Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Pendidikan Kimia (JPK), Vol. 4 No. 4 Tahun 2015 Hal.

207-216
Program Studi Pendidikan Kimia ISSN 2337-9995
Universitas Sebelas Maret http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/kimia

PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT)


DILENGKAPI LINGKARAN BUFFER UNTUK MENINGKATKAN
MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA
MATERI LARUTAN PENYANGGA KELAS
XI IPA 4 SMAN 2 KARANGANYAR
TAHUN PELAJARAN
2012/2013
Ariani Kusumawardani1* , Budi Utami2, JS. Sukardjo2
1
Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia FKIP UNS, Surakarta, Indonesia
2
Dosen Prodi Pendidikan Kimia FKIP UNS, Surakarta, Indonesia

* Keperluan korespondensi, tel/fax : 085736550633, email: arianikusuma@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah: 1) penerapan Numbered Head Together
(NHT) disertai lingkaran buffer dapat meningkatkan motivasi belajar pada materi pokok larutan
penyangga, 2) penerapan Numbered Head Together (NHT) disertai lingkaran buffer dapat
meningkatkan prestasi belajar pada materi pokok larutan penyangga. Penelitian ini adalah
penelitian tindakan kelas yang mengimplementasikan dua siklus. Populasi dalam penelitian ini
adalah siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 2 Karanganyar tahun pelajaran 2012/ 2013. Data
penelitian yang diambil berupa prestasi belajar kognitif, afektif, motivasi dan psikomotor.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, tes, angket, wawancara, dan dokumentasi.
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian dan
analisis yang telah dilakukan diperoleh: 1) penerapan Numbered Head Together (NHT) disertai
lingkaran buffer dapat meningkatkan motivasi belajar pada materi pokok larutan penyangga.
Pada siklus I presentase motivasi sebesar 76,91 % yang kemudian meningkat pada siklus II
menjadi 78,95%. 2) penerapan Numbered Head Together (NHT) disertai lingkaran buffer dapat
meningkatkan prestasi belajar pada materi pokok larutan penyangga. Presentase ketuntasan
belajar siswa meningkat dari 28,57% pada siklus I menjadi 62,86 % pada siklus II. Untuk hasil
belajar afektif menunjukkan peningkatan ketercapaian rata-rata indikator dari 75,43 % pada
siklus I menjadi 76,31 % pada siklus II dan dari segi psikomotor, ketercapaian rata-rata indikator
adalah 69,24%.

Kata kunci: penelitian tindakan kelas, numbered heads together, motivasi dan prestasi belajar

PENDAHULUAN antara lain dengan melakukan


Dewasa ini pendidikan di pembaharuan metode mengajar,
Indonesia mengalami perkembangan perbaikan buku-buku pelajaran, dan
seiring dengan kemajuan ilmu pembaharuan kurikulum.
pengetahuan dan teknologi. Pendidikan Kurikulum yang saat ini sedang
selalu membutuhkan adanya suatu diterapkan dan dikembangkan oleh
perbaikan. Oleh karena itu, pendidikan pemerintah adalah Kurikulum Tingkat
dapat dikatakan bersifat dinamis. Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai
Perbaikan di bidang pendidikan perlu pengembangan dari kurikulum 2004
dilakukan untuk meningkatkan kualitas (KBK). Menurut ketentuan dalam
pendidikan. Pemerintah telah Peraturan Pemerintah No.19 Tahun
memberikan perhatian khusus dalam 2005 tentang Standar Nasional
hal sistem pendidikan di Indonesia Pendidikan, setiap sekolah/madrasah

2015 Program Studi Pendidikan Kimia 207


JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 4 No. 4 Tahun 2015 Hal. 207-216

diamanatkan untuk mengembangkan akhirnya hasil belajar menjadi rendah.


kurikulum tingkat satuan pendidikan Begitu pula yang terjadi di SMA Negeri 2
(KTSP) berdasarkan Standar Karanganyar. Berdasarkan observasi
Kompetensi Kelulusan (SKL) dan awal dengan guru mata pelajaran Kimia
Standar Isi (SI) dan berpedoman dan beberapa siswa di SMA Negeri 2
kepada panduan yang ditetapkan oleh Karanganyar pada tanggal 21 Januari
Badan Standar Nasional Pendidikan 2013 dapat diketahui bahwa
(BSNP). Satuan Pendidikan yang telah pembelajaran kimia selama ini masih
melakukan uji coba kurikulum 2004 cenderung guru menjadi pusat kegiatan
secara menyeluruh diperkirakan mampu (teacher centered learning). Siswa
secara mandiri mengembangkan kurang dilibatkan secara aktif dalam
kurikulumnya berdasarkan SKL, SI dan proses belajar mengajar. Hal ini dapat
Panduan. KTSP adalah kurikulum membuat siswa menjadi jenuh sehingga
operasional yang disusun dan siswa kurang memiliki motivasi untuk
dilaksanakan di masing-masing satuan belajar kimia. Pembelajaran kooperatif
pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan merujuk pada berbagai macam metode
pendidikan tingkat satuan pendidikan, pengajaran di mana para siswa bekerja
struktur dan muatan kurikulum tingkat dalam kelompok-kelompok kecil untuk
satuan pendidikan, kalender pendidikan saling membantu satu sama lainnya
dan silabus. KTSP dikembangkan dalam mempelajari materi pelajaran.
sesuai dengan relevansinya oleh setiap Dalam kelas kooperatif, para siswa
kelompok atau satuan pendidikan di diharapkan dapat saling membantu,
bawah koordinasi dan supervisi dinas saling mendiskusikan dan
pendidikan atau kantor Depatemen berargumentasi, untuk mengasah
Agama Kabupaten/Kota untuk pengetahuan yang mereka kuasai saat
pendidikan dasar dan provinsi untuk itu dan menutup kesenjangan dalam
pendidikan menengah [1]. Pada pemahaman masing-masing. Cara kerja
kurikulum ini pembelajaran tidak kooperatif jarang sekali menggantikan
berpusat lagi pada guru, melainkan guru pengajaran yang diberikan oleh guru,
harus bisa memilih metode maupun tetapi lebih seringnya menggatikan
model pembelajaran yang tepat bagi pengaturan tempat duduk yang
peserta didiknya agar dapat aktif selama individual, cara belajar individual, dan
proses pembelajaran dan pembelajaran dorongan yang individual. Apabila diatur
dapat berpusat pada siswa atau Student dengan baik, siswa-siswa dalam
Centered Learning. kelompok kooperatif akan belajar satu
Pada kenyataannya masih sama lain untuk memastikan bahwa tiap
banyak guru yang belum menerapkan kelompok telah menguasai konsep-
pembelajaran yang mengacu pada konsep yang telah dipikirkan [2].
KTSP. Pembelajaran Teacher Centered Kimia termasuk mata pelajaran
Learning (TCL) masih banyak utama bagi anak IPA, khususnya SMA.
mendominasi dalam proses Berdasarkan fakta dilapangan, diketahui
pembelajaran di kelas dengan alasan bahwa masih banyak siswa SMAN 2
pembelajaran TCL adalah praktis dan Karanganyar yang belum memahami
tidak banyak menyita waktu. Para guru pelajaran kimia pada kelas XI IPA,
hanya menyajikan materi secara teoritis khususnya pada materi larutan
dan abstrak di depan kelas sedangkan penyangga karena banyak materi
siswa hanya mendengarkan guru hitungan dan membutuhkan cara yang
menjelaskan materi dan diskusi praktis untuk memahami konsepnya.
seadanya yang tidak menyenangkan. Kurangnya minat dan motivasi siswa
Akibat dari kebiasaan tersebut adalah dalam mengikuti pembelajaran kimia
siswa menjadi pasif, kurang kreatif yang ditunjukkan dengan sikap siswa
dalam memecahkan masalah, tidak yang masih banyak mengobrol dengan
termotivasi untuk belajar serta kegiatan teman semeja, tiduran, asyik bermain
belajar mengajar menjadi tidak efisien sendiri, tidak berusaha untuk memiliki
dan menyenangkan sehingga pada buku pegangan kimia, terlambat masuk

2015 Program Studi Pendidikan Kimia 208


JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 4 No. 4 Tahun 2015 Hal. 207-216

kelas, dan tidak mau menjawab untuk memberikan motivasi, menjadikan


pertanyaan dari guru tanpa ditunjuk. kegiatan belajar mengajar dua arah
Selain itu, data nilai ulangan harian (Student Learning Centered), serta
kimia semester 2 tahun pelajaran menjadikan proses belajar mengajar
2011/2012 , didapat presentase jumlah kimia menjadi menyenangkan sehingga
siswa yang belum tuntas pada materi siswa menjadi termotivasi untuk
larutan penyangga sebesar 98,12%. mempelajari kimia.
Kondisi siswa yang jenuh dalam Berbagai permasalahan di atas
mengikuti kegiatan pembelajaran ini, merupakan masalah yang mendesak
akan menjadi salah satu penghambat untuk dipecahkan dengan Penelitian
dalam proses transfer materi antara Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom
guru dan siswa. Selain itu, selama ini Action Research (CAR) yang bertujuan
belajar sering jadi momok yang tidak untuk memperbaiki atau meningkatkan
mengenakkan bagi sebagian besar kualitas pembelajaran. Dalam penelitian
penuntut ilmu. Hal tersebut dapat tindakan kelas, peneliti dan guru dapat
disebabkan karena beberapa hal, antara mengamati sendiri praktik pembelajaran
lain motivasi belajar yang kurang, sistem dan dapat melakukan penelitian
belajar dan mengajarnya yang tidak terhadap siswa dilihat dari segi aspek
menarik, sistem yang akhirnya interaksinya dalam proses
mematahkan motivasi siswa. pembelajaran. Peneliti dan guru secara
Efektivitas proses refleksi dapat menganalisis dan
pembelajaran, khususnya pembelajaran mensintesis terhadap apa yang
kimia dipengaruhi juga oleh faktor dilakukan di kelas. Dalam hal ini berarti
internal, yaitu motivasi belajar siswa. dengan melakukan penelitian tindakan
Motivasi belajar dapat dikatakan kelas, pendidik dapat memperbaiki
serangkaian usaha untuk menyediakan praktik pembelajaran sehingga menjadi
kondisi-kondisi tertentu, sehingga lebih efektif.
seseorang mau dan ingin melakukan Salah satu upaya untuk
sesuatu, dan apabila ia tidak suka, meningkatkan kualitas proses dan hasil
maka akan berusaha untuk meniadakan belajar siswa SMA Negeri 2
atau mengelakkan perasaan tidak suka Karanganyar adalah dengan metode
itu. Guru harus dapat menciptakan pembelajaran yang tepat sehingga
suatu kondisi yang dapat menimbulkan pembelajaran kimia menjadi lebih
motivasi belajar pada siswa sehingga menarik dan menyenangkan. Dengan
siswa antusias untuk belajar. Tanpa metode pembelajaran yang tepat,
adanya perhatian tidak mungkin terjadi diharapkan siswa menjadi lebih antusias
belajar [3]. Faktor sensorik berperan dan termotivasi dalam mengikuti
sebagai kecemasan yang akan pelajaran kimia. Metode pembelajaran
menimbulkan motivasi memiliki efek yang diperlukan dalam mengatasi
yang penting dalam pencapaian prestasi kondisi seperti di atas salah satunya
akademik, dan juga merupakan yaitu Numbered Heads Together (NHT).
komponen penting dari proses Metode pembelajaran ini merupakan
pendidikan dan pembelajaran [4]. metode belajar dengan sintak setiap
Dari berbagai permasalahan siswa diberi nomor dan dibagi dalam
yang telah diungkapkan di atas, maka suatu kelompok, guru memberikan
dapat ditarik kesimpulan bahwa tugas dan tiap-tiap kelompok disuruh
permasalahan utama penyebab untuk mengerjakan. kemudian secara
rendahnya prestasi belajar kimia siswa acak, guru memanggil nomor dari siswa
SMA Negeri 2 Karanganyar, khususnya dan yang nomornya dipanggil
kelas XI IPA 4 adalah proses belajar melaporkan hasil kerja sama mereka.
mengajar yang masih berpusat pada Siswa lain diminta untuk memberikan
guru (Teacher Learning Centered), tanggapan, kemudian guru menunjuk
sehingga siswa tidak terlibat secara aktif nomor lain dan terakhir adalah
dalam proses belajar mengajar tersebut. kesimpulan [5].
Oleh karena itu, dibutuhkan peran guru

2015 Program Studi Pendidikan Kimia 209


JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 4 No. 4 Tahun 2015 Hal. 207-216

Pembelajaran kooperatif dikemukakan sebagai sesuatu (bisa


dikembangkan oleh Slavin (2009), di berupa alat, bahan, atau keadaan) yang
mana terdapat berbagai macam metode digunakan sebagai perantara
di dalamnya. Metode NHT adalah salah komunikasi dalam kegiatan
satu pengembangan dari metode Team pembelajaran. Jadi, ada tiga konsep
Games Turnament (TGT). NHT yang mendasari batasan media
dikembangkan oleh Spancer Kagan pembelajaran diatas yaitu konsep
pada tahun 1992. Pada penelitian Lago komunikasi, konsep sistem dan konsep
(2007) menunjukkan bahwa metode pembelajaran [9].
pembelajaran kooperatif dengan model Upaya lain peningkatan
NHT (Numbered Head Together) secara motivasi dan prestasi belajar melalui
signifikan meningkatkan prestasi siswa pengunaan media pembelajaran. Salah
dalam pelajaran kimia, selain itu dapat satu media pembelajaran yang dapat
meningkatkan sikap positif terhadap digunakan dalam proses pembelajaran
pelajaran kimia dibandingkan dengan yaitu lingkaran buffer. Lingkaran Buffer
metode ceramah-diskusi [6], didukung dalam penelitian ini adalah suatu media
pula dengan Jurnal penelitian yang seperti mainan yang berupa lingkaran,
berisi tentang efektifitas pembelajaran terbuat dari kertas bolak balik yang
menggunakan NHT yang memberikan dapat dimainkan dengan cara diputar
peningkatan prestasi siswa. Pokok searah jarum jam. Jenis media ini berisi
masalah dari penelitian ini adalah ketika ringkasan materi pokok larutan
guru memberikan pertanyaan, banyak penyangga yang terbagi dalam dua
siswa di dalam kelas menjawab buah lingkaran. Dalam media ini juga
pertanyaan tersebut, ketika diberikan diberikan petunjuk cara mengerjakan
kesempatan untuk memberanikan diri soal baik secara langsung maupun
menjawab, tidak ada salah satu dari hanya berupa contoh-contoh yang
mereka yang berani untuk bersifat mengarahkan. Maksud
menjawabnya. Sehingga guru tidak tau mengarahkan di sini adalah bahwa
mana yang terlibat aktif untuk merespon contoh tersebut dibuat untuk menuntun
pertanyaan dan mana yang tidak. Hasil siswa dalam memahami tahap
dari penelitian ini menunjukan bahwa penyelesaian soal yang benar yang
cara ini sangat efektif dan dapat dapat dipelajari bersama kelompoknya.
meningkatkan prestasi siswa [7]. Hasil Oleh karena itu perlu adanya kerjasama
penelitian pendukung lainnya oleh kelompok yang baik untuk bisa
Widodo (2011) yang melakukan membantu siswa memahami konsep
penelitian tindakan kelas menggunakan dari topik yang sedang dibahas. Dengan
metode NHT pada siswa kelas VII SMP adanya motivasi belajar kimia membuat
untuk pelajaran fisika, hasil penelitian siswa mau untuk mempelajari materi
menunjukan bahwa NHT dapat larutan penyangga, dan berusaha
meningkatkan hasil belajar siswa dari mengerjakan tugas dengan sungguh-
ranah kognitif dan afektif siswa kelas sungguh. Jika hal-hal tersebut tercapai
VII SMP pada pelajaran fisika. Pada maka prestasi siswa akan meningkat.
ranah afektif peningkatannya mencapai Menurut hasil penelitian Fadhillah
87,5% pada siklus II. Hal ini disebabkan (2013) media ini mampu meningkatkan
karena yang disebabkan karena siswa prestasi belajar siswa [10], didukung
merasa memiliki kondisi belajar yang pula dengan hasil penelitian Utami
berbeda dari biasanya, ini berarti (2011) yang menunjukkan bahwa
membuat suasana baru dalam dengan media lingkaran hidrokarbon
pembelajaran di kelas sangatlah penting dan media LKS, ternyata penggunaan
[8]. media lingkaran hidrokarbon
Selain itu penggunaan media menunjukkan hasil belajar siswa SMA
juga harus diterapkan dengan tujuan Batik 2 Surakarta lebih baik
untuk siswa dalam memahami konsep- dibandingkan menggunakan media
konsep pada materi larutan penyangga. LKS.[11]
Pengertian media secara singkat dapat

2015 Program Studi Pendidikan Kimia 210


JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 4 No. 4 Tahun 2015 Hal. 207-216

Oleh karena itu, peneliti melakukan memiliki keterbukaan terhadap


penelitian untuk meningkat kualitas pengalaman dan proses pembelajaran
proses dan hasil belajar kimia pada yang baru. Sedangkan manfaat bagi
SMA Negeri 2 Karanganyar degan judul siswa adalah Penelitian tindakan kelas
Penerapan Metode Numbered Heads ini dapat menambah pengalaman bagi
Together (NHT) dilengkapi Lingkaran para siswa. Dengan penerapan strategi
Buffer Untuk Meningkatkan Motivasi dan belajar aktif, siswa dapat termotivasi
Prestasi Belajar Siswa pada Materi agar menjadi lebih aktif sehingga prestai
Larutan Penyangga Kelas XI IPA 4 belajar siswa akan meningkat.
SMAN 2 Karanganyar Tahun Pelajaran
2012/2013.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk
Jenis penelitian merupakan
mengetahui apakah: 1) penerapan
penelitian tindakan kelas kolaboratif
metode Numbered Heads Together
antara guru dengan peneliti. Penelitian
(NHT) disertai lingkaran buffer dapat
ini dilaksanakan dalam 2 siklus.
meningkatkan motivasi belajar pada
Prosedur dan langkah yang digunakan
materi pokok larutan penyangga, 2)
dalam melaksanakan penelitian ini
penerapan metode Numbered Heads
mengikuti metode yang dikembangkan
Together (NHT) disertai lingkaran buffer
oleh Kemmis dan Mc Taggart yaitu
dapat meningkatkan prestasi belajar
berupa metode spiral dimana setiap
pada materi pokok larutan penyangga.
siklus terdiri dari empat tahapan,yaitu:
Manfaat penelitian ini secara
perencanaan, pelaksanaan, observasi,
teoritis antara lain: a) Menambah
dan refleksi [12].
khasanah ilmu pengetahuan tentang
Subjek dalam penelitian ini adalah
penerapan pembelajaran aktif
siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 2
Numbered Heads Together (NHT) serta
Boyolali Tahun Pelajaran 2013/ 2014
penggunaan media lingkaran buffer
yang berjumlah 24 siswa. Obyek
terhadap kualitas proses dan hasil
penelitian ini adalah motivasi dan
belajar kimia. b) Membantu guru
prestasi belajar siswayang mencakup
menghasilkan pengetahuan yang
aspek kognitif dan afektif. Pengumpulan
relevan untuk memperbaiki
data dilakukan dengan tes dan non tes
pembelajaran dalam jangka pendek. c)
(angket, observasi, dan wawancara).
Sebagai bahan pertimbangan dan
Teknik analisis data mengacu pada
bahan masukan bagi penelitian
metode analisis Miles dan Huberman,
selanjutnya mengenai penerapan
yakni analisis yang dilakukan dalam tiga
Numbered Heads Together (NHT) dan
komponen yaitu reduksi data, penyajian
penggunaan media lingkaran buffer.
data, dan penarikan kesimpulan [13].
Manfaat bagi Inovasi Pembelajaran
Subyek dalam penelitian ini adalah
adalah Meningkatkan kualitas dan
siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 2
memperbaiki proses pembelajaran
Karanganyar tahun pelajaran 2012/
dalam penerapan pendekatan, metode,
2013. Pengumpulan data dilakukan
dan strategi pembelajaran yang
dengan observasi, angket, tes,
sebelumnya telah dilakukan oleh guru
wawancara dan dokumentasi. Analisis
khususnya pada materi pokok larutan
data dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:
penyangga. Manfaat bagi
reduksi data, sajian data dan penarikan
Pengembangan Kurikulum di Tingkat
simpulan.
Sekolah/Kelas adalah hasil dari
penelitian tindakan kelas ini dapat
dijadikan masukan bagi pengembangan HASIL DAN PEMBAHASAN
kurikulum di tingkat sekolah dan kelas. Meningkatnya prestasi belajar dan
Manfaat bagi Pengembangan Profesi motivasi siswa merupakan unsur
Guru adalah Penelitian tindakan kelas penting dalam meningkatkan kualitas
ini dapat meningkatkan profesionalisme pendidikan. Tujuan dari sebuah
guru dalam proses pembelajaran. pembelajaran yang bermakna adalah
Melalui penelitian ini, guru dituntut untuk berasal dari proses yang dilalui. Motivasi

2015 Program Studi Pendidikan Kimia 211


JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 4 No. 4 Tahun 2015 Hal. 207-216

dalam belajar adalah salah satu faktor (3 kali tatap muka), yaitu 4 x 45 menit
yang dapat mempengaruhi prestasi untuk penyampaian materi, 2 x 45 menit
belajar siswa. Dalam rangka pratikum tentang materi dan 2 x 45
meningkatkan motivasi belajar yang menit untuk melaksanakan kegiatan
dimiliki siswa, situasi pembelajaran yang evaluasi.
menyenangkan adalah salah satu faktor Dalam penerapan metode NHT ini,
yang mempengaruhi. Pada saat siswa dibagi menjadi beberapa
motivasi belajar yang tinggi, siswa dapat kelompok untuk mendukung proses
lebih aktif dan lebih terasah rasa ingin pembelajaran. Pada tahap perencanaan
tahu dalam dirinya. Motivasi yang tinggi ini, peneliti juga menyusun kelompok
akan memberikan dampak pada luasnya siswa selama belajar materi larutan
pengetahuan siswa dan pemahaman penyangga. Pembentukan kelompok
suatu materi sehingga akan dilaksanakan secara heterogen, siswa
memberikan prestasi belajar yang baik. dibagi menjadi 5 kelompok.
Dari data wawancara dan
observasi, menunjukkan bahwa motivasi Pelaksanaan
belajar siswa dalam proses Kegiatan pembelajaran diawali
pembelajaran masih rendah. Motivasi dengan pembangkitan minat dan
belajar yang rendah ini akan berdampak keingintahuan, yaitu guru memberikan
terhadap penguasaan kompetensi siswa apersepsi dengan menerangkan bahwa
yang kurang dan hal ini menunjukkan darah dalam tubuh manusia mempunyai
proses pembelajaran belum berhasil kisaran pH 7,35 sampai 7,45, dan
seutuhnya sehingga perlu adanya upaya apabila pH darah manusia di atas 7,8
untuk meningkatkan motivasi dan akan menyebabkan organ tubuh
prestasi belajar. Berdasarkan analisis manusia dapat rusak, sehingga harus
observasi prasiklus, maka diterapkan dijaga kisaran pHnya dengan larutan
metode pembelajaran NHT disertai penyangga.. Kemudian pada tahap
lingkaran buffer pada kegiatan belajar eksplorasi (exploration), guru
mengajar pada materi pokok larutan mengilustrasikan mengenai konsep
penyangga. larutan penyangga serta
menjelaskannya secara garis besar.
Siklus I Siswa dengan tertib memperhatikan.
Perencanaan Guru sesekali memberikan umpan atau
Pada siklus I peneliti meminta pertanyaan agar siswa mau bertanya
silabus pelajaran kimia materi pokok maupun menjawab. Kemudian siswa
larutan penyangga kepada guru kimia dipersilahkan untuk bergabung dengan
yang bersangkutan. Silabus tersebut kelompoknya masing-masing sesuai
disusun oleh sekolah sesuai dengan dengan pembagian kelompok yang telah
kondisi dan kebutuhan sekolah. dibentuk oleh peneliti secara heterogen.
Berdasarkan silabus tersebut, peneliti Tiap kelompok terdiri dari siswa yang
membuat rencana pembelajaran yang memiliki prestasi belajar kimia tinggi,
terdiri dari tiga kali pertemuan pada sedang dan rendah, laki-laki dan
proses pembelajaran siklus I. perempuan. Pembentukan kelompok
Pembelajaran didesain dengan didasarkan pada nilai kimia pada raport
menggunakan metode kooperatif semester 1. Jumlah siswa kelas XI IPA
Numbered Heads Together (NHT) 4 SMA Negeri 2 Karanganyar tahun
dilengkapi lingkaran buffer. Oleh karena ajaran 2012/2013 adalah 35 siswa.
itu, peneliti menyiapkan media Siswa kemudian dibagi kedalam 5
pembelajaran yang berupa lingkaran kelompok, yang terdiri dari 7 anggota.
buffer. Lingkaran buffer yang digunakan Selanjutnya guru memberikan soal
terdiri dari materi yang akan diskusi kepada masing-masing
disampaikan dan contoh soal. kelompok. Pada tahap ini, siswa
Penerapan metode NHT dilengkapi berdiskusi dengan kelompoknya untuk
lingkaran buffer pada siklus I memecahkan semua soal yang telah
direncanakan selama 8 jam pelajaran diberikan dengan bantuan media

2015 Program Studi Pendidikan Kimia 212


JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 4 No. 4 Tahun 2015 Hal. 207-216

lingkaran buffer. Dari kegiatan diskusi psikomotor. Ketercapaian masing-


tersebut, siswa terlihat serius masing aspek pada siklus I disajikan
mempelajari materi dan aktif berdiskusi dalam Tabel 1.
dengan kelompoknya.
Pada tahap konfirmasi, guru Siklus I
Aspek Kriteria
mengecek pemahaman siswa dengan Tar- Keter-
yang Keber-
menyebut salah satu nomor / nama get capaian
dinilai hasilan
anggota kelompok untuk menjawab soal (%) (%)
diskusi sebagai wakil jawaban dari Motivasi 60 76,91 Berhasil
Belum
kelompok. Dengan demikian seluruh Kognitif 40 28,57
Berhasil
siswa dituntut paham tentanng hasil Afektif 60 75,42 Berhasil
diskusi sehingga siap untuk Psikomotor 60 69,24 Berhasil
menjelaskan hasil diskusi kelompok
mereka. Dan guru memberikan Tabel 1. Target Keberhasilan Siklus I
penguatan kembali mengenai konsep-
konsep yang telah dibangun oleh siswa Berdasarkan Tabel 1 masih
dan membahas kembali keseluruhan terdapat aspek yang belum mencapai
hasil pembelajaran. Pada tahap ini, target, yaitu aspek kognitif sehingga
beberapa siswa berani menyampaikan perlu dilaksanakan tindakan siklus II
pertanyaan dan pendapat dari apa yang untuk memenuhi target yang
mereka kurang pahami selama diharapkan. Belum tercapainya indikator
pembelajaran berlangsung. Pada tahap ini dikarenakan siswa menyatakan
ini terlihat adanya interaksi antara guru bahwa mereka merasa kesulitan untuk
dan siswa telah berlangsung dua arah. membedakan rumus menghitung pH
pada larutan penyangga dengan rumus
Observasi menghitung pH pada materi asam basa
Pengamatan terhadap siswa dan masih bingung menentukan larutan
dilakukan selama proses pembelajaran asam atau basa. Sedangkan aspek
berlangsung. Pada awal pembelajaran, afektif dan motivasi tetap dilaksanakan
siswa masih belum terbiasa dengan pada siklus II dengan tujuan hanya
metode NHT. Ini dapat terlihat dari untuk mengetahui kenaikan
siswa yang kurang aktif dalam persentasenya saja.
pembelajaran. Pada pertemuan
pertama, ada beberapa siswa yang Siklus II
terlihat hanya diam saja atau hanya Perencanaan
beberapa anggota kelompok saja yang Tindakan pada siklus II lebi
aktif dalam berdiskusi dan aktif difokuskan untuk menyempurnaan dan
bertanya. Pada pertemuan selanjutnya, perbaikan terhadap kendala-kendala
siswa sudah tau harus mengerjakan yang terdapat pada siklus I. Adapun
suatu hal tanpa disuruh oleh guru. tindakan yang dimaksud, yaitu pertama,
Sudah aktif mencari jawaban dari jumlah anggota kelompok dikurangi,
sumber belajar. yang mulanya satu kelompok terdiri dari
Dinamika kelompok yang terjadi 7 anggota menjadi 5 anggota. Kedua,
dalam setiap pertemuannya mengalami guru menegaskan kembali bahwa harus
perkembangan yang baik. Siswa saling ada kerjasama antar anggota kelompok.
bekerja sama antar anggota untuk Ketiga, guru memberikan perhatian
menyelesaikan tugas dan diskusi yang yang lebih kepada siswa yang
diberikan oleh guru. Motivasi dalam mengalami kesulitan dan siswa yang
belajar timbul ditandai dengan aktivitas masih mendapatkan nilai di bawah KKM
siswa di dalam kelas. pada tes siklus I. Keempat, guru
mendorong siswa yang masih malu
Refleksi bertanya untuk mengajukan pertanyaan
Pada akhir siklus I dilakukan tes bila ada hal yang belum jelas.
meliputi tes kognitif siswa, pengisian
angket afektif dan motivasi serta

2015 Program Studi Pendidikan Kimia 213


JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 4 No. 4 Tahun 2015 Hal. 207-216

Pelaksanaan dituntut paham tentang hasil diskusi


Pembelajaran kimia pada materi sehingga siap untuk menjelaskan hasil
larutan penyangga dengan metode diskusi kelompok mereka. Dan guru
pembelajaran NHT dilengkapi lingkaran memberikan penguatan kembali
buffer pada siklus II dilaksanakan mengenai konsep-konsep yang telah
sebanyak 1 kali pertemuan atau 2 x 45 dibangun oleh siswa dan membahas
menit. kembali keseluruhan hasil
Seperti pembelajaran pada siklus pembelajaran. Pada tahap ini terlihat
I, guru menerapkan metode adanya interaksi antara guru dan siswa
pembelajaran NHT dilengkapi lingkaran telah berlangsung dua arah.
buffer dalam proses pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran diawali dengan Observasi
pembangkitan minat dan keingintahuan Pada pembelajaran siklus II, siswa
dengan membimbing dan mendorong terlihat lebih antusias. Mereka
siswa untuk mengingat kembali materi mendengarkan penjelasan dari guru dan
sebelumnya yaitu larutan penyangga. teman sebaya dengan sungguh-
Kemudian pada tahap eksplorasi sungguh dan langsung bertanya jika ada
(exploration), guru mengilustrasikan hal yang belum jelas. Pada siklus II ini,
mengenai konsep larutan penyangga siswa belajar dalam kelompok kecil
serta menjelaskannya secara garis sehingga diharapkan tiap anggota
besar. Siswa dengan tertib kelompok dapat berpartisipasi aktif
memperhatikan. Kemudian siswa dalam diskusi. Pada siklus II ini tidak
dipersilakan untuk membentuk ada siswa yang tidak hadir, semua
kelompok sesuai dengan pembagian siswa tidak ada yang terlambat masuk
kelompok yang telah diberikan secara kelas. Siswa terlihat lebih fokus
heterogen. memperhatikan penjelasan guru.
Selanjutnya guru memberikan soal Berdasarkan hasil observasi pada
diskusi kepada masing-masing proses pembelajaran, kegiatan guru
kelompok. Pada tahap ini, siswa pada siklus II terlihat mengalami
berdiskusi dengan kelompoknya untuk peningkatan. Guru lebih banyak
memecahkan semua soal yang telah memberikan bimbingan kepada siswa
diberikan. Dari kegiatan diskusi tersebut, yang belum memahami materi dan
siswa terlihat serius mempelajari materi memantau kegiatan siswa dalam diskusi
dan aktif berdiskusi dengan kelompok. Guru juga lebih banyak
kelompoknya. Siswa juga terlihat lebih memberi umpan balikan untuk siswa
bersemangat dan lebih termotivasi sehingga tercipta pembelajaran yang
dalam mengikuti pembelajaran. Siswa berpusat pada siswa (student centered)
lebih memahami kegiatan pembelajaran dan guru bertindak sebagai fasilitator.
dan mulai terbiasa dengan metode baru
yang diterapkan. Semua kelompok aktif Refleksi
dan antusias dalam kegiatan diskusi dan Pada akhir siklus II dilakukan tes
hampir semua siswa aktif dalam diskusi meliputi tes kognitif siswa, pengisian
kelompok. Siswa juga lebih antusias angket afektif dan motivasi.
dalam menerima pelajaran pada siklus II Ketercapaian masing-masing aspek
ini. Siswa lebih berani dan percaya diri pada siklus II disajikan dalam Tabel 2.
dalam bertanya, mengungkapkan
pendapat dan juga lebih santai dalam Tabel 2. Target Ketercapaian Siklus II
mengikuti pembelajaran. Capaian (%)
Pada tahap konfirmasi, guru Aspek Ketercap Kriteria
mengecek pemahaman siswa dengan Target
aian
menyebut salah satu nomor / nama Motivasi 70 78,95 Berhasil
anggota kelompok untuk menjawab soal Kognitif 60 62,86 Berhasil
diskusi sebagai wakil jawaban dari Afektif 70 75,42 Berhasil
kelompok dan ditanggapi oleh kelompok
lain. Dengan demikian seluruh siswa

2015 Program Studi Pendidikan Kimia 214


JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 4 No. 4 Tahun 2015 Hal. 207-216

Dari hasil target keberhasilan pada faktor internal adalah faktor yang
siklus II di atas dapat diketahui bahwa berasal dari dalam diri siswa, misalnya
aspek prestasi belajar kognitif siswa keinginan untuk berprestasi [16].
yang disajikan pada Tabel 2 telah Motivasi ini muncul bisa karena untuk
mencapai target yang telah ditentukan. meningkatkan gengsi ataupun pujian
Prestasi belajar pada aspek afektif dan yang diberikan oleh guru dan lingkungan
motivasi mengalami peningkatan sekitarnya. Bentuk-bentuk motivasi dari
dibandingkan pada siklus I. Target luar ini yang mampu diciptakan guru
ketercapaian pada siklus II yang lebih sehingga siswa memiliki rasa ingin tahu.
tinggi daripada target ketercapaian pada Rasa ingin tahu ini yang mendorong
siklus I digunakan untuk mengukur siswa aktif mencari tahu. Sehingga tidak
sejauh mana peningkatan aspek cukup siswa belajar dari dalam kelas
penilaian yang ingin dicapai. namun bisa terjadi di luar kelas. Siswa
juga tidak hanya menggunakan sumber
Hasil Siklus I dan Siklus II belajar dari buku yang mereka miliki
Pada pembelajaran dengan namun sumber lain seperti pemanfaatan
metode NHT dilengkapi lingkaran buffer, internet. Inilah suasana yang diciptakan
terjadi peningkatan hasil dari siklus I ke guru yang mampu memadu madankan
siklus II. Hasil tindakan siklus I dan II antara strategi pembelajaran, pedekatan
disajikan dalam Tabel 3. yang menyenangkan, metode yang
Tabel 3. Hasil Analisis Data Sikus I dan memotivasi siswa, dan media yang tidak
Siklus II. membosankan bagi siswa. Pada
pembelajaran ini, siswa dan guru terlibat
Capaian (%)
Aspek aktif, guru menyediakan lingkungan
Siklus I Siklus II
pembelajaran yang baik dan siswa
Motivasi 76,91 78,95 menjalani proses pembelajaran yang
Kognitif 28,57 62,86 menyenangkan sehingga mendapat
Afektif 75,43 76,31 hasil yang diinginkan.
Psikomotor 69,24 - Penelitian tindakan kelas dapat
dikatakan berhasil apabila masing-
Dari Tabel 3 dapat dilihat kenaikan masing indikator yang diukur telah
signifikan terjadi pada aspek kognitif. mencapai target yang ditetapkan.
Kenaikan tersebut disebabkan karena Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari
munculnya ketertarikan siswa terhadap proses dan hasil [17]. Penelitian ini
pembelajaran sehingga mempengaruhi dapat dikatakan berhasil karena masing-
rasa tertarik terhadap materi yang belum masing indicator proses dan hasil
mereka kuasai, sehingga ada usaha belajar siswa yang diukur telah
untuk bertanya pada guru di luar jam mencapai target yang ditetapkan. Dari
pelajaran. Rasa ingin tahu yang timbul hasil tindakan, pengamatan dan
setelah tes siklus I merupakan hal yang pembahasan dapat ditarik kesimpulan
diharapkan oleh guru. Rasa ingin tahu bahwa penerapan metode pembelajaran
ini timbul karena beberapa faktor yaitu Numbereds Heads Together (NHT)
jasmaniah dan psikologis. Pada kasus dilengkapi lingkaran buffer dapat
ini, salah satu faktor psikologis yang meningkatkan motivasi dan prestasi
mempengaruhi adalah motivasi dan belajar pada materi larutan penyangga
perhatian siswa [14]. Motivasi belajar siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri
timbul karena ada rangsangan dari luar Karanganyar tahun pelajaran
yang disebut sebagai faktor ekternal 2012/2013.
[15]. Faktor eksternal tersebut misalnya
media yang menarik, metode KESIMPULAN
pembelajaran yang menyenangkan, Dari hasil penelitian, maka dapat
pujian yang diberikan guru adalah hal diambil simpulan sebagai berikut: 1)
yang menimbulkan keingin tahuan siswa Penerapan model pembelajaran
karena dorongan dari dalam dirinya Numbered Heads Together (NHT)
yang berbentuk motivasi. Sedangkan disertai lingkaran buffer dapat

2015 Program Studi Pendidikan Kimia 215


JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 4 No. 4 Tahun 2015 Hal. 207-216

meningkatkan motivasi siswa pada [8] Widodo, S., Sukiswo, S.E., &
materi larutan penyangga. Hal ini dapat Putra, N.M.D. (2011). Jurnal
dilihat dalam pelaksanaan siklus I dan Pendidikan Fisika Indonesia,
siklus II. Pada siklus I persentase 7(2011), 42 46.
motivasi tinggi siswa adalah 76,91% dan [9] Setyosari, P. (2009). Pemanfaatan
meningkat menjadi 78,95% pada siklus Media. Malang: Universitas Negeri
II. 2) Penerapan model pembelajaran Malang
Numbered Heads Together (NHT) [10] Fadhillah N., Haryono., & Utomo,
disertai lingkaran buffer dapat S.B. (2013). Jurnal Pendidikan
meningkatkan prestasi belajar siswa Kimia (JPK), 2(4), hal 51-57.
pada materi larutan penyangga di SMA [11] Utami, E. (2011). Skripsi.
Negeri 2 Karanganyar. Dalam penelitian Surakarta: FKIP UNS Surakarta.
ini prestasi belajar mencakup tiga aspek [12] Kasboelah, K. (2001). Penelitian
yaitu, kognitif, afektif dan psikomotor. Tindakan Kelas. Malang:
Persentase prestasi belajar kognitif Universitas Negeri Malang Press.
pada siklus I sebesar 28,57% meningkat [13] Miles, M. B., & Huberman, A. M.
menjadi 62,86% pada siklus II. (1992). Analisis Data Kualitatif.
Persentase prestasi belajar afektif pada Terj. Tjetjep Rohendi Rohidi.
siklus I adalah 75,43% meningkat Jakarta: UI Press.
menjadi 76,31% pada siklus II dan dari [14] Slameto. (2010). Belajar dan
segi aspek psikomotor, ketercapaian Faktor-Faktor yang
rata-rata indikator adalah 69,24%. Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
UCAPAN TERIMA KASIH [15] Uno, H.B. (2007). Teori Motivasi
Terimakasih kami ucapkan kepada dan Pengukurannya: Analisis di
Ibu Padmini selaku guru mata pelajaran Bidang Pendidikan. Jakarta: Bumi
kimia SMA Negeri 2 Karanganyar Aksara.
beserta seluruh pihak yang turut [16] Yamin, M. (2008). Strategi
berperan dalam penelitian ini. Pembelajaran Berbasis
Kompetensi. Jakarta: GP Press.
DAFTAR RUJUKAN [17] Mulyasa, E. (2007). Kurikulum
[1] BNSP. (2006). Panduan Tingkat Satuan Pendidikan.
Penyusunan Kurikulum Tingkat Bandung: PT. Remaja
Satuan Pendidikan Jenjang Rosdakarya.
Pendidikan Dasar dan Menengah.
Jakarta: BNSP
[2] Slavin, R.E. (2009). Cooperative
Learning, Teori, Riset dan Praktik.
Terj. Narulita Yusron. Bandung:
Nusa Media
[3] Syah, M. (2009). Psikologi Belajar.
Jakarta : PT RajaGrafindo
Persada
[4] Akbas, A & Kan, A. (2007). Journal
for Research Turkish Science
Education, 4(2). 10-19.
[5] Hamdani. (2011). Strategi Belajar
Mengajar. Bandung: Pustaka Setia
[6] Lago. R. G. M. (2007). Liceo
Journal of Higher Education
Research, 5(1).
[7] Maheady, L., Pendi, J.M., Harper,
G.F., & Mallete, B. (2006). Journal
of Behavioral Education, 15(1), 25-
39.

2015 Program Studi Pendidikan Kimia 216