Anda di halaman 1dari 53

MODUL

SINTETIS OBAT
PROGRAM STUDI FARMASI
MODUL SINTESIS OBAT

BAB I
SINTESIS BAHAN OBAT

A. Pengertian Sintesis
Sintesis merupakan reaksi kimia untuk membentuk molekul senyawa, dalam
kefarmasian, fokusnya pada senyawa obat, seperti yang kita ketahui ada banyak
senyawa kimia, tetapi tidak semuanya adalah obat, ada kriteria tertentu untuk
menjadi obat.Obat merupakan senyawa kimia yang memenuhi persyaratan, yaitu
mempunyai aktivitas farmakologi, toksisitas rendah, dan stabil dalam
penyimpanan.Kebanyakan obat adalah senyawa organik, jadi fokus mata kuliah di
sini adalah senyawa organik (Soekardjo dan Bambang, 2008).
Ahli sintesis harus dapat mensintesis obat sesuai dengan target struktur kimia
yang diminta, yaitu molekul targetnya. Yang meminta adlaah yang telah
mendesain dan melakukan studi farmakokimia. Material pemula yang diperlukan
apa saja, sintesisnya bagaimana (menggunakan metode apa), dan reagen lain apa
saja, serta kondisinya bagaimana itu yang dilakukan oleh ahli sintesis. Terkait
dengan material pemula, bagaimana cara mendapatkannya dapat menggunakan
beberapa metode, salah satunya adalah dengan pendekatan diskoneksi atau sinton
(Soekardjo dan Bambang, 2008).
Diskoneksi adlaah pemotongan-pemotongan ikatan kimia molekul target
secara berseri sehingga diperoleh material pemula yang mungkin. Diskoneksi
disebut juga sintesis mundur atau retro-sintetik.Berikut adalah tanda dari
diskoneksi (Marham, 2008).

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 1


MODUL SINTESIS OBAT

Dalam diskoneksi ada yang disebut dengan sinton dan reagen.Sinton adalah
fragmen idealis, biasanya berupa kation/anion yang dihasilkan dari
diskoneksi.Sinton bisa merupakan senywa antara yang sesuai dengan reaksi.Selain
itu, sinton pada dasarnya tidak ada di pasaran sehingga harus membentuk reagen
yang mana terdapat di pasaran sehingga berikutnya kita bisa mensintesis senyawa
dari reagen yang bisa dibeli di pasaran.Reagen inilah yang disebut sebagai
material pemula, yaitu senyawa yang digunakan dalam reaksi sintesis sebagai
pengganti sinton.(Marham, 2008)

Berikut merupakan mekanisme diskoneksi:

Berdasarkan gambar di atas, terdapat suatu senyawa yang akan


didiskoneksi, bagian yang dipotong adalah bagian dengan ikatan yang lemah.
Ikatan yang lemah terdapat di antara fragmen yang kelebihan elekton (-) dan
fragmen yang kekurangan elektron (+).Reagen yang terbentuk tergantung dari
muatannya, jika sinton muatannya (+) maka reagennya harus berikatan dengan
gugus bermuatan (-), begitu pula sebaliknya (Marham, 2008).
Jadi, dasar dari diskoneksi adalah adanya ikatan yang lemah.Dalam
senyawa organik, ikatan kimia pada umumnya berupa ikatan kovalen.Ikatan

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 2


MODUL SINTESIS OBAT

kovalen terbentuk oleh pemakaian bersama pasangan elektron.Dalam suatu


senyawa, distribusi elektron tidak merata, ada atom dengan densitas elektron yang
lebih besar atau disebut memiliki keelektronegatifan lebih besar (delta negatif),
dan ada pula atom dengan densitas elektron yang lebih rendah, disebut memiliki
keelektronegatifan lebih rendah (delta positif).Seperti yang dijelaskan
sebalumnya, ikatan atom antara delta positif dengan negatif yang lemah ini
menjadi lebih mudah didiskoneksi.Berikut adalah contoh senyawa dengan lokasi
diskoneksi dan hasil sintonnya (Marham, 2008).

B. Tahapan perancangan sintesis organik terdiri dari analisis dan sintesis.


Pada tahap analisis, dilakukan pengenalan gugus fungsional yang ada pada
molekul target terkait dengan keelektronegatifannya, pengaruh pada sintesis, dan
penentuan diskoneksi (dilakukan secara langsung atau harus diubah dulu melalui
interkonversi gugus funsional (IGF)). Diskoneksi dilakukan sedemikian rupa

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 3


MODUL SINTESIS OBAT

sehingga dapat direaksikan kembali sesuai degan metode reaksi-reaksi kimia


organik yang dipercaya (reliabel). Ada pengalaman dari dosen, yaitu mendapatkan
suatu artikel jurnal yang menerangkan reaksi kimia tertentu, ketika sudah
mendapatkan material pengenalnya lalu berusaha mereaksikannya agar
mendapatkan molekul targetnya ternyata tidak berhasil, sehingga perlu hati-hati
dalam memilih literatur, pilihlah yang reliabilitasnnya tinggi, karena sintesis
bukanlah hal yang murah, membutuhkan biaya yang cukup besar dalam
mengadakan bahan-bahannya (Willis, 2004).
Dalam mengenal adanya gugus fungsi, perlu untuk mempertimbangkan
diskoneksinya, karena beberapa gugus fungsi dapat mempengaruhi
diskoneksi.Bisa jadi interkonversi gugus fungsional diperlukan.
Setelah dianalisis, perlu untuk menuliskan rencana sintesis sesuai dengan
hasil anlaisis, tambahkan reagen dan kondisi yang diperlukan.Tahap sintesis ini
bukanlah tahap yang mudah, jangan terlalu berharap molekul target langsung
dapat diperoleh, karena memang tahap sintesis ini memerlukan banyak
percobaan.Ubah rencana jika perlu, mengikuti kegagalan yang tidak diharapkan di
laboratorium.
Gugus fungsi seperti amina, alkohol (hidroksil), karbonil (aldehid, keton),
karboksilat, halida, nitro, sulfonil, alkil, dan aril dapat mempengaruhi
diskoneksi.Selain itu, turunan gugus fungsi seperti amida, imina, eter, dan ester
juga mempengaruhi.Oleh karena itu perlu dilakukan tahap interkonversi gugus
fungsi agar diperoleh material pemula yang diinginkan(Willis, 2004).
Berikut merupakan contoh interkonversi gugus fungsional:

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 4


MODUL SINTESIS OBAT

Pada molekul target p-amino-benzoat, tidak dapat didiskoneksi secara


langsung, karena kalau didiskoneksi, tidak akan bisa membentuk molekul yang
sama, seperti yang kita ketahui bahwa gugus COOH merupakan pengarah meta,
oleh karena itu perlu dikonversi menjadi CH3 agar dapat tetap mengarahkan ke
arah para, yang dapat dioksidasi sehingga tetap bisa mendapatkan gugus COOH
(Willis, 2004).
Pada molekul berikutnya target yang kedua, juga perlu dilakukan
interkonversi, karena sama juga, jika tidak maka tidak dapat kembali membentuk
seperti molekul target. Pada salah satu tahapannya ada proses yang disebut 1,1-
dix, itu merupakan suatu mekanisme reaksi yang tidak nyata, yang dipikirkan oleh
ahli kimia organik kemungkinan reaksi yang terjadi adalah seperti yang terdapat
dalam kurung siku ([]).
Oleh karena itu, dalam perancangan sintesis senyawa organik terdapat
pengetahuan yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan sintesi obat, di
antaranya:
1. Reaksi-reaksi kimia organik yang reliabel disertai dengan pemahaman mekanisme
reaksinya.
2. Mempunyai pengalaman melaksanakan reaksi kimia organik.
3. Mengetahui bahan-bahan yang ada di pasaran, sehingga lebih mudah dan lebih
cepat dalam melakukan diskoneksi.
4. Memahami stereokimia.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 5


MODUL SINTESIS OBAT

BAB II
PEMURNIAAN ZAT

A. Pengertian Pemurnian Zat


Pemurnian zat adalah proses pemisahan sejumlah zat dari
pencemarnya.Berdasarkan wujud dan sifatnya,pemurnian zat dapat dilakukan
dengan berbagai cara,yaitu rekristalisasi dan sublimasi untuk zat padat dan
destilasi untuk zat cair.Berbagai macam destilasiyang kita kenal adalah destilasi
sederhana,destilasi bertingkat,dan destilasi vakum.Masing-masing destilasi
memiliki kesepesipikan tersendiri.Destilasi sederhana dan bertingkat digunakan
untuk zat yang bercampur dengan sempurna dengan dasar teori hukum Raoult
(Sopyan, 1981).
B. Macam Macam Pemisahan dan Pemurnian
Berdasarkan sifatnya makan pemisahan dan pemurniaan campuran menjadi
unsur-unsur penyusunnya dapat dibedakan menjadi enam bagian (Wilbraham,
1992) yaitu:
1. Filtrasi (penyaringan), adalah pemisahan zat padat dari suatu larutan berdasarkan
ukuran partikelnya yang berbeda menggunakan kertas saring menggunakan kertas
saring yang sangat kecil. Kapur tulis akan tersaring diatas kertas saring
dikarenakan pertikel kapur tulis tidak dapat menembus pori-pori kertas saring,
karena partikel air lebih kecil dari pada pori-pori kertas saring tersebut.
2. Dekantasi (pengendapan), salah satu jenis reaksi umumnya berlangsung dalam
larutan berair adalah reaksi pengendapan yang cirinya adalah terbentuknya produk
yang tidak larut, atau endapan. Endapan adalah padatan tak larut yang terpisah
dari larutan. Reaksi pengendapan biasanya melibatkan sentawa-senyawa ionik.
3. Ekstraksi adalah pemisahan zat dengan berdasarkan kepolarannya dan massa
jenis. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larutan yang berada dari
komponen-komponen dalam campuran. Pemisahan ini berdasarkan jenis
larutannya atau kepolarannya, dan massa jenisnya. Campuran dua jenis cairan
yang tidak saling melarutkan dapat dipisahkan dengan corong pisah.
4. Sublimasi (penyubliman), peralihan secara langsung suatu zat, dari padat ke
gas/uap ( dapat juga kembali ke wujud padat lagi), atau dari gas/uap kepadat,

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 6


MODUL SINTESIS OBAT

tanpa melalui fase cair. Merupakan salah satu metode pemurnian untuk senyawa-
senyawa yang dapat menyublim (misalnya yodium, amonium, klorida,
arsenitrioksida, dan lain sebagainya). Dan jika padatan yang tersublimasi tersebut
bisa diembunkan lagi (rekondensasi) kalau sublimasi digunakan maksud-maksud
preparative,maka tekanan atmosfir 3 diatas senyawaa tersebut baru dikecilkan
dengan sebuah aspirator vakum. Ini mengakibatkan tekanan zaat itu menyapai
tekanan atm pada suhu yang lebih rendah. Pada kondisi ini kecil kemungkinan
terjadi dekomposisi jumlah senyawa yang dimurnikan pada tekanan normal
termasuk sedikit.
5. Kristalisasi, merupakan proses pemishan bahan padat berbentuk kristal dari suatu
larutan dengan cara menguapkan pelarutannya. Pada kristlisasi, larutan pekat
dididnginkan sehingga zat terlarut tidak cukup pekat maka dapat dipekatkan
terlebih dahulu dengan cara penguapan. Kemudian dilanjutkan dengan pendingin.
Melalui kristalisasi diperoleh zat padat yang lebih murni karena komponen larutan
lainnya yang kadarnya lebih kecil tidak ikut mengkristal.
6. Destilasi, merupakan cara pemisahan campuran yang didasarkan pada perbedaan
titik didih komponen-komponen penyususnnya. Prinsip kerja cara penyulingan ini
didasarkan pada perbedaan titik didih dari dua zat yang bercampur atau
partikelnya yangsatu mendidih atau menguap sedangkan yang lain tidak.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 7


MODUL SINTESIS OBAT

BAB III
STRATEGI RANCANGAN SINTESIS

A. Pengertian Rancangan Sintesis


Penemuan obat adalah sebuah usaha yang diarahkan pada suatu target
biologis, yang telah diketahui berperan penting dalam perkembangan penyakit
atau dimulai dari suatu molekul dengan aktivitas biologi yang menarik.Rancangan
Obat adalah usaha untuk mengembangkan obat yang telah ada, yang sudah
diketahui struktur molekul dan aktivitas biologisnya, atas dasar penalaran yang
sistematik dan rasional, dengan mengurangi faktor coba-coba seminimal mungkin
(Makmun, dkk, 2007).

B. Tujuan dari rancangan sintesis


Pada awalnya tujuan perancangan obat adalah mendapatkan obat baru dengan
aktivitas yang lebih baik dengan biaya yang layak secara ekonomi, kemudian
berkembang untuk mendapatkan obat dengan efek samping yang minimal (aman
digunakan), bekerja lebih selektif, masa kerja yang lebih lama, dan meningkatkan
kenyamanan pemakaian obat. Rancangan obat sering digambarkan sebagai proses
elaborasi sistematik untuk mengembangkan lebih lanjut obat yang sudah ada,
dengan tujuan mendapatkan obat baru dengan efek biologis yang diinginkan dan
mengurangi atau menghilangkan efek samping yang ada, melalui manipulasi
molekul (Makmun, dkk, 2007).

C. Langkah-langkah perancangan sintesis


1. Mencari senyawa penuntun (lead compound), yaitu senyawa yang digunakan
sebagai pangkal tolak modifikasi molekul. Senyawa penuntun adalah senyawa
yang dapat menimbulkan aktivitas biologis, seperti aksi terapeutik, aksi toksik,
regulasi fisiologis, hormon, dan feromon, serta senyawa yang terlibat atau
berpengaruh terhadap proses biokimia dan patologi pada hewan atau tumbuh-
tumbuhan.
2. Manipulasi molekul (modifikasi molekul atau modifikasi struktur), yaitu
mensintesis sejumlah turunan senyawa penuntun, melakukan identifikasi strukrtur

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 8


MODUL SINTESIS OBAT

dan menguji aktivitas biologisnya. Gugus atau substituen yang disubsitusikan


dapat dipilih dengan menggunakan metode Topliss, metode pencarian Fibonacci,
metode Rangkaian optimisasi simpleks atau Analisis klaster. Jumlah senyawa
yang disintesis tergantung dari metode yang digunakan (Makmun, dkk, 2007).
3. Merumuskan hubungan kuantitatif sementara antara strktur-aktivitas biologis dari
senyawa yang jumlahnya terbatas dengan menggunakan statistik analisis regresi.
Pada tahap ini umumnya digunakan model LFER Hansch (model
ekstratermodinamik) atau model de novo Free-Wilson. Parameter sifat kimia
fisika yang digunakan dalam HKSA model Hansch adalah parameter lipofilik
seperti log P, , f dan Rm, parameter elektronik, seperti pKa,, i, *, F, dan R,
serta parameter sterik, seperti MR, (P), Es, L, dan B1-B5.
4. Hasil analisis regresi kemudian dievaluasi dan merancang sejenisnya untuk
mengembangkan dan menyempurnakan hubungan tersebut. Peneliti harus sudah
yakin bahwa senyawa sejenis yang akan disintesis merupakan pilihan terbaik
secra hipotesis.
5. Merancang penggunaan bentuk sediaan obat yang sesuai.
6. Merancang aturan dosis yang sesuai
7. Evaluasi Klinik
Langkah ke 5, 6 dan 7 pada umumnya melibatkan bidang disiplin ilmu yang
lainseperti farmasetika, farmakologi, biokimia, toksikologi dan kedokteran.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 9


MODUL SINTESIS OBAT

BAB IV
BAHAN BAKU OBAT

A. Pengertian Bahan Baku Obat


Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui industri farmasi
Indonesia masih ketergantungan bahan baku obat dari luar negeri dengan 90%
impor. Bahkan, nilai impor pada 2014 lebih besar dari nilai ekspor 6,68% atau
total sebesar USD900 juta. Tahun 2013 nilai ekspor USD532 juta tumbuh 16,98%
dari 2012. Meskipun demikian farmasi masih dikuasai produk impor, nilai impor
lebih besar dari nilai ekspor (Anief, 2002).
Untuk mengurangi ketergantungan bahan baku obat, perlu ditumbuhkan
industri bahan baku obat di tanah air, dimana pemerintah perlu membuat
rencana strategis berupa roadmap pengembangan bahan baku obat di Indonesia
serta menetapkan starting point dan strategi yang harus ditempuh dalam
mewujudkan peningkatan kemandirian bahan baku obat di Indonesia (Anief,
2002).
Pemerintah harus memberikan insentif dan membuat kebijakan yang
kondusif bagi industri untuk mengembangkan bahan baku obat, serta
menciptakan berbagai skema pendanaan penelitian untuk mendorong
kolaborasi riset antara peneliti dan industri. Pada saat ini ada beberapa pendapat
untuk memasukan lembaga pembiayaan keuangan seperti bank, koperasi dan
lain lain sebagai salah satu stake holder penting dalam pengembangan industri
bahan baku obat.

B. Macam Bahan Baku Obat:


1. Bahan Baku Kimia adalah semua bahan/materi berupa unsur, senyawa tunggal,
dan/atau campuran yang berwujud padat, cair, atau gas.
2. Bahan Baku Obat Herbal adalah baku obat alami yang berasal dari sumber daya
alam biotik maupun abiotik. Sumber daya biotik meliputi jasad renik, flora dan
fauna serta biota laut, sedangkan sumber daya abiotik meliputi sumber daya
daratan, perairan dan angkasa dan mencakup kekayaan/ potensi yang ada di
dalamnya.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 10


MODUL SINTESIS OBAT

3. Bahan Baku Sediaan Biologik adalah bahan berupa vaksin, serta (anti sera) dan
bahan diagnostika biologik. Vaksin adalah sediaan biologik yang digunakan untuk
menimbulkan kekebalan terhadap satu penyakit hewan. Sedangkan Sera (anti
sera) adalah sediaan biologik berupa serum darah yang mengandung zat kebal
berasal dari hewan dipergunakan untuk mencegah, menyembuhkan atau
mendiagnosa penyakit pada hewan yang disebabkan oleh bakteri, virus atau jasad
renik lainnya dengan maksud untuk meniadakan daya toksinnya. Dan bahan
diagnostika biologik adalah sediaan biologik yang digunakan untuk mendiagnosa
suatu penyakit pada hewan.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 11


MODUL SINTESIS OBAT

BAB V
REAKSI PARUH NUKLEOFILIK dan ELEKTROFILIK

A. Latar belakang
Secara umum reaksi terjadi pada gugus yang reaktif dari suatu molekul
atau ion. Gugus yang dimaksud dibagi dalam dua kategori. Yang pertama, gugus
yang mengandung banyak elektron. Hal ini bisa disebabkan oleh:
(a) memiliki pasangan elektron bebas
(b) bermuatan parsial negatif pada ikatan polar
(c) memiliki electron phi
Gugus yang kaya elektron bersifat nukleofilik disebut nukleofil atau donor
elektron.Yang kedua:
(a) kemampuan menarik elektron
(b) bermuatan parsial positif pada ikatan polar.
Gugus yang kehilangan electron bersifat elekrofilik disebut elektrofil atau
akseptor electron (Fessenden, 1986).

B. Reaksi elektrofilik
Reaksi elektrofilik merupakan reaksi pergantian elektrofil.Elektrofil
merupakan kebalikan dari nukleofil.Elektrofil merupakan spesi yang tertarik pada
muatan negatif.Jadi elektrofil merupakan suatu asam Lewis.Pada umumnya reaksi
substitusi elektrofilik yang disubstitusi adalah H+ atau asam Lewis.Reaksi SE
dapat terjadi pada senyawa benzena atau benzena tersubstitusi. Contoh reaksi SE
benzena, meliputi: nitrasi, sulfonasi, halogenasi, alkilasi, asilasi, reaksi substitusi
elektrofilik substituen EDG benzena monosubstitusi, reaksi substitusi elektrofilik
substituen EWG benzena monosubstitusi dan reaksi substitusi elektrofilik benzena
disubstitusi (Fessenden, 1986).

C. Reaksi Nukleofilik
Reaksi nukleofilik terjadi apabila gugus yang mengganti merupakan pereaksi
nukleofil.Contoh reaksi substitusi nukleofilik adalah reaksi antara etanol dengan
asam bromida menghasilkan etil-bromida.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 12


MODUL SINTESIS OBAT

Reaksi Nukleofilik Suatu nukleofil (Z:) menyerang alkil halida pada atom
karbon hibrida-sp3 yang mengikathalogen (X), menyebabkan terusirnya halogen
oleh nukleofil. Halogen yang terusir disebut gugus pergi.Nukleofil harus
mengandung pasangan elektron bebas yang digunakan untuk membentuk ikatan
baru dengan karbon.Hal ini memungkinkan gugus pergi terlepas dengan
membawa pasangan elektron yang tadinya sebagai elektron ikatan. Ada dua
persamaan umum yang dapat dituliskan:

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 13


MODUL SINTESIS OBAT

BAB VI
APLIKASI DALAM SINTESIS ANTIBIOTIKA DAN VITAMIN

A. Teori umum
Bioteknologi adalah pemanfaatan mikroorganisme untuk memproduksi
produk-produk penting dan bermanfaat seperti protein dan enzim tertentu.
Rekayasa genetika pada hewan dan tanaman agar menghasilkan protein asing
tertentu dan juga senyawa kimia lainnya seperti vitamin juga termasuk dalam
penggunaan bioteknologi. Berikut adalah contoh-contoh penggunaan bioteknologi
di bidang biosintesis obat (Kayser, O., dan Muller, R.H., 2004).
Penggunaan bioteknologi di bidang industri obat dan makanan bukanlah hal
baru. Selama lebih dari 70 tahun, industri obat menggunakan mikroorganisme
untuk membantu prosesfermentasi, termasuk penggunaan ragi dan jamur lainnya.
Pemanfaatan bioteknologi dan genetika sangat berperan dalam menentukan sifat
karakteristik dan farmakokinetik obat sehingga dapat meningkatkan produksi obat
(Kayser, O., dan Muller, R.H., 2004).
Bakteri golongan Actinomycetes adalah jenis bakteri yang sering digunakan
dalam proses produksi obat selama bertahun-tahun. Dengan adanya data sekuens
genom yang lengkap dari mikroorganisme ini, maka dapat dipelajari jalur
metabolisme primer dan sekundernya. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk
membuat strain baru dimana jalur yang tidak diinginkan dapat dihilangkan dan
menambah jalur metabolisme yang diinginkan serta prekursor dan kofaktor
penting yang diperlukan agar bakteri tersebut dapat menghasilkan obat (antibiotik,
vitamin, antiviral, antikanker dan lain-lain) yang diinginkan.

B. Sintesis vitamin C
Vitamin C atau disebut juga asam L-askorbat sangat dibutuhkan oleh
manusia. Proses produksi konvensional akan membutuhkan serangkaian proses
reaksi kimia dan fermentasi yang panjang sehingga membutuhkan dana yang
besar. Berikut adalah tahapan sintesis vitamin C konvensional: tahap kimia,
didapatkanlah vitamin C (L-ascorbic acid). Dari penelitian-penelitian biokimia
mengenai lintasan-lintasan metabolit diketahui bahwa diperlukan beberapa

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 14


MODUL SINTESIS OBAT

mikroorganisme untuk mensintesis asam 2 keto-L-glukonat (2-KLG). Tiap


organisme membutuhkan kondisi optimumnya masing-masing.Disinilah peran
rekayasa genetika, yaitu dengan menghasilkan satu organisme yang telah
direkayasa sehingga dapat menghasilkan 2-KLG (Kayser, O., dan Muller, R.H.,
2004; Sudjadi, 2008).
Acetobacter, Gluconobacter dan Erwinia diketahui dapat mensintesis asam
2,5diketo-D-glukonat (2,5 DKG) dari D-glukosa. Corynebacterium,
Brevibacterium dan arthrobacter kemudian akan mensintesis 2-KLG dari 2,5-
DKG melalui enzim 2,5-DKG reduktase. Untuk mendapatkan satu organisme
yang dapat langsung mengubah D-Glukosa menjadi 2-KLG, maka gen penyandi
enzim 2,5DKG reduktase dari Corynebacterium diklon keErwinia herbicola
(Kayser, O, dan Muller, R.H, 2004; Sudjadi, 2008).
Kloning gen 2,5-DKG dari Corynebacterium sp. dimulai dengan pemurnian
enzim dan penetapan urutan asam amino dari ujung N. Dari data urutan asam
amino tersebut, kemudian dibuat probe dengan mempertimbangkan bahwa satu
asam amino dapat disandi D-glucoseD Sorbitol L-sorbose2 KLG (2-keto-gluconic
acid) L-ascorbiacid 66 oleh beberapa klon. Karena DNA Corynebacterium
mengandung 71% GC, maka pada probe sedapat mungkin dibuat basa ketiga dari
kodon adalah G dan C untuk mengurangi kemungkinan salah penempelan antara
DNA dan probe. Kemudian dilakukan isolasi dari klon yang membawa gen 2,5-
DKG reduktase dan ditetapkan urutan basanya. Bagian promotor dan signal
translasi diganti dengan sistem yang dapat berfungsi di E. Coli. Dengan demikian,
gen 2,5-DKG rekombinan akan terekspresi dalam E. Coli. Selanjutnya tinggal
melakukan sub-klon pada vektor yang tepatuntuk E.herbicola, maka didapatkan
sel Erwinia yang membawa plasmid rekombinan yang dapat mengubah D-glukosa
menjadi 2-KLG. Jadi, seperti yang dapat kita lihat pada keterangan diatas, dengan
rekayasa genetika, dua jalur metabolisme dapat digabung dalam satu organisme
dan menggantikan tiga langkah pertama dalam sintesis vitamin C (Kayser, O., dan
Muller, R.H., 2004; Sudjadi, 2008).

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 15


MODUL SINTESIS OBAT

C. Sintesis senyawa antibiotic


Bioteknologi juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi
antibiotika. Sebagai contoh, produksi antibiotika dariStreptomyces spp dilakukan
dengan proses fermentasi. Proses fermentasi menggunakan oksigen sehingga
lama-lama konsentrasi oksigen dalam media cair berkurangyang berakibat pada
penurunan pertumbuhan Streptomyces spp dan akhirnya produksi antibiotika yang
diperlukan jadi menurun. Dengan memanfaatkan bioteknologi, maka
digunakanlah Vitreoscilla sp, suatubakteri aerob yang dapat hidup dalam kondisi
sedikit oksigen. Bakteri ini dapat memproduksi suatu protein hemehomodimerik
yangberfungsi mirip dengan hemoglobin eukariot, yaitu dapat mengikat oksigen
dari medium kemudian menyalurkannya ke dalam sel.Gen yang menyandikan
protein heme tersebut di klon di Streptomyces.Dengan demikian, produksi
antibiotika dapat tetap berlangsung meski dalam kondisi minim oksigen (Kayser,
O., dan Muller, R.H., 2004; Sudjadi, 2008).
Penisilin adalah antibiotika pertama yang ditemukan secara tidak sengaja oleh
Alexander Fleming pada tahun 1928. Penisilin merupakan salah satu dari agen
anti mikroba yang paling aktif dan bersifat non-toksik. Penisilin G dapat
dihasilkan melalui enam rute biosintesis yang berbeda-beda. Penisilin dihasilkan
oleh kapang Penicillium. Sintesis antibiotika ini terjadi saat sel kapang
menghentikan pertumbuhannya, dan bukan pada saat sedang bertumbuh. Selain
itu, kapang asli Fleming, Penicillium notatumhanya tumbuh baik bila berada di
permukaan bejana. Hal ini tentu saja akan mengurangi produksi penisilin yang
ingin dihasilkan. Disinilah bioteknologi mulai berperan. Dengan meningkatkan
terjadinya mutasi pada mikroba ini, akhirnya didapatkan spesies serupa yang
dapat menghasilkan 67 penisilin dalam skala yang lebih besar. Hal ini karena
Penicillium chrysogenum, nama spesies tersebut, ternyata dapat tumbuh dengan
baik di bawah permukaan bejana, sehingga dapat menghasilkan penisilin dalam
jumlah yang lebih besar. Selanjutnya, Penicillium diketahui dapat memanfaatkan
gula sebagai sumber energi dan karbon. Glukosa dapat dikonsumsi dengan baik
sehingga kapang tumbuh dengan cepat, tetapi kapang tidak membuat banyak
penisilin. Laktosa sebaliknya, kurang dapat dicerna sehingga pertumbuhan kapang
lebih lambat, akan tetapi dapat menghasilkan lebih banyak penisilin. Prinsip inilah

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 16


MODUL SINTESIS OBAT

yang digunakan industri farmasi untuk memproduksi penisilin dalam skala besar
(Kayser, O., dan Muller, R.H., 2004; Sudjadi, 2008).
Penisilin dibuat dari glukosa, laktosa dan cairan rendaman jagung sebagai
media fermentasi dengan disertai penambahan mineral-mineral tertentu.
Pembuatan penisilin dilakukan dengan proses kelompok (bath). Sebelum proses
fermentasi dilakukan seleksistrainPenicillium chrysogenum pada media agar di
laboratorium, kemudian dilakukan perbanyakan pada tangki seeding. Media
fermentasi diumpankan ke dalam fermentol pada suasan asam (pH 5,5). Proses
fermentasi diawali dengan sterilisasi media fermentasi dengan steam bertekanan
sebesar 15 lb (120oC) selama setengah jam. Sterilisasi dilanjutkan dengan proses
pendinginan fermentol dengan air pendingin. Saat temperatur mencapai 75oF
(24oC), media ini diinokulasi pada kondisi aseptik dengan mengumpankan spora-
spora kapang.
Penicillium chrysogenum. Selamaproses fermentasi berlangsung dilakukan
pengadukan, sementara udara steril dihembuskan melalui sparger kedalam
fermentol. Proses fermentasi ini akan berlangsung secara batch terumpani selama
100-150 jam dengan tekanan operasi 5-15 psig. Temperatur operasi dijaga konstan
selama fermentasi penisilinberlangsung dengan cara mensirkulasikan air
pendingin melalui coil. Busa-busa yang terbentuk dapat diminimalkan dengan
penambahan agen anti-foam. Kapang aerobik dibiarkan tumbuh selama 5-6 hari
sampai gas CO2 mulai terbentuk.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 17


MODUL SINTESIS OBAT

BAB VII
RETROSINTESIS dan IGF

A. Pengertian Retrosintesis
Retrosintesis adalah proses pembelahan molekul target sintesis menuju ke
material start yang tersedia melalui serangkaian pemutusan ikatan (diskoneksi)
dan perubahan gugus fungsi atau interkonversi gugus fungsional
(IGF).Retrosintesis merupakan teknik pemecahan masalah untuk mengubah
struktur dari molekul target sintesis menjadi bahan-bahan yang lebih sederhana
melalui jalur yang berakhir pada suatu material start yang sesuai dan mudah
didapatkan untuk keperluan sintesis (Marham, 2008).
Dengan cara ini, struktur molekul yang akan disintesis ditentukan terlebih
dahulu yang dikenal sebagai molekul target (MT). Selanjutnya MT
dipecah/dipotong/diputus dengan seri diskoneksi. Diskoneksi merupakan operasi
balik suatu reaksi melalui suatu pembelahan yang dibayangkan dari suatu ikatan
agar memutus molekul ke dalam material start yang mungkin. Diskoneksi
seringkali tidak mudah dilaksanakan, tetapi ikatan yang diputuskan haruslah
berhubungan dengan reaksi-reaksi yang dipercaya serta metodenya dapat
dikerjakan di laboratorium. Dari hasil diskoneksi, akan didapatkan bahan awal
(Starting Material) atau sinton yang tersedia atau disediakan melalui suatu reaksi
Interkonversi Gugus Fungsi (IGF).

B. Macam-macam analisis retrosintetik


1. Analisis retrosintetik I
Dalam analisis retrosintesis, hal pertama yang dilakukan ialah melakukan
pemutusan (diskoneksi) ikatan, kemudian memberi muatan positif pada salah satu
ujung ikatan yang diputuskan dan muatan negatif pada fragmen yang
lain.Diskoneksi dinyatakan dengan garis bergelombang melintasi ikatan yang
akan diputus. Panah retrosintetik menyatakan alur mundur dari molekul target ke
sepasang fragmen bermuatan. Fragmen bermuatan tersebut disebut dengan
sinton.Pereaksi ekuivalen sinton dinyatakan dengan tanda garis datar tiga
(Marham, 2008).

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 18


MODUL SINTESIS OBAT

Secara teoritis diskoneksi ini dapat menghasilkan dua pasang fragmen


bayangan.Jika belum yakin dalam meletakkan muatan positif dan negative pada
kedua fragmen, maka sebaiknya tuliskan kedua pasang fragmen dengan muatan
yang berbeda.
Pada kasus ini, karena oksigen lebih bersifat elektronegatif daripada karbon, maka
tidaklah mudah mendapatkan pereaksi sederhana dari sinton pada jalur A.
sebaliknya pada jalur B, tersedia pereaksi Grignard. Oleh karena itu, dari analisis
ini tampak bahwa senyawa (1) dapat disintesis secara langsung melalui reaksi
sebagai berikut :
2. Analisis retrosintetik II
Analisis retrosintetik lain juga mungkin untuk senyawa (1) melibatkan diskoneksi
ikatan karbon-karbon :Pada proses ini juga terdapat dua pasang fragmen terionkan
yang mungkin, namun hanya jalur D yang terdapat pereaksi ekuivalen yang
sederhana, yaitu pereaksi Grignard dan aldehida. Jalur sintesisnya ditunjukkan
sebagai berikut :
3. Analisis Retrosintetik III
Pada retrosintetik kali ini dan berikutnya, tidak lagi dimunculkan dua pasang
sinton, namun tetap dipertimbangkan ketika memilih jalur yang tepat untuk
sintesis molekul target.Retrosintetik senyawa (1) dapat dinyatakan seperti gambar
di bawah ini, dengan pereaksi epoksida dan pereaksi Grignard.
4. Analisis Retrosintetik IV
Pendekatan berbeda untuk sintesis (1) dapat didasarkan pada pengetahuan bahwa
keton dapat dengan mudah direduksi menjadi alkohol sekunder dengan pereaksi
seperti natrium borohidrida atau litium aluminium hidrida. Interkonversi gugus
fungsi (IGF) adalah istilah yang digunakan dalam analisis retrosintetik untuk
menggambarkan proses mengubah (mengonversi) satu gugus fungsi ke gugus
fungsi lain, misalnya dengan oksidasi atau reduksi. Proses ini dinyatakan
menggunakan tanda dengan IGF diatasnya. Oleh karena itu bila alkohol (1)
diubah menjadi keton terlebih dahulu, maka pasangan sintonnya dapat ekuivalen
dengan adisi enolat dari asetofenon pada halida.Perlu diingat bahwa proton dari
gugus karbonil bersifat asam dapat ditarik oleh basa sehingga menghasilkan suatu
enolat.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 19


MODUL SINTESIS OBAT

5. Analisis Retrosintetik V
Analisis lebih lanjut untuk alkohol (1) melibatkan lagi interkonversi gugus fungsi
dari alkohol ke keton sebelum pemutusan ikatan karbon-karbon.Analisis ini
menghasilkan sinton yang bermuatan positif pada posisi terhadap karbonil dan
sinton nukleofil karbon.
6. Analisis Retrosintetik VI
Analisis retrosintetik ini juga memerlukan interkonversi gugus fungsi dari alkohol
ke keton diikuti IGF kedua untuk membentuk keton tak jenuh-,. Adisi litium
difenilkuprat pada dienon menghasilkan kerangka karbon yang diperlukan.

C. Interkonversi Gugus Fungsi


Tahapan analisis dilakukan pengenalan gugus fungsional yang dada pada
molekul target terkait dengan keelektronegatifannya, pengaruh pada
sintesis dan penentuan diskoneksi secara langsung atau harus diubah
terlebih dahulu memalui interkonversi gugus fungsi atau IGF. Diskoneksi
dilakukan dengan cara demikan supaya senyawa dapat direaksikan kembali
Sesuai dengan metode reaksi-reaksi kimia organik yang dipercaya. Untuk
mendapatkan hasil yang selektif kadang-kadang memerlukan pelindung gugus
(Stuart: 1995).

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 20


MODUL SINTESIS OBAT

BAB VIII
DISKONEKSI

A. Latar Belakang
Organik sintesis merupakan ilmu yang memudahkan kimiawan melakukan
peniltian dalam sintesis senyawa organik.Perkembangan ilmu ini disebabkan
pengetahuan struktur suatu senyawa menjadi terbuka setelah diperkenalkan cara-
cara mengidentifikan sisenyawa organic dan berkembangnya bahan lama yang
sangat pesat.Teori yang menunjang semakin berkembangnya organic sintesisa
dalam pendekatan diskoneksi (Marham, 2008).
Pendekatan diskoneksi adalah metode yang dapat memudahkan para
kimiawan alam merekayasa dan menentukan bahan dasar apa saja yang dapat
digunakan pada peneli-tian. Dalam makalah ini akan dibahas tentang metode
sintesis pendekatan deskoneksi dalam merancang proses sintesis dari suatu
senyawa organik. Tujuan penyusunan makalah ini da-pat membantu para
kimiawan pemula dalam memahami proses sintesis pendekatan diskoneksi
(Marham, 2008).

B. Pengertian Diskoneksi
1. Diskoneksi
Diskoneksi adalah pemotongan ikatan secara imaginer pemecah molekul yang
diharapkan lebih sederhana. Diskoneksi bias disebut kebalikan dari sintesis, jika
sintesis mereaksikan senyawa starting material menjadi suatu produk senyawa
baru. Proses dikoneksi dapat dilakukan beberapa tahap hingga mendapat senyawa
yang diinginkan.Apabila suatu senyawa kimia memiliki ikatan lebih dari satu
yang harus diputus, maka harus dipilih salah satu pertimbangan:
a. Sedapat mungkin di sekitar bagian tengah molekul sehingga didapatkan dua
molekul yang seimbang.
b. Sebaiknya pada titik cabang yang lebih memberikan fragmen berantai lurus untuk
meminimalkan gangguan sterik dalam reaksi.
c. Diskoneksi untuk senyawa-senyawa aromatic secara umum dilakukan pada gugus/
subtituennya.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 21


MODUL SINTESIS OBAT

d. Memilihr untutan reaksi juga harus didasarkan pada factor efisiensi dan
kelayan reaksi serat bahan baku yang digunakan.
e. Jika pada suatu senyawa aromatic terdapat dua gugus yang berbeda,
maka pemotongan ikatan berdasarkan pada reaktivitas relatifnya. Gugus
penarik elektron (deaktivasi) mendapat prioritas pertama dalam pemutusan
ikatan dan seterusnya.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 22


MODUL SINTESIS OBAT

BAB IX
SINTON

A. Pengertian sinton
Iskoneksi aromatik yang berguna lainnya adalah sinton. Sinton merupakan
fragmen ideal yang dapat atau tidak dapat terlibat dalam reaksi, tetapi yang
membantu untuk menentukan reagen-reagen yang sesuai untuk digunakan.
Reagen inilah yang disebut sebagai material pemula, yaitu senyawa yang
digunakan dalam reaksi sintesis sebagai pengganti sinton (Stuart: 1995).

B. Reaksi senyawa sinton

Senyawa sinton hasil pemecahan ini mungkin masih belum sederhana


ataubelum terdapat dalam laboratorium maupun belum diperdagangkan.Kalapun
ada,harganya sangat mahal, maka perlu diadakan pemecahan lebih lanjut
sehinggadidapatkan senyawa sinton yang lebih sederhana dan mudah didapat.
Karenarancangan atau pola analisis ini berdasarkan pemecahan senyawa besar

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 23


MODUL SINTESIS OBAT

menjadisenyawa sinton yang lebih kecil, maka cara analisis ini dikenal dengan
nama diskoneksi. Untukdapat mengadakan diskoneksi sehingga mendapatkan
bahan-bahan dasar yangtepat di atas, serta pereaksi yang tepat untuk katalisator,
diperlukan pendalamanmekanisme reaksi kimia, sehingga dalam sintesis senyawa
kimia atau obat, setelahdidapatkan bahan dasar atau senyawa sinton, perlu
diadakan penulisan kembalimekanisme reaksi pembentukan senyawa yang akan
disintesis, untuk mengetahuisuasana selama sintesis, reagen-reagen dan alat-alat
yang diperlukan (Stuart: 1995).

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 24


MODUL SINTESIS OBAT

BAB X
SINTESIS BAHAN OBAT BARBITURAT DAN FEROMON

A. Teori umum
Barbiturat selama beberapa saat telah digunakan secara ekstensif sebagai
hipnotik dan sedatif. Namun sekarang kecuali untuk beberapa penggunaan yang
spesifik, barbiturat telah banyak digantikan oleh benzodiazepin yang lebih aman
(Ganiswara, 1995).
Secara kimia, barbiturat merupakan derivat asam barbiturat. Asam barbiturat
(2,4,6-trioksoheksahidropirirmidin) merupakan hasil reaksi kondensasi antara urea
dengan asam malonat (Ganiswara, 1995).
Asam barbiturat sendiri tidak menyebabkan depresi SSP, efek hipnotik dan
sedatif serta efek lainnya ditimbulkan bila pada posisi 5 ada gugusan alkil atau aril
(Ganiswara, 1995).
Barbiturat bekerja pada seluruh SSP, walaupun pada setiap tempat tidak sama
kuatnya. Dosis nonanestesi teruatama menekan respons pasca sinaps.
Penghambatan hanya terjadi pada sinaps GABA-nergik. Walaupun demikian efek
yang terjadi mungkin tidak semuanya melalui GABA sebagai mediator
(Ganiswara, 1995).
Barbiturat memperlihatkan beberapa efek yang berbeda pada eksitasi dan
inhibisi transmisi sinaptik. Kapasitas barbiturat membantu kerja GABA sebagian
menyerupai kerja benzodiazepine, namun pada dosis yang lebih tinggi bersifat
sebagai aganis GABA-nergik, sehingga pada dosis tinggi barbiturat dapat
menimbulkan depresi SSP yang berat (Ganiswara, 1995).
Barbital-barbital semuanya bersifat lipofil, sukar larut dalam air tetapi mudah
larut dalam pelarut-pelarut non polar seperti minyak, kloroform dan sebagainya.
Sifat lipofil ini dimiliki oleh kebanyakan obat yang mampu menekan SSP.
Dengan meningkatnya sifat lipofil ini, misalnya dengan mengganti atom oksigen
pada atom C2 menjadi atom belerang, maka efek dan lama kerjanya dipercepat,
dan seringkali daya hipnotiknya diperkuat pula (Ganiswara, 1995).

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 25


MODUL SINTESIS OBAT

B. Penggolongan barbiturat disesuaikan dengan lama kerjanya


1. Barbiturat kerja panjang
Contohnya: Fenobarbital digunakan dalam pengobatan kejang
2. Barbiturat kerja singkat
Contohnya: Pentobarbital, Sekobarbital, dan Amobarbital yang efektif sebagai
sedatif dan hipnotik
3. Barbiturat kerja sangat singkat
Contohnya: Tiopental, yang digunakan untuk induksi intravena anestesia.

C. Turunan barbiturat
1. Reaksi umum
a. Zat uji pada drupple plate + alkohol hingga larut + 2-3 tetes reagen Parri + 1 tetes
amonia pekat warna ungu
2. Fenobarbital (luminal)
a. Zat uji pada drupple plate + alkohol hingga larut + 2-3 tetes reagen Parri + 1 tetes
amonia pekat warna ungu kebiruan
b. Zat uji + 2 tetes alkohol + 2 tetes reagen Zwikker B panaskan terbentuk
kristal ungu amati di bawah mikroskop
c. Zat uji + 2 tetes NaOH jika perlu panaskan untuk melarutkan + HCl encer
amati kristal di bawah mikroskop
d. 200 mg zat uji + 10 ml NaOH didihkan gas yang membirukan lakmus
merah
e. Zat uji + 1 ml H2SO4 pekat panaskan perlahan setelah dingin + NaNO2
arang (bandingkan dengan barbital)
f. Zat uji + 5 ml air + beberapa tetes NaOH + 1 ml asam sitrat endapan putih
(bandingkan dengan barbital)
3. Barbital (veronal)
a. Zat uji pada drupple plate + alkohol hingga larut + 2-3 tetes reagen Parri + 1 tetes
amonia pekat warna ungu tua
b. Zat uji + 2 tetes alkohol + 2 tetes reagen Zwikker B panaskan terbentuk
kristal ungu amati di bawah mikroskop

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 26


MODUL SINTESIS OBAT

c. Zat uji + 2 tetes NaOH jika perlu panaskan untuk melarutkan + HCl encer
amati kristal di bawah mikroskop
d. 200 mg zat uji + 10 ml NaOH didihkan gas yang membirukan lakmus
merah
e. Zat uji + 1 ml H2SO4 pekat panaskan perlahan setelah dingin + NaN

D. Sejarah feromon
Feromon, berasal dari bahasa Yunani phero yang artinya pembawa dan
mone sensasi. Feromon merupakan sejenis zat kimia yang berfungsi untuk
merangsang dan memiliki daya pikat seks pada hewan jantan maupun betina. Zat
ini berasal dari kelenjar eksokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk
mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses
reproduksi. Berbeda dengan hormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan hanya
dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies)
(Baysinger,2004).
Ketika pertama kali ditemukan pada serangga, feromon banyak dikaitkan
dengan fungsi reproduksi serangga. Penemu zat feromon pertama kalinya pada
hewan (serangga) adalah Jean-Henri Fabre, ketika pada satu musim semi tahun
1870 an pengamatannya pada ngengat Great peacock betina keluar dari
kepompongnya dan diletakkan di kandang kawat di meja studinya untuk beberapa
lama menemukan bahwa pada pada malam harinya lusinan ngengat jantan
berkumpul merubung kandang kawat di meja studinya. Fabre menghabiskan
tahun-tahun berikutnya mempelajari bagaimana ngengat-ngengat jantan
menemukan betina-betinanya.anhidrida asetat dengan bantuan sedikit asam
sulfat pekat sebagai katalisator (Baysinger,2004).
Fabre sampai pada kesimpulan jika ngengat betina menghasilkan zat kimia
tertentu yang baunya menarik ngengat-ngengat jantan.

E. Manfaat dan fungsi bagi organisme


Berdasarkan fungsinya ada dua kelompok feromon yaitu:
a. Feromon releaser, yang memberikan pengaruh langsung terhadap sistem syaraf
pusat individu penerima untuk menghasilkan respon tingkah laku dengan segera.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 27


MODUL SINTESIS OBAT

Feromon ini terdiri atas tiga jenis, yaitu feromon seks, feromon jejak, dan feromon
alarm.
b. Feromon primer, yang berpengaruh terhadap system syaraf endokrin dan
reproduksi individu penerima sehingga menyebabkan perubahan-perubahan
fisiologis
Menurut Sutrisno (2008), feromon dapat dibedakan menjadi beberapa jenis,
diantaranya:
a. Feromon jejak
Merupakan feromon yang digunakan untuk menunjukan arah kelompok/koloni
suatu serangga. Contohnya pada semut,pada semut ini digunakan feromon sebagai
penunjuk jejak.
b. Feromon alarm
Merupakan feromon yang dipergunakan untuk memperingatkan serangga terhadap
bahaya yang datang, apakah itu predator atau bahaya lainnya.Tanggapannya dapat
berupa membubarkan diri atau membentuk pertahanan koloni.Beberapa anggota
familia Hemiptera dan serangga sosial menggunakan feromon ini untuk
menghadapi bahaya.Bahan feromon ini pada afid misalnya, dikeluarkan melalui
kornikulanya, yang mengandung bahan feromon alarm umumnya farnesen, dan
menyebabkan afid yang berada di sekitarnya menjatuhkan diri, menjauh atau
meloncat pergi.
Wilson dan Bosert, ahli serangga sosial terutama semut, menduga bahwa bahan
feromon alarm harus menghasilkan penanda yang bersifat lokal, jelas dan
pendek/singkat. Feromon harus menyebar dengan cepat untuk dapat
mengkoordinir terbentuknya pertahanan koloni dan harus segera lenyap agar tidak
memunculkan tanda bahaya yang keliru.Agar dapat dilacak dengan mudah, ruang
aktifnya harus sempit.Pada semut misalnya, feromon ini bahan utamanya adalah
senyawa 4-metil-3-heptanon dan dikeluarkan melalui kelenjar mandibula. Jika
kepala seekor semut pekerja dihancurkan, isi kelenjar mandibulanya akan
menyebar mencapai radius ruang aktif sekitar 6 cm dalam 13 detik, dan jika
dibiarkan meluas, dalam 35 detik ruang aktif ini akan hilang. Semut pekerja lain
yang mendeteksi feromon ini oleh karenanya akan menambahkan feromonnya
sendiri sehingga keberadaan ruang aktifnya dapat bertahan lebih lama. Feromon

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 28


MODUL SINTESIS OBAT

alarm bersifat sangat volatil, dan kebanyakan memiliki berat molekul rendah,
dengan rantai karbon 12 atau kurang. Senyawa dari kelenjar mandibula umumnya
mengandung gugus keton atau aldehid, sedang yang berasal dari kelenjar Dufour
(di dekat sengat) berupa hidrokarbon. Banyak di antaranya yang toksik dan
rasanya tak enak, sehingga sekaligus juga berfungsi sebagai senyawa pertahanan
diri.
Peneliti dari Inggris (Bradshaw, Baker dan Howse) menunjukkan bahwa
sedikitnya terdapat 33 jenis senyawa volatil jika kepala seekor semut pekerja
dihancurkan.Dari jumlah itu ada empat jenis senyawa yang merupakan feromon
alarm, dan masing memiliki volatilitas yang berbeda, mulai dari heksanal (yang
sangat volatil) sampai 2-butil-2-oktenal (yang kurang volatil).Mekanisme
kerjanya dapat digambarkan dengan suatu lingkaran konsentris, yang pada bagian
tengahnya merupakan tempat melepas feromon. Dalam kondisi tak ada angin,
bahan volatil feromon akan berdifusi ke segala arah dengan kecepatan yang
berbeda karena volatilitasnya berbeda. Dalam waktu singkat heksenal akan
menempati ruang aktif terbesar, atau lingkaran konsentris terluar. Bila ada
serangga memasuki wilayah ini, muncul perilaku khas karena memperoleh
"peringatan". Begitu serangga menuju ke lingkaran berikutnya (heksanol),
serangga pekerja akan terpikat ke arah sumber feromon. Pada wilayah terdalam,
terdapat 2-butil-2-oktenal sebagai penanda perilaku menggigit, dan 3-undekanon
sebagai penunjuk orientasi arah jarak pendek. Setelah bahan feromon menguap,
maka pengaruh heksanal dan heksanol tidak ada lagi, tetapi pekerja yang sufdah
berada di tengah akan menunjukkan perilaku agresif, menggigit. Jadi feromon
alarm sebenarnya akan mengawali munculnya serangkaian perilaku yang polanya
sudah tertentu.
c. Feromon agregasi
Feromon agregasi adalah feromon yang diperlukan untuk mengumpulkan anggota
koloni atau pun individu dan mempengaruhi perilakunya sebagai suatu
individu.Kegunaan feromon ini berkisar dari penunjang perilaku makan, mating,
berlindung, oviposisi, sampai ke perilaku yang belum terdeteksi secara jelas.Ada
yang berhubungan dengan musim (hibernasi), berhubungan dengan amplitudo
harian (agregasi istirahat), berhubungan dengan stadia pertumbuhan (larva yang

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 29


MODUL SINTESIS OBAT

bersifat gregarius) dan perilaku mengumpul lainnya. Setelah sumberdaya yang


sementara atau terbatas habis, maka agregasi akan terhenti dengan sendirinya.
Feromon agregasi tersebar penggunaannya pada berbagai ordo seperti misalnya
Orthoptera, Homoptera, Hemiptera, Coleoptera dan Hymenoptera.Familia yang
paling banyak dipelajari adalah Scolytidae, Coleoptera; terutama pada kumbang
kulit kayu; seperti genus Dendrocnotus dan Ips.Yang menarik, hampir semua
feromon agregasi kumbang kulit kayu adalah monoterpen yang secara rumus
bangun mirip dengan jenis yang dihasilkan oleh pohon inangnya.Reaksi agregasi
merupakan tanggapan terhadap campuran molekul serupa yang saling menunjang
efektivitas masing-masing.Komponen molekul serupa semacam itu membentuk
suatu kerja kimia yang disebut sinergistik. Masing-masing senyawa sinergis
mungkin cukup efektif sebagai molekul tunggal, tetapi lebih efektif jika bahan
tersebut bercampur, jauh lebih efektif dibanding sekadar jumlah total efektivitas
masing-masing.
d. Feromon penanda wilayah dan penunjuk jalan.
e. Feromon seks

F. Proses Sintesis Diorganisme Asalnya


Kebanyakan komponen feromon ngengat merupakan rantai kabon bernomor
C 10-C18 berantai lurus, tak jenuh dan turunan dari asam lemak, dengan karbon
karbonil dimodifikasi untuk membentuk kelompok fungsional yang mengandung-
oksigen (alkohol, aldehida, atau ester asetat) .Asam lemak jenuh diproduksi de
novo dan dikonversi menjadi asil-KoA tioester mereka sebelum dimasukkan ke
glycerolipids atau diubah ke feromon. Feromon produksi di PG dirangsang oleh
Feromon Biosintesis Mengaktifkan neuropeptide (PBAN) yang dilepaskan dari
ganglion suboesophagal di otak ke hemolymph, setelah itu mengikat ke reseptor
PBAN dalam membran kelenjar karboksilase Asetil-CoA (ACCase).Enzim ini
mengkatalisis carboxylation ATP-tergantung dari asetil-KoA untuk malonyl-KoA
pada langkah membatasi laju biosintesis asam lemak rantai panjang.
Malonyl-CoA, asetil-KoA, dan NADPH digunakan dalam sintesis asam
lemak oleh enzim multifungsi Fatty Acid Synthase (FAS)lemak KoA prekursor
feromon dapat dikurangi dengan alkohol yang sesuai oleh dehidrogenase yaitu

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 30


MODUL SINTESIS OBAT

menghasilkan alkohol-Fatty Asil Reduktase (FAR) dan kemudian dioksidasi


menjadi aldehid yang sesuai oleh alkohol oksidase.Atau, asil lemak KoA dapat
dikurangi secara langsung ke aldehida oleh Fars aldehida .Apakah reductases
aldehida pertama menghasilkan aldehida yang kemudian diubah menjadi alkohol,
atau sebaliknya, sangat sulit untuk membuktikan, karena reductases aldehid juga
dapat mengkatalisis reduksi dari aldehid lemak terhadap alkohol, sehingga alkohol
dan tidak aldehida adalah produk utama .Reaksi terbalik dikatalisis melalui
oksidase alkohol, dan kedua enzim lebih umum digambarkan sebagai
dehydrogenases alkohol. Nama sistematis dari kelompok enzim adalah alkohol:
NADP + oksidoreduktase, oksidasi alkohol menggunakan NAPD + (alkohol +
NADP (+) <=>aldehida + NADPH). Beberapa enzim di grup ini hanya
mengoksidasi alkohol primer, sementara yang lain bertindak juga pada alkohol
sekunder.
Sintesis fosfolipid dapat terjadi de novo atau melalui renovasi dari fosfolipid
yang ada, dan biosintesis trigliserida (suatu bentuk penyimpanan energi di dalam
sel) adalah produk akhir dari jalur tersebut .Dalam anggota hewan dari asil-sn-
glisero-3-fosfat acyltransferase telah ditunjukkan untuk mentransfer lemak tak
jenuh gugus asil.Beberapa AGPATs mengasilasi asam lysophosphatidic (LPA)
pada posisi-2 karbon untuk menghasilkan asam phosphatidic (PA). Enzim yang
terlibat dalam sintesis fosfolipid dan trigliserida melalui proses evolusi yang
melibatkan dilestarikan asilasi seri dari gliserol-3-fosfat (+ Asil-CoA 1-asil-sn-
gliserol 3-fosfat <=> CoA + sn 1,2-diacyl- -gliserol 3phosphat.Esterases adalah
hidrolisis, dan hidrolisis ester terjadi selama sintesis feromon dan degradasi

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 31


MODUL SINTESIS OBAT

BAB XI
SINTESIS BAHAN OBAT SAKARIN DAN SULFA

A. Pengertian Sakarin
Sakarin yang dikenal antara lain dengan nama 0--sulfon-benzoic imide
pertama kali ditemukan oleh Remsen pada tahun 1879. Sakarin adalah zat
pemanis buatan yang dibuat dari garam natrium dari asam sakarin terbentuk
bubuk putih, tidak berbau dan sangat manis. Pemanis buatan ini mempunyai
tingkat kemanisan 550 kali gula biuasa. Oleh karena itu angat popular dipakai
sebagai bahan pengganti gula (Asnawir, 2006)
Dalam perdagangan dikenal dengan nama Gucide, Glucid, Garantose,
Saccharimol, Saccharol, dan Sykosa. Harga sakarin paling murah dibanding
dengan pemanis buatan lainnya.Sakarin dapat menghemat biaya produksi.Harga
pemanis buatan jauh lebih murah dibandingkan dengan gula asli. Pemanis buatan
hanya sedikit ditambahkan untuk memperoleh rasa manis yang kuat.
Tak dapat diragukan bahwa sebagian besar orang manis merupakan suatu
rasa yang mempunyai daya tarik sendiri. Selanjutnya daya tarik yang manis
ituakan terus meningkat, seperti ungkapan umumlebih manis, lebih menarik.
Kecenderungan inipun untuk seorang anak bahkan orang dewasa sekalipun dapat
merupaka kecanduan, artinya kecanduan makanan yang manis akan terus
bertambah, jika tidak kita sendiri yang membatasinya. Hal ini terutama jika sejak
bayi, makanan tambahan yang dikenal pertama telah diberi bahan pemanis.
Sejauh ini, bahan pemanis utama yang digunakan manusia adalah gula,
kemudian selanjutnya berkembang bahan-bahan pemanis buatan selain
gula.Dengan bahan pemanis ini banayk orang yang menggunakannya sebagai
hadiah bagi anak-anak utnuk suatu prestasi tertentu atau sebagai ungkapan rasa
cinta.Hal ini selanjutnya dimanfaatkan oleh para industriawan yang khususnya
bergerak dalam bidang makanan bergula (convectionery) seperti permen, cokelat,
minuman, dan kue-kue.Mereka menghubungkan segi iklan (promosinya) antara
kemanisan dengan cinta, keberuntungan, pengertian, kemudahan dan berbagai
daya tarik yang menyebabkan kita lebih terpikat dengan produk-produk berkadar
gula tinggi tersebut (Asnawir, 2006).

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 32


MODUL SINTESIS OBAT

Bahan pemanis buatan adalah bahan pemanis yang dihasilkan melalui reaksi-
reaksi kimia organik di laboratorium atau dalam skala industri, boleh juga
dikatakan diperoleh secara sintesis dan tidak ,menghasilkan kalori seperti halnya
bahan pengganti gula. Kebanyakan bahan pemanis itu campuran dari sakarin dan
siklamat.Organisasi Pangan Dunia (WHO) telah menetapkan batas-batas yang
disebut ADI werte (kebutuhan per orang tiap harinya), yaitu sejumlkah yang dapt
dikonsumsi tanpa menimbulkan resiko.Nilai ini untuk orang dewasa tidak terlalu
banyak berarti, tetapi bagi anak-anak relative menimbulkan kepekaan yang besar.
Untuk sakarin batas tersebut adalah 5 mg per berat badan, adapun untuk siklamat
11 mg per kg berat badan, artinya jika 1 tablet mengandung 16,5 mg sakarin atau
70 mg siklamat, maka untuk seorang yang berberat badan 70 kg jumlah yang
disarankan untuk dikonsumsi per hari tidak lebih dari 21 tablet sakarin atau 11
tablet siklamat.
Telah diketahui tubuh manusia atau hewan terdiri dari alat tubuh dan jaringan.
Alat tubuh atau jaringan tersebut tersusun dari unit-unit yang sangat kecil, yang
disebut sel. Sel-sel ini mempunyai fungsi yang berlainan, akan tetapi mereka
memperbanyak jumlahnya dengan cara pembelahan yang sama. Dalam keadaaan
normal, proses pembelahan itu diatur sedemikian rupa sehingga jumlah sel tubuh
yang dibentuk adalah sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan untuk menggantikan
sel-sel yang sudah usang atau mati, agar bentuk alat tubuh atau jaringan tersebut
tetap tersusun dalam proporsi yang seimbang dan serasi. Bilaman proses
pembelahan sel itu menyimpang dan tidak dapat dikendalikan, akan menimbulkan
pertumbuhan yang abnormal. Pertumbuhan abnormal tersebut disebut neoplasia
atau tumbuh ganda. Penyebab atau factor-faktor penyelewengan proses
pembelahan sel itu banayk macamnya, diantaranya yang sekarang sering
diperbiuncangkan ialah yang disebabkan oleh bahan-bahan bersifat kimia dan
mikotoksi (Asnawir, 2006).

B. Struktur Kimia dan Rasa


Perubahan yang kecil dalam struktur kimia dapat merubah rasa dari senyawa
tersebut, misalnya rasa manis menjadi pahit atau hambar. Contoh: efek substitusi
dari sakarin (sakarin 500 kali lebih manis dari gula), penambahan gugus nitro

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 33


MODUL SINTESIS OBAT

pada posisi meta akan membuat senyawa menjadi sangat pahit, substitusi gugus
metal pada amino menghasilkan senyawa yang hambar, sedangkan sakarin dalam
konsentrasi yang tinggi cenderung memberikan rasa pahit.

C. Bahaya Penggunaan Sakarin yang Berlebihan


Pemanis buatan banyak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia
diantaranya. Yaitu: migrain dan sakit kepala, kehilangan daya ingat, bingung,
insomnia, iritasi, asma, hipertensi, diare, sakit perut, alergi, impotensi dan
gangguan seksual, kebotakan, kanker otak, dan kanker kantung kemih.
Tikus-tikus percobaan yang diberi makan 5% sakarin selama lebih dari 2
tahun, menunjukkan kanker mukosa kandung kemih (dosisnya kira-kira setara 175
gram sakarin sehari untuk orang dewasa seumur hidup). Sekalipun hasil penelitian
ini masih kontroversial, namun kebanyakan para epidemiolog dan peneliti
berpendapat, sakarin memang meningkatkan derajat kejadian kanker kandung
kemih pada manusia kira-kira 60% lebih tinggi pada para pemakai, khususnya
pada kaum laki-laki. Oleh karena itu Food and Drug Administation (FDA), AS
menganjurkan untuk membatasi penggunaan sakarin hanya bagi para penderita
kencing manis dan obesitas. Dosisnya agar tidak melampaui 1 gram setiap
harinya.
Mekanisme Kerja Suatu senyawa untuk dapat digunakan sebagai
pemanis,kecuali berasa manis, harus memenuhi beberapa kriteria tertentu, seperti:
a. larut dan stabil dalam kisaran pH yang luas
b. stabil pada kisaran suhu yang luas
c. Mempunyai rasa manis dan tidak mempunyai side atau after-taste
d. murah, setidak-tidaknya tidak melebihi harga gula.
Senyawa yang mempunyai rasa manis strukturnya sangat beragam. Meskipun
demikian, senyawa-senyawa tersebut mempunyai feature yang mirip, yaitu
memiliki sistem donor/akseptor proton (sistem AHs/Bs) yang cocok dengan
sistem reseptor (AHrBr) pada indera perasa manusia.
Sakarin, yang merupakan pemanis tertua, termasuk pemanis yang sangat
penting perannya dan biasanya dijual dalam bentuk garam Na atau Ca. Tingkat
kemanisan sakarin adalah 300 kali lebih manis daripada gula. Karena tidak

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 34


MODUL SINTESIS OBAT

mempunyai nilai kalori, sakarin sangat populer digunakan sebagai pemanis


makanan diet, baik bagi penderita diabetes maupun untuk pasien lain dengan diet
rendah kalori. Pada konsentrasi yang tinggi, sakarin mempunyai after-taste yang
pahit.Meskipun hasil pengujian pada hewan percobaan menunjukkan
kecenderungan bahwa sakarin menimbulkan efek karsinogenik, tetapi hal ini
belum dapat dibuktikan pada manusia.Oleh karena itu, sakarin sampai saat ini
masih diijinkan penggunaannya di hampir semua negara.

D. Sulfa
1. Tata nama
1) Nama umum : sulfonamid
2) Turunan para aminobenzensulfonamid/ sulfonamida
Gugus fungsi sulfonamida dituliskan -S(=O)2-NH2, sebuah gugus sulfonat yang
berikatan dengan amina. Senyawa sulfonamida adalah senyawa yang mengandung
gugus tersebut. Beberapa sulfonamida dimungkinkan diturunkan dari asam
sulfonat dengan menggantikan gugus hidroksil dengan gugus amina (Sudarwan,
2008)
2. Klasifikasi
1) Berdasarkan lamanya masa kerja
2) Berdasarkan masa kerjanya sulfonamida sistemik dibagi menjadi 3 kelompok
yaitu sulfonamida dengan masa kerja pendek, sulfonamida dengan masa kerja
sedang, sulfonamida dengan masa kerja panjang.
a. Sulfonamida dengan masa kerja pendek; Waktu paruh lebih kecil dari 10 jam.
Contoh: sulfetidol, sulfamerazin, sulfametazin, sulfatiazol, sulfasomidin dan
sulfaksasol.
b. Saulfonamida dengan masa kerja sedang; waktu paroh 10 24 jam
Contoh: sulfadiazin, sulfametoksasol dan sulfafenazo
c. Sulfonamida dengan masa kerja panjang; waktu paroh lebih besar 24 jam
Contoh: sulfadoksin, sulfalen, sulfametoksipiridazin dan sulfametoksidiazin.
3) Berdasarkan kecepatan absorpsi dan ekskresinya, sulfonamid dibagi dalam empat
golongan besar:
a. Sulfonamid dengan ekskresi cepat, antara lain sulfadiazin dan sulfisoksazol

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 35


MODUL SINTESIS OBAT

b. Sulfonamid yang hanya diabsorpsi sedikit bila diberikan per oral dan karena itu
kerjanya dalam lumen usus, antara lain sulfasalazin
c. Sulfonamid yang terutama digunakan untuk pembrian topikal, antara lain
sulfasetamid, mafenid, dan Ag-sulfadiazin
d. Sulfonamid dengan masa kerja panjang,seperti sulfadoksin, absorpsinya cepat dan
ekskresinya lambat.

E. Golongan Sulfonilamid
Sulfonamida dapat dibagi menjadi dua kelompok, Antibiotik dan Non Antibiotik.
1. Antibiotik, contoh :
a. sulfamethoxazole
b. sulfisoxazole
c. Sulfacetamide
2. Golongan sulfonilamid non antibiotik, contoh:
a. Clortiazid
b. Furosemid
c. Celecoxib

F. Turunan sulfonilamid
1. Rumus umum
a. Zat uji pada drupple plate + 1-2 tetes DAB HCl amati warna yang terjadi,
amati pula kristalnya di bawah mikroskop ( bandingkan tiap-tiap sulfa)
b. Zat uji pada tabung reaksi + NaOH kelebihan alkali netralkan dengan HCl +
CuSO4 gojog amati warna yang terjadi ( bandingkan tiap-tiap sulfa)
c. Zat uji pada drupple plate + larutan jenuh KBrO3 + 1-2 tetes H2SO4 pekat
amati warna yang terjadi (bandingkan tiap-tiap sulfa)
d. Reaksi kristal dengan aseton-air amati di bawah mikroskop (bandingkan sulfa
lain)
2. Sulfaguanidin
a. Zat uji + DAB HCl warna orange, ada kristal agak putih
b. Zat uji + reagen Parri warna hijau biru
c. Zat uji + Cu asetat + aseton warna biru muda

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 36


MODUL SINTESIS OBAT

d. Reaksi kuprifil warna biru muda


e. Zat uji + H2SO4 + KCl warna orange yang lama-lama hilang
f. Zat uji + 5 ml NaOH didihkan untuk melarutkan bau amonia
g. Reaksi kristal dengan aseton-air amati di bawah mikroskop (bandingkan sulfa
lain)
h. Zat uji + 1-2 tetes benzaldehide amati kristal di bawah mikroskop
3. Sulfadiazin
a. Zat uji + DAB HCl warna kuning lama-lama orange
b. Zat uji + reagen Parri warna hijau ungu
c. Zat uji + Cu asetat + aseton warna violet hitam
d. Zat uji + 10 ml akuades + 1 ml NaOH 0,1N + 0,5 ml CuSO4 endapan hijau
zaitun diamkan kelabu ungu
e. Reaksi kristal dengan aseton-air amati di bawah mikroskop
f. Zat uji + NaOH + HCl hingga netral + beberapa tetes CuSO4 amati warna dan
endapan
4. Sulfamerazin
a. Zat uji + DAB HCl warna kuning lama-lama orange merah
b. Zat uji + reagen Parri warna ungu
c. Zat uji + Cu asetat + aseton warna coklat hitam
d. Zat uji + 10 ml akuades + 1 ml NaOH 0,1N + 0,5 ml CuSO4 endapan hijau
zaitun diamkan kelabu tua
e. Reaksi kristal dengan aseton-air amati di bawah mikroskop
5. Sulfamezatin
a. Zat uji + DAB HCl warna ungu lama-lama orange muda
b. Zat uji + reagen Parri warna ungu
c. Zat uji + Cu asetat + aseton warna hijau lama-lama coklat
d. Zat uji + 10 ml akuades + 1 ml NaOH 0,1N + 0,5 ml CuSO4 endapan hijau
zaitun diamkan kelabu tua
e. Reaksi kristal dengan aseton-air amati di bawah mikroskop
6. Sulfacetamid
a. Zat uji + alkohol + beberapa tetes H2SO4 pekat panaskan bau etil asetat
pada pengenceran dengan air

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 37


MODUL SINTESIS OBAT

b. Zat uji + 10 ml akuades + 1 ml NaOH 0,1N + 0,5 ml CuSO4 endapan biru


kemerahan
7. Sulfatiazol
a. Zat uji + 10 ml akuades + 1 ml NaOH 0,1N + 0,5 ml CuSO4 endapan biru hijau
b. Reaksi kristal dengan aseton-air amati di bawah mikroskop
8. Ptalil Sulfatiazol
a. Zat uji + DAB HCl warna kuning
b. Zat uji + reagen Parri warna ungu merah
c. Zat uji + 10 ml akuades + 1 ml NaOH 0,1N + 0,5 ml CuSO4 endapan biru hijau
d. Reaksi kristal dengan aseton-air amati di bawah mikroskop

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 38


MODUL SINTESIS OBAT

BAB XII
SINTESIS BAHAN OBAT METIL SALISILAT dan ASPIRIN

A. Pengertian metil salisilat


Metil salisilat adalah cairan dengan bau khas yang diperoleh dari daun dan
akar tumbuhan wangi. Zat ini juga dibuat dengan sintesis. Khasiat analgetisnya
pada penggunaan lokal sama dengan salisilat salisilat lainnya. Metilsalisilat
diresorpso dengan kulit dan banyak digunakan dalam obat gosok dan krem (3 10
%) untuk nyeri otot, sendi, dan lain lain. Penggunaan oral sebanyak 30 ml sudah
bisa fatal, terutama untuk anak anak yang sangat peka untuknya (Tjay, 2002).
Metil salisilat termasuk senyawa ester yang dapat dibuat secara sintesis
dengan jalan mereaksikan suatu senyawa asam karbiksilat dengan alkohol dalam
suasana asam (Underwood, 1997).

B. Reaksi esterifikasi
Proses reaksi esterifikasi diatas dikenal dengan nama esterifikasi fisenar. Dari
proses tersebut diperoleh hasil sampingan yaitu H2O untuk mengetahui dari mana
H2O tersebut digunakan metode yang dikenal labeling isotop, ternyata air yang
terbentuk bukan berasal dari asam tetapi dari gugus OH milik asam (Underwood,
1997).
Ester pada umumnya mempunyai aroma yang berbau harum seperti aroma
buah-buahan atau wangi bebungaan.Ester dapat dibuat dengan mereaksikan asam
karboksilat dengan alkohol.Dalam reaksi ini digunakan pemanasan dan asam (HCl
atau H2SO4).
Cara ini dikenal dengan esterifikasi Fischer (Fessenden, 1994).

RCOOH + HC-R1 RCOOR1 + H2O


As. Karboksilat alkohol ester

Senyawa-senyawa alkohol bereaksi dengan asam-asam karboksilat


membentuk ester-ester organik sebagai analog deri ester-ester yang terbentuk dari
senyawa-senyawa alkohol dengan asam oksigen dan organik.Dalam pembuatan

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 39


MODUL SINTESIS OBAT

suatu ester dimana asam salisilat dipanaskan dalam metil alkohol bersama
sejumlah kecil asam kuat sebagai katalisator untuk membentuk metil salisilat
gugus hidroksil dalam air yang terjadi berasal dari asam karboksilat. Reaksi ini
bersifat bolak-balik atau reversible, jika dipakai alcohol dalam jumlah berlebihan,
maka kesetimbangan beranjak ke arah pembentukan ester; sebaliknya, jika ester
dipanaskan dengan air yang berlebihan beserta suatu katalisator asam, maka ester
akan dihidrolisis menjadi asam dan alkohol (Ganiswarna, 1995).
Asam salisilat, metil salisilat, dan asam-asam asetilsilat semua merupakan
senyawa-senyawa yang penting dalam pengobatan. Metal salisilat dapat dipakai
sebagai obat dalam atau melalui penyerapan via kulit, dan dengan demikian
memberikan pemakaiannya yang lebih luas dalam obat-obat gosok dan untuk
pemakaian pada tempat-tempat tertentu yang sakit.

C. Pengertian Aspirin
Reaksi asetilasi merupakan suatu reaksi yang memasukkan gugus asetil ke
dalam suatu substrat yang sesuai. Gugus asetil adalah R-C-OO (dimana R
merupakan alkil atau aril). Aspirin disebut juga asam asetil salisilat atau
acetylsalicylic acid, dapat dibuat dengan cara asetilasi senyawa phenol (dalam
bentuk asam salisilat) menggunakan anhidrida asetat dengan bantuan sedikit asam
sulfat pekat sebagai katalisator (Baysinger,2004).

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 40


MODUL SINTESIS OBAT

BAB XIII
SINTESIS BAHAN OBAT PARASETAMOL DAN MEFENAMAT

A. Pengertian Parasetamol
Parasetamol (asetaminofen) merupakan obat analgetik non narkotik dengan
cara kerja menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf Pusat
(SSP) Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara baik dalam bentuk
sediaan tunggal sebagai analgetik-antipiretik maupun kombinasi dengan obat lain
dalam sediaan obat flu, melalui resep dokter atau yang dijual bebas (Kasim, fauzi,
dkk. 2010).
Parasetamol adalah paraaminofenol yang merupakan metabolit fenasetin dan
telah digunakan sejak tahun 1893. Parasetamol (asetaminofen) mempunyai daya
kerja analgetik, antipiretik, tidak mempunyai daya kerja anti radang dan tidak
menyebabkan iritasi serta peradangan lambung .

B. Sejarah Parasetamol
Pada tahun 1946, Lembaga Studi Analgetik dan obat-obatan sedative telah
memberi bantuan kepada Departemen Kesehatan New York untuk mengkaji
masalah yang berkaitan dengan agen analgetik. Bernard Brodie dan Julius
Axelrod telah ditugaskan untuk mengkaji mengapa agen bukan aspirin dikaitkan
dengan adanya methemoglobinemiasejenis keadaan darah tidak berbahaya. Di
dalam tulisan mereka pada 1948, Brodie dan Axelrod mengaitkan penggunaan
asetanilida dengan methemoglobinemia dan mendapati pengaruh analgetik
asetanilida adalah disebabkan metabolit Parasetamol aktif. Mereka membela
penggunaan Parasetamol karena memandang bahan kimia ini tidak mengahasilkan
racun asetanilida (Kasim, fauzi, dkk. 2010).
Derivat- asetanilida ini adalah metabolit dari fenasetin, yang dahulu banyak
digunakan sebagai analgetik, tetapi pada tahun 1978 telah ditarik dari peredaran
karena efek sampingnya (nefrotoksisitas dan karsinogen). Khasiatnya analgetik
dan antipiretik, tetapi tidak antiradang. Dewasa ini pada umumnya dianggap
sebagai zat antinyeri yang paling aman, juga untuk swamedikasi(pengobatan
mandiri). Efek analgetiknya diperkuat oleh kafein dengan kira-kira 50% dan

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 41


MODUL SINTESIS OBAT

kodein. Resorpsinya dari usus cepat dan praktis tuntas, secara rectal lebih lambat.
Efek samping tak jarang terjadi, antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan
darah (Kasim, fauzi, dkk. 2010).
Overdosis bisa menimbulkan mual, muntah dan anoreksia.
Penanggulangannya dengan cuci lambung, juga perlu diberikan zat-zat penawar
(asam amino N-asetilsistein atau metionin) sedini mungkin, sebaiknya dalam 8-10
jam setelah intoksikasi. Wanita hamil dapat menggunakan Parasetamol dengan
aman, juga selama laktasi walaupun mencapai air susu ibu. Interaksi pada dosis
tinggi memperkuat efek antikoagulansia, dan pada dosis biasa tidak interaktif
(Kasim, fauzi, dkk. 2010).

C. Sifat Parasetamol
Mempunyai sifat antipiretik / analgesik. Paracetamol utamanya digunakan
untuk menurunkan panas badan yang disebabkan oleh karena infeksi atau sebab
yang lainnya. Disamping itu, paracetamol juga dapat digunakan untuk
meringankan gejala nyeri dengan intensitas ringan sampai sedang. Ia aman dalam
dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak
sengaja sering terjadi.Obat yang mempunyai nama generik acetaminophen ini,
dijual di pasaran dengan ratusan nama dagang. Beberapa diantaranya adalah
Sanmol, Pamol, Fasidol, Panadol, Itramol dan lain lain (Tjay,2008).
Sifat antipiretiknya disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya
diduga berdasarkan efek sentral.Parasetamol memiliki sebuah cincin benzena,
tersubstitusi oleh satu gugus hidroksil dan atom nitrogen dari gugus amida pada
posisi para (1,4). Senyawa ini dapat disintesis dari senyawa asal fenol yang
dinitrasikan menggunakan asam sulfat dan natrium nitrat. Parasetamol dapat pula
terbentuk apabila senyawa 4-aminofenol direaksikan dengan senyawa asetat
anhidrat (Tjay,2008)
Sifat analgesik Parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai
sedang. Dalam golongan obat analgetik, parasetamol memiliki khasiat sama
seperti aspirin atau obat-obat non steroid antiinflamatory drug (NSAID) lainnya.
Seperti aspirin, parasetamol berefek menghambat prostaglandin (mediator nyeri)

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 42


MODUL SINTESIS OBAT

di otak tetapi sedikit aktivitasnya sebagai penghambat postaglandin perifer.


Namun, tak seperti obat-obat NSAIDs (Tjay,2008).

Parasetamol termasuk ke dalam kategori NSAID sebagai obat anti demam,


anti pegel linu dan anti-inflammatory. Inflammation adalah kondisi pada darah
pada saat luka pada bagian tubuh (luar atau dalam) terinfeksi, sebuah imun yang
bekerja pada darah putih (leukosit). Contoh pada bagian luar tubuh jika kita
terluka hingga timbul nanah itu tandanya leukosit sedang bekerja, gejala
inflammation lainnya adalah iritasi kulit.
Sifat antiinflamasinya sangat rendah sehingga tidak digunakan sebagai
antirematik. Pada penggunaan per oral Parasetamol diserap dengan cepat melalui
saluran cerna. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit
sampai 60 menit setelah pemberian. Parasetamol diekskresikan melalui ginjal,
kurang dari 5% tanpa mengalami perubahan dan sebagian besar dalam bentuk
terkonjugasi.
Karena Parasetamol memiliki aktivitas antiinflamasi (antiradang) rendah,
sehingga tidak menyebabkan gangguan saluran cerna maupun efek kardiorenal
yang tidak menguntungkan. Karenanya cukup aman digunakan pada semua
golongan usia.

D. Latar belakang mefenamat


Analgetika merupakan suatu senyawa atau obat yang dipergunakan untuk
mengurangi rasa sakit atau nyeri (diakibatkan oleh berbagai rangsangan pada
tubuh misalnya rangsangan mekanis, kimiawi dan fisis sehingga menimbulkan
kerusakan pada jaringan yang memicu pelepasan mediator nyeri seperti brodikinin
dan prostaglandin yang akhirnya mengaktivasi reseptor nyeri di saraf perifer dan
diteruskan ke otak) yang secara umum dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu
analgetika non narkotik (seperti: asetosat, parasetamol) dan analgetikanarkotik
seperti: morfin.Terkadang, nyeri dapat berarti perasaan emosional yang tidak
nyaman dan berkaitan dengan ancaman seperti kerusakan pada jaringan karena
pada dasarnya rasa nyeri merupakan suatu gejala, serta isyarat bahaya tentang
adanya gangguan pada tubuh umumnyadan jaringan khususnya. Untuk

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 43


MODUL SINTESIS OBAT

mengurangi atau meredakan rasa sakit atau nyeri tersebut maka banyak digunakan
obat-obat analgetik (seperti parasetamol, asam mefenamat dan antalgin) yang
bekerja dengan memblokir pelepasan mediator nyeri sehingga reseptor nyeri tidak
menerima rangsang nyeri (Rachadian, 2009).
Terdapat perbedaan mencolok antara analgetika dengan anastetika umum
yaitu meskipun sama-sama berfungsi sebagai zat-zat yang mengurangi atau
menghalau rasa nyeri namun, analgetika bekerja tanpa menghilangkan
kesadaraan. Nyeri sendiri terjadi akibat rangsangan mekanis, kimiawi, atau fisis
yang memicu pelepasan mediator nyeri. Intensitas rangsangan terendah saat
seseorang merasakan nyeri dinamakan ambang nyeri (Tjay, 2008).
Analgetika yang bekerja perifer atau kecil memiliki kerja antipiretik dan juga
komponen kerja antiflogistika dengan pengecualian turunan asetilanilida.Nyeri
ringan dapat ditangani dengan obat perifer (parasetamol, asetosal, mefenamat atau
aminofenazon). Untuk nyeri sedang dapat ditambahkan kofein dan kodein. Nyeri
yang disertai pembengkakan sebaiknya diobati dengan suatu analgetikum anti
radang (aminofenazon, mefenaminat dan nifluminat). Nyeri yang hebat perlu
ditanggulangi dengan morfin. Obat terakhir yang disebut dapat menimbulkan
ketagihan dan menimbulkan efek samping sentral yang merugikan (Tjay, 2008).

E. PengertianAsammefenamat
Asam Mefenamat adalah termasuk obat pereda nyeri yang digolongkan
sebagai NSAID (Non Steroidal Antiinflammatory Drugs). Asam mefenamat biasa
digunakan untuk mengatasi berbagai jenis rasa nyeri, namun lebih sering
diresepkan untuk mengatasi sakit gigi, nyeri otot, nyeri sendi dan sakit ketika atau
menjelang haid. Seperti juga obat lain, tentunya asam mefenamat dapat
menyebabkan efek samping. Contoh yang sering terjadi adalah merangsang dan
merusak lambung. Sebab itu, asam mefenamat sebaiknya tidak diberikan pada
pasien yang mengidap gangguan lambung,dan sebaiknya diberikan pada saat
lambung tidak dalam kondisi kosong atau setelah makan (Tjay,2008).

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 44


MODUL SINTESIS OBAT

BAB IV
SINTESIS BAHAN OBAT SABUN DAN DETERJEN
A. Pengertian Sabun
Sabun merupakan salah satu jenis pembersih yang dapat dibuat degngan
reaksi kimia antara basa natrium dengan kalium natrium dengan minyak nabati
atau lemak hewani. Surfaktan mempunyai struktur bipolar, bagian kepala bersifat
hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik. Karena sifattulah sabun mampu
mengangkat kotoran (biasanya lemak) dari badan atau pakaian. Selain itu, sabun
juga merupakan pembersih yang dapat dibuat dengan reaksi kimia antara kalium
atau natrium dengna asam lemak dari minyak nabatai atau lemak hewani. Sabun
dibuat dengan ua cara yaitu proses saponifikasi dan proses proses netralisasi
minyak proses saponifikasi mnyak akan memperoleh produk sampingan yaitu
gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali,
sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan akali
(Hart, 1983).
Proses esterifikasi merupakan proses yang cenderung digunakan dalam
produksi ester dari asam lemak spesifik Laju reaksi esterifikasi sangat dipengaruhi
oleh struktur molekul reaktan dan radikal yang terbentuk dalam senyawa antara.
Data tentang laju reaksi serta mekanismenya disusun berdasarkan karakter
kinetiknya, sedangkan data tentang perkembangan reaksi dinyatakan sebagai
konstanta kesetimbangan. Secara umum laju reaksi esterifikasi mempunyai sifat
sebagai berikut:
1. Alkohol primer bereaksi paling cepat, disusul alkohol sekunder, dan paling lambat
alkohol tersier.
2. Ikatan rangkap memperlambat reaksi
3. Asam aromatik (benzoat dan p-toluat) bereaksi lambat, tetapi mempunyai batas
konversi yang tinggi.
4. Makin panjang rantai alkohol, cenderung mempercepat reaksi atau tidak terlalu
berpengaruh terhadap laju reaksi.
Pemilihan jenis asam lemak menentukan karakteristik sabun yang dihasilkan,
karena setiap jenis asam lemak akan memberikan sifat yang berbeda pada sabun
yaitu perbedaan kekerasan dan karakteristik busa pada sabun akhir. Secara umum,

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 45


MODUL SINTESIS OBAT

panjang rantai atom karbon dalam trigliserida (minyak) yang kurang dari 12
adalah tidak diinginkan, karena reaksi peyabunan minyak tersebut akan
menghasilkan sabun yang dapat menyebabkan iritasi kulit. Panjang rantai atom
karbon yang lebih dari 20 dalam minyak akan membentuk sabun yang tidak
mudah larut dalam air. Selain itu, semakin besar proporsi asam-asam lemak tidak
jenuh dalam minyak akan menghasilkan sabun yang tidak stabil karena proses
sifat asam lemak tidak jenuh yang mudah teroksidasi. Komposisi asam lemak
yang baik untuk sabun adalah rantai panjang (C12-C18). Rantai C12-C14
memberikan fungsi yang baik untuk pembusaaan, sedangkan C16-C18baik untuk
kekerasan pada sabun (Hart, 1983).
Karakteristik sabun bukan hanya ditentukan oleh pemilihan asam lemaknya
saja, tetapi juga ditentukan oleh kadar dari bahan baku lainnya seperti NaOH.
NaOH berfungsi sebagai pengubah minyak nabati dan lemak hewan menjadi
sabun. NaOH memiliki efek korosif yang tinggi pada kulit, sehingga dapat
menyebabkan luka pada kulit, sehingga kadar NaOH pada pembuatan sabun perlu
ditangani dan diperhatikan sebab penambahan alkali yang berlebihan pada proses
penyabunan menyebabkan meningkatnya alkali bebas. Alkali bebas yang
berlebihan tidak diinginkan ada dalam sabun, sebab alkali bersifat keras dan dapat
menyebabakan iritasi pada kulit, tetapi jika sabun kekurangan NaOH maka akan
menyebabkan berlebihnya asam lemak bebas yang tidak dapat tersabunkan
sehingga akan mengurangi daya ikat sabun terhadap kotoran (Hart, 1983).
Sabun pada umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun cair dan sabun padat.
Perbedaan utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang digunakan dalam
reaksi pembuatan sabun. Sabun yang dibuat dengan NaOH dikenal dengan sabun
keras (hard soap), sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan
sabun lunak (soft soap), sabun keras (hard soap) dibuat dari lemak netral yang
padat atau dari minyak nabati, sabun ini dalam bentuk batangan dan bersifat sukar
larut dalam air. sabun lunak (soft soap) dibuat dari minyak kelapa, minyak kelapa
sawit atau minyak tumbuhan yang tidak jernih, sabun ini dalam bentuk pasta
maupun cair bersifat mudah larut dalam air (Hart, 1983).
Asam lemak akan memberikan sifat yang berbeda pada sabun yang terbentuk.
Asam laurat pada sabun dapat menyebabkan sabun menjadi keras dan

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 46


MODUL SINTESIS OBAT

menghasilkan busa yang lembut, sama seperti asam miristat . asam palmitat,
selain dapat mengeraskan juga dapat menyebabkan busa menjadi stabil. Berbeda
dengan asam oleat dan linoleat, mereka berperan dalam melembabkan sabun pada
saat sabun digunakan (Paul, 2007).
Molekul sabun terdiri dari rantai karbon, hydrogen dan oksigen yang disusun
dalam bagian kepala dan ekor. Bagian kepala merupakan gugus hidrofilik (rantai
karboksil) yang berfungsiuntuk mengikat air, sedangkan bagian ekor merupakan
gugus hidrofobik (rantai hidrokarbon) yang berfungsi untuk mengikat kotoran dan
minyak.
Jika sabun dilarutkan di dalam air, ujung hidrofilik dari molekulnya ditarik
kedalam air dan melarutkannya, tetapi bagian hidrofobik ditolak oleh moekul air.
Akibatnya, suatu lapisan tipis terbentuk diatas permukaan air, dan secara drastis
menurunkan tegangan permukaan air (Paul, 2007).

B. PengertianDeterjen
Detergen adalah Surfaktant anionik dengan gugus alkil (umumnya C9 C15)
atau garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang dari Natrium (RSO3- Na+ dan
ROSO3-Na+) yang berasal dari derivat minyak nabati atau minyak bumi (fraksi
parafin dan olefin).
Proses pembuatan detergen dimulai dengan membuat bahan penurun tegangan
permukaan, misalnya: palkilbenzena sulfonat dengan gugus alkil yang sangat
bercabang disintesis dengan polimerisasi propilena dan dilekatkan pada cincin
benzena dengan reaksi alkilasi FriedelCraft Sulfonasi, yang disusul dengan
pengolahan dengan basa.
Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut:
1. Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai
ujung berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Bahan
aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat
melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Surfaktant ini baik
berupa anionic (Alkyl Benzene Sulfonate/ABS, Linier Alkyl Benzene
Sulfonate/LAS, Alpha Olein Sulfonate/AOS), Kationik (Garam Ammonium), Non
ionic (Nonyl phenol polyethoxyle), Amphoterik (Acyl Ethylenediamines).

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 47


MODUL SINTESIS OBAT

2. Builder (Permbentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan


dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. Baik berupa
Phosphates (Sodium Tri Poly Phosphate/STPP), Asetat (Nitril Tri Acetate/NTA,
Ethylene Diamine Tetra Acetate/EDTA), Silikat (Zeolit), dan Sitrat (asam sitrat).
3. Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai
kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas atau dapat
memadatkan dan memantapkan sehingga dapat menurunkan harga. Contoh :
Sodium sulfate.
4. Additives adalah bahan suplemen/ tambahan untuk membuat produk lebih
menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dan sebagainya yang tidak
berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih
untuk maksud komersialisasi produk. Contoh : Enzyme, Borax, Sodium chloride,
Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dipakai agar kotoran yang telah dibawa oleh
detergent ke dalam larutan tidak kembali ke bahan cucian pada waktu mencuci
(anti Redeposisi). Wangiwangian atau parfum dipakai agar cucian berbau harum,
sedangkan air sebagai bahan pengikat.
Menurut kandungan gugus aktifnya maka detergen diklasifikasikan sebagai
berikut :
a. Detergen jenis keras
Detergen jenis keras sukar dirusak oleh mikroorganisme meskipun bahan tersebut
dibuang akibatnya zat tersebut masih aktif. Jenis inilah yang menyebabkan
pencemaran air. Contoh: Alkil Benzena Sulfonat (ABS).
Proses pembuatan ABS ini adalah dengan mereaksikan Alkil Benzena dengan
Belerang Trioksida, asam Sulfat pekat atau Oleum. Reaksi ini menghasilkan Alkil
Benzena Sulfonat. Jika dipakai Dodekil Benzena maka persamaan reaksinya
adalahC6H5C12H25 + SO3 C6H4C12H25SO3H (Dodekil Benzena Sulfonat)Reaksi
selanjutnya adalah netralisasi dengan NaOH sehingga dihasilkan Natrium Dodekil
Benzena Sulfonat
b. Detergen jenis lunak
Detergen jenis lunak, bahan penurun tegangan permukaannya mudah dirusak oleh
mikroorganisme, sehingga tidak aktif lagi setelah dipakai . Contoh: Lauril Sulfat
atau Lauril Alkil Sulfonat. (LAS). Proses pembuatan (LAS) adalah dengan

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 48


MODUL SINTESIS OBAT

mereaksikan Lauril Alkohol dengan asam Sulfat pekat menghasilkan asam Lauril
Sulfat dengan reaksi: C12H25OH + H2SO4 C12H25OSO3H + H2O
Asam Lauril Sulfat yang terjadi dinetralisasikan dengan larutan NaOH sehingga
dihasilkan Natrium Lauril Sulfat.Awalnya deterjen dikenal sebagai pembersih
pakaian, namun kini meluas dalam bentuk produk-produk seperti:
1. Personal cleaning product, sebagai produk pembersih diri seperti sampo, sabun
cuci tangan, dll.
2. Laundry, sebagai pencuci pakaian, merupakan produk deterjen yang paling
populer di masyarakat.
3. Dishwashing product, sebagai pencuci alat-alat rumah tangga baik untuk
penggunaan manual maupun mesin pencuci piring.
4. Household cleaner, sebagai pembersih rumah seperti pembersih lantai, pembersih
bahan-bahan porselen, plastik, metal, gelas, dll.
Kemampuan deterjen untuk menghilangkan berbagai kotoran yang menempel
pada kain atau objek lain, mengurangi keberadaan kuman dan bakteri yang
menyebabkan infeksi dan meningkatkan umur pemakaian kain, karpet, alat-alat
rumah tangga dan peralatan rumah lainnya, sudah tidak diragukan lagi. Oleh
karena banyaknya manfaat penggunaan deterjen, sehingga menjadi bagian penting
yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern.
Tanpa mengurangi makna manfaat deterjen dalam memenuhi kebutuhan sehari-
hari, harus diakui bahwa bahan kimia yang digunakan pada deterjen dapat
menimbulkan dampak negatif baik terhadap kesehatan maupun lingkungan. Dua
bahan terpenting dari pembentuk deterjen yakni surfaktan dan builders,
diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap
manusia dan lingkungannya.Umumnya pada deterjen anionik ditambahkan zat
aditif lain (builder) seperti golongan ammonium kuartener (alkyldimetihylbenzyl-
ammonium cloride, diethanolamine/ DEA), chlorinated trisodium phospate
(chlorinated TSP) dan beberapa jenis surfaktan seperti sodium lauryl sulfate
(SLS),sodium laureth sulfate (SLES) atau linear alkyl benzene sulfonate (LAS).
Golongan ammonium kuartener ini dapat membentuk senyawa nitrosamin.
Senyawa nitrosamin diketahui bersifat karsinogenik, dapat menyebabkan kanker.
Senyawa SLS, SLES atau LAS mudah bereaksi dengan senyawa golongan

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 49


MODUL SINTESIS OBAT

ammonium kuartener, seperti DEA untuk membentuk nitrosamin. SLS diketahui


menyebabkan iritasi pada kulit, memperlambat proses penyembuhan dan
penyebab katarak pada mata orang dewasa.

C. Mekanisme Kerja Deterjen


Kinerja deterjen, khususnya surfaktannya, memiliki kemampuan yang unik
untuk mengangkat kotoran, baik yang larut dalam air maupun yang tak larut
dalam air. Salah satu ujung dari molekul surfaktan bersifat lebih suka minyak atau
tidak suka air, akibatnya bagian ini mempenetrasi kotoran yang berminyak. Ujung
molekul surfaktan satunya lebih suka air, bagian inilah yang berperan
mengendorkan kotoran dari kain dan mendispersikan kotoran, sehingga tidak
kembali menempel ke kain. Akibatnya warna kain akan dapat dipertahankan. Jika
kotoran berupa minyak atau lemak maka akan membentuk emulsi minyakair dan
detergen sebagai emulgator (zat pembentuk emulsi). Sedangkan apabila kotoran
yang berupa tanah akan diadsorpsi oleh detergen kemudian mambentuk suspensi
butiran tanah-air, dimana detergen sebagai suspensi agent (zat pembentuk
suspensi).

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 50


MODUL SINTESIS OBAT

DAFTAR PUSTAKA

Abin, makmum, dkk. 2007. Perencanaan Pendidikan. Bandung: Rasda Karya.


Anief, m. 2002. Ilmu Meracik Obat. Jakarta: Usm Press Ditjen Pom. 1993. Farmakope
Indonesia ed.IV. Jakarta: Depkes RI.
Asnawir. 2006. Sakarin. Padang. IAIN 1B Press.
Danim, sudarwan. 2008. Sulfa. Kelembaga akademik. Jakarta: Pt. Bumi aksara.
Ganiswarna, G. Sulistia. 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Universitas Indonesia:
Jakarta.
Harold Hart, Organic Chemistry, a Short Course, Sixth Edition, Michigan State
University, 1983, Houghton Mifflin Co.
Kasim, fauzi, dkk. 2010. Informasi Spesialite Obat Indonesia. Jakarta: PT. ISFI
Penerbitan
Rachadian, Dani. 2009. Buku Obat-Obat. Yogyakarta: Berlico Mulia Farma Tjay,
Tan H. 2008. Buku Obat-obat Penting.
Kayser, O., dan Muller, R.H. 2004. Pharmaceutical Biotechnology; Drug Discovery and
Clinical Applications. WilleyVCH: German.2.
Ralp J. Fessenden and Joan S. Fessenden, Organic Chemistry, Third Edition,
University Of Montana, 1986, Wadsworth, Inc, Belmont, Califfornia 94002,
Massachuset, USA.
Rosenstein, stuart, 1995, Board composition, managerialownership, and firm
performance: An empirical analysis. The Financial Review. 33 (Nvember).(4).1-
16.
Siswandono soekardjo, Bambang.2008.kimia medisinal 1.Airlangga University
Press.Surabaya
Sitorus, Marham, 2008, Kimia Organik Fisik, Graha Ilmu, Yogyakarta
Sopyan, 1981, Analisa Kimia Kualilatif terjemahan dari chemistry of qualitative
analisis, oleh underwood, Erlangga, Jakarta.
Sudjadi. 2008. Bioteknologi Kesehatan. Kanisius: Yogyakarta. 151-178.
Sutrisno. 2008, Pengantar Kimia Organik 1, ITB, Bandung.
Underwood. 1997. Analisis Kimia Kuantitatif edisi 1. Erlangg
Wilbraham. 1992. Pengantar Kimia Organik 1, ITB, Bandung.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 51


MODUL SINTESIS OBAT

Willis, C.L. 2004. Sintesis Organik, Penerjemah: Marcellino Rudyanto, Airlangga


University Press, Surabaya.

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam 52