Anda di halaman 1dari 52

Lp waham curiga

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Waham Curiga

BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Perilaku curiga merupakan gangguan berhubungan dengan orang lain dan lingkungan yang
ditandai dengan persaan tidak percaya dan ragu-ragu. Prilaku tersebut tampak jelas saat
berinteraksi, klien kecemasannya meningkat dalam merespon stresor. Perasaan ketidak
nyamanan di dalam dirinya akan diproyeksikan dan kemudian dia akan merasakan sebagai
ancaman/bahaya dari luar.
Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan di Ruang Melati II RSJPJ sebagai lahan praktek,
diperoleh data bahwa 75 % klien yang rawat ulang. Masalah asuhan keperawatan yang
ditemukan adalah menarik diri, curiga, halusinasi dan ketidakmampuan merawat diri. Dari
masalah-masalah yang ditemukan, pembahasan mengenai asuhan keperawatan curiga belum
banyak ditemukan. Berdasarkan fenomena tersebut, kelompok tertarik untuk mempelajari lebih
lanjut dan menyajikan dalam bentuk seminar dengan topik Asuhan Keperawatan Klien dengan
Curiga

b. Tujuan Penulisan.
Tujuan kelompok mahasiswa merawat klien G, melakukan seminar dan menulis laporan studi
kasus adalah :
Mengerti asuhan keperawatan klien curiga berdasarkan konsep dan teori yang benar.
Menerapkan asuhan keperawatan klien curiga
Menyebarluaskan asuhan keperawatan yang telah dilakukan kepada klien .

c. Proses Penulisan.
Asuhan keperawatan yang dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan proses
keperawatan yang meliputi tahap pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi. Pengkajian dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan peran
serta langsung klien dalam kegiatan yang ada diruangan. Dari hasil pengkajian didapatkan
masalah keperawatan, setelah penemuan masalah dibuat perancanaan dan dilaksanakan serta
dilakukan eveluasi kemudian diseminarkan.
BAB III
TINJAUAN TEORITIS

A. Proses terjadinya masalah.


Prilaku curiga merupakan gangguan berhubungan dengan orang lain dan lingkungan yang
ditandai dengan persaan tidak percaya dan ragu-ragu. Prilaku tersebut tampak jelas saat individu
berinteraksi dengan orang lain atau lingkungannya. Prilaku curiga merupakan prilaku proyeksi
terhadap perasaan ditolak, ketidakadekuatan dan inferiority. Ketika klien kecemasannya
meningkat dalam merespon terhadap stresor, intra personal, ekstra personal dan inter personal.
Perasaan ketidak nyamanan di dalam dirinya akan diproyeksikan dan kemudian dia akan
merasakan sebagai ancaman/ bahaya dari luar. Klien akan mempunyai fokus untuk
memproyeksikan perasaannya yang akan menyebabkan perasaan curiga terhadap orang lain dan
lingkungannya. Proyeksi klien tersebut akan menimbulkan prilaku agresif sebagaimana yang
muncul pada klien atau klien mungkin menggunakan mekanisme pertahanan yang lain seperti
reaksi formasi melawan agresifitas, ketergantungan , afek tumpul, denial, menolak terhadap
ketidaknyamanan.
Faktor predisposisi dari curiga adalah tidak terpenuhinya trust pada masa bayi . Tidak
terpenuhinya karena lingkungan yang bermusuhan, orang tua yang otoriter, suasana yang kritis
dalam keluarga, tuntutan lingkungan yang tinggi terhadap penampilan anak serta tidak
terpenuhinya kebutuhan anak. Dengan demikian anak akan menggunakan mekanisme fantasi
untuk meningkatkan harga dirinya atau dia akan mengembangkan tujuan yang tidak jelas.
Pada klien , dari data yang ditemukan faktor predisposisi dari prilaku curiga adalah gangguan
pola asuh. Di dalan keluarga klien merupakan anak angkat dari keluarga yang pada saat itu
belum memiliki anak. Klien menjadi anak kesayangan ayahnya, karena klien dianggap sebagai
pembawa rejeki keluarga. Sejak kelahiran adik-adiknya ( 7 orang ) klien mulai merasa tersisih
dan tidak diperhatikan, merasa tidak nyaman, sehingga klien merasa terancam dari lingkungan
keluarganya. Sejak itu klien tidak percaya pada orang lain, sering marah-marah dan mengamuk
sehingga klien dibawa oleh keluarganya ke RS jiwa.

B. Masalah-masalah yang muncul pada klien curiga.


Masalah yang biasanya timbul pada klien curiga karena adanya kecemasan yang timbul akibat
klien merasa terancam konsep dirinya, kurangnya rasa percaya diri terhadap lingkungan yang
baru/asing (masalah ini tidak muncul pada klien G). Masalah lain yang juga sering muncul pada
klien curiga yaitu marah, timbul sebagai proyeksi dari keadaan ketidak adekuatan dari perasaan
ditolak (masalah ini muncul pada klien ).
Isolasi sosial merupakan masalah yang juga muncul pada diri klien. Klien menarik diri akibat
perasaan tidak percaya pada lingkungan . Curiga merupakan afek dari mekanisme koping yang
tidak efektif, klien menunjukan bingung peran, kesulitan membuat keputusan, berprilaku
destruktif dan menggunakan mekanisme pertahanan diri yang tidakl sesuai, dan masalah ini ada
pada diri klien.
Masalah lain yang timbul adalah gangguan perawatan diri dan data yang diperoleh : klien
berpenampilan tidak adekuat, dimana klien tidak mandi, tidak mau gosok gigi, rambut kotor dan
banyak ketombe, kuku kotor dan panjang. (masalah ini ada pada diri klien)
Pada klien muncul juga gangguan harga diri rendah, dimana klien mempunyai pandangan negatif
terhadap dirinya ditunjukkan dengan prilaku menarik diri atau menyerang orang lain.( masalah
ini ada pada diri klien)
Potensial gangguan nutrisi, pada klien curiga biasanya mengira makanan itu beracun atau
petugas mungkin sudah memasukkan obat-obatan ke dalam minumannya, akibatnya tidak mau
makan - minum. (masalah ini tidak ada pada diri klien)
BAB IV
PELAKSANAAN PROSES KEPERAWATAN

Pelaksanaan proses keperawatan berorientasi pada masalah yang timbul pada klien. Pada bab ini
akan menyampaikan secara singkat mengenai pelaksanaan proses keperawatan yang meliputi :
Diagnosa Keperawatan, Tujuan jangka panjang, Intervensi, Evaluasi dan tindak lanjut. Adapun
proses keperawatan secra lengkap ada pada lampiran.
Diagnosa keperawatan I
Potensial melukai diri sendiri/ orang lain b/d ketidak mampuan klien mengungkapkan marah
secara konstruktif.
Tupan : Tidak melukai orang lain/ diri sendiri serta mampu mengungkapkan marah secara
konstruktif.
Intervensi :
1. Membina hubungan saling percaya dengan klien .
2. Memelihara ketengann lingkungan, suasana hangat dan bersahabat.
3. Mempertahan kan sikap perwat secara konsisten.
4. Mendorong klien untuk mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien marah.
5. Mendiskusikan dengan klien tentang tanda-tanda yang biasa terjadi pada orang yang sedang
marah.
6. Mendorong klien untuk mengatakan cara-cara yang dilekukan bila klien marah.
7. Mendiskusikan dengan klien cara mengungkapkan marah secara konstruktif.
8. Mendiskusikan dengan keluarga ( pada saat kunjungan rumah ) ttg marah pada klien , apa
yang sudah dilakukan bila klien marah dirumah bila klien cuti.
Evaluasi :
Klien mau menerima petugas (mahasiswa ), dan membalas salam.
Berespon secara verbal.
Membalas jabat tangan, mau diajak berbicara.
Klien mampu mengungkapkan penyebab marahnya.
Klien dapat mengenal tanda-tanda marah.
Klien megatakan kalau amuk itu tidak baik.
Klien dapat memperagakan tehnik relaksasi.
Tindak lanjut :
Melanjutkan untuk latihan marah yang konstruktif dengan tehnik relaksasi, tehnik asertif.
Diagnosa keperawatan II
Gangguan hubungan sosial; menarik diri sehubungan dengan curiga.
Intervensi :
1. Membina hubungan saling percaya.
2. Bersikap empati pada klien.
3. Mengeksplorasi penyebab kecurigaan pada klien .
4. Mengadakan kontak sering dan singkat.
5. Meningkat respom klien terhadap realita.
6. Memberikan obat sesuai dengan program terapi dan mengawasi respon klien.
7. Mengikut sertakan klien dalam TAK sosialisasi untuk berinteraksi.
Evaluasi :
Klien mampu mengeksplorasi yang menyebabkan curiga.
Klien disiplin dalam meminum obat sesuai program terapi.
Tindak lanjut:
Teruskan untuk program sosialisasi/ interaksi klien untuk mengurangi kecurigaan.
Diagnosa Keperawatan III
Penampilan diri kurang s/d kurang minat dalam kebersihan diri.
Tupan : Penampilan klien rapih dan bersih serta klien mampu merawat kebersihan diri.
Intervensi :
1. Memperhatikan tentang kebersihan klien .
2. Mendiskusikan dengan klien ttg gunanya kebersihan.
3. Memberikan reinforsemen positif apa yang sudah dilakukan klien.
4. Mendorong klien untuk mengurus kebersihan diri.
Tindak lanjut :
Perlu dilanjutkan dengan TAK tentang kegiatan sehari-hari.
Berikan motivasi agar klien mau merawat diri.

BAB V
PEMBAHASAN

Ibu D ( 20 tahun ), dari data yang diketahui mengalami masalah halusinasi fase III , dengan
masalah lain yaitu menarik diri, penampilan diri tidak adequat, tidak mampu mengungkapkan
marah secara konstruktif. Prioritas pemecahan masalah yang diatasi secara berurutan adalah;
menarik diri, halusinasi dan penampilan diri tidak adequat.
Menarik diri diutamakan karena setelah terciptanya hubungan saling percaya klien mau
membuka diri pada perawat, selanjutnya barulah dapat diintervensi masalah selanjutnya secara
bersama-sama.
Dibawah ini akan dibahas satu persatu proses pemberian asuhan keperawatan berdasarkan
masalah keperawatan klien ibu D.

1. Menarik diri.
Pada awalnya klien menolak untuk berhubungan. Pada saat itu perawat menggunakan rencana
tindakan yang telah dibuat seperti melakukan teknik-teknik komunikasi terapeutik, bersikap
menerima kondisi klien, dan lain-lain sesuai rencana tindakan.
Dengan segala kesabaran akhirnya secara bertahap klien mau membuka diri. Klien bercerita
tentang kondisinya, perasaannya, problema rumah tangganya, serta harapannya. Dengan
pendekatan intensif klien lebih dapat mempercayai perawat. Dengan modal kepercayaan tersebut
klien mudah untuk diarahkan. Klien belajar berhubungan dengan lingkungan sekitar seperti
dengan klien yang lain, perawat yang lain. Klien juga dilibatkan dalam terapi aktivitas
kelompok : sosialisasi dengan respon yang sangat baik klien memperkenalkan diri, menyebutkan
alamat, hobi dan lain-lain. Belakangan ini diketahui klien telah mempunyai teman akrap ( klien
lain ) dalam satu ruangan. Dengan demikian penyelesaian masalah sampai akhir mahasiswa
praktek dapat dikatakan berhasil.

2. Haluxsinasi.
Halusinasi terkaji sejak pertemuan awal, yang mana klien sering bicara dan tertawa sendiri dan
tampak mendengarkan sesuatu ( memasang kupingnya ) dengan mata menatap pada satu arah.
Namun saat dikaji lebih jauh dengan menanyakan apakah klien mendengar sesuatu, kilen
mengatakan tidak, dan hal ini tidak dapat terkaji hingga akhir praktek. Dengan adanya tingkah
laku klien saat berbicara dan tertawa sendiri telah menunjukkan adanya halusinasi dengar,
dibuatlah rencana tindakan yang kemudian diimplementasikan sebagai berikut : memutuskan
halusinasi klien dengan cara kontak sering tapi singkat, teknik distraksi, dan lain-lain sesuai
dengan apa yang direncanakan. Kondisi yang sering berubah-ubah ( data tentang halusinasiny a )
membuat tindakanpun sering tak berurutan namun disesuaikan dengan masalah klien. Sekitar 5
minggu dilakukan intervensi, klien tidak lagi menunjukkan tingkah laku halusinasi yang sering,
yang mana klien sudah dapat menceritakan tentang keluarganya, perasaannya dan lain-lain
dengan tingkah laku yang tenang. Hanya kadang-kadang tingkah laku itu muncul jika klien
duduk menyendiri, dan saat ditanya dengan siapa klien berbicara klien mengatakan tidak tahu.
Namun perawat tidak berputus asa untuk terus coba menggali permasasalahannya ( halusinasinya
) dan sekaligus melakukan intervensi halusinasi secara berulang. Sejauh ini penyelesaian
masalah boleh dikatakan mengalami kemajuan karena beberapa teknik distraksi halusinasi sudah
dapat dilakukan klien yakni dengan mengadakan kontak dengan klien lain di ruangan dan
frekuensi bicara dan tertawa sendiri menurun. Dengan demikian dapat dikatakan permasalahan
halusinasi telah terselesaikan walaupun belum tuntas dan perlu diwaspadai pula kemungkinan
kambuh.

3. Penampilan diri kurang adequat.


Dari pengamatan perawat, secara umum kegiatan sehari-hari klien adalah tidur, makan dan jalan-
jalan di ruangan. Sehingga untuk kebersihan dirinya tidak diperhatikan. Dengan timbulnya
masalah kebersihan diri yang kurang adequat, perawat mulai mengitervensi klien. Dari evaluasi
didapatkan klien telah dapat mandi sendiri dengan kualitas mandi yang baik yakni mandi dengan
menggunakan sabun dan mencuci rambut dengan sampo, dan dari penampilan klien, klien
tampak bersih dan rapih. Namun kegiatan untuk kebersihan diri ini dilaksanakan tanpa jadwal
yang telah dibuat bersama perawat, yang mana waktu mandi klien semaunya. Dari evaluasi yang
didapatkan bahwa penyelesaian masalah dapat dikatakan masih belum optimal.

4. Kurrang mampu mengungkapkan marah secara konstruktif.


Berdasarkan pengamatan mahasiswa, klien cepat sekali tersinggung dengan menunjukkan
tinggkah laku menarik diri bila ada sesuatu tindakan yang dilakukan oleh sesama klien yang
tidak berkenan padanya. Dengan adanya masalah ini perawat mulai menerapkan intervensi yakni
dengan mengkaji faktor pencetus marah pada klien dan mendiskusikan cara-cara menyalurkan
marah secara konstruktif. Dari hasil evaluasi, klien tampak kurang memberikan tanggapan secara
serius, hal ini dapat terlihat dari ekspresi wajah klien yang datar. Namun pada minggu keempat
klien dapat diajak berdiskusi dalam hal penyaluran marah secara konstruktif, dalam hal ini klien
mulai menceriterakan pada perawat adanya perasaan tidak senang yang dibuat oleh klien lain .

Dari apa yang di bahas di atas, bahwa kemajuan yang diperoleh dari klien setelah dilakukan
tindakan keperawatan . walaupun sejauh ini hasil yang didapatkan belum optimal, namun dari
hasil yang diperoleh dapat dikatakan seperti apa yang dikatakan dalam teori dapat dibuktikan.
Tidak optimalnya hasil, dapat ditinjau kembali dari berbagai segi seperti waktu interaksi yang
sempit yakni 2 hari dalam seminggu ( kamis & jumat ) , itupun hanya beberapa jam dalam
seharinya, dapat mempengaruhi kontinuitas interaksi. Selain itu ketidakseragaman tindakan/
asuhan yang diberikan antar sesama perawat atau tim medis membuat ketajaman terapi sulit
diberikan. Hal ini dapat terlihat dari timbul tenggelamnya halusinasi klien. Fasilitas yang kurang
baik, sarana maupun prasarana untuk mendukung tindakan keperawatan seperti pola aktivitas
dan tata ruangan merupakan salah satu kendala penyelesaian masalah. Juga kurangnya support
sistim lingkungan terutama dari keluarga dapat menghambat pengoptimalan dari hasil.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN.

1. Asuhan keperawatan ibu D ( 20 thn ) diberikan berdasarkan proses keperawatan yang diawali
dengan pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, implementasi kemudian evaluasi.
2. Dari pengkajian diketahui klien mempunyai masalah antara lain : halusinasi, menarik diri,
penampilan diri yang tidak adequat dan ketidakmampuan menyalurkan marah secara konstruktif.

3. Setelah dibuat rencana tidakan yang kemudian diimplementasikan, dari evaluasi terhadap
klien diketahui klien mangalami kemajuan. Beberapa masalah dapat diselesaikan walaupun hasil
yang didapat belum optimal., seperti : klien sudah dapat berinteraksi dengan klien lain dan
perawat, halusinasi dapat terkontrol, penampilan diri cukup adequat dan dapat menyalurkan
marah secara konstruktif.
4. Beberapa kendala yang ditemui dan menghambat pengoptimalan tindakan keperawatan yang
diberikan antatara lain : waktu interaksi yang terbatas, kurangnya kontuinitas tindakan,
ketidakseragaman tindakan yang diberikan antara sesama perawat maupun tim kesehatan
lainnya, fasilitas ( sarana dan prasarana ) yang kurang mendukung, serta kurangnya support
sistem dari lingkungan terutama keluarganya.

B. SARAN.
Penulisaaan makalah keperawaan ibu D, bukan merupakan akhir dari tugas keperawatan jiwa,
melainkan langkah awal dalam peningkatan asuhan keperawatan, oleh karena itu disarankan :
1. Pemberian asuhan keperawatan terhadap ibu D dapat dilanjutkan sesuai dengan apa yang
tertera dalam rencana tindakan, atau modifikasi berdasarkan masalah klien.
2. Perbanyak waktu interaksi dengan klien dan isi hubungan dengan tindakan (komunikasi dan
perilaku ) yang terapeutik.
3. Lakukan tindakan keperawatan secara berkesinambungan, sambil senantiasa dievaluasi respon
yang didapat dari klien. Berikan tindakan sesuai dengan respon klien / masalah klien.
4. Upayakan keseragaman persepsi dan tindakan dalam memberikan asuhan kepearawatan, baik
antar sesama perawat maupun dengan tim kesehatan lainnya.
5. Memodifikasi fasilitas untuk mendukung tindakan keperawatan yang diberikan misalnya,
memfasilitasi mandi, mencuci baju sendiri dan mengeringkannya, melakukan terapi aktifitas
kelompok, dan lain-lain.
6. Memotivasi terus keluarga serta melibatkannya dalam asuhan keperawatan yang diberikan.

BAB III

Proses Terjadinya Masalah.


Gangguan hubungan sosial merupakan gangguan kepribadian yang tidak fleksibel, respon sosial
yang maladaptitf yang mengganggu fungsi seseorang dalam melaksanakan hubungan sosial
( Rawlins l993 ). Gangguan hubungan sosial meliputi : curiga, manipulasi , ketergantungan pada
orang lain, gangguan komunikasi dan menarik diri. Berdasarkan hasil pengkajian dan analisa
maka didapatkan bahwa masalah keperawatan yang dijumpai pada klien Ibu D. adalah menarik
diri.
Menarik diri adalah suatu tindakan melepaskan diri baik perhatian maupun minatnya terhadap
lingkungan sosial secara langsung ( Dirjen Keswa, l983 ). Seorang yang cenderung
mengembangkan perilaku menarik diri menunjukkan perilaku seperti : menyendiri, menolak
berbicara dengan orang lain, kurang berpartisipasi dalan aktifitas, perasaan malas, perasaan gagal
karena tidak mampu melakukan sesuatu yang berarti, sulit membuat keputusan, pola tidur
memanjang dan mengisolasi diri ( Dirjen Keswa, l983 ).
Dari pengkajian terhadap Ibu D. perilaku menarik diri ditunjukkan dengan perilaku menyendiri,
banyak tiduran di tempat tidur, melamun , kurang inisiatif dan kurang berpartisipasi dalam
pembicaraan, menjawab pertanyaan perawat seperlunya saja dengan satu-dua patah kata, kurang
berpartisipasi dalam kegiatan ruang perawatan dan kurangnya perhatian pada penampilan diri
atau kebersihan dirinya
.
Cara berpikir klien menarik diri dapat tiba-tiba terhambat atau tidak mampu berpikir. Tidak
adanya rangkaian cara berpikir ini menyebabkan timbulnya inkoherensi dalam proses berpikir .
Gangguan proses pikir ini dapat ditandai dengan adanya halusinasi dan waham (Dirjen
Keswa,l983 ). Halusinasi adalah persepsi terhadap stimulus ekstrenal tanpa adanya stimulus yang
diberikan ( Rawlins , l993 ). Halusinasi dapat berupa halusinasi dengar, lihat, penciuman, raba
dan kecap.Dari hasil pengkajian pada Ibu D. didapatkan bahwa ibu D.mengalami halusinasi
dengar yang ditunjukkan dengan bicara atau tertawa sendiri, tanpa adanya orang lain yang di
ajak bicara,sambil memasang telinga dan memandang ke satu arah dengan tatapan tajam.
Gangguan proses pikir lain adalah waham yaitu suatu pikiran yang salah karena bertentangan
dengan kenyataan. Namun pada Ibu D. belum dijumpai tanda-tanda ini.

Umumnya proses pikir klien menarik diri tidak adekuat, tidak sesuai dan apatis., kadang-kadang
klien menunjukkan ketegangan yang berlebihan yang tiba-tiba. Pada saat kecemasan memuncak
( excited ) tingkah lakunya dapat eksploitatif yang secara tiba-tiba ia dapat menyerang
lingkungan atau melukai dirinya. Pada diri Ibu D. didapatkan perilaku amuk ini di rumah
berdasarkan informasi keluarga yaitu saat ia sedang menonton televisi dengan adegan
perkelahian atau kekerasan tiba-tiba klien mengamuk, memecahkan barang rumah tangga dan
menyerang /memukuli ibunya. Dengan alasan inilah keluarga baru membawa klien untuk dirawat
di rumah sakit jiwa. Tetapi selama di rumah sakit klien tidak menunjukkan perilaku ini.
Walaupun demikian pada klien ini tetap mempunyai potensi untuk terjadinya amuk .

Munculnya perilaku menarik diri tidak lepas dari adanya faktor predisposisi yakni masa tumbuh
kembang teruama pada usia bayi ( 0-1 tahun ) masa pembentukan trust dan mistrust. Namun
pada diri ibu D. masa ini dilalui dengan baik , ia medapat perhatian dan kasih sayang dari kedua
orang tuanya. Konflik yang terjadi pada Ibu D mulai tampak setelah ayahnya meninggal, yakni
pada usia klien 9 tahun di tambah adanya suasana komunikasi dalam keluarga yang kurang
terbuka. Pada usia puber ( usia 16 tahun ) klien menikah dengan laki-laki yang sebenarnya tidak
dicintainya. Faktor psikologis lain adalah kebiasaan klien menutup diri, jarang mengungkapkan
perasaan pada orang lain baik pada ibu maupun pada kakaknya.

Faktor pencetus munculnya perilaku menarik diri pada Ibu D. disebabkan oleh adanya stress
yang berat di mana klien mengalami kegagalan dalam berumah tangga . Ia sering dimarahi dan
dipukuli suaminya oleh karena alasan ringan seperti tidak dapat memasak enak atau terlambat
pulang dari pasar. Setelah klien mengalami gangguan jiwa suaminya kemudian
menceraikannnya.

Dalam upaya mengoptimalkan keefektifan proses terapi yang diberikan faktor keluarga sangat
menentukan. Kurangnya support system keluarga, ketidaksiapan keluarga seperti
ketidakmampuan keluarga merawat klien menarik diri serta lingkungan sosial yang tidak
mendukung dapat meningkatkan kondisi menarik diri dan meningkatkan resiko kambuh bila
klien sudah memungkinkan untuk dipulangkan. Dengan demikian keterlibatan dan keikutsertaan
keluarga diperlukan sejak awal masuk rumah sakit. Pada klien Ibu D, didapatkan adanya support
system tetapi kurang adekuat yakni keluarga menjenguk klien tiap 10 hari sekali , namun
keluarga tidak memahami penyebab gangguan jiwa klien dan tidak mampu merawatnya. Untuk
itu selama perencanaan dan intervensi keperawatan klien keluarga telah dilibatkan . Namun
lingkungan sosialnya belum dapat dikaji lebih lanjut sehingga klien masih tetap mempunyai
potensi kambuh. Untuk intervensi ini perawat belum bisa melakukannya mengingat waktu yang
tersedia.

C. PROBLEM TREE ( Pohon Masalah )

Penampilan diri tidak adekuat Potensial Amuk

Kurang minat dlm kebersihan diri Pengungkapan Efek


marah yang tidak
Menarik Diri konstruktif

CURIGA Core Problem

Harga Diri Rendah Causa

Konflik Sibling
Kehilangan berkepanjangan
Laporan Pendahuluan Waham Lengkap

A. Masalah Utama.

Perubahan isi pikir : waham

B. Pengertian.

Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang


salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang
budaya klien (1).

Manifestasi klinik wah am yaitu berupa : klien mengungkapkan sesuatu yang


diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya ) berulang
kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan, klien tampak tidak mempunyai
orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut,
kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi
wajah tegang, mudah tersinggung (2).

C. Proses terjadinya masalah

1. Penyebab

Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri
rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap
diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai
keinginan.(3)
2. Akibat

Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang
ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi,
pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang
lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan
lingkungan.

D. Pohon masalah

Kerusakankomunikasi Resiko tinggimencederai


verbal diri, orang lain dan
lingkungan

Gangguan konsepdiri: harga diri rendah


E. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

1. Masalah keperawatan :

a. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

b. Kerusakan komunikasi : verbal

c. Perubahan isi pikir : waham

d. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.

2. Data yang perlu dikaji :

a. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

1). Data subjektif

Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada seseorang,
klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal,
atau marah, melukai / merusak barang-barang dan tidak mampu mengendalikan
diri
2). Data objektif

Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara menguasai,
ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar barang-barang.

b. Kerusakan komunikasi : verbal

1). Data subjektif

Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik

2). Data objektif

Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan


kontak mata kurang

c. Perubahan isi pikir : waham ( .)

1). Data subjektif :

Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran,


kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai
kenyataan.

2). Data objektif :

Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang
lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai
lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung

d. Gangguan harga diri rendah


1). Data subjektif

Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-
apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri
sendiri

2). Data objektif

Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih


alternatif tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup

F. Diagnosa Keperawatan

a. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham

b. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham

c. Perubahan isi pikir : waham (..) berhubungan dengan harga diri rendah.

E. Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan 1: kerusakan komunikasi verbalberhubungan dengan


waham

1. Tujuan umum :

Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal

2. Tujuan khusus :

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat

Tindakan :
Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan
tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik,
waktu, tempat).

Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima


keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai ekspresi menerima,
katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak
membicarakan isi waham klien.

Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat
akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan
dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.

Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.

b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki

Tindakan :

Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.

Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini
yang realistis.

Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat
ini (kaitkan dengan aktivitas sehari - hari dan perawatan diri).

Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham
tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.

c. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi

Tindakan :

Observasi kebutuhan klien sehari-hari.


Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun
di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).

Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.

Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan


waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).

Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.

d. Klien dapat berhubungan dengan realitas

Tindakan :

Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan
waktu).

Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.

Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien

e. Klien dapat menggunakan obat dengan benar

Tindakan :

Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek
samping minum obat.

Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat,
dosis, cara dan waktu).

Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.

Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

f. Klien dapat dukungan dari keluarga


Tindakan :

Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham,


cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.

Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.

Diagnosa Keperawatan 2: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan


berhubungan dengan waham

a. Tujuan Umum:

Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

b. Tujuan Khusus:

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Tindakan:

Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat
dan jelaskan tujuan interaksi.

Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.

Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.

Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab.

2. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.

Tindakan:

Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.


Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.

Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap
tenang.

3. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.

Tindakan :

Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.

Observasi tanda perilaku kekerasan.

Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel / kesal yang dialami klien.

4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

Tindakan:

Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa


dilakukan.

Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?"

5. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.

Tindakan:

Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.

Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.

Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.


6. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.

Tindakan :

Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.

Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal,
berolah raga, memukul bantal / kasur.

Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung

Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi


kesabaran.

7. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.

Tindakan:

Bantu memilih cara yang paling tepat.

Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.

Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.

Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.

Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.

8. Klien mendapat dukungan dari keluarga.

Tindakan :

Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan


keluarga.

Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.


9. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).

Tindakan:

Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek
samping).

Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis,
cara dan waktu).

Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.

Diagnosa Keperawatan 3: Perubahan isi pikir : waham ( .. ) berhubungan


dengan harga diri rendah

1. Tujuan umum :

Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat
harga dirinya.

2. Tujuan khusus :

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya

Tindakan :

Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat
dan topik pembicaraan)

Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya


Sediakan waktu untuk mendengarkan klien

Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri

b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

Tindakan :

Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi


pujian yang realistis

Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

c. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan

Tindakan :

Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah

d. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan


yang dimiliki

Tindakan :

Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan

Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien

Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan


e. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan

Tindakan :

Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan

Beri pujian atas keberhasilan klien

Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

f. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada

Tindakan :

Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien

Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat

Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah

Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

DAFTAR PUSTAKA

1. Aziz R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino
Gondoutomo. 2003

2. Keliat Budi A. Proses keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta: EGC. 1999

3. Tim Direktorat Keswa. Standart asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1.


Bandung: RSJP.2000
4. Townsend M.C. Diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri; pedoman untuk
pembuatan rencana keperawatan. Jakarta: EGC. 1998

5. ..Pelatihan asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa. Semarang. 20


22 Novembr 2004. unpublished

ASKEP JIWA WAHAM


LAPORAN PENDAHULUAN

WAHAM

1. Masalah Utama :

Perubahan isi pikir : waham

2. Proses terjadinya masalah

a. Pengertian
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan
klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien (1).

Manifestasi klinik waham yaitu berupa : klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya
( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya ) berulang kali secara berlebihan tetapi
tidak sesuai kenyataan, klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak
(diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai
lingkungan / realitas, ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung (2).

b. Penyebab

Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri
rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya
percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan.(3)

c. Akibat

Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan
pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar
dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko
mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

3. a. Pohon masalah

Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Kerusakan komunikasi verbal

Gangguan konsep diri : harga diri rendah


b. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

1. Masalah keperawatan :

1. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

2. Kerusakan komunikasi : verbal

3. Perubahan isi pikir : waham

4. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.

2.Data yang perlu dikaji :

1. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

1). Data subjektif

Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada seseorang, klien suka
membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal, atau marah, melukai /
merusak barang-barang dan tidak mampu mengendalikan diri

2). Data objektif

Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara menguasai, ekspresi marah,
pandangan tajam, merusak dan melempar barang-barang.

1. Kerusakan komunikasi : verbal

1). Data subjektif

klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik

2). Data objektif

Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata
kurang

c. Perubahan isi piker : waham ( .)

1). Data subjektif :

Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan,


keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
2). Data objektif :

Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain,
lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas,
ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung

d. Gangguan harga diri rendah

1). Data subjektif

Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri
sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri

2). Data objektif

klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternative tindakan, ingin
mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup

4. Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham

2. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan


waham

3. Perubahan isi pikir : waham(..)berhubungan dengan harga diri


rendah.

5. Rencana Keperawatan

Diagnosa 1

Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham

1. Tujuan umum : Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal

2. Tujuan khusus :

3. 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat

Rasional : hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksinya

Tindakan :
1.1. Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).

1.2. Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima keyakinan
klien saya menerima keyakinan anda disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak
mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.

1.3. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan
menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran
jangan tinggalkan klien sendirian.

1.4. Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri

1. 2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki

Rasional : dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka akan memudahkan
perawat untuk mengarahkan kegiatan yang bermanfaat bagi klien dari pada hanya
memikirkannya

Tindakan :

2.1. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.

2.2. Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang
realistis.

2.3. Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini
(kaitkan dengan aktivitas sehari - hari dan perawatan diri).

2.4. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada.
Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.

1. 3. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi

Rasional : dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi perawat dapat
merencanakan untuk memenuhinya dan lebih memperhatikan kebutuhan kien tersebut sehungga
klien merasa nyaman dan aman

Tindakan :

3.1. Observasi kebutuhan klien sehari-hari.


3.2. Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah
sakit (rasa sakit, cemas, marah).

3.3. Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.

3.4. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan
tenaga (buat jadwal jika mungkin).

3.5. Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.

1. 4. Klien dapat berhubungan dengan realitas

Rasional : menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwa realita itu lebih benar dari pada
apa yang dipikirkan klien sehingga klien dapat menghilangkan waham yang ada

Tindakan :

4.1. Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).

4.2. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.

4.3. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien

1. 5. Klien dapat menggunakan obat dengan benar

Rasional : Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan mempengaruhi proses
penyembuhan dan memberikan efek dan efek samping obat

Tindakan :

5.1. Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping
minum obat.

5.2. Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara
dan waktu).

5.3. Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.

5.4. Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

1. 6. Klien dapat dukungan dari keluarga


Rasional : dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan mambentu proses
penyembuhan klien

Tindakan :

6.1. Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham, cara
merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.

6.2. Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga

DAFTAR PUSTAKA

1. Aziz R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino
Gondoutomo. 2003

2. Keliat Budi A. Proses keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta: EGC. 1999

3. Tim Direktorat Keswa. Standart asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1.


Bandung: RSJP.2000

4. Townsend M.C. Diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri; pedoman


untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta: EGC. 1998

5. ..Pelatihan asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa.


Semarang. 20 22 Novembr 2004. unpublished

ASKEP WAHAM

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan jiwa merupakan suatu keadaan yang memungkinkan untuk terjadinya
perkembangan fisik, intelektual, dan emosional individu secara potimal, sejauh perkembangan
tersebut sesuai dengan perkembangan optimal individu-individu lain.
Sementara itu, gangguan jiwa adalah suatu keadaan dengan adanya gejala klinis yang
bermakna, berupa sindrom pola perilaku dan pola psikologik, yang berkaitan dengan adanya
distress (tidak nyaman, tidak tentram, rasa nyeri), distabilitas (tidak mampu mengerjakan
pekerjaan sehari-hari), atau meningkatkan resiko kematian, kesakitan, dan distabilitas.
Gangguan jiwa terdiri dari beberapa macam termasuk diantaranya adalah waham atau delusi.
Waham atau delusi adalah keyakinan tentang suatu pikiran yang kokoh, kuat, tidak sesuai dengan
kenyataan, tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang budaya, selalu dikemukakan
berulang-ulang dan berlebihan biarpun telah dibuktikan kemustahilannya atau kesalahannya atau
tidak benar secara umum.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan delusi/waham?
2. Apa saja jenis-jenis waham?
3. Bagaimana terjadinya waham?
4. Bagaimanakah ASKEP pada pasien dengan waham/delusi?

1.3 Tujuan
Dengan makalah ini, diharapkan mampu untuk:
1. Mengetahui pengertian dari delusi/waham
2. Mengetahui jenis-jenis waham
3. Mengetahui proses terjadinya waham
4. Mengetahui askep pada pasien dengan waham/delusi

BAB II
ASKEP WAHAM
A. Konsep Dasar Waham
1. Pengertian
Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan yang tetap
dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain. Keyakinan ini berasal dari
pemikiran klien yang sudah kehilangan kontrol
Waham adalah suatu keyakinan kokoh yang salah dan tidak sesuai dengan fakta dan
keyakinan tersebut mungkin aneh (misal mata saya adalah komputer yang dapat mengontrol
dunia )atau bisa pula tidak aneh hanya sangat tidak mungkin (misal FBI mengikuti saya) dan
tetap dipertahankan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya .Waham sering ditemui pada
gangguan jiwa berat dan beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan pada
skizophrenia.Semakin akut psikosis semakin sering ditemui waham disorganisasi dan waham
tidak sistematis .
Waham (dellusi) adalah keyakinan individu yang tidak dapat divalidasi atau dibuktikan
dengan realitas. Haber (1982) keyakinan individu tersebut tidak sesuai dengan tingkat intelektual
dan latar belakang budayanya. Rawlin (1993) dan tidak dapat digoyahkan atau diubah dengan
alasan yang logis (Cook and Fontain 1987)serta keyakinan tersebut diucapkan berulang -ulang.
2. Jenis-Jenis Waham
Jenis-jenis waham antara lain,
a. Waham Kebesaran
Penderita merasa dirinya orang besar, berpangkat tinggi, orang yang pandai sekali, orang kaya.

b. Waham Berdosa
Timbul perasaan bersalah yang luar biasa dan merasakan suatu dosa yang besar. Penderita
percaya sudah selayaknya ia di hukum berat.
c. Waham Dikejar
Individu merasa dirinya senantiasa di kejar-kejar oleh orang lain atau kelompok orang yang
bermaksud berbuat jahat padanya.
d. Waham Curiga
Individu merasa selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya. Individu curiga terhadap sekitarnya.
Biasanya individu yang mempunyai waham ini mencari-cari hubungan antara dirinya dengan
orang lain di sekitarnya, yang bermaksud menyindirnya atau menuduh hal-hal yang tidak
senonoh terhadap dirinya. Dalam bentuk yang lebih ringan, kita kenal Ideas of reference yaitu
ide atau perasaan bahwa peristiwa tertentu dan perbuatan-perbuatan tertentu dari orang lain
(senyuman, gerak-gerik tangan, nyanyian dan sebagainya) mempunyai hubungan dengan dirinya.
e. Waham Cemburu
Selalu cemburu pada orang lain.
f. Waham Somatik atau Hipokondria
Keyakinan tentang berbagai penyakit yang berada dalam tubuhnya seperti ususnya yang
membusuk, otak yang mencair.
g. Waham Keagamaan
Waham yang keyakinan dan pembicaraan selalu tentang agama.
h. Waham Nihilistik
Keyakinan bahwa dunia ini sudah hancur atau dirinya sendiri sudah meninggal.
i. Waham Pengaruh
Yaitu pikiran, emosi dan perbuatannya diawasi atau dipengaruhi oleh orang lain atau kekuatan.
3. Proses terjadinya waham (delusi)
Faktor yang mempengaruhi terjadinya waham adalah :
1. Gagal melalui tahapan perkembangan dengan sehat
2. Disingkirkan oleh orang lain dan merasa kesepian
3. Hubungan yang tidak harmonis dengan orang lain
4. Perpisahan dengan orang yang dicintainya
5. Kegagalan yang sering dialami
6. Keturunan, paling sering pada kembar satu telur
7. Sering menggunakan penyelesaian masalah yang tidak sehat, misalnya menyalahkan orang lain
Waham adalah anggapan tentang orang yang hypersensitif, dan mekanisme ego spesifik,
reaksi formasi dan penyangkalan. Klien dengan waham menggunakan mekanisme pertahanan
reaksi formasi, penyangkalan dan proyeksi. Pada reaksi formasi, digunakan sebagai pertahanan
melawan agresi, kebutuhan, ketergantungan dan perasaan cinta. Kebutuhan akan ketergantungan
ditransformasikan mejadi kemandirian yang kokoh.
Penyangkalan, digunakan untuk menghindari kesadaran akan kenyataan yang
menyakitkan. Proyeksi digunakan untuk melindungi diri dari mengenal impuls yang tidak dapat
di terima dari dirinya sendiri. Hypersensitifitas dan perasaan inferioritas telah dihipotesiskan
telah menyebabkan reaksi formasi dan proyeksi waham dan suporioritas.
Waham juga dapat muncul dari hasil pengembangan pikiran rahasia yang menggunakan
fantasi sebagai cara untuk meningkatkan harga diri mereka yang terluka. (kalpan dan Sadock
1997)
2.4 Klasifikasi Waham
1. Waham Agama yaitu keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan.
2. Waham Kebesaran yaitu keyakinan klien yang berlebihan tentang kebesaran dirinya atau
kekuasaan.
3. Waham Somatik yaitu klien yakin bahwa bagian tubuhnya tergannggu, terserang penyakit atau
didalam tubuhnya terdapat binatang.
4. Waham Curiga yitu klien yakin bahwa ada orang atau kelompok orang yang sedang mengancam
dirinya.
5. Waham Nihilistik yaitu klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada lagi di dunia atau sudah
meninggal dunia.
6. Waham Sisip pikir yaitu klien yakin bahwa ada pikiran orang lain yang disisipkan./dimasukan
kedalam pikiranya.
7. Waham Siar pikir yaitu klien yakin bahwa orang lain megetahui isi pikiranya, padahal dia tidak
pernah menyatakan pikiranya kepada orang tersebut.
8. Waham Kontrol pikir yaitu klien yakin bahwa pikiranya dikontrol oleh kekuatan dari luar.
2.5 Tanda-tanda dan Gejala
1. Kognitif :
a. Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
b. Individu sangat percaya pada keyakinannya
c. Sulit berfikir realita
d. Tidak mampu mengambil keputusan

2. Afektif
a. Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
b. Afek tumpul
3. Prilaku dan Hubungan Sosial
a. Hipersensitif
b. Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
c. Depresi
d. Ragu-ragu
e. Mengancam secara verbal
f. Aktifitas tidak tepat
g. Streotif
h. Impulsive
i. Curiga
4. Fisik
a. Higiene kurang
b. Muka pucat
c. Sering menguap
d. BB menurun
6. Peran Serta Keluarga
Asuhan yang dapat dilakukan keluarga terhadap klien dengan waham :
1. Bina hubungan salng percaya keluarga dengan klien
Sikap keluarga yang bersahabat, penuh perhatian, hangat dan lembut
Berikan penghargaan terhadap perilaku positif yang dimiliki/dilakukan
Berikan umpan balik yang tidak menghakimi dan tidak menyalahkan
2. Kontak sering tapi singkat
3. Tingkatkan hubungan klien dengan lingkungan sosial secara bertahap, seperti membicarakan
masalah-masalah yang berkaitan dengan diri klien, orang lain dan lingkungan
4. Bimbing klien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan dan kinginanya, ajak
klien untuk melakukan kegiatan sehari-hari dirumah seperti : menyapu, mengepel dan
membersihkan tempat tidur.
5. Hindarkan berdebat tentang waham
6. Jika ketakutan katakan Anda aman disini, saya akan bantu anda mempelajari sesuatu yang
membuat anda takut .
7. Berikan obat sesuai dengan peratuaran
8. Jangan lupa kontrol.
B. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Waham (Delusi)
1. Pengkajian
Menurut tim Depkes RI (1994), pengkajian adalah langkah awal dan dasar proses keperawatan
secara menyeluruh. Pada tahap ini pasien yang dibutuhkan dikumpulkan untuk menentukan
masalah keperawatan.
Patricia A Potter et al (1993) dalam bukunya menyebutkan bahwa pengkajian terdiri dari 3
kegiatan yaitu: pengumpulan data, pengelompokan data atau analisa data dan perumusan
diagnosa keperawatan. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber data yaitu sumber data
primer (klien) dan sumber data sekunder seperti keluarga, teman terdekat klien, tim kesehatan,
catatan dalam berkas dokumen medis klien dan hasil pemeriksaan. Untuk mengumpulkan data
dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: dengan observasi, wawancara dan pemeriksaan fisik.
Beberapa faktor yang perlu dikaji:
a. Faktor predisposisi
- Genetik : diturunkan
- Neurobiologis : adanya gangguan pada konteks pre frontal dan konteks limbik
- Neurotransmiter : abnormalitas pada dopamin ,serotonin ,dan glutamat.
- Virus : paparan virus influinsa pada trimester III
- Psikologi : ibu pencemas ,terlalu melindungi ,ayah tidak peduli.
b. Faktor presipitasi
- Proses pengolahan informasi yang berlebihan
- Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal
- Adanya gejala pemicu
Setiap melakukan pengkajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat. Isi pengkajiannya
meliputi:
a. Identifikasi klien
1) Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang: Nama
klien, panggilan klien, Nama perawat, tujuan, waktu pertemuan, topik pembicaraan.

b. Keluhan utama / alasan masuk


Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke
Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah dan perkembangan yang
dicapai.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa pada
masa lalu, pernah melakukan, mengalami, penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari
lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal.
Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang mungkin mengakibatkan terjadinya
gangguan:
1) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis dari klien.
2) Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP, pertumbuhan dan perkembangan
individu pada prenatal, neonatus dan anak-anak.
3) Sosial Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan, kerusuhan, kerawanan), kehidupan
yang terisolasi serta stress yang menumpuk.
d. Aspek fisik / biologis
Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi, suhu, pernafasan. Ukur tinggi
badan dan berat badan, kalau perlu kaji fungsi organ kalau ada keluhan.
e. Aspek psikososial
1) Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi yang dapat menggambarkan
hubungan klien dan keluarga, masalah yang terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan
dan pola asuh.
2) Konsep diri
a) Citra tubuh: mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian yang disukai dan tidak disukai.
b) Identitas diri: status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status dan
posisinya dan kepuasan klien sebagai laki-laki / perempuan.
c) Peran: tugas yang diemban dalam keluarga / kelompok dan masyarakat dan kemampuan klien
dalam melaksanakan tugas tersebut.
d) Ideal diri: harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas, lingkungan dan penyakitnya.
e) Harga diri: hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan penghargaan orang lain terhadap
dirinya, biasanya terjadi pengungkapan kekecewaan terhadap dirinya sebagai wujud harga diri
rendah.
3) Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan, kelompok yang diikuti
dalam masyarakat.
4) Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.
f. Status mental
Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas motorik klien,
alam perasaan klien (sedih, takut, khawatir), afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi
klien, proses pikir, isi pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentasi dan berhitung,
kemampuan penilaian dan daya tilik diri.
g. Kebutuhan persiapan pulang
1) Kemampuan makan klien, klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan.
2) Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC serta membersihkan dan
merapikan pakaian.
3) Mandi klien dengan cara berpakaian, observasi kebersihan tubuh klien.
4) Istirahat dan tidur klien, aktivitas di dalam dan di luar rumah.
5) Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan setelah minum obat.
h. Masalah psikososial dan lingkungan
Dari data keluarga atau klien mengenai masalah yang dimiliki klien.

i. Pengetahuan
Data didapatkan melalui wawancara dengan klien kemudian tiap bagian yang dimiliki
klien disimpulkan dalam masalah.
j. Aspek medik
Terapi yang diterima oleh klien: ECT, terapi antara lain seperti terapi psikomotor, terapi
tingkah laku, terapi keluarga, terapi spiritual, terapi okupasi, terapi lingkungan. Rehabilitasi
sebagai suatu refungsionalisasi dan perkembangan klien supaya dapat melaksanakan sosialisasi
secara wajar dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian
(Gabie, dikutip oleh Carpernito, 1983).
Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual atau potensial dan berdasarkan
pendidikan dan pengalamannya perawat mampu mengatasinya (Gordon dikutip oleh Carpernito,
1983).
Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari hasil pengkajian
adalah:

1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham.

2. Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah.

3.Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa 1: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berubungan dengan waham.
Tujuan umum :
* Klien tidak menciderai diri, orang lain, dan lingkungan.
Tujuan khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.

Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksinya.
Tindakan :
Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi,
ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (topik, waktu, tempat).
Jangan membantah dan mendukung waham klien : katakan perawat menerima keyakinan klien
"saya menerima keyakinan anda" disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung
disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi : katakan perawat akan menemani
klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan
tinggalkan klien sendirian.
Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki.

Rasional : Dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka akan memudahkan
perawat untuk mengarahkan kegiatan yang bermanfaat bagi klien dari pada hanya
memikirkannya.
Tindakan :
Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan
dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri).
Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada.
Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.

3. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi.

Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi perawat dapat
merencanakan untuk memenuhinya dan lebih memperhatikan kebutuhan klien tersebut sehingga
klien merasa nyaman dan aman.
Tindakan :
Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit
(rasa sakit, cemas, marah).
Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga
(buat jadwal jika mungkin).
Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.

4. Klien dapat berhubungan dengan realitas.

Rasional : Menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwa realita itu lebih benar dari pada
apa yang dipikirkan klien sehingga klien dapat menghilangkan waham yang ada.
Tindakan :
Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.

5. Klien dapat menggunakan obat dengan benar.

Rasional : Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan mempengaruhi proses
penyembuhan dan memberikan efek dan efek samping obat.
Tindakan :
Diskusikan dengan klien tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum
obat.
Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan
waktu).
Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

6. Klien dapat dukungan dari keluarga.


Rasional : Dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan mambentu proses
penyembuhan klien.
Tindakan:
Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang : gejala waham, cara merawat
klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga

Strategi Pelaksanaan untuk Pasien Waham


1. SP I Pasien
a. Membantu orientasi realita
b. Mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi
c. Melatih pasien memenuhi kebutuhannya
d. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
Contoh komunikasi yang dapat di praktekkan pada pasien:
ORIENTASI:

Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Ani, saya perawat yang dinas pagi ini di ruang
melati. Saya dinas dari pk 07-14.00 nanti, saya yang akan merawat abang hari ini. Nama abang
siapa, senangnya dipanggil apa?
Bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang bang B rasakan sekarang?
Berapa lama bang B mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?
Dimana enaknya kita berbincang-bincang, bang?
KERJA:

Saya mengerti bang B merasa bahwa bang B adalah seorang nabi, tapi sulit bagi saya untuk
mempercayainya karena setahu saya semua nabi sudah tidak adalagi, bisa kita lanjutkan
pembicaraan yang tadi terputus bang?
Tampaknya bang B gelisah sekali, bisa abang ceritakan apa yang
bang B rasakan?
O... jadi bang B merasa takut nanti diatur-atur oleh orang lain dan tidak punya hak untuk
mengatur diri abang sendiri?
Siapa menurut bang B yang sering mengatur-atur diri abang?
Jadi ibu yang terlalu mengatur-ngatur ya bang, juga kakak dan adik abang yang lain?
Kalau abang sendiri inginnya seperti apa?
O... bagus abang sudah punya rencana dan jadual untuk diri sendiri
Coba kita tuliskan rencana dan jadual tersebut bang
Wah..bagus sekali, jadi setiap harinya abang ingin ada kegiatan diluar rumah karena bosan
kalau di rumah terus ya
TERMINASI
Bagaimana perasaan B setelah berbincang-bincang dengan saya?
Apa saja tadi yang telah kita bicarakan? Bagus
Bagaimana kalau jadual ini abang coba lakukan, setuju bang?
Bagaimana kalau saya datang kembali dua jam lagi?
Kita bercakap-cakap tentang kemampuan yang pernah Abang miliki? Mau di mana kita
bercakap-cakap? Bagaimana kalau di sini lagi?
Strategi Pelaksanaan untuk Keluarga Pasien Waham
1. SP I Keluarga
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
b. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala waham, dan jenis waham yang dialami pasien beserta
proses terjadinya.
c. Menjelaskan cara-cara merawat pasian waham.
Contoh komunikasi yang dapat di terapkan pada keluarga klien
ORIENTASI
Assalamualaikum pak, bu, perkenalkan nama saya Ani, saya perawat yang dinas di ruang melati
ini. Saya yang merawat bang B selama ini. Nama bapak dan ibu siapa, senangnya dipanggil
apa?
Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang masalah bang B dan cara merawat B di
rumah?
Dimana kita mau berbicara? Bagaimana kalau di ruang wawancara?
Berapa lama waktu bapak dan ibu? Bagaimana kalau 30 menit

KERJA
Pak, bu, apa masalah yang Bpk/Ibu rasakan dalam merawat bang B? Apa yang sudah dilakukan
di rumah?Dalam menghadapi sikap anak ibu dan bapak yang selalu mengaku-ngaku sebagai
seorang nabi tetapi nyatanya bukan nabi merupakan salah satu gangguan proses berpikir. Untuk
itu akan saya jelaskan sikap dan cara menghadapinya. Setiap kali anak bapak dan ibu berkata
bahwa ia seorang nabi bapak/ ibu dengan mengatakan pertama:
Bapak/Ibu mengerti B merasa seorang nabi, tapi sulit bagi bapak/ibu untuk mempercayainya
karena setahu kami semua nabi sudah meninggal.
Kedua: bapak dan ibu harus lebih sering memuji B jika ia melakukan hal-hal yang baik.
Ketiga: hal-hal ini sebaiknya dilakukan oleh seluruh keluarga yang berinteraksi dengan B
Bapak/Ibu dapat bercakap-cakap dengan B tentang kebutuhan yang diinginkan B, misalnya:
Bapak/Ibu percaya B punya kemampuan dan keinginan. Coba ceritakan kepada bapak/ibu. B
khan punya kemampuan ............ (kemampuan yang pernahdimiliki oleh anak)
Keempat: Bagaimana kalau dicoba lagi sekarang?(Jika anak mau mencoba berikan pujian)
Pak, bu, B perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang, tidurnya juga tenang
Obatnya ada tiga macam, yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya agar tenang, yang
putih ini namanya THP guanya supaya rileks, dan yang merah jambu ini namanya HLP gunanya
agar pikiran tenang semuanya ini harus diminum secara teratur 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1
siang, dan jam 7 malam, jangan dihentikan sebelum berkonsultasi dengan dokter karena dapat
menyebabkan B kambuh kembali (Libatkan keluarga saat memberikan penjelasan tentang obat
kepada klien). Bang B sudah mempunyai jadwal minum obat. Jika dia minta obat sesuai jamnya,
segera beri pujian.

TERMINASI
Bagaimana perasaan bapak dan ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara merawat B di
rumah?
Setelah ini coba bapak dan ibu lakukan apa yang sudah saya jelaskan tadi setiap kali berkunjung
ke rumah sakit.
Baiklah bagaimana kalau dua hari lagi bapak dan ibu datang kembali kesini dan kita akan
mencoba melakukan langsung cara merawat B sesuai dengan pembicaraan kita tadi
Jam berapa bapak dan ibu bisa kemari?
Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya pak, bu

4. Evaluasi

1. Klien percaya dengan perawat, terbuka untuk ekspresi waham


2. Klien menyadari kaitan kebutuhan yg tdk terpenuhi dg keyakinannya (waham) saat ini
3. Klien dapat melakukan upaya untuk mengontrol waham
4. Keluarga mendukung dan bersikap terapeutik terhadap klien
5. Klien menggunakan obat sesuai program
DAFTAR PUSTAKA

1. Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 thed.). St.Louis Mosby
Year Book, 1995
2. Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
3. Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
4. Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo,
2003
5. Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung,
2000
6. http://yoedhasflyingdutchman.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-pasien-dengan-
waham.html

.
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
GANGGUAN ISI PIKIR : WAHAM
I. KAJIAN TEORI
A. PENGERTIAN
Waham adalah keyakinan yang salah yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak
diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita sosial (Stuart dan Sunden, 1990 : 90).
Waham adalah suatu kepercayaan yang salah/ bertentangan dengan kenyataan dan tidak
tetap pada pemikiran seseorang dan latarbelakang sosial budaya (Rowlins, 1991: 107)
Waham adalah bentuk lain dari proses kemunduran pikiran seseorang yaitu dengan
menca,puri kemampuan pikiran diuji dan dievaluasi secara nyata (Judith Heber, 1987: 722).
Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikir yang tidak sesuai dengan kenyataan atau
tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan biarpun dibuktikan
kemustahilannya itu (W. F.Maramis 1991 : 117).
Berdasarkan pengertian di atas maka waham adalah suatu gangguan perubahan isi pikir
yang dilandasi adanya keyakinan akan ide-ide yang salah yang tidak sesuai dengan kenyataan,
keyakinan atau ide-ide klien itu tidak dapat segera diubah atau dibantah dengan logika atau hal-
hal yang bersifat nyata.
B. RENTANG RESPON
Rentang respon gangguan adaptif dan maladaptif dapat dijelaskan sebagai berikut :

Rentang respon neurobiologis

Respon adaptif Respon maladaptif


Kadang-kadang isi pikir
Pikiran logis persepsi Gangguan isi pikir waham
akurat terganggu ilusi halusinasi
Emosi konsisten dengan
Reaksi emosional
ber- Ketidakmampuan untuk
pengalaman lebihan atau kurang mengalami emosi
Prilaku sesuai Prilaku ganjil atau tidak
dengan Ketidakmampuan isolasi sosial
hubungan social lazim
Rentang respon neurobiologis di atas dapat dijelaskan bila individu merespon secara adaptif
maka individu akan berpikir secara logis. Apabila individu berada pada keadaan diantara adaptif
dan maladaptif kadang-kadang pikiran menyimpang atau perubahan isi pikir terganggu. Bila
individu tidak mampu berpikir secara logis dan pikiran individu mulai menyimpang maka ia
akan berespon secara maladaptif dan ia akan mengalami gangguan isi pikir : waham
C. FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor predisposisi dari perubahan isi pikir : waham kebesaran dapat dibagi menjadi 2
teori yang diuraikan sebagai berikut :
1. Teori Biologis
a. Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan suatu kelainan ini adalah
mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang tua, saudara
kandung, sanak saudara lain).
b. Secara relatif ada penelitian baru yang menyatakan bahwa kelainan skizofrenia mungkin pada
kenyataannya merupakan suatu kecacatan sejak lahir terjadi pada bagian hipokampus otak.
Pengamatan memperlihatkan suatu kekacauan dari sel-sel pramidal di dalam otak dari orang-
orang yang menderita skizofrenia.
c. Teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari dopamin neurotransmiter yang
dipertukarkan menghasilkan gejala-gejala peningkatan aktivitas yang berlebihan dari pemecahan
asosiasi-asosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis.
2. Teori Psikososial
a. Teori sistem keluarga Bawen dalam Lowsend (1998 : 147) menggambarkan perkembangan
skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga. Konflik diantara suami istri
mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam anak akan menghasilkan keluarga yang selalu
berfokus pada ansielas dan suatu kondsi yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya suatu
hubungan yang saling mempengaruhi yang berkembang antara orang tua dan anak-anak. Anak
harus meninggalkan ketergantungan diri kepada orang tua dan anak dan masuk ke dalam masa
dewasa, dan dimana dimasa ini anak tidak akan mamapu memenuhi tugas perkembangan
dewasanya.
b. Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami psikosis akan menghasilkan
hubungan orang tua anak yang penuh akan kecemasan. Anak menerima pesan-pesan yang
membingungkan dan penuh konflik dan orang tua tidak mampu membentuk rasa percaya
terhadap orang lain.
c. Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari suatu ego yang lemah.
Perkembangan yang dihambat dan suatu hubungan saling mempengaruhi antara orang tua, anak.
Karena ego menjadi lebih lemah penggunaan mekanisme pertahanan ego pada waktu kecemasan
yang ekstrim menjadi suatu yang maladaptif dan perilakunya sering kali merupakan penampilan
dan segmen diri dalam kepribadian.
D. FAKTOR PRESIPITASI
Faktor presipitasi dari perubahan isi pikir : waham, yaitu :
1. Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan neurobiologis yang maladaptif termasuk gangguan
dalam putaran umpan balik otak yang mengatur perubahan isi informasi dan abnormalitas pada
mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif
menanggapi rangsangan.
2. Stres lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stres yang berinterasksi dengan sterssor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan prilaku.
3. Pemicu gejala
Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis yang maladaptif berhubungan dengan
kesehatan lingkungan, sikap dan prilaku individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur, infeksi,
keletihan, rasa bermusuhan atau lingkungan yang penuh kritik, masalah perumahan, kelainan
terhadap penampilan, stres gangguan dalam berhubungan interpersonal, kesepain, tekanan,
pekerjaan, kemiskinan, keputusasaan dan sebagainya.
E. JENIS-JENIS WAHAM
Waham terbagi atas beberapa jenis, yaitu :
1. Waham Kejar
Individu merasa dirinya dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang yang bermaksud
berbuat jahat kepada dirinya, sering ditemukan pada klien dengan stres anektif tipe depresi dan
gangguan organik.
2. Waham Kebesaran
Penderita merasa dirinya paling besar, mempunyai kekuatan, kepandaian atau kekayaan yang
luar biasa, misalnya adalah ratu adil dapat membaca pikiran orang lain, mempunyai puluhan
rumah, dll.
3. Waham Somatik
Perasaan mengenai berbagai penyakit yang berada pada tubuhnya sering didapatkan pada
tubuhnya.
4. Waham Agama
Waham dengan tema agama, dalam hal ini klien selalu meningkatkan tingkah lakunya yang telah
ia perbuat dengan keagamaan.
5. Waham Curiga
Individu merasa dirinya selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya sehingga ia merasa curiga
terhadap sekitarnya.
6. Waham Intulistik
Bahwa sesuatu yang diyakini sudah hancur atau bahwa dirinya atau orang lain sudah mati, sering
ditemukan pada klien depresi.
F. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala dari perubahan isi pikir waham yaitu : klien menyatakan dirinya sebagai
seorang besar mempunyai kekuatan, pendidikan atau kekayaan luar biasa, klien menyatakan
perasaan dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang, klien menyatakan perasaan
mengenai penyakit yang ada dalam tubuhnya, menarik diri dan isolasi, sulit menjalin hubungan
interpersonal dengan orang lain, rasa curiga yang berlebihan, kecemasan yang meningkat, sulit
tidur, tampak apatis, suara memelan, ekspresi wajah datar, kadang tertawa atau menangis sendiri,
rasa tidak percaya kepada orang lain, gelisah.
G. SUMBER KOPING
Adabeberapa sumber koping individu yang harus dikaji yang dapat berpengaruh terhadap
gangguan otak dan prilaku kekuatan dalam sumber koping dapat meliputi seperti : modal
intelegensi atau kreativitas yang tinggi. Orang tua harus secara aktif mendidik anak-anaknya,
dewasa muda tentang keterampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dan
pengamatan. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit, finansial yang cukup,
ketersediaan waktu dan tenaga dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara
berkesinambungan.
H. POHON MASALAH
Kerusakan komunikasi verbal Akibat
<![if gte vml 1]>

Perubahan proses pikir :

Waham

Gangguan interaksi sosial :

Menarik diri

Core problem

Gangguan konsep diri :

Harga diri rendah

Penyebab

<![endif]>
II. TEORI ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ISI PIKIR
: WAHAM KEBESARAN
A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan Data
Hal-hal yang perlu dikaji pada klien dengan gangguan isi pikir : waham kebesaran yaitu :
a. Data Subjektif
Klien merasa dirinya sebagai orang besar, mempunyai kekuatan, kepandaian yang luar biasa,
misalnya dapat membaca atau membawa pikiran orang lain, dialah ratu adil.
b. Data Objektif
Klien kadang-kadang tampak panik, tidak mampu untuk berkonsentrasi, waham atau ide-ide
yang salah, ekspresi muka kadang sedih kadang gembira, tidak mampu membedakan khayalan
dengan kenyataan, sering tidak memperlihatkan kebersihan diri, gelisah, tidak bisa diam
(melangkah bolak-balik), mendominasi pembicaraan, mudah tersinggung, menolak makan dan
minum obat, menjalankan kegiatan agama secara berlebihan atau tidak sama sekali
melakukannya, merusak diri-sendiri dan orang lain serta lingkungannya, jarang mengikuti atau
tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, sering terbangun pada dini hari, penampilan
kurang bersih.
2. Daftar Masalah
Masalah yang lazim muncul pada klien dengan perubahan isi pikir : waham kebesaran,
yaitu :
a. Kerusakan komunikasi verbal.
b. Perubahan isi pikir : waham kebesaran
c. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri
B. DIAGNOSA
Diagnosa yang sering muncul, yaitu :
1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan isi pikir : waham
2. Perubahan isi pikir : waham berhubungan dengan kerusakan interaksi sosial : menarik diri.
3. Kerusakan interaksi sosial : menaruh diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri
rendah.
C. PERENCANAAN DAN INTERVENSI
Tindakan keperawatan yang lazim dilakukan pada klien dengan perubahan isi pikir : waham
yaitu :
1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan isi pikir : waham kebesaran :
a. Tujuan umum : klien mampu berkomunikasi verbal dengan baik sehingga klien dapat
melakukan hubungan dengan orang lain.
b. Tujuan khusus :
Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi
Klien dapat berhubungan dengan realitas
Klien dapat dukungan keluarga
Klien dapat menggunakan obat yang benar
Perencanaan :
Bina hugungan saling percaya dengan klien
Jangan membantah dan mendukung waham klien
Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindung
Observasi apakah waham klien mengganggu aktivitas sehari-hari dan perawatan diri
Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realitas
Observasi kebutuhan klien sehari-hari
Berbicara dengan klien dalam kontak realitas
Ikutsertakan klien dalam therapi aktivitas kelompok
Diskusikan dengan keluarga tentang gejal waham, cara merawat, lingkungan keluarga dan follow
up obat
Intervensi dan Rasional
a. Bina hubungan saling percaya dengan klien, ciptakan lingkungan yang hangat dan bersahabat.
Rasional : dengan rasa saling percaya, klien dapat mengungkapkan perasaannya sehingga akan
mempermudah melakukan tindakan keperawatan.
b. Diskusikan dengan klien penyebab perubahan isi pikirnya.
Rasional : dengan mengetahui penyebab, maka akan mempermudah dalam melakukan tindakan
keperawatan.
c. Diskusikan, anjurkan serta arahkan klien berpikir secara realita.
Rasional : klien dapat melakukan hal-hal yang realita sesuai dengan kenyataan.
d. Libatkan keluarga dalam perawatan klien terutama terhadap perubahan isi pikir klien.
Rasional : keluarga merupakan support sistem yang baik untuk mendukung penyembuhan klien.
2. Perubahan isi pikir : waham kebesaran berhubungan dengan menarik diri
a. Tujuan umum : klien tidak mengalami perubahan isi pikir : waham kebesaran
b. Tujuan khusus :
Klien dapat menyebutkan penyebab dirinya menarik diri dengan kriteria evaluasi, klien dapat
mengetahui penyebabnya.
Klien dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian berhubungan dengan orang lain.
Intervensi dan rasional
a. Kaji pengetahuan klien dengan prilaku menarik diri sehingga dapat mengenali tanda-tanda
menarik diri.
Rasional : klien dapat menyadari tanda-tanda menarik diri sehingga memudahkan perawat
memberikan intervensi selanjutnya.
b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya terutama penyebab prilaku menarik
diri.
Rasional : klien dapat mengungkapkan penyebab prilaku menarik diri dapat membantu perawat
dalam mengidentifikasi tindakan yang dilakukan.
c. Berikan pujian terhadap kemampuan berhubungan dengan orang lain dan kerugian bila tidak
mau berhubungan dengan orang lain.
Rasional : pujian akan dapat memotivasi klien untuk mau berhubungan dengan orang lain.
3. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan konsep diri, harga diri rendah.
a. Tujuan umum : klien mau berinteraksi sosial dan tidak menarik diri.
b. Tujuan khusus : dapat meningkatkan kemampuan yang dimiliki dan digunakan dengan kriteria
evaluasi, dapat mengungkapkan kemampuan yang dimiliki.
Intervensi dan rasional
a. Diskusikan dan anjurkan klien untuk melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang masih dapat
dipergunakan selama sakit.
Rasional : memberi kesempatan pada klien untuk melakukan kegiatan sesuai kemampuan hingga
klien merasa harga dirinya meningkat.
b. Anjurkan klien meminta obat pada petugas dan dapat merasakan manfaat.
Rasional : memastikan klien minum obat.
4. Gangguan konsep diri harga diri rendah berhubungan dengan ideal diri tidak realistis dan
gambaran diri yang terlalu tinggi.
a. Tujuan umum : klien tidak merasa harga diri rendah
b. Tujuan khusus :
Mengenal masalah, mengidentifikasi sikap menyebut masalah mengetahui pemecahannya.
Mampu mengenal harapan-harapan nyata dan tidak nyata.
Intervensi dan rasional
a. Bimbing keluarga untuk menghargai kemampuan hal-hal yang dimiliki klien walaupun tidak
sebanding dengan kemampuan anggota keluarga lain.
Rasional : dengan menghargai kemampuan klien akan meningkatkan harga diri rendah.
b. Identifikasi bersama kilen tentang prilakunya yang maladaptif.
Rasional : klien dapat mengenal, mengungkapkan serta menerimanya
c. Identifasi bersama klien cara untuk memecahkan masalah.
Rasional : dapat meningkatkan kemampuan klien.
d. Beri tanggapan dan dengarkan harapan yang diinginkan.
Rasional : membuat klien menjadi terbuka.
e. Dorong individu untuk mengungkapkan harapan yang dimilikinya.
Rasional : memudahkan perawat dalam melakukan harapan yang dimiliki.
f. Tunjukkan pada klien harapan yang nyata.
Rasional : menunjukkan pada harapan yang bersifat nyata sehingga dapat menerima kenyataan.
g. Alihkan pada harapan yang tidak sesuai keaktivitas sesuai hoby.
Rasional : dapat membimbing untuk melakukan tindakan sesuai kemampuannya.
III. EVALUASI
Hasil yang diharapkan setelah melakukan intervensi pada klien dengan perubahan isi pikir :
waham kebesaran yaitu :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
b. Klien dapat mengendalikan isi pikir : waham kebesaran.
c. Klien dapat mengekspresikan perasaannya.
d. Klien dapat mengembangkan persepsi diri yang positif.
e. Klien dapat berhubungan dengan lingkungan.
f. Klien dapat terlibat dalam perawatannya.
I Putu Juniartha Semara Putra