Anda di halaman 1dari 21

5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Medis

2.1.1 Definisi

Typhoid adalah infeksi penyakit akut usus halus yang

disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi. Typhoid merupakan penyakit

infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala

demam lebih dari 7 hari, gangguan kesadaran dan saluran pencernaan

(Arif Mansjoer, 2013).

Di masyarakat penyakit ini dikenal sebagai tipes atau typhus.

Sementara dalam dunia medis, penyakit ini disebut demam typhoid atau

typhoid fever. Penyakit ini adalah penyakit infeksi akut usus halus yang

disebabkan oleh kuman salmonella typhi dan salmonella para typhi A,

B ,C. Sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid

abdominalis (Rudi Haryono, 2012).

Demam Typhoid adalah sebuah penyakit infeksi pada usus yang

menimbulkan gejala-gejala sistematik yang disebabkan oleh Salmonella

Typhosa, Salmonella Paratyphi A, B dan C. Penularan terjadi secara

fekal oralm melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Sumber infeksi terutama, Carrier ini mungkin penderita sakit

(Carrier akut),Carrier menahun yang terus mengeluarkan kuman

atau Carrier pasif yaitu mereka yang mengeluarkan kuman melalui


6

eksketa tetapi tak pernah sakit, dan penyakit ini termasuk dalam

penyakit endemic di Indonesia (Ngastiyah, 2005).

2.1.2 Etiologi

Demam Typhoid timbul akibat dari infeksi oleh bakteri golongan

Salmonella yang memasuki tubuh penderita melalui saluran pencernaan

(Rahmad Juwono, 2012). Salmonella Typhosa merupakan bakteri

Gram-negatif yang tidak berkapsul mempunyai flagella sehingga

hampir selalu bergerak dengan menggunakan flagella peritrikosa

(Soedarto, 2015).

Masa inkubasi demam typhoid adalah 10-14 hari (Novita Suprapto,

2014). Bakteri ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia

maupun suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada suhu 70 C

maupun oleh antiseptik. Sampai saat ini diketahui bahwa kuman ini

hanya menyerang manusia. Salmonella typhosa mempunyai 3 macam

antigen yaitu :

1. Antigen O = Ohne Hauch = Somatik antigen (tidak menyebar)


2. Antigen H = Hauch (menyebar), terdapat pada flagella dan

bersifat termolabil
3. Antigen V1 = Kapsul : merupakan kapsul yang meliputi tubuh

kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis


(Rampengan, 2013)

Sedangkan menurut (Rahmad Juwono,1996) menambahkan :


7

1. Salmonella paratyphi A
2. Salmonella paratyphi B
3. Salmonella paratyphi C
4. Feces dan urine dari penderita typhus
2.1.3 Manifestasi Klinis
Masa inkubasi rata-rata untuk typhoid rata-rata 2 minggu, gejala

yang timbul tiba-tiba atau berangsur-angsur. Penderita cepat lelah,

malaise, anoreksia, sakit kepala,dan tidak enak di perut dan nyeri

seluruh badan. Demam umumnya berangsur-angsur naik selama

minggu pertama, demam terutama pada sore hari dan malam hari

(bersifat febris remitont). Pada minggu kedua dan ketiga demam terus

menerus tinggi (febris kontinuo), kemudian turun secara lisis, demam

ini tidak hilang dengan pemberian antipiretik, tidak ada menggigil,

dan tidak berkeringat, kadang-kadang disertai epistaksis, gangguan

gastrointestinal, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor, berselaput

putih dan pinggirnya hiperemesis, perut agak kembung dan mungkin

nyeri tekan, limfa membesar lunak dan nyeri pada peranakan, pada

permulaan penyakit umumnya terjadi diare, kemudian menjadi

obstipasi. Kesadaran penderita menurun dari ringan sampai berat,

umumnya apatis (seolah-olah berkabut, Typhos= kabut). (Andra

Saferi Wijaya, 2013)

Gejala klinis sebagai berikut:

1. Demam
Demam khas (pelana kuda) berlangsung selama 4 minggu, bersifat

febris remiten dan dengan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi.
8

1) Minggu pertama : Demam tinggi lebih dari 40C, nadi lemah

bersifat dikrotik, denyut nadi 80-100 per menit. Suhu

meningkat setiap hari, menurun pada pagi hari dan meningkat

lagi pada sore dan malam hari.


2) Minggu kedua :Suhu badan tetap tinggi, penderita mengalami

delirium, lidah tampak kering mengkilat, denyut nadi cepat,

tekanan darah menurun dan limpa teraba.


3) Minggu ketiga : Keadaan penderita membaik jika suhu

menurun, gejala dan keluhan berkurang. Sebaliknya keadaan

penderita memburuk jika masih terjadi delirium, stupor,

pergerakan otot yang terjadi terus-menerus terjadi

inkontinensia urine atau alvi. Selain itu terjadi meteorismus

disertai nyeri perut.


4) Minggu keempat : Penderita yang keadaannya membaik akan

mengalami penyembuhan.
(Rudi haryono, 2012).
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Bibir kering dan pecah pecah, bau napas tidak sedap, lidah

tertutup selaput putih kotor (Coated Tongue), ujung dan tepi

kemerahan, jarang disertai tremor, anoreksia, mal, dan perasaan

tidak enak diperut. Abdomen kembung, hepatomegaly dan

splenomegaly disertai nyeri tekan perabaan. Biasa disertai

kostipasi, kadang normal, dapat terjadi diare.


3. Gangguan kesadaran : Kesadaran menurun yaitu apatis sampai

somnolen. Jarang terjadi soor, koma atau gelisah.


4. Nyeri otot dan kepala.
(Deden Dermawan, 2011)
2.1.4 Patofisiologi
Kuman Salmonella Typhi masuk tubuh manusia melalui mulut

bersamaan dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh


9

kuman, sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung sebagian

lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limpoid plak peyeri di

ileum terminalis yang mengalami hipertropi. Bila terjadi komplikasi

perdarahan dan perforasi intestinal, kuman menembus lamina propia, ,

masuk aliran limfe, dan mencapai kelenjar limpe mesenterial dan

masuk ke dalam aliran darah melalui ductus torasikus. Salmonella

typhi lain dapat mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus.

Salmonella typhi bersarang di plak peyeri, limpa, hati, dan bagian-

bagian lain sistem retikuloendotelial. Endotoksin Salmonella Typhi

berperan dalam proses infllamasi lokal pada jaringan tempat kuman

tersebut berkembangbiak. Salmonella typhi dan endotoksinnya

merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen dan leukosit pada

jaringan yang meradang sehingga terjadi demam (Arif Muttaqin,

2011).
Salmonella typhi yang masuk ke saluran gastrointestinal akan

ditelan oleh sel-sel fagosit ketika masuk melewati mukosa dan oleh

makrofag yang ada di dalam lamina propia. Sebagian dari Salmonella

typhi ada yang dapat masuk ke usus halus mengadakan invaginasi ke

jaringan limfoid usus halus dan jaringan limfoid mesentrika.

Kemudian Salmonella typhi masuk melalui folikel limpa ke saluran

limfatik dan sirkulasi darah sistemik sehingga terjadi bakterimia.

Bakterimia pertama menyerang sistem retikulo endotelial (RES) yaitu :

hati, limpa, dan tulang. Selanjutnya mengenai seluruh organ di dalam

tubuh antara lain sistem saraf pusat, ginjal, dan jaringan limpa (Arif

Muttaqin, 2011).
10

Usus yang terserang typhoid umumnya ileum distal, tetapi kadang

bagian lain usus halus dan ileum proksimal juga dihinggapi. Pada

mulanya, plakat Peyer penuh dengan fagosit, membesar, menonjol, dan

tampak seperti infiltrat atau hiperplasia di mukosa usus (Arif Muttaqin,

2011).
Masuknya kuman ke dalam intestinal terjadi pada minggu pertama

dengan tanda dan gejala suhu tubuh naik turun khususnya suhu akan

naik pada malam hari dan akan menurun pada pagi hari. Demam yang

terjadi pada masa ini disebut demam intermitten (suhu tinggi, naik-

turun, dan saat turun suhu dapat mencapai normal). Di samping

peningkatan suhu tubuh, juga akan terjadi obstiipasi akibat penurunan

motalitas suhu, namun hal ini tidak selalu terjadidan dapat pula

sebaliknya. Setelah kuman melewati fase awal intestinal, kemudian

masuk sirkulasi sistemik dengan tanda peningkatan suhu tubuh yang

tinggi dan tanda-tanda infeksi pada RES seperti nyeri perut kanan atas,

splenomegali, dan hepatomegali (Arif Muttaqin, 2011).


Pada minggu selanjutnya di mana infeksi fokalintestinal terjadi

dengan tanda-tanda suhu tubuh tetap masih tinggi, tetapi nilainya lebih

rendah dari fase bakterimia dan berlangsung terus menerus (demam

kontinu), lidah kotor, tepi lidah hiperemesis, penurunan peristaltik,

gangguan digesti dan absorpsi sehingga terjadi distensi, pasien diare,

gangguan nutrisi, serta pasien tidak nyaman. Pada masa ini dapat

terjadi perdarahan usus, perforasi, dan peritonitis dengan tanda distensi

abdomen berat, peristaltik menurun bahkan hilang, melena, syok, dan

penurunan kesadaran (Arif Muttaqin, 2011).


11

Kuman salmonella typi yang masuk ke saluran gastrointestinal Gangguan pembentukan


eritrosit oleh sum-sum
tulang. Penghancuran
PATHWAY TYPHOID
Invaginasi ke jaringan limfoid usus halus (plak player) dan eritrosit dan lekosit oleh
jaringan limfoid mesenterika endotoksin

Respon psikososial Invasi sistem retikulo endoteleal


Anemia, lekopenia

Kecemasan pemenuhan Typhoid Penurunan imunitas


informasi

Respon inflamasi lokal Respon inflamasi Sensivitas Respon Penyebaran


sistemik serabut inflamasi RES kuman ke
intestinal
saraf lokal saluran
limpatik dan
Mual,muntah, Hipertermi sirkulasi
Splenomegali
anoreksia, penurunan Distensi, darah
dan
motalitas abdomen sistemik
hepatomegali
tidak
Terbentuknya nyaman
nekrosis dan
Tidak adekuat asupan tukak di ileum.
nutrisi konstipasi

Ke Sistem Ke Sistem
Bagan 2.1 Patofisiologi (Arif Muttaqin, 2011) Nyeri musculoskeletal
Perforasi terjadi saraf pusat
Resiko ketidak pada tukak yang dan integumen
seimbangan nutrisi menembus serosa

Meningitis
Kelemahan fisik umum, ensefalopati
2.1.5 Komplikasi malaise, kram otot, penurunan
Peritonitis turgor, tanda raseola

Nyeri kepala
Gangguan aktivitas sehari-hari perubahan
kesadaran
(apatis,
delirium,
halusinasi.
12

Komplikasi pada klien dengan typhoid dapat dibagi menjadi :

1. Komplikasi intestinal
a. Perdarahan Usus : perdarahan dapat terjadi pada 1-10% kasus,

terjadi setelah minggu ke-1,


b. Perforasi Usus : Bisa terjadi pada minggu ke 3 di bagian distal

ileum. Perforasi yang tidak disertai peritonitis terjadi bila ada

udara di rongga peritoneum dengan tanda pekak hati

menghilang, terdapat udara dihati dan diafragma peada foto RO

abdomen posisi tegak


c. Ileus Paralitik.
(Deden Dermawan, 2011)
2. Komplikasi ekstra intestinal
a. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi serkuler

(renjatan, sepsis), miokarditis, thrombosis, dan tromboflebitis


b. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, atau

koagulasi intravaskuler diseminata dan sindrom uremia

hemolitik
c. Komplikasi paru : Pneumonia, Empisema, dan Pleuritis
d. Komplikasi hepar dan kandung kemih : Hepatitis dan

Kolelitiasis
e. Komplikasi Ginjal : Glomerulonefritis, Pielonefritis dan

Perinefritis
f. Komplikasi tulang : Osteomielitis, Periostitis, Spondilitis, dan

Arthritis
g. Komplikasi neuropsikatrik : Delirium, Meningitis, Polyneuritis

perifer, Sindrom Gullaine Barre, Psikosis, dan Sindrom

Katatonia
(Andra Saferi Wijaya, 2013)
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan darah tepi : dapat ditemukan leukopenia, limfositosis

relative, aneosinofilia, trombositopenia, anemia.


13

2. Biakan empedu : basil S. Typhi ditemukan pada darah (minggu I),

feses dan urin,. Hasil (+) untuk menegakkan diagnose, hasil (-)

menentukan penderita sembuh dan tidak menjadi karier


3. Uji widal
Uji widal adalah salah satu reaksi aglutinasi antara antigen dan

antibodi (agglutinin).Agglutinin yang spesifik terhadap salmonella

thypi terdapat dalam serum klien dengan thypoid juga terdapat

pada orang yang pernah divaksinasikan.Antigen yang digunakan

pada uji widal adalah suspense salmonella yang sudah dimatikan

dan di olah di laboratorium.Tujuan dari uji widal ini adalah untuk

menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka

menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thyphi, klien

membuat antibody atau aglutinin yaitu :


a. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O

(berasal dari tubuh kuman).


b. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H

(berasal dari flagel kuman).


c. Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari

simpai kuman).
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya agglutinin O dan H yang di

tentukan titernya untuk diangnosa, makin tinggi titernya makin

besar klien menderita thypoid. Peningkatan titer uji widal tes 4 kali

lipat selama 2-3 minggu memastikan diagnosis demam Typhoid.

Reaksi widal tes tunggal dengan titer antibodi O 1/320 atau titer

antibodi H 1/640 menyokong diagnosis demam Typhoid pada

pasien dengan gambaran klinis yang khas.


4. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
14

SGOT dan SGPT pada demam Typhoid seringkali meningkat tetapi

dapat kembali normal setelah sembuhnya Typhoid.


(Rudi Haryono, 2012)
2.1.7 Pencegahan
Strategi pencegahan yang dipakai adalah untuk selalu menyediakan

makanan dan minuman yang tidak terkontaminasi, hygiene perorangan

terutama menyangkut kebersihan tangan dan lingkungan, sanitasi yang

baik, dan tersedianya air bersih sehari-hari. (Sugiarto, 2015)


Strategi pencegahan Typhoid mencakup hal-hal berikut :
1. Penyediaan sumber air minum yang baik
2. Penyediaan jamban yang sehat
3. Sosialisasi budaya cuci tangan
4. Sosialisasi budaya merebus air sampai mendidih sebelum

diminum
5. Pemberantasan lalat
6. Pengawasan kepada para penjual makanan dan minuman
7. Sosialisasi pemberian ASI pada ibu menyesui
8. Imunisasi
2.1.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dari Thypoid dapat dibedakan menjadi tiga bagian

seperti berikut :
1. Perawatan
a. Tirah baring total sampai minimal tujuh hari bebas demam atau

kurang lebih selama 14 hari.


b. Posisi tubuh harus diubah setiap dua jam sekali untuk

mencegah dekubitus (luka pada kulit akibat penekanan yang

terlalu lam berbaring di tempat tidur pada suatu sisi tubuh

tertentu).
c. Mobilisasi sesuai dengan kondisi.
2. Diet
a. Makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan

penyakitnya (mula-mula air, lalu makanan lunak, dan kemudian

makanan biasa).
b. Makanan mengandung cukup cairan, TKTP (tinggi kalori tinggi

protein).Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori, dan


15

tinggi protein, tidak boleh mengandung banyak serat, tidak

merangsang maupun menimbulkan banyak gas (Rudi Haryono,

2012).
3. Obat
a. Pemberian obat antibiotik.
1) Chloramphenicol
Klorampenikol masih merupakan obat pilihan utama untuk

pengobatan demam thypoid.Dosis yang diberikan 4x500

mg perhari dapat diberikan peroral atau intravena,

diberikan sampai dengan 7 hari bebas demam.


2) Tiamphenicol
Dosis dan efektifitas tiampenikol pada demam thypoid

hamper sama dengan kloropenikol. Akan tetapi

kemungkinan terjadi anemia aplastik lebih rendah dari

kloropenikol.Dosis 4x500 mg diberikan sampai hari ke 5

dan ke 6 bebas demam.


3) Cotrimoxazole
Dosis untuk orang dewasa 2x2 tablet dan diberikan selama

2 minggu.
4) Ampicilin dan Amoxicilin
Kemampuan obat ini untuk menurunkan demam lebih

rendah di bandingkan dengan klorampenikol, dosis

diberikan 50-150 mg/kgBB dan dibandingkan selama 2

minggu.

5) Sephalosporin generasi ke tiga


Hingga saat ini golongan seflosporin generasi ketiga yang

terbukti efektif untuk demam thypoid adalah sefalosforin,

dosis yang dianjurkan adalah 3-4 gram dalam dektrose

100cc diberikan selama jam perinfus sekali sehari

selama 3 hingga 5 hari. (Andra Saferi Wijaya, 2013)


16

b. Pemberian obat symptomatik : Antipiretik, Kortikosteroid

diberikan pada pasien yang toksik


c. Supportif : vitamin-vitamin. (Rudi Haryono, 2012)

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan


Proses keperawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan pelayanan

asuhan keperawatan yang mempunyai empat tahapan yaitu pengkajian,

diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.


2.2.1 Pengkajian
1. Identitas
Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alam,

pendidikan, no. Registerasi, status perkawinan, agama, pekerjaan,

tinggi badan, berat badan, tangal MR.


2. Keluhan Utama
Pada klien Typhoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan

kembung, nyeri kepala, lidah kotor, nafsu makan menurun, dan

demam terutama pada malam hari.


3. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah sebelumnya klien pernah mengalami sakit typhoid, dan

apakah menderita penyakit lainnya.


4. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya klien Typhoid mengalami demam, anorexia, mual,

muntah, diare, perasaan tidak enak di perut, pucat (anemi), nyeri

kepala/pusing, nyeri otot, lidah kotor, gangguan kesadaran berupa

somnolen.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita

Typhoid atau sakit yang lainnya


6. Riwayat Psikososial
Psikososial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis klien,

dengan timbul gejala-gejala yang dialami, apakah klien dapat

menerima pada apa yang dideritanya


7. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola nutrisi dan metabolisme
17

Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama

sakit, lidah kotor dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat

mempengaruhi status nutrisi berubah.


b. Pola aktifitas dan latihan
Klien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan

fisik serta klien akan mengalami keterbatasan gerak akibat

penyakitnya.

c. Pola tidur dan aktifitas


Kebiasaan tidur klien akan terganggu dikarenakan suhu tubuh

yang meningkat, sehingga klien merasa gelisah pada waktu

tidur.
d. Pola eliminasi
Kebiasaan dala BAK akan terjadi eretnsi bila dehidrasi karena

panas yang meninggi, konsumsi cairan yang tidak sesuai

dengan kebutuhan.
e. Pola reproduksi dan seksual
Pada pola reproduksi dan seksual pada klien yang telah atau

sudah menikah akan terjadi perubahan.


f. Pola persepsi dan pengetahuan
Bagaimanakan persepsi terhadap status kesehatan saat ini dan

sampai sejauh mana klien memahami penyakit dan

perawatannya.
g. Pola konsep diri
Adakah gangguan konsep diri
h. Pola penanggulangan stress
Kaji apakah yang biasa dilakukan klien dalam menghadapi

setiap stressor.
i. Pola hubungan interpersonal
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan

interpersonal dan mengalami hambatan dalam menjalankan

perannya selama sakit.


j. Pola tata nilai dan kepercayaan
Adakah gangguan dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari.
18

8. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Biasanya pada klien Typhoid mengalami badan lemah, panas,

pucat, mual, perut tidak enak, anoreksia.


b. Kepala dan leher
Konjungtiva anemia, mata cowong, muka pucat/bibir kering,

lidah kotor, ditepi dan ditengah merah.


c. Dada dan abdomen
Di daerah abdomen ditemukan nyeri tekan
d. Sistem integumen
Turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral hangat.
e. Sistem eliminasi
Pada klien Typhoid kadang-kadang diare atau konstipasi,

produk kemih klien bisa mengalami penurunan (kurang dari

normal). N -1 cc/kg BB/jam.


(Rudi Haryanto, 2012)
2.2.2 Diagnosis Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan respon sistemik dari inflamasi

gastrointestinal.
2. Resiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

berhubungan kurangnya asupan makanan yang adekuat.


3. Nyeri berhubungan dengan iritasi saluran gastrointestinal.
4. Resiko kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan

penekanan setempat, tirah baring lama, kelemahan fisik umum.


5. Kecemasan berhubungan dengan prognosis penyakit,

menginterpretasi informasi.
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidakadekuatan

informasi penatalaksanaan perawatan dan pengobatan.


(Arif Muttaqin, 2011)
2.2.3 Perencanaan Keperawatan
Berikut ini adalah perencanaan keperawatan pada pasien dengan

typhoid menurut Arif Muttaqin (2011) :


1. Hipertermi berhubungan dengan respon sistemik dari inflamasi

gastrointestinal.
Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam terjadi penurunan suhu tubuh.
Kriteria hasil :
19

a. Pasien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan

yang diberikan.
b. Pasien termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang

telah diberikan.
Intervensi :
a. Evaluasi tanda-tanda vital pada setiap pergantian shift atau

setiap ada keluhan dari pasien.


Rasional : Sebagai pengawasan terhadap adanya perubahan

keadaan umum pasien.


b. Kaji pengetahuan pasien dan keluarga tentang cara

menurunkan suhu tubuh.


Rasional : sebagai data dasar untuk memberikan intervensi

selanjutnya.
c. Lakukan tirah baring total.
Rasional : penurunan aktivitas akan menurunkan laju

metabolisme yang tinggi pada fase akut sehingga

membantu penurunan suhu tubuh.


d. Atur lingkungan yang kondusif.
Rasional : kondisi ruangan yang tidak panas, tidak bising,

dan nyaman memberikan efektivitas terhadap proses

penyembuhan.
e. Beri kompres dingin pada daerah aksila, lipatan paha, dan

temporal bila terjadi panas.


Rasional : secara konduksi dan konveksi panas tubuh akan

berpindah dari tubuh ke material yang dingin.


f. Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang mudah

menyerap keringat seperti katun.


Rasional : pakaian yang mudah menyerap keringat sangat

efektif meningkatkan efek dari evaporasi.


g. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antipiretik.

Rasional : antipiretik bertujuan memblok respon panas

sehingga suhu tubuh pasien dapat lebih cepat menurun


20

2. Resiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh berhubungan kurangnya asupan makanan yang adekuat.


Tujuan : Dalam waktu 3x24 pasien akan mempertahankan

kebutuhan nutrisi yang adekuat


Kriteria hasil :
a. Membuat pilihan diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi

dalam situasi individu.


b. Menunjukkan peningkatan berat badan.
Intervensi :
a. Kaji pengetahuan pasien tentang asupan nutrisi.
Rasional : dengan mengetahui tingkat pengetahuan tersebut

perawat dapat lebih terarah dalam memberikan pendidikan

yang sesuai dengan pengetahuan pasien secara efisien dan

efektif.
b. Berikan nutrisi oral secepatnyasetelah rehidrai dilakukan.
Rasional : pemberian sejak awal setelah intervensi rehidrasi

dilakukan dengan memberikan makanan lunak yang

mengandung karbohidrat kompleks.


c. Monitor perkembangan berat badan.
Rasional : perkembangan berat badan dilakukan sebagai

evaluasi terhadap intervensi yang diberikan.

3. Nyeri berhubungan dengan iritasi saluran gastrointestinal.


Tujuan : Dalam 1x24 jam nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria hasil :
a. Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat

diadaptasi.
b. Skala nyeri 0-1 (0-4). Dapat mengidentifikasi aktivitas yang

meningkatkan atau menurunkan nyeri.


c. Pasien tidak gelisah.
Intervensi :
a. Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri

nonfarmakologi.
21

Rasional : pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan

nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan

dalam mengurangi nyeri.


b. Istirahatkan pasien saat nyeri muncul.
Rasional : istirahat fisiologis akan menurunkan kebutuhan

oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan

metabolisme basal.
c. Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam pada saat nyeri

muncul.
Rasional : meningkatkan asupan oksigen sehingga

menurunkan nyeri sekunder dan iskemia spina.

d. Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.


Rasional : distraksi (pengalihan perhatian) dapat

menurunkan stimulus internal.


4. Resiko kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan

penekanan setempat, tirah baring lama, kelemahan fisik umum.


Tujuan : dalam 3x24 jam resiko dekubitus tidak terjadi.
Kriteria hasil :
a. Pasien mampu melakukan pencegahan dekubitus.
b. Area yang beresiko tinggi penekanan setempat tidak terdapat
gejala dekubitus.
Intervensi :
a. Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang cara dan teknik

peningkatan kondisi mobilisasi.


Rasional : dengan mengetahui tingkat pengetahuan tersebut

perawat dapat lebih terarah dalam memberikan pendidikan

yang sesuai dengan pengetahuan pasien secara efisien dan

efektif.
b. Lakukan mobilisasi miring kiri-kanan tiap 2 jam.
Rasional : mencegah penekanan setempat yang berlanjut

pada nekrosis jaringan lunak.


c. Jaga kebersihan dan ganti sprei bila kotor atau basah.
22

Rasional : mencegah stimulus kerusakan pada area bokong

yang beresiko terjadi dekubitus.


d. Bantu pasien melakukan ROM dan perawatan diri sesuai

toleransi.
Rasional : untuk membawa fleksibilitas sendi sesuai

kemampuan dan meningkatkan aliran darah ke ekstrimitas.


e. Lakukan masase pada daerah yang menonjol yang baru

mengalami tekanan pada waktu berubah posisi.


Rasional : menghindari kerusakan-kerusakan kapiler-kapiler.
f. Observasi terhadap eritema dan kepucatan, serta palpasi area

sekitar terhadap kehangatan dan pelunakan jaringan tiap

mengubah posisi.
Rasional : hangat dan pelunakan adalah tanda kerusakan

jaringan.
5. Kecemasan berhubungan dengan prognosis penyakit,

miginterpretasi informasi.
Tujuan : Secara subjektif melaporkan rasa cemas

berkurang.
Kriteria hasil :
a. Pasien mampu mengungkapkan perasaannya kepada

perawat.
b. Pasien dapat mendemonstrasikan keterampilan pemecahan

masalahnya dan perubahan koping yang digunakan sesuai

situaasi yang dihadapi.


c. Pasien dapat rileks dan tidur dengan baik.

Intervensi :
a. Monitor respon fisik, seperti kelelahan, perubahan tanda

vital, gerakan yang berulang-ulang. Catat kesesuaian respon

verbal dan non verbal selama komunikasi.


Rasional : digunakan dalam mengevaluasi tingkat kesadaran

khususnya ketika melakukan komunikasi verbal.


23

b. Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengungkapkan dan

mengekspresikan rasa takutnya.


Rasional : dengan mengungkapkan rasa takut beban pasien

bisa berkurang dan memudahkan dalam mencari solusi

bagaimana mengurangi ketakutannya.


c. Catat reaksi pasien dan keluarga. Berikan kesempatan untuk

mendiskusikan perasaannya.
Rasional : anggota keluarga dengan responnya pada apa

yang terjadi dari kecemasannya dapat disampaikan kepada

pasien.
d. Anjurkan aktivitas pengalihaan perhatian sesuai kemampuan

individu.
Rasional : meningkatkan distraksi dari pikiran pasien dengan

kondisi sakit.
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidakadekuatan

informasi penatalaksanaan perawatan dan pengobatan.


Tujuan : Dalam 1x24 pasien mampu melaksanakan apa yang

diinformasikan.
Kriteria hasil :
a. Pasien mampu mengulang kembali informasi penting yang

diberikan.
b. Pasien terlihat termotivasi terhadap informasi yang

dijelaskan.
Intervensi :
a. Kaji kemampuan pasien untuk mengikuti pembelajaran

tingkat kecemasan, kelelahan umum, pengetahuan pasien

sebelumnya, suasana yang tepat.


Rasional : keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi

oleh kesiapan fisik, emosional, dan lingkungan yang

kondusif.
b. Jelaskan pola hidup sehat.
24

Rasional : dengan menjelaskan pola hidup sehat pasien akan

mulai tergerak untuk melakukan pola hidup sehat agar

terjadinya penyakit-penyakit seperti typhoid dapat dicegah.


(Arif Muttaqin, 2011)
2.2.4 Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang

dilakukan oleh perawat untuk membantu pasien dari masalah status

kesehatan yang dihadapi untuk menjadi lebih baik yang

menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. Fokus utama dari

pelaksanaan keperawatan adalah pemberian asuhan keperawatan yang

aman dan individual dengan pendekatan multifokal. Pelaksanaan

perencanaan berupa penyelesaian tindakan yang diperlukan untuk

memenuhi kriteria hasil seperti yang digambarkan dalam rencana

tindakan. Tindakan dapat dilaksanakan oleh perawat, pasien, anggota

keluarga, anggota tim kesehatan lain atau kombinasi dari yang telah

disebutkan (Deden, 2012).


2.2.5 Evaluasi Keperawatan
Merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan analisis status

pasien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan yang direncanakan

pada tahap perencanaan. Di samping itu, evaluasi juga sebagai alat

ukur suatu tujuan yang mempunyai kriteria tertentu yang

membuktikan apakah tujuan tercapai, tidak tercapai, atau tercapai

sebagian.
a. Tujuan tercapai
Tujuan ini dikatakn tercapai apabila klien telah

menunjukkan perubahan dan kemajuan yang sesuai dengan

kriteria yang telah ditetapkan.


b. Tujuan tercapai sebagian
25

Tujuan ini dikatakan tercapai sebagian apabila tujuan

tidak tercapai secara keseluruhan sehingga masih perlu dicari

berbagai masalah atau penyebabnya.


c. Tujuan tidak tercapai
Dikatakan tidak tercapai apabila tidak menunjukkan

adanya perubahan ke arah kemajuan sebagaimana kriteria yang

diharapkan
(Aziz. Alimul, 2006).

Berikut ini adalah evaluasi keperawatan pada pasien

penderita typhoid menurut Arif Muttaqin (2011) :

1. Terjadi penurunan suhu tubuh.


2. Asupan nutrisi adekuat.
3. Penurunan tingkat nyeri atau nyeri teradaptasi.
4. Tidak terjadi kerusakan integritas jaringan dekubitus.
5. Penurunan tingkat kecemasan.
6. Terpenuhinya informasi kesehatan.