Anda di halaman 1dari 11

Ultrasonografi Berbagai Penyakit Tiroid pada Anak dan Remaja :

Sebuah Esai Bergambar


Hyun Sook Hong, MD, Eun Hye Lee, MD, Sun Hye Jeong, MD, Jisang Park, MD, Heon Lee, MD

Pencitraan tiroid diindikasikan untuk mengevaluasi hipotiroidisme kongenital dalam


kasus massa tiroid teraba pada anak-anak dan remaja. Esai bergambar ini meninjau
ultrasonografi penyakit tiroid pada anak-anak dan remaja, termasuk perkembangan kelenjar
tiroid normal, gambaran gangguan kongenital tiroid (disgenesis, [aplasia, ektopi, hipoplasia],
dishormonogenesis, transien hipotiroidisme, kista duktus tiroglosus), penyakit tiroid difus
(Graves disease, tiroiditis Hashimoto, dan tiroiditis supuratif), dan nodul tiroid. Modalitas
pencitraan utama untuk mengevaluasi penyakit tiroid adalah ultrasonografi dan scintigraphy
radionuklida. Selain itu, ultrasonografi dapat digunakan untuk memandu aspirasi nodul.

A. Pendahuluan
Pencitraan berperan penting dalam mengevaluasi penyakit tiroid pada pasien anak.
Skintigrafi dan ultrasonografi adalah modalitas utama yang digunakan untuk skrining
dan evaluasi kongenital hipotiroidisme 1-4. Ultrasonografi dan skintigrafi saling
melengkapi, ultrasonografi memberikan informasi anatomi dan skintigrafi memberikan
informasi fungsional. Pada pasien anak, ultrasonografi digunakan sebagai tes diagnostik
lini pertama untuk mendeteksi kelainan tiroid dan limfadenopati. Selain itu,
ultrasonografi dapat digunakan untuk memandu aspirasi nodul terdeteksi.

B. Perkembangan Kelenjar Tiroid Normal

Kelenjar tiroid berkembang dari median dan sepasang embrio lateral. Sel folikel tiroid
berasal dari embrio tiroid median, sebuah penebalan endodermal antara lengkungan
faring pertama dan kedua selama usia kehamilan minggu keempat sampai kelima.
Penebalan secara cepat membentuk kantong kecil disebut sebagai primordial tiroid ( 5, 6).
Struktur ini memanjang ke dalam divertikulum dua lobus dan turun ke arah bawah
dengan tetap mempertahankan hubungan dengan primordial aorta. Saluran kecil yang
merupakan duktus tiroglosus, sementara bermanifestasi sebagai penghubung antara lidah
dan migrasi bagian bawah dari primordial tiroid. Primordial tiroid berjalan anterior ke
primordial tulang hyoid dan kartilago laring, kemudian mengeliling inferior dan
posterior pada tulang hyoid sebelum turun ke bagian infrahyoid leher (5,6). Pada minggu
ketujuh, kelenjar mencapai posisi akhir, yaitu pada anterior terhadap cincin trakea ke dua
dan tiga (Gambar. 1). Hambatan penurunan dapat terjadi di mana saja dari lidah sampai
ke leher bagian bawah. Duktus tiroglosus biasanya berdegenerasi dan menghilang pada
minggu 7. Pada proksimal duktus tiroglosus tetap ada celah kecil yaitu, foramen sekum.
Sel parafolikular berasal dari embrio tiroid lateral, juga dikenal sebagai badan
ultimobranchial, yang timbul di lateral kantong faring keempat dan kelima saat minggu
kehamilan ke lima. Embrio lateral yang bergabung dengan produk dari embrio median
setelah turun ke bagian infrahyoid leher, mengakibatkan sel parafollicular diselingi
seluruh kelenjar tiroid (5, 6).
Gambar.1.Perkembangan tiroid normal.
A. Tiroid berkembang dari penebalan endodermal median di lantai faring primordial, antara lengkungan
faring pertama dan kedua. Penebalan yang cepat menyebabkan pembentukan kantong kecil yang disebut
dengan primordial tiroid. B. Primordial tiroid awalnya berongga tetapi secara cepat menjadi padat dan
terbagi menjadi lobus kanan dan kiri. C. Perkembangan kelenjar tiroid di leher. Kelenjar tiroid terhubung
dengan lidah melalui celah sempit (yaitu, duktus tiroglosus ). Pada minggu ketujuh itu mencapai bentuk
akhir dalam leher.

C. Hipotiroidisme Kongenital
1. Prevalensi dan penyebab
Hipotiroidisme kongenital adalah kelainan endokrin yang relatif umum yang
terjadi pada sekitar 1 dari 3981 kelahiran hidup di Korea (7) . Skrining neonatal dimulai
pada tahun 1985 di Korea. Sebagian besar kasus hipotiroidisme kongenital (75-80%)
disebabkan oleh cacat perkembangan yang dikenal sebagai disgenesis tiroid.
Dyshormonogenesis, merupakan hasil dari sintesis tiroksin (T4) yang rusak,
disebabkan oleh berbagai mutasi resesif autosomal (15-20%) (1,2,7). Disgenesis tiroid
biasanya sporadis dengan dominasi perempuan (1,2) dan terdapat berbagai
(1-4)
heterogenitas molekul . Di antara itu, gen tiroid-stimulating hormon reseptor
(TSHR) dan tiroid peroksidase (TPO) menjelaskan sebagian besar kasus mutasi-
positif disgenesis dan dyshormonogenesis(8,9). Skintigrafi mengungkapkan mutasi
TSHR pada pasien dengan penurunan penyerapan 99mTc-pertechnetate dan mutasi TPO
pada mereka dengan peningkatan pengambilan. Mutasi TPO diamati secara eksklusif
pada pasien dengan normal hingga pembesaran kelenjar tiroid. Kelainan ini
menyebabkan gondok hipotiroidisme kongenital. Hipotiroidisme akibat
dyshormonogenesis dapat menyebabkan transformasi neoplastik jika kadar TSH
tinggi dalam waktu lama akibat inappropiate pengobatan levothyroxine(4).

2. Diagnosis Imaging
Ultrasonografi dan skintigrafi dapat membedakan berbagai jenis
hipotiroidisme kongenital. Aplasia didefinisikan sebagai kegagalan untuk mendeteksi
jaringan tiroid pada ultrasonografi dan scintigraphy (Gbr. 2). Jika kelenjar tiroid tidak
terlihat dalam posisi normal, dilakukan usaha untuk menemukan tiroid ektopik
dengan memeriksa jalur migrasi tiroid sepanjang saluran tiroglosus(1,2). Tiroid ektopik
dapat ditemukan di mana saja sepanjang jalur migrasi primordial tiroid (Gambar 3.);
Namun, di sebagian besar kasus (90%), tiroid ektopik terletak di dasar lidah (6).
Lingual tiroid adalah satu-satunya jaringan tiroid yang berfungsi di sekitar
75% pasien. Ada berbagai macam gambaran tiroid pada usg, tetapi pada umumnya
tiroid terletak dekat dengan tulang hyoid. Kelenjar ektopik muncul sebagai daerah
bulat atau oval di garis tengah leher bagian atas pada scintigraphy (Gambar. 3B).
Skintigrafi lebih sensitif dari USG untuk mendeteksi tiroid ektopik. Kelenjar tiroid
muncul normal pada USG pada pasien dengan hipoplasia; Namun, pada skintigrafi
ditemukan penurunan serapan isotop. Transien hipotiroidisme kongenital didiagnosis
dengan fungsi tiroid normal, studi thyrotropin-releasing hormone, dan skintigrafi
dilakukan selama terapi trial-off. Terapi trial-off dilakukan pada usia 1-3 tahun untuk
semua anak yang diduga hipotiroidisme kongenital, kecuali orang-orang dengan
aplasia, untuk menentukan apakah pengobatan tetap diperlukan (Gambar. 4).
Persentase kasus hipotiroidisme kongenital sementara diperkirakan 13-38% di
Amerika Serikat(10-12). Hemiaplasia tiroid umumnya ditemukan secara kebetulan (Gbr.
5), dan fungsi tiroid pada anak-anak dengan hemiaplasia tiroid dapat menurun selama
masa pubertas dimana kebutuhan untuk hormon tiroid lebih tinggi.
Dyshormonogenesis melibatkan kelainan bawaan dalam sintesis tiroksin (1,2).
Kelainan yang paling umum adalah kekurangan TPO, yang menghasilkan kegagalan
untuk mengoksidasi iodida menjadi iodin. Iodida menjadi terjebak dalam kelenjar
tiroid dan tidak dapat organified. Pada USG ditemukan tiroid membesar dan
orthotropic sebagai akibat dari peningkatan level TSH, dan lobus menjadi cembung
ke arah lateral (1-4). Isthmus mudah divisualisasikan berbeda dengan kelenjar normal.
Skintigrafi mengungkapkan kelenjar membesar di lokasi normal dengan peningkatan
penyerapan isotop (Gbr. 6). Ukuran kelenjar tiroid pada anak bervariasi tergantung
usia dan berkorelasi dengan tinggi badan, berat badan, luas permukaan tubuh, dan
usia (13-17). Pembesaran kelenjar tiroid dapat secara visual dinilai dengan permukaan
anterior yang cembung bukannya cekung normal, peningkatan ketebalan isthmus,
atau penyempitan trakea.
Jebakan yang paling umum dari pemindaian isotop adalah kurangnya serapan
meskipun gambaran jaringan tiroid mengarah ke diagnosis palsu dari aplasia.
Fenomena ini dapat terjadi karena beberapa alasan: ketika scan tertunda hingga 4-5
hari pengobatan T4; dengan demikian, penekanan TSH telah terjadi pada saat scan
dilakukan; dari paparan yodium; dari blokir antibodi TSHR menyebabkan
hipotiroidisme transien, dan jarang, kelainan mempengaruhi serapan iodida;
misalnya, mutasi gen symporter natrium-iodida. Diagnosis palsu tidak akan ada jika
dilakukan USG secara bersamaan (1,2). Chang et al.(3) melaporkan bahwa 14% dari
pasien anak dengan hipotiroidisme kongenital yang tidak memiliki uptake selama
scintigraphy memiliki kelenjar tiroid di lokasi yang sesuai pada USG. Mendeteksi
kelenjar tiroid dalam posisi normal memberikan kekuatan diagnostik yang lebih
besar untuk mengidentifikasi etiologi, memutuskan kapan pengobatan harus
dihentikan, dan menentukan prognosis.

Gambar. 2. Thyroid aplasia pada anak laki-laki usia 29 hari.


Thyroid stimulating hormon level > 95 U / mL (kisaran normal, 0,25-4,0 U / mL). A. Transverse
ultrasonografi mengungkapkan hyperechogenic struktur (panah) di kedua sisi trakea pada daerah
tiroid kosong, menandakan sisa-sisa tubuh ultimobranchial. Lihat Gambar 4A untuk gambaran USG
kelenjar tiroid normal. B. Gambaran anteroposterior Tc-99m mengkonfirmasi tidak adanya aktivitas
tiroid terdeteksi, dengan hanya background jaringan lunak dan kelenjar salivary yang terlihat.

Gambar.3. Kelenjar tiroid ektopik pada anak laki-laki usia 29 hari.


Thyroid stimulating hormon level = 40,66 U / mL. A. massa padat nodular (panah), mirip dengan
echogenicity tiroid normal, tampak pada otot anterior setinggi laring (panah, cricoarytenoid joint)
pada transversal scan. B. Gambar dari Tc-99m scan menunjukkan uptake isotop di leher bagian atas
dengan tidak ada serapan di kelenjar tiroid normal.

Gambar. 4. Hipotiroidisme transien pada anak laki-laki usia 1 bulan lahir pada 36 minggu dan
berat 2440 g.
Pada skrining neonatal ditemukan level tiroid stimulating hormone (TSH) (27,65 U / mL) dan kadar
tiroksin bebas (T4) (1,76 ng / dL; kisaran normal, 0,70-2,0 ng / dL) meningingkat. A. Transverse
ultrasonografi scan menunjukkan kelenjar tiroid normal. B. Skintigrafi dilakukan pada hari yang sama
tidak menunjukkan aktivitas tiroid. C. Follow-up scintigraphy pada 1 tahun menunjukkan uptake tiroid
normal. TSH dan tingkat T4 bebas normal. Pengobatan levothyroxine dihentikan.

Gambar.5. Hemiagenesis pada pria 17 tahun kebetulan terdeteksi saat evaluasi pneumothorax.
Ultrasonografi melintang mengungkapkan tidak ada kelenjar tiroid kiri. Fungsi tiroid normal.

D. Kista Ductus Tiroglosus


Jika duktus tiroglosus tidak terbentuk sepenuhnya, cikalnya dapat bermanifestasi
sebagai tiroglosus duktus kista (TGDC), yang menyumbang sekitar 70% dari bawaan
kelainan di leher (6,18). Delapan puluh lima persen dari TGDCs berada di bawah tulang
hyoid dan biasanya hadir sebagai massa kistik garis tengah. Massa anechoic atau
hypoechoic muncul sebagai kista batas tegas tertanam dalam otot pada USG (Gbr. 7).
Infeksi akut, peradangan kronis, atau perdarahan mungkin juga terjadi. Ruptur kista
dapat mengakibatkan sinus duktus tiroglosus terbuka melalui kulit di atasnya. Sebuah
massa lokal muncul di sebagian dinding kista menunjukkan kemungkinan keganasan, \
invasi ke jaringan lunak yang berdekatan yang tidak memiliki riwayat infeksi sangat
menunjukkan adanya neoplasma dalam kista (18).

Gambar.6. Dyshormonogenesis pada perempuan usia 15 hari.


A.USG transverse menunjukkan kelenjar tiroid membesar. B. Tc-99m scintigraphy menunjukkan
pembesaran kelenjar tiroid dengan peningkatan uptake (20%; kisaran normal, 2-4%). Thyroid
stimulating hormon level pada saat awal studi > 60 U / mL, dan tingkat tiroksin bebas adalah 0,12 ng /
dL (Kisaran normal, 0,89-1,7 ng / dL).
Gambar.7. Kista duktus tiroglosus pada perempuan usia 8 tahun dengan massa teraba di leher
anterior.
Longitudinal (A) dan sagital (B) ultrasonografi menunjukkan well-defined lesi kistik (panah panjang)
di bawah tulang hyoid (panah).

E. Nodul Tiroid
Deteksi nodul tiroid menjadi lebih sering dengan meluasnya penggunaan USG. USG
adalah andalan untuk mendeteksi dan mendiagnosis nodul tiroid
dan sebagai pembimbing biopsi.
Insiden nodul tiroid pada anak-anak dan remaja diperkirakan antara 1% dan 18%
(19,20)
. Avula et al.(20) melaporkan bahwa peningkatan 1 tahun usia pada anak-anak
meningkatkan risiko kelainan tiroid insidental sebesar 9%. Risiko nodul tiroid ganas
pada anak-anak berkisar dari 14% sampai 40%, yang jauh lebih tinggi dari orang dewasa
(9-15%) (20, 21). Temuan ultrasonografi untuk nodul tiroid diklasifikasikan ke dalam salah
satu dari tiga kategori: mungkin jinak, tak tentu, atau mencurigakan ganas. Nodul tiroid
padat dengan satu atau lebih fitur USG keganasan (yaitu, spiculated atau microlobulated
margin, hypoechogenic nyata, bentuk lebih tinggi daripada lebar, atau kalsifikasi)
dianggap ganas, dan nodul tiroid dengan satu atau dua fitur USG jinak (yaitu, kista
lengkap , terutama lesi kistik, lesi kistik dengan artefak comet-tail, atau spongiform lesi
kistik jinak) dianggap mungkin jinak (Gbr. 8), berdasarkan "Guidelines for Thyroid
USG" disediakan oleh Korean Society of tiroid Radiologi (22). Sebuah nodul yang tidak
menunjukkan fitur jinak atau ganas dianggap menjadi nodul tak tentu (indeterminate).
Temuan USG diringkas dalam Tabel 1.
Gambar.8. Scan longitudinal menunjukkan well-defined oval isoechoic nodul dengan perubahan
inner kistik pada wanita 18 tahun.
Nodular hiperplasia dikonfirmasi oleh hemithyroidectomy.

Tabel 1. Temuan USG dan Studi Tambahan Nodul Tiroid

Temuan USG Genetik dan Studi Tambahan


Jinak
Kista Kista komplit
Hiperplasi Nodul Lesi kistik dengan comet tail artifact
Spongiform kistik nodul
Intratiroid Isthmus Sama seperti gambaran USG timus
normal
Malignancy
Papillary Cancer Curiga nodul ganas BRAF
Pembesaran kelenjar difus dengan RET/PTC
berbagai mikrokalsifikasi
Difuse infiltrasi mirip tiroiditis
Medullary Cancer Sama seperti PTC Calcitonin
Follicular Cancer Indeterminate nodule RAS mutation
PAX8/PPAR reaarangement
Aneuploidy
Note. BRAFV600E mutation = B type raf kinase, PAX8/PPAR rearrangement = paired box 8-peroxisome
proliferator-activated receptor gamma, RAS = rat sarcoma, RET/PTC oncogene = rearranged during
transfection/papillary thyroid carcinoma, US = ultrasonography

1. Nodul Tiroid Jinak


Mayoritas (67,3%) dari lesi tiroid pada anak-anak adalah kista (20) . Kista tiroid
epitel berlapis jarang ditemukan. Kebanyakan lesi tiroid kistik adalah nodul
hiperplastik yang telah mengalami degenerasi luas. Kista koloid mungkin berisi
fokus echogenic cerah dengan artefak comet-tail disebabkan oleh adanya
mikrokristal (Gambar. 9) (23, 24).
Sebuah timus intrathyroid telah dilaporkan pada 17,3% dari nodul tiroid (20).
Timus berasal dari pasangan ketiga kantong branchial dengan porsi dasar yang
timbul dari pasangan keempat dan turun ke mediastinum superior. Migrasi anomali
dapat menghasilkan thymus ektopik yang terletak di sepanjang jalur turun (18, 25). Lesi
ini memiliki gambaran USG mirip dengan thymus normal dan lebih sering terjadi
pada laki-laki daripada perempuan, berbeda dengan insiden lesi tiroid yang lebih
tinggi pada wanita dewasa (Gbr. 10).

Gambar. 9. Scan longitudinal menunjukkan kista koloid dengan comet-tail artefak


(panah) pada wanita usia 18 tahun yang menjalani USG leher untuk mengevaluasi
limfadenopati servikal.

2. Keganasan Tiroid
Keganasan termasuk papiler, folikuler, dan karsinoma meduler, dan karsinoma
papiler adalah yang paling sering terjadi (80%). Kasus kanker tiroid, 5-10% yang
familial danautosomal dominan; 17% adalah folikel, dan 2-3% adalah meduler dan
sering didiagnosis pada pasien dengan multiple endokrin neoplasia sindrom (23).
Kanker tiroid adalah kanker kesebelas yang paling sering didiagnosis pada
anak-anak Korea <14 tahun dan kanker paling sering kelima pada anak perempuan
(26)
. Prevalensi kanker tiroid pada anak perempuan meningkat dari urutan ke sepuluh
menjadi urutan ke lima untuk kanker yang paling sering terjadi antara tahun 2002
dan 2011. Kanker tiroid pada anak-anak cenderung muncul di tahap yang lebih
lanjut dari pada orang dewasa dan dengan frekuensi yang lebih tinggi keterlibatan
kelenjar getah bening dan metastasis paru. Metastasis jauh kurang umum daripada
keterlibatan kelenjar getah bening regional, dan paru-paru adalah tempat yang paling
sering terjadi metastasis jauh. Pasien anak-anak dengan kanker papiler tiroid (PTC)
memiliki prognosis yang baik, meskipun tingginya insiden metastasis kelenjar getah
bening serviks (27,28). Metastasis nodul ditandai dengan bentuk bulat, penebalan
kortikal asimetris, hyperechogenecity, multiple punctat kalsifikasi, perubahan kistik,
hilangnya hilus lemak, atau peningkatan vaskularisasi pada pencitraan Doppler (29).
Alasan dari variasi antara anak-anak dan orang dewasa tidak diketahui, tetapi
umumnya dianggap karena perbedaan mutasi dan ekspresi onkogen dalam tiroid (30,31
.
Selain untuk mencurigai nodul ganas, pembesaran tiroid difus dengan
berbagai mikrokalsifikasi pada USG didefinisikan sebagai keganasan tiroid dan
harus dievaluasimenggunakan aspirasi jarum halus (FNA) biopsi dengan analisis
BRAF (31).
Kanker tiroid papiler sering dikaitkan dengan perubahan genetik. Mutasi
BRAF secara intrinsik terkait dengan peningkatan perkembangan dan agresivitas
PTC. Demikian pula, mutasi BRAF memiliki nilai prediktif tinggi untuk
kekambuhan PTC (32). Frekuensi mutasi BRAF meningkat dengan usia. Prevalensi
mutasi BRAF pada anak-anak Korea (30-50%) lebih rendah dibandingkan pada
orang dewasa (70-83%) (31, 33).
Karsinoma folikular sekitar 17% dari kanker tiroid dan lebih umum pada
wanita dibandingkan laki-laki (23,26-28). Perbedaan antara jinak (Gambar. 11)
dan neoplasma ganas folikuler hanya dapat dilakukan dengan mengevaluasi
keberadaan kapsul atau invasi vaskuler selama pemeriksaan histologis. Diperkirakan
tingkat darikeganasan untuk neoplasma folikuler adalah variabel, mulai dari 10-30%
(34,35)
. Tumor tiroid folikular hadir dengan beberapa perubahan genetik, seperti
aneuploidi, mutasi RAS, dan PAX8 / PPAR prearrangements. Aktivasi mutasi gen
RAS memainkan peran penting memulai tumor tiroid folikular. Mutasi RAS
ditemukan di adenoma folikuler tetapi lebih banyak terjadi di karsinoma folikular (35,
36)
.
Karakteristik USG penyakit autoimun termasuk pembesaran tiroid adalah
berkurangnya echogenicity, heterogenitas, dan hypervascularity. Difus infiltratif
papiler atau folikuler karsinoma tiroid mungkin memiliki semua fitur dan dengan
demikian, mungkin dapat keliru dengan penyakit tiroid autoimun. Selain itu, pada
pasien mungkin keliru dengan tirotoksikosis (Gambar. 12).

Gambar.11. perempuan usia 13 tahun yang dengan massa teraba.


USG transversa menunjukkan isoechoic nodul padat oval (panah). Adenoma folikuler
dikonfirmasi oleh hemithyroidectomy.
Gambar.12. Kanker tiroid papiler dengan hipertiroidisme pada perempuan usia 12 tahun.
Longitudinal ultrasonografi scan (A) menunjukkan nodul hyperechoic oval dengan berbagai mikrokalsifikasi
(panah) danmultiple limfadenopati metastasis di tiroid kiri di level II-IV (B). Mikrokalsifikasi dan perubahan
kistik terlihat. C. Tc-99m scintigraphy menunjukkan peningkatan uptake (Tiroid uptake 7,2%; kisaran normal,
2-4%), pembesaran difus kedua lobus kelenjar tiroid, dan peningkatan uptake di nodul tiroid (panah pendek) dan
di leher lateral kiri karena metastasis ke kelenjar getah bening (panah panjang). Pada pembedahan dikonfirmasi
kanker tiroid papiler dengan metastasis limfadenopati dan tiroiditis limfositik yang mendasari.

F. Penyakit Tiroid Difuse


Pada ultrasonografi ditemukan indikasi penyakit tiroid difus (DTD) yang ditandai
oleh kelenjar tiroid difus membesar, penurunan atau peningkatan heterogen difus
parenkim echogenicity, sebuah echotexture kasar, micronodulation, dan mikrokalsifikasi
tersebar (37, 38).
Ultrasonografi umumnya tidak diperlukan untuk mendiagnosa
DTD; Namun, tiroiditis Hashimoto merupakan penyakit subklinis, dan USG dapat
mendeteksi pasien ini sebelum mereka datang dengan keluhan klinis ketika ditemukan
temuan khas USG (39). USG tidak berperan pada penyakit tiroid focal tetapi berperan
dalam menilai ukuran kelenjar tiroid. USG juga digunakan untuk membedakan ciri, dan
mendeteksi diffuse infiltrat tumor (37, 39).

1. Graves Disease
Hipertiroidisme jarang ditemukan di masa kanak-kanak dan ini paling sering
disebabkan oleh penyakit Graves. Ini mempengaruhi 0,02% anak-anak atau 1 dari
5000 (23). Puncak kejadian terjadi pada usia 11-15 tahun dengan dominasi
perempuan. Umumnya memiliki riwayat keluarga yang positif (37). Antibodi
merangsang TSHR yang menyebabkan infiltrasi limfosit kelenjar tiroid. USG
menggambarkan diffus heterogen dan pembesaran hypoechoic tiroid (Gambar. 13).
Pencitraan Color Doppler menunjukkan pola hypervascular dalam tiroid disebut
sebagai "thyroid inferno".

Gambar.13. Graves disease pada perempuan usia 17 tahun.


A. Transverse USG menunjukkan pembesaran kelenjar tiroid dan penurunan inhomogen di
echogenicity. B. Color Doppler menunjukkan thyroid inferno' pola hypervascularity.

2. Hashimotos Disease
Tiroiditis Hashimoto adalah salah satu dari organ-spesifik penyakit autoimun
yang paling. Kejadian tahunan diperkirakan antara 0,3 dan 1,5 kasus per 1000
orang, tanpa terkait ras dominasi signifikan (37). Tiroiditis Hashimoto mempengaruhi
1,3% dari anak-anak dan didominasi perempuan (23,37,38). Penyakit ini merupakan
DTD yang paling umum, ditandai dengan infiltrasi limfositik difus. Diagnosis dibuat
dengan mendeteksi antibodi antitiroid, termasuk peroksidase antitiroid dan antibodi
antithyroglobulin. USG berguna untuk mengukur ukuran tiroid dan menilai
echotexture. USG menunjukkan pembesaran kelenjar dengan difus heterogen,
echotexture kasar dan beberapa micronodules hypoechoic diskrit mulai 1-6 mm.
Mungkin ada septations kasar dari fibrous band (37, 38).

3. Tiroiditis Supuratif
Tiroiditis supuratif akut jarang terjadi dan merupakan hasil infeksi mikroba
padakelenjar tiroid. Pasien datang dengan massa yang lembut atau bengkak pada
kelenjar tiroid dan demam. Ketika lobus kiri tiroid terlibat dan terdapat fistula antara
lobus ini dan pyriform sinus ipsilateral, kemungkinan sisa kantong faring ketiga kiri
harus dipertimbangkan (Gbr. 14). Bagian kelenjar yang terinfeksi membesar dan
heterogen pada gambaran USG. Abses focal mungkin telah terbentuk, dan
pembengkakan menonjol pada jaringan lunak yang berdekatan yang dihasilkan dari
myositis terkait dan selulitis dapat terjadi (18, 23,37).

Gambar.14. Tiroiditis supuratif pada anak laki-laki usia 10 dengan massa


teraba eritema dan nyeri di sisi kiri leher selama 3 hari.
A. Transverse ultrasonografi scan tidak jelas, heterogen, lesi hypoechoic (panah) di lobus
kiri kelenjar tiroid. B. Kontras computed tomography scan menunjukkan low-density lesi
(panah) di lobus kiri dengan peradangan di sekitarnya. C. Esophagogram pyriform sinus
fistula (panah) yang dibakar dengan 5% asam trikloroasetat.

G. Kesimpulan

Pencitraan, khususnya USG, memainkan peran penting mengevaluasi berbagai


penyakit tiroid pada pasien anak. Pencitraan ganda dengan USG dan skintigrafi
meningkatkan hasil diagnostik untuk hipotirodisme kongenital. USG adalah modalitas
diagnostik yang paling sensitif untuk mengevaluasi nodul tiroid dan untuk mendiagnosa
karsinoma tiroid karena memfasilitasi biopsi aspirasi dan menentukan tindak lanjut.
Pengujian untuk mutasi cancerspecific di sampel tiroid FNA meningkatkan akurasi
diagnostik FNA sitologi. Selain itu, USG memungkinkan diagnosis metastasis kelenjar
getah bening.