Anda di halaman 1dari 17

1

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
CORPUS ALIENUM SALURAN PENCERNAAN

A. Konsep Teori Corpus Alienum

1. Defenisi

Corpus Alienum adalah benda, baik tajam ataupun tumpul atau makanan
yang tersangkut atau terjepit di esophagus karena tertelan, baik secara
sengaja maupun tidak sengaja (Tanto, 2014).

2. Etiologi
a. Pada anak-anak penyebab masuknya benda asing dalam sauran napas
atau saluran cerna antara lain anomaly kongenital termasuk stenosis
kongenital, fistel trakeoesofagus dan pelebaran pembuliuh darah.
b. Pada orang dewasa sering terjadi akibat mabuk, pemakai gigi palsu
yang telah kehilangan sensasi rasa palatum, gangguan mental dan
psikosis.

Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing ke


dalam saluran cerna, antara lain:
1) Faktor individual; umur, jenis kelamin, pekerjaan, kondisi sosial,
tempat tinggal.
2) Kegagalan mekanisme proteksi yang normal, antara lain: keadaan tidur,
kesadaran menurun, alkoholisme dan epilepsi.
3) Faktor fisik: kelainan dan penyakit neurologik.
4) Proses menelan yang belum sempurna pada anak.
5) Faktor dental, medical dan surgical, misalnya tindakan bedah, ekstraksi
gigi, belum tumbuhnya gigi molar pada anak usia kurang dari 4 tahun.
6) Faktor kejiwaan, antara lain: emosi, gangguan psikis.
7) Ukuran, bentuk dan sifat benda asing.
8) Faktor kecerobohan, antara lain; meletakkan benda asing di mulut,
persiapan makanan yang kurang baik, makan atau minum tergesa-gesa,
makan sambil bermain, memberikan kacang atau permen pada anak
yang gigi molar nya belum tumbuh.

3. Klasifikasi
2

a. Corpus alienum esophagus


Banyak terjadi pada anal-anak. Hal ini disebabkan anak-anbak
mempunyai kebasaan memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Pada
umumnya benda asing yang tertelan berupa uang logam, peniti, tutup
bollponi, dan lain-lain, pada orang tua hal ini juga dapat terjadi,
kebanyakan terjadi pada lansia yang giginya sudah habis sehingga
makanan tidak dapat dikunyah dengan baik. Benda yang tertekan
biasanya daging yang keras, baksi, tulamng ayam/bebek, paku, jarum,
kawat gugu palsu dan lain-lain.
b. Corpus alienum di trakea-bronkus

Benda asing yang masuk ke trakea atau bronkus kebanyakan karena


terhirup. Banyak terjadi pada anaka kecil karena gigu geraham belum
tumbuh sehingga makanan tidak data dikunyah dengan baik. Secara
tidak sadar karena menangis, berteriak atau terjatuh makanan akan
terhiru dan masuk ke jalan napas. Benda yang terhirup pada umumnya
adalah makanan misalanya kacang, nasiu dan lain-lain. Pada orang
dewasa hal ini dapat terjadi terutama pada saat bekerja.

4. Anatomi dan Fisiologi Esophagus


Esophagus merupakan bagian saluran cerna yang menghubungkan
hipofaring dengan lambung. Bagian proksimalnya disebut introitus
esophagus yang terletak setinggi batas bawah kartilago krikoid atau
setinggi vetebra sevical VI. Di dalam perjalanannya dari daerah servikal,
esophagus masuk ke dalam rongga toraks. Di dalam rongga toraks,
esophagus berada di mediastinum superior antara trakea dan kolumna
vertebra terus ke mediastinum posterior di belakang atrium kiri dan
menembus diafragma setinggi vertebre torakal 10 dengan jarak kurang
dari 3 cm di depan vertebra. Akhirnya esophagus ini sampai di rongga
abdomen dan bersatu dengan lambung di daerah kardia.
Berdasarkan letaknya esophagus dibagi dalam bagian servikal, torakal dan
abdominal. Esofagus menyempit pada tiga tempat. Penyempitan pertama
bersifat sfingter terletak setinggi tulang rawan krikoid pada batas antara
esophagus dengan faring, yaitu tempat peralihan otot serat lintang menjadi
otot polos. Penyempitan terakhir terletak pada hiatus esophagus diafragma
3

yaitu tempat esophagus berakhir pada kardia lambung. Otot polos pada
bagian ini murni bersifat sfingter. Inervasi esophagus berasal dari dua
sumber utama yaitu saraf parasimpatis nervus vagus dan saraf simpatis
dari serabut-serabut ganglia simpatis servikalis inferior, nervus torakal dan
nervus splangnikus.

Gambar 1: Anatomi Esophagus (www.detik health.com)

5. Patofisiologi
Corpus alienum (benda asing) baik itu benda mati, hidup ataupun
komponen tubuh dapat masuk ke rongga mulut karena faktor kesengajaan,
kecerobohan maupun faktor kebutuhan. Ketika benda asing tertelandan
masuk ke esophagus yang menyebabkan tersangkutnya benda tersebut,
maka akan dilakukan ekstyraksi untuk menghindari komplikasi. Ekstaksi
tersebut dapat menimbulkan lesi pada esophagus yang akan terasa yeri
jika digunakan untuk menelan.

Benda asing yang berada lama di esophagus dapat menimbulkan berbagai


komplikasi, antara lain jaringan granulasi yang menutupi benda asing,
radang periesofagus. Benda asing tertentu seperti baterai alkali mempunyai
toksisitas intriksik local dan sistemik dengan reaksi edema dan inflamasi
local, terutama bila terjadi pada anak-anak. Batu baterai (disc battery)
mengandung elektrolit, baik natrium atau kalium hidroksida dalam larutan
kaustik pekat (concentrated caustic solution). Absorbsi bahan metal dalam
4

darah menimbulkan toksisitas sistemik. Oleh karena itu benda asing batu
baterai harus segera dikeluarkan.

6. Gejala Klinis
Gejala sumbatan akibat benda asing esophagus tergantung pada ukuran,
bentuk dan jenis benda asing, lokasi tersangkutnya benda asing (apakah
berada didaerah penyempitan esophagus yang normal atau patologis),
komplikasi yang timbul akibat benda asing tersebut dan lama benda asing
tersebut tertelan. Gejala permulaan benda asing esophagus adalah rasa
nyeri didaerah leher bila benda asing tersangkut didaerah servikal. Bila
benda asing tersangkut di esophagus bagian distal timbul rasa tidak enak
didaerah substernal atau nyeri di punggung.
Gejala disfasia bervariasi tergantung, pada ukuran dan benda. Disfagia
lebih berat bila telah terjadi edema mukosa yang memperberat sumbatan,
sehingga timbul rasa sumbatan esophagus yang persisten. Gejala lain ialah
odinofagia yaitu nyeri menelan makanan atau ludah, hipersalivasi,
regurgitasi dan muntah. Kadang-kadang ludah berdarah. Nyeri di
punggung menunjukkan tanda perforasi atau mediastinitis. Gangguan
nafas dengan gejala dispneu, stridor dan sianosis terjadi akibat penekanan
trakea oleh benda asing.

7. Pemeriksaan Fisik
Terdapat kekakuan lokal pada leher bila benda asing terjepit akibat edema
yang timbul progresif. Bila benda asing ireguler menyebabkan perforasi
akut, didapatkan tanda pneumo-mediastinum, emfisema leher dan pada
auskultasi terdengar suara getaran didaerah prekordial atau interskapula.
Bila terjadi mediastinitis, tanda efusi pleura unilateral atau bilateral dapat
dideteksi. Perforasi langsung ke rongga pleura dan pneumothorak jarang
terjadi, tetapi dapat timbul sebagai komplikasi tindakan endoskopi.
Pada anak-anak gejala nyeri atau batuk dapat disebabkan oleh aspirasi
ludah atau minuman dan pada pemeriksaan fisik didapatkan ronkhi, mengi
(wheezing), demam, abses leher atau tanda emfisema subkutan. Tanda
lanjut, berat badan menurun dan gangguan pertumbuhan. Benda asing
yang berada didaerah servikal esophagus dan dibagian distal krikofaring,
5

dapat menimbulkan gejala obstruksi saluran nafas dengan stridor, karena


menekan dinding trakea bagian posterior (tracheo-esophageal party wall),
radang dan edema periesofagus. Gejala aspirasi rekuren akibat obstruksi
esophagus sekunder dapat menimbulkan pneumonia, bronkiektasis dan
abses paru.

8. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi berupa foto polos esophagus servikal dan torakal
anteroposterior dan lateral harus dilakukan pada semua pasien yang diduga
tertelan benda asing. Bila benda asing radioopak mudah diketahui
lokasinya, sedangkan bila radiolusen dapat diketahui tanda inflamasi
periesofagus atau hiperinflamasu hipofaring dan esophagus bagian
proksimal. Esofagogram dilakukan pada benda asing radiolusen yang akan
memperlihatkan filling detect persisten. Dapat dilakukan MRI dan
Tommografis Computer.
Pemeriksaan laboratorium darah diperlukan untuk mengetahui adanya
gangguan keseimbanganasam basa, serta tanda-tanda infeksi saluran
napas.
Tindakan endoskopi dilakukan untuk tuuan diagnostic dan terapi.

9. Komplikasi
Laserasi mukosa perdarahan, perforasi local dengan abses leher atau
mediastinitis.Perforasi dapat menyebabkan selulitis local, dan fistel
esofagus. Benda asing bulat atau tumpul dapat menimbulkan perforasi
sebagai akibat sekunder dari inflamasi kronik dan erosi. Jaringan granulasi
disekitar benda asing timbul bila benda asing berada di seofagus dalam
waktu yang lama. Gejala dan tanda perforasi esophagus servikal dan
torakal oleh karena benda asing atau alat, antara lain emfisema subkutis
atau mediastinum, krepitasi di daerah leher atau dada, pembengkakan
leher, kaku leher, demam dan menggigil, gelisah, nadi dan pernapasan
cepat,nyeri yang menjalar ke punggung, retrosternal dan epigastrium. Bila
terjadi perforasi ke pleura dapat menimbulkan pneumothoraks.

10. Penatalaksanaan
6

Untuk dapat menanggulangi kasus aspirasi benda asing dengan cepat dan
tepat, perludiketahui dengan baik lokasi tersangkutnya benda asing
tersebut. Secara prinsip benda asing disaluran napas dapat ditangani
dengan pengangkatan segera secara endoskopik dengan traumaminimum.
Umumnya penderita dengan aspirasi benda asing datang ke rumah sakit
setelah melalui fase akut, sehingga pengangkatan secara endoskopik harus
dipersiapkan seoptimal mungkin, baik dari segi alat maupun personal yang
telah terlatih. Penderita dengan benda asing di laring harus mendapat
pertolongan segera, karena asfiksia dapat terjadi dalam waktu
hanya beberapa menit. Cara lain untuk mengeluarkan benda asing yang
menyumbat laring secara total ialah dengan cara perasat dari Heimlich
(Heimlich maneuver), dapat dilakukan pada anak maupun dewasa.
Menurut teori Heimlich, benda asing yang masuk ke dalam laring ialah
pada saat inspirasi. Dengan demikian paru penuh dengan udara,
diibaratkan sebagai botol plastik yang tertutup, dengan menekan botol itu,
maka sumbatnya akan terlempar keluar. Komplikasi perasat Heimlich
adalah kemungkinan terjadinya ruptur lambung atau hati dan fraktur kosta.
Oleh karena itu pada anak sebaiknya cara menolongnya tidak dengan
menggunakan kepalan tangan tetapi cukup dengan dua buah jari kiri dan
kanan.
Pada sumbatan benda asing tidak total di laring perasat Heimlich tidak
dapat digunakan. Dalam hal ini penderita dapat dibawa ke rumah sakit
terdekat yang memiliki fasilitas endoskopik berupa laringoskop dan
bronkoskop.

11. Pathway

Benda asing (tajam, tumpul, makanan

Faktor penyebab: fisik, psikis, kesengajaan /kecerobohan

Masuk rongga mulut dan esofagus


7

Obstruksi di esofagus Kecemasan

Timbul jaringan Benda asing seperti


Batuk, tercekik,
granulasi yang alkaline
sesak napas,
menutupi benda asing

Nyeri Menelan, muntah Toksisitas instrinsik


Ketidakefektifan
dan sistemik
Bersihan Jalan Napas
Disfagia
Gangguan Menelan Ulserasi local,
perforasi,

Ketidakseimbangan Nutrisi
Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Risiko Infeksi

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Riwayat penyakit sekarang
Kejadian corpus alienum pada saluran napas atau saluran cerna
dapat terjadi karena beberapa faktor seperti kelainan fisik atau
kongenital pada saluran esophagus, maslaah psikis atau karena
faktor kecerobohan/kesengajaan. Pada anak-anak biasanya terjadi
karena kecerobohan atau ketidaksengajaan ketika bermain.
b. Riwayat penyakit dahulu
Pada anak-anak perlu dikaji apakah ada riwayat tertelan benda
asing secara tidak sengaja sejak kecil, riwayat gangguan menelan
8

sejak bayi. Pada orang dewasa atau lansia perlu dikaji adanya
gangguan menelan, atau riwayat tertelan benda asing sebelumnya.
Pada pasien dengan corpus alienum pada saluran cerna bisanya
ditemukan beberapa gejala seperti berikut ini:
1) Kesukaran dalam menelan (disfagia) makanan padat atau
cairan.
2) Sumbatan komplit (ketidakmampuan untuk menelan).
3) Rasa tidak nyaman dalam menelan (odinofagia).
4) Regurgitasi dari makanan yang belum dicerna.
5) Hematemesis
6) Senasi benda asing
7) Sumbatan pada tenggorokan
8) Rasa panas dalam perut.
9) Penurunan berat badan
10) Suara serak
11) Sensitivitas terhadap makanan dingin atau panas
c. Pemeriksaan Fisik
1) Pada pemeriksaan esopahgus dengan endoskopi ditemukan
adanya benda asing, lesi atau mungkin hematoma.
2) Pada leher mungkin bisa terjadi abses.
3) Pada pemeriksaan paru ditemukan suara nafas tambahan
seperti ronchi/mengi.
4) Adanya gangguan pertumbuhan pada anak anak.
5) Jika terjadi obstruksi saluran nafas pasien bisa cyianosis dan
takipnea.

6) Suhu tubuh demam dan BB turun.

2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan
obstruksi pada saluran pernapasan
b. Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi benda asing
c. Gangguan menelan berhubungan dengan obstruksi benda asing
pada saluran esophagus.
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang kurang
e. Resiko infeksi berhubungan dengan inflamasi pada area sumbatan
f. Kecemasan berhubungan dengan prosedur tindakan bedah.
9
10

3. Intervensi Keperawatan

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1 Ketidakefektfan bersihan Setelah dilakukan tindakan Airway Manajemen (3140)


jalan napas berhubungan keperawatan selama 1x30 menit 1. Semifowler
dengan obstruksi jalan napas. diharapkan jalan napas pasien 1. Posisikan klien untuk memaksimalkan memaksimalkan ventilasi
efektif dengan kriteria: ventilasi paru.
2. Keluarkan secret dengan batuk atau 2. Membebaskan jalan napas
Airway patency suction dari obstruksi secret.
3. Auskultasi suara napas, catat adanya 3. Ronkhi atau wheezeing bisa
RR 16-20 kali/mnt suara napas tambahan didengar saat uasukutasi
Tidak ada sesak napas akibat adanya penumpukan
carian dan penyempitan
Ventilation saluran napas.
Terapi Oksigen (3320)
Gerakan dada simetris 1. Membesakan jalan napas
1. Bersihkan secret di mulut, hidung dan dari sumbatsn
trakea/tenggorokan 2. Mempertshsnksn ventilasi
2. Pertahankan patensi jalan napas oksigen
3. Jelaskan pada klien atau keluarga 3. Pemahaman yang baik akan
tentang pentingnya pemberian oksigen meningkatkan lancarnya
4. Berikan oksigen sesuai kebutuhan implementasi keperawatan.
5. Monitor aliran okasigen 4. Menghindari adanya
6. Monitor selang oksigen komplikasi dan gangguanm
7. Cek secara periodic selang oksigen, air mekanis
humidifier, aliran oksigen 5. Sianosis merupakaan tanda
8. Observasi tanda kekurangan oksigen: adanya perfusi oksigen
gelisah, sianosis dan lain-lain yang buruk.
9. Anjurkan klien dan keluarga untuk
mengamati persediaan oksigen,
airhumedifaer, jika habis laporkan
petugas.
2 Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan NIC Label: Pain Management 1. Untuk mengetahui tingkat rasa
11

dengan kompresi jaringan keperawatan selama 1x24 jam, 1. Kaji karakteristik nyeri meliputi nyeri sehingga dapat menentukan
sekunder akibat osbtruksi pasien dapat mengontrol nyeri lokasi, waktu, frekuensi, jenis tindakannya.
dengan kriteria: kualitas, faktor pencetus, dan 2. Dengan mengetahui faktor-faktor
NIC: Pain Control intensitas nyeri yang dapat memperburuk nyeri,
1. Menggunakan analgetik 2. Kaji faktor-faktor yang dapat dapat mencegah terjadinya faktor
sesuai kebutuhan memperburuk nyeri pasien pencetus dan menentukan
2. Melaporkan perubahan 3. Monitor status TTV sebelum intervensi apabila nyeri terjadi.
gejala nyeri ke tenaga dan sesudah pemberian 3. Mencegah kontraindikasi dan
kesehatan analgetik efek samping pemberian
3. Melaporkan nyeri terkontrol 4. Memastikan pasien mendapat analgetik
NIC: Pain Level terapi analgesik yang tepat 4. Analgesik yang dapat membantu
1. Melaporkan nyeri berkurang 5. Eliminasi faktor-faktor pencetus mengurangi rasa nyeri dan tidak
2. Tidak meringis dan nyeri mengakibatkan adanya reaksi
menangis 6. Ajarkan teknik nonfarmakologi alergi terhadap obat.
3. Tidak kehilangan nafsu (misalnya teknik relaksasi, 5. Dengan mengeleminasi faktor-
makan guided imagery, terapi musik, faktor pencetus nyeri, dapat
4. TTV dalam batas normal: dan distraksi) yang dapat mengurangi risiko munculnya
Suhu: 36-370,5C, Nadi: digunakan saat nyeri timbul. nyeri (mengurangi awitan
60-100x/menit, RR: 16-20 7. Berikan dukungan selama terjadinya nyeri)
x/menit, TD: 120/80 mmHg. pengobatan nyeri berlangsung 6. Dengan teknik manajemen nyeri,
8. Kolaborasi pemberian analgetik pasien bisa mengalihkan nyeri
. sehingga rasa nyeri yang
dirasakan berkurang.
7. Dukungan yang diberikan dapat
membantu meningkatkan rasa
percaya terhadap perawat.
8. Pemberian analgetik dapat
memblok reseptor nyeri

3 Gangguan Menelan Setelah dilakukan tindakan NIC: Aspiration Precaution


berhubungan dengan keperawatan selama 1x24 jam 1. Monitor kesadaran, reflex batuk, 1. Menentukan beratnya
12

obstruksi benda asing pada diharapkan pasien dapat reflex muntah dan kemampuan obstuksi
saluran cerna menelan makanan secara menelan 2. Menilai adanya komplikasi
bertahap dengan kriteria: 2. Pantau status pernapsan pada sistem pernapasan
Aspiration Prevention 3. Posisikan kepala 90 akibat obstruksi
1. Posisi kepala dan leher 4. Siapakn alat suction k/p 3. Mencegah regurgitasi isi
lebih tinggi dari badan 5. Beriakn makaan halus sedikit demi lambung dan
saat makan dan minum. sedikit memaksimalkan ventilasi
2. Pemilihan makanan yang 6. Pertahankan posisi kepala lebih 4. Memenuhu kebutuhan diet
mudah ditelan tinggi 30-45 menit setelah makan pasien
3. Makanan cair dapat atau minum. 5. Mencegah regurgutasi
ditelah dengan baik. Feeding 1. Menentukan intervemsi
1. Kaji kemmapuan menelan selajutnya
Swallowing Status: Esophageal 2. Identifikasi diet yang diberikan 2. Diet sesuai kebutuhan
Phase 3. Anjurkan oral hygiene sebelum pasien
1. dapat menelan makanan dan makan dan minum 3. Rongga mulit merupakn
minuman cair yang 4. Beri makanan dan diikuti minum pintu masuk makanan ke
diberikan dalam tubuh.
2. tidak ada batu atau cegukan 4. Meminimalisasi nyeri
selama makan/minum akibat sumbatan esopahus
3. tidak ada regusgutasi cairan
4. tidak ada nyeri lambung
5. tida ada hematemesis
6.
3 Perubahan nutrisi kurang dari Setelah dilakukan tindakan NIC: Nutrition Therapy 1. Pengkajian penting untuk
kebutuhan tubuh keperawatan selama 3x24 jam, 1. Kaji status nutrisi mengetahui status nutrisi
berhubungan dengan asupan pasein dapat mempertahankan 2. Monitor masukan makanan atau dan menentukan intervensi
yang kurang. status nutrisi adekuat dengan cairan dan hitung kebutuhan yang tepat.
kriteria: kalori harian. 2. Dengan mengetahui
NOC: Nutritional Status 3. Tentukan jenis makanan yang masukan makanan atau
1. Masukan cocok dengan tetap cairan dapat mengetahui
nutrisi adekuat mempertimbangkan aspek apakah kebutuhan kalori
2. Masukan agama dan budaya pasien. harian sudah terpenuhi atau
makanan dalam batas normal 4. Anjurkan untuk menggunakan belum.
NOC: Nutritional Status: suplemen nutrisi sesuai 3. Memenuhi kebutuhan
13

Nutrient Intake indikasi. nutrisi pasien dengan tetap


1. Masukan kalori dalam batas 5. Jaga kebersihan mulut, ajarkan memperhatikan aspek
normal oral higiene pada pasien. agama dan budaya pasien
2. Nutrisi dalam makanan 6. Kolaborasi dengan ahli gizi sehingga pasien bersedia
cukup mengandung protein, untuk menentukan jumlah mengikuti diet yang
lemak, karbohidrat, serat, kalori dan jenis nutrisi yang ditentukan.
vitamin, mineral, ion, dibutuhkan untuk memenuhi 4. Dapat membantu
kalsium, sodium kebutuhan nutrisi. meningkatkan status nutrisi
NIC: Weight Gain Assistance selain dari diet yang
7. Timbang berat badan pasien ditentukan.
secara teratur. 5. Menjaga kebersihan mulut
8. Diskusikan dengan keluarga dapat meningkatkan nafsu
pasien hal-hal yang makan.
menyebabkan penurunan berat 6. Untuk menentukan jumlah
badan. kalori dan jenis nutrisi yang
9. Pantau konsumsi kalori harian. sesuai dengan kebutuhan
10. Pantau hasil laboratorium, pasien.
seperti kadar serum albumin, 7. Dengan memantau berat
dan elektrolit. badan pasien dengan teratur
11. Tentukan makanan kesukaan, dapat mengetahui kenaikan
rasa, dan temperatur makanan. ataupun penurunan status
12. Anjurkan penggunaan suplemen gizi.
penambah nafsu makan. 8. Membantu memilih
alternatif pemenuhan nutrisi
yang sesuai dengan
kebutuhan dan penyebab
penurunan berat badan.
9. Membantu mengetahui
masukan kalori harian
pasien disesuaikan dengan
kebutuhan kalori sesuai
usia.
10. Kadar albumin dan
elektrolit yang normal
14

menunjukkan status nutrisi


baik. Sajikan makanan
dengan menarik.
11. Meningkatkan nafsu makan
dengan intake dan kualitas
yang maksimal.
12. Dapat membantu
meningkatkan nafsu makan
pasien sehingga dapat
meningkatkan masukan
nutrisi.
15

4 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Tindakan keperawatan dilakuakn berdasarkan prioritas
5. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi yang diharapakn pada pasien adalah
a. Fungsi pernapasan dan jalan napas adekuat.
b. Tidak ada nyeri selama menelan
c. Pasien dapat menelan dengan baik
d. Tidaka da muntah atau batuk selama makan dan minum
e. Kebutuhan nutrisi terpenuhi
f. Tidak ada komplikasi akibat tindakan esophagoskopi seperti infeksi
pada area obstruksi.
16
17

DAFTAR PUSTAKA

Docthwrman, J. M. & Bulecheck, G. N. (2004). Nursing Interventions


Classification. St Louis, Mossouri, Elsevier inc.

Herdman, T. H. & Kamitsuru, S. (2015). Diagnosis Keperawatan: Definisi &


Klasifikasi. Edisi 10. Jakarta: EGC

Moorhead, S., Jonson, M., Mass, M. L., & Swanson, E. (2008). Nursing
Outcomes Classification. Mosby. Elsevier inc

Smeltzer, S. C, & Bare, B. G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.


Volume 2, Edisi 8. Jakarta: EGC

Tanto, C. et al. (2014). Kapita Salekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.