319 h, {b+ bw ( o. (d ) canaan balok T sebagai berikut:
1) Menghitung momen rencana Mu-
-1)} 2) Menetapkan tinggi efektif, d = h - 70 mm.
0 51
= 0,0319(90 ){650 + 48S) 3) Menetapkan lebar flons efektif menggunakan ketentuan SK SNI T-15-1991-03 pasal
300 ( ' -1)}

= 3372 mm2 >3292 ,4 nm2 . t d. akan baik untuk balok Tmur-


z Metode perkiraan seperti bahasan d1 atas dapa igun rk"1rakan nilai yang
d"lakukan dengan mempe
Sketsa rancangannya dapat dilihat pada Gambar 3.11.
ni maupun persegi. Pada pelaksanaanknya .; . A Cara tersebut dapat digunakan untuk
kernudian digunakan untuk menentu an rn at s
3.1.10. MR= ;(0,85 f,, )1111, ( <I ir.11,)
I

4) Menghitung momon tuhanun M11 dengan anggapan bahwa seluruh daerah 5) Apabila MR > M"' bolok nkun IJ111 pu11l1ku :rnbagai balok Tpersegi dengan lebar b,
flens efek tif untuk tekan. dan apabila MR< Mu balok hurpmllnhu t11luic1ai ba.lok T murni.
BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUl.ANGAN RANGKAP 85
... OK T DAN BALOK PERSEGI eeRTIJlANGAN
B AANGKAP
8 4 BA8 ,_
3

1 kah lanjutnya adalah sebagai berikut:


Apabila dihitung sebagai blok T perseg1 gd nilai b dan d yang sudah diketahui, Apabila penampang tersebut dikehendaki untuk menopang beban yang lebih besar dari
6) Merencanakan sebgaa blok T perseg1 eng kapasitasnya, sedangkan dilain pihak seringkali pertimbangan teknis pelaksanaan dan
selanjutnya mengh1tung k perlu. ar sitektural membatasi dimensi balok, maka diperiukan usaha-usaha lain untuk
Mu memperbe sar kuat momen penampang balok yang sudah tertentu dimensinya tersebut.
k perlu=bd2
4' 1 k rl ang didapat Apabila hal demikian yang dihadapi, SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.3 ayat 4
7) OariTabel Apendiks A menentukan nilai P berdasarkan m a1 pe uy . memperbolehkan pe nambahan tulangan baja tarik lebih dari batas nilai p maksimum
8) Menghitung, As perlu = d.. . lok Periksalah d aktual bersamaan dengan penam bahan tulangan baja di daerah tekan penampang bafok.
dibanding- Hasilnya adalah balok dengan pe nulangan rangkap di mana tulangan baja tarik
9) Pilih batang tulangan aJa tank d penksa eb:eb hi d yang dihitung (teoretis) dipasang di daarah tarik dan tulangan tekan di daerah tekan. Pada keadaan damikian
berarti tulangan baja tekan bermanfaat untuk memperbesar kekuatan balok.
berarti
kan dengan dyang d1tetapan, b1la d a_J<t_u m ) Apabila d aktual kurang dari d Akan tetapi, dari barbagai penggunaan tulangan tekan dangan tujuan untuk pe
teo- ningkatan kuat lentur suatu penampang terbukti marupakan cara yang kurang efisien
rancangan agak konservat1f (pada pos1s1 aman . harus diulang ter utama dari segi ekonomi baja tulangan dan pelaksanaannya dibandingkan dengan
retis, berarti rancangan tidak aman dan kemungkinan perencanaan . manfa at yang dapat dicapai. Dengan usaha mempertahankan dimensi balok tetap
1O) Memeriksa Pmlr> kecil pada umumnya akan mengundang masalah lendutan dan periunya menambah
1,4 - jumlah tulangan geser pada daerah dekat tumpuan, sehingga akan memperumit
Pmln =-,- dan Pa1<1ual - b d
y w pelaksanaan pemasang annya. Penambahan penulangan tekan dengan tujuan utama
lebih besar dari Pm11> Apabila tidak, dirancang ulang. untuk memperbesar kuat lentur penampang umumnya jarang dilakukan, kecuali apabila
Pa1<1ua1harUs d Tabel 3-1 sangat tarpaksa.
11) Pemeriksaan persyaratan daktilitas mnggunakan ungkapan As(maks) an .
Untuk balok dari suatu struktur bentang menerus, penambahan dan pemasangan
A s(maks) harus lebih besar dan As aktual. tulangan pokok di daerah tekan pada mulanya didasarkan pada pertimbangan teknis pe
12) Berikan skatsa rancangan. lakSanaan sebagai alasan utamanya. Pada Gambar 3.12 tampak bahwa moman positif
. Tmum1,
k h lang
yelesaiannya sebagai ter jadi di A dan C sehingga tulangan tarik pokok ditempatkan di bagian bawah bafok,
berikut: Apabila dihitung sebagai balok a pen
6) Menentukan z= d - 1!2.ht . . sedang kan pada titik B dan D timbul momen negatif sehingga dasar balok menjadi
7) Menghitung As yang diperlukan berdasarkan has1l dart langkah 6, daerah tekan dan penulangan baja tarik ditempatkan di bagian atas balok. Apabila untuk
Mu suatu penam pang balok tertentu momen negatif perletakan sedemikian basar,
As = 4'
fy z pemasangan tulangan
8) Memilih batang tulangan tarik, dan pariksa labar balok. . . tarik daerah perletakan (posisinya di atas) harus memperhatikan selimut momen negatif
9) Menentukan tinggi
. al (d -J<tu-"' dan 1-kukan anahsis balok.
efektlfaktu a ' a11, d. A e c 0 beban meraia

1o) Berikan sketsa


rancangan.

a.s BALOK PERSEGI BERTULANGAN RNGKAP


. n den an kuat bahan tertentu, kuat momen atau mo- Pmaks= 0,75pb
Untuk suatu panampang kofl!pone g kan nilai k yang sesuai dengan
nilai h maksimum dihitung dengan mengguna . . .
men ta a a;;eangkutan. Seperti telah diketahui, nilai k merupakan f ungs1 dan ras10 pe
Pmaks y g aks. ntuk penampang balok baton bertulang ber-
nulangan p, sedangkan batas p m umu
tulangan tarik saja telah ditetapkan, yrutu:
diagram momen
Gambar 3.12. Balok bentang menerus
' '1"'11
! f

BAB 3 BALOK T DAN BALOK PEASEGI BERTULANGAN RANGKAP 87


8 6 BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN
RANGKAP

3. ANALISIS BALOK TERLENTUR


dengan memberi panjang penyaluran secukupnya. Untuk itu, pemasangan 7 BERTULANGAN RANGKA_P (KONDISI I)
umumnya diatur dengan meneruskan sebagian tulangan tarik tersebut ke sepanjang
bentang balok
menerobos melewati daerah tekan jienampang bagian tengah bentang. Dengan teknik Analisis lentur balok persegi bertulan an r . _ .
menyangkut penentuan kuat n . JI angkap epert1 d11elaskan dengan Gambar 3 14
pemasangan seperti tersebut balok menjadi bertulangan rangkap. d' A A f dan , omm entur Mn suatu penampang dengan nilal-nilal b. d
Kecuali memperhatikan panjang penyaluran yang diperiukan, tulangan-tulangan
. pokok memanjang tersebut juga harus terikat baik dengan sengkailg tertutup untuk men
'
untuk 5' s c
analisis balok 'ybaton k
yangbartulangan
sudah tertentu.
ran Anggapan _ anggapan dasar yang digunakan
langan tarik saja. Hanya ada satu tambah ::pad ndasamya s_arn deng_an baJok
cegah terjadinya tekuk tulangan tekan. Seperti yang terjadi pada komponen struktur te bertu: tulangan baja tekan (f '} k ggap yang panting 1alah bahwa
kan, balok tertentu juga cenderung akan mengalami peristiwa tekuk seperti terlihat pada tegangan
Gambar 3.13. Apabila terjadi tekuk, bersamaan dengan itu selimut baton akan mengalami s merupa an fungsi dari regang
an baja tekan. Seperti pembahasan terdahu annya epat paa titik barat tulang-
pecah lepas. Sehingga peraturan mengharuskan untuk memasang dan mengikat erat tu sampai pada tingkat di m lu, tulangan ba1a berpenlaku elastik
langan pokok membentuk rangka kokoh seperti yang dikerjakan untuk tulangan pokok o
hanya ana regangannya mencapai luluh ( )
regangan tekan baja (es') sama atau lebih besar d . ey . engan kata lain, apabila
memanjang komponen struktur kolom (dibahas pada Bab 10). Sesuai dengan SK SNIT-
batas maksimum tegangan tekan baja (f. , ) d. b regangan luluhnya (ey)
15-1991-03 pasal 3.16.11, pemasangan sengkang diharuskan pada seluruh daerah di makasebagai Sedangkan apabila regangan tekan b as an iam. I ama dengan
mana penulangan tekan digunakan. Apabila sabagai tulangan pokok tekan mengguna tegangan luluhnya Ur> tegangan tekan baja - f. ,= E 'E d. Bl YE g teriad1 kurang
kan batang 032 atau lebih kecil, paling tidak sengkang yang dipakai adalah batang 010, dari regangan luluhnya maka
sedangkan untuk tulangan pokok tekan 036 atau lebih besar menggunakan sengkang s s s Imana s adalah modulus ela f t b
masing-masing keadaan (kondisi) tersebut ter antun . . _s 1s1_as aja. Tercapainya
batang 012. Jarak antar-sengkang tidak boleh lebih besar dari nilai terkecil dari: 16 kali di Oengan dua bahan be b d g g dan pos1s1 gans netral penampang.
r e a yang akan menahan gaya tek N b
ameter batang tulangan memanjang, 48 kali diameter batang tulangan sengkang, atau
panjang sisi terpendek penampang balok. Sebagai altematif, dapat juga digunakan ba-
tekan, gaya takan total terbagi menjadi dua kom . an ' aton dan baja
baton No, dan yang ditahan oleh t I _ponen ialah gaya tekan yang ditahan
tang rangkai las pabrik dengan luas yang setara. oleh
u angan ba1a tekan N Sah d. d
Penambahan tulangan tekan juga lebih sering dikaitkan dengan pengendalian len- momen tahanan dalam total dari balok di erhit -:e . mgga ' alam analisis
dutan (defleksi). Pada Bab 8 dapat diikuti bahwa penulangan tekan memberikan bantuan pel momen dalam, yaitu kopel pasan anpb ungkan terdin dan dua bagian atau dua ko-
yang cukup berarti dalam usaha mengurangi lendutan jangka waktu panjanQ akibat peri- sangan tulangan baja tekan dengan ; b ehton takan dengan tulangan baja tarik dan pa-
d' am a an tulangan baja tarik K d k
laku rangkak dan susut. cuam saperti tergambar pada Gambar 3 14 K . e ua ope/ momen
merupakan penjumlahan kedua ko I . . uat momen total balok bartulangan
rangkap t k. pe momen dalam dengan m b .
e an yang d1tempati oleh tulangan baja tekan. snga a1kan luas baton

d d-d I
I
Gambar 3.13. Model kerusakan pada daerah tekan
Nr2
--+..
=As; fy
kopel nlOOl0ll
baja-baja
penampang (d)
polongan
(a)
Onmhnr :t 14 l\1111l1a; l1;1lok bertulangan rangkap
-,,...., T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN
BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUl.ANGAH RANGKAP 89
RANGKAP
8 8 BAS
3

.dihitung
pasangan kopel tulangan baja tekan dan baja tarik tambahan Dengan didapatkannya nifai a, maka letak (posisi) garis netral dapat ditentukan de

Kuat momen dan


. .. ngan menggunakan rumus a= fJtc dan kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap kebe
sebagai berikut: M - AL_ z naran anggapan-anggapan yang digunakan.
n2- ,.T2 2 Kasus di mana kedua penulangan baik tekan maupun tarik telah meluluh
tulangan baja tarik telah meluluh, sehingga f s =
Dengan menganggap . sebelum atau paling tidak pada saat regangan baton tekan mencapai 0,003 digolongkan
fr: sebagai kondisi I , lihat Contoh 3.6. Sedangkan kasus di mana tulangan baja tarik
.'. Mn2= A 82 fy ( d- d' maluiuh tetapi tu
K eimbangan gaya-gaya: l:(H) = 0, sehingga No2 Nra maka: langan baja tekan belum juga meluluh pada saat regangan baton tekan mencapai
es . As 'Is'= A52 fy f '- f
Apabila dianggap tulangan baja tekan sudah meluluh, seh. ga Y 0,003 digolongkan sebagai kondisi II , lihat Bab 3.8 dan Contoh 3.7.
As 'fy = A52 mg .s - .
Contoh 3.6.
fy
Hitung kuat momen tahanan MR untuk balok dengan b = 300 mm, d = 510 mm, d' = 65
di mana As'=
As2

aka Mn2= As 'fy (d-d) b t 'k di mm, h =600 mm,A5 =6D32 (dua lapis), As'= 2016, fc'=20 MPa, fy= 300 MPa.
edangkan kuat momen dari pasangan kopel gaya baton tekan dan tulangan aia an -
hitung sebagai barikut: Penyelesaian
Mn1 = Nn Zt Dianggap bahwa semua penulangan telah meluluh, maka fs'= fy dan fs = fy.
dengan demikian,
Dengan menganggap tulangan baja tarik telah meluluh, fs = fY :
Mnt = Ast fy (d-112 a) As2 = As'
As = As1 + As2
Karena As = Ast + As2t As1= As -As2 Ast = As - As'= 4825,6 - 2035,8 = 2789,8 mm2
maka: dan karena As2= A 51 = As- As'
Oari pasangan kopel baton tekan dan tulangan baja tarik, tinggi blok tegangan tekan ba
As'maka: dengan demikian, Mn1=(As -As')fy(d-112
ton dapat dihitung sebagai berikut,
a}
d'd tk kuat momen ideal balok Ast f y 27898(30q 164 1
Oengan menjumlahkan dua kopel moman tersebut an 8 ' mm
I
= (0,85 fc' )b 0,85(20)(300)

M -(A - A ')f (d- !2a) + A


bertulangan rangkap:
Mn= Mnt + n2- s s Y 1 s y
'f, (d-d')
h d M Nr = No1 + No2
Moman tahanan MR didapatkan dengan mangaMlikan f aktor reduksi kekuatan ter a ap As fy= (0,85fc')ab +As'fy
ni

MR= 4' n
. . an bahwa kedua penulangan baik tekan
mau- Ungap_ e l a a n g tidak pada saat regangan
baton mencapai pun an at di eriksa dengan manghitimg regangan-regangan
yang ter
O,C:03.dHaJ tetrsteef') id mar.tbatas yang dengan sendirinya tergantung pada letak
(pos1s1)
pat pa a saa .
garis netraJ pada penampang balk. d t rt bih dahulu menghitung tinggi
blok Letak garis netral dapat d1tentukan engan e e
tegangan baton tekan.
Dengan manggunakan anggapan sama dengan yang dipakai pada balok Pemeriksaan raganga.:i-regangan untul< mengetahui apakah asumsi yang digunakan be
bertulangan tarik saja tentang hubungan antara tinggi blok tegangan beton nar, yang berarti bahwa kedua penulangan baik tulangan tekan ataupun talik talah luluh
tekan dengan jarak garis netral penampang balok terhadap serat tepi tekan (a = sebelum baton hancur, lihat Gambar 3.14.b.
{31c), maka letak garis netra! dapat diten Regangan yang diperhitungkan terjadi pada saat dicapai momen ultimit, ialah:
tukan dan selanjutnya digunakan untuk mameriksa ragangan-regangan tulangan
I :; c - d' {o oo ) (193,1-65) 0,003
0 0020
baja. c ' 3 193,1
a
t
a 164,1 ..
c =-=--=--=193,1 mm = d - c (0 003 ) = (316,9) 0,003 0,00
f31 0, 85 0, 85 . 49
') t
(A i l
- , . ... r atau Ast . c 193,1
fr
a
a= (0, 85 fc' )b (0, 85 fc' y = 0,0015
)b
BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP 91

9Q BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN


RANGKAP

Sedangkan dari B 2.8 terdahulu, untuk balok bertuiangan tarik saja, telah
Karena s 'dan es keduanya lebih besar dari s Y' baik tuiangan baja tekan maupun
didapatkan hubungan sebaga1 berikut:
tk telah mencapai luluh tertebih dahulu sebelum baton tekan mencapai regang
-O _ 600(d) l ) (0,85 fc' ) p1
0,3. . - Pma1cs- , 75 Pb - fy+S00 \0,75 fy
Dengan demikian anggapan mengnai tegangan baja benar dan sesua1 perhitUngan.
Dari pasangan kopel baton tekan dengan tulangan baja tarik, didapatkan: Maka untuk balok bertu!angan rangkap didapatkan hubungan sebagai berikut:
Mn1 = Ast fy(d-112 a) A 'f '
As(maks) =Pmsks(d )+T
=
2789,8(300)[510 - 112(164,1)110"'6 = 358,2 kNm y
Dari pasangan kopel.tulangan baja tekan dan tambahan tulangan tarik:
Mn
2
= A ' fy (d- d') = 2035,8(300)(510 - 65)(10)-6 = 271,8
Pada penampang bertulangan seimbang, apabila f5 '= fy. persamaan menjadi:
kNm
5

Mn = Mn 1 + Mn2= 358,2 + 271,8 = 530 kNm As(ma1csJ= Pma1<s (d) + As'


maka MR = 4' Mn= 0.8(629,4) = 504 kNm Seperti diketahui, nilai-nilai Pmaks balok bertulangan tarik saja untuk berbagai mutu baton
dan baja talah diberikan pada Tabel A-6.
Kedua penulangan baik tekan maupun tarik talah mancapai luluh mendahului saat baton
tekan mencapai ragangan 0,003. Maskipun demikian, perencanaan balok tersebut balum Selanjutnya, manentukan nilai fs'pada penampang bertulangan seimbang,
memenuhi persyaratan daktilitas apabila p aktua/lebih besar dari 0,75 Pb sehingga masih
f s, _
- Es
'E s _ 0,003 (cb- d' ) Es = 60()1--
( d' )
diperlukan pameriksaan akan hal tersebut.
Cb Cb
Pambatasan SK SNI T-15-1991-03 untuk ppada pasal 3.3.3 ayat 3, bartaku baik
un- tuk balok baton bertulangan rangkap maupun tarik saja. Parsamaan As(maks) untuk dengan melakukan substitusi untuk cb, didapatkan:
balok bartulangan rangkap dapat dikembangkan dan diolah lebih tanjut saperti halnya
yang te lah dilakukan pada waktu menyusun Daftar 3.1 untuk balok T , dengan cara f :={1- +;(<1')}600
{1-( )(ooi rr )}soo
sebagai ber-

ikut:
r; =
Letak garis netral dari sisi tepi atas.
600 (d) Denan demiki, untuk berbagai nilai fydapat ditatapkan nilai d'ld, di mana f 5 '= fy-.
(ty +600) e1gga apblla pada suatu penampang yang mempunyai nilai aktuaJ d 'Id lebih kacil da
n rnla1yang didapat dari persamaan, maka fs'= fy-
Keseimbangan gaya desak dan tarik dalam penampang mamberikan, Apabila fs '= fy. nilai-nilai d'/d adaJah sebagai berikut:
Nob= NTb
untuk: fy= 240 d'/d = 2,33
(0,85fc' )/31Cb+ As' fs'= Asb fy
fy = 300 d'ld = 3,00
As(maks) = 0,75 Asb
fy = 350 d'ld = 3,80
dengan malakukan bebarapa substitusi, didapatkan: fy= 400 d'ld= 5,00

s(mskS } -
A
_
0 75 (0,85 f d f31Cb ) + o 75
'
( s' Maksud dari paraturan untuk menjamin didapatkannya balok daktail (liat) akan ber

fy fy

Sedangkan SK SNI T-15-1991-03 pasaJ 3.3.3 ayat 3 menyatakan bahwa untuk kompo (0,85 fc' ) /3 1 (60q {d )} As' fs'
nen struktur dengan tulangan tekan. bagian Pb yang disamakan dengan tulangan tekan ti A -0 75
dak perlu diraduksi dangan f aktor 0,75. Apabila ketantuan tersebut diterapkan pada per
samaan yang talu, dan dengan melakukan substitusi untuk cbt maka didapatkan:
hasil apabil_a pasangan kopel beton tekan dangan tulangan baja tarik memuaskan karana tambahan tulangan yang embenkan pasangan kopel tulangan baja
mempunyai nilai p kurang dan 0,75 Pb dan hasil perencanaan akan berperilaku tekan (A$' ) dan tulangan tarik tambqhan (As
sebagai baJok daktail. Pem batasan _daktilitas tersebut umumnya cukup t1dak akan mengakibatkan hancur getas karena merupakan pasangan tulangan baja dan
s(maksJ - ' { fy Vy+ umumnya dipakai jenis baja yang cukup liat untuk struktur baton biasa.
600) +---
-
fy
BAS 3 BALOK T DAN IW.OK PERSEGI BERTUl.ANGAH R.AHUKAP 93
92 BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP

Tentukan letak garis netral,


oemikian pula yang diterapkan pada struktur plat dan balok rendah. dimana
a= /J1c

'
/31=0,81 (SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.2.ayat 7)
t." mungkin tidak akan mencapai fy. cukup dijamin dengan membuktikan bahwa a 92,90
c =-=--=114,7 nm
pasangan kopel beton tekan dan tulangan baja tarik (Ast = As - As') adalah daktail
/3, 81 o.
dan tidak per1u merisaukan daktilitas penulangan rangkap secara keseluruhan. Dalam
P.emeriksaan regangan tulangan baja dengan berdasarkan segi tiga sebangun, lihat
kasus seperti ini hendaknya menggunakan persamaan-persamaan yang sudah
Gam bar 3.15.a :
disebutkan di atas.
Pada tulangan takan,
Pemeriksaan penulangan minimum dilakukan sebagai berikut:
278 8
= = 9, 0 0182 E r = C -d' (O ) = (114, 7 -65)0,003_
QQ
Pt b d _ 300(510) ' s c ' 3 114,7 -0, 001 3
Pmin= 0,0241
Oengan 0,0182 < 0,0241, berarti kriteria persyaratan penulangan minimum telah terpe- Pada tulangan tarik,
E =d -C (o 00 )
3
= (530-114,7)0,003 0,0 109
nuhi. s c ' 114,7
Untuk baja mutu 40, ey= 0,0020
Karena Es > Ey > Es', maka tulangan baja tarik telah meluluh tetapi baja tekan belum. De
3.8 ANALISIS BALOK TERLENTUR ngan demikian, temyata anggapan-anggapan pada langkah awal tidak benar. Maka diper
BERTULANGAN RANGKAP (KONDISI II) lukan mencari letak garis netral ter1ebih dahulu. Oengan mengacu pada Gambar 3. 14, dan
menggunakan keseimbangan gaya-gaya horisontal (2HF = O), akan didapatkan nilai c.
Seperti pembahasan terdahulu, umumnyaiulangan baja tekan (As' ) mencapai tegangan
Nr= N01+ No2
luluh sebelum baton mencapai regangan tekan 0,003. Tetapi hat yang demikian tidak
As fy = (0,85 fc' )ba+ fs'As'
akan berlangsung pada balok rendah dengan penulangan baja kuat tinggi. Dengan me
ngacu kepada Gambar 3.14.b, apabila letak garis netral penampang balok relatif tinggi, sedangkan,
ada kemungkinan pada saat momen ultimit terjadi, regangan ss'< sy (belum mencapai lu a= {J,c dan fs'= Es' Es = (c - d 0.003(Es )
luh). Seperti dikeitahui nilai Es' (berarti juga fs' ) dan tinggi blok tegangan tekan a, tergan
tung pada letak garis netral. Sedangkan di lain pihak, suatu penampang harus memenuhi
syarat keseimbangan di mana gaya tekan total harus seimbang dengan gaya tarik total.

_ _ I ,
Dengan demikian persamaan keseimbangan dapat disusun untuk menetapkan nilai tepat No =0.85 lc' ab
cyang dipertukan, berupa persarnaan kuadrat. Pada contoh berikut ini, akan dapat
diamati
permasalahan dan sekaligus pemecahannya.
garls netraJ
d -.!
Contoh 3.7. d 2
Hitung kuat momen tahanan MR dari balok dengan b = 300 mm, d = 530 mm, d '=
65 mm,
h = 600 mm, As = 3036, As'= 2025, fc'= 35 MPa, fy = 400 MPa.
Penyelesaian ,,k
Dianggap semua tulangan baja, baik tarik maupun tekan telah mencapai luluh, maka
dite- diagram regangan kopel momen
kuat ba1as beton-baja
00
tapkan: As2= As' Gambar 3.15. Pemeriksaan Kompatibilitas Contoh 3.7
a Gambar
Dengan mengacu pada (As - As') fy
3.14.b, As1 f y 207t8(400 ) SZ,S mm
(o,85 t/)b (o.85 fc' )b 0,85(35)(300 )
94 BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUlANGAN RANGKAP BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP 95

Dengan melakukan beberapa substitusi didapatkan: Nr = As fy= 3053,6(400)(10)-3= 1221,44 kN

(c c
No = Nr
As fy = (0,85fc')bP,c: o, oo3 EsAs' Mnt = Not (z1) = Not (d-112a)
= 929,98{530 - 112(104,2)}{10r1= 444,44 kNm
Apabila persamaan tersebut dikalikan dengan c, akan didapat:
As fye = (0,85 fc' )b{3 1c2+ c(0,003) EsAs'- d'(0,003)EsAs' Mn2= Nodz2) = No2(d- d' )
satelah dilakukan pengelompokan, didapatkan persamaan: = 291,57(10)-3(530 - 65) = 135,58 kNm
(0,85 fc'bf31)c2 + (0,003 E5A 9 '-Asfy_)c- d' (0,003 )EsAs'= Mn = Mnt + Mn2= 580,02 -Nm
0 MR = 4' Mn= 0,8(580,02) = 464,02 kNm
dengan memasukkan nilai Es= 200000 MPa, persamaan menjadi: Dengan menggunakan syarat SK SNI T-15-1991-03 dilakukan pemeriksaan daktilitas
ba lok. Karena fs '< fy maka jumlah luas penampang tulangan baja tarik
2
(As ) yang
(0,85 fc'bf31)c2+ (600 As' - Asfy)C
2 - 600 d'As'= 0 diperlukan
di mana A 5 = 3053,6 mm2 As'= 981,8 /31 = sebagai pasangan dengan tulangan baja tekan untuk membentuk kopel momen dalam
mm 0,81
akan kurang dari As
fy = 400 MPa fc' = 35 MPa Hitung ulang berapa sebenamya As 1 efektif yang berfaku.
b = 300 mm d' = 65 mm
dan setelah dilakukan substitusi, didapat persamaan: Nr2= No2
{0,85(35)(300)(0,81)} c2 + 00(981,8) - 3053,6{400)} c- 600(65)(981,8) =
A52 fy= As'f 5 '
O
7229,25 c2- 632360 c- 38290200 = O
A = As' fs' = 981,8 (296,97) nvn 2
2 729
s fy 400
c2 - 87,47 c- 5297 = O
Selanjutnya mencari nilai c atau akar persamaan pangkat dua di atas, dapat diselesaikan Kemudian didapatkan, As 1 = As-As2 =_3053,6 -729 = 2325 mm2
dengan cara sebagai berikut: Untuk pasangan kopel baton tekan dengan tulangan baja tarik,
c2 - 87,47 C= 5297
Asr 2325 .
0 0146
c2 - 87,47 C+ {112(- 87,47)} 2 = 5297 + { 112(- 87,47)} 2 p = bd= 300(530)
c2 - 87.47 c+ 1912,7 = 5297 + 1912,7 = 7209,7
(c- 43,74)2 = 7209,7 0,75 Pb= 0,0271 (Tabel A-6)
c- 43,74 = v(7209,7) = 84,91 C= 128,7 mm dengan demikian maka: p= 0,0146 <
Penyelesaian persamaan kuadrat untuk mencari c dapat juga diselesaikan dengan cara 0,0271
sebagai berikut: Untuk memudahkan di dalam memahami analisis penampang balok bertulangan rangkap,
berikut diberikan ringkasan langkah-langkahnya,
c = =J( o+ R 2 ) - R
600 As' -As t; 600 d' A/
di mana '
.1 ,7 fc' b
dan 0 = 0,85 fc' b 1) Anggap bahwa segenap penulangan meluluh, maka: fs = ts:= fy. dan As2 = As
R 2) Dengan menggunakan persamaan pasangan kopel baton tekan dan tulangan baja ta
R /3 t'1
1
Dengan nilai c tersebut, nilai-nilai lain yang belum diketahui dapat dicari. No = N01 +N02 = 1221,55 kN
t. ,_ (c - d 6 ( 0Q = (128.7-SS) (600)= 296,97 MPa < 400
MPa
s - c 128,7
dengan demikian berarti anggapan yang digunakan benar.
a = {3 c= 0,81(128,7) = 104,2 mm
1
Nor = (0,85 fc' )ab= 0,85(35)(104,2)(300)10) -3= 929,98 kN
N02 = As'f 5 '=296,97(981,8)(10) = 291,57 kN
rik, dan As 1= As- As hitunglah tinggi blok tegangan tekan a a
c =-
(As - As') fy Ast f y {3,
a (o.as tc')b (O,B5 tc')b 4) Dengan menggunakan diagram regangan memeriksa regangan tulangan baja tekan
3) Tentukan letak garis netral, maupun tarik, untuk membuktikan apakah anggapan pada langkah awaJ benar.
r
(

BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUlANGAN


RANGKAP BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUl.ANGAH RAH<IKAr 81
96 BAB
3
.. 7) Dapatkan a dengan menggunakan persamaan: a= fJ c

s'= (0,003 8) Menghitung gaya-gaya tekan, 1


c )

d -c ( ) Not = (0,85 fc' )ba


- 0,003
s I No2= As'fs'
s c ' bararti tulangan baja tarik telah meluluh, akan timbu
Oengan menganggap e_s E y. yag..
,kamudian diperiksa dengan menghitung gaya tarik,
Nr= As fy
salah satu dari dua kond1s1 benkut mt. d langkah awal batul dan tuiang-
a. Kond .1s1. 1. Es sY.. menunjukkan bahwa anggapan pa a di mana Nr harus sama dengan + N0 2-
N01
9) Menghitung kuat momen tahanan ideal untuk masing-masing kopel,
an bajatekan meluluh. da langkah awal tidak betul dan tu- Mnt = No1 (d-
b. Kondisj It: Es' s Ey. menunjukkan bahwa anggapan pa
112a) Mn2=
langan baja tekan belum meluluh. .
No2(d- d') Mn
. kemun kinan lagi, salah satunya ialah =Mn1+ Mn2
apablia Harap dicatat bahwa masth ada dua . g .h b lum 10) MR = t/I Mn
melampaui tegangan luluh.
1 baja tank mast e 11) Pemeriksaan syarat daktilitas dengan membuktikan bahwa rasio penulangan pasang
E s'< E y, yang berarti tegangan tu angan. . . t rkadang juga timbul pada balok atau
Keadaan tersebut termasuk jarang te11ad1, tetap1rleb.h an kopel gaya baton tekan dan tulangan baja tarik tidak melampauinilai 0,75 Pb (Tabel
plat bertulangan rangkap dengan penulangan be a 1 an. A-6), dan As 1 dihitung berdasarkan keadaan bahwa tegangan pada tulangan baja ta
kan belum mencapai fy.

Kondisi I:
5) Apabila es' dan Es keduanya melampau1
.
E y.
hitunglah kapasitas momen teoretis Mn 1
As,= As -AT'f ' dan p ak1uaJ_ - b d 5 1


y
dan Mn2- . tekan dan tarik: Mn2= As' fy{d - d') atau persyatan daktilitas diperiksa dengan membandingkan As dengan As(maksJ se
Untuk pasangan kopel gaya tulangank d n tulangan tarik: Mn2= As1 t.)..d-112a)
Untuk pasangan kopel gaya baton ta an a perti yang telah dijabarkan dalam Bab 3. 7, di mana dilakukan penyelidikan apakah
kondisi seimbang tercapai.
dangan demikian, Mn= Mn1 + Mn2
6) M R= 9 Mn .. n an membuktikan bahwa rasio penulangan (p ) pa-

7) Pemeriksaan syarat dakt1htas de g an baja tarik tidak melampaui 0,75 Pb
(Tabe sangan kopel gaya baton tekan dan tulang t langan baja tarik tidak lebih
dan A-6) atau membuktikan bahwa luas penampang u 3.9 PERENCANAAN BALOK 8ERTULANGAN RANGKAP
A , seperti ditetapkan persamaan dalam Bab Apabila pengamatan menunjukkan bahwa penampang balok persegi bertulangan tarik
s( mal< ) 3.7.
s A saja tidak kuat untuk menahan beban tertentu dan ukurannya tidak memungkinkan untuk
51
p aktual =bd
c
Kondisi II: tuk mendapatkan nilai c digunakan persamaan sebagai ber-
5) Jika es'< ey dan Es 2 sy. un

ikut: ,
r
f ) _ 600 d'A '= O

.
(0,85 fc'b1)c2 +(600 As - s .k dang cara biasa ataupun
pendekatan
dapatkan c dan persamaan kua ra at
seperti pada Conteh 3.7. .

6) Menghitung tegangan pada tulangan baja tekan,


c d'
fs' ---(60
diperbesar dikarenakan alasan-alasan arsitektural ataupun teknis pelaksanaan, misalnya, Con toh 3.8.
pilihan akan jatuh pada balok bertlarigan rangkap. Sedangkan prosedur Rencanakan penulangan balok persegi baton bertulang untuk mendukung momen MoL
perencanaan pada dasamya dapat dibagi menjadi dua bagian perencanaan
kopel gaya dalam yang bila hasil keduanya dijumlahkan akan didapat kekuatan
balok yang diperfukan.
= 230 kNm dan Mu = 370 kNm, b = 350 mm, h = 800 mm, f c'
apabila dipakai tulangan baja tekan gunakan cf :: 70 mm.
= 20 MPa, fy = 40 MPa,
(
9 8 BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTGAN RANGKAP
BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUl.ANGAN RANGKAP 99

Penyelesaian . Pasangan kopel gaya tulangan baja tekan dan tarik ditentukan sedemikian rupa sehingga
Anggap bahwa d = h -100 = 700 mm, jarak pusat berat tulangan baja tarik terhadap tep1 kuat momennya memenuhi keseimbangan terhadap momen rencana
baton ditentukan 100 mm dengar'I memperhitungkan kemungkinan penggunaan dua la-
MR2 perlu = Mu- MRt = 868 - 761 107 kNm =
. pis tulangan baja tarik. Berdasarkan pada pasangan kopel gaya tulangan baja tekan dan tarik didapatkan:
Menghitung moman rencana, MR2 = tf' No2(d - d' }
Mu = 1,2MoL + 1,6MLL M R2 107000
= 1,2(230) + 1,6(370) = 276 + 592 = 868 kNm No2 <f>(d - d') = 0,8(700-70) = 212,3 kN
Terlebih dahulu dihitung apakah mungkin menggunakan balok bertulangan tarik saja. Dari
Karena No2 = As' f s maka fs 'dihitung berdasarkan letak garis netraf psangan kopel gaya
Tabel A-9, didapatkan nilai k.
be.ton tekan dan tul ngan baja tarik, kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap
k maksimum= 5,9792 MPa regangan Es pada tulangan baJa tekan.
MR maks= 4' bd2k
a= Ast fr = 7130(240) _
= 0,8(350)(700)2(5,9792)1 = 820 kNm 28 6
Karena M ,q maks= 820 kNm < 868 kNm, maka disimpulkan tidak dapat menggunakan ba- {0,85 fc')b 0,85(20)(350) - 7. mm
lok dengan hanya bertulangan tarik saja, harus bertulangan rangkap. a 287,6
Perhitungkan bahwa pasangan l<opel gaya baton tekan dengan tulangan baja tarik mem- c = p;= 0, = 338,4 mm
85
punyai rasio penulangan kira-kira 90% dari Pmaks- Es' = c - d' (0 003) = 268,4(0,003) -
p = 0,90(0,0323) = 0,0291 c ' 338,4 - 0,0024
dengan nilai tersebut dicari nilai kdari Tabel A-9,
Ey= 0,0020
k = 5,5451 MPa
Kuat momen tahanan atau kapasitas pasangan kopel gaya baton tekan dan tulangan baja Karena Ey < Es maka terbukti bahwa me!'llang tufangan baja tarik akan melufuh sebelum
regangan _baton tekan mencapai 0,003, dan karenanya sebagai batas tegangan: t '= t
tarik adalah:
Tentukan JUmfah tulangan baja tekan yang diperfukan. Y Y-
MRt =
' bd2k = 0,8(350)(700)2(5,5451)(10)-6 = 761 kNm 3
Tentukan luas penampang tulangan tarik yang diperlukan untuk pasangan kopel gaya ba- As' perlu= No2 = No2 =212,3(10) _
. ts' fy 240 - 884,6 rrrn2
ton tekan dan tulangan baja tarik,
Tetukan jumfah tfangan baja tarik yang diperlukan untuk pasangan kopel gaya tulangan
Ast = pbd= 0,0291(350)(700) = 7130 baJa tekan dan tank tambahan dengan '= fy-
mm2
f5
b=350
As2= As'= 884,6 mm2

2025 ----/( !

h=800

---- I----

i
4036 1 ,. minimum

'
4036 :::19'=:.--.I, J._.../ 25
-=; t-. ::llE;3F.i--i,
Gambar 3.16. Diagram regangan Seton tekan (contoh 3.8)
Gambar 3.17. Sketsa Rancangan Canton 3.8
BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP 10 1
10 0 BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUl.ANGAN RANGKAP

8) Dengan berdasarkan pada pasangan kopel gaya tulangan baja tekan dan tarik tam
Tentukan luas tulangan baja tarik total yang diperlukan, bahan, hitung gaya tekan pada tulangan yang diperlukan (anggap bahwa d' = 70
As total = As1+ As2= 7130 + 884,6 = 8014,6 mm2 mm).
Pilih tulangan baja tekan yang akan dipasang jika diperlukan luasan 884,6 mm2 N - M R2
_02 - ;(d -d')
Gunakan 2 batang tulangan 028 (As'= 1231,4 mm2).
2 9) Dengan N 02 = As 'f5', hitung fs 'sedemikian sehingga As' dapat ditentukan. Hal
Pilih tulangan baja tarik yang akan dipasang jika diperlukan luasan 8014,6 mm
Gunakan 8 batang tulangan 036 (As = 8143 mm2), tampatkan pada posisi dua iapis (4 terse but dapat dilakukan dengan menggunakan letak garis natral dari pasangan
ba tang tiap lapis). Dengan susunan tulangan tersebut kemudian diperiksa seberapa gaya ba
ton tekan dan tulangan baja tarik kemudian memeriksa regangan es' pada tulangan
lebar balok yang dipertukan, apakah lebar yang ada ( b = 350 mm) masih memenuhi.
te kan, sedangkan nilai eydidapat dari Tabel.
Untuk tulangan sengkang gunakan batang tulangan 012, tinggi balok total 800 mm, sa
limut beta pelindung tulangan 40 mm, batang tulangan tarik 036, dan jarak barsih mini - As1 f r
a - (0,85 fc' )b
mum antar-lapis 25 mm. Maka, tinggi efektif balok dapat dihitung sebagai berikut:
d aktual= 800 -6 -18 -12,5 = 723,5 mm a
c =-
sedangkan tinggi efektif (d) yang digunakan 700 mm < 723,5 mm. /3,
Es' = c -d' (0,003)
Oengan demikian ringkasan langkah-langkah perencanaan balo!< bertulangan c
rang kap adalah sebagai barikut: Apabila Es' Ey, tulangan baja tekan telah meluluh pada momen ultimit dan f5 '=
Ukuran penampang balok sudah ditentukan. fY' se dangkan apabila Es'< Ey. hitunglah fs'= E 5 'Es dan gunakan tegangan
1) Anggap bahwa d = h - 100 mm tersebut untuk langkah berikutnya.
2) Menghitung momen rencana total Mu- 10) Karena N 02 = A 5 'f5 '
3) Dilakukan pemeriksaan apakah benar-benar perlu balok bertulangan rangkap. Dari Ta
bel Apendiks A diperoleh nilai k maksimum untuk digunakan menghitung MR balok
maka As' perlu =
N
,
s
bertulangan baja tarik saja. 11) Menghitung As 2 perlu,

MR maksimum = 4' bd 2k . As f5 'As'


2 perlu = ,-
4) Apabila MR< MIP rencanakan balok sebagai balok bertulangan rangkap, dan apabila Y

MR Mu. balok direncanakan sebagai balok bertulangan tarik saja. 12) Menghitung jumlah luas tulangan baja tarik total yang diperlukan, As = Ast + As2
13) Memilih batang tulangan baja tekan As'
Apabila harus direncanakan sebagai balok bertulangan rangkap :
14) Memilih batang tulangan baja tarik (A 5). Periksa lebar balok dengan
5) Menghitung rasio penulangan pasangan kopel gaya baton tekan dan tulangan baja
mengusahakan agadulangan dapat dipasang dalam satu lapis saja
tarik, p = 0,90(Pmaks) = 0,90(0,75 Pb)
15) Memeriksa d aktual dan bandingkan dengan d teoretis. Apabila d aktual sedikit lebih
Nilai ptersebut digunakan untuk mencari kpada Tabel.
besar, berarti rancangan agak kohservatif (lebih aman). Apabila d aktual lebih kecil
6) Menentukan kapasitas momen dari pasangan kopel gaya baton tekan dan tulangan yang berarti perencanaan kurang aman, dilakukan perencanaan ulang.
baja tarik. 16) Berikan sketsa rancangan.
MRt = ipbd 2k
Menghitung tulangan baja tarik yang diperfukan untuk pasangan kopel gaya baton te-
kan dan tulangan baja tarik,
Ast perlu = pbd
7) Menghitung selisih momen, atau momen yang harus ditahan oleh pasangan gaya tu-
langan baja tekan dan tarik tambahan, MR2= Mu - MR1
102 BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTUl.ANGAN RANGKAP BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP 1Q3

SOAL-SOAL

Pada soal-soaJ herikut, kecuali disebutkan khusus ketentuan iaJah: sengkang


mengguna kan batang tulangan 010, selimut baton 40 mm, jarak bersih antara lapis
tulangan 25 mm:

3-1. Suatu balok T yang merupakan bagian suatu sistem plat lantai, b= 1200 mm, bw
= J bw =300 J
600 mm, hr = 160 mm, h = 1000 mm, panjang bentang 6000 mm, jarak antar- Gambar Saal 3-4

balok (p.k.p) 1150 mm, As = 10032 (dua lapis), fc'= 20 MPa, fy= 240 MPa.
a Hitung kapasitas momen MR- Periksa apakah tulangan terpasang masihdalam 3-5. Hitung kapasitas momen balok dengan dimensi yang sudah ditetapkan seperti ter
gambar,
ba-
tas sesuai peraturan.
b. Apabila seluruh luas f/ens tersedia untuk blok tegangan tekan, berapa tulangan
baja yang diperlukan pada penampang baton tersebut.

a Balok spandre/ dengan flens pada sisi sebelah saja, fc'= 25 MPa, f 5 = 400 MPa
3-2. Hitung kapasitas momen MR untuk balok T sebagai bagian sistem lantai dengan bw= b. Balok kotak, fc'= 20 MPa, fy = 240 MPa. .
400 mm, hr= 140 mm, d = 800 mm, As = 6029 (dua lapis), panjang bentangan 10
m, jarak antar-balok (p.k.p) 2000 mm, fc'= 25 MPa. fy = 400 MPa, periksa
penulangan-
nya.

3-3. Balok T seperti tergambar terletak pada bentang sederhana 9,50 m, fc'= 20 MPa, fy
= 400 MPa, selain berat sendiri tidak ada beban mati, anggap perencanaan plat cu-
kup baik.
a Hitung kapasitas momen MR, .
b. Hitung beban hidup yang diijinkan bekerja pada balok (kN/m), (a)
c. Hitung beban hidup yang diijinkan bekerja pada plat (kPa).

(h)
Garyibar Soal 3-5

20 MPa. fy= 400 MPa, hitung kapasitas momen MR.

Gambar Saal 3-3

3-4. Balok T di atas bentang sederhana 6 m, jarak antar-bafok {p.k.p) 2,50 m. Apabila
fc'=
3-6.
Rencanakan balok T bertulangan tarik yang menahan momen positif
dengan bw = 400 mm, d = 650 mm, hr = 100 mm. Beban mati 25 kPa 3-7. Sistem lantai baton bertulang terdiri dari plat tebaJ 100 mm didukung oleh baJok
(tidak termasuk berat sendiri plat dan balok) dan beban hidup 160. bentang menerus membentuk balok T, panjang bentang a m, jarak antar-balok T
kPa, panjang bentang sederhana 6 m, jarak antar-bafok {p.k.p) 2000 (p.k.p.) 1800 mm. Dimensi badan balok ditentukan berdasarkan pada momen nega-
mm, fc'= 30 MPa, dan fy= 300 MPa.
BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP 1Q 5
1Q 4 BAB 3 BALOK T DAN BALOK PERSEGI BERTULANGAN RANGKAP

3-12. Rencanakan suatu balok baton bertulang persgi yang mendukung momen renca a
tif dan persyaratan gaya geser pada dukungan,bw= 450 mm, h = 600 mm, pilih tu
tt:IMu = 1060 kN':'1 (trmasuk momen berat sendiri). Ukuran balok dibatasi, fe ar -
langan baja yang diperlukan pada tengah bentang untuk mendukung momen ren
400 mm, dan tingg1 total h=800 mm, fc'= 20 MPa, fy= 300 MPa, apabila di
cana positiftotal Mu= 780 kNm (termasuk berat sendiri), fc'= 20 MPa. fy= 400 MPa.
perlukan tulangan baja tekan, gunakan d'= 60 mm.

3-8. Tantukan penulangan balok dengan penampang seperti tergambar. Moman positif
3-13. Recanakan suatu balok baton bertulang persagi yang mendukung momen beban
beban hidup 210 kNm dan beban mati 110 kNm (sudah tennasuk berat sendiri), fc'=
mat1 (termask momen berat sendiri) 185 kNm, dan momen beban -hiduo 200 kNm
20 MPa, f1= 300 MPa. Tuntutan ars1tektural membatasi lebar maksimum b = 300 mm dan tin t t 1 h
600 f. , 20 M gg1 o a =
mm, c = Pa, fy= 300 MPa

150
3-14.Rencanakan suatu balok baton bartulang persegi yang mendukung beban r
(termasuk dberat
tumpuan 15 kN/m
rh e sendiri}
ana pan1ang
dan beban hidup 45 kN/m Balok
bentang 6 m, dimensi penampang r eIat kpa
te
maksimum
mda
a se'
dibatas
b= 300 mm dan tinggi h= 500 mm, fc'=-20 MPa, fy= 300 MPa. '

650
3- 15. Rencna Ian balok ang ada pada Saal 3-14 dengan ketentuan hanya bertulang an
baJa tank sa1a dan d1perlebar tetapi jangan mempertinggi ( h = 500 mm).

Gambar Saal 3-8

3-9. Hitung MRdari balok dengan b = 400 mm, h = 650 mm, d' = 65 mm, As = 8029 (dua
lapis), A 5'= 2025, fc'= 30 MPa, f1= 400 MPa.

3-10. Balok dengan b = 300 mm, h = 600 mm, d' = 65 mm, As = 6032 (dua lapis), As' =
2032, panjang bentang tumpuan sederhana 10 m. Suatu beban merata (di luar be rat
sendiri) bekerja di atasnya terdiri dari beban mati dan beban hidup, fc' = 30 MPa,
fy = 400 MPa. _
a Tentukan besarnya beban kerja yang dapat didukung oleh balok tersebut (di luar
barat sendiri).
b. Perbandingkan MR dari balok tersebut dengan kekuatan balok dengan ukuran
yang sama tetapi hanya dengan tulangan baja!arik maksimum yang diperboleh-
kan saja

3-11. Tentukan MR untuk balok dengan b= 400 mm, d= 450 mm, d'= 65 mm, A 5'= 2025,
batang tulangan baja tarik terbawah menggunakan 4036, fc' = 30 MPa, sedangkan fy=
300 MPa. .
10 7
. ..
BAB -4 PEN\ll.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR

4 f = Mic dan v= V S
lb
(
4-1)

di mana f, M, c, I adaJah yang telah diterangkan di Bab 1, sedangkan v adaJah


dan seperti
tegangan geser, V adalah gaya geser akibat beban luar, S adalah momen statik terhadap
garis natral penampang, dan b adaJah lebar penampang. Tegangan-tegangan utama pada
baJok yang mendukung gaya geser dan momen lentur dihitung menggunakan persama
PENULANGAN GESER DA N PUNTIR an sebagai berikut:

BALOK TERLENTUR fpr= ;: +v


2
{4- 2)

di mana fpr adalah tegangan utama, f adalah tegangan lentur dan vadalah tegangan geser
yang dihitung dari persamaan (4-1). Arah atau orientasi bidang utama apat dihitung de
ngan menggunakan persamaan sebagai berikut:
2 v
tan 2a = -- (4- 3)
1
di mana a adalah sudut yang diukur dari garis horisontal.
4 .1 KUAT G ESER Mengenai seberapa besar tegangan gaser dan lentur yang timbul bervariasi tergan
I tung dari letak tempat yang ditinjau di sepanjang balok dan jaraknya terhadap garis netral.
Dalam membahas balok terlentur hendaknya mempertimbangkan pula bahwa pada saat Dengan demikian sudut kemiringan dan besarnya tegangan utama juga akan bervariasi
yang sama balok juga menahan gaya geser akibat lenturan. Kondisi kritis geser akibat pula dan merupakan fungsi dari nilru banding antara t dan v. Tapat pada garis netraJ
11

I
lentur ditunjukkan dengan timbulnya tegangan-tegangan tarik tambahan di tempat-tem akan terjadi tegangan utama dengan membentuk sudut 45 yang dapat dijelaskan
pat tertentu pada komponen struktur terlentur. Untuk komponen struktur beton bertu menggu: nakan rumus (4-3), yang mana apabiladimasukkan nilai t = 0, maka tan 2a =
oo, sahingga
!ang, apabila gaya geser yang bekerja sedemikian besar hingga di luar ker:narnpu
beton
untuk menahannya, perlu memasang baja tulangan tambahan untuk rnenahan geser ter
didapat a = 45
Seperti tampak pada Gambar 4.1, dilakukan pengamatan suatu satuan elemen ku
sebut. bus tepat pada garis netral baJok di mana f =
0. Berdasarkan prinsip keseimbangan, te
Tegangan geser dan lentur akan timbul di sepanjang komponen struktur di mana
bekerja gaya geser dan rnomen lentur, dan penampang komponen mengaJami
I gangan geser vertikaJ pada dua muka vertikal berseberangan akan sama besar tetapi arah
kerjanya berlawanan. Apabifa hanya kedua tegangan tersebut yang timbul dan bekerja
tegangan tegangan tersebut pada tempat-tempat selain di garis natral dan serat tepi
dapat dipastikan bahwa elemen akan berputar. Maka dari itu, untuk mempertahankan
penampang. Komposisi tegangan-tegangan tersebut di suatu tempat akan
ke-
menyesuaikan diri secara alami dengan mambentuk kesaimbangan tegangan geser
dan tegangan norrnaJ maksi v
mum dalam satu bidang yang .membentuk sudut kemiringan terhadap sumbu balok.
Dengan menggunakan lingkaran Mohr dapat ditunjukkan bahwa tegangan normal maksi I.
,/ ./A

mum dan minimum akan bekerja pada dua bidang yang saling tegak lurus satu sama
lain nya. Bidang-bidang tersebut dinamakan bidang utama dan tegangan-tegangan yang g.n..
,
/
/ '

l / / l v
be /
kerja disebut tegangan-tegangan utama.
Pernbahasan konsep tegangan lentur dan tegangan geser balok elastik bahan ser
vi /

/
ba-sama (homogen) secara panjang lebar dan terinci dapat diperoleh pada buku-buku ,450 I.
/'"---=====::::s=---
mengenai mekanika dan kuat bahan. Persamaan yang umumnya digunakan untuk rneng (a) balok dengan beban meiata A' v
ungkapkan tegangan lentur dan tegangan geser adalah: Gambar 4.1. (b) tegangan pada satuan elemen

Hubungan antar-tegangan geser


BAB 4 PENUl..AHGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 10 9
OS BAB 4 PENUl..ANGAN GESER DAN PUNTIA BALOK TERLENTUR
1

Dengan demikian, pennulaan dan perkembangan retak miring tergantung pada be


seimbangan harus ada tegangan geser yang be_kerja pada permukaan horisontal yang sar relatif tegangan geser vdan tegangan lentur f. Berdasarkan pengembangan persama
be samya sama tetapi arahnya berlawanan terhadap tegangan gesar ertikal. an (4-1) tegangan-tegangan penentu ini dinyatakan sebagai:
Pembahasan untuk mempertahankan keseimbngan antara tegangan geser honsontal
dan tegangan geser vertikal di satiap tempat pada balok diuraikan sacara mendalam
v = Jc, :d
M
(4- 4.a)
pada banyak buku
acuan mengenai mekanika dan kuat bahan. 0
.

Apabila satuan elemen tersebut dipotong bersudut menurut. b1dang A-A, t = k2 bcf2. (4 - 4.b)
4 te-
gangan-tegangan akan menyesuaikan sedemikian rupa sehmgg kes1mbangan gaya di mana k dan adalah konstanta nilai banding.
k 1 2
gaya digambarkan seperti tampak pada Gambar 4.2. Karena yang d1amat1 adalah suatu s
tuan luas maka besar v (tegangan geser) sama besar dengan V (gaya gesar). Dalam Separti yang talah dibahas tardahulu, tagangan tarik utama merupakan fungsi per
kbnd1- si seimbang, apabila seluruh gaya-gaya yang tegak lurus terhadap bidang A-A bandingan f terhadap v, sehingga berdasarkan parsamaan (4-4) didapat hubungan seba
dijumlah- gai berikut:
f k2M M
kan (l: F= 0) didapatkan:
0,707V + 0,707V =
v= k,. v d = k v d
3
M . f k a
T
Oengan berdasarkan pada, gaya = Juas x tegangan, persamaan keseimbangan gaya ter-
ap abI1a bentang geser : a = v akan d1dapat V = 3 d
sebut di atas dapat diungkapkan sebagai berikut: Dari berbagai hasil eksperimen didapatkan bahwa nilai banding bantang gesar (a)
0,707v(1) + 0,707v(1) = t ( 1,414} =- di mana t= tegangan tarik tarhadap tinggi etaktif (d) temyata merupakan faktor yang barpengaruh dan menempati
1,414v= t ( ,414) posisi panting dalam panatapan kekuatan gesar suatu balok. Apabila faktor-faktor salain
v= t aid diambil tatap maka variasi kapasitas geser untuk saluruh panjang balok dapat
ditetap kan pula.
Dari persamaan (4-2} didapat,
fpr:.../V 2 = V
Hai demikian menunjukkan bahwa pada bidang yang tegak lurus bidang A-A juga
timbul tagangan tekan sebesar v. Selain itu, ternyata pula bahwa dengan bekerf'anya 4.2 PERILAKU BALOK TA NPA P ENULANGAN GESER
gaya gesr pada balok akan menimbulkan tegangan tarik di tempat gari netral dengan
arah keqa membentuk sudut 45 terhadap garis horisontal. Tegangan tank tersebut Saperti yang telah dinyatakan terdahulu bahwa tegangan tarik dengan variasi besar dan
sama besarny kemiringan, baik sabagai akibat geser saja atau gabungan dangan lentur, akan timbul di
dengan tegangan geser, dan pada perencanaan ataupun analisis diparhitungkan sebag1 setiap tempat di sepanjang balok, yang harus_ diperhitungkan pada analisis dan perenca
gaya tarik diagonal yang pada intansitas tertantu dapat mengakibatkan timbulnya retak mi- naan. Pembahasan dalam Bab 4.1 sebenarnya merupakan deskripsi tapat untuk kejadian

ring pada baton.

'l
- --
I v/ ': V 0.707 V
.:
A
/

./
/
geser pada balok baton tanpa tulangan, di mana karusakan umumnya akan terjadi di dae
l , ',
',> .707 / , rah sepanjang kurang lebih tiga kali tinggi efektif balok, dan dinamakan bentang geser.
, Seperti tampak di Gambar 4.3, retak akibat tarik diagonal merupakaA salah satu cara ter
/ jadinya kerusakan geser. Untuk bentang geser yang lebih pendek, kerusakan akan timbul
/
1,414l v = tegangan geser
, A
Gambar 4.2.
V = gaya geser
T=1.414 V T = gaya tarik
0,707 V= komponen gaya.
normal terhadap bidang A-A
sabagai kombinasi dari ret angan tarik lentur akan terjadi terlebih dahulu sebelum timbul retak karana tarik diagonal.
pergeseran, remuk, dan ak Oangan damikian ter jadinya retak tarik lanturan p_ada balok tanpa tulangan marupakan
balah. Sedangkan untuk kar peringatan. awal keru sakan gesar.
balok baton tan pa an Retak miring akibat geser di badan balok baton bertulang dapat tarjadi tanpa diser
tulangan dangan bentang a tai retak akibat lentur di sekitamya. atau dapat juga sebagai kelanjutan proses ratak
geser labih panjang, teg lantur
Tarik diagonal karena geser
11 Q BAB 4 PEN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR BAB 4 PENUL.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 111

bentang geser 3) Timbulnya aksi pasak tulangan memanjang sebagai pertawanan terhadap gaya trans
{baglan bentang di mana terjadl geser tlnggi) versal yang harus ditahan.
4) Terjadinya perilaku pelengkung pada balok yang relatif tinggi, di mana segera
setelah terjadi retak miring, beban dipikul oleh susunan reaksi gaya tekan yang
I membentuk busur melengkung dengan pengikatnya (tali busur) adaJah gaya tarik di

I
sepanjang tu langan memanjang yang ternyata memberikan cadangan kapasitas
cukup tinggi,
5) Adanya pertawanan penulangan geser yang berupa sengkang vertikql ataupun miring
(untuk balok bertulangan geser)
Gambar 4.3.
Kerusakan tipikal akibat tarik diagonal Dalam rangka usaha mengetahui distribusi tegangan gesar yang sebenarnya terjadi
di sepanjang bentang dan kedaJaman penarnpang baJok, meskipun studi dan penelitian
yang telah mendahuluinya. Retak miring pada balok yang sebelumnya tidak m_engalai telah difakukan secara luas untuk kurun waktu cukup lama, mekanisme kerusakan geser
retak lentur dinarnakan sebagai retak geser badan. Kejadian retak geser badan 1arang yang tepat sebetulnya masih juga belum dikuasai sepenuhnya. Untuk menentukan se
d1- jumpai pada balok beton bertulang biasa dan lebih sering dijumpai. pada balok berapa besar tegangan geser tersebut, umumnya peraturan-peraturan yang ada membe
baton prategangan berbentuk huruf I dengan badan tipis dan flens (sayap) lebar. Retak rikan rekomendasi untuk menggunakan pedoman perencanaan berdasarkan nilai tegang
geser an geser rata-rata nominal sebagai berikut:
badan juga dapat terjadi di sekitar titik balik lendutan atau pada tempat di mana terjadi Vu
Vu =
penghentian tulangan balok struktur bentang menerus. Retak miring yang terjadi sebagai

proses kelanjutan dari retak lentur yang teah timbul sebelumnya dinamakan sebagai re dimana w
tak geser Jentur. Retak jenis yang terakhir ini dapat dijumpai baik pada balok baton Vu = tegangan geser rencana rata-rata nominal total (MPa),
bertu lang biasa ataupun prategangan. Proses terjadinya retak lentur umumnya Vu = gaya geser rencana total karena beban luar (kN),
cenderung me rambat dimulai dari tepi masuk ke dalam balok dengan arah harnpir rp = faktor reduksi kuat bahan (untuk geser 0,60),
vertikal. Proses terse but terus berfanjut tanpa mengakibatkan berkurangnyategangan bw = lebar balok, untuk penampang persegi = b (an),
sampai tercapainya sua tu kombinasi kritis tegangan lentur dan geser di ujung salah satu d = tinggi efektif balok (cm).
retak terdaJarn, di mana
terjadi tegangan geser cukup besar yang kemudian mengakibatkan terjadinya retak mi

ring. Pada balok beton bertulangan lentur arah memanjang, tulangan baja akan bertugas Seperti yang telah dikemukakan bahwa di tempat garis netral penampang, nilai te
sepenuhnya menahan gaya tarik yang timbul akibat lenturan. Sementara itu, apabila be gangan geser sama dengan tegangan tarik diagonaJ. Maka untuk kepentingan pende
ban yang bekerja terus meningkat, tegangan tarik dan geser juga akan meningkat seiring katan perencanaan, ditetapkan bahwa tegangan geser dapat dipakai sebagai alat- ukur
dengan beban. Sedangkan tulangan baja yang diperuntukkan menahan momen lentur di yang baik untuk mengukur tegangan tarik diagonal yang terjadi, meskipun sesungguhnya
dalarn balok letaknya tidak pada tempat di mana tegangan tarik diagonal timbul. Sehingga bukanlah tegangan tarik diagonal aktual..
untuk itu diperlukan tambahan tulangan baja untuk menahan tegangan tarik diagonal ter Walaupun teori umum perencanaan geser yang dipakai sebagai dasar peraturan
sebut di tempat-tempat yang sesuai. dan persyaratan belum diubah, SK SNi=T-15-1991-03 memberikan rekomendasi bahwa
Mekanisme perlawanan geser di dalam komponen struktur beton bertulang tidak perencanaan geser dapat didasarkan pada gaya geser Vu yang bekerja pada penarnpang
lepas dari pengaruh serta tersusun sebagai kombinasi beberapa kejadian atau mekanis balok. Hal demikian berbeda dengan peraturan-peraturan sebelumnya, PSI 1971 dan se
me sebagai berikut: belumnya, yang mendasarkan pada tegangan geser. Sehingga tidak jarang terjadi penaf
1) Adanya perfawanan geser baton sebelum terjadi retak. siran bahwa gaya geser, sama seperti halnya tegangan geser, secara umum dapat
2) Adanya gaya ikatan antar-agregat (pelimpahan geser antar-permukaan butir) ke arah berlaku sebagai alat pengukur tarik diagonal yang timbul.
ta ngensial di sepanjang retakan, yang serupa dengan gaya gesek akibat saJing ikat
an tar-agregat yang tidak teratur di sepanjang permukaan baton kasar.
112 BAB 4 PENUl.ANGAN GESER DAN PUNT1R BALOK TERLENTUR BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 113

4.3 PERENCANAAN PENULANGAN GESER Dalam persamaan tersebut satuan fe' dalam MPa, bwdan d daJam mm, dan satuan Ve dalam
kN, sedangkan untuk balok persegi bwsama dengan b. Kuat geser ideal beton dikenakan
oasar pemikiran perencanaan penulangan geser atau penulangan geser badan balok faktor reduksi kekuatan = O,60 sehingga menjadi kuat geser beton (SK SNIT-15-1991-
03 pasal 3.2.3). Sadangkan kuat geser rencana Vudidapatkan dari hasil penerapan faktor
adalah usaha menyediakan sejumfah tulangan baja untuk menahan gaya tarik arah
tegak lurus terhadap retak tarik diagonal sedemikian rupa sehingga mampu mencegah beban, di mana nilai Vu lebih mudah ditentukan dengan menggunakan diagram gaya
bukaan ge ser.
retak lebih lanjut. Berdasarkan atas pemikiran tersebut dan juga dengan rnarnparhatikan Di dalam peraturan juga dinyatakan bahwa meskipun secara teoratis tidak perlu pe
pola retak seperti tergambar pada Gambar 4.3, penulangan gaser dapat dilakukan dalam nulangan geser apabila Vu s ;Vei akan tetapi peraturan mengharuskan untuk selalu
b'eberapa cara, seperti: me nyediakan penulangan gesar minimum pada semua bagian struktur baton yang
1) sengkang vertikal, menga lami lenturan (meskipun menurut perhitungan tidak memerlukannya), kecuali
2) jaringan kawat baja las yang dipasang tagaklurus tarhadap surnbu aksial, untuk:
3) sengkang miring atau diagonal, 1) plat dan fondasi plat,
4) batang tulangan miring diagonal yang dapat dilakukan dengan cara membengkok ba- 2) struktur balok baton rusuk separti yang ditentukan dalam SK SNI T-15-1991-03, pasal
tang tulangan pokok balok di tempat-tempat yang diperlukan, atau 3.1.11,
5) tulangan spiral. 3) balok yang tinggi totalnya tidak labih dari 250 mm, atau 2,5 kalitebal flans, atau 1,5
Perancanaan geser untuk komponan-komponen struktur terlantur didasarkan pa kali lebar badan balok, diambil mana yang terbesar,
da anggapan bahwa baton menahan sebagian dari gaya geser, sedangkan kelebihannya 4) tempat di mana nilai Vu<112 Vc-

atau kekuatan gasar di atas kamampuan baton untuk menahannya dilimpahkan kepada
tulangan baja gesar. Cara yang umum dilaksanakan dan lebih sering dipakai untuk Ketentuan penulangan geser minimum tersebut terutama untuk menjaga agar apa
penu langan gaser ialah dengan manggunakan sengkang, di mana selain bil.a timbul beban yang tak terduga pada komponan struktur yang mungin akan
pelaksanaannya le bih mudah juga manjamin ketepatan pemasangannya. Penulangan mengaki batkan kerusakan (kegagalan) geser. Eksperimen dan penelitian menunjukkan
dengan sengkang hanya memberikan andil terhadap sebagian pertahanan geser, bahwa ke rusakan akibat geser pada komponen struktur baton bertulang terlentur selalu
karena formasi atau arah ratak yang miring. Tatapi bagaimanapun, cara panulangan terjadi se cara tiba-tiba tanpa diawali peringatan terlebih dahulu. Pada tempat di mana
demikian tarbukti mampu mem berikan sumbangan untuk peningkatan kuat geser ultimit tidak diperfu kan tulangan geser (plat dan plat fondasi) yang memiliki ketebalan cukup
komponenaStruktur yang meng alami lenturan. untuk menahan Vur tulangan geser minimum tidak diperlukan. Sedangkan pada tempat
Untuk komponen-komponen struktur yang menahan geser dan lentur saja, persa di mana diperlu kan tulangan geser minimum, jumlah luasnya ditentukan dengan
maan (3.4-3) SK SNI T-15-1991--03 memberikan kapasitas kemampuan baton (tanpa persamaan (3.4-14) SK SNIT-15-1991-03 sebagai berikut:
pe nulangan geser) untuk menahan gaya gser adalah Ve. A _2_ bws
v- 3 f
Ve =(;N ) bw d y

Pada persamaan tarsebut, dan mengacu pada Gambar 4.4 sebagai penjelasnya:
atau dengan menggunakan persamaan (3.4-6) yang lebih terinci sebagai berikut, Av = luas penampang tulaAgan geser total dengan jarak spasi antar-tulangan
s, untuk sengkang keliling tunggal Av= 2.ASJ di mana A 5 adalah luas pe-
Ve =7l r;-;+120Pw MuVud' bw d
1(
- nampang batang tulangan sengkang (mm2).
bw = lebar balok, untuk balok persegi = b (nYTI).
di mana Mu adalah momen terfaktor yang terjadi bersamaan dengan gaya geser terf
s = jarak pusat ke pusat batang tulangan geser ke arah sejajar tulangan po
aktor maksimum Vu pada penampang kritis, sedangkan batas atas faktor pengali dan Ve kok memanjang (mm).
adalah sebagai berikut:
fy = kuat luluh tulangan geser (MPa).
Vud 1O
M '
u
Vc s (0,30 vfc' )b..,P
114 BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR
BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 115


- - - t l
Av ly

I
seng lcang = Av f y
s
2
t
I v.

I
1 y-1.414Sl bw i--!-:-

I "' flw d
s s s
komoonoo ,
vertlkal =
d

Gambar 4.5.
Gambar 4.4. Penampang isomerrik susunan sengkang Menentukan jarak spasi sengkang berdasarl<an syarat kekuatan

Apabila gaya geser yang bakerja Vu lebih besar dari kapasitas geser baton rp Ve Dengan menggunakan konsep tegangan geser SK SNI T-15-1991-03 dan memberikan
maka diperlukan penulangan geser untuk memperkuatnya. Apabila gaya geser yang be beberapa substitusi, maka didapatkan:
kerja di sebarang tempat sepanjang bentang lebih besar dari 1t2.1p Ve. peraturan mengha V 4' (V + V5 )
Tegangan geser =--u -= c
ruskan memasang paling tidak tulangan geser minimum yang disyaratkan. Pada SK SNIT- </J bw d bw d
15-1991-03 pasal 3.4.1 dinyatakan bahwa dasar perencanaan tulangan geser adalah: dan persamaan tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
Vus9Vn SK SNIT-15-1991-03 pars {3.4-1)
Tegangan geser =
v c-+_s_
v.
dimana Vn=Ve +Vs SK SNIT-15-1991-03 pars (3.4-2)
bw d bw d
sehingga Vu:S <P Ve+ r/J Vs
suku pertama ( Vcfbwd ) adalah kapasitas tegangan geser baton, sedangkan suku
di mana Vu, q,, Ve, sudah ditentukan, Vn adalah kuat geser ideal atau nominal, dan Vs

ada- lah kuat geser nominal yang dapat disediakan oleh tulangan .JSSer.
kedua sebagai kelebihan tegangan geser di atas kapasitas beton yang harus didukung
oleh tu langan baja geser pada balok.

Untuk sengkang tegak (vertikal), Vs dapat dihitung dengan menggunakan per


Luas daerah tempat bekerjanya tegangan yang harus ditahan oleh tulangan geser
samaan (3.4-17) SK SNI T-15-1991-03: adalah 1,414sbwsehingga seperti tampak pada Gambar 4.5 gaya tarik diagonal adalah:
Av f v d
Vs = .
s 1414 sb ( Vs )
' w \ bwd
Persamaan-persamaan tersebut di atas dapat diuraikan dengan menganggap
bah wa sengkang menahan komponen vertikal dari gaya tarik diagonal yang bekerja di komponen vertikal gaya tarik diagonal:
daerah 112s kanan dan kiri d sengkang yang bersangkutan (lihat Gambar 4.5).
Sedangkan kom ponen horisontal dimasukkan dalam perencanaan tulangan pokok
0 707 (1 414 sb ) Vs =sb {. Vs )= Vss
' ' w bwd w \ bwd d
memanjang.
Seperti telah disebutkan terdahulu, sebagai pembatas geser rencana ( Vu) atau ga Av fy adalah kapasitas tarik ultimit sengkang. Karena ke arah vertikal harus terjadi keseim
ya geser yang telah dikalikan dengan faktor beban, sama dengan kuat geser baton ditam- bangan, maka:

bah kuat geser tulangan geser.


A f - Vss
v y - d
116 BAB 4 PENUl.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR BAB 4 PENUl.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 117

1 bw
_ Av f r d S
sehingga, v.- s Av+ 2 Ar =3-f-
s1:1nt


di mana y
Dengan cara s8!lla, untuk tulangan sengkang miring sesuai dengan persamaan (3.4-18) menahan
A, adaJah luas satu kaki sengkang tertutup pada daerah u
sejarak

SK SNI T-15-1991-03: Vs = Av fy (sina + cosa) torsi,mm2.


(.;) Deng.an demikian prosedur umum perencanaan tulangan sengkang adalah:
1) Hitung nilai geser berdasarkan diagram geser Vuuntuk bentang barsih,
di mana s adalah jarak spasi pusat ke pusat antar-sangkang arah horisontal sejajar tulang
2) Tentukan apakah dibutuhkan tulangan sengkang atau tidak, apabila diperlukan seng
an pokok memanjang. kang gambarkan diagram Vs.
3) Tentukan bagian dari bentangan yang memerfukan tulangan sengkang.
Adalah lebih praktis apabila persamaan-persamaan (3.4-17) dan (3.4-18) SK SNIT-
4) Pilih ukuran diameter batang tulangan sengkang (gunakan sengkang vertikal). lkutilah
15-1991-03 disusun ulang untuk mengungkapkan jarak spasi sengkang, karena pada
petunjuk-petunjuk yang berkaitan dengan anggapan-anggapan yang bertaku dan ana
umumnya ukuran batang tulangan sengkang, kekuatan bahan, dan tinggi efektif telah ter-
lisis yang harus dilakukan.
tsntu. Maka perencanaannya adalah menentukan jarak spasi tulangan sengkang dengan
5) Tentukan jarak spasi sengkang maksimum sesuai syarat SK SNI T-15-1991-03.
menggunakan persamaan sebagai berikut: 6) Hitung kebutuhan jarak spasi sengkang berdasarkan kekuatan yang mampu disum
Av fyd
bangkan oleh penulangan sengkang.
Untuk sengkang vertikal s perfu = -
vs
Av f yd
7) Tentukan pola dan tata letak sengkang secara keseluruhan dan buatlah gambar sket
Untuk sengkang miring s perlu= (1,414)-- . sanya.
Vs
Harap dicatat bahwa kedua persamaan tersebut digunakan untuk menghitung jarak maksi Beberapa petunjuk ketentuan penulangan sengkang
mum antar-sengkang didasarkan pada kuat bahan yang diperlukan. Kuat tulangan geser 1 ) Bahan-bahan dan tegangan maksimum
nominaJ yang diperlukan Vs dapat ditentukan dari diagram gaya geser terfaktor Vu, dan 1 Untuk mencagah terjadinya lebar retak berlebihan pada balok akibat gaya tarik diago
persamaan SK SNI T-15-1991-03 (3.4-1) serta (3.4-2): nal, SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.4.5 ayat 2 memberikan ketentuan bahwa kuat luluh
'4us Ve+ 4Ns rencana tulangan geser tidak boleh melampaui 400 MPa. Sedangkan nilai Vs tidak bo
selanjutnya didapat: leh melebihi (213./ tc ')bwd terlepas dari be rapa jumlah luas total penulangan geser (pasal
3.4.5 ayat 6.8).
2 ) Ukuran batang tulangan untuk sengkang
Umumnya digunakan batang tulangan 010 untuk sengkang. Pada kondisi di mana
bentang dan beban sedemik!an rupa sehingga rnengakibatkan timbulnya gaya geser
Apabila penampang komp ;men struktur terlentur juga menahan momen tarsi (p.untiran): yang relatif besar, ada kemungkinan harus menggunakan batang tulangan D12. Peng
di mana momen tarsi terfaktor Tumelebihi nilai (1124v'fcLx2y), maka kuat geser Ve gunaan batang tulangan 012 untuk tulangan sengkang merupakan hal yang jarang di
adalah. lakukan. Untuk balok ukuran besar kadang-kadang digunakan sengkang rangkap

(2FJ )
6
b d
de ngan perhitungan kemungkinan terjadinya retak diagonal yang menyilang empat
atau lebih batang tulangan sengkang vertikal.
2 w
Apabila digunakan sengkang tertutup tunggal, luas yang disediakan oleh setiap seng
1+(2.50 c, :) kang untuk menahan geser Av adalah dua kali luas penampang batang tulangan yang
digunakan, karena setiap sengkang rnenyilang retak diagonal pada dua ternpat, se
dan apabila pada komponen tersebut kuat geser tertaktor Vu > 112q, Ve. sehingga memer_ hingga misalnya untuk batang tulangan 010: Av = 157 mm2, sedangkan untuk 012:
lukan dipasang tulangan geser minimum, maka luas sengkang tertutup minimum harus dt- Av= 226 mm2.
hitung dari persamaan berikut:
118 BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR
BAB 4 PENUL.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 119
Apabila mungkin jangan menggunakan diameter batang tulangan sengkang yang
berfainan atau bermacam, gunakan ukuran batang tulangan sama untuk seluruh seng

,,M,f,s ,=,4,6,,k,N,,/m,,',,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, ,,,,,TI


8
kang kecuali tiada pilihan lain. ada umumnya yang diatur bervariasi adalah jarak spasl
sengkang sedangkan ukuran batang tulangannya diusahakan tetap.
I 10000
3 ) Jarak antara sengkang {spas1) 230 kN (a)
Jarak spasi dari usat ke pusat antar-sengkang tidak boleh lebih dari 1t2.d atau 600 mm,
mana yang lebih kecil (SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.4.5 ayat 4.1). Apabila V5 melebihi

/,(----
nilai (1!3v' f c' )bwd jarak spasi sangkang tidak boleh lebih dari 114d atau 300 mm, mana o l""........... ......_..J..U..i..u..u..u..i..u.u.::aii"'==:::============l
yang lebih kecii (pasal 3.4.5 ayat 4.3). Pada umumnya akan lebih praktis dan ekonomis
untuk menghitung jarak sengkang perlu pada beberapa tempat (penampang) untuk 230 kN
kemudian penempatan sengkang diatur sesuai dengan kelompok jarak. Sehingga ja rak (b)

spasi antar-sengkang sama untuk suatu kelompok jarak dan peningkatan jarak anta ra Gambar 4.6.
satu kelompok dengan lainnya tidak lebih dari 20 mm. Peraturan menetapkan bahwa jika Sketsa Contoh 4.1

reaksi dukungan berupa gaya tekan vertikal di daerah ujung komponen (misalnya suatu Contoh 4. 1.
balok), maka geser maksimum diperhitungkan akan terjadi pada penampang ber

jarak d dari dukungan kecuali untuk brackets, konsol pendek, atau kondisi khusus Balok beton bertulang persegi dengan perletakan sederhana, panjang bentangan ber
yang semacam. Penampang di tempat berjarak d dari dukungan disebut sebagai pe sih 10 m, lebar b = 300 mm, tinggi efektif d = 610 mm, menahan beban rencana total (ter
nampang kritis, dan perencanaan sengkang penampang-penampang yang berada masuk berat sendiri) wu =
46 kN/m, fc' = 20 MPa, f y =
240 MPa, rencanakan penulangan
gesemya.
daJam jarak d dari dukungan menggunakan nilai geser sama yaitu Vu- Dengan kata lain,
spasi sejak dari dukungan sainpai ke penampang kritis bemilai tetap dan dihitung ber
Penyelesaian
dasarkan kebutuhan sengkang di penampang kritis. Sengkang yang paling tepi dipa
Gambar diagram gaya geser Vu (lihat Gambar 4.6).
sang pada jarak 1!2S dari dukungan, di mana s adalah spasi sengkang yang diperlukan di
Vumaksimum = 112 Wul = 112(46)(10) = 230 kN. Gambar
daerah tersebut dengan maksud untuk mempertimbangkan keserasian pemasang- . an
diagram gaya Vs perlu (lihat Gambar 4.7).
keseluruhan bentang. Pel'lgaturan spsi sengkang merupakan fungsi diagram V5
Vu
Dalam praktek pelaksanaan, pola perencanaan sengkang sepenuhnya tergantung Vs perfu= --Vc
pada pilihan perencana yang dalam hat ini dibatasi oleh pertimbangan segi kebutuhan
kekuatan dan ekonomi biaya. Tersedia banyak kemungkinan untuk pengembangan pola "'
Ve = (116v'fc ' )bwfi
tersebut. Pada umumnya nilai gaya geser akari berangsur berkurang sejak dari tempat =(116v'20)(300)(610)10-3 = 136,4 kN
dukungan sampai di tengah bentang dan dengan demikian spasi jarak seng kang-pun
246,93kN
berangsur ditarnbah sejak dari penampang kntis sampai mencapai nilai jarak spasi
<t
I
maksimum yang diperkenankan oleh peraturan. Pekerjaan ini memerlukan kete kunan
karena merupakan pekerjaan detail dalam kaitannya dengan operasi panempat an
tulangan sengkang sedemikian hingga diperoleh penggunaan baja yang seekono mis
mungkin. Untuk balok dengan beban merata pada umumnya digunakan tidak lebih dari
76,01 kN
l
dua atau tiga macam spasi sengkang. Sedangkan untuk balok bentangan panjang atau
pembebanan terpusat yang kompleks tentunya akan membutuhkan lebih banyak
I
perhitungan dalam perencanaan polanya. Pada umumnya jarak spasi sengkang diarn
5000
biltidak kurang dari 100 mm.
Gambar 4.7. Diagram V untuk Contoh 4.1
5
12 Q BAS 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR

..
5
BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 12 1

sang sengkang dengan pemeriksaan terhadap nilai Vu.


SK SNI T-15-1991-03 pasI3.4.5 ayat 5 menetapkan perhitungan perlu tidaknya dipa
Apabila naai Vu>.112 .;Vc diperlukan pemasangan sengkang.
112 Ve= 112(0,60)(136;4) = 40,92 kN
.. Padatempat dimana V >(1!3../fc' )bwd digunakan spasi sengkang dengan nilai yang terke
cii di antara nilai-nilai 1/4d dan 300 mm.
Kriteria lain dari SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.4.5 ayat 5 yang perlu
diperhatikan ia-

Karena 230 > 40,92 maka tulangan sengkang diperlukan.


Di tempat dukungan Vs= (230/0,60) -136,4 = 246,93 kN.
.. lah persyaratan luas penampang tulangan minimum sesuai SK SNI T-15-1991-03
persa maan (3.4-14) sebagai berikut:

Nilai beban merata total sebesar 46 kN/m diungkapkan dengan garis miring _ .!_ bwS at _ 3A vfy -_ 3(157) (240)
diagram A v- 3 au
Smsks-
bw 300
376 8 rrvn

Vu. Karena Vs merupakan fungsidari VJtjJ kemiringan garis diagram Vs sama dengan kemi- Dari hasilpemeriksaan berdasarkan pada dua kritaria tersebut di atas, nilai terkecil yang
ringan garis diagram Vudiagi dengan ip. di pakai ialah jarak spasi maksimum 305 mm untuk keseluruhan panjang baJok.
Kemiringan garis diagram Vs :m= 4614' = 46/0,60 = 76,67 kN/m
Kemudian ditentukan tempat di mana nilai diagram Vs= 0, yaitu pada jarak 246,93176,67 = Menentukan jarak spasi yang dibutuhkan berdasarkan pada kuat geser :
3,22 m dari dukungan. Uhat Gambar 4.7 (Diagram Vs). Sampai sejauh ini telah diketahui bahwa spasi sengkang yang dibutuhkan di tempat pe
nampang kritis adalah 114,8 mm dan spasi maksimum ijin pada balok 305 mm, di
Menghitung panjang bagian bentang yang memerlukan sengkang : bagian mana sengkang harus diperhitungkan.
Mengingat kebutuhan akan tulangan sengkang harus diperhitungkan pada tempat di ma Untuk menyusun pola pada keseluruhan panjang balok periu diatur berbagai variasi
4' Ve= 40,92 kN, carilah kedudukan nilai tegangan geser tersebut pada diagram
na Vu= 11'2 spasi sesuai dengan kebutuhan sengkang untuk setiap titik sejak dukungan. Mungkin


Vu di Gambar 4.6(c). pengaturannya lebih mudah dilakukan dengan membagi menjadi beberapa kelompok
Didapat jaraknya terhadap dukungan adalah: (23Q-40,92)/46 = 4,11 m. sengkang berdasarkan jarak spasinya Penentuan jumlah lokasi di tempat mana
Apabila dipilih tulangan 010 ( Av = 157 mm2) untuk sengkang, periksalah spasi dilakukan perhitungan spasi perlu merupakan faktor yang harus diperhitungkan dan
yang dibutuhkan pada penampang kritis, di mana merupakan tempat yang memerlukan merupakan fungsi dari diagram Vs.
spasi paJing rapat. Dengan menggunakan dalam efektif balok d = 610 mm, maka pada
pe nampang kritis didapat,
Vs= 246,93 - 610(76,67)1 G-3 = 200, 16 kN
. k k _ Av fy d _157(240)(610)(10)-3 .a mm x (m) s penu (mm)
114
1ara seng ang s - V - 200 16
0,66 117,1
s '
t90f'itls tldak 135
Gunakan 11O mm, dan ini adalah jarak spasi tebesar yang boleh digunakan pada bagian 1,00
2,00 245.6
balok sepanjang d di antara dukungan dan penampang_ kritis. Nilai tersebut didasarkan 2,24 305
atas kuat geser yang C:isediakan oleh baja tulangan geser terpasang. Apabila perhitungan
spasi yang diperlukan pada kasus semaca ini menghasilkan nilai kurang dari 50 mm,
mungkin harus dipertimbangkan penggunaan tulangan sengkang dengan diameter yang .
lebih besar atau sengkang rangkap.

2,24 3,22 5.00


Menentukan spasi maksimum yang dibutuhkan :


1,00 2,00 3,00 4,00
Bandingkan nilai V 5pada penampang kritis dengan (1/3./fc'}bwd : (1! jarak dart per1elakan (m)

3v'fc'}b.,,,d = (113v'20}(300)(610)(10)-3 = 272,8 kN


Karena 200, 16 <272,8 ; spasi maksimum adalah nilai terkecil dari 112.d dan 600 mm. Gambar 4.8.

Vs= 200, 16 kN pada penampang Spasi sengkang yang diperlukan


kritis
11'2d = 112(610) = 305 mm
12 2 BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK
BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIA BALOK TERLENTUR 12 3
TERLENTUR

Untuk mempermudah perhitungan spasi yang diperlukan pada berbagai tempat di 330 kN 330 kN
sepan jang balok dapat dikembangkan dengan membuat tabel atau daftar
berdasarkan pada ungkapan berikut ini:
Av fv d
-r
MhltiML'LUL!ULLULkMLMLUML!LUULMAMLLUjiDii
1PkN'"'
s perlu =
vs
/
v 6000 I.,
1
Nilru V5 diambil dari diagram Vs (Gambar 4.7) dengan perhitungan sebagai berikut: Gambar 4.10.
Sketsa Conteh 4.2
Vs= Vs(maksJ - mx
di mana Vs(maksJ adalah nilai Vstepat pada dukungan, m adalah kemiringan diagram Vs dan Contoh 4.2.

x adalah jarak dari dukungan ke tempat di mana spasi sengkangnya diperhitungkan. Suatu balok beton bertulang menerus seperti tampak pada Gambar 4. 1o. febar baiok
Av f y d
Maka, s perlu= V 400 mm, dalam efektif 780 mm. Beban rencana dan diagram gaya geser seperti tampak
s( maks) -mx dalam gambar. Beban rencana merata sudah termasuk berat sendiri balok. Rencanakan
Apabila perhitungan spasi sengkang yang diperlukan dilakukan secara acak untuk setiap penulangan geser balok apabila fc '=20 MPa dan fy = 240 MPa.
jarak 660 mm, maka pada jarak 660 mm dari dukungan akan didapatkan, Penyelesaian
3

s perlu= Av f y d 157(2J)(610)(10} - H l,-1 Diagram gaya geser ( Vu) seperti tampak pada Gambar 4.11.
mm Ve = (116./ fc' )b.,,.cl
-3
vs( maks) -mx 246,93- 76,67( 660)( 10 , ,
)
Dengan cara yang sama spasi yang diperlukan pada tempat-tempat di sepanjang balok da
= (116./20)(400)(780)1 = 232,55 kN
pat dihitung dan ditentukan. Hasil perhitungan tersebut dibuat daftar dan gambar seperti
tampak pad Gambar 4.8. Perlu dicatat bahwa pada tempat di mana nilai Smaks= 305 mm
1.e 9 Ve= 112(0,60)(232,55) 69,77 kN =
Karena 363 > 69,77 diperlukan tulangan sengkang.
dilampaui tidak perlu dihitung besarnya spasi sengkang.
Grafik pada Gambar 4.8 sebagai alat bantu untuk menentukan perhitungan dan po
Menghitung Vspada tempat dukungan balok :
la spasi sengkang. Misalnya spasi 135 mm dapat dimulai pada tempat berjarak 1000 mm
v.
363
dari dukungan dan spasi maksimum 305 mm dimulai pada tempat berjarak 2240 mm. Vs perlu= ..JL-vc = -- -232,55= 372 45 kN
tP 0, 60 '
Tulangan sengkang pertama ditempatkan pada kira-kira berjarak separoh dari spasi
yang diperlukan pada penampang kritis. SJ<etsa perencanaan diberikan pada Gambar
363 Ii
4.9. 1 meter

Tampak pada gambar bahwa spasi sengkang dengan jarak maksimum dipasang -,J 1kN
.... 341
pa da bagian terbesar dari seluruh panjang balok. l
Vu (kN)
I
,,, , ..,.,_ I
1 1

i I
I
,./
I
,, t 11

2000 1000
9x300 mm

setengah bentang = 5000 mm


1
341 -

Gambar 4.9.
Sketsa perencanaan Contoh 4.1
Gambar 4.11. Diagram Vu untuk Contoh 4.2
12 4 BAB 4 PENUl.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR BAB 4 PENUl.ANGAN GES ER DAN PUNTIR
.
BALOK TERLENTUU 12 I

373,45 <t.

335,78

- 'I
I
2000

.I
1,00
2.00 3,00

Gambar 4.12. jarak darJ (m)


Diagram V untuk Contoh 4.2
5

Gambar 4.13.
Persyaratan spasi sengkang - Conteh 4.2
Menghitung Vspada tempat di mana bekerja beban terpusat :
341 Menentukan persyaratan Smaks yang harus di e . . .
Vs perlu= --- 232,55= 335,78 kN
0,60 geser yang harus disediakan dan in' hp l!h' berdasarkan tm1auan terhadap kuat
' I meng as1lkan ungkapan s b . b
Kemiringan garis diagram Vs : m= 11/0,60 = 18,33 kN/m yang digunakan sama dengan Contoh 4.1): e aga1 erikut (notasi
Diagram Vsseperti tampak pada Garnbar 4.12.
Panjang bagian balok yang memerlukan tulangan sengkang dihitung sebagai berikut,
Vs = Vs(maksJ - mx

A
. = 372,45 - 18,33(x)
1121/> Ve= 69,77 kN
Dari Gambar 4.11 dapat dilihat bahwa tempat di mana Vu= 69,77 kN adalah tempa1beker- s perlu= yd = 157(24Q(78Q (10)-3 29390,4
janya beban terpusat yang bearak 2,0 m dari tumpuan, sedangkan tempat di antara dua . . . 372,45-18,33(x)(10)-3 372,45-18,33 x (1 -3
s
beban terpusat tidak lagi memarlukan tulangan baja sengkang. Dengan mengingat persyaratan Smaks dan untuk analisis selanjutnya, maka digunakan nilai
Apabila digunakan tulangan baja 010 ( Av = 157 mm 2) untuk sengkang, maka spasi
Smaks= 280 mm.
sengkang yang diperlukan pada penampang kritis adalah,
Vs = 372,45 - 780(18,33)1D--1= 358,15 kN
s perlu= Av f yd =157( 240)( 7 8 0)(10)-3 = 821 mm
vs 358,15
digunakan spasi sengkang 80 mm.
Persyaratan spasi maksimum SK SNI T-15-1991-03 adalah, (1!
3v'f c ')bwd =(113./20)(400)(780) 1Q--1 = 465, 10 kN
Dengan membandingkan terhadap Vs pada penampang kritis, didapatkan:
358, 15 < 465, 10
Sedangkan persyaratan Smaksadalah 112.datau 600 mm, 112d= 390 mm.
Pemeriksaan Smaks menghasilkan:
_ 3 Avf y 3(157)( 240)
Smaks- bw 282,6 rTVTI
400
has1I subst1tus1 dan perhitungannya dit k ( ) sengkang selengkapnya dapat dilihat ada Garn : sa perencanaan
pak pada Gambar 4.13. uang an dafam bentuk tabel dan grafik seperti tam- separoh bantang balok saja: . P. bar 4.14, karena s1metn hanya digambar

Seperti yang telah disebutkan di atas pada ba ian .


sat yang bekerja padanya (lihat Gambar 4 1'3 )td k g baJok d1 antara dua beban terpu-
t . 1 a memerfukan sangkan k
asan spas1 maksimum 280 mm tidak b r1 ku . g, ma a pemba-
Pada sekitar tangah bentang balok de d.pada bag1an balok tersebut.
yang diperkenankan peraturan Pada bapa. ipbaaJsang. sengkang dengan spasi
maksimum
. . ag1an ok d1 antara dukung d
Janya beban terpusat dipasang tul an an tempat beker- Sk t
angan sengkang spasi 200 mm
Gambar 4.14. Sketsa rencana sengkang Contoh 4.2
BAB 4 PENUlANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 12 7

126 BAB 4 PENUlANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUA

pada Gambar 4.15. Setelah terjadi retak miring, balok masih mampu memikul beban yang
lebi besar, dengan demikian cenderung menunjukkan masih mempunyai cadangan ka
4.4 GESER PADA BALOK TINGGI
pasitas yang cukup tinggi. Untuk balok sejenis ini umumnya retak miring timbul
dengan arah lebih kecil dari 45 terhadap arah tegak bahkan kadang-kadang mendekati
Dengan mengacu pada pembahasn di Bab 4.1, didapatkan bahwa nilai banding bentang
vertikal. Olah karena itu, apabila dipertukan pemasangan penulangan geser, dipasangi
geser dan tinggi efektif; a Id, menempati posisi panting dalam penetapan kuat geser ba
tulangan
lok. Berdasarkan pada nilai tersebut cara keruntuhan geser balok dapat ditetapkan menja-
yang terdiri dari batang-batang tulangan horisontal dan vartikal.
di empat golongan umum sebagai berikut ini, Kuat gesar nominal dihitung seperti balok biasa dengan berdasaran pada persa
1) balok tinggi untuknilai a Id< 1, maan:
2) balok pendek untuk nilai aid di antara 1-2,5 di mana kuat gesemya melampaui kapasi-
Vu= Vn dan Vn= Ve Vs
tas retak miring, di mana Ve adalah kuat geser beton nominal, dan Vs adalah kuat tulangan geser nominal.
3) balok biasa dengan panjang menengah untuk nilai a Id di antara 2,5-6, di mana kuat
Karena penulangan geser pada penampang kritis dipakai sebagai pedoman untuk
gesernya menyamai kapasitas retak miring, dan
perencanaan penulangan pada seluruh panjang bentang maka kuat geser terfaktor Vudi
4) balok panjang untuk nilai a Id > 6, dan kekuatan lentur lebih kecil daripada kekuatan
tentukan cukup pada satu tempat saja. SK_ SNI T-15-1991-03 memberikan ketentuan
geser. mengenai letak penampang kritis sebagai berikut:
Standar SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.7 memberikan ketentuan perencanaan pe-
untuk beban merata x= 0, 15 f n s d
nampang komponen struktur tinggi, diberlakukan untuk komponen struktur lentur de
untuk beban terpusat x= 0,50 a
ngan nilai banding tinggi total terhadap bentang bersih: hll n = 215 untuk bentang
di mana bentang geser a adalah jarak dari tumpuan ke ternpat beban terpusat bekerja.
mene rus, dan 4/5 untuk bentang sederhana. Sedangkan ketentuan perencanaan
Untuk memperhitungkan kuat geser baton nominal SK SNI T-15-1991 -03 mem
kekuatan komponen struktur lentur tinggi pada SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.4.8
perbolehkan menggunakan cara sederhana, dengan menganggap sama seperti pada
menggl!nakan nilai banding bentang bersih terhadap tinggi efektif komponen: l ,./d, di
balok biasa,
mana diberikan batasan bahwa ketentuan dalam pasal ini diberlakukan hanya untuk
Ve=(116Y'fc' )bwd
komponen struktur dengan i,!d kurang dari 5, dibebani pada sisi atas atau muka
atau dengan menggunakan cara yang lebih terinci sebagai berikut,
tekan, dengan posisi tum
puan di bagian bawah.

segerabalok tinggi dengan nilai a Id < 1, terjai perilaku pelengkung di mana


Untuk Ve = ( 3 ,5 Mu 1 ( ,-;-; V, bwd
-2 d ) )7 +120 Pw
,5Vu 1 fe ' u
setelah terjadi retak miring, beban ditahan oleh susunan gaya tekan membentuk busur d
pelengkung yang diikat gaya tarik di sepanjang tulangan memanjang seperti ditunjukkan di mana Mu adalah momen terf aktor yang terjadi bersamaan dengan gaya geser terf
aktor maksimum Vu pada penampang kritis, sedangkan batas atas faktor pengali dan Ve
adalah
sebagai berikut:
busur tekan
I
{3.5- 2,5 V l.':' 2,50 dan s(Ji:')
Ve b.d

Harap diperhatikan perbedaannya dengan persamaan untuk baJok biasa


Apabila gaya geser terfaktor Vumelebihi kuat geser q, Ve;. maka harus dipasang tulangan
geser untuk memperkuatnya, di mana kuat tulangan gesar Vs dihitung dengan persama

+;
l
an berikut,
v-
Av( Avti [11 d 'i } f d
-
+
1
s-
{S 12 s
2
12 ) y
Gambar 4.15.
Efek peiengkung pada balok t111uu1
12 8 BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR BAB 4 PENULANGAN GESER OAH PUNTIR BALOK TERl..ENTUR 12 9

di mana. f n = bentang bersih


Av = luas penampang sengkang vertikal pemeriksaan (3,5 -2,5 :.) = 3,5 -2,5 (0,3311 ) =2,67 >2,5
Avh= luas penampang tulangan geser memanjang
s = jarak spasi sengkang vertikal maka gunakan nilai 2,50
s2 = jarak spasi vertikal tulangan geser memanjang 5160
Lebih lanjut SK SNI T-15-1991-03 memberikan persyaratan jumlah minimum penu!angan Pw = 500( 1650) = 0,0063
geser Av d an Avh ad.alah sebagai berikut: V u d =3 0202
Av minimum = 0,0015 bwS dengan s s 1/5ds 500 mm Mu '
Avh minimum = 0,0025 b..,s2 dengan s2 s 1/3d s 500 mm Menghitung kapasitas Ve :
Jumlah tulangan geser yang diperlukan pada penampang kritis harus dipasang juga pada
seluruh bentang, dan apabila didapati Vu > 112 Vnmaka di seluruh panjang bentang Ve = (2,50) (J'd +120 Pw :)bwd
harus dipasang penulangan geser horisontal dan vertikal dalam jumlah minimum.
SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.4.8 ayat 4 memberika'n batasan kuat geser nominal =(2,50) (/36 +120(0,0063) (3,0202 >) (5(()) (1650) (10)-3
vn maksimum untuk komponen struktur lentur tinggi sebagai berikut:

=( 2ffe)
= 2286,5 kN
untuk <2
Vn Ve = ( 112V'fc' )bw d = (1!2./30)(500)(1650)(10)-3 = 3195 kN > 2286,5 kN
.
d Jadi yang menentukan Ve= 2286,5 kN.
l
bwd
untuk 2 < ;< Vn= ,:{(10+ )Jfd } Perencanaan penulangan geser :
5 bwd Di.anggap menggunakan tulangan baja 010 baik penulangan horisontal maupun vertikal.
C ontoh 4.3.
Sebuah balok dengan tumpuan sederhana dengan bentang bersih f n = 3,O m, tinggi = Vu= 1706,3 > <P Ve= (0,6)(2286,5) = 1371,9 maka digunakan penulangan geser.
1,80 m, lebar b = 500 mm. Luas tulangan memanjang 5160 mm2. Beban hidup merata Av = 2(78,5) = 157 mm2 = Avh
1000 kN!m. fe' = 30 MPa dan fy = 400 MPa. Rencanakan penulangan gesernya. </>Vs= Vu-</>Ve atau,
Vu 1706,3
Peny elesaian Vs = -Ve = 0, 0 -2286,5 = 557, 3 kN
Pemeriksaan l Jd = 300/180 = 1,67 < 5, maka diperlakukan sebagai balok tinggi. 6
Menghitung gaya geser rencana Vu :

berat sendiri balok = 0,50{ 1,80)23 = 20,70


v+-- J Av(1 ] A [11
d )} f d
l
kN/m -
beban rencana total = 1,20(20,70) + 1,60(1000) = 1625 kN/m s- S 12 s2 .. 12 Y
jarak penampang kritis: 0,1? f n= 0,15(300) = 45 cm < 500
mm 557,3(10)3
=
gaya geser rencana Vu pada penampang kritis: 1 3000] 30001] (400) (1650)
15 17 1
Vu= 1'2(1625)(3) -1625(0,45) = 1706,3 7 ( 1-
kN

- 1660 + 1650
[ S (
Menghitung kuat geser nominal Vn : diang
gap
</> Vn= 0,60{213Vfe')bwd= 0,60(2.13)v'30{500){1650)(10)-3 = 1807 kN > Vu= 1706,3
S= s2
kN
12 s2 12 )
Mu = 11'2{1625)(3)(0.45) - 112(1625)(0,45)2 = 932,3 557,3(10)3 = (157/s)(0,2348 + 0,7652)660. 000
kNm s= 186 mm<11s d = 115(1650) =330 mm <500 mm, dipakai s= 180 mm
M u _ 932.3 (10)-3 persyaratan penulangan minimum:
0 3311
Vud -1706,3( 1650) Av = 0,0015 bwS = 0,0015(500)(180) = 135 mm2<Av= 157 mm2 (baik)
Avh= 0,0025 bwS2= 0,0025(500)(180) = 225 mm2> A vh= 157 mm2 (tak baik)
13 0 BAB 4 PENUlANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR
BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 13 1

tutangan vertlkaJ tulangan hortsontal 012-180 Apabila tarjadi retak pada tempat di mana dipartukan penulangan geser friksi, mungkin
010-180
' I
.:l
saja penyabab retak tersabut bukanlah gaya geser akan tetapi karena susut, misaJnya.
I
/ / Akan tetapi harus diingat bahwa apabila di tempat tersabut sekali terjadi retak, apapun
- .... pe nyebabnya, agar tidak terjadi panggelinciran maka suatu mekanisme penyaluran gaya-
ga ya geser harus disediakan. Untuk itu pada tampat-tempat yang barpotensi terjadi retak
I I
1800
I ha rus dilakukan perencanaan penulangan geser friksi, yaitu perkuatan meli_ntang
4 lapls
I l ! I tuIanga sepanjang retakan untuk mencegah terjadinya pergeseran relatif, dengan cara
I I I i I ' I n pokok memisalkan bahwa re tak memang_ terjadi di tempat tersebut.
I I I I I I I I I I I l
I I I Sesuai dengan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.4.7, perencanaan penulangan geser
friksi didasarkan atas parsamaan Vu= <P Vm dengan nilai Vn ditentukan sebagai berikut:
Apabila tulangan gaser friksi dipasang tegak lurus terhadap bidang geser,
I I :,"

u 3000
Garnbar 4.16.
Penulangan Geser Balok Ttnggi Contoh 4.3
'L Vn= Avt fy
a
Apabila tulangan geser friksi dipasang membentuk sudut terhadap bidang geser sede-
mikian hingga gaya geser menimbulkan tagangan tarik dalam tulangan,
Vn= Avt fy (sin a,+cos a,)
Dengan demikian tulangan diameter 010 tidak dapat digunak sebagai ulangan hori
sontal. Gunakan tulangan 010 untuk penulangan vertikal dengan Jarak spas1
di mana, a = sudut antara tulangan geser friksi dengan bidang geser
Avt = luas penampang tulangan geser friksi
180.mm, da
= koefisian friksi
untuk penulangan horisontal menggunakan tulangan .diameter (dihitung dua ?12 Luas Avt yang diperlukan untuk panulangan geser friksi yang mamotong bidang geser
kak1, boleh direncanakan dengan menggunakan cara parhitungan penyaluran geser.
Avh = 226,2 mm2} sehingga diperoleh nilai V5 yang leb1h besar. Lihat Gambar 4.16 Koefisien friksi ditentukan sebagai berikut:
untuk tata cara penulangannya. baton normal = 1,0
baton ringan berpasir = 0,85
baton ringan total = 0,75
4.5 G ESER FRIKSI
Sedangkan untuk berbagai cara pelaksanaan, - koafisian friksi ditentukan sebagai berikut:
Ketentuan-ketentuan SK SNI T-15-1991-03 mengenai prosedur perencanaan 1) untuk baton yang dicor monolit 1,40
penulang an geser yang dibahas daJam Bab 4 ini, pada umumnya memberikan 2) untuk cor baton baru yang disambungkan
batasan-batasan un tuk mencegah terjadinya retak tarik diagonal atau retak miring pada baton lama dengan permukaan yang
pada komponen. struur ter lentur. Untuk kom!'1onen yang semakin tinggi, atau tinggi telah dika-
efektif relatif bear ?1bandmgkan dengan bentang gesemya, retak miring akan sarkan dan babas dari kotoran 1,00
menjadi lebih tegak. Apab1la tlda trdapat penulangan geser yang memotong bidang 3) untuk cor baton baru yang disambungkan baton
ratak kemungkinan besr akan teriad1 peng gelinciran di antara dan di sepanjang dua
bidang parmukaan retak tersabut.. Dalam ke.ada
an demikian, maka harus digunakan konsep geser friksi di dalam menganahsa lamatanpa dikasarkan permukaannya 0,60
mekarnsme 4) untuk baton yang dijangkar pada baja struktural
penyaluran gaya-gaya geser dalam komponen. . . _ proses giling dengan menggunakan pasak
Agar berlangsung mekanisme penyaluran gaya geser seba1 mugkm, konsap ge berka paJa atau las batang tulangan 0,70
ser friksi sangat tepat untuk digunakan pada tempat-tempat sebaga1 benkut:
1) bidang permukaan sambungan pangecoran baton lama dan baru,
2) bidang sambungan permukaan kolom dengan komponen konsol pendek, 3) bidang permukaan hubungan antar-komponan struktur baton pracetak,
4) bidang permukaan singgung antara baton dengan plat baja. Kuat geser baton Vetidak bolah diambil meiebihi nilai 0,20 fc'Ac atau 5,50 Ac. di mana
Ac adalah luas penampang baton yang memikul penyaluran gesar. Sedangkan kuat
leleh rencana tulangan geser friksi tidak boleh lebih dari 400 MPa
'

BAB 4 PENUlANGAN GESEA DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 13 3


13 2 BAB 4 PENUL.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR

Kemungkinan retak geser pada konsol pendek seperti tampak pada Gambar 4.17,
yang mana dapat diperhatikan bahwa semakin tinggi suatu konsol, retak cendenmg me
Tulangan geser friksi harus ditempatkan sebaik mungkin di sepanjang bidang ge
rambat mendekat ke arah kolom. Standar SK SNI T-15-1991-03 memberikan batasan
ser dan dijangkarkan untuk mengembangkan kuat leleh yang disyaratkan pada kedua
cara
sisi nya dengan penanaman, kait,.atau pengelasan pada alat penahan khusus. Gaya tarik
ting
gi bagian tepi luar daerah tumpuan tidak boleh kurang dari 0,50d. Setelah timbulretakan,
bersih yang memotong bidang geser harus dipikul oleh tulangan tambahan. Gaya tekan
bagian yang terfetak di antara retakan dan sisi bidang yang miring cenderung membentuk
bersih permanen yang memotong bidang geser boleh diperhitungkan sebagai tambahan
suatu elemen tekan (lihat Gambar 4.19), yang apabila berhasil terbentuk akan memberi
terhadap gaya dalam tulangan geser friksi Avr fy. di dalam menghitung A vrperlu.
kan cadangan kapasitas kekuatan. Walaupun harus memperhitungkan timbulnya gaya ho
risontal pada .tumpuan, prinsip mekanisme gaya-gaya dalam tidak berbeda dengan yang
terjadi pada balok kantilevar, di mana bagian bawah merupakan daerah desak dan bagian
4.6 GESER PADA KONSOL PENCEK atas adalah daerah tarik. Dengan memperhatikan pola retak yang terjadi pada konsol
pen dek dan mekanisme gaya-gaya dalam tersebut penulangan dipasang seperti pada
Konsol pendek ( bracket) merupakan komponen struktur baton bertulang yang sering di
Gam bar 4.18. Tulangan dipasang dan diatur ke arah lebar konsol ditanam masuk ke
jumpai pada bangunan berupa struktur tonjolan pada sisi muka kolom, umumnya igu
kolom dan dibengkokkan ke bawah kemudian diikat dengan tulangan sengkang. Seperti
nakan untuk menyangga komponen struktur lain yang bertumpu padanya. Pada sistem
pada kom ponen struktur kantilever, konsol pendek harus direncanakan dan
bangunan yang menggunakan sistem beton pracetak, konsol pendek disediakan seba-
diperhitungkan sede mikian rupa sehingga kuat menahan gaya geser dan momen yang
gai tempat tumpuan gelagar, balok, ataupun plat. Karena tonjolannya hanya pendek, ma
bekerja padanya.
ka perhitungan perencanaannya tidak sama seperti balok yang berhubungan dengan ko-
SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.4.9. memberikan tata cara perencanaan konsol pen
lom biasa, ataupun sebagai balok kantilever. dek dangan nilai banding bentang retak dan tinggi efektif aid tidak Iebih dari 1,0 dangan
Berkaitan dengan pembahasan di Bab 4.4, apabila pada konsol pendek didapati
ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
bahwa nilai banding antara bentang geser dengan tinggi efektif, aid kurang dari satu, ma
1). gaya horisontal terf aktor Nuc tidak lebih besar dari gaya gesar terf aktor V
ka teori mekanisme geser yang berlaku adalah sebagai komponen struktur lentur tinggi.
2) penampang pada muka tumpuan harus direncanakan untuk secara bersamaan memi-
Di lain pihak agar diperhatikan, konsol pendek yang berfungsi sabagai penyangga kom
kul gaya geser Vu.momen [ Vua+ NuJ.h-d)], dan gaya tarik horisontal Nuc (lihat Gambar
ponen struktur lain juga akan menahan gaya horisontal sebagai perwujudan deformasi
4.18).
aki bat rangkak, susut, suhu dari struktur lain tersebut, serta efek gaya ke arah horisontal 3) untuk semua perhitungan parencanaan konsol pendek menggunakan faktor reduksi
lain nya. Dengan demikian, mekanisme geser di dalam konsol pendek juga tidak dapat
kekuatan if' = 0,60 sedangkan pada tumpuan digunakan = O,70, berdasarkan pada
sepe nuhnya disamakan dengan balok tinggi seperti diketengahkan pada Bab 4.5.
anggapan-anggapan dasar seperti yang dibahas pada Bab 2.

Gambar 4.17.
Pola retak Konsol Pendek
Gambar 4.18.
Sistem penulangan Konsol Pendek
BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TEALENTUR 135
134 BAB 4 PENUL.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK
TERLENTUR

4) tulangan A, harus diperhitungkan untuk menahan momen lentur sebesar,


11) rasio
[Vua+ NuJ.h-d)]. penulangan: p=
5) perhitungan_ tulangan geser friksi A.,, harus dihitung sesuai dengan SK SNI T-15- bAds 2: 0,04 (f'yc')
1991-03 pasaJ 3.4.7 dengan ketentuan tambahan:
a untuk baton normal, kuat geser Vu tidak boleh lebih besar dari nilai-nilai 0,2 Keseimbangan gaya-gaya dalam korrnol p1:111d1:1k
fc'bwd
atau 5,5 b.,,..cf.
b. untuk baton ringan total atau beton ringan berpasir, kuat geser Vu tidak bofeh lebih
dari:

(0,20-0 ,0?) td bwd atau (5 ,50 -1,90 ) bw


d

6) perhitungan tulangan An yang berfungsi memikul gaya tarik horisontaJ Nuc ditentukan
berdasarkan Nuc s ip An fy.
7) gaya tarik terfaktor Nuc harus dianggap sebagai beban hidup walaupun gaya tersabut
terjadi akibat rangkak, susut, atau perubahan suhu; dan Nuc tidak boleh kurang dari
0,2 Vu kecuali bila digunakan cara khusus untuk mencagah terjadinya gaya tarik.
8) penampang kritis pada konsol pendek adalah pada sisi muka tumpuan yaitu di tempat
mana tinggi efektif harus diukur, dan tinggi efektif tidak boleh kurang dari dua kali ting
gi ujung luar d 1
9) luas tulangan tarik utama As harus diambil sama dengan nilai yang terbesar dari ( Ar
+
An) dan ( 213Avt+ An)
1O) tulangan geser sengkang Ah dipasang sejajar terhadap As dengan. luas tidak kurang
dari 0,5( As - An) dan disebar merata dalam batas dua pertiga dari tinggi efektif.

I
... , I
Bf) h
:: h-d - Ir-2 -a )

Gambar 4.19.
Selain ketentuan-ketentuan di atas masih ada syarat cara penjangkaran tulangan n 4' 0,60
pokok pada sisi muka konso! pendek yang harus diperhatikan, dipilih dari salah satu 0,20 fc'bwd = 0,20(35)(250)(350)(10)-3 = 612,5 kN > Vn
cara berikut: 5,50 bwd= 5,50(250)(350)(10)-3 = 481,25 kN > Vn
1) dengan las struktural terhadap tulangan transversal yang paling tidak
berdiameter sa ma, dan las direncanakan untuk dapat mengembangkan kuat
leleh fy dari tuiangan As.
2) dengan membengkok batik tulangan tarik utama As hingga membentuk
putaran hori sontal, atau,
3) dengan cara lain yang mampu memberikan penjangkaran positif.

Conteh 4.4 .
Rencanakan suatu konsol pendek untuk menopang beban vertikal rencana
Vu= 180 kN pada jarak a = 125mm dari muka kolom, /ebar konsol b= 250 mm,
tebal total h = 460 mm, tinggi efektif d = 350 mm, fc' = 35 MPa, fy = 400
MPa, berat sendiri konsol boleh dia-
baikan.

Peny elesaian.
Pemeriksaan Vn : Gambar 4.20.
Rencana Penulangan Conteh 4.4
V. = 1BO = 300 kN
BAB 4 PENUlANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 137
136 BAB 4 PENUl.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK
TERLENTUR

Luas bidang tumpuan (landasan) dibawah beban terpusat juga harus diperiksa dan diren
Menentukan /uas tu/angan geser friksi : canakan agar gaya luar rencana Vu tidak mengakibatkan tegangan melebihi ,P(0,60)
(fc'Ai),
hubungan konsol_ dengan kolom onlit, beton normal, maka= dimana
1,40 adalah luas landasan.
A1 Vu= 180(10)3= t;(0,60)(35)(A
J:L=300(10) = 535 7 mm 2 1)

Avt - fy 400(1,40) ' A = 180(10)3 .. 1303 mm 2


f 0, 65(0,70)(35) I 1 ), -'! ::C (} . /
hubungan konsol dengan
. kolom
3 nonmonolitik, maka = 1,
_ 300(1O) = 750 mm Gunakan plat 110x110 mm2 tebal 15 I ".,

2
mm. ,.,
Avt 400(1,0) 1 Q, '

dipakai nilai yang besar Avt= 750 mm2


4.7 7 KUAT TORSI (PUNTIR) ! :. j
Menentukan /uas tulangan lentur : . .
Karena gaya horisontal Nuc tidak ada ketentuannya, digunakan Nuc Gaya torsi terjadi pada waktu suatu komponen struktur memikul beban gaya sedemikian
minimum
hingga terpuntir terhadap sumbu memanjgnya. Conteh yang mudah dilihat secara visu
Nucminimum = 0,20 Vu= 0,20(180) = 36 kN.
al adalah pada perkakas mesin, misalnya sistem pemindahan tenaga melalui tangkai pada
Mu Vua+ N uc(h -d)
motor elektrik, pemindahan tenaga pada roda kereta api, dan sebagainya. Pada struktur
Ar = f tY x (lengaf9 . q, fY x (Ienga bangunan juga terdapat komponen-komponen struktur yang mengalami 'gaya puntir atau
di mana, (lengan) = 0,85d
3
3
180(10) (125)+36(10) (11O) 342 mm torsi ini, dan seringkali timbul bersarnaan dengan lentur dan geser. Contoh yang paling
= 2 mudah adalah balok anak seperti tarnpak pada Garnbar 4.21. Balok induk 81 terangkai se
Ar = 0,65(400)(0,85) @50) bagai satu kesatuan rangka monolit dengan balok anak BA-1 seperti tampak pada Gambar
3
A _ N!J c 36(10) 138,5 mm 2 4.21.a. Pada Gambar 4.21.b tampak bahwa sebagai akibat sifat kekakuannya timbul mo.;
n - f fy 0,65(400) men di tempat dukungan balok anak BA-1 dan momen ini mengakibatkan gaya puntir
ter hadap balok induk.

Menentukan tulangan pokok A,:


As= [2.:'J(Avt) + A,J = 213(750) + 138,5 = 638,5 mm
2
2 J I
l.
r ,...-
As= Ar+ An= 342 + 138,5 t = 480,5 mm 35 ()
- '' I

As minimum :::: (0,04) I bd= (0,04)


2 (25) = 30,63 nm

f 35
400
y 0 ba1ok tnduk I
/(Bl) j

I
2
dipakai As= 638,5 mm I balok
anak
Ah= 1!2(As-An) = 112(638,5 -138,5) = 250 (BA1I
balok anak (BA 1)
2
mm
baloK lnduk

Menentukan diameter tulangan :

A
mmpertu
2 = 638 mm2, gunakan 301 = 763,5 (Bl)
PENAMPANG
Ah pertu = 250 mm, gunakan sengkang 3010 = 2(3)(78,5) = 471
t------rr
- f----- POTONGAN A-A

mm
5 2

dipasang sepanjang 213(d) = 233,3 mm (vertikal). . I

U
Maka, dipasang 3010 dengan spi115 mm. Kemudian dipasang JUga tulangan 3010
se bagai rangka, dan salah satunya dilas jangkar.Hasil perencanaan penutangan konsot
pada
IT Gambar 4.21.
Tarsi pada
balok
Gambar 4.20.
138 BAB 4 PENULANGAH GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR

Akibat dari gaya tarsi yang bekerja pada batang berpenampang bulat, permukaan
rata penampang_ transversal akan tetap rata setelah terjadinya puntir. Sedangkan akibat
pada komponen struktur yang berpenampang bukan bulat akan timbul mekanisme gaya
dan perilaku kompleks serta rumit, di mana penampang akan memilin dan melipat pada
waktu terpuntir. Secara umum, apabila penampang yang semula rata dijaga tetap rata
se telah mengalami puntir, tegangan geser maksimum akan terjadi pada tempat yang
letak nya terjauh dari pusat puntir. Pada penampang persegi,.tegangan gE:lser tarsi
maksimum
v, terjadi pada titi tengah dari sisi yang panjang dan arah kerjanya sejajar dengan
sisi ter
sebut seperti tampak pada Gambar 4.22. Nilai v1 merupakan fungsi dari perbandingan
sisi panjang yterhadap sisi pendek x, dan tersusun hubungan sebagai berikut:
T
v -- -
t - a x2y

Gaya geser tarsi akan timbul di permukaan batang terpuntir dan cenderung
menye babkan terjadinya retak tarik diagonal sama seperti yang diakibatkan oleh gaya
geser len tur, akan tetapi gaya geser tarsi akan bekerja pada arah yang berlawanan
untuk sisi pe nampang yang berhadapan. Karena pada umumnya gaya geser dan tarsi
muncul secara bersamaan atau bahkan berinteraksi satu sama lain, tinjauan efek gaya
tarik diagonal pada satu sisi permukaan penampang batang merupakan penjumlahan
dari keduanya Apabila demikian halnya, dan lebih-lebih apabila kuat tarik baton
terfampaui maka akan dapat dili hat bahwa pada permukaan terjadi retak baton yang
kurang lebih membentuk sudut 45 terhadap sumbu batang komponen struktur tersebut,
lihat Gambar 4.23. Dengan demi kian, diperlukan batang tulangan baja untuk dipasang
melintang terhadap arah retakan se-

Gambar 4.22.
Distribusi Tegangan Tarsi pada penampang balok
BAB 4 PENUlANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 13 9 akibat tarsi dapat dirumuskan dengan menggu nakan salah satu dari dua kondisi, yaitu:
(1) tarsi statis tertentu, di mana tidak ada redistri busi tegangan torsional ke batang
struktural lain setelah terjadi retak karena terjadi kese imbangan, dan (2) tarsi statis tak
tentu, di mana redistribusi tegangan torsionaJ dan mo men-momen satelah terjadi
retak mampengaruhi keserasian antara kompanen-kampo nen struktur yang bertemu
pada satu titik buhul.
Untuk komponen struktur statis tertentu, resultante tegangan akibat torsi dapat di
paroleh berdasarkan kondisi keseimbangan saja. Kondisi demikian hanya memerf ukan
perencanaan yang didasarkan terhadap momen tarsi luar rencana total saja, karena tidak
adanya kemungkinan redistribusi tegangan dan sering dinamakan sebagai tarsi keseim
bangan. Keruntuhan yang terjadi umumnya disebabkan karena balok atau kamponen
struktur yang tidak cukup memenuhi keseimbangan gaya-gaya dan momen daJam,
Gambar 4.23.
Pola runtuh baiok akibat kombinasi gaya geser dan tarsi akibat bekerjanya momen tarsi luar. Sedangk untu.k komponen struktur statis tak
tentu, ang gapan-anggapan mengenai kekakuan dan keserasian regangan pada titik-
demikian sehingga menghalangi keruntuhan lebih lanjut. Tulangan torsi titik buhul dan redistribusi tegangan-tegangan dapat mempengaruhi resultants
pada balok umumnya dipasang pada arah memanjang balok dan letaknya tegangan sehingga ter jadi reduksi tegangan geser torsi. Dengan demikian apabila
disebar merata di sekeliling balok terpuntir. terdapat kemungkinan terjadi
Moman tarsi yang bekerja pada suatu komponen struktural seperti pada redistribusi gaya-gaya pada komponen-komponen struktur yang bertemu di titik buhul,
balok tepi dapat dihitung dengan menggunakan prosedur analisis struktur yang pada perencanaan dilakukan reduksi momen puntir rencana, dan dinamakan sebagai
lazim, dan perenca naan komponen ini didasarkan atas keadaan batas tar si keserasian.
keruntuhan. Dengan demikian perilaku sistem struktur setelah mengaJami retak
1 4 0 BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 141

4.8 PEDOMAN PENULANGAN TORSI di mana, Tn = Tc+ T5


Tc= kuat momen tarsi nominal yang disumbangkan oleh beton.
Ketentuan perencanaan tulangan t!Jrsi diberikan dalam SK SNI T-15-1991-03 pasal .4.6, Ts= kuat momen tarsi nominal yang disumbangkan oleh tulangan
di mana ditetapkan untuk komponen struktur baton bertulang penampang persegt atau torsi.
dengan f!ens yang menerima beban kombinasi geser dan tarsi, dan pengaruh tarsi harus Kuat momen tarsi yang diberikan oleh baton harus dihitung dangan:
diperhitungkan bersama geser dan lentur apabila momen tarsi terf aktor Tu pada
kompa
- c:m) 2x 2y
Tc --r:=======-
nen tersebut melampaui '[(1120V'fy')2x 2}1. Sadangkan untuk struktur statis tak tentu di
mana terjadi pengurangan momen tors! pada komponennya akibat terjadinya redistribusi 1+(0,4 Vu ) 2
CrTu
gaya-gaya dalam, nilai Tu d apat dikurangi menjadi q>[(113v'fy')2113x 2 .
}1 adalah fak1or yang menghubungkan sifat tegangan geser.
Untuk kompanen struktur baik dengan penampang persegi atau dengan flans, di mana Cr =
jumlah 2x2yharus dihitung sebagai komponen persegi dari penampang. Dalam hal ini
ba 2bxw2dy
gian menjarok sayap (f/ens) yang diperhitungkan dalam perencanaan tidak boleh diambil Untuk komponen struktur yang mengalami gaya aksial tarik cukup besar, tulangan
melebihi tiga kali tebalnya Sedangkan suatu penampang persegi berongga dapat dipan tarsi harus direncanakan untuk memikul momen tarsi total. Apabila dilakukan
dang sebagai penampang pejal asalkan tebal dinding h tidak kurang dari 1/4X. Suatu pe perhitungan yang tidak rinci maka nilai Tc dan Vc harus dikalikan dengan,
nampang katak berongga dengan tebal dinding kurang dari 1/4X tetapi lebih dari 111ox
2
dapat jug a diperhitungkan sebagai suatu penampang pejal tetapi nilai 2 x y harus (1+0,30 )
dikali
kan dengan 114hlx. Apabila h kurang dari 111ox, kekakuan dinding harus diperhitungkan. di mana Nu bemilai negatif untuk tarik.
Penampang yang letaknya di antara tumpuan dan penampang kritts yang berjarak d dari Apabila rriamen tarsi terfaktor Tu melebihi kuat momen tarsi;Tc. harus disediakan
muka tumpuan direncanakan terhadap momen tarsi T111 sama dengan perhitungan untuk tulangan tarsi untuk memenuhi persamaan Tu s tp Tn dan Tn= Tc + Ts. di mana kuat
penampang kritis. mo men tarsi T5 harus dihitung dari:
Apabila komponen struktur memerlukan penulangan tarsi maka harus dipasang tu- A ,a, x 1y 1
langan baja yang merupakan tambahan terhadap penulangan yang sudah ada yakni pe fy
nulangan untuk menahan gaya geser, lentur, atau gaya aksial. Penulangan yang diperlu Ts
s
kan untuk menahan gaya tarsi pemasangannya dapat dikombinasikan dengan yang diper Ar adalah luas satu kaki sengkang tertutup penahan tarsi dalam jarak s, sedangkan:
lukan untuk menahan gaya-gaya yang lain asalkan luas penampang tulangan total yang
terpasang merupakan jumlah dari masing-masing kebutuhan penulangan yang perlu un a, = -1l{ 2+y-, \J s 1,50
3 1
tuk menahan gaya-gaya tersebut, dan juga memenuhi persyaratan terberat untuk spasi
Untuk penufangan tarsi harus selafu disediakan suatu luas minimum tulangan sengkang
dan penempatan penulangannya Tulangan tarsi terdiri dari sengkang tertutup, seng
tertutup.
kang pengikat tertutup, atau lilitan spiral,yang dikombinasikan dengan tulangan meman
jang. Kuat luluh rencana tulangan tarik tidak boleh diambil lebih dari 400 MPa. Untuk me Selanjutnya harus disediakan tulangan memanjang A 1yang didistribusikan di seke
ngembangkan kuatluluh rencana, tulangan sengkang yang berupa batang tulangan atau
persa
liling
maanperimeter
berikut: sengkang tertutup, dan dihitung sebagai nilai yang besar dari dua
kawat lainnya yang berfungsi juga sebagai tulangan tarsi harus dipasang menerus sejarak
d dari serat tekan ter1uar dan harus dijangkarkan. Tulangan tarsi harus disediakan palingti
dak sejarak ( b,+ d) diluar titik teoretis yang dipertukan. Kuat momen tarsi Ts tidak boleh
le-
bihdari 4Tc. .
Dengan cara memperlakukan sama seperti pada waktu merencanakan penulangan
Ai =!2,B xs[ Tu ]-ZA,) x, + Y 1

untuk menahan gaya geser, penulangan tarsi harus didasarkan pada: fy T +--'6!_ s
Tu s Tn u 3 C,
142 BAB 4 PENUL.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR
BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 143

Nilai persamaan kedua tidak perlu melebihi nilai yang dlperoleh apabila 2A 1diganti dengan
bwSf 3fy. Spasi sengkang tertutup tidak boleh melebihi nilai terkecil antara 114(x1 + y,) dan
A, = Ts
s a1x1y,f y
300 mm, sedang_kan spasi baja tulangan tarsi arah memanjang yang diametemya tidak ku
rang dari 012 diatur dengan cara rnenempatkan secara menyebar merata dikelilingi seng 7) Hitung penulangan geser yang diperlukan untuk Av tiap satuan jarak di dafam penam
pang melinang, dengan Vuadalah gaya geser luar rencana pada penampang kritis, se
kang dengan jarak satu sama lainnya tidak lebih dari 300 mm dan paling tidak dangkan Ve adalah kuat geser nominal badan baton, dan V5 adalah gaya geser yang
ditempatkan
satu batang tulangan memanjang pada sudut-sudut sengkang.
harus dipikul oleh sengkang:
Adapun ringkasan atau ikhtisar langkah-langkah perencanaan penulangan torsi pa-
da umumnya dilakukan dengan urutan sebagai berikut:
1) Tentukan apakah mamen tarsi berupa tarsi keseimbangan atau keserasian.
2) Tentukan penampang kritis, umumnya berjarak d dari muka tumpuan. fiitung momen
tarsi rencana Tu-
Apabila Tu< 4' ((1124Yfc')L:x2y}, efek tarsi baleh diabaikan.
3) Menghitung kuat tarsi nominal Tc badan beton sederhana sebagai berikut:

Tc = (+sFc'} };x2y
nilai Vntidak boleh kurang dari VJt/>
2
1+(0,4 Vu) 8) Hitunglah luas tulangan memanjang At yang diperlukan untuk tarsi di mana:
CrTu
A ,= 2A
di mana C. = bw d s
.}: x2y
Apabila komponen struktur mengalami gaya tarik aksial cukup eesar tulangan tarsi ha
rus direncanakan untuk memikul mamen tarsi total, dan nilai Tc dikalikan dengan,
A ,= 12, yxs[ TuV ] -
T +-u-
2A,) xt + y
s
1

3 c,
(1+0,30 :)
u

digunakan mana yang lebih besr, dan apabila dihitung dengan menggunakan persa
maan yang kedua tidak boleh melebihi:
di mana Nu bemiiai negatif untuk tarik.

I
4) Oiperiksa apakah Tu> rp Tc- Apabila tidak, efek tarsi boleh diabaikan. Apabila Tu> <P Tc,
hitunglah Ts, yaitu mameo tarsi yang harus ditahan aleh tulangan, dengan batasan se- At= 12,xs ( Tuv. ] - ( bw \j s X1 + Yr
bagai berikut: y Tu +-u- 3 fY 1 S
untuk tarsi keseimbangan: Ts= Tn- Teo dan, 3C1
untuk torsi keserasian: T5 =(1!3v'fy')L:1/3x2y- T' dipakaiyang terkecil. 9) Rencanakan tularigannya dengan inenggunakan petunjuk yang diberikan di Bab 4.8.
Sesuai dengan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.4.6, ditentukan bahwa untuk suatu kam
ponen struktur yang menerima beban kambinasi geser dan tarsi, pengaruh tarsi harus Contoh 4.5.
diperhitungkan bersama geser dan lentur apabila, Suatu Balok Tseperti diperfihatkan pada Gambar 4.23. Pada penampang kritisnya terda
Tu> cp f(1!20V'fy') pat gaya geser rencana Vu 60 kN. Selain itu terdapat juga : (a) tarsi rencana keseimbang
x2y}
an Tu = 50 kNm, (b) momen tarsi rencana keserasian Tu = 8,0 kNm, dan (c) momen tarsi
5) Nilai Tn tidak kurang dari TJ;, dan apabila T5 >4 Tc penampang harus diperbesar.
rencana keserasian Tu= 25 kNm, tulangan lentur A s = 2193 mm2, beton normal dengan
6) Pilihlah tulangan sengkang tertutup sebagai tulangan melintang dan gunakan diame
.
ter minimum 010. Apabilajarak spasi sengkang s, hitunglah luas sengkang untuk tarsi
setiap satuan jarak lengan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
=
fc' 25 MPa, fy = 400 MPa. Rencanakan penulangan badan yang diperfukan untuk
balok tersebut.
BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 14 5

14 4 BAB 4 PENUl.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUA

Merencanakan sengkang geser :

N) bwd
r
= ( -- ===;./22=55)=<350><=530> =
Ve

f
=31580 N

1+ (2.5 c, : 1+{2.5(0.0023) ::
68,42 kN
60
Vs = Vn -Ve =---
31,58=
0,60

Av _ V5 _ 68420 _O . .
5 - d ( ) ,3227 nrn /dua
2
fy - 400)(530 - /mmJarak kakt
Gambar 4.23.
Sketsa Conteh 4.5
Penyelesaian. Merencanakan sengkang tertutup gabungan uncuk tarsi dan geser :
(a) Torsi
: keseimbangan Avt 2A, Av (

Menghitung mamen tarsi rencana


s = +-=2
s 08274) +0 3227= 1977S rrm2
t t I

: s
Momen tarsi keseimbangan Tu= 50 kNm. Dicoba diameter tulangan sengkang D10, luas dua kaki As = 157 mm2
3
2 x2y= 3502(600) + 2(100)2(300) = 79500000 cm s= 157/1,9775 = 79,39 mm :::: 80 mm
q, (1124V'fc')2x2y= (0,60)(14'/25)(79,5) = 9,94 kNm < Tu= 50 kNm sedangkan spasi maksimum ijin: 114(x 1 +y1) = 114(258 + 508) = 191,5 mm > 80 mm
dangan demikian harus digunakan sangkang. maka, gunakan tulangan sengkang tertutup 010 dengan spasi 80 mm.
1 35 8
sangkang minimum perlu= Av + 2Ar =2. bws =
< 0H 0) 23.33 rrm2
Merencanakan sengkang : 3 fy 3 {40q
Tn= T,J qi = 50/0,60 = 83,33 kNm luas sengkang terpasang = 157 mm2 > 23,33 mm2
selimut baton 40 mm, d = 600 - 70 = 530 mm
_ bWf d _ 350(530) = 0 Merencanakan tulangan tarsi memanjang :
c, 0023/mm L x2y -79,5 (10)s 2A , ( )
. A ,= X + y 1 = 2(0,8274} (258+508) = 1267, 6 mm2

(.2. 0) Lx2y (2J2s) (79,5) s


T 15 y IC _ l5 :25,94 kNm
'c=
'4
(0,4 Vu) 2 -
'4 { 0,4(60) }
2
atau, A1 -12,8 xs [ j' - 2A, ) +Y 1

TuV x 1

1+ - 1+ 3 fy T. +-2.... s
C, 0,0023 (50)(10)
u 3 c,
untuk tujuan praktis dianggap nilai Tc dan Vc konstan di sepanjang bentang balok
b wS .
Ts= Tn- Tc= 83,33 - 25,94 57,39 kNm = . 31 -, = 23,33 < 2A, = 2( ) (80) =132,4 mm
menggunakan salimut baton 40 mm, dan diameter tulangan sengkang tertutup 012.
2 0,8274
1258
x 1 = 350 - 2(40 + 6) = 258 mm y
y 1 = 600 - 2(40 + 6) = 508 mm

A= 12,8 (600) (80) I 50 (10)6

l 400 3 ] -
2 (132 +508
)
,4
a, =2 (2+11) =1,323 <1,50
3 . X1
50 (10)6 + 60(10)
3(0,00243)
80

A Ts 57390000 =0,8274 nm2 /rrm jarak /kaki A1= 227 mm2< 1267,6 mm2
s= (50(400)
atx y fy
1 1
1,323(25 digunakan A = 1267,6 mm2.
1
146 BAB 4 PENUL.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR
147

Luas A 1
tersebut seperempatnya di sudut-sudut atas, dan seperempat lainnya didistribu
n c -oso- 9,54= 40,46 kN

sikan merata pada sisi tegak penampang melintang balok dengan jarak spasi tidak mele- Vs = V. -V - 60 5
bihi 300 mm, . Av = Vs _ 40460
)
:L As lapangan = 114(A + As= 114(1267,6) + 2193 = 2510 mm2
1 s fy d - {400)(530) = 0, 1908 nm2 /mm jarak /dua kaki
gunakan 6025 (2945 mm2) untuk sisi bawah (lapangan), dan 2016 (402 mm2) untuk sisi
samping. Gambar 4.24 memperiihatkan rencana pemasangan tulangan. Merencanakan sengkang tertutu
Avt - 2Ar Av p gabungan untuk torsi dan geser :
( b) Tarsi keserasian : . s -7+ 7=2(0,2268) +0,1908= 0,6444nm2
Menghitung mamen tarsi rencana : D1coba diameter tulangan senakan
Moman tarsi keseimbangan Tu= 8 kNm. s - 157 g 010, luas dua kakiAs = 157mm2
:L x2y= (350)2(600) + 2(100)2(300) = 79500000 mm3 -'0,6444. = 243,62 nm
4' (1124Y'fc'):Lx2y= 0,60(1124./25)(79,5) = 9,94 kNm > Tu= 8 kNm spaksi maksimum ijin. 1i4(x + y, ) = 1/4{258 + 508) 1
1
dengan demikian dampak tarsi keserasian dalam kasus ini dapat
ma a, gunakan tulangan sengkan t = 91,5 mm < 243,6
diabaikan. mm g ertutup 010 dengan spasi mm
190
sengkang
(c} Tarsi keserasian : 55 2
minimum perlu= Av+ 2Ar = .2. bws =.2. (350)(19q .42 rrm
Menghitung momen tarsi rencana : 3 1
luas r 3 (400) =
Moman tarsi keseimbangan Tu= 25 kNm > i:f> (1124Y'fc'):Lx2y= 9,94 kNm sengkang terpasang = 157 mm2 > 55,42 mm2
dengan demikian harus digunakan sengkang.
Karena merupakan tarsi keserasian, maka penampang tersebut bo"3h direncana- Merencanakan tulangan tarsi mem an1.ang
kan terhadap momen tarsi Tu= q, (1mfy' ):L113x2yapabila momen tarsi luar melampaui nilai
tersebut.
Tu= 4' (1!3Y'fy'):L113x2y= 26,50 kNm > Tu= 25 kNm y

dangan demikian penampangnya harus direncanakan terhadap Tu= 25 kNm. atau, Vu t


S
T.u 3 c,
Merencanakan sengkang : 1 bws
dengan menggunakan hasil perhitungan (a): ,r = 2A f -- 2(0' 2268 190) = 86,18 rrrn2
55,42 <
Tc= 25,94 kNm
Ts= Tn - Tc= (25/0,60) - 25,94 = 15.73 kNm
Ar =
s
Ts
1 1

aX Y lr
15J3(1b)5
1,323(258)(508)(400) -
-0 2268
rrrn
2/ . ak / k ki
mmiar a
A,: 12,8 (6:1900) f25.(10)::(1 '(10)3 J -2(86,18)/ 2 508

'

3 (0,00243)
Merencanakan sengkang geser
:
( Jfd)bwd ( /25) (350) Luas At A1= 1725 mm2 > 1267 6 mm2
tersebut seperempatny d.'
.
' maka d1gunakan
A,= 1725 mm2

(530)

Ve = =-;:::==================2 59543 N merata p d a 1 sudut-sudut atas


T, ) 2 J (25)106 } a a s1s1tegak dengan jarak spasi tidak mefeb:heperempat lainnya didistribusikan
1+ 2,5 c, v: 1+ 2.5 (0.W3 > < 60 > =
L As fapangan 114(A ) A ' ' 300 mm,
( 1 gunakan 6025 (2945 mm2) unt t :. s= 1/4(1725) + 2193 = 2624
mm2
103 '.>amping. uk s1s1 bawah (lapangan), dan 2018 (509 mm2) untuk sisi
14 8 BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK Trnll NT BAB 4 PENUl.ANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 149
UU

2016 2018

I
I
SOAL-SOAL
4-1. Balok dengan pertetakan sederhana menahan beban rencana merata 73 kN/m. Ja
rak dari pusat ke pusat dukungan 9,0 m, b= 350 mm, d= 510 mm, fc'= 30 MPa. dan
fy = 4-00 MPa. Ten1ukan jarak spasi sengkang yang dipertukan bila digunakan
tulang an baja 012 dan buatlah sketsa pola perancangan sengkang ba&ok secara
seogkang :D 10-190 keseiu ruhan. Perhitungan gaya geser balok didasarkan pada bentang bersih.

4-2. Rencanakan sengkang untuk balok tergambar di mana beban yang bekerja padanya
. 70 adalah beban-kerja. Saban mati termasuk berat sendiri balok, dengan b 400 mm, =
d = 510 mm, fc'= 20 MPa, fy = 240 MPa. Berikan sketsa pola perancangan
sengkang tersebut.

f:llllllll!:llll ll
Gambar 4.24.
Sketsa penulangan Contoh 4.5
DL 100 kN I
l l l l l lJ
/- DL 2S

I LL 3 0 k N hT I'

Gambar Soal 4-2

4-3. Rencanakan sengkang untuk balok tergambar di mana beban-kerja yang bekerja
ter diri dari beban mati (termasuk berat sendiri) 22 kN/m dan beban hidup 28 kN/m,
b = 300 mm, d = 61O mm, baik untuk penulangan di bawah maupun diatas bertaku
fc' =
20 MPa dan fy= 240 MPa.

, , , , ,m,
Berikan sketsa pengaturan sengkang tersebut.

111i i11 1111111 1 1 1 1.1 :,11:1 11 1 11 1 1111 1111 111 111111 milI I I111 1
1 Gambar SoaJ 4-3
1
4-4. Rancang sengkang untuk balok tergambar, lebar dukungan 300 mm, dan beban
yang bekerja seperti tampak da&am gambar adalah beban rencana terfaktor di
mana dalam beban mati sudah termasuk berat sendiri baloknya Labar balok b =
350 mm, d= 610 mm, fc'= 20 MPa, fy= 300 MPa Berikan sketsa perencanaan pola
sengkang tersebut.
BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR 15 1

15 0 BAB 4 PENULANGAN GESER DAN PUNTIR BALOK TERLENTUR

Rencanakan penulangan lentur, tarik diagonal, dan tarsi menggunakan sengkang


<t. tertutup dan tambahan tulangan memanjang, dan terjadi redistribusi tegangan tarsi.
f\J = 180 kN Pu= 180 kN

1 1250 ;
v 2000 1250 K 2000 1v
7
Wu = 85 k /m'

I]
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1
11 1
1, (
H 300

Lr s

i
{a)

1
Gc.mbar Seal 4-4
2500 .
601<N 60 kN 700 375 (b)

.. . :L .
2500 ( 250

,. ,
kN/m'
30
V tJ': ,u
t:: > : ;

i
'450
I
_'...:l..... .. :

1 1 1 1 I 1 1 1 11 111 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 I 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 111 1 1 1 111 1 1 111 1 1 :.:.:. ::<::.:: '..:....:..

11111111111
I
i !o< > F;,_, J. . . .
V . -
, T
Gambar Saal 4-5 ,,JkL..
,
/I,, ,:

380
300
(c) (d)
4-5. Rencanakan baiok beton bertulang persegi untuk menahan momen dan gaya geser Gambar Saal 4-7
dengan hanya menggunakan tulangan tarik saja untuk menahan lenturan. Seba

yang tampak pada gambar adalah beban guna. Beban merat terdiri dari beban mat1 4-9. Suatu ba!ok struktur menerus mempunyai selimut geser dan torsi seperti tergambar,
1,36 kNm (tidak termasuk berat sendiri balok) dan beban h1dup 1,36 kNm. Beban bw= 350 mm, d = 650 mm, fc'= 400 MPa, fy= 30 MPa, tulangan pada lapangan A s =
terpusat adalah beban mati. Sedangkan fc' = 30 MPa, fy = 400 MPa, dan anggap 1950 mm2, tulangan pada tumpuan As = 2350 mm2 dan As'= 452 mm2. Balok meng
bahwa lebar dukungan 300 mm. Berikan sketsa perencanaan termasuk pola penu- alami geser rencana Vu,= 334 kN, Vu2 = 267 kN, dan Vu3 = 192 kN. Rencanakan
penulangan geser dan tarsi, buat gambar detailnya.
langan sengkang.

4-8. Balok bentang dalam pertama pada suatu


4-6. Balok kanti!ever ukuran 300x600 mm, menopang beban hidup terpusat 75 kN pada
jarak 1,0 m dari muka dinding, dan momen tarsi rencana keseimbangan Tu= 28 struktur bentang menerus, bentang ber
kNm. Tinggi efektif d = 570 mm, fc' = 25 MPa, fy = 400 MPa, As = 2580 mm ,
2 sih 4,50 m. Beban mati (termasuk berat Ve t I..------
rencanakan i
sendiri) merata Wot = 20 kN/m, beban
hidup kerja wLL = 30 kN/m, lebar b = 400
tulangan sengkang dan tulangan tambahan yang diperlukan. -----_::::..
mm, baton normal fc' = 35 MPa, fy = 400 1500 v '
MPa.
4-7. Hitung kapasitas tarsi Tc untuk balok seperti tergambar, beton nonnal fc' = 30 MPa, r,= Hm
VJ Tu= 0,05. :

=====-- =- '
Gambar SoaJ 4-9

(a) diagram geser

(b) diagram torsi


. ,. BAB 5 METOOE PERENCANAAN ElASTIK 153

5 Meskipun sudah tidak disarankan untuk digunakan lagi daJam perhitungan struktur,
metode perencanaan elastik masih diperfukan sebagai pengatahuan terutama daJam kait
atau kelayanan'. Metode perencanaan elastik, dengan

... . baja dan penguraian baton.

METODE PERENCANA AN ELASTIK

5.1 P ENDA HULUA N

Metode perencanaan elastik di asarkan pada anggapan bahwa sif at da perilaku _bahan
baton bertulang disamakan dengan bahan homogen (serba-sama) sepert1 kayu, baJa,
dan sebagainya. Sesuai dengan teori elastisitas, tegangan dan regagan pada
enapan_g balok terlentur bahan homogen terdistribusi linear membenu_k gas _l u dan
nol d1 gans netral ke nilai maksimum di serat tepi terluar. Dengan dem1kian rnla1-rnla1
tegangan pad penampang balok terlentur berbanding lurus dengan regangannya, dan
bah.an baton di
anggao berperilaku elastik sempuma sebagaimana bahan-bahan homogen lamna. .
Tidak sama dangan metoda kakuatan atau kuat ultimit saparti yang tla_h lb.ahas d1
depan, metode perencanaan elastik atau tegangan kerja manggunakan 1la1-rnla1 baban
guna atau beban kerja (tanpa faktor), tegangan karja ijin, an hubunan in.ear antara
te gangan dan regangan. Metode tagangan kerja yang akan d1bahas benkut 1m
mangacu P da ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam SK SNI T-15-1991-03
pasal 3.15 dan d1- kenalpula sebagai metode perencanaan alternatif. Pembahasan
kedua metode terse.but perf u didasari dengan pengetahuan perbedaan arti kekuatan
dan kegunaan kelayann) sebagai kriteria perencanaan. lstilah kekuatan berarti
kapasitas pada.sat en1elang ter)a dinya kehancuran akibat suatu beban, sedangkan
kegunaan brart1 kin11a yang memu
askan pada kondisi beban guna atau beban kerja (tgangn ke11a). Kineria yang euas
kan dapat dijelaskan sebagai keadaan yang tercapai apab1la: (1) len.dutan y te11ad1 ma
sih daJam batas yang dapat diterima sedemikian rupa sehmgga tldak tead1 krusakan
kornponen nonstrukturaJ yang didukung seperti dinding, partisi, dan g1t-lang1t; (2)_ re
takan yang timbul masih terkendali , daJam arti tidak teadi rtak sedem1k1an .besar
sehmg: ga menyebabkan kemungkinan masuknya air yang lab1h l nJut akan
mangak1batkan koros1
anya dengan masaJah kegunaan Anggapan yang pertama sangat tapat, anggapan kadua masih cukup taliti untuk
menggunakan pendekatan tegangan kerja, memberikan hasil kurang lebih sama salama bahan baton pada nilai tegangan-tegangan yang tidak labih dari setengah nilai kuat tekan
jumlah luas tulangan tarik yang dipakai lebih kecil dari setengah jumlah maksimum pada baton fc 'umur 28 hari. Sahubungan dangan anggapan yang ketiga, memang benar bah
metode kekuatan. Konsep dan anggapan-anggapan dasar yang digunakan dalam meto wa hanya beton yang letaknya di daerah tarik dekat dengan garis netraJ yang cenderung
de tarsebut akan dibahas pada pasaJ berikut. tidak ratak. Di sampir.g karena nilai tegangan yang ditransformasikan menjadi baton tarik
ekivalen umumnya hanya bamilai kecil, sehingga untuk penyederhanaan hitungan diang
gap seluruh gaya tarik dibebankan pada batang tulangan baja. Anggapan keampat yang
5.2 KO NSEP DAN ANGGAPA N-A NGGA PA N barkaitan dengan lekatan antara baja dan baton adalah baik.
Bartolak dari dasar-dasar anggapan tersabut, meskipun bahan baton bukanlah ba
Anggapan-anggapan dasar yang digunakan matode tegangan kerja untuk komponen han bersifat serba-sama ( nonhomogeneous), rumus lanturan elastik tetap dapat diguna
struktur terlentur adalah: kan dengan cara transformasi luasan teoretik antara bahan yang satu dangan lainnya
1) Bidang penampang rata saat sebelum terjadi lenturan akan tatap rata setelah meng ber dasarkan pada nilai banding modulus alastisitas bahan baja dan baton.
alami lenturan, berarti distribusi regangan sebanding atau linear. SK SNI T-15-1991-03 memberikan ketentuan bahwa metode perencanaan elastik
2) Bagi bahan baja maupun baton diberlakukan sapenuhnya hukum Hooke di mana nilai hanya boleh digunakan untuk komponen struktur baton bertulang non prategangan, dan
tegangan sebanding linear dengan nilai regangannya, seluruh ketentuan tata cara parancanaan dapat diberlakukan untuk matode ini kacuali re
3) Bahan beton tidak diperhitungkan untuk manahan gaya tarik, sehingga seluruhnya di distribusi momen negatif dalam komponen struktur lentur manerus pasaJ 3.1.4. Nilai
bebankan kepada tulangan tarik baja, faktor beban dan faktor reduksi kekuatan (t;) pada metoda perencanaan elastik ditetapkan
4) Batang tulangan baja terlekat sempuma dengan baton sehingga tidak terjadi peng 1,0.
gelinciran.
15 4 BAB 5 METOOE PERENCANAAN ELASTIK
BAB 5 METODE PERENCANAAN ELASTIK 15 5

5 .3 TEGANGAN IJIN eatdakan bat.as. Resultants gaya tskan dalam dapat seiuruhnya berasal dari tegangan
be- on e an SaJa atau bersama-sama tegangan b t d '
Dalam metode perencanaan elastik menggunakan pembatas maksimum tegangan kerja gaya tarik seluruhnya berasal dari tulangan tari: on an tulangan tekan, sedang resultante
atau tegangan ijin untuk bahan baton maupun baja, sebagai berikut:
1) Tegangan pada serat baton tekan tepi tertuar komponen struktur tertentur: Conteh 5.1.
fc = 0,45 fc' Dengan menggunakan kondisi keseimbangan regangan, tentukan teg"lngan v d
2) Untuk balok, plat_penulangan satu arah dan fondasi telapak, apabila geser hanyadipi baang tulangan baja tarik dan serat tepi beton tertekan pada penam;ang a
kul oleh baton sendiri:
;:as a1
Ve = .2..Ji:i
11
akibat momen beban guna Mw =
225 kNm. Modulus elastisitas beton 2000..0..::i

dan geser maksimum yang dipiul bersama oleh beton dan tulangan baja: MPa rd- ba1a 200000 MPa. an
V =Vc +'!_ ..ff!
8 Penyelesaian
3) Untuk ba!ok rusuk, apabila geser dipikul beton saja:
Ve =.2_ .Jf!
10
Dianggap bahwa distribusi regangan linear, juga tegangan seba d"

seperti diperihatkan pada Gambar 5.1. Langkah pertama penyelmenghitung


s, i n : volume ben
d
., :
4) Untuk plat penulangan dua arah dan fondasi telapak dengan penulangan geser terdiri kan letak gans netral. Gaya-gaya dalam didapatkan dengan cara
dari batang atau kawat, geser yang dipikul oleh baton: da tegangan.
Ve =.2_ N Maka gaya tekan dalam dari baton adalah:
12 , No= 112 fc'bx= 150 fc' X
5) Untuk perletakan pada daerah yang dibebani: Ve= 0,30 fc' Gaya tarik dalam adalah:
6) Untuk baja tulangan mutu 30, tegangan tarik pada tulangan tidak boleh lebih dari:
Nr= fsAs = f5 (4)(804,3) = 3217,2 f
5
fs = 140 MPa
dengan keseimbangan gaya-gaya No= Nr didapatkan:
7) Untuk baja tulangan mutu 40 atau lebih, termasuk kawat anyaman las, tegangan tarik
f5 150 X
tidak lebih dari: f s = 170 MPa t/ = 3217, 2
8) Untuk tulangan lentur dengan diameter 10 mm atau kurang, yang digunakan untuk
plat satu arah bentang s 4,0 m: fs = 0,50 fy Rasio fs lerhadap fc , tersebut dapat jug a diperoleh dengan menggunakan hul>ungan re -
gangan mear dan hukum Hooke,
tetapi tidak boleh lebih dari 200 MPa.
300

5 .4 KESEJMBANGAN GAYA-GAYA DALAM


I
keselmbangan .I
gaya-gaya dalarn
Dua keadaan seimbang diberlakukan untuk setiap penampang yang menahan lentur, z
//
/
ialah: (1) resultante gaya tekan dalam harus sama dengan resultante gaya tarik dalam, dan /
/
(2) kopel momen dalam yang tersusun atas pasangan resultants gaya tekan dan gaya tarik 4032 I
/
harus sama atau lebih besar dari momen lentur akibat beban luar. Dengan demikian, kese
imbangan gaya-gaya dalam tersebut berlaku baik untuk beban kerja ataupun beban batas ts Is = Cs E . .

(ultimit) pada saat menjelang terjadi keruntuhan. Perbedaan di antara keduanya ialah bah diagram regangan diagram tegW'lgan

wa distribusi tegangan pada penampang linear bagi yang pertama dan nonlinear untuk
Gambar 5.1. Si<etsa Conteh 5.r
BAB 5 METOOE PERENCANAAN B..AStlK 157
15 6 BAB 5 METODE PERENCANMN El..ASTIK

5 .5 HUBUNGAN TEGANGAN DA REGANGAN


!!.= (600- x)
Ee X
Seperti yang telah dibahas pada Bab 1, kurva tegangan-regangan baja linear di bagian
': =Es Es =!!.{n) - (600- x) (10) ba wah batas sebanding ( proportional Hmit) sedangkan untuk bahan baton hanya
fc Ee Ee Ee X mendekati
di mana n adalah nilai banding modulus elastisitas Es! Ee linear meskipun pada saat atau sebelum mencapai tegangan kerja ijin. Modulus
Dengan demikian didapatkan dua ungkapan, yang apabila disamakan akan didapat: elastisitas baja berbagai kekuatan hanya sedikit berbeda satu dengan lainnya, sedang
150 x _ (600- x)1 O pada baton sangat beragam karena juga targantung pada nilai berat jenis (kerapatan),
3217, 2 - x selain kekuat ann.ya. Pada Standar SK SNI T-15-1991-o3 ditetapkan nilai modulus

150 x2 = 32171(600 - x) elatisitas baja E,=


200.000 MPa sedangkan untuk baton Ee= 0,043 wc1.sov'fc' dimana wc adalah berat jenis
x2 + 214,48 X= 128688
baton. Oaftar 5.1 berikut memberik nilai..nilai modulus elastisitas baton Ee untuk berba-
penyelesaian persamaan kuadrat tersebut menghasilkan:
( x+ 107,24)2 = 128688 + (107,24)2 gai mutu beton.
x= {140188 - 107,24 = 267,2 mm Daftar 5.1. Nilai Modulus E!astisitas Seton
( Ee = 0,043 wc'5:.J tc' .berat beton normal 23 )

Sampai di sini harap diperhatikan bahwa yang mempengaruhi penentuan letak kN/m
3

garis netral selain nilai banding modulus elatisitas jug a sif at-sifat penampang (tinggi, fc' Ee
(MPa) (MPa)
lebar, dan luas penampang batang tulangan baja).
17 9.500
20 21.000
Dengan menggunakan kondisi keseimbangan yang kedua,
25 23.500
Mw = 225 kNm = ( No atau NiJ x (lengan) 30 25.700
Lengan kopel momen dalam (z) adalah jarak dari pusat berat benda tegangan tekan (letak 35 27.800
resultants gaya tekan N0) terhadap pusat berat tulangan baja tarik (letak resultants g'aya 40 29.700

tarik Nr):
lengan z= 600 -1J'Jx= 600 - 113(267,2) = 510,9 mm . Mengingat nilai banding modulus elastisitas ( n) di samping sifat-sif at penampang
Maka untuk suatu momen lentur yang ditahan menimbulkan gaya tekan (atau gaya tarik): merupakan nilai-nilai yang berpengaruh terhadap posisi atau letak garis netral, maka
dalam menghitung tegangan-tegangan kerja, mengetahui nilai n adalah lebih panting
dan bu kannya nilai-nilai Es atau Ee Sesuai dengan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.15.5
rasio mo-
. dulus elastisitas n = EJ Ec dapat ditentukan sabagai angka pembulatan terdekat tetapi ti
No = NT Mw 225
=--=-- 440 kN dak boleh kurang dari 6. Kecuali untuk perhitungan lendutan nilai n untuk baton ringan
=
Iengan 0,5109 di ambil sama dengan baton normal bagi kelas kuat beton yang sama. Untuk baton
normal
dan tegangan-tegangannya didapatkan melalui persamaan sebagai berikut: disarankan mengguna.kan nilai-nifai yang tercantum dalam Daftar 5.2 berikut:
3
N0 440(10) _ .
1098
fc . 150 x 150(267,2) - MPa Oaftar 5.2. Nilai Rasio Modulus Bastisitas

Nr 440(10) 3 fc' (MPa) n


f5 = H 7, 1377
32 2 321 2 17 10
MPa 9
20
25 9
30 8
35 7
40 6
158 .BAB 5 METODE PERENCANAAN ELASTIK BAB 5 METOOE PERENCANAAN ElASTIK 15 9

5.6 METODE TRANSFORMASI PENAMPA NG 5.7 ANALISIS BALOK PERSEGI


BERTULANGAN TARIK SAJA
Metode transformasi penampang untuk baton bertulang dapat dijelaskan sebagai berikut
ini. Luas penampang tulangan baja dan baton ditransformasikan menjadi satu macam pe Di dalam analisis perifaku penampang umumnya diketahui nifai banding modulus elastisi
nampang bahan serba-sama dengan tujuan untuk menyamakan perilaku dalam mekanis . tas dan tegangan-tegangan kerja ijin bahan-bahan yang digunakan. Sehingga
me menahan beban. Meskipun disadari bahwa sifat kedua macam bahan sama sekali permasa lahannya dapat berupa: (1) membandingkan tegangan kerja akibat momen
berbeda sitatnya, cara transfonnasi penampang dimaksudkan sebagai langkah penyeder lentur beban guna terhadap tegangan kerja ijin, atau, (2) menentukan momen lentur.
hanaan dalam analisis lenturan menurut teori elastisitas. Transformasi dilakukan dengan beban guna ijin
mengganti luasan penampang baja dengan luasan baton ekivalen {luasan semu). De yang dapat didukung oleh penampang.
ngan demikian As adalah luas penampang tulangan baja yang diganti dengan luas beton Ada dua metode pendekatan untuk penyelesaiannya yaitu cara keseimbangan
ekivalen AM sedangkan fs adalah tegangan baja tarik yang diganti dengan tegangan ba gaya-gaya dalam dan cara transformasi penampang. Cara keseimbangan gaya-gaya
ton tarik ekivalen fbt- da lam adalah seperti yang dibahas pada Contoh 5.1, di mana momen lentur akibat
Dalam upaya mendapatkan luas transformasi , ada dua syarat yang harus beban luar diimbangi atau dilawan oleh kopel momen gaya dalam. Kopel ini tersusun
dipenuhi. Syarat yang pertama. agar tetap berada dalam keseimbangan jumlah gaya atas resul tante gaya tekan dalam N0 dan resultante gaya tarik da/am Nr , di mana arah
tarik bernilai tetap sehingga digunakan persamaan, kerja kedua nya berlawanan dan terpisah pada jarak yang disebut sebagai lengan momen
As fs = Abt fbt (z). Sedang kan pada metode transformasi penampang, digunakan rumus lenturan yang
sudah dike naJ Meli di mana sebagai I a9alah momen inersia penampang retak
Syarat yang kedua, agar tetap tercapai kesesuaian deformasi maka satuan regangan per
panjangan bernilai tetap sehingga, transfonnasi terhadap sumbu beratnya Ucr). Harap diperhatikan bahwa untuk penampang
terlentur murni (tanpa gaya axial) garis netralnya diperhitungkan berimpit dengan sumbu
!L_ _k berat penampang.
Es - Et:tt
Dengan menggunakan nilai banding modulus elastisitas, Con toh 5.2.
Es
- Tentukan momen lentur beban guna ijin Mw yang dapat didukung oleh penampang
n = Ebt
seperti tergambar pada Gambar 5.2.a, f c '= 20 MPa, f5 ijin = 140 MPa. Tentukan letak
penyelesaian persamaan-persamaan di atas menghasilkan, garis netral dengan menggunakan metode transformasi penampang kemudian
Ab1= nAs tentukan Mw
fs dengan menggunakan metode keseimbangan gaya-gaya dalam maupun transformasi
dan, fbt =- k b= 300
penampang.
n '=6.76 MPa _
Dengan demikian fuas beton ekivalen Abt adalah n kali luas penampang batang tulangan
baja, sedangkan tegangan tarik ekivalen fb 1(tegangan semu) adalah 11n kalitegangan tarik
sesungguhnya. Dalam hal ini adalah tegangan di dalam batang tulangan baja.
Kedua persamaan terakhir sangat berguna di dalam perhitungan perencanaan me
toda tegangan kerja !<arena penampang baton bertulang dianggap diganti dan diperlaku
kan sebagai penampang dari satu macam bahan saja ialah baton ekivalen. Dengan
demiki an di daerah tarik, beton ekivalen mengambil alih tugas menahan tarikan. Perlu
dicatat bahwa penggunaan penampang transforrnasi tersebut sangat memudahkan untuk
meng
ft:lt =15,56 MPa

hitung tegngan dengan menggunakan rumus lenturan selama hubungan tegangan dan (a) (b) penampang {c) distribusl (d) keseimbangan
penampang transtonnasi
regangan linear. potongan
tegangan gaya-gaya dalam
Gambar 5.2. Sketsa Conteh 5.2
BAB 5 METOOE PERENCANAAN El.ASTIK 161
16 0 BAB 5 METOOE PERENCANAAN B.ASTIK

Dengan manggunakan rumus lanturan, didapat:


Penyelesa n . unakan metode transfonnasi penampang, lihat 6,76(1739399626)(10)-0
Tentukan letak gans n; n ding modulus elastisitas diambil 9 (lihat Daftar Mw ijin atau
2e Gambar 5.2.b. Untuk c . ' d erah tekan sedangkan luasan 157,5
15,56(1739399626)(10)-0 74,7 kNm
5. ). Lasan 300A(x)_di9( \a:Og ) d 2 t:rpusat pad jarak (520 -x) di bawah ga-
tank el<Jvalen = n s - ' 362,5
ris netral. d I san daerah tarik ekivalen
Keseimbangan momen statis luasan daerah baton tekan an ua
terhadap garis netral menghasilkan: _ 5 . 8 PE N.A MPANG BALOK BERTULANGA N
112(300)x2 = 10263,6(520 - x) SEIMBANG, KURANG, ATAU LEBIH
x= 157,5 mm
Pada bab-bab tardahulu telah banyak dibahas mengenai penampang balok baton bertu
Menentukan distri si tegangan-tegangan y g i:d(K SNI T-15-1991-03 pasal langan kurang, saimbang, dan lebih, dalam hubungannya dengan pola runtuh yang akan
3.15.3 Apabila tegangan tjtn baton tekan fc = 0,45(c - 9 . t f di dalam baton terjadi sehubungan dangan tercapainya kuat lentur batas. Pada matode perencanaan
ayat 1) terdapat di serat tapi tardasak, tagangan tank aktual yang se ara bt elastik atau tegangan kerja juga mangenal tiga kaadaan penulangan tarsebut, yang tentu
akivalen adalah: saja definisinya sadikit berbeda terutama karena hubungannya terbatas hanya dengan
9(362,5) 20,71 MPa >fbt iiin= _91 (140) =15,5 6MPa tegangan-tegangan ijin yang berlaku. Penampang baton bertulanan seimbang atau ide
fbr = 157,5 al adalah suatu kaadaan penampang di mana fetak garis natral sademikian sehingga te
hal demikian tak boleh terjadi, nilainya melampauitegangan tarik iji n (fbtijin).. t gangan ijin baton tekan maupun baja tarik tercapai pada saat yang bersamaan. Dengan
. t k pada Gambar 5 2(c) dt mana egang- demikian daya guna bahan baton dan baja pada komposisi tersebut mencapai keadaan
Maka distribusi tegangan ditantukan sepert1 am .. f - 15 56 MP sadangkan tegang-
an tarik aktual diambii sama dangan tegangan tank IJln bt - ' paling akonomis pada metode tegangan kerja.
an tekan aktual f c diambil nilai yang sabanding, ialah: Penampang bertulangan kurang mangandung jumlah luas batang tulangan tarik
t = (15,56) = 6,76 MPa kurang daripada panampang bertulangan ideal (keseimbangan regangan) sehingga
c 362.5 letak garis natralnya (atau sumbu baratnya) lebih ke atas, lebih dakat ka serat tepi
.
Dengan menggunakan makanisma kese1mbangan gaya-gaJva
. dalam, ditentukan momen tekan, dan beban maksimum mengakibatkan tarcapainya tegangan baja tarik ijin terlebih
lentur ijin Mw- d dan re- dahulu dari pada taganQan betory takan ijin. Sadangkan panampang bertulangan /ebih
Besamya resultants gaya-gaya diperhitungkan sebagai volume ben a tegangan, meng andu ng tulangan baja tarik lebih banyak daripada penampang bertulangan
sultante gaya tekan sarna dangan gaya tarik. seimbang, sehingga latak garis netral lebih dekat ke tepi tarik, dan beban maksimum
No= 112(6, 76)(300)(157,5)1 ()-3 = 159,7 kN akan mengakibatkan ter capainya tagangan baton tekan ijin tarlebih dahulu. Hasil
Nr= 15,56(10263,6)1Q-3 atau Nr= 140(1140,4)10-3 = 159,7 kN . barbagai penelitian menun
Harap diper:hatikan bah'."'a gaya-gaya dalam tarsebut harus seimban sama), sah1gga jukkan, pada umumnya jumlah tulangan tarik penampang bertulangan lebih pada
.k untuk pemariksaan guna mendapatkan rnlat x yang tepa .
merupakan sarana yang baJ metode tegangan kerja lebih banyak dari 75%.luas penulangan seimbang pada metode
tengan kopel momen z= 520 -113(157,5) = 467,5 mm
kuat ul timit.
Mwijin = 159,7(0,4675) = 74,66 kNm ...
Untuk jelasnya, pada Gambar 5.3 diperlihatkan tiga macam penampang berukuran
Dengan menggunakan cara transformasi penampang, ditentukan momen lentur IJln da-
sama yang mengandung jumlah tulangan tarik yang berbeda, sesuai dangan tiga
lam M w- . b .k t keadaan tersebut di atas agar dapat dibandingkan. Penampang yang partama sama
Moman inersia penampang ratak transfonnasi fer adalah sebagat en u
dengan anali sis pada Conteh 5.2 dan apabila dua panampang yang lain dianalisis
lcr = 113(300)(157,5)3 + 10263,6(362,5)2
dangan cara yang sa ma maka hasilnya adalah seperti yang tercantum daiam gambar.
Penampang pada Gambar
5.3.b disebut sebagai bertulangan ideal karena pada beban kapasitas timbul bersamaan
= 390698435 + 1348701188 = 1739399626 mm
4
. tegangan-tegangan kerja ijin pada baton fc' = 9 MPa, dan pada baja = 140 MPa.
f5
BAB 5 METODE PERENCANAAN a.ASTIK 16 3
16 2 BAB 5 METOOE PERENCANAAN
B..ASTIK

1v fc '= 6,76 Harap diperhatikan bahwa kandungan jumlah tulangan baja untuk ketiga macam penam
b=300 MPa pang berbeda sesuai dengan namanya dan panjang lengan kopel momen dalam pada pe
"1<:--i:==r-
.-- nampang bertulangan kurang sedikit agak lebih besar daripada penampang bertulangan
seimbang, demikian sebaliknya pada penampang bertulangan lebih.

I
I

/
I
5 .9 PER ENCA NAAN BALOK PER
I
I SEGI BERTULANGAN TARI K SA
I JA
I

Dalam proses perencanaan diberikan nilai-nilai momen lentur, rasio modulus elastisitas,
dan tegangan-tegangan kerja ijin, untuk kemudian menetapkan nilai-nilai b, d, dan As.
(a) penampang berll.Jlangan kurang
Keinginan untuk mencapai penampang baton bertulangan ideal jarang sekali dapat ter
b = 300
penuhi secara tepat karena nilai b dan h harus ditetapkan sebagai angka bulat, selain itu

nilai As yang dipasang harus dipilih dari sejumlah batang tulangan yang tersedia di

I fc' ljln=9 MPa pasaran yang jumlah luas penampangnya tidak dapat tepat sama dengan A 5 perlu.
Harap diper

1_
x::;t90,6
kN
No = 257,2 hatikan pula bahwa dalam hal menentukan ukuran balok pada bangunan gedung umum
nya untuk suatu kelompok balok yang mempunyai pembebanan dan bentangan kira-kira
saina akan ditetapkan ukuran b dan h yang sama pula. Ketentuan tersebut ditetapkan
d 520 tr_:! _
I
ber
/ lengan 456,50 dasarkan pertimbangan ekonomi dan teknis pelaksanaan pembangunannya.
I
I Untuk menjelaskannya berikut ini akan diuraikan langkah-langkah penentuan nilai- nilai
I
I
Nr = 257,2 kN teoretis b, h, dan A 5 suatu penampang baton bertulangan idea/ yang untuk sementa ra
/
waktu tanpa menghiraukan pembulatan nilai-nilai b dan h perlu, atau pemilihan batang
==15.56 MPa tulangan baja yang akan digunakan. Dengan mengacu gambar penampang balok baton
n 9
bertulangan ideal seperti pada Gambar 5.4, dari dua segitiga sebanding oqr dan
(b) penampang bertulangan seimbang uqsdida pat nilai perbandingan sebagai berikut:

b= 300
fc' ljin= 9 MPa
,:--c::==r--
1 ' No= 264,84 kN
x:196.2

gar!!_ -l-- I
I
lengan ,60
d
I
/ /
I I
I I
1 Nr = 264,84 kN I
I
1
u iS
f61 =14,85 MPa I,

(c) penampang bertulangan lebih

Gambar 5.3. Berbagai keadaan penampang beton bertulang


Gambar 5.4. Penampang Ba!ok Seton bertulangan ideal
BAB 5 METODE PERENCANAAN ELASTIC 1S 5
16 4 BAB 5 METODE PERENCANAAN ELASTIK

xldell fa' ijin fc'=10, 78 a


-qr qs
= ous
-r atau, l = f 1jin
(;' ijin+-
m= n
d
I I
I I
m didefinisikan bagai rasio dari x ideal terhadap tinggi efektif d. I /

Kemudian tengan momen dalam ideal z=


jd= d -1/3X= d-1/3(ma'), atau j= 1 -1/3m. I
I

II
I
/

Nilai jdidefinisikan sebagai rasio da.ri lengan momen dalam ideal Ud) terhadap tinggi efek - I
I
tif (d). I

Oengan menggunakan keseimbangan gaya-gaya N0 = Nr.sarta As= pbd,


112( fc 'ijin)(bma') =Us ijin)(pbd)

dengan m (fc' ijin)


demikian,
p = 2 s ijin)

Nilai p tersebut adalah rasio penulangan untuk penampang balok baton bertulangan Gambar 5.5. Sketsa Contoh 5.3
ideal. Momen dalam Mw didapatkan dengan memperkalikan No (atau Nr) dengan
Con toh
Iengan
5.3.
z(atau ja'):

Mw = 112(fc'ijin)(bma)(ja') = 112(fc'ijin)jmbd2 = Rencanakan suatu penampang balok persegi untuk mendukung beban hidup terbagi
2 rata 27 kN/m dan beban mati terbagi rata 14 kN!m (tidak termasuk berat sendiri), terletak
dimana, kbd
di atas bentangan sederhana 10 m, fc' =25 MPa, fy = 400 MPa.

k= 112(fc'ijin)frn
Sedangkan untuk Mw = N,(ja') = As (fs ijin)jd, didapatkan: P enyelesaian
Ml( A Menentukan nilai-nilai besaran perencanaan untuk penampang balok baton bertulangan
s = fs(jd ) =
ideal. Tegangan-tegangan ijin, fc 0,45fc' = 11,25 MPa, dan fs =
170 MPa (mutu baja 40),
nilai n = 9.
Besaran-besaran m, j, p, dan k dinamakan sebagai empat besaran perencanaan untuk
Dengan mengacu pada Gambar 5.5, dan menggunakan hubungan segitiga sabangun,
suatu penampang bertulangan ideal. Nilai-nilainya tergantung pada tegangan kerja ijin fc'
11,25
dan fs serta nilai banding modulus elastisitas n. Besaran m, j, dan p adalah bilangan m= 0,3733
tanpa 11,25+
9
170
dimensi, sedangkan untuk k umumnya dalam MPa.

Dengan demikian nngkasan laf1gkah-langkah untuk menentukan nilai-nilai teoretis b, h,


j = 1 -1.G m= 0,8756
k = i12fd71j= 112(11,2S)(0,3733)(0,8756) = 1,8386 MPa
dan As penampang balok baton bertulangan ideal adalah sebagai berikut:
._ :_ mfc 1 (0,3733)(11i25)
1) Menentukan nilai bd2 yang diperlukan dari M,Jk. p - 2 fs 2 170 0,0124
2) Perkirakan nilai b kemudian tentukan d, memilih komposisi b dan h kemudian
memerik- Menentukan ukuran balok sementara dengan perkiraan berat balok 7 kN/m.

sa beratnya.
3) Tentukan As dari p bd dan periksalah nilai tersebut dari persamaan,
i
Mw (beban hidup) = (27) (10) = 337,5 kNm
2

M...,.. Mw (beban mati) = a1 (14+7) (10)2 = 262,5 kNm


As = f s ijin(jd)
Mw= 337,5 + 262,5 = 600 kNm
Tanpa adanya pembatasan ukuran balok (terutama untuk tingginya), diinginkan
ukuran ba lok mendekati keadaan penampang bertulangan ideal, maka:
BAB 5 METODE PERENCANAAN ELASTIK 167
166 BAB 5 METOOE PERENCANAAN ELASTIK

letak garis netral:


500 x{112X) = 5284(9)(858,5-x)
3263353255 rrm3 X2 + 190,2 X = 163307,3
x= 320 mm
selanjutnya dilakukan cara coba-coba nilai b dan d sebagai berikut:
lengan kopel momen =
858,5-113(320) = 752 mm
3
dicoba b didapat d Mw 649(10)
No = Nr =--= 863kN
Iengan 752
300 1042,9
380 926,7 4 = Nr = 863(10)3 163,32MPa
450 851,6
As 5284
500 807,9
, No 863(10)
3

Dengan memperkirakan menggunakan dua lapis batang tulangan baja berdiameter tc - 10,78 MPa
.! .!
(bx) (500)(32q
sama, tinggi total yang diperlukan = 807,9 + selimut beton + o sengkang + o batang tu 2 2
langan + setengah jarak bersih antar-tapis tulangan. Di mana selimut ton_40 mm (SK SNI Tegangan-tegangan yang lebih tinggi dari tegangan ijin hingga 3% - 4% umumnya
T- 15-1991-03 pssal 3.16.7), diameter batang sengkang umumnya d1paka1 010 atau masih dapat dipakai.
012, batang t4'angan pokok 025 (anggapan), setengah jarak bersih lapis tulangan 12 Penetapan ukuran balok dan pemilihan batang tulangan telah dilakukan sesuai dengan
mm lankah yang seharusnya (ideal). Dalam penetapan tersebut, batang tulangan harus da
(SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.16.6). Dengan demikian, untuk balok denan ualp1s ba pat dipasang di dalam balok termasuk memperhatikan persyaratan jarak bersih (SK SNIT-
tang tulangan baja memerlukan tambahan tinggi 85 -100 mm terhadap tmggt efekt1f d. 15:1991-03 pasal 3.16.7), selimut baton baik di sisi bawah, samping, maupun atas balok.
Apabila pada contoh di atas terdapat pembatasan tinggi balok sedemikian sehingga tidak
Tinggi total h= 807,9 +100 = 907,9 mm. boleh lebih dari 850 mm, maka digunakan ukuran balok 500 mm x 850 mm (d :::: 750
Tetapkan ukuran balok 500 mm x 950 mm. mm) dan untuk bertugas menahan momen lentur yang sama dibutuhkan As yang lebih
Pemeriksaan berat sendiri balok, dan revisi langkah apabila diperiukan. besar dari 5284 mm2. Dengan menggunakan ukuran balok 500 mm x 850 mm berarti
Berat balok = 0,50(0,95)(23) = 10,925 kN/m kandung an batang baja akan lebih besar dari penampang bertulangan ideal dan disebut
1 2 sebagcti
Mw = 337, 5+ -(24,925)(10)
8 penampang bertulangan lebih. Di lain pihak, apabila misalnya dipilih ukuran balok 500
= 337,5 + 311,5 = 649 kNm mm x 1000 mm (d :::: 900 mm) nilai As yang dibutuhkan akan lebih kecil dari 5284 mm2,
untuk b = 500 mm, dengan mengulang cara coba-coba didapatkan d = 840 mm sehingga yang berarti bahwa kandungan bajanya lebih kecil dari penampang bertulangan ideal
h = 840 + 1oo = 940 cm. Maka, ukuran balok 500 cm x 950 cm dapat dipakai. {seim bang) dan disebut sebagai penampang bertulangan kurang.

Menentukan Juas batang tulangan baja yang diperlukan : Perencanaan Penampang Bertulangan Lebih:
Apabila diperkirakan akan menggunakan batang tulangan 010, maka ntuk mendapatkan Conteh 5.4.
d dapat dikurangkan nilai 90 mm terhadap h, bukannya 100 mm sepert1 contoh yang lalu. Untuk momen beban guna M w =
649 kNm yang didukung oleh balok ukuran 500 mm
d aktual = 950 - 90 = 860 mm 6
= =
x 850 mm, fc' 25 MPa, fy 400 MPa, tentukan As yang diperlukan.
- - 649 (10) = 5070 mm 2
As perlu- fs (jd) - 17ri.._ 0, 8756) ( 860) Penyelesaian
Tegangan-tegangan ijin dan besaran perancangan :
gunakan 8 batang tulangan 029 dalam dua lapis, As= 5284 mm2
Dari SK SNIT-15-1991-03 pasal 3.15.3, fc' ijin = 11,25 MPa, fs ijin = 170 MPa, n = 9,
sa dangkan besaran perencanaan: m= 0,3733,j= 0,8756, dan k= 1,8386 MPa
Pemeriksaan rencana penampang :
d = 950 - 40 -10 - 29 - 12,5 = 858,5 mm
168 BAB 5 METODE PERENCANAAN
ELASTIK
BAB 5 METODE PERENCANAAN ELASTIK 169

n f. (xd - x ) =9 (11,25)(

(
750 35 8
fs = - 7. )=105,21 MPa
c 367,8

Menentukan luas penampang tulangan baja yang dibutuhkan :


. 3
500 A = Nr = 1034,4 (10 ) = 9832 rrm 2
s fs ijin 1O 5,21

sw l
I
Dari hasil tersebut tampak bahwa memang terjadi peningl<atan kebutuhan luas penam
pang tulangan dibandingkan dengan Contoh 5.3 (penampang bertulangan seimbang )
terdahulu. Dengan demikian memang betul bahwa balok yang sedang dihadapi ini bertu
I W;;;.;.;,;.;....;;.;.J langan lebih. Langkah selanjutnya memilih batang tufangan baja yang akan dipasang se
kaligus menetapkan susunan pemasangannya, menghitung ulang d yang tersedia, dan
kemudian memeriksa sekalilagi tegangan-tegangannya.
Gambar 5.6. Sketsa Contoh 5.4
Dari pembahasan di atas tampak bahwa apabila penulangan semakin ber1ebihan, te
gangan yang terjadi akan semakin berkurang pula. Dengan demikian balok tersebut men
Selanjutnya memeriksa apakah penampang balok dalam keadan beulangan kurang, se
jadi tidak efisien bahkan tidak ekonomis untuk dilaksanakan. Pilihan cara lain untuk meng
imbang, atau lebih (berdasarkan pada contoh yang lalu telah d1ketahu1 bahwa
atasi hal tersebut adalah dengan memasang tulangan desak untuk meningkatkan nilai re
penampang
sultante gaya desak tanpa mengakibatkan letak garis netraf berubah banyak. Di samping
dalam keadaan bertulangan lebih).
Denganperkiraan menggunakan dua lapis tulangan baja, ditentukan d
6
= 75 cm.
-
Mw 649(10) itu, manfaat lainpenggunaan batang tulangan desak adalah pengurangan lendutan dalam
k pertu =-b d2 500(75q = 2,3076 jangka waktu panjang akibat rayapan dan susut baton, yang berarti dengan demikian se
MPa
Karena 2,3076 > 1,8386 berarti bukan penampang bertulangan ideal tetapi cara tidak langsung membantu dalam hat pengendafian lendutan.
bertulangan iebih. Seperti tampak pada Gambar 5.6. gaya desak N0 harus lebih besar
daripada penam pang bertulangan ideal. Salah satu cara untuk mengusahakannyaiah Perencanaan Penampang Bertulangan Kurang:
dengan mnam bah jumlah luas penampang tulangan baja tarik sedemikian rupa Contoh S.S.
sehmgga letak gans ne- Untuk momen beban-guna Mw= 649 kNm yang didukung oleh balok ukuran 500 mm x
tral turun, berarti tegangan pada baja juga berkurang. 1000 mm, fc'=25 MPa, fy = 400 MPa, tentukan As yang diperlukan.

Menentukan distribusi tegangan : Penyelesaian


Mw = No( d -113x) Tegangan-tegangan ijin dan besaran perancangan :
649( 10)6 = 112(11,25)(500 x){750 -113(x)} Dari SK SNIT-15-1991-03 pasal 3.15. .fc' iftn = 11,25 MPa, fs ijin = 170 MPa, n = 9, be
Penyelesaian persamaan kuadrat tersebut memberikan nilai x(letak garis saran perencanaan: m= 0,3733;j= 0,8756; dan k= 1,8386 MPa.
netral),
Memeriksa apakah penampang dalam keadaan bertulangan kurang, seimbang, atau lebih
x= 367,8 mm (pada kasus ini, berdasarkan pada contoh yang lafu telah diketahui bahwa penampang
Na= 112(11,25)(500)(367,8)(1 0)-3 = 1034,40 kN
dalam keadaan bertulangan kurang). Dengan memperkirakan akan digunakan dua lapis
lengan kopel momen = d -1/3x= 627,4 mm
Mw= N 0 x (lengan) = 1034,40(627,40)(10)- 3 = 649 kNm
tulangan baja, ditentukan d =
900 mm.

Agar garis netral terletak pada jarak x dari serat tepi terdesak, tegangan yang digunakan
untuk menghitung kebutuhan luas penampang tulangan diperoleh dengan mengguna k erlu= Mw = 6 =16025 MPa
549 (10)

kan hubungan tegangan linear (garis lurus) sehingga akan didapatkan nilai tegangan yang lebih kecil dari tegangan ijin (170 MPa).
baja
2
p b d2 500(9'.Xl) '
BAB 5 METOOE PERENCANAAN B..ASTIK 17 1
17 0 BAB 5 METODE PERENCANAAN
ELASTIK

11,25 MPa

.!ZQ(_x
9
)
900- X
dengan persamaan pangkat tiga mendapatkan nilai lengan momen yang tidak
banyak berbeda (bandingkan 31,9 dan 31,5), maka untuk memperoleh pendekatan
500
harga As perlu dapat digunakan rumus yang lebih praktis sebagai berikut (khusus
x aktual penampang bertulangan kurang, dengan penulangan tarik saja):
A Mw
s= (ts ijin) (besaran j )( d)
900
(900-X)
Maka dengan menggunakan rumus tersebut didapatkan,
6
A _ 649(10) :...

2
s -170(0,8756)(000) 4844
I nm
-
Hasil tersebut dekat dengan hasil hitungan menggunakan persamaan pangkat tiga yang
lebih mamakan waktu, selisih hasil masih dalam batas untuk diterima.

Gambar 5.7. Sketsa Contoh 5.5


C on toh 5.6.
= =
k ;=
K 1 6025 < 1 8386 bararti bukan panampang bertulangan ideal tetapi bertulangan Untuk fc' 25 MPa dan fy 400 MPa, bandingkan nilai p untuk penampang balok bertu
Apabila paampang ditulangi dengan jumlah yang ideal jelas ak mapu langan ideal pada cara tegangan kerja dengan ni/ai p ijin maksimum pada cara perancang
an kuat ultimit.
mea han mmen lentur yang lebih besar. Seperti tampak pada Gambar 5.7,
d1bad1gkaeb
Penyelesaian
n an yang terjadi pada penampang bertulangan ideal, gaya desak yang teria 1 No
kcil. Jarak gar1S natral dari serat tepi terdesak xberkurang atau dengan kata lam letak Untuk penulangan ideal, fc ijin = 0,45fc' f5ijin = 170 MPa, m= 0,3733 maka:
ideal =!!!_fc ijin = 0,3733(0,45)(25)
ga-_ ris natral naik. Sehingga tegangan desak yang timbul pada baton akan berkurang
atau le
bih kecil daripada tegangan desak baton ijin. p 2 f ijin
5
2 (170) O, O 124
Untuk mendapatkan nilai p maksimum balok bertulangan tarik saja pada perencanaan
Menentukan distribusi tegangan :
kuat ultimit diperoleh dari Tabet A-28, p maks = 0,0203. Pada umumnya nilai puntuk
Mw= No( d -1!3x) penulan gan ideal metode perencanaan elastik kira-kira 50% - 75% dari nilai
6 170
649(10) = 2 ( ) x ) (500 x)(9oO- ) maksimum metode perencanaan kekuatan.
2\ 9 900- x
x 3- 2700 x2 - 412307,95 x+ _;371076254,6 = O . . .
Penyelesaian persamaan pangkat tiga tersebut akan memberian ntlai x (latak gans net-
5 .10 PERENCANAAN BALOK PERSEGI
raJ), x= 317,50 mm BERTULANGAN RANGKAP
170( x ) -170( 317,S ) =10,296 MPa
fc =9 900- X - 9 900-317,5
Seperti telah dibahas pada bab terdahulu, apabila terdapat pembatasan ukuran tinggi ba
No= 112 fc'bx= 112(10,296)(500)(317,5)(10)- 3 = 817,2 kN lok persegi atau momen lentur yang didukung lebih besar dari momen tahanan penam
lengan kopal moman = d-1/3x= 900 -1tJ(317,5) = 794,2 mm pang bertulangan ideal, maka pada metode perencanaan elastik canderung mengguna
Mw= N0 x(lengan) = 817,2(0,7942) = 649 kNm kan penulangan rangkap (tulangan tarik As dan takan As'). Dengan demikian mengakibat
Nr No 817 2 (10)
3
4807 rrm2 kan jumlah tulangan tarik yang dipasang terbatasi pada nilai 40%-60% dari penulangan
As periu = , atau' f iJ"in 170 maksimum metode perencanaan kekuatan. Dalam praktek perencanaan, permasalahan
s lJln s
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pada penampang baiok bertulang_an yang sering dihadapi apakah seluruh tulangan tarik yang diperfukan As dapat dipasang
kurang yang lebih menentukan adalah tulangan bajanya. sedangkan upaya penyelasaian
pa da satu lapis saja di dalam balok. Apabila tempatnya tidak mancukupi dan
terpaksa dipa-
BAB 5 METOOE PERENCANAAN a.ASTIK 17 3
17 2 BAB 5 METODE PERENCANAAN 8..ASTIK

6) Hitung -As= Ast + As2


7) Hitung fct':
lebih dari satu lapis tentu akan berakibat- berubah-ubahnya nilai d di dalam
proses sang Nilai d adalah jarak
erhitungan. pusat berat penulangan tank terha
d ap sera rt kan
tt tep1 e e t ,_ fc' ijin (md - d' )
6i dalam pembahasan berikut ini ,dianggap bahwa nilai d sudah tertentu dengan c1 - md
meng- 8) Bandingkan 2nfc 1' dengan fs ijin
abaikan jumlah lapis tulangan tarik yang dipasang. 9) Apabila 2nfc 1' < f5 ijin,
Untuk menentukan nifai-nilai As dan As' yang dipertukan pada penampang
A '- No2
balok bertulangan rangkap umumnya digunakan metode kopel momen dalam. Pada S - (2n -1) f cf I
cara terse but momen lentur al.<ibat beban luar dilrnbangi oleh jurnlah dari dua kopel
sedangkan apabila 2nfc 1' > fs
momen tahanan, di mana kopel yang pertama tersusun oleh pasangan resultants
ijin,
gaya tekan beton dan gaya tarik tulangan baja penampang bertillangan ideal, A , Noz
sedangkn yang kedu tesusun
c
dari pasangan resultante gaya tekan tulangan baja dan gaya tank tulangan ba1a s1sanya.

oengan demikian, balok bertulangan rangkap dirancang sebagai penarnpang b_al.ok ber Pada penampang balok persegi dengan penulangan tarik saja yang bertugas rne
tu/angan ideal kernudian dipasang penulangan tekan dan tarik tambahan sedem1k1an nahan tekanan adalah baton, sedangkan pada penampang balok bertulangan rangkap
rupa sehingga tetak garis netral tetap berada di posisi yang kira-kira sama dengan yang bertugas adalah baton bersama-sama dengan tulangan baja tekan. Apcibila beton
penampang dan baja kedu!nya berperilaku elastik, yaitu apabila deformasi yang terjadi akan ikut le
bertulangan ideal. nyap begitu beban dihilangkan, maka cara transformasi penampang masih dapat diguna
Dengan mengacu kepada Gambar 5.8, langkah-langkah untuk menentukan As dan kan dengan cara mengganti luas penampang tulangan baja tekan dengan baton ekivalen
As' adalah sebagai berikut ini, seluas n kali luas baja tekan. Akan tetapi baton yang menahan tegangan tekan bersamaan
1) Hitung Mw1 = kbd2 dengan berjalannya waktu mengalami juga regangan (deformasi) rayapan dan susut
2) Hitung A 51 = p bd, dan periksa dengan: sela ma jangka waktu tertentu. Deformasi bersifat menetap yang tergantung waktu
M.,.,1 tersebut tidak dialami oleh baja. Dengan demikian selama baton mengalami deformasi
Ast = f s ijin (jd) menetap pa da atau sebelum tegangan kerja ijin tercapai akan mengakibatkan terjadinya
proses bersi nambung pelimpahan beban dari baton ke tulangan baja. Dengan
3) Hitung Mw2 = Mw- Mwt
digunakannya angga pan bahwa distribusi tegangan linear, cara pendekatan untuk
4) Hitung N02 dan NT2 :
Mw2 memperhitungkan deforma si dan pelimpahan beban tersebut adalah dengan
Noz =M-2 = ( d _ d } memperbesar luas baton ekivalen se
bagai pengganti tulangan baja tekan, lebih besar dari n kali.
5) Hitung A s2t
Untuk memperhitungkan tegangn-tegangan, dalam rangka mentransformasikan
N"'" "
A52 = "' luas tulangan baja tekan menjadi luaS' baton ekivalen, ketentuan SK SNI T-15-1991-03
fs
pasal 3.15.5 ayat 5 mengijinkan menggunakan nilai banding modulus elastisitas maksi
5 (ts ijin - f 1
mum 2n. Ketentuan tersebut dapat diartikan bahwa dalam analisis elastik tegangan tulan
Langkah ke-1 sampai dengan 6 kiranya sudah jelas, sedangkan langkah ke-7 -
I
sampai de ngan 9 akan dibahas pada uraian berikut ini. I
I
I
I paui nilai f s ijin. Dengan demikian ketentuan tersebut di samping memberikan
pendekatan pelimpahan beban kepada tulangan baja tekan juga membatasi tegangan
tulangan tekan baja agar tidak melampaui kapasitas ijinnya. Seperti diketahui, dengan
memasang tulang an baja tekan pada hakekatnya akan mengurangi luas penampang
baton tekan karena ditempati oleh tulangan. Sedangkan pada waktu memperhitungkan
Gambar s.a Cara dua kopel untuk balok bertulangan rangkap resultants gaya te-
BAB 5 METOOE PERENCANAAN ELASTIK 17 5
17 4 BAB 5 METODE PERENCANAAN a.ASTIK

kan dal Not pada kopel momen yang pertama, luas penampang baton tkan diP_9rhi 5. 11 ANALISI S BALOK PERSEGI
tun kan penuh. Dengan demikian resultante gaya tekan dalam No2harus _dllengkap1 BERTULANGAN RANGKAP
de- g memperhitungkan gaya kecil fctAs' yang sudah termasuk dalam perh1tungan
No1 Analisis balok panampang persegi tarlentur bertulangan rangkap (tulangan tekan dan ta
ngan .
Atau, No2 = 2nfc'(As'- fc1As' ) rik) adalah rumit, terutama dengan katentuan bahwa tagangan yang timbul dalam
dan No2= fs (As'- fc1As' ) . . tulangan tekan harus sama dengan 2 nfc 1 atau f s ijin, mana yang lebih kecil. Sedang di
maa yang digunakan targantung dari besamya nilai 2nfc1 dibandingkan tarhadap fs, d1- lain pihak pa da analisis lendutan, dalam menghitung momen inersia transformasi tidak
gunakan nilai yang lebih kecil. dapat menggu nakan nilai banding modulus elastis!tas 2n karena perhitungan perilaku
deformasi rayapan dan susutan manggunakan cara berbeda (lihat Bab 8).
C on toh 5.7. kN f , Dalam proses analisis, pertama-tama transfonnasi luas penampang dicoba
Suatu balok beton bertulang penampang persegi menahan momen Mw = 140 m, c = dengan menggunakan nilai banding modulus elastisitas yang berbada untuk baja
20 MPa, dengan tulangan baja menggunakan mutu 240, b = 300 mm, d 400 mm, = tulangan tarik dan tulangan takan. Untuk mendapatkan luasan baton akivalen bagi
dan apabila diperlukan penulangan tekan, digunakan d' = 90 mm. Tentukan
penulangan masing-masing tu
yang diperlukan. langan, luas penampang tulangan takan dikalikan dengan 2n sedangkan tulangan tarik
dikalikan dengan n. Sebagian luas akivalen bagi tulangan baja takan diperhitungkan un
P eny elesaian . ,... MP tuk pengurangan luas baton yang ditempati tuiangan baja sahingga luas akivalen menjadi
9
Sesuai dengan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.15.3, n= 9, fsijin = 120 MPa, fc IJln = (2n-1)As'Setalah sumbu berat penampang transfonnasi ditantukan lataknya,
a keniudian dapat menentukan diagram tegangan, yang mana sekaligus
besaran perencanaan: m= 0,403, j= 0,866, p= 0,0151, k= 1,5705 MPa. mamperlihatkan posisi apakah f s ijin atau 1/n f5 ijin telah tercapai. Apabila nilai 2nfc 1'
Mwt = kbd 2= 1,5705(300)(400)2(10)-6= 75,38 kNm
tidak melampaui f s ijin, di mana
A 5 = 0,0151(300)(400) = 1812 mm2 fc t' adalah nilai tagangan baton pada lokasi kedudukan tulangan baja tekan, maka trans
6
- Mw1 - 75,38(10) 1813 mn2 formasi penampang percobaan tersebut dapat diterima dan perhitungan analisis dapat di
Ast - f jd -120(0,866) (400) lanjutkan. Tatapi apabila nilai 2 nfc 1 ' melampaui nilai f5 ijin, maka luas baton akivaJen untuk
5
tulangan baja tekan harus diambil kurang dari 2nA5'. Dengan damikian panampang trans
Mw2 = Mw- Mw1 = 140 - 75,38 = 64,62 kNm
_ _ M w 2 _ 64,62 (10)3 formasi tarsebut di atas tidak sahih lagi. Sampai pada langkah ini, cara tarbaik adalah ma
8, kN nentukan dan menghitung latak garis netraJ (mungkin letaknya dakat dangan garis netral
_ 20 45
No 2 - Nr2 - (d-d') (400-9q
penampang transformasi) dangan manggunakan kaseimbangan gaya-gaya, resultante
Nr 2 208,45 (10)
3
= 1737 rrro gaya tekan sama dengan gaya tarik. Dengan cara tarsebut akan didapatkan tambahan
gaya tekan sabesar Us ijin - fc/)As '.
2
As2 = fs 120
- A +A - 1813 +1737 = 3550 mm2 (tulangan tarik)
AS -
Sf S2
-

md = 0,403(400) = 161,2 mm Contoh 5.8.


9 (161,2-00) 3 9752 MPa Suatu balok baton bertulang persegi bertulangan rangkap seperti tampak pada Gambar
fct' 161,2 , =
5.9, fc' 30 MPa menggunakan baja mutu 30. Hitung momen lentur yang dapat didu
kung.
2nfc1 = 2(9)(3,9752) = 71,55 MPa<120 MPa (ijin maksimum)
berarti menggunakan rasio modulus elastisitas_ 2n dapat
Penyelesaian
ditarima
Sesuai dengan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.15.3, maka: n= 8, fs ijin = 140 MPa, dan fc'
As' No2 208.45 (1O)3 = 3085 nm2(tulangan takan) ijin = 13,50 MPa.
(2n -1) fc/ 17(3,9752) Menentukan sumbu berat penampang transfonnasi :
112bx2 + (2n-1)A 5 ' (x- d') = n (A s )(d- x)
BAB 5 METOOE PERENCANAAN B..ASTIK 17 7
17 6 BAB 5 METOOE PERENCANAAN ELASTIK

_ 5.12 PERENCANA A N KUAT GESER DAN TORSI

Pada komponen struktur yang memikul geser dan torsi, tegangan geser rencana v dihi
tung dengan:
v-
v-
-bw d
As'=S019
di mana Vadalah gaya geser rencana pada penampang yang ditinjau.
As= J Perencanaan geser komponen struktur terlentur didasarkan pada anggapan bahwa
baton menahan sebagian tegangan geser sesuai dengan kemampuannya, sedang kele
bihannya atau tegangan gaser di atas kemampuan baton untuk manahannya dilimpahkan
kepada tulangan baja geser. Untuk komponen struktur yang menahan gaser dan lentur
Gambar 5.9. Sketsa Conteh 5.8 saja, kapasitas baton tanpa penulangan untuk menahan geser adaJah:
Ve =}_ Fc
112(30ox2) + (15)(1417,5)(x- 90) = 8(4538)(560 - x) 11
l1'2(300x2) + 21262,S(x- 90) = 36304(560 -_x) dan apabila dikehendaki hitungan yang lebih rinci:
1 r;- Vd
Penyelsaian persamaan pangkat dua tersebut menghas1lkan x= 238,4 mm Ve =--yfe +9 Pm M
Bandingkan 2nfe / terhadap fs ijin. 12
90
23 )= 129,18 MPa ., .atv-ds1 dan Ve s 1-'e
d1. mana rn
n(;/= ( )( 2,97)( ; <140MPa M 1
2 2 8 1
Untuk komponen struktur yang menerima beban tekan aksiaJ, apabila dikehendaki hitung
dengan demikian panampang transformasi dapat diterima. an rind:
Menentukan momen lentur dalam dengan menggunakan cara kopel momen.
No1= 112(12,97)(300)(238,4)(1 0)-3 = 463,81 kN Ve =(1+ 10NAJ, /f.
=
No 21262,5(8,074)(10)-3 = 171,67 kN
2
N = 140(4538)(10)-3= 635,32 kN di mana nilai besaran : dinyatakan dalam
,;, = 463 81{560-113(238,4)}(10)-3 + 171,67(470)(10)-3 = 303,56 Nm MPa.
g
.
Pemeriksaan omen l ntur dalam dengan menggunakan cara penampang Untuk komponen struktur yang menerima beban tarik aksiaJ besar, tulangan geser
transormas1. harus direncanakan untuk memikul geser totaJ kecuaJi apabila dilakukan perhitungan
fc, =i/3(300)(238,4)3 + 21262,5(238,4-90)2 + 36304(560-238,4) rinci di mana Vetidak lebihdari nilai:
= 1354935910 + 468254682 + 3754797834
= 5577988426 mm4
-6
v = (1+ 0,60A gN )2 /f:
c 11
fe ijin (/er) 12,97(5577988426)(10) -303,47 kNm
Mw = x = 238,4 Apabila tegangan geser rencana v lebih besar dari tegangan geser yang dapat dipi
-6 kul oleh baton Ve, harus dipasang tulangan geser, dengan syarat nilai ( v - Ve) tidak lebih
f5 ijin(le,) _ 140(5577988426)(10) 3 03,53 kNm dari 318(./fe), yang ketentuannya antara lain adaJah sebagai barikut:
atau, Mw = n(d - x) - 9 (560- 238.4)
Tulangan geser berupa sengkang tegak lurus terhadap sumbu memanjang komponen
struktur,
17 8 BAB 5 METODE PERENCANAAN aASTIK
BAB 5 METODE PERENCANAAN ELASTIK 17 9

Apabila digunakan tulangan geser berupa tulangan miring:


A = (v -v ) bw s vc =_.!. (1+_Pgc_) lfi
dimana: 12 'j'c
v. c (sin a +cos ex) f Ve
5 :S 1/8'/fc
Apabila tulangan geser terdiri dari tulangan tunggal atau satu kumpulan tulangan paralel '

tunggal yang semuanya dioongkokkan pada jarak sama dari perletakan: Pc= nilai banding antara sisi panjang terhadap sisi pendek dari beban ter u-
bw d sat atau daerah reaksi. p
Av = (v -vc ) ( .
f
sin a) s Sea.ngkan kapasitas geser di sekitar beban terpusat atau suatu reaksi
ditentukan oleh kond1s1 terberat dari dua keadaan: (a) aksi balok pada plat atau fondasi
di mana ( v- Ye) tidak boleh melebihi 3Ja(vfc).
telapak de ngn penamang kritis menerus pada suatu bidang yang memotong
Sedangkan pada ternpat-tempat tertentu pada komponen struktur di mana nilai V > 1.Q
Ve seluruh lebar' dan berJarak d an muka beban terpusat atau daerah tumpuan, dan (b} aksi
perlu dipasang sejumlah tulangan geser minimum: dua arah pada plat dan fondas1 telp.ak, denga suatu p ampang kritis tegak lurus
A = bw s terhadap bidang plat dan terfetak sedem1k1an rupa hmgga kellhngnya minimum tetapi
v .3 f tidak perlu lebih dekat d .
y
i12dterhadap keliling beban terpusat atau daerah reaksi. an
kecuali untuk komponen sebagai berikut:
1) plat dan fondasi telapak (dangkal),
2) balok dengan tinggi total tidak lebih dari 250 mm, atau 2,5 kali tebal sayap (flans),
atau 11210bar badan penampang ( web), dipilih nilai terbesar,
3) struktur balok rusuk seperti yang didefinisikan SK SNI T-15-1991-03 pasaJ 3.1.11.

Kuat luluh rencana tulangan geser yang digunakan tidak boleh lebih dari 400
MPa. Sengkang dan batang atau kawat yang digunakan sebagai tulangan geser harus
dite ruskan sejarak d dari serat tekan ekstrim dan harus dijangkarkan pada kedua ujung
untuk rnendapatkan kekuatan luluh rencana tulangan. Jarak spas tulangan geser yang
dipa sang tegak lurus terhadap sumbu memanjang kornponen struktur tidak boleh
lebih dari 112d, atau 600 mm. Sedangkan sengkang miring atau tulangan pokok
memanjang yang dibengkok harus dipasang dengan jarak yang sedernikian rupa hingga
setiap garis miring 45 dari titik tengah tinggi komponen struktur ke arah tulangan tarik
memanjang menuju
reaksi atau dukungan, harus berpotongan paling tidak dengan satu garis tulangan geser.
Pada kasus di mana nilai ( v- Ve) melampaui 11e(vfe' ), maka nilai-nilaijarak spasi
maksimum tersebut di atas harus dikurangi menjadi separohnya.
Selain itu, dalam SK SNI T-15-1991-03 juga memberikan ketentuan khusus untuk
perencanaan komponen struktur plat dan fondasi telapak, di mana tegangan geser ren
cana dihitung dari:
V =--
v
b0 d
di mana V dan b0 diambil pada penampang kritis. Apabila tidak digunakan penulangan
ge ser pada komponen. nilai tegangan geser rencana v tersebut tidak boleh
melampaui Ve
sebagai berikut:
18 0 BAB 5 METODE PERENCANAAN EL.ASTIK
tii

6
"I

!Ii
11

. SOAL - SOAL

5-1. Suatu balok baton bertulang penampang persegi ukuran 300 mm x 560 mm de
ngan tulagan tarik 3 batang 028 letaknya 60 mm dari dasar balok, Ee = 20
.. ,

kN/mm2, Es = 200 kN/mm2, momen lentur Mw= 115 kNm. Tentukan tagangan-
tegangan mak simum baik pada baton maupun tu!angan bajanya, dengan: (a)
cara kopel benda tegangan, (b) cara rumus lenturan dengan penampang
transformasi.
PANJA NG PENYALURAN DAN
5-2. Berapakah momen lantur ijin maksimum untuk balok pada Saal 51 apabila SAl\t18UNGAN BAJA TULANGAN
tegang an-tegangan ijin maksimum adalah fc = 8,3 MPa. fs= 150 MPa ?

5-3. Suatu balok baton bertulang penampang persagi ukuran 300 mm x 500 mm de
ngan tulangan tarik 3 batang 20 mm, fc' = 21 MPa, fy = 280 MPa, (a) Tentukan
momen lentur ijin, (b) Apakah penampang bertulangan ideal, kurang, atau lebih ?

5-4. Untuk balok pada Saal 5-3 apabila digunakan tulangan 3 batang 32 mm, sadang
6. 1 PENDA HULUA N
kan pertanyaannya sama.

5-5. Untuk suatu balok baton bertulang persegi dangan lebar b = 400 mm mendukung Salah satu dasar anggapan yang digunakan dalam perencanaan dan analisis struktur
momen beban-guna Mw= 540 kNm, fc' = 28 MPa, fy = 420 MPa, berapakah ba ton bertulang ialah bahwa lekatan batang tulangan baja dengan baton yang
tinggi efektif teoretis dan luas penampang tulangan tarik yang diperlukan ? mangelilingi nya berlangsung sempuma tanpa tarjadi panggalinciran atau pergesaran.
Bardasarkan atas anggapan tarsabut dan juga sebagai akibat lebih lanjut, pada waktu
komponan struk tur baton bartulang beker:ja menahan beban akan timbul tagangan
5-6. Untu suatu balok beton bertulang persegi dengan lebar b = 300 mm mendukung
momen beban-guna yang terdiri dari beban hidup MLL = 95 kNm dan beban mati lakat yang berupa shear interlock pada permukaan singgung antara batang tulangan
MoL = 54 kNm, fc'= 28 MPa, fy = 350 MPa, tantukan ukuran penampang dan dangan baton. Untuk balok struktur yang menahan beban moman lentur misalnya,
penu
langannya, periksa pula tegangan-tegangannya, dan garnbar skatsa. tagangan lekat timbul setara dangan variasi perubahan nilai momen lentur yang
ditahan di sepanjang balok. Dengan barubahnya nilai momen lentur mengakibatkan
5-7. Rancanakan suatu balok baton bertulang dangan lebar 350 mm mendukung mo barlangsungnya suatu intaraksi longitudi nal antara baja dan baton sehingga basar
men beban hidup MLL = 305 kNm di atas dukungan sederhana bantangan 6, 10 tegangan tarik yang harus ditahan jug a menya suaikan di sepanjang batang tulangan
m, baja tarik. Olah karenanya tegangan tarsebut dise but sabagai tegangan lekat lenturan.
fc' = 28 MPa, fy = 420 MPa. Gambar skatsa panampang dengan batang tulangan Distribusi tagangan lakat yang sesungguhnya terja - di di sepanjang batang baja sangat
yang dipilih. rumit dan kompleks labih-labih apabila dikaitkan de ngan timbulnya ratak baton di
daarah tarik. Hasil barbagai panalitian menunjukkan bahwa ragam bentuk tegangan
5-8. Rencanakan penampang balok baton bertulang yang mendukung beban hidup lekat dipengaruhi oleh terjadinya retak diagonal dan retak lentur, dan hasil pangukuran
2
wLL = 7500 kg/m di atas bentangan 8,50 m, fc' = 210 kg/cm2, fy = 4200 kg/cm . menunjukkan nilai tegangan lekat cukup tinggi di tempat tapat ber sebelahan dangan
Gambar sketsa penampang dengan batang tulangan yang dipilih. retak-ratak tersabut. Sahingga diperlukan parsyaratan tertentu untuk mangantisipasi
tegangan lekat lentur tinggi pada tempat-tampat rawan di sepanjang ben tang terhadap
5-9. Rancanakan suatu plat baton bartulangan satu arah mendukung baban hidup ma parubahan gaya tarik mendadak dalarn tulangan, saperti pada titik balik mo
rata wLL = 850 kg/m 2 di atas dukungan saderhana bentangan 5,50 m (p.k.p), fc' = men bentang menerus dan titik-titik pamberhantian pada bantang sederhana Sekalipun I
21 MPa, fy = 280 MPa. Gambar skatsa penampang dengan batang tulangan yang
I

I
I

tidak ada gaya tarik yang harus disalurkan pada tampat-tempat tarsebut. Tegangan lekat
dipilih, serta periksa tegangan-tegangannya.

1
18 2 BAB 6 PANJANG PENYALURAN DAN SAMBUNGAN BAJA TUlANGAN
BAB 6 Ai\NJANG PENYALURAN DAN SAMBUNGAN BAJA TULANGAN 18 3
/
tinggi di suatu tempat sampai dengan batas tertentu mungkin hanya akan mengakibatkan I
panggalinciran lokal yang relatif kacil, tetapi apabila meningkat lebih lanjut dapat ,I
tegangan maksimum. Sehingga apabila keseluruhan panjang batang tulangan mengalami
mengaki batkan bukaan retak lebih leba apabila baton sudah tidak mampu lagi
tegangan,.penyaluran kakuatan lekatan batang akan tetap terjamin. Untuk kasus-kasus
menahannya. Bersamaan dengan itu akan terjadi pula defleksi balok. Dalam batas-batas
tertent d1 mana karena terbatasnya tempat atau penempatan tulangan baja tidak me
tertentu, kejadi an demikian umumnya masih dapat diterima sepanjang retak-retak baton mungkmkan untuk memasang panjang penyaluran yang diperlukan, penyelesaian de
tidak menjalar ke seluruh panjang batang tulangan baja, yang mana berarti bahwa ngan car:a membuat penambatan khusus seperti kait atau bengkokan yang sedemikian
lekatan antara baton dan baja secara keseluruhan telah hilang. Meskipun demikian, rupa sehmgga dapat membarikan kuat penjangkaran yang memadai.
penggelinciran batang tulang an baja terhadap beton yang mengelilinginya boleh jadi
tidak akan mengakibatkan kerun tuhan balok secara menyeluruh. Karena sekalipun
terjadi pemisahan menyeluruh pada hampir sepanjang batang tulangan baja, balok 6.2 PANJANG PENYA LURAN
masih dapat melanjutkan memikul beban selama ujung-ujungnya tetap kokoh terjangkar. TULANGAN BAJA TARIK
Dengan demikian maka upaya untuk menjamin tercapainya lekatan kuat adalah de
ngan memperhitungkan efek penambatan atau panjangkaran ujung-ujung batang tulang
Panjang penyaluran adalah panjang penambatan yang diperfukan untuk mangembang
an baja di daJam baton. Apabila penambatan ujung-ujung batang tulangan tersabut dija
kan tegangan lufuh dafam tulangan, merupakan fungsi dari fy. diameter, dan tegangan
min beriungsi dan berfangsung dangan baik, lekatan antara baton dan baja pada kasalu
lekat. Panjang penyaJuran menentukan tahanan terhadap targelincimya tulangan.
ruhan panjang batang tulangan akan tetap kokoh pula, dan dengan demikian kapasitas
SK SNI T-15-19 1-0 pasal 3.5.2. menentukan bahwa panjang penyaluran f d untuk ba
daya dukung balok tidak terganggu. Kaadaannya mirip dengan perilaku busur yang tarikat
tang tulangan baiatank deformasian dan tulangan baja rangkai las adalah sebagai
pada ujung-ujungnya. Penambatan atau panjangkaran ujung batang tulangan baja akan
berikut,
berlangsung dangan baik apabila batang tulangan tersebut tertanam kokoh di dalam ba
i d = panjang penyaluran dasar (l. x faktor modifikasi
ton pada jarak kedalaman tertentu yang disebut sabagai panjang penyaluran batang tu a). Panjang Penyaluran Dasar - !. db
langan baja (f.d). Apabila di dalam suatu balok batang-batang tulangan bajanya masing
(1) Untuk batang tulangan baja 036 atau lebih kecil,
masing diberikan parpanjangan yang sama atau labih besar dari panjang penyaluran yang
0,02 A/
disyaratkan, dijamin tidak akan terjadi kagagaJan lakatan dini. Dangan demikian dapat di v
simpulkan bahwa perkfr'aan kekokohan balok baton bartulang tidak hanya ditentukan oleh lai (ii

kualitas lekatan antara baton dengan tulangan bajanya, tetapi juga ditantukan oleh bebe "' fc I

rapa faktor lain termasuk sistem penjangkarannya. Olah karena itu, persyaratan penga l.bdalam mm, dan tidak boleh kurang dari 0,06 dtJ fy. sedang fy dan fc' dalam MPa.
manan untuk menghindari kegagalan lekatan ialah dengan mengatur jarak (panjang) dari d1 mana, Ab = luas penampang batang tulangan baja (mm2)
setiap titik pada batang tulangan yang diparhitungkan mengalami tegangan maksimum, fs dtJ = diameter nominal batang tulangan baja (mm)
(2) Untuk batang turangan baja 045,
atau fy , terhadap ujung terdekat tidak boleh kurang dari panjang penyalurannya. Apabila
25 fy
hal tersebut terpenuhi maka integritas kekokohan setiap titik di sepanjang batang
tulang an termasuk pada tempat-tempat yang mungkin mengalami kegagaJan
l71 = Jfci
kecilsetampat da pat dijamin kekuatannya. Oengan menggunakan cara tarsebut tidak (3) Untuk batang tulangan baja 055, ; I

diperlukan pengukur 40 fy
.f. = ..fc
an atau peninjauan besar tegangan lakat lentur di sepanjang batang tulangan baja,
yang
(4) Untuk batang kawat deformasian, N I

sudah barang tantu merupakan hal yang cukup rumit.


Metode perencanaan bardasarkan SK SNI T-15-1991-03 mengabaikan besamya
b). Faktor Modifikasi
nilai tegangan lakat tinggi yang timbul satampat, walaupun mungkin tegangan tersebut 1,40
(1) Batang tulangan baja paling atas,
akan mengakibatkan terjadinya panggelinciran tulangan terhadap baton di tempat yang 2-
tepat bersebelahan dengan retak baton. Perhatian labih diutamakan atau ditujukan (2) Batang tulangan baja dengan fy > 400MPa 400
untuk menyediakan panjang penambatan tertentu, melewati tempat di mana batang fy
mengalami
BAB 6 PAN.JANG PENYALURAN DAN SAMBUNGAN BAJA TULANGAN 18 5
184 8.A.B 6 PANJANG PEN't&.LURAN DAN SAMBUNGAN BAJA TUt.ANGAN

6.3 PANJANG PENYALURAN


(3) Untuk baton ringan apabila kuat tarik belah fct s TULANGAN BAJA
1,0 TEKAN
(4) Untuk beton ringan apabila' kuat tarik belah rata-ra
Panjang enyaluran batang tulangan tekan lebih pendek dibandingkan untuk batang tu
ta fct Udak ditentukan: 1,33
fang_an tank. Untuk batang tulangan baja deformasian yang bekerja menahan gaya
Untuk beton ringan sepenuhnya, 1,18
tekan, pan1angpenyaluran dasar (ldb) dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
Untuk baton ringan pasir,
ldb= tt4{db tyrifc'
(5) Penulangan mendatar dengan spasi p.k.p. 150 mm, 0,80
dan ktentuan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.5.3 membatasi bahwa panjang penyaluran
dan paling tidal< berjarak bersih antar-batang 70 A s perlu
mm, dasartadak boleh kurang dari 0,04 dt/y atau 200 mm.
As
tersedia Faktor modifikasi berikut ini digunakan untuk menentukan panjang penyaluran ba
(6) Penulangan tersadia lebih banyak, tang tutangan baja yang menahan gaya tekan:
As pertu
(7) Batang tulangan baja yang terkungkung di dalam
lilit A

an penulangan spiral dengan diameter tidak kurang 1) Penulangan tersedia lebih banyak, 5
tersedia
aari 5 mm dan jarak spasi lilitan spiral tidak tebih 0,75
dari 2) Batang tulangan baja yang terkungkung di dalam
pe nulangan spiral dengan diameter tidak kurang
100 mm,
dari
dnkat men1d1 satu. Dalam satu beri<.as (satu ikatan) paling banyak terdiri dari empat batang
Untuk mendapatkan panjang penyaluran yang dipertukan, panjang penyaluran da
tulangan ba.Ja Kriteria umum berkas tulangan yang harus diperhatikan dapat diperoleh dari SK
sar ( i db) pada bagian (a) dikalikan dengan taktor modifikasi di bagian (b) sesuai deng
SNI T-15-
pe runtukannya. Menurut SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.5.2 ayat 5, dalam segala hal
panJan9 1991-03 pasal 3.16.6 ayat 6.
penyaluran f d tidak boleh kurang dari 300 mm kecuali pada sambungan lewatan berda
sarkan pasal 3.5.15, dan sambungan tulangan sengkang badan balok pada pasal .5.13.
Pada Tabel A-39 disediakan daftar panjang penyaluran dasar (l..db) untuk berbagat keku
atan baton, mutu baja. dan berbagai macam ukuran batang tulangan baja.
Dalam daftar f aktor modifikasi juga diberikan kriteria batang tulangan pokok meman-
jang dengan ke'1udukan elevasi paling atas dengan lapisan baton di bawahnya tidak
ku rang dari 300 mm. Krtteria tersebut dalam rangka untuk memperhitungkan
kelembaban udara dan kemungl<lnan terdapatnya udara yang terperangkap di bawah
tulangan, yang mempengaruhi mutu kekuatan (daya) tekat sehingga memungkinkan
terjadinya pengge-
linciran sewaktu menahan beban yang tidak begitu besar.
Untuk penutangan dengan menggunakan berkas batang tulangan, S SNI T-15-
1991-03 pasal 3.5.4 menetapkan bahwa perhitungan panjang penyaluran dllakukan e
ngan cara memperhitungkan panjang penyaluran masing-masing unsur berkas ke
d1an dikalikan 1,20 untuk beri<as berisi tiga batang,