Anda di halaman 1dari 29

A.

Maksud dan Tujuan


Maksud dilaksanakan praktikum ini yakni untuk melakukan identifikasi partikel penyusun
sedimen terutama sedimen silisiklastik yang berukuran butir pasir. Sedangkan tujuannya yakni
untuk mengetahui proses-proses geologi yang berperanan terhadap pembentukan serta
pengendapan sedimen berdasarkan komposisi penyusun partikel sedimennya.

B. Dasar Teori

Tucker (1991) membagi sedimen atau batuan sedimen menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama
adalah sedimen silisiklastik atau terrigeneus atau epiklastik yaitu merupakan sedimen yang
tersusun atas fragmen-fragmen dari batuan yang telah ada sebelumnya dimana fragmen-
fragmen tersebut tertransport dan terendapkan melalui proses firik atau mekanik. Contoh batuan
kelompok ini adalah mudrock, breksi, dan batupasir. Kelompok yang kedua adalah sedimen
atau batuan sedimen hasil kegiatan biogenik-biokimia-organik. Contoh batuannya adalah
batugamping, batubara, dan chert. Kelompok ketiga yakni adalah sedimen hasil proses kimiawi,
contoh batuan kelompok ini adalah batu garam, gips, serta anhidrit. Kelompok yang terakhir
adalah sedimen volkaniklastik. Kelompok ini terbentuk oleh fragmen-fragmen batuan hasil
aktivitas vulkanik.
Komposisi partikel sedimen tergantung oleh proses sedimentasi (erosi batuan asal, transportasi,
dan deposisi). Komposisi partikel sedimen dapat dimanfaatkan untuk menentukan :

- Nama sedimen atau batuan sedimen


- Mekanisme proses pembentukan serta pengendapannya
- Lingkungan pengendapan

- Asal sumber batuan (provenance)


- Iklim pada saat sedimen terbentuk

Khusus-untuk
Aplikasi
jenis untuk
batuankeperluan
sedimen ekonomis
silisiklastik, partikel rombakan (detrital) yang umum dapat
berupa fragmen batuan, kuarsa, feldspar, mika dan lempung, mineral berat, atau partikel lainnya
seperti partikel karbonat, fosfat, atau fosil. Mineral ringan seperti kuarsa, dan feldspar umumnya
akan tertransportasi secara saltasi karena berat jenisnya yang relatif rendah. Sementara
pengangkutan mineral berat umumnya mekanisme yang dominan adala bed load karena
berat jenisnya yang relatif lebih besar sehingga dibandingkan dengan mineral ringan, mineral
berat ini mengalami lebih banyak tumbukan baik itu merupakan tumbukan dengan batuan
dasar atau
dengan mineral lainnya, sehingga mengakibatkan terjadinya pengurangan ukuran butir
ataupun
morfologinya akan lebih banyak mengalami pengikisan. Jika batuan sumber berada jauh dari
lokasi pengendapan otomatis abrasi berjalan efektif sehingga ukuran butirnya mengalami
perubahan.

Berikut ini adalah jenis partikel rombakan dalam sedimen silisiklastik berdasarkan Tucker (1991)

Jenis Partikel Keterangan


Fragmen Batuan - Butir batuan sedimen & metasedimen
- Butir batuan sedimen silikaan

- Butir batuan beku atau metamorf


Kuarsa - Warna colorless, transparant sampai translucent, tidak ada
belahan dan prismatik
Feldspar
- Umumnya berupa potasium feldspar, ortoklas, dan mikroklin
Mika dan lempung
- Mineral memiliki ciri khusus berupa lembaran tipis bentuk

tabular 3
Mineral berat - Berat jenis lebih besar dari 2,9 gr/cm
- Dapat berupa mineral opak dan non opak
Partikel lainnya Dapat berupa : Fosil, Endapan fosfat, Material karbonat
Mineral berat merupakan mineral yang konsentrasinya kurang dari 1%, dimana
karena
konsentrasinya tersebut mineral ini juga dapat dikatakan sebagai mineral asesori. Mineral
berat memiliki berat jenis mineral yang lebih dari 2,9. Walaupun prosentasenya amat minim,
mineral berat sangat berpengaruh dalam interpretasi provenance, proses-proses transportasi,
pelapukan, korelasi, dan paleogeografi. Kenampakan fisik mineral kelompok ini
menggambarkan derajat abrasi yang dialaminya.

Kelompok mineral ringan mempunyai berat jenis yang kurang dari 2,9. Dimana yang termasuk
ke
dalam golongan mineral ringan antara lain adalah: fragmen batuan atau litik, kuarsa,
feldspar, mika dan lempung, serta partikel lainnya seperti fosil.

Menurut Folk (1968) mineral berat terbagi menjadi 3 kelas, yakni mineral opak, mineral
ultrastabil dan mineral metastabil.
Kelompok Mineral Ciri
Mineral
Mineral opak Ilmeni - Warna hitam besi coklat gelap, bentuk seperti
t lempeng-lempeng masif, kadang berupa
pasiran, pecahan konkoidal

Magneti
- Warna hitam besi, Belahan tidak ada, Bentuk
t
granular dan masif, Kilap metalik
Hemati
t - Warna abu-abu sampai hitam besi, Belahan
tidak ada, Terdapat sisik seperti mika atau

Piri mendaun
t
- Warna kuning perunggu, Bentuk granular,
Terdapat striasi antar bidang yang saling tegak
Mineral Zirco lurus
n
Ultrastabil
- Warna kuning jernih, hijau,biru, & coklat,
Bentuk prismatik dan granular, Kilap kaca

Turmalin sampai damar, Pecahan tidak rata sampai


konkoidal

- Warna kuning kecoklatan, Bentuk prismatik


memanjang, Striasi memanjang, Kilap kaca
Ruti sampai damar, Ketembusan cahaya translucent,
l
Pecahan tidak rata sampai konkoidal

- Warna coklat sampai coklat kemerahan, Bentuk


ramping, prismatik , dan masif, Striasi
Mineral Olivi
n memanjang, kilap submetalik sampai damar,
Metastabil
Pecahan tidak rata
Pirokse
n
- Warna hijau kekuningan, Bentuk granular,
Pecahan konkoidal, Kilap kaca
Garne
t - Warna hitam kehijauan/merah kecoklatan,
granular, Belahan tidak ada, Kilap kaca sampai
Bentuk prismatik, Belahan dua arah, Kilap
kaca, Pecahan tidak rata sampai sub konkoidal

- Warna kuning atau coklat madu, Bentuk


damar, Pecahan konkoidal
Apati - Warna putih jernih kadang kebiruan, Bentuk
t
prismatik granular dan ramping panjan,
Belahan satu arah, Kilap kaca sampai damar,
Pecahan subkonkoidal
Epido
t - Warna hijau kekuningan sampai hijau
kecoklatan atau kehitaman, Bentuk prismatik,
Belahan satu arah dan berserat, Kilap kaca
sampai lemak, Pecahan tidak rata sampai
konkoidal
Kyani
t - Warna putih kekuningan, Bentuk tabular
memanjang dan meniang, Belahan satu arah,
Kilap kaca sampai mutiara, Berserat, Pecahan
Silimani tidak rata
t
- Warna coklat, Bentuk ramping, Belahan satu
Andalusi
t arah, Pecahan tidak rata
ada, Kilap kaca, Pecahan tidak rata
- Warna merah, Bentuk prismatik, Belahan tidak

Gambar 1 : Contoh kenampakan beberapa butir mineral berat (Tucker, 1991).


Kelimpahan masing-masing jenis partikel sedimen ini juga bergantung pada :

Ketersediaan jenis partikel tersebut pada batuan atau daerah asalnya


Durabilitas mekanik partikel

Stabilitas kimiawi partikel


Iklim

Relief daerah asal partikel


Proses sedimentasi

Untuk membandingkan prosentase mineral berat dan ringan dibutuhkan suatu nilai prosentase
yang terkoreksi. Pengoreksian ini menggunakan faktor simpangan baku. Untuk itu, Van der Plas
dan Tobi (1965) membuat suatu diagram yang dapat digunakan untuk menetukan nilai simpangan
baku pada mineral berat dan ringan.

(Sumber: Surjono, Sugeng Sapto dkk., 2010)


Gambar 2 . Van der Plas Chart

Selain itu, analisis provenance dari sedimen yang terendapkan pada daerah pengambilan
sampel beserta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses deposisi sedimen dapat dijelaskan dengan
menggunakan diagram triangular di bawah ini:
(Sumber: Surjono, Sugeng Sapto dkk., 2010)
Gambar 3. (a). Komposisi asal batuan beku plutonik dan metamorf yang terbentuk dibawah
pengaruh iklim berbeda . (b) Komposisi Pasir Berdasarkan Kerangka Tektonik Tertentu (TE:
trailing edge, SS: strike slip, CA: continental margin arc, BA: back island arc, FA: fore arc
island arc; Q: kuarsa, F: Feldspar, L: litik)

(Sumber: Surjono, Sugeng Sapto dkk., 2010)


Gambar 4. Diagram triangular yang memperlihatkan komposisi pasir
dan beberapa daerah provenance (Dickinson, 1985 dalam Tucker, 1991)
Tabel Hubungan Antara Provenance, Tatanan tektonik, dan Tipe Pasir yang Dihasilkan

(Sumber: Surjono, Sugeng Sapto dkk., 2010)


C. Alat dan Bahan

Alat
Peralatan yang digunakan pada acara kali ini antara lain:
1. Gelas kimia 10. Masker
2. Pengaduk 11. Sarung tangan
3. Kertas saring 12. Tisu
4. Mikroskop binokuler
13. Borang komposisi butir sedimen
5. Jarum pentul
14. Kamera
6. Plate
7. Plastik sampel 15. Alat tulis
8. OHP marker 16. Kalkulator
9. HVS
17. Buku panduan praktikum
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada acara kali ini
adalah:
1. Sampel sedimen pasir mesh 60
2. Larutan bromoform

3. Larutan Alkohol 70 %
4. Air
D. Cara Kerja

Tuangkan larutan
Siapkan alat dan bahan Timbang sampel pasir tiap bromoform kedalam gelas
yang akan digunakan dalam LPsetelah itu masukan ke ukur yang telah ada sampel
pengmatan dalam gelas ukur pasir yang telah ditimabang

Mineral yang terapung


Aduk larutan dan tunggu merupakan mineral ringan, Buat kertas saring menjadi
hingga mineral berat dan ambil menggunakan spatula corong dan letakan diatas
mineral ringan terpisah atau sendok kecil dan taruh gelas ukur baru
pada kertas saringan

Kemudian mineral ringan


Sisa larutan yang berisi dan berat dibersihkan
mineral berat dituang diatas Keringkan sampel pada
menggunakan alkohol dan oven yang telah disediakan
corong akuades

Amati mineral pada


mikroskop, dengan 10 Catat hasil pengamatan
medan pandang yang pada tabel yang telah
berbeda disediakan
E. Tabel Data, Histogram dan Foto
a. Lokasi Pengmatan 1

No. Medan Mineral Berat STA 12 LP 1


Jumlah
Hematit Ilmenit Pirit
Pandang
1 Magnetit
13 5 7 0 25
2 4 14 3 4 25
3 3 15 0 7 25
4 11 20 0 4 35
5 1 21 0 3 25
6 0 22 0 13 35
7 1 18 0 6 25
8 2 6 0 7 15
9 2 18 0 5 25
18 0 5 25
10 2 157 10 54
Jumlah
Tabel Frekuensi Mineral Berat260STA
39 12 LP 2
No. Mineral Frekuen % Simpangan %+Simpangan
Berat 1 si 39 1 Baku 4,5 Baku 19,5
Magnetit 157 5 6 66,38461538
10 2 5,846153846
2 54 60,38461
54 5 25,76923077
Hematit 3 3,846153
Ilmenit 4 85
Pirit 20,76923
08
5
6
7 26 10
8 0 0
9
1
% Simpangan Baku

0 Histogram %+Simpangan Baku Mineral


Berat STA 12 LP 1
Jumlah 65,88461
7
0 538
6
0
5 25,26923
0 077
4 5,846153
0 846
30 Hemat Ilmen Piri
it Miner it t
al
19,5 20

1
0
0

Magnet
it
No. Mineral Ringan STA 12 LP 1
Medan
Pandang Jumlah
Kuarsa Ortoklas Litik Plagioklas
1 13 5 2 5
25 2 18 2 5 0
25 3 3 4 9 8
24 4 13 4 6 2
25 5 7 7 7 4
25 6 11 7 6 2
26 7 13 5 4 3
25 8 18 7 4 4
33 9 10 7 5 3
25 10 9 4 9 3
25

Jumlah 115
Mineral 52 57 34
Simpang % 258
No Frekuen
Tabel Frekuensi %
Mineral Ringan STA +Simpanga
12 LP 1
Ringan an Baku
. si
1 Kursa 11 44,57364 6,5 n Baku
2 Ortoklas 5 34 5,5 51,073643
3 Litik 52 20,15503 5,5 41
4 Plagiokl 57 88 4,5 25,655038
5 as 34 22,09302 76
6 33 27,593023
7 13,17829 26
8 46 17,678294
9 57
1
0
Jumlah 258
100
Histogram %+Simpangan Baku Mineral
% Simpangan Baku

60 Ringan STA 12 LP 1

5 51,073643
0 41
4
0
30 27,59302
326
2 17,67829
25,65503876
0 457
1
0
0

Kursa Ortoklas Litik


Miner
Plagioklas
al
b. Lokasi Pengamatan 2

No. Mineral Berat STA 12 LP 2


Medan
Pandang Hematit Jumlah
Magnetit
1 3 22 25
2 0 25 25
3 15 25
4 10 16 25
5 9 18 25
6 7 21 25
7 4 17 25
8 8 21 25
9 4 21 25
10 4 17 25
8
Jumlah 193 250
Tabel Frekuensi
57 Mineral Berat STA 12 LP 2
Mineral Simpangan %+Simpangan
No. Berat Frekuensi % Baku Baku
1 Hematit 57 28,3
22,8 5,5
2 Magnetit
193 82,7
3 5,5
77,2
4
5
6
7
8

10 Jumlah 250 100


% SIimpangan Baku

Histogram %+Simpangan Baku


Mineral Berat STA 12 LP 2
100
82,7
80
6
0
40

2
28,3
0
0
Magnet
Hemat it
it Mineral Berat
No. Mineral Ringan STA 12 LP 2
Medan
Pandang Jumlah
Kuarsa Ortoklas Litik Plagioklas Biotit
1 9 10 6 0 0
25 2 7 11 7 0 0
25 3 15 8 7 0 0
30 4 8 7 8 2 0
25 5 11 5 3 6 0
25 6 2 2 16 5 0
25 7 8 3 11 3 0
25 8 11 4 10 0 0
25 9 8 7 7 1 2
25 10 12 4 9 0 0
25

JumlahMineral91 61 84 17
Simpangan 2 %+Simpangan 255
No. Tabel Frekuensi %
Mineral Ringan STA
Ringan Baku12 LP 2 Baku
1 Kuarsa 91 35,68627 5,5 41,18627451
2 Ortoklas 61 23,92157 5,5 29,42156863
3 Litik 84 32,94118 5,5 38,44117647
4 Plagioklas 17 6,666667 4,5 11,16666667
5 Biotit 2 0,784314 1,5 2,284313725
6
7
8
10
Jumlah 255 100
% Simpangan Baku

Histogram %+Simpangan Baku Mineral


45 Ringan STA 12 LP 2
38,44117
647
41,18627451 29,42156
40 863
3
5 11,16666
3 667
0 2,284313
2 725
5
Ortokl Liti Plagiokl Bioti
2
as k Ringan
Mineral as t
0
1
5
1
0
5
0

Kuarsa
c. Lokasi Pengamatan 3

No. Mineral Berat STA 12 LP 3


Medan
Pandang Jumlah
Magnetit Hematit Rutile
1 Pirit
20 10 0 0
30 2 15 10 0 0
25 3 17 13 0 0
30 4 15 15 2 0
32 5 17 8 0 0
25 6 25 9 0 0
34 7 20 10 0 0
30 8 26 4 0 0
30 9 19 4 0 2
25 10 15 5 5 5
30

JumlahMineral 189 88 7Simpangan


7 %+Simpangan 291
No. Frekuensi
Tabel Frekuensi % Berat STA 12 LP 3
Mineral
Berat Baku Baku
1 Magnetit 189 64,948454 5,5 70,44845361
2 Hematit 88 30,24055 5,5 35,74054983
3 Rutile 7 2,4054983 2 4,405498282
4 Pirit 7 2,4054983 2 4,405498282
5
6
7
8
9
10
Jumlah 291 100
Histogram %+Simpangan Baku Mineral Berat
% Simpangan Baku

80 STA 12 LP 3

70,44845361
6 70
0
5
0
4 35,74054
0 983
3
0
2
0
1 4,405498 4,405498
0 282 282
0
Hemat Rutil Piri
Magnet it e t
Miner
it
al
No. Mineral Ringan STA 12 LP 3
Medan
Pandang Lithik
Ortoklas Kuarsa Plagioklas Jumlah
1 5 4 5 12 26
2 13 7 9 0 29
3 5 7 9 7 28
4 3 5 14 8 30
5 3 6 10 0 19
6 2 5 15 3 25
7 5 13 7 0 25
8 4 6 11 4 25
9 7 5 6 7 25
10 5 8 11 4
28

Jumlah 52 Frekuensi
Tabel 66 Mineral97Ringan 45 260
MineralSTA 12 LP 3 Simpang %
No Frekuen %
Ringan an Baku +Simpanga
. si
1 Ortoklas 5 20 4,5 n Baku
Kuarsa 2 25,3846 5,5 24,5
2 Lithik 6 15 5,5
Plagiokl 4,5 30,884615
6 37,3076
as 38
3 9 92
42,807692
7 17,3076
31
4 4 92
21,807692
5 31
Jumla 26 10
5 h 0 0

6
Histogram %+Simpangan Baku Mineral
7 Ringan STA 12 LP 3
% Simpangan Baku

4 42,80769
231
5
4 30,88461
0 538
24,
3 21,80769
5
5 231
3
0
2
5
2
Ortokl Kuars Lithi Plagiokl
0 as a k as
Miner
1 al
5
1
0
5

0
Foto Mineral Pada Tiap Lokasi Pengmatan

Lp 1 mineral ringan

Kuars Liti
a k

Plagiokl
as Ortokl
as

Lp 1 Mineral Berat

Hemat
it Magnetit

Pirit

Ilmenit

LP 2 (TENGAH) MINERAL RINGAN

Kuarsa
Ortokl
as
Biotit

Liti
k Plagioklas
LP 2 MINERAL BERAT

Magnet
it
Hemat
it

LP 3 MINERAL RINGAN

Plagiokl
as Kuarsa

Hornblen
de Ortoklas

LP 3 MINERAL BERAT

Piri
t
Hemat
it
Magnet
it
Rutil
e

F. Perhitungan Simpangan Baku


Mineral
Ringan
Misal mineral kuarsa pada LP 1:
% Frekuensi
kuarsa

Simpangan
baku
Dalam pengukuran simpangan baku digunakan Van der Plas chart,dimana:
p = presentasi tiap mineral
n = total mineral yang terhitung.

n = 258
p = 44,5

maka, simpangan baku = 6,5 %


Mineral Berat

Misal
%mineral Piroksen pada LP 1:
Frekuensi
hematit

Simpangan
baku
Dalam pengukuran simpangan baku digunakan Van der Plas chart,dimana :
p = presentasi tiap mineral
n = total mineral yang terhitung.

n = 260
p = 60,38
maka, simpangan baku = 6 %

G. Pembahasan Data

Berdasarkan data pengamatan yang telah dilakukan diketahui bahwa mineral ringan pada lokasi
ketiga lokasi pengamatan didominasi oleh mineral kuarsa, sementara untuk mineral
berat didominasi oleh mineral magnetit.

a. Lokasi Pengamatan 1

No. Mineral Frekuen %


Berat 1 si 39 1
Magnetit 157 5
10
2 54 60,38461
260 54
Hematit 3 3,846153
Ilmenit 4 85
Pirit 20,76923
No. Mineral Frekuen 08%100
Jumlah
Ringan 1 si 115 44,57364
Kursa 52 34
3 20,15503
2 Ortoklas 57 88
Litik
22,09302
33
4 34
Jumla 258
Plagioklas
h 13,1782946
100

Pada Lokasi Pengamatan 1, mineral ringan yang ditemukan adalah sebagai berikut :
kuarsa 115 butir, feldspar 86 butir dan litik 57 butir. Normalisasi terhadap QFL menghasilkan
persentase ketiga material sebagai berikut : kuarsa 44,57 %, feldspar 33,32 % dan litik 22,09 %. .
Mineral berat yang diperoleh sebagai berikut : Magnetit 39 butir, Hematit 157 butir, Ilmenit 10
butir dan Pirit 54 butir , persentase tiap mineral yakni sebagai berikut : Magnetit 15 %, Hematit
60,38 %, Ilmenit 3,84 %, Pirit 20,76 %. Mineral ringan pada Lokasi ini didominasi oleh Kuarsa
sedangkan mineral beratnya didominasi oleh Hematit.

b. Lokasi Pengamatan
2
No. Mineral Berat Frekuensi
1 % 57
22,8 193
Hematit 2 77,2

Magnetit 250

No. Mineral
Jumlah Frekuen100 %
Ringan 1 si 91 35,686
Kuarsa 61 27
84 23,921
2 17 57
2 32,941
Ortoklas 3
18
Litik 255 6,6666
4 67
0,7843
Pada Lokasi Pengamatan 2 diperoleh data mineral ringan sebagai14 berikut : kuarsa 91 butir,
Plagioklas 5
orthoklas 61 butir, litik 84 butir dan plagioklas 17 butir dan biotit 2 butir . Frekuensi dari tiap
Biotit
100
mineral yakni : Kuarsa 35,68 %, Ortoklas 23,92 %, Litik 32,94 %, Plagioklas 6,66 %, dan Biotit
Jumlah
0,78 % .Perhitungan persentase normalisasi terhadap kuarsa, feldspar dan litik (QFL), yaitu
kuarsa 35,96 %, feldspar 30,82% dan litik 33,20 %.

Pada Lokasi Pengamatan 2 didapatkan data mineral berat sebagai berikut : Hematit 57 butir dan
Magnetite 193 butir. Persentase frekuensi dari tiap mineral adalah Hematit 22,8 %, dan Magnetit
77,8 %.
Dominasi mineral pada lokasi ini terdapat pada Kuarsa untuk mineral ringan dan Magnetit untuk
mineral berat.

c. Lokasi Pengamatan 3

No Mineral Frekuen %
.1 Berat si 189 64,9484
2 Magnetit 88 54
3 Hematit 7 30,2405
4 Rutile 7 5
Pirit 2,40549
291 83
Jumlah 2,40549
83 100
Minera
No Frekuen %
l
. si
1 Ringan 5 20
Ortokl 2 25,3846
2 as 6 15
Kuarsa 6 37,3076
3 Lithik 9 92
Plagiokl 7 17,3076
4
Lokasi Pengamatan 3 diketahui jumlahas 4 92 52 butir , Lithik 97
Kuarsa adalah 66 butir, Ortoklas
5
butir, dan Plagioklas 45 butir . Frekuensi mineral yang didapat yakni100
Kuarsa 25,38 %, Orthoklas
Jumlah
20 %, Lithik 37,30 %, Plagioklas 17,30 %. 26
0

Perhitungan normalisasi terhadap QFL didapatkan persentase Kuarsa yaitu 25,38 %, Feldspar
37,3 % dan Hornblende 37,30 %.
Data mineral berat pada lokasi ini adalah : Magnetit 189 butir, Hematit 88 butir , rutile 7 butir
dan pirit 7 butir . Frekensi dari tiap mineral adalah Magnetit 64,94 %, Hematit 30,24 %, Rutile
2,40 %, Pirit 2,40 %.

Dominasi Mineral pada daerah ini adalah : Mineral ringan ( Partikel Lain ) yakni Lithik,
dan mineral berat didominasi oleh Magnetit.
PERBANDINGAN FREKUENSI MINERAL
RINGAN TIAP LOKASI PENGAMATAN
14
0
Frekuensi 12
0
LP
10
1
0 LP
2
80 LP
60 3

40 Lithik Plagioklas
20 Mineral Biotit
Ringan
0

Kuarsa
PERBANDINGAN FREKUENSI
MINERAL
Orthoklas BERAT TIAP LOKASI
25 PENGAMATAN
0
20
Frekuensi

0
150

LP
1 100
LP
50 LP
23
0
Hematit Ilmenit Pirit
Magnet Rutil
it
Mineral
Berat

H. Intrepetasi Data
i. Penamaan Sedimen

Berdasarkan klasifikasi dari Pettijohn (1977), sedimen pada setiap lokasi pengamatan dapat
ditentukan namanya jika telah mealami pembatuan. Penamaan ini didasarkan atas perbandingan
Q (kuarsa), F (feldspar), serta L (litik) yang ada dalam sedimen pasir, berikut data sampelnya:

LP 1 LP 2 LP 3
Q : 44,57 % Q : 35,96 % Q : 25,38 %
F : 33,32 % F : 30,82 % F : 37,30 %
L : 22,09 % L : 33,20 % L : 37,30 %
: LP
1
: LP
2
: LP
3

(Sumber: www.geolmag.geoscienceworld.org)
Gambar 11. Klasifikasi Jenis Batuan Sedimen Pasir Pettijohn (1977)
Dari hasil pengeplottan komposisi Q, L, F pada gambar diatas dapat disimpullkan
bahwa apabila material sedimen pasir pada STA 12 mengalami pembatuan nama
batuan sedimen yang terbentuk adalah lithic arenite.

ii. Provenance Mineral Berat

Tabel Asosiasi mineral berat dan provenansnya menurut Mc. Lane 1995

Provenance Heavy Mineral


Suite
Sedimentar Rounded zircon, tourmaline, rutile,
y
sphene,
magnetite
Low-grade Andalusite, staurolite, chondrodite,
metamorphic,
contact corundum, topaz,
metamorphic tourmaline,
vesuvianite, zoicite, wollastonite,
chlorite,
muscovite
.
Higher-grade Garnet, epidot, zoicite, staurolite, kyanite,
metamorphic,
Dynamothermal sillimanite, andalusite, magnetite,
metamorphic sphene,
zircon, biotite

Acid igneous Monazite, sphene, zircon, tourmaline,


rutile,
magnetite, apatite,
muscovite
Basic igneous Ilmenite, magnetite, anatase, brookite,

diopside, rutile, chromite, olivine

Pegmatitic Tourmaline, beryl, topaz, monazite,

cassiterite,
muscovite

Dari tabel tersebut dapat diinterpretasikan bahwa provenance yang paling mendekati dari STA 12
yaitu batuan beku, diketahui bahwa provenance butiran sedimen yang terdapat pada lokasi
pengamatan berasal dari batuan beku intermediet-basa dengan ditemukannya mineral
berat berupa, magnetit, rutil, pirit dan hematit

o Jarak transportasi
Jarak transportasi sedimen pada STA 12 sudah jauh dari sumber. Hal ini
dikarenakan kandungan mineral-mineral yang didominasi oleh mineral-mineral
resisten seperti mineral kuarsa dan fragmen batuan.

iii. Setting Tektonik


LP 1

Tatanan tektonik untuk LP 1 berdasarkan perbandingan Q, F, dan L dapat dilihat pada gambar :
Q : 44,57 %

F : 33,32 %
L : 22,09 %
(Sumber: Surjono, Sugeng Sapto dkk., 2010)
Berdasarkan gambar tersebut, maka kerangka tektonik lokasi pengambilan sampel
pertama tergolong didalam kerangka tektonik Strike Slip, yang menunjukjan adanya struktur
geologi yang berperan berupa sesar, namun dari hasil pengamatan yang dilakukan dilapangan
tidak dijumpai adnya kenampakan sesar, nilai yang bebeda ini kemungkinan didasarkan dari
salahnya perhitungan jumlah sampel QFL pada pengmatan.

LP 2
Tatanan tektonik untuk LP kedua ini berdasarkan perbandingan Q, F, dan L dapat dilihat pada
gambar :
Q : 35,96 %
F : 30,82 %

L : 33,20 %

(Sumber: Surjono, Sugeng Sapto dkk., 2010)


Berdasarkan gambar tersebut, maka kerangka tektonik lokasi pengambilan sampel pertama
tergolong didalam kerangka tektonik Back-Isands arc, hal ini sesuai dengan adanya kandungan
lithic dan kuarsa yang berliah , hal ini sesuai dengan konsep back-islands arc yang dipengaruhi
dari sedikitnya pengaruh aktivitas vokanik dikarenakan telah jauh dari sumber volkanik serta
letaknya yang berada pada punggungan busur kepulauan.

LP 3
Tatanan tektonik untuk LP kedua ini berdasarkan perbandingan Q, F, dan L dapat dilihat pada
gambar :

Q : 25,38 %

F : 37,30 %

L : 37,30 %
Berdasarkan gambar tersebut, maka kerangka tektonik lokasi pengambilan sampel pertama
tergolong didalam kerangka tektonik Back-Isands arc, hal ini sesuai dengan adanya kandungan
lithic dan kuarsa yang berliah , hal ini sesuai dengan konsep back-islands arc yang dipengaruhi
dari sedikitnya pengaruh aktivitas vokanik dikarenakan telah jauh dari sumber volkanik serta
letaknya yang berada pada punggungan busur kepulauan.

Berdasarkan data setting tektonik yang didapat maka daerah pengambilan sampel umumnya
dipengaruhi oleh setting tektonik berupa Back-Islands arc .

iv. Iklim
LP 1 : Q = 44,57 F = 33,32 %, L =22,09
%, LP 2 : Q = % F = 30,82 %, L
35,96 %, =33,20 %

LP 3 : Q = 25,38 F = 37,30 %, L =37,30


%, %

Berdasarkan data iklim yang ditemukan dari pengamatn , yaitu iklim humid atau
lembab, maka endapan pasir pada STA 12 dapat diinterpretasikan terbentuk pada lingkungan
yang lembab dimana proses pelapukan serta perubahan mineral menjadi mineral lain sangat
intensif terjadi. Sehingga batuan vulkanik hasil erupsi gunung Merapi yang terendapkan akan
segera terkena proses wathering (pelapukan) baik secara fisika maupun secara kimia. Hal ini
berarti daerah pengambilan sampel berada di daerah dengan intensitas dan curah hujan
tinggi, sehingga menyebabkan kondisi lingkungan humid. Akibat intensitas dan curah hujan
yang tinggi ini, menyebabkan pelapukan kimia yang relatif tinggi, sehingga menyebabkan
persentase mineral ringan didominasi oleh mineral kuarsa yang relatif resisten terhadap
pelapukan.

v. Kondisi Provenance
LP 1 : Q = 44,57 F = 33,32 %, L =22,09
%, %
LP 2 : Q = 35,96 F = 30,82 %, L =33,20
%, %
LP 3 : Q = 25,38 %, F = 37,30 %, L
=37,30 %

Dari pengeplotan komposisi kuarsa, feldspar, dan litik dari tiap-tiap lokasi pengamatan
menunjukkan bahwa sedimen pada ketiga LP maka dapat digolongkan dalam daerah dissected-
arc. Dissected-arc adalah suatu provenance sebagai hasil material gunung api yang berderet pada
suatu busur kepulauan yang masih aktif dan juga berasal dari gunung api yang tererosi pada
batass kontinen (Tucker, 1991). Dissected arc memiliki ciri sumber yang berasal dari magmatic
arc yang matang terutama dari continental margin dan campuran, terdeposisi pada daerah
forearc,back arc, dan trench. Komposisi di dominasi oleh feldspar, fragmen litik jenis
vulkanoklastik, dan kuarsa plutonik mungkin ada. Aktifitas vulkanik berlangsung pada busur
magmatik yang matang, dan sumber sedimenberasal dari vulkanik cover dan batolith (volcano
plutonic).

vi. Relief
Ditinjau dari daerah pengambilan sampel yang berada di daerah hilir Sungai progo serta
komposisi mineral penyusun sedimen pasir pada lokasi pengambilan sampel yang didominasi
oleh partikel lain yaitu fragmen batuan/litik, maka disimpulkan bahwa relief asal partikel sedimen
pasir pada Sungai progo berada pada relief tinggi yakni kemungkinan berasal dari lereng gunung
Merapi dan ditransportasikan kedaerah ini .

I. Kesimpulan
Komposisi mineral berat yang paling dominan adalah magnetit.
Komposisi mineral ringan/partikel lain yang paling dominan adalah
kuarsa.
Jika sampel terlitifikasi atau mengalami proses pembatuan, maka akan terbentuk
lithic
arenite.
Provenance berasal dari dissected-arc zone yang dipengaruhi oleh erosi dari
gunung berapi .

Setting Tektonik yang mempengaruhi daerah pengamatan berupa back-islands arc.


Provenance dari STA 12 berdasarkan analisa mineral berat adalah basic igneous rock.
Provenance dipengaruhi oleh kondisi iklim Indonesia yang lembab.

Daerah sumber material sedimen memiliki relief yang tinggi.


Jarak transportasi sedimen telah jauh dari sumber.
DAFTAR PUSTAKA

Boggs, Sam Jr., 2006, Principles of Sedimentology and Stratigraphy 4th ed., Pearson Education,
Inc., New Jersey.
Surjono, Sugeng Sapto, 2010, Analisis Sedimentologi, Pustaka Geo, Yogyakarta.
Tucker, Maurice E., 1991, Sedimentary Perology: An Introduction to The Origin of Sedimentary
Rocks, Blacwell Scientific Publications, Oxford.

Dickinson, William R, Christopher A. Suczek. 1979. Plate Tectonics and


Sandstone
Composition. The American Association of Petroleum Geologist Bulletin Vol.63.
LAMPIRAN